Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

MENINGITIS
A.

KONSEP DASAR PENYAKIT


1.

DEFINISI
Meningitis adalah suatu inflamasi di arachnoid dan piamater pada otak
dan spinal cord, yang disebabkan oleh infeksi pada cairan serebrospinal
(Lewis, 2005).
Meningitis adalah suatu inflamasi di piameter , arakhnoid dan
subararakhnoid infeksi biasanya menyebabkan meningitis

dan chemical

meningitis juga dapat menjadi meningitis bisa akut atau kronik yang
disebabkan karena bakteri,virus, jamur atau parasit. (Lemone. 2004).
Meningitis adalah inflamasi meningen yang juga dapat menyerang
arakhonoid dan subarakhonoid, infeksi menyebar sampai subarakhonoid
melalui cairan serebrospinal sekitar otak dan spinal cord (Joyce M black,
2005).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa meningitis
adalah suatu inflamasi meningen yang juga dapat menyebar ke arakhonoid
dan subarakhonoid pada otak dan spinal cord, yang disebabkan oleh bakteri ,
virus jamur atau protozoa.
2.

KLASIFIKASI
a.

Meningitis Purulenta (Pingenik).


Adalah radang selaput otak yang menimbulkan eksudasi berupa
pus. Penyebab meningitis puruenta ini adalah jenis Pneumococcus, H.
Influenza, Staphylococcus, Meningococcus, E. Coli, Streptococcus, dan
Salmonella.
Angka kejadian tertinggi pada usia 2 bulan sampai pada usia 2
tahun. Meningitis purulenta ini pada umumnya sebagai akibat dari

komplikasi. Kuman secara homogen masuk ke otak misalnya penyakit


pneumonia dapat pula sebagai perluasan perkontinuitas pada peradangan
organ atau jaringan di dekat selaput otak misalnya otitis media mastoiditis,
dan sebagainya.
b.

Meningitis Virus.
Disebabkan oleh sejumlah virus yang berbeda misalnya virus
poliomeilitis

meningitis

tuberkulosa.

Terjadi

akibat

komplikasi

penyebaran tuberkulosa primer biasanya dari paru. Meningitis bukan


karena terinfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran hematogen
tetapi biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan
otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah ke
rongga arachnoid, kadang dapat juga terjadi perkontinuitatum dari
mastoiditis atau spandilitis. Penyakit ini mengenai anak anak dari semua
umur tetapi lebih sering diantara umur 1 dan 5 tahun. Cairan serebrospinal
memperlihatkan lebih sedikit sel dan ditemukan pula jumlah klorida yang
sangat rendah.
3.

ETIOLOGI
Penyebab timbulnya Meningitis menurut Suriadi dan Rita, 2001 yaitu:
a.

Bakteri
pneumoniae,

Nisseria

: Haemophilus Influenza (tipe B), Streptococcus


meningitis,

-hemolysis

streptococcus,

Staphilococcus aureu, Eccericia coli.


b.

Faktor Predisposisi: Jenis kelamin, laki-laki lebih seriing


dibandingkan dengan wanita.

c.

Factor maternal: rupture membrane fetal, infeksi maternal


pada minggu terakhir masa kehamilan.

d.

Factor imunologi: defisiensi mekanisme imun, defisiensi


immunoglobulin, anak yang mendapatkan obat-obatan imunosupresi.

e.

Anak dengan kelainan system syaraf pusat, pembedahan atau


injury yang berhubungan dengan system persyarafan.

4.

PATOFIFIOLOGI
Efek

peradangan

akan

menyebabkan

peningkatan

cairan

serebrospinal yang dapat menyebabkan obstruksi dan selanjutnya terjadi


hidrosefalus dan peningkatan tekanan intracranial. Efek patologi dari
peradangan tersebut adalah hiperemi pada meningens, edema dan eksudasi
yang kesemuanya itu menyebabkan peningkatan tekanan intracranial.
Organisme masuk melalui sel darah merah pada blood brain barier.
Masuknya organisme tersebut dapat melalui trauma penetrasi, prosedur
pembedahan/pecahnya abses serebral atau kelainan syaraf pusat. Othortea /
rhinorthea akibat fraktur dasar tengkorak dapat menimbulkan meningitis,
dimana terjadi hubungan antara CSF dan dunia luar.
Masuknya organism eke susunan syaraf pusat melalui ruang sub
aracnoid, CSF dan ventrikel.
Dari reaksi peradangan muncullah eksudasi dan perkembangan
infeksi pada ventrikel, edema dan skar jaringan sekeliling vantrikel
menyebabkan obstruksi pada CSF dan menimbulkan hidrosefalus.
Meningitis bakteri: netrofil, inonosit, limfosit, dan yang lainnya
merupakan sel respon radang. Eksudat terdiri dari bakteri fibrin dan lekosit
yang dibentuk di ruang sub arachnoid. Penumpukan pada CSF akan
bertambah dan mengganggu aliran CSF di sekitar otak dan medulla spinalis.
Terjadi vasodilatasi yang cepat dari pembuluh darah dan jaringan otak dapat
menjadi infark.
Meningitis virus sebagai akibat dari penyakit virus seperti meales,
mump, herpes simplek, dan herpes zoster. Pembentukan eksudat pada
umumnya tidak terjadi dan tidak ada mikroosganisme pada kultur CSF.

