Anda di halaman 1dari 61

A. Pengertian

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Hepatitis adalah peradangan yang terjadi pada hati yang disebabkan oleh

infeksi atau oleh toksin termasuk alcohol. ( Elizabeth J. Corwin. 2000 : 573 )

Hepatitis virus merupakan infesi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan

inflamasi

pada

sel-sel

hati

merupakan

kumpulan

peruahan

klinis,

pada sel-sel hati merupakan kumpulan peruahan klinis, yang biokimia, serta seluler yang khas. ( Brunner &

yang

biokimia, serta seluler yang khas. ( Brunner & Suddarth. 2001 : 1169 )

Hepatitis adalah infeksi virus pada hati yang berhubungan dengan manifestasi

klinik berspektrum luas dari infeksi tanpa gejala, melalui hepatitis ikterik

sampai nekrosis hati. ( Sandra M. Nettina. 2001 : 248 )

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapat ditimbulkan bahwa

penyakit Hepatitis adalah peradangan yang terjadi pada hati yang merupakan

infeksi

sistemik

oleh

virus

atau

oleh

toksin

termasuk

alcohol

yang

berhubungan dengan manifestasi klinik berspektrum luas dari infeksi tanpa

gejala, melalui

hepatitis ikterik sampai nekrosis hati yang menghasilkan

kumpulan erubahan klinis, biokimia serta seluler yang khas.

6

7

B. Etiologi menurut

Penyebab hepatitis adalah virus hepatitis yang dibagi menjadi:

1.

Hepatitis A, disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV) yang merupakan

virus RNA dari famili enterovirus yang berdiameter 27 nm.

 

2.

Hepatitis B, disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang merupakan

virus DNA yang berkulit ganda yang berukuran 42 nm.

 

3.

Hepatitis C, disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV) yang merupakan

virus RNA kecil terbungkus lemak yang berdiameter sekitar 30 sampai

60 nm.

4.

Hepatitis D, disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV) yang merupakan virus RNA detektif yang membutuhkan

Hepatitis D, disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV) yang merupakan

virus RNA detektif yang membutuhkan kehadiran hepatitis B yang

berdiameter 35 nm.

5.

Hepatitis E, disebabkan oleh virus hepatitis E (HEV) yang merupakan

virus RNA rantai tunggal yang tidak berselubung dan berdiameter

kurang lebih 32 sampai 34 nm.

6.

Hepatitis F, Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Saat ini para

pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang

terpisah.

7.

Hepatitis

g

adalah

Gejala

serupa

hepatitis

C,

seringkali

infeksi

bersamaan

dengan

hepatitis

B

dan/atau

C.

Tidak

menyebabkan

hepatitis

fulminan

ataupun

hepatitis

kronik.

Penularan

melalui

transfusi darah jarum suntik.

8

C. Patofisiologi hepatitis B

1. Proses perjalanan penyakit

Virus hepatitis menganggu fungsi liver sambil terus beranak

pinak di sel – sel liver. Akibat gangguan ini, sistem kekebalan tubuh

bekerja untuk memerangi virus tersebut. Dalam proses itu, bisa terjadi

kerusakan yang berujung pada pandangan liver.

Perubahan morfologik pada hati seringkali serupa untuk berbagai virus

yang berlainan. Pada kasus yang klasik, ukuran dan warna hati tampak

normal,

tetapi

kadang

kadang

sedikit

edema,

membesar

dan

–

berwarna seperti empedu. Secara histologik, terjadi asuhan hepato

selular menjadi kacau, cidera dan nekrosis sel hati, serta peradangan

perifer. Perubahan ini reversibel sempurna bila fase akut penyakit

mereda pada beberapa kasus nekrosis submasif atau masif dapat

mengakibatkan gagal hati yang berat dan kematian.

2. Manifestasi klinik

Infeksi virus hepatitis dapat bervariasi mulai dari gagal hati berat

sampai hepatitis anikterik subklinis. Yang terakhir ini lebih sering

ditemukan pada infeksi HAV, dan seringkali mngira menderita “flu”.

Infeksi HBV biasanya lebih berat dibandingkan HAV, dan insiden

nekrosis masif dan payah hati berat lebih sering terjadi.

Gejala-gejala

prodormal

timbul

pada

semua

penderita

dan

dapat

berlangsung selama satu minggu atau lebih sebelum timbul ikterus

(meskipun tidak semua pasien akan mengalami ikterus) yang dibagi

dalam tiga stadium:

9

a. Stadium pra ikterik

Pada stadium ini berlangsung selama 4-7 hari klien mengeluh sakit

kepala, lemah, anoreksia, mual dan muntah, demam, nyeri pada otot,

dan nyeri di perut kanan atas, urine menjadi lebih coklat.

b. Stadium ikterik

Stadium

ini

berlangsung

selama

3-6

minggu,

ikterik

mula-mula

terlihat pada sklera. Kemudian pada kulit seluruh tubuh. Keluhan-

keluhan berkurang tetapi klien masih lemah, anoreksia dan muntah,

tinja mungkin berwarna kelabu atau kuning muda. Hati membesar dan

mungkin berwarna kelabu atau kuning muda. Hati membesar dan Stadium post 1 (rekovalensi) nyeri tekan. c.

Stadium post 1 (rekovalensi)

nyeri tekan.

c.

Pada stadium ini ikterik mereda, warna urin dan tinja normal lagi,

penyembuhan pada anak lebih cepat dari orang dewasa yaitu pada

akhir bulan kedua karena penyebab yang biasanya berbeda.

Banyak pasien mengalami atralgia, artritis, urtikaria, dan ruam kulit

Manifestasi

sementara.

Terkadang

dapat

terjadi

glomerulonefritis.

ekstra hepatik dari hepatitis virus ini dapat menyerupai sindrom

penyakit serum dan dapat disebabkan oleh kompleks imun yang

beredar dalam sirkulasi.

10

3. Komplikasi

Tidak setiap pasien dengan hepatitis virus akan mengalami perjalanan

penyakit

yang

lengkap.

Sejumlah

kecil

pasien

memperlihatkan

kemunduran klinis yang cepat, adapun komplikasi yang dapat terjadi

pada klien hepatitis adalah ensefalopati hepatic terjadi pada kegagalan

hati berat yang disebabkan oleh akumulasi amonia serta metabolik

D.

toksik

merupakan stadium

lanjut

ensefalopati hepatik. Kerusakan

jaringan

paremkim

hati

yang

meluas

akan

menyebabkan

sirosis

hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik.

hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik. Penatalaksanaan Medis hepatitis B 1. Aktivitas / istirahat

Penatalaksanaan Medis hepatitis B

1. Aktivitas / istirahat

Tirah baring selama fase akut dianjurkan hingga pasien bebas dari

ikterus. Aktivitas fisik biasanya perlu dibatasi hingga gejala-gejala

mereda dan tes fungsi hati kembali normal, untuk itu beri istirahat

secara bertahap pada masa penyemnuhan.

2. Diit

Berikan makanan dalam porsi kecil namun sering, dengan dianjurkan

diet rendah lemak, tinggi karbohidrat, yang ternyata cocok untuk

selera pasien yang mengalami anoreksia. Jika pasien mual, muntah,

dan tidak nafsu makan, berikan infus glukosa. Dan jika nafsu makan

pasien mulai membaik, berikan makanan cukup kalori (30 – 35) kal/kg

BB) dan tinggi protein yang dapat mempercepat penyembuhan dan

tentunya cukup mengandung vitamin dan mineral.

11

3.

Obat-obatan

a. Obat modern

Terapi / obat-obatan dilanjutkan seminimal mungkin terutama

obat-obatan yang bersifat toksik hati, misalnya sedatif. Beri obat-

obatan

yang

bersifat

melindungi

hati,

berikan

antibiotik,

kortikostiroid ( tetapi tidak membantu penyembuhan hepatitis

akut), antiemetik (bila diperlukan/ bila perlu sekali) dan vitamin K

pada kasus kecenderungan perdarahan.

Adapun tanaman yang dinilai terhadap pengendalian Kunyit
Adapun
tanaman
yang
dinilai
terhadap
pengendalian
Kunyit

herbal.

bermanfaat

penyembuhan hepatitis adalah:

1)

b. Obat tradisional

Obat tradisional yang digunakan biasanya berupa tanaman/terapi

ada

hubunganya

dan

gejala

dan

bahkan

Khasiat: obat hepatitis terutama karena mampu merangsang

dan menjaga kekebalan. Kunyit juga bagus untuk pengumpulan

 

darah.

2)

Temulawak

Khasiat: dalam kaitanya dengan hepatitis, temulawak sangat

efektif karena mampu melawan inflamasi. Tanaman ini juga

diketahui

bisa

menurunkan

SGOT

dan

SGPT,

keduanya

berkadar

tinggi

pada

mereka

yang

menderita

hepatitis

(terutama hepatitis B)

12

3)

Tapak Liman

Khasiat: manfaat tapak liman untuk hepatitis terutama karena

kemampuanya untuk mencegah dan menghilangkan radang dan

pembangkalan,

serta

menetralkan

racun.

Asites

juga

bisa

dibantu dikurangi oleh tanaman ini.

 

4)

Daun sendok

Khasiat: dalam kaitanya dengan hepatitis, tanaman ini mampu

mengurangi radang dan melancarkan kencing (berguna untuk

membuang asites)

Sambiloto liver, selain itu tanaman ini
Sambiloto
liver,
selain
itu
tanaman
ini

5)

juga

Khasiat: salah satu senyawa sambiloto berkhasiat melindungi

membantu

mencegah

perdangan dan melancarkan buang air kecil.

Di luar tanaman diatas, masih banyak tanaman lainya yang bisa

dimanfaatkan untuk mengobati hepatitis. Umumnya tanaman-tanaman

tersebut disajikan dengan cara direbus untuk diambil airnya. Banyak

juga yang ditumbuk dan dijadikan ramuan untuk kemudian dicampur

dengan air dan diminum. Intinya ekstrak setiap tanaman diambil

dengan cara dicampur dengan air dan diminum.

