Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita menerima begitu saja dunia sekitar kita

beserta perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya tanpa mempertanyakan misalnya, apa itu
air, apa itu bensin, mengapa bensin bisa terbakar sedangkan air tidak? Apakah arti terbakar?
Mengapa besi dapat berkarat sedangkan emas tidak?Apa itu karet dan bagaimana membuat
karet tiruan?
Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah sebagian dari masalah yang dibahas dalam dalam
ilmu kimia.Oleh karena itu, ilmu kimia dapat di definisikan sebagai ilmu yang mempelajari
segala sesuatu tentang materi, seperti hakekat, susunan, sifat-sifat, perubahan serta energi yang
menyertai perubahannya.
Suatu atom bergabung dengan atom lainnya melalui ikatan kimia sehingga dapat
membentuk senyawa, baik senyawa kovalen maupun senyawa ion. Senyawa ion terbentuk
melalui ikatan ion, yaitu ikatan yang terjadi antara ion positif (atom yang melepaskan electron)
dan ion negative (atom yang menangkap electron). Akibatnya, senyawa ion yang terbentuk
bersifat polar.
Dalam setiap senyawa, atom-atom terjalin secara terpadu oleh suatu bentuk ikatan
antaratom yang deiebut ikatan kimia. Seorang ahli kimia dari Amerika serikat, yaitu Gilbert
Newton Lewis ( 1875- 1946) dan Albrecht Kosel dari Jerman ( 1853- 1972) menerangkan
tentang konsep ikatan kimia.
Pada umumnya atom tidak berada dalam keadaan bebas tetapi menyatu dengan atom
lain membentuk senyawa. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa atom yang bergabung lebih
stabil daripada yang menyendiri. Penggabungan itu disebut ikatan kimia dan terjadi bila ada
daya tarik satu sama lain sehingga mengeluarkan energi paling kurang 42 kJ per mol atom.
Berdasarkan teori atom modern, para ahli menyelediki cara terbentuknya ikatan kimia. Daya
tarik kedua atom terjadi karena adanya elektron pada kulit terluar. Elektron pada kulit ini
mempunyai kecenderungan menyamai konfigurasi elektron gas mulia, dengan cara menerima
atau memberikan elektron pada atom lain.
Pada makalah ini penulis akan memfokuskan cakupan materi terkait terbentuknya
senyawa melalui ikatan kovalen yang akan penulis paparkan dari segi teori ikatan, hukum,
struktur maupun sifat dan parameternya.

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penyusun merumuskan masalah yang hendak

dibahas dalam makalah ini ialah sebagai berikut:

C.

1. Bagaimana syarat terbentuknya ikatan kovalen pada suatu senyawa?


2. Bagaimana pembentukan struktur resonansi pada senyawa kovalen?
3. Bagaimana proses pembentukan ikatan kovalen menurut Hukum Fajans?
4. Bagaimana struktur dan sifat senyawa kovalen?
5. Bagaimana pembentukan orbital sigma dan orbital phi pada senyawa kovalen?
Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini ialah sebagai berikut:

D.

1. Mengetahui syarat terbentuknya ikatan kovalen pada suatu senyawa


2. Mengetahui pembentukan struktur resonansi pada senyawa kovalen
3. Mengetahui proses pembentukan ikatan kovalen menurut Hukum Fajans
4. Mengetahui struktur dan sifat senyawa kovalen
5. Mengetahui pembentukan orbital sigma dan orbital phi pada senyawa kovalen
Metode Penulisan
Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis menggunakan metode jelajah (browsing)

internet dan studi pustaka. Metode ini merupakan pengumpulan berbagai sumber data dari
internet dan buku referensi yang relevan,lalu menganalisanya, membandingkan dengan sumber
data lainnya (mencari titik temu dari beberapa konsep yang berbeda) dan akhirnya
menginterpretasikan data tersebut dalam bentuk makalah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Ikatan Kovalen


Gagasan ikatan kovalen dapat ditilik beberapa tahun sebelum 1920 oleh Gilbert N.
Lewis yang pada tahun 1916 menjelaskan pembagian pasangan elektron di antara atomatom. Dia memperkenalkan struktur Lewis atau notasi titik elektron atau struktur titik
Lewis yang menggunakan titik-titik di sekitar simbol atom untuk mewakili elektron valensi
terluar atom. Pasangan elektron yang berada di antara atom-atom mewakili ikatan kovalen.
Pasangan berganda mewakili ikatan berganda, seperti ikatan rangkap dua dan ikatan rangkap
tiga. Terdapat pula bentuk alternatif lainnya di mana ikatan diwakili sebuah garis.

