Anda di halaman 1dari 11

TINJAUAN PUSTAKA

Puyuh Jepang (Coturnix coturnix japonica) Karakteristik Puyuh Puyuh jepang merupakan salah satu jenis burung yang berukuran kecil, umumnya kecepatan berlarinya lebih tinggi dibandingkan terbang ketika mnghindari bahaya. Japanese quail merupakan spesies yang telah didomestikasi untuk dimanfaatkan daging dan telurnya. Keuntungan dalam memelihara puyuh antara lain

tidak memiliki desain kandang yang khusus, ukuran lantai yang tidak terlalu besar, sudah siap dipasarkan umur 5 minggu dan sudah mulai bertelur umur 7 minggu, waktu pengembalian modal relatif lebih cepat, lebih resisten terhadap penyakit dibandingkan ayam walaupun tidak diberi vaksin yang sesuai dengan kebutuhan normalnya sehingga manajemen pemeliharaannya relatif mudah (Prabakaran, 2003). Prabakaran (2003) menambahkan bahwa puyuh relatif lebih resisten terhadap infeksi penyakit seperti kolera, coli bacillous, enteritis dan micotoxicosis. Kematian biasanya diakibatkan karena brooding age (0-14 minggu) yaitu sebesar 20%-25%. Hal ini dapat disebabkan kesalahan dalam manajemen pemeliharaan, terutama suhu dan kepadatan dalam satu unit kandang. Adapun klasifikasi zoologi burung puyuh menurut Radiopoetro (1996) adalah sebagai berikut :

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Sub phylum

: Vertebrata

Class

: Aves

Family

: Phasianidae

Sub family

: Phasianidae

Genus

: Coturnix

Species

: Coturnix coturnix japonica

Kondisi Fisiologis dan Kebutuhan Nutrien Puyuh Puyuh mempunyai dua fase pemeliharaan yaitu fase pertumbuhan dan fase produksi (bertelur). Fase pertumbuhan dibagi menjadi dua fase yaitu starter (0-3 minggu) dan grower (3-5 minggu), sedangkan fase produksi berumur diatas 5 minggu. Anak puyuh yang baru berumur 0-3 minggu membutuhkan protein 25% dan

energi metabolisme 2900 kkal/kg. Pada umur 3-5 minggu kadar protein dikurangi

menjadi 20% dan energi metabolisme 2600 kkal/kg. Kebutuhan energi dan protein

puyuh lebih dari 5 minggu sama dengan kebutuhan energi dan protein puyuh umur 3-

5 minggu (Listiyowati dan Roospitasari, 2000). Jumlah ransum yang disarankan

untuk diberikan sesuai dengan umur puyuh.

Tabel 1. Jumlah Ransum yang Diberikan Berdasarkan Umur Puyuh

Umur Puyuh

Jumlah Ransum yang Diberikan (gram/ekor/hari)

1 hari-1 minggu 1-2 minggu 2-3 minggu 3-4 minggu 4-5 minggu Lebih dari 5 minggu

2

4

8

10

12-15

>15

Sumber : Sritharet (2002)

Ransum yang diberikan untuk unggas terdiri atas beberapa bentuk, yaitu

bentuk pelet, crumble dan tepung. Ransum terbaik adalah berbentuk tepung sebab

puyuh mempunyai sifat khas yang sering mematuk kawannya dan mempunyai

kesibukan lain dengan mematuk pakannya (Listiyowati dan Roospitasari, 2000).

Selain kuantitas, kualitas ransum pun perlu diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan

nutrien puyuh. Berikut adalah kebutuhan nutrien puyuh berdasarkan status faalnya.

