Anda di halaman 1dari 26

KONSUMSI PAKAN DAN EFISIENSI PRODUKSI

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas praktikum fieldtrip matakuliah
Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia

Oleh
Mirsa Ita Dewi Adiana
135050100111189
Kelompok K-2

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena karunia dan hidayah-Nya,
kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas praktikum fieldtrip mata kuliah Ilmu Nutrisi Ternak
Ruminansia.
Makalah ini membahas tentang konsumsi pakan dan efisiensi produksi di
peternakan mitra kami. Penulisan Makalah ini tidak lepas dari bimbingan serta
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami
ucapkan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan, bantuan, serta
kerjasamanya hingga terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih perlu perbaikan untuk
menjadi lebih sempurna. Oleh karena itu, kami mengharap saran dan kritik yang
membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Malang, 20 Desember 2014

Penulis

2 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................................
1
KATA PENGANTAR ................................................................................................
2
DAFTAR ISI..............................................................................................................
3
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................
4
BAB II PROFIL PETERNAKAN..............................................................................
5
BAB III PEMBAHASAN..........................................................................................
8
BAB IV REKOMENDASI........................................................................................
20
BAB V PENUTUP.....................................................................................................
21
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
22

3 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

BAB I
PENDAHULUAN

Pada usaha peternakan sapi perah, pakan merupakan faktor penting


dalam mengoptimalkan produksi susu sapi perah. Pemberian pakan dengan
kandungan nutrisi yangcukup akan berkorelasi positif dengan jumlah produksi
susu (Huda, 2007). Lanjut, Sunarso (2012) menyatakan bahwa keberhasilan usaha
peternakan sangat ditentukan oleh tiga faktor yangsama pentingnya, yaitu Breeding,
Feeding, dan manajemen. Dilihat dari total biaya produksi dalam usaha
peternakan, maka kontribusi pakan adalah yang paling tinggi yaitu sekitar 75%,
tetapi pada kenyataannya banyak peternak kurang memperhatikan manajemen
pemberian pakan sapi perah masa laktasi dengan baik sehingga hasil yang didapat
masih kurang dariyang diharapkan. Hal tersebut juga terjadi pada peternakan sapi
perah pada peternakan tersebut terdapat korelasi negatif antara manajemen
pemberian pakan dengan produksi susu yang masih rendah. Oleh karena itu salah satu upaya
untuk memaksimalkan produktivitas sapi perah yaitu dengan mengoptimalkan
manajemen pemberian pakan pada sapi perah masa laktasi yang baik dan
berkualitas serta kuantitas yang layak. Pakan menjadi faktor utama usaha
peternakan. Tersedianya pakan yang cukup kualitas, kuantitas dan kontinuitas
sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha peternakan. Pemberian pakan
dengan metode dan jumlah yang tepat akan memberikan hasil yang baik pada
pertumbuhan hewan ternak khususnya ternak ruminansia yang mana pertumbuhan
ternak tergantung pada pakan yang diberikan. Waktu pemberian pakan serta
komposisi pakan yang baik juga memberikan peran signifikan pada pertumbuhan
ternak. Melihat penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa betapa pentingnya
faktor-faktor keberhasilan usaha peternakan sapi perah pada peternakan sapi perah
khususnya di mitra kami. Hal ini dilaksanakan untuk melatih mahasiswa dalam
menganalisis suatu peternakan juga untuk memberikan solusi apabila ditemukan
permasalahan nantinya khususnya dalam manajemen konsumsi pakan pada sapi
perah.

4 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

BAB II
PROFIL PETERNAKAN

2.1.

Identitas Peternakan
: Yuyun Sri Wahyuningsih

Umur

: 45 tahun

Lokasi

: Desa Trajan, Kel. Kemiri, Kec. Jabung, Kab. Malang

JumlahSapi

: 27 ekor

Waktu Pengamatan

: Minggu, 7 Desember 2014, Pukul 16.00 WIB

2.2.