13

E. Pengkajian keperawatan

Pengkajian keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada

praktek

keperawatan

yang

langsung

diberikan

kepada

klien

dengan

menggunakan metode ilmiah dengan pendekatan proses keperawatan tanpa

mengabaikan bio, psiko, dan kultur sebagai kesatuan yang utuh dan adapun

asuhan

keperawatan

yang

digunakan

yaitu

melalui

tahap

pengkajian,

diagnose keperawata, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan

evaluasi. (Doengoes, E. Marlynn, et. al,2000)

1. Aktivitas/istirahat

(Doengoes, E. Marlynn, et. al,2000) 1. Aktivitas/istirahat Gejala : kelemahan, kelelahan, malaise umum. 2. Sirkulasi

Gejala : kelemahan, kelelahan, malaise umum.

2. Sirkulasi

Tanda: bradikardia (hiperbilirubinemia berat), ikterik pada sklera,

kulit, membran mukosa.

3. Eliminasi

Gejala: urin gelap, diare/konstipasi (feces warna tanah liat)

4. Makanan/cairan

Gejala: hilang nafsu makan, penurunan berat badan atau meningkat

(edema) dan mual muntah

5. Neurosensori

Tanda: peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriksis

6. Nyeri/ kenyamanan

Gejala:

kram

abdomen,

nyeri

tekan

pada

kuadran

atas,

atralgia, sakit kepala dan gatal (pluritus)

mialgia,

14

Gejala: tidak minat merokok (perokok)

8. Keamanan

Gejala: adanya tranfusi darah/produk darah

Tanda: demam, urtikaria, eritema tak braturan, ekserbasi jerawat,

angioma jaring-jaring, eritema palmir, ginekomastia, splenomegali dan

pembesaran nodus servikal posterior.

9. Seksualitas

Gejala: pola hidup/ perilaku meningkatkan resiko terpajan (contoh

homoseksual aktif/biseksual pada wanita)

atau asimtonatik) ;
atau
asimtonatik)
;

10. Penyuluhan/pembelajaran

Gejala: riwayat diketahui/mungkin terpajan pada virus, bakteri atau

toksin (makanan terkontaminasi, air, serum, alat bedah atau darah) ;

adanya prosedur

bedah

pembawa (sistomatik

dengan anestesia haloten; terpajan pada kimia toksik (contoh karbon

tetraklorida, vinil klorida) obat resep (contoh sulkonamid, fenotiazid,

isomazid).

11. Pemeriksaan penunjang

a. Tes fungsi hati

b. AST SGOT ALT SGPT

: abnormal (4-10 x dari normal)

: awalnya meningkat, dapat meningkat

1- 2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun.

c. Darah lengkap

:SDM

menurun

sehubungan

dengan

penurunan

hidup

(gangguan

enzim

hati)

atau

mengakibatkan

perdarahan.

15

d. Leukopenia

:trombositopenia

(splenomgali)

e. Diferensial darah lengkap :

atipikal, dan sel plasma.

leukositosis,

mungkin

monositosis,

ada

limfosit

f. Alkali fosfatase

berat)

: agak meningkat (kecuali ada kolestasis

g. Feces

: warna tanah liat, steatoria (penurunan

fungsi hati)

h. Albumin serum

i.

liat, steatoria (penurunan fungsi hati) h. Albumin serum i. Gula darah fungsi hati). : : menurun

Gula darah

fungsi hati).

:

: menurun

:hiperglikemia/hipoglikemia

(gangguan

j. Anti – HAV Igm

k. HbsAg

A)

l. Masa protrombin

m. Bilirubin serum

: positif pada tipe A

: dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe

: mungkin memanjang (disfungsi hati)

di atas 2,5 mg/ 100 ml (bila di atas 200

mg/ml,

prognosis

buruk

mungkin

berhubungan

dengan

peningkatan nekrosis seluler)

n. Tes eksresi BSP

: kadar darah meningkat

o. Biopsi hati

: menunjukkan diagnosis dan luasnya

nekrosis.

p.

Skan hati

kerusakan parenkim.

:

membantu dalam perkiraan beratnya

16

q.

Urinalisa

:

peninggian

protein/hematuria dapat terjadi.

F. Diagnosa Keperawatan

kadar

bilirubin;

Diagnosa adalah langkah langkah untuk menganalisa data klien untuk

mendapatkan identifikasi masalah klien baik potensial maupun aktual;

informasi faktor yang berperan atau menjadi penyebab masalah klien; dan

informasi

pola

koping

atau

kekuatan

klien

dalam

mempertahankan

keadaanya.

melalui pengkajian, data sehingga menjadi masalah
melalui
pengkajian,
data
sehingga
menjadi
masalah

Diagnosa keperawatan merupakan tahap akhir dari pengkajian. Setelah

data

di

analisa

dan

di

berdasarkan

terkumpul

tersebut

interpretasikan

keperawatan,

respon klien terhadap kebutuhan dasarnya yang terganggu baik yang

aktual maupun potensial yang memerlukan tindakan oleh perawat yang

berwenang dan kompeten.

Menurut Marilynn E Doengoes terdapat 7 diagnosa keperawatan pada

klien dengan hepatitis, anatara lain:

1. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

intake makanan yang tidak adekuat

3. Resiko terjadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan

output yang berlebihan.

4. Harga diri; rendah situasional berhubungan dengan perasaan negatif

terhadap tubuh.

17

5. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak

adekuat.

6. Resiko

terjadinya

integritas

kulit/jaringan

berhubungan

dengan

akumulasi gram empedu dalam jaringan.

 

7. Kurang

pengetahuan

tentang

perawatan

penderita

hepatitis

berhubungan dengan kurangnya informasi.

G. Perencanaan Keperawatan

Perencanaan keperawatan adalah tindakan untuk membangun/membuat

serta memilih intervensi yang
serta
memilih
intervensi
yang

prioritas tindakan, mencatat tujuan dan hasil akhir yang diharapkan dan

membuat strategi untuk menilai atau mengevaluasi tujuan dan hasil yang

akan

dilakukan

dan

diharapkan,

mengkomunikasikan perencanaan keperawatan.

Untuk mencapai tujuan di atas maka rencana tindakan keperawatan yang

akan dilakukan adalah sebagai berikut:

1.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik

Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan

klien

mampu melakukan aktivitas kembali.

Kriteria hasil : menunjukkan

tekhnik/perilaku

yang

memampukan

kembali melakukan aktivitas. Melaporkan kemampuan

peningkatan toleransi aktivitas.

18

Rencana Tindakan

:

a. Tingkatkan

tirah

baring

/

duduk.

Berikan

lingkungan

tenang dan batasi pengunjung sesuai keperluan.

Rasional

: meningkatkan istirahat dan ketenangan serta

menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan.

b. Ubah posisi dengan sering (berikan perawatan kulit yang

baik).

Rasional : meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko
Rasional
:
meningkatkan
fungsi
pernafasan
dan
meminimalkan
tekanan
pada
area
tertentu
untuk
menurunkan resiko kerusakan jaringan.
c.
Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi
Rasional
:
memungkinkan
periode
tambahan
istirahat
tanpa gangguan.
d.
Tingkatkan
aktivitas
sesuai
toleransi;
bantu
klien
melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.

Rasional

:

tirah

baring

lama

dapat

menurunkan

kemampuan, ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas

yang menganggu periode istirahat.

e. Dorong penggunaan tekhnik manajemen stress (contoh:

relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi) dan

berikan aktivitas hiburan yang tepat (contoh: menonton

TV, radio, membaca).

19

Rasional

energi,

:

meningkatkan

relaksasi

dan

memusatkan

kembali

perhatian

meningkatkan koping.

penghematan

dan

dapat

f. Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran

hati.

Rasional

: menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi

penyakit, memerlukan istirahat lanjut, mengganti program

terapi.

g.

Kolaborasi

untuk

pemberian

antidot

(contoh:

atau

bantu

dalam

prosedur sesuai indikasi Rasional : membuang agen h.
prosedur
sesuai
indikasi
Rasional
:
membuang
agen
h.

Rasional

lavase,

katarsis,

hiperventilasi) tergantung pada pemajanan.

penyebab

pada

hepatitis

toksik dapat membatasi derajat kerusakan jaringan.

Kolaborasi untuk pemberian obat sesuai indikasi (sedatif,

agen anti ansietas, contoh: diazepam; lorazepam).

: membantu dalam manajemen kebutuhan tidur.

i. Awasi kadar enzim hati.

Rasional

: membantu menentukan kadar aktivitas tepat,

sebagai

peningkatan

prematur

pada

potensial

resiko

berulang.

2.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

intake makanan yang tidak adekuat.

Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan

nutrisi terpenuhi.

20

Kriteria Hasil : menunjukkan perilaku pola hidup untuk meningkatkan

/ mempertahankan berat badan yang sesuai. Menunjukkan peningkatan

berat badan, mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan

bebas tanda malnutrisi.

Rencana Tindakan

:

a. Observasi tanda-tanda vital.

Rasional

: untuk mengetahui keadaaan umum klien.

b. Awasi

pemasukan

diet/jumlah

kalori.

Berikan

sedikit

dalam

frekuensi sering dan tawarkan makan pagi paling besar.

: makan banyak sulit Anoreksia juga paling
:
makan
banyak
sulit
Anoreksia
juga
paling

Rasional

anoreksia.

untuk

buruk

mengatur

selama

bila

siang

pasien

hari,

membuat masukan makanan yang paling sulit pada sore hari.

c. Berikan perawatan mulut sebelum makan.

Rasional

: menghilangkan rasa tak enak dapat meningkatkan

nafsu makan.

d. Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.

Rasional

: menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat

meningkatkan pemasukan.

e. Dorong pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan permen

berat sepanjang hari.

Rasional

: bahan ini merupakan ekstra kalori yang dapat lebih

mudah dicerna/toleran bila makanan lain tidak.

21

f. Konsul pada ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet

sesuai kebutuhan pasien, dengan masukan lemak dan protein

sesuai toleransi

Rasional

:

berguna

untuk

membuat

program

diet

untuk

memenuhi

kebutuhan

individu.

