Anda di halaman 1dari 12

RESUME

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN OPERASIONAL
Setelah menelaah dasar pengertian kurikulum dan pendidikan teknologi dan kejuruan
sebagai dua totalitas yang terpisah, berikut ini akan dikemukakan pemaduan keduanya dalam
suatu kerangka konseptual(conceptual framework) sebagai landasan kegiatan perencanaan dan
pengembangan kurikulum pendidikan kejuruan. Pertama akan diutarakan beberapa teori dan
model-model perencanaan kurikulum yang terpenting serta prinsip yang dapat dijabarkan dari
sintesis teori tersebut. Kedua akan ditinjau secaa rinci karakteristik pendidikan teknologi
kejuruan sebagai suatu sisitem serta beberapa implikasi bagi perencanaan dan pengembangan
kurikulumnya.Dari kedua pembahasan tersebut akan dimunculkan kerangka konseptual serta
kerangka operasional sebagai acuan orientasi maupun implementasi kegiatan perencanaan
kurikulum kejuruan.
A. TEORI DAN MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
Dalam upaya mengembangkan kurikulum, banyak sekali teori dan model yang sudah
dikemukakan oleh para ahli dibidang ini. Secara umum teori dan model tersebut dapat
diklasifikasikan menjadi dua pendekatan besar yaitu pendekatan deskriptif dan prespektif.
Yang pertama menggunakan deskripsi tentang apa yang dilakukan dalam proses
pengembangan kurikulum seperti penyajian ide dan kegiatan atau langkah yang dilakukan
dalam pengembangan kurikulum di suatu konteks lembaga pendidikan. Yang kedua
menekankan pada apa yang harus dilakukan dalam proses perencanaan kurikulum tersebut.
Meskipun kedua pendekatan tersebut berbeda titik tolaknya tetapi mempunyai esensi tujuan
yang sama yaitu meningkatkan upaya pengembangan kurikulum sebagai suatu proses dengan
jak=lan mengkomunikasikan model atau ide tersebut.
Suatu tonggak sejarah dalam pengembangan kurikulum diukir oleh Ralph W. Tyler,
yang melakukan pengembangan teorinya selama 8 tahun pada tahun 1930an. Hasil kerjanya
dikenal

luas

dalam

pengembangan

kurikulum

khususnya,

karena

rasional

yang

dikembangkannya sebagai teori kemudian mendasari perkembangan kurikulum yang


diciptakan oleh para ahli lain.
Tyler memulai model pengembangan kurikulumnya dengan identifikasi empat
pertanyaan pokok yang harus dicari jawabannya apabila seseorang akan merencanakan suatu
kurikulum sekolah. Keempat pertanyaan tersebut adalah:
1. Apakah tujuan pendidikan yang ingin dicapai di sekolah?
2. Pengalaman belajar macam apakah yang harus disediakan untuk dapat mencapai tujuan
pendidikan tersebut?
3. Bagaimanakah pengalaman-pengalaman belajar tersebut dapat diorganisasikan dengan
efektif?
4. Bagaimanakah caranya untuk mengetahui bahwa tujuan pendidikan tersebut telah
dicapai?
Masng- masing pertanyaan tersebut ternyata merupakan persoalan besar yang tidak
dapat dipecahkan dengan mudah. John Dewey melukiskan perdebatan dan perbedaan
pendapat yang menyangkutteori dan praktek kependidikan ini dengan singkat dan tegas:
All society movements involve conflicts which are reflected intellectually in
controversies. It would be a sign of health if such an important social interest as
education were not also an area of struggles, practical and theoretical.
Perbedaan pendapat tentang tujuan pendidikan atau apa yang sebaiknya diajarkan di
sekolah merupakan satu diantara perdebatan berkepanjangan mungkin sampai sekarang belum
terselesaikan secara tuntas. Jawaban terhadap keempat pertanyaan Tyler tersebut tidak saja
diperdebatkan di sekolah, tetapi meluas ke polemic surat kabar, pertemuan orang tua murid
dan guru bahkan sampai ke meja pengadilan. Kontroversi tentang apa yang menjadi tujuan
pendidikan di sekolah ini dapatdilihat dalam kasus penambahan mata pelajaran baru di suatu
kurikulum lembaga pendidikan manakala pemerintah atau masyarakat tertentu secara
persuasive menganggap perlu dimasukkan menjadi bahan pelajaran disekolah. Banyak
strategi timbul untuk mengoperasionalkan pertanyaan tentang tujuan pendidikan ini. Ada yang
menjabarkan dari pemikiran filsafat dan ada yang menggunakan studi tentang kehidupan
masyarakat kontemporer sebagai sumber perumusan tujuan. Konflik yang ada bukan hanya
menyangkut penentuan tujuan pendidikan , tetapi juga dalam mencari jawaban terhadap
ketiga pertanyaan lain.
2

