Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang mengakibatkan
kekurangan visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan di dalam mata, seperti melihat air
terjun. Derajat disabilitas yang ditimbulkan oleh katarak dipengaruhi oleh lokasi dan densitas
keburaman. Intervensi diindikasikan jika visus menurun sampai batas klien tidak bisa
menerima perubahan, dan mungkin mempengaruhi gaya hidup klien. Katarak biasanya
mempengaruhi kedua mata tetapi masing-masing berkembang secara independen.
Jenis katarak yang paling sering ditemukan adalah katarak senilis dan katarak senilis
ini merupakan proses degeneratif ( kemunduran ). Perubahan yang terjadi bersamaan dengan
presbiopi, tetapi disamping itu juga menjadi kuning warnanya dan keruh, yang akan
menggangu pembiasan cahaya.
Walauoun disebut katarak senilis tetapi perubahan tadi dapat terjadi pada umur
pertengahan, pada umur 70 tahun sebagian individu telah mengalami perubahan lensa walau
mungkin hanya menyebabkan sedikit gangguan sedikit penglihatan.
Katarak adalah istilah kedokteran untuk setiap keadaan kekeruhan yang terjadi pada
lensa mata yang dapat terjadi akibat ghidrasi ( penambahan cairan lensa ), denaturasi protein
lensa atau dapat juga dari akibat kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan
progresif. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan
lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur
pada retina. Jumlah dan bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata bervariasi.
Tanpa pembedahan, katarak yang terjadi dapat memyebabkan kehilangan pandangan
komplit. Katarak terbagi menjadi beberapa jenis menurut perkembangan (katarak kongenital)
dan menurut degeneratif (katarak primer dan katarak komplikata).

1.2

TUJUAN
1

1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu membuat Asuhan Keperawatan Teoritis Pada Klien dengan diagnosa
medis katarak.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa mampu :
a. Menjelakan anatomi dan fisiologi mata.
b. Menjelaskan definisi penyakit katarak.
c. Menjelaskan penyebab penyakit katarak.
d. Menjelaskan macam-macam penyakit katarak.
e. Menjelaskan tanda dan gejala penyakit katarak.
f. Menjelaskan patofisiologi penyakit katarak.
g. Melakukan pemeriksaan diagnostik.
h. Melakukan penatalaksanaan penyakit katarak.
i. Menentukan cara pencegahan penyakit katarak.
j. Menentukan masalah keperawatan.
k. Melakukan pengkajian keperawatan.
l. Menentukan analisa data keperawatan.
m. Menentukan diagnosa keperawatan.
n. Menentukan perencanaan dan rasional keperawatan.
1.3

MANFAAT
1. Bagi penulis : Dapat lebih dalam mengenal Katarak sehingga dapat menjadi bekal untuk
penulis setelah lulus.
2. Bagi masyarakat : Dapat memberikan informasi yang benar kepada pasien,
keluarga, masyarakat sehingga dapat lebih mengenal dan mengetahui gambaran
Katarak.

1.4

SISTEMATIKA PENULISAN
1. BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Tujuan
c. Manfaat
d. Sistematika Penulisan
2. BAB II TINJUAN TEORITIS
a. Anatomi dan Fisiologi
b. Pengertian
c. Etiologi
d. Patway
e. Klasifikasi
f. Manifestasi Klinis
g. Patofisiologi
2

h. Pemeriksaan Diagsnotik
i. Penatalaksanaan
j. Pencegahan
k. Masalah Keperawatan
3. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS KATARAK
a. Data Fokus
b. Analisa Data
c. Diagnose Keperawatan
d. Intervensi dan Rasional Keperawatan
4. BAB IV PENUTUP
a. Kesimpulan
b. Saran
5. DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI
Mata adalah organ penglihatan. Saraf optikus atau urat saraf kranial kedua adalah
saraf sensorik untuk penglihatan. Saraf ini timbul dari sel-sel ganglion dalam retina yang
bergabung membentuk saraf optikus. Saraf ini bergerak ke belakang secara medial dan
melintasi kanalis optikus memasuki rongga kranium, lantas menuju kiasma optikum. Saraf
penglihatan memiliki 3 pembungkus yang serupa dengan meningen otak. Lapisan luarnya
kuat dan fibrus serta bergabung dengan skelera. Lapisan tengah halus seperti araknoid,
sementara lapisan dalam adalah vakuler ( mengandung banyak pembuluh darah).
Pada saat serabut-serabut itu mencapai kiasma optikum, separuh serabut-serabut itu
akan menuju ke traktus optikus sisi seberangnya, sementara separuhnya lagi menuju traktus
optikus sisi yang sama. Dengan perantaraan serabut-serabut ini, setiap serabut nervus optikus
dihubungkan dengan kedua sisi otak. Pusat visual terletak pada korteks lobus oksipitalis otak.
Bola mata adalah organ penglihat. Struktur yang berhubungan dilindungi dan
dilingkupi dalam tulang berongga bulat dianamakan orbita, serta dilindungi sejumla struktur,
3

