Anda di halaman 1dari 11

K.H.

HAMIM DJAZULI (GUS MIEK KYAI NYELENEH)


30 Oktober 2007 & Komentar
KH Hamim Tohari Djazuli atau akrab dengan panggilan Gus
Miek lahir pada 17 Agustus 1940,beliau adalah putra KH. Jazuli
Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat pendiri pon-pes Al
Falah mojo Kediri),Gus Miek salah-satu tokoh Nahdlatul Ulama
(NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan
memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam
ternama, khususnya di Jawa Timur. Maka wajar, jika Gus Miek
dikatakan pejuang agama yang tangguh dan memiliki
kemampuan yang terkadang sulit dijangkau akal. Selain
menjadi pejuang Islam yang gigih, dan pengikut hukum agama
yang setia dan patuh, Gus Miek memiliki spritualitas atau
derajat kerohanian yang memperkaya sikap, taat, dan patuh
terhadap Tuhan. Namun, Gus Miek tidak melupakan
kepentingan manusia atau intraksi sosial (hablum minallah wa
hablum minannas). Hal itu dilakukan karena Gus Miek
mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan (alm)
KH. Hamid Pasuruan, dan KH. Achmad Siddiq, serta melalui
keterikatannya pada ritual dzikrul ghafilin (pengingat
mereka yang lupa). Gerakan-gerakan spritual Gus Miek inilah,
telah menjadi budaya di kalangan Nahdliyin (sebutan untuk
warga NU), seperti melakukan ziarah ke makam-makam para
wali yang ada di Jawa maupun di luar Jawa.Hal terpenting lain
untuk diketahui juga bahwa amalan Gus Miek sangatlah
sederhana dalam praktiknya. Juga sangat sederhana dalam
menjanjikan apa yang hendak didapat oleh para pengamalnya,
yakni berkumpul dengan para wali dan orang-orang saleh, baik
di dunia maupun akhirat.ayah gus mik KH.Achmad djazuli
Usman
Gus Miek seorang hafizh (penghapal) Al-Quran. Karena, bagi
Gus Miek, Al-Quran adalah tempat mengadukan segala
permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti orang lain.
Dengan mendengarkan dan membaca Al-Quran, Gus Miek
merasakan ketenangan dan tampak dirinya berdialog dengan
Tuhan ,beliaupun membentuk semaan alquran dan jamaah
Dzikrul Ghofilin.
gus miek selain dikenal sebagai seorang ulama besar juga
dikenal sebagai orang yang nyeleneh beliau lebih menyukai
dawah di kerumunan orang yang melakukan maksiat seperti
discotiq ,club malam dibandingkan dengan menjadi seorang
kyai yang tinggal di pesantren yang mengajarkan santrinya

