Anda di halaman 1dari 25

SKENARIO II

PERAWATAN PERIODONTAL FASE II


Seorang perempuan berusia 34 tahun untuk pertama kali datang ke klinik
bagian periodonsia atas saran saudaranya untuk dilakukan perawatan pada
penyangga gigi. Pasien mengeluh gusinya yang kadang-kadang bengkak, sering
berdarah saat menggosok gigi dan terasa longgar pada gigi-gigi depan rahang atas
dan bawah. Riwayat pasien menceritakan bahwa gusi berdarah sudah terjadi
sekitar 2 tahun yang lalu. Pemeriksaan fisik umum menunjukkan tidak ada
kelainan sistemik dan tidak ada riwayat penyakit keluarga/genetik. Pemeriksaan
klinis menunjukkan sebagai berikut: 1) kebersihan mulut pasien buruk dan
terdapat banyak sekali deposit plak pada permukaan gigi-gigi kedua rahang; 2)
terdapat banyak kalkulus pada permukaan lingual insisivus rahang bawah dan
subgingiva di semua sektan; 3) terdapat resesi gingiva, poket periodontal 4-6 mm
dan kehilangan perlekatan di regio rahang atas dan bawah anterior; 4) terdapat
bleeding on probing pada sulkus gingiva semua gigi; 5) semua gigi anterior
goyang 2 kecuali gigi kaninus atas. Radiografi menunjukkan resorbsi tulang
sampai panjang akar di regio gigi anterior bawah. Dokter gigi yang memeriksa
menjelaskan rencana perawatan yang harus dilakukan mengenai penyakitnya
tersebut dan perlu adanya perawatan pada daerah yang dikeluhkan tersebut.

STEP I
IDENTIFIKASI KATA SULIT

Resesi gingiva
Bergeraknya tepi gingiva ke arah apikal disertai dengan tersingkapnya
akar gigi, biasanya terjadi karena adanya kerusakan jaringan.

Poket periodontal
Kondisi patologis dimana kedalaman sulkus lebih dari 3 mm, terbentuk
karena kerusakan jaringan dibawahnya.

Bleeding on probing
Pendarahan pada saat melakukan probing (memasukan probe ke sulkus
gingiva) yang merupakan indikator adanya inflamasi jaringan karena
respon bakteri patogen.

Perawatan periodontal fase II


Perawatan periodontal fase bedah yang dilakukan apabila pada saat reevaluasi jaringan perawatan periodontal fase I, tidak ditemukan adanya
perbaikan atau masih ditemukan adanya inflamasi yang menetap pada
jaringan. Perawatan ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi estetik
jaringan.

STEP II
RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa gigi kaninus atas tidak mengalami kegoyangan?
2. Bagaimana hubungan antara gambaran klinis pada skenario dengan
keberadaan plak dan kalkulus?
3. Bagaimana diagnosa, rencana, dan indikasi perawatan pada pasien dengan
kasus pada skenario?

STEP III
PEMBAHASAN
1. Gigi kaninus tidak mengalami kegoyangan karena bentuk anatominya
yaitu memiliki akar terpanjang dan terbesar sehingga gigi ini sangat kuat.
Mahkota gigi kaninus merupakan mahkota terpanjang di dalam mulut dan