Nama Pemilik

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Informasi Sapi Pengamatan


Bangsa
Ternak
Friesian
Holstein
Friesian
Holstein
Friesian
Holstein
Friesian
Holstein
Friesian
Holstein
Friesian
Holstein
Friesian
Holstein
Friesian
Holstein
Friesian
Holstein
Friesian
Holstein

Jenis
Kelamin
Betina

Lingkar
Dada
178 cm

Panjang
Badan
146 cm

Suhu
Rektal
36oC

Frekuensi
Pernapasan
44 kali/detik

BCS

Betina

150 cm

195 cm

38 oC

40 kali/detik

Betina

149 cm

192 cm

38 oC

39 kali/detik

Betina

192 cm

188 cm

39 oC

37 kali/detik

Betina

192 cm

210 cm

39 oC

21 kali/detik

Betina

185 cm

180 cm

37 oC

40 kali/detik

Betina

176 cm

190 cm

36 oC

42 kali/detik

Betina

190 cm

200 cm

38 oC

39 kali/detik

Betina

189 cm

185 cm

38 oC

37 kali/detik

Betina

186,5
cm

195 cm

39 oC

40 kali/
detik

5 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

2.3.

Dokumentasi

Sapi 1

Sapi 2

Sapi 3

6 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Sapi 4

7 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Sapi 5

Sapi 6

Sapi 7

Sapi 8

Sapi 9

8 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Sapi 10

BAB III
PEMBAHASAN

3.1.

Manajemen Pemberian Pakan


Pakan merupakan salah satu faktor penting didalam usaha peternakan yang

harus mendapat perhatian khusus dalam pengelolaannya termasuk pengontrolan


serta analisis kandungan nutrisi dan jumlah pemberian ke ternak baik secara
kuantitas maupun kualitas. Siregar (2001) berpendapat bahwa 70-80% biaya total
dari peternakan rakyat adalah untuk pakansedangkan sisanya untuk pembibitan
dan manajemen pemeliharaan.Berdasarkan pelaksanaan PKL dapat diketahui
bahwa beberapa hal yang dilakukan sebelum pemberian pakan yaitu
membersihkan palungan pakan untuk membuang sisa-sisa pakan serta
penggantian air minum.Sapi-sapi perah dalam usaha peternakan skala besar harus
diperhatikan benar kondisi sapi baik segi pakan, pemerahan, penyakit serta
kebersihan (Anonymous, 2011).Berdasarkan penjelasan tersebut maka akan
diuraikan lebih lanjut tentang manajemen pemberian pakan di CV. Milkindo
Berka Abadi sebagai berikut:
3.2.

Hijauan
Hijauanmerupakansumberbahan pakanternakyang utamadan sangatbesar

peranannnyabagiternakruminansia(sapi,kerbau,kambing dan domba) baik untuk


hidup pokok, pertumbuhan produksi (daging dan susu) maupun untuk reproduksi

9 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

(Santoso, 2002). Berdasarkan sumbernya, hijauan terdiri dari 3 golongan yaitu


rumput (graminae), kacang-kacangan (leguminose) dan sisa hasil pertanian.
Hijauan dari rumput-rumputan (graminae) merupakan hijauan yang tergolong
mempunyai nilai PKsedang, hijauan dari kacang-kacangan (leguminose) tergolong
hijauan yang mempunyai nilai PKtinggi, sedangkan hijauan sisa hasil pertanian
tergolong hijauan dengan nilai PK rendah.

10 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

3.3.