seperti kelopak mata,alis, konjungtiva, dan alat-alat lakrimal (aparatu lakrimalis). Bola mata
yang menempati bagian kecil dari orbita, dilindungi dan dialasi oleh lemak yang terletak di
belakang bola mata. Saraf dan pembuluh darah yang mensuplai nutrisi dan mentransmisikan
impuls ke otak juga dalam orbita. Orbita merupakan rongga berpotensi untuk terkumpulnya
cairan, darah, dan udara karena letak anatominya yang dekat dengan sinus dan pembuluh
darah. Pendesakan komponen lain ke lengkungan orbita dapat menyebabkan pergseran,
penekanan, atau protusi bola mata dan struktur di sekitarnya. Meskipun ada perbedaan
individual pada mata tiap orang, biasanya ukuran dan posisinya mendekati semetris.
Bagian - bagian biji mata mulai dari depan hingga belakang :
1. Kornea, merupakan bagian depan yang transparan dan bersambung dengan skelera yang
putih dan tidak tembus cahaya, kornea terdiri atas berberapa lapisan. Lapisan tepi adalah
epitelium berlapis yang bersambung dengan konjungtiva.
2. Bilik anterior ( kamera okuli anterior),yang terletak antara kornea dan iris.
3. Iris adalah tirai berwarna di depan lensa yang bersambung dengan selaput koroid. Iris
berisi 2 kelopak serabut otot tak sadar atau otot polos-kelompok yang satu mengecilkan
ukuran pupil, sementara kelompok yang lain melebarkan ukuran pupil itu.
4. Pupil, bintik tengah yang berwarna hitam, yang merupakan celah dalam iris, tempat
cahaya yang masuk guna mencapai retina.
5. Bilik posterior( kamera okuli posterior) terletak di antara iris dan lensa. Bilik kanan. Baik
bilik anterior maupun bilik anterior maupun bilik posterior diisi dengan akueus humor.
6. Akueus humor. Cairan ini berasal dari korpus siliare dan diserap kembali ke dalam aliran
darah pada sudut antara iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai saluran
schlemm.
7. Lensa adalah sebuah benda transparan bikonveks(cembung depan belakang) yang terdiri
atas berberapa lapisan. Lensa terletak peris di belakang iris. Membran yang dikenal
sebagai ligamentum suspesorium terdapat di depan maupun dibelakang lensa itu, yang
berfungsi mengaitkan lensa itu pada korpus siliare. Bila legamentum suspensorium
mengendur, lensa mengerut dan menebal, sebaliknya bila ligamen mengendurnya lensa
dikendalikan kontraksi otot siliare.
8. Vitreus humor. Darah sebelah belakang biji mata, mulai dari lensa hingga retina, diisi
cairan penuh albumen berwarna keputih-putihan seprti agar-agar yaitu vitreus humor.
Vitreus humor berfungsi memberi bentuk dan kekokohan pada mata, serta
mempertahankan hubungan antara retina dan selaput koroid dan sklerotik.
2.2 PENGERTIAN

Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Biasanya terjadi
akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran( katarak kongenital). ( brunner &
suddarth .2001, keperawatan medikal bedah vol.3, EGC. Jakarta ).
Katarak adalah penurunan progresif kerjernihan lensa. Lensa menjadi keruh, atau
berwarna putih abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang. ( elizabeth J. corwin.2000,
buku saku patofisiologi, EGC. Jakarta ).
Katarak adalah kekeruhan( bayangan seperti awan) pada lensa tanpa nyeri yang
berangsur-angsur penglihatan kabur dan akhirnya tidak dapat menerima cahaya.( barbara C.
long. 1996, perawatan medikal bedah vol.2,Yayasan Alumni Keperawatan. Bandung ).
Katarak adalah keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa di
dalam kapsul lensa.( sidarta ilyas, 1998 ).
Katarak adalah suatu bagian yang kabur dan keruh pada lensa mata, yang disebabkan
oleh menebalnya zat-zat protein di dalam lensa itu sendiri. (Clifford R. 1982. Petunjuk
Modern Kepada Kesehatan. IPH. Bandung) .
Katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah gambaran
yang diproyeksi pada retina dan merupakan penyebab umum kehilangan pandangan secara
bertahap. (Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata/Indrian N. Istiqomah. Jakarta. EGC.
2004).
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa beberapa abad yang lalu
apabila pengurangan visus diperkirakan oleh suatu tabir (layar) yang diturunkan di dalam
mata, agak seperti melihat air terjun. (Perawatan Mata. Vera H. Darling, Margaret R. Thorpe).
Katarak(pasca operasi) adalah terjadinya opasitas progresif pada lensa atau kapsul
lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65
tahun.( Rencana Asuhan Keperawatan,M.E.Doenges. Jakarta.EGC.1999).
2.3 ETIOLOGI
Penyebab katarak meliputi :
1. Degeneratif ( ketuaan), biasanya dijumpai pada katarak senilis dikarenakan proses
degenerasi atau kemunduran serat lensa karena proses penuaan dan kemungkinan besar
menjadi menurun penglihatanya.
2. Trauma, contohnya terjadi pada katarak traumatika, seperti trauma tembus pada mata
yang disebabkan oleh benda tajam/ tumpul, radiasi( terpapar oleh sinar X atau bendabenda radioaktif).
3. Penyakit mata lain, seperti uveitis.
4. Penyakit sistemik(diabetes militus), contohnya terjadi pada katarak diabetika
dikarenakan gangguan metabolisme tubuh secara umum dan retina sehingga
mengakibatkan kelainan retina dan pembuluh-pembuluh darahnya. Diabetes akan
mengakibatkan kelainan dan kerusakan pada retina.
5