berbentuk baik sekali, baik kekuatan terhadap stress dan pemakaian,


maupun kebersihan.
2. Pada skenario, terlihat bahwa pasien memiliki oral hygiene yang buruk,
banyak terdapat deposit plak dan kalkulus supragingiva maupun
subgingiva pada gigi-giginya. Selain itu ada resesi gingiva, poket
peiodontal, kehilangan perlekatan, bleeding on probing, gigi goyang, serta
resorbsi tulang sampai panjang akar. Banyaknya deposit plak pada gigi
pasien dapat terjadi akibat oral hygiene pasien yang buruk, sehingga
terjadi penumpukan plak. Plak merupakan tempat perlekatan yang baik
bagi bakteri. Bakteri yang melekat akan menginvasi dan membuat jaringan
di sekitarnya mengalami inflamasi. Bleeding on probing terjadi karena
gingiva yang terinflamasi mengalami vaskularisasi dan lebih sensitif
terhadap sentuhan, sehingga saat dilakukan probing terjadi pendarahan.
Invasi bakteri yang terus meluas akan menyebabkan kerusakan serat
kolagen pada junctional ephitelium bagian apikal, sehingga terbentuklah
poket periodontal dan terlihat adanya kehilangan perlekatan. Terbentuknya
poket periodontal akan mengakibatkan plak yang sebelumnya hanya ada di
bagian supragingiva meluas ke daerah subgingiva. Plak di kedua daerah
ini dalam jangka waktu tertentu akan terkalsifikasi dan mengeras sehingga
terbentuklah kalkulus supragingiva maupun subgingiva. Invasi bakteri
yang terus meluas ke apikal serta adanya respon host akan membuat
terseorbsinya tulang alveolar sehingga membuat gigi menjadi goyang.
3. Berdasarkan gambaran klinis dan riwayat penyakit pasien, maka diagnosa
penyakit pasien yaitu periodontitis kronis. Rencana perawatannya yaitu:
a. Perawatan periodontal fase I (instruksi kontrol plak, splinting untuk
gigi goyang, serta scaling dan root planing)
b. Reevalusi jaringan post perawatan periodontal fase I
c. Kuretase subgingiva, termasuk didalamnya medikasi pre maupun post
operasi
d. Reevalusi jaringan post perawatan periodontal fase II

Sedangkan indikasi dilakukannya perawatan periodontal fase II diatas (kuretase


subgingiva) adalah:
a. Pada reevalusi jaringan post perawatan periodontal fase I, tidak
ditemukan adanya perbaikan dan masih ditemukan inflamasi yang
b.
c.
d.
e.

menetap
Sebagai pertimbangan estetik
Untuk mengembalikan perlekatan
Menghilangkan jaringan granulasi
Meningkatkan prognosa perbaikan gigi

Pemeriksaan

Periodontitis
kronis
Perawatan periodontal
fase I
STEP IV
Evaluas
PETA
i KONSEP
Perawatan periodontal
fase II (kuretase)

Dasar
Pemikira
n

Indikasi &
kontraindikasi

Instrumentasi

Prosedu
r

Respon jaringan
& evaluasi pasca
bedah

STEP V
LEARNING OBJECT
1. Mahasiswa mampu memahami perawatan periodontal fase II:
a. Macam
b. Dasar pemikiran, indikasi dan kontraindikasi
c. Instrumentasi

d. Teknik/prosedur
2. Mahasiswa mampu memahami respon jaringan dan evaluasi pasca bedah

STEP VII
PEMBAHASAN

1.A Macam-macam perawatan Periodontal Fase II


A. KURETASE

Dasar pemikiran Kuretase


Kuretase yaitu suatu prosedur menyingkirkan jaringan granulasi yang telah
mengalami inflamasi kronis yang terbentuk di dinding lateral dari poket
periodontal. Pada jaringan granulasi yang terinflamasi ini terdapat komponen
tambahan yaitu proliferasi fibroblast dan angioblas dan bisasajamengandung
kalkulus dan koloni bakteri yang nantinya akan berpenetrasi ke jaringan patologis
dan menghambat proses penyembuhan. Kuretase menghilangkan epitel lining
poket, dengan hilangnya epitel lining tersebut berarti kuretase menghilangkan
hambatan untuk perlekatan kembali serat-serat periodontal ke permukaan gigi.
Indikasi kuretase
1. Kuretase dilakukan untuk membentuk perlekatan baru pada poket
infraboni dengan kedalaman sedang dan poket yang terletak pada daerah
yang dapat diakses dengan closed surgery.
2. Kuretase dapat dilakukan sebagai prosedur non deffinitif untuk
mengurangi inflamasi sebelum dilakukan penghilangan poket dengan cara
lain. Kuretase dapat dilakukan sebagai perawatan alternatif pada pasien
yang kontra indikasi dengan perawatan bedah aggressive karena faktor
usia, sistemik, dan psikologis.
3. Kuretase juga dilakukan berulang pada kunjungan selanjutnya sebagai
metode perawatan pemeliharaan untuk area dengan inflamasi berulang dan
poket

dalam.