Gambar 1. Konsep awal ikatan kovalen berawal dari gambar molekul metana sejenis ini.
Ikatan kovalen tampak jelas pada struktur Lewis, mengindikasikan
pembagian elektron-elektron di antara atom-atom.
Ketika gagasan pembagian pasangan elektron memberikan gambaran kualitatif yang efektif
akan ikatan kovalen, mekanika kuantum diperlukan untuk mengerti sifat-sifat ikatan seperti ini
dan memprediksikan struktur dan sifat molekul sederhana. Walter Heitler dan Fritz London
sering diberi kredit atas penjelasan mekanika kuantum pertama yang berhasil menjelaskan
ikatan kimia, lebih khususnya ikatan molekul hidrogen pada tahun 1927. Hasil kerja mereka
didasarkan pada model ikatan valensi yang berasumsi bahwa ikatan kimia terbentuk ketika
terdapat tumpang tindih yang baik di antara orbital-orbital atom dari atom-atom yang terlibat.
Orbital-orbital atom ini juga diketahui memiliki hubungan sudut spesifik satu sama lain,
sehingga model ikatan valensi dapat memprediksikan sudut ikatan yang terlihat pada molekul
sederhana dengan sangat baik.

A.1

Orde Ikatan
Derajat ikat atau orde ikat adalah sebuah bilangan yang mengindikasikan jumlah

pasangan elektron yang terbagi di antara atom-atom yang membentuk ikatan kovalen. Istilah ini
3

hanya berlaku pada molekul diatomik. Walaupun demikian, ia juga digunakan untuk
mendeskripsikan ikatan dalam senyawa poliatomik.

Gambar 2. Orde ikatan kovalen


1. Ikatan kovalen yang paling umum adalah ikatan tunggal dengan hanya satu pasang elektron
yang terbagi di antara dua atom. Ia biasanya terdiri dari satu ikatan sigma. Semua ikatan
yang memiliki lebih dari satu pasang elektron disebut sebagai ikatan rangkap atau ikatan
ganda.
2. Ikatan yang berbagi dua pasangan elektron dinamakan ikatan rangkap dua. Contohnya
pada etilena. Ia biasanya terdiri dari satu ikatan sigma dan satu ikatan pi.
3. Ikatan yang berbagi tiga pasang elektron dinamakan ikatan rangkap tiga. Contohnya
pada hidrogen sianida. Ia biasanya terdiri dari satu ikatan sigma dan dua ikatan pi.
A.2

Teori Saat Ini


Saat ini model ikatan valensi telah digantikan oleh model orbital molekul. Dalam model

ini, setiap atom yang berdekatan akan memiliki orbital-orbital atom yang saling berinteraksi
membentuk orbital molekul yang merupakan jumlah dan perbedaan linear orbital-orbital atom
tersebut. Orbital-orbital molekul ini merupakan gabungan antara orbital atom semula dan
biasanya berada di antara dua pusat atom yang berikatan.
Dengan menggunakan mekanika kuantum, adalah mungkin untuk menghitung struktur
elektronik, arah energi, sudut energi, jarak ikat, momen dipol, dan spektrum elektromagnetik
dari molekul sederhana dengan akurasi yang sangat tinggi. Jarak dan sudut ikat dapat dihitung
seakurat yang diukur. Untuk molekul-molekul kecil, perhitungan tersebut cukup akurat untuk
digunakan dalam menentukan kalor pembentukan termodinamika dan energi aktivasi kinetika.

B.

Teori Orbital Molekul (Molecular Orbital Theory) Pada Ikatan Kovalen


Teori orbital molekul merupakan teori yang paling lengkap karena menganggap dalam

pembentukan senyawa kompleks melibatkan interaksi elektrostatik maupun interaksi kovalen.


