Anda di halaman 1dari 7

PEMANFAATAN SISA KATALIS KOH DALAM GLISEROL HASIL

SAMPING BIODISEL MENJADI PUPUK KALIUM DENGAN


VARIASI ASAM MINERAL DAN KONSENTRASI ASAM
Anis Putri Dyba, Feri Firdiansyah, M.Isnaeny Hudha, ST,MT
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, ITN Malang
Jl. Bendungan Sigura-gura No.2 Malang 65145
e-mail: fefirdsy@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mencari jenis asam mineral yang terbaik dan volume asam yang
optimum dalam pembuatan pupuk Kalium dari gliserol kasar hasil samping pembuatan biodisel yang
berkatalis KOH. Hal ini dikarenakan pupuk kalium banyak digunakan oleh petani dikarenakan pupuk kalium
mempunyai peranan besar dalam hal pengatur keseimbangan air, peredaran nutrisi, dan gula dalam
jaringan tanaman. Pembuatan pupuk Kalium menggunakan limbah pemurnian gliserol kasar yang
menggunakan katalis KOH dikarenakan untuk menghindari timbulnya masalah lingkungan akibat buangan
gliserol, selain itu juga untuk meningkatkan efisiensi industri biodisel. Variabel yang digunakan dengan
menggunakan berbagai jenis asam dan beberapa volume asam dengan tujuan dapat menemukan jenis asam
dan volume asam yang paling terbaik dalam pembuatan pupuk, sehinggga dapat diterima oleh masyarakat
luas dan dapat meningkatkan efisiensi dari pupuk itu sendiri. Adapun analisa pupuk yang kami lakukan
meliputi uji titik leleh, uji kadar abu, uji titik kalium.
Kata Kunci: Pupuk Kalium, Biodisel, Gliserol, KOH
Abstract
The purposes of this research is to determine the best mineral acid and optimum acid volume in the process
of making potassium fortilizer from crude glycerol as the side product of KOH catalystic biodisel making.
potassium fertilizer is used by a large number of farmers due to its great role in the water s stability, the
circulation of nutrition and sugar in the plant s tissue. The making of potassium fortilizer from crude glycerol
as the side product of KOH catalystic biodisel is applied to prevent the environmental problems caused by
the glycerol disposal, also ti increase the efficiency in biodisel industry. Various kinds of acid and acid
volume are used with the expectation to find the best sample for the fertilizer making, thus it could be
accepted in the society and increase its own efficiency. The analysis of the fertilizer which applied on the
research are test melting point, test ash, test point potasium.
Keyword: potassium fertilizer, biodisel, glycerol, KOH catalysis

1.