Metabolisme

lemak

bervariasi

tergantung pada produksi dan pengeluaran empedu dan perlunya

pembatasan masukan lemak bila terjadi diare. Pembatasan protein

di indikasikan pada penyakit berat (contoh hepatitis kronis) karena

akumulasi prosuk akhir metabolisme protein dapat mencetuskan

akumulasi prosuk akhir metabolisme protein dapat mencetuskan hepatik ensefalopati. g. Awasi glukosa darah Rasional :

hepatik ensefalopati.

g. Awasi glukosa darah

Rasional

: hiperglikemia/hipoglikemia dapat terjadi, memerlukan

perubahan diet/pmberian insulin.

h. Berikan obat sesuai indikasi, seperti:

1) Antiemetik, contoh metalopramide (reglan); trimetobenzomid

(tigan)

Rasional

:

diberikan

setengah

jam

sebelum

makan,

dapat

menurunkan mual dan meningkatkan toleransi pada makanan.

2) Antasida, (contoh : mylanta, titralac)

Rasional

:

kerja

pada

asam

iritasi/resiko perdarahan.

gaster

dapat

menurunkan

3) vitamin, contoh B Complek, C, tambahan diet lain sesuai

indikasi.

22

Rasional

:

memperbaiki

kekurangan

dan

membantu

proses

penyembuhan.

 

4)

terapi

steroid,

contoh

prednison

(deltasone)

tunggal

atau

kombinasi dengan azatoprin (imuran).

Rasional

: steroid dikontra indikasikan

resiko

berulang/terjadinya

heptitis

kronis

karena meningkatkan

pada

pasien

dengan

hepatitis virus. Namun, efek antiflamasi mungkin berguna pada

hepatitis aktif kronis (khususnya idiopetik) untuk menurunkan

3.

mual/muntah

dan

memampukan

pasien

untuk

mengkonsumsi

tambahan makanan/nutrisi
tambahan
makanan/nutrisi

makanan dan cairan.

Berikan

dibutuhkan.

Rasional

i.

dukungan

total

bila

: mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan kalori bila

tanda kekurangan terjadi/gejala memanjang.

Resiko terjadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan

output yang berlebihan.

Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan

intake dan output cairan seimbang.

Kriteria Hasil : tanda-tanda vital stabil, turgor kulit baik, pengisian

kapiler nadi perifer kuat, dan haluaran urine individu sesuai.

Rencana Tindakan

:

a.

Awasi

masukan

dan

haluan,

bandingkan

dengan

berat

badan

harian. Catat kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare.

23

Rasional

:

memberikan

informasi

penggantian/efek terapi.

tentang

kebutuhan

b. Kaji tanda-tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit

dan membran mukosa.

Rasional

: indikator volume sirkulasi/perfusi

c. Periksa asites atau pembentukan edema. Ukur lingkar abdomen

sesuai indikasi.

Rasional

:

menurunkan

kemungkinan

perdarahan

ke

dalam

jaringan.

: kadar protrombin
:
kadar
protrombin

untuk sikat gigi.

Rasional

menurun

d. Biarkan pasien menggunakan lap katun/spon dan pembersih mulut

: menghindari trauma dan perdarahan gusi.

e. Observasi tanda perdarahan, contoh hematuria/melena, ekimosis,

perdarahan terus menerus dari gusi/bekas injeksi.

dan

Rasional

waktu

koagulasi

memanjang bila absorbsi vitamin K terganggu pada traktus GI dan

sintesis protrombin menurun karena mempengaruhi hati.

f. Awasi nilai laboratorium, contoh Hb/Ht, Nat, Albumin, dan waktu

pembekuan.

Rasional

: menunjukkan hidrasi

natrium/kadar

protein

yang

dapat

dan mengidentifikasi

retensi

menimbulkan

pembentukan

edema. Defisit pada pembekuan potensial beresiko perdarahan.

g. Berikan cairan IV (biasanya glukosa) elektrolit.

Rasional

: memberikan terapi cairan dan penggantian elektrolit.

24

4. Harga diri;

rendah situasional berhubungan dengan perasaan negatif

terhadap tubuh.

Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan

tidak terjadi depresi, perilaku merusak diri.

Kriteria Hasil : klien mampu mengidentifikasi perasaan dan metode

untuk koping terhadap presepsi diri negatif.

Rencana Tindakan

:

a. Kontrak dengan pasien mengenai waktu untuk mendengar. Dorong

diskusi perasaan/masalah.

Rasional

untuk mendengar. Dorong diskusi perasaan/masalah. Rasional alkohol/praktek seksual). Rasional : penyediaan waktu

alkohol/praktek seksual).

Rasional

: penyediaan waktu meningkatkan hubungan

saling

percaya.

b. Hindari membuat penilaian moral tentang pola hidup (penggunaan

: pasien merasa marah/kesal dan menyalahkan diri,

penilaian dari orang lain akan merusak harga diri lebih lanjut.

c. Diskusikan harapan penyembuhan.

Rasional

: periode penyembuhan mungkin lama (lebih dari 6

bulan)

d. Kaji efek penyakit pada faktor ekonomi pasien/orang terdekat.

Rasional

: masalah finansial dapat terjadi karena kehilangan

peran fungsi pasien pada keluarga/pnyembuhan lama.

e. Tawarkan aktivitas senggang berdasarkan tingkat energi.

25

Rasional

: memampukan pasien untuk menggunakan waktu dan

energi pada cara konstruktif yang meningkatkan harga diri dan

meminimalkan cemas dan depresi.

5. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak

adekuat.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi

tidak terjadi.

Kriteria Hasil :

menunjukkan tekhnik,

melakukan perubahan

pola

: : pasien terpajan
:
: pasien terpajan

Rasional

resiko komplikasi sekunder.

hidup untuk menghindari infeksi/transmisi ke orang lain.

Rencana Tindakan

a. Lakukan tehnik isolasi untuk infeksi enterik dan pernafasan.

Rasional

: mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain.

b. Awasi / batasi pengunjung sesuai indikasi

terhadap proses infeksi, potensial

c. Jelaskan prosedur isolasi pada pasien / orang terdekat.

Rasional

: pemahaman alasan untuk perlindungan diri mereka

sendiri dan orang lain dapat mengurangi perasaan isolasi dan

stigma.

d. Berikan informasi tentang adanya gama globulin, ISG, HBIG,

vaksin hepatitis B melalui Departermen Kesehatan atau dokter

keluarga.

26

Rasional

: efektif dalam mencegah hepatitis virus pada orang

yang terpajan, atau tergantung tipe hepatitis dan periode intubasi.

6.

Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan

dengan akumulasi garam empedu dalam jaringan.

Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan

tidak terjadi kerusakan integritas kulit / jaringan.

Kriteria hasil

: menunjukkan jaringan / kulit utuh, bebas ekskoriasi.

Melaporkan tak ada / penurunan pruiritas / lecet.

: : mencegah kulit kering
:
:
mencegah
kulit
kering

Rencana tindakan

a. Gunakan air mandi dingin, hindari sabun alkali. Berikan minyak

kalamin sesuai indikasi.

Rasional

berlebihan.

Memberikan

penghilang gatal.

b. Anjurkan menggunakan buku-buku jari untuk menggaruk bila

tidak terkontrol.

Rasional

: menurunkan potensial cedera kulit.

c. Berikan massage pada waktu tidur.

Rasional

:

bermanfaat

dalam

menurunkan iritasi kulit.

meningkatkan

tidur

dengan

d. Hindari komentar tentang penilaian pasien.

Rasional

: meminimalkan stress psikologis sehubungan dengan

perubahan kulit.

27

7.

Kurang

pengetahuan

tentang

perawatan

penderita

hepatitis

berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan

: setelah diberikan pendidikan kesehatan diharapkan

klien memahami tentang perawatan dan kebutuhan pengobatan pasien

hepatitis.

Kriteria hasil

:

menyatakan

pemahaman

proses

penyakit

dan

pengobatan. Melakukan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan.

Rencana tindakan

:

a. Kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan, kemungkinan

b.

informasi khusus tentang
informasi
khusus
tentang

informasi tambahan sesuai keperluan.

Berikan

penyakit.

Rasional

pilihan pengobatan.

Rasional

: mengidentifikasi area kekurangan dan pengetahuan /

salah informasi dan memberikan kesempatan untuk memberikan

pencegahan

/

penularan

: kebutuhan / rekomendasi akan bervariasi karena tipe

hepatitis (agen penyebab) dan situasi individu.

c. Identifikasi cara untuk mempertahankan fungsi usus biasanya.

Rasional

: perubahan pada pemasukan makanan/ cairan dapat

mengakibatkan konstipasi.

d. Diskusikan efek samping bahaya minum obat yang dijual bebas.

Rasional

:

beberapa obat

merupakan toksik

untuk

hati,

dan

menyebabkan efek kumulatif toksik / hepatitis kronis.

28

e.

Kaji ulang perlunya menghindari alkohol selama 6 – 12 bulan

minimal atau lebih lama sesuai toleransi individu.

Rasional

:

meningkatkan

iritasi

hepatik

dan

mempengaruhi

pemulihan.

H. Pelaksanaan Keperawatan

Implementasi merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk

membantu mencapai tujuan pada rencana tindakan keperawatan yang telah

disusun. Pinsip dalam memberikan tindakan keperawatan menggunakan

yang digunakan adalah kesehatan lainya. Tindakan dependent dengan pelaksanaan
yang
digunakan
adalah
kesehatan
lainya.
Tindakan
dependent
dengan
pelaksanaan

tindakan

komunikasi terapeutik serta penjelasan setiap tindakan pada pasien.

secara

Pendekatan

pendekatan

independent,

dependent dan interdependent. Tindakan independent yaitu suatu kegiatan

yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau perintah dari dokter atau

tenaga

adalah

tindakan

yang

Tindakan

Tindakan

medis.

berhubungan

interdependent adalah suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerjasama

dengan tenaga kesehatan lainya.

Selama

perawat

melakukan

tindakan

keperawatan

maka

akan

memperhatikan hal-hal sebagai berikut: menjalankan dan mengaplikasikan

perencanaan

yang

telah

dibuat,

melanjutkan

pengumpulan

data

dan

memodifikasikan

perencanaan

yang

mungkin

dapat

dilakukan

dan

mendokumentasikanya.

29

I. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi dalah penilaian terhadap tujuan dan hasil

yang diharapkan

tercapai pada klien berdasarkan perencanaan yang telah dibuat. Hasil dari

evaluasi ini akan menentukan apakah perencanaan dilanjutkan, dilakukan

modifikasi,

atau

dihentikan.

