Anda di halaman 1dari 30

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I

SEDIMENTASI

NAMA KELOMPOK :
1. FITRIYATUN NUR JANNAH
2. FERA ARINTA
3. DANI PRASETYA

(5213412006)
(5213412017)
(5213412037)

PRODI TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITTAS NEGERI SEMARANG
2014

PRAKTIKUM SEDIMENTASI
I.

TUJUAN
1. Menghitung densitas pasir A dan pasir B yang lolos dan tidak lolos
34 mesh dan densitas batu bata A dan batu bata B yang lolos dan
tidak lolos 150 mesh.
2. Mengukur ketinggian awal dan ketinggian endapan setiap 3 detik
sampai diperoleh ketinggian konstan untuk masing-masing bahan.
3. Menganalisis pengaruh konsentrasi, perbedaan jenis partikel,
perbedaan ukuran partikel pada masing-masing bahan dengan
konsentrasi masing-masing.
4. Menentukan settling velocity (vs) pada masing-masing jenis bahan
untuk masing-masing konsentrasi berdasarkan grafik.

II.

DASAR TEORI
Sedimentasi adalah salah satu operasi pemisahan campuran
padatan dan cairan (slurry) menjadi cairan beningan dan sludge (slurry
yang lebih pekat konsentrasinya). Pemisahan dapat berlangsung karena
adanya gaya gravitasi yang terjadi pada butiran tersebut. Dalam filtasi
partikel zat padat dipisahkan dari slurry dengan kekuatan fluida yang
berada pada medium filter yang akan menghalangi laju lintas partikel zat
padat. Dalam proses pengendapan dan proses sedimentasi partikel
dipisahkan dari fluida oleh gaya aksi gravitasi partikel. Pada beberapa
proses, pemisahan serta sedimentasi partikel dan pengendapan bertujuan
untuk memisahkan partikel dari fluida sehingga fluida bebas dari
konsentasi partikel. ( Cristie geankolplis, tahun : 815-816)
Sedimentasi merupakan peristiwa turunnya partikel padat yang
semula tersebar merata dalam cairan karena adanya gaya berat setelah
terjadi pengendapan cairan jernih dapat dipisahkan dari zat padat yang
menumpuk di dasar (endapan). Keadaan dimana padatan bergerak turun
hanya karena gaya gravitasi. Kecepatan yang konstan ini disebabkan oleh
konsentrasi di lapisan batas yang relatif masih kecil, sehingga pengaruh
gaya tarik-menarik antar partikel, gaya gesek dan gaya tumbukan antar
partikel dapat diabaikan, proses ini disebut free settling.
Semakin banyak partikel yang mengendap, konsentrasi menjadi
tidak seragam dengan bagian bawah slurry menjadi lebih pekat.

Konsentrasi pada bagian batas bertambah, gerak partikel semakin sukar


dan kecepatan turunnya partikel berkurang. Kondisi ini disebut hindered
settling ( Cristie geankolplis, tahun : 815-816)
Selama proses berlangsung terdapat tiga gaya yang mempengaruhi proses, yaitu:
1. Gaya Gravitasi
Gaya ini terjadi apabila berat jenis larutan lebih kecil dari berat jenis
partikel, sehingga partikel lain lebih cepat mengendap. Gaya ini bisa dilihat
pada saat terjadi endapan. Pada kondisi ini, sangat dipengaruhi oleh hukum 2
Newton, yaitu:
Fg = m . g
= s x g
2. Gaya Apung
Gaya ini terjadi jika massa jenis partikel lebih kecil dari pada massa
jenis fluida sehingga fluida berada pada permukaan cairan.
mxpxg
Fa=

