Anda di halaman 1dari 12

Tugas Makalah tentang ridha

Kelompok:5
ketua:Qoidul mujahid
:Paida
:Ilga warsa
:Irfansayah
:Yuliana

Kata pengantar

Puju sukur kami panjatkan kehadirat allah swt atas limpahan nikmat dan
karunia nya sehingga buku ajar menjaga akidah dan ahlak tingkat
madrasah aliah tersusun dengan baik dan dapat di terbitkan ,meskipun
masih jauh dari kesempuenaan slawat serta salam smoga dpat
terlimpahkan kpd rasulullah Muhammad

saw.beserta keluarga dan

pengikut nya .smoga kita slaku pngikut setia nya


Dapat menegak kan nilai2 sunnah dalam integral dalam khidupan ppribadi
dan social

Penyusunan buku ajar ini melalui prosrs kajian teoretis yg terintegrasi dan
realitas empiris yg d alami penyusun sebagai guru yg mengampu mata
plajaran akidah ahlak .semoga segala iktikad dan iktiar yg di lakukan
hamba mendapatkan rahmat dan ridha allah swt

Daftar isi

Kata pengantar !!!


Daftar isi...!!!
Bab 1. Ridha
A. Pengertian ridha
B. Karakteristik sikap ridha
C. Bentuk prilaku ridha
D. Nilai fositif prilaku ridha
E. Membiasakan ridha dlm sehari-hari

Daftar pustaka !!!

I.

Pengertian Ridha
Perkataan ridha berasal dari bahasa arab, radhiya yang artinya senang

hati (rela). Ridha menurut syariah adalah menerima dengan senang hati atas
segala yang diberikan Allah swt, baik berupa hukum (peraturan-peraturan)

maupun ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Sikap ridha harus


ditunjukkan, baik ketika menerima nikmat maupun tatkala ditimpa musibah.
Adapun beberapa pengertian ridha, yaitu:
Menurut W.J.S Purwadarminta dalam KBBI diartikan rela, suka, dan senang
hati. Sedangkan secara istilah yaitu perasaan lega atu kepuasan seseorang
terhadap hasil prestasi yang diraihnya atau keputusan yang diberikan oleh
Allah SWT sebagai takdirnya, dan atau pihak lain yang harus diterima sesuai
prinsip keadilan.
Menurut Imam Gozali, ridha adalah segala keputusan Allah SWT, merupakan
puncak keindahan akhlak.
Orang yang berhati ridha pada Allah juga memiliki sikap optimis,lapang
dada, kosong hatinya dari dengki, selalu berprasangka baik, bahkan lebih
dari itu, yaitu memandang baik, sempurna, penuh hikmah, semua yang
terjadi semua sudah ada dalam rancangan, ketentuan Allah. Berbeda dengan
orang-orang yang selalu membuat kerusakan di muka bumi ini, mereka
selalu ridha apabila melakukan perbuatan yang Allah haramkan, dalam
hatinya selalu merasa kurang apabila meninggalkan kebiasaan buruk yang
selama ini mereka perbuat, dengan kata lain merasa puas hati apabila
aktivitas hidupnya bisa membuat risau, khawatir, dan selalu mengganggu
terhadap sesamanya. Semuanya itu ia lakukan karena mengikut hawa nafsu
yang tanpa ia sadari bahwa sebenarnya syaitan telah menjerat dirinya dalam
perbuatan dosa. Lebih jelasnya Allah telah menjelaskan dalam surat AtTaubah ayat 96:








Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka,
tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, Sesungguhnya Allah tidak
ridha kepada orang-orang yang berbuat fasik.

II.

Karakteristik Sikap Ridha


Pendapat para ahli hikmah, ridha dikelompokan menjadi tiga tingkatan,

yaitu ridha kepada Allah, ridha pada apa yang datang dari Allah, dan rida
pada qada dan qadar Allah.
a.