Khususnya

dimana

telah

dilakukan

pembedahan

pengurangan poket yang dalam.

Kontra indikasi kuretase :


1. Perawatan yang mebutuhkan akses ke apikal dan yang memerlukan
pembedahan pada tulang alveolar, serta perawatan yang memerlukan
2.
3.
4.
5.

visibilitas yang tinggi pada perawatan periodontal.


Dinding poket fibrotic
Poket yang dalam (infraboni)
Keterlibatan percabangan akar
Daerah sulit dijangkau/ aksesibilitas kurang memadai

B. GINGIVEKTOMI
1. Dasar pemikiran
Gingivektomi dilakukan untuk menghilangkan poket supraboni
dimana apabila konsistensi dari dinding poket tersebut fibrous. Selain
itu gingivektomi juga dilakukan untuk mengeliminasi adanya gingiva
enlargement, yaitu adanya pembengkakan gingiva yang menetap
dimana poket yang sesungguhnya dangkal namun terlihat adanya
pembesaran dan deformasi gingiva yang cukup besar. Gingivektomi
nuga digunakan untuk mengeliminasi abses periodontal yang berada
pada dinding poket, dan yang paling penting gingivektomi dilakukan
untuk

menciptakan

lingkungan

yang

menguntungkan

bagi

penyembuhan gingiva dan restorasi kontur gingiva yang fisiologis


(Caranza, 2002:749).
2. Indikasi Gingivektomi
a. Adanya poket supraboni dengan kedalaman lebih dri 4 mm, yang
tetap ada walaupun sudah dilakukan skaling dan pembersihn mulut
yang

cermat

berkali-kali,

dan

keadaan

dimana

prosedur

gingivektomi akan menghasilkan daerah perlekatan gingiva yang


adekuat
b. Adanya pembengkakan gingiva nyang menetap dimana poket
sesungguhnya dangkal namun terlihat pembesaran dan deformitas
gingiva yang cukup besar. Bila jaringan gingiva merupakan
jaringan fibrosa, gingivektomi merupakan cara perawatan yang
paling cocok dan dapat memberikan hasil yang memuaskan.
c. Adanya kerusakan furkasi (tanpa disertai cacat tulang) dimana
terdapat daerah perlekatan gingiva yang cukup lebar
d. Abses gingiva yaitu abses yang terdapat di dalam jaringan lunak
e. Flap koronal (buku ajar periodonti, J.D Manson, 1993:178)
Menurut Arthur R. dkk.(2006), Indikasi dari gingivektomi yaitu :
1. Hiperplasia dilantin
2. Hiperplasia inflamatif kronis
3. Erupsi pasif yang terhambat
4. Fibromatosis herediter
Menurut Carranzas 11th Edition, indikasi gingivektomi yaitu :

1.
2.
3.
4.

Eliminasi suprabonipocket, terlepas dari kedalamannya.


Eliminasi pembesaran gingival
Eliminasi supraboni periodontal abses
Adanya kerusakan furkasi, tanpa terdapat cacat tulang dimana
terdapat daerah perlekatan gingival yang cukup lebar.

3. Kontraindikasi Gingivektomi
Menurut Carranzas 11th Edition, kontraindikasi gingivektomi
adalah :
1. Kebutuhan bedah tulang/ pengujian bentuk tulang dan morfologi
2. Keadaan dimana dasar poket pada atau di apical mucogingival
junction.
3. Pertimbangan Estehetic, terutama di region anterior rahang atas
Selain tersebut diatas menurut jurnal ( Alibasyah ZM, 2009 )
Kontra Indikasi gingivektomi yaitu :
Apabila dibutuhkan bendah tulang atau pemeriksaan bentuk dan
morfologi tulang
Situasi dimana dasar poket lebih ke arah apikal dari muco-gingival
junction
Apabila frenulum atau perlekatan otot berada pada daerah
pembedahan
Bila oral hygiene pasien buruk
Apabila pasien menderita penyakit atau kondisi tertentu

C. BEDAH FLAP
1. Dasar Pemikiran
Flap periodontal adalah bagian pemisahan dari pembedahan
mukosa

gingiva

dari jaringan di bawahnya untuk memberikan jarak penglihatan dan

akses ke tulang

dan permukaan

akar.

