Anda di halaman 1dari 6

BAB II

ISI
1.1 Air Limbah
Air limbah adalah air yang telah mengalami penurunan kualitas karena pengaruh
manusia. Air limbah perkotaan biasanya dialirkan disaluran air kombinasi atau saluran
sanitasi, dan diolah di fasilitas pengolahan air limbah atau septic tank. Air limbah yang telah
diolah dilepaskan ke badan air penerima melalui saluran pengeluaran. Air limbah, terutama
limbah perkotaan, dapat tercampur dengan berbagai kotoran seperti feses maupun urin.
Sistem pembuangan air adalah infrastruktur fisik yang mencakup pipa, pompa,
penyaring, kanal, dan sebagainya yang digunakan untuk mengalirkan air limbah dari
tempatnya dihasilkan ke titik di mana ia akan diolah atau dibuang. Sistem pembuangan
air ditemukan di berbagai tipe pengolahan air limbah kecuali septic tank yang mengolah air
limbah di tempat.
Air limbah dapat dihasilkan dari

Limbah manusia, feses, tisu toilet, urin, atau cairan tubuh lainnya, disebut juga
dengan limbah hitam.

Pengeluaran septic tank

Pengeluaran pengolahan limbah

Air yang digunakan untuk mencuci, disebut juga dengan air kelabu

Air hujan yang jatuh di atas atap dan pekarangan dan tidak dikumpulkan

Air hujan yang mengalir di jalan raya, lahan parkir, dan infrastruktur lainnya yang
biasanya mengalir ke selokan atau saluran drainase lainnya

Air tanah yang mengalami infiltrasi ke saluran pembuangan air

Kelebihan

cairan

yang

diproduksi

goreng, pestisida, pelumas, cat, dan sebagainya)

industri

(minuman,

minyak

Limbah industri hasil samping pengolahan bahan baku

Air pendingin kendaraan atau industri

Air limbah dari tempat pembuangan sampah akhir

Sisa air irigasi yang tidak diserap tanaman

Rekahan hidrolika
Setiap bahan yang mampu dioksidasi yang ada di saluran air atau air limbah industri akan

dioksidasi secara biokimia oleh bakteria, atau secara kimiawi. Akibatnya adalah kadar
oksigen di dalam air akan berkurang. Secara umum, reaksi biokimia oksidasi adalah sebagai
berikut
Bahan yang mampu dioksidasi + bakteri + nutrisi + O 2 CO2 + H2O + Bahan anorganik
teroksidasi seperti O3- or SO4-Konsumsi oksigen oleh bahan kimia yang tereduksi seperti sulfida dan nitrit, adalah
sebagai berikut
S-- + 2 O2 SO4-NO2- + O2 NO3Karena semua saluran air secara alami mengandung bakteri dan nutrisi, hampir semua
komponen sampah yang masuk akan mengalami reaksi biokimia seperti di atas. Reaksi
biokimia tersebut adalah yang diteliti di laboratorium sebagai kebutuhan oksigen
biologis (BOD). Berbagai bahan kimia juga mampu bereaksi akibat bahan oksidator kuat dan
reaksi kimia ini diukur di dalam laboratorium sebagai kebutuhan oksigen kimiawi (COD).
Baik uji BOD maupun COD adalah ukuran efek pengurangan kadar oksigen akibat
kontaminasi sampah. Keduanya diadopsi sebagai ukuran efek polusi terhadap lingkungan,
karena kadar oksigen yang berkurang meyebabkan makhluk hidup yang biasa hidup di air,
menjadi semakin sulit ditemukan.
Indikator lainnya yang juga digunakan yang merupakan indikator yang terihat sebagai
hasil reaksi maupun kondisi awal air limbah seperti temperatur, pH, kadar garam, kadar
logam berat, kadar bahan padat terlarut, tingkat kejernihan air, bau, dan sebagainya.

(Wikipedia, 2014)
1.2 Chemical Oxygen Demand
Chemical oxygen Demand (COD) merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi zat- zat organik yang ada dalam sampel air atau banyaknya oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik menjadi CO2 dan H2O (Boyd, 1990). Hal ini
karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator
kuat kalium bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat (Boyd,
1990; Metcalf & Eddy, 1991) sehingga segala macam bahan organik, baik yang mudah urai
maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi. Tes COD digunakan untuk
menghitung kadar bahan organik yang dapat dioksidasi dengan cara menggunakan bahan
kimia oksidator kuat dalam media asam.
Beberapa bahan organik tertentu yang terdapat pada air limbah, kebal terhadap degradasi
biologis dan ada beberapa diantaranya yang beracun meskipun pada konsentrasi yang rendah.
Bahan yang tidak dapat didegradasi secara biologis tersebut akan didegradasi secara kimiawi
melalui proses oksidasi, jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi tersebut
dikenal dengan Chemical Oxygen Demand. Kadar COD dalam air limbah berkurang seiring
dengan berkurangnya konsentrasi bahan organik yang terdapat dalam air limbah, konsentrasi
bahan organik yang rendah tidak selalu dapat direduksi dengan metode pengolahan yang
konvensional.
Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik yang secara
alamiah dapat dioksidasi dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Maka
konsentrasi COD dalam air harus memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan agar
tidak mencemari lingkungan.
Uji COD yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahanbahan organik yang terdapat didalam air. Pengukuran COD didasarkan pada kenyataan
hampir semua bahan organik dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan
bantuan oksidator kuat yaitu kalium dikromat (K2Cr2O7) dalam suasan asam. Dengan
menggunakan dikromat sebagai oksidator, diperkirakan sekitar 95 % - 100 % bahan organik
dapat dioksidasi.
Air yang telah tercemar limbah organik sebelum reaksi berwarna kuning dan setelah
reaksi oksidasi berubah menjadi warna hijau. Jumlah oksigen yang diperlukan untuk reaksi