Latar Belakang Masalah


Pengetahuan dan teknologi produksi biodiesel telah berkembang pesat. Pada umumnya, biodiesel
dihasilkan dari esterifikasi - transesterifikasi minyak nabati dan metanol berlebih dengan katalis basa
(KOH atau NaOH) yang menghasilkan hasil samping berupa gliserol, kelebihan metanol, katalis basa, dan
sabun (Hambali et al., 2007).
Pada industri biodiesel, akan dihasilkan gliserol sebanyak 10-15% dari kapasitas produksinya dengan
tingkat kemurnian gliserol umumnya berkadar 40-50% karena masih mengandung komponen air dan bahan
pengotor lainnya. Di Indonesia, yang saat ini memiliki kapasitas produksi industri biodiesel mencapai 4 juta
KL/tahun, maka akan dihasilkan gliserol kasar sekitar 400.000 - 600.000 ton/tahun.
Konversi gliserol menjadi produk lain perlu dilakukan untuk menghindari timbulnya masalah
lingkungan akibat buangan gliserol, selain juga meningkatkan efisiensi industri biodiesel. Pupuk
Kalium merupakan salah satu produk yang bermanfaat yang diperoleh dari limbah pemurnian gliserol
kasar.
Ghosh, el al (2006) melakukan pembuatan pupuk Kalium dengan cara merecovery sisa katalis KOH yang
digunakan pada saat pembuatan biodiesel. Proses recovery KOH menjadi Kalium sulfat dapat dilakukan
dengan cara menambahkan 1,315 kg H2SO4 98% ke dalam 37 kg crude gliserol yang mengandung 1,69 kg
KOH pada suatu vasel yang diaduk pada suhu ruang selama 5 menit. Padatan kristal yang terbentuk
dipisahkan dengan cara filtrasi. Padatan kristalnya kemudian dicuci dengan 4,5 kg methanol dan dikeringkan
pada suhu 100oC selama satu jam. Kalium sulfat yang diperoleh sebanyak 2,48 kg dengan kandungan K 2O
sebesar 47,3% .
Setyaningsih, dkk, (2007) melakukan pembuatan pupuk Kalium sulfat dengan cara mereaksikan gliserol
kasar yang di dapatkan dari hasil samping pembuatan biodiesel dari minyak pohon jarak yang berkatalis
KOH. Hasil transesterifikasi minyak jarak pagar di peroleh biodiesel kasar sebesar 96 % dan gliserol kasar 20
%. Biodiesel kasar ini dapat di murnikan dengan pencucian menggunakan air hangat sebanyak tiga kali
sehingga diperoleh biodiesel murni sebesar 85 %. Gliserol kasar dimurnikan dengan penambahan asam sulfat
dan dihasilkan 60 % gliserol dan 8,6 % pupuk Kalium kasar. Pupuk Kalium kasar selanjutnya dimurnikan
diperoleh kadar Kalium 0,078% (b/b), Kadar sulfat 61% (b/b) dan remdemen sebesar 2,8 %. Hasil ini masih
relatif rendah sehingga masih dimungkinkan untuk perbaikan proses sehingga diperoleh penemuan
(recovery) yang lebih tinggi.
Dalam penelitian sebelumnya pembuatan pupuk Kalium dengan cara merecovery sisa katalis KOH pada
gliserol kasar hasil samping pembuatan biodiesel dari jarak pagar yang ditambahkan hanya satu jenis yaitu
asam sulfat, namun pada penelitian ini pupuk Kalium dibuat dengan cara mereaksikan larutan hasil
samping biodiesel dari minyak kelapa sawit yaitu gliserol kasar dengan asam mineral antara lain: asam nitrat,
sulfat dan fosfat dengan berbagai volume asam. Analisis yang dilakukan di antaranya adalah uji titik leleh,
kadar abu dan kadar kalium dengan menggunakan alat AAS.
2. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari jenis asam mineral yang terbaik dan volume asam yang
optimum dalam pembuatan pupuk Kalium dari gliserol kasar hasil samping pembuatan biodiesel yang
berkatalis KOH.
3. Kegunaan
Kegunaan dari pelaksanaan penelitian ini adalah
1. Menambah wawasn tentang proses pembuatan pupuk Kalium dari limbah pemurnian gliserol hasil
samping biodisel dengan variasi asam mineral dan penambahan air berbagai perbandingan.
2. Menjadi pupuk Kalium sebagai pupuk yang dapat membantu masyarakat dan meningkatkan hasil
pertanian.
3. Menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.
4. Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Bahan Makanan ITN Malang. Tahap penelitian adalah
studi literatur, persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian, pengumpulan data, analisa data, evaluasi dan
terakhir pembuatan laporan. Berikut adalah variabel tetap dan berubah, alat, bahan, dan prosedur dilanjutkan
dengan diagram alir penelitian dan deskripsi peralatan.
5.

Variabel Penelitian
Variabel tetap antara lain:
-

Mol metanol : mol minyak

:6:1

Katalis KOH
Gliserol kasar
Kecepatan pengadukan
Waktu reaksi metil ester
Waktu reaksi pemurnian
Waktu mengkristalkan
Suhu pemurnian
Suhu mengkristalkan

: 1%
: 50 gram
: 400 rpm
: 60 menit
: 30 menit
: 30 menit
: 40oC
: 80oC

Variabel berubah antara lain:

6.

Asam mineral

Konsentrasi asam

: asam sulfat 96%, asam nitrat 65%, asam phosfat


85%
: 36 mmol, 54 mmol, 72 mmol, 90 mmol dan
108 mmol

Prosedur Penelitian
1.

Pembuatan Biodisel
-

Memanaskan minyak kelapa sawit hingga suhu 60 oC. Dalam tempat terpisah dicampur metanol
dan 1% katalis dari massa minyak, kemudian dipanaskan sampai suhu yang sama, yakni suhu
60oC, dengan perbandingan mol metanol dan minyak yaitu 6:1

Setelah mencapai suhu yang sama, keduanya dicampur dalam labu leher tiga, dan direfluks dengan
kecepatan pengadukan 400 rpm selama 60 menit untuk menghasilkan metil ester dan gliserol kasar

2.

Pemurnian Gliserol
-

50 mL gliserol kasar pada suhu 40oC, yang diperoleh dari hasil samping industri dengan katalis
KOH.

