Anda di halaman 1dari 7

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS PERTANIAN
AGROEKOTEKNOLOGI
MALANG
2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Radiasi matahari sejak dulu sampai sekarang tak habis-habis dibicarakan dan ditulis. Dahulu
yang sangat populer dibahas mengenai iklim dan pengunaan untuk pemanasan/mengeringkan,
penguapan dan pencahayaan alami dalam bangunan di siang hari. Sekarang tidak hanya
permasalahan itu saja, tapi sudah sangat berkembang, seperti berkaitan dengan permasalahan
cuaca, atmosfir, pertanian, kehutanan, perikanan, peternakan, pengairan, lingkungan hidup,
kesehatan, bangunan, kesehatan dan berbagai kegunaan yang sangat praktis. Orang juga
mempelajari ketersediaan radiasi matahari dengan berbagai cara dan pemodelan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat :
1. Mengetahui Pengertian Radiasi Matahari
2. Mengetahui Peranan Matahari Terhadap Tumbuhan Berklorofil
3. Mengetahui Peranan Matahari Terhadap Keberlangsungan Ekosistem.
4. Mengetahui Intensitas Cahaya Matahari.
5. Mengetahui Radiasi Matahari Untuk Pengeringan Produk Pertanian
6. Mengetahui Peranan Cahaya Matahari Sebagai Sumber Energi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Radiasi Matahari
Pengertian. Radiasi Matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir
yang terjadi di matahari. Energi radiasi matahari berbentuk sinar dan gelombang
elektromagnetik.
Radiasi elektromagnetik bisa dibedakan,
1. Radiasi yang terlihat oleh mata kita (visible radiation) (cahaya)
2. Radiasi yang dapat kita rasakan (kulit, wajah), namanya radiasi infra merah.
panjang gelombang radiasi inframerah lebih panjang daripada panjang gelombang cahaya

(visible radiation)
Jumlah total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor.
1.Jarak matahari. Setiap perubahan jarak bumi dan matahari menimbulkan variasi terhadap
penerimaan energi matahari
2.Intensitas radiasi matahari yaitu besar kecilnya sudut datang sinar matahari pada permukaan
bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut besarnya sudut datang. Sinar
dengan sudut datang yang miring kurang memberikan energi pada permukaan bumi
disebabkan karena energinya tersebar pada permukaan yang luas dan juga karena sinar
tersebut harus menempuh lapisan atmosphir yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan
sudut datang yang tegak lurus.
3. Panjang hari (sun duration), yaitu jarak dan lamanya antara matahari terbit dan matahari
terbenam.
4. Pengaruh atmosfer. Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diadsorbsi oleh gas-gas,
debu dan uap air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya diteruskan ke permukaan
bumi.
Radiasi matahari yang diterima oleh bumi kita (energi matahari) akan diterima dengan cara
sebagai berikut:
1. Diserap oleh aerosol* & awan di atmosfer bumi yang akhirnya menjadi panas. Radiasi
yang terserap ini menyebabkan naiknya temperatur gas-gas dan aerosol-aerosol. aerosol=
kumpulan cairan kecil atau partikel-partikel solid yang menyebar dalam suatu gas, seperti uap
air di atmosfir, debu-debu angkasa, etc.
2. Ditangkis oleh atmosfer (oleh gas2 dan aerosol-aerosol), dalam hal ini radiasi ditangkis
dan disebarkan ke segala penjuru. Sebagian radiasi menuju kembali ke angkasa, sebagian
sampai ke permukaan bumi.Penangkisan dan penyerapan radiasi bisa terjadi di segala lapisan
atmosfir, yang paling sering lapisan bawah di mana massa atmosfir lebih terkonsentrasi.
3. Radiasi yang tidak tertangkis maupun terserap oleh atmosfir, sampai ke permukaan bumi.
Karena bumi sangat padat, maka radiasi ini bukan ditangkis, melainkan dikembalikan satu
arah ke atmosfir (proses ini biasa disebut refleksi - walaupun sebenarnya sama saja dengan
tangkisan). Es dan salju merefleksi hampir kebanyakan dari radiasi solar yang sampai ke
permukaan bumi, sedangkan laut, merefleksi sangat sedikit.
4. Radiasi yang sampai ke permukaan bumi yang tidak direfleksi, akan diserap oleh bumi. Di
lautan, penyerapan ini sampai pada puluhan meter dari permukaan laut, sedangkan di daratan,
hanya pada level yang lebih tipis.
Seperti halnya yang terjadi pada atmosfir, penyerapan radiasi di permukaan bumi
menyebabkan naiknya temperatur permukaan tersebut
2.2 Peranan Matahari Terhadap Tumbuhan Berklorofil
Tidak diragukan bahwa tumbuhan dan organisme memegang peran utama dalam menjadikan
bumi sebagai tempat yang dapat dihuni. Tumbuhan membersihkan udara untuk kita, menjaga
suhu bumi tetap konstan, dan menjaga keseimbangan proporsi gas-gas di atmosfer.
Oksigen yang kita hirup di udara dihasilkan oleh tumbuhan. Bagian penting dari makanan
kita juga disediakan oleh tumbuhan. Setiap tahun, seluruh tumbuhan di muka bumi dapat
menghasilkan zat-zat atau bahan-bahan sebanyak 200 miliar ton.