3. Gaya Dorong
Gaya ini terjadi pada saat larutan dipompakan kedalam tabung
klarifier. Gaya dorong juga dapat dilihat pada saat mulai turunnya partikel
padatan karena adanya gaya gravitasi, maka fluida akan memberikan gaya
yang besarnya sama dengan berat padatan itu sendiri.
V x D(g- g)
Fd = 18
Dari ketiga gaya diatas diturunkan suatu laju pengendapan menurun yaitu:
2
V x D P ( g- g )
Fd = 18
Didalam slurry yang mengandung partikel-partikel ukuran berbeda,
partikel-partikel yang lebih besar akan mengendap lebih cepat dan mulai
menumpuk, dimana zona D dan zona transisi C yang mengandung padatan yang
bervariasi antara konsentrasi zona B dan zona D mulai nampak. Setelah
pengendapan lebih jauh atau pada kondisi kecepatan pengendapan kompresinya,
zona B dan zona C tidak nampak tetapi hanya terdapat slurry pekat pada zona D
(Geankoplis, C.J., 2003).
Pemakaian Proses Sedimentasi terbagi beberapa metode :
1. Proses Batch

Sedimentasi merupakan

pemisahan

antara padatan

dengan

cairan yang berasal dari slurry encer. Pemisahan ini menghasilkan cairan
jernih dan padatan dengan konsentrasi tinggi. Mekanisme dari
sedimentasi dideskripsikan dengan observasi pada tes batch settling
yaitu ketika

partikel-partikel padatan dalam suatu slurry mengalami

proses pengendapan dalam silinder kaca.

Gambar 1. Zona pengendapan


2. Proses Semi-Batch
Pada sedimentasi semi-batch hanya terdapat cairan keluar atau
masuk saja. Jadi, kemungkinan hanya ada slurry yang masuk atau
beningan yang keluar.

Keterangan:
A = Cairan bening
B = Zona konsentrasi seragam
C = Zona ukuran butir tidak seragam
Gambar 2. Proses sedimentasi semi batch
D = Zona partikel padat terendapkan
3. Proses Kontinyu
Pada proses ini terdapat slurry yang masuk dan cairan bening
yang keluar pada saat yang bersamaan. Saat kondisi steady state, maka
ketinggian cairan akan selalu tetap. Proses sedimentasi disajikan dengan
gambar berikut :
Keterangan:
A = Cairan bening
B = Zona konsentrasi seragam
C = Zona ukuran butir tidak seragam
D = Zona partikel padat terendapkan

Gambar 3 Proses sedimentasi Kontinyu


Berdasarkan konsentrasi dan kecenderungan partikel berinteraksi, proses
sedimentasi terbagi atas empat tipe:
1. Sedimentasi Tipe I/Plain Settling/Discrete particle
Partikel mengendap secara individual, dan tidak ada interaksi antar
pertikel. Tipe ini merupakan pengendapan partikel tanpa menggunakan
koagulan. Tujuan dari unit ini adalah menurunkan kekeruhan air baku dan
digunakan pada grit chamber.
2. Sedimentasi Tipe II (Flocculant Settling)
Terjadi interaksi antar partikel, sehingga ukuran meningkat dan
kecepatan pengendapan bertambah. Pengendapan material koloid dan solid
tersuspensi terjadi melalui adanya penambahan koagulan, biasanya digunakan
untuk mengendapkan flok-flok kimia setelah proses koagulasi dan flokulasi.
3. Hindered Settling (Zone Settling)
Merupakan pengendapan dengan konsentrasi koloid dan partikel
tersuspensi adalah sedang, di mana partikel saling berdekatan sehingga gaya
antar pertikel menghalangi pengendapan partikel-partikel di sebelahnya.
Partikel berada pada posisi yang relatif tetap satu sama lain dan semuanya
mengendap pada suatu kecepatan yang konstan. Hal ini mengakibatkan massa
pertikel mengendap sebagai suatu zona, dan menimbulkan suatu permukaan
kontak antara solid dan liquid.
4. Compression Settling
Terjadi pemampatan partikel yang telah mengendap yang terjadi karena
berat partikel.

III.