Pemikiran Ralph Tyler berhasil mendorong pemikiran-pemikiran dan usaha-usaha


laim yang cukup berpengaruh bagi teori dan praktek kependidikan, meskipun dilain pihak
juga tidak melenyapkan sifat kontroversi yang mewarnai masing-masing rasionalnya. Dalam
kurun waktu berikutnya, muncul teori pengembangan kurikulum oleh ahli lain yang
menjelaskan lebih terperinci teori yang dikembangkan oleh Tyler. Beberapa teori lain itu
adalah dikembangkan oleh Virgil Herrick(1950) dan Hilda Taba(1962), yang pada intinya
menambahkan hal atau gagasan spesifik yang member isi lebih terperinci untuk masingmasing pertanyaan Tyler. Dalam kenyataan yang sebenarnya, keputusan tentang satu aspek
kerapkali akan mempengaruhi atau dipengaruhi oleh aspek lain, sehingga proses
pengembangan kurikulum adalah suatu rangkaian langkah-langkah yang kompleks tapi erat
berhubungan satu sama lain. Ini kemudian merintis jalan kearah proses pengembangan
kurikulum menggunakan pendekatan system, dimana untuk setiap langkah dalam proses
tersebut semua komponen yang terlihat didalamnya diperhatikan dengan seksama seperti teori
yang dikembangkan Galen Saylor dan William Alexander(1974).
Salah satu kemungkinan pendekatan sistemik dalam perencanaan kurikulum dapat
dilukiskan dalam bentuk diagram alur dibawah ini.

Analisis
Kebutuhan
Studi
Kelayaka
n

Perumusa
n
Tujuan/Misi

Penentuan
Kriteria/Keberh
asilan

Penentuan
Strategi
Instruksional
Validasi &
Implement
asi
Evaluasi
Program

Gambar Diagram alur proses perencanaan kurikulum menggunakan pendekatan


system
Dalam diagram alur tersebut Nampak bahwa kegiatan yang satu sangat erat
hubungannya dengan yang lain dan keputusan yang akan diambil untuk masing-masing step
sangat tergantung pada apa yang sudah diputuskan dalam step lain.
B. Model-model Rancangan Kurikulum
Melihat kompleksnya komponen perencanaan dan pengembangan kurikulum,
tidaklah mengherankan apabila kontroversi muncul sebagai konsekuensi keragaman pola pikir
para ahli. Untuk sekedar memberikan gambaran sekilas, beberapa diantara racangan yang
sering digunakan dan sering muncul dalam literature profesi akan diuraikan dibawah ini.
1. Subject- centered Curriculum
rancangan yang sudah lama dipakai di tingkat pendidikan menengah adalah apa yang
selama ini dikenal dengan tracking system dimana anak didik dipisahkan dalam dua jalur
atau lebih missal jalur akademik dan kejuruan. Dilihat dari pengembangan sumberdaya
manusia, rancangan ini terlalu kaku, kurang luwes menghadapi realitas beragamnya
potensi anak didik dan terlalu membesarkan dikotomi antara belajar dan bekerja yang
dalam kehidupan nyata sebenarnya tidak ada.
2. Kurikulum Inti
Rancangan ini membagi kurikulum di sekolah menjadi tiga yaitu komponen inti yang harus
diikuti semua siswa, komponen wajib yang harus diikuti sebagian siswa dengan bidang
spesialisasi yang relevan, komponen pilihan yang boleh diambil siswa sebagai mata
pelajaran yang efektif. Ini dimaksudakan bahwa program dapat mencakup hal-hal
mendasar yang secara umum diperlukan, maupun hal-hal spesifik untuk bidang studi
tertentu atau untuk mempersiapkan karir tertentu disamping masih member anak
kebebasan untuk mengembangkan minat dan bakat.
3. Cluster-Based Curriculum
Dalam pengorganisasian berdasarkan kelompok atau cluster ini, kurikulum diorganisasikan
sedemikian rupa sehingga anak didik tidak mengikuti satu program spesifik untuk suatu
tujuan tertentu, tetapi terkandung keluwesan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat dan dunia kerja khususnya.
4