Tabel 2. Kebutuhan Nutrien Puyuh Fase Grower dan Layer

Kebutuhan Nutrien

Grower

Layer

Kadar Air (%) Abu (%) Protein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%)

EM (kkal/kg) Lysine (%) Methionine (%) Methionine + Cystine (%) Ca (%)

Maks. 14,0 Maks. 8,0 Min. 17,0 Maks. 7,0 Maks. 7,0 Min. 2600 Min. 0,80 Min. 0,35 Min. 0,50 0,90 1,20 0,60 1,00 Min. 0,40

Maks. 14,0

Maks.14,0

Min. 17 Maks. 7,0 Maks. 7,0 Min. 2700 Min. 0,90 Min. 0,40 Min. 0,60 2,50 3,50 0,60 1,00 Min. 0,40

P

total (%)

P

tersedia (%)

Sumber : SNI (2006)

Katuk (Sauropus androgynus L. Merr) Nama lokal tanaman katuk (Sauropus androgynus L. Merr) dikenal dengan nama katuk (Sunda, Melayu): babing atau katukan (Jawa), simanis (Minang Kabau), kerakur (Madura) (Departemen Kesehatan RI, 1998). Daun katuk mengandung klorofil yang cukup tinggi, untuk daun tua sebesar 65,8 spa d/mm 2 sedangkan daun muda sebesar 41,6 spa d/mm 2 dapat digunakan sebagai pewarna alam memberi warna hijau (Rahayu dan Limantara, 2005).

alam memberi warna hijau (Rahayu dan Limantara, 2005). Gambar 1. Katuk ( Sauropus androgynus L. Merr)

Gambar 1. Katuk (Sauropus androgynus L. Merr)

Sumber : Brooks (2008)

Azis dan Muktiningsih (2006), menyatakan bahwa kandungan zat makanan katuk per 100 gram mengandung kalori 59 kal; protein 6,4 g; lemak 1 g; hidrat arang 9,9 g; serat 1,5 g; abu 1,7 g; kalsium 233 mg; fosfor 98 mg; besi 3,5 mg; karoten 10.020 µg; vitamin B dan C 164 mg; air 81 g. Selain itu, daun katuk mengandung beberapa senyawa kimia antara lain asam amino, tannin, flavonoid, saponin (Malik,

1997).

Penelitian tentang pemanfaatan daun katuk sebagai pakan unggas telah dilakukan. Telah diteliti efek penambahan tepung daun katuk pada ransum ayam kampung oleh Subekti (2003) yang menyatakan bahwa pada taraf 9% penambahan tepung daun katuk dapat meningkatkan produksi telur, mempercepat umur dewasa kelamin dan meningkatkan kualitas telur serta karkas. Hal ini diduga karena adanya kandungan karoten dan mineral yang tinggi dalam katuk. Piliang et al. (2001) melaporkan bahwa kandungan tepung daun katuk berbeda dengan ekstraksi daun katuk. Tepung daun katuk memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak daun katuk kering.

Murbei (Morus alba) Terdapat enam jenis murbei yang banyak ditanam dan daunnya digunakan sebagai pakan ulat sutera di Indonesia, yaitu Morus nigra, Morus multicaulis, Morus australis, Morus alba, Morus alba var macrophulla, dan Morus bombycis. Dari keenam jenis murbei, jenis Morus alba tidak digunakan sebagai pakan ulat sutera karena jenis ini umumnya ditanam untuk dimanfaatkan buahnya (Atmosoedarjo et al., 2000). Spesies ini berasal dari Cina, namun saat ini telah ditemukan juga di Asia Tenggara (Saddul et al., 2004).

ditemukan juga di Asia Tenggara (Saddul et al., 2004). Gambar 2. Daun Murbei ( Morus alba

Gambar 2. Daun Murbei (Morus alba)

Sumber : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (2005)

