Anda di halaman 1dari 16

TECHNOLOGY :

Perkembangan internet dalam dunia pendidikan telah menghasilkan sebuah sistem pembelajaran
jarak jauh. Dengan sistem ini maka seorang pelajar tidak perlu lagi pergi kesekolah seperti
layaknya sekolah formal. Namun cukup meluangkan waktunya untuk bertatap muka dengan
dosen atau guru lewat monitor komputer. Demikian juga pelajar tidak hanya memperoleh
informasi tentang pengetahuan melalui buku perpustakaan bahkan harus pergi ke perpustakaan
untuk emperoleh pengetahuan, namun cukup ada di depan monitor, Pengetahuan yang akan
dicari sudah tersedia. Bahkan seorang guru akan dengan mudah mencari bahan ajar yang sesuai
dengan bidangnya dan juga seorang siswa dapat mendalami ilmu pengetahuan yang didapatkan
dengan didukung kemampuan untuk mencari informasi tambahan diluar yang diajarkan oleh
guru. Demikian pula masyarakat ( wali murid, Dewan pendidikan dan komite sekolah ) juga
dapat memberikan masukan dan mengontrol sekolah dalam memilih dan menggunakan buku
pendidikan yang berkualitas.
Dengan demikian akan terjadi perubahan pola pikir serta kreatifitas guru dan siswa serta
masyarakat dapat berkembang dengan pesat , sehingga terjadi Cakrawala berpikir yang lebih
kontektual dan lebih mudah mencerna informasi yang masuk tersebut.Bahkan dalam lingkup
pendidikan, sudah saatnya dibentuk suatu jaringan informasi yang memanfaatkan teknologi
informasi ini. Dengan demikian terdapat suatu jaringan terhubung antar sekolah sebagai
pertukaran data dan informasi secara cepat, akurat dan tentunya murah dalam segala bidang
.Penyebaran ide maupun metode pembelajaran dalam proses pembelajaran yang lebih tepat pun
akan lebih mudah sampai kepelosok daerah yang selama ini mengalami kesulitan untuk
menerima informasi terkini.Adapun kendala yang masih dihadapi di Indonesia aalah jangkauan
jaringan telekomunikasi yanmg masih terbatas. Infrastruktur ini masih menjadi kendala besar
bagi lingkungan pendidikan dalam memanfaatkan jaringan teknologi informasi. Dalam
pembangunan jaringan informasi interkoneksi akan membutuhkan jaringan penghubung yang
dikenal dengan LAN/WAN/Internet. Selain itu juga tersedia system pembelajaran Online yang
disediakan oleh beberapa kampus di Indonesia.
Sumber : http://www.anekamakalah.com

POLITIC LEGAL :

Berdasarkan Surat Nomor : 179342/MPK/KR/2014 5 Desember 2014yang tujukan kepada Ibu /


Bapak Kepala Sekolah.Yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,Anies
Baswedan Mengenai Pelaksanaan Kurikulum 2013 melalui social media Facebook.
Dalam Surat tersebut di jelaskan bahwa melalui surat tersebut

Mentri Pendidikan

Anies

Baswedan mengabarkan terlebih dahulu kepada Kepala Sekolah tentang Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan pelaksanaan Kurikulum 2013, sebelum keputusan ini
diumumkan kepada masyarakat melalui media massa.Sebelum tiba pada keputusan ini, beliau
memberi tugas kepada Tim Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 untuk membuat kajian
mengenai penerapan Kurikulum 2013 yang sudah berjalan dan menyusun rekomendasi tentang
penerapan kurikulum tersebut ke depannya.
Masalah yang muncul adalah mengenai kurikulum 2013 yang telalu cepat untuk di tetapkan dan
dilaksanakan sebelum kurikulum tersebut dievaluasi secara lengkap dan menyeluruh.
Kurikulum 2013 diterapkan di 6.221 sekolah sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan di semua
sekolah di seluruh tanah air pada Tahun Pelajaran 2014/2015. Sementara itu, Peraturan Menteri
nomor 159 Tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 baru dikeluarkan tanggal 14 Oktober
2014, yaitu tiga bulan sesudah Kurikulum 2013 dilaksanakan di seluruh Indonesia.
Pada Pasal 2 ayat 2 dalam Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 itu menyebutkan bahwa
Evaluasi Kurikulum bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai:
1. Kesesuaian antara Ide Kurikulum dan Desain Kurikulum;
2. Kesesuaian antara Desain Kurikulum dan Dokumen Kurikulum;
3. Kesesuaian antara Dokumen Kurikulum dan Implementasi Kurikulum; dan
4. Kesesuaian antara Ide Kurikulum, Hasil Kurikulum, dan Dampak Kurikulum.
Menurut pasal 2 Ayat 2 Evaluasi harus dilakukan secara bijaksana lengkap dan menyeluruh
sebelum kurikulum baru ini diterapkan di seluruh sekolah. Konsekuensi dari penerapan
menyeluruh sebelum evaluasi lengkap adalah bermunculannya masalah-masalah yang
sesungguhnya bisa dihindari jika proses perubahan dilakukan secara lebih seksama dan tak

