Anda di halaman 1dari 3

2.

MENDESAIN PENGUJIAN PERINCIAN SALDO

2.1. Piutang dagang ditambahkan secara tepat dan sesuai dengan berkas utama dan buku
besar
Pada umumnya, pengujian atas piutang dagang dan cadangan kerugian piutang
dilakukan berdasarkan neraca saldo. Sebuah neraca saldo menyajikan saldo piutang dagang
pada tanggal neraca, termasuk data saldo piutang untuk setiap pelanggan disertai perincian
saldo untuk kurun waktu antara tanggal penjualan dan tanggal neraca.
2.2. Piutang dagang dicatat sesuai keberadaannya
Konfirmasi atas saldo tagihan pelanggan merupakan pengujian paling penting untuk
menentukan keberadaan piutang dagang yang dicatat. Ketika pelanggan tidak menanggapi
konfirmasi, maka auditor perlu memeriksa dokumen pendukung untuk mengecek pengiriman
barang, juga menguji bukti penerimaan kas selama masa tenggat (subsequent) untuk
mengetahui apakah pembayaran sudah dilakukan. Biasanya, auditor tidak menguji dokumen
pengiriman atau bukti penerimaan kas dalam sampel yang dikonfirmasi, melainkan
memperluas penggunaan dokumen tersebut sebagai alternatif bukti bagi konfirmasi yang
tidak ditanggapi.
2.3. Piutang dagang dicatat secara lengkap
Bagi auditor, sulit untuk melakukan pengujian saldo rekening di luar neraca saldo,
kecuali bergantung pada perimbangan data piutang dagang di berkas utama. Jika seluruh
penjualan kepada pelanggan tidak dimasukkan dalam jurnal penjualan, maka kurang saji pada
piutang dagang tidak dapat diungkap melalui pengujian perincian saldo.
2.4. Akurasi piutang dagang
Konfirmasi rekening yang diambil dari neraca saldo merupakan bentu pengujian
perincian saldo yang paling umum dilakukan untuk mengetahui akurasi piutang dagang. Bila
pelanggan tidak merespons permintaan konfirmasi, auditor dapat melihat data pendukung
untuk memperoleh untuk memperoleh keyakinan atas keberadaan piutang tersebut. auditor
melakukan pengujian debet dan kredit pada saldo pelanggan individu dengan memeriksa
dokumen pendukung untuk pengiriman dan penerimaan kas.
2.5. Piutang dagang diklasifikasikan dengan benar
Umumnya, auditor dapat mengevaluasi klasifikasi piutang dagang dengan mudah,
yaitu dengan menelaah neraca saldo untuk piutang yang jumlahnya material dari afiliasi,
karyawan, direktur, atau pihak terkait lainnya. Auditor perlu mengecek apakah piutang yang
sifatnya jangka panjang sudah dipisahkan dari piutang dagang biasa, dan saldo kredit pada
piutang dagang yang jumlahnya besar diklasifikasikan kembali menjadi utang dagang.
Tterdapat hubungan erat antara tujuan audit terkait klasifikasi saldo dengan klasifikasi terkait,
penyajian atas pemahamannya, dan tujuan pengungkapan. Untuk mencapai tujuan audit
terkait klasifikasi saldo, auditor harus menetapkan apakah klien telah mengklasifikasikan
piutang dagang dengan cara benar.
2.6. Penetapan pisah batas (cutoff) piutang dagang secara tepat

Terdapat empat jenis pisah batas dalam penetapan pisah batas piutang dagang secara
tepat, yaitu:
a. Salah saji akibat pisah batas (cutoff misstatement),
b. Pisa batas penjualan,
c. Pisah batas retur dan cadangan penjualan,
d. Pisah batas penerimaan kas
2.7. Piutang dagang dinyatakan dalam nilai terealisasi
GAAP mensyaratkan perusahaan mencatat piutang dagang dalam jumlah tertinggi
yang dapat ditagih. Nilai terealisasi piutang dagang sama dengan jumlah total piutang dagang
dikurangi dengan cadangan piutang tak tertagih. Untuk menghitung cadangan, klien
mengestimasi jumlah total piutang dagang yang diperkirakan tidak dapat ditagih. Prediksi ini
tentunya tidak dapat dilakukan secara tepat, tetapi auditor perlu mengevaluasi apakah klien
sudah menetapkan cadangannya secara masuk akal dengan mempertimbangkan semua fakta.
2.8. Klien berhak piutang dagang
Hak klien atas piutang dagang biasanya tidak menyebabkan masalah audit karena
piutang umumnya memang milik klien. Untuk mendapatkan informasi mengenai keterbatasan
hak klien atas piutangnya, auditor perlu mendiskusikan dengan klien, melakukan konfirmasi
ke bank, atau memeriksa kontrak utang sebagai bukti bahwa piutang dagang dipakai sebagai
jaminan, dan memeriksa berkas korespondensi.
2.9. Penyajian dan pengungkapan piutang dagang
Pengujian dari keempat tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan dilakukan
sebagai bagian dari penyelesaian tahapan audit. Beberapa pengujian atas penyajian dan
pengungkapan dilakukan untuk memenuhi tujuan audit terkait saldo. Bagian penting dari
evaluasi meliputi keputusan apakah klien telah memisahkan hal-hal material yang
memerlukan pengungkapan terpisah dalam laporan keuangan.

4. MENGEMBANGKAN PENGUJIAN ATAS PROGRAM AUDIT PERINCI

Untuk lebih mempermudah pemahaman maka dalam membahas subbab ini, maka
akan digunakan contoh kasus pada PT Perkakas Prima guna mengilustrasikan pengembangan
prosedur program audit untuk pengujian perincian dalam siklus penjualan dan penagihan.
Prosedur ini ditentukan atas dasar pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas
transaksi.
Mira Abadi, seorang auditor senior, menyiapkan kertas kerja perencanaan bukti sebagai
panduan dalam memutuskan seberapa luas pengujian perincian saldo tersebut. Informasinya
adalah sebagai berikut:
a) Salah saji yang dapat diterima. Ketentuan awal atas materealitas adalah diatas Rp
442.000.000 (sekitar 6% dari laba operasi sebesar Rp 7.370.000.000). Ia mengalokasikan
Rp 265.000.000 ke audit piutang dagang.
b) Risiko audit yang bias diterima. Mira menentukan risiko audit yang dapat diterima adalah
tinggi, karena perusahaan dalam kondisi keuangan yang bagus, stabilitas keuangan yang
tinggi, dan pengguna laporan keuangan yang hanya sedikit.
c) Risiko bawaan. Mira menentukan bahwa tingkatan risiko yang tak terhindarkan adalah
medium untuk keberadaan dan pisah batas karena hal-hal yang perlu diperhatikan
mengenai pengakuan pendapatan. Mira juga menentukan risiko yang tak terhindarkan
adalah medium untuk nilai realisasi. Pada tahun-tahun sebelumnya, klien membuat
penyesuaian audit atas cadangan piutang tak tertagih karena terbukti kurang saji. Risiko
bawaan untuk tujuan lain ditetapkan rendah.
d) Risiko pengendalian. Penentuan risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit sesuai
dengan standar yang ada.
e) Pengujian substantive atas hasil transaksi. Penentuan pengujian substantive atas hasil
transaksi untuk setiap tujuan audit sesuai dengan standar yang ada.
f) Prosedur analitis.
g) Risiko deteksi terencana dan bukti audit terencana. Dua baris ini ditujukan untuk setiap
tujuan berdasarkan kesimpulan dari dua baris lainnya.
Hasilnya, dapat dilihat di tabel kertas kerja perencanaan bukti.