5. Defek kongenital, salah satu kelainan heriditer sebagai akibat infeksi virus prenatal)dan
katarak developmental terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan sebagai akibat dari defek
kongenital. Kedua bentuk ini mungkin disebabkan oleh faktor herediter, toksis,
nutrisional, atau proses peradangan.
2.4 PATWAY

2.5 KLASIFIKASI
7

Macam-macam katarak :
1. Katarak senile
Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di
atas 50 tahun. Pada katarak senil akan terjadi degenerasi lensa secara perlahan-lahan.
Tajam penglihatan akan menurun secara berangsur-angsur hingga tinggal proyeksi sinar
saja. Katarak senil merupakan katarak yang terjadi akibat terjadinya degenerasi serat
lensa karena proses penuaan.
Katarak senil dapat terbagi dalam berberapa stadium :
a. Katarak insipiens, dimana mulai timbul katarak akibat proses degenerasi lensa.
Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. Pasien
akan mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda dengan satu matanya.
Pada stadium ini proses degenerasi belum menyerap cairan mata ke dalam lensa
sehingga akan terlihat bilik mata depan dengan kedalaman yang normal, iris
dalam posisi biasa disertai dengan kekeruhan ringan pada lensa. Tajam
penglihatan pasien belum terganggu.
b. Katarak imatur, dimana pada stadium ini lensa yang degeneratif mulai terserap
cairan mata ke dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung. Terjadi
pembengkakan lensa yang disebut sebagai katarak intumesen. Pada katarak
imatur maka penglihatannya mulai berangsur-angsur menjadi berkurang, hal ini
diakibatkan media penglihatan tertutup oleh kekeruhan lensa yang menebal.
c. Katarak matur, merupakan proses degenarasi lanjut lensa. Terjadi kekeruhan
seluruh lensa. Tekanan cairan di dalam lensa sudah keadaan seimbang dengan
cairan dalam mata sehingga ukuran lensa akan menjadi normal kembali. Tajam
penglihatan sangat menurun dan dapat hanya tinggal proyeksi saja.
d. Katarak hipermatur, dimana pada stadium ini terjadi proses degenerasi lanjut
lensa dan korteks lensa dapat mencair sehingga nukleus lensa tenggelam di
dalam korteks lensa ( katarak morgagni). Pada stadium ini terjadi juga degenerasi
kapsul lensa sehingga bahan lensa ataupun korteks lensa yang cair keluar dan
masuk ke dalam bilik mata depan. Pada stadium hipermatur akan terlihat lensa
yang lebih kecil dari pada normal, yang akan mengakibatkan iris trimulans, dan
bilik mata depan terbuka.
2. Katarak congenital
Katarak kongenital merupakan kekeruhan lensa yang didapatkan sejak lahir, dan terjadi
akibat gangguan perkembangan embrio intrauterin. Katarak kongenital yang terjagi sejak
perkembangan serat lensa terlihat segera setelah bayi lahir sampai usia 1 tahun. Katarak
8

ini terjadi karena gangguan metabolisme serat-serat lensa pada saat pembentukan serat
lensa akibat gangguan metabolisme jaringan lensa pada saat bayi masih di dalam
kandungan. Pada bayi dengan katarak kongenital akan terlihat bercak putih di depan
pupil yang disebut sebagai leukokoria (pupil berwarna putih). Setiap bayi dengan
lekokoria sebaiknya difikirkan diagnosis bandingan seperti retinoblastoma, endoftalmitis,
fibroplasi retroletal, hiperplastik viterus primer, dan miopia tinggi disamping katarak
sendiri.
Berberapa macam jenis katarak kongenital :
a. Katarak lamelar atau zonular
Bila pada permulaan perkembangan serat lensa normal dan kemudian terjadi
gangguan perkembangan serat lensa. Biasanya perkembangan serat lensa
selanjutnya normal kembali sehingga nyata terlihat adanya gangguan
perkembangan serta lensa pada satu lamel daripada perkembangan lensa
tersebut. Katarak lamelar bersifat herediter yang diturunkan secara dominan dan
biasanya bilateral. Tindakan pengobatan atau pembedahan dilakukan bila fundus
okuli tidak tampak pada pemeriksaan funduskopi.
b. Katarak polaris posterior
Katarak polaris posterior ini terjadi akibat arteri hialoid yang menetap (persisten)
pada saat tidak dibutuhakan lagi oleh lensa untuk metabolismenya. Ibu dan bayi
akan melihat adanya leukokoria pada mata tersebut. Pada pemeriksaan akan
terlihat kekeruhan di dataran belakang lensa. Bila dilakukan pemeriksaan
funduskopi akan terlihat serat sisa arteri hialoid yang menghubungkan lensa
bagian belakang dengan papil saraf optik. Adanya arteri hialoid yang menetap ini
dapt dilihat dengan pemeriksaan ultrasonografi. Bila fundus okuli masih terlihat,
maka perlu tindakan bedah pada katarak polar posterior ini karena tidak akan
terjadi ambilopia eksanopsia. Bila fudus okuli tidak tampak, maka dialakukan
tindakan bedah iridektomi optik atau bila mungkin dilakukan lesenktomi. Ekstrasi
linear ataupun disisio lentis merupakan kontra indikasi karena akan terjadi tarikan
arteri hialoid dengan papil yang dapat mengakibatkan ablasi retina.
c. Katarak polaris anterior
Katarak polaris arterior atau piramidalis arterior akibat gangguan perkembangan
lensa pada saat mulai terbentuknya plakoda lensa. Pada saat ibu dengan
kehamilan kurang dari 3 bulan mendapat infeksi virus, maka amnionya akan
mengandung virus. Plakoda lensa akan mendapat infeksi virus hingga rubela
masuk ke dalam vesikel akan menjadi lensa. Gambaran klinis akan terjadi ialah
9