Teori orbirtal molekul menyatakan bahwa pembentukan senyawa kompleks terjadi interaksi
4

antara orbital-orbital dari atom pusat dengan orbital-orbital dari ligan membentuk orbitalorbital molekul. Orbital-orbirtal molekul senyawa kompleks dianggap merupakan hasil
kombinasi linear dari orbital-orbital atom pusat dan orbital-orbital ligan yang perbedaan tingkat
energinya besar dapat diabaikan, sehingga dalam menggambarkan orbital molekul senyawa
kompleks cukup digambarkan orbital-orbital elektron valensinya. Teori orbital molekul dapat
menjelaskan fakta-fakta tentang sifat magnetik dan warna senyawa kompleks.
Setiap penggabungan orbital atom menjadi orbital molekul akan menghasilkan orbital
bonding (orbital ikatan) dan orbital antibonding (orbital anti ikatan).
B.1

PEMBENTUKAN ORBITAL
Pembentukan ikatan melalui orbital yang paling sederhana dapat dicontohkan dalam

pembentukan ikatan antar atom hidrogen dalam molekul H2.


orbital * (orbital molekul antibonding)

1s

1s

H2
orbital (orbital molekul bonding)
Gambar 3. Pembentukan Orbital pada molekul H2
Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa tiap atom H memiliki masing-masing satu buah
elektron pada orbital 1s. kedua orbital atom H tersebut kemudian bergabung membentuk orbital
molekul , sehingga terbentuk dua macam orbital, orbital yang merupakan orbital bonding,
dan orbital * yang merupakan orbital antibonding. Sesuai dengan aturan Hund, maka mulamula elektron dari salah satu atom H mengisi orbital molekul yang terbentuk, kemudian
elektron dari atom H yang lain juga mengisi orbital tersebut. Dengan terbentuknya orbital
molekul yang diisi oleh elektron dari kedua atom H, maka terbentuklah ikatan antar atom H
tersebut menjadi molekul H2. Molekul H2 ini merupakan molekul yang stabil, karena elektron-

elektronnya berada pada orbital molekul yang tingkat energinya lebih rendah dibandingkan
tingkat energi orbital atom pembentuknya.
Pembentukan orbital molekul ini dapat digunakan untuk menjelaskan ketidakstabilan
dari molekul He2. Perhatikan diagram berikut :
orbital * (orbital molekul antibonding)

1s

1s

He

He
He2
orbital (orbital molekul bonding)

Gambar 4. Pembentukan Orbital pada molekul He2


Setiap atom Helium memiliki dua elektron pada setiap orbital 1s. saat orbital-orbital
atom 1s dari kedua atom Helium tersebut membentuk orbital molekul, terbentuk 2 macam
orbital molekul pula, orbital dan *. Elektron-elektron mula-mula mengisi orbital bonding
yang tingkat energinya lebih rendah, kemudian mengisi orbital antibonding *. Karena baik
orbital bonding maupun orbital antibonding sama-sama terisi elektron, maka keduanya akan
saling meniadakan, sehingga molekul He2 menjadi sangat tidak stabil.
Kedua contoh diatas menunjukkan pembentukan orbital molekul untuk molekul
diatomik yang heterogen, sehingga orbital atom yang digunakan dalam pembentukan orbital
molekul memiliki tingkat energi yang sama. Pada molekul diatomik yang heterogen, atom yang
lebih elektronegatif orbital atomnya memiliki tingkat energi yang lebih rendah. Perbedaan
tingkat energi antar orbital atom dari dua atom berbeda yang saling berikatan merupakan ukuran
dari sifat ionik ikatan yang terbentuk antara kedua atom tersebut. Sedangkan perbedaan tingkat
energi antara orbital bonding molekul yang terbentuk dengan orbital atom (dari atom yang
tingkat energinya lebih rendah) merupakan ukuran sifat kovalen ikatan yang terbentuk. Untuk
lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi yang diberikan dalam diagram berikut :
orbital *
6

a
1s
A
1s

orbital
AB
Gambar 5. Ilustrasi diagram orbital sifat ikatan kovalen
Pada diagram tersebut, atom B memiliki tingkat energi yang lebih rendah dibandingkan
orbital atom A. Oleh karena itu, orbital molekul (OM) yang terbentuk memiliki karakteristik
yang lebih mirip dengan orbital atom B. Selisih energi antara orbital atom A dan orbital atom B,
dinotasikan dengan a, menunjukkan ukuran sifat ionik ikatan yang terbentuk antara A dan B.
Sedangkan selisih energi antara OM dengan orbital atom B, dinotasikan dengan b,
menunjukkan sifat kovalen ikatan AB.
B.2