Bahan Baku Hijauan


Hijauan yang digunakan pada perusahaan ini merupakan hijauan dari lahan

sendiri dengan jenis rumput yang terdiri dari Rumput Gajah (Pennisetum
purpureum), Rumput Raja (Pennisetum purpupoides) dan Gamal (Gliricidia
sepium) (Gambar 3, 4 dan 5). Pemotongan hijauan dilakukan setelah umur 40-45
hari. Pemotongan hijauan dilakukan dengan jarak potong kurang lebih 10-12 cm
dari permukaan tanah. Berdasarkan umur dan jarak potong rumput dari
permukaan tanah yang dilakukan telah sesuai dengan pernyataan Sudono (2003)
bahwa umur potong tanaman dilakukan berdasarkan musim, umur 40 hari
dimusim hujan dan 60 hari dimusim kemarau dan jarak potong dari permukaan
tanah 10-15 cm. Pemotongan hijauan di lahan dilakukan dua kali dalam satu hari
sebelum pencacahan untuk selanjutnya diberikan pada ternak.
Produksi Rumput Gajah pada lahan hijauan dapat dihitung berdasarkan
luas lahan penanaman, luas lahan per 1 hari pemotongan dan jumlah produksi per
hari dengan hitungan sebagai berikut:
Diketahui: 1. Luas lahan tanam Rumput Gajah= 6 Ha atau 60.000 m2.
2. Luas lahan per 1 hari pemotongan (perkiraan) 60x30 m= 1800 m2.
3. Produksi Rumput Gajah/hari 9 ton.
Sehingga lahan seluas 6 Ha memproduksi Rumput Gajah= 60.000 m2 x 9 ton
1800 m2
= 300 ton
Berdasarkan hasil hitungan, maka produksi rumput gajah per Ha = 300/6 =
50 ton/Ha.
Produksi rumput gajah pada panen pertama setelah umur 40-60 hari dapat
mencapai rata-rata 2 kg per rumpun atau 20 ton/Ha sedangkan produksi
selanjutnya dapat mencapai rata-rata 5 8 kg per rumpun atau 50 80 ton/Ha/
satu kali produksi (Anonymousa, 2009).

11 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Gambar 3. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum).

Gambar 4. Rumput Raja (Pennisetum purpupoides).


Rumput Raja (Pennisetum purpupoides) pada perusahaan hanya ditanam
didalam area kandang dengan luas sekitar 2 x 40 m2 dan hanya diberikan ke
ternak saat rumput sudah terlihat tinggi. Rumput Raja (Pennisetum purpupoides)
ini tidak dijadikan bahan baku utama pakan hijauan.

12 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Gambar 5. Gamal (Gliricidia sepium).


Gamal (Gliricidia sepium) pada perusahaan hanya dijadikan sebagai
tanaman pagar dan diberikan pada ternak saat sudah terlihat lebat daunnya. Gamal
(Gliricidia sepium) ini tidak dijadikan bahan baku utama pakan hijauan.
3.4.

Pemberian Hijauan
Pemberian hijauan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) menjadi yang

utama di perusahaan ini dan Rumput Raja (Pennisetum purpupoides) diberikan


apabila persediaan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) disekitar peternakan
telah menipis, sedangkan untuk Gamal (Gliricidia sepium) hanya diberikan pada
ternak yang sakit.
Hijauan sebelum

diberikan

ke

ternak

dicacah

terlebih

dahulu

menggunakan mesin Chopper hal ini dilakukan satu jam sebelum pemberian
pakan.

Pencacahan

hijauan

ini

berfungsi

untuk

memudahkan

ternak

mengkonsumsidan mencerna hijauan yang diberikan (Unadi, 2007).Pemberian


hijauan dilakukan 3 kali dalam satu hari setelah pencacahan yaitu pada pagi pukul
08.30 WIB, sore pukul 15.00 WIB dan malam pukul 21.00 WIB. Gambar
pencacahan hijauan menggunakan mesin Chopper dapat dilihat pada Gambar 6.

13 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Gambar 6. Pencacahan hijauan menggunakan mesin Chopper.