Flap gingival juga dimungkinkan untuk dipindahkan ke lokasi yang


berbeda pada pasien dengan keterlibatan mukogingival. Poket
memisahkan perlekatan gingival dari gigi dan poket yang dapat
meluas ke bawah pertautan mukogingiva yaitu sepanjang melalui
perlekatan gingival.
Pada situasi ini jangan digunakan tehnik gingivektomi karena akan
dmenghasilkan daerah perlekatan gingival yang sempit atau tidak ada
daerah perlekatan gingival. Bedah Flap merupakan perawatan bedah
periodontal yang komplek dan bisa dilakukan di semua masalah
periodontal

ketika

perawatan

bedah

periodontal

sederhana

dikontraindikasikan.
2. Indikasi
Poket yang meluas ke apical mucogingival junction
Terapi Furkasi
Kerusakan tulang yang tidak teratur
Implan bagi poket bawah tulang ( infrabony poket )
3 Kontraindikasi
a. Kondisi akut merupakan kontra indikasi dilakukannya suatu tindakan,
terutama tindakan invasi, termasuk disini bedah flap.
b. Masih adanya kelainan sistemik pasien ( uncontrolled )
1.C Instrumentasi untuk bedah periodontal
1. Instrumen untuk eksisi dan insisi
Pisau gingivektomi
Contoh : Kirkland knife, berbentuk seperti ginjal dan seluruh

permukaan berupa cutting edge.


Pisau interdental
Berbentuk seperti tombak, cutting edge pada dua sisi blade.
Contoh : Orban knife no 1-2
Merrifield knife no 1-2, 3-4

A1at insisi dan eksisi manual. Pisau gingivektomi, (A) pisau

Kirkland, (B). pisau interdental Orban


Pisau bedah (scalpel)
Bentuk dan ukurannya bermacam- macam.
Yang sering digunakan :
No 12D : bentuk seperti paruh
- cutting edge 2 sisi
- untuk daerah sempit dan terbatas
No 15 : -

untuk flap yang tipis

No 15C : - untuk insisi pada flap interdental

Pisau bedah, A) No. 12D,

15C dan 15; (B) gagang skalpel yang membentuk sudut

Electrosurgery (surgical diathermy)


- Merupakan teknik bedah Merupakan teknik surgical
pada jaringan lunak dengan menggunakan gelombang
-

frekuensi tinggi (1,5- 7,5 Hz).


Perbedaan teknik ini dengan teknik bedah biasa adalah
pada teknik ini penggunaan pisau bedah digantikan

dengan elektroda.
- Ada 3 macam elektroda yang digunakan:
1. Elektroda single wire (kawat tunggal) : untuk insisi dan eksisi
2. Elektroda loop (lingkaran)
: untuk meratakan jaringan
3. Elektroda berbentuk batang
: untuk prosedur koagulasi
darah

Alat bedah elektro. (A) Plat pasif atau konduktif; (B) Gagang dan tip
elektroda yang aktif, (B) Foot switch
2. Kuret dan sickle surgical
Digunakan untuk menghilangkan jaringan granulasi, jaringan interdental
fibrous dan deposit subgingiva. Contok kuret bedah adalah Kramer no 1,
2, 3. Sedangkan contoh sickle bedah adalah sickle ball no B2-B3.
3. Periosteal elevator
Digunakan untuk membukan dan menggeser flap setelah insisi. Contohnya
Goldman Fox nomer 14 dan Glickman nomer 24G.

