Anda di halaman 1dari 5

Tata Nilai Perawat Care,

Empathy, Altruism
Nilai memberikan hidup dan identitas kepada individu, profesi dan masyarakat. Nilai
dibentuk dan dipertahankan oleh individu pelakunya dan juga oleh sekelompok orang. Pada
praktiknya, perawat memprioritaskan nilai keperawatan ketika mengambil keputusan dalam
pelayanan kesehatan.
Pelayanan keperawatan di rumah sakit merupakan pelayanan yang paling sentral dan perlu
mendapat perhatian, perawat berinteraksi dengan pasien dan keluarga selama 24 jam,
disinilah perawat akan memberikan pelayanannya secara komprehensif, baik itu dari
pelayanan fisik, psikologi, spiritual, sosial dan pendidikan kepada pasien. Maka dengan
demikian pelayanan keperawatan akan dapat dirasakan lebih sempurna oleh pasien, jadi tidak
hanya secara fisik saja mendapatkan perhatian perawat. Perawat dalam memberikan
pelayanan keperawatan memandang pasien sebagai pusat perhatian. Sikap dan tingkah laku
dalam memberikan pelayanan keperawatan meliputi rasa empati, kepedulian, menghargai
orang lain dan tenggang rasa. Pemahaman perawat tentang nilai, klien, dan profesional akan
sangat membantu dalam proses pelayanan kesehatan atau yang lainnya. Persepsi perawat dan
klien pada nilai keperawatan akan membantu untuk mengetahui apakah nilai profesional
sesuai dengan nilai masyarakat.
Nilai adalah keyakinan yang mendasari seseorang melakukan tindakan dan tindakan itu
kemudian menjadi suatu standar atas tindakan yang selanjutnya, pengembangan dan
mempertahankan sikap terhadap objek-objek yang terkait, penilaian moral pada diri
sendiridan orang lain serta pembandingan diri dengan orang lain.
Empathy
Perilaku empati merupakan salah satu sikap dalam hubungan therapeutic yang merupakan
unsur yang sangat penting dalam proses yang berlangsung secara interpersonal. Dengan
empati akan membantu dalam mempererat hubungan antara perawat dan pasien sehingga
menjadikan pasien merasa diperhatikan dan pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan
pasien terhadap pelayanan keperawatan.
Empati adalah suatu perasaan dalam diri seseorang yang sesuai dengan apa yang dirasakan
oleh orang lain secara psikologis. Empati memiliki beberapa fungsi yang dapat membantu
seseorang dalam bersosial, berinteraksi, berkomunikasi, dan bersikap di lingkungan
masyarakat.
Florence Nightiangel, tokoh dunia yang mengubah persepsi dunia bahwa perawat itu
merupakan pekerjaan yang sangat mulia dan terhormat. Sebagai perawat dibutuhkan
kemampuan khusus yang tidak semua orang memilikinya, yaitu kemampuan empati. Perawat
yang memiliki empati diharapkan memiliki kemampuan empati, yaitu kemampuan untuk
melakukan aksi komunikasi secara sadar kepada pasien sehingga dapat memahami dan
merasakan suasana hati pasien tersebut. Perilaku yang muncul dari tiap perawat terhadap
pasien berbeda-beda, hal ini terkait dengan kemampuan empati perawat itu sendiri.

Hal yang mempengaruhi kemampuan empati, yaitu:


1.

pikiran yang optimis

2.

tingkat pendidikan

3.

keadaan psikis

4.

pengalaman

5.

usia

6.

jenis kelamin

7.

latar belakang sosial budaya

8.

status sosial

9.