Setelah itu, ditambahkan asam sulfat 96%, asam nitrat 65%, asam phosfat 85% pekat sesuai
jumlah ml asam (36 mmol, 54 mmol, 72 mmol, 90 mmol dan 108 mmol) sedikit demi sedikit
sambil di aduk dengan pengaduk stirer 400 rpm, karena larutan bersifat eksoterm.

Larutan yang terbentuk kemudian didiamkan selama 30 menit.

Setelah 30 menit terbentuk endapan, dimana endapan berada bawah dan gliserol murni dan asam
lemak bebas diatas

3.

Pembuatan Pupuk Kalium


-

Endapan yang terbentuk dipisahkan dari gliserol murni dan asam lemak bebas, setelah dipisahkan
endapan berwarna kuning karena didalam endapan masih terkandung gliserol dan asam lemak
bebas

Memisahkan endapan garam dari sisa gliserol dan asam lemak bebas yang terikut dalam endapan
yaitu dengan menambahkan ethanol 96% ke dalam endapan berwarna kuning yang dimana
endapan akan berwarna putih dan zat organik akan larut dalam ethanol

Endapan garam dalam bentuk pasta kemudian di uapkan di atas hot plate pada suhu 80 oC dan
terbentuk kristal.

7.

Didinginkan pada penangas es.

Hasil dan Pembahasan


1. Analisa Gliserol Hasil Samping Biodisel dari Minyak Kelapa Sawit
Gliserol hasil samping produksi biodiesel minyak kelapa sawit dengan katalis KOH
merupakan satu fase yang mengandung banyak pengotor.
Uji pH menunjukkan bahwa gliserol hasil samping biodiesel minyak kelapa sawit mempunyai pH
sebesar 12,58. Tingkat derajat keasaman (pH) gliserol menunjukkan sifatnya yang basa. Hal ini
disebabkan kandungan KOH dan sabun kalium. Ionisasi KOH dan sabun kalium dalam air akan
menghasilkan ion hidroksil (OH ). Kadar KOH sebesar 6,1261 % (b/b). Hal ini menunjukkan bahwa
dalam 50 g bahan terdapat 3,0631 g KOH. Dan kadar K-palmitat sebesar 21,9816 % (b/b). Hal ini
menunjukkan bahwa dalam 50 g bahan terdapat 10,9908 g K-palmitat. Sabun kalium merupakan
garam yang terbentuk dari asam lemak dengan basa kalium.
2. Derajat Keasaman (pH) Gliserol
Pengamatan drajat keasaman (pH) gliserol dilakukan pada saat pemurnian gliserol dengan
penambahan asam sesuai dengan variabel berubahnya. Kurva hubungan jenis dan jumlah mmol asam
mineral terhadap pH gliserol ditunjukkan pada Gambar 7.1. Reaksi asam mineral dalam gliserol
menurunkan pH. Hal ini terjadi karena ion kalium dari basa dan sabun berikatan dengan ion nitrat,
sulfat, dan fosfat membentuk garam. Ion OH - yang menyebabkan tingginya pH berikatan dengan H +
dari asam mineral menghasilkan air. Gambar 7.1 menunjukkan bahwa perlakuan jenis asam mineral
yang menghasilkan pH dari tinggi ke rendah secara berturut-turut adalah asam sulfat, asam nitrat,
dan asam fosfat.
14
12
10
8
Nilai pH Gliserol

Asam sulfat
Asam nitrat
Asam fosfat

6
4
2
0

24

48

72

96

Konsentrasi Asam (mmol)

Gambar 7.1. Kurva Hubungan Konsentrasi Asam dan Jenis Asam dengan pH Gliserol

3.

Pada Gambar 7.1 menunjukkan bahwa penurunan pH pada titik ekuivalen pada ketiga jenis asam
terjadi terlalu curam dari pH 12 menjadi pH 6 (perlakuan asam sulfat) dan dari pH 5 menjadi pH 2.
Titik ekuivalen adalah titik ketika OH- terlarut tepat dinetralkan oleh H+ yang ditambahkan sehingga
yang tersisa adalah kesetimbangan ionisasi pelarut. Hal ini dapat disebabkan keberadaan gliserol dan
metanol yang dominan dalam larutan. Alkohol bersifat lebih asam daripada air. Agar perubahan pH
pada titik ekuivalen tidak terlalu cepat, hal ini dapat diatasi dengan penggunaan asam yang lebih
lemah atau lebih encer.
Endapan Garam yang Dihasilkan pada Pemurnian Gliserol
Perlakuan netralisasi basa dan pemecahan sabun dengan asam mineral pada pemurnian gliserol
berhasil membentuk endapan garam.