4. Chisel dan Hoe surgical


Digunakan untuk menghilangkan atau membentuk tulang alveolar pada
waktu bedah tulang. Sedangkan surgical hoe digunakan untuk melepas
dinding poket setelah insisi ginggivektomi, mengaluskan akar dan tulang.
5. File surgical
Digunakan untuk menghaluskan ujung tulang yang kasar. Contohnya
Schluger dan Sugarman file.

6. Gunting bedah dan nipper


Digunakan untuk mengambil jaringan saat ginggivektomi, menghaluskan
margin flap, melebarkan insisi pada abses periodontal, dan mengangkat
perlekatan otot pada ginggivektomi. Contohnya Goldman Fox nomer 16.

Gambar nipper (tang potong bedah)


1.d Tekhnik bedah periodontal
a)

Teknik Gingivektomi
1. Pemberian Anastesi lokal
Sebelum dilakukan gingivektomi, pasien dianastesi terlebih
dahulu. Anastesi yang digunakan yaitu anastesi lokal dengan teknik
blok atau infiltrasi.Anastesi lokal yang dalam dapat dicapai dengan
penyuntikan dengan anastetikum pada mucobuccal fold. Untuk
mengurangi perdarahan selama bedah, dilakuakn penyuntikan
secara langsung pada tiap papila interdental yang direseksi.
Biasanya prosedur gingivektomi dilakukan dengan anastesi lokal.
2. Memberi Penandaan
Setelah itu beri tanda pada poket menggunakan forceps
penanda poket. Forceps digunakan dengan memasukkan beak
probingnya (yang lurus) kedasar poket dan tandai kedalaman
poketnya dengan menggunakan beak penusuknya. Tanda yang
dibuat berupa titik-titik pendarahan pada gingiva di sisi fasial dan
lingual. Tanda tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk
membuat insisi pada prosedur gingivektomi.

3. Insisi
Apabila penandaan telah selesai dilakukan maka buatlah
insisi lebih ke apikal dari titik perdarahan pada gingiva sampai
mencapai permukaan gigi tepat didasar poketnya, yaitu tepat
setinggi titik perdarahnanya dengan pisau bermata lebar seperti
Kirkland No. 15/16. Buat insisi bergelombang dengan arah
mesiodistal, serupa dengan bentuk gingiva yang naik turun
(scalloped), seperti halnya melakukan festoon pada gigi tiruan.
Pada bagian gigi tiruan pada bagian interdental, insisinya harus
masuk lebih dalam ke jaringan. Gunakan pisau gingivektomi
dengan mata pisau yang tipis seperti orban knife untuk
memisahkan gingiva interdental dan untuk menghubungkan insisi
dengan gigi geligi. Kemudian jaringan gingiva yang tealah diinsisi
dapat dilepas dengan memegang salah satu ujung jaringan yang
telah terpisah sebagian menggunakan tissue forceps dan pisahkan
jaringan sisanya menggunakan scalpel atau pisau. Insisi yang
dilakukan dengan baik maka poket akat tereliminasi, insisinya akan
berbentuk bevel ke arah korona, bevelnya akan berakhir pada
margin yang ujungnya berbentuk pisau (knife-edge) , dan jaringan
sisia pemotongan akan berbentuk scalopped ditiap gigi (festoon).
Terkadang melakukan festoon amat penting untuk memastikan

terjadinya bentuk yang fisiologis dengan sulkus yang dangkal


setelah fase penyembuhan. Koreksi tersebut dapat dilakukan
dengan menggunakan orban knife.Insisi harus dibevel kurang
lebiih 45 derajat dari permukaan gigi. Kesalahan yang paling
sering terjadi adalah insisi pada posisi koronal sehingga dasar
poket tetap tertinggal dan penyakit cenderung kambuh.

4. Dengan hati-hati menguret jaringan granulasi dan mengeliminasi


kalkulus yang tersisa dan sementum yang nekrotik untuk
meninggalkan

permukaan

yang

bersih

dan

halus

dengan

menggunakan kuret atau skaler yang besar.