beban hidup

Kemampuan empati terkadang memang tidak dapat langsung muncul dari diri seorang
perawat begitu saja, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
empati,yaitu:
1. Peduli, perhatian dari perawat kepada pasiennya, sejauh mana komunikasi dapat terbentuk
sehingga pasien dapat merasa nyaman karena diperhatikan.
2. Berguru, dengan belajar kepada mereka yang telah nyata dianggap memiliki kemampuan
empati yang tinggi, misalnya seorang rohaniawan, psikolog, maupun dokter di rumah sakit
perawat tersebut mengabdi.
3. Berlatih, sepandai dan sepintar apapun kalau tidak pernah berlatih maka akan kalah dengan
mereka yang masih pemula tetapi rutin untuk rajin berlatih mengasahkemampuanempatinya.
4. Berbagi pengalaman, ingatlah bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik dan melalui
pengalaman kita dapat menjadi bijaksana, dengan berbagi pengalaman dengan sesama rekan
sekerja maka diharapkan perawat akan lebih tangguh dan hebat.
Dengan begitu maka perawat dapat meningkatkan kemampuan empatinya agar dapat lebih
mengerti, memahami, dan menghayati tidak hanya kondisi fisik namun juga kondisi psikis
pasien karena pada dasarnya pasien yang datang untuk berobat ke rumah sakit tentunya
dengan tujuan memulihkan kondisi fisiknya yang sakit, padahal apabila kondisi fisik
seseorang mengalami suatu keadaan sakit, maka akan mempengaruhi kondisi psikisnya,
biasanya pasien akan lebih labil emosinya. Tenaga kesehatan khususnya perawat harus peka
dengan keadaan seperti ini, perawat tidak hanya menangani kondisi fisik dari pasien tetapi
kondisi psikisnya juga, dengan berempati kepada pasien maka diharapkan pasien dapat
sembuh lebih cepat.
Dengan kemampuan empati maka perawat memiliki kemampuan untuk menghayati perasaan
pasien. Kemampuan empati seorang perawat dipengaruhi oleh kondisi perawat itu sendiri.

Perawat perlu menjaga kondisi kesehatan fisik dan psikis, karena keduanya saling
mempengaruhi satu sama lain.
Untuk dapat memiliki kemampuan empati, seorang perawat harus mampu bersosialisasi.
Kebanyakan perawat memiliki sifat extovert (terbuka), maka akan lebih mudah dalam
menangani pasien, karena pasien merasa nyaman dengan keberadaannya.
Kemampuan empati perawat hendaknya disertai juga keramahan kepada keluarga atau
kerabat pengantar atau penunggu dari pasien lebih lagi kepada setiap pengunjung rumah
sakit, karena sesungguhnya citra rumah sakit ditentukan oleh sikap yang diperlihatkan
sumber daya tenaga kesehatan terutama perawat sebagai ujung tombak rumah sakit. Semoga
dengan meningkatnya kualitas tenaga kesehatan terutama perawat di Indonesia ini maka
diharapkan akan meningkatkan pula kesehatan dan kesejahteraan seluruh warga.
Contoh:
Pagi pak atau bu bagaimana kabarnya, masih demam pak, bagaimana tidurnya semalam,
mudah-mudahan lebih baik, komentar ini akan muncul di keseharian seorang perawat entah
dia berada di pelosok desa atau rumah sakit besar.
Senyum dan rasa empati yang ditimbulkan setidaknya akan menjadi multivitamin dosage
tinggi yang tanpa antibiotik atau obat yang super keras akan menyembuhkan rasa
terpelentirnya hati seorang pasien yang sedang menderita penyakit sekeras apapun. Ada hal
yang tidak bisa di teliti secara ilmiah dan juga tidak harus dengan percobaan yang mahal, ada
yang timbul dari hati yaitu keikhlasan untuk menolong sesama.
Caring/care
Caring adalah fenomena universal yang mempengaruhi cara manusia berpikir, merasa, dan
mempunyai hubungan dengan sesama. Caring sebagai bentuk dasar dari praktik keperawatan
di mana perawat membantu klien pulih dari sakitnya, memberikan penjelasan tentang
penyakit klien, dan mengelola atau membangun kembali hubungan. Caring membantu
perawat mengenali intervensi yang baik, dan kemudian menjadi perhatian dan petunjuk untuk
memberikan caring nantinya.
Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi orang,
pengawasan dengan waspada, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau
menyayangi. Secara teoritis, pengertian caring adalah tindakan yang menunjukan
pemanfaatan lingkungan pasien dalam membantu penyembuhan, memberikan lingkungan
yang bersih, ventilasi yang baik dan tenang kepada klien (Florence Nightingale, 1860).
Caring atau care tidak mempunyai pengertian yang tegas, tetapi ada tiga makna dimana
ketiganya tidak dapat dipisahkan yaitu memberi perhatian, bertanggung jawab dan ikhlas
(Delores Gaut, 1984). Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting
terutama dalam praktik keperawatan. Rubenfeld (1999), mendefinisikan Caring :
memberikan asuhan , dukungan emosional pada klien, keluarga dan kerabatnya secara verbal
maupun non verbal. Jean Watson (1985), Caring merupakan komitmen moral untuk
melindungi, mempertahankan dan meningkatkan martabat manusia.
Caring merupakan heart profesi, artinya sebagai komponen yang fundamental dari fokus
sentral serta unik dari keperawatan (Barnum, 1994). Meskipun perkataan caring telah

digunakan secara umum, tetapi tidak terdapat definisi dan konseptualisasi yang universal
mengenai caring itu sendiri (Swanson, 1991, dalam Leddy, 1998). Setidaknya terdapat lima
perspektif atau kategori mengenai caring, yaitu:
1.caring sabagai sifat manusia (Benner & Wrubel,Leinenger)
2.caring sebagai intervensi terapeutik (Orem),
3.caring sebagai bentuk kasih sayang (Morse et al., 1990,

dalam Leddy, 1998).

Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring merupakan pengetahuan kemanusiaan,
inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal. Caring bukan semata-mata
perilaku. Caring adalah cara yang memiliki makna dan memotivasi tindakan. Caring juga
didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan
emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et all, 1999) Sikap
caring diberikan melalui kejujuran, kepercayaan, dan niat baik. Caring menolong klien
meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik, psikologis, spiritual, dan sosial. Bersikap
caring untuk klien dan bekerja bersama dengan klien dari berbagai lingkungan merupakan
esensi keperawatan. Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata
yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping klien, dan
bersikap caring sebagai media pemberi asuhan (Curruth, Steele, Moffet, Rehmeyer, Cooper,
& Burroughs, 1999). Para perawat dapat diminta untuk merawat, namun tidak dapat
diperintah untuk memberikan asuhan dengan menggunakan spirit caring.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Caring merupakan heart profesi, artinya
sebagai komponen yang fundamental dari fokus sentral serta unik dari keperawatan.
Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdediksi bagi orang
lain pengawasan dengan waspada, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau
menyayangi. Secara teoritis, pengertian caring adalah tindakan yang menunjukan
pemanfaatan lingkungan pasien dalam membantu penyembuhan, memberikan lingkungan
yang bersih, ventilasi yang baik dan tenang kepada klien. Caring atau care tidak mempunyai
pengertian yang tegas, tetapi ada tiga makna dimana ketiganya tidak dapat dipisahkan yaitu
memberi perhatian, bertanggung jawab dan ikhlas.
Altruisme
Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri
sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap
penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika.
Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan
perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan
kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada
tuntutan moral dari individu tertentu (seperti Tuhan, raja), organisasi khusus (seperti
pemerintah), atau konsep abstrak (seperti patriotisme, dsb). Beberapa orang dapat merasakan
altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa
memperhatikan ganjaran atau keuntungan.

Konsep ini telah ada sejak lama dalam sejarah pemikiran filsafat dan etika, dan akhir-akhir ini
menjadi topik dalam psikologi (terutama psikologi evolusioner), sosiologi, biologi, dan
etologi. Gagasan altruisme dari satu bidang dapat memberikan dampak bagi bidang lain, tapi
metoda dan pusat perhatian dari bidang-bidang ini menghasilkan perspektif-perspektif
berbeda terhadap altruisme.
Gagasan altruisme
Konsep ini memiliki sejarah panjang dalam filosofis dan etika berpikir. Istilah ini awalnya
diciptakan oleh pendiri sosiologi dan filsuf ilmu pengetahuan, Auguste Comte, dan telah
menjadi topik utama bagi psikolog (terutama peneliti psikologi evolusioner), biologi
evolusioner, dan etolog. Sementara ide-ide tentang altruisme dari satu bidang dapat
memberikan dampak pada bidang lain, metode yang berbeda dan fokus bidang-bidang ini
menghasilkan perspektif yang berbeda pada altruisme.
Nilai altruisme dalam keperawatan

Pengertian : Peduli dengan kesejahteraan orang lain

Sikap dan Kualitas Pribadi :

Perhatian, komitmen, kasihan, kemurahan hati, ketekunan

Perilaku Profesional :

1. Berikan perhatian yang penuh pada klien ketika memberikan perawatan


2. Bantu rekan perawat lainnya dalam memberikan perawatan ketika mereka tidak dapat
melakukannya
3. Tunjukkan perhatian pada kecenderungan dan masalah sosial yang memiliki implikasi
perawatan kesehatan

Anda mungkin juga menyukai