Ridha kepada Allah dan Rasul-Nya


Pada hakekatnya seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat,
dapat diartikan sebagai pernyataan ridha terhadap semua nilai dan syariah
Islam.
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah
ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. Yang demikian itu
adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Q.S.al-Bayyinah
ayat 8 )
Maksud dari ayat diatas adalah jika kita ridha terhadap perintah Allah maka
Allah pun ridha terhadap kita.
Seperti dalam Hadith Qudsi:



Artinya:
Allah berfirman kepada rasul SAW: Barangsiapa yang tidak ridha atas segala
hukum perintah, larangan, janji qadha dan qadar-Ku, dan tidak bersyukur
atas segala nikmat-nikmat-Ku, serta tidak sabar atas segala cobaan-Ku,
maka keluarlah dari bawah langit-Ku yang selama ini engkau jadikan sebagai
atapmu, dan carilah Tuhan lain selain diri-Ku (Allah).
Maksud hadits diatas adalah ridha untuk mentaati Allah dan Rasulnya.

b. Ridha apa yang datang dari Allah


Yaitu ridha baik dalam bentuk perintah maupun larangan, kalau itu datangnya dari Allah, maka
kita harus menerimanya dengan sepenuh hati. Apabila seseorang tidak ridha kepada apa yang
datang dari Allah berarti ia benci kepada Allah.
c.

Ridha pada Qada dan Qadar


Ada sebuah kisah dari Ali bin Abi Thalib yang menerangkan tentang ridha terhadap taqdir Allah,
yaitu :
Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib r.a. melihat Ady bin Hatim bermuram durja, maka Ali
bertanya ; Mengapa engkau tampak bersedih hati ?. Ady menjawab ; Bagaimana aku tidak
bersedih hati, dua orang anakku terbunuh dan mataku tercongkel dalam pertempuran. Ali
terdiam haru, kemudian berkata, Wahai Ady, barang siapa ridha terhadap taqdir Allah swt. maka
taqdir itu tetap berlaku atasnya dan dia mendapatkan pahalaNya, dan barang siapa tidak ridha
terhadap taqdirNya maka hal itupun tetap berlaku atasnya, dan terhapus amalnya.
Ada dua sikap utama bagi seseorang ketika dia tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan yaitu
ridha dan sabar. Ridha merupakan keutamaan yang dianjurkan, sedangkan sabar adalah
keharusan dan kemestian yang perlu dilakukan oleh seorang muslim.
Perbedaan antara sabar dan ridha adalah sabar merupakan perilaku menahan nafsu dan
mengekangnya dari kebencian, sekalipun menyakitkan dan mengharap akan segera berlalunya
musibah. Sedangkan ridha adalah kelapangan jiwa dalam menerima taqdir Allah swt. Dan
menjadikan ridha sendiri sebagai penawarnya. Sebab didalam hatinya selalu tertanam sangkaan
baik (Husnu-dzan) terhadap sang Khaliq bagi orang yang ridha ujian adalah pembangkit
semangat untuk semakin dekat kepada Allah, dan semakin mengasyikkan dirinya untuk
bermusyahadah kepada Allah.
Dalam suatu kisah Abu Darda, pernah melayat pada sebuah keluarga, yang salah satu anggota
keluarganya meninggal dunia. Keluarga itu ridha dan tabah serta memuji Allah swt. Maka Abu
Darda berkata kepada mereka. Engkau benar, sesungguhnya Allah swt. apabila memutuskan
suatu perkara, maka dia senang jika taqdirnya itu diterima dengan rela atau ridha.
Begitu tingginya keutamaan ridha, hingga ulama salaf mengatakan, tidak akan tampak di akhirat
derajat yang tertinggi daripada orang-orang yang senantiasa ridha kepada Allah swt. dalam
situasi apapun.
Itulah ketiga kelompok ridha menurut baitul hikmah, namun ada
beberapa pendapat mengatakan ridha kepada perintah orang tua juga ridha
kepada peraturan atau Undang-undang negara.

a.