ALAT DAN BAHAN


1. Alat
Gelas Ukur
Ayakan 34
mesh dan 150
mesh

Gelas Arloji
Neraca
Analitik
Spatula
Stopwatc

2. Bahan
Batu bata
Pasir
3. Gambar Alat

Gambar III.1

Neraca
Analitik

Gambar III.2
Spatula

Gambar III.3
Gelas Arloji

Gambar III.6
Gelas Arloji

Gambar
III.4
Ayakan 34 mesh

Gambar III.5
Ayakan 150 mesh

4. Skema Kerja
Pasir lolos dan tidak lolos 34 mesh

Gerus pasir

Pasir diayak

34 mesh
Lolos
Tidak lolos 34 mesh

Hitung densitas

Ditimbang

Pasir A = 15 gr
Pasir B = 17 gr

Gelas ukur diisi air 100 mL

Masukkan pasir dalam gelas ukur

Ukur ketinggian awal

Kocok semua campuran

Ukur ketinggian awal

Amati ketinggian endapan


Jarak waktu 3 detik

Gambar III.1 Skema kerja pasir lolos dan tidak lolos 34


mesh
Batu bata 150 mesh

Gerus Batu bata

Batu bata diayak

34 mesh
Lolos
Tidak lolos 34 mesh

Hitung densitas

Batu bata A = 15 gr

Ditimbang Batu bata B = 17 gr

Gelas ukur diisi air 100 mL

Masukkan batu bata dalam gelas ukur

Ukur ketinggian awal

Gambar III.2 Skema kerja batu bata lolos dan tidak lolos 34
mesh
IV.

Kocok semua campuran


HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. DATA HASIL PENGAMATAN

Tabel IV.1 Hasil pengamatan percobaan sedimentasi


Ukur ketinggian awal

Cara Kerja

Hasil Pengamatan

Amati ketinggian endapan


Jarak waktu 3 detik

Menyiapkan bahan

Menggerus raw material yang


digunakan

Mengayak hasil gerusan

Menghitung densitas masing


masing raw material

Raw material halus (diameter


berkurang)

Material lolos ayakan dan tidak


lolos ayakan
-

Menyiapkan gelas ukur yang


telah terisi air 100 mL

Memasukkan raw material dan


mengukur ketinggian awal

Mengocok semua campuran dan


mengamati ketinggian endapan setelah 3
detik

Pasir

=1,069

gr
mL >34 mesh

=1,209

gr
mL <34 mesh

Menimbang raw material hasil


ayakan

Pasir
Batu bata

Batu bata

gr
mL >150 mesh

=0,78

=0,843

gr
mL <150 mesh

Pasir A = 1,5 gram


Pasir B = 1,7 gram
Batu bata A = 1,5 gram
Batu bata B = 1,7 gram
Volume air 100 mL

Pasir mengendap dengan


ketinggian awal:

Pasir A(1,5 gr) lolos = 4 mm

Pasir B (1,5 gr) tidak lolos = 3 mm

Pasir A (1,7 gr) lolos = 5 mm

Pasir B (1,7 gr) tidak lolos = 4 mm

Batu bata A(1,5 gr) lolos = 4 mm

Batu bata B (1,5 gr) tidak lolos =


4,5 mm

Batu bata A (1,7 gr) lolos = 5 mm

Batu bata B (1,7 gr) tidak lolos = 6


mm

Partikel tersebar merata dalam


cairan. Data ketinggian kecepatan
pengendapan pada tabel IV.2 dan tabel
IV.3

Tabel IV.2 Data kecepatan pendapan pada variabel pasir


Variabel
Pasir A
(1,5gr/100ml)

Pasir B
(1,7gr/100ml)

bata

Tabel IV.3 Data kecepatan pendapan pada variabel batu

Variabel
Batu bata A
(1,5gr/100ml)

Batu bata B
(1,7gr/100ml)

Tabel IV.3 Hasil perhitungan densitas

Variabel

gr
)
ml

Pasir lolos 34 mesh

1,069

Pasir tidak lolos 34 mesh

1,209

Batu bata lolos 150 mesh

0,78

Batu bata tidak lolos 150 mesh

0,843

Tabel IV.4 Data hasil perhitungan ketinggian awal masing-

masing bahan.
variabel

Lolos ayakan 34

Tidak lolos

mesh

ayakan 34 mesh

Pasir A (1,5 gr/ml)

4 mm

3 mm

Pasir A (1,7 gr/ml)

5 mm

4 mm

Lolos ayakan 150

Tidak olos ayakan

mesh

Batu bata A (1,5

150 mesh

4 mm

4,5 mm

gr/ml)

