Anda di halaman 1dari 321
Fisika ubuh i EGC 1529 This is a translation of PHYSICS OF THE BODY, 2 Ed. Copyright © 1992, 1999 by John R. Cameron, James G Skofronick, and Roderick M. Grant Allrights reserved. FISIKA TUBUH MANUSIA, Ed.2 Alih bahasa: dr. Brahm U. Pendit Editor edisi bahasa Indonesia: dr. Chairunnisa Copy editor: Rio Raharjo Hak cipta terjemahan Indonesia © 2003 Penerbit Buku Kedokteran EGC PO. Box 4276/lakarta 10042 Telepon: 6530 6283 Anggota IKAPI Kerja sama penerjemahan dengan Badan Pertimbangan Pengembangan Buku Nasional, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Desain kulit muka: Yohanes Duta Kumia Utama Hak cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. Cetakan 1 : 2006 Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Cameron, John R. Fisika tubuh manusia/ John R. Cameron ... [et.al.] ; alih bahasa, Brahm U. Pendit ; editor edisi bahasa Indonesia, Chairunnisa. — Ed. 2 — Jakarta : EGC, 2006. xiii, 358 him. ; 15,5 x 24cm. Judul asli: Physics of the body, 2 ed. ISBN 979-448-775-9 1, Fisiologi. I. Judul. II. Pendit, Brahm U. II. Khairunnisa. 612 is oh uar tenggung jawab percstakan Daftar Isi Prakata xi 1__Terminologi, Pembuatan Model, dan Pengukuran 1 1.1 Terminologi..... 1.2 Pembuatan model .. 1.3 Umpan-balik 1.4 Pengukuran 2 Energi, Panas, Kerja, dan Daya Tubuh 15 2.1__Kekekalan Energi di Tubuh 2.2 Perubahan Energi di Tubuh 2.3 Kerja dan Daya 2.4 Pengeluaran Panas dari Tubuh . 2.4.4 Aliran Darah Vena Membantu Mengendalik. ‘Suhu Kulit ... se 2.4.5 Efek Busana—Clo cuss 2 31 3 Otot dan Gaya 33 3.1 Bagaimana Gaya Memengaruhi Tubuh ... 3.1.1 Sebagian dari Efek Gravitasi pada Tubuh 3.1.2 Gaya Listrik pada Tubuh 3.2__ Gaya Gesekan. 3.3 Gaya, Otot, dan Sendi 3.3.1 Otot dan Klasifikasiny 3.3.3 Kolumna Spinalis .. ) 3.3.4 Stabilitas Saat Berdiri eee 4B 3.3.5 Mengangkat dan Berjongkok 50 vii * Bahan dengan hak cipta viii Fisixa TusuH MANusia 3.4 __ Gaya Saat Tumbukai aay 3.4.1 Contoh Gaya-Gaya 35: 4 Fisika Tulang 4.1 Komposisi Tulang 4.4 Pengukuran Mineral. Tulang di Tubuh 5.1 Mengukur Tekanan di Tubuh . 5.2 Tekanan di Dalam Tengkorak . Tekanan di Mata .. ‘ 5.5 _Tekanan (Stres) pada Tulang 5.6 Tekanan di Kandung Kemih 5.7___Efek Tekanan Saat Menyelam 5.8 Terapi Oksigen Hiperbarik (TOH) 6 Osmosis dan Ginjal 6.1 __ Bagaimana Zat Diangkut dalam Cairan 6.2 Bagaimana Zat Dipindshéan lelalui 6.2.1 Difusi dan: ‘Solvent Drai 6.2.3 Transpor Aktif—Mengalir ke Arah yang Salah .. 6.3 Pengaturan Cairan Interstisial 6.4_ Ginjal..... 6.5 Ginjal Buatan Bahan dengan he ak cipta Daftar isi ; ix 7__ Fisika Paru dan Bernapas 130 7.1__Jalan Napas 7.2 __ Bagaimana Darah dan Paru Berinteraksi 7.3 Pengukuran Volume Paru . 7.4 _ Hubungan Tekanan-Kecepatan Aliran-Volume di Paru . 7.5 Fisika Alveolus .... 7.6 _Mekanisme Bernapas 7.7 Resistensi Jalan Napas 7.8 _ Kerja yang Dilakukan Saat Bernapas. 7.9 _ Fisika pada Beberapa Penyakit Paru Umum.. 8.1 8.2 8.3 8.4 8.5 8.6 8.7 8.8 8.9 8.10 Fisika Beberapa Penyakit Kardiovaskular Komponen Utama Sistem Kardiovaskular Pertukaran 07 dan CO) di Sistem Kapiler .. Kerja Jantung...... Tekanan Darah dan Pengukurannya Tekanan Darah di Dinding Pembuluh Darah (Tekanan Transmural) ..... Penerapan Prinsip Bernoulli pada Sistem Kardiovaskular Seberapa Cepat Darah Anda Mengalir? Aliran Darah—Laminar dan Turbulen .. Bunyi Jantung .... 8.11 Beberapa Fungsi Lain Darah .... 9 Sinyal Listrik dari Tubuh 196 9.1 Sistem Saraf dan Neuron ...... 198 9.2 Potensial Listrik Saraf. 199 9.3 Sinyal Listrik dari Otot—Elektromiogram 205 9.4 Sinyal Listrik dari Jantung—Elektrokardiogram 9.5 — Sinyal Listrik dari Otak—Elektroensefalogram .. 9.6 Sinyal Listrik dari Mata—Elektroretinogram dan Elektrookulogram ......... women eet 9.7 Sinyal Magnetik dari Jantung dan ‘Otak— Magnetokardiogram dan Magnetoensefalogram 9.8 — Riset Terakhir Mengenai Kelistrikan di Tubuh ... 10 Suara dan Bicara 10.1 Sifat Umum Suara .. 10.1.1 Sifat Fisik Suara .. 10.1.2 Tingkat Intensitas Suara—Desibel (dB)... 10.1.3 Pantulan dan Transmisi Suara di Penghalang 10.2 Tubuh sebagai Drum (Perkusi dalam Kedokteran) . 10.3 Stetoskop..... 10.4 Pembentukan Suara (Fonasi) 10.4.1 Daya dari Kata yang Diucapkan 10.4.2 Melihat Pita Suara 11. Fisika Telinga dan Pendengaran 11.1. Telinga dan Pendengaran .. 11.2. Telinga Luar.. 11.3. Telinga Tengah 11.4 Tuba Eustachius 11.5. Telinga Dalam . 11.6 Sel Rambut Berperan Penting dalam Deteksi 11.7 Sensitivitas Telinga..... 11.8 Menguji Pendengaran Anda 11.8.1 Audiometri Nada Murni .... 11.8.2 Mengukur /mmitance Telinga Tengah . 11.9 Tulidan Alat Bantu Pendengaran... 11.9.1 Penurunan Pendengaran Akibat Gangguan Hantaran dan Saraf.. 11.9.2 Alat Bantu Dengar ..... 11.10 Sistem Indra Vestibular—indra Keseimbangan ang Tersembunyii ........2.....+:++ 12. Fisika Mata dan Penglihatan 12.1 Elemen Pemfokus pada Mat 12.2 Beberapa Elemen Lain pada Mata . 12.3 Retina—Detektor Cahaya pada Mata 12.4 Ambang Penglihatan ..... 12.5 Efek Difraksi pada Mata... 12.6 Ketajaman Penglihatan—Seberapa Tajam Mata Anda? 12.7 llusi Optis dan Fenomena Terkait 12.8 _Gangquan Penglihatan dan Koreksinya 12.9 Penglihatan Warna dan Aberasi Kromati 12.10 Instrumen yang Digunakan dalam Oftalmologi Fisixa Tuau Manus 239 248 -254 255 - 256 258 -261 263 264 - 267 . 269 271 .271 .272 276 -276 277 Referensi Umum dan Bab 330 Apendiks A—Manusia Standar 337 Apendiks B—Sifat Pangkat dan Logaritma 339 Indeks 343 Prakata Pada abad ke-17 dan ke-18, fisika masih disebut sebagai Filsafat Alam (Natural Philosophy). Kata physics (fisika) berasal dari kata Yunani un- tuk alam dan merupakan akar kata bagi sejumlah kata medis, misalnya physician (dokter), physical (fisik/ tubuh), dan fisiologi (ilmu faal). Salah satu buku teks fisika pertama yang membahas fisika tubuh adalah Ele- ments of Physics or Natural Philosophy: General and Medical oleh dr. Neil Arnott, yang diterbitkan di London pada tahun 1827. Publikasi ini menandai dimulainya fisika kedokteran sebagai suatu disiplin yang koheren. Buku ini juga menimbulkan dampak besar pada pengajaran fisika di abad ke-19 dan pada perkembangan fisika kedokteran di abad ke-20. Buku ini sangat populer dan diterbitkan sampai enam edisi serta digunakan sebagai buku pegangan fisika selama kira-kira 75 tahun. Bidang ilmiah yang dicakup oleh fisika adalah benda/zat (matter), gaya (forces), dan energi dalam berbagai bentuk. Fisika memiliki dua bidang aplikasi penting dalam dunia kedokteran—fisika tubuh manu- sia (fisika fisiologi) dan fisika instramen yang digunakan untuk diag- nosis dan terapi. Dalam buku ini, kami membahas fisika tubuh. Kami sesekali menyinggung instrumen medis yang berkaitan dengan organ. yang sedang dibahas. Buku penyerta, Medical Physics: Instrumentation for Diagnosis and Therapy, yang sedang dipersiapkan, menjelaskan in- strumen kedokteran yang umum digunakan dan diperkirakan sudah terbit pada tahun 2000. Sebuah sebutan klasik untuk fisika tubuh manusia adalah iatrofisi- ka (iatrophysics). latro berasal dari kata Yunani untuk medis. Ahli iatro- fisika pertama adalah seorang ahii fisika Italia, Giovanni Alfonso Borelli. Bukunya De motu animalum (On the motions of animals, “Tentang gerak hewan”) diterbitkan pada tahun 1680 setelah ia meninggal. Buku ini membahas soal gerakan dan kontraksi otot, termasuk penjelasan ten- tang daya seekor ikan torpedo menimbulkan syok oleh kontraksi cepat sebuah otot yang sekarang dikenal sebagai organ elektrik. Kemudian pada abad ke-17 dan 18, Galileo dan temannya yang dokter Sanctori- ous menerapkan fisika pada pengembangan sejumlah instrumen ke- dokteran sederhana—termometer untuk menunjukkan suhu tubuh dan pendulum sederhana untuk mengukur kecepatan nadi. xi xii Fisixa TupuH Manusia Sementara peran kimia dan biologi dalam kedokteran sudah diakui dengan baik, peran fisika biasanya tidak terlalu jelas. Walaupun meng- ikuti kuliah fisika dasar, namun sebagian besar mahasiswa kedokteran dan keperawatan jarang atau tidak melihat penerapan fisika di bidang kedokteran. Kesenjangan komunikasi ini terutama disebabkan oleh banyaknya bahan di dalam kuliah fisika tingkat mahasiswa sehingga pembahasan tentang fisika tubuh kurang memadai. Penyebab kedua adalah bahwa, secara umum, dosen fisika kurang banyak memahami fisika tubuh. Buku ini ditulis terutama bagi mahasiswa yang ingin berkarier di bidang medis. Kami menjelaskan secara sederhana manfaat fisika un- tuk memahami fungsi berbagai sistem organ tubuh misalnya mata, te- linga, paru, dan jantung. Walaupun buku ini dibuat terutama sebagai buku teks untuk mereka yang memiliki pemahaman dasar tentang fisi- ka, namun kami percaya bahwa sebagian besar dari isi buku ini akan menarik dan dapat dipahami oleh semua orang yang ingin tahu ten- tang bagaimana tubuh bekerja. Matematika yang digunakan adalah matematika tingkat aljabar. Edisi baru Fisika Tubuh Manusia ini merupakan pembaruan dari edi- si pertama, yang sebaliknya merupakan revisi terhadap sekitar separuh dari isi buku Medical Physics oleh Cameron dan Skofronick, yang diter- bitkan oleh Wiley-Interscience pada tahun 1978. (Medical Physics sudah tidak diterbitkan dan hak ciptanya dikembalikan ke penulisnya). Edisi baru ini menyertakan perbaikan di beberapa bab, termasuk penambahan beberapa soal. Urutan bab telah dimodifikasi, dilakukan penambahan bahan baru mengenai gaya di bidang gigi, dan fisika telinga dan pen- dengaran sekarang menjadi bab terpisah dengan penambahan terinci tentang fungsi telinga dalam. Di seluruh buku ini digunakan sistem international (international system, SI) untuk satuan, tetapi biasanya juga diberikan satuan-satuan lain yang lazim digunakan dalam tanda kurung. Buku ini tidak di- maksudkan sebagai buku referensi, tetapi di akhir buku dilampirkan referensi umum serta bibliografi yang spesifik untuk setiap topik bab. Apendiks A menyajikan data tentang standar pada manusia. Logarit- ma dan pangkat digunakan di beberapa tempat; keduanya dibahas di Apendiks B. Profesor Emeritus Russell Hobbie dari the University of Minnesota, penulis buku teks yang lebih maju yaitu Intermediate Physics for Medi- cine and Biology, telah berbaik hati untuk menulis Bab 6 tentang fisika osmosis karena berkaitan dengan transportasi cairan melalui membran tubuh. Beliau juga memberi kontribusi dalam revisi Bab 9. Bantuan beliau sangat kami hargai. Kami berterima kasih kepada para sahabat yang membantu buku sebelumnya, Medical Physics, yang tercantum di prakata buku tersebut. Kami juga berterima kasih kepada Nn. Joy Opheim untuk kontribusi- nya tentang masalah fisika gigi. Kami mengucapkan terima kasih khusus Prakata xiii kepada Betsey Phelps, penyunting pada Medical Physics Publishing, untuk upayanya menerbitkan buku ini. Kami berhutang budi kepada istri kami, Von Cameron, Dot Sko- fronick, dan Sue Grant untuk kesabaran dan pengertiannya selagi kami menyelesaikan buku ini. . John R. Cameron James G. Skofronick Roderick M. Grant Gainesville, Florida Tallahassee, Florida Granville, Ohio Mei 1999 Bahan dengan hak cipta 11 1 Terminologi, Pembuatan Model, dan Pengukuran Di bab ini kami menyajikan empat topik besar. Pertama, kami meng- ulas apa yang dimaksud dengan fisika kedokteran dan menjelaskan beberapa ilmu yang terkait dan yang saling tumpang-tindih. Di Bagian 1.2 kami membahas pembuatan model (modeling), suatu konsep yang penting dalam sains, teknik, dan kedokteran. Di Bagian 1.3, kami mem- bahas dan memberikan contoh umpan-balik, suatu hal yang penting di banyak model. Terakhir, di Bagian 1.4, kami secara singkat membahas ketelitian dan keakuratan dalam pengukuran dengan menggunakan contoh yang diambil dari penelitian-penelitian mengenai tubuh manusia. Terminologi Istilah fisika kedokteran (medical physics) mengacu kepada dua bidang besar, yaitu (1) penerapan prinsip-prinsip fisika untuk memahami fung- si tubuh manusia dalam keadaan sehat dan sakit, serta (2) penerapan fisika dalam instrumentasi yang digunakan untuk diagnosis dan tera- pi. Yang pertama ini dapat disebut sebagai fisika fisiologi (physics of physiology); yang kedua sering disebut sebagai fisika kedokteran klinis (clinical medical physics). Kata fisik muncul di sejumlah konteks medis. Kata pitysicist (ahli ka) dan physician (dokter) memiliki akar yang sama di kata Yunani, yaitu physike (imu tentang alam). Baru satu generasi lalu di Inggris seorang professor of physic sebenarnya adalah seorang profesor kedok- teran. Saat ini, hal pertama yang dilakukan seorang dokter setelah melakukan anamnesis pasien adalah pemeriksaan fisik. Selama peme- riksaan, dokter menggunakan stetoskop untuk mendengar bunyi jan- tung, paru, dan darah di arteri; mengukur kecepatan nadi dan tekanan darah; serta dengan cara lain menerapkan berbagai prinsip dan teknik yang berasal dari fisika. Cabang ilmu kedokteran yang disebut sebagai physical medicine (kedokteran fisik) membahas tentang diagnosis dan pengobatan penyakit dan cedera dengan cara fisik, misalnya manipu- lasi, pemijatan, olahraga, panas, dan air. Physical therapy (terapi fisik) adalah terapi untuk penyakit atau kelemahan tubuh yang lebih mela- lui cara-cara fisik, misalnya pemijatan dan olahraga dibandingkan obat atau pembedahan. 1.2 Fisica Tuput MAnusia Pada hakikatnya, bidang biofisika (biophysics) seyogianya menca- kup fisika kedokteran sebagai suatu subspesialisasi yang penting. Na- mun, biofisika telah berkembang menjadi bidang yang relatif jelas batasannya dan tidak banyak berkaitan langsung dengan kedokteran. Biofisika terutama berkaitan dengan fisika biomolekul besar, virus, dan sebagainya, walaupun juga membahas fisika kedokteran dalam mem- pelajari transpor zat menembus membran sel. Sebagian besar ahli ke- dokteran fisik menggunakan fisika terapan dalam diagnosis dan terapi penyakit. Beberapa ahli kedokteran fisik telah melakukan riset untuk meningkatkan penerapan ilmu kedokteran saat ini. Bidang fisika kedokteran mempelajari konsep dan metode fisika yang diterapkan untuk mengobati penyakit manusia. Sebagian ahli fisi- ka kedokteran bekerja sebagai guru dan ilmuwan di universitas dan sekolah kedokteran, atau di bidang industri. Namun, sebagian besar dari mereka secara langsung terlibat dalam perawatan pasien di ru- mah sakit dalam bidang yang disebut fisika radiologis (radiological phys- ics). Mereka berperan dalam aplikasi fisika untuk masalah-masalah ra- diologis, misalnya penggunaan radiasi pengion (sinar-X, sinar-y, elektron, dan/atau radionuklida) dalam diagnosis dan /atau pengobat- an penyakit. Yang lainnya mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan penerapan prosedur diagnostik yang menggunakan alat dari berbagai bidang fisika terapan, misainya magnetic resonance imaging (MRD, ultrasonografi (misalnya ekokardiografi atau sonografi), dan laser. Ahli fisika yang berperan pada salah satu aktivitas di atas bi- asanya bergelar doktor (PhD) dan sangat terlatih khusus untuk tugas mereka. Secara profesional, mereka sering dikenal melalui keanggotaan di the American Association of Physicists in Medicine (AAPM). AAPM. memiliki anggota lebih dari 4000 orang. Pembuatan Model Walaupun para ahli fisika meyakini bahwa dunia fisik tunduk pada hukum-hukum fisika, namun mereka juga menyadari bahwa penjabaran beberapa situasi fisik secara matematis adalah sangat rumit sehingga sulit ditemui pemecahannya. Sebagai contoh, apabila Anda merobek sedikit ujung halaman buku ini dan membiarkannya jatuh ke lantai, maka serpihan kertas tersebut akan melakukan berbagai gerakan me- lingkar. Perjalanan serpihan kertas ini akan ditentukan oleh hukum- hukum fisika, tetapi mustahil kita dapat menuliskan persamaan yang menjelaskan perjalanan tersebut. Ahli fisika akan sependapat bahwa gaya gravitasi akan menyebabkan serpihan bergerak dengan arah menu- ju lantai apabila tidak ada interferensi dari gaya lain. Aliran udara dan elektrisitas statik dapat memengaruhi perjalanan serpihan tersebut. Demikian juga, walaupun hukum-hukum fisika berperan dalam semua aspek fungsi tubuh, namun setiap situasi sedemikian rumitnya sehing- ga kita tidak mungkin dapat memprediksi perilaku pasti dengan meng- Terminologi, Pembuatan Model, dan Pengukuran 3 gunakan pemahaman kita tentang fisika. Bagaimanapun, pengetahuan tentang hukum-hukum fisika akan membantu kita memahami fisiolo- gi dalam keadaan sehat maupun sakit. Kadang-kadang dalam upaya memahami suatu fenomena fisik, kita menyederhanakannya dengan memilih ciri-ciri utamanya dan meng- abaikan aspek yang kita anggap kurang penting. Penjelasan kami mung- kin hanya benar sebagian, tetapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Dalam mencoba memahami aspek-aspek fisik tubuh, kita sering mengandalkan analogi. Ingatlah bahwa analogi tidak pernah sempur- na. Sebagai contoh, di banyak aspek, mata analog dengan kamera TV; namun, analogi ini kurang tepat apabila kita mempertimbangkan peng- lihatan tiga dimensi (3D). Di buku ini kami sering menggunakan analogi untuk membantu menjelaskan sebagian aspek dari fisika tubuh. Kami berharap hal ini berhasil, tetapi tolong diingat bahwa semua penjelasan sedikit banyak kurang sempurna. Situasi yang sebenarnya selalu lebih rumit daripada yang kami jelaskan di buku ini. Banyak analogi yang digunakan oleh ahli fisika menggunakan model—pembuatan model adalah hal yang lumrah dalam aktivitas ilmiah. Seorang ahli fisika terkenal di abad ke- 19, Lord Kelvin, berkata, “Saya belum merasa puas sampai saya dapat membuat model mekanis dari suatu hal. Apabila saya dapat membuat suatu model mekanis, berarti saya sudah memahaminya!” Sebagian model menggunakan fenomena fisik yang tampaknya sama sekali tidak berkaitan dengan subjek yang sedang dibahas; sebagai con- toh, suatu model aliran darah yang direpresentasikan oleh aliran lis- trik sering digunakan dalam studi sistem sirkulasi tubuh. Model listrik ini dapat dengan baik mensimulasi banyak fenomena sistem kardio- vaskular. Tentu saja, apabila Anda tidak memahami fenomena listrik maka model ini tidak banyak membantu. Seperti yang telah disinggung, semua analogi juga memiliki keterbatasan. Darah terbentuk dari sel darah merah dan plasma. Persentase sel darah merah (hematokrit) dalam darah berubah sewaktu darah mengalir ke ekstremitas. Fenomena ini (dibahas di Bab 8) sulit disimulasikan oleh model listrik. Model lain adalah model matematis; persamaannya adalah model matematis dapat juga digunakan untuk menjelaskan dan memperkira- kan perilaku fisik sebagian sistem. Dalam dunia fisika sehari-hari, kami memiliki banyak sekali persamaan semacam itu. Sebagian persamaan tersebut sangat sering digunakan sehingga disebut hukum. Sebagai contoh, hubungan antara gaya (F), massa (m), dan percepatan (a)—yang biasanya ditulis F = ma—dikenal