Daun murbei (Morus alba) mengandung 15-35% protein; 2,42-4,17% Ca; 0,23-0,97% P dan ME 1.130-2.240 kkal/kg serta tidak mengandung anti nutrisi (Omar et al., 1999; Sanchez, 2000; Saddul et al., 2004; Srivastava et al., 2006). Adapun kandungan tanin (18 g/kg) pada daun murbei dapat diabaikan sehingga berpotensi untuk disukai ternak (Singh dan Makkar, 2000). Pada daun murbei juga teridentifikasi adanya kandungan asam askorbat, karotene, vitamin B1, asam folat, pro vitamin D, mineral Mg, P, K, Ca, Al, Fe dan Si. Tingginya kandungan protein kasar pada daun murbei diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber pakan ternak di daerah beriklim sedang, sub-tropik dan agak kering. Penelitian mengenai penggunaan Morus alba sebagai pakan unggas telah dilakukan oleh Al-kirshi et al. (2010), yang menyatakan bahwa penggunaan 10% tepung daun murbei dalam ransum tidak mempengaruhi produksi dan kualitas telur pada ayam petelur.

Kebutuhan Protein Protein merupakan senyawa organik yang sebagian besar unsurnya terdiri atas karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur dan fosfor. Ciri khusus protein adalah adanya kandungan nitrogen. Berdasarkan bentuknya, protein dapat

diklasifikasikan dalam tiga bagian, yaitu protein berbentuk bulat, serat dan gabungan ke duanya (Widodo, 2005). Fungsi protein meliputi banyak aspek, diantaranya 1) sebagai struktur penting untuk jaringan urat daging, tenunan pengikat, kolagen, rambut, bulu, kuku dan bagian tanduk serta paruh, 2) sebagai komponen protein darah, albumin dan globulin yang dapat membantu mempertahankan sifat homeostatis dan mengatur tekanan osmosis, 3) sebagai komponen fibrinogen dan tromboplastin dalam proses pembekuan darah sebagai komponen fibrinogen, tromboplastin, 4) sebagai karrier oksigen ke sel dalam bentuk sebagai hemoglobin, 5) sebagai komponen enzim yang bertugas mempercepat reaksi kimia dalam sistem metabolisme, 6) sebagai nukleoprotein, glikoprotein dan vitellin (Widodo, 2005). Kebutuhan protein untuk masing-masing unggas berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan unggas akan protein antara lain suhu lingkungan, umur, spesies/bangsa/strain, kandungan asam amino, kecernaan. Kebutuhan protein maupun asam amino dapat diukur dengan memperhatikan kebutuhan protein untuk hidup pokok, pertumbuhan jaringan bulu dan produksi telur. Perhitungan kebutuhan protein harus memperhitungkan tingkat efisiensi penggunaan protein pada masing- masing unggas (Widodo, 2005).

Mineral Besi (Fe) Besi merupakan mineral mikro esensial yang paling melimpah. Zat ini terutama diperlukan dalam homeophoiesis (pembentukan darah), yaitu dalam mensintesa hemoglobin (Hb) (Sediaoetama, 2006). Sebanyak kurang lebih 2/3 dari besi beredar sebagai hemoglobin, 1/10 sebagai mioglobin dan kurang dari 1% terdapat pada transferin dari semua enzim besi dan protein redoks. Sisanya terdiri atas simpanan besi feritin dan hemosiderin yang terutama ada pada hati, limpa dan sumsum tulang. Fungsi utama besi adalah untuk transport oksigen oleh hemoglobin. Di dalam tubuh, sebagian besar Fe terdapat konjugasi, seperti (hemoglobin, myoglobin, transferin, ferritin dan hemosiderin) dengan protein dan terdapat dalam bentuk ferro atau ferri. Bentuk aktif zat besi biasanya terdapat sebagai ferro, sedangkan bentuk inaktif adalah sebagai ferri (misalnya bentuk storage) (Sediaoetama, 2006).

Sumber makanan yang relatif kaya akan kandungan Fe diantaranya daging

merah, sayuran dengan warna hijau gelap, buah yang dikeringkan dan buncis

(Gropper et al., 2009). Warna hijau pada sayuran mengindikasikan kandungan zat

besi didalamnya. Skema metabolisme besi dalam tubuh ditunjukkan pada Gambar 3.