kitab kuning. hampir tiap malam beliau menyusuri jalan-jalan


di jawa timur keluar masuk club malam, bahkan nimbrung
dengan tukang becak, penjual kopi di pinggiran jalan hanya
untuk memberikan sedikit pencerahan kepada mereka yang
sedang dalam kegelapan. Ajaran-ajaran beliau yang terkenal
adalah suluk jalan terabas atau dalam bahasa indonesianya
pemikiran jalan pintas.
Pernah di ceritakan Suatu ketika Gus Miek pergi ke discotiq
dan disana bertemu dengan Pengunjung yang sedang asyik
menenggak minuman keras, Gus Miek menghampiri mereka
dan mengambil sebotol minuman keras lalu memasukkannya
ke mulut Gus Miek salah satu dari mereka mengenali Gus Miek
dan bertanya kepada Gus Miek. Gus kenapa sampeyan ikut
Minum bersama kami ? sampeyankan tahu ini minuman keras
yang diharamkan oleh Agama ? lalu Gus Miek Menjawab aku
tidak meminumnya ..!! aku hanya membuang minuman itu
kelaut!hal ini membuat mereka bertanya-tanya, padahal
sudah jelas tadi Gus Miek meminum minuman keras tersebut.
Diliputi rasa keanehan ,Gus miek angkat bicara sampeyan
semua ga percaya kalo aku tidak meminumnya tapi
membuangnya kelaut..? lalu Gus Miek Membuka lebar
Mulutnya dan mereka semua terperanjat kaget didalam Mulut
Gus miek terlihat Laut yang bergelombang dan ternyata benar
minuman keras tersebut dibuang kelaut. Dan Saat itu juga
mereka diberi Hidayah Oleh Alloh SWt untuk bertaubat dan
meninggalkan minum-minuman keras yang dilarang oleh
agama. Itulah salah salah satu Karomah kewaliyan yang
diberikan Alloh kepada Gus Miek.
jika sedang jalan-jalan atau keluar, Gus Miek sering kali
mengenakan celana jeans dan kaos oblong. Tidak lupa, beliau
selalu mengenakan kaca mata hitam lantaran lantaran beliau
sering menangis jika melihat seseorang yang masa
depannya suram dan tak beruntung di akherat kelak.
Ketika beliau berdawak di semarang tepatnya di NIAC di
pelabuhan tanjung mas.Niac adalah surga perjudian bagi para
cukong-cukong besar baik dari pribumi maupun keturunan ,Gus
Miek yang masuk dengan segala kelebihannya mampu
memenangi setiap permainan, sehingga para cukong-cukong
itu mengalami kekalahan yang sangat besar. Niac pun yang
semula menjadi surga perjudian menjadi neraka yang sangat
menakutkan

Satu contoh lagi ketika Gus miek berjalan-jalan ke Surabaya,


ketika tiba di sebuah club malam Gus miek masuk kedalam
club yang di penuhi dengan perempuan-perempuan nakal, lalu
gus miek langsung menuju watries (pelayan minuman) beliau
menepuk pundak perempuan tersebut sambil meniupkan asap
rokok tepat di wajahnya, perempuan itupun mundur tapi terus
di kejar oleh Gus miek sambil tetap meniupkan asap rokok
diwajah perempuan tersebut. Perempuan tersebut mundur
hingga terbaring di kamar dengan penuh ketakutan, setelah
kejadian tersebut perempuan itu tidak tampak lagi di club
malam itu.
Pernah suatu ketika Gus Farid (anak KH.Ahamad Siddiq yang
sering menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang
sering mengganjal di hatinya, pertama bagaimana perasaan
Gus Miek tentang Wanita ? Aku setiap kali bertemu wanita
walaupun secantik apapun dia dalam pandangan mataku yang
terlihat hanya darah dan tulang saja jadi jalan untuk syahwat
tidak adajawab Gus miek.
Pertanyaan kedua Gus Farid menayakan tentang kebiasaan
Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu dijalan maupun
saat bertemu dengan tamuApabila aku bertemu orang
dijalan atau tamu aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan
hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang
yang nasibnya buruk maka aku menangis, maka aku memakai
kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang
menagis jawab Gus miek
Adanya sistem Dawak yang dilakukan Gus miek tidak bisa di
contoh begitu saja karena resikonya sangat berat bagi mereka
yang Alim pun Sekaliber KH.Abdul Hamid (pasuruan) mengaku
tidak sanggup melakukan dawak seperti yang dilakukan oleh
Gus Miek padahal Kh.Abdul Hamid juga seorang waliyalloh.
Tepat tanggal 5 juni 1993 Gus Miek menghembuskan napasnya
yang terakhir di rumah sakit Budi mulya Surabaya (sekarang
siloam). Kyai yang nyeleneh dan unik akhirnya meninggalkan
dunia dan menuju kehidupan yang lebih abadi dan bertemu
dengan Tuhannya yang selama ini beliau rindukan.
Kategori: MANAKIB
yang berkaitan: gus miek
38 tanggapan so far