Endapan Garam (gram)

Asam sulfat
Asam nitrat
Asam fosfat
24

36

48

60

72

84

96

108

Konsentrasi Asam (mmol)

4.

Pada Gambar 7.2. menunjukkan bahwa endapan garam (kering) tertinggi dihasilkan pada
perlakuan konsentrasi asam 36 mmol asam sulfat (endapan garam 2,63 gram; pH 6,21) dan 54 mmol
asam nitrat (endapan garam 2,36 gram; pH 5,46). Adapun perlakuan asam fosfat (endapan garam 4,26
gram; pH 5,71) diperoleh pada konsentrasi asam 54 mmol.
Proses terbentuknya endapan dipengaruhi reaksi asam kuat basa kuat dan semakin bertambahnya
konsentrasi asam maka endapan garam mengalami penurunan setelah berada di titik optimum yang
disebabkan oleh meningkatnya kelarutan garam dalam gliserol karena meningkatnya kadar air hasil
reaksi dehidrasi. Garam kalium nitrat memiliki kelarutan dalam gliserol yang lebih baik dari pada
garam kalium sulfat dan kalium fosfat. Selain itu, garam (dalam keadaan asam) dan asam nitrat
merupakan oksidator kuat terhadap molekul organik.
Uji Kadar Kalium
Kandungan kalium pada pupuk kalium sulfat, kalium nitrat, dan kalium fosfat berupa kristal
berwarna putih dan tidak berbau yang dianalisa menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom
ditunjukkan pada Tabel 7.1.

Tabel 7.1. Data Hasil Pengukuran Kadar Kalium (K)


Konsentrasi Asam
Jenis Asam
36 mmol
54 mmol
72 mmol
Asam Sulfat
72,20 %
66,38 %
57,03 %

90 mmol
53,28 %

108 mmol
33,24 %

Asam Nitrat

60,17 %

62,38 %

65,00 %

68,24 %

69,80 %

Asam Fosfat

53,88 %

56,38 %

53,24 %

50,84 %

46,88 %

75.00
70.00
65.00
60.00
55.00
Nilai Kadar Kalium (% ) 50.00
45.00
40.00
35.00
30.00
24

Asam sulfat
Asam nitrat
Asam fosfat
36

48

60

72

84

96

108

Konsentrasi Asam (mmol)

Gambar 7.3. Hubungan antara Konsentrasi Asam dan Jenis Asam dengan Kadar Kalium

5.

6.

Hasil uji analisa pendahulu didapatkan kadar kalium dalam kalium sulfat sebesar 0,078%.
Sedangkan hasil peneliti kami pada Gambar 4.7 terlihat bahwa pupuk kalium sulfat (K 2SO4) semakin
banyak konsentrasi asam yang ditambahkan maka kadar K semakin turun, hal ini disebabkan karena
ion K tidak dapat lagi terikat dengan ion SO 4 (dalam keadaan lewat jenuh). Pada pupuk kalium sulfat
di dapatkan volume optimumnya pada konsentrasi asam 32 mmol dengan nilai kadar kalium 72,20%.
Pada pupuk kalium nitrat (KNO3) di dapatkan volume optimumnya konsentrasi asam pada 108 dengan
di dapatkan kadar kaliumnya 69,80% .Semakin banyak konsentrasi asam yang ditambahkan maka
kadar K semakin naik, hal ini disebabkan karena ion K masih dapat mengikat ion NO 3. Sedangkan
pada pupuk kalium fosfat (K3PO4) di dapatkan volume optimumnya dengan konsentrasi asam 54 dan
di dapatkan kadar kalium tertinggi 56,38%. Pada pupuk kalium fosfat semakin banyak konsentrasi
asam yang ditambahkan maka kadar K semakin turun, hal ini disebabkan karena ion K tidak dapat lagi
terikat dengan ion PO4 (dalam keadaan lewat jenuh).
Uji titik leleh
Hasil uji titik leleh pupuk kalium sulfat dalam penelitian ini sebesar 560 oC dengan standar
pembanding dalam Perrys Chemical Engineers Handbook sifat fisika dan kimia suatu bahan yaitu
588 oC. Dengan demikian titk leleh yang dihasilkan dalam penelitian ini sudah memenuhi standar.
Hasil uji titik leleh pupuk kalium nitrat dalam penelitian ini sebesar 310 oC dengan standar
pembanding dalam Perrys Chemical Engineers Handbook sifat fisika dan kimia suatu bahan yaitu
129; 333 oC. Dengan demikian titk leleh yang dihasilkan dalam penelitian ini sudah memenuhi
standar.
Hasil uji titik leleh pupuk kalium fosfat dalam penelitian ini sebesar 230 oC dengan standar
pembanding dalam Perrys Chemical Engineers Handbook sifat fisika dan kimia suatu bahan yaitu
256 oC. Dengan demikian titk leleh yang dihasilkan dalam penelitian ini sudah memenuhi standar.
Uji Kadar Abu
Pupuk kalium yang sudah dalm bentuk padatan, berwarna putih dan sudah diketahui titik lelehnya
maka dapat diuji kadar abu yang ditunjukkan pada Tabel 7.2.
Tabel 7.2. Data Hasil Pengukuran Kadar Abu
Konsentrasi Asam
Jenis Asam
36 mmol
54 mmol
72 mmol
90 mmol
108 mmol
Asam Sulfat