Transferin Fe 3+

Plasma

Transferin – Fe 3 + Plasma

Fe 2+

Fe 2 + Ferritin - Fe 3 + Hemosiderin - Fe 3 + Nonheme enzymes Heme
Fe 2 + Ferritin - Fe 3 + Hemosiderin - Fe 3 + Nonheme enzymes Heme

Ferritin - Fe 3+

Fe 2 + Ferritin - Fe 3 + Hemosiderin - Fe 3 + Nonheme enzymes Heme

Hemosiderin - Fe 3+

Nonheme enzymes Heme enzymes Fe 2+ Fe 3+ Other cell uses

+ Ferritin - Fe 3 + Hemosiderin - Fe 3 + Nonheme enzymes Heme enzymes Fe

Jaringan

Hemoglobin - Fe 2+

Sel darah merah

Fe 2+

Fe 2 + degraded Hb Ferritin - Fe 3 + Hemosiderin - Fe 3 + Retikulum

degraded Hb

Ferritin - Fe 3+

Fe 2 + degraded Hb Ferritin - Fe 3 + Hemosiderin - Fe 3 + Retikulum

Hemosiderin - Fe 3+

Retikulum endoplasma

- Fe 3 + Hemosiderin - Fe 3 + Retikulum endoplasma Gambar 3. Metabolisme Zat Besi
- Fe 3 + Hemosiderin - Fe 3 + Retikulum endoplasma Gambar 3. Metabolisme Zat Besi

Gambar 3. Metabolisme Zat Besi di dalam Tubuh

Sumber : Gropper et al. (2009)

Profil Darah

Gambaran Umum

Darah adalah jaringan yang bersirkulasi melalui pembuluh darah, membawa

zat-zat penting untuk kehidupan semua sel tubuh dan menerima produk buangan

hasil metabolisme untuk dibawa ke organ sekresi (Jain, 1993). Darah memiliki

banyak fungsi, diantaranya adalah sebagai 1) penyerap dan pembawa nutrien dari

saluran pencernaan menuju ke jaringan, 2) pembawa oksigen (O 2 ) dari paru-paru ke

jaringan dan karbondioksida (CO 2 ) dari jaringan ke paru-paru, 3) pembawa produk

buangan metabolisme, 4) pembawa hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin,

dan 5) pengatur kandungan cairan jaringan tubuh (Sturkie dan Griminger, 1976).

Gambaran darah ternak akan mengalami perubahan seiring dengan perubahan

fisiologisnya. Perubahan fisiologis secara internal tersebut dapat disebabkan seperti

pertambahan umur, status gizi, latihan, kesehatan, stress, siklus estrus, dan suhu

tubuh, sedangkan secara eksternal akibat kuman dan perubahan suhu lingkungan

(Guyton dan Hall, 2010).

Komponen Darah Menurut Guyton dan Hall (2010), darah adalah jaringan khusus yang terdiri dari plasma darah yang kaya akan protein (55%) dan sel-sel darah (45%). Sel-sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Bentuk komponen dalam darah terlihat pada Gambar 4.

Bentuk komponen dalam darah terlihat pada Gambar 4. Gambar 4. Bentuk Komponen dalam Darah Sumber :

Gambar 4. Bentuk Komponen dalam Darah

Sumber : Shier (2004)

Komponen sel darah yang terkandung dalam darah merupakan sel darah merah. Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah. Komponen leukosit dalam darah sebesar 0,2%. Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misalnya virus atau bakteri.

Eritrosit Eritrosit merupakan sel darah merah yang berperan membawa hemoglobin di dalam sirkulasi. Eritrosit pada unggas intinya terletak di tengah dan berbentuk oval. Eritrosit dibentuk di sumsum tulang dan limfa. Limfa turut berperan dalam membentuk eritrosit tetapi dalam jumlah yang sedikit. Pada kondisi tertentu setelah lahir, hati dan kelenjar limfe dapat berfungsi sebagai penghasil eritrosit (Swenson,

1984).