Pada

tahap

evaluasi

ini

perawat

akan

mengikuti hal-hal sebagai berikut: menilai atau mengukur pencapaian

tujuan dan hasil yang diharapkan, mengidentifikasikan faktor-faktor yang

mempengaruhi

keberhasilan

atau

kegagalan

pencpaian

memodifikasi perencanaan keperawatan bila memungkinkan.

yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan pencpaian memodifikasi perencanaan keperawatan bila memungkinkan. tujuan dan

tujuan

dan

30

A.

Pengkajian

BAB III

TINJAUAN KASUS

Pada laporan kasus ini penulis akan membahas tentang asuhan keperawatan

pada klien dengan diagnose medis hepatitis, yang mulai dirawat sejak

tanggal 10 juni 2010 dengan nomer register 22 05 63 yang dirawat di ruang

Mawar Rumah Sakit Hospital Cinere Depok. Pengkajian dilakukan pada

tanggal 13 juni 2010.

Depok. Pengkajian dilakukan pada tanggal 13 juni 2010. 1. Identitas Klien Klien berinisial Tn, H, berusia

1. Identitas Klien

Klien berinisial Tn, H, berusia 30 tahun, jenis kelamin laki-laki, agama

islam, pendidikan SMU, status perkawinan sudah menikah, pekerjaan

sehari-hari adalah

pegawai Swasta, bahasa

yang digunakan klien

bahasa Indonesia, alamat klien di Jln. Abus Meruyung Rt 03 Rw 03

No 18 Limo, Depok. Sumber biaya pribadi, sumber informasi dari

klien dan tenaga kesehatan yang bertugas pada saat pengkajian.

2. Resume klien

Klien Tn. H, usia 30 tahun, datang Ke rumah sakit Hospital Cinere

melalui IGD tanggal 10 juni 2010 dengan keluhan demam sejak 7 hari

sebelum masuk rumah sakit, mual, muntah, nafsu makan berkurang,

nyeri pada ulu hati. Kemudian dilakukan pemeriksaan tanda-tanda

vital

TD:

130/80

mmHg, Nadi:

80x/mnit,

S:

36º

c,

pernafasan:

20x/mnit. Infus Asering dipasang 20 tetes/menit. Pemeriksaan darah

31

dengan hasil hemoglobin: 13,7 g/dl, (N : L = 13 – 16 g/dl) hematokrit:

39 % (N: L= 40-48%),

Leukosit: 6000 u/l (N: L = 5000 – 10000/ul),

trombosit: 270.000 /ul (N: 150.000-450.000 / ul), SGOT/AST: 71,6 (L:

<48, P: <32), SGPT/ALT : 133,4 (L : <41, P : <31), protein total : 6,8

(6,0 – 8,7 mg/dl), hitung jenis leukosit ; basofil : 1 (0,1%), Eosinofil : -

(N : 1-3 %), Segmen : 77 (50 – 70 %), Limfosit : 15 (N : 20 – 40 %),

Monosit : 8 (N: 2-3 %), laju endap darah : 47 (N : < 15 mm/jam),

Albumin : 3,8 (N : 3,5 – 5,2 g/dl), Bilirubin total: 0,73 (<1,5 mg/dl).

Bilirubin direk: 0,20 (N : < 0,5 mg/dl), Bilirubin indirek : 0,47 (N :

0,20 (N : < 0,5 mg/dl), Bilirubin indirek : 0,47 (N : tanda-tanda vital (TD, <1,0

tanda-tanda

vital

(TD,

<1,0 mg/dl), HbsAg : + (positif). Kemudian pasien dipindahkan ke

ruang Mawar pada pukul 15.20 WIB dengan keadaan umum ringan,

kesadaran compos mentis, masalah keperawatan yang timbul dari data

diatas adalah: gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh, gangguan rasa nyaman nyeri. Tindakan mandiri keperawatan

yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah diatas adalah dengan

suhu,

pernafasan),

mengobservasi

nadi,

sedangkan tindakan kolaborasi yaitu memberikan terapi Asering 20

tetes per menit. evaluasi sampai tanggal 11 juni 2011 klien masih

mengeluh nyeri dibagian ulu hati, klien tampak meringis kesakitan,

skala nyeri 3. Gangguan rasa nyaman : nyeri belum teratasi.

3. Riwayat Keperawatan

a. Riwayat kesehatan sekarang

Pada saat dilakukan pengkajian klien mengatakan bahwa keluhan

utama yang dirasakan saat ini adalah mual, tidak nafsu makan, nyeri

32

pada ulu hati, klien menanyakan tentang penyakit nya. Timbulnya

keluhan secara bertahap selama 7 hari sebelum masuk rumah sakit.

Untuk mengatasinya klien berobat ke Rumah Sakit.

b. Riwayat kesehatan masa lalu

Klien mengatakan bahwa sebelumnya klien

pernah dirawat di

Rumah Sakit karena sakit demam berdarah pada tahun 2005.

c. Riwayat kesehatan keluarga (genogram dan keterangan).

c. Riwayat kesehatan keluarga (genogram dan keterangan). Klien adalah anak kedua dari tiga bersaudara, klien tinggal

Klien adalah anak kedua dari tiga bersaudara, klien tinggal

bersama dengan kedua orang tua dan adik nya di Jl. Abus

meruyung No 36 Depok.

33

d. Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang menjadi

factor resiko.

Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang menjadi

factor resiko.

e. Riwayat psikososial dan spiritual

Orang terdekat klien saat ini adalah ibunya, interaksi dalam keluarga;

pola komunikasi baik, pembuatan keputusan dalam keluarga yaitu

kepala keluarga (bapak), klien tidak pernah

mengikuti kegiatan

kemasyarakatan apapun. Dampak penyakit klien terhadap keluarga,

Mekanisme koping terhadap
Mekanisme
koping
terhadap

keluarga menjadi cemas, masalah yang mempengaruhi klien tidak

yaitu

dengan

cara

ada.

stress

mendengarkan musik atau tidur.

Presepsi klien terhadap penyakitnya; hal yang sangat dipikirkan saat

ini adalah ingin cepat sembuh, harapan setelah menjalani perawatan

dapat menjalani aktivitas seperti biasa, perubahan yang dirasakan

setelah jatuh sakit berat badan berkurang, system nilai kepercayaan:

nilai-nilai yang bertentangan dengan keluhan tidak ada, aktivitas

agama/kepercayaan yang dilakukan adalah sholat 5 waktu, kondisi

lingkungan rumah: klien mengatakan rumahnya bersih, pencahayaan

baik, sinar matahari cukup, dan udara segar dengan ventilasi yang

baik.

34

Pola kebiasaan sehari-hari :

1) Pola nutrisi

Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien makan 3x

sehari, nafsu makan baik, jenis makanan nasi, lauk pauk, sayur

dan buah, klien tidak memilih-milih makanan, juga tidak ada

alergi terhadap makanan. Berat badan 63 kg dan tinggi badan 165

cm.

Setelah masuk Rumah Sakit klien mengatakan bahwa kurang

nafsu makan, klien hanya menghabiskan makanan setengah porsi

nafsu makan, klien hanya menghabiskan makanan setengah porsi makanan yang disajikan, berat badan 60 kg, tinggi

makanan yang disajikan, berat badan 60 kg, tinggi badan 165 cm.

2) Pola eliminasi

a)

Bak: klien mengatakan bahwa sebelum sakit frekuensi Bak

yaitu 4-5 x sehari, warna kuning pekat, dan tidak ada keluhan

saat bak. Sesudah sakit frekuensi Bak klien 3-4 x sehari warna

kuning pekat dan tidak ada keluhan saat bak.

Bab: klien mengatakan sebelum dan sesudah sakit tidak ada

b)

keluhan saat Bab, dengan frekuensi 1x / hari.

3)

Pola personal hygiene

Klien mengatakan sebelum sakit mandi 2x/ hari, menggunakan

sabun, menggosok gigi 3x/ hari, menggunakan pasta gigi setiap

hari dan sebelum tidur, cuci rambut 2x/ minggu dengan shampoo,

sesudah sakit klien mandi 1x / hari, dan cuci rambut 2x/ minggu

dengan shampoo, klien menggosok gigi 2x/ hari menggunakan

pasta gigi setiap pagi dan sebelum tidur.

35

4)

Pola istirahat dan tidur

Klien mengatakan sebelum sakit tidak ada keluhan dalam tidur,

klien tidur kurang lebih 6-8 jam / hari ditambah tidur siang kurang

lebih 2 jam/ hari. Sesudah sakit klien mengatakan tidak ada

keluhan dalam tidur, klien tidur kurang lebih 8-9 jam / hari

ditambah tidur siang kurang lebih 3 jam/ hari.

5)

Pola aktivitas/ latihan

Klien mengatakan sebelum sakit mengikuti olahraga bermain bola

6)

selam 1x / minggu.setelah sakit klien mengatakan tidak mengikuti

minum-minuman
minum-minuman

kegiatan olahraga .

Pola kebiasaan yang mempengaruhi klien

mengkonsumsi

Sebelum sakit Klien mengatakan tidak merokok dan tidak pernah

dan

obat-obatan

keras

psikotropika.setelah sakit klien mengatakan juga tidak pernah

merokok dan minum-minuman keras.

4. Pengkajian fisik

a. Pemeriksaan fisik umum

Keadaan umum fisik klien yaitu berat badan klien sebelum sakit 63 kg,

dan sesudah sakit menjadi 60 kg dengan tinggi badan 165 cm. tekanan

darah klien 130/80 mmHg, nadi 80x/ mnit, S: 36º c, pernafasan:

20x/mnit. Keadaan umum klien ringan, tidak ada pembesaran kelenjar

getah bening.