sachrony // 8 Nopember 2007 pada 08:41


Terima kasih atas segala masukannyasaya tidak
menyamakan waliyulloh dengan rosululloh saw. Saya
hanya menceritakan tentang perihal Wali-wali allloh
dengan karomahnya, antum yang menolak karamah alawliya, , disebabkan antum tidak mengetahui persoalan
ini kecuali kulitnya saja. antum tidak mengetahui
perlakuan Allah terhadap para wali. Sekiranya antum
mengetahui hal-ihwal para wali dan perlakuan Allah
terhadap mereka; niscayaantum tidak akan menolaknya.
Penolakan antum terhadap karamah al-awliya,
disebabkan oleh kadar akses antum terhadap Allah hanya
sebatas menegaskan-Nya; bersungguh-sungguh di dalam
mewujudkan kejujuran (al-shidq); bersikap benar dalam
mewujudkan kesungguhan sehingga meraih posisi alqurbah (dekat dengan Allah). Sementara antum buta
terhadap karunia dan akses Allah kepada hamba-hamba
pilihan-Nya. Demikian juga buta terhadap cinta
(mahabbah) dan kelembutan (rafah) Allah kepada para
wali. Apabila antum mendengar sedikit tentang hal ini,
antum bingung dan menolaknya. Adapun derajat
kewalian, dalam pandangan imam al-Tirmidzi, dapat
diraih dengan terpadunya dua aspek penting, yakni karsa
Allah kepada seorang hamba dan kesungguhan
pengabdian seorang kepada Allah. Aspek pertama
merupakan wewenang Allah secara mutlak; sedangkan
aspek kedua merupakan perjuangan seorang hamba
dalam mendekatkan diri kepada Allah. Menurut atTirmidzi, ada dua jalur yang biasa ditempuh oleh seorang
sufi guna meraih derajat kewalian. Jalur pertama disebut
thariqah al-minnah (jalan golongan yang mendapat
anugerah) sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab
al-shidq (jalan golongan yang benar dalam beribadah).
Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat
kewalian di hadapan Allah semata-mata karena karunia
Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikendaki
Allah di antara hamba-hamba-Nya. Sedangkan melalui
jalur kedua, seorang sufi meraih derajat kewalian berkat
keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah
kepada Allah. Seseorang yang meraih derajat kewalian
melalui jalur kedua disebut wali haqq Allah atau awliya
huquq Allah dalam.

Mas Jabier // 9 Nopember 2007 pada 02:44


Semoga Allah SWT selalu melimpahkah barokahnya
kepada Gus Miek wa auwliya ajmain.
Hal-hal khawariqul adat (menyalahi kebiasaan) yang
dilakukan oleh orang-orang dengan tingkatan spiritual
seperti Gus Miek, cukuplah dipahami sebagai urusannya
dengan Allah. Bagi kita semua, lebih baik bertabarruk
dengan beliau dan mengamalkan ajarannya yang sesuai
dengan kapasitas kita.
Ketika memasuki kota Bistami, Abu Yazid Bustomi, sang
Sufi Masyhur, justru makan roti di bulan Ramadhan di
hadapan orang banyak. Dia tidak ingin melihat manusia
menyanjung-nyanjung ketokohannya, dan tindakan itu
dimaksudkan untuk merendahkan dirinya sendiri.
Subhanallah,mereka, para awliya itu, sungguh tidak ada
yang mereka lihat, cintai dan rindukan, kecuali Sang
Pencipta.
Salam,

ahmadhafid // 16 Februari 2009 pada 19:39


Telah masyhur di kalangan kita bahwa sebagian besar
manusia dalam menjalankan agamanya hanya mengikuti
apa-apa yang di ajarkan oleh Kyai-kyainya, atau
Ustadznya tanpa mengikuti dalil-dalil yang jelas dari
agama ini. Mengikuti di sini yang dimaksudkan adalah
mengikuti tanpa dasar ilmu. Mereka hanya manut saja
apa kata Sang Kyai atau Sang Ustadz, seolah apa yang
mereka katakan pasti benar. Di sini kita melihat
kebenaran hanya diukur oleh ucapan-ucapan kyai/ustadz
tersebut tanpa melakukan pengecekan terhadap dasar
ucapan mereka. Mereka tidak mengecek apakah
sumbernya dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam,
atau hanya bersumber dari hadits-hadits yang lemah,
atau lebih fatal lagi bila bersumber dari hadits yang

palsu. Inilah sesungguhnya Hakekat dari Taklid.