Eritrosit bersifat pasif dan melaksanakan fungsinya dalam pembuluh darah sebagai pembawa nutrien yang telah disiapkan oleh saluran pencernaan ke jaringan tubuh, pembawa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida ke paru- paru, pembawa sisa-sisa metabolisme dari jaringan ke ginjal untuk dieksresikan serta mempertahankan sistem keseimbangan dan buffer (Guyton dan Hall, 2010). Skema erythropoiesis disajikan pada Gambar 5.

PROGENITOR PRECURSORS RBC’S Erythrocyte Reticulocyte Orthochromatic Normoblast CFU - E BFU - U CFU -

PROGENITOR

PROGENITOR PRECURSORS RBC’S Erythrocyte Reticulocyte Orthochromatic Normoblast CFU - E BFU - U CFU - GEMM
PROGENITOR PRECURSORS RBC’S Erythrocyte Reticulocyte Orthochromatic Normoblast CFU - E BFU - U CFU - GEMM

PRECURSORS

PROGENITOR PRECURSORS RBC’S Erythrocyte Reticulocyte Orthochromatic Normoblast CFU - E BFU - U CFU - GEMM

RBC’S

PROGENITOR PRECURSORS RBC’S Erythrocyte Reticulocyte Orthochromatic Normoblast CFU - E BFU - U CFU - GEMM
Erythrocyte Reticulocyte Orthochromatic
Erythrocyte
Reticulocyte
Orthochromatic

Normoblast

RBC’S Erythrocyte Reticulocyte Orthochromatic Normoblast CFU - E BFU - U CFU - GEMM Pronormoblast Polychromatophilic

CFU - E

Erythrocyte Reticulocyte Orthochromatic Normoblast CFU - E BFU - U CFU - GEMM Pronormoblast Polychromatophilic
Erythrocyte Reticulocyte Orthochromatic Normoblast CFU - E BFU - U CFU - GEMM Pronormoblast Polychromatophilic

BFU - U CFU - GEMM

Pronormoblast

Polychromatophilic

Normoblast

Basophilic

Normoblast

Gambar 5. Skema Erythropoiesis

Sumber : Harris (1990)

Eritrosit merupakan produk erythropoiesis dan proses tersebut terjadi dalam

sumsum tulang merah (medulla asseum rubrum) yang antara lain terdapat dalam

berbagai tulang panjang. Erythropoiesis membutuhkan bahan dasar berupa protein,

glukosa dan bebagai aktivator. Beberapa aktivator erythropoiesis adalah

mikromineral berupa Cu, Fe dan Zn. Pemberian mineral Cu dan Fe dengan rasio

tertentu mampu meningkatkan status hematologis dan pertumbuhan ayam (Praseno,

2005). Mineral Cu, Fe dan Zn berperan dalam metabolisme protein, khususnya Cu

akan berperan dalam pembentukan protein kollagen, Fe berperan dalam

pembentukan senyawa heme dan Zn berperan dalam pembentukan protein pada

umumnya. Selain itu, dalam pembentukannya eritrosit juga dipengaruhi oleh

konsentrasi hemoglobin dan hematokrit. Faktor lain yang juga turut mempengaruhi

erythrophoeiesis yaitu umur, jenis kelamin, aktivitas, nutrisi, produksi telur, bangsa,

suhu lingkungan dan faktor iklim (Swenson, 1984).

Salah satu gejala yang terjadi akibat pengaruh kadar eritrosit adalah anemia.

Anemia merupakan suatu keadaan pada tubuh yang mengalami kekurangan eritrosit

akibat hilangnya darah terlalu cepat atau karena terlalu lambatnya produksi eritrosit.

Indeks eritrosit, yaitu MCV, MCH dan MCHC dapat mempengaruhi anemia secara

morfologi, yaitu ukuran eritrosit (normositik, makrositik dan mikrositik) dan kadar

hemoglobin (normokritik dan hipokromik atau pucat).