Kemampuan mesin Chopper yang digunakan pada peternakan dapat
dihitung kapasitas pencacahan hijauan dengan hitungan sebagai berikut:
Diketahui: 1. Pencoperan dilakukan 2 kali, dimulai pagi pada pukul 07.3010.30 WIB, sore pukul 13.30-16.30 WIB, total waktu 6 jam dalam
sehari.
2. Konsumsi hijauan per hari = konsumsi rumput(kg) x jumlah
Jawaban:
3.5.

ternak (ekor), 35 x 235 = 8225 kg.


8225/6 = 1370 kg, jadi kemampuan mesin Chopper pada

perusahaan mampu mencacah rumput per jam sebesar 1370 kg.


Konsentrat
Konsentrat merupakan suatu bahan pakan yang dipergunakan bersama

bahan pakan lain untuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan pakan dan
dimaksudkan untuk disatukan dan dicampur sebagai suplemen (pelengkap) atau
pakan lengkap. Kualitas konsentrat yang akan diberikan kepada ternak yang
bersangkutan sangat tergantung pada kualitas hijauan yang diberikan (Siregar,
2001).Pakan konsentrat berfungsi menyuplai energi tambahan yang diperlukan
untuk produksi susu secara maksimum dan metabolisme tubuh serta mengatur
atau menyesuaikan tingkat protein suatu ransum tertentu (Anonymous, 2012).

14 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

3.6.

Bahan Baku Konsentrat


Konsentrat yang digunakan pada perusahaan ini merupakan konsentrat beli

jadi dari Incow Jaya Farm PT Depokartika Tiara Candra dan Unggul feed
Standard serta Unggul Feed Super Kan Jabung (Gambar 7, 8 dan 9).

Gambar 7. Konsentrat Incow Jaya Farm PT. Depokartika Tiara Candra

Gambar 8. Konsentrat Unggul Feed Standard Kan Jabung

15 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Gambar 9. Konsentrat Unggul Feed Super Kan Jabung


Berdasarkan hasil pengamatan konsentrat tampak bahwa tidak tercantum
komposisi bahan, kandungan nutrisi serta aturan pemakaiannya. Hal tersebut
seharusnya ada, menurut Pamungkas (2011) bahwa dalam kemasan harus
mencantumkan tata cara pemakaian dan penyimpanan konsentrat tersebut
termasuk komposisi bahan, apabila tidak tercantum pada kemasan, setidaknya
tercantum didalam surat jalan atau surat tagihan atau anak kandang diberi briefing
dalam pemakaian dan penyimpanan konsentrat tersebut oleh personel dari pabrik
konsentrat yang bersangkutan.
Konsentrat yang digunakan pada perusahaan ini selama PKL berlangsung
mengalami pergantian sebanyak 3 kali. Pergantian yang pertama diawali dengan
pencampuran antara Konsentrat Unggul Feed Standard Kan Jabung dengan
Konsentrat Incow Jaya Farm PT. Depokartika Tiara Candra, selanjutnya
penggunaan konsentrat Unggul Feed Standard Kan Jabung diganti sepenuhnya
dengan konsentrat Incow Jaya Farm PT. Depokartika Tiara Candra setelah
ketersediaannya

diperusahaan

habis.

Pencampuran

dilakukan

dengan

menggunakan Mixer konsentrat.Mixer konsentrat diperlihatkan pada Gambar


10.Pencampuran tersebut dilakukan hanya untuk menghabiskan sisa konsentrat
Unggul Feed Standard Kan Jabung. Selama PKL berlangsung hingga 2 minggu
terakhir, penggunaan konsentrat diganti lagi dengan Unggul Feed Super Kan
Jabung.

16 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Gambar 10. Mixer Konsentrat. Mixer konsentrat merupakan alat untuk


menghomogenkan beberapa jenis bahan baku pakan ternak
3.7.

