Anda di halaman 1dari 48

MINI PROYEK

PENYULUHAN GIZI BALITA DI DESA KASANG


PUDAK SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN GIZI
BURUK
MUARA KUMPEH

Oleh:
dr. Rendy Andika, B.MedSc
Pembimbing:
dr. Hasanah Suryani Utami
Puskesmas Muara Kumpeh
Kabupaten Muaro Jambi
Propinsi Jambi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Usia balita merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang
sangat pesat. Oleh karena itu, kelompok usia balita perlu mendapat
perhatian, karena merupakan kelompok yang rawan terhadap kekurangan
gizi.1
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan
nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar. Gizi buruk masih menjadi masalah
yang belum terselesaikan sampai saat ini. Gizi buruk banyak dialami oleh
bayi dibawah lima tahun (balita). Masalah gizi buruk dan kekurangan gizi
telah menjadi keprihatinan dunia sebab penderita gizi buruk umumnya
adalah balita dan anak-anak yang tidak lain adalah generasi generus
bangsa. Kasus gizi buruk merupakan aib bagi pemerintah dan masyarakat
karena terjadi di tengah pesatnya kemajuan zaman. Dengan alasan tersebut,
masalah ini selalu menjadi program penanganan khusus oleh pemerintah.2
Keadaan gizi masyarakat Indonesia pada saat ini masih belum
menggembirakan. Berbagai masalah gizi seperti gizi kurang dan gizi buruk,
kurang vitamin A, anemia defisiensi besi, gangguan akibat kurang Yodium
dan gizi lebih (obesitas) masih banyak tersebar di kota dan desa di seluruh
tanah air. Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan tersebut antara lain
adalah tingkat kemampuan keluarga dalam menyediakan pangan sesuai
dengan kebutuhan anggota keluarga, pengetahuan dan perilaku keluarga
dalam meilih, mengolah, dan membagi makanan di tingkat rumah tangga,
ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi dasar serta ketersediaan dan
aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan dan gizi masyarakat yang
berkualitas.3
Kesepakatan global yang dituangkan dalam Millenium Development
Goals (MDGs) yang terdiri dari 8 tujuan, 18 target dan 48 indikator,
menegaskan bahwa tahun 2015 setiap negara menurunkan kemiskinan dan

kelaparan separuh dari kondisi pada tahun 1990. Dua dari lima indikator
sebagai penjabaran tujuan pertama MDGs adalah menurunnya prevalensi
gizi kurang pada anak balita (indikator keempat) dan menurunnya jumlah
penduduk dengan defisit energi (indikator kelima).4
Masalah gizi pada anak balita di Indonesia telah mengalami perbaikan.
Hal ini dapat dilihat antara lain dari penurunan prevalensi gizi buruk pada
anak balita dari 5,4% pada tahun 2007 menjadi 4,9% pada tahun 2010.
Meskipun terjadi penurunan, tetapi jumlah nominal anak gizi buruk masih
relatif besar.1
B. Permasalahan
Berdasarkan
latar
belakang
maka
dapat
dirumuskan
permasalahan adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya status gizi anak demi kepentingan pertumbuhan dan
perkembangan anak
Tujuan
B.1.Tujuan Umum
Meningkatkan kesadaran masyarakan akan pentingnya gizi anak
B.2.Tujuan Khusus
Untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat desa
Kasang Pudak mengenai gangguan tumbuh kembang yang
dapat terjadi pada anak yang kurang gizi.
Meningkatkan kewaspadaan pada masyarakat mengenai
kemungkinan kurang gizi pada anak-anak mereka.
C. Manfaat
C.1.Bagi Puskesmas
Dengan adanya penyuluhan mengenai bahaya gizi buruk dan
pengenalan gejala gizi buruk pada masyarakat diharapkan terjadi
peningkatan kesadaran akan pentingnya gizi dan membantu
untuk mencegah berulangnya kejadian bayi gizi buruk di masa
mendatang.
C.2.Bagi Dokter Internsip
Memberikan pengalaman untuk terjun langsung di lapangan
dan berkoordinasi dengan masyarakat di desa.
Sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan kemampuan
untuk memahami permasalahan yang terjadi dalam
masyarakat.
C.3.Bagi Masyarakat
Diharapkan masyarakat dapat mengetahui mengenai pentingnya
memperhatikan gizi anak-anak terutama saat usia balita karena

pada tahap tersebut merupakan tahap penting dalam


perkembangan dan pertumbuhan. Yang akan mempengaruhi tidak
hanya kondisi fisik, tetapi juga psiki dan intelegensi seorang anak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Gizi buruk adalah status gizi yang didasarkan pada indeks berat badan
menurut umur (BB/U) yang merupakan padanan istilah severely underweight
(Kemenkes RI, 2011), sedangkan menurut Depkes RI 2008, keadaan kurang
gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi
badan (BB/TB) <-3 SD dan atau ditemukan tanda-tanda klinis marasmus,
kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor.1,4
2. Epidemiologi
Gizi

buruk

masih

merupakan

masalah

di

Indonesia,

walaupun

Pemerintah Indonesia telah berupaya untuk menanggulanginya. Data


Susenas menunjukkan bahwa jumlah balita yang BB/U <-3SD Z-score WHONCHS sejak tahun 1989 meningka tdari 6,3% menjadi 7,2% tahun 1992 dan
mencapai puncaknya 11,6 % padatahun 1995. Upaya pemerintahan tara lain
melalui Pemberian Makanan Tambahan dalam Jaring Pengaman Sosial (JPS)
dan peningkatan pelayanan gizi melalui pelatihan-pelatihan Tatalaksana Gizi
Buruk kepada tenaga kesehatan, berhasil

menurunkan angka gizi buruk

menjadi 10,1 % pada tahun 1998; 8,1% tahun 1999 dan 6,3 % tahun 2001.
Namun pada tahun 2002 terjadi peningkatan kembali menjadi 8% dan pada
tahun 2003 menjadi 8,15 %. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa
anak gizi buruk dengan gejala klinis (marasmus, kwashiorkor, marasmuskwashiorkor) umumnya disertai dengan penyakit infeksi seperti diare, Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Tuberkulosis (TB) serta penyakit infeksi
lainnya. Data dari WHO menunjukkan bahwa 54 % angka kesakitan pada
balita disebabkan karena gizi buruk, 19 % diare, 19% ISPA, 18% perinatal,
7% campak, 5% malaria dan 32 % penyebab lain.5
Masalah gizi pada anak balita di Indonesia telah mengalami perbaikan.
Hal ini dapat dilihat antara lain dari penurunan prevalensi gizi buruk pada
anak balita dari 5,4% pada tahun 2007 menjadi 4,9% pada tahun 2010.