5.

PATHWAY

Luka Terbuka, trauma

Pneumonia, otitis media, sinusitis

Pintu masuk kuman (Pneumococcus, influenzae, Staphylococcus, Streptococcus,


E. Coli, Meningococcus, Salmonella)
Melalui aliran darah ke selaput meningen
Menjadi patogen dalam cairan serebrospinal & parenkim otak
inflamasi

peradangan

Hiperemi, oedema otak,vasidilator Vaskuler darah


Meningitis purulenta, timbul gejala

Gejala rangsangan meningeal : kaku


kuduk, regiditis, kernig, brudzinski
I&II(+) leher, punggung sakit

Gejala infeksi akut (meningococcus) :


lesu, mudah terangsang,anoreksi, sakit
kepala, ptechiae, herpes labialis

Gejala TIK meningkat : muntah, nyeri kepala, morning


cry, penurunan kesadaran, Cheyene stokes, kejang,
serebral a/paresis, UUB tegang dan menonjol

Hipertermi

Resiko
infeksi

Gangguan
nyaman nyeri

Perfusi jaringan
serebral

Cemas

6.

MANIFESTASI KLINIK
a.

Neonatus
o

Suhu
di

bawah

suhu

Tonus
otot berkurang,

tubuh normal,
o

Demam,

Pucat,

Letargie,

Irritabilit

Diare
dan muntah,

Reflek
menghisap berkurang,

Menangi
s lemah,

as,
o

Kurang

o
menonjol,

makan dan minum,


o

Kejang,

Fontanel

Opistoto
nus.

b.

Bayi dan anak kecil


o

Demam,

Malas

Kaku
kuduk,

untuk makan,

Tanda

Muntah,

kerning dan brudzinsky

Mudah

positif,

terstimulasi,
o

Kejang,

Sering

Pucat,

Peningka
tan tekanan intracranial,

menangis,
o

Ubunubun menonjol,

Peningka
tan lingkar kepala.

c.

Anak-anak dan remaja


o

Sakit

kepala,

Opistoto
nus,

Demam,

Peteki,

Muntah,

Syok,

Irritabilit

Konfusi,

Kejang,

Stupor,

Delirium

as,
o

Fotofobi
a,

Kaku
kuduk,

o
Tanda

kerning dan brudzinsky


positif,

,
Septicem
ia.
o

7.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a.

Pungsi lumbal dan kultur CSS dengan hasil sebagai berikut:


1)

Jumlah leukosit (CBC)

: meningkat.

2)

Kadar glukosa

menurun

(bacterial); normal (virus).


3)

Protein

tinggi

(bacterial);

sedikit

meningkat (virus).
4)

Identifikasi

organisme

penyebab:

Meningococcus, bakteri gram-positif (Streptococcus, stafilococcus,


pneumococcus, H. influenza) atau virus (virus coksakie, virus ECHO).
5)

Asam laktat

meningkat

Glukosa serum

: meningkat.

(bacterial).
6)
b.

Kultur darah : untuk menetapkan prganisme penyebab.

c.

Kultur urine : untuk menetapkan organisme penyebab.

d.

Kultur nasofaring

Elektrolit serum

: meningkat jika anak dehidrasi; natrium

untuk

menetapkan

organisme

penyebab.
e.

serum (Na+) naik; kalium serum (K+) turun.


f.

Osmolaritas urine

8.

: meningkat dengan sekresi ADH.

PENATALAKSANAAN
o

Penatalaksanaan secara medis yang dapat dilakukan

pada pasien dengan meningitis adalah sebagai berikut:


b.

Obat anti inflamasi


1)

Meningitis Tuberkulosa:

Isoniazid 10 20 mg/kg/24 jam oral,


2 kali sehari maksimal 500 gr selama 1 tahun.