PEMBENTUKAN ORBITAL
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, orbital dapat terbentuk antar orbital atom

dengan simetri yang sama. Adapun orbital dapat terbentuk antara orbital px, py, pz, dxy, dxz, dan
dyz dari logam dengan orbital atom dari ligan yang tidak searah dengan orbital logam. Salah
satu contoh bagaimana orbital dapat terbentuk antara orbital atom dari logam dengan orbital
atom yang dimiliki ligan ditunjukkan dalam gambar berikut :

+
+

Gambar 6. Kombinasi orbital dxz dari logam dengan orbital py dan pz dari ligan
Dari Gambar (6) di atas dapat dilihat bahwa orbital dxz berada sejajar dengan orbital py
dan pz dari ligan, sehingga kombinasi dari orbital atom logam dan orbital atom ligan tersebut
dapat menghasilkan orbital molekul .
Selain dari penggabungan orbital dxz dari logam dengan orbital py dan pz, orbital molekul juga
dapat terbentuk dari penggabungan antara orbital pz dari logam dengan orbital pz dari ligan.
Ilustrasi kedua orbital atom tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

+
+

Gambar 7.

Posisi orbital atom pz dari logam dan orbital pz ligan berada dalam posisi yang
sejajar, sehingga juga dapat bergabung dan menghasilkan orbital molekul .

Adanya ikatan akan memperkuat ikatan antara logam dengan ligan, sehingga
meningkatkan kestabilan kompleks. Selain itu, konsep mengenai pembentukan ikatan juga
dapat menjelaskan urutan kekuatan ligan dalam Deret Spektrokimia.

C.

Resonansi

Resonansi adalah delokalisasi elektron pada molekul atau ion poliatomik tertentu
dimana ikatannya tidak dapat dituliskan dalam satu struktur Lewis. Kebanyakan ikatan dapat
dideskripsikan dengan menggunakan lebih dari satu struktur Lewis yang benar (misalnya pada
ozon, O3). Dalam diagram lewis (LDS: Lewis dot structure) O3, atom pusat akan memiliki
ikatan tunggal dengan satu atom dan ikatan rangkap dua dengan satu atom lainnya. Diagram
LDS tidak dapat memberitahukan kita atom mana yang berikatan rangkap; atom pertama dan
kedua yang berikatan dengan atom pusat memiliki probabilitas yang sama untuk memiliki
ikatan rangkap. Dua struktur yang memungkinkan ini disebut sebagai struktur resonansi. Pada
kenyataannya, struktur ozon adalah hibrid resonansi antara dua struktur resonansi yang
memungkinkan. Daripada satu ikatan tunggal dan satu ikatan rangkap dua, sebenarnya terdapat
dua ikatan 1,5 dengan kira-kira tiga elektron pada setiap atom.
Kasus resonansi yang khusus terlihat pada atom-atom yang membentuk cincin aromatik
(contohnya benzena). Cincin aromatik terdiri dari atom-atom yang tersusun menjadi lingkaran
(dihubungkan dengan ikatan kovalen) dan menurut LDS akan memiliki ikatan tunggal dan
rangkap dua yang saling bergantian. Dalam kenyataannya, elektron-elektron cenderung secara
merata berada di seluruh ruang cincin. Pembagian elektron pada struktur aromatik seringkali
diwakili dengan cincin di dalam lingkaran atom. Resonansi dalam kimia diberi simbol garis
dengan dua arah panah ().

Gambar 8. Struktur resonansi ozon


Pada ozon, terdapat perpindahan elektron antar inti yang dijelaskan dengan anak panah.