Hemoglobin Hemoglobin (Hb) merupakan pigmen eritrosit yang terdiri dari protein kompleks terkonjugasi yang mengandung besi. Protein Hb adalah globin, sedangkan warna merah disebabkan oleh warna heme. Heme adalah suatu sanyawa metalik yang mengandung satu atom besi (Guyton, 1993). Hemoglobin tidak hanya dipengaruhi oleh suatu rangsangan tapi juga oleh hematokrit dan eritrosit per unit volume. Rendahnya oksigen dalam darah menyebabkan peningkatan produksi hemoglobin dan eritrosit (Swenson, 1984). Alur sintesis hemoglobin diperlihatkan pada Gambar 6.

2 Suksinil-KoA + 2 Glisin

4 gugus Pirol

Protoporfirin IX + Fe 2+

Heme + Polipeptida

Gugus Pirol4 gugus Pirol Protoporfirin IX + Fe 2 + Heme + Polipeptida Protoporfirin IX Heme Rantai

Protoporfirin IX + Fe 2 + Heme + Polipeptida Gugus Pirol Protoporfirin IX Heme Rantai hemoglobin

Protoporfirin IXProtoporfirin IX + Fe 2 + Heme + Polipeptida Gugus Pirol Heme Rantai hemoglobin 2 rantai

+ Fe 2 + Heme + Polipeptida Gugus Pirol Protoporfirin IX Heme Rantai hemoglobin 2 rantai

Heme+ Fe 2 + Heme + Polipeptida Gugus Pirol Protoporfirin IX Rantai hemoglobin 2 rantai α

2 + Heme + Polipeptida Gugus Pirol Protoporfirin IX Heme Rantai hemoglobin 2 rantai α +
2 + Heme + Polipeptida Gugus Pirol Protoporfirin IX Heme Rantai hemoglobin 2 rantai α +

Rantai hemoglobin2 + Heme + Polipeptida Gugus Pirol Protoporfirin IX Heme 2 rantai α + 2 rantai

2 rantai α + 2 rantai β

Hemoglobin AIX Heme Rantai hemoglobin 2 rantai α + 2 rantai β Gambar 6. Sintesis Hemoglobin Sumber

Rantai hemoglobin 2 rantai α + 2 rantai β Hemoglobin A Gambar 6. Sintesis Hemoglobin Sumber

Gambar 6. Sintesis Hemoglobin

Sumber :Guyton dan Hall (2010)

Hematokrit Hematokrit atau Packed Cell Volume (PCV) adalah persentase sel darah merah dalam 100 ml darah. Pada hewan normal, PCV sebanding dengan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin (Widjajakusuma dan Sikar, 1986). Nilai hematokrit dipengaruhi oleh temperatur lingkungan. Nilai hematokrit juga akan bertambah jika terjadi keadaan hipoksia atau polisitemia dimana jumlah eritrosit lebih banyak dibandingkan dengan jumlah normal (Guyton dan Hall, 2010). Nilai hematokrit dipengaruhi oleh jumlah sel dan ukuran sel. Volume sel mungkin mengalami perubahan akibat peningkatan air plasma (hemodilition) atau penurunan air plasma (hemoconcentration) tanpa mempengaruhi jumlah sel sepenuhnya.

Leukosit Morfologi leukosit sangat beragam antar spesies unggas. Keragaman ini dapat dilihat dari penampakan morfologi granula, warna eosinofil dan bentuk granula heterofil pada setiap spesies unggas. Melalui identifikasi diferensiasi leukosit, dapat diketahui status kesehatan dan penyakit yang mungkin menyerang ternak. Identifikasi leukosit pada darah unggas lebih sulit karena heterofilnya memiliki segmentasi nukleus yang rendah dibandingkan netrofil pada mamalia (Schalm,

2010).