PemberianKonsentrat
Pemberian konsentrat dilakukan 2 kali dalam satu hari, yaitu pagi pada

pukul 07.00 WIB dan sore pukul 16.00 WIB yang dilakukan sebelum pemerahan
dengan cara memasukkan konsentrat dari gerobak ke dalam milk can bekas
dengan takaran 1 milk can penuh menampung 4 kg (Gambar 11).
Konsentrat diberikan terlebih dahulu sebelum hijauan, hal ini ditujukan
untuk merangsang kerja dari mikroba rumen. Setelah konsentratnya habis (30
menit), kemudian pakan hijauan diberikan. Konsentrat merupakan pakan penguat
yang mengandung protein dan juga energi (Anonymousb, 2009).
Palatabilitas pakan dan jumlah pakan yang dimakan sapi perah akan
meningkatkan konsumsi protein yang lebih banyak dari kebutuhan minimalnya
sehingga dapat berguna untuk meningkatkan bobot badan dan produksi susu.
Tubuh memerlukan protein untuk memperbaiki dan menggantikan sel tubuh
yang rusak serta untuk produksi (Anonymous, 2010).

17 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

3.8.

Analisis Kebutuhan dan Kecukupan Pemberian Pakan


Kebutuhan ternak akan zat gizi terdiri atas kebutuhan hidup pokok dan

produksinya.

Zat-zat pakan dalam ransum hendaknya tersedia dalam jumlah

yang cukup dan seimbang sebab keseimbangan zat-zat pakan dalam ransum
sangat berpengaruh terhadap daya cerna (Mariyono, 1995).
Kemampuan ternak ruminansia dalam mengkonsumsi ransum dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu 1) Faktor ternak itu sendiri yang meliputi besar tubuh
atau bobot badan, potensi genetik, status fisiologi, tingkat produksi dan kesehatan
ternak; 2) Faktor ransum yang diberikan, meliputi bentuk dan sifat, komposisi zatzat gizi, frekuensi pemberian, keseimbangan zat-zat gizi serta kandungan bahan
toksik dan anti nutrisi; dan3) Faktor lain yang meliputi suhu dan kelembaban
udara, curah hujan, lama siang atau malam hari serta keadaan ruangan kandang
dan tempat ransum (Sudono, 2003).
Konversi pakan dipengaruhi oleh ketersediaan zat-zat gizi dalam ransum
dan kesehatan ternak, semakin tinggi nilai konversi pakan berarti pakan yang
digunakan untuk menaikkan bobot badan persatuan berat semakin banyak atau
efisiensi pakan rendah (Siregar, 1994).
3.9.

Hijauan
Hijauan yang diberikan pada ternak sebesar 35 kg/ekor/hari yang diberikan

sebanyak 2-3 kali. Pemberian hijauan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)


sebesar 35 kg/ekor/hari berlaku untuk semua sapi perah laktasi di perusahaan ini,
sehingga analisis perhitungannya sebagai berikut:
1. Menentukan jumlah kebutuhan hijauan segar.
Diketahui: 1. Misal Produksi Susu 10 l
Kebutuhan BK= 10 kg (Yusuf, 2010)
Kebutuhan PK= 12% BK = 1,2 kg (Looper, 2002)
Kandungan BK dan PK rumput gajah 18% dan 9,1%BK (Soetanto, 2002)
Ditanya: Berapa Jumlah Hijauan Segar (Rumput Gajah) yang Dibutuhkan Ternak?
Jawaban: Kebutuhan Hijauan Segar (Berdasarkan Kebutuhan BK)= 100 x 10/18
kg = 55,56 kg/hari
2. Menentukan Kecukupan Jumlah Hijauan Segar yang Diberikan.
Diketahui: Jumlah Pemberian Hijauan 35kg/ekor/hari
Jawaban: Hijauan Pemberian Hijauan yang Dibutuhkan = 35 55,56 = - 20,56
kg
18 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia
Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Jadi jumlah hijauan yang diberikan 35 kg masih kurang dari yang