5. Menutupi area luka dengan surgical pack atau periodontal dressing
Periodontal dressing biasanya dilepas setelah 5-7 hari

Fungsi dressing periodontal


Untuk melindungi luka dari iritasi
Untuk menjaga agar daerah luka tetap dalam keadaan
bersih
Untuk mengontrol perdarahan
Untuk mengontrol jaringan granulasi yang berlebihan
Karena itu, dressing periodontal dapat mempercepat pemulihan dan
memeberikan kenyamanan pasca operasi.
(Manson J.D., B.M. Eley. 1993:180)
b) Teknik Kuretase
Tahapan prosedur dari teknik ini adalah sebagai berikut:
1. Anestesi.- Sebelum pembedahan terlebih dulu diberikan anestesi
local yang adekuat.

2. Pembuatan insisi pertama.- Insisi pertama adalah berupa insisi


bevel kedalam/terbalik (internal/reverse beveled incision) pada
permukaan vestibular dan oral. Insisi dilakukan dengan
skalpel/pisau bedah, dimulai dari tepi gingiva ke arah apikal
menuju krista tulang alveolar. Pada waktu melakukan insisi di
permukaan interproksimal harus diusahakan agar sesedikit
mungkin papila interdental yang terambil. Pada tehnik ini tidak
ada pembukaan flep.
3. Pembuatan insisi kedua. Insisi kedua dilakukan mulai dari
dasar saku melalui serat krista alveolaris (dan pada permukaan
proksimal melalui juga serat transeptal) ke krista tulang
alveolar
4. Penyingkiran jaringan yang tereksisi. Jaringan yang telah
tereksisi disingkirkan dengan jalan pengkuretan.
5. skaling dan rootplaning. Pada sementum akar yang tersingkap
dilakukan pensekeleran dan penyerutan. Dalam melakukan
penskeleran dan penyerutan harus diperhatikan agar tidak
sampai menyingkirkan jaringan ikat yang melekat ke
sementum akar pada daerah 1- 2 mm koronal dari krista tulang
alveolar.

Gambar 4. Teknik modifikasi prosedur perlekatan baru dengan


eksisi. A. Daerah yang akan dieksisi; B. Keadaan setelah eksisi; C.
Flep telah diposisikan; D. Setelah penyembuhan.
6. Pembersihan daerah kerja. Daerah yang

mengalami

pembedahan dibilas dengan akuades atau larutan garam


fisiologis.
7. Pengadaptasian. Tepi luka pada kedua sisi dipertautkan.
Apabila tepi gingiva tidak bertaut rapat, plat tulang vestibular
sedikit ditipiskan dengan jalan osteoplastik.
8. Penjahitan. Tepi luka dijahit di interproksimal dengan jahitan
interdental. Luka sedikit ditekan dari arah oral dan vestibular
selama 2 3 menit agar bekuan darah yang terbentuk tipis saja.
9. Pemasangan periodontal dressing. Pembalut periodontal
dipasang menutupi luka bedah, dan dibuka seminggu

kemudian(Caranza, 2002:746).
Kuretase menggunakan obat-obat
Teknik kuretase ini dilakukan dengan cara pemberian obatobatan tertentu dan diberikan pada dinding lateral dan pada dinding
poket. Tetapi teknik ini tidak dianjurkan dikarenakan proses
destruksi yang tidak terkontrol dan mungkin dapat lebih merusak

Ultrasonik kuretase
Penggunaan ultrasonic kuretase direkomendasikan untuk
gingiva kuretase. Ultrasonik kuretase efektif untuk hilangakan

lapisan epitel dari poket periodontal.