terburu-buru.

Berbagai masalah konseptual yang dihadapi antara lain mulai dari soal ketidakselarasan antara
ide dengan desain kurikulum hingga soal ketidakselarasan gagasan dengan isi buku teks.
Sedangkan masalah teknis penerapan seperti berbeda-bedanya kesiapan sekolah dan guru, belum
meratanya dan tuntasnya pelatihan guru dan kepala sekolah, serta penyediaan buku pun belum
tertangani dengan baik. Anak-anak, guru dan orang tua pula yang akhirnya harus menghadapi
konsekuensi atas ketergesa-gesaan penerapan sebuah kurikulum. Segala permasalahan itu
memang ikut melandasi pengambilan keputusan terkait penerapan Kurikulum 2013
kedepan, namun yang menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan ini adalah
kepentingan anak-anak kita.
Maka dengan memperhatikan rekomendasi tim evaluasi implementasi kurikulum, serta diskusi
dengan berbagai pemangku kepentingan, Mentri Pendidikan memutuskan untuk :

1. Menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru


menerapkan satu semester, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2014/2015. Sekolah-sekolah ini
supaya kembali menggunakan Kurikulum 2006. Untuk sekolah yang termasuk kategori
ini, mohon persiapkan sekolah untuk kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai
semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Harap diingat, bahwa berbagai konsep yang
ditegaskan kembali di Kurikulum 2013 sebenarnya telah diakomodasi dalam Kurikulum
2006, semisal penilaian otentik, pembelajaran tematik terpadu, dll. Oleh karena itu, tidak
ada alasan bagi guru-guru di sekolah untuk tidak mengembangkan metode pembelajaran
di kelas. Kreatifitas dan keberanian guru untuk berinovasi dan keluar dari praktik-pratik
lawas adalah kunci bagi pergerakan pendidikan Indonesia.
2. Tetap menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah tiga semester ini
menerapkan, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan menjadikan sekolah-sekolah
tersebut sebagai sekolah pengembangan dan percontohan penerapan Kurikulum 2013.
Pada saat Kurikulum 2013 telah diperbaiki dan dimatangkan lalu sekolah-sekolah ini

(dan sekolah-sekolah lain yang ditetapkan oleh Pemerintah) dimulai proses penyebaran
penerapan Kurikulum 2013 ke sekolah lain di sekitarnya. Bagi Ibu dan Bapak kepala
sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, harap bersiap untuk menjadi sekolah
pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013. Kami akan bekerja sama dengan
Ibu/Bapak untuk mematangkan Kurikulum 2013 sehingga siap diterapkan secara nasional
dan disebarkan dari sekolah sekarang. Sebagai tambahan untuk poin kedua ini adalah
sekolah yang keberatan menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum
2013, dengan alasan ketidaksiapan dan demi kepentingan siswa, dapat mengajukan diri
kepada Kemdikbud untuk dikecualikan.
3. Mengembalikan tugas pengembangan Kurikulum 2013 kepada Pusat Kurikulum
dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pengembangan
Kurikulum tidak ditangani oleh tim ad hoc yang bekerja jangka pendek. Kemdikbud akan
melakukan perbaikan mendasar terhadap Kurikulum 2013 agar dapat dijalankan dengan
baik oleh guru-guru kita di dalam kelas, serta mampu menjadikan proses belajar di
sekolah sebagai proses yang menyenangkan bagi siswa-siswa kita.