sebagai hukum Newton kedua. Ter- dapat bentuk matematis lain dari hukum ini yang mungkin tampak cukup berbeda bagi orang awam tetapi dikenal oleh ahli fisika sebagai cara lain untuk menyatakan hal yang sama. Hukum kedua Newton di- gunakan di Bab 2 dalam bentuk F = A(mv)/At, dengan v adalah kece- patan, t adalah waktu, dan A (delta) menunjukkan perubahan kecil kuantitas. Kuantitas mv adalah momentum, dan A(mv)/At dibaca se- Fisxa TusuH Manusia 13 bagai kecepatan perubahan momentum terhadap waktu. Bentuk hu- kum Newton kedua ini identik dengan F = ma. Umpan-Balik Salah satu kata favorit para ahli fisika adalah fungsi. Simbol untuk fungsi, fjangan dicampur-adukkan dengan simbol untuk gaya F. Persamaan W = f(H) berarti berat W adalah fungsi dari tinggi H. Persamaan ini tidak menjelaskan kaitan antara berat dan tinggi atau faktor lain apa yang ikut berperan. Ini adalah sejenis steno matematis. Dalam bidang, medis kita dapat menulis R = f(P) untuk menunjukkan bahwa denyut jantung R adalah fungsi dari daya yang dihasilkan oleh tubuh P. Lang- kah selanjutnya—menghapus f dan menuliskan persamaan yang men- jelaskan secara spesifik bagaimana berbagai faktor berkaitan satu sama lain—adalah yang tersulit. Seorang peneliti medis dapat menggunakan suatu model dari be- berapa fungsi tubuh untuk memperkirakan sifat yang tidak diduga se- belumnya. Sebaliknya, sebagian model sangat sederhana sehingga ha- nya bermanfaat sebagai petunjuk untuk menghasilkan model yang lebih baik. Banyak parameter tubuh yang relatif konstan (misalnya stabilitas suhu atau kalsium darah), Homeostasis adalah kata medis yang, men- jelaskan kecenderungan tubuh untuk mempertahankan stabilitas. Dalam fisika atau teknik, hal ini disebut kontrol umpan-balik. Seorang, insinyur yang ingin mengontrol kuantitas yang berubah seiring dengan waktu, akan mengambil sampel tentang apa yang sedang dihasilkan dan menggunakan sampel ini sebagai sinyal untuk mengontrol produksi sampai ke tahap tertentu. Sehubungan dengan itu, sebagian dari produksi/keluaran dimasukkan kembali ke pangkal/asal untuk me- ngendalikan produksi. Apabila sistem dirancang sedemikian rupa se- hingga peningkatan keluaran menghasilkan sinyal umpan-balik yang mengurangi produksi dan bahwa penurunan keluaran menghasilkan sinyal umpan-balik yang meningkatkan produksi, maka umpan-balik- nya bersifat negatif. Umpan-balik negatif menghasilkan kontrol yang stabil, sedangkan umpan-balik positif, yaitu perubahan sampel meng- hasilkan umpan-balik yang menyebabkan perubahan dalam arah yang sama, menghasilkan kontrol yang tidak stabil. Salah satu contoh mekanisme umpan-balik negatif (homeostasis) yang penting di dalam tubuh adalah pengendalian glukosa (gula) darah. Manusia normal mempertahankan kadar glukosa kira-kira 850 mg/li- ter (Ini biasanya ditulis sebagai 85 mg/dl). Yaitu, kira-kira 0,085% dari darah Anda adalah glukosa atau pada orang dewasa rerata terdapat kira-kira lima gram gula—kira-kira seperenam ons. Glukosa adalah ba- han bakar bagi otak. Seperti oksigen, glukosa sangat penting bagi ke- hidupan dan digunakan secara terus-menerus. Kadar glukosa yang ter- lalu tinggi atau terlalu rendah menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Saat Anda makan, glukosa darah Anda meningkat dalam wak- Terminologi, Pembuatan Model, dan Pengukuran 5 tu kira-kira 30 menit. Pankreas mendeteksi peningkatan kadar ini dan membebaskan insulin ke dalam darah untuk mempercepat pemakaian glukosa oleh sel sehingga kadar glukosa dipertahankan dalam batas normal. Pankreas pada pengidap diabetes tipe 1 (penyakit yang kadang- kadang disebut “diabetes juvenil”) tidak mampu menghasilkan insu- lin dan kadar glukosa dapat menjadi beberapa kali lipat lebih tinggi daripada normal. Hal ini dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Tubuh berupaya mengendalikan kadar glukosa dengan cara lain. Cara yang paling jelas untuk mengurangi glukosa, apabila tidak terda- pat insulin, adalah ginjal “membuang” sebagian dari kelebihan gluko- sa ke dalam urin bersama dengan air. Hal ini menyebabkan urin men- jadi manis dan pengeluaran air sehingga penderita menjadi sering berkemih dan haus. Risiko jangka-panjang yang serius akibat kelebih- an glukosa ini adalah kerusakan sistem sirkulasi yang kadang-kadang, menyebabkan amputasi kaki, kebutaan, gangguan fungsi ginjal, dan kerusakan saraf. Sampai tahun 1923, saat insulin ditemukan, harapan hidup bagi pengidap diabetes tipe 1 sangat pendek. Saat seseorang yang normal dan sehat tidak makan, glukosa menu- run oleh metabolisme normal. Kadarnya dapat turun di bawah nor- mal. Sensor di pankreas memicu kontrol umpan-balik untuk mengeks- kresikan hormon lain, glukagon, yang merangsang hati untuk melepaskan glukosa ke dalam sirkulasi. Kontrol umpan-balik ini bi- asanya menjaga kadar glukosa darah kira-kira 800 mg/liter. Produksi glukosa dengan cara ini dapat berlangsung berhari-hari apabila sese- orang tidak makan. Pankreas pada pengidap diabetes tipe 1 tidak meng- hasilkan glukagon, dan kadar gula darah yang rendah—hipoglikemia— cepat menyebabkan gangguan keadaan mental dalam waktu kurang dari sejam. Ini adalah salah satu tanda awal hipoglikemia. Hipoglike- mia juga menyebabkan hilangnya pengendalian motorik yang dapat berisiko besar apabila Anda sedang mengemudisaat itu. Apabila hipo- glikemia berat ini berlanjut, penderita akan koma dan akhirnya me- ninggal jika kadar glukosa tidak meningkat. Sebagian pengidap diabe- tes disangka mabuk saat mereka kehilangan pengendalian otot. Orang sehat normal memiliki mekanisme umpan-balik untuk men- jaga kadar glukosa agar tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Na- mun, pengidap diabetes tipe 1 tidak dapat mengendalikan keduanya. Dengan menyuntikkan insulin sebelum makan, pasien diabetes mam- pu secara kasar mengontrol kadar glukosa yang tinggi. Mereka dapat mengatasi kadar glukosa darah yang rendah dengan makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering daripada orang non-diabetes. Dalam keadaan darurat, apabila pengidap diabetes tidak dapat makan, dapat disuntik- kan glukagon secara temporer untuk merangsang pelepasan glukosa oleh hati. Pengidap diabetes sebaiknya makan sebelum kadar gula darah menjadi terlalu rendah. Telah terjadi banyak kemajuan dalam pengen- dalian diabetes, misalnya penemuan alat pemeriksa kadar glukosa in- dividual. Alat penguji ini hanya memerlukan setetes darah pasien, se- Fisixa TusuH Manusia 1.4 panjang hari, untuk mengendalikan gula darah. Namun, alat ini tidak sepadan apabila dibandingkan dengan sensor umpan-balik canggih dan mekanisme kontrol pankreas. Kontrol umpan-balik negatif lazim terdapat di dalam tubuh. Fungsi penting lainnya pada tubuh adalah mengontrol kadar kalsium dalam darah. Apabila kadar turun terlalu rendah, maka tubuh membebaskan kalsium dari tulang untuk meningkatkan kadamya dalam darah. Apa- bila kalsium yang dibebaskan terlalu banyak, tubuh akan menurunkan kadar dalam darah dengan mengeluarkan sebagian kalsium melalui ginjal. Walaupun banyak mekanisme kontrol di dalam tubuh yang be- lum dipahami, berbagai penyakit diketahui telah berkaitan langsung dengan kegagalan mekanisme-mekanisme tersebut. Sebagai contoh, seiring dengan tumbuhnya tubuh, jumlah sel meningkat sampai tubuh mencapai ukuran dewasa, dan setelah itu ukuran tubuh lebih kurang tidak berubah di bawah suatu jenis kontrol umpan-balik. Kadan; kadang sebagian sel tidak berespons terhadap kontrol umpan-balik i dan menjadi tumor. Pengukuran Salah satu karakteristik utama ilmu pengetahuan adalah kemampuan- nya menghasilkan pengukuran kuantitas suatu parameter. Dalam prak- tik kedokteran, upaya-upaya yang dulu dilakukan untuk mengukur kuantitas parameter tertentu sering dicemooh karena dianggap menu- runkan keterampilan dokter. Sebagai contoh, walaupun suhu tubuh dan denyut nadi sudah dapat diukur sejak abad ke-17, namun kedua peng- ukuran tersebut belum dilakukan secara rutin sampai abad ke-19. Sela- ma abad terakhir terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang man- tap dalam bidang kedokteran seiring dengan meningkatnyajumlah dan keakuratan pengukuran kuantitatif dalam praktik klinis. Bahkan, da- pat dikatakan bahwa banyak pengukuran sekarang dilakukan secara lebih akurat daripada yang diperlukan untuk tujuan klinis. Perubahan kuantitas terhadap waktu sering kali menjadi lebih penting. Maksud- nya adalah kecermatan (pengulangan) lebih penting daripada keaku- ratan (Lihat pembahasan tentang kecermatan dan keakuratan pada bagi- an selanjutnya). Gambar 1.1 memperlihatkan beberapa pengukuran yang lazim di- gunakan di bidang kedokteran. Sebagian dari pengukuran ini lebih memberikan hasil yang spesifik daripada yang lain. Sebagai contoh, pemeriksaan sinar-X hanya memberikan informasi kualitatif tentang bagian dalam tubuh; pengulangan foto sinar-X dengan mesin yang ber- beda mungkin memberikan gambaran yang tampak berbeda bagi pengamat yang tidak terlatih. Dalam kuliah pengantar fisika dipelajari banyak jenis pengukuran. Secara umum, untuk mengukur berbagai kuantitas digunakan satuan Sistem International (SI), atau satuan metrik. Sayangnya, sistem ini tidak umum digunakan di Amerika Serikat dibandingkan di sebagian besar Terminologi, Pembuatan Model, dan Pengukuran 7 BERAT BADAN DENYUT NADI TEKANAN DARAH Gambar 1.1. Beberapa pengukuran yang sering dilakukan di bidang kedokteran. PENGUKURAN FOTO SINAR-X VOLUME belahan dunia lainnya. Satuan SI dasar yang kami gunakan di buku ini adalah meter (m) untuk panjang, kilogram (kg) untuk massa, dan detik (dtk) untuk waktu. Untuk mempermudah, kami sering menggunakan satuan yang lebih besar atau kecil. Jelasnya, kami menggunakan baik satuan yang lebih besar maupun yang lebih keeil agar lebih mudah dipahami. Berikut ini adalah beber- apa contoh. sentimeter (cm) = 107 “seperseratus meter” milimeter (mm) = 10° “seperseribu meter” mikrometer (um) = 10° “sepersejuta meter” nanometer (nm) = 10° “sepersemilyar meter” gram (g) = 10° kg “seperseribu kilogram” miligram (mg) = 10° g “seperseribu gram” atau 10° kg “sepersejuta kilogram” Kami kadang-kadang menyajikan kuantitas dalam satuan Inggris misalnya kaki, pon, dan galon agar visualisasinya lebih mudah, dan kadang-kadang kami menggunakan satuan yang umum digunakan di cabang ilmu kedokteran tertentu di Amerika Serikat. Penggunaan suatu satuan mengisyaratkan bahwa terdapat suatu satuan standar atau “sejati” yang dapat dijadikan pembanding bagi satuan tersebut. Sebagian besar negara modem memiliki laboratorium yang mengkhususkan diri dalam standardisasi sistem pengukuran. Di MASALAH Fisixa TusuH Manusia Amerika Serikat, the National Institutes of Standards and Technology (NIST) yang terletak di Gaithersburg, MD, melaksanakan fungsi ini. NIST tidak banyak berhubungan dengan kedokteran, tetapi berperan penting dalam menstandardisasi pengukuran radiasi pengion untuk pengobat- an kanker. Di dunia kedokteran di Amerika Serikat, banyak kuantitas yang di- nyatakan dalam satuan nonstandar. Sebagai contoh, sementara satuan Si untuk tekanan adalah pascal (Pa) atau gaya per satuan luas (dalam newton per meter persegi), tekanan darah di Amerika Serikat umum- nya dinyatakan dalam milimeter air raksa (mmHg), tinggi suatu kolom cairan! Panjang ini adalah tinggi sebuah kolom air raksa yang tekanan- nya di dasar setara dengan tekanan darah. Kami membahas tekanan darah lebih lanjut di Bab 5, 7, dan 8. Satuan medis nonstandar yang tidak lagi digunakan tetapi memili- ki nilai sejarah adalah panjang untuk menyatakan kecepatan denyut nadi. Pada tahun 1585, sewaktu masih menjadi mahasiswa kedokter- an, Galileo menemukan prinsip pendulum selagi mengamati kandil berayun di gereja. lamenggunakan denyut nadinya untuk menghitung periode ayunan dan mendapatkan bahwa waktu untuk satu ayunan besar sama dengan waktu untuk ayunan kecil. Berdasarkan ini ia mengembangkan jam pendulum. Tidak lama setelah itu (pada tahun 1602) Sanctorius, teman Galileo sesama mahasiswa kedokteran, men- ciptakan pulsologium (pendulum sederhana) untuk mengukur kece- patan denyut nadi pasiennya. Seorang asisten menyesuaikan panjang pendulum sampai ayunannya sama dengan kecepatan denyutnadi yang diteriakkan oleh Sanctorius. Kemudian kecepatan denyut nadi dicatat sebagai panjang pendulum. Tunjukkan bahwa kecepatan denyut nadi istirahat Anda berada pada interval waktu yang sesuai dengan periode sebuah pendulum dengan panjang dalam rentang L = 0,1 sampai 0,25 meter. [Periode sebuah pendulum sederhana adalah T = 2n (L/g)'”?, dengan L adalah pan- jang pendulum dan g adalah percepatan gravitasi. Terdapat banyak pengukuran fisiologis lainnya yang melibatkan waktu. Kita dapatmembaginya menjadi dua kelompok, yaitu pengukur- an proses yang berulang/ repetitif, misalnya nadi, dan pengukuran pro- ses nonrepetitif, misalnya berapa lama waktu yang diperlukan oleh gin- jal untuk mengeluarkan suatu bahan asing dari tubuh. Proses waktu nonrepetitif di tubuh berkisar dari durasi potensial aksi sebuah sel sa- raf (~1 mdt) sampai usia hidup rerata seseorang (80 tahun = 2,5 x 10° dt atau 2,5 Gdt dengan G = giga untuk 10° atau 1 milyar). Terminologi, Pembuatan Model, dan Pengukuran 9 1.2 ae MASALA! w MASALAH Hitung umur Anda dalam menit. Sertakan juga perkiraan kesalahan dari jawaban Anda. Pengukuran proses yang berulang biasanya melibatkan jumlah pengulangan per detik, menit, jam, dan seterusnya. Sebagai contoh, ke- cepatan nadi rerata adalah kira-kira 70 mnt" dan kecepatan bernapas rerata adalah kira-kira 15 mnt. Berbagai kecepatan repetisi dalam si- nyal listrik di otak, yang disebabkan oleh aktivitas mental, berkisar dari kurang 1 dtk? sampai lebih dari 20 dtk?. Banyak proses samar di tubuh manusia yang bersifat repetitif. Se- bagai contoh, tubuh memiliki irama sirkadian (kira-kira 24 jam) yang berlangsung bahkan apabila seseorang tinggal di sebuah gua di dalam bumi tanpa mengetahui waktu. Jam lain yang dikontrol secara biologis adalah suatu jam yang pergerakannya sangat lambat dan mengatur mas- sa seseorang yang sedang tumbuh. Jam ini menyebabkan fluktuasi ke- cepatan pertumbuhan dengan periode 14 sampai 18 bulan. Dalam ilmu pengetahuan, keakuratan (accuracy) dan ketepatan (pre- cision) memiliki arti berbeda. Keakuratan mengacu kepada seberapa dekat suatu pengukuran dengan standar yang diterima. Sebagai con- toh, tinggi seseorang yang terukur sebesar 1,765 m mungkin akurat sampai 0,003 m (3 mm). Namun, tinggi orang yang sama mungkin ber- beda-beda sepanjang hari sampai sebesar 0,005 m (5 mm) sehingga tidak ada standar yang diterima bahkan untuk satu orang. Ketepatan meng- acu kepada reproduksibilitas (reproducibility) suatu pengukuran dan tidak harus berkaitan dengan keakuratan pengukuran. Sebagai contoh, suhu seorang pasien diukur sepuluh kali berturut-turut dengan hasil berikut (dalam skala Celsius): 36,1; 36,0; 36,1; 36,2; 36,4; 36,0; 36,3; 363; 36,4; dan 36,2. Standar yang diterima, suhu normal tubuh, adalah 37°C atau 98,6°F. Ketetapan pengukuran ini cukup baik, dengan kisarannilai pengukuran +0,2°C dari nilai rerata 36,2°C. Namun, apabila diban- dingkan dengan termometer standar yang baru dikalibrasi, termome- ter ternyata cacat, membaca 3°C lebih rendah. Termometer yang tidak akurat ini tidak akan memuaskan untuk digunakan secara klinis; bah- kan dalam keadaan demam, suhu pasien akan dilaporkan normal. Buktikan bahwa variasi rerata dari rentang suhu yang diukur di para- graf sebelumnya adalah +0,1°C. Fiswa TusuH Manusia Secara umum, suatu pengukuran diharapkan memiliki tingkat keakuratan dan ketepatan yang baik. Namun, kadang-kadang tidak dapat diperoleh suatu pengukuran yang akurat bahkan dengan teknik pengukuran yang ketepatannya baik; dan dalam hal ini, pengukuran yang tepat tetapi tidak akurat mungkin bermanfaat. Sebagai contoh, termometer cacat yang dibahas sebelumnya dapat digunakan untuk menentukan apakah suhu pasien stabil, meningkat, atau menurun. Kadang-kadang keakuratan dibatasi oleh faktor-faktor yang berada di luar kendali; sebagai contoh, kita sulit mengukur bagian-bagian inter- nal tubuh secara akurat, misalnya jumlah mineral di tulang. Salah satu teknik untuk mengukur mineral tulang memiliki ketepatan kira-kira 1% tetapi keakuratannya 3% sampai 4% (lihat Bab 4). Bagaimanapun, teknik ini sangat bermanfaat untuk mengikuti perubahan jumlah mi- neral tulang, seperti yang terjadi pada pengobatan osteoporosis. Dalam ilmu pengetahuan, telah menjadi fakta yang berterima.bah- ‘wa proses pengukuran mungkin secara bermakna mengubah kuanti- tas yang sedang diukur. Hal ini terutama berlaku untuk dunia kedok- teran. Sebagai contoh, saat mengukur tekanan darah mungkin terjadi kesalahan (keragu-raguan); salah satu faktor, disebut efek dokter (MD effect), mungkin berkaitan dengan rasa cemas pasien berada di kamar praktik. Jenis kesalahan ini juga dapat terjadi saat melakukan anamne- sis pasien, Pasien mungkin tidak dengan jujur menjawab pertanyaan mengenaihal-hal pribadi, misalnya praktik seksual atau konsumsi alko- hol/obat terlarang. Pemakaian komputer untuk wawancara pasien mungkin dapat mengurangi kesalahan jenis ini. Pengukuran klinis itu sendiri tidak selalu memastikan apakah se- orang pasien sehat atau sakit. Untuk setiap uji medis, biasanya sudah terdapat rentang nilai normal. Selain itu, nilai-nilai yang sedikit di atas atau di bawah normal biasanya dianggap equivocal (tidak tegas); dari nilai-nilai ini tidak dapat dibuat keputusan yang pasti. Terakhir, hasil dari berbagai uji laboratorium klinis tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor luar misalnya obat-obatan. Setelah dokter mengkaji anamnesis pasien, temuan pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan laboratorium klinik, maka perlu dibuat keputusan apakah pasien sakit dan, apabila sakit, apa penyakitnya. Tidaklah mengejutkan bahwa kadang-kadang dibuat keputusan yang salah. Terdapat dua jenis keputusan yang salah ini, yaitu positif palsu dan negatif palsu. Kesalahan positif palsu terjadi saat seorang pasien didiagnosis mengidap penyakit tertentu yang sebenarnya tidak ada; kesalahan negatif palsu adalah apabila pasien didiagnosis bebas dari penyakit tertentu padahal sebenarnya ia mengidapnya. Pada keadaan-keadaan tertentu, kesalahan diagnosis dapat berdam- pak besar pada kehidupan pasien. Sebagai contoh, seorang anak muda yang diperkirakan mengidap penyakit jantung rematik telah menghabis- kan waktu bertahun-tahun untuk menjalani tirah baring total sebelum. terungkap bahwa ternyata telah terjadi kesalahan diagnosis (diagnosis Terminologi, Pembuatan Model, dan Pengukuran ci positif palsu)—sebenarnya pasien mengidap artritis, suatu penyakit yang mengharuskan