Berbeda dari sel manusia dan hewan, sel tumbuhan dan organisme berklorofil dapat
memanfaatkan langsung energi matahari. Tumbuhan dan organisme berklorofil mengubah
energi matahari menjadi energi kimia dan menyimpannya sebagai nutrisi dengan cara yang
sangat khusus. Proses ini disebut "fotosintesis".
Fotosintesis merupakan proses biologi yang dilakukan tanaman dan organisme berklorofil
untuk menunjang proses hidupnya yakni dengan memproduksi gula (karbohidrat) pada
tumbuhan hijau dengan bantuan energi sinar matahari, yang melalui sel-sel yang berrespirasi, energi tersebut akan dikonversi menjadi energi ATP sehingga dapat digunakan bagi
pertumbuhannya. Reaksi umum dari proses fotosintesis adalah :
6 H2O + 6 CO2 C6H12O6 + 6 O2
Cahaya Proses fotosintesis adalah reaksi yang hanya akan terjadi dengan keberadaan sinar
matahari, baik kualitas maupun kuantitasnya. Hasil dari fotosintesis seperti yang sudah
tersebut di atas adalah C6H12O6 atau dengan sebutan umum yaitu gula (karbohidrat).
3.3 Peranan Matahari Terhadap Keberlangsungan Ekosistem.
Karbohidrat merupakan jenis molekul yang paling banyak ditemukan di alam. Karbohidrat
terbentuk pada proses fotosintesis sehingga merupakan senyawa perantara awal dalam
penyatuan karbon dioksida, hidrogen, oksigen, dan energi matahari kedalam bentuk hayati.
Pengubahan energi matahari menjadi energi kimia dalam reaksi biomolekul menjadikan
karbohidrat sebagai sumber utama energi metabolit untuk organisme hidup.
Dari karbohidrat hasil fotosintesis dalam tanaman inilah yang merupakan dasar dari
perkembangan kehidupan makhluk hidup dalam suatu ekosistem yang kemudian masuk pada
piramida makanan dan rantai makanan dalam suatu ekosistem yang dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Komunitas dari suatu ekosistem berinteraksi satu sama lain dan juga berinteraksi dengan
lingkungan abiotik. Interaksi suatu organisme dengan lingkungannya terjadi untuk
kelangsungan hidupnya. Kelangsungan hidup organisme memerlukan energi.
2. Energi untuk kegiatan hidup diperoleh dari bahan organik yang disebut energi kimia.
Bahan organik dalam komponen biotik awalnya terbentuk dengan bantuan energi cahaya
matahari dan unsur-unsur hara, seperti karbon dan nitrogen.
3. Bahan organik yang mengandung energi dan unsur-unsur kimia ditransfer dari suatu
organisme ke organisme lain melalui interaksi makan dan dimakan. Peristiwa makan dan
dimakan antar organisme dalam suatu ekosistem membentuk struktur trofik yang terdiri dari
tingkat-tingkat trofik dimana setiap tingkat trofik merupakan kumpulan berbagai organisme
dengan sumber makanan tertentu.
4. Tingkat trofik pertama adalah kelompok organisme autotrof yaitu organisme yang dapat
membuat bahan organik sendiri dengan bantuan cahaya matahari yaitu tumbuhan dan
fitoplankton. Organisme autotrof disebut Produsen. Produsen pada ekosistem darat adalah
tumbuhan hijau sedangkan pada ekosistem perairan adalah fitoplankton, ganggang dan
tumbuhan air.
5. Tingkat trofik kedua dari struktur trofik suatu ekosistem ditempati oleh berbagai organisme
yang tidak dapat membuat bahan organik sendiri. Organisme tersebut tergolong organisme
heterotrof. Bahan organik diperoleh dengan memakan organisme atau sisa-sisa organisme

