Anda di halaman 1dari 14

TUGAS KOMUNIKASI DAN KONSELING

TERAPI PENYAKIT ADHD DENGAN MENGGUNAKAN OBAT


METADATE (METILFENIDAT)

Disusun Oleh :
Deantari Karlina
Delvina Ginting
Devinna

UNIVERSITAS PADJAJARAN
FAKULTAS FARMASI
BANDUNG

DAFTAR ISI
A. Kasus Terapi Penyakit ADHD...................

B. Contoh Komunikasi Dan Konseling Kepada Pasien ADHD.. 1


C. Informasi Obat Metadata...................

D. Informasi Obat Metadhone. 4


E. Informasi Penyakit ADHD.....

DAFTAR PUSTAKA... 12

A. KASUS TERAPI PENYAKIT ADHD


Food and Drug Administration (FDA) telah melaporkan peristiwa kesalahan
pengobatan yang menyebabkan kematian pada pasien anak laki-laki berusia 8 tahun
yang seharusnya diberikan terapi obat metadata untuk mengobati penyakit ADHD.
Kematian pasien tersebut diakibatkan karena kesalahan farmasis yang memberikan obat
metadon dengan nama mirip dengan obat metadata. Kasus seperti ini dapat dihindari
apabila apoteker melakukan komunikasi dan konseling kepada pasien tersebut.

B. CONTOH KOMUNIKASI DAN KONSELING KEPADA PASIEN ADHD


Kaylee adalah seorang gadis berumur 8 tahun. Dia datang ke apotek dengan ibunya
untuk mengambil obat yang diresepkan dari dokter.
Apoteker

: Selamat siang ibu, saya Raisa apoteker di apotek ini. Apakah ada

yang bisa saya bantu bu?


Ibu kaylee

: Saya ingin menebus obat yang diresepkan oleh dokter.

(menyerahkan resep kepada apoteker)


Apoteker

: (menerima resep dan terlihat ragu ketika membaca resep karena

tulisan dokter kurang jelas. Apoteker ragu apakah obat yang diresepkan adalah
metadon atau metadata. Apoteker kemudian menghampiri pasien kembali.)
Apoteker

: Ibu Kaylee. (apoteker memanggil nama pasien)

Ibu kaylee

: iya bu.

Apoteker

: apakah ibu pasien yang bernama Kaylee?

Ibu kaylee

: bukan bu. Kaylee itu anak saya. Ada apa ya bu? (ibu kaylee terlihat

khawatir)
Apoteker

: apakah dokter mengatakan sesuatu terkait obat atau keadaan anak

ibu?
Ibu kaylee

: dokter tidak menjelaskan secara detail. Namun dokter mengatakan

bahwa anak saya akan diberikan obat untuk meningkatkan konsentrasi dan
membantunya agar dapat menyelesaikan tugas dengan baik.
Apoteker

: oh (setelah mendengar keterangan tersebut, apoteker terlihat

yakin dengan obat yang diresepkan). Tunggu sebentar ya bu, saya akan menyiapkan
obatnya.
1

Apoteker kemudian menyiapkan obat metadata (metilfenidat HCl) yang merupakan


obat lini pertama bagi pasien yang menderita ADHD.

Apoteker

: Ibu kaylee..(apoteker memanggil nama pasien)

Ibu kaylee

: ya bu..

Apoteker

: ini obat untuk anak ibu. Sebelumnya, apakah dokter sudah

menjelaskan tentang cara penggunaan obat ini?


Ibu kaylee

: belum loh bu.

Apoteker

: Oh begitu ya bu, kalau begitu saya akan menjelaskan beberapa

informasi mengenai obat ini. Hanya butuh waktu beberapa menit saja. Informasi ini
akan sangat membantu pengobatan anak ibu. Bagaimana bu?
Ibu kaylee

: iya bu. Saya sangat bersedia mendengarkan informasi dari ibu.

Apoteker

: Apakah anak ibu sudah pernah menggunakan obat ini sebelumnya?

Ibu kaylee

: belum bu. Ini yang pertama.

Apoteker

: Obat ini namanya metilfenidat. Obat anak ibu bentuknya tablet dan

diminum 2 kali sehari sebelum sarapan dan makan siang ya bu.