pasien mempertahankan aktivitas agar sendi tidak kaku. Pada banyak jenis kanker stadium awal, sangat mudah mem- buat kesalahan diagnosis negatif palsu karena tumor masih kecil dan sulit dideteksi. Karena probabilitas kesembuhan bergantung pada de- teksi dini kanker, maka diagnosis negatif palsu dapat sangat mengurangi kemungkinan pasien untuk bertahan hidup. Kesalahan diagnosis (positif palsu dan negatif palsu) dapat dikurangi dengan mencari penyebab kesalahan hasil pemeriksaan laboratorium dan dengan mengembangkan uji klinis baru serta menggunakan per- alatan yang lebih baik. Kesalahan atau keragu-raguan saat pengukur- an dapat dikurangi dengan melakukan pengukuran secara cermat, mengulangi pengukuran, menggunakan alat yang baik, melakukan ka- librasi terhadap alat, dan menyadarkan dokter tentang adanya kemu- ngkinan kesalahan manusia (human error). Untuk menggambarkan bagaimana kesalahan pengukuran dapat dikurangi, marilah kita kaji masalah dalam mengukur berat badan sese- orang secara akurat dan tepat. (Anda mungkin ingin melakukan sendi- ri eksperimen ini agar lebih terbiasa dengan tipe analisis ini). + Subjek diminta untuk berdiri pada sebuah timbangan rumah semen- tara kami secara cermat membaca skala dengan kaca pembesar. Subjek sebaiknya berpakaian minimal sehingga kami tidak perlu menimbang pakaian secara terpisah untuk mengoreksi pengukuran. Subjek dimin- ta turun dan naik timbangan beberapa kali untuk melihat apakah be- ratnya sama setiap kali pengukuran. Kami mendapatkan variasi kecil yang terutama disebabkan oleh perbedaan posisi kaki di timbangan. Hasil pemeriksaan dengan timbangan rumah tercantum di kolom 2 dari Tabel 1.1. Berat rerata adalah 156,3 Ib, dengan dua pertiga pengukuran terletak antara 156,0 dan 156,6 lb. Hasil ini dapat ditulis sebagai (156,3 +0,3) lb. Besaran +0,3 Ib sering disebut sebagai ketidakpastian atau sim- pang baku (standard deviation, SD) pengukuran. (Untuk mempelajari lebih jauh tentang simpang baku dan hal-hal terkait, lihat contoh, Bab 13 dari buku oleh Stibitz yang tercantum di bibliografi). Terpikir oleh kami bahwa timbangan rumah mungkin tidak terlalu akurat karena sudah cukup tua. Sebagai perbandingan kami memu- tuskan untuk menggunakan juga dua timbangan baru dari sekolah dan satu dari rumah sakit kampus untuk eksperimen. Hasil-hasil yang diper- oleh dari berbagai timbangan ini disajikan di kolom 3, 4, dan 5 Tabel 1.1. Rerata dan kisaran hasil di sekolah dan rumah sakit adalah, dalam pon, (155,2 +0,2), (155,5 +0,2), dan (156,0 +0,1). Timbangan rumah sakit jelas lebih tepat, seperti ditunjukkan oleh hasilnya. Namun, sebaiknya tidak diambil kesimpulan apa pun tentang keakuratan relatif masing- masing timbangan ini karena kami tidak mengetahui aktivitas subjek (makan, olah raga, buang air besar, dan sebagainya) di antara sesi-sesi pengukuran di atas. Fisixa TusuH Manusia Pengamatan di sekolah memerlukan perhatian. Kami memperhatikan bahwa jarum indikator berat subjek selalu bergerak walaupun dilakukan segala upaya untuk mendiamkannya. Kami berhipotesis bahwa go- yangnya indikator ini disebabkan oleh detak jantung subjek. Setiap kali berdegup, jantung mendorong massa darah ke atas yang mendorong tubuh ke bawah (hukum ketiga Newton) sehingga seolah-olah terjadi peningkatan berat badan sesaat setiap kali jantung berdenyut. Sewak- tu sebagian besar darah mencapai belokan pertama di aorta dan menu- ju kaki, efek yang timbul adalah sebaliknya dan seolah-olah menyebab- kan berat badan sedikit menurun. Kami mendapatkan bahwa denyut nadi subjek sinkron dengan getaran jarum indikator. Cobalah sendiri! Pengukuran Timbangan _Timbangan Timbangan _Timbangan rumah sekolah #1 sekolah #2 rumah sakit 1 1563 155.0 155.6 156.0 ars 155,9 155.2, 155,4 156,2 3 156,0 155.3 155,3 155,9. 4 156.7, 155.4 155.5, 155,8 5 156.8 155,17 155,7 156,1 6 156,1 155.5 155,2 156,0 7 156,3 154.9 155,8, 155,9. 8 156.2 155.3 155.4 156,1 9 156,4 155,1 155,7 om: Mean 156,3 155.2 155,5 156,0 SD 0,3 02 0,2 0/1 Kalibrasi timbangan agar lebih akurat tidaklah relatif penting— kesalahan bahkan satu pon pun tidak akan banyak menimbulkan per- bedaan. Namun, penelitian ini menarik perhatian kami untuk mencari sumber kesalahan lain. Seseorang mempertanyakan efek bernapas ter- hadap berat badan. Apakah seseorang menjadi lebih berat saat paru penuhatau kosong? Kami memutuskan untuk melakukan eksperimen. Subjek kami memiliki berat yang sama baik setelah menarik napas dalam maupun setelah ekspirasi paksa, tetapi kami melihat bahwa be- rat tampak berubah-ubah saat subjek menarik napas dalam. Udara memiliki berat kira-kira 1 g/liter, dan paru kita menahan kira-kira 5 liter. Karena terdapat 454 g dalam 1 Ib, maka berat udara dalam paru kira-kira 0,01 Ib, jauh lebih kecil daripada yang kami harapkan untuk dapat terlihat dengan tingkat ketidakpastian sebesar 0,1 Ib. Kemudian seseorang ingat akan prinsip Archimedes. Karena ber- ada dalam “lautan” udara, tubuh terangkat oleh berat udara yang di- pindahkan oleh tubuh. Oleh karena itu, tidak akan ada bedanya apa- kah udara terdapat di dalam atau diluar paru. Kami memutuskan untuk menghitung efek mengapung (buoyant effect) untuk orang dengan berat Terminologi, Pembuatan Model, dan Pengukuran 13 70 kg (154 Ib). Tubuh memiliki kepadatan/kerapatan setara dengan air tawar (itulah sebabnya Anda dapat mengapung di air tawar), dan 1 kg air memiliki volume 1 liter (10m*). Oleh karena itu, seseorang dengan berat 70 kg memiliki volume kira-kira 70 liter. Karena satu liter udara memiliki massa kira-kira 1 g, maka efek mengapung pada tubuh akan sebesar kira-kira 70 g atau 0,15 lb—efek sebesar ini juga tidak akan ter- lihat. Eksperimen ini tetap tidak menjelaskan mengapa berat subjek tam- pak berubah sewaktu bernapas. Kemudian kami mengingat bahwa saat kita menghirup udara, diafragma merendah, menyebabkan pusat gra- vitasi sedikit menurun; saat kita menghembuskan udara, pusat terse- but sedikit meninggi. Akselerasi pusat gravitasi ke bawah pada awal inspirasi seolah-olah menyebabkan berat berkurang sesaat; akselerasi pusat gravitasi ke atas saat ekspirasi menyebabkan peningkatan seru- pa (Gbr. 1.2). Hal ini menjelaskan efek tersebut, dan memang kami mendapati bahwa efek yang lebih besar akan terjadi apabila subjek ber- napas lebih cepat. Secara singkat: (1) semua pengukuran memiliki ketidakpastian dan sedikit-banyak tidak akurat, (2) dengan upaya khusus, kita dapat me- ngurangi kesalahan dan ketidakpastian, dan (3) pada banyak kasus, pengukuran tidak perlu diperbaiki karena kuantitas yang sedang di- ukur secara alamiah bervariasi. Ekspirasi dalam nspirasi dalam Batas bawah sangkar iga Gambar 1.2. Ketinggian diafragma saat inspirasi dalam dan ekspirasi dalam, Saat inspirasi, pusat gravitasi sedikit menurun, a ‘ wh . Bahan dengan hak cipta 2 Energi, Panas, Kerja, dan Daya Tubuh Energi adalah suatu konsep dasar dalam fisika. Dalam fisika tubuh manusia, energi merupakan hal yang sangat penting. Seluruh aktivitas tubuh, termasuk berpikir, menggunakan energi. Perubahan energi men- jadi kerja, seperti mengangkat suatu beban atau mengendarai sepeda, hanya mencerminkan sebagian kecil penggunaan energi total di tubuh. Pada keadaan istirahat (basal), konsumsi energi tubuh terutama di- gunakan oleh; otot rangka dan jantung (25%); otak (19%); ginjal (10%); serta hati dan limpa (27%). Sisanya 19% tersebar di banyak sistem, misal- nya sistem pencernaan. Makanan adalah sumber utama energi (bahan bakar) bagi tubuh. Makanan yang kita konsumsi umummnya tidak terdapat dalam bentuk yang sesuai untuk konversi energi secara langsung. Makanan harus diubah secara kimiawi leh tubuh untuk menghasilkan beragam mole- kul yang dapat berikatan dengan oksigen disel tubuh. Kami tidak mem- bahas proses kimiawi kompleks ini—siklus Krebs. Dari sudut pandang fisika, kita dapat menganggap tubuh sebagai suatu pengubah (convert- er) energi yang tunduk pada hukum kekekalan energi. Tubuh meng- gunakan energi dari makanan untuk mengoperasikan berbagai organ- nya, menghasilkan panas agar suhu tubuh konstan, melakukan pekerjaan eksternal, dan menghasilkan pasokan energi simpanan (dalam bentuk lemak) untuk kebutuhan mendatang. Sebagian kecil (~5%) energi makanan diekskresikan di feses dan urin. Energi yang digunakan un- tuk menjalankan organ akhirnya muncul sebagai panas tubuh. Sebagi- an panas ini bermanfaat untuk mempertahankan suhu tubuh normal, tetapi sisanya harus dibuang. Sumber energi lain, misalnya panas dari matahari dan energi panas dari lingkungan sekitar kita, dapat mem- bantu mempertahankan suhu tubuh, tetapi tidak bermanfaat untuk fungsi tubuh. Di bab ini kami membahas kekekalan energi di tubuh (hukum per- tama termodinamika), perubahan energi di tubuh, kerja (work) yang dilakukan oleh tubuh dan daya (power) tubuh, serta bagaimana tubuh mengatur suhu serta kehilangan panas. 16 Fisica Tuan Manusia 2.1 Kekekalan Energi di Tubuh Kekekalan energi di tubuh dapat ditulis sebagai suatu persamaan se- derhana: perubahan simpanan energi _ fpengeluaran’ kerja yang di tubuh (yaitu,) = | panas tubuh dilakukan makanan, energi, lemak tubuh, dan panas tubuh Persamaan ini, yang merupakan pernyataan dari hukum pertama termo- dinamika, menganggap bahwa tidak ada makanan atau minuman yang masuk dan tidak ada feses atau urin yang dikeluarkan selama interval waktu bersangkutan. Saat tubuh melakukan kerja atau tidak melakukan kerja, terjadi per- ubahan energi yang terus-menerus, Kita dapat menuliskan hukum per- tama termodinamika sebagai: AU = AQ- AW (2.1) dengan AU adalah perubahan simpanan energi, AQadalah panas yang hilang atau diperoleh, dan AW adalah kerja yang dilakukan oleh tu- buh. (Berdasarkan perjanjian, 4Q adalah positif apabila tubuh menda- pat panas, dan AW adalah positif apabila tubuh melakukan kerja). Tu- buh yang tidak melakukan kerja (AW = 0) dan pada suhu konstan secara umum akan kehilangan panas ke lingkungannya apabila suhu ling- kungan lebih rendah sehingga AQ negatif. Oleh karena itu, AU juga negatif, yang menunjukkan penurunan simpanan energi. Perihal ener- gi AU dibahas di Bagian 2.2, perihal AW dibahas di Bagian 2.3, dan perihal panas AQ dibahas di Bagian 2.4. Ada manfaatnya bila kita menghitung kecepatan perubahan AU, AQ, dan AW (perubahan ketiga kuantitas ini dalam interval waktu singkat At), Persamaan 2.1 kemudian menjadi: AU _ AQ AW Se (2.2) At At At dengan AU/At adalah kecepatan perubahan simpanan energi, AQ/At adalah kecepatan kehilangan atau penambahan panas, dan AW /Atada- lah kecepatan melakukan pekerjaan, yaitu daya mekanis. Perhatikan bahwa ketiga besaran harus memiliki satuan energi/waktu atau daya. Persamaan 2.2, yang secara luas digunakan dalam bab ini, adalah bentuk lain dari hukum pertama termodinamika. Persamaan ini me- nyatakan bahwa kecepatan perubahan energi adalah tetap di semua proses, tetapi tidak menyatakan apakah suatu proses dapat terjadi atau tidak. Sebagai contoh, hukum pertama menyatakan bahwa apabila kita memberikan panas kepada tubuh dengan kecepatan tertentu, AQ/At, Energi, Panas, Kerja, dan Daya Tubuh 7 2.2 kita dapat mengharapkan tubuh menghasilkan atau menyimpan ener- gi kimia dengan kecepatan tersebut, atau menghasilkan kerja dengan kecepatan tertentu. Hal ini tidak terjadi; hukum fisika yang menjelas- kan arah proses perubahan/konversi energi dikenal sebagai hukum kedua termodinamika, Hukum kedua juga membatasi fraksi energi simpanan, AU, yang dapat diubah menjadi kerja bermanfaat, AW. Perubahan Energi di Tubuh Satuan SI untuk energi adalah newton-meter (Nm) atau joule (J); daya dinyatakan dalam joule per detik (J/dtk) atau watt (W). Karena ahli fisiologi dan abli gizi menggunakan kilokalori (kkal) untuk energi ma- kanan dan kkal/mnt untuk kecepatan produksi panas, maka kami mempertahankan kedua satuan ini di buku ini, Perlu dicatat bahwa kkal sama dengan Kalori makanan yang Anda baca di kemasan produk makanan dan artikel tentang gizi. Oleh karena itu, asupan makanan sebesar 2400 Kalori/hari sama dengan 2400 kkal/hari. Karena 1 kal = 4,184 J, maka 2400 kkal/hari ~1 x 10’ J/hari. Terdapat 86.400 dtk/hari sehingga daya rerata P~115W. Hubungan antara beberapa satuan diatas diringkas sebagai berikut: 1 kkal = 4184 J (= 1 Kalori) 1 kkal/mnt = 69,7 W 100 W = 1,43 kkal/mnt 1 kkal/jam = 1,162 W Lavoisier adalah orang pertama yang menyatakan (pada tahun 1784) bahwa makanan mengalami oksidasi setelah dikonsumsi. Ia mendasar- kan argumentasinya pada pengukuran terhadap hewan percobaan yang memperlihatkan bahwa konsumsi oksigen meningkat selama proses pencernaan. Ia menjelaskan efek ini sebagai kerja pencernaan. Sekarang kita mengetahui bahwa penjelasan ini kurang tepat; penjelasan yang tepat adalah bahwa oksidasi terjadi di sel-sel tubuh. Pada proses oksidasi melalui pembakaran (kombustio), terjadi pem- bebasan panas. Pada proses oksidasi di dalam tubuh, panas dibebas- kan sebagai energi metabolisme. Kecepatan pembentukan energi dise- but laju metabolisme (metabolic rate). Marilah kita melihat oksidasi glukosa—C,H,,O,—suatu bentuk umum dari gula yang digunakan untuk pemberian makan intravena, dan sumber utama energi bagi otak. Persamaan oksidasi untuk gluko- sa dalam mol adalah CH,,0, ore +60, > 6H,O + 6CO, + 2,87 x 10°J (2.3) Yaitu, 1 mol glukosa (0,18 kg) berikatan dengan 6 mol O, (0,192 kg) menghasilkan 6 mol H,O (0,108 kg) dan CO, (0,264 kg), serta membe- baskan energi panas 2,87 x 10° J dalam reaksi ini. Dengan menggunakan Fiska Turun Manusia informasi ini, kita dapat menghitung sejumlah kuantitas yang berman- faat untuk metabolisme glukosa (Satu mol adalah jumlah zat yang me- ngandung atom atau molekul, ion, atau unit elementer lain yang sama banyaknya dengan atom pada 0,012 kilogram karbon 12, Ingatlah bah- wa 1 mol gas pada suhu dan tekanan normal memiliki volume V = 22,4 x 10% m? = 22/4 liter). Energi yang dibebaskan untuk setiap kg glukosa = 2,87 x 10°/ (0,180) = 16 MJ/kg (dengan M = “mega” = 10° atau satu juta) Energi yang dibebaskan untuk setiap m’ O, yang digunakan = 2,87 x 10°/(6 x 22,4 x 10°) = 21 MJ/m? Volume O, yang digunakan per kg glukosa = 6x 22,4 x 10°*/ (0,180) = 0,75 m*/kg Volume CO, yang dihasilkan per kg glukosa = 6 x 22,4 x 10°°/(0,180) = 0,75 m’/kg Perhitungan serupa dapat dilakukan untuk lemak, protein, dan kar- bohidrat lain. Nilai-nilai kalori standar untuk berbagai jenis makanan ini dan bahan bakar umum lainnya tercantum di Tabel 2.1. Tabel 2.1 juga mencantumkan energi yang dibebaskan per liter oksigen yang dikonsumsi untuk berbagai jenis makanan. Dengan mengukur oksigen yang dikonsumsi oleh tubuh, kita dapat memperoleh perkiraan energi yang dihasilkan. Perhatikan bahwa massa total di kedua sisi persamaan 2.3 adalah sama (0,372 kg). Namun, karena terjadi pembebasan panas 2,87 MJ, maka massa total di sisi kanan sedikit lebih kecil dibandingkan jumlah sesuai dengan persamaan Einstein untuk hubungan massa dan energi, AE = Amc’. Am = AE/¢ = 2,87 x 10° J/(3 x 108 m/dtk?)? ~ 3 x 10-7 kg (bandingkan dengan 0,372 kg) (2.4) Pada Tabel 2.1, nilai-nilai yang dituliskan untuk makanan adalah nilai maksimum yang dapat diharapkan. Tidak semua energi ini terse- dia bagi tubuh karena sebagian hilang melalui pembakaran yang tidak sempurna. Produk-produk yang “tidak terbakar” dikeluarkan dalam bentuk feses, urin, dan flatus (gas usus). Apa yang tersisa adalah ener- gi yang dapat dimetabolisasi. Tubuh biasanya cukup efisien dalam mengekstraksi energi dari makanan. Sebagai contoh, energi yang tersi- sa di feses normal hanyalah sekitar 5% dari energi total yang terkan- dung dalam makanan yang masuk. Karena tubuh memiliki suhu kon- stan, maka energi dalam makanan plus lemak tubuh membentuk energi yang dapat digunakan oleh tubuh. Energi, Panas, Kerja, dan Daya Tubuh 19 yang dibebaskan Energi yang dibebaskan Makanan atau _—per,satuan volume 0, per kilogram yang —_per gram (Kkal/a) Bahan Baker yang dikonsumsi Wm’) __dikonsumsi (ka) Glukosa 21,0 x 10° 1,6 x 107 38 Karbohidrat 22,2 x 10° 1,72 x 10" 4) Protein, 1,72 107 4A Lemak 3,89 x 107 93 Makanan sehari-hari = 7 Bensin 4,77 x 10" 14 Batubara a 3,35 x 107 80 Kayu (pinus) me 1,88 x 10” 45 Saat dalam keadaan istirahat total, orang normal akan mengonsum- si energi dengan kecepatan sekitar 92 kkal/jam, atau sekitar 100 W. Tingkat konsumsi energi ini, yang disebut laju metabolisme basal (bas- al metabolic rate, BMR), adalah jumlah energi yang diperlukan untuk melakukan fungsi tubuh minimal (misalnya bernapas dan memompa darah ke arteri) dalam keadaan istirahat. Secara klinis, BMR seseorang dibandingkan dengan nilai normal untuk orang dengan jenis kelamin, usia, tinggi, dan berat yang sama. BMR bergantung terutama pada fung- si tiroid, Seseorang yang aktivitas tiroidnya berlebihan (hipertiroid) me- miliki BMR yang lebih tinggi daripada orang dengan fungsi tiroid yang normal. Uji BMR telah digantikan oleh uji serapan tiroid 24 jam (24-hour thyroid uptake test). Tiroid menggunakan iodium dalam hormon yang me- ngendalikan fungsi metabolik. Jumlah iodium yang diserap dari makanan adalah parameter yang baik untuk aktivitas metabolik. Aktivitas metabo- lik mudah diukur dengan iodium radioaktif. Setelah Perang Dunia II, iodi- um radioaktif (1-131) dengan waktu paruh 8 hari mulai dapat diperoleh. Kita dapat mengukur “penyerapan iodium” sebagai indikator fungsi tiroid. Pasien diberi I-131 dosis rendah (37 kBq) per oral dan keesokan harinya jumlah zat radioaktif di tiroid diukur dengan suatu scintillation detector. Persen yang diserap ditentukan dengan membandingkan radioaktivitas di Ieher dengan radioktivitas pada kapsul I-131 identik dalam suatu silinder plastik seukuran leher. Karena energi yang digunakan untuk metabolisme basal berubah menjadi panas yang terutama dikeluarkan melalui kulit, maka dapat diperkirakan bahwa laju metabolisme basal berkaitan dengan luas per- mukaan atau massa tubuh. Gambar 2.1 adalah plot BMR (yang dinya- takan dalam kkal/hari) untuk berbagai hewan yang beratnya berbeda- beda. Kecuraman garis menunjukkan bahwa BMR proporsional dengan (massa)*/4, Oleh karena itu, ketika hewan semakin membesar, BMR mereka meningkat lebih cepat daripada peningkatan luas permukaan, 20 Fiska Tusua MAnusia yang proporsional dengan (massa)”°, tetapi tidak secepat volumenya (massa). Laju metabolisme terutama bergantung pada suhu tubuh. Pro- ses-proses kimiawi sangat bergantung pada suhu—perubahan kecil pada suhu dapat menimbulkan perubahan besar dalam kecepatan reaksi kimia. Apabila suhu tubuh berubah sebesar 1°C, terjadi perubahan laju metabolisme sekitar 10%. Sebagai contoh, apabila pasien memiliki suhu 40°C, atau 3°C di atas normal, laju metabolisme adalah sekitar 30% le- bih besar daripada normal. Demikian