dibutuhkan yaitu sebesar 55,56 kg. Pemberian hijauan sebesar 35 kg yang masih
kurang dari yang dibutuhkan, berdampak pula terhadap konsumsi BK dan PK
dalam pakan.Grant (2012) menambahkan bahwa sapi perah masa laktasi
membutuhkan minimal 1000 gram protein dalam pakan untuk mencapai produksi
susu 20 l/ekor/hari, apabila kebutuhan protein dari hijauan tidak memenuhi,
diperlukan pakan tambahan berupa konsentrat.Defisiensi tersebut akan dipenuhi
dengan pemberian pakan tambahan yaitu konsentrat dengan kadar protein tinggi.
3. Konsentrat
Konsentrat yang di analisis yaitu konsentrat dari Unggul Feed Super Kan
Jabung karena yang mempunyai kejelasan data kandungan nutrisi (Lampiran 3)
yaitu Air 14%, Lemak Kasar 7%, Protein Kasar 18-20%, Kalsium 1%, Phospor
1,1% dan TDN 70%

(sumber: Kan Jabung), sehingga untuk menghitung

kecukupan pemberian konsentrat, dihitung jumlah kebutuhan konsentrat dan


jumlah konsentrat yang diberikan. Kecukupan dihitung dari selisih konsentrat
yang diberikan dengan konsentrat yang dibutuhkan, analisis hitungannya sebagai
berikut:
1. Menentukan Jumlah Kebutuhan Konsentrat
Diketahui: 1. Kebutuhan PK= 1,2 kg
2. Defisiensi PK dari hijauan= PK kebutuhan- PK
hijauan pemberian
3. Air 14%, Lemak Kasar 7%, Protein Kasar 18-20%,
Jawaban: 1.

Kalsium 1%, Phospor 1,1% dan TDN 70%


Defisiensi PK= 1,2 kg (35 x 18x 9,1)
100 x 100
= 0,63 kg

19 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

2. Konsentrat yang dibutuhkan = Defisiensi PK


PK konsentrat
=
=

0,63 x 100 x 100


86 x 18
4,06 kg/hari

Jadi untuk memenuhi kekurangan PK dan BK dari hijauan yang diberikan,


dibutuhkan konsentrat 4,06 kg/hari.
2. Menentukan KecukupanJumlah Konsentrat yang Diberikan
Pemberian konsentrat yang dilakukan oleh perusahaan disesuaikan
dengan jumlah produksi susu dibagi 2 yaitu 10 : 2 = 5 kg.
Berdasarkan hasil analisis bisa disimpulkan bahwa pemberian
konsentrat sudah memenuhi kebutuhan BK dan PK, dengan
hitungan sebagai berikut:
1. BK kebutuhan = BK hijauan + BK konsentrat
= (35 x 18)+ (5 x 86)
100
= 10,6 kg/hari

100

2. PK kebutuhan = PK hijauan + PK konsentrat


= (35 x 18 x 9,1 ) + (5 x 86 x 18)
100 x 100
100 x 100
= 1,344 kg/hari
Jadi pakan pemberian untuk sapi perah produksi susu 10 l sudah
mencukupi kebutuhan BK 10 kg dan PK 1,2 kg.
Analisis kecukupan pemberian pakan hijauan dan konsentrat untuk 86 ekor
sapi laktasi dapat dilihat padaLampiran 1 dan 2. Pada Lampiran 1 dan 2 dapat
diketahui bahwa kecukupan pemberian pakan hijauan dan konsentrat berdasarkan
kebutuhan BK adalah 60% tercukupi, 22% lebih dan 18% kekurangan.
Berdasarkan kebutuhan PK adalah 100% pemberian hijauan dan konsentrat
tercukupi, sedangkan pemberian hijauan segar 100% kekurangan, tetapi
pemberian konsentrat menunjukkan bahwa 24% tercukupi, 76% lebih dan 0%
kekurangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian konsentrat Unggul Feed
Super Kan Jabung dengan kandungan Air 14%, Lemak Kasar 7%, Protein Kasar
18-20%, Kalsium 1%, Phospor 1,1% dan TDN 70% mampu menutupi kekurangan
konsumsi BK dan PK dari pakan utama hijauan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Chiba (2009) bahwa pakan konsentrat sapi perah laktasi sekurang-kurangnya
20 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia
Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