adanya keluhan ibu karena anaknya mempunyai leukokoria. Pada pemeriksaan


subjektif akan terlihat kekeruhan pada kornea dan terdapatnaya fibrosis di dalam
bilik mata depan yang menghubungkan kekeruhan kornea dengan lensa yang
keruh. Kekeruhan yang terlihat pada lensa terletak di polus anterior lensa dalam
bentuk piramid dengan puncak di dalam bilik mata depan. Kekeruhan lensa pada
katarak polar anterior ini tidak progresif. Pengobatan dilakukan bila kekeruhan
mengakibatkan tidak terlihatnya fundus bayi tersebut. Tindakan bedah yang
dilakukan adalah disisio lentis atau suatu ekstraksi linear.
d. Katarak sentral
Katarak sentral merupakan katarak halus yang terlihat pada bagian nukleus
embrional. Katarak ini terdapat 80% orang normal dan tidak menggangu tajam
penglihatan. Pengobatan tidak dilakukan pada katarak sentral karena tidak
menggangu tajam penglihatan dan fundus okuli dapat dilihat dengan mudah.
3. Katarak traumatic
Katarak traumatik adalah katarak yang terjadi akibat trauma lensa mata, serta robekan
pada kapsul sebagai akibat dari benda tajam. Apabila terjadi lubang yang besar pada
kapsul lensa, maka humor akuosus akan masuk ke dalam lensa dan menyebabkan
penyerapan lensa, serta menyebabkan uveitis.
4. Katarak juvenil adalah katarak yang terlihat setelah usia 1 tahun dapat terjadi karena :
a. Lanjutan katarak kongenital yang makin nyata.
b. Penyakit lain, katarak komplikata, yang dapat terjadi akibat :
1) Penyakit lokal pada satu mata,seperti akibat uveitis anterior, glaukoma,
ablasi retiana, miopia tinggi, ftsis bulbi, yang mengenai satu mata.
2) sistemik, seperti diabetes, hipoparatiroid, dan miotonia distrofi,yang
mengenai kedua mata akibat trauma tumpul ataupun tajam
Biasanya katarak juvenil ini merupakan katarak yang didapat dan
banyak

dipengaruhi oleh berberapa faktor.

5. Katarak komplikata
Katarak komplikata terjadi akibat gangguan keseimbangan susunan sel lensa faktor fisik
atau kimiawi sehingga terjadi gangguan kejernihan lensa. Katarak komplikata dapat
terjadi akibat iridosiklitis, miopia tinggi, abalasi retina dan glaukoma. Katarak
komplikata dapat terjadi akibat kelainan sistemik yang akan mengenai kedua mata atau
kelainan lokal yang akan mengenai satu mata.
6. Katarak diabetika
Katarak diabetika adalah katarak yang disebabkan oleh penyakit diabetes.
2.6 MANIFESTASI KLINIS
Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
10

1. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan
fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
2. Menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari
Gejala objektif biasanya meliputi:
1. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak
dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan
bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya
adalah pandangan menjadi kabur atau redup.
2. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan seakan-akan
melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
3. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih
,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.
Gejala umum gangguan katarak meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.


Peka terhadap sinar atau cahaya.
Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).\
Sulit membedakan warna.
Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
Kesulitan melihat pada malam hari
Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata
Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )

Gejala lainya adalah :


1. Sering berganti kaca mata
2. Penglihatan sering pada salah satu mata.
Kadang katarak menyebabkan pembengkakan lensa dan peningkatan tekanan di dalam
mata ( glukoma ) yang bisa menimbulkan rasa nyeri.
2.7 PATOFISIOLOGI
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih(bening), transparan,
berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung
tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di ferifer ada korteks, dan yang
mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia,
nukeus mengalami perubahan warna menjadi cokelat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat
densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior
merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela.

