Anda di halaman 1dari 8

MATA KULIAH KESETIMBANGAN KIMIA

APLIKASI FLUIDA CO2 SUPERKRITIS PADA EKSTRAKSI KAFEIN


DALAM KOPI

Oleh:
Pricilia Citra

131810301016

Vivi Ruthmianingsih

131810301018

Diana Rolis

131810301059

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berkembangnya populasi manusia dan meningkatnya aktifitas industri
menyebabkan emisi CO2 di atmosfer semakin meningkat. Efek pemanasan global
yang ditimbulkan oleh gas CO2 tersebut semakin parah seiring dengan
bertambahnya konsentrasi CO2 di atmosfer. Salah satu cara untuk mengurangi gas
CO2 di atmosfer adalah dengan cara memanfaatkan gas CO 2 tersebut untuk
dimanfaatkan kembali dalam proses di industri kimia yang memerlukan CO 2.
Senyawa CO2 memiliki sifat dapat larut di kebanyakan senyawa organik yang
sering dimanfaatkan sebagai pelarut, maka salah satu pemanfaatan CO 2 yang bisa
dilakukan adalah dengan menggunakan gas CO2 tersebut sebagai pelarut.
Teknologi ekstraksi dengan menggunakan CO2 yang telah banyak dilakukan
adalah dengan menggunakan CO2 tersebut dalam fasa superkritisnya.
Ekstraksi adalah suatu metode pemisahan sampel dari campurannya dengan
cara pemindahan sampel dari satu fasa ke fasa pelarut yang lain berdasarkan
prinsip perbedaan kelarutan. Ekstraksi fluida superkritis adalah suatu metode
ekstraksi yang memanfaatkan fluida superkritis sebagai pelarutnya. Fluida
superkritis merupakan fluida yang memiliki karakter fisik diantara tipe gas dan
cairan. Fluida superkritis dikarakterisasi dengan densitas (kerapatan) tinggi,
viskositas (kekentalan) rendah, dan diffusivitas menengah antara gas dan cairan.
Sifat-sifat yang menyimpang dari fasa cair dan gas pada umumnya ini yang
memunculkan keistimewaan tersendiri dari fluida superkritis.
Ekstraksi superkritis banyak diaplikasikan untuk mengekstrak senyawa
esensial dari berbagai sumber di alam. Beberapa contoh ekstraksi menggunakan
CO2 superkritis antara lain ekstraksi senyawa-senyawa esensial dari daun dan
ekstraksi senyawa kafein dari kopi. Beberapa kelebihan utama proses ekstraksi
superkritis antara lain kelarutan senyawa esensial yang dapat diubah dengan cara
mengubah tekanan CO2 superkritis, kelarutan yang lebih selektif dibandingkan
dengan pelarut organik, dan mudahnya dalam proses pemisahan.
Ekstraksi senyawa kafein dari kopi dilakukan agar kadar kafein pada kopi
sedikit berkurang karena kafein dapat membahayakan bagi tubuh apabila

dikonsumsi secara berlebihan. Kafein dapat menyebabkan ketagihan ringan.


Orang yang biasa minum kopi akan menderita sakit kepala pada pagi hari, atau
setelah kira-kira 12-16 jam dari waktu ketika terakhir kali mengkonsumsinya.
Metabolisme di dalam tubuh manusia akan mengubah kafein menjadi lebih dari
25 metabolit, terutama paraxanthine, theobromine, dan theophylline. Jika
terlampau banyak mengkonsumsi kafein akan menyebabkan sakit maag,
insomnia, diuresis, pusing, dan gemetaran. Jika konsentrasi mencapai 10 nmol/mL
dalam darah, kafein dapat menstimulasi sistem saraf pusat (Misra et al, 2008).
1.2 Tujuan
Mengetahui aplikasi fluida CO2 superkritis pada ekstraksi kafein dalam kopi
berdasarkan diagram fasa
1.3 Rumusan Masalah
a. Apa itu fluida superkritis?
b. Bagaimana proses ekstraksi kafein dalam kopi menggunakan CO 2
superkritis?
c. Apakah perbedaan ekstraksi cair-cair dengan ekstraksi superkritis pada
kafein?