Rifamfisin 10 15 mg/kg/ 24 jam oral,


1 kali sehari selama 1 tahun.

Streptomisin sulfat 20 40 mg/kg/24


jam sampai 1 minggu, 1 2 kali sehari, selama 3 bulan.

2)

Meningitis bacterial, umur < 2 bulan:

Sefalosporin generasi ke 3

ampisilina 150 200 mg (400


gr)/kg/24 jam IV, 4 6 kali sehari.

Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4


kali sehari.

3)

Meningitis bacterial, umur > 2 bulan:

Ampisilina

150-200

mg

(400

mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari.

c.

Sefalosforin generasi ke 3.
Pengobatan Simtomatik

1) Diazepam IV : 0.2 0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4 0.6/mg/kg/dosis


kemudian klien dilanjutkan dengan.
2) Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari.
3) Turunkan panas :

Antipiretika : parasetamol atau salisilat 10 mg/kg/dosis.

Kompres air PAM atau es.

d.

Pengobatan suportif
1)

Cairan intravena.

2)

Zat asam, usahakan agar konsitrasi O2 berkisar


antara 30 50%.
o

Sedangkan penatalaksaan secara ilmu keperawatan

yang dapat dilakukan pada pasien meningitis adalah sebagai berikut:


a.

Pada waktu kejang

1)

Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka.

2)

Hisap lender

3)

Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi.

4)

Hindarkan penderita dari rodapaksa (misalnya jatuh).

b.

Bila penderita tidak sadar lama.


1)

Beri makanan melalui sonda.

2)

Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik dengan merubah


posisi penderita sesering mungkin.

3)

Cegah kekeringan kornea dengan boor water atau saleb


antibiotika.

c.

Pada inkontinensia urine lakukan katerisasi.


o

d.

Pada inkontinensia alvi lakukan lavement.


Pemantauan ketat.

1)

Tekanan darah

2)

Respirasi

3)

Nadi

4)

Produksi air kemih

5)

Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini adanya DC.


o

9.

KOMPLIKASI
o

Komplikasi yang dapat diakibatkan dari pengobatan

yang tidak adekuat pada penyakit meningitis adalah sebagai berikut:

B.

b.

Cacat neurologist berupa paralysis, parestesi.

c.

Hidrosephalus

d.

Buta dan tuli.

e.

Retardasi mental.

f.

Esufi subdural.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1.

PENGKAJIAN
a.

Riwayat Penyakit
o

Proses persalinan atau selama dalam kandungan masa

lalu, penyakit kronik, tumor , anemia, imunosupresi, splencetomi, infeksi


telinga, mastoiditis, sinusitis, lumbal pungsi, trauma kepala, kondisi
kehidupan yang ramai, racun / obat, ketidakcocokan dengan perubahan
kebiasaan, demam, mual, muntah , sakit kepala, fotophobia, diplopia, sakit
punggung.
b.

Data dasar pemeriksaan pasien:


a

Aktivitas / Istirahat
1

Gejala

: Perasaan tak enak atau malaise, keterbatasan yang

ditimbulkan oleh kondisinya.


2

Tanda

: Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan

involunter, kelemahan secara umum, keterbatasan dalam rentang


gerak dan hipotonia.
b

Sirkulasi
1

Gejala

: Adanya riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis,

beberapa penyakit jantung kongenital ( abses otak)


2

Tanda

Tekanan darah meningkat, nadi menurun dan tekanan nadi


berat ( berhubungan dengan peningkatan TIK dan pengaruh
pada pusat vasomotor).

Takikardi, disritmia ( pada fase akut), seperti disritmia sinus


(pada meningitis)

Eliminasi
o

Tanda : Adanya inkontinensia ( retensi ).

Makanan/ Cairan

Gejala

: Kehilangan nafsu makan, kesulitan menelan ( pada

periode akut ).
2

Tanda

: Anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membran

mukosa kering.
e

Hygiene
o

Tanda

Ketergantungan

terhadap

semua

kebutuhan perawatan diri ( pada periode akut).


f

Neurosensori
1

Gejala

Sakit kepala ( mungkin merupakan gejala pertama dan


biasanya berat ).

Parestesia , terasa kaku pada semua persyarafan yang terkena,


kehilangan sensasi ( kerusakan pada syaraf kranial) .
hiperalgesia

meningkatnya

sensitifitas

pada

nyeri

(meningitis).timbul kejang (meningitis bakteri atau abses otak)

Gangguan dalam penglihatan, seperti diplopia ( fase awal dari


beberapa infeksi).