lain sehingga organisme heterotrof disebut juga konsumen. Pada tingkat trofik kedua dari
struktur trofik suatu ekosestem adalah Konsumen primer (herbivora).
2.4 Intensitas Cahaya Matahari.
Cahaya matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan, tanpa adanya cahaya
matahari kehidupan tidak akan ada lagi pertumbuhan tanaman ternyata pengaruh cahaya
selain ditentukan oleh kualitasnya ternyata ditentukan intensitasnya (Hari Suseno, 1976).
Intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap sifat morfologi tanaman. Tanaman yang
mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi menyebabkan lilit batang
tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih sempurna, internodianya lebih pendek,
daun lebih tebal, tetapi ukurannya lebih kecil dibanding dengan tanaman yang terlindung.
Beberapa effek dari cahaya matahari yang penuh (yang melebihi) kebutuhan optimum dapat
menyebabkan layu, fotosistesi lambat, laju respirasi meningkat tetapi cenderung
mempertinggi daya tahan tanaman. Intensitas cahaya yang tinggi di daerah tropis tidak
seluruhnya dapat digunakan oleh tanaman.
Energi cahaya matahari yang digunakan oleh tanaman dalam proses fotosintesis berkisar
antar 0,5 2,0 % dari jumlah total energi yang tersedia. Sehingga hasil fotosintesis berkurang
apabila intensitas cahaya kurang dari batas optimum yang dibutuhkan oleh tanaman, yang
tergantung pada jenis tanaman (Leopold & Kriedemann, 1975) hal ini juga berlaku terhadap
jenis-jenis anggrek. Pemberian naungan pada tanaman baik secara alami & buatan, akan
berarti mengurangi intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman tersebut, hal ini akan
mempengruhi pertumbuhan maupun hasil tanaman . Tanaman yang kurang mendapatkan
cahaya matahari akan mempunyai akar yang pendek, cahaya matahari penuh menghasilkan
akar lebih panjang dan lebih bercabang. Begitu juga diperkuat ole menyatakan bahwa
tanaman anggrek yang cukup sinar matahari perakaran akan berkembang lebih baik, jumlah
akar akan banyak, ukurannya besar dan banyak bercabang. Akar keluarnya lebih awal, jadi
tidak seberapa jauh dari puncak tanaman jenis anggrek monopodial seperti Vanda, Bila
cahaya matahari kurang, karena tanaman anggrek berada dalam keadaan terlalu teduh, maka
proses assimilasi akan berkurang, sehingga hidratarang sebagai hasil proses tersebut juga
kurang jumlahnya.
2.5 Radiasi Matahari Untuk Pengeringan Produk Pertanian
Energi surya dapat dimanfaatkan ke dalam dua bentuk yaitu pemanfaatan secara termal dan
pemanfaatan untuk listrik. Pada bidang pertanian pemanfaatan energi surya termal biasa
digunakan pada proses pengeringan bahan pertanian.
Pengeringan bisa dilakukan secara alami (penjemuran) maupun secara buatan Terdapat
berbagai tipe pengering surya yang telah berkembang saat ini, salah satunya adalah
pengeringan yang menggunakan kolektor berbentuk bangunan yang disebut dengan efek
rumah kaca ERK) yang telah dikembangkan di IPB oleh Kamaruddin dan para kolega
penelitinya sejak tahun 1993 sampai saat ini secara (berkesinambungan.
Pada prinsipnya pengeringan efek rumah kaca yaitu sinar matahari yang memiliki radiasi
gelombang panjang masuk untuk kemudian diserap oleh absorber atau komponen lain di