Menyadari bahwa kurikulum pendidikan nasional memang harus terus menerus dikaji sesuai
dengan waktu dan konteks pendidikan di Indonesia untuk mendapat hasil terbaik bagi peserta
didik. Perbaikan kurikulum ini mengacu pada satu tujuan utama, yaitu untuk meningkatkan mutu
ekosistem pendidikan Indonesia agar anak-anak kita sebagai manusia utama penentu masa depan
negara dapat menjadi insan bangsa yang: (1) beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, mandiri, demokratis, bertanggung jawab; (2) menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi; dan (3) cakap dan kreatif dalam bekerja. Adalah tugas kita semua
untuk bergandengan tangan memastikan tujuan ini dapat tercapai, demi anak-anak kita.
Pada akhirnya kunci untuk pengembangan kualitas pendidikan adalah pada guru. Kita tidak
boleh memandang bahwa pergantian kurikulum secara otomatis akan meningkatkan kualitas
pendidikan. Bagaimanapun juga di tangan gurulah proses peningkatan itu bisa terjadi dan di
tangan Kepala Sekolah yang baik dapat terjadi peningkatan kualitas ekosistem pendidikan di
sekolah yang baik pula. Peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan
akan makin digalakkan sembari kurikulum ini diperbaiki dan dikembangkan.

Dan dalam surat tersebut Mentri pendidikan juga mengucapkan rasa terima kasihnya kepada
Bapak/Ibu Kepala sekolah Dan Guru yang telah berperan penting untuk memajukan pendidikan
di Indonesi demi Generasi Muda yang berkualitas dengan akhlak dan attitude yang baik sesuai
dengan moral dan kebudayaan Bangsa Indonesia.
Sumber : https://www.facebook.com/Kemdikbud.RI

SOCIAL CULTURE :

Kelahiran Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada
dasarnya merupakan salah satu wujud reformasi bangsa dalam bidang pendidikan sebagai
respons terhadap berbagai tuntutan dan tantangan yang berkembang baik global, nasional,
maupun lokal. Dalam konsideran UU tersebut dinyatakan: bahwa sistem pendidikan nasional
harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi
dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan
perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan
pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Moch. Surya (2004)
menyatakan bahwa Undang-undang nomor 20 tahun 2003 mengandung sejumlah paradigma
baru yang menjadi landasan perwujudan pendidikan nasional. Paradigma tersebut, antara lain :
1. Penyelenggaraan pendidikan nasional dilandasi dengan prinsip-prinsip berikut ini :
a. Secara demokratis dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keagamaan, dan budaya
bangsa.
b. Sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan system terbuka dan multi makna.
c. Sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan yang berlangsung sepanjang hayat.
d. Sebagai proses keteladanan membangun kemauan dan kreativitas dalam proses
pembelajaran.

e. Mengembangkan budaya belajar (baca, tulis, dan hitung) bagi segenap warga masyarakat.
f. Memberdayakan masyarakat melalui partisipasi dan pengendalian mutu layanan
pendidikan.
2. Demokratisasi dan desentralisasi sebagai semangat yang melandasi penyelenggaraan
pendidikan nasional dengan lebih menekankan peran serta masyarakat dan pemerintah
daerah dalam keseluruhan aktivitas penyelenggaraan pendidikan.
3. Peran serta masyarakat sebagai konsekuensi demokratisasi pendidikan nasional maka
masyarakat memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya dalam penyelenggaraan dan
pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
4. Tantangan global, hal ini berimplikasi bahwa pendidikan nasional harus beradaptasi dengan
perkembangan global yang menuntut sumber daya manusia yang lebih berkualitas dalam
menghadapi persaingan global di segala bidang.

5. Kesetaraan dan keseimbangan, bahwa Undang-undang Sisdiknas yang baru mengandung


paradigma dengan menerapkan konsep kesetaraan dalam penyelenggaraan pendidikan yang
diselenggarakan oleh pemerintah memeiliki kesetaraan dengan satuan pendidikan yang
dislenggarakan oleh masyarakat (swasta). Sedangkan yang dimaksud keseimbangan ialah
keseimbangan yang utuh antara unsur-unsur kepribadian yang meliputi aspek intelektual,
spiritual, emosional, fisik, sosial, moral, dan kultural.