juga, apabila suhu tubuh turun 3°C di bawah normal, laju metabolisme (dan konsumsi oksigen) akan menurun sekitar 30%. Anda dapat melihat mengapa hibernasi pada suhu tubuh yang rendah menguntungkan bagi hewan dan mengapa suhu pasien kadang-kadang diturunkan selama pembedahan jantung untuk mengurangi konsumsi oksigen. Jelaslah, agar beratnya konstan, seseorang harus mengonsumsi ma- kanan yang hanya cukup untuk menghasilkan metabolisme basal plus aktivitas fisik. Makan makanan terlalu sedikit menyebabkan penurunan berat; apabila berlanjut dalam jangka panjang, makan terlalu sedikit menyebabkan kelaparan. Makan makanan yang melebihi kebutuhan energi tubuh akan menyebabkan peningkatan lemak tubuh (berat). Dahulu, BMR ditentukan berdasarkan konsumsi oksigen saat istira- hat. Kita juga dapat memperkirakan energi makanan yang digunakan dalam berbagai aktivitas fisik dengan mengukur konsumsi oksigen. Tabel 2.2 menyajikan nilai standar untuk berbagai aktivitas. Di sini, Laju metabolisme basal (kkal/hari) ‘Massa tubuh (kg) Gambar 2.1. Hubungan antara laju metabolisme basal (BMR) dan massa tubuh untuk beberapa hewan. Energi, Panas, Kerja, dan Daya Tubuh 21 laju konsumsi energi diberikan dalam J/(m’dtk) sehingga dapat diperkirakan nilai untuk orang dengan berbagai ukuran tubuh. Untuk mengetahui luas permukaan tubuh Anda dalam m’, gunakan hubung- an empiris A = 0,202M™“*H°”*, dengan H adalah tinggi Anda dalam meter dan M adalah massa Anda dalam kilogram (ref: Ruch dan Patton). BS Produksi Panas Aktivitas Konsumsi 0, Ekivalen Konsumsi Energi x104(mi/dtk) kkal/mnt Jdtk (W) ——_‘J/m*dtk Tidur 40 1,2 83 47,7 Istirahat duduk 57 7 120 66.8 Berdiri santai 60 18 125 726 Naik mobil 67 2,0 140 78,5 Duduk saat kuliah (terjaga) 10,0 3,0 210 119,1 Berjalan lambat (5 kam) ‘12.7 38 265 1511 Bersepeda 15 kmi/jam 190 57 400 2266 Main tenis 21,0 63 440 250,0 Berenang gaya dada (1,6 krvjam) 227 68 475 265,0 Main seluncur es 15 kmvjam 26,0 78 545 310.0 Naik tangga 116 langkah/mnt 32,7 98 685 390,0 Naik sepeda 21 knvjam 333 10.0 700 395.0 Main basket 380 11,4 800 450,0 Harvard Step Test* 53,7 16,1 1120 640,0 *Suatu uji di mana subjek naik-turun anak tangga 0,4 m dengan kecepatan 30 kalimnt selama 5 menit. Konsumsi oksigen untuk berbagai organ telah diukur, dan nilainya disajikan di Tabel 2.3. Perhatikan bahwa sebagian organ menggunakan daya yang cukup besar dan bahwa ginjal menggunakan lebih banyak daya per kilogram daripada jantung. Laju konsumsi ferata O, oleh Daya yang Eksperimen Digunakan Daya per kg _Kentribusi se- Organ Massa(kg) —_ (mi/mnt)__(kkal/mnt)_(kkal/mnt/kg) bagai % BMR Hati dan limpa = 67 0,33 = 27 Otak 1,40 47 0,23 0,16 19 Otot rangka 28,0 45 0,22 7.7x103 18 Ginjal 0,30 26 0,13 0,42 10 Jantung 0,32 7 0,08 0,26 7 Sisanya. = 48 0.23 = 19 250 1,22 100 *Diadaptasi dari Passmore R, dalam Passmore R, Robson J5 (ed). A Companion to Medical Studies, Vol. |. Blackwell, Osney Mead, England (1968). 22 Fiska Tusun MAnusia Konsumsi energi, termasuk penurunan berat badan akibat pengurang- an makan atau olahraga, dikaji melalui masalah-masalah berikut: 2.1 Misalkan Anda ingin menurunkan berat badan sebesar 4,5 kg (10 Ib) x baik melalui aktivitas fisik atau diet. (a) Berapa jam Anda harus melakukan suatu aktivitas sebesar 10° J/ dtk (~1 kW) untuk menghilangkan 4,5 kg lemak? (Tentu saja, Anda tidak dapatmempertahankan laju aktivitas ini dalam waktu yang lama) (Petunjuk: lihat Tabel 2.1) [Jawaban: T = 2810 mnt ~ 47 jam] (Perhatikan bahwa diperlukan banyak olahraga untuk menu- tunkan berat beberapa kg. Tentu saja, Anda tidak dapat terus-me- nerus melakukan tingkat aktivitas ini untuk jangka panjang, apala- gi 47 jam. Untuk membuktikan pernyataan ini, hitunglah daya yang Anda butuhkan untuk menaiki serangkaian anak tangga ver- tikal 3m dalam waktu 3 detik. Anggap massa Anda 50 kg. [awaban: P = ~05 x 10° J/s =05 kW) (b) Menurunkan berat badan biasanya lebih mudah dengan mengu- rangi asupan makanan. Apabila diet normal Anda adalah 2400 kkal/hari, berapa lama Anda harus makan jumlah separuhnya (1200 kkal/hari) untuk menghilangkan 4,5 kg lemak? [Jawaban: T = ~35 hari] MASALAI 2.2 Untuk suatu hewan hipotetis dengan massa 700 kg, x (a) Gunakan Gbr. 2.1 untuk memperkirakan laju metabolik basal hewan ini. [Jawaban: ~10* kkal/hari] (b) Apabila makanan hewan tersebut bernilai 5 kkal/g, perkirakan massa makanan yang diperlukan oleh hewan ini setiap hari. [Jawaban: 2,0 kg] MASALAI 2.3 Berapa persen laju metabolisme basal Anda meningkat apabila Anda demam 2°C di atas normal? MAS. 2.4 (a) Berapa energi yang diperlukan untuk berjalan sejauh 50 km de- 3 ngan kecepatan 5 km/jam [Jawaban: 9,5 x 10°J atau 2270 kkal] = (b) Apabila energi ekivalen dengan makanan Anda adalah 2,1 x 107 2 J/kg (6 kkal/g), hitunglah jumlah makanan yang diperlukan un- Ss tuk berjalan kaki tersebut. [Jawaban: 0,45 kg ~1 lb] Energi, Panas, Kerja, dan Daya Tubuh 23 2.3 Kerja dan Daya Energi kimiawi yang disimpan di tubuh digunakan untuk menunjang, fungsi-fungsi yang mempertahankan kehidupan dan diubah menjadi kerja eksternal. Jelaslah bahwa apabila seseorang mendaki bukit atau naik tangga maka ia melakukan kerja eksternal. Dalam hal ini, kita da- pat menghitung kerja yang dilakukan dengan mengalikan berat orang tersebut dalam N (W = mg) dengan jarak vertikal (h) yang dijalani dalam m. Saat seseorang berjalan atau berlari dengan kecepatan konstan di permukaan yang datar, maka sebagian besar gaya bekerja dalam arah yang tegak lurus terhadap gerakan. Tampaknya kerja eksternal yang dilakukan sama dengan nol (karena W = Fx, dengan F adalah komponen gaya yang sejajar dengan pergeseran, x). Namun, otot di tungkai melakukan kerja internal yang muncul sébagai panas di otot dan menyebabkan peningkatan suhunya. Panas tambahan di otot ini dihi- langkan oleh darah yang mengalir melalui otot, oleh konduksi ke kulit, dan oleh keringat. Proses-proses ini dibahas di Bagian 2.4. Di bagian ini, kami membahas efisiensi tubuh manusia sebagai se- buah mesin untuk melakukan kerja eksternal. Topik ini dapat digunakan untuk eksperimen. Sebagai contoh, kita dapat mengukur kerja ekster- nal yang dilakukan dan daya yang dihasilkan oleh seorang subjek yang mengendarai ergometer, yaitu sepeda statik dengan tingkat resistensi terhadap kayuhan yang dapat diubah-ubah. Kita juga dapat mengukur oksigen yang dikonsumsi selama aktivitas ini. Energi makanan total yang dikonsumsi dapat dihitung karena untuk setiap m’ oksigen yang dikonsumsi dihasilkan ~20 kJ. Gambar 2.2. Ergometer, suatu sepeda stasioner dengan gesekan yang dapat disesuaikan sehingga dapat dipelajari konsumsi oksigen pada berbagai beban kerja. Salah satu meter menunjukkan daya yang dihasilkan. 24 : Fisika TusuH MANUSIA Efisiensi ¢ tubuh manusia sebagai mesin adalah: ___ kerja yang dilakukan energi yang dikonsumsi Efisiensi biasanya paling rendah pada daya rendah tetapi dapat meningkat hingga 20% pada orang yang terlatih dalam aktivitas misal- nya bersepeda dan mendayung. Tabel 2.4 menyajikan efisiensi meka- nis untuk berbagai aktivitas dan untuk beberapa mesin. Beberapa studi memperlihatkan bahwa bersepeda adalah salah satu aktivitas kita yang paling efisien (lihat Masalah 2.5). Untuk pembalap sepeda yang terlatih, efisiensi mencapai 20% dengan produksi daya eksternal 370 W dan laju metabolisme 1850 W. Apabila pembalap terse- but berada di permukaan yang datar dan bergerak dengan kecepatan tetap, tidak akan terjadi perubahan dalam energi potensial atau kinetik dan daya yang dihasilkan akan digunakan terutama untuk mengatasi resistensi angin dan gesekan ban. Tugas atau Mesin Efisiensi (%) Bersepeda =20 Berenang di permukaan <2 Berenang menyelam =4 Menyekop =3 Mesin uap - 17 Mesin bensin 38 Kapasitas kerja maksimum tubuh bervariasi. Untuk jangka waktu pendek, tubuh dapat melakukan kerja dengan daya yang tinggi, tetapi untuk jangka waktu panjang kemampuannya lebih terbatas. Secara eksperimental telah dibuktikan bahwa pada otot yang bekerja, daya jangka-panjang sebanding dengan laju maksimum konsumsi oksigen. Untuk seorang pria sehat pada keadaan istirahat, konsumsi oksigen biasanya adalah 4 x 10° m?/kg berat badan setiap menit. Pada aktivitas maksimum, konsumsi oksigen biasanya adalah 4 x 105 m?/kg (4 ml/ kg) berat badan setiap menit. Tubuh dapat menyediakan energi untuk daya jangka-pendek de- ngan memecah fosfat berenergi tinggi dan glikogen yang menyebab- kan defisit oksigen di tubuh. Proses ini hanya dapat berlangsung seki- Energi, Panas, Kerja, dan Daya Tubuh 25 tar semenit dan disebut fase kerja anaerobik (tanpa oksigen); aktivitas jangka-panjang memerlukan oksigen (kerja aerobik). Gambar 2.3 mem- perlihatkan fase-fase kerja ini untuk seorang pengendara sepeda. 0} OF 1,0 10 Lama kerja (mnt) Gambar 2.3. Daya standar yang dihasilkan oleh seorang dewasa sehat yang bersepeda. 25 Bandingkan energi yang dibutuhkan untuk naik sepeda 20 km de- ngan yang dibutuhkan oleh mobil untuk jarak yang sama. Bensin me- Anggaplah bahwa mobil dapat berjalan 8,5 x 10° km dengan satu m* bensin (8,5 km seliter). [Jawaban: Pengendara sepeda menggunakan oS 3 miliki kandungan energi 4,77 x 107 J/kg dan densitas 6,8 x 10*kg/m?. < = N a MASALAH MASALAH sekitar 1,9 x 10°J untuk menempuh 20 km, mobil menggunakan 7,5 x 10” J atau 40 kali lebih banyak untuk jarak yang sama]. Misalnya elevator di kantor Anda rusak sehingga Anda harus mena- iki 9 lantai—ketinggian 45 m—di atas tanah. Berapa banyak energi tambahan (dalam kkal dan J) untuk melakukan kerja eksternal ini apa- bila massa Anda 70 kg dan tubuh Anda bekerja dengan efisiensi 15%? [Jawaban: 49 kkal atau 2,05 x 10° J] Berapa perkiraan efisiensi kerja maksimum dari seorang pembalap sepeda yang terlatih? Bagaimana hal ini dibandingkan dengan efisiensi kerja maksimum dari sebuah mesin uap? 26 Fisixa TusuH MANusiA 2.8 Seorang pendaki dengan berat 70 kg mendaki sebuah gunung seting- gi 1000 m dalam 3jam. (@) Hitung kerja eksternal yang dilakukan oleh pendaki. [lawaban: 6,9 x 10° J) (b) Misalnya kerja dilakukan dengan kecepatan tetap selama periode 3 jam tersebut, hitung pengeluaran daya rerata oleh pendaki terse- but selama pendakian. [Jawaban: 64 W] (©) Misalnya konsumsi O,rerata selama pendakian adalah 2 x 10°m?/ mnt (2 I/mnt) sesuai dengan pengeluaran energi 4 x 10*J/mnt, berapa efisiensi tubuh pendaki ini? [Jawaban: 9,4%] (d) Berapa banyak energi yang muncul sebagai panas di tubuh? [lawaban: 6,6 x 10° J] MASALAH 2.4 Pengeluaran Panas dari Tubuh Unggas dan mamalia bersifat homeotermik (berdarah panas), sedang- kan hewan lain bersifat poikilotermik (berdarah dingin). Istilah “ber- darah panas” dan “berdarah dingin” menyesatkan karena hewan poiki- lotermik, misalnya kodok atau ular akan memiliki suhu tubuh yang lebih tinggi daripada mamalia pada cuaca panas. Unggas dan mamalia memiliki mekanisme untuk mempertahankan suhu mereka walaupun terjadi fluktuasi dalam suhu lingkungan. Suhu tubuh yang konstan me- mungkinkan proses-proses metabolisme berjalan dengan kecepatan tetap dan memungkinkan hewan ini tetap aktif walaupun dalam cuaca dingin. Unggas memiliki suhu tubuh yang lebih tinggi daripada manu- sia, yang membantu mereka meradiasikan panas karena unggas tidak dapat berkeringat. Karena memiliki suhu yang konstan, tubuh akan mengandung energi Ppanas simpanan yang pada dasarnya konstan selama kita hidup. Na- mun, saat aktivitas metabolik terhenti pada kematian, panas simpanan akan menurun dengan kecepatan tertentu sampai tubuh sama dingin- nya dengan suhu lingkungan. Oleh karena itu, suhu tubuh pada sese- orang yang baru meninggal dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian. Walaupun suhu tubuh (inti, core) normal sering disebut sebesar 37°C, atau 98,6°F, hanya sebagian kecil orang yang benar-benar memiliki suhu tubuh tepat seperti itu. Apabila kita mengukur suhu sejumlah besar orang sehat, kita akan memperoleh distribusi suhu, dan hampir semua orang berada dalam rentang + 0,5°C (~1°F) dari suhu normal. Suhu rektum biasanya lebih tinggi 0,5°C (~1°F) daripada suhu oral. Suhu bergantung pada waktu, lebih rendah di pagi hari; suhu lingkungan; serta tingkat aktivitas fisik yang baru dilakukan, ketebalan baju, dan kesehatan individu. Suhu rektum setelah olahraga berat dapat menca- pai 40°C (104°F). Energi, Panas, Kerja, dan Daya Tubuh 27 Elemen penyensor (hipotalarus) Pengeluaran air permukaan (lelerjarteringat ‘Termoreseptor kulit Ktup aliran radiator ermukaan (arterio) Radiator permukaan (pendingin utama: kul) Penghasil panas Garingan) Gambar 2.4. Skema sistem pengeluaran panas. Kepadatan titiknya mengisyaratkan kandungan panas dalam darah, Darah berada dalam keadaan paling dingin setelah meninggalkan kulit. Gambar 2.4 adalah diagram skematik sistem pemanas dan pendi- ngin tubuh. Gambar ini tidak memperlihatkan perpindahan panas mela- lui makanan, minuman, dan zat sisa atau energi yang digunakan un- tuk kerja eksternal. Panas dihasilkan di berbagai organ dan jaringan tubuh; sebagian besar panas dibebaskan melalui permukaan kulit. Ham- pir semua pengeluaran panas terjadi melalui radiasi, konveksi, dan penguapan (evaporasi) keringat. Selain itu, tubuh juga mengalami pen- dinginan saat udara inspirasi yang dingin dihangatkan dan udara eks- pirasi dilembabkan. Makan makanan dingin atau panas juga dapat mendinginkan atau memanaskan tubuh. Agar dapat mempertahankan suhu mendekati nilai normal, maka tubuh harus memiliki termostat yang lebih baik daripada termostat rumah. Hipotalamus otak memiliki termostat tubuh. Apabila suhu inti meningkat, misalnya akibat olah- raga berat, hipotalamus akan memicu vasodilatasi, yaitu pembuluh darah di dekat permukaan melebar dan menyalurkan lebih banyak darah dan panas ke kulit. Hal ini meningkatkan suhu kulit sehingga memicu pengeluaran keringat dan pengeluaran panas melalui radiasi (lihat Bagian 2.4.1). Kedua reaksi ini meningkatkan pengeluaran panas ke lingkungan. Apabila lingkungan eksternal menyebabkan suhu kulit turun di bawah normal, seperti berenang di air dingin, termoreseptor di kulit “memberi tahu” hipotalamus sehingga menyebabkan tubuh menggigil; peningkatan aktivitas otot involunter ini adalah upaya un- tuk meningkatkan suhu inti. 28 Fisixa Tusun Manusia Kecepatan produksi panas tubuh untuk makanan sejumlah 2400 kkal/hari (dengan menganggap bahwa tidak terjadi perubahan berat badan) adalah sekitar 1,7 kkal/mnt atau 120 J/dtk (120 W). Apabila ingin mempertahankan suhunya agar konstan, tubuh perlu mengeluar- kan panas dengan kecepatan yang setara. Jumlah sebenarnya dari panas yang dikeluarkan melalui radiasi, konveksi, evaporasi keringat, dan bernapas bergantung pada sejumlah faktor: suhu lingkungan; serta suhu, kelembaban, dan gerakan udara. Faktor lainnya adalah aktivitas fisik tubuh; luas tubuh yang terbuka; dan jumlah insulator pada tubuh (busana dan lemak), Kita sekarang membahas masing-masing meka- nisme pengeluaran panas untuk kasus tubuh telanjang (untuk menye- derhanakan sehingga kita tidak perlu menyertakan peran busana). 2.4.1 Pengeluaran Panas Melalui Radiasi Semua benda, berapa pun suhunya, mengeluarkan energi dalam bentuk radiasi elektromagnetik. Secara umum, jumlah energi yang di- pancarkan oleh tubuh setara dengan suhu mutlak pangkat empat (Per- samaan 2.5). : E,=€AoT! (25) E, adalah kecepatan energi yang dipancarkan; € adalah emisivitas, yang, memiliki nilai 0 < € < 1 dan disebabkan karena permukaan bukan meru- pakan pemancar energi yang sempurna; A adalah luas, o adalah kons- tanta Stefan-Boltzmann, dan T adalah suhu mutlak. Tubuh juga me- nerima energi radiasi dari benda-benda di sekitarnya. Perkiraan perbedaan antara energi yang diradiasikan oleh tubuh dan energi yang, diserap dari radiasi dari sekeliling dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 2.6. H,=K, A, ¢ (T,-T,) (2.6) H, adalah kecepatan tubuh kehilangan (atau menerima) energi akibat radiasi. A, adalah luas permukaan tubuh efektif yang memancarkan radiasi, ¢ adalah emisivitas permukaan, T, adalah suhu kulit (C), dan T, adalah suhu dinding sekitar (C). [Di sini kita dapat menggunakan C untuk menggantikan K, karena kita menghitung AT. K, adalah suatu konstanta yang bergantung pada berbagai parameter fisik dan besar- nya sekitar 2,1 x 10*J/(m? jam C) (5,0 kkal/m?jam C)]. Emisivitas € di regio inframerah tidak bergantung pada warna kulit dan hampir mende- kati 1, yang menunjukkan bahwa kulit di panjang gelombang ini meru- pakan penyerap dan pemancar radiasi yang hampir sempurna (Apabi- la kita dapat melihat sinar inframerah dalam yang dipancarkan oleh tubuh, kita semua akan tampak “hitam”). Pada kondisi normal sekitar separuh energi kita lenyap melalui ra- diasi, bahkan saat suhu dinding sekitar tidak jauh lebih rendah daripa- da suhu tubuh. Energi, Panas, Kerja, dan Daya Tubuh 29 kas 9 Apabila sebuah tubuh telanjang memiliki luas permukaan efektif 1,2 MASALAH m? dan suhu kulit 34°C (93,2°F), hitunglah kecepatan (dalam kkal/ jam dan W) tubuh kehilangan panas ke dinding yang dipertahankan pada suhu 25°C (77°F). [Jawaban: 54 kkal/jam = 62,8 W] (Catatan: Jumlah ini adalah sekitar separuh dari pengeluaran panas tubuh, Se- bagian besar pengeluaran panas sisanya berlangsung melalui konveksi). 2.4.2 Pengeluaran Panas Melalui Konveksi Pengeluaran panas melalui konveksi (H_) dapat diperkirakan dari per- samaan: H.=K_A,(T,T,) (27) dengan K, adalah parameter yang bergantung pada gerakan udara, A, adalah luas permukaan efektif, T, adalah suhu kulit, dan T, adalah suhu udara. Saat tubuh dalam keadaan istirahat dan tampaknya tidak terja- di angin, K, adalah sekitar 2,3 kkal/(m? jam C). Apabila suhu udara 25°C, suhu kulit 34°C, dan luas permukaan efek- tif 1,2 m2, tubuh telanjang kehilangan panas sekitar 25 kkal/jam mela- lui konveksi. Jumlah ini adalah sekitar 25% dari seluruh kehilangan panas tubuh. Apabila udara bergerak, konstanta K, meningkat sesuai persamaan empiris Ke = 10,45-v +10Vv kcal /m?/jamC (28) dengan kecepatan angin v adalah dalam meter per detik. Persamaan ini sahih untuk kecepatan antara 2 m/dtk (~5 mph) dan 20 m/dtk (~45, mph). Jelaslah bahwa kehilangan panas melalui konveksi lebih besar apa- bila udara bergerak dibandingkan dengan udara diam. Hal ini men- dorong timbulnya konsep windchill. Suhu yang seseorang “rasakan” pada suatu hari berangin lebih dingin daripada suhu yang terukur. Ramalan cuaca pada musim dingin sering mengutip dua suhu, satu mencerminkan suhu aktual sementara yang lain mencerminkan efek udara dan disebut suhu wind chill. Tabel 2.5 menyajikan kumpulan dari kedua suhu ini berdasarkan rumus untuk K, di atas. Sebagai contoh, pada suhu aktual sebesar -20°C dan kecepatan angin 10 m/dtk (angin kencang), efek pendinginan pada tubuh sama seperti pada suhu -40°C tanpa angin. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Energi, Panas, Kerja, dan Daya Tubuh 31 itas. Dengan cara ini, sebagian panas dari darah yang mengalir ke ek- stremitas digunakan untuk menghangatkan darah yang kembali ke jan- tung. Pertukaran panas counter-current ini menurunkan suhu ekstrem- itas dan mengurangi pengeluaran panas ke lingkungan. Pada musim panas atau di lingkungan yang hangat, darah vena yang kembali ke jantung mengalir dekat ke permukaan kulit sehingga suhu kulit me- ningkat dan terjadi peningkatan pengeluaran panas dari tubuh. 2.4.5 Efek Busana—Clo Selama ini, pembahasan kita mengenai mekanisme pengeluaran panas terbatas hanya untuk tubuh telanjang—suatu kasus yang menarik teta~ pi agak jarang. Menyertakan busana sebagai insulator dalam persa- maan-persamaan pengeluaran panas menyebabkan perhitungan men- jadi lebih rumit. Suhu kulit normal yang terasa nyaman adalah 34°C. Suhu ini dapat dipertahankan dengan menyesuaikan busana dengan aktivitas. Studi-studi tentang busana menghasilkan definisi satuan busa- na, clo, yang menyatakan nilai insulatif busana yang dibutuhkan agar subjek merasa nyaman duduk di ruangan bersuhu 21°C (70°F) dengan kecepatan angin 0,1 m/dtk dan kelembaban kurang dari 50%. Busana dengan nilai insulasi satu clo setara dengan busana biasa/ringan untuk kerja. Jelaslah, dibandingkan dengan busana 1 clo, busana 2 clo menyebabkan seseorang lebih mampu bertahan pada suhu yang lebih dingin. Demikian juga, seseorang akan memerlukan nilai clo yang le- bih besar agar tetap merasa nyaman saat inaktif dibandingkan saat ak- tif. Kita dapat menentukan busana yang secara optimal menyebabkan rasa nyaman pada beragam suhu, kecepatan angin, dan kelembapan lingkungan untuk berbagai aktivitas fisik. Sebagai contoh, studi-studi memperlihatkan bahwa seseorang di kutub memerlukan insulasibusana yang setara dengan sekitar 4 clo (Bulu serigala memiliki nilai insulasi sekitar 6 clo). 2.10 Misalnya seseorang duduk telanjang di tepi pantai Florida. Pada hari LAH MASAI cerah, energi radiasi dari matahari diserap oleh orang tersebut de- ngan kecepatan 30 kkal/jam atau 34,9 W. Suhu udara adalah 30°C, dan suhu kulit orang tersebut adalah 32°C. Luas permukaan tubuh efektif yang terpajan ke matahari adalah 0,9 m?. (a) Hitung penambahan atau pengurangan netto energi dari radiasi setiap jam. [Jawaban: penambahan 21 kkal/jam atau 24 W] (b) Apabila terdapat angin sepoi-sepoi 4 m/dtk, hittng kehilangan energi melalui proses konveksi setiap jamnya. [Jawaban: 48 kkal/ jam atau 56 W] (c) Apabila laju metabolisme orang tersebut 80 kkal/jam (93,0 W), dan bernapas menyebabkan kehilangan 10 kkal /jam (11,6 W), bera- Pa lagi panas yang harus dikeluarkan melalui evaporasi agar suhu inti tubuh konstan? [Jawaban: 55,5 kkal/jam atau 64,5 W] aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Otot dan Gaya 35 Beberapa penyakit, misalnya artritis, meningkatkan gesekan disen- di tulang. Gesekan berperan penting saat seseorang berjalan. Saat tumit menyentuh lantai, suatu gaya diteruskan dari kaki ke lantai (Gbr. 3.1a). Gaya ini dapat diuraikan menjadi komponen vertikal dan horizontal. Gaya reaksi vertikal, yang dihasilkan oleh permukaan, diberi nama N (suatu gaya yang tegak lurus terhadap permukaan). Komponen reaksi horizontal, F,, ditimbulkan oleh gaya gesekan. Gaya maksimum ge- sekan F, biasanya dijelaskan dengan: F,=pN dengan N adalah gaya normal dan 1 adalah koefisien friksi antara dua permukaan. Nilai p bergantung pada dua bahan yang berkontak, dan tidak bergantung pada luas permukaan. Tabel 3.1 menyajikan nilai- nilai p untuk sejumlah bahan yang berlainan. Komponen gaya horizontal dari tumit sewaktu mengenai lantai saat seseorang berjalan (Gbr. 3.1a) telah dihitung, dan didapatkan sekitar 0,15W, dengan W adalah berat orang tersebut. Gaya gesekan harus sebe- sar ini agar tumit tidak selip. Apabila kita menganggap N=W, kita akan mendapatkan gaya gesekan sebesar f= pW. R N N R (a) eo) Gambar 3.1. Berjalan normal. (a) Sewaktu tumit menjejak lantai, terdapat gaya kom- ponen gesekan horizontal, F,,, dan gaya komponen vertikal N dengan resultan R sehing- ga terjadi perlambatan (deselerasi) kaki dan tubuh. Gesekan antara tumit dan permu- kaan lantai mencegah kaki terpeleset ke depan. (b) Saat kaki meninggalkan lantai, gaya gesekan, F,, mencegah kaki terpeleset ke belakang dan menghasilkan gaya untuk mem- percepat tubuh ke depan. (Diadaptasi dari M. Williams dan H. R. Lissner, Biomechanics of Human Motion, Philadelphia, W. B. Saunders Company, 1962, p. 122, dengan jin). aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Otot dan Gaya 39 ” Kelas pertama Kelas kedua Gambar 3.4. Tiga kelas tuas pada tubuh dan contoh skematik masing-masing, W ada- lah gaya yang biasanya adalah berat, F adalah gaya di titik tumpu, dan M adalah gaya otot. Perhatikan bahwa berbagai jenis tuas bergantung pada perbedaan susunan ketiga gaya M, W, dan F ketiga (Gbr. 3.4). Tuas kelas ketiga merupakan jenis yang paling sering ditemukan pada tubuh, sedangkan tuas kelas pertama paling jarang. Namun, tuas kelas ketiga tidak sering dijumpai dalam dunia teknik. Untuk menggambarkan mengapa demikian, misalkan anda ingin mem- buka sebuah pintu yang gagangnya terletak dekat dengan engsel sam- ping pintu. Untuk membuka pintu diperlukan torsi dalam jumlah ter- tentu. Ingatlah bahwa torsi (tenaga putaran, torque) adalah hasil dari gaya yang diberikan dan lengan tuas serta menerangkan efek yang di- timbulkan oleh gaya ini untuk menghasilkan rotasi mengelilingi engsel sendi. Karena lengan tuas di contoh ini pendek, diperlukan gaya yang cukup besar untuk membuka pintu. Terakhir, perhatikan bahwa gaya yang diberikan di contoh ini harus menggerakkan pintu di dekat eng- sel hanya dalam jarak pendek agar pintu terbuka. Pada manusia, sistem tuas jenis ini memperbesar gerakan kontraksi otot kita yang terbatas sehingga gerakan ekstremitas dapat menjadi lebih lebar/luas (dan le- bih cepat)! Kami akan memberi contoh gerakan lengan bawah di bagi- an selanjutnya. Otot mengecil di kedua ujungnya tempat terbentuk tendon. Tendon menghubungkan otot ke tulang. Otot dengan dua tendon di salah satu ujungnya disebut biseps; otot dengan tiga tendon di salah satu ujung- nya disebut triseps. Karena otot hanya dapat berkontraksi, maka ke- lompok otot terdapat berpasangan; satu kelompok berfungsi menghasil- kan gerakan ke satu arah mengelilingi suatu sendi engsel, dan kelompok berlawanan menghasilkan gerakan ke arah yang sebaliknya. Rotasi le- ngan bawah mengeliling siku adalah contoh yang sempurna tentang aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Otot dan Gaya 43 100. 50 oO 0,5 0,75 1,0 1,25 4,5 Gaya/luas maksimum - % Gambar 3.7. Pada panjang istirahat L, sebuah otot mendekati panjang optimumnya untuk menghasilkan gaya. Pada sekitar 80% panjang ini, otot tidak mampu lebih me- mendek lagi dan gaya yang dihasilkannya dapat turun drastis. Hal yang sama berlaku untuk peregangan otot yang menjadi sekitar 20% lebih panjang daripada panjang-se- benarnya. Peregangan yang sangat besar, kurang lebih 2L, menyebabkan otot robek secara permanen. 4 18cm Gambar 3.8, Mengangkat lengan kanan. (a) Otot deltoid dan tulang yang terlibat. (b) Gaya-gaya di lengan. T adalah tegangan di otot deltoid yang terfiksasi di sudut a, R adalah gaya reaksi di sendi bahu, W, adalah berat lengan yang terletak di pusat gravitasi- nya, dan W, adalah berat tangan. (Diadaptasi dari L. A. Strait, V. T. Inman, and H. J. Ralston, Amer J Phys, 15, 1947, p.379.) aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Otot dan Gaya 47 Servikal Torakal Lumbal Sakral Gambar 3.9. Tulang belakang merupakan penopang utama untuk kepala dan batang tubuh. Tulang belakang memiliki bentuk “S”, dan luas penampang vertebra semakin besar seiring dengan meningkatnya beban yang harus ditopang. Panjang tulang bela- kang untuk pria dewasa biasa adalah sekitar 0,7 m. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Otot dan Gaya 51 Bagian tubuh yang sering mengalami “penganiayaan” adalah regio lumbal (punggung bawah) yang diperlihatkan secara skematis di Gbr. 3.13. Vertebra lumbal mendapat gaya yang sangat besar—gaya-gaya yang berasal dari berat tubuh serta gaya-gaya yang anda hasilkan di regio lumbal saat mengangkat sesuatu. Gambar tersebut memperlihat- kan gaya kompresif yang besar (disebut R) di vertebra lumbal ke-5 (di- sebut L5). Saat tubuh membungkuk ke depan dengan sudut 60° ter- hadap garis vertikal dan terdapat beban 225 N (~50 Ib) di tangan, gaya kompresif R dapat mencapai 3800 N (~850 Ib, atau sekitar enam kali berat tubuh rerata). ‘Tidaklah mengejutkan bahwa mengangkat benda berat dengan cara yang salah merupakan penyebab primer nyeri punggung bawah (low back pain). Karena nyeri punggung bawah dapat bersifat serius dan be- lum sepenuhnya dipahami, para ahli fisiologi akan tertarik untuk me- ngetahui secara pasti gaya-gaya besar yang terdapat di daerah lumbal. Pengukuran tekanan dilempeng dilakukan dengan memasukkan jarum berongga yang dihubungkan ke transduser tekanan berkalibrasi ke dalam pusat gelatinosa lempeng antarvertebra. Alat ini mengukur te- kanan di dalam lempeng. Tekanan di lempeng lumbal ketiga untuk orang dewasa dalam berbagai posisi diperlihatkan di Gbr. 3.14a dan 3.14b. Bahkan saat berdiri tegak, terdapat tekanan yang relatif besar pada lempeng akibat kombinasi efek berat dan tegangan otot. Apabila lempeng kelebihan beban, seperti yang terjadi saat mengangkat sesuatu secara salah, lempeng dapat ruptur (atau tergelincir), menimbulkan nyeri baik akibat ruptur maupun bocornya bahan-bahan iritatif dari dalam lempeng. Telah dikemukakan bahwa nyeri punggung bawah adalah harga yang harus dibayar oleh manusia karena berdiri tegak; namun, dege- nerasi lempeng, antarvertebra juga terjadi pada hewan berkaki empat (terutama pada dachshunds; anjing yang pendek kakinya), Kerusakan lempeng pada hewan dan manusia terjadi di regio yang mendapat te- kanan paling besar. Karena gaya dapat disalurkan melintasi jarak dan mengelilingi sudut oleh sistem kabel atau katrol, gaya otot di tubuh manusia juga akan disalurkan oleh tendon. Tendon, genjel fibrosa yang menghubungkan ujung otot ke tulang, mengurangi jumlah massa yang terdapat di seki- tar sendi. Sebagai contoh, otot-otot yang menggerakkan jari tangan untuk menggenggam benda terletak di lengan bawah, dan terdapat tendon-tendon panjang yang menghubungkan otot ke bagian-bagian tertentu di tulang jari tangan. Tentu saja tendon harus tetap berada di lokasinya yang sesuai agar dapat berfungsi dengan benar. Artritis di tangan sering menghambat tendon membuka dan menutup tangan dengan sempurna. Ditungkai, terdapat satu tendon yang berjalan melewati alur di tem- purung lutut (patela) dan berhubungan dengan tulang kering (tibia). Apabila tungkai anda dalam keadaan ekstensi, anda dapat menggerak- kan patela dengan tangan, tetapi apabila lutut menekuk, patela tidak aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Otot dan Gaya 55 Ligamentum patela Gambar 3.15. Diagram gaya tegangan di ligamentum patela saat seseorang berjongkok. Tegangan T sangat besar saat seseorang berjongkok rendah. W- E,. Perhatikan bahwa tongkat terletak di tangan yang berlawanan dengan sisi panggul yang cedera. Tanpa tongkat, kita mendapatkan T = 1,6 W dan R = 2,4 W. Pemakaian tongkat mengurangi gaya-gaya ini karena memungkinkan kaki berpindah dari posisi di bawah garis pu- sat tubuh, seperti di Gbr. 3.16a, menuju lokasi baru yang lebih dekat dengan daerah di bawah kaput femoris. Tulang belakang tidak berpu- tar seperti pada Gbr. 3.16b. Tongkat terletak 0,3 m dari proyeksi ver- tikal garis cg. Kita menganggap bahwa tongkat menopang sekitar '/, berat tubuh. Untuk kondisi yang diberikan di Gbr. 3.16c, kita menda- patkan T =0,65 W dan R = 1,3 W. Walaupun sifat manusia menyebab- kan kita menyembunyikan kecacatan kita, namun pemakaian tongkat dapat sangat membantu proses penyembuhan sendi panggul. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Otot dan Gaya 59 ze 9 Seseorang dengan berat 50 kg melompat dari ketinggian 1 m danmela- MASALAH ju 4,4 m/dtk sesaat sebelum mendarat. Misalnya orang tersebut men- darat di suatu landasan dan berhenti dalam 0,2 dtk. Berapa gaya per- lambatan maksimum yang akan dialami orang tersebut? [Jawaban: Fu, = 1100 N] Suatu bentuk permainan yang saat ini populer adalah bungee jump- ing, yaitu seseorang diikatkan ke seutas tambang bungee yang sangat lentur dan meloncat dari tempat yang cukup tinggi. Tambang bungee memperlambat orang tersebut dalam jarak yang jauh. Sensasi ditimbul- kan oleh terjun bebas dan deselerasi. Dalam batasan yang digunakan di Gbr-3.17, jarak perlambatan biasanya lebih dari 10 m dan kecepat- annya di bawah 100 km /jam. Hal ini menempatkan bungee jumping ter- letak jauh di atas bagian kanan atas dari gambar ini. 3.4.2 Selamat Setelah Jatuh dari Ketinggian Anda mungkin berpikir bahwa apabila anda jatuh atau meloncat dari tempat yang sangat tinggi, kemungkinan anda akan selamat adalah nol, kecuali tentu saja apabila anda mendarat di sesuatu, seperti bantalan udara raksasa. Dalam keadaan sebenarnya, harapan anda sangat kecil tetapi tidak nol. Ada orang-orang yang selamat setelah jatuh dari tem- pat yang sangat tinggi. Semua bergantung pada tempat dan bagaimana anda mendarat! Apabila anda jatuh ke semak-semak, cabang pohon, salju tebal, atau lereng bukit, gaya perlambatan yang anda alami mung- kin cukup kecil sehingga anda mungkin selamat. Ringkasan batas-ba- tas bahaya akibat tumbukan diperlihatkan di Gbr. 3.17 bersama dengan beberapa kasus yang tercatat. Gambar ini memperlihatkan kecepatan pada saat tumbukan yang diplotkan ke jarak yang diperlukan untuk berhenti. Kita juga dapat memplotkan kecepatan terhadap waktu yang diperlukan untuk berhenti, tetapi biasanya jarak lebih mudah diukur. Garis diagonal tebal pada gambar tersebut menunjukkan perlambatan dalam besaran satuan gravitasi, g = 9,8 m/dtk*. Sebagai contoh, de- selerasi 10 g sama dengan gaya perlambatan yang setara dengan 10 kali berat obyek. Garis ganda pada gambar tersebut mencerminkan perkiraan batas harapan hidup. 3.4.3 Tabrakan Kendaraan Tabrakan pada mobil modern berkecepatan tinggi menyebabkan pe- numpang mengalami gaya percepatan atau perlambatan yang sangat besar. Gaya-gaya ini dapat menyebabkan patah tulang, cedera organ dalam, dan kematian bagi pengemudi maupun penumpang. Pada tahun 1960-an dimulai suatu program keamanan untuk mobil yang diatur oleh negara bagian. Bahkan sebelumnya, pihak militer, NASA, dan kelompok-kelompok ilmuwan telah mempelajari gaya-gaya « yang dapat ditahan oleh tubuh. Untuk gaya-gaya kecil terkontrol, stu- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Otot dan Gaya 71 Gambar 3.26. (2) Kadang-kadang pada tindakan ortodontik, gigi digeser oleh head- gear eksternal yang memberikan gaya pada gigi. (b) Untuk sebagian gigi yang celah di antaranya terlalu besar, gaya dari sebuah pita karet sudah memadai. (c) Susunan alat pencekat (pegas baja antikarat) sederhana digunakan untuk menghasilkan gaya kecil (1-2 N) pada kuspid yang perlu digeser agar pas dengan rahang atas. (Gambar dimodi- fikasi oleh Ken Ford, gambar asli Hak Cipta © 1994, TechPool Studios Corp., USA). tahun-tahun awal pertumbuhan, gigi yang tumbuh dituntun oleh ke- adaan di sekitarnya: rahang dan gigi-gigi di sampingnya. Terdapat banyak perangkat ortodontik dan, umumnya, penggunaan- nya bergantung pada keahlian ortodontis. Gambar 3.27 memperlihat- kan berbagai metode untuk menghasilkan gaya yang dapat menggeser gigi. Gambar 3.27a menampilkan peralatan ortodontik yang terfiksasi. Perangkat ini memiliki beberapa ciri yang lazim digunakan untuk me- luruskan dan menggeser gigi, misalnya banding dan bracket sering di- gunakan bersama dengan kawat lengkung sebagai penopang utama bagi perangkat lain untuk menggeser gigi. Susunan yang tepat dari kawat penopang, kawat lengkung, dan pita elastik memungkinkan ter- jadinya pergerakan gigi yang rumit. Gambar 3.27b memperlihatkan instrumen yang dapat disesuaikan, dilepas, dan dirancang untukmem- perlebar rahang dan meluruskan gigi depan. Penyesuaian gigi ini me- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Otot dan Gaya 75 f@) ‘Gigi yang rusak (») Gigi lama dipersiapkan Mahkola untuk dipasangi mahkota (©) Gigi yang sudah diberi mahkota Gambar 3.29. (a) Sebuah gigi yang rusak akibat pembusukan. (b) Gigi yang rusak diper- siapkan untuk dipasangi mahkota. Dibuat cetakan pada gigi alami untuk mempersiap- kan penggantian mahkota. (c) Mahkota tampak sudah disemen di tempatnya. (Gambar dimodifikasi oleh Ken Ford, gambar asli Hak Cipta © 1994, TechPoo! Studios Corp, USA.) (2) Gigi dipersiapkan dengan (b) Jembatan (€) Disemen agar dapat digunakan ‘mengikir untuk menopang jembatan Mahkota berlapis emas 3/4 Gigi pengganti mungkin seluruhnya ‘emas, sebagian emas sebagian ‘alam, atau semua alemi Penopang parsial Gambar 3,30, Protesa jembatan sederhana. (a) Gigi yang hilang dan gigi di kedua sisi dipersiapkan dengan mengikir agar jembatan dapat dipasang. (b) Jembatan pengganti dan struktur penopang di kedua sisi gigi yang hilang. Diperlukan cetakan dari gigi yang hilang dan gigi di rahang atas dan bawah agar pemasangannya pas seperti diperlihat- kan di () untuk jembatan yang disemenkan ke tempatnya. (Diadaptasi dari Garfield S. Teeth, Teeth, Teeth. New York, Simon & Schuster, 1969, P. 257.) aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Tulang 79 tektif bagi jantung, paru, dan hati. (Iga dan otot dada juga berfungsi sebagai struktur mirip-embusan, yang sewaktu mengembang dan ber- kontraksi menyebabkan terjadinya inhalasi dan ekspirasi udara). Se- lain perannya sebagai penopang, tulang belakang berfungsi sebagai tameng lentur bagi korda spinalis. Tulang bekerja sebagai “bank” untuk menyimpan unsur-unsur kimia yang dapat digunakan oleh tubuh di kemudian hari, Tubuh dapat meng- ambil zat-zat kimia ini sesuai kebutuhan. Sebagai contoh, didalam darah diperlukan kadar kalsium minimum tertentu; apabila kadar turun ter- lalu rendah, suatu “sensor kalsium” akan menyebabkan kelenjar para- tiroid melepaskan lebih banyak hormon paratiroid ke dalam darah, dan hal ini kemudian menyebabkan tulang membebaskan kalsium yang dibutuhkan. Gigi adalah tulang khusus yang dapat memotong makanan (insisor), merobek makanan (taring), dan menggiling makanan (geraham) se- hingga berfungsi menyediakan zat gizi bagi tubuh (lihat juga Bagian 3.5). Pada manusia, gigi terdapat dalam dua set-gigi desidua (susu, bayi) dan gigi permanen (set ketiga kadang-kadang didapat dari dokter gigi). Tulang terkecil di tubuh adalah osikulus di