Ridha Kepada Perintah Orang Tua


Ridha terhadap perintah orang tua merupakan salah satu bentuk ketaatan
kita kepada Allah swt. karena keridhaan Allah tergantung pada keridhaan
orang tua, perintah Allah dalam Q.S. Luqman (31) ayat 14 yang artinya :
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah
kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu. (Q.S. Luqman :14)
Bahkan Rasulullah bersabda : Keridhaan Allah tergantung keridhaan orang
tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua. Begitulah tingginya nilai
ridha orang tua dalam kehidupan kita, sehingga untuk mendapatkan
keridhaan dari Allah, mempersyaratkan adanya keridhaan orang tua.
Ingatlah kisah Juraij, walaupun beliau ahli ibadah, ia mendapat murka Allah

karena ibunya tersinggung ketika ia tidak menghiraukan panggilan ibunya.


b. Ridha Terhadap Peraturan dan Undang-Undang Negara
Mentaati peraturan yang belaku merupakan bagian dari ajaran Islam dan
merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah swt. karena dengan
demikian akan menjamin keteraturan dan ketertiban sosial. Allah berfirman
dalam Q.S. an-Nisa (4) ayat 59 yang artinya : Hai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian

jika

kamu

berlainan

pendapat

tentang

sesuatu,

Maka

kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.( Q.S. an-Nisa :59)
Ulil Amri artinya orang-orang yang diberi kewenangan, seperti ulama dan
umara (Ulama dan pemerintah). Ulama dengan fatwa dan nasehatnya
sedangkan umara dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Termasuk dalam ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara
adalah ridha terhadap peraturan sekolah, karena dengan sikap demikian,
berarti membantu diri sendiri, orang tua, guru dan sekolah dalam mencapai
tujuan pendidikan. Dengan demikian mempersiapkan diri menjadi kader
bangsa yang tangguh.

III.
Bentuk Perilaku Ridha
Adapun bentuk perilaku ridha yang dapat kita wujudkan dalam perilaku , yaitu sebagai berikut:
a.

Sabar dalam melaksanakan kewajiban hingga selesai dengan kesungguhan

usaha atau ikhtiar dan penuh tanggung jawab.


b. Tidak iri hati atas kekurangan atau kelebihan orang lain dan tidak ria untuk
c.

dikagumi hasil usahanya.


Senantiasa bersyukur atau berterima kasih kepada Allah swt. atas segala
nikmat pemberian-Nya. Hal itu adalah upaya untuk mencapai tingkat

tertinggi dalam perbaikan akhlak.


d. Tetap beramal saleh (berbuat baik) kepada sesama sesuai dengan keadaan
dan kemampuan, seperti aktif dalam kegiatan social, kerja bakti, dan
e.

membantu orangtua di rumah dalam menyelesaikan pekerjaan mereka.


Menunjukkan kerelaan atau rida terhadap diri sendiri dan Tuhannya. Juga
rida terhadap kehidupan terhadap takdir yang berbentuk nikmat maupun
musibah, dan terhadap perolehan rezeki atau karunia Allah swt.
Ridha kedudukannya lebih tinggi daripada sabar. Karena ridha lebih berat dalam
prakteknya. Seseorang mungkin bisa bersabar ketika mendapat musibah, tapi sangat sedikit yang
bisa ridha. Seseorang mampu bersabar meskipun mendapat musibah yang berat, dia mampu
mengekang dirinya untuk tidak menangis dengan menjerit, berteriak dan lain sebagainya. Akan
tetapi sangat sedikit orang yang mampu untuk merasakan senang dan bersukur dan menganggap
segala keputusan Allah adalah yang terbaik.
Oleh karena itu Umar bin Khattab berkata: jika engkau mampu meraih ridha maka
raihlah dan apabila tidak mampu maka bersabarlah.
Ibnu Tamimiyah juga berkata: ridha yang wajib adalah kedudukannya setara dengan
sabar yaitu ridha bagi pemula. Adapun ridha tingkat tinggi adalah ridha yang mengandung
ketenangan jiwa yang sempurna.