Sumber : http://pendidikandankebudayaan.wordpress.com/

ECONOMY :

Dewasa ini berkembang paling tidak tiga perspektif secara teoritis yang menjelaskan hubungan
antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi, yakni teori modal manusia, teori alokasi dan teori
reproduksi strata sosial.
Teori modal manusia menjelaskan proses dimana pendidikan memiliki pengaruh positif pada
pertumbuhan ekonomi. Teori ini mendominasi literatur pembangunan ekonomi dan pendidikan
pada pasca perang dunia kedua sampai pada tahun 70-an. Termasuk para pelopornya adalah
pemenang hadian Nobel ilmu ekonomi Gary Becker dari Universitas Chicago, Amerika Serikat,
Edward Denison dan Theodore Schultz, juga pemenang hadiah nobel ekonomi atas penelitiannya
tentang masalah ini. Pada tahun 70-an, teori ini mendapat kritik tajam. Argumen yang
disampaikan adalah tingkat pendidikan tidak selalu sesuai dengan kualitas pekerjaan, sehingga
orang yang berpendidikan tinggi ataupun rendah tidak berbeda produktivitasnya dalam
menangani pekerjaan yang sama. Juga ditekankan bahwa dalam ekonomi modern sekarang ini,
angkatan kerja yang berkeahlian tinggi tidak begitu dibutuhkan lagi karena perkembangan
teknologi yang sangat cepat dan proses produksi yang semakin dapat disederhanakan.
Dengan demikian, orang berpendidikan rendah tetapi mendapat pelatihan (yang memakan
periode jauh lebih pendek dan sifatnya noon formal) akan memiliki produktivitas relatif sama
dengan orang berpendidikan tinggi dan formal. Argumen ini diformalkan dalam suatu teori yang
dikenal dengan teori alokasi atau persaingan status yang mendapat dukungan dari Lester Thurow
(1974), John Meyer (1977) dan Randall Collins (1979).
Teori persaingan status ini memperlakukan pendidikan sebagai suatu lembaga sosial yang salah
satu fungsinya mengalokasikan personil secara sosial menurut strata pendidikan. Keinginan
mencapai status lebih tinggi menggiring orang untuk mengambil pendidikan lebih

tinggi. Meskipun orang-orang berpendidikan tinggi memiliki proporsi lebih tinggi dalam
pendapatan nasional, tetapi peningkatan proporsi orang yang bependidikan lebih tinggi dalam
suatu bangsa tidak akan secara otomatis meningkatkan ekspansi ataupun pertumbuhan ekonomi.
Akan halnya teori pertumbuhan kelas atau strata sosial berargumen bahwa fungsi utama
pendidikan adalah menumbuhkan struktur kelas dan ketidakseimbangan sosial. Pendidikan pada
kelompok elit lebih menekankan studi-studi tentang hal-hal klasik, kemanusiaan dan
pengetahuan lain yang tidak relevan dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Sementara
pendidikan untuk rakyat kebanyakan diciptakan sedemikian rupa untuk melayani kepentingan
kelas yang dominan. Hasilnya, proses pertumbuhan kelas menghambat kontribusi pendidikan
terhadap pertumbuhan ekonomi. Ini didukung antara lain oleh Samuel Bowles dan Herbert
Gintis (1976).
Teori mana yang relevan dalam situasi sekarang? Seperti disebutkan di atas, pandangan baru
dalam pertumbuhan produktivitas, yang dimulai pada akhir 1980-an dengan pionir seperti Paul
Romer dan Robert Lucas, menekankan aspek pembangunan modal manusia.
Menurut Romer misalnya (1991), modal manusia merujuk pada stok pengetahuan dan
keterampilan

berproduksi

seseorang. Pendidikan

adalah

satu

cara

dimana

individu

meningkatkan modal manusianya. Semakin tinggi pendidikan seseorang, diharapkan stok modal
manusianya semakin tinggi.
Karena modal manusia, seperti dikemukakan dalam awal tulisan ini, memiliki hubungan positif
dengan pertumbuhan ekonomi, maka implikasinya pendidikan juga memiliki hubungan positif
dengan produktivitas atau pertumbuhan ekonomi.
Secara implisit, pendidikan menyumbang pada penggalian pengetahuan. Ini sebetulnya tidak
hanya diperoleh dari pendidikan tetapi juag lewat penelitian dan pengembangan ide-ide, karena
pada hakikatnya, pengetahuan yang sama sekali tidak dapat diimplementasikan dalam kehidupan
manusia akan mubazir.
Karenanya, aspek penelitian dan pengembangan menjadi salah satu agenda utama apabila bangsa
Indonesia berkeinginan untuk hidup sejajar dengan bangsa-bangsa yang sudah jauh lebih
maju. Dengan keterbatasan modal kapital dan manusia, tugas pengembangan penelitian ini tidak