telinga tengah. Tiga tu- lang kecil ini berfungsi sebagai tuas dan menghasilkan suatu sistem pencocokan impedansi untuk mengubah getaran suara di udara men- jadi gerakan suara di cairan koklea (lihat Bab 11, Fisika Telinga dan Pen- dengaran). Tulang-tulang ini adalah satu-satunya tulang yang ukuran- nya sudah mencapai ukuran dewasa sebelum lahir! Kadang-kadang tulang dianggap sebagai bagian tubuh yang sudah “mati” atau inert dan bahwa pada saat telah mencapai ukuran dewasa, tulang tidak akan berubah sampai yang bersangkutan meninggal atau mengalami kecelakaan parah lain (misalnya kecelakaan ski). Sebenar- nya, tulang adalah jaringan hidup dan memiliki pasokan darah serta saraf. Sebagian besar jaringan tulang bersifat inert, tetapi di antaranya terdapat osteosit, sel yang mempertahankan tulang agar tetap sehat. Sel-sel membentuk sekitar 2% dari volume tulang. Apabila sel-sel ini mati (misalnya akibat gangguan aliran darah), tulang akan mati dan kehilangan sebagian kekuatannya. Terdapat suatu kelainan panggul serius yang disebabkan oleh nekrosis aseptik, yaitu sel-sel tulang di panggul mati akibat tidak adanya darah. Sendi panggul biasanya gagal berfungsi sebagaimana mestinya dan kadang-kadang perlu diganti dengan sendi buatan. Karena merupakan suatu jaringan hidup, tulang akan mengalami perubahan selama hidup. Proses penghancuran tulang lama dan pem- buatan tulang baru secara terus-menerus, yang disebut remodeling tu- lang, dilakukan oleh sel-sel tulang khusus. Osteoklas menghancurkan tulang, dan osteoblas membangunnya. Dibandingkan dengan banyak proses tubuh lainnya, remodeling tulang merupakan proses yang ber- langsung lambat. Kita memiliki kerangka baru setiap sekitar tujuh tahun; setiap hari osteoklas menghancurkan tulang yang mengandung sekitar aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Tulang 83 4.2. Kekuatan Tulang Apabila seorang insinyur mesin dihadapkan pada masalah mendesain kerangka, insinyur tersebut, tentu saja, perlu meneliti fungsi berbagai tulang karena fungsi tersebut akan menentukan bentuk tulang yang bersangkutan, konstruksi bagian dalam, dan jenis bahan yang akan di- gunakan. Kita telah membahas sejumlah fungsi tulang yangnyata pada tubuh. Sekarang marilah kita melihat bagaimana tulang berkembang untuk memenuhi kebutuhan kita. Apabila Anda menyortir sekitar 200 tulang dari tubuh menjadi berbagai tumpukan berdasarkan bentuknya, Anda akan memperoieh lima tumpukan: tumpukan kecil tulang da- tar /gepeng mirip-lempengan, misalnya belikat (skapula) dan sebagian tulang tengkorak; tumpukan kedua berupa tulang panjang berongga, misalnya tulang di lengan, tungkai, dan jari; tumpukan ketiga berupa tulang yang kurang lebih berbentuk silinder, yaitu tulang belakang (ver- tebra); tumpukan keempat berupa tulang ireguler, seperti yang berasal dari pergelangan tangan dan kaki; dan tumpukan kelima berupa tu- lang, seperti tulang iga yang tidak termasuk ke salah satu dari empat tumpukan lainnya. Apabila Anda kemudian menggergaji sebagian tulang-tulang terse- but, Anda akan mendapatkan bahwa tulang-tulang tersebut terdiri dari satu tipe atau kombinasi dari dua tipe tulang yang cukup berbeda: tu- lang padat (atau kompak) dan tulang berongga (atau kanselata/spongi- form) yang terbuat dari trabekula tipis, seperti benang-tulang trabeku- la. Gbr. 4.4a memperlihatkan kedua jenis tulang ini pada femur orang dewasa yang dipotong di sumbu panjangnya. Tulang trabekular ter- utama dijumpai di ujung-ujung tulang panjang, sedangkan sebagian besar tulang kompak terletak di batang bagian tengah. Gbr. 4.4b mem- perlihatkan potongan melintang vertebra normal; perhatikan bahwa tulang ini hampir seluruhnya merupakan tulang trabekular kecuali lem- peng tipis tulang kompak di permukaan. Tulang trabekula jauh lebih lemah daripada tulang kompak karena kecilnya jumlah tulang dalam volume yang sama. Tulang osteoporotik (Gbr. 4.4c) bahkan lebih lemah lagi. Pada tingkat mikroskopik, jaringan tulang pada tulang trabekular sama seperti yang tampak pada tulang kompak. Penelitian terhadap konstruksi femur menunjukkan betapa bagus- nya tulang tersebut dirancang untuk melaksanakan fungsinya. Tekan- an (gaya per satuan luas) pada sebuah tulang dapat dianalisis dengan cara yang sama seperti tekanan pada batang baja bangunan. Gbr. 4.5a memperlihatkan batang baja horizontal, yang kedua ujungnya disang- ga, dan diberikan gaya ke bawah di tengah. Tekanan di dalam batang baja (diperlihatkan dengan tanda panah) menyebabkan batang teregang di bagian bawah (tegangan) dan terpampatkan di bagian atas (kom- presi). Di bagian tengah batang baja, kedua jenis tekanan ini relatif kecil. Oleh karena itu, sering digunakan batang berpenampang huruf I, yang aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Tulang 87 Gambar 4.6. Kepala dan leher femur. (a) Garis kompresi dan tegangan yang disebabkan oleh berat tubuh W. (b) Potongan melintang yang memperlihatkan pola trabekula nor- mal. Perhatikan bahwa garis-garis tersebut mengikuti garis kompresi dan tegangan. sekitar 1,9 x 10° kg/m® (atau 1,9 kali dibandingkan densitas air). Pada usia lanjut, tulang menjadi lebih berpori dan menghilang dari permu- kaan bagian dalam, atau endosteum, tulang padat. Densitas tulang kom- pak sisanya tetap normal; kekuatan tulang ini berkurang karena men- jadi lebih tipis bukan karena densitasnya berkurang. Kuantitas fisik dari aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Tulang 91 Marilah kita lihat gaya-gaya yang bekerja pada sebuah tulang saat kita jatuh. Dari hukum kedua Newton, gaya yang timbul saat tumbuk- an atau jatuh sama dengan kecepatan perubahan momentum, yaitu momentum tubuh dibagi oleh durasi tumbukan (Bab 3, Otot dan Gaya). Oleh karena itu, semakin singkat durasi tumbukan, semakin besar gaya. Untuk mengurangi gaya sehingga kemungkinan fraktur berkurang, maka waktu tumbukan perlu diperlama. Saat jatuh dan melompat dari ketinggian, waktu tumbukan dapat secara bermakna diperlama dengan berguling saat jatuh atau melompat sehingga perubahan momentum tubuh tersebar dalam periode waktu yang lebih lama. Contoh yang baik tentang berguling saat tumbukan adalah latihan cara mendarat bagi penerjun: pergelangan kaki dan lutut menekuk saat tumbukan dan tu- buh miring ke satu sisi dan jatuh mula-mula pada tungkai, kemudian panggul, dan kemudian sisi dada. Pada saat mendarat dengan tungkai lurus, gaya yang dihasilkan akan sekitar 1,42 x 10° N (32.000 Ib) yang berarti bahwa masing-masing tibia, yang luasnya di pergelangan kaki adalah sekitar 3,3 x 10+ m?, akan menahan stres sebesar 2,1 x 10° N/m? (31.000 Ib/in?). Angka ini melebihi kekuatan kompresi maksimum tu- lang sebesar sekitar 30%. Namun, tulang dapat menahan gaya yang lebih besar untuk jangka waktu singkat tanpa patah, sementara gaya yang sama dengan periode yang lebih lama akan menyebabkannya patah. Yaitu, gaya singkat yang terbentuk saat Anda jatuh atau melompat, walaupun mungkin melebihi kekuatan kompresif maksimum tulang, tidak terlalu berbahaya di- bandingkan dengan gaya yang sama yang berlangsung lebih lama. Si- fat ini disebut viskoelastisitas. © Gambar 4.9. Fraktur tibia. (a) Gambar skematik fraktur spiral akibat terpuntir. (b) Foto sinar-X suatu fraktur spiral akibat puntiran. (c) Gambar skematik fraktur tekanan di tibia. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Tulang 95 4.3 Pelumasan (Lubrikasi) Sendi Mereka yang tidak menderita artritis banyak tidak mensyukuri ber- fungsinya sendi dengan baik. Banyak orang yang tidak seberuntung ini. Suatu analisis terhadap 1000 laporan otopsi mengungkapkan bah- wa lebih dari dua-pertiga mayat mengalami masalah sendi di lutut dan sekitar sepertiga mengalami masalah serupa di panggul. Terdapat dua penyakit utama yang menyerang sendi—artritis rematoid, yang me- nyebabkan produksi cairan sinovial berlebihan di sendi dan sering menyebabkan sendi bengkak, serta osteoartrosis, penyakit pada sendi itu sendiri. Pelumasan sendi belum dipahami secara rinci, tetapi hal-hal pokok- nya sudah disepakati. Komponen utama sendi diperlihatkan di Gbr. 4,11. Membran sinovial membungkus sendi dan menahan cairan si- novial sebagai pelumas. Permukaan sendi adalah tulang rawan sendi, yaitu bahan/struktur halus yang seperti karet dan melekat ke tulang. Penyakit yang mengenai cairan sinovial, misalnya artritis rematoid, dengan cepat memengaruhi sendi itu sendiri. Permukaan tulang rawan sendi tidak semulus bantalan poros buat- an manusia. Diperkirakan bahwa kekasaran tulang rawan ini berperan dalam pelumasan sendi dengan menangkap sebagian dari cairan si- novial. Juga diperkirakan bahwa karena sifat tulang rawan sendi yang berpori, maka saat sendi mengalami stres besar (yaitu saat sendi paling membutuhkan pelumasan), bahan-bahan pelumas lain terperas ke da- lam sendi. Salah satu teori menyatakan bahwa tekanan menyebabkan “benang” pelumasan terperas keluar tulang rawan dan masuk ke dalam sendi; salah satu ujung dari benang pelumasan tetap berada di tulang Membran sinovial ‘Cairan sinovial Tulang rawan sendi Gambar 4.11. Komponen utama suatu sendi. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Tulang 99 masing masalah dapat dikurangi dengan metode-metode khusus, teta- pipenentuan massa mineral tulang dengan teknik ini (densitometri film sinar-X) hanya dilakukan di beberapa laboratorium di seluruh dunia. Salah seorang penulis (JRC), mulai tahun 1960, mengembangkan suatu metode yang didasarkan pada prinsip fisika yang sama. Kom- ponen dasar yang digunakan pada teknik ini, yang disebut absorptiometri foton, diperlihatkan di Gbr. 4.14. Tiga masalah pada teknik sinar-X umumnya dapat teratasi dengan menggunakan (1) sumber sinar gama atau sinar-X monoenergetik, (2) berkas yang sempit untuk mengurangi perpendaran, dan (3) suatu detektor scintillation yang mendeteksi se- mua foton dan memungkinkan foton tersebut disortir dan dihitung satu demi satu. Penentuan massa mineral tulang semakin dipermudah de- ngan merendam tulang yang akan diukur dalam suatu jaringan lunak (atau ekivalen sinar-Xnya, misalnya air) yang ketebalannya seragam. Gbr. 4.15 memperlihatkan sebuah grafik logaritme dari intensitas penyaluran, I, dari berkas (log I) sewaktu berkas memindai sebuah tu- lang yang direndam dalam “jaringan” yang ketebalannya seragam. In- tensitas sebelum berkas masuk ke tulang disebut I,*. Massa mineral tulang (bone mineral mass; BM) di setiap titik di berkas sebanding de- ngan log (1,*/I) dan dinyatakan BM (g/cm?) = k log (I,*/1) (4.3) dengan k adalah suatu konstanta yang dapat ditentukan secara ekspe- rimental. Perhitungan ini dilakukan secara elektronis untuk semua ti- 4% Intensitas (skala logaritmik) o % 2 8 4 6 6 7 Pergeseran di sepanjang tungkai (cm) Gambar 4.15. Sebuah grafik dari intensitas berkas yang disalurkan sewaktu berkas melin- tasi tulang selama absorptiometri foton. Intensitas diplotkan dalam skala logaritmik. Daerah berarsir sebanding dengan massa mineral tulang per cm panjang tulang. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. ‘Tekanan di Tubuh Mengukur Tekanan di Tubuh Metode Klasik untuk mengukur tekanan adalah menentukan keting- gian suatu kolom cairan yang menghasilkan tekanan yang sama de- ngan tekanan yang sedang diukur. Instrumen yang mengukur tekanan dengan cara ini disebut manometer. Suatu tipe manometer yang lazim dijumpai adalah tabung berbentuk U yang berisi cairan dan dihubung- ngan hak cipta aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Tekanan di Tubuh 107 5.4 sebut tonometer, yang mengukur jumlah indentasi yang dihasilkan oleh suatu gaya tertentu. Tonometer kadang-kadang dikalibrasi dalam satu- an arbitrer dan bukan kPa atau milimeter air raksa. Tonometer yang saat ini digunakan akan dijelaskan di Bab 12, Fisika Mata dan Penglihatan. Tekanan di Saluran Cerna Tubuh memiliki sebuah saluran di dalamnya. Saluran ini, saluran cer- na, bentuknya berkelok-kelok; saluran cera memiliki panjang lebih dari 6 m dari mulut sampai anus. Saluran cerna hampir selalu tertutup di bagian ujung bawah dan memiliki beberapa pembatas lain. Gambar 5.3 memperlihatkan secara skematis katup dan sfingter (otot sirkular) di saluran cerna yang membuka agar makanan, minuman, dan produk- produk sampingannya dapat lewat. Katup-katup dirancang agar ma- kanan mengalir ke satu arah. Dengan beberapa upaya, aliran tersebut dapat dibalikkan, misalnya sewaktu kita muntah (emesis). Tekanan di sebagian besar sistem gastrointestinal (GI) lebih besar daripada tekanan atmosfer. Namun, di esofagus, tekanan digabung de- ngan tekanan antara paru dan dinding dada (tekanan intratoraks); te- kanan ini biasanya lebih rendah daripada tekanan atmosfer. Tekanan intratoraks kadang-kadang ditentukan dengan mengukur tekanan di esofagus. Saat makan, tekanandi lambung meningkat seiring dengan teregang- nya dinding lambung. Namun, karena volume meningkat seiring de- ngan pangkat tiga jari-jari, R°, sedangkan tegangan (gaya peregangan) berbanding lurus dengan R, maka peningkatan tekanan berlangsung sangat lambat. Peningkatan tekanan yang lebih bermakna terjadi kare- na tertelannya udara saat makan. Udara yang terperangkap di lam- bung menyebabkan sendawa atau bertahak. Udara yang terperangkap di lambung ini sering tampak pada foto sinar-X toraks. |-— Cincin otot di taut esofagus-lambung Pilorus Ketup antara usus halus dan ‘ists bese f— Sfingter anus Gambar 5.3. Katup dan sfingter di saluran cerna. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Tekanan di Tubuh WwW 5.7 Tekanan di kandung kemih dapat diukur dengan memasukkan se- buah kateter dengan sensor tekanan ke dalam kandung kemih melalui saluran kemih (uretra). Pada sistometri langsung, tekanan diukur mela- lui sebuah jarum yang dimasukkan melalui dinding abdomen langsung ke dalam kandung kemih (Gbr. 5.7). Teknik ini memberikan informasi mengenai fungsi katup-katup keluar (sfingter) yang tidak dapat diper- oleh dengan teknik kateter. Tekanan kandung kemih meningkat saat batuk, mengejan, dan sit up. Sewaktu hamil, berat janin di atas kandung kemih meningkatkan tekanan kandung kemih dan menyebabkan ibu sering berkemih. Situa- si tegang juga menyebabkan peningkatan tekanan; belajar untuk ujian sering menyebabkan kita bolak-balik ke toilet karena “tegang”. Efek Tekanan Saat Menyelam Pada umumnya, perubahan tekanan sewaktu menyelam tidak banyak memengaruhi tubuh karena tubuh terutama terdiri dari benda padat dan cairan yang hampir tidak dapat dikompresi. Namun, terdapat rong- ga-rongga gas di tubuh yang dengan adanya perubahan tekanan dapat menimbulkan efek besar. Untuk memahaminya, kita perlu mengingat hukum Boyle: untuk jumlah gas tertentu pada suhu tetap, hasil kali tekanan mutlak dan volume bersifat tetap (PV = konstan). Yaitu, apabi- la tekanan absolut menjadi dua kali lipat, volumenya menjadi separuh- nya. Telinga tengah adalah salah satu rongga udara yang terdapat di dalam tubuh (lihat Gbr. 10.11). Agar nyaman, tekanan di telinga te-. ngah harus mendekati tekanan atmosfer di luar gendang telinga. Penye- taraan ini terjadi oleh udara yang mengalir melalui tuba Eustachius, yang biasanya menutup kecuali saat menelan, mengunyah, dan menguap. Saat menyelam, banyak orang mengalami kesulitan menyamakan te- kanan dan merasakan adanya tekanan di telinga mereka. Perbedaan tekanan sebesar 17 kPa (120 mmHg) di gendang telinga, yang dapat terjadi pada kedalaman air 1,7 m (5,3 ft), dapat menyebabkan gendang telinga pecah. Pecahnya gendang ini dapat menjadi serius karena air dingin di telinga tengah dapat memengaruhi mekanisme vestibular atau keseimbangan dan menimbulkan mual dan “kleyengan” (dizziness). Salah satu metode penyetaraan yang digunakan oleh penyelam adalah dengan meningkatkan tekanan di mulut dengan memegang hidungdan mencoba mengembuskan napas; sewaktu tekanan setara, penyelam sering “mendengar” kedua telinga “meletup” (metode yang sama ini dapat diupayakan untuk menghilangkan rasa tidak nyaman akibat per- ubahan tekanan saat pesawat yang anda tumpangi turun). Keadaan yang kurang serius adalah sinus squeeze. Saat menyelam, tekanan di rongga-rongga sinus di tengkorak biasanya akan sama de- ngan tekanan di sekitar. Apabila seorang penyelam mengidap flu, rong- ga sinusnya mungkin tertutup dan tekanannya tidak sama dengan te- kanan diluar dan terasa nyeri. Efek tekanan lain adalah nyeri saat dan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Tekanan di Tubuh a5 banyak oksigen yang dapat dilarutkan untuk memenuhi kebutuhan tu- buh. Banyak korban keracunan karbon monoksida dapat diselamatkan dengan teknik ini. Seperti banyak perkembangan baru di bidang kedokteran, terapi oksigen hiperbarik juga menimbulkan masalah baru. Atmosfer oksi- gen menyebabkan bahaya kebakaran meningkat—tiga astronot me- ninggal dalam atmosfer oksigen murni di sebuah pesawat angkasa AS saat uji pendahuluan pada tahun 1967. Masalah lain adalah risiko pecah- nya tabung akibat tingginya tekanan yang digunakan. Tabung/tangki yang pecah tersebut pemah terjadi paling tidak satu kali dan menyebab- kan cedera serius pada pasien dan dokter yang sedang memeriksa.Na- mun, bahaya fisik semacam ini biasanya lebih mudah dievaluasi dan dihindari daripada bahaya biologis (misalnya polusi udara) yang sering kurang dipahami. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Osmosis dan Ginjal 19 6.2. Bagaimana Zat Dipindahkan Melalui Membran 6.2.1 Difusi dan Solvent Drag Sebagian besar struktur yang secara biologis penting dibungkus oleh membran /selaput. Setiap sel dibungkus oleh suatu membran. Hampir semua substruktur di dalam sebuah sel dibungkus oleh suatu mem- bran. Dinding suatu kapiler adalah suatu membran. Membran sering dapat melewatkan zat-zat tertentu tetapi tidak zat-zat yang lain. Mem- bran bersifat permeabel terhadap zat yang dapat melewatinya dan im- permeabel bagi zat yang tidak dapat melewatinya. Suatu membran yang membolehkan sebagian zat lewat, tetapi zat lain tidak disebut mem- bran semipermeatel. Banyak membran biologis mengandung pori. Pori paling sederha- naakan menembus membran secara lurus, seperti diperlihatkan diGbr. 