Fotopobia ( pada meningitis ).

Ketulian ( pada meningitis / encepalitis ) atau mungkin


hipersensitif terhadap kebisingan.

Adanya halusinasi penciuman atau sentuhan.

Tanda

Status mental / tingkat kesadaran, letargi sampai kebingungan


yang berat hingga koma, delusi dan halusinasi / psikosis
organik (enchepalitis).

Kehilangan memori, sulit dalam mengambil keputusan (dapat


merupakan gajala awal berkambangnya hidrosefalus, yang
mengikuti meningitis bakterial).

Afasia / kesulitan dalam berkomunikasi.

Mata (ukuran/ reaksi pupil) : anisokor atau tidak berespon


terhadap cahaya (peningkatan TIK), histagmus (bola mata
bergerak terus menerus).

Ptosis (kelopak mata atas jatuh). Karakteristik fasial (wajah),


perubahan pada fungsi motorik dan sensorik (saraf kranial ke V
dan ke VII terkena).

Kejang umum atau lokal (pada abses otak), kejang lobus


temporal, otot mengalami hipotonia/ flaksis paralisis (pada fase
akut meningitis), spastik (enchepalitis).

Hemiparese atau hemiplegia (meningitis atau enchepalitis).

Tanda Brundzinski positif dan atau tanda kernig positif


merupakan indikasi adanya iritasi meningeal (fase akut).

Rigiditas nukal (iritasi meningieal).

Reflek tendon terganggu, babinski positif.

Reflek abdominal menurun atau tidak ada, refleks kemastetik


hilang pada laki-laki.

Nyeri / Kenyamanan.
1

Gejala

: Sakit kepala (berdenyut dengan hebat, frontal)

mungkin akan diperburuk oleh ketegangan, leher/punggung kaku,


nyeri pada gerakan okuler, fotosensitifitas, sakit, tenggorokan
nyeri.
2

Tanda

: Tampak terus terjaga, perilaku distraksi,/gelisah,

menangis, mengaduh/mengeluh.
h

Pernapasan
1

Gejala

: Adanya riwayat infeksi sinus atau paru (abses otak).

Tanda

Peningkatan kerja pernafasan (episode

perubahan mental (letargi sampai koma), dan gelisah.

awal),

Keamanan
1

Gejala

Adanya riwayat infeksi saluran nafas atas / infeksi lain,


meliputi : mastoiditis, telinga tengah, sinus, abses gigi, infeksi
pelvis, abdomrn atau kulit : fungsi lumbal, pembedahan :
fraktur pada tengkorak / cedera kepala, anemia sel sabit.

Imunisasi

yang

baru

saja

berlangsung,

terpajan

pada

meningitis, terpajan oleh campak, chicken pox, herpes


simpleks, mononukleosis, gigitan binatang, benda asing yang
terbawa.
2

Tanda

Suhu meningkat, diaforesis, menggigil.

Adanya ras, purpura menyeluruh, perdarahan subkutan.

Kelemahan secara umum : tonus otot flaksit atau spastik,


paralisis atau paresis.

Gangguan sensasi.

c.

Pemeriksaan Fisik
o

Pemeriksaan fisik dipengaruhi oleh umur anak, asal

usul, iritasi, lemah pusing, ataksia, bredzinsky positif dan tanda-tanda


kernig positif, ptosis, pendengaran berkurang, takikardia, disritmia,
tekanan darah meningkat, sesak, muntah dan diare.
d.

Faktor perkembangan psikososial


o

Umur, tingkat perkembangan, kebiasaan (sebagai

contoh : apa kesenagan anak, kebiasaan waktu tidur), interraksi keluarga,


pola hidup, pengalaman sebelumnya dan opname (masuk rumah sakit),
kepercayaan agama.
2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

a.

Resiko

tinggi

terhadap

( penyebaran ) infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh.


b.

Kerusakan

perfusi

jaringan

serebral b/d proses peradangan, peningkatan TIK.


c.

Gangguan rasa nyaman (nyeri)


b/d iritasi selaput otak.

d.

Peningkatan suhu tubuh yang


berhubungan dengan proses inflamasi

e.

Cemas

b/d

hospitalisasi,

aktual/potensial terhadap perubahan fungsi tubuh.


3.

INTERVENSI KEPERAWATAN
a.