Ibu kaylee

: iya bu. (ibu tersebut mengangguk namun terlihat khawatir dengan

efek samping obat tersebut dan efek yang akan didapatkan).


Apoteker

: (mengeluarkan brosur obat) ibu, disini ada beberapa aturan

penggunaan obat yang harus ibu perhatikan, (menunjuk ke arah brosur). Dan disini juga
terdapat informasi mengenai efek samping obat. Jika anak ibu mengalami hal yang
aneh,selama menggunakan obat ini harap segera laporkan ke dokter ya bu. Selain itu,
ibu tidak usah khawatir terkait obat ini. Karena obat ini merupakan obat yang aman dan
obat yang sudah sering diresepkan untuk anak-anak yang menderita penyakit seperti
Kaylee karena efeknya yang bagus.
Ibu kayle

: oh begitu ya bu. Saya menjadi agak lega. Karena saya khawatir

sekali anak saya tidak dapat belajar dengan baik disekolahnya karena penyakit ini.
Apoteker

: apakah kaylee memiliki gangguan lain bu? Mungkin seperti

masalah jantung atau yang lainnya?


Ibu kayle

: tidak ada bu.

Apoteker

: apakah sebelumnya kaylee mengkonsumsi obat lain bu?


2

Ibu kayle

: tidak ada bu.

Apoteker

: kalau begitu obat ini sangat aman untuk anak ibu. (kembali

meyakinkan ibu kaylee). Jika kaylee ingin mengkonsumsi obat lain bersamaan dengan
obat ini, sebaiknya ibu berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter atau apoteker ya bu.
Ibu kaylee

: baik bu.

Apoteker

: kalau begitu bisakah ibu menjelaskan kembali kepada saya

bagaimana penggunaan obat ini? (apoteker ingin memastikan bahwa ibu Kaylee
mengerti)
Ibu kaylee

: obat ini digunakan 2 kali sehari sebelum sarapan dan makan siang.

Jika anak saya akan mengkonsumsi obat lain atau mengalami hal yang aneh, saya harus
menghubungi dokter atau apoteker.
Apoteker

: benar sekali bu. Saya harapkan ibu selalu memantau keadaan anak

ibu ya. Jika dalam jangka waktu sebulan keadaan anak ibu tidak membaik. Segera
hubungi dokter kembali ya bu. Semoga anak ibu lekas sembuh.
Ibu Kaylee

: Terima kasih bu.

C. INFORMASI OBAT METADATA

Nama Generik

: Metilfenidat

Nama Dagang

: Ritalin (Novartis)

Komposisi Obat

: Metilfenidat HCl

Indikasi

: penyakit hiperaktif pada anak-anak dan narkolepsi

Tempat penyimpanan : pada tempat yang aman, pada suhu 15-30C. Lindungi dari
lembab.

Dosis

: Anak-anak >6 tahun, diawali dengan 5 mg 1-2 kali sehari

dapat ditingkatkan apabila diperlukan dengan dosis 5-10 mg pada interval mingguan
maksimal 60 mg / hari dalam dosis terbagi. Hentikan jika dalam 1 bulan
penggunaan tidak ada respon.

Aturan pakai

: metilfenidat dapat diberikan sebelum sarapan dan makan

siang. Penggunaan di malam hari dapat dipertimbangkan apabila efek berkurang


pada malam hari sehingga menyebabkan peningkatan hiperaktif.
3

Perhatian

: Pasien dengan gangguan jantung; pasien dengan

masalah kejiwaan; Masalah Sirkulasi di jari tangan dan kaki (vaskulopati


Peripheral, termasuk fenomena Raynaud): jari tangan atau kaki mungkin merasa
mati rasa, dingin, nyeri, dan / atau dapat berubah warna dari pucat, biru, merah;

Kontraindikasi

: kecemasan atau agitasi; depresi berat, keinginan bunuh diri;

riwayat keluarga Sindrom Tourette; ketergantungan obat atau alkohol; psikosis;


hipertiroidisme; penyakit kardiovaskular; ibu menyusui

Efek Samping

: sakit perut, mual, muntah, dispepsia, mulut kering,

anoreksia, penurunan berat badan, takikardia, palpitasi, aritmia, perubahan tekanan


darah; batuk, nasofaringitis; insomnia, gugup, asthenia, depresi, lekas marah, agresi,
sakit kepala, mengantuk, pusing, gangguan gerak; demam; arthralgia; ruam,
pruritus, alopecia;

Interaksi Obat

: MAOI, antikoagulan kumarin, antidepresan trisiklik,

fenobarbital, fenitoin, primidon, fenilbutason, guenetidin, dan alkohol.

Farmakokinetik

: metilfenidat mudah diserap melalui saluran pencernaan.

Adanya makanan mempercepat absorbsi metilfenidat. Konsentrasi plasma puncak


dicapai 2 jam setelah pemberian dosis oral.mengalami metabolisme lintas pertama
yang ekstensif. Ikatan dengan protein rendah (10-33%). Metilfenidat disekresikan
dalam bentuk metabolit melalui urin dan hanya sebagian kecil melalui feses; kurang
dari 1% muncul dalam urin dalam bentuk metilfenidat. Metabolit utama adalah
asam ritalinic (2-fenil-2-piperidyl asam asetat). Waktu paruh eliminasi obat dalam
plasma adalah 2 jam. Metilfenidat didistribusikan ke ASI.

Mekanisme aksi

: Metilfenidat menghambat penyerapan dopamin di neuron

adrenergik sentral dengan menghalangi transportasi dopamin atau pembawa protein.


Metilfenidat bekerja pada sistem stimulasi batang otak dan korteks serebral serta
menyebabkan peningkatan aktivitas simpatomimetik dalam sistem saraf pusat.

D. INFORMASI OBAT METADHONE

Indikasi

: Terapi untuk rasa sakit yang teramat sangat, detoksifikasi

dan terapi pemeliharaan dari adiksi narkotika.


4

Dosis

:Metadon dapat di berikan secara oral maupun suntikan,tetapi

suntikan subkutan menimbulkan iritasi lokal .metadon tersedia dalam bentuk tablet
5 dan 10 mg serta sedia suntikan dalam ampul atu fial dengan kadar 10 mg
\ml.dosis analgetik metadon oral untuk dewasa 2,5 15 mg ,tergantung dari
hebatnya nyeri dan respon pasien sedangkan dosis parenteral ialah 2,5 -10 mg

Interaksi Obat

: Golongan Barbiturat: Drug actions may be additive.

Cimetidine, protease inhibitors: Monitoring pada pernafasan dan CNS. CNS


depressants (eg, tranquilizers, sedatives, alcohol): Additive CNS depression.
Fluvoxamine: Monitor for increased CNS depression when taken with methadone.
Monitor for signs and symptoms of withdrawal when fluvoxamine is discontinued.
Hydantoins, rifampin, barbiturates: May decrease effectiveness of methadone.
Urinary acidifiers: May increase renal clearance of methadone.

Efek Samping

: CV: Hipotensi; palpitasi; bradikardi; takikardia. CNS:

euforia; disforia; sakit kepala; insomnia; pusing; edasi; disorientasi; inkoordinasi.


DERM: berkeringat; pruritus; urtikaria. GI: mual; muntah; konstipasi; sakit perut;
mulut kering. GU: retensi urin . HEMA: Trombositopenia. RESP: Laringospasm;
reflek batuk.

Kontra indikasi

: Obat obat yang tergolong antagonis opioid umumnya tidak

menimbulkan banyak efek kecuali bila sebelumnya telah ada efek agonis opioid
endogen sedang aktif misalnya dalam keadaan stres atau syok.contohnya
nalakson,naltrekson,nalorfin,levalorfan,siklazosin dan sejenisnya memperlihatkan
efek antagonis,efek otonomik,endokrin,analgetik dan depresi nafas mirip efek yang
ditimbulkan oleh morfin.

Mekanisme Obat

: mengurangi rasa sakit dengan menstimulasi reseptor opiat

pada CNS, juga menyebabkan depresi pernafasan, vasodilatasi periferal, dan


inhibisi dari usus, dan stimulasi dari kemoreseptor yang dapat menyebabkan muntah
dan peningkatan pendarahan.