6.3a. Pori biasanya mengikuti jalur yang lebih panjang, seperti di Gbr. 6.3b. Di dinding kapiler, pori-pori terdiri dari beberapa bagian antara sel-sel endotel disisi dalam membran. Terdapat bukti kuat bahwa mem- bran sel memiliki pori-pori. Pori-pori merupakan suatu cara sederhana untuk menghasilkan membran semipermeabel. Membran yang memiliki pori-pori akan per- meabel bagi molekul-molekul yang ukurannya cukup kecil untuk da- () Gambar 6.3. Sebuah membran yang ditembus oleh pori-pori. (a) Pori lurus. (b) Pori yang berkelok-kelok. (Hobbie RK. Intermediate Physics for Medicine and Biology, 3rd ed., Springer-Verlag New York, 1997. Direproduksi dengan izin dari Springer-Verlag, New York). aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Osmosis dan Ginjal 123 p (Pa) 8 Jarak sepanjang kapiler (@) Di dalam kapiter To = 600 Pa p (Pa) Jarak sepanjang kapiler (b)Di kar kapiler (cairan interstisium) (Pa) 100 ; >—— -2000 —_ 3000! darak sepanjang kapiler (¢) Perbendingan tekanan pendorong di dalam (pq) dan di luar (0.,) Gambar 6.4. Tekanan total dan tekanan pendorong di dalam dan di luar kapiler. (a) Di dalam. (b) Di luar. (c) Perbandingan tekanan pendorong di dalam dan di lua. menghambat aliran balik darah vena dari usus ke jantung sehingga ter- jadi edema abdomen yang disebut asites. Yang ketiga adalah meningkatnya permeabilitas dinding kapiler bagi molekul besar yang secara efektif menurunkan tekanan osmotik, Pem- bengkakan akibat memar adalah contoh pembengkakan jenis ini, aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Osmosis dan Ginjal 127 6.5 yang terjadi di sana hanya dapat bergantung pada konsentrasi zat di darah, bukan pada volume darah total. Apabila kita melipatduakan volume darah dan jumlah sebagian zat sehingga konsentrasinya tidak berubah, proses transpor di ginjal akan terus berfungsi dengan kecepat- an sama. Namun, diperlukan waktu dua kali lebih lama untuk mem- bersihkan seluruh zat karena jumlahnya berlipat dua. Konstanta pem- banding adalah bersihan, K, yang satuannya adalah m3/dtk": R (molekul/dtk) = K (m3/dtk) C (molekul/m‘) (6.2) Persamaan 6.2 juga dapat ditulis dalam massa partikel yang dibersih- kan, dan dalam konsentrasi per liter, serta per jam dan bukan per detik. Satuan R adalah satuan K kali satuan C; sebagai contoh: R (mg/jam) = K (liter/jam) C (mg/liter) (6.3) Nilai K biasanya bergantung pada perbedaan tekanan, tekanan osmo- tik, dan sifat kimiawi setiap proses transpor aktif. Definisi yang sama adalah “bersihan adalah volume plasma dari suatu zat yang dibersih- kan secara total per detik”. Ginjal Buatan Kita dapat menggunakan dialisis untuk mengeluarkan molekul-mole- kul zat terlarut yang kecil, misalnya urea dari darah pasien dengan penyakit ginjal akut atau kronik. Sebagian dari darah pasien dialirkan melalui pipa-pipa dalam suatu mesin. Dinding dari tabung-tabung ini adalah membran semipermeabel yang direndam dalam cairan dialisis. Membran memungkinkan molekul air, elektrolit, dan urea berdifusi melalui pori ke dalam cairan dialisis. Elektrolit di cairan dialisis dijaga pada konsentrasi yang diinginkan pada darah pasien. Proses ini me- merlukan waktu beberapa jam. Proses dapat dipercepat dengan menggunakan membran yang luas permukaannya lebih besar, tetapi hal ini menimbulkan nyeri kepala hebat. Penyebabnya adalah bahwa di susunan saraf pusat terdapat membran yang memisahkan darah dari cairan serebrospinalis (CSS). Beberapa molekul ukuran sedang bergerak secara lambat melewati membran ini. Apabila molekul-molekul ini terlalu cepat dikeluarkan dari tubuh saat dialisis, konsentrasi molekul-molekul tersebut akan secara bermakna lebih tinggi di cairan serebrospinalis dibandingkan dengan di darah. Tekanan osmotik yang terjadi menyebabkan air meng- alir ke dalam CSS yang meningkatkan tekanan di dalam tengkorak. Akibatnya adalah nyeri kepala. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Paru dan Bernapas 135 7.2 Bagaimana Darah dan Paru Berinteraksi Tujuan utama bernapas adalah mendatangkan pasokan O, segar ke darah di paru dan membuang CO,, Di bagian ini, akan dijelaskan pro- ses fisika yang berperan dalam pertukaran gas antara paru dan darah. Darah dipompa dari jantung ke paru dengan tekanan yang relatif rendah (lihat Bab 8). Tekanan darah puncak rerata di arteri pulmonaris utama yang mengangkut darah ke paru hanyalah sekitar 2,7 kPa (~20 mmHg) atau sekitar 15% dari tekanan dalam sirkulasi utama. Paru memiliki resistensi yang rendah terhadap aliran darah. Secara rerata, sekitar seperlima (~1 liter) darah di tubuh berada di paru, tetapi setiap saat hanya sekitar 70 ml darah berada di kapiler paru. Karena darah berada di kapiler paru dari 1 dtk, paru harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat terjadi pertukaran gas; alveolus paru memiliki dinding yang sangat tipis dan dikelilingi oleh darah di sistem kapiler paru. Seperti telah dinyatakan, luas permukaan antara udara dan darah di paru adalah sekitar 80 m2. Apabila 70 ml darah di kapiler paru dise- barkan di suatu permukaan yang luasnya 80 m?, lapisan darah yang terbentuk tebalnya hanya sekitar 1 ym, kurang dari ketebalan satu sel darah merah! Pertukaran gas di paru melibatkan dua proses umum: (1) memba- wa darah ke jaringan kapiler paru (perfusi) dan (2) membawa udara ke permukaan alveolus (ventilasi). Apabila salah satu proses gagal, tidak semua darah akan mengalami oksigenasi dengan benar. Terdapat tiga jenis daerah ventilasi-perfusi di paru: (1) daerah de- ngan ventilasi dan perfusi yang baik, (2) daerah dengan ventilasi baik dan perfusi kurang, dan (3) daerah dengan ventilasi kurang dan perfu- si baik. Pada paru normal, tipe pertama membentuk sekitar 90% dari volume total. Apabila aliran darah ke salah satu bagian paru terham- bat oleh bekuan (embolus paru), volume tersebut akan kekurangan perfusi. Apabila penyaluran udara di paru terhambat, seperti pada pneumonia, maka daerah yang terkena akan mengalami gangguan ven- tilasi. Banyak penyakit paru menyebabkan penurunan perfusi atau ven- tilasi. Pemindahan O, dan CO, ke dalam dan ke luar darah dikendalikan oleh hukum-hukum fisika difusi (Bab 6, Osmosis dan Ginjal). Semua molekul secara terus-menerus bergerak. Pada gas dan cairan, dan sam- pai tahap tertentu bahkan di benda padat, molekul-molekul tidak me- netap di satu tempat. Sebagai contoh, apabila anda dapat mengidenti- fikasi sekelompok molekul dalam sebuah ruangan (misalnya setetes parfum) dalam beberapa menit anda akan menemukan bahwa mole- kul-molekul ini telah bergerak (berdifusi) ke seluruh ruangan. Molekul jenis tertentu berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke dae- rah dengan konsentrasi rendah sampai konsentrasi seragam. Di paru, aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Paru dan Bernapas 143 Penjepit untuk menutup hidung @ Gambar 7.7. Spirometer digunakan untuk mengukur berbagai kuantitas fungsi paru. Aliran udara masuk dan keluar paru direkam dalam sebuah bagan yang berputar. (a) Potongan melintang spirometer yang memperlihatkan bagaimana air digunakan sebagai penutup kedap-udara agar udara tetap berada di drum penyeimbang. (b) Salah satu penulis (JRC) menghasilkan grafik yang diperlihatkan di Gambar 7.8. Penjepit hidung memaksa semua udara mengalir melalui mulut. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Paru dan Bernapas 147 0 5 “10 5 ‘Tekanan intratoraks (cm H,0) Gambar 7.10. Tekanan intratoraks yang diplotkan terhadap volume paru saat respirasi untuk volume tidal yang lebih besar daripada rerata (Diadaptasi dari Hildebrandt, J., and A.C. Young, in T. C. Ruch dan H. D. Patton (eds.), Physiology and Biophysics, 19th ed., © W. B. Saunders Company, Philadelphia, 1965, p. 754). 2100-10-20 TTekanan intratoraks (em H,0) Gambar 7.11. Kurva P-V untuk tiga kecepatan bernapas yang berlainan: (a) bernapas sangat lambat sekitar 3 kali/mnt; (b) sekitar 40 kali/mnt; dan (c) kecepatan bernapas maksimum sekitar 150 kalifmnt (10 cm H,O = 1 kPa). (Diadaptasi dari Hildebrandt, J., and A. C. Young, in T. C. Ruch and H. D, Patton (eds.}, Physiology and Biophysics, 19th ed., © WB Saunders Company, Philadelphia, 1965, p. 754.) aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Paru dan Bernapas 163 | 200) 150} 3 o i 400 i = 50} nord oa 6060 100 Ventiasi (iterimnt) Gambar 7.26. Kurva kecepatan konsumsi O, otot pernapasan untuk orang normal dan pengidap emfisema berat. (Diadaptasi dari E. J. M. Campbell, E. K. Westlake and R. M. Cherniak, J. Appl. Physiol. 11:303-308, 1957, Fig. 3.) 19 gapan bahwa O, tambahan digunakan di otot pernapasan. Gambar 7.26 memperlihatkan kurva tipikal untuk orang normal dan kurva untuk pasien dengan emfisema berat. Yang terakhir, pada kecepatan bernapas yang lebih tinggi, mungkin menggunakan lebih banyak O, untuk kerja bernapas daripada yang dihasilkan oleh meningkatnya ventilasi; oleh karena itu, jumlah O, dalam sirkulasi umum pasien ini menurun. Apabila kita membandingkan energi yang digunakan dalam berna- pas yang diperoleh dari metode konsumsi O, dengan perhitungan ker- ja yang menggunakan model seperti di Gbr. 7.25, kita dapat mem- perkirakan efisiensi mekanisme bernapas. Karena banyak ketidakpastian, perkiraan efisiensi berkisar dari5 sampai 10%. Fisika pada Beberapa Penyakit Paru Umum Penyakit paru merupakan penyakit yang cukup sering dijumpai. Diperkirakan bahwa 15% dari orang di Amerika Serikat yang berusia lebih dari 40 tahun mengalami penyakit paru. Banyak dari penyakit ini dapat dipahami berdasarkan perubahan-perubahan fisika di paru. Ten- tu saja, ini tidak berarti bahwa ahli fisika dapat menyembuhkan pe- nyakit-penyakit tersebut. Di bagian ini dibahas aspek fisik dari bebera- pa penyakit paru yang lazim dijumpai. Fisika pada RDS pada bayi dibahas di Bagian 7.5. Saat istirahat, hanya sebagian kecil dari kapasitas paru yang di- gunakan. Oleh karena itu, suatu penyakit paru yang mengurangi ka- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Sistem Kardiovaskular 167 kan operasi pencangkokan jantung, tindakan bedah pintas (by-pass), dan sebagainya. Di bidang kedokteran lainnya, misalnya radiologi dan pe- diatrik, terdapat subspesialisasi yang khusus menanganiSKV. _ 8.1 Komponen Utama Sistem Kardiovaskular Dua potongan melintang sebuah jantung diperlihatkan pada Gbr. 8.1. Jantung, yang pada dasamya adalah suatu pompa ganda, menghasil- kan gaya yang diperlukan untuk mengedarkan darah melalui dua sistem sirkulasi utama: sirkulasi pulmonal di paru dan sirkulasi sistemik di bagian tubuh lainnya (Gbr. 8.2). Darah pada seorang normal ber- sirkulasi di salah satu sistem sebelum dipompa oleh bagian jantung yang lain untuk beredar ke sistem kedua. Marilah kita mulai dengan darah di sisi kiri jantung dan mengikuti peredarannya melalui satu siklus keseluruhan. Darah dipompa oleh kontraksi otot-otot jantung di ventrikel kiri dengan tekanan sekitar 17 kPa (125 mmHg) ke dalam suatu sistem arteri yang bercabang-cabang menjadi arteri yang semakin kecil (arteriol) dan akhirmya menjadi ja- ringan pembuluh yang sangat halus yang disebut jaringan kapiler (cap- illary bed). Selama beberapa detik di dalam jaringan kapiler, darah menyalurkan O, ke sel dan menyerap CO, dari sel. Setelah melewati jaringan kapiler, darah berkumpul di vena-vena kecil (venula) yang Gambar 8.1. jantung. (a) Perhatikan dinding otot yang lebih tebal dan kuat di sisi tempat sebagian besar kerja dilakukan. (b) Potongan melintang memperlihatkan bentuk sirkutar ventrikel kiri; bentuk ini secara efisien menghasilkan tekanan tinggi yang diper- fukan untuk sirkulasi umum. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Sistem Kardiovaskular Wm MASALAH & oO o MASALAH & MASALAH 2 2 + MASALAH Dahulu, hitung sel darah putih biasanya dilakukan dengan meng- encerkan darah dengan jumlah tertentu, meneteskannya di kaca objek, dan menghitung jumlah sel. Karena metode ini sangat rumit dan tingkat keakuratannya hanya 15%, dicarilah metode yang lebih mudah dan akurat. Instrumen yang sekarang umum digunakan di laboratorium klinik besar untuk menghitung sel darah merah adalah Coulter counter. Alat ini diciptakan oleh Wallace H. Coulter pada tahun 1950-an, Prin- sip operasinya diperlihatkan di Gbr. 8.3. Darah yang diencerkan dile- watkan melalui sebuah kapiler halus; sel-sel pada dasarnya melewati kapiler satu per satu; dan saat berjalan di kapiler tersebut, sel-sel terse- but melewati dua elektrode yang mengukur resistensi listrik di kapiler. Setiap sel darah merah menyebabkan perubahan resistensi sesaat sewak- tu sel tersebut lewat. Perubahan resistensi tampak sebagai pulsa listrik yang dihitung di suatu sirkuit elektronik. Coulter counter telah berhasil menyingkirkan rasa jemu saat penghitungan sel darah merah (yang di- lakukan oleh petugas laboratorium medis) dan pada saat yang sama memperbaiki tingkat keakuratan penghitungan. Sayangnya, Coulter counter tidak dapat membedakan berbagai jenis sel darah putih sehingga untuk melakukan hitung jenis tetap diperlu- kan mikroskop. Perkirakan volume darah anda dari berat tubuh anda. Perkirakan volume darah yang dipompa oleh jantung anda ke sirku- lasi sistemik setiap hari. Berapa persentase darah anda yang dipompa ke sirkulasi pulmonal? Apabila leukosit (sel darah putih) memiliki diameter rerata 12 pm, berapa persentase volume darah yang mengandung leukosit? [Jawab- an: 0,7%] aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Sistem Kardiovaskular 175 8.4 ? pabila aay terata yang digunakan jantung ‘adalah 10 W, eater: persentase dari diet harian 2500 kkal Fee ee nee, tht 1g? (4,19 a =1kkal) i lawaban Sebenarnya tindakan memompa berlangsung selama kurang dari sepertiga siklus jantung dan otot jantung beristirahat selama dua perti- ga siklus. Oleh karena itu, daya selama fase memompa lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan nilai rerata yang dihitung di atas. Jantung, seperti semua mesin lainnya, tidaklah terlalu efisien. Pada kenyataannya, efisiensi jantung biasanya kurang dari 10%, dan kon- sumsi daya rerata jantung diperkirakan lebih dari 10 W. Karena tekan- an darah di sistem pulmonal lebih rendah, maka daya yang dibutuh- kan di sini sekitar seperlima daripada yang dibutuhkan oleh sirkulasi umum. Saat kita bekerja berat atau berolahraga, tekanan darah dapat meningkat sebesar 50% dan volume darah yang dipompa dapat me- ningkat 5 kali lipat sehingga terjadi peningkatan energi yang dikeluar- kan oleh jantung sebesar 7,5 kali lipat per menit. Kita membahas pema- kaian energi oleh jantung yang membesar di Bagian 8.10. Tekanan Darah dan Pengukurannya Salah satu pengukuran klinis yang paling sering dilakukan adalah peng- ukuran tekanan darah. Pengukuran eksperimental pertama terhadap tekanan darah dilakukan pada tahun 1733 oleh Pdt. Stephen Hales di Inggris. Ia secara berani menghubungkan sebuah tabung kaca 3 m (10 kaki) ke arteri seekor kuda dengan menggunakan trakea bebek sebagai penghubung fleksibel dan tangkai bulu bebek yang telah diperuncing untuk melubangi arteri! Ia mendapatkan bahwa darah naik sampai ketinggian rerata 2,4 m (8 kaki) di atas jantung. Selama pembedahan dan di bangsal perawatan intensif, sering di- lakukan pengukuran tekanan darah secara langsung. Gambar 8.6 mem- perlihatkan sebuah kateter yang dipasang di lengan; saat kateterisasi jantung, kateter didorong ke dalam rongga-rongga jantung. Setiap be- berapa menit, stopcock diputar sehingga beberapa mililiter larutan pem- bilas mengalir melalui kateter untuk mencegah terbentuknya bekuan di ujung kateter. Cairan masuk ke kubah transduser tekanan, tempat cairan tersebut mendorong diafragma logam ke bawah. Diafragma menjadi tertekuk dan menggerakkan suatu angker dinamo yang dililit oleh kawat halus pengukur ketegangan (strain). Sejak awal kawat halus tersebut sudah teregang, dan gerakan angker ke bawah meningkatkan ketegangan kedua kawat. Meningkatnya ketegangan meregangkan kawat-kawat ini sehingga kawat menyempit dan resistensinya me- ningkat. Dua kawat lainnya mengalami sedikit tekanan. Berkurangnya ketegangan di dua kawat ini menyebabkan keduanya lebih tebal dan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisika Sistem Kardiovaskular 181 kamar mandi sehingga gorden tersebut tertarik ke arah air. Demikian juga, saat jendela di sebuah mobil yang sedang berjalan diturunkan, berkurangnya tekanan menyebabkan udara bergerak cepat keluar jen- dela sehingga benda-benda terbang keluar jendela. Prinsip Bernoulli didasarkan pada hukum konservasi (kekekalan) energi. Tekanan dalam suatu cairan adalah bentuk suatu energi poten- sial, EP, karena tekanan tersebut memiliki kemampuan untuk melaku- kan kerja. Dalam cairan yang bergerak terdapat energi kinetik, EK, aki- batadanya gerakan tersebut. Energi kinetik ini dapat dinyatakan dalam besaran energi per satuan volume, misalnya joule per meter kubik. Karena 1 joule (J) = 1 Nm, maka 1 J/m? = 1 (Nm)/m? atau 1 N/m? = Pa, satuan untuk tekanan pada sistem SI. Apabila cairan mengalir mela- lui tabung tanpa gesekan, seperti diperlihatkan di Gbr. 8.10, kecepatan meningkat di bagian yang menyempit dan peningkatan energi kinetik cairan diperoleh melalui penurunan energi potensial dari tekanan di tabung. Sewaktu kecepatan kembali melambat di sisi kanan penyem- pitan, energi kinetik diubah kembali menjadi energi potensial dan te- kanan kembali meningkat, seperti ditunjukkan oleh manometer. Kita dapat menghitung energi kinetik rata-rata per satuan volume 10° kg (10* m? = 1 ml) darah sewaktu darah meninggalkan jantung. Karena kecepatan rata-rata adalah sekitar 0,3 m/dtk, energi kinetik dari massa darah ini adalah: EK = (1/2)mv? = (1/2) x (10%) x (0,3)=4,5x10*J. (8.3) Karena volume yang terlibat adalah 10* m°, hal ini dapat dianggap se- bagai suatu energi per satuan volume 45 J/m? dari darah yang mening- galkan jantung. Berdasarkan alasan di paragraf sebelumnya, densitas energi ini ekivalen dengan tekanan 45 Pa atau sekitar 0,4 mmHg. Na- mun, saat olahraga berat, kecepatan darah yang dipompa oleh jantung dapat mencapai lima kali lipat dibandingkan kecepatannya saat istira- hat, dan saat puncak denyut jantung faktor energi kinetik dapat memi- liki ekivalen tekanan sebesar 10 kPa (75 mmHg) dan mungkin mencer- minkan 30% dari total kerja jantung. \\ Cairan—» ape Gambar 8.10. Sewaktu kecepatan cairan meningkat di bagian sempit tabung, sebagian dari energi potensial (tekanan) diubah menjadi energi kinetik sehingga di bagian ini tekanan menurun, P,, P, lebih kecil daripada P, dan P,. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Fisixa TusuH Manusia 8.11 atau 115 cm darah) akibat adanya kolom darah di atasnya. Saat tung- kai lainnya berjalan atau berolahraga, kontraksi otot mendorong darah vena ke arah jantung. Kerja otot pada darah ini disebut pompa vena atau pompa otot. Di berbagai titik di sepanjang perjalanan vena terda- pat katup-katup satu-arah yang mencegah darah mengalir balik. Kerja pompa otot dan katup menyebabkan vena memiliki tekanan sekitar 3 kPa (20 mmHg) saat olahraga. Apabila katup mengalami gangguan dan akhirnya darah mengalir balik, darah akan menumpuk di vena dan vena akan mengalami pelebaran (varises). Vena varikosa dapat diper- parah oleh keadaan-keadaan yang membatasi kembalinya darah ke jan- tung. Bertambahnya berat abdomen sewaktu hamil dapat menghambat aliran balik vena. Namun, beberapa eksperimen menunjukkan bahwa manset tekanan yang diletakkan di atas lutut dan dikembangkan hing- ga 12 kPa (90 mmHg) tidak menghambat kerja pompa otot pada vena internal. Terapi standar untuk vena varikosa adalah pengangkatan pem- buluh penyebab secara bedah. Biasanya terdapat vena-vena paralel dalam jumlah yang memadai untuk mengangkut darah kembali ke jan- tung. Beberapa Fungsi Lain Darah Walaupun kita telah menekankan peranan darah dalam pertukaran gas, namun fungsi darah yang sama pentingnya adalah mengangkut zat sisa tubuh yang berbentuk cairan ke ginjal. Rincian fungsi ginjal di- bahas di Bab 6, Osmosis dan Ginjal. Dengan memfiltrasi darah, ginjal menjaga komposisi darah tetap konstan walaupun diet kita sangat fluk- tuatif. Ginjal mendapat banyak vaskularisasi agar dapat memifiltrasi darah. Dalam keadaan normal, 1 sampai 1,5 liter darah (seperlima sam- pai seperempat curah jantung) mengalir melalui ginjal setiap menit. Ini jauh melebihi jumlah yang dibutuhkan untuk menyalurkan rlutrien dan oksigen ke . Apabila terjadi kehilangan darah dalam jumlah be- sar, aliran ke ginjal mungkin turun menjadi 0,25 liter/mnt agar darah dapat digunakan ke tempat lain. Walaupun ginjal buatan (unit dialisis) sudah digunakan oleh ribuan orang, alat ini jauh di bawah ginjal dalam kemampuannya mengendalikan komponen-komponen darah. Alatini sering menjadi penyelamat bagi pasien-pasien yang menunggu ginjal donor. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Sinyal Listrik dari Tubuh 205 9.3 Sinyal Listrik dari Otot—Elektromiogram Informasi diagnostik tentang otot dapat diperoleh dari aktivitas listrik- nya. Di bagian ini, kita menelusuri transmisi potensial aksi dari akson ke dalam otot, tempat potensial aksi tersebut menimbulkan kontraksi otot. Rekaman potensial dari otot sewaktu berkontraksi disebut elektro- miogram atau EMG. Sebuah otot terdiri dari banyak unit motorik. Satu unit motorik ter- diri dari satu cabang neuron dari batang otak atau korda spinalis dan 25 sampai 2000 serat otot (sel) yang berhubungan dengannya melalui motor end plate (Gbr. 9.6a). Potensial istirahat di kedua sisi membran pada sebuah serat otot serupa dengan potensial istirahat di serat saraf. Kerja otot dimulai oleh potensial aksi yang berjalan di sepanjang suatu akson dan melewati motor end plate menuju ke dalam serat otot, me- nyebabkan serat tersebut berkontraksi. Rekaman potensial aksi di satu sel otot diperlihatkan secara skematis di Gbr. 9.6. Pengukuran semacam ini dilakukan dengan menggunakan sebuah elektrode yang sangat halus (mikroelektroda) yang dimasukkan melalui membran otot. Elektrode EMG biasanya merekam aktivitas listrik dari beberapa serat otot. Dapat digunakan elektrode permukaan atau elektrode jarum konsentrik. Elektrode permukaan yang dilekatkan ke kulit mengukur sinyal listrik dari banyak unit motorik. Elektrode jarum konsentrik yang, dimasukkan ke bawah kulit mengukur aktivitas satu unit motorik mela- lui sebuah kawat berinsulasi yang dihubungkan ke titiknya. Gambar 9.7 memperlihatkan EMG tipikal dari dua jenis elektrode. Susunan yang lazim untuk merekam EMG diperlihatkan di Gbr. 9.8. Sinyal listrik otot dapat diperlihatkan secara langsung di salah satu saluran osiloskop, dan sinyal dapat diintegrasikan dan ditampilkan di saluran kedua. nyal juga dapat dilewatkan melalui sebuah penguat (amplifier) dan di- ubah menjadi bunyi oleh pengeras suara. Rekaman terintegrasi (dalam volt detik) merupakan ukuran kuantitas elektrik berkaitan dengan po- tensial aksi otot. Gambar 9.9 memperlihatkan EMG dan bentuk terinte- grasinya untuk kontraksi otot volunter dengan derajat yang bervariasi. Kontraksi yang lebih kuat menghasilkan aktivitas potensial aksi yang lebih besar. Bentuk terintegrasi dari aktivitas potensial aksi lebih mudah dievaluasi karena merupakan kurva yang mulus. Di klinik, EMG yang dapat didengar dan rekaman potensial aksi dalam bentuk terintegrasi sering digunakan untuk menentukan kondisi suatu otot sewaktu ber- kontraksi. EMG dapat diperoleh dari otot atau unit motorik yang dirangsang secara elektris. Metode ini lebih sering dipilih daripada kontraksi vo- lunter. Kontraksi volunter biasanya tersebar selama sekitar 100 mdtk karena semua unit motorik tidak melepaskan muatan secara bersamaan; juga, masing-masing unit motorik mungkin menghasilkan beberapa potensial aksi bergantung pada sinyal yang dikirim dari susunan saraf pusat. Pada stimulasi dengan listrik, waktu stimulasi memiliki batas yang jelas dan semua serat otot melepaskan muatan hampir secara ber- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 214 Fisika TusuH MaNusA Gambar 9.16, Distribusi potensial di dada pada saat ventrikel mengalami depolarisasi separuh. Elektrode yang dipasang di A, B, dan C akan menunjukkan potensial pada saat tersebut. negatif yang setara dipisahkan satu sama lain. Dipol listrik ini di- gambarkan sebagai sebuah vektor), Dalam hal ini, arus ion dari jan- tung. yang mengalami depolarisasilah yang menimbulkan dipol arus listrik. Untuk teks ini, kita menyebutnya sebagai dipol arus. Garis ekui- potensial pada waktu lain dari siklus jantung juga dapat direpresenta- sikan oleh dipol listrik; namun, selama siklus jantung, kekuatan dan orientasi dipol berubah-ubah. Model dipol jantung yang sekarang di- gunakan diajukan pertama kali oleh AC Waller pada tahun 1889 dan sejak itu telah banyak mengalami perubahan. Potensial listrik (jantung) yang kita ukur di permukaan tubuh ada- lah proyeksi instan dari dipol listrik dengan arah tertentu. Karena vek- tor berubah seiring dengan waktu, maka potensial yang diproyeksikan juga berubah. Gbr. 9.17 memperlihatkan suatu dipol arus di sepanjang tiga bidang tubuh elektrokardiografik. Elektrode permukaan untuk memperoleh EKG umumnya terletak di lengan kanan (RA), lengan kiri (LA), dan tungkai kiri (LL), walau- pun lokasi elektrode dapat berbeda-beda untuk keadaan klinis yang berbeda; kadang-kadang digunakan tangan atau posisi yang dekat de- ngan jantung. Di Gbr. 9.18 posisi-posisi ini masing-masing dilabel se- bagai potensial V,,, V,, dan V,, sesuai dengan urutan posisinya. Peng- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 220 Fiska Tusun Manusa (b) Gambar 9.23. Posisi EKG bidang transversal. (a) Tampak frontal yang memperlihatkan sirkuit elektronik yang menghasilkan elektrode indiferen (negatif) dari rerata Va,, Vi dan V,,. Elektrode positif digerakkan ke posisi-posisi di dada yang lokasinya diberi nama V, sampai V,. (b) Tampak atas. Bahan dengan hak cipta aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 342 Fisixa TueuH Manusia B.2 Logaritma Logaritma adalah kebalikan dari proses pemangkatan. Logaritma pen- ting dalam fisika kedokteran; sebagai contoh, sistem indra kita (misal- nya telinga dan mata) berespons secara logaritmis terhadap intensitas sinyal yang dapat berkisar dalam rentang lebih dari 10 sampai 12 kali lipat (yaitu dengan faktor sebesar 10" sampai 10") (lihat Bab 10 untuk contoh tentang pemakaian logaritma dalam menjelaskan respons teli- nga terhadap suara dengan intensitas berbeda-beda). Berdasarkan definisi, apabila y = ax, maka x adalah logaritma dari y dengan bilangan pokok/dasar a: x= log, (y) Sebagai suatu contoh, misalkan bilangan pokok, a = 10. Karena 100 = 10? maka 2 = log,, (100). Dengan cara yang sama, 3 = log,, (1000) = log,, (10°); 4 = log,» (10'); 10 = log,, (10%), dst. Plot semilog di Gbr. B.1b adalah bentuk logaritma, atau kebalikan matematis dari persamaan eksponensial yang kitajumpai di bagian B.1. Apabila mengambil logaritma dari kedua sisi persamaan untuk pe- nurunan eksponensial sesuai jarak, y, = y, e™, kita akan mendapat In (y,/y,) =-kx, In menandakan logaritma alam terhadap bilangan pokok e. Plot semilog bermanfaat tidak saja karena bersifat linier untuk sifat eksponensial (perhatikan bahwa x proporsional dengan angka (In (y,/ Y,)}), tetapi juga dapat digunakan untuk memplotkan kuantitas yang mencakup kelipatan dalam jumlah besar. Dibidang fisika kedokteran, sifatlogaritmik atau eksponensial umum- nya menggunakan bilangan pokok 10 atau e. Apabila anda melihat log y, bilangan pokoknya adalah 10. Apabila anda menjumpai In Y, maka bilangan pokoknya adalah e. Kedua bentuk logaritma ini berhubungan melalui persamaan: In y = (2,303) log y yang berasal dari fakta bahwa In 10 = (2,303). Ringkasan Sifat Logaritma: (1) y=ax; x= log, (y) (2) w= yz; log, (w) = log, (yz) = log, (y) + log, (z) ‘ (3) w= y/z; log, (w) = log, (y2) = log, (y) - log, (z) (4) log, (yn) = 1 log, (y) aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 346 Fisixa TusuH Manusia paru, 141 penyebab, 173 Efek Bernouli, 144, 180, 192, 249 Efek difraksi pada mata, 295-297 Efek menyaring pada arteri, 186 Efek purkinje, 320 Efisiensi manusia, dan mesin, 23 untuk beberapa kegiatan, 24 mekanisme bernapas, 161 pada jantung, 188 Einthoven, Willem, 215 Ekokardiografi, 2 Ekspirasi paksa, kurva, 148 Ekspirasigaya di jalan napas, 159 Elastisitas, modulus, 86 Electrical noise, 295 Electrophosphenes, 305 Elektrobiogram (MCG), 196 Elektrobiologi, 196 Elektrode, 212, 214, 216, 221, 222, 224, 227, 228 untuk ECG, 215 perak berklorida, 221 untuk EEG, 221 rujukan untuk EEG, 221, 222 sistem standar internasional untuk lokasi, 221 Elektrode indeferen, 217 Elektrode, untuk otot, 205 untuk EMG, 205 Elektroensefalogram (EEG), 197, 221, 224, 228 elektroda rujukan untuk, 221 gelombang alfa dalam, 222 frekuensi dalam, tabel, 223 gelombang delta dalam, 224 gelombang theta dalam, 224 rangsangan eksternal selama, 225 Elektrokardiogram (ECG), 166, 189, 191, 197, 212-220 interpretasi, oleh komputer, 217 standard limb leads, 215, 216 Elektromiogram (EMG), 197, 205-210 selama stimulasi listrik, 205 periode laten, 210 Elektrookulogram (EOG), 197, 228 Elektrorinogram (ERG), 197, 227-228 Embolus pulmonari, 135 Embolus udara, selama menyelam, 113 Embolus, udara, 113 pulmonari, 135 Embrio, 166 Emesis, 107 Emfisema, 148, 156, 159, 164 keregangan pada paru, 161 Emisivitas, 28 ketergantungan pada warna kulit, 28 Energi kimia, 16 Energi kimiawi, 23 Energi kinetik, 181 Energi radiasi, 28 Energi sinar matahari, 15 Energi yang dapat dimetabolisme, 18 Energi, perubahan dalam tubuh pada berbagai aktivitas, tabel, 21 disimpan, 23 Energi, perubahan pada tubuh, dipancarkan oleh tubuh, 28 Energi, perubahannya pada tubuh, 15, 17-1 penyimpanan, 19 kekekalan, 16-17 pada tubuh, 16-17 satuan, 17-18 dapat dimetabolisme, 18 tabel, 12 Epilepsi, diagnosis, oleh EEG, 224 Ereksi, pria, 195 Ergometer, 23 Eritrosit, 169 Esofagus, 107 tekanan pada, 107 Evaporasi, pengeluaran panas, 27 Evoked response pada EEG, 225 Femur, 83-85, 87, 89-90 Feses, sisa energi, 16, 21 Filamen, 37 Filter, densitas netral, 301 Filtrasi, 124 Fisik, definisi, 1 Fisika kedokteran, 1 Fisika radiologis, 2 Flatus, 108 Flicker-fusion, 308 Fluorin dalam air minum, 81 Fluoroapatit, 81 Fokus, kedalaman mata, 287, 313 Fonasi, 236 Fonokardiogram, 189 Foramina, 50 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 350 Fisica Tusun Manusia Kesalahan positif palsu, 10 Kesalahan, kesalahan negatif dan kesalahan positif, 10-11 Ketajaman penglihatan, 295, 297-302, 320 Ketajaman, efek kontras pada, 299-300, penglihatan, 295, 318, 319 vernier, 299 Ketepatan, 9 Ketulian, 256, 269, 280 Kifosis, 46-48 Koklea, 79, 256, 261, 263, 267, 271, 275 Kolagen tulang, 80-81, 88 Kolagen, 80-81, 88, 233 Kompleks QRS, 216-217, 220 Kompresi pada gelombang suara, 237 Konfigurasi lead yang diperkuat ECG, 215-216, 221 Konjungtiva, 289 Konstanta waktu paru, 160 Kontak lensa, 318 Konstanta Stefan-Boltzmann, 28 Kontrol umpan-balik, 4, 6 Konveksi, pengeluaran panas akibat dari, 29 Korda spinalis, 198-199, 205, 206, 210 Komnea, 281, 283, 285-287, 289, 308, 310, 313, 316, 322, 325 kelengkungan, 285-286, 313, 322, 316 sel, 285, 302 Korotkoff, sumber, 189 Korteks penglihatan, 281, 305-306 Kremasi, 81 Kristal mineral tulang, ukuran, 81 Kuping, diagram, sel bulu, 255-256 Kurva P-V, 148, 154, 155 uji, 141 Kurva tekanan-volume, untuk sebagian paru, bernapas, 146, 147, 148 Kuspid, 65 Laener, R. T. H., 245 Laju metabolik pada organ-organ, pada tabel, 21 ketergantungan tubuh pada, 26-27 Laju metabolisme basal (BMR), 19, 20 Laju metabolisme basal, untuk berbagai, binatang, 19 Laju metabolisme, 1Z bergantung pada temperatur tubuh, 19 Langit-langit sumbing, 251 Laplace, hukum, 151, 179, 191 Laring, 248 buatan, 253 Laringoskopi langsung, 253 Lavoisier,1Z Lead, standard, ECG, definisi, 215-217 Lemak, jumlah kalori, 19 Lempeng-lempeng dalam spinal, 46, 50, 51 tekanan, 46 Lensa kontak, 285, 308, 316, 317, 322 plastik lunak, 316 permeabel gas, 316 keamanan penggunaan, 317 Lensa korektif, 284, 295, 308, 315, 316-317, 321 Lensa, 285 aberasi, 295, 308, 319 bayangan jauh, 289, 309 benda jauh, 289, 308 determinasi panjang fokal, 285, 319, 324 kekeruhan, 286 kekuatan, 308 kontak, 285, 308, 318, 322 korektif, 285, 295, 318, 312, 315, 320 mata, 309, 324 negatif, 308, 324 pada mata, 287, 295 panjang fokal, 308, 319, 324 penentuan panjang fokal, 308 persamaan, 289 positif, 309, 313, 322, 324 rumus, 308 silindris, 315, 324 ultraviolet (UV), 289 Lensometer, dasar, 324 periggunaan instrumen, 320 Leukemia, 169 Leukosit (sel darah putih), 169 Limpa, massa dan konsumsi O,, 21 Lordosis, 46-48 Lumbal, gaya, 46 Magnetic resonance imaging (MRI), 254 Magnetobiologi, 196 Magnetoensefalogram (MEG), 197, 230-231, 266 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 354 untuk saraf takbermielin, 203, Potensial istirahat, 199, 200, 201-202, 205 model, 199 Potensial listrik, mengakibatkan pergerakan mata, 222 penyebab pergerakan mata, 228 Presbikusis, 269 Presbiopia, 286, 310 koreksi, 316-317 Prinsip Archimedes, 12-13 Prinsip Bernoulli, 180-181 Produksi panas oleh tubuh, 17, 21 Prostetik, 65, 72, 74, 75, 92 perlengkapan untuk gigi, 71, 72 prostetik untuk mata, 308 Protein, jumlah kalori, 19 Psikiater, 197 Pulsologium, 8 Pupil mata, 287, 295-297, 314 Pusat gravitasi, 40, 48, 49-50 Pusat pernapasan, 156 Radian, 297 Radiasi elektromagnetik, 28 Radiasi dari tubuh, 25 kehilangan (atau menerima) energi akibat radiasi, 28 pengeluaran panas dari tubuh, akibat radiasi, 28 Random walk, 117 Ranvier, nodus, 202, 204 Rapid eye movement (REM) tidur, 224, 230 Rarefaction pada gelombang suara, 237 Refleks berkemih, 110 Refleksi suara, bergantung pada impedansi akustik, 238, 242-243 Refleksi, 298-299 Remodeling tulang, 22 Resistensi jalan napas, 131-132, 159-160, 164 Resolusi, 297 Respons refleks, 210 Resusitasi, 132 Retina, 106, 281, 283, 287-292, 295, 297, 302, 304, 308, 310, 311, 316, 318-322 fotoreseptor, 289 pembuluh darah, 208, 286, 304, 305 Fisika TusuH ManusiA ukuran bayangan pada, 290, 316, 322, 324 ukuran pada bayangan, 289 zat-zat kimia peka-cahaya, 289 Retinitis pigmentosa, 227 Retinoskop, 322 dasar, 320 Reumatisme, 77 Reumatologi, 77 Reynolds, Osborne, 186-187 Rongga pada tubuh, tekanan pada, selama menyelam, 111-112 Rongga sinus, 111-112 Rongga vestibular, 264-265 Ruang intrapleura, 145 Ruang intratoraks, 145, 157 Ruang magnetik, bumi, 230, 231 dari kerja paru, 232 jantung, 230 sekitar jantung, 230 Ruang mati alveolus, 145 Ruang mati fisiologik, 145 Ruang mati, anatomi, 145 fisiologik atau alveolus, 145 Sabuk bahu, 61 Sabuk pengaman, 60 Sakit kepala dari dialisis, 127 perawatan, oleh umpan balik hayati, 234 Saliva, sebagai pelumas, 36 Saluran cerna, 107 Saluran napas terminal, penyakit, 160 Saluran telinga, 273, 276 Saluran vocal karakteristik transmisi suara, 252 model, 248, 252 modifikasi, selama berbicara, 252 Sanctorius, 8 Sanggurdi, 261 Saraf aferen, 198 Saraf auditoris, 256, 263, 276 Saraf bermielin, 202-203 keuntungan, 203-204 Saraf eferen, 199 Saraf sensorik, 210 Saraf, 197 perifer, 197 potensial listrik, 199 bermielin dan takbermielin, 203 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 358 Fisica Tusu Manusia osteoporotik, ahi otolaringologi, 255, 271 Tulang rawan sendi, 95 Tulang rawan, 78, 95 Tulang trabekular, keunggulan, 86 Tulang berongga atau kanselus, 83 densitas, 88 efek piezoelektrik pada, 92 fungsi, 46,77 gaya pada, 83-85 kekuatan, 80, 92, 97 komponen inorganik, 80 komposisi, tabel, 80 kuat, 88 massa, 79-80, 88 osteoporosis, 46, 80, 92, 83, 97 padat atau kompak, 83 patah, 86-88 pertambahan panjang sewaktu mendapat tekanan, 83 pertumbuhan dan penyembuhan, 92 poros, 88 sebagai bank kimia, 77, 79 sebagai jaringan hidup, 80 sifat mekanis, 86 tekanan pada, 83 trabekular, 83-85, 87 tulang berpori, 80 Tuli total, 276 Tuli, 276 + Tumbukan, otomatis, 57-59 gaya saat, 57 Tumor otak, diagnosis oleh EEG, 224 Tumor tulang, 82 Tuna rungu, 255 Udara ekspirasi, komposisi, 130-131 kecepatan, 142 ‘Udara, komposisi, 130 Ultrasonografi, 2, 254 Ultrasound, 236 Umpan-balik hayati, 234 penggunaan, 234 Umpar-balik, 4-6 negatif, 4, 6, 234 positif, 4 Unit dialisis untuk ginjal, 194 Unit motorik, 205, 208, 209, 210 untuk saraf takbermielin, bunyi takterucapkan, 248 Varises vena, 102 Varises, 34 Vasodilatasi, 22 Vena cava, 159, 168 tekanan darah, 180 Vena varikosa, 193-194, 194 Ventilasi pada paru, 135 volunter maksimum, 142 Ventilasi voluntar maksimum, 142 Ventilasi, 135 Ventrikel jantung, 167, 173-174 Venula, 167 Vertebrata, kerusakan, 50 Viskoelastisitas, pada tulang, 91 Viskositas air, 182-183 bergantung pada, temperatur, 182-183 cairan sinovial, 96 darah, 182-183 satuan, 182-183 Vitreous humor, 106, 285, 286, 288 Volume alun, napas, 142 Volume cadangan ekspirasi, 141 Volume cadangan inspirasi, 142 Volume pernapasan semenit, 142 Volume rata-rata, saat istirahat, 148 Volume relaksasi pada paru, 145-146 Volume, pada darah dalam tubuh, 167-168, 169 pompa jantung, 173-174 Von Bekesey, Georg, 527, 259 Waller, AC, 214 Wheatstone stereoskop, 306 Wind chill, 29, 30 Zat terlarut, 116, 118 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. sBi Buku Fisika Tubuh Manusia edisi LCto IVE ETS ¢ Core} sederhana mengenai manfaat fisik dalam memahami fungsi berbagai sistem organ tubuh, seperti mata, telinga, paru, dan jantung. Buku teks Rom OL auc Melis] medis. Namun, sebagian besar isi buku dapat dipahami oleh semua Orang yang ingin mengetahui bo Ter Tuna R lot anor MVelurtt e) yang digunakan adalah matematika Elie lei Dalam edisi ini terdapat pembahasan baru mengenai gaya di bidang gigi, ‘fisika telinga dan pendengaran, serta penambahan terinci mengenai fungsi telinga dalam. Satuan yang digunakan dalam buku ini berdasarkan sistem internasional (CRS MO Mel cule ERC satuan lain yang lazim digunakan dalam tanda kurung. Buku ini tidak dimaksudkan sebagai buku referensi, tetapi di akhir buku dilampirkan LOSS Blac R71) spesifik untuk"setiap topik bab. iN Ked1005-03D on We

Anda mungkin juga menyukai