Gambar 9. Perpindahan elektron antar inti


C.1

Sifat umum resonansi

Molekul atau ion yang dapat beresonansi mempunyai sifat-sifat berikut:

1. Dapat dituliskan dalam beberapa struktur Lewis yang disebut dengan struktur resonan.
Tetapi tidak satupun struktur tersebut melambangkan bentuk asli molekul yang
bersangkutan.
2. Di antara struktur yang saling beresonansi bukanlah isomer. Perbedaan antar struktur
hanyalah pada posisi elektron, bukan posisi inti.
3. Masing-masing struktur Lewis harus mempunyai jumlah elektron valensi dan elektron
tak berpasangan. yang sama.
4. Ikatan yang mempunyai orde ikatan yang berbeda pada masing-masing struktur tidak
mempunyai panjang ikatan yang khas.
5. Struktur yang sebenarnya mempunyai energi yang lebih rendah dibandingkan energi
masing-masing struktur resonan
D.

Polarisasi menurut Aturan Fajans


Pada umumnya, senyawa yang terbentuk akibat penggabungan antar logam dengan

nonlogam memiliki sifat senyawa ionik. Akan tetapi, tidak semua senyawa dari penggabungan
ini bersifat ionik. Senyawa ini dapat lebih mengarah ke sifat kovalen ketika elektron terluar dari
anion ditarik kuat oleh kation, sehingga rapatan anion akan mengalami distorsi/penyimpangan
terhadap kation. Distorsi ini dapat dilihat dari rapatan elektron yang mulanya digambarkan
seperti bola akan menjadi lonjong (elektron terluar dari anion ditarik kuat oleh kation).

Gambar 10.

Akibat dari distorsi ini maka senyawa yang mulanya bersifat ionik akan berubah
menjadi kovalen dan akan terjadi polarisasi. Semakin besar sifat polarisasinya maka semakin
besar pula derajat ikatan kovalensinya. Menurut Kasimir Fajans, ahli kimia, terdapat beberapa
aturan perihal polarisasi tersebut, antara lain :
1. Suatu kation akan lebih mudah mengalami polarisasi ketika ukuran kation tersebut kecil
dengan muatan positif yang besar.
10

Mn2O7 memiliki muatan positif lebih besar dibandingkan dengan muatan positif pada MnO
sehingga Mn2O7 lebih bersifat kovalen polar daripada bersifat ionik.
2. Suatu anion akan lebih mudah mengalami polarisasi ketika ukuran dan muatan negatif yang
dimiliki anion tersebut besar.
AlI3 memiliki muatan negatif yang sama namun dengan ukuran anion yang lebih besar jika
dibandingkan dengan AlF3sehingga AlI3 lebih mengarah untuk membentuk ikatan kovalen
yang polar dibandingkan dengan AlF3 yang tidak bersifat polar.
3. Kation yang tidak memiliki konfigurasi gas mulia lebih mudah mengalami polarisasi.
Kation K+ pada senyawa KCl memiliki konfigurasi gas mulia yaitu [Ar] sedangkan kation
Ag+ pada AgCl tidak memiliki konfigurasi gas mulia yaitu [Kr]4d 10, sehingga kation
Ag+ lebih mudah mengalami polarisasi daripada kation K+.
Salah satu cara yang paling mudah untuk membedakan sifat ionik dari sifat kovalen
suatu spesies yaitu dengan membandingkan titik lelehnya; senyawa ionik (dan juga jaringan
senyawa kovalen) cenderung mempunyai titik leleh tinggi, dan senyawa kovalen sederhana
mempunyai titk leleh rendah. Sebagai contoh, senyawa AlF 3 dan AlI3, masing-masing
mempunyai titik leleh yang sangat berbeda yaitu secara berurutan 1290 dan 190 0C. Ion fluorida
mempunyai jari-jari ionik 117 pm, jauh lebih kecil daripada jari-jari ionik iodida, 206. Data jarijari ini menghasilkan ukuran volume anion iodida sebesar kira-kira 5 atau 2063/1173 kali
volume ion fluorida. Tingginya titik leleh aluminium fluorida menyarankan bahwa senyawa ini
lebih bersifat ionik, dan ini berarti bahwa ion fluorida karena kecilnya ukuran tidak atau sukar
terpolarisasi oleh ion Al3+, sehingga senyawa yang terbentuk, yaitu AlI 3, lebih bersifat kovalen
dengan titik leleh yang jauh lebih rendah. Bandingkan dengan titik leleh senyawa KI (6850C),
demikian pula KF (8570C).
Karena jari-jari ionik dengan sendirinya bergantung pada muatan ionnya, maka
besarnya muatan kation yang sering merupakan petunjuk yang baik untuk menentukan derajat
kovalensi spesies (sederhana) yang bersangkutan. Kation dengan muatan +1 dan +2, biasanya
mendominasi sifat ionik, sedangkan kation dengan muatan +3 membentuk senyawa ionik hanya
dengan anion yang sangat sukar terpolarisasi seperti ion fluorida. Kation dengan muatan teoritik
+4 atau yang lebih tinggi sesungguhnya tidak dikenal sebagai ion, dan senyawanya sering
diperhitungkan sebagai senyawa yang didominasi oleh sifat kovalen. Sebagai contoh, MnO
mempunyai titik leleh 17850C tetapi Mn2O, berupa cair pada temperatur kamar. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Mn(II) membentuk kisi kristal ionik dalam MnO, tetapi Mn(VII)
11

