Anda di halaman 1dari 9

PEMBAHASAN

A.Faktor Keamanan
Faktor keamanan adalah faktor yang digunakan untuk
2
mengevaluasi keamanan dari suatu bagian mesin.
Faktor keamanan ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
1.Variasi sifat-sifat bahan
. 2.Pengaruh ukuran dati bahan yang diuji kekuatannya
3.Jenis beban
4.Pengaruh permesinan dan proses pembentukan
5.Pengaruh perlakuan panas terhadap sifat fisis dari material
6.Pengaruh pelumasan dan umur dari elemen mesin
7.Pengaruh waktu dan lingkungan dimana peralatan tersebut
dioperasikan
8.Syarat-syarat khusus terhadap umur dan ketahanan uji mesin
9. Keamanan manusia secara keseluruhan harus diperhatikan
Penggunaaan faktor keamanan yang paling banyak terjadi bila kita
membandingkan tegangan dengan kekuatan, untuk menaksir angka
3 Katakanlah, sebuah elemen mesin diberi effek yang kita
keamanannya.
sebut sebagai F. Kita umpamakan bahwa F adalah suatu istilah yang
umum, dan bisa saja berupa suatu gaya, momen puntir, momen lentur,
kemiringan, lendutan, atau semacam disorsi. Kalau F dinaikkan, sampai
suatu besaran tertentu, sedemikian kalau dinaikkan sedikit saja, akan
mengganggu kemampuan mesin tersebut, untuk melakukan fungsinya
secara semestinya. Kalau kita nyatakan batasan ini, sebagai batas akhir,
harga F sebagai fu , maka faktor keamanan dapat dinyatakan sebagai :

Bila F sama dengan Fu, n=1, dan pada saat ini tidak ada
keamanan sama sekali. Akibatnya sering dipakai istilah batas keamanan
(margin of safety). Batas keamanan dinyatakan dengan persamaan :
M=n-1
Istilah faktor keamanan dan batas keamanan banyak dipakai dalam
praktik industri, yang arti dan maksutnya diketahui jelas. Begitupun,
istilah Fu dalam persamaan (1-1), adalah istilah yang terlalu umum untuk
semua jenis kegiatan, merupakan angka tersendiri yang secara statistik
bervariasi. Karena alasan ini, suatu faktor keamanan dengan n > 1 tidak
menghalangi terjadinya kegagalan. Karena hubungan antara tingkat
bahaya dengan n ini, beberapa pengarang cenderung menggunakan istilah
faktor perencanaan sebagai pengganti faktor keamanan.

Lebih lanjut, penggunaaan faktor keamanan yang paling banyak


terjadi, bila kita menbandingkan tegangan dengan kekuatan, untuk
menaksir angka keamananya. Faktor keamanan dipakai mempertanggung
jawabkan dua efek yang terpisah, dan biasanya tidak saling berhubungan.
Bila banyak bagian-bagian yang harus dibuat, dari berbagai
pengiriman bahan yang berbeda, atau ditemukan adanya variasi kekuatan
dari berbagai bagian tersebut, karena alasan yang berbeda beda, termasuk
karena adanya perbedaan dalam pembuatan, pengerjaan panas dan dingin,
dan bentuk geometrinya.
Bila suatu bagian dipasangkan, katakanlah pada sebuah konstruksi
dan konstruksi tersebut diteriman oleh pemakai yang mewah, akan
didapati adanya variasi beban yang berlebihan diluar jangkauan
pengawasan pabrik dan perencanaanya.

Jadi, faktor keamanan secara terpisah dipakai oleh perencana untuk


memperhitungkan ketidak tentuan yang mungkin terjadi atas kekuatan
suatu bagian mesin dan ketidak tentuan yang mungkin terjadi atas beban
yang bekerja pada bagian mesin tersebut.
Kita akan memilih tiga buah kasus yang menunjukan perbedaan
yang jelas dalam penggunaan faktor keamanan. Kasus ini tergantung pada
apakah faktor keamanan dipilih sebagai suatu besaran, atau sebagai faktor
yang dimasukan kedalam komponen.
Kasus 1. Seluruh faktor keamanan dipakai terhadap kekuatan
s = S atau t = Ss
n
n

(1-3)