mungkin hanya diusahakan pemerintah. Seharusnya, pihak swasta menjadi ujung tombak dalam
usaha kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Realitas di Indonesia
Akan tetapi, umumnya sektor swasta masih melihat investasi modal fisik sebagai satu-satunya
faktor utama dalam pengembangan dan akselerasi usaha. Untuk memenuhi kebutuhan modal
manusianya, sektor swasta cenderung mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri. Dalam jangka
pendek cara ini mungkin ada benarnya. Tetapi dalam jangka panjang tentu sangat tidak relevan,
apalagi untuk sebuah usaha berskala besar atau yang sudah konglomerasi.
Bila dilihat dari besarnya investasi di bidang riset dan pengembangan, kondisi ini tidak lebih
baik. Dibanding China dan Singapura, Indonesia jauh lebih kecil. Demikian juga dari besarnya
investasi pendidikan yang dilakukan di luar negeri. Singapura, yang berpenduduk tidak sampai
setengah penduduk Jakarta, mengirim mahasiswa ke AS hampir setengah jumlah mahasiswa
Indonesia di AS.
Sesuai dengan berbagai kesepakatan regional dan internasional di bidang ekonomi, Indonesia
dihadapkan dengan situasi persaingan yang amat ketat. Dalam situasi ini, daya saing kompetitif
produk/komoditi tidak mungkin dikembangkan jika tidak diimbangi daya saing kompetitif
sumberdaya manusia. Dalam arti, mengandalkan keunggulan komparatif sumberdaya manusia
yang melimpah dan murah sudah kurang relevan.
Dengan demikian, peningkatan investasi di bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan
tidak bisa dihindarkan lagi, baik oleh pemerintah maupun kalangan swasta. Sebenarnya, setiap
tahun pemerintah telah meningkatkan anggaran sektor pendidikan. Masalahnya, angka dan
peningkatan ini secara absolut relatif sangat kecil, sehingga masih jauh bila dibanding negaranegara tetangga yang sangat serius dalam pengembangan sumberdaya manusia. Persentase
investasi pendidikan sekitar 10-15 persen dari total anggaran pemerintah mungkin adalah hal
yang wajar.
Demikian juga sektor swasta. Selama ini belum ada aturan yang menggariskan berapa persen
biaya pengembangan sumberdaya manusia serta penelitian dan pengembangan dari struktur
biaya perusahaan dalam industri nasional. Di sektor perbankan sempat ada ketentuan yang

menetapkan biaya pengembangan sumberdaya manusia 5 persen dari profit. Akan tetapi, angka
ini relatif sangat kecil, karena biaya pengembangan tersebut dibebankan pada profit, tidak
sebagai bebaninput.
Dengan pendekatan beban input, proporsi sekitar 10-15 persen dari total biaya juga merupakan
hal yang wajar. Barangkali dalam pelaksanaannya, tidak salah jika BUMN menjadi pionir.

http://www.theindonesianinstitute.org/janeducfile.htm

MARKET : Analisis Market dari Segi Pengaruh Perdagangan Bebas terhadap Pendidikan Tinggi

Perdagangan bebas jasa yang dipraktekkan dalam globalisasi berwatak fundamentalisme pasar
akan mempunyai dampak yang amat besar pada lembaga dan kebijakan pendidikan tinggi.
Dampak tersebut amat bervariasi tergantung dari lokasinya di arena global, dapat membuka
peluang atau menguntungkan tetapi dapat juga merupakan hambatan atau merugikan sektor
pendidikan negara berkembang.
Perdagangan bebas jasa pendidikan tinggi kalau dilaksanakan dalam kondisi interdependensi
simetris antar negara atau lembaga pendidikan memang dapat membuka lebar pintu menuju ke
pasar kerja global khususnya ke ekonomi negara maju yang telah mampu mengembagkan
ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based economy). Tapi dalam kondisi
interdependensi asimetris dan lebih-lebih bila penyediaan jasa pendidikan tinggi lebih dilandasi
oleh motif for-profit semata, sedangkan tujuan-tujuan pendidikan lainnya akan dikorbankan.
WTO telah mengidentifikasi 4 mode penyediaan jasa pendidikan sebagai berikut: (1) Crossborder supply, institusi pendidikan tinggi luar negeri menawarkan kuliah-kuliah melalui internet
dan on-line degree program, atau Mode 1; (2) Consumption abroad, adalah bentuk penyediaan
jasa pendidikan tinggi yang paling dominan, mahasiswa belajar di perguruan tinggi luar negeri
atau Mode 2; (3) Commercial presence, atau kehadiran perguruan tinggi luar negeri dengan
membentuk partnership, subsidiary, twinning arrangement dengan perguruan tinggi lokal., atau
Mode 3, dan (4) Presence of natural persons, dosen atau pengajar asing mengajar pada lembaga
pendidikan lokan, atau Mode 4. Liberalisasi pendidikan tinggi menuju perdagangan bebas jasa