c) Teknik Flap Periodontal
1. Insisi
Insisi di buat du sisi pembuka vertikal melalui tulang pada
kedua ujung daerah operasi. Insisi harus dibuat di mesial atau distal
dari poket periodontal interdental terakhir yang akan di rawat dan
jangan terletak di interdental. Insisi harus dibuat saling sejajar dan
meluas ke mukosa alveolar pada dasar vestibulum.
2. Membuka flap
Tang periosteum dapat digunakan untuk memisahkan
perlekatan gingiva dari proseesus alveolaris sehingga flap dengan
ketebalan penuh dapat dibuka. Flap harus dapat dipisahkan dari
gigi dan tulang. Flap dapat dibuka dengan dua tahap, pertama tepat
untuk membuka tulang agar dapat dikuret dan kedua untuk
melepas flap.
3. Memotong tepi servikal dan jaringan granulasi
Jaringan servikal yang terpisah dihilangkan dengan kuret
dan skaler Semua jaringan granulasi yang melekat pada permukaan
gigi, tepi tulang atau cacat tulang harus dikuret dengan cermat dan
menyeluruh sehingga gigi dan permukaan tulang bersih.
4. Skaling dan root planning
Akar yang terbuka harus di scaling dan root planing untuk
menghilangkan sisa kalkulus
5. Reposisi apical
Flap dibuka ke dasar vestibula bila sudah dibuka flap
cenderung berkontraksi dan melipat sehingga flap sering kali
terletak lebih ke apikal.
6. Penjahitan
Perlu di pastikan bahwa flap tidak tertarik ke koronal pada
saat dijahit. Jahitan harus dilakukan mul-mula pada insisi vertikal
mesial dan distal. Jahitan harus dilakukan didekat tepi flap bebas
dan harus cukup terletak di apikal pada perlekatan gingiva dari

jaringan yang terfiksasi mendapat derajat reposisi apikal yang


dibutuhkan.
7. Pemasangan dressing periodontal
Biasanya dressing yang digunakan adalah Coe-pack.
Adaptasi yang erat antara flap dengan tulang dibawahnya dapat
diperoleh dengan menekankan kasa basah diatas flap pada saat
persiapan pemasangan dressingperiodontal
2.Respon Jaringan Pasca Bedah
A. Fespon jaringan setelah Gingivektomi
1. Epitel akan bergeser ke apikal menutupi luka dan membentuk pertautan
epitel yang baru dengan kecepatan 0,5 mm per hari.
2. Sel akan menutupi luka dalam waktu 7-14 hari dan keratinisasi setelah 2-3
minggu.
3. Pembentukan perlekatan epitel yang baruberlangsung selama 4 minggu.
4. Perlekatan jaringan ikat akan terbentuk kembali antara jaringan marginal
dan sementum akar dari tepi tulang sampai ke dasar junctional ephitelium.
B. Respon jaringan setelah kuretase
1. Segera setelah kuretase gingiva, jendalan darah (blood clot) akan mengisi
daerah poket periodontal.
2. Selanjutnya terjadi proliferasi jaringan granulasi secara cepat dengan
berkurangnya jumlah pembuluh darah kecil seiring dengan mature-nya
jaringan.
3. Secara umum, restorasi dan epitelisasi sulkus membutuhkan waktu 2-7
hari dan restorasi junctional epithelium terjadi paling cepat 5 hari setelah
kuretase gingiva.
4. Kuretase gingiva setelah kunjungan 1 minggu tidak perlu dilakukan
probing.
5. Adanya serabut kolagen yang immature tampak pada hari ke 21.
6. Secara klinis, segera setelah dilakukan kuretase gingiva, gingiva akan
tampak merah terang.
7. Setelah 1 minggu, posisi gingiva tampak lebih ke apikal, warna sedikit
lebih merah

8. Dua minggu setelah kuretase gingiva dan control plak yang adekuat dari
penderita, maka akan didapatkan gambaran klinis gingiva yang normal.
9. Tiga minggu terjadi perlekatan yang sempurna. (Carranza Part 5,
2002:747)
C. Respon host setelah bedah flap
1. Segera setelah suturing sampai 24 jam awal
Hubungan antara flap dan gigi atau permukaan gigi, terbentuk oleh bekuan
darah

yang

terdiri

dari

sebuah

reticulum

fibrin

yang

banyak

akan

polymorphonuclear, eritrosit, debris dari selluka dan kapiler di pinggir tulang.