Ingatlah wahai saudaraku kaum muslimin ..
bahwasannya kebenaran atau al haq itu bukan
berdasarkan banyaknya pengikut atau status sosial orang
yang mengucapkan, karena kebenaran akan tetap
merupakan kebenaran meskipun hanya sedikit yang
mengikutinya. Dan yang namanya kebatilan merupakan
kebatilan sekalipun seluruh manusia mengikutinya. Dan
kebiasaan mengekor tanpa ilmu ini jelas-jelas merupakan
suatu hal yang sangat tercela. Bahkan Alloh
mengharamkan untuk mengikuti sesuatu yang kita tidak
mempunyai ilmu tentangnya. Sebagaimana disebutkan
dalam Al-Quran Dan janganlah kamu mengikuti apa
yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya .
(QS. Al-Israa : 36). Dan juga perkataan Imam Bukhori
Bahwa ilmu itu sebelum ucapan dan perbuatan . Dampak
yang nyata terhadap hal ini ialah semakin jauhnya para
muqolid (orang-orang yang taklid) ini dari ajaran Islam
yang murni, dimana amalan-amalan mereka banyak yang
bersumber dari hadits yang dhoif (lemah) atau bahkan
hadits palsu dan bahkan mungkin mereka beramal tanpa
ada dalil, hanya mengikuti ucapan Kyai atau Ustadznya.
Jika dikatakan kepada mereka bahwa amalan mereka itu
menyelisihi dalil yang shohih dari Rosulullah shalallahu
alaihi wa sallam, mereka mengatakan kami hanyalah
mengikuti apa-apa yang ada pada bapak-bapak kami atau
kyai / ustadz kami.
Contoh paling nyata sekarang ini, kebanyakan mereka
mengaku mengikuti Madzab Syafii, Hambali, Hanafi, dan
Maliki dari para imam-imam madzab. Padahal kalau kita
tengok ajaran/perbuatan/amalan mereka sangat jauh dari
perbuatan imam-imam madzab tersebut. Mereka begitu
fanatik kepada madzab yang mereka ikuti, bahkan bila
ada seseorang yang berkata yang perkataannya itu
bertentangan dengan madzab yang mereka anut,
walaupun ucapannya itu haq adanya, niscaya mereka
akan menentangnya habis-habisan, dan yang demikian ini
terjadi. Wahai saudarakupadahal agama adalah
nasehat, sebagai sesama kaum muslimin harus saling
menasehati. Lantas bagaimana kalau sikap mereka
menolak dari nasehat orang yang tidak sesuai dengan
pendapat mereka (meskipun nasehat yang haq).
Agama Islam dibawa oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa
sallam, kemudian para shahabatnya meneruskannya,
kemudian lagi para tabiin terus sampai jaman kita