Batu bata B (1,5


gr/ml)

5 mm

6 mm

Tabel IV. 5 Data kecepatan pengendapan partikel

variab
el

kecepatan pengendapan

1,5
gr/ml

1,7

pasir A

0,0514

0,0

pasir B

0,0208

0,0

batu
bata A

0,0085

0,0

0,0059

0,0

batu
bata B

B. PEMBAHASAN
Pada praktikum sedimentasi ini, variabel yang digunakan

adalah pasir A ( 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml) yang lolos dan tidak lolos
ayakan 34 mesh dan pasir B ( 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml) yang lolos dan
tidak lolos ayakan 34 mesh serta batu bata A ( 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml)
yang lolos dan tidak lolos ayakan 150 mesh dan batu bata B ( 1,5
gr/ml dan 1,7 gr/ml) yang lolos dan tidak lolos ayakan 150 mesh.
Praktikum sedimentasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
konsentrasi dan ukuran partikel serta massa jenis bahan terhadap
kecepatan pengendapan bahan dalam air. Selain itu pada praktikum ini
bertujuan untuk mengetahui settling velocity pada masing-masing
variabel

dengan

konsentrasi

masing-masing

hingga

mencapai

ketinggian endapan konstan. Sebelum menghitung settling velocity


terlebih dahulu menghitung densitas masing-masing variabel dengan
konsentasi masing-masing. Tabel IV. 3 menunjukan perbedaan
densitas pada ketiga bahan.
Perhitungan densitas bahan padatan dengan menggunakan
gelas ukur yang pertama mencari volume gelas ukur yang digunakan
dengan cara memasukkan air yang sudah diketahui densitasnya maka
dapat diketahui volume gelas ukur 10 ml. Selanjutnya bahan padatan
dimasukkan kedalam gelas ukur sehingga diperoleh berat bahan
padatan. Dari pengukuran tersebut sehingga didapatkan volume bahan
padatan, dimana volume bahan padatan tersebut adalah volume gelas
ukur dikurangi volume air yang ditambahkan. Dengan diketahuinya
volume bahan padatan dan massa bahan padatan, sehingga densitas
bahan padatan dapat dicari. Dari hasil perhitungan diperoleh densitas
masing-masing, yaitu pasir lolos 34 mesh (1,069 gram/ml), pasir tidak
lolos 34 mesh (1,209 gram/ml), batu bata lolos 150 mesh (0,78
gram/ml), batu bata tidak lolos 150 mesh (0,843 gram/ml).
Pada praktikum sedimentasi ini, bahan padatan dimasukkan
ke dalam gelas ukur yang telah dimasukkan air sebanyak 100 ml dan
diukur ketinggian awal bahan padatan dengan konsentrasi masingmasing 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml. Hasil pengukuran ketinggian awal

dapat dilihat pada tabel IV.4. Kemudian partikel yang terlarut tersebut
dikocok tujuan pengocokan partikel dalam air ini agar partikel dapat
tersebar merata dalam cairan air. Setelah dikocok kemudian dilakukan
pengukuran pengendapan partikel dengan menggunakan mistar selama
3 detik sampai ketinggian endapan konstan. Sebelum mengukur
ketinggian endapan, menyiapkan waktu lebih dulu yang akan
digunakan untuk mengukur seberapa lama endapan tersebut
mengendap. Setiap bahan padatan memiliki waktu pengendapan
masing-masing sesuai dengan jumlah bahan padatan dan ukuran
partikel. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, jika jumlah
bahan padatan semakin berat dengan konsentasi yang sama maka akan
memiliki waktu pengendapan yang cepat dikarenakan memiliki gaya
berat yang lebih besar sehingga memudahkan partikel untuk
mengendap.
Kecepatan pengendapan diperoleh dari kemiringan/slope
dimana sumbu y adalah ketinggian endapan dan sumbu x adalah
waktu dalam sekon dari kurva. Pada saat t1 maka slope (kemiringan)
-dz/dt = v1. Dan pada titik ketinggian endapan z1 hingga zi maka
intersep garis singgung kurva dinyatakan dengan :