Meskipun terjadi penurunan, tetapi jumlah nominal anak gizi buruk masih
relatif besar.
3. Klasifikasi Gizi Buruk
Terdapat 3 tipe gizi buruk adalah marasmus, kwashiorkor, dan
marasmus-kwashiorkor. Perbedaan tipe tersebut didasarkan pada ciri-ciri
atau tanda klinis dari masing-masing tipe yang berbeda-beda.
3.1 Marasmus
Gambaran klinik marasmus berasal dari masukan kalori yang tidak
cukup karena diet yang tidak cukup, karena kebiasaan makan yang tidak
tepat seperti mereka yang hubungan orangtua-anak terganggu, atau karena
kelainan metabolic atau malformasi congenital. Gangguan berat setiap
system tubuh dapat mengakibatkan malnutrisi.6
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat.
Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak
terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit),
rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan
(sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering rewel
dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar.
Berikut adalah gejala pada marasmus adalah :

a. Anak tampak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar lemak dan
otot-ototnya, tinggal tulang terbungkus kulit
b. Wajah seperti orang tua
c. Iga gambang dan perut cekung
d. Otot paha mengendor (baggy pant)
e. Cengeng dan rewel, setelah mendapat makan anak masih terasa lapar
3.2 Kwashiorkor
Penampilan tipe kwashiorkor seperti anak yang gemuk (suger baby),
bilamana dietnya mengandung cukup energi disamping kekurangan protein,
walaupun dibagian tubuh lainnya terutama dipantatnya terlihat adanya
atrofi. Tampak sangat kurus dan atau edema pada kedua punggung kaki
sampai seluruh tubuh.

Walaupun defisiensi kalori dan nutrien lain mempersulit gambaran


klinik dan kimia, gejala utama malnutrisi protein disebabkan karena masukan
protein tidak cukup bernilai biologis baik. Dapat juga karena penyerapan
protein terganggu, seperti pada keadaan diare kronik, kehilangan protein
abnormal pda proteinuria (nefrosis), infeksi, perdarahan atau luka bakar, dan
gagal mensintesis protein, seperti pada penyakit hati kronik .6
Kwashiorkor merupakan sindrom klinis akibat dari defisiensi protein
berat dan masukan kalori tidak cukup. Dari kekurangan masukan atau dari
kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka metabolik yang disebabkan
oleh infeksi kronik, akibat defisiensi vitamin dan mineral dapat turut
menimbulkan tanda-tanda dan gejala-gejala tersebut. Bentuk malnutrisi
yang paling serius dan paling menonjol di dunia saat ini terutama berada di
daerah industri belum bekembang.6
Bentuk klinik awal malnutrisi protein tidak jelas tetapi meliputi letargi,
apatis atau iritabilitas. Bila terus berlanjut, mengakibatkan pertumbuhan
tidak cukup, kurang stamuna, kehilangan jaringan muskuler, meningkatnya
kerentanan

terhadap

infeksi,

dan

udem.

Imunodefisiensi

sekunder

merupakan salah satu dari manifestasi yang paling serius dan konstan. Pada
anak dapat terjadi anoreksia, kekenduran jaringan subkutan dan kehilangan
tonus otot. Hati membesar dapat terjadi awal atau lambat, sering terdapat
infiltrasi lemak. Udem biasanya terjadi awal, penurunan berat badan
mungkin ditutupi oleh udem, yang sering ada dalam organ dalam sebelum
dapat dikenali pada muka dan tungkai. Aliran plasma ginjal, laju filtrasi
glomerulus, dan fungsi tubuler ginjal menurun. Jantung

mungkin kecil pada

awal stadium penyakit tetapi biasanya kemudian membesar. Pada kasus ini
sering terdapat dermatitis. Penggelapan kulit tampak pada daerah yang
teriritasi tetapi tidak ada pada daerah yang terpapar sinar matahari.
Dispigmentasi dapat terjadi pada daerah ini sesudah deskuamasi atau dapat
generalisata. Rambut sering jarang dan tipis dan kehilangan sifat elastisnya.
Pada anak yang berambut hitam, dispigmentasi menghasilkan corak merah
atau abu-abu pada warna rambut (hipokromotrichia) .6

Infeksi dan infestasi parasit sering ada, sebagaimana halnya anoreksia,


mual, muntah, dan diare terus menerus. Otot menjadi lemah, tiois, dan
atrofi, tetapi kadang-kadang mungkin ada kelebihan lemak subkutan.
Perubahan mental, terutama iritabilitas dan apati sering ada. Stupor, koma
dan meninggal dapat menyertai.6
Berikut ciri-ciri dari kwashiorkor secara garis besar adalah :
a. Perubahan status mental : cengeng, rewel, kadang apatis
b. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah
dicabut, pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut
kepala kusam.
c. Wajah membulat dan sembab
d. Pandangan mata anak sayu
e. Pembesaran hati, hati yang membesar dengan mudah dapat diraba
dan terasa kenyal pada rabaan permukaan yang licin dan pinggir
yang tajam.
f. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah
menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
3.3 Marasmik-Kwashiorkor
Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik
kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung
protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita
demikian

disamping

menurunnya

berat

badan

<

60%

dari

normal

memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut,


kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula.4
4. Etiologi
Menurut Hasaroh, (2010) masalah gizi pada balita dipengaruhi oleh
berbagai faktor, baik faktor penyebab langsung maupun faktor penyebab
tidak langsung. Menurut Depkes RI (1997) dalam Mastari (2009), faktor
penyebab langsung timbulnya masalah gizi pada balita adalah penyakit
infeksi serta kesesuaian pola konsumsi makanan dengan kebutuhan anak,
sedangkan faktor penyebab tidak langsung merupakan faktor sepertitingkat

sosial ekonomi, pengetahuan ibu tentang kesehatan, ketersediaan pangan


ditingkat keluarga, pola konsumsi, serta akses ke fasilitas pelayanan. Selain
itu, pemeliharaan kesehatan juga memegang peranan penting. Di bawah ini
dijelaskan beberapa faktor penyebab tidak langsung masalah gizibalita,
yaitu:
a. Tingkat Pendapatan Keluarga.
Tingkat

penghasilan

ikut

menentukan

jenis

pangan

apa

yang

disediakan untuk konsumsi balita serta kuantitas ketersediaannya. Pengaruh


peningkatan penghasilan terhadap perbaikan kesehatan dan kondisi keluarga
lain yang mengadakan interaksi dengan status gizi yang berlawanan hampir
universal.
Selain itu diupayakan menanamkan pengertian kepada para orang tua
dalam hal memberikan makanan anak dengan cara yang tepat dan dalam
kondisi yang higienis.
b. Tingkatan Pengetahuan Ibu tentang Gizi.
Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi
didasarkan

pada tiga kenyataan yaitu:

Status gizi cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan.

Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya
mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan
tubuh yang optimal.

Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat


belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi.
Pengetahuan gizi yang baik akan menyebabkan seseorang mampu

menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi. Semakin banyak pengetahuan


gizi seseorang,maka ia akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah
makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi.
Pengetahuan gizi yang dimaksud disini termasuk pengetahuan tentang
penilaian status gizi balita. Dengan demikian ibu bias lebih bijak menanggapi
tentang masalah yang berkaitan dengan gangguan status gizi balita.

c. Tingkatan Pendidikan Ibu.


Pendidikan
rendahnya

ibu

tingkat

merupakan
pendidikan

faktor
ibu

yang

erat

sangat

kaitannya

penting.
dengan

Tinggi
tingkat

pengetahuan terhadap perawatan kesehatan, kebersihan pemeriksaan


kehamilan dan pasca persalinan, serta kesadaran terhadap kesehatan dan
gizi anak-anak dan keluarganya. Disamping itu pendidikan berpengaruh pula
pada factor social ekonomi lainnya seperti pendapatan, pekerjaan, kebiasaan
hidup, makanan, perumahan dan tempat tinggal.
Tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang
menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Hal ini
bias dijadikan landasan untuk membedakan metode penyuluhan yang tepat.
Dari kepentingan gizi keluarga, pendidikan diperlukan agar seseorang lebih
tanggap terhadap adanya masalah gizi di dalam keluarga dan bias
mengambil tindakan secepatnya.
Tingkat pendidikan ibu banyak menentukan sikap dan tindak-tanduk
menghadapi

berbagai

masalah,

missal

memintakan

vaksinasi

untuk

anaknya, memberikan oralit waktu diare, atau kesediaan menjadi peserta


KB. Anak-anak dari ibu yang mempunyai latar pendidikan lebih tinggi akan
mendapat kesempatan hidup serta tumbuh lebih baik. Keterbukaan mereka
untuk menerima perubahan atau hal baru guna pemeliharaan kesehatan
anak maupun salah satu penjelasannya.
d. Akses Pelayanan Kesehatan.
Sistem akses kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical
service)dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health service). Secara
umum akses kesehatan masyarakat adalah merupakan subsistem akses
kesehatan, yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan)
dan

promotif

(peningkatan

kesehatan)

dengan

sasaran

masyarakat.

Meskipun demikian, tidak berarti bahwa akses kesehatan masyarakat tidak


melakukan pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan).
Upaya

akses

kesehatan

dasar

diarahkan

kepada

peningkatan

kesehatan danstatus gizi pada golongan rawan gizi seperti pada wanita

hamil, ibu menyusui, bayi dan anak-anak kecil, sehingga dapat menurunkan
angka kematian. Pusat kesehatan yang paling sering melayani masyarakat,
membantu mengatasi dan mencegah gizi kurang melalui program-program
pendidikan gizi dalam masyarakat. Akses kesehatan yang selalu siap dan
dekat dengan masyarakat akan sangat membantu meningkatkan derajat
kesehatan. Dengan akses kesehatan masyarakat yang optimal kebutuhan
kesehatan dan pengetahuan gizi masyarakat akan terpenuhi.
4. Diagnosis
Diagnosis gizi buruk dapat diketahui melalui gejala klinis, antropometri
dan pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis gizi buruk berbeda-beda
tergantung dari derajat dan lamanya deplesi protein dan energi, umur
penderita, modifikasi disebabkan oleh karena adanya kekurangan vitamin
dan mineral yang menyertainya. Gejala klinis gizi buruk ringan dan sedang
tidak terlalu jelas, yang ditemukan hanya pertumbuhan yang kurang seperti
berat badan yang kurang dibandingkan dengan anak yang sehat.2
Diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta
pengukuran antropometri. Anak didiagnosis gizi buruk apabila :

BB/TB kurang dari -3SD (marasmus)

Edema

pada

kedua

punggung

kaki

sampai

seluruh

tubuh(kwashiorkor : BB/TB > -3SD atau marasmik-kwashiorkor :


BB/TB < -3SD.
Jika BB/TB ata BB/PB tidak dapat diukur dapat digunakan tanda klinis
berupa anak tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak
mempunyai jaringan lemak bawah kulit terutama pada kedua bahu lengan
pantat dan pah; tulang iga terlihat jelas dengan atau tanpa adanya edema.7
Pada setiap anak gizi buruk dilakukan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Anamnesis terdiri dari anamnesia awal dan lanjutan.
Anamnesis awal (untuk kedaruratan) :

Kejadian mata cekung yang baru saja muncul

Lama dan frekuensi diare dan muntah serta tampilan dari bahan
muntah dan diare (encer/darah/lender)

Kapan terakhir berkemih

Sejak kapan kaki dan tangan teraba dingin

Bila didapatkan hal tersebut di atas, sangat mungkin anak mengalami


dehidrasi dan/atau syok, serta harus diatasi segera.
Anamnesis lanjutan (untuk mencari penyebab dan rencana tatalaksana
selanjutnya, dilakukan setelah kedaruratan tertangani)

Diet (pola makan)/ kebiasaan makan sebelum sakit

Riwayat pemberian ASI

Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari


terakhir

Hilangnya nafsu makan

Kontak dengan campak atau tuberculosis paru

Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir

Batuk kronik

Kejadian dan penyebab kematian saudara kandung

Berat badan lahir

Riwayat tumbuh kembang

Riwayat imunisasi

Apakah ditimbang setiap bulan

Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang social anak)