Keunggulan leukosit unggas yaitu memiliki heterofil dan limfosit. Kedua sel ini dapat dijadikan sebagai indikator stres pada unggas. Sebagai contoh, unggas pada masa penetasan akan mengalami stres dan dapat diketahui melalui kadar heterofil maupun limfositnya (Schalm, 2010). Jumlah leukosit sangat tergantung pada beberapa faktor diantaranya umur, jenis kelamin, stres, penyakit, pemberian estrogen, obat tertentu dan pakan. Sel darah putih tersebut akan bekerja secara bersama-sama melalui dua cara untuk mencegah penyakit: (1) dengan benar-benar merusak bahan yang menyerbu itu melalui proses fagositosis dan (2) dengan membentuk antibodi dan limfosit yang peka, sakah satu atau keduanya dapat menghancurkan atau membuat penyerbu tidak aktif (Guyton, 1993). Jumlah seluruh leukosit jauh dibawah eritrosit dan bervariasi tergantung jenis ternaknya. Fluktuasi jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu, seperti cekaman (stres), aktivitas fisiologi, gizi, umur dan lain-lain (Dharmawan, 2002). Heterofil merupakan bagian terbesar dari granulosit unggas (Schalm, 2010). Heterofil berfungsi dalam merespon adanya infeksi dan mampu ke luar dari pembuluh darah menuju daerah infeksi untuk menghancurkan benda asing dan membersihkan sisa-sisa jaringan yang rusak. Pada saat yang sama, sumsum tulang dirangsang untuk lebih banyak melepaskan heterofil ke dalam darah (Ganong, 1998). Menurut Day dan Schultz (2010), fungsi utama dari sel ini adalah penghancur bahan berbagai produk bakteri, berbagai produk yang dilepaskan oleh sel rusak dan berbagai produk reaksi kekebalan. Heterofil bekerja secara cepat sehingga dikenal sebagai first line defense, yaitu sebagai sistem pertahanan pertama. Masa hidup heterofil di dalam sirkulasi lebih pendek dalam keadaan infeksi berat dibandingkan dalam kondisi normal, yakni hanya beberapa jam saja. Heterofil juga mampu

12

melakukan pinositosis, selain fagositosis. Kombinasi antara fagositosis dan pinositosis disebut dengan endositosis. Limfosit merupakan jenis leukosit yang unggul pada darah unggas, termasuk puyuh (Schalm, 2010). Limfosit dibentuk di jaringan limfoid seperti limpa, tonsil, timus dan bursa fabricius. Peningkatan limfosit antara lain disebabkan terjadinya penurunan heterofil (sifatnya relatif), leukimia limfositik, inflamasi kronis (infeksi bakteri, virus, fungi protozoa), pengeluaran epinefrin, defisiensi korkosteroid (hypoadrenokorticism), neoplasia (Dharmawan, 2002; Jackson, 2007). Nilai hematologi puyuh disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Nilai Hematologi Puyuh

Parameter hematologi

Jumlah

Eritrosit (juta/mm 3 ) Hemoglobin (g%) Hematokrit (%) Leukosit (ribu/mm 3 ) Rasio Heterofil/Limfosit * MCV * (femto liter) MCHC * (%)

(g%) Hematokrit (%) Leukosit (ribu/mm 3 ) Rasio Heterofil/Limfosit * MCV * (femto liter) MCHC *
(g%) Hematokrit (%) Leukosit (ribu/mm 3 ) Rasio Heterofil/Limfosit * MCV * (femto liter) MCHC *
(g%) Hematokrit (%) Leukosit (ribu/mm 3 ) Rasio Heterofil/Limfosit * MCV * (femto liter) MCHC *
(g%) Hematokrit (%) Leukosit (ribu/mm 3 ) Rasio Heterofil/Limfosit * MCV * (femto liter) MCHC *

3,86

12,3

37

20-40

0,34 0,43 90- 140 26 - 35

Sumber : Sturkie dan Griminger (1976) *) Schalm (2010)

13