z i-z 1
v1 = t 1 -0

pasir A
6
5
4

pasir lolo 34 mesh 1,5


gr/ml

pasir lolos 34 mesh


1,7 gr/ml

2
1
0
0

10

20

30

40

50

60

Grafik 4.1 Perbandingan ketinggian endapan pasir A dengan

perbedaan konsentasi 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml

Grafik diatas menunjukan bahwa pengaruh waktu (t)

terhadap tinggi pengendapan (z) dengan konsentasi yang berbeda yaitu


pada konsentasi 1,7 gr/ml dan 1,5 gr/ml pada pasir A yang dihasilkan dari
percobaan. Dari grafik tersebut terlihat bahwa kecepatan pengendapan
suatu partikel mengalami kenaikan.

pasir A
6
5
4

f(x) = 0.07x + 2.72

pasir lolo 34 mesh 1,5


gr/ml

f(x) = 0.05x + 2.08

Linear (pasir lolo 34


mesh 1,5 gr/ml)
pasir lolos 34 mesh
1,7 gr/ml

Linear (pasir lolos 34


mesh 1,7 gr/ml)

2
1
0
0

10

20

30

40

50

60

Grafik 4.2 Perbandingan ketinggian endapan pasir A

dengan perbedaan konsentasi 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml

Grafik 4.2 diatas menunjukkan pengaruh waktu (t)


terhadap tinggi pengendapan (z) hingga mencapai konstan
pertama kali dengan konsentasi yang berbeda yaitu pada
konsentasi 1,7 gr/ml dan 1,5 gr/ml pada pasir A yang lolos
ayakan 34 mesh. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa
perbedaan konsentrasi

akan mempengaruhi kecepatan

pengendapan dari partikel (pasir). Pasir A dalam air dengan


konsentrasi padatan 1,7 gr/ml dengan ukuran partikel yang
seragam (uniform) ( lolos ayakan 34 mesh) akan memiliki
waktu pengendapan yang lebih cepat untuk mencapai
konstan, kecepatan pengendapan dari pasir akan lebih besar
jika di bandingkan dengan partikel dari pasir yang memiliki
konsentrasi pengendapan 1,5 gr/ml. Hal tersebut dapat

dilihat dalam grafik diatas. Kecepatan pengendapan


merupakan besarnya gradient (slope) yang terbentuk dari
garis yang menghubungkan ketinggian endapan hingga
konstan untuk pertama kali dengan waktu. Kecepatan
pengendapan konsentrasi 1,7 gr/ml yaitu 0,066 mm/s 2
sedangkan kecepatan pengendapan konsentasi 1,5 gr/ml
yaitu 0,0514 mm/s2. Dari grafik tersebut dapat disimpulkan
bahwa dengan jenis bahan yang sama, semakin besar
konsentrasi padatan dalam suatu campuran akan memiliki
kecepatan pengendapan yang akan semakin besar.

Pasir B
5
4
pasir B tidak lolos 34
mesh 1,5 gr/ml

3
ketinggian endapan (mm) 2
1

pasir B tidak lolos 34


mesh 1,7 gr/ml

0
50
0 100
waktu (sekon)

Grafik 4.3 perbandingan ketinggian endapan pasir B


dengan perbedaan konsentasi 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml

Grafik diatas menunjukan bahwa pengaruh waktu (t)

terhadap tinggi pengendapan (z) dengan konsentasi yang berbeda yaitu


pada konsentasi 1,7 gr/ml dan 1,5 gr/ml pada pasir B yang dihasilkan dari

percobaan. Dari grafik tersebut terlihat bahwa kecepatan pengendapan


suatu partikel mengalami kenaikan.