Diketahui atau tersangka infeksi HIV .7

Pemeriksaan Fisik

Apakah anak tampak sangat kurus, adakah edema pada kedua


punggung kaki. Tentukan status gizi dengan menggunakn BB/TB-PB

Tanda dehidrasi : tampak haus, mata cekung, turgor buruk

Tanda syok (akral dingin, CRT lambat, nadi lemah dan cepat),
kesadaran menurun

Demam (suhu aksilar 37,5 C) atau hipotermi (suhu aksilar <35,5 C)

Frekuensi dan tipe pernafasan : pneumonia atau gagal jantung

Sangat pucat

Pembesaran hati dan ikterus

Adakah perut kembung, bising usus melemah atau meningkat, tanda


asites

Tanda defisiensi vitamin A (bercak bitot, ulkus kornea, keratomalasia)

Ulkus pada mulut

Fokus infeksi : THT, paru, kulit

Lesi kulit pada kwashiorkor

Tampilan tinja

Tanda dan gejala infeksi HIV

5. Alur dan Penatalaksanaan Gizi Buruk


Berikut disertakan alur pemeriksaan anak dengan gizi buruk

Bagan 1. Alur pemeriksaan anak dengan gizi buruk


Selain itu, berikut disertakan alur pelayanan anak gizi buruk di rumah sakit/puskesmas
perawatan

Berikut juga disertakan salah satu tatalaksana anak dengan gizi buruk
tanpa tada bahaya atau tanda penting tertentu.

Bagan 3. Pemberian Cairan dan Makanan Untuk Stabilisasi


Dalam proses pengobatan KEP berat terdapat 3 fase, adalah fase
stabilisasi, fase transisi dan fase rehabilitasi. Petugas kesehatan harus
trampil memilih langkah mana yang cocok untuk setiap fase. Tatalaksana ini
digunakan baik pada penderita kwashiorkor, marasmus maupun marasmikkwarshiorkor.
1. Tahap Penyesuaian

Tujuannya

adalah

menyesuaikan

kemampuan

pasien

menerima

makanan hingga ia mampu menerima diet tinggi energi dan tingi protein
(TETP). Tahap penyesuaian ini dapat berlangsung singkat, adalah selama 1-2
minggu atau lebih lama, bergantung pada kemampuan pasien untuk
menerima dan mencerna makanan. Jika berat badan pasien kurang dari 7 kg,
makanan yang diberikan berupa makanan bayi. Makanan utama adalah
formula yang dimodifikasi. Contoh: susu rendah laktosa +2,5-5% glukosa
+2% tepung. Secara berangsur ditambahkan makanan lumat dan makanan
lembek. Bila ada, berikan ASI.
Jika berat badan pasien 7 kg atau lebih, makanan diberikan seperti
makanan untuk anak di atas 1 tahun. Pemberian makanan dimulai dengan
makanan cair, kemudian makanan lunak dan makanan biasa, dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. Pemberian energi dimulai dengan 50 kkal/kg berat badan sehari.
b. Jumlah cairan 200 ml/kg berat badan sehari.
c. Sumber protein utama adalah susu yang diberikan secara bertahap
dengan keenceran 1/3, 2/3, dan 3/3, masing-masing tahap selama 2-3
hari. Untuk meningkatkan energi ditambahkan 5% glukosa, dan
d. Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering, adalah 8-10 kali sehari
tiap 2-3 jam.
Bila konsumsi per-oral tidak mencukupi, perlu diberi tambahan
makanan lewat pipa (per-sonde)
2. Tahap Penyembuhan
Bila nafsu makan dan toleransi terhadap makanan bertambah baik,
secara berangsur, tiap 1-2 hari, pemberian makanan ditingkatkan hingga
konsumsi mencapai 150-200 kkal/kg berat badan sehari dan 2-5 gram
protein/kg berat badan sehari.
3. Tahap Lanjutan

Sebelum

pasien

dipulangkan,

hendaknya

ia

sudah

dibiasakan

memperoleh makanan biasa yang bukan merupakan diet TETP. Kepada orang
tua hendaknya diberikan penyuluhan kesehatan dan gizi, khususnya tentang
mengatur makanan, memilih bahan makanan, dan mengolahnya sesuai
dengan kemampuan daya belinya.

Suplementasi zat gizi yang mungkin diperlukan adalah :


a. Glukosa biasanya secara intravena diberikan bila terdapat tandatanda hipoglikemia.
b. KCl, sesuai dengan kebutuhan, diberikan bila ada hipokalemia.
c. Mg, berupa MgSO4 50%, diberikan secara intra muskuler bila
terdapat hipomagnesimia.
d. Vitamin A diberikan sebagai pencegahan sebanyak 200.000 SI
peroral atau 100.000 SI secara intra muskuler. Bila terdapat
xeroftalmia, vitamin A diberikan dengan dosis total 50.000 SI/kg
berat badan dan dosis maksimal 400.000 SI.
e. Vitamin B dan vitamin C dapat diberikan secara suntikan per-oral. Zat
besi (Fe) dan asam folat diberikan bila terdapat anemia yang
biasanya menyertai KKP berat.

Tabel 1.Jadwal Pengobatan dan Perawatan Anak Gizi Buruk


6. Dampak Gizi Buruk
Gizi Buruk bukan hanya menjadi stigma yang ditakuti, hal ini tentu saja
terkait dengan dampak terhadap sosial ekonomi keluarga maupun negara, di
samping berbagai konsekuensi yang diterima anak itu sendiri. Kondisi gizi
buruk akan mempengaruhi banyak organ dan sistem, karena kondisi gizi
buruk ini juga sering disertai dengan defisiensi (kekurangan) asupan
mikro/makro nutrien lain yang sangat diperlukan bagi tubuh. Gizi buruk akan
memporak porandakan sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme
maupun pertahanan mekanik sehingga mudah sekali terkena infeksi.
Secara garis besar, dalam kondisi akut, gizi buruk bisa mengancam jiwa
karena berberbagai disfungsi yang di alami, ancaman yang timbul antara
lain hipotermi (mudah kedinginan) karena jaringan lemaknya tipis,
hipoglikemia (kadar gula dalam darah yang dibawah kadar normal) dan
kekurangan elektrolit dan cairan tubuh. Jika fase akut tertangani dan namun
tidak di follow up dengan baik akibatnya anak tidak dapat catch up dan
mengejar ketinggalannya maka dalam jangka panjang kondisi ini berdampak
buruk terhadap pertumbuhan maupun perkembangannya.