36

b. Sistem penglihatan

Posisi mata simetris, kelopak mata normal, pergerakan bola mata

normal, konjungtiva normal / merah muda, kornea normal, sclera

ikterik,

pupil

isokor,

otot-otot

mata

tidak

ada

kelainan,

fungsi

penglihatan baik, tidak ada tanda-tanda radang, tidak menggunakan

kacamata, lensa kontak, reaksi terhadap cahaya baik.

c. Sistem pendengaran

Daun telinga normal, kondisi telinga normal, tidak ada cairan di

telinga, tidak ada rasa penuh di telinga, fungsi pendengaran baik, tidak

ada rasa penuh di telinga, fungsi pendengaran baik, tidak menggunakan alat bantu pendengaran. d. Sistem wicara

menggunakan alat bantu pendengaran.

d. Sistem wicara

Klien tidak mengalami kesulitan dalam berbicara.

e. Sistem pernafasan

Jalan nafas bersih, klien tidak sesak, tidak menggunakan alat bantu

pernafasan, dengan frekuensi pernafasan 20x / mnit irama teratur, tidak

ada batuk, suara nafas normal.

f. Sistem kardiovaskuler

1. Sirkulasi peripher

Nadi 80 x / mnit, irama teratur, tekanan darah 130/80 mmHg, tidak

ada distensi vena jugularis baik kanan maupun kiri, temperatur

hangat, tidak ada edema.

2. Sirkulasi jantung

Kecepatan denyut apical

, irama teratur, kelainan bunyi jantung

tidak terdapat, sakit pada daerah dada tidak ada.

37

g. Sistem hematologi

Tidak pucat dan tidak ada perdarahan.

h. Sistem syaraf pusat

Tingkat

kesadaran

compos

mentis,

tidak

mengalami

peningkatan

tekanan intracranial, tidak mengalami kejang, pelo dan lainya. GCS: 15

: E: 4 M: 6 V: 5

i. Sistem pencernaan

Keadaan mulut, gigi tidak caries, tidak menggunakan gigi palsu, tidak

ada stomatitis, lidah bersih, saliva normal, klien mengatakan mual,

lidah bersih, saliva normal, klien mengatakan mual, kurang nafsu makan, nyeri daerah ulu hati, kebiasaan bab

kurang nafsu makan, nyeri daerah ulu hati, kebiasaan bab 1x/ hari, tidak

ada diare, warna feces kuning kecoklatan, dengan konsistensi setengah

padat, tidak ada konstipasi, hepar tidak teraba, abdomen lembek.

j. Sistem endokrin

Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, napas tidak berbau keton, tidak

ada polidipsi, poliphagi, maupun poliuri dan klien tidak menderita luka

ganggren.

k. Sistem urogenital

Bak: 4-5x / hari, terkontrol, jumlah 1500 ml / 24 jam, warna kuning

pekat, tidak ada ketegangan pada kandung kemih, tidak ada keluhan

sakit pinggang.

l. Sistem integument

Turgor kulit baik, temperature kulit 36º c, warna kulit kemerahan,

kedaan kulit baik, tidak ada luka, tidak ada kelainan kulit, kondisi

daerah pemasangan infuse baik, keadaan rambut baik.

38

m. Sistem muskuloskeletal

Klien

tidak

mengalami

kesulitan

dalam

pergerakan,

klien

tidak

mengalami sakit pada tulang, sendi dan kulit, tidak ada fraktur, keadaan

5.

tonus otot baik, kekuatan otot

5

5

5

5

5

5

5

5

5

5

5

5

5

5

5 5

n. Data tambahan

Klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya dan saat

bertanya tentang pengertan
bertanya
tentang
pengertan

perawat

hepatitis

menjawab.

klien

tidak

dapat

Data penunjang

Hasil pemeriksaan laboratorium

Tanggal 10 juni 2011

hemoglobin: 13,7 g/dl, (N : L = 13 – 16 g/dl) hematokrit: 39 % (N: L= 40-

48%), Leukosit: 6000 u/l (N: L = 5000 – 10000/ul), trombosit: 270.000 /ul

(N: 150.000-450.000 / ul), SGOT/AST: 71,6 (L: <48, P: <32), SGPT/ALT :

133,4 (L : <41, P : <31), protein total : 6,8 (6,0 – 8,7 mg/dl), hitung jenis

leukosit ; basofil : 1 (0,1%), Eosinofil : - (N : 1-3 %), Segmen : 77 (50 – 70

%), Limfosit : 15 (N : 20 – 40 %), Monosit : 8 (N: 2-3 %), laju endap darah :

47 (N : < 15 mm/jam), Albumin : 3,8 (N : 3,5 – 5,2 g/dl), Bilirubin total:

0,73 (<1,5 mg/dl). Bilirubin direk: 0,20 (N : < 0,5 mg/dl), Bilirubin indirek :

0,47 (N : <1,0 mg/dl), HbsAg : + (positif).

39

6.

Penatalaksanaan

Infuse asering 20 tetes / menit, lesichol 3x 300 mg (tab), enzyplex 3x 1 (tab),

hepa Q 3x1 (tab), sistenol 3x1 (tab), profilas 2x1 (tab), cendantron tiap kolf

4mg,

7. DATA FOKUS

Tanggal 13 juni 2011

Nama klien / umur

: Tn. H / 30 tahun

Ruang

: Mawar

juni 2011 Nama klien / umur : Tn. H / 30 tahun Ruang : Mawar Data

Data Subyektif

Klien mengatakan nafsu makan berkurang, klien mengatakan mual, klien

mengatakan porsi makanan yang dihabiskan hanya setengah porsi, klien

mengatakan nyeri pada ulu hati, klien mengatakan tangan kanan terpasang

infuse asering 20 tetes per menit pada tanggal 10 juni 2011, klien mengatakan

tidak tahu tentang penyakitnya dan kurang mengerti mengenai penyebab

penyakitnya, klien mengatakan berat badan sebelum sakit 63 kg, berat badan

sesudah sakit 60 kg.

Data Obyektif:

Keadaan

umum

klien

ringan,

kesadaran

compos

mentis,

klien

terlihat

memegang

perut

sambil

meringgis,

klien

terlihat

menghabiskan

makan

setengah porsi, klien terlihat terpasang IVFD asering 20 tetes per menit di

tangan kanan, tidak tampak tanda-tanda infeksi atau phlebitis pada daerah

pemasangan infus.

40

8. ANALISA DATA

No Data Masalah Etiologi 1. Data Subyektif: Resiko terjadinya Anoreksia a. Klien mengatakan gangguan mual
No
Data
Masalah
Etiologi
1.
Data Subyektif:
Resiko
terjadinya
Anoreksia
a. Klien mengatakan
gangguan
mual
pemenuhan
nutrisi
b. Klien mengatakan
kurang
dari
nafsu makan
kebutuhan tubuh
berkurang
Data Obyektif:
a. Klien makan
tampak habis ½
porsi
b. BB sebelum sakit :
63
kg
BB setelah sakit : 60
kg
c.
Hasil Lab : Hb :
14
gr/dL
2
Data subyektif:
Ganggguan
rasa
Distensi
a.
Klien mengatakan
nyaman
:
nyeri
epigastrium
nyeri di bagian
(akut)
ulu hati

41

Data Obyektif: a. Klien tampak meringgis sambil memegang perut b. Skala nyeri : 5 c.
Data Obyektif:
a. Klien tampak
meringgis sambil
memegang perut
b. Skala nyeri : 5
c. Klien
tampak
meringis
kesakitan
dan
sambil
memegang
perutnya
sebelah
kiri
bagian
bawah
3
Data Subyektif:
Resiko
terjadinya
Masuknya
a.
Klien mengatakan
infeksi
mikro
tangan kiri
organisme
terpasang IVFD
melalui
sejak tanggal 10
insersi
juni 2011 dan
pemasangan
jenis cairan
infus
asering tetesan 20
TPM

42

Data Obyektif: a. Klien terlihat terpasang IVFD asering 20 TPM , tidak terdapat tanda infeksi
Data Obyektif:
a.
Klien terlihat
terpasang IVFD
asering 20 TPM ,
tidak terdapat
tanda infeksi /
plebitis, pada
daerah
pemasangan infus
4
Data Subyektif:
Kurang pengetahuan
Kurangnya
a. Klien mengatakan
tentang penyakitnya
informasi
kurang mengerti
mengenai
penyakitnya
Data obyektif:
a.
Klien terlihat
binggung saat
ditanya oleh
perawat tentang
penyakitnya.

43

B. Diagnosa Keperawatan

1. Resiko terjadinya gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh berhubungan dengan Anoreksia.

Tanggal ditemukan

: 13 juni 2011

Tanggal teratasi

: masalah teratasi sebagian

Nama perawat

: Pravita

2. Nyeri akut berhubungan dengan Distensi epigastrium

3.

Tanggal ditemukan

Tanggal teratasi

Nama perawat

: 13 juni 2011

: masalah teratasi sebagian

: Pravita terjadinya infeksi berhubungan : 13 juni 2011
: Pravita
terjadinya
infeksi
berhubungan
: 13 juni 2011

:14 juni 2011

Resiko

dengan

organisme pathogen melalui insersi pemasangan infus

Tanggal ditemukan

Tanggal teratasi

Nama perawat

: Pravita

Masuknya

mikro

4. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan Kurang

informasi

Tanggal ditemukan

: 13 juni 2011

Tanggal teratasi

: 14 juni 2011

Nama Perawat

: Pravita

44

1.

C. Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

anoreksia ditandai dengan :

Data subjektif :

a. Klien mengatakan mual

b. Klien mengatakan nafsu makan menurun

Data objektif :

a. Klien tampak makan habis ½ porsi

menurun Data objektif : a. Klien tampak makan habis ½ porsi b. BB sebelum sakit :

b. BB sebelum sakit : 63 kg

c. BB setelah sakit : 60 kg

d. Hasil Lab : Hb : 14 gr/dL

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan

kebutuhan nutrisi terpenuhi.

Kriteria Hasil :

a. Nafsu makan bertambah

b. Mual dan muntah berkurang

c. Makan habis 1 porsi

d. Berat badan bertambah secara bertahap

Rencana tindakan :

a. Kaji faktor penyebab klien tidak nafsu makan

Rasional : menentukan intervensi selanjutnya.

45

b. Berikan makanan yang hangat dalam porsi sedikit tapi sering

Rasional : dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makanan terlalu cepat

c. Hindari pemberian makanan

lambung

yang dapat merangsang peningkatan asam

Rasional : mengurangi pemberian asam lambung yang dapat menyebabkan

mual dan muntah.

d. Tanyakan pada klien tentang makanan yang disukai atau tidak disukai.

e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiemetic dan antibiotic

Rasional : menghilangkan mual.

antiemetic dan antibiotic Rasional : menghilangkan mual. f. Kolaborasi dengan dokter ahli gizi Menentukan diit

f. Kolaborasi dengan dokter ahli gizi

Menentukan diit makanan yang tepat.