IV.

Nilai positif perilaku Ridha


Rida merupakan kesadaran diri, perasaan jiwa, dan dorongan hati yang
menyebabkan seseorang berkenaan sepenuh hati untuk menerima apa yang
didapat ataupun yang dihadapi dengan penuh semangat dan rasa kasih
sayang.
Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam sikap ridha :

1. Menciptakan suasana batin yang puas, lega, bahagia


2. Membawa ketentraman jiwa dan kesejahteraan rohani
3. Menghilangkan kebencian
4. Mendorong memikir positif
5. Mendorong pelakunya beramal sholeh
6. Akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. (surga) karena ia selalu ingin
mendapat ridlo dari Allah SWT
Syeh Abdul Qadir Jailani menandaskan bahwa ridha akan meringankan
hidup manusia, membuat tenang, tentram, menghilangkan rasa gundah,
cape, dan kegelisahan.
V.

Membiasakan Ridha Dalam Kehidupan Sehari-hari


Konsekuensi ridha kepada Allah harus mengikuti semua yang diajarkan
oleh Rasulullah SAW (ittiba ar-Rasul). Apabila seorang ridha kepada Allah,
tentu dia akan selalu berusaha melakukan segala sesuatu yang diterima
dari-Nya dan meninggalkan segala sesuatu yang dibenci-Nya. Untuk itu
seseorang agar dapat membiasakan ridha maka perlu melakukan berbagai
upaya, yang diantaranya sebagai berikut :

1.

Menyadari pentingnya ridlo didalam kehidupannya, baik sebagai makhluk


pribadi, sosial maupun sebagai hamba Allah SWT

2. Memahami apa yang di takdirkan Allah SWT adalah pilihan terbaik dari-Nya
3. Suka husnudzon terhadap takdir Allah SWT baik itu yang baik maupun yang
buruk
4.

Optimis terhadap prestasi yang kurang baik dan menjadikannya sebagai


bahan untuk memperbaiki diri sendiri

5.

Tidak membenci kemalangan atau musibah maupun kegagalan yang telah


dicapainya.

Kesimpulan
Ridha adalah salah satu akhlak terpuji yang memiliki pengertian
menerima dengan senang hati atas segala yang diberikan Allah swt. Ridha
menurut baitul hikmah dikelompokkan menjadi 3 yaitu ridha kepada Allah,
ridha apa yang datang dari Allah, dan ridha pada qada dan qadar Allah.
Bentuk perilaku ridah salah satunya yaitu rela menerima setiap takdir yang
sudah ditenteukan Allah dan berkeyakinan bahwa dibalik takdir baik maupun
buruk tersimpan rahasia dan hikmah yang berharga. Selain itu perilaku ridha
juga

terdapat

nilai

positifnya,

seperti

menghilangkan

kebencian,

menciptakan suasana batin yang puas, lega dan bahagia. Kita juga perlu
untuk membiasakan ridha dalam kehidupan sehari-hari kita, namun tidak
semudah membalikkan telapak tangan karena semua itu memerlukan proses
yang bertahap.

Daftar pustaka

Abdulrahim,Muhammad imadudin . 1990.kuliah tauhid Jakarta:CV kuning mas.


Abdul Khalid ,abdulrahman.1996.strategi dakwah syar`iah.solo:pustaka matik .
Abdul al-baqi,M.foud.1990.al mujam al mufahrasy,li al-fazhi al-qurkan.cairo:
maktabah albayan
abu al-fath,ahmad.1922.al-muhtarat al fathiyah fi tarikh al tasri wa ushul al-fiqh
cet 3.mesir :al nahdla.
Abdul hasan ,A.A.H. al-hasani an-nadwi.1992.empat sendi agama islam .jakarta:
renrka cipta.