membentuk molekul kovalen dalam Mn2O7. Perhitungan rapatan muatan menghasilkan harga 84
C mm-3 untuk ion Mn2+ dan 1240 C mm-3 untuk ion Mn7+ (andaikata ion ini ada). Ion ini (Mn7+)
sangat tinggi (rapatan) muatan positifnya, demikian juga ukurannya tentu jauh lebih kecil
daripada ukuran ion Mn2+, sehingga mempunyai daya mempolarisasi yang sangat kuat terhadap
anion oksida; akibatnya, senyawaan yang terbentuk bersifat kovalen sebagaimana ditunjukkan
oleh rendahnya titik leleh.
Aturan Fajans yang ke tiga, berkaitan dengan kationn yang mempunyai konfigurasi
elektronik bukan gas mulia. Sebagai contoh yaitu kation Ag+ (dengan konfigurasi [Ar] 4d10),
demikian juga Cu+, Sn2+, dan Pb2+. Senyawaan perak halida, AgF, AgCl, AgBr, dan AgI, masingmasing mempunyai titik leleh 435, 455, 430, dan 5580C, yang secara berurutan lebih rendah
kira-kira 3000C dari pada titik leleh kalium halida. Dengan demikian, kation perak mempunyai
daya mempolarisasi yang lebih kuat daripada kation K+, sehingga senyawaan perak halida lebih
bersifat kovalen dari pada senyawaan kalium halida. Petunjuk lain perihal sifat kovalensi halida
perak yaitu kenyataannya bahwa halida perak (kecuali fluorida) sukar larut dalam air. Proses
pelatutan dalam pelerut polar disebabkan adanya interaksi antara molekul air (polar) dengan
muatan ion; menurunnya sifat ionik atau naiknya sifat kovalen halida perak mengakibatkan
melemahnya interaksi tersebut hingga cenderung sukar larut. Untuk perak fluorida, kecilnya
ukuran ion fluorida menyebabkan kurangnya sifat terpolarisasi oleh kation perak hingga
senyawa ini paling bersifsat ionik daripada halida perak yang lain, dan akibatnya mudah larut
dalam air.
Contoh lain yaitu perbandingan sifat oksida- dan sulfida- natrium dengan tembaga (I).
Kedua kation ini mempunyai jari jari yang hampir sama. Oksida maupun sulfida natrium
bersifat ionik dan larut bereaksi dengan air, tetapi oksida dan sulfida tembaga (I) tidak larut
dalam air. Menurut aturan Fajans ke tiga, kation Cu)I) dengan konfigurasi elektronik bukan gas
mulia mempunyai daya daya mempolarisasi yang lebih kuat hingga mempunyai kecenderungan
lebih kovalen. Hal ini paralel dengan besarnya perbedaan elektronegativitas yaitu ~2,5 untuk
natrium oksida yang berarti lebih bersifat ionik, dan ~1,5 untuk tembaga (I) oksida yang berarti
lebih bersifat kovalen.