Pelaksanaan :

Tanggal 13 Juni 2011

Pukul 08.00 mengkaji faktor penyebab klien tidak nafsu makan, hasil klien

mengatakan nafsu makan menurun karena adanya peningkatan asam lambung;

pukul 09.30 menanyakan makanan yang disukai dan tidak disukai oleh klien,

hasil klien mengatakan suka makanan apa saja; pukul 11.30 memberikan makan

siang (dilakukan oleh tim), hasil klien makan habis ½ porsi; memberikan obat

klien, syrup impepsa 15 ml diberikan dan diminum. Pukul 18.00 memberikan

obat antasid (dilakukan oleh tim), hasil panso diberikan 40 gr; pukul 19.00

memberikan makan malam (dilakukan oleh tim), hasil klien makan habis ¾

porsi; pukul 19.30 memberikan obat kien (dilakukan oleh tim), hasil syrup

46

pukul 22.30-05.00 klien istirahat dengan tenang; pukul 08.00 memberikan

makan, hasil klien makan habis 1 porsi dan klien tidak tampak mual saat makan.

Tanggal 14 Juni 2011

Pukul 08.30 memberikan obat antacid, hasil panso 40 gr diberikan lewat IV, hasil

klien merasa sedikit nyaman setelah diberikan obat; pukul 10.00 memberikan

makan, hasil klien makan habis 1 porsi dan klien tidak tampak mual saat makan.

Pukul 18.00 memberikan makan (dilakukan oleh tim), hasil klien makan habis 1

porsi, pukul 18.30 memberikan obat klien (dilakukan oleh tim), hasil syrup

pukul 21.00-05.30 klien istirahat
pukul
21.00-05.30
klien
istirahat

impepsa 15 ml diberikan dan diminum oleh klien, sedangkan injeksi panso 40 gr

dihentikan;

tenang;

pukul

06.00

dengan

memberikan makan klien (dilakukan oleh tim), hasil klien makan habis 1 porsi.

Evaluasi :

Tanggal 14 Juni 2011, pukul 08.00

S

: Klien mengatakan nafsu makan menurun karena peningkatan asam lambung

O

: Klien makan habis ½ porsi

A

: Masalah belum teratasi

P

: Lanjutkan intervensi :

a. Kaji factor penyebab klien tidak nafsu makan,

b. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiemetik atau antasid, dan

c. Kolaborasi dengan dokter ahli gizi

47

Tanggal 15 Juni 2011, pukul 08.00

S : Klien mengatakan nafsu makan sudah membaik karena sudah diberikan obat

untuk mual

O

: Klien tampak menghabiskan makanannya 1 porsi

A

: Masalah teratasi

P

: Intervensi dihentikan

2.

Gangguan

rasa

nyaman

:

nyeri

(akut)

berhubungan

dengan

abdomen ditandai dengan :

: nyeri (akut) berhubungan dengan abdomen ditandai dengan : Data subjektif : a. Klien mengatakan nyeri

Data subjektif :

a.

Klien mengatakan nyeri pada ulu hati sebelah kanan bagian atas

Data objektif :

a. Klien tampak meringis kesakitan dan sambil memegang perutnya

b. Skala nyeri : 5

c. Klien tampak gelisah

d. Klien tampak mencari posisi yang nyaman saat nyeri

distensi

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan

masalah gangguan rasa nyaman : nyeri teratasi.

Kriteria Hasil :

a. Rasa nyeri berkurang

b. Keadaan klien tampak rileks

48

d. TTV dalam batas normal (TD : 120/80 mmHg, N : 60-80 x/mnt, RR : 16-20

x/mnt, S : 36-37 o C)

Rencana tindakan :

a. Catat lokasi, lama, intensitas nyeri

Rasional : identifikasi karakteristik nyeri dan factor yang berhubungan untuk

memilih intervensi.

b. Observasi TTV

Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi.

c. Berikan posisi yang nyaman

keadekuatan volume sirkulasi. c. Berikan posisi yang nyaman Rasional : menurunkan rasa nyeri. d. Ajarkan teknik

Rasional : menurunkan rasa nyeri.

d. Ajarkan teknik manajemen nyeri

Rasional : menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi

rasa nyeri

e. Kolaborasi dalam pemberian analgetik

Rasional : menghilangkan nyeri sedang sampai berat.

Pelaksanaan :

Tanggal 13 Juni 2011

Pukul 08.00 mengobservasi TTV, hasil : TD 120/80 mmHg, Nadi 80 x/mnt, RR

20 x/mnt, Suhu 36 o C; pukul 11.00 mengkaji skala nyeri, hasil skala nyeri 5 dan

hilang timbul; pukul 13.00 memberikan posisi yang nyaman, hasil posisi kepala

klien 15 o dengan posisi tubuh sim, mengajarkan teknik relaksasi dengan tarik

nafas dalam, hasil klien istirahat dengan tenang; pukul 13.30 memberikan obat

klien spasmium 1 tablet, hasil obat diminum oleh klien; pukul 15.00 mengkaji

49

skala nyeri (dilakukan oleh tim) dengan hasil klien mengatakan nyeri pada ulu

hati dan klien tampak sakit sedang; pukul 16.00 mengkaji TTV (dilakukan oleh

tim) dengan hasil TD : 120/80 mmHg, Nadi 84 x/mnt, Suhu 36 o C; pukul 18.00

memberikan obat klien (dilakukan oleh tim), hasil obat spasmium 1 tablet

diberikan dan diminum oleh klien; pukul 21.00 mengkaji skala nyeri (dilakukan

oleh tim)

dengan hasil klien mengatakan nyeri pada perutnya, klien tampak

meringis dengan skala nyeri 6; pukul 22.00-05.00 klien istirahat, hasil klien

istirahat dengan tenang; pukul 05.30 mengkaji TTV (dilakukan oleh tim) klien

dengan hasil TD 120/80 mmHg, Nadi 80 x/mnt, suhu 36 o C; pukul 06.00-08.00

mmHg, Nadi 80 x/mnt, suhu 36 o C; pukul 06.00-08.00 klien istirahat. Tanggal 14 Juni 2011

klien istirahat.

Tanggal 14 Juni 2011

Pukul 08.00, mengkaji TTV (dilakukan oleh tim) dengan hasil TD : 120/80

mmHg, Nadi 84 x/mnt, Suhu 36 o C; Pukul 10.00 mengkaji skala nyeri klien

dengan hasil klien mengatakan nyeri menurun dengan skala nyeri 2; pukul 12.00

memberikan obat klien, hasil spasmium 1 tablet diberikan, hasil klien minum

obatnya; pukul 15.00 mengkaji skala nyeri (dilakukan oleh tim) dengan hasil

klien mengatakan nyeri pada ulu hati dengan skala nyeri 4; pukul 18.00

memberikan obat klien (dilakukan oleh tim), spasmium 1 tablet diberikan, hasil

klien minum obatnya; pukul 19.00 mengkaji TTV klien (dilakukan oleh tim)

dengan hasil TD 110/80 mmHg, nadi 80 x/mnt, suhu 36,3 o C; pukul 20.00-05.00

klien istirahat dengan tenang; pukul 05.30 mengkaji TTV klien dengan hasil TD

120/80 mmHg, nadi 80 x/mnt, suhu 36 o C; 06.00 memberikan obat klien

50

(dilakukan oleh tim), hasil spasmium 1 tablet diberikan; pukul 06.00-09.00 klien

istirahat.

Tanggal 15 Juni 2011

Pukul 09.00 mengkaji skala nyeri dengan hasil klien mengatakan nyeri sudah

menurun

dan

klien

mengatakan

nyeri

sudah

jarang

muncul;

pukul

12.00

memberikan obat klien, hasil spasmium 1 tablet diberikan dan diminum dan obat

dihentikan; Pukul 15.00 mengkaji skala nyeri (dilakukan oleh tim) dengan hasil

klien mengatakan nyeri sudah tidak ada; pukul 19.00 mengkaji TTV klien

nyeri sudah tidak ada; pukul 19.00 mengkaji TTV klien (dilakukan oleh tim) dengan hasil TD 110/80

(dilakukan oleh tim) dengan hasil TD 110/80 mmHg, nadi 80 x/mnt, suhu 36 o C;

pukul 20.00-05.30 klien istirahat dengan tenang

Evaluasi :

Tanggal 14 Juni 2011, pukul 08.00

S

: Klien mengatakan nyeri pada perutnya sebelah kiri dan Klien mengatakan

nyeri hilang timbul

O

A

: Klien tampak meringis kesakitan dan skala nyeri : 6, hasil TTV : TD 110/70

mmHg, Nadi 80 x/mnt, suhu 36 o C

: Masalah belum teratasi

P

: Lanjutkan intervensi :

a. Catat lokasi, lama, intensitas nyeri

b. Observasi TTV, dan

51

Tanggal 15 Juni 2011, pukul 08.00

S : Klien mengatakan nyeri padaulu hati sebelah kanan atas.

O : Klien terlihat sakit sedang, skala nyeri : 4, hasil TTV : TD 100/70 mmHg,

nadi 80 x/mnt, suhu 36 o C

A

: Tujuan tercapai sebagian, Masalah belum teratasi

P

: Lanjutkan intervensi :

a. Catat lokasi, lama, intensitas nyeri,

b. Observasi TTV, dan

c. Kolaborasi dalam pemberian antasid

b. Observasi TTV, dan c. Kolaborasi dalam pemberian antasid Tanggal 16 Juni 2011, pukul 08.00 S

Tanggal 16 Juni 2011, pukul 08.00

S

O

A

P

: Klien mengatakan nyeri sudah jarang muncul

: Skala nyeri 0, hasil TTV : TD 110/80 mmHg, nadi 80 x/mnt, suhu 36,3 o C

: Masalah teratasi

: Intervensi dihentikan

3. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan Masuknya mikro organisme

pathogen melalui insersi pemasangan infuse.

Data Subyektif

: Klien mengatakan tangan kiri terpasang IVFD sejak

tanggal 10 juni 2011 dan jenis cairan asering tetesan 20

TPM

Data Obyektif

: Klien terlihat terpasang IVFD asering 20 TPM, tidak

terdapat

tanda-tanda

pemasangan infus.

infeksi/phlebitis

pada

daerah

52

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan

Infeksi tidak terjadi.

