Anda di halaman 1dari 12

NAMA

: K.M. IDRIS B.S


NIM
: 03121403063
KELOMPOK : 3

KOROSI PADA REAKTOR PABRIK


1. Korosi pada reaktor
1.1.

Latar belakang korosi pada reaktor


Pada dasarnya korosi yang terjadi pada reaktor umumnya hampir sama

seperti pada korosi pada tanki suatu bahan atau produk. Dalam reaktor pun korosi
yang terjadi juga dipengaruhi oleh sifat fisis dan kimia suatu zat yang berada di
dalam nya. Macam-macam jenis pengendalian korosi dilakukan agar laju korosi
dapat diperlambat ataupun dihentikan. Desain reaktor , terutama untuk berbentuk
tanki seperti pada CSTR, harus benar dan ekonomis
Usaha penanggulangan korosi sebaiknya sudah dilakukan sejak tahapan
desain proses. Ahli-ahli korosi sebaiknya ikut dilibatkan dalam desain proses dari
sejak pemilihan proses, penentuan kondisi-kondisi prosesnya, penentuan bahanbahan konstruksi, pemilihan lay-out, saat konstruksi sampai tahap start-upnya.
1.2.

Isolasi Reaktor Dari Lingkungan Korosif


Cara isolasi ini merupakan cara tertua dan masih tetap efektif untuk

menghindari terjadinya korosi . Di antara cara-cara yang sering dipakai adalah


tidak mengekspos reaktor dengan lingkungan korosif secara langsung. Lalu tidak
menempatkan reaktor di daerah down-wind dari lingkungan moisture atau
elektrolit-elektrolit lain. Reaktor yang rawan korosi harus ditempatkan pada
posisi/daerah up-wind dari posisi lingkungan korosif. Dan reaktor juga tidak
berada pada arah cerobong exhaust gas yang korosif. Demikian juga udara/gas
basah tidak boleh diarahkan ke perreaktoran logam.
Desain reaktor harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terbentuk
jebakan elektrolit. Atap tangki harus dibuat licin dan memberikan kemiringan
untuk menjamin lancarnya aliran air hujan di atas atap sehingga tidak terbentuk
jebakan elektrolit di atas atap. Untuk itu atap sebaiknya dibuat berbentuk kerucut
atau bagian bola atau elips.

Gambar 1. Penataan reaktor pabrik yang salah karena berada pada daerah downwind.

Gambar 2. Penataan reaktor pabrik yang salah karena berada pada daerah aliran
exhaust gas.

Gambar 3. Geometri tanki reaktor dalam pencegahan korosi.


Demikian pula aliran pengeluaran harus dibuat lancar dan tidak
memungkinkan terjadinya sisa (residu) cairan yang terjebak dalam tangki ketika
tangki dikosongkan. Untuk itu maka kran pengeluaran harus diletakkan di bagian
terbawah dari tangki. Selain itu, bagian terbawah tangki harus dibuat licin dan
berbentuk seperti kerucut terbalik ataupun seperti bagian elips atau bola.

Gambar 4. Desain outlet tanki reaktor dalam pencegahan korosi.


Desain tidak boleh membentuk celah-celah yang memungkinkan
terjebaknya elektrolit sehingga menimbulkan korosi celah (crevice corrosion).
Untuk itu maka tangki-tangki didirikan di atas kaki-kaki penyangga berbentuk
rangka demi menghindari terjadinya crevice corrosion di bagian tangki yang
menempel ke lantai.

Gambar 5. Desain kaki reaktor dalam pencegahan korosi.


1.3.