11

Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.


Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier ke daerah
di luar lensa,misalnya,dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia
dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan
menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein
lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa
yang tegang dan menggangu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim
mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dan
tidak ada pada pasien yang menderita katarak. Katarak biasanya terjadi bilateral, namun
menpunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun
sistemis, seperti diabetes, namun sebenarnya merupakan proses penuaan yang normal.
Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika seseorang
memasuki dekade ketujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasikan
awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan
penglihatan permanen. Faktor yang paling sering menyebaban terjadinya katarak meliputi
sinar UV B,obat-obatan,alkhol,merokok,diabetes,dan asupan vitamin antioksi dan yang
kurang dalam waktu yang lama.

2.8 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


1. Kartu mata snellen/mesin telebinokular (test ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan) : mungkin terganggu dengan kerusakan kornea,lensa, akueus atau vitreus
humor, kesalahan refraksi, atau penyakit sistem saraf atau penglihatan ke retina atau
jalan optik.
2. Lapang penglihatan : penurunan mungkin disebabkan oleh CSV, massa tumor pada
hipofisis/ otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.
3. Pengukuran tonografi : mengkaji intraorkuler (TIO)(NORMAL 12-25 mm Hg).
Pengukuran gonioskopi : membantu membedakan sudut terbuka atau sudut tertutup
glaukoma.
4. Test provokatif : digunakan dalam menentukan adanya/tipe glaukoma bila TIO normal
atau hanya meningkat ringan.
5. Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, mencatat atropi lepeng
optik, papiledema, pendarahan retina,dan mikroaneurisme. Dilatasi dan pemeriksaan
belahan-lampu memastikan diagnosa katarak.
6. lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukan anemia sistemik/ infeksi.
12

EKG, kolestrol serum, dan pemeriksaan lipid : dilakukan untuk memastikan


arterosklerosis, PAK.
7. Test toleransi glaukosa/ FBS : menentukan adanya/kontrol diabetes.
2.9 PENATALAKSANAAN
Tidak ada terapi obat untuk katarak, dan tak dapat diambil dengan pembesaran laser.
Namun, masih terus dilakukan penelitian mengenai kemajuan prosedur laser baru yang dapat
digunakan untuk mencairkan lensa sebelum dilakukan pengisapan keluar melalui kanula
(Pokalo, 1992).
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan reflaksi kuat sampai titik
dimana pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari, maka penanganan biasanya konservatif.
pentingnya di kaji efek katarak terhadap kehidupan sehari-hari pasien. Mengkaji derajat
gangguan fungsi sehari-hari, seperti berdandan, ambulasi, aktifitas rekreasi, menyetir mobil,
dan kemampuan bekerja, sangat penting untuk menentukkan terapi mana yang paling cocok
bagi masing-masing penderita.
Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut untuk
berkerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang
terbaik dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi, bila pandangan tajam mempengaruhi
keamanan atau kwalitas hidup, atau bila virsualisasi segmen posterior sangat perlu
mengevalusi perkembangan berbagi penyakit retina atau saraf optikus, seperti pada diabetes
dan glaukoma.
Pembedahan katarak adalah pembedahan yang sering dilakukan pada orang berusia
lebih dari 65. masa kini, katarak paling sering diangkat dengan anestesia lokal berdasar
pasien rawat jalan, meskipun pasien perlu dirawat bila ada indikasi medis. Keberhasilan
pengembalian penglihatan yang bermanfaat dapat dicapai pada 95% pasien.
Pengamblian keputusan untuk menjalani pembedahan sangat individual sifatnya.
Dukungan finansial dan psikososial dan konsekuensi pembedahan harus dievaluasi, karena
sangat penting untuk penatalaksanaan pasien pasca operasi.
Kebanyakan operasi dilakukan dengan anestesi lokal (retrobulbar atau peribulbar),
yang dapat mengimobilisasi mata. Obat penghilang cemas dapat diberikan untuk mengatasi
perasaan klaustreofobia sehubungan dengan graping bedah. Anestesi umum diperlukan bagi
yang tidak bisa menerima anestesi lokal, yang tidak mampu bekerjasama dengan alasan fisik
atau psikologis, atau yang tidak berespon terhadap anestesi lokal.

13

Ada dua macam teknik pembedahan tersedia untuk pengangkatan katarak: ekstrasi
intrakapsuler dan ekstrakapsuler. Indikasi intervensi bedah adalah hilangnya penglihatan yang
mempengaruhi aktivitas normal pasien atau katarak yang menyebabakan glaukoma atau
mempengaruhi diagnosis dan terapi gangguan okuler lain, seperti retinopatidiabetika.
2.10