Akibat gizi buruk terhadap pertumbuhan sangat merugikan performance


anak, akibat kondisi stunting (postur tubuh kecil pendek) yang
diakibatkannya dan perkembangan anak pun terganggu. Efek malnutrisi
terhadap perkembangan mental dan otak tergantung dangan derajat
beratnya, lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu sendiri. Dampak
terhadap pertumbuhan otak ini menjadi patal karena otak adalah salah satu
aset yang vital bagi anak.
Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi buruk
terhadap perkembangan anak adalah anak menjadi apatis, mengalami
gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan
dampak jangka panjang adalah penurunan skor tes IQ, penurunan
perkembangn kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan
perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya
prestasi anak

BAB III
GAMBARAN UMUM

A. Profil Komunitas Umum


Secara geografis wilayah Kecamatan Kumpeh Ulu berbatasan langsung
dengan kota Jambi. Kecamatan ini berkembang cukup pesat akibat
meningkatnya aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat kota, sehingga
turut mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Kecamatan ini
umumnya terdiri dari wilayah pedesaan dengan area pertanian dan
perkebunan, dengan mata pencaharian sebagai buruh tani dan buruh
perkebunan.

B. Data Geografis
B.1.
Luas Wilayah

B.2.

Kecamatan Kumpeh Ulu mempunyai luas wilayah 40.588 Km2.


Batas Wilayah
Wilayah Kecamatan Kumpeh Ulu berbatasan dengan:
Sebelah Utara: berbatasan dengan kecamatan Muara Sebo.
Sebelah Timur: berbatasan dengan Kecamatan Kumpeh Ilir.
Sebelah Selatan: berbatasan dengan Kecamatan Sungai
Gelam.
Sebelah Barat: berbatasan dengan Kota Jambi.
Terdiri dari 18 Desa, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Moaro Kumpeh
Pudak
Kota Karang
Lopak Alai
Sakean
Sungai Terap
Sumber Jaya
Arang
Sipin Teluk Duren

10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Teluk Raya
Pemunduran
Kasang Pudak
Kasang Lopak Alai
Solok
Ramin
Kasang Kumpeh
Kasang Kota Karang
Kasang Pudak

C. Data Demografik
Berdasarkan data pada tahun 2013:
Jumlah penduduk: 49.420 jiwa
Jumlah KK: 12.436 KK
Jumlah Penduduk Menurut Desa Wilayah Kerja Puskesmas Muara
Kumpeh
Tahun 2013
N
o
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Desa
2
MUARA KUMPEH
PUDAK
KOTA KARANG
LOPAK ALAI
SAKEAN
KASANG PUDAK
SEI. TERAP
SUMBER JAYA
ARANG-ARANG
SIPIN TLK. DUREN
TELUK RAYA
RAMIN
PEMUNDURAN

Jumlah
Penduduk
3
3.703
4.678
1.776
976
1.506
2.626
1.751
1.292
2.139
1.590
1.830
1.747
1.184

Jumlah KK
4
856
1.267
433
270
390
625
515
378
606
375
457
452
285

Rata-rata
KK/Jiwa
5

14
15
16
17
18

SOLOK
KS.LOPAK ALAI
KS.PUDAK
KS.KUMPEH
KS. KOTA KARANG
Jumlah

1.737
1.857
12.606
4.733
1.687
49.420

497
521
2.814
1.149
456
12.346

Jumlah Perbandingan Penduduk Menurut Jenis Kelamin Wilayah Kerja


Puskesmas Muara Kumpeh Tahun 2013
N
o
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Desa
2
MUARA KUMPEH
PUDAK
KOTA KARANG
LOPAK ALAI
SAKEAN
KASANG PUDAK
SEI. TERAP
SUMBER JAYA
ARANG-ARANG
SIPIN TLK. DUREN
TELUK RAYA
RAMIN
PEMUNDURAN
SOLOK
KS.LOPAK ALAI
KS.PUDAK
KS.KUMPEH
KS.KOTA KARANG

Jumlah
Penduduk
3
3.703
4.678
1.776
976
1.506
2.626
1.751
1.292
2.139
1.590
1.830
1.747
1.184
1.737
1.857
12.606
4.733
1.687

LakiLaki
4
1.881
2.424
894
501
806
1.346
895
656
1.166
815
913
929
580
889
994
6.579
2.418
850

Perempua
n
5
1.823
2.254
882
475
700
1.280
856
636
973
774
917
819
604
849
864
6.028
2.315
837

Ratio
6

Kepadatan Penduduk Menurut Desa Wilayah Kerja Puskesmas Muara Kumpeh


Tahun 2013
N
o
1
1
2
3
4

Desa
2
MUARA KUMPEH
PUDAK
KOTA KARANG
LOPAK ALAI

Luas Wilayah
3
820
1.800
663
660

Ha
Ha
Ha
Ha

Jumlah
Penduduk
4
3.703
4.678
1.776
976

Kepadatan
Penduduk
5

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

SAKEAN
KASANG PUDAK
SEI. TERAP
SUMBER JAYA
ARANG-ARANG
SIPIN TLK. DUREN
TELUK RAYA
RAMIN
PEMUNDURAN
SOLOK
KS.LOPAK ALAI
KS.PUDAK
KS.KUMPEH
KS.KOTA KARANG
JUMLAH

3.500 Ha
4.375 Ha
4.000 Ha
7.500 Ha
14.120 Ha
3.200 Ha
7.040 Ha
3.325 Ha
4.500 Ha
24.000 Ha
450 Ha
1.500 Ha
76,2 Ha
3,63 Ha
99.38 Ha

1.506
2.626
1.751
1.292
2.139
1.590
1.830
1.747
1.184
1.737
1.857
12.606
4.733
1.687
49.420