Korosi pada pipa air pendingin reaktor


Selain itu korosi pada reaktor dapat juga terjadi di pipa-pipa aliran air

pendingin reaktor. Air pendingin harus memenuhi persyaratan untuk menjadi air
yang dapat digunakan sebagai pendingin peralatan di pabrik, khususnya pada
reaktor. Air pendingin pada reaktor merupakan air yang telah mengalami proses
demineralisasi. Karena itu air yang sedikit, berada pada ppm order, kandungan
mineralnya dapat dijadikan sebagai air pendingin yang baik.
Walaupun air pendingin sudah sedikit mengandung mineral, kandungan
mineral yang tersisa dapat menjadi suatu kerak yang terdeposit pada pipa-pipa
aliran air pendingin pada reaktor. Tidak menutup kemungkinan apabila air
pendingin juga terdapat adanya mikroba atau zat organik lainnya yang terlarut
pada air pendingin. Zat organik dapat membuat suatu deposit yang menutupi

sebagian pipa aliran air pendingin. Akibat yang ditimbulkan adalah laju aliran air
menuju reaktor yang terhambat, sehingga proses dapat tidak sesusai dengan desain
yang ada.
1.4.

Bahan logam reaktor terhadap jenis korosi


Reaktor CSTR terbuat dari bahan logam yang dipadu demi kebutuhan

untuk kondisi operasi suatu reaksi yang berlangsung didalamnya. Maka dari itu
dalam desain suatu reaktor didasari oleh jenis bahan baku yang masuk serta
kondisi operasi yang terjadi dalam reaktor. Bahan logam yang menjadi suatu
reaktor disesuaikan dengan sifat fisis dan kimia bahan yang masuk pada reaktor
serta produk yang akan keluar dari reaktor.
Bahan konstruksi harus dipilih yang tahan korosi. Apalagi jika
lingkungannya korosif. Ketahanan korosi masing-masing bahan tidak sama pada
berbagai macam lingkungan. Mungkin sesuatu bahan sangat tahan korosi
dibanding bahan-bahan lain pada lingkungan tertentu. Tetapi bahan yang sama
mungkin adalah yang paling rawan korosi pada lingkungan yang berbeda
dibanding dengan bahan-bahan yang lain.
Dari semua bahan logam di atas, maka pada dasarnya makin murni sesuatu
logam, makin bagus ketahanan korosinya karena keseragamannya. Jika sesuatu
logam mengandung unsur asing, maka keseragaman akan terganggu dan
pembentukan sel-sel galvanik lebih mudah terjadi.
Tetapi sesuatu bahan tidak hanya dipandang dari segi ketahanan korosinya
saja untuk dijadikan sebagai bahan konstruksi. Sifat mekanis tidak kalah penting.
Untuk itu maka logam-logam tersebut dialloy untuk memperbaiki sifat-sifatnya,
baik sifat mekanis maupun sifat-sifat ketahanan korosinya.
Peng-alloy-an logam dapat sama sekali mengubah sifat-sifat logam
asalnya. Alloy-alloy semacam ini terus diteliti oleh para ahli bahan konstruksi.
Sifat-sifat mereka dicatat dan dicoba dimengerti penyebab-penyebab perubahan
sifat-sifat tersebut. Banyak yang sudah diketahui/dirumuskan penyebabnyapenyebabnya, tetapi lebih banyak lagi yang belum diketahui; Bahkan banyak yang
belum diketahui sifat-sifatnya sekalipun.

Di antara yang dicatat para pengamat korosi adalah adanya pasanganpasangan alami dari logam/alloy dengan lingkungan korosif yang sesuai, yang
paling ekonomis untuk dipakai dalam konstruksi.
Tabel 1. Pasangan Alami dari Alloy Logam dengan Lingkungan yang Sesuai
Lingkungan
Asam Nitrat (HNO3)
Kaustik
Asam Format (HF)
Asam Klorida (HCl)
Asam Sulfat (H2SO4) encer
Asam Sulfat (H2SO4) pekat
Aquadest
Lingkungan atmosfer
Larutan oksidator kuat dan panas
Larutan dengan kondisi yang

Logam Pasangan
Steinless steel
Nikel/Alloy Nikel
Monel
Hastelloy
Timah Hitam
Baja Biasa
Timah Hitam
Aluminium
Titanium
Tantalum

ekstrim
1.5.