yang dipromosikan oleh WTO adalah untuk mendorong agar pemerintah negara-negara anggota
tidak menghambat empat mode penyediaan jasa tersebut dengan kebijakan-kebijakan
intervensionis.
Dibandingkan dengan negara-negara anggota Asean yang tergabung dalam Asean University
Network (AUN) ataupun (Association of Southeast Asia Institute of Higher Learning (ASAIHL),
seperti Malaysia, Muangthai, Filipina dan Singapore, Indonesia jauh tertinggal dalam tingkat
partisipasi pendidikan tinggi dan mutu akademik. Pada tahun 2004 tingkat partisipasi pendidikan
tinggi baru mencapai 14 persen, jauh tertinggal dari Malaysia dan Filipina yang sudah mencapai
38-40 persen. Karena kemampuan keuangan pemerintah yang sangat terbatas, ekspansi serta
peningkatan mutu pendidikantinggi Indonesia tidak mungkin dilakukan dengan mengandalkan
sumber dana domestik. Ekspansi pendidikan tinggi dan peningkatan mutu akademik
nampaknmya hanya mungkn dilakukan bila layanan pendidikan tinggi oleh provider luar negeri
yang dimungkinkan oleh globalisasi pendidikan dapat dimanfaatkan oleh negara berkembang
seperti Indonesia.
Globalisasi pendidikan tinggi yang semakin meningkat walau pun bertujuan untuk memperbaiki
mutu dan akses ke pendidikan tinggi pasti merupakan gangguan terhadap kedaulatan Indonesia
dalam mengatur salah satu tujuan kemerdekaannya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kemandirian bangsa ini dalam perumusan kebijakan nasional untuk mengatur bidang pendidikan
mau tidak mau harus dikorbankan agar provider pendidikan tinggi komersial dari luar negeri
dapat lebih leluasa masuk ke tanah air Indonesia.
Salah satu manifestasi globalisasi pendidikan tinggi adalah berkembangnya pasar pendidikan
tinggi tanpa batas (borderless higher education market). Keterbasasan dana yang dialami oleh
negara-negara berkembang, peningkatan permintaan akan pendidikan tinggi bermutu, serta
kemajuan teknologi informasi adalah tiga faktor yang mendorong pertumbuhan borderless
market dalam pendidikan tinggi. Perguruan tinggi di negara-negara maju, terutama Ameriuka
Serikat, Inggeris dan Australia amat agresif memanfaat the new emergiung market dengan
meningkatkan penyediaan layanan pendidikan tinggi, tidak sepenuhnya dengan motif filantropis,
tetapi dilandasi pertimbangan for-profit dengan menerima sebanyak mungkin mahasiswa luar
negeri yang membayar penuh biaya pendidikannya, mendirikan kampus-kampus cabang di
negara lain, waralaba pendidikan atau kesepakatan twinning dengan perguruan tinggi lokal,

menyediakan pendidikan jarak jauh atau e-learning.