Resiko

tinggi

terhadap

( penyebaran ) infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh.


o

NOC :

Immune Status
Knowledge : Infection control
Risk control
o

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil:


1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
3. Jumlah leukosit dalam batas normal
4. Menunjukkan perilaku hidup sehat
5. Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam batas normal
o

NIC :

1. Pertahankan teknik aseptif


2. Batasi pengunjung bila perlu
3. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan

4. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung


5. Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
6. Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
7. Tingkatkan intake nutrisi
8. Berikan terapi antibiotic
9. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan local
10. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
11. Monitor adanya luka
12. Dorong masukan cairan
13. Dorong istirahat
14. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
15. Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam
a.

Kerusakan

perfusi

jaringan

serebral b/d proses peradangan, peningkatan TIK.


o

NOC :

Circulation status

Neurologic status

Tissue Prefusion : cerebral

Setelah dilakukan asuhan selama ketidakefektifan

perfusi jaringan cerebral teratasi dengan kriteria hasil:


1. Tekanan systole dan diastole dalam rentang yang diharapkan
2. Tidak ada ortostatikhipertensi
3. Komunikasi jelas
4. Menunjukkan konsentrasi dan orientasi
5. Pupil seimbang dan reaktif
6. Bebas dari aktivitas kejang
7. Tidak mengalami
o

NIC :

1. Monitor TTV
2. Monitor AGD, ukuran pupil, ketajaman, kesimetrisan dan reaksi
3. Monitor adanya diplopia, pandangan kabur, nyeri kepala
4. Monitor level kebingungan dan orientasi
5. Monitor tonus otot pergerakan
6. Monitor tekanan intrkranial dan respon nerologis
7. Catat perubahan pasien dalam merespon stimulus
8. Monitor status cairan
9. Pertahankan parameter hemodinamik
10. Tinggikan kepala 0-45o tergantung pada konsisi pasien dan order
medis
c.

Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d iritasi selaput otak.


o

NOC :

Pain Level

pain control

comfort level

Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selam.Pasien

tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil:


1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan
teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
5. Tanda vital dalam rentang normal
6. Tidak mengalami gangguan tidur
o

NIC :

1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,


karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
3. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
dukungan
4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi,
distraksi, kompres hangat/ dingin
8. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri:
9. Tingkatkan istirahat
10. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur
11. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik
pertama kali
d.

Peningkatan suhu tubuh yang berhubungan dengan proses


inflamasi
o

NOC :

Thermoregulasi

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

selama..pasien menunjukkan :
1. Suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria hasil Suhu 36 37C
2. Nadi dan RR dalam rentang normal
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

NIC :
1. Monitor suhu sesering mungkin
2. Monitor warna dan suhu kulit
3. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
4. Monitor penurunan tingkat kesadaran
5. Monitor WBC, Hb, dan Hct
6. Monitor intake dan output
7. Berikan anti piretik:
8. Kelola Antibiotik
9. Selimuti pasien
10. Berikan cairan intravena
11. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
12. Tingkatkan sirkulasi udara
13. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
14. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
15. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
16. Monitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran
mukosa)

e.

Cemas b/d hospitalisasi, aktual/potensial terhadap perubahan


fungsi tubuh
o

NOC :

Kontrol kecemasan

Koping
Setelah dilakukan asuhan selama klien kecemasan

teratasi dgn kriteria hasil:


1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk
mengontol cemas

3. Vital sign dalam batas normal


4. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya kecemasan
o

NIC :

Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)

1. Gunakan pendekatan yang menenangkan


2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama
prosedur
4. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
takut
5. Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan
prognosis
6. Libatkan keluarga untuk mendampingi klien
7. Instruksikan pada pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi
8. Dengarkan dengan penuh perhatian
9. Identifikasi tingkat kecemasan
10. Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
11. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan,
persepsi
12. Kelola pemberian obat anti cemas
o
o
o
o
o
o
o

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o DAFTAR PUSTAKA
o
1. Joyce M. Black & Hawks. Medical Surgical Nursing . 2005. Missouri
Elsevier inc.
2. Le Mone, P and Burke, K.M. (2004). Medical Surgical Nursing, Critical
Thinking In Clien Care. New Jersey: Prentice Hall Upper Sadle River.
3. Lewis, S.W. at. Al. (2005). Medical Surgical Nursing, Assesment and
Management of Clinical Problems. St. Louis : CV. Mosby.
4. NANDA, 2005/2006, Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, Alih Bahasa
Budi Santosa, Prima Medika, NANDA.
5. Suriadi & Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak , Edisi I.
Jakarta : CV Sagung Seto
o
o
o
o

o
o
o