Kriteria Hasil

: Menunjukan tehnik, melakukan perubahan pola hidup

Untuk menghindari infeksi / trnasmisi ke orang lain.

Rencana Keperawatan

:

a. Lakukan tehnik isolasi untuk infeksi enterik dan pernafasan

b. Awasi/btasi pengunjang sesuai indikasi

c. Jelaskan prosedur isolasi pada pasien/orang terdekat

c. Jelaskan prosedur isolasi pada pasien/orang terdekat d. Berikan informasi tentang adanya gama globulin, ISG,

d. Berikan informasi tentang adanya gama globulin, ISG, HBIG, vaksin

hepatitis Amelalui Depertemen Kesehatan atau Dokter keluarga.

Pelaskanaan :

Tanggal 13 Juni 2011

Pukul 10.30 WIB mengobservasi tanda-tanda infeksi, Hasil : tidak ada

phlebitis dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Melakukan perawatan infuse

1x24 jam dengan tehnik aspetik antiseptik.

Evaluasi

:

S

: -

O

: Tidak ada tanda-tanda terdapat infeksi

A

: Masalah teratasi

P

: Intervensi dihentikan

53

4. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurangnya

informasi.

Data subjektif :

a. Klien mengatakan tidak mengetahui tentang penyakitnya

Data objektif :

a. Klien tampak memikirkan penyakitnya

b. Klien tampak bertanya-tanya tentang penyakitnya

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 15 menit diharapkan

dilakukan tindakan keperawatan selama 15 menit diharapkan klien mengerti tentang penyakitnya. Kriteria hasil : a.

klien mengerti tentang penyakitnya.

Kriteria hasil :

a. Klien mengerti tentang penyakitnya

b. Pengetahuan klien bertambah

Rencana Tindakan :

a. Beri penkes tentang penyakitnya

Rasional : membantu individu dan keluarga untuk menggunakan gaya hidup

yang baik.

b. Berikan kesempatan pada klien untuk menanyakan hal yang ingin diketahui

berhubungan dengan penyakit yang dideritanya.

Rasional : memberikan pengetahuan dasar dimana klien dapat mengontrol

masalah kesehatan.

c. Berikan kesempatan pada klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang

diberikan perawat

Rasional : mengidentifikasi keberhasilan penkes.

54

d. Lakukan evaluasi

Rasional : melihat apakah penkes berhasil atau tidak.

Pelaksanaan :

Tanggal 13 Juni 2011

Pukul 10.30 mengkaji pengetahuan klien tentang penyakitnya, hasil klien masih

terlihat bingung tentang penyakitnya; Pukul 11.00 memberikan penkes tentang

penyakitnya, hasil klien mengerti tentang penyakitnya; memberikan kesempatan

pada klien untuk bertanya, hasil klien menanyakan penyebab penyakitnya;

untuk bertanya, hasil klien menanyakan penyebab penyakitnya; memberikan kesempatan pada klien untuk mengulangi kembali

memberikan kesempatan pada klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang

telah diberikan, hasil klien mengatakan pengertian gastritis, penyebab gastritis,

dan pencegahan gastritis; Pukul 11.30 melakukan evaluasi, hasil klien tampak

tidak bingung lagi dan klien mampu menyebutkan kembali penjelasan yang telah

diberikan.

Evaluasi :

Tanggal 13 Juni 2011, pukul 12.00

S

: Klien mengatakan sudah mengetahui tentang penyakitnya

O

: Klien mampu menyebutkan kembali penjelasan yang telah diberikan

A

: Masalah teratasi

P

: Intervesi dihentikan

55

Dalam

bab

BAB IV

PEMBAHASAN

ini

penulis

ingin

membahas

kesenjangan

antara

asuhan

keperawatan secara teoritis dengan asuhan keperawatan pada klien Tn. H

dengan diagnose medis hepatitis A di ruang Mawar Rumah Sakit Hospital

Puri Cinere, Depok. Pengkajian dilakukan pada tanggal 13 juni 2011. Pada

bab ini juga dikemukakan tentang factor pendukung, factor penghambat serta

solusi pemecahan masalah.

pendukung, factor penghambat serta solusi pemecahan masalah. A. Pengkajian Keperawatan Pengkajian dilakukan tanggal 13

A.

Pengkajian Keperawatan

Pengkajian dilakukan tanggal 13 juni 2011 dengan cara wawancara,

observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Dari hasil

pengkajian yang didapatkan, penulis menemukan kesenjangan antara teori

dan kasusTn. H yaitu data yang ada pada teori tetapi tidak terdapat pada

Tn. H yaitu pada manifestasi klinik tidak ditemukan adanya nyeri pada

otot, dan sakit kepala. Hal ini disebabkan karena pada obat analgetik

(parasetamol)

yang

tujuanya

untuk

menghilangkan

rasa

nyeri

klien.

Kemudian juga tidak ditemukan adanya ikterik, urin menjadi lebih coklat,

tinja berwarna kelabu atau kuning muda, atralgia, arthritis, urtikaria, ruam

kulit, hati membesar, dan nyeri tekan. Hal ini terjadi karena adanya

peningkatan kadar bilirubin, namun kadar bilirubin pada Tn. H tidak

mengalami peningkatan (bilirubin: 0,73 ; N: < 1,5 mg/dl)sedangkan data

yang ditemukan pada Tn. H tetapi tidak terdapat pada teori yaitu adanya

56

penurunan berat badan, nafsu makan berkurang, terjadi karena intake

makanan

tidak

adekuat

berkaitan

dengan

adanya

mual,

dan

kurang

pengetahuan klien mengenai penyakit yang diderita disebabkan oleh

kurang informasi.

Pada pemeriksaan penunjang pada Tn H hanya dilakukan pemeriksaan

SGOT / SGPT yang menunjukkan peningkatan, darah lengkap, feses,

albumin serum, HbsAg dengan hasil positif (+) dan bilirubinserum.

Sedangkan data lain yang terdapat dalam pemeriksaan penunjang pada

teoritis yang tidak terdapat pada kasus tidak dilakukan karena tidak dari

tidak dilakukan oleh penulis
tidak
dilakukan
oleh
penulis

pemeriksaan HbsAg telah ditemukan adanya virus hepatitis yang hasilnya

adalah positif, yang menunujukkan adanya virus hepatitis B. sehingga dari

pemeriksaan tersebut sudah menunjang klien Tn H

Penatalaksanaan medis yang dilakukan pada kasus Tn H sudah sesuai

dengan teoritis, hanya saja dalam penatalaksanaan terapi obat-obatan

adanya

keterbatasan

tradisional

karena

waktu, namun demikian penulis tetap memberikan penyuluhan tentang

obat-obatan tradisional pada klien sebagai informasi untuk menambah

pengetahuan klien. Pada terapi obat modern, vitamin K tidak diberikan

pada klien karena klien tidak mengalami pendarahan.

Faktor pendukung yang penulis rasakan adalah adanya kerja sama yang

baik antara penulis, klien dan keluarga serta perawata ruangan maupun

tenaga kesehatan lainnya. Faktor penghambat

yang penulis temukan

adalah

keterbatasan

penulis

mengenai

kurangnya

pengetahuan

dan

pemahaman

konsep

hepatitis.

Alternatife

pemecahan

masalah

yang

57

dilakukan

dengan membaca banyak referensi serta berkonsultasi pada

teman, perawata ruangan dan pembimbing institusi.

B. Diagnosa Keperawatan

Menurut teori Marylin E Doengoes, ada tujuh diagnosa keperawatan yang

ditemukan pada hepatitis, namun penulis hanya menemukan 4 diagnosa

yang terdapat pada klien. Adapun diagnosa keperawatan yang ada pada

teori

tetapi

tidak

terdapat

pada

Tn

H

yaitu

resiko

tinggi

terhadap

kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebih

dikarenakan klien cukup percaya Resiko tinggi terhadap
dikarenakan
klien
cukup
percaya
Resiko
tinggi
terhadap

primer

tidak

adekuat,

diri

infeksi

diagnosa

dikarenakan pada klien tidak terdapat

output yang berlebih (klien tidak

mengalami diare, perdarahan dan tidak ditemukan adanya asites), harga

diri ; rendah situasional berhubungan dengan perasaan negatif terhadap

tubuh,

dan

klien

mampu

mengidentifikasi perasaaan dan metode untuk koping terhadap persepsi

diri

berhubungan

dengan

ini

tidak

ditemukan

negatif.

pertahanan

dikarenakan pada klien tidak ditemukan data-data yang dapat menunjang

dan mengarah pada diagnosa tersebut, resiko tinggi terhadap integritas

kulit atau jaringan berhubungan dengan akumulasi garam empedu dalam

jaringan. Tidak ditemukan pada kasus disebabkan karena pada klien tidak

didapati adanya kadar bilirubin (kadar bilirubin pada klien : 0.73 N : <1.5

mg/dl ).

58

Faktor pendukung adanya kerja sama yang baik antara penulis dengan

klien, perawat ruangan, serta tenaga kesehatan lainnya dalam membantu

mendapatkan yang mempermudah dalam membuat diagnosa keperawatan.

Disamping itu, banyaknya referensi yang berhubungan dengan hepatitis.

Factor penghambat yaitu kurang aktualnya data-data penunjang seperti

hasil labratorium yang tidak dilakukan pemeriksaan ulang dan kurang

efisiensinya penulis pada saat mengelompokkan data yang ada pada klien

dalam menegakkan diagnose keperawatan, hal ini disebabkan karena

C.

adanya keterbatasan kemampuan dari penulis sendiri. Alternative dengan

data-data yang menunjang dalam pembuatan rencana tindakan
data-data
yang
menunjang
dalam
pembuatan
rencana
tindakan

mencari

penegakkan

diagnose

keperawatan dan membaca banyak referensi serta berkonsultasi pada

teman, perawat ruangan dan pembimbing institusi.

Perencanaan keperawatan

Dalam

keperawatan

penulis

membuat

rencana asuhan keperawatan disesuaikan dengan yang ada pada teori

berdasarkan

kondisi

klien/kebutuhan

utama

klien.

Adapun

prioritas

masalah pada Tn. H dibuat menurut kebutuhan dasar Hirarki Maslow.