PENCEGAHAN
Perawat sebagai anggota penting tim perawatan kesehatan, dan sebagai pendidik dan

praktiksi kebiasaan kesehatan yang baik, dapat memberikan pendidikan dalam hal asuhan
mata, keamanan mata, dan pencegahan penyakit mata. Perawat dapat mencegah membantu
orang belajar bagaimana mencegah kontaminasi silang atau penyebaran penyakit infeksi
kepada orang lain melalui praktek higiene yang baik. Perawat dapat mendorong pasien
melakukan pemeriksaan berkala dan dapat merekomendasikan cara mencegah cedera mata.
Kapan dan seringnya mata seseorang harus diperiksa tergantung pada usia pasien,
faktor resiko terhadap penyakit dan gejala orkuler. Orang yang mengalami gejala orkuler
harus segera menjalani pemeriksaan mata. Mereka yang tidak mengalami gejala tetapi yang
berisiko mengalami penyakit mata orkuler harus menjalani pemeriksaan mata berkala. Pasien
yang menggunakan obat yang dapat mempengaruhi mata, seperti kortekosteroid,
hidrokksikloroquin sulfat, tioridasin HCI, atau amiodarone, harus diperiksa secara teratur.
Yang lainya harus menjalani evaluasi glaukoma rutin pada usia 35 dan reevaluasi berkala
setiap 2 sampai 5 tahun.
2.11
1.
2.
3.
4.
5.
6.

MASALAH KEPERAWATAN
Gangguan persepsi sensori
Ansietas
Resiko injuri
Isolasi sosial
Resiko penyebaran infeksi
Deficit pengetahuan

14

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS KATARAK
3.1 DATA FOKUS
Data Objektif :
1. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil
2. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih
3. Katarak yang telah matang pupil akan tampak benar-benar putih
Data Subjektif :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau


Susah melihat di malam hari
Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek
Sulit membedakan warna
Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )
Penglihatan menjadi buram
Takut dan malu dengan penyakitnya.

3.2 ANALISA DATA


15

No
.
1

Problem
Gangguan
persepsi sensori

Ansietas

Resiko injuri

Isolasi social

Deficit
pengetahuan

Resiko
penyebaran
infeksi

Etiologi
Noda pada lensa (lensa keruh)

Mengaburkan pandangan

Jalan cahaya ke retina terhambat

Penglihatan buram, kehilangan penglihatan


Kematian jaringan pada lensa

Perubahan protein/senyawa kimia lensa

Noda pada lensa (lensa keruh)

Tindakan pembedahan lensa


Noda pada lensa

Jalan cahaya ke retina terhambat

Lensa tidak dapat memfokuskan ke retina

Sensitivitas dan ketajaman mata


Noda pada lensa (lensa keruh)

Mengaburkan pandangan

Jalan cahaya ke retina terhambat

Penglihatan buram, kehilangan penglihatan


Degenerasi lensa

Noda pada lensa (lensa keruh)

Tindakan pembedahan pada lensa

Ansietas
Perubahan protein/senyawa kimia lensa

Koagulasi serat protein

Noda pada lensa (lensa keruh)

Tindakan pembedahan lensa

3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN


16

Symtom
- Pupil yang berwarna putih
- Penurunan ketajaman
penglihatan
- Penglihatan menjadi buram
- Sulit melihat di malam hari
- Pupil yang berwarna putih
- Takut dan malu dengan
penyakitnya

- Pupil yang berwarna putih


- Penurunan ketajaman
penglihatan
- Penglihatan menjadi buram
- Sulit melihat di malam hari
- Penglihatan tidak jelas
- Pupil yang berwarna putih
- Takut dan malu
- Penglihatan tidak jelas,
seperti terdapat kabut
menghalangi objek
- Pupil yang berwarna putih
- Penurunan ketajaman
penglihatan
- Takut dan malu
- Pupil yang berwarna putih
- Penglihatan tidak jelas,
seperti terdapat kabut
menghalangi objek

1.
2.

Gangguan persepsi sensori yang berhubungan dengan kekeruhan pada lensa.


Ansietas yang berhubungan dengan kehilangan pandangan buram, jadwal pembedahan,

3.
4.

atau ketidak mampuan mendapatkan pandangan.


Resiko injuri yang berhubungan dengan sensitivitas dan pandangan menurun.
Isolasi sosial yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan, takut, cedera,

5.

penurunan kemampuan mengendalikan komunitas atau takut malu.


Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan terbatasnya informasi atau kesalahan

6.

interpretasi informasi yang sudah didapat sebelumnya.


Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan post op katarak.

3.4 INTERVENSI DAN RASIONAL KEPERAWATAN


1. Gangguan persepsi sensori yang berhubungan dengan kekeruhan pada lensa.
Tujuan : tidak terjadi perubahan visual
Kriteria hasil : dapat mendemonstrasikan peningkatan kemampuan untuk memproses
rangsangan visual dan mengkomunikasikan pembatasan pandangan
Intervensi
1. Kaji dan dokumentasikan ketajaman