Bakteri dan exsudate atau transudat juga dihasilkan dari luka jaringan.
2. 1 sampai 3 hari setelah bedah flap
Dalam 1 sampai 3 hari setelah bedah flap ,ruang antara flap dan gigi atau
tulang menjadi dan sel epitel akan bermigrasi ke daerah perbatasan dari flap,
biasanya akan kontak dengan gigi. Ketika flap telah beradaptasi dengan tulang
alveolar, proses inflamasi akan berkurang dan terjadi secara minimal.
3. Satu minggu setelah bedah flap
Satu minggu setelah operasi, sebuah perlekatan epitel ke akar telah
terbentuk dengan cara hemidesmosomes dan basal lamina. Darah beku telah
digantikan oleh jaringan granulasi gingival yang berasal dari jaringan ikat,
sumsum tulang , dan ligamen periodontal.
4. Dua minggu setelah bedah
Serat kolagen mulai muncul sejajar dengan permukaan gigi. Namun
penyatuan flap dengan gigi masih lemah karena pada saat ini serat kolagen masih
belum matang / dewasa meskipun ketika dilihat secar aspek klinis mungkin
hamper terlihat normal.
5. Satu bulan setelah bedah

Epitelisasi gingival telah terbentuk sepenuhnya dengan terbentuknya


perlekatan epitel gingival. Fase ini merupakan awal dari susunan fungsional dari
serabut supracrestal.
Perawatan Pascaoperasi
Pasien perlu diberi informasi yang lengkap tentang cara-cara perawatan
pasca operasi. Nasehat berikut ini harus diberikan secara tertulis.
1.

Hindari makan atau minum selama satu jam.

2.

Jangan minum minuman panas atau alcohol selama 24 jam. Jangan


berkumur-kumur satu hari setelah operasi.

3.

Jangan makan makanan yang keras, kasar, atau lengket dan kunyah lah
makanan dengan sisi yang tidak dioperasi.

4.

Minumlah analgesic bila anda merasakan sakit setelah efek anestesi


hilang. Aspirin merupakan kontraindikasi selama 24 jam.

5.

Gunakan larutan kumur salin hangat setelah satu hari. Gunakan larutan
kumur klorheksidin di pagi hari dan malam hari bila anda tidak dapat
melakukan pengontrolan plak secara mekanis. Larutan ini dapat langsung
digunakan pada hari pertama setelah operasi asalkan tidak dikumurkan
terlalu kuat di dalam mulut. Teh, kopi, dan rokok harus dihindari apabila
anda menggunakan larutan kumur klorheksidin untuk mengurangi stain.

6.

Bila terjadi perdarahan, tekanlah dressing selama 15 menit dengan


menggunakan sapu tangan bersih yang sudah dipanaskan; jangan
berkumur; hubungi dokter anda bila perdarahan tidak juga berhenti.

7.

Sikat bagian mulut yang tidak dioperasi saja.

8.

Bila tahap pascaoperasi tidak menimbulkan gangguan namun sakit dan


bengkak timbul 2-3 hari kemudian, segeralah hubungi dokter anda.
(Buku ajar periodonti, 1993:181).

Daftar Pustaka

1. Newman, Takei, Klokkvold, Carranza. 2012. ClinicalPeriodontology, 11th ed.


Saunders Elsevier Inc, St. Louis.
2. Manson J.D. B.M. Eley. 1993. Buku Ajar Periodonti Edisi 2. Jakarta:
Hipokrates
3. Alibasyah ZM.

Gingivektomi

Journal.2009;1:78-87
4. Melinda,
Merlin.2010.

dan Gingivoplasti.
Gingivektomi,

Cakradonya
Kuretase,

Dental
dan

Flap .Manado:Kepaniteraan Klinik Periodonsia, PSKG Universitas Sam


Ratulangi
5. Carranza FA dan Henry HT. 2002. Gingival curettage, in: Carranza FA Jr and

Newman MG (eds), Clinical Periodontology, 9th edition. USA: WB Saunders


Co.
6. J.D Manson. 1993. buku ajar periodonti. , 1993:178)
7. Alibasyah ZM. Gingivektomi dan Gingivoplasti.
Journal.2009;1:78-87

Cakradonya

Dental

Anda mungkin juga menyukai