Pasir B
pasir B tidak lolos 34
mesh 1,5 gr/ml
f(x) = 0.04x +Linear
2.57 (pasir B tidak

5
4

lolos 34 mesh 1,5


f(x) = 0.02x + 2.31
gr/ml)

3
ketinggian endapan (mm) 2
1

pasir B tidak lolos 34


mesh 1,7 gr/ml

0
0

50
100

Linear (pasir B tidak


lolos 34 mesh 1,7
gr/ml)

waktu (sekon)

Grafik 4.4 perbandingan ketinggian endapan pasir B


dengan perbedaan konsentasi 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml

Grafik 4.4 diatas menunjukkan pengaruh waktu (t) terhadap

tinggi pengendapan (z) dengan konsentasi yang berbeda yaitu pada


konsentasi 1,7 gr/ml dan 1,5 gr/ml pada pasir B. Dari grafik diatas dapat
dilihat bahwa perbedaan konsentrasi

akan mempengaruhi kecepatan

pengendapan dari partikel (pasir) . Suatu larutan pasir dalam air dengan
konsentrasi 1,7 gr/ml dengan ukuran partikel yang seragam (uniform) akan
memiliki waktu pengendapan yang lebih cepat, begitu juga dengan
kecepatan pengendapan dari pasir akan lebih besar jika di bandingkan
dengan partikel dari pasir yang memiliki konsentrasi pengendapan 1,5
gr/ml. Kecepatan pengendapan merupakan besarnya gradient (slope) yang
terbentuk dari garis yang menghubungkan ketinggian endapan hingga

konstan untuk pertama kali dengan waktu. Kecepatan pengendapan


konsentrasi 1,7 gr/ml yaitu 0,0425 mm/s 2 sedangkan kecepatan
pengendapan konsentasi 1,5 gr/ml yaitu 0,0208 mm/s2. Dari grafik tersebut
dapat disimpulkan bahwa dengan jenis bahan yang sama, semakin tinggi
konsentrasi padatan dalam suatu campuran akan memiliki kecepatan
pengendapan yang akan semakin besar.

batu bata A
6
5
4

batu bata lolos 150


mesh 1,5 gr/ml

batu bata lolos 150


mesh 1,7 gr/ml

2
1
0
0

50

100

150

200

250

300

Grafik 4.5 perbandingan ketinggian endapan batu bata A


dengan perbedaan konsentasi 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml

Grafik diatas menunjukan bahwa pengaruh waktu (t)

terhadap tinggi pengendapan (z) dengan konsentasi yang berbeda yaitu


pada konsentasi 1,7 gr/ml dan 1,5 gr/ml pada batu bata A yang dihasilkan
dari percobaan. Dari grafik tersebut terlihat bahwa kecepatan pengendapan
suatu partikel mengalami kenaikan.

batu bata A
6

f(x) = 0.02x + 2.31

batu bata lolos 150


mesh 1,5 gr/ml

f(x) = 0.01x + 2.55

Linear (batu bata lolos


150 mesh 1,5 gr/ml)

5
4

batu bata lolos 150


mesh 1,7 gr/ml

Linear (batu bata lolos


150 mesh 1,7 gr/ml)

2
1
0
0

50

100

150

200

250

300

Grafik 4.6 perbandingan ketinggian endapan batu bata A


dengan perbedaan konsentasi 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml

Grafik diatas menunjukkan bahwa pada konsentasi


yang berbeda dengan jenis bahan yang sama dan ukuran
partikel yang seragam (uniform) kecepatan pengendapan
partikel akan lebih besar saat konsentasi 1,7 gr/ml dari pada
kecepatan pengendapan partikel yang memiliki konsentrasi
padatan 1,5 gr/ml saat ketinggian endapan (z) konstan
pertama kali. Kecepatan pengendapan partikel dapat
diketahui dari grafik. Pada konsentrasi 1,7 gr/ml kecepatan
pengendapan

batu bata 0,0155 mm/s2 lebih besar

dibandingkan dengan konsentrasi 1,5 gr/ml kecepatan


pengendapan batu bata 0,0085 mm/s2.

batu bata B
7
6
5
4
3
ketinggian endapan (mm)
2
1
0

batu bata tidak lolos


150 mesh 1,5 gr/ml
batu bata tidak lolos
150 mesh 1,7 gr/ml

200
400

waktu ( sekon)

Grafik 4.7 perbandingan ketinggian endapan batu bata B


dengan perbedaan konsentasi 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml

Grafik diatas menunjukan bahwa pengaruh waktu (t)

terhadap tinggi pengendapan (z) dengan konsentasi yang berbeda yaitu


pada konsentasi 1,7 gr/ml dan 1,5 gr/ml pada batu bata B yang dihasilkan
dari percobaan. Dari grafik tersebut terlihat bahwa kecepatan pengendapan
suatu partikel mengalami kenaikan.

batu bata B
batu bata tidak lolos
mesh 1,5 gr/ml
f(x) = 0.01x +150
5.28

7
6
5
4
3
ketinggian endapan (mm)
2
1
0

Linear (batu bata


f(x) = 0.01x +tidak
3.78lolos 150 mesh
1,5 gr/ml)
batu bata tidak lolos
150 mesh 1,7 gr/ml

Linear (batu bata


tidak lolos 150 mesh
1,7 gr/ml)

200
400

waktu ( sekon)

Grafik 4.8 perbandingan ketinggian endapan batu bata B


dengan perbedaan konsentasi 1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml
Grafik diatas menunjukkan bahwa pada konsentasi

yang berbeda dengan jenis bahan yang sama dan ukuran


partikel yang seragam kecepatan pengendapan partikel akan
lebih besar saat konsentasi 1,7 gr/ml dari pada kecepatan
pengendapan partikel yang memiliki konsentrasi padatan
1,5 gr/ml. Kecepatan pengendapan partiikel dapat diketahui
dr

grafik.

Pada

konsentrasi

1,7

gr/ml

kecepatan

pengendapan batu bata 0,006 mm/s2 dan konsentrasi 1,5


gr/ml kecepatan pengendapan batu bata 0,0059 mm/s2 .

Dari ke empat grafik diatas dapat diketahui bahwa ada

berapa faktor yang mempengaruhi kecepatan pengendapan suatu partikel


selain konsentrasi. Ukuran partikel dari variabel yang digunakan juga
berpengaruh pada kecepatan pengendapan pertikel. Semakin besar ukuran

partikel maka semakin besar pula padatan terendapkan tiap satuan waktu
dengan kata lain kecepatan pengendapannya akan lebih cepat, hal ini
disebabkan karena tekanan dari atas cairan bertambah, sehingga kecepatan
turunnya padatan lebih besar. Dari grafik diatas diperoleh kecepatan
pengendapan pasir A paling besar jika dibandingkan dengan pasir B, batu
bata A dan batu bata B. Waktu pengendapan juga mempengaruhi
kecepatan pengendapan jika konsentasi padatan besar dan ukuran partikel
kecil maka waktu yang digunakan untuk mengendapkan akan semakin
cepat. Kecepatan pengendapan ke empat grafik dapat dilihat pada tabel
IV.5

dilakukan :

Berikut adalah grafik perbandingan dari semua varibel yang

Perbandingan ketinggian semua bahan dengan konsentasi yang ber

ketinggian endapan (mm)

pasir A lolos 34 mesh 1,5


gr/ml

pasir A lolos 34 mesh 1,7


gr/ml

pasir B tidak lolos 34


mesh 1,5 gr/ml

pasi B tdk lolos 34 mesh


1,7 gr/ml

batu bata A lolos 150


mesh 1,5 gr/ml

batu bata A lolos 150


mesh 1,7 gr/ml

batu bata B tdk lolos 150


mesh 1,5 gr/ml

batu bata B tdk lolos150


mesh 1,7 gr/ml
0 100 200 300
waktu(sekon)

Grafik 4.9 perbandingan semua varibel dengan konsentasi


1,5 gr/ml dan 1,7 gr/ml

Grafik

4.9

menunjukan

hubungan

ketinggian

pengendapan terhadap waktu, tampak terlihat bahwa


kecepatan

pengendapan

pasir

lebih

cepat

jika

dibandingkan dengan partikel-partikel yang lain. Hal ini

dikarenakan ukuran partikel, ukuran partikel pasir A besar


sehingga kecepatan mengendapkan padatan juga akan
semakin cepat. Waktu juga mempengaruhi kecepatan
pengendapan, jika konsentasi padatan besar dan ukuran
partikel besar maka waktu yang dibutuhkan partikel untuk
mengendap juga kan semakin cepat. Selain ketinggian
pengendapan dan waktu densitas juga mempengaruhi
kecepatan pengendapan partikel, jika densitas padatan
semakin besar kecepatan pengendapannya lebih cepat
dibandingkan padatan yang memiliki densitas yang lebih
kecil.

Pada literatur yang dapat praktikan kutip dari (Setiyadi)

menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi maka akan meningkat pula


drag force yang dialami oleh partikel padatan sehingga mengakibatkan
padatan akan memiliki kecepatan pengendapan yang lebih lama. Namun
pada praktikum ini pengaruh konsentrasi terhadap kecepatan pengendapan
berbanding terbalik terhadap literatur yang ada, campuran yang memiliki
konsentrasi lebih tinggi akan memiliki kecepatan pengendapan yang lebih
cepat pula. Hal ini mungkin terjadi karena padatan yang telah mengendap
tidak terlalu berpengaruh pada kecepatan pengendapan mengingat sangat
kecilnya kosentrasi padatan pada campuran tersebut, tidak seperti hal yang
ditinjau dari literatur dimana padatan yang telah mengalami pengendapan
akan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kecepatan
pengendapan (konsentrasi padatan dalam campuran cukup tinggi).

V. SIMPULAN DAN SARAN


A. SIMPULAN
1. Semakin besar densitas suatu padatan maka kecepatan pengendapan yang
lebih cepat dibanding padatan dengan densitas yang lebih kecil. Dari data
yang diperoleh dari hasil eksperimen densitas yang paling besar adalah
pasir yang tidak lolos 34 mesh, diikuti dengan pasir yang lolos 34 mesh,
batu bata tidak lolos 150 mesh dan batu bata lolos 150 mesh.
2. Hasil pengukuran ketinggian awal endapan berdasarkan hasil eksperimen
antara pasir dan batu bata, adalah padatan yang memiliki ketinggian lebih
banyak adalah padatan yang memiliki konsentrasi yang besar yaitu pasir
dan batu bata dengan (C=1,7 gr/ml) akan memiliki ketinggian lebih
banyak jika diabandingkan dengan pasir dan batu bata dengan konsentrasi
1,5 gr/ml.
3. Semakin

tinggi

konsentrasi

suatu

padatan

maka

kecepatan

pengendapannya akan semakin cepat. hal yang paling berpengaruh pada


kecepatan pengendapan yaitu ukuran partikel dimana partikel yang lebih
besar akan mengendap lebih cepat dibanding partikel dengan ukuran yang
lebih kecil.

4. Berdasarkan data kecepatan partikel, jika konsentrasi padatan semakin


besar maka settling velocity juga akan semakin besar. Pada konsentrasi 1,5
gr/ml dan 1,7 gr/ml padatan yang lebih cepat mengendap adalah yang
konsentrasi 1,7 gr/ml yaitu pasir A 0,066 dilanjut, pasir B 0,0425 Batu bata
A 0,0155dan batu bata B 0,006.

B. SARAN
1. Mengukur ketinggian padatan harus diperhatikan dan lebih teliti, karena
perubahan setiap detiknya sangat cepat.
2. Pengocokan padatan harus merata, karena mempengaruhi kecepatan
pengendapannya.
3. Dalam mengukur densitas harus lebih teliti lagi, jangan sampai ada
penekanan saat bahan dimasukkan kedalam gelas ukur.

DAFTAR PUSTAKA

Geankoplis, J., G., 1993. Transport Processes and Unit Operations. 3rd.
Prentice - Hall, Inc., USA.

LAMPIRAN
Menghitung Densitas pasir lolos 34 mesh
m
=

10,69
10

=1,069

gr
ml

Menghitung densitas pasir tidak lolos 34 mesh


m
= v

12,09
10

=1,209

gr
ml

Menghitung densitas batu bata lolos 150 mesh

m
v

7,8
10

=0,78

gr
ml

Menghitung densitas batu bata tidak lolos 150 mesh

m
v

8,34
10

=0,834

gr
ml