Rasional
1. Menentukan seberapa bagus visus klien

penglihatan (visus) dasar


2. Dapatkan deskripsi fungsi tentang apa yang

2. Memberikan data dasar tentang pandangan

bisa dan tidak bisa dilihat oleh klien

akurat klien dan bagaimana hal tersebut


memengaruhi perawatan

3. Adaptasikan lingkungan dengan

3. Memfasilitasi kebebasan bergerak dengan aman

kebutuhan visual klien dengan cara orientasikan


klien padalingkungan
4. Letakkan alat-alat yang sering digunakan dalam 4. Mengemambangkan tindakan indevenden dan
pandangan klien (seperti, tv control, teko, tisu)

meningkatkan keamanan

5. Berikan pencahayaan yang paling sesuai

5. Meningkatkan penglihatan klien lokasi katarak

dengan klien

akan memengaruhi apakah cahaya gelap atau


terang yang lebih baik
6. Mencegah distres. Katarak akan memecah sinar

6. Cegah glare (sinar yang menyilaukan)

lampu yang akan menyebabkan distres


7. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah

7. Kehilangan pengihatan terjadi lambat dan

satu atau kedua mata terlibat

progresif, tiap mata dapat berlanjut dengan laju


yang berbeda, tetapi biasanya hanya satu mata
yang diperbaiki per prosedur.

8. Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, birara

8. Memberikan rangsangan sensori tepat terhadap

dan menyentuh sering

isolasi dan menurunkan bingung


17

9. Orientasikan pasien terhadap lingkungan dan

9. Memberikan peningkatan kenyamanan,

orang lain di areanya

menurunkan cemas dan disorientasi pascaoperasi

10. Ingatkan pasien menggunakan kacamata

10. Perubahan ketajaman penglihatan dan

katarak yang tujuannya memperbesar kurang

kedalaman persepsi dapat menyebabkan bingung

lebih 25%, penglihatan ferifer hilang. Dan buta

penglihatan/ meningkatkan resiko cedera sampai

titik mungkin ada

pasien belajar untuk mengkompensasi

11. Perhatikan tentang suram atau penglihatan

11. Gangguan penglihatan iritasi dapat berakhir 1-

kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila

2 jam setelah tetesan mata tetapi secara bertahap

menggunakan tetes mata

menurun dengan penggunaan

2. Ansietas berdasarkan kehilangan penglihatan


Tujuan : rasa takut berkurang dan tidak ditemukan.
Kriteria hasil : tidak terjadi perdarahan intra okuler dan tidak ada peningkatan tekanan
intra okuler.
Intervensi
Rasional
1. Kaji tingkat ansietas derajat pengalaman 1. Faktor ini mempengaruhi persepsi pasien
nyeri/timbulnya secara tiba-tiba dan pengetahuan terhadap ancaman diri, potensial siklus ansietas
kondisi saat ini

dan dapat mempengaruhi upaya medik untuk


mengontrol TIO

2. Dorong pasien untuk mengukur masalah dan 2.


mengekspresikan perasaan

Memberikan

kesempatan

untuk

pasien

menerima situasi nyata mengklasifikasi salah satu


konsepsi dan pemecahan masalah

3. Identifikasi sumber orang yang mendorong

3. Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak


sendiri dalam menghadapi masalah

3. Resiko injuri yang berhubungan dengan sensitivitas dan pandangan menurun.


Tujuan : Tidak terjadi cidera atau gangguan visual akibat jatuh
Kriteria hasil : Klien mampu mengidentifikasi hal yang dapat meningkatkan risiko
cidera. Klien mampu menyingkirkan benda yang berbahaya dari lingkungan. Dapat
melaporkan tidak mengalami cidera.
Intervensi
Rasional
1. Bantu pasien ketika mampu melakukan 1. Menurunkan resiko jatuh atau cedera ketika
ambulasi pascaoperasi sampai stabil dan mencapai langkah sempoyongan atau tidak mempunyai
18

penglihatan
memadai,

dan

keterampilan

menggunakan

koping

teknik

yang keterampilan koping untuk kerusakan penglihatan

bimbingan

penglihatan
2. Bantu pasien menata lingkungan

2. Memanfasilitasi kemandirian dan menurunkan


resiko cedera

3. Orientasikan pasien pada ruangan

3. Meningkatkan keamanan mobilitas dalam


lingkungan

4. Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau 4. Tameng logam atau kaca mata melindungi mata
kaca mata bila diperintahkan

terhadap cedera

5. Jangan memberikan tekanan pada mata yang 5. Tekanan pada mata dapat menyebabkan
terkena trauma

kerusakan serius lebih lanjut

6. Gunakan prosedur yang memadai ketika 6. Cedera dapat terjadi bila wadah obat menyentuh
memberikan obat mata
4.

mata

Isolasi sosial yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan, takut, cedera,
penurunan kemampuan mengendalikan komunitas atau takut malu.
Tujuan : tumbuhnya rasa percaya diri pasien dan pandangan mata tetap kontak.
Kriteria hasil : keluarga memberikan bantuan dalam penatalaksanaan pengobatan dan
perawatan mata pasca operasi.

Intervensi
Rasional
1. Jelaskan rutinitas pre dan post operasi katarak 1. Agar klien merasa lebih tenang dan siap saat
padaklien

serta

libatkan

keluarga

dalam melakukan oprasi

penjelasan yang berubungan dengan perawatan


pasca operasi.
2. Beritahu klien dan keluarga tentang obat mata 2. Untuk mempercepat proses penyembuhan
yang digunakan.

5. Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan terbatasnya informasi atau kesalahan


interpretasi informasi yang sudah didapat sebelumnya
Tujuan : Klien mengerti akan informasi seputar katarak
Kriteria hasil : Kembali kerumah dan bisa merawat diri dengan aman dalam lingkungan
yang telah disiapkan. Menembangangkan rencana perawatan diri dalam perubahan hidup
yan diinginkan.
INTERVENSI

RASIONAL
19

1. Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, 1. Meningkatkan pamahaman dan kerja sama
tipe prosedur lensa

dengan program pasca operasi

2. Informasikan pasien untuk menghindari tetes mata 2. Dapat bereaksi silang campur dengan obat
yang dijual bebas

yang diberikan

3. Anjurkan pasien menghindari membaca, berkedip, 3. Aktivitas yang menyebabkan mata lelah atau
mengangkat
membongkok

berat,
pada

mengejan
panggul,

saat
meniup

defekasi, regang

atau

meningkatkan

TIO

dapat

hidung, mempengaruhi hasil bedah dan mencetuskan

penggunaan sprey, bedak bubuk, merokok

perdarahan

4. Tekankan kebutuhan untuk menggunakan kaca 4. Mencegah cedera kecelakaan pada mata dan
pelindung selama hari pembedahan atau penutup menurunkan
padaa malam

resiko

peningkatan

TIO

sehubungan dengan berkedip atau posisi


kepala

5. Anjurkan pasien tidur telentang mengatur intensitas 5. Mencegah cedera kecelakaan pada mata
lampu dan menggunakan kaca mata gelap bila keluar
atau dalam ruangan terang, batuk dengan mulut atau
mata terbuka

6. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan post op katarak


Tujuan : Pertahanan primer yang adekuat
Kriteria hasil : Pencapaian pemulihan luka tepat waktu
Intervensi
Rasional
1. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum 1. Menurunkan jumlah bakteri pada tangan,
menyentuh/mengobati mata

mencegah area kontaminasi area operasi

2. Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk 2. Teknik aseptic menurunkan resiko penyebaran
membersihkan mata dari dalam ke luar dengan bakteri dan kontaminasi silang
tisu basah/bola kapas untuk tiap usapan, ganti
balutan,

dan

masukkan

lensa

kontak

bila

menggunakan.
3. Tekankan pentingnya tidak menyentuh atau 3. Mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi
20

menggaruk mata yang dioperasi.

operasi

4. Observasi tanda terjadinya infeksi contoh 4. Infeksi mata terjadi 2-3 hari setelah prosedur
kemerahan, kelopak bengkak, drainase purulen. dan memerlikan upaya intervensi. Adanya ISK
Identifikasi tindakan kewaspadaan bila terjadi

meningkatkan adanya resiko kontaminasi silang.

5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat 5. Topikal digunakan secara profilaksis, dimana
Antibiotik

(topical,

parenteral,

atau terapi lebih agresif diperlukan bila terjadi infeksi,

subkonjungtival) dan Steroid

steroid digunakan untuk menurunkan inflamasi.

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang mengakibatkan
kekurangan visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan di dalam mata, seperti melihat air
terjun. Derajat disabilitas yang ditimbulkan oleh katarak dipengaruhi oleh lokasi dan densitas
keburaman. Intervensi diindikasikan jika visus menurun sampai batas klien tidak bisa
menerima perubahan, dan mungkin mempengaruhi gaya hidup klien. Katarak biasanya
mempengaruhi kedua mata tetapi masing-masing berkembang secara independen.

21

Jenis katarak yang paling sering ditemukan adalah katarak senilis dan katarak senilis
ini merupakan proses degeneratif ( kemunduran ). Perubahan yang terjadi bersamaan dengan
presbiopi, tetapi disamping itu juga menjadi kuning warnanya dan keruh, yang akan
menggangu pembiasan cahaya.
4.2 SARAN
Dengan dibuatnya makalah Askep Teoritis Katarak ini, diharapkanakan memberikan
manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang berhubungan dengan bagaimana
melakukan sebuah proses asuhan keperawatan terutama pada anak yang mengalami katarak.
Namun penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu saran maupun kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi
kesempurnaan penulisan makalah ini, dengan demikian penulisan makalah ini bisa
bermanfaat bagi penulis atau pihak lain yang membutuhkannya.

DAFTAR PUSTAKA
Dongoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. ( I Made Kariasa, dkk,
penerjemah). Jakarta : EGC.
Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Perawatan Mata. Jakarta : CV. Sagung Seto.
Istiqomah, Indriyana N. 2004. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata. Jakarta : EGC.
Nursalam. 2007. Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktek, Ed. 2. Jakarta
: Salemba Medika.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Phathophysiologi Clinical Contect Of Disease Processe. Edisi
2. (Peter Anugrah, penerjemah). Jakarta : EGC.
Sidarta Ilyas, dkk. 2003. Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Gaya Baru.
22

Smeltzer, C Suzanne. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 2. ( H. Kuacara, dkk,


penerjemah ). Jakarta : EGC.

23