oksidasi terhadap limbah organic seimbang dengan jumlah kalium dikromat yang digunakan
pada reaksi oksidasi.
Pada analisa COD dari suatu air limbah menghasilkan nilai COD selalu lebih tinggi dari
nilai BOD. Perbedaan antara kedua nilai disebabkan banyak faktor antara lain
a. Bahan kimia yang tahan terhadap oksidasi biokimia tetapi tidak tahan terhadap
oksidasi kimia seperti lignin,
b. Bahan kimia yang dapat dioksidasi secara kimia dan peka terhadap oksidasi biokimia
tetapi tidak dalam uji BOD seperti selulosa, lemak berantai panjang atau sel- sel mikroba.
Adanya bahan toksik dalam limbah yang akan mengganggu uji BOD tetapi tidak uji
COD,
c. Angka BOD adalah jumlah komponen organik biodegradable dalam air buangan,
sedangkan tes COD menentukan total organik yang dapat teroksidasi, tetapi tidak dapat
membedakan komponen biodegradable/ nonbiodegradable,
d. Beberapa substansi anorganik seperti sulfat dan tiosulfat, nitrit dan besi yang tidak
akan terukur dalam tes BOD akan teroksidasi oleh kalium dikromat, membuat nilai COD
anorganik yang menyebabkan kesalahan dalam penetapan komposisi organik dalam
laboratorium,
e. Hasil COD tidak tergantung pada aklimasi bakteri sedangkan tes BOD sangat
dipengaruhi aklimasi seeding bakteri. Aklimasi adalah perubahan adaptif yang terjadi
pada bakteri dalam kondisi yang terkendali.
(BMD, 2014)
1.3 Analisa COD
Pada

COD

hampir

semua

zat

teroksidasi

sedangkan

BOD

hanya

bahan

yang biodegradable saja. COD baik untuk tes terhadap limbah industri, yang mengandung
racun karena toksik tidak mengganggu pengukuran. (Shinta Indah, 2009).
Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat zat organik yang secara
alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya
oksigen terlarut di dalam air. Analisa COD berbeda dengan analisa BOD namun
perbandingan antara angka COD dan BOD dapat ditetapkan. (Metoda Penelitian Air, 1984).
Prinsip penetapan COD didasarkan pada kebanyakan senyawa organik yang dapat
dioksidasi menjadi CO2 dan H2O dengan oksidator kuat pada kondisi asam. Oksidator kuat

yang biasa digunakan adalah Kalium Dikromat (K 2Cr2O7). Kalium Dikromat dalam keadaan
asam mengalami reduksi menjadi Cr3+, reaksinya :
Cr2O72- + 14 H+ + 6 2Cr3+ + 7H2O = 1,33 volt
Sifat larutan dikromat sangat stabil, tidak bereaksi dengan (inert terhadap) Cl -, dengan
kemurnian yang tinggi, mudah diperoleh dan murah. Kalium Dikromat dapat mengoksidasi
senyawa bahan organik bila berlangsung dalam suasana asam dan suhu tinggi.
(asrizalwahdanwilsa.blogspot.com).
Pada penentuan COD yang dilakukan adalah
- Menggunakan oksidator kuat : K2Cr2O7
- Dalam suasana asam : ditambahkan H2SO4
- Suhu tinggi : dipanaskan sampai suhu 200oC
- Menggunakan katalis Ag2SO4
- K2Cr2O7 yang ditambahkan harus melebihi kebutuhan untuk mengoksidasi bahan
organik dan memastikan semua bahan organik telah teroksidasi.
- Kelebihan oksidator tersebut dititrasi kembali untuk mengetahui volume oksidator yang
sesungguhnya terpakai dengan FAS (Ferro Alumunium Sulfat). Kemudian digunakan
indikator Ferroin, titik akhir titrasi adalah saat warna berubah dari biru hijau ke coklat
kemerahan. (Shinta Indah, 2009)
Reaksi yang terjadi saat penentuan adalah :
CaHbOc + Cr2O7 + H+ CO2 + H2O + Cr3+
Selama reaksi yang berlangsung 2 jam ini uap direfluks dengan alat kondensor, agar zat
organik volatil tidak lenyap keluar. Perak sulfat Ag 2SO4 ditambahkan sebagai katalisator

untuk mempercepat reaksi. Sedang merkuri sulfat ditambahkan untuk menghilangkan


gangguan klorida yang pada umumnya ada dalam air buangan. (Metoda Penelitian Air, 1984)
Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organik habis teroksidasi maka zat
pengoksidasi K2Cr2O7 masih harus tersisa sesudah direfluks. Sisa K2Cr2O7 ditentukan melalui
titrasi FAS, reaksi yang berlangsung adalah
6Fe2+ + Cr2O72- + 14H+ 6 Fe3+ + 2Cr3+ + 7 H2O
Perhitungan COD dalam mg/l adalah :
Dimana : A = ml FAS pada blangko
B = ml FAS pada blangko
M = molaritas FAS
(Andalucy, 2010)