Inhibitor korosi pada reaktor


Inhibitor adalah suatu bahan kimia yang jika ditambahkan dalam jumlah

yang kecil saja kepada lingkungan media yang korosif, akan menurunkan
kecepatan korosi. Inhibitor bekerja menghambat laju korosi. Belum banyak
diketahui bagaimana cara kerja inhibitor dalam menghambat korosi.
Banyak macam dan rumusan/resep-resep bahan inhibitor. Kebanyakan
mereka ini ditemukan berdasarkan hasil pengamatan/penelitian empiris saja tanpa
diketahui

mekanisme

kerjanya.

Walaupun

demikian,

inhibitor

dapat

diklasifikasikan berdasarkan mekanisme penghambatannya maupun berdasarkan


sifat senyawanya.
Berdasarkan

mekanisme

penghambatannya,

maka

inhibitor

dapat

diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) kategori, yaitu :


1) inhibitor anodik
2) inhibitor katodik
3) inhibitor campuran
Inhibitor anodik bekerja dengan cara menghambat reaksi anodik,
sedangkan inhibitor katodik bekerja dengan cara menghambat reaksi katodik.
Inhibitor campuran adalah tipe inhibitor yang bekerja dengan cara menghambat

laju reaksi korosi secara keseluruhan, baik reaksi anodik maupun katodik secara
serentak, walaupun tingkat penghambatannya mungkin tidak sama.
Inhibitor anodik bekerja dengan membentuk lapisan pelindung yang pasif
di permukaan logam akibat reaksi logam dengan inhibitor tersebut (reaksi korosi
logam oleh inhibitor). Inhibitor semacam ini menaikkan potensial korosi bebas
logam sampai dicapai potensial pasifasi. Efek inhibitor ini bergantung pada
konsentrasi yang digunakan. Konsentrasi inhibitor dalam media harus
dipertahankan pada level tertentu. Jika konsentrasinya sampai turun, maka logam
akan mengalami korosi hebat jenis pitting. Kehadiran oksigen/oksidator juga
sangat diperlukan pada inhibitor ini, karena oksigen diperlukan untuk
pembentukan lapis pelindung pasif. Yang termasuk inhibitor jenis ini adalah
kromat dan nitrit.
Inhibitor katodik pada suasana netral, bekerja dengan membentuk lapisan
ataupun endapan pada permukaan logam. Lapisan atau endapan tersebut akan
menghambat akses oksigen ke permukaan logam, sehingga akan menghambat
reaksi katodik. Inhibitor jenis ini menurunkan potensial korosi bebas logam. Agar
efek inhibitor maksimal, diperlukan konsentrasi minimal yang harus ada dalam
media elektrolit. Beberapa inhibitor katodik malah menunjukkan efek negatif pada
konsentrasi yang tinggi, sehingga konsentrasi inhibitor tidak boleh terlalu tinggi.
Inhibitor jenis campuran tidak memberikan efek perubahan potensial
korosi bebas yang berarti pada logam. Kemungkinan inhibitor jenis ini bekerja
dengan membentuk lapis pelindung yang berasal dari corrosion product di
permukaan logam dan sekaligus juga mengendapkan bahan yang lebih kompleks
di atasnya.
Banyak perusahaan pembuat & penjual inhibitor yang meramu resep-resep
inhibitor

dengan

mencampurkan

bermacam-macam

inhibitor

dan

mempatenkannya dengan nama dagang dengan kode-kode tertentu berupa satu


paket inhibitor untuk sistem-sistem tertentu seperti cooling water, boiler feed
water, dan lain-lain. Sekalipun tidak dipahami mekanismenya, tetapi rumusan
campuran beberapa macam inhibitor semacam itu mempunyai efek sinergis yang
jauh lebih baik dari pada efek penjumlahan jika mereka dipakai sendiri-sendiri.

Berdasarkan sifat senyawanya, inhibitor bisa dikategorisasikan sebagai


tipe organik, anorganik, tipe fasa uap atau tipe volatil, tipe adsorpsi, tipe oksidator,
dan lain-lain.
Inhibitor tipe organik biasanya adalah tipe yang mengendap pada situs
anoda dan katoda sehingga menghambat berlangsungnya reaksi anodik dan
katodik secara serentak. Contoh jenis ini adalah senyawa amina.
Inhibitor fasa uap atau yang volatil dapat diletakkan di dekat logam yang
akan diproteksi. Jenis inhibitor ini tidak perlu dikontakkan langsung dengan
logam sasaran. Inhibitor akan tersublimasi di udara dan terkondensasi di
permukaan logam yang dilindungi. Jenis inhibitor ini tidak cocok untuk ruang
yang terbuka. Ia hanya efektif untuk ruang yang tertutup, misalnya di kontainer
untuk mengangkut peralatan yang terbuat dari logam. Inhibitor akan memproteksi
logam dalam kontainer selama dalam perjalanan menuju lokasi pengiriman. Ia
bisa digunakan untuk melindungi bagian internal alat yang tertutup.
Inhibitor tipe oksidator adalah inhibitor yang bekerja berdasarkan
pembentukan lapisan oksida logam yang protektif di permukaan logam. Inhibitor
ini bekerja mula-mula dengan memangsa logam sehingga terbentuk corrosion
product berupa oksida logam. Selanjutnya lapisan oksida logam ini yang menahan
ekspos logam ke lingkungan korosifnya, sehingga logam menjadi aman dari
serangan korosif selanjutnya. Karena sifatnya yang mampu mempasifkan logam,
ia disebut sebagai pasifator. Contoh inhibitor jenis ini adalah garam-garam nitrat,
kromat, dan feri. Hanya logam-logam yang bisa membentuk lapisan pasif saja
yang bisa memanfaatkan inhibitor jenis ini.
1.6.

Pelapisan pada bahan logam reaktor


Pada pelapisan dengan bahan logam, dapat digunakan bahan-bahan logam

yang lebih inert maupun yang kurang inert sebagai bahan pelapis. Pemakaian
kedua macam bahan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masingmasing. Pemakaian logam yang lebih inert sebagai pelapis, memiliki keuntungan
bahwa logam yang dilapisi akan terlindungi dari ekspos terhadap media korosif.
Karena media korosif tidak/kurang memangsa logam pelapis, maka logam yang
dilapisi jadi ikut berumur panjang karena terlindungi oleh logam pelapis.
Keburukan memakai pelapis inert adalah : jika ada cacat sedikit saja pada