E. Struktur dan Parameter Ikatan Kovalen

12

Penggunaan bersama pasangan electron digambarkan oleh Lewis menggunakan titik


electron. Rumus Lewis merupakan tanda atom yang di sekeklilingnya terdapat titik (.),
silang (x), atau bulatan kecil (). Tanda ini menggambarkan electron valensi atom yang
bersangkutan. Oleh karena itu, rumus ini sering disebut sebagai rumus electron atau titik
electron.
Berdasarkan bentuk ikatannya, ikatan kovalen dibedakan menjadi empat, yaitu:
1. Ikatan kovalen tunggal
Kovalen tunggal terbentuk apabila maisng-masing atom yang berikatan memberikan
maisng-masing satu electron. Contohnya ikatan kovalen, Ikatan dalam molekul
hydrogen (H2), masing-masing atom H memberikan 1 elektron yang digunakan untuk
berpasangan.

Gambar 11. Struktur ikatan Kovalen H2


2. Ikatan kovalen rangkap dua
Ikatankovalenrangkapduaterbentukkarenamasing-masing
atom
yang
beirkatanmemberikanduaeletronnyauntukberikatan.Contohnyaikatanpadamolekuloksige
n (O2)

3. Ikatankovalenrangkaptiga
Ikatankovalenrangkaptigaterbentukkarenamasing-masing
atom
yang
yangberikatanmemberikantigaelektronnyauntukdigunaknabersama.Contohnyaikatankov
alendalammolekul N2.

13

4. Ikatankovalenkoordinasi
Ikatankovalenkoordinasiadalahikatan yang dibentukdaripemakaianpasangan electron
bersama, tetapipasangan electron tersebutberasalhanyadarisalahsatu atom yang
berikatan, sedangkan atom ataugugus yang lain tidakmemberikan electron.
Contohsenyawakovalenkoordinasiterdapatdalammolekul H2SO4, NH3BF3.

Berdasarkanpolaritasnya, ikatankovalendibagimenjadiduajenisyaituikatankovalen polar


dan non polar.
Perbedaankeelektronegatifandua
atom
menimbulkankepolaransenyawa.Adanyaperbedaankeelektronegatifantersebutmenyebabkanpasa
ngan electron ikatanlebihtertarikkesalahsatuunsursehinggamembentukdipol.Adanyadipolinilah
yang menyebabkansenyawamenjadi polar.
PadasenyawaHCl,
pasangan
electron
milikbersamaakanlebihdekatpadaClkarenadayatarikterhadapelektronnyalebihbesardibanding H.
Hal itumenyebabkanpolarisasipadaikatan H Cl. Atom Cllebih negative daripada atom H,
haltersebutmenyebabkanterjadinyaikatankovalen polar.
Contoh :
1. Senyawakovalenpolar :HCl, HBr, HI, HF, H2O, NH3.
2. Senyawakovalen non polar : H2, O2, Cl2, N2, CH4, C6H6, BF3.
Padaikatankovalen
yang
terdirilebihdariduaunsur
,kepolaransenyawanyaditentukanbeberapahalberikut.
1. Jumlahmomendipol .Jikajumlahmomendipol = 0, senyawanyabersifat nonpolar.
Jikamomendipoltidaksamadengan
0
makasenyawanyabersifat
polar.
Besarnyamomendipolsuatusenyawadapatdiketahuidengan :
14

keterangan :
= momendipoldalam Debye (D)
=dxl
d = muatandalamsatuanelektrostatis (ses)
l = jarakdalam cm
2. Bentukmolekul.Jikabentukmolekulnyasimetrismakasenyawanyabersifat
nonpolar,
sedangkanjikabentukmolekulnyatidaksimetrismakabiasanyasenyawanyabersifat polar.
3. Jikamolekulterdiriatasduabuahunsur.
a. Jikakeduaunsuritusejenis, ikatannya non polar.
Contoh : H2, O2
b. Jikakeduaunsuritutidaksejenis, biasanyaikatannya polar.
Contoh :HCl, HBr
4. Jikamolekulterdiriatastigabuahataulebihunsur yang berbeda.
a. Jika atom yang berada di tengahmolekul (atom pusat) mempunyaipasangan electron
bebassehinggapasangan electron berikatanakantertarikkesalahsatu atom, ikatannya
polar.
Contoh : H2O, NH3
b. Jika
atom
pusattidakmempunyaipasangan
electron
bebassehinggapasanganelektornikatantertariksamakuatkeseluruh atom, ikatannya
nonpolar.
Contoh : CH4, CO2
E.1