memiliki kandungan PK 16-18% dengan harapan mampu menutupi kekurangan


konsumsi protein dalam pakan utama yaitu hijauan.

(a)

(b)

(c)

Gambar 2. (a) Konsentrat Pakan; (b) Dedak, (c) Hijauan

21 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

BAB IV
REKOMENDASI

Pemberian hijauan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) maupun


konsentrat sebaiknya ditingkatkan sesuai dengan proporsi 60% (hijauan) : 40%
(konsentrat), dalam arti disesuaikan dengan jumlah kebutuhan ternak Alangkah
baiknya apabila hijauan diberikan tambahan dengan Rumput Raja (Pennisetum
purpupoides) dan Gamal (Gliricidia sepium) yang memiliki nilai nutrisi lebih
tinggi dibandingkan Rumput Gajah. Pemberian konsentrat Unggul Feed Super
Kan jabung sebaiknya dipertahankan karena nilai nutrisi khususnya protein yang
terkandung didalamnya mampu menutupi kekurangan kebutuhan protein dari
hijauan.

22 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

BAB V
PENUTUP

5.1.

Kesimpulan
Pakan memberikan peranan yang signifikan terhadap pertumbuhan pakan.
Pemberian konsetrat setelah pemberian hijauan dilakukan dengan tujuan
untuk merangsang pergerakan rumen agar dapat mencerna konsentrat
dengan maksimal.
Secara keseluruhan pemberian pakan hijauan berupa Rumput Gajah
(Pennisetum purpureum) dan pakan tambahan berupa konsentrat dari
Unggul Feed Super Kan Jabung telah mencukupi kebutuhan sapi perah
dalam memproduksi susu harian berdasarkan kebutuhan BK dan PK

5.2.

harian
Saran
Agar praktikan lebih diberikan pengarahan secara detail (briefing) tentang

pelaksanaan praktikum lapang ini sehingga praktikum dapat berjalan dengan


lancar dan semua hal yang harus dijekarjakan dapat dimengerti oleh para
praktikan.

23 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

DAFTAR PUSTAKA

Akramuzzein. 2009. Program Evaluasi Pemberian Pakan Sapi Perah Untuk


Tingkat Peternak Dan Koperasi. Program Studi Ilmu Nutrisi Dan
Makanan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Anonymousa.
2009.
Penyediaan
makanan
ternak.
http://bibungaran.jatengprov.go.id/ Diakses pada 18 Desember 2014.
_________b. 2009.Pakan Sapi Perah. http://disnak.jabarprov.go.id/Diakses pada
20 Desember 2014.
__________. 2010. Upaya Peningkatan Produksi Susu Sapi Perah Dengan
Pemberian

Konsentrat

Bernutrisi

Tinggi.

http://peternakan.litbang.deptan.go.id/Diakses pada 20 Desember 2014.


__________.
2011.
Pemeliharaan
Sapi
Perah
Secara
Intensif.
http://lolitsapi.litbang.deptan.go.id/Diakses pada 20 Desember 2014.
__________. 2012. Pemeliharaan dan pemberian pakan ternak sapi perah.
http://agromaret.com/artikel/pdf/567Diakses pada 20 Desember 2014.
BMKG. 2012. Topografi Kepanjen. http://bmkg.go.id/ Diakses pada 20 Desember
Chiba,

2014.
I.
L.

2009.

Dairy

Cattle

Nutrition

And

Feeding.

http://an15dairycattlefeeding.pdf/Diakses pada 20 Desember 2014.