Peringatan

: Kehamilan: kategori untuk pasien hamil masih belum jelas.

Penggunaan methadone dihubungkan dengan rendahnya berat bayi pada saat

dilahirkan. Anak-anak: tidak dianjurkan untuk anak-anak, karena dosis tidak dapat
didefinisikan dengan baik

E. INFORMASI

PENYAKIT

ATTENTION

DEFICIT/HYPERACTIVITY

DISORDER (ADHD)
Attention deficit hyperactive disorder (ADHD) adalah kondisi perkembangan
kurangnya perhatian dan gangguan kebingungan, dengan atau tanpa disertai hiperaktif.
Ada 3 bentuk dasar ADHD yang dijelaskan dalam Diagnostik dan Statistik manual IV
(DSM-IV) dari Asosiasi Psikiater Amerika : attentional; hiperaktif / impulsif; dan
dikombinasikan (Zainab, 2014).

Tanda dan gejala


Terdapat 3 jenis attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) yaitu (Zainab, 2014):
1. Didominasi hiperaktif
2. Didominasi kurangnya perhatian
3. Gabungan

Kriteria DSM-IV-TR saat ini tersedia di bawah ini:


a. Hiperaktif / impulsivitas
Hal ini harus mencakup setidaknya 4 dari gejala berikut:
Hiperaktif-impulsif yang harus berlangsung selama minimal 6 bulan ke tingkat yang
maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan:

Hiperaktif dibuktikan dengan gelisah pada tangan atau kaki, menggeliat di kursi

Hiperaktif dibuktikan dengan meninggalkan kursi di kelas atau dalam situasi lain di
mana diharapkan tetap duduk

Hiperaktif dibuktikan dengan berjalan di sekitar atau memanjat secara berlebihan


dalam situasi di mana perilaku ini tidak pantas (pada remaja atau orang dewasa, ini
mungkin terbatas perasaan gelisah yang subjektif)

Hiperaktif dibuktikan dengan kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan
di waktu luang

Impulsif dibuktikan dengan melontarkan jawaban atas pertanyaan sebelum


pertanyaan telah selesai

Impulsif dibuktikan dengan menunjukkan kesulitan dalam antri atau menunggu


giliran dalam permainan atau situasi kelompok

b. Kurangnya perhatian
Hal ini harus mencakup setidaknya 6 dari gejala berikut dimana kurangnya perhatian
yang harus berlangsung selama minimal 6 bulan ke tingkat yang maladaptif dan tidak
konsisten dengan tingkat perkembangan:

Sering gagal memberikan perhatian secara dekat atau membuat kecerobohan dalam
pekerjaan sekolah, bekerja, atau kegiatan lain

Sering mengalami kesulitan mempertahankan perhatian dalam tugas atau kegiatan


bermain

Seringkali terlihat tidak mendengarkan sesuatu yang dikatakan

Sering tidak menindaklanjuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah,


tugas, dan tugas di tempat kerja (bukan karena perilaku oposisi atau kegagalan
untuk memahami instruksi)

Sering mengalami kesulitan mengatur tugas dan kegiatan

Sering menghindari atau sangat tidak suka tugas (seperti pekerjaan sekolah atau
pekerjaan rumah) yang membutuhkan usaha mental

Sering kehilangan hal-hal yang diperlukan untuk tugas-tugas atau kegiatan (tugastugas sekolah, pensil, buku, peralatan, atau mainan)

Sering mudah terganggu oleh rangsangan asing

Sering pelupa dalam kegiatan sehari-hari

Lainnya

Onset tidak lebih dari usia 7 tahun

Gejala muncul dalam 2 atau lebih situasi, seperti ketika sekolah, bekerja, atau di
rumah

Gangguan tersebut menyebabkan distress klinis signifikan atau penurunan fungsi


sosial, akademik, atau pekerjaan

Gangguan tidak terjadi secara eksklusif selama gangguan perkembangan pervasif,


skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan lebih baik tidak dicatat dengan
suasana hati, kecemasan, disosiatif, atau gangguan kepribadian

