Anda di halaman 1dari 34

SKENARIO 2

Perawatan Periodontal Fase II


Seorang perempuan berusia 34 tahun untuk pertama kali datang ke klinik bagian
periodonsia atas sara saudaranya untuk dilakukan perawatan pada penyangga gigi.
Pasien mengeluh gusinya yang kadang-kadang bengkak, sering berdarah saat
menggosok gigi dan terasa longgar pada gigi-gigi depan rahang atas dan bawah.
Riwayat pasin menceritakan bahwa gusi berdarah sudah terjadi sekitar 2 tahun
yang lalu pemeriksaan fisik umum menunjukan tidak ada kelainan sistemik dan
tidak ada riwayat penyakit keluarga/genetik. Pemeriksaan klinis menunjukkan
sebagai berikut: 1) kebersihan pasien buruk dan terdapat deposit plak pada
permukaan gigi-gigi kedua rahang; 2) banyak terdapat kalkulus pada permukaan
lingual insisivus rahang bawah dan subgingiva disemua sektan; 3) terdapat resesi
gingiva, poket periodontal 4-6 mm dan kehilangan perlekatan di regio rahang atas
dan bawah anterior; 4) terdapat bleeding on probing dalam sulkus gingiva semua
gigi; 5) semua gigi anterior goyang 02 kecuali gigi kaninus atas. Radiografi
menunjukkan resorbsi tulang sampai panjang akar di regio anterior bawah.
Dokter gigi yang memeriksa menjelaskan rencana perawatan yang harus
dilakukan mengenai penyakit tersebut dan perlu adanya perawatan pada daerah
yang dikeluhan tersebut.

STEP 1
1. Poket periodontal
Pendalaman sulkus gingiva secara patologis dan merupakan ciri khas
penyakit periodontal. Terdapat 2 jenis poket periodontal yaitu true poket:
hilangnya perlekatan ke arah apikal dan false poket: naiknya margin
gingiva ke arah koronal.
2. Penyangga gigi
Jaringan periodonsium yang terdiri dari gingiva, tulang alveolar, ligamen
periodontal, dan cementum.
3. Bleeding on probing

Observasi perdarahan dalam pemeriksaan periodontal dengan cara


memasukkan ujung probe kedalam sulkus gingiva.
4. Perawatan periodontal fase II
Kelanjutan evaluasi respon perawatan periodontal fase I yang berkembang
sebagai

hasil

dari

penyakit

sebelumnya

dan

menjadi

faktor

predisposisi/rekurensi dari penyakit periodontal.


5. Resesi gingiva
Penurunan margin gingiva ke arah apikal.
6. Gigi goyang 02
Kegoyang yang terjadi yang bisa dirasakan dokter gigi dan juga pasien
pada gigi sebesar 1 mm pada satu arah saja (mesio distal atau palato/linguo
bukal).

STEP 2
1. Apa diagnosa penyakit pada skenario?
2. a. Apa perawatan pendahuluan sebelum perawatan periodontal fase II?
b. Kenapa pada pasien perlu dilakukan perawatan periodontal fase II?
c. Apa mungkin dilakukan perawatan periodontal fase II tanpa perawatan
periodontal fase I terlebih dahulu?
3. Apa pertimbangan dokter gigi dalam melakukan perawatan periodontal
pasien pada skenario?
4. Apa rencana perawatan yang tepat pada skenario serta tahapan
perawatannya?
5. Apa saja intruksi yang diberikan pada pasien setelah perawatan

periodontal fase II?

STEP 3
1. Diagnosa penyakit pada skenario adalah periodontitis kronis.
2. Sebelum dilakukan terapi bedah perlu dilakukan perawatan pendahuluan
seperti:

a. Pemeriksaan kalkulus, apabila dalam pemeriksaan didapatkan kalkulus


maka dilakukan scalling dan rootplaning,
b. Instreuksi DHE pada pasien,
c. Memastikan bahwa pasian tidak mempunyai riwayat penyakit
sistemik, apabila ada penyakit sistemik maka kompromis medis harus
dikontrol terlebih dahulu,
d. Dilakukan medikasi terlebih dahulu apabila terjadi inflamasi akut,
e. Diberikan antibiotic profilaksis (kehilangan perlekatan, bleeding on
probing, supurasi) untuk menghindari kontaminasi pada daerah yang
akan di bedah (1 jam sebelum perawatan) dan pada pasien kompromise
medis,
f. Setelah evaluasi 2-7 hari atau 1 bulan tidak ada perubahan maka
dilakukan scaling dan root planing ulang apabila belum ada perubahan
baru dilakukan perawatan periodontal fase II
3. Pertimbangan seorang dokter gigi dalam melakukan perawatan adalah:
a. Re-attachment poket (regenerasi, repair, dan new attachment)
b. Untuk menghilangkan jaringan granulasi yang ada pada
dinding poket
c. Menghilangkan akumulasi bakteri yang ada pada poket
d. Adanya jaringan granulasi yang ditutupi oleh epitel sehingga
jaringan granulasi harus dihilangkan terlebih dahulu.
e. Pada skenario dapat dilhat bahwa poket pada skenario adalah
true pocket, dan adanya resorbsi tulang alveolar sehingga tidak
dapat dilakukan gingivektomi (kontraindikasi apabila ada defek
tulang).
f. Memberitau pasien tentang prognosa, komplikasi, dan post
treatment
g. Motivasi pada pasien
h. Adanya resesi gingiva interdental
i.
4. Perawatan yang sesuai dengan kasus pada skenario
Berdasarkan tanda-tanda klinis pada skenario: 1) kebersihan pasien
buruk dan terdapat deposit plak pada permukaan gigi-gigi kedua rahang;
2) banyak terdapat kalkulus pada permukaan lingual insisivus rahang
bawah dan subgingiva disemua sektan; 3) terdapat resesi gingiva, poket

periodontal 4-6 mm dan kehilangan perlekatan di regio rahang atas dan


bawah anterior; 4) terdapat bleeding on probing dalam sulkus gingiva
semua gigi; 5) semua gigi anterior goyang 02 kecuali gigi kaninus
atas.Kuretase. Serta adanya pemeriksaan penunjang radiografi yang
menunjukkan resorbsi tulang sampai panjang akar di regio anterior
bawah.
Kuretase adalah prosedur yang dilakukan pada jaringan lunak yang
terinflamasi yang berada di lateral dinding poket .pada pelaksanaannya,
jaringan nekrotik harus dihilangkan. Pada kasus di skenario terjadi
perdarahan saat dilakukan probing karena hal ini merupakan pertahanan
jaringan sehingga terjadi vaskularisasi dan terbentuknya eksudat, maka
apabila dibiarkan proses penyembuhan akan lama. Perawatan kuretase
dilakukan apabila setelah skaling dan rootplaning tidak ada perubahan
jaringan.
Prosedur perawatan kuretase:
1. Pemeriksaan, dari pemeriksaan didapatkan diagnosa penyakit,
2. Perawatan fase 1, yaitu: skaling
evaluasi, apabila tidak ada
3.
4.
5.
6.
7.

perubahan jaringan maka dilakukan kuretase,


Anastesi local,
Memasukkan kuret dengan psisi sejajar dengan aksisi gigi,
Planning atau pengerokan
Aplikasi periodontal dressing
Kontrol

Kuretase terdiri dari kuretase tertutup dan terbuka. Kuretase


tertutup adalah tindakan kuretase yang dilakukan yang dilakukan tanpa
eksisi, sebaliknya kuretase terbuka adalah prosedur kuretase yang
dilakukuan dengan tindakan eksisi. Kuretase tertutub terdiri dari kuretase
gingiva (dilakukan pada dinding poket) dan kuretase subgingiva
(dilakukan mulai dari dasar sulkus). Pada kasus di skenario menggunakan
tindakan kuretase subgingiva.
5. Perawatan Pascaoperasi
Pasien perlu diberi informasi yang lengkap tentang cara-cara perawatan
pascaoperasi. Nasehat berikut ini harus diberikan secara tertulis.

1.

Hindari makan atau minum selama satu jam.

2.

Jangan minum minuman panas atau alkohol selama 24 jam. Jangan


berkumur-kumur satu hari setelah operasi.

3.

Jangan makan makanan yang keras, kasar, atau lengket dan kunyahlah
makanan dengan sisi yang tidak dioperasi.

4.

Minumlah analgesik bila anda merasakan sakit setelah efek anestesi


hilang. Aspirin merupakan kontraindikasi selama 24 jam.

5.

Gunakan larutan kumur salin hangat setelah satu hari. Gunakan


larutan kumur klorheksidin di pagi hari dan malam hari bila anda tidak
dapat melakukan pengontrolan plak secara mekanis. Larutan ini dapat
langsung digunakan pada hari pertama setelah operasi asalkan tidak
dikumurkan terlalu kuat di dalam mulut. Teh, kopi, dan rokok harus
dihindari apabila anda menggunakan larutan kumur klorheksidin
untuk mengurangi stain.

6.

Bila terjadi perdarahan, tekanlah dressing selama 15 menit dengan


menggunakan sapu tangan bersih yang sudah dipanaskan; jangan
berkumur; hubungi dokter anda bila perdarahan tidak juga berhenti.

7.
8.

Sikat bagian mulut yang tidak dioperasi saja.


Bila tahap pascaoperasi tidak menimbulkan gangguan namun sakit
dan bengkak timbul 2-3 hari kemudian, segeralah hubungi dokter
anda.

STEP 4
Pemeriksaan
Periodontitis kronis
Terapi fase 1

Evaluasi
Hal yang perlu dipertimbangkan

Terapi fase 2
Macam perawatan

Indikasi & kontra indikasi

Teknik dan alat

Tahapan

Intruksi

Perawatan periodontal fase IV

STEP 5
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang :
1. Perawatan periodontal fase II (tujuan dan dasar pemikiran)
2. Macam-macam perawatan periodontal fase II
a. Indikasi dan kontraindikasi
b. Teknik dan alat
c. Tahapan
d. Respon jaringan
3. Intruksi setelah perawatan periodontal fase II
4. Peresepan obat untuk masing-masing kasus bedah (penulisan resep, alasan,
macam, jenis)
PR : 1. Apa perbedaan dari regenerasi dan rekonstruksi?
2. Pada kasus skenario diperlukan bone graft atau tidak?

3. Berapa lama dari perawatan periodontal fase I ke perawatan


periodontal fase II?
4. Apa perawatan untuk gigi goyang 02?
5. ENAP memerlukan perawatan peridontal fase I tidak?

STEP 7
LO 1 Perawatan Periodontal Fase II
Tujuan Perawatan Periodontal Fase 2
1. Peningkatan (improvement) prognosis gigi dan penggantinya (their
replacement)
Untuk mengeliminir penyekit periodontal dengan mengeliminasi
faktor iritans yang tidak dapat dihilangkan pada perawatan
periodontal fase I, seperti kalkulus di akar gigi, sehingga dapat
dilakukan bedah pada bagian yang tidakl dapat dilihat secara

langsung
Menghilangkan perubahan patologis pada dinding poket sehingga
didapat kontur gingival yang normal baik anatomis maupun

fisiologis.
Membentuk suatu kondisi yang dapat dipertahankan.
Untuk memicu pembentukan jaringan periodontal baru atau

regenerasi jaringan periodontal dan bentuk tulang.


Untuk menghilangkan inflamasi.
Untuk menghaluskan akar
2. Peningkatan estetik
Koreksi defek morfologi anatomi yang mendukung akumulasi plak
dan poket reccurence/mengganggu estetik
3. Sebagai persiapan untuk pembuatan protesa gigi
4. Untuk mengembalikan fungsi mastikasi (pengunyahan)

sehingga

Menciptakan keadaan mulut yang baik, karena jika terdapat resorbsi tulang
alveolar, maka fungsi pengunyahan akan berjalan tidak normal
dikarenakan tulang alveolar merupakan salah satu pendukung fungsi
pengunyahan
5. Memperbaiki kondisi mulut pasien guna sehingga mudah untuk
memelihara kesehatan gigi pasien,kenyamanan,dan fungsi pengunyahan.

Dasar Pemikiran Perawatan periodontal Fase 2


Dengan dilakukannya terapi periodontal, maka ginguva yang terinflamasi kronis
dapat diperbaiki, sehingga secara klinis strukturnya hamper mirip dengan gingival
yang sehat. Hasil efektif yang diperoleh pada perawatan periodontal fase dua
adalah adanya penyembuhan yang baik dari jaringan periodonsium itu sendiri.
Jaringan periodonsium tersebut dapat memberikan respon terhadap perawatan
periodontal yang adequate berupa dapat diperbaikinya kontinuitas permukaan
epitel gingival, perbaikan serat-serta ligament periodontal yang akan mengikatkan
gigi kembali ke tulang alveolar, dikembalikannya keseimbangan antara
pembentukan dan resorbsi tulang alveolar serta perbaikan cacat tulang, dan
deposisi sementum yang akan mengikat serabut utama dari ligament periodontal
yang baru. Oleh karena itu, dengan adanya respon jaringan tersebut, maka secara
klinis akan terlihat hasil perawatan berupa sembuhnya inflamasi pada gingival,
berhentinya perdarahan gingival, dan tersingkirnya saku periodontal.
Dasar pemikiran dari masing-masing perawatan bedah periodontal sederhana,
yaitu:
a) Gingivektomi
Tindakan pemotongan gingiva agar mendapatkan visibilitas dan aksesibilitas
untuk tindakan scaling dan rootplaning, sehingga membentuk lingkungan
yang menguntungkan bagi proses penyembuhan dan memperbaiki kontur
gingiva.
b) Kuretase
Kuretase mempercepat penyembuhan dengan jalan mengurangi tugas enzimenzim tubuh dan fagosit-fagosit yang biasanya berperan menghilangkan
debris jaringan. Dengan hilangnya epitel lining poket, berarti kuretase
mnghilangkan hambatan untuk reattachment (perlekatan kembali) serat-serat
periodontal ke permukaan akar gigi

c) Operkulektomi

Menghilangkan port de entry mikroorganisme dengan cara memotong


operkulum yang menutupi gigi.