Darmono. 1992. Tata Laksana Usaha Sapi Kereman. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta.
Giescha, B. 2012. Manajemen Pemberian Pakan Pada Sapi Perah Masa Laktasi.
Fakultas Peternakan : Universitas Brawijaya.
Grant, J. R. 2012. Journal Of Animal Science: Feeding Behavior And
Management Factors During The Transition Period In Dairy Cattle.
Harris,

http://journalofanimalscience.org/Diakses pada 20 Desember 2014.


J.K. 2005. Feeding And Management Of Dairy Cattle.

http://scribd.com/pdf. Diakses 20 Desember 2014.


Huda, K. 2007. Tampilan SNF dan Berat Jenis Susu Sapi PFH yang diberi
Ransum dengan Tingkat Protein Berbeda. Jurnal Penelitian Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Lestari, D. 2006. Laktasi Pada Sapi Perah Sebagai Lanjutan Proses Reproduksi.
Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran. Jawa barat.

24 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Looper, M. 2002. Individually Feeding Dairy Cows In The Milking Parlor.


Agriculture and Nutritional Research. http://www.vaex.edu/ Diakses
Pada 20 Desember 2014.
Mariyono. 1995. Pengaruh Pemberian Pakan Konsentrat Pada Sapi Perah Dara
Dalam Usaha Peternakan Rakyat Terhadap Tampilan Produktivitas dan
Efisiensi Ekonomis. Jurnal Ilmiah Penelitian Ternak Grati Vol 4. No. 1.
Pasuruan.
Mulyana, W. 1982. Pemeliharaan Dan Kegunaan Ternak Perah. CV Aneka.
Semarang.
NRC. 2001. Nutrient Requirement Of Dairy Cattle. Seven Revised Edition
Nationel Academy Press. Washington DC.
Pamungkas,
A.
2011.
Topfeed:
Solusi

Konsentrat

Berkualitas.

http://agromaret.com/Diakses Pada 20 Desember 2014.


Santoso. 2002. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Siregar, S. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar, S. 2001. Peningkatan Kemampuan Berproduksi Susu Sapi Perah Laktasi
Melalui Perbaikan Pakan dan Frekuensi Pemberian. Jurnal Ilmu Ternak
dan Veteriner 6(2): 76-78.
Soetanto, H. 2002. Reorientasi Formulator Pakan Ternak Dinas Peternakan Jawa
Timur:

Kebutuhan

Fisiologisnya.

Gizi

Jurusan

Ternak

Nutrisi

dan

Ruminansia
Makanan

Menurut
Ternak

Stadia
Fakultas

Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.


Sudono, A. 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Sujono. 2010. Menyusun pakan sapi perah. http://sujono.staff.umm.ac.id/Diakses
pada 20 Desember 2014.
Sunarso. 2012. Manajemen Pakan. http://nutrisi.awardspace.com/. Diakses pada
20 Desember 2014.
Syukur, D. 2006. Sapi Perah Di Lampung.

http://www.disnakkeswan-

lampung.go.id/ Diakses 20 Desember 2014.


Trimargono.
2005.
Teknologi
Tepat
Sapi.http://www.iptek.net/budidaya-peternakan/pdf.

Guna
Diakses

Ternak
8

September 2012.
Unadi, A. 2007. Teknologi Alat dan Mesin Untuk Agribisnis Peternakan Di
Kawasan Perkebunan Sawit. Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-

25 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Sapi.

http://peternakan.litbang.deptan.go.id/

Diakses

pada

20

Desember 2014.
Yusuf, R. 2010. Kandungan Protein Susu Sapi Perah FH (Friesian holstein)
Akibat Pemberian Pakan yang Mengandung Tepung Katu (Sauropus
androgynus) yang Berbeda. Jurnal Teknologi Pertanian 6(1): 1-6.

26 Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya