Anda di halaman 1dari 3

Follett organisasi sebagai komunitas

Mary parker follet merupakan tokoh yang berperan penting dalam transisi dari pemikiran
klasik ke manajemen perilaku. Ia dipuji sebagai salah satu wanita terpenting Amerika pada
bidang kewarganegaraan dan sosiologi.
Pada awalnya Follet berkeinginan bekerja sebagai akademisi, tetapi dia mulai bekerja sebagai
pekerja sosial sukarela di Boston, di mana energi, kapaitas pemikirannya dan dukungan
finansial dapat banyak berperan dalam pembangunan masyarakat. Beberapa inovasi yang dia
ciptakan selama bekerja di bidang sosial bahwa ia memanfaatkan jam di luar sekolah sebagai
sarana pendidikan dan rekreasi bagi masyarakat umum. Hal ini memicu berdirinya komunitas
dan menjadi role model bagi komunitas komunitas lainnya di seluruh Amerika.
Follett mendirikan vocational placement centers di sekolah sekolah Boston, dan mewakili
masyarakat pada Massachusets Minimum Wage Board. Sejak tahun 1924, ia mulai
memberikan materi yang berkaitan dengan organisasi industri, khususnya untuk konferensi
biro administrasi personalia di new york. Kemudian ia mulai menjadi konsultan manajemen.
Banyak pengusaha mulai mencari nasihat padanya tentang masalah organisasi dan hubungan
antarmanusia (human relations).
Kemudian pada tahun 1933, follet kembali ke Amerika dan kemudian meninggal. Follett
dipuji sebagai salah satu wanita terbaik Amerika di bidang kewarganegaraan dan sosiologi.
Pada tulisannya, follett memandang organisasi sebagai komunitas dimana manajer dan
pekerja bekerja berdampingan tanpa ada satu pihak yang mendominasi pihak lainnya, adanya
kebebasan berpendapat dan benar benar dapat mendamaikan konflik dan perbedaan. Bagi
beliau, grup merupakan mekanisme di mana individu yang memiliki bakat yang berbeda
dapat dikombinasikan untuk kebaikan yang lebih besar. Dan dia percaya bahwa manajer
bekerja untuk membantu orang orang di organisasi dapat bekerja sama dan mencapai
kepentingan yang berintegrasi.
Follett percaya bahwa melibatkan setiap karyawan dalam hal kepemilikan bisnis akan
menciptakan rasa tanggung jawab bersama melalui employee ownership, profit sharing dan
gain sharing plans. Menurut national center for employee ownership, employee ownership
mengacu pada kepemilikan perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung serta
melibatkan beberapa atau semua karyawan. Pemilik perusahaan bisa menjadi karyawan
misalnya jabatan CEO.
Profit sharing adalah program dimana karyawan diberikan kompensasi sebagai bagian dari
nilai laba perusahaan. Profit sharing akan dibagikan setiap tahun setelah jumlah seluruh
keuntungan perusahaan dihitug atau berdasarkan gaji tahunan karyawan. Biasanya dilakukan
jika perusahaan telah menguntungkan dalam periode waktu tertentu atau ketika kontrak kerja
mensyaratkan adanya kompensasi. Semakin tinggi jabatan karyawan akan semakin banyak
kompensasi yang ia dapat. Hal ini mencerminkan keyakinan bahwa karyawan pada tingkat
yang lebih tinggi lebih mampu bertanggung jawab dalam mengelola perushaan, membuat

keputusan, mengambil banyak resiko dan memberikan kepemimpinan kepada karyawan


lainnya.
Gainsharing adalah sistem insentif bonus yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas
karyawan. Gainsharing dapat meningkatkan motivasi kerja karyawan karena kompensasi
diberikan berdasarkan prestasi kerjanya dalam perusahaan. Meskipun terlihat mirip
sebenarnya antara gainsharing dan profit sharing terdapat perbedaan. Profit sharing biasanya
lebih berkaitan dengan kinerja perusahaan secara keseluruhan sedangkan gainsharing
berfokus pada kinerja karyawan. Jika profit sharing dilakukan pada siklus triwluanan atau
tahunan, tetapi gainsharing dilakukan secara bulanan. Kebanyakan perusahaan
menggabungkan sistem gainsharing dan profit sharing dalam hal mengkompensasi karyawan
selain gaji pokok.
Follett percaya bahwa masalah bisnis melibatkan berbagai faktor yang saling
berkaitan satu dengan yang lainnya. Hari ini kita berbicara tentang sistem dan
contingency thinking. Follett juga percaya bahwa bisnis adalah organisasi jasa
dan keuntungan pribadi dianggap sebagai bagian dari publik yaitu mengenai
etika manajerial dan corporate social responsibility. Etika Manajerial merupakan
standar perilaku yang memandu masing-masing manajer dalam pekerjaan
mereka. Ada tiga kategori klasifikasi menurut Ricky W. Griffin dalam bukunya
yang berjudul Business Essentials :

* Perilaku terhadap karyawan


* Perilaku terhadap organisasi
* Perilaku terhadap agen ekonomi lainnya
Terdapat dua jenis konsep CSR, yaitu dalam pengertian luas dan dalam pengertian sempit.
CSR dalam pengertian luas, berkaitan erat dengan tujuan mencapai kegiatan ekonomi
berkelanjutan (sustainable economic activity). Keberlanjutan kegiatan ekonomi bukan hanya
terkait soal tanggungjawab sosial tetapi juga menyangkut akuntabilitas (accountability)
perusahaan terhadap masyarakat dan bangsa serta dunia internasional. CSR dalam pengertian
sempit dapat dipahami dari beberapa pendapat ahli berikut:
World Business Council for Sustainable Development didefinisikan sebagai komitmen bisnis
untuk memberikan kontribusi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan dengan
memperhatikan para karyawan dan keluarganya, masyarakat sekitar serta public pada
umumnya guna meningkatkan kualitas hidup mereka. Menurut (Kotler & Nance, 2005)
mendefinisikannya sebagai komitmen korporasi untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat sekitar melalui kebijakan praktik bisnis dan pemberian kontribusi sumber daya
korporasi.

Weckmann W. (2004). Gainsharing. [Online]


http://edweb.sdsu.edu/people/ARossett/pie/interventions/gainsharing_2.htm accessed by
february 24th 2015
Marnelly T. R. (2012). CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR): Tinjauan Teori
dan Praktek di Indonesia. Jurnal Aplikasi Bisnis. 2, (2),