LO 2. Macam-macam perawatan periodontal fase II


Gingivektomi adalah suatu bedah periodontal dengan cara mengeksisi gingiva
dengan menghilangkan dinding poket.
Indikasi
-

Menghilangkan poket supraboni tanpa memperhatikan kedalaman poket,

selama dinding poket merupakan jaringan fibrous


Menghilangkan pembesaran gingiva ( gingival enlargement )

Kontra indikasi
-

Membutuhkan pembedahan tulang atau evaluasi bentuk dan morfologi

tulang
Adanya pertimbangan estetik, terutama pada bagian anterior rahang atas.

Teknik dan alat


1. Poket pada masing masing permukaan dieksplorasi dengan probe
periodontal dan ditandai dengan penanda poket ( pocket marker ).
2. Insisi dimulai dari apikal ke tanda poket dan secara langsung ke koronal di
antara dasar poket dan pucak tulang. Insisi harus dibevel sekitar 45 0
sehingga blade dapat menembus seluruh gingiva menuju ke dasar poket.
Insisi pada daerah permukaan fasial dan lingual menggunakan pisau
periodontal ( Kirkland knives ), sedangkan pada daerah interdental
menggunakan pisau Orban.
3. Menghilangkan dinding poket yang telah dieksisi, membersihkan dan
memeriksa permukaan akar. Jaringan granulasi kemungkinan terlihat pada
jaringan lunak yang sudah dieksisi.
4. Sisa jaringan fibrosa dan jaringan granulasi dapat dibersihkan seluruhnya
dengan kuret yang tajam.
5. Menutup area dengan surgical pack.

10

Tahap :
1. Menandai poket.
Sebelumnya diidentifikasi terlebih dahulu batas apikal dari poket.
Kemudian diberi tanda menggunakan tang penanda poket di fasial dan
lingual sebagai acuan insisi.
2. Insisi gingivektomi
Insisi dibuat dengan bantuan beberapa pisau seperti Swann-Morton No.
12/15, pisau Blake yang

menggunakan

blade disposible, pisau

gingivektomi khusus seperti Kirkand, Orban atau pisau Goldman-Fox


yang harus diasah setiap akan digunakan. Insisi dibuat disebelah apikal
dari tanda yang sudah dibuat dan bersudut 45 sehingga blade dapat
menembus seluruh gingiva menuju kedasar poket.
3. Pemotongan jaringan
Bila insisi sudah dapat memisahkan seluruh dinding poket dari jaringan
dibawahnya. Dinding poket akan dengan mudah dihilangkandengan kuret
atau scaler yang besar.
4. Scaling dan root planing
Permukaan harus diperiksa untuk melihat adanya sisa deposit kalkulus dan
bila perlu permukaan akar harus di scaling dan root planing.
5. Kasa steril ditempatkan diatas luka untuk mengontrol perdarahan sehingga
bisa dipakaikan dressing periodontal pada daerah luka yang relatif sudah
cukup kering.
6. Dressing periodontal
Berfungsi untuk
a) melindungi luka dari iritasi
b) menjaga agar daerah luka tetap dalam keadaan bersih
c) mengontrol perdarahan
d) mengontrol produksi jaringan granulasi yang berlebihan
Respon jaringan
1. Respon awal setelah gingivektomi adalah pembentukan bekuan darah.
Jaringan mengalami inflamasi akut. Bekuan darah digantikan jaringan
granulasi.
2. Pada 24 jam ada peningkatan sel jaringan ikat baru, terutama angioblas di
bawah permukaan lapisan yang mengalami inflamasi.

11

3. Pada hari ketiga fibroblas muda berada di area tersebut. Vaskularisasi


jaringan granulasi meningkat membentuk sulkus dan margin gingiva baru.
4. Setelah lima sampai 14 hari permukaan epitelialisasi secara umum
sempurna. Perbaiakan epitel selesai membutuhkan waktu sekitar 1 bulan.
Gingivektomu bevel terbalik
Prosedur ini mempunyai indikasi yang sama dengan gingivektomi. Prosedur ini
lebih konservatif karena lebih sedikit jaringan gingiva yang dibuang. Karena
insisinya terbalik. Luka akan terletak di internal, bukan eksternal.
Operkulektomi
Definisi
Operkulektomi adalah suatu prosedur bedah yang dilakukan karena adanya infeksi
pada jaringan lunak yang menutupi gigi yang baru erupsi.
Tujuan
Untuk menghilangkan inflamasi pada jaringan lunak yang menutupi gigi yang
baru erupsi. Inflamasi tersebut disebabkan karena adanya debris dan plak yang
terjebak di dalamnya.
Dasar Pemikiran
Infeksi non-spesifik pada jaringan dan adanya akumulasi plak yang sering pada
daerah di sekitar gigi yang baru erupsi. Pada gigi molar ke 3 rahang bawah adalah
gigi yang paling sering terkena infeksi karena tumbuhnya paling terakhir dari gigi
yang lain dan di daerah tersebut terjadi penyingkapan mukosa dan adanya poket
yang terdapat akumulasi plak. Adanya inflamasi dan jaringan lunak di atas gigi
kemudian terjadi trauma yang dikarenakan oleh gigi antagonis.
Pasien biasanya mengeluh bahwa terjadi penyingkapan gingival di atas gigi. Pada
beberapa kaus yang berat yang terjadi pada gigi molar ke 3 rahang bawah
biasanya disertai adanya rasa sakit, sulit membuka mulut, dan terjadi trismus,