Setelah

prioritas

masalah

ditetapkan

maka

selanjutnya

adalah

merumuskan tujuan. Rasionalisasi penetapan tujuan dan criteria hasil

yang penulis tetapkan adalah tujuan sesuai dengan teori SMART. Dengan

teori

tersebut

tindakan

yang

diharapkan

hasil

akan

dilakukan

yang

diinginkan

tercapai,

tidak

menyimpang

dari

dan

juga

masalah

keperawatan yang ada, sehingga tindakan menjadi efektif, efisien dan

59

langsung tertuju pada pemecahan masalah. Langkah terakhir dalam tahap

perencanaan adalah menentukan rencana tindakan.

Diagnosa 1 : gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan distensi

abdomen.

Diagnosa keperawatan ini, penulis tetapkan pada prioritas pertama karena

pada klien mengeluh nyeri pada perut sebelah kiri bagian bawah dengan

skala nyeri 3 apabila tidak ditangani terlebih dahulu skala nyeri akan

bertambah. Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24

jam diharapkan nyeri hilang dengan rencana tindakan yang akan dilakukan

nyeri hilang dengan rencana tindakan yang akan dilakukan yaitu observasi tanda-tanda vital, kaji skala nyeri, berikan

yaitu observasi tanda-tanda vital, kaji skala nyeri, berikan posisi yang

nyaman, ajarkan teknik relaksasi dengan tarik nafas dalam dan kolaborasi

dalam pemberian analgetik.

Diagnosa 2 : resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.

Diagnosa keperawatan ini, penulis tempatkan pada prioritas kedua karena

pada klien mengalami masalah pencernaan seperti mual dan nafsu makan

yang menurun, apabila tidak ditangani intake klien berkurang. Tujuan

setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nutrisi

klien terpenuhi. Kriteria hasil yang diharapkan mual tidak ada dan nafsu

makan membaik dengan makan habis 1 porsi. Rencana tindakan yang

dilakukan yaitu beri makanan lunak, beri makan sedikit tapi sering, hindari

makanan yang dapat merangsang lambung, dan kolaborasi dalam pemberian

obat antasid.

60

D. Pelaksanaan keperawatan

Pada tahap ini penulis melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan

keadaan klien dan rencana keperawatan yang telah disusun. Semua tindakan

di

dokumentasikan

dalam

catatan

keperawatan

dan

dalam

tindakan

keperawatan dapat dilakukan semua pada Tn. H meskipun adanya beberapa

hambatan.

Namun

semua

itu

kooperatif dan perawat ruangan

dapat

diatasi

dikarenakan

klien

sangat

yang berpartisipasi

dalam memberikan

informasi

tentang

tindakan

keperawatan

pada

klien

serta

pembimbing

institusi yang selalu memberikan masukan yang sangat berarti bagi penulis.

selalu memberikan masukan yang sangat berarti bagi penulis. Tindakan keperawatan sesuai dengan perencanaan keperawatan

Tindakan keperawatan sesuai dengan perencanaan keperawatan yang telah

disusun. Namun ada beberapa perbedaan dalam penulisan kata seperti kata

“ beri” diubah menjadi “ anjurkan “, hal ini dikarenakan klien masih dapat

melakukan aktivitas tanpa bantuan. Jadi peran perawat disini hanya sebatas

menganjurkan.

Faktor pendukung yang dirasakan penulis dalam melaksanakan tindakan

keperawatan

yaitu

adanya kerjasama

yang

baik

antara klien,

keluarga,

perawat

ruangan

serta

tenaga

kesehatan

lainya.

Sedangkan

faktor

penghambat yang dirasakan penulis yaitu perencanaan yang telah disusun

oleh

penulis

yang

sudah

sesuai

dengan

konsep

teoritis

tersebut

pada

kenyataanya tidak dapat dilakukan karena adanya permintaan dari klien

untuk pulang secara paksa dan permintaan tersebut diizinkan oleh dokter

yang bertugas pada hari itu. Sehingga adanya keterbatasan waktu dalam

setiap pelaksanakan tindakan keperawatan, yang hanya dapat penulis lakukan

61

dalam waktu 2 x 24 jam. Sedangkan waktu yang efisien dalam pencapaian

tujuan pada tinjauan kasus 3 x 24 jam. Alternatif pemecahan masalah yang

penulis lakukan yaitu dengan cara mengkonsultasikanya kepada pembimbing

 

institusi.

E.

Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, dimana pada

evauasi ini penulis menilai sejauh mana tujuan perawatan dapat tercapai.

Bentuk evaluasi terbagi dua, yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil.

terbagi dua, yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah yang dilakukan pada setiap akhir

Evaluasi proses adalah yang dilakukan pada setiap akhir melakukan tindakan

keperawatan sedangkan evaluasi hasil akan memberikan arah apakah rencana

tindakan dihentikan, dimodifikasi atau dilanjutkan. Evaluasi hasil ini dicatat

dan dapat dilihat pada catatan perkembangan yang meliputi aspek subjektif,

objektif, analisa dan planning.

Asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada Tn.H yaitu ada 4 diagnosa

keperawatan. Diantaranya ada 2 diagnosa yang tujuanya teratasi, 1 tujuannya

teratasi sebagian, 1 diagnosa yang tujuanya belum teratasi. Diagnosa yang

tujuanya

teratasi

yaitu

Resiko

terjadinya

infeksi

berhubungan

dengan

Masuknya mikro organisme pathogen melalui insersi pemasangan infus,

Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurangnya

informasi, ini teratasi karena klien yang kooperatif dalam bertanya mengenai

penyakitnya dan selama asuhan keperawatan dalam waktu 2

x24

jam

tersebut penulis

selalu mencoba berusaha untuk menjelaskan kepada klien

tentang penyakit yang dideritanya. Sehingga setelah penulis memberikan

62

penyuluhan kepada klien yang hanya dalam waktu 20 menit sebelum klien

pulang

ke

rumah,

klien

langsung

dapat

mengerti

penjelasan

yang

disampaikan penulis dibuktikan dengan: klien mengatakan sudah mengerti

tentang

penyakitnya.

Dibuktikan

dengan:

klien

menjelaskan

pengertian

penyakit hepatitis (hepatitis itu peradangan yang terjadi pada hati yang

disebabkan oleh virus), klien dapat menjelaskan penyakit hepatitis (penyebab

hepatitis adalah virus).

Faktor

pendukung

dalam

semua

tindakan

keperawatan

sesuai

rencana

keperawatan sehingga mempermudah dalam mengevaluasi eberhasilan tujuan

Adapun faktor penghambat yang
Adapun
faktor
penghambat
yang

tersbut.

ditemukan

adalah

adanya

keterbatasan waktu dikarenakan adanya permintaan dari klien untuk pulang

secara paksa dan permintaan dari klien untuk pulang secara paksa dan

permintaan dari klien untuk pulang secara paksa dan permintaan tersebut

diizinkan oleh dokter yang bertugas pada hari itu. Sehingga solusi yang

penulis lakukan adalah dengan memberikan penyuluhan kepada klien yang

dimaksudkan untuk memberi tambahan pengetahuan mengenai perawatan

pada penderita hepatitis.

A. Kesimpulan

BAB V

PENUTUP

63

Setelah menguraikan dan melaksanakan asuhan keperawatan pada klien Tn. H

dengan hepatitis di ruang Mawar Rumah sakit Hospital Cinere sejak tanggal

13

juni

2011,

penulis telah memberikan

gambaran secara

nyata dalam

merawat pasien dengan hepatitis, serta memecahkan masalah yang timbul

dengan menggunakan proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai

Maka pada kesempatan ini badan menurun, klien mengatakan
Maka
pada
kesempatan
ini
badan
menurun,
klien
mengatakan

dengan

evaluasi.

penulis

dapat

menarik

kesimpulan sebagai berikut:

Pada saat pengkajian yaitu tahap pengumpulan data yang dilakukan melalui

wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik data yang didapat serta tanda dan

gejala yang ditemukan yaitu mual, nafsu makan berkurang, nyeri pada ulu

hati,

berat

mengerti

tentang

kurang

penyakitnya.

Pemeriksaan

darah

dengan

hasil

:

hemoglobin:

16,7

g/dl,

hematokrit: 51 %, Leukosit: 6000 u/l, trombosit: 270.000 /ul.

Dari hasil pengkajian didapat masalah keperawatan yang muncul pada klien

dengan

hepatitis

sebagian

besar

sesuai

dengan

teori.

Yang

merupakan

prioritas utama masalah keperawatan pada klien tersebut adalah nyeri akut

berhubungan dengan distensi abdomen. Dan diagnosa lainya yang ditemukan

adalah resiko gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh,

resiko terjadinya infeksi, kurang pengetahuan tentang penyakitnya.

64

Pada tahap rencana tindakan keperawatan disusun berdasarkan SMART, yang

bertujuan untuk mengatasi masalah yang terjadi pada klien dimana dalam

penyusunanya penulis melibatkan perawat ruangan dan klien.

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sangat dibutuhkan kerja sama yang

baik dengan perawat ruangan, tim kesehatan lain, klien dan keluarga klien,

agar rencana tindakan keperawatan yang telah disusun dapat dilaksanakan

secara berkesinambungan sesuai dengan perencanaan dan sesuai dengan

tujuan pada asuhan keperawatan yang diberikan pada klien.

meningkatkan ilmu pengetahuan
meningkatkan
ilmu
pengetahuan

B. Saran

Guna mencapai keberhasilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada

klien dengan hepatitis di masa yang akan datang saran dari penulis adalah;

Bagi mahasiswa D III keperawatan khususnya Akper UPN “Veteran” Jakrta,

agar

lebih

keterampilan

dalam

dan

memberikan asuhan keperawatan.

65

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8.

Jakarta : EGC.

Carpenito, Linda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta :

EGC.

Corwin, Elizabeth J. (2000). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

J. (2000). Buku Saku Patofisiologi . Jakarta : EGC Doengoes, Marylinn E,( 2002). Rencana Asuhan Kepearawatan

Doengoes, Marylinn E,( 2002). Rencana Asuhan Kepearawatan Medikal Bedah.

Volume 3. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif, dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta : Media

Aesculapius.

Syamsuhidayat, R. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC

Tucker, Susan Martin, dkk. (1998). Standar Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.

66

66