dalam bangunan pengering sehingga suhu absorber dan komponen tersebut akan meningkat.
Radiasi yang dipancarkan oleh absorber/komponen dalam pengering dalam bentuk
gelombang panjang sehingg a sulit untuk menembus dinding transparan. Dengan demikian,
terjadi peningkatan suhu udara pengering dan udara dihembuskan melalui produk yang akan
dikeringkan. Udara yang telah lembab kemudian dikeluarkan dari bangunan pengering.
2.6 Cahaya Matahari Sebagai Sumber Energi.
Matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan. Energi cahaya matahari masuk ke
dalam komponen biotik melalui produsen. Oleh produsen, energi cahaya matahari diubah
menjadi energi kima Energi kimia mengalir dari produsen ke konsumen dari berbagai tingkat
trofik melalui jalur rantai makanan.
Energi kimia yang diperoleh organisme digunakan untuk kegiatan hidupnya sehingga dapat
tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan organisme menunjukan energi
kimia yang tersimpan dalam organisme tersebut. Jadi, setiap organisme melakukan
pemasukan dan penyimpanan energi. Pemasukan dan penyimpanan energi dalam suatu
ekosistem disebut sebagai Produktifitas ekosistem. Produktifitas ekosistem terdiri dari
produktifitas primer dan produktifitas sekunder.
Semua organisme memerlukan energi untuk pertumbuhan, pemeliharaan, reproduksi, dan
pada beberapa spesies,pengaturan energi suatu ekosistem bergantung pada produktivitas
primer. Produktifitas primer adalah kecepatan mengubah energi cahaya matahari menjadi
energi kimia dalam bentuk bahan organik oleh organisme autotrof. Produktifitas sekunder
adalah kecepatan energi kimia mengubah bahan organik menjadi simpanan energi kimia baru
oleh organisme heterotrof. Bahan organik yang tersimpan pada organisme atotrof dapat
digunakan sebagai makanan bagi organisme heterotrof. Dari makanan tersebut, organisme
heterotrof memperoleh energi kimia yang akan digunakan untuk kegiatan kehidupan dan
disimpan. Aliran energi dalam ekosistem tersebut sumber utama dan proses pertamanya
adalah cahaya matahari.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Radiasi Matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi
di matahari. Ada beberapa radiasi solar, yang terpenting: radiasi elektromagnetik (yg
berhubungan dengan listrik dan magnet).
Radiasi elektromagnetik bisa dibedakan,
1. radiasi yang terlihat oleh mata kita (visible radiation) (cahaya).
2. radiasi yang dapat kita rasakan (kulit, wajah), namanya radiasi infra merah.
Fotosintesis merupakan proses biologi yang dilakukan tanaman dan organisme berklorofil
untuk menunjang proses hidupnya yakni dengan memproduksi gula (karbohidrat) pada
tumbuhan hijau dengan bantuan energi sinar matahari, yang melalui sel-sel yang berrespirasi, energi tersebut akan dikonversi menjadi energi ATP sehingga dapat digunakan bagi
pertumbuhannya.
Radiasi matahari berperan bagi kelangsungan pertanian, yaitu sebagai proses fotosintesa bagi
tanaman, membantu kelangsungan ekosistem, sebagai sumber energi dan digunakan untuk
pengeringan produk pertanian.

DAFTAR PUSTAKA
Brington, Richard Stevens. (1973), Handbook of Mathematical Tabel and Formulas. Fifth
Edition. Mc Graw-Hill. New York.
Daniel, Cuthbert., Fred S. Wood dan John W. Gorman (1980). Fitting Equations For Data.
John Wiley & Son, New York.
Duffie, John A. and William A. Beckman, (1974). Solar Energy Thermal Processes WileyInterscience Publication. New York.
Exell, RHB. (1981), A Mathematical Model for solar Radiation in South East Asia
(Thailand). Solar Energy 26, 161 168.
Hoesin, Haslizen. (1983). Simulasi Matematis Radiasi Matahari di Indonesia. LFN-LIPI,
Bandung. Agustus.
Hoesin, Haslizen. (2000). Model Matematis Radiasi Matahari Langit Bening dan Langit
Sembarang. Teknik Industri Tak Teknik, Universitas ARS Internasional, Bandung,

November.
Korn, Granino A. And Theresa M. Korn (1968). Mathematical Handbook For Scientist and
Engineers. Mc Graw-Hill. New York.
Robinson. N (1966). Solar Radiation. Elsevier Publ. Company, Amsterdam.
Sharma. M. R. dan R. S. Pal. (1965) Interrelationships Between Total, Direct and Diffuse
Solar Radiation in Tropics. Solar Energy. Vol 9, no 4, 183 192.

http://me-elpp.blogspot.com/2011/12/makalah-klimatologi-radiasi-matahari.html