Jumlah Keluarga Miskin Wilayah Kerja Puskesmas Muara Kumpeh


Tahun 2013
N
o
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Desa
2
MUARA KUMPEH
PUDAK
KOTA KARANG
LOPAK ALAI
SAKEAN
KASANG PUDAK
SEI. TERAP
SUMBER JAYA
ARANG-ARANG
SIPIN TLK. DUREN
TELUK RAYA
RAMIN
PEMUNDURAN
SOLOK
KS.LOPAK ALAI
KS.PUDAK
KS.KUMPEH
KS.KOTA KARANG
JUMLAH

Jumlah KK
3
856
1.267
433
270
390
625
515
378
606
375
457
452
285
497
521
2.814
1.149
456
12.346

D. Sumber Daya Kesehatan yang Ada

Jumlah KK
Miskin
4
463
281
56
40
86
346
315
88
170
150
120
56
120
71
53
1.037
125
48
3.625

%
5
12,8
7,8
1,5
1,1
2,4
9,5
8,7
2,4
4,7
4,1
3,3
1,5
3,3
2
1,5
28,6
3,4
1,3
100

Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Dilingkungan


Puskesmas Muara Kumpeh Tahun 2013
N
o
1
1
2

3
4

Unit Kerja

Jumlah

Persentase

2
Puskesmas Induk / Perawatan
Puskesmas Pembantu :
- Rawa Pudak
- Ks Kota Karang
- Sakean
- Sei. Terap
- Arang-arang
- Sipin Tl. Duren
- Teluk Raya
- Ramin
- Ks. Pudak
Bidan Desa
- PTT
- PNS
TKS

3
32

4
36

1
1
1
2
2
1
6

1,1
1,1
1,1
2,2
2,2
0
0
1,1
6,7

20
18
5

22,5
20,2
5,6

Jumlah

89

100%

Proporsi Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Dilingkungan


Puskesmas Muara Kumpeh Per 31 Desember 2013
N
o

Tenaga Kesehatan

Puskesma
s

PUST
U

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Medis
Paramedis
Bidan
Farmasi
Gizi
Teknisi Medis
Sanitasi
Kes. Masy
Lain-lain :
- Pasca Sarjana (S2)
- Perawat Gigi
- Laboratorium
- Sarjana
Keperawatan

4
11
18
3
2
3
2
2
1

1
5
13
-

Bidan
Desa/Polind
es
19
-

Jumlah

5
16
50
3
2
3
2
2
1

- TKS
Jumlah

4
50

1
20

19

5
89

Rasio Tenaga Kesehatan Menurut Jumlah Penduduk Dilingkungan


Puskesmas Muara Kumpeh Per 31 Desember 2013
N
o
1
2
3
4
5
6
7
8

Tenaga Kesehatan

Puskesmas

Rasio
Puskesm
as

Dokter Umum
4
Dokter Gigi
1
Apoteker
Sarjana Kesehatan
2
Bidan
51
Perawat
25
AAK
2
Ahli Sanitasi
2
Perawat Gigi
2
Jumlah
89
Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Muara
Muara Jambi sebanyak 89 orang, terdiri dari 63
dokter PTT, 20 orang tenaga Bidan PTT, serta
orang diperbantukan oleh Tenaga Kerja Sukarela
dalam wilayah kerja Puskesmas Muara Kumpeh.

Dinas
Kesehatan

Kumpeh Kabupaten
orang PNS, 1 orang
ditambah dengan 5
(TKS) yang tersebar

E. Sumber Daya Sarana Dan Prasarana


Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Dilingkungan
Puskesmas Muara Kumpeh Tahun 2013
N
o
1
2
3
4
5
6

Sarana
BB
Puskesmas
Puskesmas
Pembantu
Rumah Medis
Rumah
Paramedis
Rumah Bidan
Desa
Puskesmas
Keliling

Keadaan
RR
RB

1
3

Jumla
h
1
9

3
2

3
3

12

Keterang
an

N
o
1
1
2

3
4

Sepeda Motor
7
1
8
Jumlah
20
12
4
37
Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Di lingkungan Puskesmas
Muara Kumpeh Tahun 2013
Unit Kerja

Jumlah

Persentase

2
Puskesmas Induk / Perawatan
Puskesmas Pembantu :
- Rawa Pudak
- Ks Kota Karang
- Sakean
- Sei. Terap
- Arang-arang
- Sipin Tl. Duren
- Teluk Raya
- Ramin
- Ks. Pudak
Bidan Desa
- PTT
- PNS
TKS

3
32

4
36

1
1
1
2
2
1
6

1,1
1,1
1,1
2,2
2,2
0
0
1,1
6,7

20
18
5

22,5
20,2
5,6

Jumlah

89

100%

F. Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada


Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Dilingkungan Puskesmas
Muara Kumpeh Tahun 2013
N
o
1
2
3
4
5
6

Sarana
BB
Puskesmas
Puskesmas
Pembantu
Rumah Medis
Rumah
Paramedis
Rumah Bidan
Desa
Puskesmas
Keliling

Keadaan
RR
RB

1
3

Jumla
h
1
9

3
2

3
3

12

Keterang
an

Sepeda Motor
Jumlah

7
20

12

1
4

8
37

G. Data kesehatan masyarakat


10 Penyakit Terbesar Puskesmas Muara Kumpeh Tahun 2013
N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Penyakit
ISPA
Diare
Dermatitis Alergen
Penyakit Infeksi Usus
Hipertansi
Malaria Klinis
ISPA
Reumathik
Ruda Paksa
Febris
Jumlah

Penderita
Jumlah
1.695
1.062
715
536
499
448
209
189
169
144
5.666

%
29,9
18,7
12,6
9,5
8,8
7,9
3,7
3,3
3
2,5
100

BAB IV
METODE

Saat penyuluhan:

p
oe
sn
ty
-u
tl
eu
sh
ta
n

Mempelajari program yang ada di Puskesmas Muaro Kumpeh dan


menganalisa pencapaian masing-masing program

Melihat dan mempelajari target dan prioritas angka


kejadian dari program yang ada.

evaluasi

Memilih salah satu program yang belum mencapai target


dan mempunyai angka kejadian luar biasa.

Merumuskan masalah dari timbulnya angka kejadian


melalui diskusi dengan pemegang program dan
kunjungan rumah ke desa yang bersangkutan.

Menentukan tujuan, sasaran, dan informasi yang akan


diberikan dalam penyuluhan berkaitan dengan
program yang bersangkutan.

Menghubungi perangkat desa yang bersangkutan dan


menentukan tempat dan waktu pelaksanaan
penyuluhan.