BAB 2. PEMBAHASAN
Ekstraksi superkritis adalah suatu metode ekstraksi yang memanfaatkan
fluida superkritis sebagai pelarutnya. Fluida superkritis merupakan fluida yang
memiliki sifat fisik diantara gas dan cairan. Hal ini mengacu pada definisi dari
titik kritis itu sendiri, yaitu suatu titik dimana densitas dari cairan sama dengan
gas pada semua bagian, sehingga batas antara fasa cairan dan fase gas tidak dapat
dibedakan dan ditentukan dengan pasti karakteristiknya diantara kedua fasa
tersebut. Temperatur pada saat peristiwa itu terjadi disebut dengan temperatur
kritis dan tekananya disebut tekanan kritis. Temperatur kritis adalah suhu tertinggi
dimana suatu zat dapat berada dalam keadaan cair, sedangkan tekanan kritis
adalah tekanan uap pada titik kritis, sehingga dapat disimpulkan bahwa fluida
superkritis merupakan zat yang memiliki suhu dan tekanan diatas titik kritisnya
tetapi masih dibawah tekanan yang dapat merubahnya menjadi fase awal.
Temperatur diatas temperatur kritis disebut dengan temperatur superkritis. Titik
kritis dalam diagram fasa terletak pada akhir kurva penguapan dimana fasa gas
dan cair bergabung membentuk fasa fluida homogen tunggal dan daerah
superkritis terletak di luar titik kritis.
Fluida superkritis dikarakterisasi dengan densitas (kerapatan) tinggi,
viskositas (kekentalan) rendah, dan diffusivitas menengah antara gas dan cairan.
Sifat-sifat yang menyimpang dari fasa cair dan gas pada umumnya yang
memunculkan keistimewaan tersendiri dari fluida superkritis, sehingga fluida
superkritis menjadi pelarut yang ideal dan potensial dalam proses ekstraksi. CO 2
merupakan fluida superkritis yang paling luas digunakan dalam ekstraksi karena
beberapa kelebihan, seperti tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, tidak
mudah terbakar, mudah didapat dengan tingkat kemurnian yang tinggi, memiliki
parameter-kritis yang sesuai (temperatur kritis 304,1 K dan tekanan kritisnya
adalah 72,8 Mpa), relatif murah, lebih ramah lingkungan dibanding dengan
pelarut organik lainnya karena tidak meninggalkan residu, dapat mengekstrak
dalam waktu yang singkat, siklusnya dapat diulang, dan dapat dibuang ke udara.