Etiologi dan Patofisiologi


Faktor genetik dan nongenetik terlibat dalam patogenenis. Meskipun tidak ada
tanda-tanda patofisiologis definitif untuk ADHD, studi pencitraan menunjukkan subyek
dengan ADHD mengalami penurunan volume otak keseluruhan secara relatif terhadap
pengaturan di beberapa daerah otak (korteks prefrontal kanan, nukleus berekor, anterior
cingulate gyrus, dan cerebellum). Penipisan korteks secara keseluruhan telah diamati pada
anak-anak yang mengalami ADHD, dan studi banding menunjukkan adanya keterlambatan
dalam penebalan korteks otak pada penderita ADHD secara relatif terhadap pengaturan usia
yang sesuai. Perubahan otak ini diperkirakan mengganggu fungsi utama yang diperlukan
untuk prioritas tugas, pengambilan keputusan, pengaturan motorik, kesadaran ruang dan
waktu.
Genetik diperantarai melalui perubahan serotonergik, kolinergik, dan terutama
fungsi dopaminergik telah didokumentasi pada anak-anak dan orang dewasa dengan
ADHD. Defisit dalam dopaminergik pada otak penderita ADHD menyebabkan
terganggunya kemampuan untuk menunda kepuasan, menolak gangguan, mengatur gairah,
dan hadir untuk informasi atau tugas-tugas yang membosankan atau berulang-ulang.
Disfungsi ini melibatkan beberapa reseptor dopaminergik (D2, D3, D4, dan D5) dan protein
transporter dopamin aktif (DAT) yang presinaptik. Norepinefrin dan epinefrin adalah
agonis pada reseptor dopaminergik dan kerjanya juga diatur oleh DAT.
Pengobatan dengan stimulan telah terbukti meningkatkan tingkat penebalan
kortikal, dan farmakoterapi dapat meningkatkan atau menormalkan fungsi reseptor
dopaminergik. Penderita yang memiliki kelainan ditunjukkan dalam DAT tampaknya
memiliki respon lebih baik terhadap methylphenidate dan atomoxetine. Pengobatan yang
efektif memodulasi dopamine dan norepinephrine untuk meningkatkan fungsi utama,
mengatur gairah, dan mempertahankan perhatian untuk meningkatkan kinerja. Respon
klinis yang terkait dengan stimulan tidak paradoks dan tidak diagnostik untuk ADHD
karena stimulan dapat meningkatkan perhatian, menurunkan aktivitas motorik, dan
8

meningkatkan kemampuan belajar pada penderita ADHD subklinis atau individu dengan
masalah lain (Dipiro et al, 2011).

Diagnosis
Tes psikometri dan pendidikan penting untuk diagnosis ADHD. Sejarah awal pasien
mungkin menunjukkan kebutuhan untuk mengikuti tes tambahan, sebagai berikut (Zainab,
2014) :

Memeriksa anak dengan menggunakan Conners 'Parent dan Teacher Rating Scale
dan memeriksa remaja menurut Skala Disorder Attention Deficit Brown (BADDS)
untuk Remaja dan Dewasa

Menilai impulsif dan kurangnya perhatian menggunakan tes komputer berkala


seperti Conners Continous Perfomance Test (CPT), The Integrated Visual dan
Auditory (IVA) CPT, atau keduanya

Menilai wanita menggunakan Nadeau / Quinn / Littman ADHD Self-Rating Scale


for Girls

Menilai fungsi eksekutif pasien dengan menggunakan berbagai tes neuropsikologi

Melakukan evaluasi ketidakmampuan belajar (intelligence quotient [IQ] vs prestasi)

Perawatan medis
Terdapat 2 komponen utama dalam perawatan medis anak-anak dengan attention deficit
hyperactivity disorder (ADHD), yang sebelumnya disebut attention deficit disorder (ADD),
adalah terapi perilaku dan farmasi. Komponen farmasi menggunakan obat.
1. Terapi Perilaku

Intervensi sekolah atau pendidikan


Usia anak pada diagnosis awal dan keparahan gejala ADHD (ADD) mempengaruhi

fungsi kerjasama anak dengan spesialis pendidikan. Konsultan awalnya terlibat dalam
diagnosis dan evaluasi yang penting dalam mempromosikan pengembangan
keterampilan belajar. Guru memiliki fungsi penting. Umpan balik secara berkala
tentang kinerja sekolah anak diperoleh melalui penggunaan skala standar, deskripsi
narasi, dan tindak lanjut komunikasi umumnya merupakan komponen tak terpisahkan

dari perawatan berkelanjutan. Pelaksanaan akomodasi akademik dan adaptasi seringkali


diperlukan.

Fisioterapi
Untuk remaja dilakukan pembinaan ADHD (ADD), partisipasi dalam kelompok

pendukung, atau keduanya dapat membantu menormalkan gangguan dalam


memperoleh umpan balik dan informasi umum.
Konselor seperti psikolog, dokter anak untuk perkembangan perilaku, pekerja klinis
sosial, dan perawat praktek yang telah terbiasa dengan ADHD (ADD) sangat membantu
berharga pasien dan keluarga mereka. Modifikasi perilaku dan terapi keluarga biasanya
diperlukan untuk perawatan optimal (Zainab, 2014).

2. Terapi dengan Obat

Stimulan
Stimulan adalah pilihan pengobatan obat yang paling efektif, dengan keberhasilan

berkisar antara 70% -96%. Methylphenidate dan amfetamin memblokir reuptake dopamine
dan norepinephrine, amfetamin juga meningkatkan pelepasan katekolamin. Kedua obat
menghambat

monoamine

oxidase

(MAO),

namun

amfetamin

lebih

kuat

dari

methylphenidate. Karena stimulan yang berbeda bekerja melalui mekanisme yang sedikit
berbeda,

kurangnya

respon

terhadap

satu

golongan

senyawa

kimia

stimulan

(methylphenidate dan dexmethylphenidate) tidak menghalangi respon ke golongan lain


(dextroamphetamine atau garam amfetamin campuran). Dosis maksimum stimulan harus
ditentukan untuk keberhasilan individu dengan efek samping minimal (Dipiro et al, 2011).

Non stimulan
Atomoxetine pelepasan diperpanjang dan guanfacine adalah pengobatan pilihan

kedua dengan stimulan untuk pengobatan ADHD pada anak-anak dan remaja.
Atomoxetine juga dapat digunakan pada orang dewasa. Manfaat potensi obat tersebut
relatif terhadap stimulan dan tidak berpotensi untuk penyalahgunaan, kurang potensial
terhadap efek pertumbuhan, dan berkurangnya gangguan tidur.
Atomoxetine adalah inhibitor reuptake norepinephrine selektif yang harus
digunakan dalam dosis terbagi di pagi atau sore hari oleh anak-anak untuk

10

meningkatkan tolerabilitas. Dewasa dapat mengambil sekali sehari, biasanya di pagi


hari.
Guanfacine dan clonidine adalah 2-agonis adrenergik sentral, bertindak baik
secara presinaptik untuk menghambat pelepasan norepinefrin dan postsinaptik untuk
meningkatkan aliran darah di korteks prefrontal. Meningkatkan aliran darah di korteks
prefrontal menunjukkan peningkatan memori kerja dan fungsi utama. Keduanya
berinteraksi dengan banyak sistem neurotransmitter, termasuk sistem katekolamin,
indoleamin, dan asam amino (Dipiro et al, 2011).

11

DAFTAR PUSTAKA

British National Formulary. 2009. British National Formulary (BNF) 57.


Dipiro, J., R.L Talbert., Gary Y., Gary M., Barbara W and L.M Posey.2011.
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 8th Edition. New York: Mc Graw
Hill.
Food and Drug Administration. 2013. Medicine Guide Metadate CD. UCB, Inc.
Sweetman, S.C. 2009. Martindale The Complete Drug Reference 36. Pharmaceutical Press:
London Chicago.
Tatro D.S. (2003). A to Z Drug Facts. San Francisco: Facts and Comparisons.
Zainab, P. 2014. Pediatric Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Available online at:
http://emedicine.medscape.com/article/912633-overview [Diakses 1 September
2014].
www.fda.gov

12