12

jaringan Nampak kemerahan. Terdapat pus dan eksudat pada daerah gingival yang
tersingkap, dan terkadang pasien mengeluh adanya bau mulut.
Indikasi
a. Adanya mukosa yang terinflamasi dan terjadi pembengkakan di atas gigi
yang baru erupsi
b. Adanya trauma jaringan yang disebabkan oleh gigi antagaonis sehingga
menyebabkan adanya inflamasi pada mukosa yang menutupi gigi
antagonisnya
Kontra Indikasi
a. Kondisi akut merupakan kontraindikasi dilakukannya operkulektomi,
namun tindakan emergensi dapat dilakukan hingga kondisi akut dapat
ditanggulangi

kemudian

keadaan

dievaluasi

untuk

melakukan

operkulektomi
Teknik
a. Anestesi
b. Buat insisi yang menggangsir untuk membuka flap berketebalan sebagian
di permukaan fasial dan lingual daerah retromolar dengan pisau bedah
no.12b atau d). Apabila diinginkan, dapat dibuat insisi parallel di fasial dan
lingual, diikuti dengan insisi penghubung di bagian distal dari kedua insisi
parallel. Insisi ini menghasilkan suatu bentuk yang lebih mirip kotak
persegi panjang alih alih bentuk baji.
c. Jepit ujung distal jaringan dengan hemostat berparuh melengkung dan
pisahkan dari puncak tulang alveolar.
d. Lakukan scalling dan root planning pada permukaan distal molar tersebut.
e. Lakukan bedah tulang, apabila diindikasikan. Perukaan distal molar kedua
adalah daerah yang sering mengalami cacat tulang yang dalam, yang dapat
berespons terhadap prosedur graf tulang.
f. Satukan tepi tepi luka dan jahit dengan jahitan terputus
g. Lindungi daerah luka dari trauma atau gangguan lain selama 7-10 hari,
kemudian jahitan dibuka dan gigi-gigi di daerah operasi dipoles.

13

Respon jaringan setelah perawatan operkulektomi

Permukaan gingival yang telah dilakukan flap akan mengalami inflamasi

dan pemulihan
Dalam waktu satu minggu pascaperawatan, darah beku tipis akan

digantikan oleh jaringan granulasi


Jaringan akan mature menjadi jaringan ikat kolagen dalam waktu 2 5

minggu
Permukaan dalam flap gingival akan melekat pada tulang untuk
membentuk mukoperiosteum yang menambah lebar daerah perlekatan

gingival
2 hari setelah bedah epithelium akan berproliferasi dari tepi flap ke atas
jaringan ikat, epithelium akan bergeser ke apikal dengan kecepatan 0,5
mm perhari untuk membentuk epithelium yang saling bertautan dan akan
terbentuk perlekatan epithelium yang mature pada minggu ke 4 pasca

bedah
Perlekatan jaringan ikat akan terbentuk kembali antara jaringan marginal
dan sementum akar dari tepi tulang sampai dasar epithelium jungsional

Kuretase
Definisi kuretase
Kata kuretase digunakan dalam periodonsia yang berarti pembuangan
dinding gingiva pada poket periodontal untuk menghilangkan penyakit pada
jaringan lunak(Caranza, 2002:744).
Kuretase gingival dan kuretase subgingival adalah salah satu teknik bedah
saku yang sangat terbatas indikasinya. Keterbatasan indikasi ini terutama
berkaitan dengan tidak dapatnya teknik bedah ini memperbaiki aksesibilitas, dan
karena teknik ini hanya dapat diindikasikan pada saku dengan dinding
berkonsistensi lunak/oedematous(Caranza, 2002:744).
Kuretase gingival
Kuretase gingival adalah berbeda dari kuretase subgingival. Kuretase
gingival adalah prosedur dimana dilakukan penyingkiran jaringan lunak
14

terinflamasi yang berada lateral dari dinding saku. Sebaliknya kuretase


subgingival adalah prosedur yang dilakukan apikal dari epitel penyatu, dimana
perlekatan jaringan ikat disingkirkan sampai ke krista tulang alveolar(Caranza,
2002:744).
Pada waktu penskeleran dan penyerutan akar, tanpa sengaja sebenarnya
terjadi juga kuretase, yang dinamakan inadvertent curettage. Namun dalam uraian
berikut yang dimaksudkan dengan kuretase adalah prosedur yang dengan sengaja
dilakukan, baik bersamaan dengan prosedur penskeleran dan penyerutan akar
maupun sesudahnya, dengan tujuan mengurangi kedalaman saku dengan jalan
memungkinkan terjadinya penyusutan gingiva dan/atau perlekatan jaringan ikat
baru(Caranza, 2002:744).

Tujuan kuretase
Untuk mengurangi kehilangan perlekatan dengan tumbuhnya perlekatan
jaringan ikat yang baru, dengan hilangnya epitel lining poket, maka gingival
kuretase akan menghilangkan hambatan untuk re-attachment kembali seratserat periodontal ke permukaan apikal.
Untuk memotong dinding gingiva pada poker periodontal
Untuk meghilangkan jaringan granulasi yang terinflamasi kronis (Caranza,
2002:744)
Dasar Pemikiran Kuretase
Prosedur kuretase mencakup penyingkiran jaringan granulasi yang
terinflamasi kronis yang berada pada dinding poket periodontal. Berbeda dengan
jaringan granulasi pada keadaan yang normal, jaringan granulasi pada dinding
jaringan ikat poket periodontal mengandung daerah-daerah yang terinflamasi
kronis, disamping adanya partikel-partikel kalkulus dan koloni-koloni bakteri.
Adanya koloni bakteri tersebut akan mempengaruhi gambaran patologis dari
jaringan dan menghambat penyembuhan(Carranza dan Henry, 2002:744-745).

15

Jaringan granulasi yang terinflamasi dilapisi oleh epitel, dan bagian epitel
yang penetrasi sampai ke jaringan. Adanya epitel tersebut akan menghambat
perlekatan serat-serat gingiva dan ligamen periodontal yang baru ke permukaan
sementum pada daerah tersebut(Carranza dan Henry, 2002:744-745).
Apabila dalam melakukan perawatan permukaan akar dibersihkan dengan
sempurna, sumber utama bakteri hilang dan perubahan patologis mereda, tidak
perlu lagi dilakukan kuretase untuk menyingkirkan jaringan granulasi. Jaringan
granulasi lambat laun akan diresorbsi; bakteri, yang tidak bertambah jumlahnya
oleh plak yang ada dalam poket, akan dihancurkan oleh mekanisme pertahanan
periodonsium. Dengan demikian tidak ada gunanya melakukan kuretase apabila
tujuannya

semata-mata

untuk

menyingkirkan

jaringan

granulasi

yang

terinflamasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pada kondisi


jaringan periodonsium yang dicapai dengan scalling dan root planing yang
disertai dengan kuretase tidaklah jauh melebihi perbaikan yang dicapai dengan
pensekeleran dan penyerutan akar saja(Carranza dan Henry, 2002:744-745).
Kuretase sebenarnya dapat menyingkirkan sebagian atau keseluruhan
epitel yang mendindingi poket (epitel poket), perluasan epitel yang penetrasi ke
jaringan granulasi, dan epitel penyatu. Kegunaan kuretase masih diperlukan
terutama bila diharapkan terjadinya perlekatan baru pada poket infraboni. Namun
ada perbedaan pendapat dalam hal terjaminnya penyingkiran epitel dinding poket
dan epitel penyatu. Beberapa peneliti menemukan bahwa dengan penskeleran dan
penyerutan akar epitel dinding poket hanya terkoyak dan epitel dinding poket
serta epitel penyatu tidak tersingkirkan. Sekelompok peneliti lain menemukan
terjadinya penyingkiran epitel poket dan epitel penyatu, meskipun tidak

16

tuntas(Carranza,

2002:744).

Gambar 1. Daerah pengkuretan pada kuretase gingival (panah


putih) dan kuretase subgingival (panah hitam).
Kuretase dan estetis.
Masalah estetis adalah merupakan bagian integral dari praktek periodonsia
modern. Pada masa lalu, sasaran utama terapi adalah penyingkiran saku, tanpa
memperhatikan aspek estetis dari hasil perawatan. Penyusutan jaringan gingiva
yang cepat dan maksimal adalah merupakan sasaran pada penyingkiran saku.
Sebaliknya pada masa sekarang ini, estetis merupakan pertimbangan utama dalam
terapi, terutama untuk regio anterior maksila dan sedapat mungkin papila
interdental harus dipertahankan(Caranza, 2002:745).

17

Apabila terapi regeneratif tidak dapat dilakukan, sedapat mungkin harus


diusahakan untuk memperkecil penyusutan atau kehilangan papila interdental.
Perawatan kompromistis yang mungkin dilakukan pada regio anterior maksila,
dimana akses cukup baik, adalah berupa penskeleran dan penyerutan akar
subgingival secara tuntas, dengan menjaga tidak dilepaskannya jaringan ikat yang
berada dibawah saku serta menghindari kuretase gingival. Jaringan granulasi pada
dinding lateral saku, dalam lingkungan yang telah bebas dari plak dan kalkulus,
akan menjadi jaringan ikat sehingga akan mengurangi penyusutan. Dengan
demikian, meskipun penyingkiran saku secara tuntas tidak tercapai, perubahan
inflamatoris telah dikurangi atau tersingkirkan sementara papilla interdental dan
estetis pada daerah yang dirawat terpertahankan(Carranza dan Henry, 2002:745).
Indikasi dan kontra indikasi
o Indikasi
a. Apabila terdapat pocket sedalam 3-4 mm.
b. Apabila pocket sedalam 3-4 mm tersebut terdapat di area gigi
anterior atas, di mana terapi gingivektomi merupakan suatu
kontraindikasi karena dapat membuat segi estetik menjadi
buruk(Manson J.D. 1975: 116).

o Indikasi kuretase menurut Fermin A.Carranza and Henry H. Takei (2002)


a. Kuretase dapat dilakukan sebagai bagian dari membentuk
perlekatan baru pada pokeet infraboni dengan kedalaman sedang
dan poket terletak pada daerah yang dapat diakses dengan
closed surgery.
b. Kurtase dapat dillakukan sebagai prosedur non deffinitif untuk
mengurangi inflamasi sebelum dilakukan penghilangan poket
dengan cara lain. Atau kuretase dapat dilakukan sebagai
perawatan alternatif pada pasien yang kontraindikasi perawatan
bedah agressive karena faktor umum, sistemik, dan psikologis.
Dokter gigi dan pasien harus saling mengerti keterbatasan

18

peerawatan ini bahwa prognosis dan hasil dari penghilangan


poket dengan teknik ini kurang baik.
c. Kuretase jangan dilakukan berulang pada kunjungan selanjutnya
sebagai metode perawatan pemeliharaan untuk area dengan
inflamasi berulang dan poket dalam. Khususnya dimana
pemmbedahan pengurangan poket dalam dilakukan.
o Kontra Indikasi
a) Jaringan fibrous, biasanya terjadi enlargement gingiva
b) Adanya poket infraboni
Indikasi kuretase adalah sangat terbatas. Tehnik ini dapat dilakukan setelah
dilakukannya penskeleran dan penyerutan akar untuk tujuan:
a) Kuretase dapat dilakukan sebagai bagian dari prosedur perlekatan
baru pada poket infraboni dengan kedalaman sedang yang berada
pada sisi yang aksesibel dimana bedah "tertutup" diperhitungkan
lebih menguntungkan. Namun demikian, hambatan teknis dan
aksesibilitas yang inadekuat sering menyebabkan tehnik ini
dikontraindikasikan (Carranza dan Henry, 2002).
b) Kuretase dapat dilakukan sebagai perawatan
(perawatan

alternatif)

untuk

meredakan

nondefinitif

inflamasi

sebelum

penyingkiran poket dengan tehnik bedah lainnya, atau bagi pasien


yang karena alasan medis, usia dan psikologis tidak mungkin
diindikasikan teknik bedah yang lebih radikal seperti bedah flep
misalnya. Namun harus diingat, bahwa pada pasien yang demikian,
tujuan penyingkiran poket adalah dikompromikan, dan prognosis
menjadi kurang baik. Indikasi yang demikian hanya berlaku apabila
tehnik bedah yang sebenarnya diindikasikan tidak memungkinkan
untuk dilakukan. Baik klinisi maupun pasien harus memahami
keterbatasan dari perawatan nondefinitif ini (Carranza dan Henry,
2002).
c) Kuretase sering juga dilakukan pada kunjungan berkala dalam
rangka fase pemeliharaan, sebagai metoda perawatan pemeliharaan
pada daerahdaerah dengan rekurensi/kambuhnya inflamasi dan

19

pendalaman poket, terutama pada daerah dimana telah dilakukan


bedah poket (Carranza dan Henry, 2002).
Teknik kuretase
Teknik basic
Tahapan prosedur teknik kuretase adalah sebagai berikut:
a. Anestesi.- Sebelum melakukan kuretase gingival atau kuretase

subgingival, daerah yang dikerjakan terlebih dulu diberi anestesi


lokal.
b. Skaling dan rootplaning .- Permukaan akar gigi dievaluasi untuk

melihat hasil terapi fase I. Apabila masih ada partikel kalkulus yang
tertinggal atau sementum yang lunak, penskeleran dan penyerutan
akar diulangi kembali.
c. Penyingkiran epitel saku.- Alat kuret, misalnya kuret universal

Columbia 4R - 4L, atau kuret Gracey no. 13 - 14 (untuk permukaan


mesial) dan kuret Gracey no. 11 - 12 (untuk permukaan distal)
diselipkan ke dalam saku sampai menyentuh epitel saku dengan sisi
pemotong diarahkan ke dinding jaringan lunak saku. Permukaan luar
gingiva ditekan dari arah luar dengan jari dari tangan yang tidak
memegang alat, lalu dengan sapuan ke arah luar dan koronal epitel
saku dikuret. Untuk penyingkiran secara tuntas semua epitel saku dan
jaringan granulasi perlu dilakukan beberapa kali sapuan.

20

Gambar 2. Kuretase gingival dilakukan dengan kuret dengan sapuan


horizontal.
d. Penyingkiran epitel penyatu.- Penyingkiran epitel penyatu hanya

dilakukan pada kuretase subgingival. Kuret kemudian diselipkan


lebih dalam sehingga meliwati epitel penyatu sampai ke jaringan ikat
yang berada antara dasar saku dengan krista tulang alveolar. Dengan
gerakan seperti menyekop ke arah permukaan gigi jaringan ikat
tersebut disingkirkan.
e. Pembersihan daerah kerja.- Daerah kerja diirigasi dengan akuades

(aquadest) untuk menyingkirkan sisa-sisa debris.


f. Pengadaptasian.- Dinding saku yang telah dikuret diadaptasikan ke
permukaan gigi dengan jalan menekannya dengan jari selama
beberapa menit. Namun apabila papila interdental sebelah oral dan
papilla

interdental

sebelah

vestibular

terpisah,

untuk

pengadaptasiannya dilakukan penjahitan.

21

Gambar 3. Kuretase subgingival. A. Penyingkiran epitel dinding saku;


B. Penyingkiran
epitel penyatu dan jaringan granulasi; C. Prosedur pengkuretan
selesai.
g. Pemasangan

dressing

periodontal.

Pemasangan

pembalut

periodontal tidak mutlak dilakukan, tergantung kebutuhan(Caranza,


2002:746).

Respons Jaringan Setelah Kuretase


Segera setelah kuretase, bekuan darah mengisi daerah poket periodontal,
dimana bekuan darah tersebut menutupi sebagian atau seluruh epithelial lining.
Perdarahan

juga

tampak

pada

jaringan

dengan

dilatasi

kapiler,

dan

polimorfonuclear leukosit yang berlimpah terlihat sedikit pada permukaan luka.


Kemudian, terjadi proliferasi jaringan granulasi secara cepat dengan berkurangnya
jumlah pembuluh darah kecil.

22

Secara umum, perbaikan dan epitelisasi sulkus membutuhkan waktu 2


hingga 7 hari dan perbaikan junctional epithelium terjadi paling cepat 5 hari
setelah kuretase. Serabut kolagen yang immature tampak dalam waktu 21 hari.
Dan secara klinis, setelah dilakukan kuretase, gingiva akan tampak
berwarna merah terang. Setelah 1 minggu, posisi gingiva tampak lebih ke apikal.
Warna gingiva akan tampak sedikit lebih merah dari gambaran normal, tetapi
dengan kemerahannya sedikit berkurang sebelum dilakukan kuretase.

Gambar 4. Gambaran Klinis A. Sebelum dan B. Sesudah Kuretase


Setelah 2 minggu disertai dengan perbaikan oral hygine pasien yang
adekuat, maka warna, konsistensi, tekstur, dan kontur gingiva yang normal akan
tercapai dan margin gingival akan beradaptasi dengan baik pada gigi.

LO 3 Instruksi Pasca Operasi


1. Setalah operasi / perawatan periodontal Fase II sebaiknya daerah post operative
diberi periodontal dressing / pack.
2. Pasien diberitahu untuk berkumur dengan chlorhexidine gluconate 0,12%
segera setalah operasi dan 2x sehari sampai pembersihan rongga mulut / tehnik
plak control yang normal dapat dilakukan.
3. Beri Acetaminophen (tylenol) 2 tablet setiap 6 jam pada 24 jam pertama

23

4. Selama tiga jam pertama setelah operasi, jangan memakan makanan panas,
tunggu packnya mengeras
5. Jangan meminim minuman yang panas selama 24 jam pertama.
6. Jangan menyikat gigi pada daerah yang tertutup pack
7. Jika terjadi masalah langsung hubungi dokter yang bersangkutan.
Minggu pertama setalah operasi
Pada minggu pertama setalah operasi kemungkinan dapat terjadi beberapa
komplikasi, pasien harus diberitahu kemungkinan tersebut. Beberapa keadaan
yang mungkin terjadi pada minggu pertama pasca operasi :
1. Perdarahan terus menerus
Apabila terjadi perdarahan terus menerus kapas dibuka dan pada area pendarahan
dihentikan dengan tekanan, electrosurgery, atau elektrokauter. Setelah pendarahan
dihentikan, area itu di balut kembali / repack.
2. Sensitivitas terhadap perkusi
Kapas harus dibuka dan gingiva diperiksa untuk daerah lokal infeksi atau iritasi,
lalu dibersihkan dan di buat drainase. Kalkulus harus dibersihkan.
3. Pembengkakan
Pembengkakan pada 2 hari pertama setelah operasi dapat terjadi karena adanya
pembesaran kelenjar limfa.Pembengkakan biasanya mereda setelah 4 hari pasca
operasi sehingga tidak perlu dilakukan tindakan pelepasan pack. Tetapi apabila
pembengkakan berlanjut dan ada keluhan peningkatan rasa sakit maka pasien
diberi Amoksisilin (500 mg) setiap 8 jam selama 1 minggu, dan pasien juga harus
diinstruksikan untuk mengompres dengan air hangat di area tersebut.

24

4. Merasa lemah
Reaksi sistemik bakteremia transien yang disebabkan oleh prosedur. Dapat
dicegah dengan premedikasi amoksisilin (500 mg) setiap 8 jam, mulai 24 jam
sebelum prosedur berikutnya dan terus selama 5 hari pasca operasi.

LO 4 Peresepan
ANALGETIKA
Pemberian analgetika untuk menanggulangi nyeri sakit akibat inflamasi
periodontal kadang-kadang diperlukan.Terapi periodontal, bahkan prosedur
bedahnya, umumnya tidak disertai nyeri sakit, kecuali bedah tulang atau karena
prosedur kerja yang kasar atau terlalu lama. Pada kasus dengan nyeri sakit atau
nyeri sakit pasca perawatan, pemberian analgetika biasanya cukup dengan
analgetika yang ringan saja seperti aspirin atau asetominopen. Apabila nyeri
sakitnya terlalu berat baru diberikan analgetika yang lebih kuat.
ANTIMIKROBA DAN BAHAN KHEMOTERAPEUTIK
Pemanfaatan bahan antimikroba dalam perawatan periodontal telah dirintis
sejak tahun 1880-an dengan pemanfaatan obat kumur Listerine untuk perawatan
periodontitis marginalis, yang pada masa itu dinamakan sebagai pyorrhea
alveolaris. Bahan khemoterapeutik (chemotherapeutic agent) adalah bahan kimia
aktif yang mempunyai manfaat terapeutik. Bahan antimikroba (antimicrobial
agent) adalah bahan khemoterapeutik yang efeknya mengurangi jumlah bakteri
yang ada, baik bakteri tertentu saja maupun semua jenis bakteri secara
keseluruhan. Sedangkan antibiotika (antibiotic) adalah bahan antimikroba yang
dibentuk oleh atau diperoleh dari mikroorganisme, yang memiliki kemampuan
membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Antibiotika bisa
bersifat spesifik terhadap bakteri tertentu, atau mempunyai spektrum yang luas.
Dalam perawatan periodontal indikasi pemberian bahan khemoterapi adalah
untuk:
25

1. Perawatan emerjensi pada kasus-kasus abses periodontal akut, gingivitis

ulseratif nekrosis akut, atau infeksi pasca prosedur bedah periodontal.


2. Premedikasi bagi pasien yang karena masalah medisnya memerlukan

perlindungan antibiotika selama perawatan periodontal dilaksanakan.


Dalam hal ini pemberian antibiotika bukan untuk perawatan
periodontalnya tetapi untuk mencegah komplikasi sistemik.
3. Mengkontrol gingivitis dengan obat kumur khemoterapeutik, dimana obat

kumurnya tidak penetrasi kedalam saku periodontal.


4. Terapi penunjang bagi perawatan saku periodontal.
Berhubung karena pemberian bahan antimikroba untuk tujuan emerjensi telah
dibahas dalam pembahasan perawatan emerjensi, maka dalam uraian berikut
hanya akan dibahas mengenai pemberian antimikroba sebagai premedikasi, untuk
mengkontrol gingivitis dan untuk terapi penunjang perawatan saku periodontal.
ANTIBIOTIKA/ANTIMIKROBA UNTUK PREMEDIKASI
Perawatan periodontal disertai oleh adanya bakteremia, oleh sebab itu bagi
pasien dengan masalah medis yang rentan terhadap infeksi bakteri harus diberi
antibiotika sebagai perlindungan. Bagi penderita endokarditis bakterial,
antibiotika pilihan sebagai pelindung adalah amoksisilin secara per oral, dengan
dosis:

Dewasa

dengan 1 gr
6 jam kemudian setelah pemberian pertama.
Kanak-kanak : 50 mg/kg satu jam sebelum, dilanjutkan 25 mg/kg 6 jam
kemudian

: 3 gr satu jam sebelum prosedur perawatan, dilanjutkan

(dosis total tidak melebihi dosis dewasa).

Bagi pasien yang alergi terhadap penisilin diberikan eritromisin dengan dosis:

Dewasa : 800 gr eritromisin etilsuksinat atau 1 gr eritromisin stearat 2 jam

sebelumnya.
Kanak-kanak : 20 mg/kg berat badan sebelumnya dan 10 mg/kg berat
badan

sesudahnya.

26

Bagi penderita yang alergi terhadap penisilin dan eritromisin dapat diberikan
klindamisin dengan dosis:

Dewasa : 300 mg satu jam sebelum, dan 150 mg 6 jam sesudahnya.


Kanak-kanak : 10 mg/kg berat badan.

Bagi pasien yang tidak dapat memakan obat peroral, diberikan ampisilin, atau
klindamisin, atau gabungan ampisilin, gentamisin dan amoksisilin, dengan dosis:
Dewasa : Ampisilin 2 gr IM/IV 30 menit sebelum, dilanjutkan 1 gr IM/IV 6 jam
kemudian. Klindamisin 300 mg IV 30 menit sebelum, dilanjutkan 150 mg IV 6
jam kemudian. Ampisilin 2 gr plus gentamisin 1,5 mg/kg (tidak lebih dari 80 mg)
IM/IV 30 menit sebelum, dilanjutkan amoksisilin 1,5 gr per oral 6 jam kemudian
Kanak-kanak : Ampisilin 50 mg/kg; klindamisin 10 mg/kg; gentamisin 2 mg/kg;
dosis lanjutan dosis pertama.
Bagi penderita diabetes mellitus ada perbedaan pendapat mengenai perlu
atau tidaknya pemberian antibiotika sebagai perlindungan. Apabila perawatan
bedah periodontal yang akan dilakukan pada penderita diabetes yang terkontrol
dinilai menimbulkan luka yang agak besar, sebaiknya diberikan antibiotika mulai
sehari sebelumnya sebagai perlindungan. Jenis antibiotika yang diberikan tidak
perlu spesifik.

27

PR
Terapi periodontal fase 1 merupakan terapi periodontal yang bertujuan
untuk menghilangkan factor factor etiologi penyebab terjadinya penyakit
periodontal yang meliputi DHE, scalling, root planning, pemberian antimikroba,
dan sebagainya.
Scalling dan root planning yang dilakukan pada daerah subginggiva
seringkali menimbulkan rasa sakit yang diakibatkan oleh trauma pada ginggiva.
Pasien yang sensitive juga seringkali cepat merasa stress dan mempunyai batas
ambang rasa sakit yang rendah sehingga penggunaan anestesi selama prosedur
skaling dan root planning perlu dipertimbangkan untuk keadaan keadaan
tertentu yang diperlukan.
Rasa sakit yang dialami pasien selama prosedur skaling dan root planning
diakibatkan oleh eksitasi free nerve ending yang mengalami trauma selama
instrumentasi penghilangan kalkulus. Stimulus ini kemudian dikonduksikan

28

sebagai impulse sepanjang afferent fiber nervus cranial V yang kemudian


diteruskan ke gasserian ganglion untuk selanjutnya diteruskan ke pons.
Untuk mengurangi efek rasa sakit selama prosedur skaling dan root
planning ini, dokter gigi dapat menggunakan local anesthesia baik secara topical
maupun injeksi. Anestesi yang sering digunakan pada umumnya adalah lidokain.
Namun, menurut penelitian, hanya sekitar 40% prosedur skaling dan root planning
yang menggunakan anestesi local.
1. Waktu reevaluasi setelah tindakan phase 1 menuju phase 2
Pada dasarnya waktu reevaluasi pasca tindakan phase 1 bukanlah
waktu yang mutlak. Waktu recall pasien tergantung dengan 1) kondisi
pasien 2) progesifitas kerusakan tulang ataupun perjalanan penyakit
periodontal
Proses penyembuhan dan pembetukan epithelium gingiva dan
jaringan ikat gingiva telah terjadi 1-2 minggu setelah terapi phase satu.
Pada tahap ini dokter gigi dapat melakukan recall kepada pasien untuk
melihat kondisi perkembangan penyembuhan pasca tindakan dan
menentukan rencana perawatan selanjutnya. Bahkan berdasarkan case
report agressive periodontitis tindakan bedah dapat dilakukan 2-3 minggu
setelah dilakukan recall pada pasien dan adanya inflamasi persisten
ataupun perkembangan dektruksi yang cepat.
Meskipun demikian lebih baik reevaluasi fase 1/ recall pasien
dilakukan 1-3 bulan pasca perawatan phase 1. Hal ini dikarenakan proses
penyembuhan sepenuhnya jaringan periodontal (serat gingiva, junctional
epithelium,gcv, dan vaskularisasi) terjadi 1 bulan dan kondisi dari jaringan
sudah stabil untuk menentukan objektivitas rencana perawatan.
Reevaluasi dilakukan menunggu hingga 1 bulan karena serabut
gingiva mature sekitar 7 minggu. Diharapkan ketika melakukan
insisi/eksisi pada gingiva proses pemotongan lebih mudah pada jaringan
yang sehat dan tekstur yang kenyal.
2. ENAP (Ekcisional New Attachment Procedure)\

29

Pada dasarnya ENAP merupakan kuretase tertutup, sehingga


prosedur dari ENAP pada dasarnya adalah sama. Hanya saja ENAP
dilakukan dengan membuat flap untuk melakukan procedur SRP pada
permukaan akar yang tidak mampu dijangkau instrumentasi.
Prinsip ENAP adalah tindakan kuretase yang menggunakan pisau
dan merupakan tindakan kuretase subgingiva dengan tambahan tindakan
eksisi untuk meningkatkan akses dan pandangan ang minimal dan jaringan
periodontal yang mengalami nekrotik.
ENAP biasanya

dilakukan untuk kasus suprabony poket,

keratinisasi minimal, estetik dibutuhkan, PD >3mm,

Langkah tindakan ENAP


1.
2.
3.
4.

Melakukan SRP sebelum tindakan ENAP ( phase 1)


Reevaluasi, 1 minggu apabila proses penyembuhan poten
Anastesi lokal
Mengecak kembali kondsi kedalaman poket ketebalan

keratinisasi
5. Menggunakna scalpel no 11 dan no 15 melakukan beveled
incision dari puncak gingiva ke dasar sulcus
6. Melakukan kuretase pada jaringan terpotong, root planing pada
sementum nekrotik
7. Dilakukan penjahitan

30

3. Bone graft
Proses penyembuhan tulang pada dasarnya bisa terjadi pada usia
muda atau usia pertumbuhan. Tetapi proses penyembuhan pada usia
dewasa bahkan lanjut sangat sulit terjadi dan membutuhkan waktu yang
sangat lama.
Pertumbuhan

tulang

dapat

kembali

ataupun

dirangsang

aktivitasnya dengan tindakan kuretase, pengurangan kedalaman poket,


tindakan bedah flap dan penambahan GTR (guide tissue regeneration).
Atau proses rekontruksi tulang menggunakan bubuk bone graft yang
mengisi kekurangan tulang dan merangsang aktivitas pertumbuhan tulang.
Bone graft sendiri diindikasikan untuk kerusakan tulang alveolar
melebihi 3 sextan baik horisontal/vertikal, Kerusakan horisontal yang
luas , dan tindakan penambahan tulang untuk mendukung penempatan
implan.

31

Pada kasus sekenario meninjau usia pasien yang tidak


muda, proses regenerasi tulang dapat terjadi tetapi membutuhkan waktu
yang lama selama jaringan periodontal tidak mengalami rekurensi. Akan
tetapi apabila dibutuhkan proses healing tulang seperti semula dapat
dilakukan bone graft ataupun penambahan GTR pasca flap. Tetapi selama
phase reevaluasi tidak ada kegoyangan yang bertambah bone graft tidak
dibutuhkan, bahkan tindakan flap periodontal untuk tindakan bone graft
dapat mengurangi estetikan are anterior.

Bone graft

Guide Tissue Regeneration


(GTR)

4. Penanganan goyang derajat 2


Pasca tindakan kuretase ataupun bedah periodontal, pasien
disarankan menggunakan peridontal dressing.
Periodontal dressing adalah bahan yang digunakan untuk
membalut / membungkus luka pasca bedah. Fungsi dari periodntal
dressing :
a. Mengurangi infeksi dan pendarahan
b. Mengurangi trauma pada arean bedah dari aktivitas mastikasi,
makanan, dan lidah.

32

c. Karna bahan mengeras setelah setting dapat digunakan untuk


splinting dan mereposisi jaringan lunak
Sebenarnya tujuan utama penempatan periodontal dressing adalah
meningkatkan kenyamanan pasien dan meningkatkan kondisi untuk proses
penyembuhan jaringan.
Untuk goyang derajat 2 dan derajat 3 pada beberapa pasien
mengeluhkan rasa nyeri dan goyang saat digunakan makan terutama pasca
bedah, maka sebaiknya kasus sekenario pasien dapat menggunakan
periodontal dressing dengan menimbang kegoyangan mungkin beberapa
saat akan bertambahn pasca tindakan kuretase dan demi kenyamanan
pasien saat mengunyah.

DAFTAR PUSTAKA
Arthur R verniing,Jonathann Gray, Elizabeth Huhghes.2008.The Periodontal
Syllabus 5th ed.Philadelphia.Wolters Kluwercarranza
Bakar Abu. 2014. Kedokteran Gigi Klinis Ed.2. Yogyakarta: Quantum
Carranza, Fermin et all. Carranza's Clinical Periodontology 11th Edition. USA: W.
B. Saunders Company; 2006.
33

Edward S Cohen.2007. Atlas of Cosmetic and Reconstructive Peridontal surgery 3


ed.China. Peoples Medical Publishing House ( PMPH).
Jacob, Shaju., Nath, Sonia. Efficiacy a Topical Anaesthetic on pain during
Scalling and Root Planning: A Double Blind Split Mouth Pilot Study in
Patients with Periodontitis. Sains Malaysiana 42(5)(2013): 685-692
(journal).
Manson, J. D., Eley, B. M. 1993. Buku Ajar Periodonti (Alih bahasa : Anastasia).
Jakarta : Hipokrates.
Nield-Gehrig, J.S., Willmann, D.E., 2008, Foundation of Periodontics for the
Dental Hygienist, second edition, Lippincott Williams & Wilkins,
Philadelphia,
Reddy, Shantipriya. Essentials of Clinical Periodotology and Periodontics. New
Delhi: Ajanta Offset & Packagings Ltd; 2008.
T Rosha, K Nandkumur. Case Report generalized agressive periodontitis, and its
treatment options Volume 2012, Article ID 535321. Periodonti Department.
Azeezia Dental College, Kollam 691537, India

34