sekarang ini, kita harus mengikuti mereka. Dalam


beragama itu harus mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah
yang shohih sesuai dengan pemahaman para shahabat
Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam. Kita harus
memahami agama ini sesuai dengan pemahaman para
shahabat karena merekalah orang-orang yang paling
tahu tentang sunnah Rosulullah shalallahu alaihi wa
sallam. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dididik
secara langsung oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa
sallam. Kalau ada yang keliru diantara mereka langsung
ditegur atau dibetulkan/diluruskan oleh Beliau shalallahu
alaihi wa sallam. Jadi pada jaman shahabatlah agama ini
sangat terjaga kemurniannya. Untuk itu kita wajib
menjalankan agama ini sesuai petunjuk Rasulullah
shalallahu alaihi wa sallam dan sesuai dengan apa yang
dipahami oleh para shahabat Beliau shalallahu alaihi wa
sallam. Inilah sesungguhnya Hakekat dari Ittiba
(mengikuti).
Berikut ini akan kami sampaikan pendapat dari Empat
Imam tentang masalah Taklid dan Ittiba :
1. Imam Asy Syafii
- Tidak ada seorang pun kecuali dia harus bermadzhab
dengan Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam
dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan
satu ucapan dan mengasalkan kepada suatu asal di
dalamnya dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam
yang bertentangan dengan ucapanku, maka peganglah
sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Inilah
ucapanku.
- Apa bila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang
bertentangan dengan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi
wa sallam, maka peganglah ucapan Beliau dan
tinggalkanlah ucapanku.
- Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Nabi
shalallahu alaihi wa sallam terdapat hadits yang shohih
yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits
nabi adalah lebih utama. Oleh karena itu janganlah
mengikuti aku.
- Apabila hadits itu shohih, maka itu adalah
madzhabku.
- Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa
telah terang baginya Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi
wa sallam maka tidak halal baginya untuk
meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan
seseorang.

- Setiap masalah yang di dalamnya kabar dari Rasulullah


shalallahu alaihi wa sallam adalah shohih bagi ahli naqli
dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka
aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati.
2. Imam Ahmad bin Hambal
Beliau berkata :
- Janganlah engkau mengikuti aku dan janganlah pula
engkau ikuti Malik, Syafii, Auzai, Tsauri, tapi ambillah dari
mana mereka mengambil.
- Barang siapa menolak hadits Rasulullah shalallahu
alaihi wa sallam maka sesungguhnya ia telah berada di
tepi kehancuran.
- Pendapat Auzai, pendapat Malik dan pendapat Abu
Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah
sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di dalam
atsar-atsar
3. Imam Malik bin Anas
Beliau berkata :
- Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang
salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap
pendapat yang sesuai dengan kitab dan sunnah, ambillah
dan yang tidak maka tinggalkanlah.
- Tidak ada seorangpun setelah Nabi , kecuali dari
perkataannya itu ada yang diambil dan yang
ditinggalkan, kecuali Nabi Muhammad shalallahu alaihi
wa sallam .
4. Imam Abu Hanifah
Beliau berkata :
- Apabila hadits itu shohih maka hadits itu adalah
madzhabku
- Tidak dihalalkan bagi seorang untuk berpegang kepada
perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana
kami mengambilnya
- Dalam sebuah riwayat dikatakan,Adalah haram bagi
orang yang tidak mengetahui alasanku untuk
memberikan fatwa dengan perkataanku.
- Jika aku mengatakan suatu perkataan yang
bertentangan dengan kitab Alloh dan kabar Rasulullah
shalallahu alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah
perkataanku.
Demikianlah wahai saudaraku kaum muslimin, pendapat
dari empat imam tentang larangan taklid buta. Mereka

memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan


hadits Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, serta
melarangnya untuk mengikuti mereka tanpa melakukan
penelitian. Jadi mereka para Imam yang empat melarang
keras kepada kita untuk taqlid buta / membebek /
mengekor tanpa ilmu.
Barang siapa yang berpegang dengan setiap apa yang
telah ditetapkan di dalam hadits yang shohih, walaupun
bertentangan dengan perkataan para imam, sebenarnya
tidaklah ia bertentangan dengan madzhabnya (para
imam) dan tidak pula keluar dari jalan mereka,
berdasarkan perkataan para imam di atas. Karena tidak
ada satu ucapanpun yang dapat mengalahkan ucapan
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bahkan ucapan
para shahabat pun !!! Sebagaimana perkataan Ibnu
Abbas :
Aku khawatir akan datang hujan batu dari langit, aku
ucapkan Rosululloh berkata .., engkau ucapkan Abu Bakar
berkata, dan Umar berkata.
Inilah sikap yang seharusnya kita ambil, mencontoh para
shahabat, imam-imam yang mendapat petunjuk, di mana
merekalah yang telah mengamalkan dien/agama ini
sesuai dengan petunjuk Rosulullah shalallahu alaihi wa
sallam, tidak mengada-ada (tidak
menambah/mengurangi). Dan hal inipun menunjukkan
kesempurnaan ilmu yang ada pada mereka (para Imam)
dan ketaqwaannya. Kadang kala mereka mengakui
bahwasannya tidak semua hadits mereka
ketahui.Terkadang mereka menutupkan suatu perkara
dengan ijtihad mereka, namun hasil ijtihad mereka keliru
karena bertentangan dengan hadits yang shohih. Hal ini
dikarenakan belum sampainya hadits shohih yang
menjelaskan tentang perkara itu kepada mereka. Jadi
sangatlah wajar bagi seseorang yang belum paham suatu
permasalahan kembali berubah sikap manakala ada yang
menasehatinya dengan catatan sesuai dengan sunnah
yang shohih dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.
Wallahu Alam.
(QS.Al-Maidah : 3)
Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Kutbah Nabi yang terkenal ,Amma badu, sesungguhnya


sebenar-benar perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk
urusan adalah yang diada-adakan dalam agama, setiap
perkara yang diadakan dalam urusan agama adalah
bidah, dan setiap bidah adalah sesat.dan setiap
kesesatan berada dalam neraka.(Shahih Nasai no:1331,
Muslim II:592 no:467 dan Nasai III:188)
Musnad Ahmad dan Shahih Muslim
Barangsiapa melakukan suatu amal (ibadah) yang tidak
ada keterangan dari kami, akan tertolak.
Imam Malik :
Barangsiapa melakukan bidah dalam Islam dan
menganggap baik, berarti ia telah meyakini bahwa
Muhammad telah berkhianat dalam menyampaikan
risalah
Imam Syafii :
Barangsiapa menganggap baik bidah, berarti telah
membuat syariat baru.
Ibnu Masud :
Ikutilah dan janganlah melakukan bidah karena agama
sudah dicukupkan untuk kalian.
Ibnu Abbas :
Hendaknya engkau senantiasa bertakwa kepada Allah
dan beristiqomah, ikutilah dan janganlah melakukan
bidah.
Ibnu Umar :
Setiap bidah adalah kesesatan meskipun orang lain
menganggapnya bagus.
Kalamullah
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah
Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (Fathir: 28)
Sabda Nabi
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.
Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham.
Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka
barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah
mengambil bagian yang banyak. (HR. At Tirmidzi,

dishahihkan Al Imam Al Albani)


Nasehat Salaf
Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau
tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau
tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah
mereka. Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah
engkau benci mereka. (Umar bin Abdul Aziz)
Nasehat Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahumullah
Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan
hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan).
Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh),
lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah
sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan
dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon
petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.
(Majmu Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal
376) dan (Juz X, hal. 91))
Nasehat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Rahimahullah
Wajib atas kita untuk berlemah lembut di dalam dakwah
kita terhadap orang-orang yang menyelisihi kita, dan
jadikan selalu firman Alloh Taala berikut (sebagai
pegangan) dan untuk selamanya : Serulah mereka ke
jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik,
serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih
baik. Dan mereka yang pertama lebih berhak untuk kita
terapkan hikmah ini adalah mereka yang paling
memusuhi kita di dalam dasar (mabda) dan aqidah kita,
hingga kita tidak menggabungkan antara beratnya
dakwah yang haq yang Alloh memperteguh kita
dengannya dengan beratnya cara (ushlub) kita
berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla
Hanya satu kata saja dari saya mengutip firman alloh
Walana amaluna walakum amalukum.bergaullah
dengan Para ulama agar antum dapat memetik buahnya
ilmu.