4. Kurikulum Berdasarkan Kompetensi


Kurikulum berdasarkan kompetensi pada dasrarnya membuat dasar intervariasai
kompetensi yang diperkirakan esensial untuk suatu pekerjaan, jabatan atau karier tertentu.
5. Kurikulum Terbuka
Kurikulum pendidikan terbuka yang mulai menjamur pada tahun 1970 an didasarkan pada
gagasan inovatif bahwa pada dasarnyaapa saja bisa didasarkan pada siapa saja dimana
saja dan pada umur berapa saja.
Adanya berbagai variasi desain kurikulum tersebut menunjukkan secara jelas
bahwa tidak ada satu cara perencanaan dan pengorganisasian kurikulum yang paling baik dan
efektif. Pelajaran mahal yang dapat diperoleh negara berkembang bahwa Negara berkembang
cenderung mentransfer atau mengimpor begitu saja system perencanaan dari Negara maju
tanpa mempertimbangkan secara mendalam konteks dan karakteristik masyarakat yang jauh
berbeda dengan Negara berkembang. Untuk itu sebelum membahas lebih jauh tentang
kerangka konseptual perencanaan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan, akan dibahas
terlebih karakteristik pendidikan kejuruan dan implikasinya bag perencanaan dan
pengembangan kurikulum.
C. KARAKTERISTIK PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
Meskipun pendidikan teknologi dan kejuruan tidak terpisahkan dari system pendidikan
secara keseluruhan , namun sudah barang tentu mempunyai kekhususan atau karakteristik
tertentu yang membedakannya dengan subsistem pendidikan yang lain. Dalam definisi,
struktur organisasi dan tujuan pendidikannya saja, tetapi juga tercermin dalam aspek-aspek
lain yang erat kaitannya dengan perencanaan kurikulum, yaitu:
1) Orientasi pendidikannya
2) Justifikasi untuk eksistensinya
3) Fokus kurikulumnya
4) Kriteria keberhasilanya
5) Kepekaan terhadap perkembangan masyarakat
6) Perbekalan logistiknya
5

7) Hubungannya dengan masyarakat dunia usaha


Landasan Konseptual
Untuk dapat menghasilkan kurikulum yang dapat memenuhi karakteristik pendidikan
teknologi dan kejuruan seperti uraian diatas, perlu dikemukakan seperangkat landasan
konseptual yang seyogyanya menjadi bahan acuan dalam proses perencanaan dan pengembangan
kurikulum tersebut. Kesepuluh butir landasan konseptual inilah yang nantinya akan
mempedomani langkah-langkah perencanaan sampai dengan evaluasi kurikulum pendidikan
teknologi dan kejuruan.
1) Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan harus berorientasi kepada keseimbangan
antara kebutuhan anak didik dan kebutuhan dunia lapangan kerja.
2) Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan harus mempertimbangkan artikulasi antar
jenjang pendidikan sejalan dengan perkembangan vokasional anak didik.
3) Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan di tingkat menengah atas perlu
menyediakan

kurikulum

dasar

yang

luas

berdasarkan

pada

sekelompok

karier(occupational cluster), dan menghindar dari spesialisasi yang terlalu tajam.


4) Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan di tingkat menengah atas harus mengambil
sifat pendekatan proaktif dan menjauh dari sifat pendekatan reaktif terhadap kebutuhan
lapangan kerja agar kelayakan program dan adapttabilita lulusan dapat dijamin.
5) Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan harus diorganisir demikian rupa sehingga
pendidikan kejuruan tidak lagi secara otomatis bersifat terminal tetapi akan lebih bersifat
developmental jalan dengan perkembangan potensi anak didik.
6) Dalam perencanaan kegiatan instruksional sebagai bagian dalam kurikulum pendidikan
teknologi dan kejuruan harus diusahakan keseimbangan proporsi kegiatan untuk
pengembangan aspek-aspek afektif, kognitif dan keterampilan atau skill secara terpadu.
7) Dalam perencanaan kegiatan instruksional sebagai bagian dalam kurikulum pendidikan
teknologi dan kejuruan, harus diusahakan agar lebih mencerminkan suasana kegiatan
belajar dari pada suasana kegiatan bekerja, meskipun aspek-aspek dunia kerja sebanyak
mungkin harus direfleksikan.