Perkembangan-perkembangan ini perlu diantisipasi dengan sebaik-baiknya agar masyarakat
negara berkembang dapat menarik manfaatnya dari penyediaan jasa pendidikan secara global
tetapi tanpa harus mengorbankan kepentingan-kepentingan nasional untuk mempreservasi
budaya bangsa serta menicptakan kemandirian dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, yang juga amat diperlukan oleh setiap bangsa.
http://sofian.staff.ugm.ac.id /artikel/Liberalisasi-Pendidikan-Tinggi.pdf

Kesimpulan dari Change analyze dari 5 point pemaparan di atas adalah :


1. Technology : Yaitu dengan adanya perkembangan teknologi berupa internet yang
semakin berkembang terutama dalam dunia pendidikan telah menghasilkan sebuah sistem
pembelajaran jarak jauh. Sehingga memudahkan dalam proses Pembelajaran yang dapat
dilakukan dimana saja dan kapan saja, tidak terpengaruh oleh geografi dan waktu.
Adapun kendala yang masih dihadapi di Indonesia aalah jangkauan jaringan
telekomunikasi yanmg masih terbatas sehingga kurang optimal dalam pemanfaatannya.
2. Politic Legal :Selain pergantian dan perbaikan Kurikurum, kunci untuk pengembangan
kualitas pendidikan adalah pada guru.Karena gurulah proses peningkatan itu bisa terjadi
dan di tangan Kepala Sekolah yang baik dapat terjadi peningkatan kualitas ekosistem
pendidikan di sekolah yang baik pula. Peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah dan
tenaga kependidikan akan makin digalakkan sembari kurikulum ini diperbaiki dan
dikembangkan.
3. Social Culture :Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan
kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen
pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan
lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara
terencana, terarah, dan berkesinambungan.
4. Economy :Pendidikan adalah satu cara dimana individu meningkatkan modal
manusianya. Semakin tinggi pendidikan seseorang, diharapkan stok modal manusianya
semakin tinggi.Karena modal manusia, seperti dikemukakan dalam awal tulisan ini,
memiliki hubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi, maka implikasinya pendidikan
juga memiliki hubungan positif dengan produktivitas atau pertumbuhan ekonomi.
5. Market :Salah satu manifestasi globalisasi pendidikan tinggi adalah berkembangnya
pasar pendidikan tinggi tanpa batas (borderless higher education market). Keterbasasan
dana yang dialami oleh negara-negara berkembang, peningkatan permintaan akan
pendidikan tinggi bermutu, serta kemajuan teknologi informasi adalah tiga faktor yang
mendorong pertumbuhan borderless market dalam pendidikan tinggi Karena itu untuk

mendorong Perdagangan bebas jasa yang dipraktekkan dalam globalisasi, Indonesia harus
berpartisipasi terhadap penyedia jasa pendidikan luar negeri.

TENTANG STIE MADANI


Sejarahnya
STIE-Madani didirikan pada tahun 1995 di bawah naungan Yayasan Abdi Masyarakat Madani
(YAMM) Balikpapan.d/h Yayasan Abdi Masyarakat (YAM). STIE-Madani saat ini telah TerAkreditasi B dari Badan Akreditasi Nasional.Dengan visi dan misi untuk mempersiapkan
sumber daya manusia siap kerja dalam tempo singkat agar siap terjun dalam dunia kerja,

membentuk sumber daya manusia mandiri dalam mengantisipasi sistem informasi akuntansi,
akuntansi perpajakan, akuntansi perbankan dan akuntansi komputer.
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi MADANI merupakan wujud perubahan status dari
Akademi Akuntansi Balikpapan (AAB) yang berdiri pada tahun 1995 dengan hanya satu
program studi yaitu Akuntansi untuk jenjang Diploma Tiga (D-3) sesuai dengan S.K. DIKTI
Nomor : 042/D/0/1995 Tanggal 16 Mei 1995 dan diperbaharui melalui S.K. Nomor :
839/D/T/2008 Tanggal 13 Maret 2008.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya pasal 35
mengamanatkan adanya standar pendidikan nasional untuk digunakan sebagai acuan
pengembangan kurikulum, tenaga pendidikan dan sebagainya. Kemendiknas sesuai dengan misi
yang diembannya akan selalu berupaya mendorong, membantu dan memberdayakan Sekolah
Tinggi agar menjadi perguruan tinggi yang modern, mandiri, mampu memberikan layanan
pendidikan dan penelitian yang bermutu sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas
dan bermanfaat bagi masyarakat serta dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi
pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan. Saat ini STIE MADANI Balikpapan telah
menyelenggarakan 3 (tiga) jenjang pendidikan yaitu :
1. Jenjang Pendidikan Strata Satu (S-1) dengan dua Program Studi :
a. Program Studi Akuntansi.
b. Program Studi Manajemen.
2. Jenjang Pendidikan Diploma Tiga (D-3) dengan satu Program Studi yaitu Program Studi
Akuntansi
3. Jenjang Pendidikan Diploma Satu (D-1) dengan satu Program Studi yaitu Program Studi
Akuntansi.