CO2 yang dapat membentuk cairan superkritis ini banyak dimanfaatkan pada
bidang industri untuk memisahkan komponen yang tidak dibutuhkan dalam suatu
produk industri yang lebih dikenal dengan ekstraksi cairan superkritis (Putri,
2013).
Salah satu aplikasi ekstraksi cairan superkritis adalah pengurangan kadar
kafein dalam kopi. Proses ekstraksi ini, biji kopi diekstraksi menggunakan karbon
dioksida (CO2) superkritis pada tekanan 73300 atm selama 10 jam. Kondisi
karbon dioksida (CO2) superkritis ini dibentuk dari karbon dioksida gas dan cair
di dalam tabung yang bertekanan tinggi dan kemudian dipanaskan. Kondisi ini
mengakibatkan densitas karbon dioksida fase gas naik dan densitas fase cairnya
menurun, sehingga densitas dari kedua fase ini identik dan tidak dapat dibedakan
lagi fasenya. Karbon dioksida yang menjadi fluida superkritis merupakan pelarut
non polar yang baik untuk melarutkan berbagai komponen organik termasuk
kafein. Kafein yang terdapat dalam kopi diekstraksi dengan mencampurkan biji
kopi dengan karbon dioksida superkritis yang dapat melarutkan kafein 97-99%.
Pencampuran ini menjadikan kafein larut dalam karbon dioksida, sehingga karbon
dioksida kaya akan kafein. Cara untuk memisahkan biji kopi dengan karbon
dioksida yang kaya kafein yaitu dengan menurunkan tekanan pada 1 atm,
sehingga CO2 akan berubah menjadi fasa gas dan menguap. Setelah proses
pemisahan biji kopi, kemudian kafein dipisahkan dengan CO 2. Proses pemisahan
kafein dengan CO2 ini dilakukan dengan mengalirkan CO2 superkritis tersebut ke
adsorban, sehingga karbondioksida dan kafein terpisah (Dimas, 2011).
Ekstraksi cairan superkritis ini berbeda dengan ekstraksi cair-cair pada
umumnya. Pada ekstraksi cair-cair, proses distribusi zat terlarut dalam suatu
larutan dilakukan dengan mencampurkan pelarut lain yang memiliki kelarutan
lebih tinggi terhadap zat sehingga zat tersebut dapat berpindah, kemudian
mengisolasi ekstrak dari larutan dan mendapatkan kembali pelarut yang umumnya
dilakukan dengan menguapkan pelarut. Perbedaan ekstraksi cairan superkritis
dengan ekstraksi cair cair adalah kondisi pelarutnya, dimana pelarut pada
ekstraksi superkritis berada pada titik superkritis sedangkan pada ekstraksi cair
cair hanya didasarkan pada kelarutan pelarut saja. Selain itu juga, pada ekstraksi

superkritis, pelarut superkritis mengikat zat ekstrak secara langsung, sedangkan


pada ekstraksi cair-cair, dua pelarut harus tidak saling melarutkan dan distribusi
zat terlarut (ekstrak) menuju pelarut yang kelarutannya lebih tinggi. Pemisahan
pelarut dengan ekstrak pada ekstraksi superkritis, suhu dikembalikan ke suhu
ruangan agar CO2 kembali menjadi fase gas, sedangkan pada ekstraksi cair-cair
biasanya dilakukan dengan menguapkan pelarutnya.

BAB 3. KESIMPULAN
Kadar kafein dalam kopi dapat diminimalisir dengan menggunakan ekstraksi
fluida CO2 superkritis. Pada daerah fluida superkritis , batasan antara bagian gas
dan cairan menghilang sehingga fasa yang tercipta bukan lagi gas ataupun cair.
Fluida ini memiliki sifat yang mirip gas dan cairan. Sifat solvasinya mirip seperti
zat cair, namun sifat mobilitas partikelnya mirip seperti gas. Misalnya kemudahan
berdifusi dan viskositas yang rendah, pada daerah ini sifat kepolaran fluida super
kritis juga dapat diatur dengan mengubah suhu dan tekanan.

DAFTAR PUSTAKA
Dimas,

Rahadian.

2011.

Proses

Dekafeinasi

Kopi.

[Serial

Online].

http://rahadiandimas.staff.uns.ac.id/files/2011/10/Proses-DekafeinasiKopi.pdf. Diakses tanggal 24 Februari 2015


Putri,

Kiky.

2013.

Aplikasi

Cairan

Superkritis.

[Serial

Online].

http://kspchemist.blogspot.com/2013/12/aplikasi-cairan-superkritis.html.
Diakses tanggal 24 Februari 2015
Misra H, D. Metha, B.K. Mehta, M. Soni, D.C. Jain. 2008. Study of Extraction
and HPTLC-UV Method for Estimation of Caffeine in Marketed Tea
(Camelia Sinensis) Granules. International Journal of Green Pharmacy : 4751.

Anda mungkin juga menyukai