8) Program penelusuran minat dan bakat, program bimbingan akademik dan kejuruan serta
program orientasi dunia kerja harus ditangani secara serius sebagai kegiatan penunjang
untuk keberhasilan pelaksanaan kurikulum dalam pendidikan teknologi dan kejuruan.
9) Proses evaluasi secara komprehensif dan menerus baik yang menyangkut input, proses
maupun output pendidikan kejuruan harus merupakan kegiatan integral dari proses
pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan.
10) Dukungan empirik dari perencanaan, implementasi dan keberhasilan kurikulum
pendidikan teknologi dan kejuruan harus diusahakan melalui kegiatan penelitian yang
terarah dan terencana agar pondasi ilmiah penyelenggaraan pendidikan teknologi dan
kejuruan menjadi semakin mapan.
KERANGKA KONSEPTUAL
Dalam kerangka konseptual yang dikembangkan dalam buku ini tercakup beberapa aspek
pokok, yaitu aspek pentahapan proses perencanaan, aspek interaksi komponen system, aspek
makro dan mikro dalam operasionalisasi proses perencanaan, dan aspek efisiensi internal dan
eksternal sebagai criteria keberhasilan pendidikan teknologi dan kejuruan. Keempat aspek

DESAIN PROGRAM

TINGKAT
MIKRO
PERENCANAAN
/

TINGKAT
MAKRO

STUDI
KELAYAKAN

tersebut diusahakan untuk dapat divisualisasikan secara terpadu dalam gambar

Analisis
Kebutuhan
Perumusa
n
Misi/Tujua
n

Formulasi
Tujuan
Instruksional
Perencanaan
Strategi Keg.
Instruksional
Perumusan
Kriteria
Penentu
Keberhasila
n Program

EFIESIENSI
EKSTERNAL

EFIESIENSI
INTERNAL
TAHAP PELAKSANAAN
Uji Coba
Validasi
Program

Impleme
ntasi
Program

TAHAP
EVALUASI
Evaluasi
dan studi
pelacakan

1. Tahapan Proses Perencanaan Kurikulum


Dalam gambar nampak bahwa keseluruhan proses dapat dibagi dalam tiga tahapan besar
yaitu:
1) Tahap perencanaan
2) Tahap implementasi
3) Tahap evaluasi dan pemantapan
Meskipun ketiga fase perencanaan tersebut diatas digambarkan dalam tiga bagian yang
terpisah, namun kesinambungan proses tersebut jelas tersirat dari interaksi antar
komponennya.
2. Interaksi Antar Komponennya
Ditinjau dari interaksi antar komponen dalam sisitem perencanaan dan pengembangan
kurikulum, karakteristik yang menonjol dari kerangka konseptual ini adalah hubungan
yang timbale balik antar komponen yang satu dengan komponen yang laindan orientasi
kepada anak didik yang mewarnai keseluruhan proses.
3. Analisis Makro dan Mikro
secara garis besar ada komponen proses yang terjadi dilingkup yang besar dengan dimensi
permasalahan yang luas, yang Ini selanjutnya memerlukan analisis dan pemikiran ditingkat
makro. Di samping itu ada pula komponen proses yang terjadi di lingkup sekolah dan kelas
dengan dimensi permasalahan yang lebih terbatas, yang ini memerlukan analisis dan
pemikiran di tingkat mikro.
KERANGKA OPERASIONAL
Ditinjau dari aspek operasional, proses perencanaan dan pengembangan kurikulum
menyangkut koordinasi yang harmonis antara aspek perencanaan yang dilakukan di tingkat
makro atau level nasional dengan aspek-aspek perencanaan yang dilaksanakan di tingkat makro
atau level kelas dan sekolah. Suatu kerangka pemikiran operasional ditawarkan oleh
Beane(1986) yang membedakan tugas perencanaan kurikulum menjadi tiga tingkatan, yaitu di

tingkat makro dan mikro, di tingkat makro dan di tingkat mikro seperti dijelaskan oleh gambar
dibawah ini.

Tujuan
Umum

Rencana
Kurikulum

PBM

Perenc.
Kurikulum
Pengembangan
kurikulum
pengaj
aran
TINGKAT
MAKRO

TINGKAT
MAKRO

Kerangka Operasional Proses Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum

Analisis Kebutuhan, Demografis dan Tren Dunia Kerja

Perumusan Tujuan Umun dan Tujuan Institusional


TINGKAT MAKRO
Penentuan Tujuan Intruksional dan Kriteria keberhasilan program

Perencanaan Kegiatan dan Materi Intruksional

TINGKAT MIKRO

Eksperimen/ Uji coba program dan Validasi Lapangan

Implementasi Program
Evaluasi Program

FAKTOR-FAKTOR DOMINAN
Perencanaan dan pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan adalah
suatu proses yang memberikan banyak tantangan secara profesional tetapi sekaligus juga proses
yang banyak menghabiskan waktu dan biaya. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan
perencanaann kurikulum untuk suaatu program pendidikan teknologi dan kejuruan.
1. Faktor pertama yang sangat penting yaitu faktor waktu.
2. Faktor kedua adalah biaya atau dan yang disediakan untuk proses perencanaan dan
pengembangan kurikulum.
3. Faktor ketiga yaitu tekanan-tekanan baik dalam dunia pendidikan maupun dari luar, baik
berasal dari perorangan atau kelompok.
4. Faktor keempat yaitu sikap atau pandangan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap
perubahan kurikulum itu sendiri. Semua faktor tersebut diatas selayaknya diantisipasi
sebagai hal yang bisa dan akan mempngaruhi proses peencanaan secara operasional.

10

PERTANYAAN
1.
2.
3.
4.

Sebutkan dan jelaskan dengan singkat model-model rancangan kurikulum yang ada?
Jelaskan kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan?
Sebutkan dan jelaskan tahapan proses perencanaan kurikulum?
Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi perencanaan dan

pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan?


5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan analisis Makro dan Mikro?

JAWABAN
1. Model-model rancangan kurikulum
a. Subject Centered Curriculum : Rancangan kurikulum di mana anak didik
dipisahkan kedalam dua jalur atau lebih .
b. Kurikulum Inti : Rancangan ini membagi kurikulum disekolah menjadi beberapa
komponen yaitu komponen inti yang harus diikuti oleh sebagian siswa dengan,
komponen wajib dan komponen pilihan .
c. Cluster Based Curriculum : Rancangan kurikulum ini tidak mengikuti satu program
spesifik untuk suatu tujuan tertentu, tetapi terkandung keluwesan untuk menyesuaikan
dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja khususnya .
d. Kurikulum berdasa Kompetensi : Kurikulum berdasarkan kompetensi pada dasarnya
membuat inventarisasi kompetensi yang diperkirakan esensial untuk suatu pekerjaan,
jabatan atau karier tertentu .
e. Kurikulum terbuka : Kurikulum yang inovatif dan berperinsip apa saja bisa diajarkan
pada siapa saja di mana saja dan pada umur berapa saja .
2. Kriteria untuk menentukan keberhasilan keberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan
pada dasarnya menerapkan ukuran ganda, yaitu keberhasilan siswa di sekolah dan
keberhasilan di luar sekolah.
3. Tahapan proses perencanaan kurikulum

11

a. Tahap perencanaan : dalam tahap perencanaan terdapat analisis tentang kajian social,
kajian filosofis dan kajian psikologis . Kemudian dilakukan tahap pengembangan desain
program .
b. Tahap implementasi : Tahap uji coba dengan dilaksanakan dan dikelola, sambil
dilakukannya penyesuaian karakteristik anak didik .
c. Tahap evaluasi dan pemantapan : Tahap di mana program dievaluasi secara
komprehensif untuk menentukan keberhasialan atau kegagalan program sesuai dengan
criteria yang sudah ditentukan dalam tahap perencanaan .
4. Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi perencanaan dan pengembangan kurikulum
pendidikan teknologi dan kejuruan
a. Faktor waktu yang tersedia : Faktor ini langsung akan mempengaruhi strtegi penentuan
isi dan pengumpulan data atau informasi penunjang yang berbeda .
b. Faktor biaya yang disediakan : Faktor ini akan membatasi keleluasaan pengumpulan
informasi sebagai masukan atau bahan pertimbangan dalam perencanaan .
c. Faktor tekanan : Faktor ini dalam prakteknya bisa memberikan tekanan berupa
dukungan ataupun tentangan terhadap aspek tertentu dalm perencanaan kurikulum .
d. Faktor sikap atau pandangan dari pihak yang berkepentingan terhadap perubahan
kurikulum itu sendiri : Faktor ini sering terjadi setiap pergantian pejabat akan selalu
terjadi pergantian kebijaksanaan yang menyangkut kurikulum sekolah .
5. Analisis Makro dan Mikro
a. Analisis Makro : menyangkut komponen komponen penyelenggaraan studi
kelayakan atau penjajagan dan perumusan tujuan umum serta tujuan institusional
program kejuruan tertentu .
b. Analisis Mikro : Bergelut dengan permasalahan dalam lingkup sekolah dan kelas,
yang meliputi analisis tugas untuk suatu bidang atau kelompok spesialisasi tertentu
dan juga penterjemahannya ke dalam rencana kegiatan instruksional .

12