Disini, tegangan dan disebut tegangan aman (safety strees)


atau tegangan perencanaan (design strees). Perhatikan, bahwa Ss adalah
suatu tegangan geser. Karena hanya ada faktor keamanan yang dipakai
dalam persamaan n haruslah mencakup juga kelonggaran atau ketidak
tentuan beban dan tegangan. Anda perlu mencatat bahwa hubungan dalam
persamaan 1-3 secara tidak langsung juga menunjukan bahwa tegangan
berbanding lurus terhadap beban. Kalau ada keraguan atas perbandingan
lurus tersebut, maka Kasus-1 tak dapat dipakai.
Kalau suatu bagian mesin sudah direncanakan dan bentuk
geometri, beban dan kekuatanya diketahui maka faktor keamanan dapat
dihitung untuk mengevaluasi keamanan dari rencana tersebut. Cara
pendekatan ini juga dapat dipergunakan, bila riwayat kegagalan dari
bagian mesin tersebut sudah diketahui, dan siperencana ingin mempelajari
mengapa beberapa bagian mesin tertentu sering rusak. Nutuk tujuan ini,
Persamaan (1-3) dipakai dala bentuk :
n=

S atau = Ss
n
s
t

(1-4)

Kasus 2 Seluruh faktor keamanan tersebut dipakai terhadap pembebanan,


atau terhadap tegangan yang timbul akibat pembebanan tersebut.
Fp = n.F atau p = n.

(1-5)

Di sini Fp disebut beban yang diperkenankan (allowable load),


p U disebut tegangan
atau beban yang diizinkan (permissible load), tdan
yang diperkenankan,2 atauU tegangan yang diinginkan2 . Hubungan
persamaan selalu perlu dipakai bila tegangan tidak berbanding lurus
dengan beban. Tegangan yangdidapat dari beban yang diinginkan juga bias
disebut sebagai tegangan yang diizinkan. Karenanya, Persamaan (1-5)
dapat dipakai untuk tujuan perencanaan, dengan memilih suatu bentuk
geometri tertentu, sedemikian rupa sehingga tegangan yang diizinkan tidak
pernah lebih besar dari kekuatan S.
Kasus 3 Faktor keamanan total atau faktor keamanan menyeluruh, dipakai
terhadap semua bagian dari mesin, dan faktor yang tersendiri dipakai
secara terpisah terhadap kekuatan dan terhadap beban, atau terhadap
tegangan yang terjadi akibat beban tersebut. Kalu misalnya, ada dua beban
yang bekerja, maka faktor keamanan total atau faktor keamanan
menyeluruh adalah :
a
(U)
n = nn2n
s. 1.
Di mana n dipakai untuk memperhitungkan semua variasi atau ketidaks
tetapan yang menyangkut kekuatan n2terhadap ketidak tetapan yang
1
menyangkut beban 1 dan n2terhadap ketidak-tetapan yang menyangkut
beban 2.
Kalau tidak menggunakan suatu faktor keamanan , seperti n
s
terhadap kekuatan sebetulnya kita mengatakan, bahwa ada keadaan biasa

dan wajar, maka kekuatan yang didapat tersebut tak akan pernah kecil.
Jadi, harga terkecil dari kekuatan tersebut, dapat dihitung sebagai berikut :
(1-6)
Kalau kita menggunakan faktor keamanan, seperti n1 terhadap
suatu beban atau tegangan yang timbul akibat beban tersebut. Sebetulnya
kita mengatakan , bahwa bebab atau tegangan yang timbul tersebut tidak
akan pernah lebih besar. Jadi, beban atau tegangan terbesar, sesuai dengan
kasus ini adalah :
= n .
p
j

atau

Fp = n.F
j

(1-7)

Di mana nadalah komponen dari faktor keamanan total [ n2atau n


j
1
dalam persamaan ( a ), yang diperhitungkan secara terpisah terhadap
ketidak tetapan yang menyangkut tegangan atau beban. Hal ini sesuai
dengan peryataan tentang 2 dan F sebagai harga yang diperkenankan
p
p
atau dizinkan .
ntuk kasus ini, hubungan tegangan dengan beban, dapat
dinyatakan dengan persaman umum berikut ini :
2=
x ) F (n2F2nF2nF..,nF)
p C ( x2x2x
1, , 3,..,2i
1 1, , 3 3
j 3
di mana

(1-8)