Sifat-sifatsenyawakovalen
1) Padasuhukamarumumnyaberupa gas (missal H2, O2, N2, Cl2, dan CO2), cair (missal H2O
danHCl), ataupunberupapadatan.
2) Titikdidihdantitiklelehnyarelatirendah,
karenagayatarikmenarikantarmolekulnyalemahmeskipunikatanantaratomnyakuat.
3) Larutdalampelarut nonpolar, danbeberapadapatberinteraksidenganpelarut polar.
4) Larutannyadalam
air
ada
yang
menghantarkanaruslistrik
(misalHCl)
tetapisebagianbesartidakdapatmenghantarkanaruslistrik,
baikpadatan,
leburan,
ataularutannya.

Jarakantaraduainti atom yang berdekatandisebutpanjangikatan, sedangkan energy yang


diperlukanuntukmemutuskanikatandisebut energy ikatan.Padapasanganunsur yang sama,
ikatantunggalmerupaknaikatan yang paling lemahdan paling panjang. Semakinbanyakpasangan
electron milikbersamamakasemakinkuatikatannya, tetapipanjangikatannyasemakinpendek.

15

DAFTAR PUSTAKA
Effendy. (2008) Teori VSEPR, Kepolaran, dan Gaya Antarmolekul, p. 159
G. L. Miessler and D. A. Tarr Inorganic Chemistry 3rd Ed, Pearson/PrentButt holes suckice
Hall publisher. ISBN 0-13-035471-6.
House, J. E dan Kathleen A. House. (2010) Descriptive Inorganic Chemistry Second Edition, p.
64
Langmuir, I. (1919). J. Am. Chem. Soc.; 1919; 41; 868-934.
March, J. Advanced Organic Chemistry 4th Ed. J. Wiley and Sons, 1991: New York. ISBN 0471-60180-2.
Merriam-Webster - Collegiate Dictionary (2000).
Rayner, Geoff dan Tina Overton (2010). Descriptive Inorganic Chemistry Fifth Edition, p.96
W. Heitler and F. London, Zeitschrift fr Physik, vol. 44, p. 455 (1927). English translation in
H. Hettema, Quantum Chemistry, Classic Scientific Papers, World Scientific, Singapore (2000).
http://yanesrampengan.blogspot.com/2010/12/ikatan-ionik, Diakses pada hari selasa, 28
Oktober 2014, pukul 19.48 WIB
http://www.ilmukimia.org/2013/05/resonansi.html Diakses pada hari selasa, 28 Oktober 2014,
pukul 19.48 WIB

16

Bab III
KESIMPULAN
Dari uraian materi di atas maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
Teori orbital molekul merupakan teori yang paling lengkap karena menganggap dalam
pembentukan senyawa kompleks melibatkan interaksi elektrostatik maupun interaksi
kovalen.
Pada senyawa kompleks, orbital molekul terbentuk sebagai gabungan/kombinasi dari
orbital atom logam dengan orbital atom dari ligan. Orbital atom logam dapat bergabung
dengan orbital atom ligan jika orbital-orbital atom tersebut memiliki simetri yang sama.
orbital dapat terbentuk antara orbital px, py, pz, dxy, dxz, dan dyz dari logam dengan
orbital atom dari ligan yang tidak searah dengan orbital logam.
Ligan dapat berperan sebagai akseptor atau donor , tergantung keterisian orbital
yang dimiliki oleh ligan tersebut.

17

DAFTAR PUSTAKA
Sarfudin, Kasimir. 2012. Kimia Anorganik Fisik. Prodi Kimia FKIP Undana Kupang

18