BAB V
HASIL
A. Laporan Kegiatan
Berdasarkan data standar pelayanan minimal di Puskesmas Muara
Kumpeh, didapatkan beberapa program dengan pencapaian rendah atau
belum memenuhi target. Setelah melakukan analisa program berikut
tampilan data terhadap indikator keadaan gizi di wilayah kerja Puskesmas
Muaro Kumpeh.
Laporan pencapaian indikator kinerja pembinaan gizi bulanan Kecamatan
Muaro Kumpeh
Bulan Maret 2014

STATUS GIZI
NO

PUSKESMAS
GIZI
LEBIH

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

MUARA KUMPEH
PUDAK
KOTA KARANG
LOPAK ALAI
SAKEAN
KASANG PUDAK
SEI.TERAP
ARANG-ARANG
SUMBER JAYA
SIPIN TL. DUREN
TL. RAYA
RAMIN
PEMUNDURAN
SOLOK
KASANG KUMPEH
KASANG PUDAK
KS. KOTA KARANG
KS. LOPAK ALAI
JUMLAH

5
1
2
1
3
0
0
2
0
1
1
0
0
0
0
4
2
0
22

GIZI
KURAN
G
263
2
351
0
139
0

GIZI
BAIK

69
115
208
120
179
126
153
150
138
84
134
408
959
120
139
3854

GIZI
BURUK

0 1
0
0
0
0
1
2
0
0
0
0
4
0
0
0
9

Laporan pencapaian indikator kinerja pembinaan gizi bulanan Kecamatan


Muaro Kumpeh
Bulan April 2014

STATUS GIZI
NO

PUSKESMAS
GIZI
LEBIH

GIZI
BAIK

GIZI
KURAN
G

GIZI
BURUK

1
2
3
4
5
6
7

MUARA KUMPEH
PUDAK
KOTA KARANG
LOPAK ALAI
SAKEAN
KASANG PUDAK
SEI.TERAP

6
2
1
2
3
1
0

278
352
148
70
119
202
133

2
0
0
0
0
0
0

8
9
10

ARANG-ARANG
SUMBER JAYA
SIPIN TL. DUREN

2
0
2

158
137
144

0
1
2

11
12
13
14
15
16

TL. RAYA
RAMIN
PEMUNDURAN
SOLOK
KASANG KUMPEH
KASANG PUDAK

1
1
0
1
0
2

145
140
89
148
381
935

0
0
0
0
4
0

17

KS. KOTA KARANG

133

18

KS. LOPAK ALAI


JUMLAH

0
25

139
3851

0
9

2
1
8

Laporan pencapaian indikator kinerja pembinaan gizi bulanan Kecamatan


Muaro Kumpeh
Bulan Mei 2014
NO

PUSKESMAS

STATUS GIZI

GIZI
LEBIH
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

MUARA KUMPEH
PUDAK
KOTA KARANG
LOPAK ALAI
SAKEAN
KASANG PUDAK
SEI.TERAP
ARANG-ARANG
SUMBER JAYA
SIPIN TL. DUREN
TL. RAYA
RAMIN
PEMUNDURAN
SOLOK
KASANG KUMPEH
KASANG PUDAK
KS. KOTA KARANG
KS. LOPAK ALAI
JUMLAH

GIZI
BAIK

6
2
1
2
3
1
0
2
0
2
1
1
0
1
0
2
1
0
25

278
352
148
70
119
202
133
158
137
144
145
140
89
148
381
935
133
139
3851

GIZI
KURAN
G
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
2
0
6

GIZI
BURUK

B. Pelaksanaan Penyuluhan
Tanggal
pelaksanaan
Waktu
pelaksanaan
Tempat
Metode
Sarana pendukung
Sasaran
Jumlah peserta

Jumlah umpan
balik (+)
Jumlah umpan

Selasa, 9 September 2014


Pukul 13.00-16.00
Balai desa Kasang Pudak
Penyuluhan audiovisual
Postest
Tanya jawab
Laptop
LCD
Ibu-ibu posyandu Desa Kasang Pudak , para orang
tua balita
60 orang
Posttest (Posyandu tanggal
21 November 2014)
41/63 (64%)
22/63 (34%)

balik (-)
Jumlah peserta
posyandu

48 ( Oktober 2014)

63 (November 2014)

Keterangan:
Umpan balik dinilai dari jawaban-jawaban yang diberikan terhadap
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan setelah penyuluhan.
Jumlah umpan balik (+): jumlah umpan balik dengan respon positif,
dimana peserta penyuluhan dikategorikan dengan pemahaman
yang baik (skor 3)
Jumlah umpan balik (-): jumlah umpan balikdengan respon negatif
dimana peserta penyuluhan dikategorikan belum cukup paham
mengenai materi penyuluhan yang diberikan. (skor 2)
Penyuluhan dilakukan dengan beberapa sesi:
Pada sesi pembuka dilakukan perkenalan dan pembicaraan ringan
untuk memancing antusiasme ibu-ibu.
Setelah didapatkan gambaran mengenai sedalam apa pemahaman
peserta diajak untuk masuk kedalam sesi penyuluhan.
Setelah penyuluhan dilakukan kembali evaluasi untuk menilai
peningkatan pemahaman peserta terhadap informasi yang telah
diberikan pada sesi sebelumnya.
Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab. Tanya jawab terbuka
sesuai dengan topik pembicaraan dalam penyuluhan.

Diskusi
Sebagian besar ibu-ibu yang melakukan penimbangan pada
anaknya (90%) dilakukan karena bersamaan dengan jadwal imunisasi
sedangkan hanya sebagian kecil ibu-ibu yang menimbang anaknya
tidak bersamamaan dengan imunisasi. Hal ini menunjukkan bahwa
kurangnya kesadaran ibu-ibu terhadap gizi anak
Peserta yang hadir dalam penyuluhan di balai desa Kasang Pudak
cukup ramai yang dihadiri sekitar 30 orang. Selama penyuluhan,
terlihat antusiasme peserta dalam mendengarkan isi penyuluhan.
Peserta yang datang sebagian besar adalah ibu-ibu muda yang
memiliki baru memiliki 1 anak, dan ada beberapa yang sudah
memiliki 2-3 anak. Tetapi antusiasme ibu yang sudah memiliki lebih

dari 1 anak dapat terlihat dari diskusi yang terjadi untuk mengetahui
dan mengenal gejala gizi buruk.
Sementara rasa keingintahuan ibu-ibu muda yang baru memiliki
anak pertama tentang mengenal gejala gizi buruk pun juga tampak
dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan baik ditengah-tengah sesi
penyuluhan maupun pada sesi tanya jawab.
Berdasarkan hasil dan pantauan yang ditemukan di lapangan dan
dari sesi tanya jawab, dapat ditemukan bahwa mata pencaharian
utama di desa tersebut bertani dan bekerjadi perkebunan, dengan
latar pendidikan rendah dan memiliki pengetahuan yang rendah
mengenai pemberian pola makan pada balita.
Secara keseluruhan
pada sesi posyandu
kunjungan posyandu
dibandingkan dengan
%

umpan balik yang diberikan oleh semua ibu-ibu


cukup baik (64%). Terdapat pula kenaikan
dari bulan Oktober 2014 ( 48 orang )
bulan November 2014 (63 orang) sebanyak 30

Kegiatan yang telah dilakukan ini tidak lepas pula dari banyaknya
kekurangan terutama karena kurangnya waktu. Karena faktor waktu
maka acara ini disatukan dengan acara penyuluhan yang dibawakan
oleh dinas kesehatan Muaro Jambi.
Pemberian kuesioner untuk menilai umpan balik dilakukan 1 bulan
setelah penyuluhan. Jadi, tidak menutup kemungkinan terjadi recall
bias.

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa:
Masih rendah nya kesadaran ibu-ibu terhadap gizi anak
Masih rendahnya pendidikan ibu-ibu di desa Kasang Pudak.
Keadaan sosioekonomi desa Kasang Pudak juga masih rendah, dengan
mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah sebagai
bertani, berempang atau berkebun, baik di kebun sendiri atau di
perkebunan. Keadaan ekonomi tersebut membuat peserta kadang
merasa kesulitan memenuhi kebutuhan gizi seimbang untuk anak-anak
mereka.
Peserta yang sudah memiliki lebih dari 1 anak, tidak berarti sudah
memahami dengan baik pemberian pola makan pada balita dan anakanak mereka sekarang.
Setelah diberikan penyuluhan yang menjadi kekawatiran ibu-ibu
tersebut adalah kemungkinan kurangnya keikutsertaan anggota
keluarga yang lain seperti bibi, nenek, kakek, maupun tetangga dari
anak-anak balita tersebut.
Desa Kasang Pudak hanyalah satu dari 18 desa yang masuk ke dalam
wilayah kerja Puskesmas Muaro Kumpeh, tetapi gambaran keseluruhan desadesa yang berada dalam wilayah Puskesmas Muaro Kumpeh tidaklah jauh
berbeda dengan keadaan desa Kasang Pudak. Oleh karena itu tidak
tertutuop kemungkinan akan timbulnya kejadian gizi buruk dimasa depan
dapat terjadi di desa lain maupun terjadi berulang di desa Kasang Pudak.
Upaya yang dapat dilakukan dari Puskesmas adalah dengan programprogram yang telah disebutkan diawal laporan ini, tetapi semua usaha tetap
harus timbal balik dengan melibatkan sektor lain seperti tidak bisa
diharapkan hanya dari sektor kesehatan yaitu puskesmas saja sebagai saran
pelayanan kesehatan. Peran orang tua sangat penting dalam memberikan
gizi pada anak. Bila kita melihat balik kembali gizi buruk merupakan hasil
akhir dari sebab yang lain terutam kurangnya pendidikan dan rendahnya
keadaan sosioekonnomi. Jadi masayarakat tersebut adalah akibat dari
pembangunan tidak merata. Semoga kegiatan yang telah dilakukan ini dapat
membantu usaha Puskesmas Muaro Kumpeh sebagai bagian dari sektor
kesehatan untuk membantu mencegah timbulnya kejadian gizi buruk di desa
Kasang Pudak. Untuk kedepannya diharapkan pula dapat dilakukan

penyuluhan berkala di desa-desa lain mengenai bahaya dan mengenal gejala


gizi buruk.

DAFTAR PUSTAKA
. Kemenkes RI. 2011. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta : Dirjen
Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.
2. Krisnansari, Diah. 2010. Nutrisi dan Gizi Buruk. Mandala of Health. Volume
4, Nomor 1
3. Depkes RI. 2007. Pedoman Pendampingan Keluarga Menuju Kadarzi.
Jakarta : Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat dan Direktorat Bina Gizi
Masyarakat.
4. Depkes RI. 2008. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB-Gizi Buruk. Jakarta :
Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Direktorat Bina Gizi
Masyarakat.
5. Depkes RI. 2007. Buku Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Jakarta : Dirjen
Bina Kesehatan Masyarakat dan Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
6. Berhman dkk. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Volume 1. Jakarta :
EGC.
7. WHO. 2009. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta
: Tim Adaptasi Indonesia-WHO Indonesia.
8. Astya Palupi, dkk. 2009. Status Gizi dan Hubungannya dengan Kejadian
Diare pada Anak Diare Akut di Ruang Rawat Inap RSUP dr. Sardjito
Yogyakarta dalam Jurnal Gizi Klinik Indonesia Volume 6, No.1 (hal 1-7).
9. Syaiful, muthowif. 2009. Hubungan Antara Kejadian Diare dengan Status
Gizi Anak Balita di Kelurahan Bekonang Kecamatan mojolaban Kabupaten
Sukoharjo. Surakarta.
10. Ikatan Dokter Indonesia. 2010. Pedoman Pelayanan Medis Jilid 1. Jakarta :
Pengurus Pusat IDAI.

11. Ngurah Suwarba dkk. Profil Klinis dan Etiologi Pasien Keterlambatan
Perkembangan Global di Rumah Sakit Cipto mangunkusumo Jakarta dalam
Sari Pediatri Volume 10. No.4. Denpasar : Departemen Ilmu Kesehatan
Anak Universitas Udayana.
12. Zuhriyah H. 2009. Faktor Risiko Disfasia Perkembangan pada Anak.
Semarang : Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Diponegoro.
13. Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC

LAMPIRAN
Penyuluhan di balai desa Kasang Pudak 9 September 2014

Kegiatan survei pada posyandu di Kasang Pudak (21 November


2014)