VISI
Memajukan bidang pendidikan yang berwawasan global dalam rangka mencerdaskan
kehidupanbangsa Indonesia serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
MISI
Menghasilkan lulusan yang berkualitas, mandiri dan tangguh dalam menghadapi persaingan
global dan dapat dipertanggungjawabkan

Menumbuhkan jiwa entrepreneurship mahasiswa/peserta didik sehingga memiliki jiwa


kemandirian dalam menghadapi era globalisasi
Menumbuhkan motivasi mahasiswa/peserta didik untuk mampu bersaing serta memiliki
semangat pantang mundur dalam mencapai tujuan dengan cara yang bertanggung jawab
Meningkatkan kemampuan mahasiswa/peserta didik untuk memiliki kepekaan terhadap
perubahan-perubahan serta antisipasinya
TUJUAN
Mempersiapkan mahasiswa/peserta didik menjadi warga negara yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila, memiliki integritas pribadi yang tinggi,
terbuka dan tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan masalah
yang dihadapi masyarakat khususnya yang berkaitan dengan bidang ekonomi.
OBJEK KAMPUS
Kekurangan :
1. Pemanfaat teknologi informatika masih belum maksimal
2. Pelayanan yang lambat untuk proses administrasinya
Saran

1. Lebih berfokus untuk memperbaiki sumber daya teknologi informatikanya, sehingga


dapat tercipta keefisienan, fleksible dan kemudahan bagi mahasiswanya terutama yang
sedang bekerja.
2. Memperbaiki system pelayanan, agar setiap proses administrasinya cepat, bias saja
dengandilakukan penambahan staff administrasi atau pembagian tugas yang nyata.

Kelebihan :
1. Kampus menerapkan system disiplin baik untuk dosen dan mahasiswanya semua jelas
pada peaturannya
2. Fasilitas memadahi dan keamanan terjamin
3. Dosen yang kompeten di bidangnya masing-masing
KONSEP VALUE STIE MADANI
Produk atau tawaran akan berhasil jika memberikan nilai dan kepuasan kepada pembeli sasaran.
Pembeli memilih di antara beraneka ragam tawaran dari mulai yang dianggap memberikan nilai
yang paling banyak. Nilai adalah rasio antara apa yang didapatkan dan apa yang diberikan

pelanggan. Nilai juga dapat diartikan sebagai perkiraan konsumen tentang kemampuan
total suatu produk untuk memenuhi kebutuhannya. Pelanggan mendapatkan manfaat dan
mengeluarkan biaya.
Nilai Biaya =

Manfaat Fungsional +Manfaat Emosional


Biaya

Manfaat Fungsional
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi yang terakreditas
Dibimbing oleh Dosen yang kompeten terutama
dibidang Masing-masing
Fasilitas pendukung wifi, perpustakaan, lap
komputer, area parkir yang luas, ruang
audotirium, kantin sehat dan musholah
Penyelenggaraan Pendidikan Akuntansi dan
Manajemen yang kreatif dan berkarakter
entrepreneurship danDisiplin
Pelayanan manajemen yang baik
Melaksanakan pendidikan berkualitas dengan
pendidikan di Prodi Akuntansi yang terjangkau
Berbasis Teknologi Informatika dengan adanya
situs web resmi untuk memantau nilai, prink
khs,krs, dll

Manfaat Emosional
Mudah dijangkau angkutan umum
Terletak di pusat kota
Bangunan merupakan properti nyata
milik kampus
Jam masuk untuk kuliah malam yang
tidak memberatkan dan tidak
bertabrakan dengan jam kerja pada
umumnya
Tujuan kampus bagi lulusan SMK
terutama jurusan akuntansi dan
Manajemen
Belajar system online untuk prodi
Akuntansi
Beasiswa dan Study Banding ke kampus
lain untuk Prodi Akuntansi

Biaya : Biaya SPP + SKS

Jadi Analisa dari Konsep Value di atas adalah :


Yaitu total biaya yang dikeluarkan adalah seimbang sesuai dengan manfaat yang di dapatkan
terutama dari segi fasilitas, kenyaman dan keamanan yang di berikan pihak kampus.