pelapisan, sehingga ada bagian yang tidak tertutupi oleh pelapis, maka bagian itu
akan bebas terekspos dengan lingkungan korosif dan akan terkorosi dengan lebih
hebat dari pada jika tidak ada pelapisan, akibat terbentuknya sel galvanik. Tipe
korosi akan berbentuk seperti rumah rayap, dengan bagian luar mulus, sementara
bagian dalam sudah habis terkorosi/keropos. Contoh pelapisan tipe ini adalah
pelapisan dengan logam-logam mulia seperti emas, perak, platina dan titanium.
Pemakaian logam kurang inert sebagai pelapis punya keuntungan ganda.
Selain pelapis merupakan pelindung secara fisik, ia juga pelindung secara
elektrokimia bagi logam yang dilapisi. Kontak langsung antara kedua logam,
membuat logam pelindung dan yang dilindungi membentuk sebuah sel galvanik,
dengan anodanya adalah logam pelindung dan katodanya adalah logam yang
dilindungi. Akibatnya, boleh dikatakan bahwa logam yang dilindungi baru akan
terkorosi jika semua logam pelindung sudah habis terkorosi. Adanya cacat pada
pelapisan tidak mempengaruhi kemampuan proteksi pelindung. Contoh sistem
seperti ini adalah besi galvanisasi, yaitu besi yang dilapisi dengan aluminium.
Pada metode cladding ini, logam pelapis berupa lembaran atau lempengan.
Lembaran logam ini dibungkuskan pada alat yang akan dilapisi. Peralatan yang
dilapisi jadi terselubung oleh mantel pelapis. Biasanya pelapisannya dilakukan
dengan cara rolling terhadap dua lembar logam secara bersamaan.
Bahan-bahan yang biasa digunakan untuk melapisi baja adalah : Ni, Al,
Cu, Ti, stainless steel, dan lain-lain. Contoh bahan cladding semacam ini adalah
lembaran-lembaran nikel dan baja yang di hot-rolled membentuk satu lembaran
komposit dengan ketebalan 1/8 in nikel dan 1 in baja.
Proses spraying (flame spraying) juga disebut dengan proses metalising.
Proses ini terdiri dari ekspos kawat pelapis ataupun penyemburan serbuk logam
pelapis ke arah api pelelehan, sedemikian rupa sehingga cairan lelehan logam
pelapis yang berbentuk butir-butir yang halus menempel ke permukaan logam
yang akan dilapisi dan membeku di sana. Digunakan oksigen dan asetilen atau
propan untuk panas.
Pelapisan dengan cara ini biasanya menghasilkan lapisan yang porous dan
tidak protektif terhadap lingkungan cairan yang korosif. Biasanya porositas

menurun dengan naiknya titik lebur pelapis. Permukaan yang akan dilapisi harus
di sand blasting agar agak kasar sehingga lapisan bisa lebih menempel (terkunci)
pada yang dilapisi. Kadang-kadang di atas lapisan ini, dilapis lagi dengan cat
untuk menutup pori-pori yang ada demi kesempurnaan proteksi.
Jadi pada reaktor kebanyakan digunakan metode pelapisan cladding pada
bagian dalam reaktor. Bagian dalam reaktor di lapisi oleh logam yang merupakan
pasangan antikorosi terhadap zat yang masuk ke dalam reaktor.
Pelapisan dengan bahan organik dilakukan dengan menggunakan bahan
cat (polimer). Lapis cat merupakan lapis lindung yang tahan korosi (bukan
logam). Logam akan terisolasi dari lingkungan korosif oleh adanya lapisan cat,
sehingga akan aman dari korosi.
Di antara semua metode penanggulan korosi, metode pengecatan adalah
yang terbanyak digunakan. Pengecatan bukan hanya untuk menghambat korosi
yang merusak logam sebagai bahan konstruksi saja, tetapi juga untuk tujuan
estetika. Biaya terbanyak yang dikeluarkan untuk penanggulangan korosi adalah
untuk pengecatan ini.
Pengecatan harus dilakukan terus menerus secara periodik, jika ingin
hasilnya baik. Penghentian rutinitas pengecatan, bahkan akan mengakibatkan
logam yang diproteksi terkorosi lebih hebat dibanding jika ia tidak pernah
diproteksi dengan pengecatan. Adanya sedikit cacat pada lapisan cat
mengakibatkan logam di bawah cat terkorosi hebat mirip rumah rayap. Hal ini
seperti yang terjadi pada logam yang dilapisi dengan logam yang lebih inert.
Selain dari kesempurnaan pelapisan, ada hal-hal penting lain yang harus
diperhatikan pada proteksi dengan pengecatan, yaitu:
1) persiapan permukaan yang akan dicat
2) pemilihan cat primer
3) pemilihan cat luar
Persiapan permukaan yang akan dicat merupakan langkah penting dalam
pengecatan. Permukaan harus dibersihkan dari kotoran, karat, debu, minyak
ataupun gemuk dan lain-lain bahan pengotor. Selain itu, permukaan yang akan
dilapisi juga harus agak kasar untuk tempat gigitan cat agar menempel dengan
baik. Untuk itu dilakukan sand blasting yang merupakan cara terbaik untuk
persiapan permukaan. Cara lain yang bisa dipakai ialah pickling, scraping, wire

