Anda di halaman 1dari 2

1.

1 Latar belakang
Kebutuhan manusia yang selalu meningkat dari waktu ke waktu
menyebabkan terciptanya produk produk baru apalagi di bidang pangan yang
sejatinya dikonsumsi manusia setiap hari. Semakin banyak bahan dasar yang
ditemukan, maka semakin banyak pula jenis makanan atau campuran dengan rasa
tertentu yang dapat diciptakan.
Salah satu bahan yang dapat menyumbangkan rasa pada makanan adalah
cairan cuka atau asam cuka yang memberikan rasa asam pada makanan. Pada
awalnya cuka bukanlah digunakan untuk menambahkan rasa asam pada makanan
untuk memberi warna pada logam. Seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun
1910, asam asetat dapat dihasilkan dari cairan piroligneous yang diperoleh dari
distilasi kayu, yang saat ini lebih dikenal sebagai cuka industry. Sejak itu, cuka
lebih mudah didapatkan dan sering digunakan sebagai bahan tambahan makanan
yang dikonsumsi. Namun perlu diketahui bahwa cuka industri hanya sekedar
memberi rasa asam, bukan sebagai penambah vitamin dan mineral yang
signifikan. Hal ini disebabkan kandungannya semata-mata hanya air dan asam
asetat murni, yang berisi kandungan mineral yang sangat sedikit dengan ketiadaan
vitamin di dalamnya .
Adapun alternatif bagi cuka industri yang dapat dipertimbangkan, yakni
cuka buah yang merupakan produk hasil fermentasi dari buah-buahan. Cuka buah
ini dikatakan memiliki vitamin dan mineral yang utuh dari buah yang menjadi
bahannya, sekaligus memberi rasa asam dari asam asetat yang juga dimiliki oleh
cuka industri.

Salah satu contoh cuka buah adalah cuka apel.

Cuka apel

bermanfaat sebagai penambah cita rasa pada masakan, mengempukkan daging


juga bermanfaat sebagai ramuan tradisional, karena mempunyai unsur unsur
berkhasiat tonik yang dapat menjaga kelembaban kulit, rambut, mengobati
jerawat dan luka akibat sengatan sinar matahari.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui cara pembuatan asam cuka dari buah apel dari proses
fermentasi.
2. Mengetahui reaksi yang terjadi selama proses fermentasi cuka apel
3. Mengetahui manfaat dari cuka apel.