C = konstanta
=
F =
X1=
F2=
1

fungsi dari bentuk geometri


fungsi beban, biasanya gaya dari momen
ukuran bagian mesin yang direncanakan
beban luar yang bekerja pada bagian mesin tersebut
7

n=
j

faktorU UkeamananU UyangU UdipakaiU Uuntuk

memperhitungkan variasi beban masin-masing


Tentunya, suatu persamaan yang sama dengan persamaan (1-8) juga dapat
ditulis untuk tegangan geser. Persamaan (1-8) dipakai untuk perencanaan,
dengan menghitungnya, untuk semua ukuran
xyang tidak diketahui.
1
Akhirnya, adalah penting untuk dicatat, bahwa kekuatan dan
tegangan dalam suatu bagian mesin adalah berbeda-beda dari satu titik
ketitik yang lain dalam elemen tersebut. Berbagai cara pengerjaan logam,
seperti penempaan, rolling dan pembentukan dingin menyebabkan adanya
variasi kekuatan tersebut dari satu titik ketitik yang lain dalam bagian
mesin tersebut. Tegangan juga berubah dari titik ketitik yang lain. Jadi,
perlu diingat bahwa kekuatan tegangan, kekuatan, dan keamanan hanya
berlaku pada suatu titik tertentu saja. Di dalam beberapa kasus mereka
harus dievaluasi pada beberapa titik, dalam merencana atau menganalisa
4
suatu bagian mesin.
Faktor keamanan dipilih untuk memastikan tegangan geser yang
diijinkan tidak melebihi ukuran batas tegangan untuk material, tetapi
pertimbangan secara umum akan mempengaruhi nilai faktor keamanan
tersebut. Yang mempengaruhi adalah :
1.USifat dari material itu sendiri dan spesifikasi keandalannya
2.USifat pembebanan (sifat mampu beban)
3.USifat ketahanan material dari korosi
4.UKemungkinan dampak dari pengerjaan pemesinan
5.UAkibat kegagalan (kelelahan) material pada waktu proses
5
pembentukan.
ntuk komponen mesin yang mengalami beban bervariasi terusmenerus, maka faktor keamanan dihitung berdasarkan ketahanan lelah
bahan yang digunakan. Menurut pendapat J. P. Vidosic angka keamanan

disesuaikan berdasarkan tegangan luluhnya, dan kemudian J. P. V idosic


memberikan angka keamanan sebagai berikut :
1.Un = 1.25 + 1.5:
ntukU bahanU UyangU sesuaiU dengan
penggunaan pada kondisi terkontrol dan beban tegangan yang
bekerja dapat ditentukan dengan pasti.
2.Un = 1.5 + 2 :
ntuk bahan yang sudah diketahui dan pada
kondisi lingkungan beban dan tegangan yang tetap dan dapat
ditentukan dengan mudah.
3.Un = 2 + 2.5 :
ntukU UbahanyangU UberoperasiU Upada
lingkungan biasa dan beban serta tegangan dapat ditentukan.
4.Un = 2.5 + 4 :
ntuk bahan getas dibawah kondisi
lingkungan, beban, dan tegangan.
5.Un = 3 + 4 :
ntuk bahan belum diuji yang digunakan
pada kondisi lingkungan, beban, dan tegangan rata-rata atau untuk
bahan yang sudah diketahui baik yang bekerja pada tegangan yang
6
tidak pasti.

Akan tetapi berdasarkan Ir. Zainun Achmad, MSC., beliau


menambahkan tiga poin dari apa yang telah disampaikan J. P. Vidosic,
yaitu :
6.UBeban Berulang :
Faktor-faktor seperti yang ditetapkan
pada nomor 1sampai 6 yang sesuai, tetapi harus disalurkan pada
batas ketahanan lelah dari pada kekuatan luluh bahan.
7.UGaya Kejut :
Faktor yang sesuai pada nomor 3 sampai 5
tetapi faktor kejut termasuk dalam beban kejut.
8.UBahan GetarU:
Dimana tegangan maksimum digunakan
secara teoritis, harga faktor keamanan dipresentasikan pada nomor
7
1 samapai 5 yang diperkirakan 2 kalinya.
6Mechanical Design An Integrated Approach, page 12
7Elemen Mesin-1, hal 4-5
9

Menurut D. Titherington dan J. G. Rimmer dalam bukunya yang


berjudul Mechanical Engineering Science mengatakan bahwa, untuk
mendefinisikan faktor keamanan yang mana memungkinkan untuk
mengetahui tegangan yang didijinkan pada suatu konstruksi adalah dengan
cara melakukan suatu perhitungan, yang mana perhitungannya adalah
sebagai berikut :