brushing, dan flame cleaning. Tetapi semua cara-cara tersebut tidak dapat
mengalahkan sand blasting, baik dari segi kesederhanaan/kemudahan, kemurahan
biaya maupun hasilnya.
Pemilihan pelapis primer penting agar pelapis luar dapat melekat dengan
baik. Cat primer juga dipilih yang mengandung bahan anti korosi. Kemampuan
pembasahan adalah aspek penting dari cat primer ini, sebab cacat-cacat dan celahcelah pada permukaan akan diisi oleh cat primer ini. Cat primer juga harus
memiliki waktu pengeringan yang singkat, sehingga permukaan tidak sempat
terkontaminasi oleh kotoran ketika masih basah. Cat primer dapat mengandung
pigmen yang bersifat menghambat korosi, seperti seng kromat dan serbuk seng.
Cat luar harus dipilih yang bagus. Jangan pernah memilih cat luar yang
murah dengan mutu yang rendah, sebab dari total biaya produksi proteksi dengan
sistem pengecatan ini, beaya terbanyak adalah biaya untuk proses pengecatannya
dibanding dengan biaya untuk beli catnya sendiri.
Ketebalan cat harus cukup, sehingga tidak ada cacat pada pelapisan.
Sedikit cacat (holiday) sudah cukup untuk mengkondisikan korosi galvanik
dengan struktur yang dilapisi sebagai anoda dan catnya sebagai katoda. Untuk itu
orang melakukan pengecatan sampai beberapa lapis. Cara ini efektif untuk
menutup holidays dari lapis-lapis sebelumnya.
Proses pelapisan dengan bahan

anorganik

dilakukan

dengan

mengkorosikan logam dalam lingkungan asam-asam pengkorosi sehingga


diperoleh lapisan corrosion product yang protektif di pemukaan logam.
Di antara contoh proses pelapisan dengan cara ini adalah proses anodising,
phosphatising, dan chromatising. Anodising aluminium menghasilkan lapisan
protektif Al O di permukaan logam. Phosphating dan chromatising adalah
2 3
semacam anodising dengan asam-asam pengkorosi asam-asam fosfat dan kromat.
Proses pelapisan dengan bahan anorganik juga dapat dilakukan dalam
suasana kering, seperti pada pembentukan lapisan oksida logam melalui
pemanasan (heat coatings atau oxide coatings).
Contoh pemakaian proses phosphating adalah pada pelapisan terhadap
badan mobil. Lapis anorganik yang terbentuk pada badan mobil tersebut,

merupakan dasar yang baik untuk pengecatan. Ia berfungsi sebagai lapisan cat
primer. Chromatising biasa dilakukan terhadap baja, magnesium dan seng.
Oxide coatings biasa dilakukan terhadap baja dengan memanaskannya
dalam lingkungan udara atau dengan mengeksposnya ke cairan panas. Hasil
pelapisan oksida harus diolah lagi dengan produk minyak bumi untuk
menghindari pengkaratan. Dengan perlakuan semacam ini bisa diperoleh lapisan
protektif dengan warna-warna yang dikehendaki.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Abrasive Blasting (en.wikipedia.org/wiki/Abrasive_blasting, diakses
pada 1 maret 2015)
Anonim. Corrosion (en.wikipedia.org/wiki/Corrosion, diakses pada 1 maret 2015)
Dewi. T.K.. 2003. Pelatihan Prime Movers Dan Peralatan Khusus Penunjang
Operasi abrik Bagi Calon Karyawan PT PUSRI. Palembang
Fachry, H.A.Rasyid. 2007. Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia II.
Indralaya : Laboratorium Proses dan Operasi Teknik Kimia Jurusan Teknik
Kimia Universitas Sriwijaya

Rahayu, S.S. 2009. Pelapisan Logam (www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimiaindustri/bahan-baku-dan-produk-industri/pelapisan-logam/, Diakses pada


1 maret 2015)