20,86 %

19,08 %

15,68 %

13,26 %

9,70 %

Asam Nitrat

10,94 %

13,36 %

14,26 %

15,28 %

17,08 %

Asam Fosfat

18,38 %

22,48 %

16,70 %

15,66 %

15,12 %

24
22
20
18
Nilai Kadar Abu (% ) 16
14
12
10
8

Asam sulfat
Asam nitrat
Asam fosfat
0

24

48

72

96

Konsentrasi Asam (mmol)

Jadi, semakin besar kadar abu yang diperoleh maka semakin besar pula kandungan mineral yang
belum hilang pada tahap determinasi dan semakin cepat pula menghambat pertumbuhan bakteri
sebaliknya, jika semakin kecil kadar abu yang diperoleh maka semakin lama pula untuk menghambat
pertumuhan bakteri pada tanaman.
8. Kesimpulan
Analisa uji kadar kalium di dapatkan volume optimumnya pada asam sulfat dengan jumlah 36 mmol
asam dengan kadar kalium sebesar 72,20%, pada asam nitrat di dapatkan volume optimumnya dengan jumlah

108 mmol asam dengan kadar yang didapatkan 69,80%, dan asam fosfat di dapatkan volume optimumnya
dengan jumlah 54 mmol asam dengan kadar yang di dapatkan 56,38%.
9. Daftar Pustaka
Afif Aufari M., Sia Robianto, Renita Manurung. 2013. Pemurnian Crude Glycerine Melalui Proses
Bleaching Dengan Menggunakan Karbon Aktif. Jurnal Teknik Kimia USU, Vol. 2, No. 1
Alamu, O.J., M.A. Waheed, dan S.O. Jekayinfa. 2007. Alkali-catalysed Laboratory Production and
Testing of Biodiesel Fuel from Nigerian Palm Kernel Oil. The CIGR EjournalEE 07 009 (IX) July
2007: 17
Aral, H., R. Sleigh, dan L. Simons. 2007. Salt Recovery Strategies for New Value-added Salt
Products. Project Report. Closing the Loop: An Holistic Approach to the Management of Dairy
Processor Waste Streams. Dairy Industries Sustainability Consortium.
Aziz, I., Siti Nurbayti, Fira Luthfiana. 2008. Pemurnian Gliserol Dari Hasil Samping Pembuatan
Biodiesel Menggunakan Bahan Baku Minyak Goreng Bekas. Valensi Vol. 1 No. 3, (157-162)
Bacovsky, D., W. Krbitz, M. Mittelbach, dan M. Wrgetter. 2007. Biodiesel Production: Technologies
and European Providers. IEA Task 39 Report T39-B6.
Departement Perindustrian. 2007. Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit. Sekretariat Jendral.
Jakarta Selatan.
Fanani. 2010. Kajian Pemurnian Gliserol Hasil Samping Biodiesel Jarak Pagar Menggunakan Asam
Nitrat, Sulfat, dan Fosfat, Skripsi, tidak diterbitkan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian
Bogor
Gerpen, J.V. 2005. Biodiesel Processing and Technology. Fuel Processing Technology 86: 1097
1107.
Ghosh, P.K Shethia, Bhupendra Dhanvantrai. Parmar, Dahyabhai Revabhai. Pandya, J.B. Gandhi, M.R.
Rathod, Meena R. Patel M.G. Vaghela, N.K.K. Dodia, P.J. Parmar, R.A. Patel, and S.N. Adimurthy,
S. 2006.Improved Process For The Preparation Of Fatty Acid Methyl Ester (Biodiesel) From
Triglyceride Oil Through Transesterification.WO 2006/043281. PCT/IN2004/000329.
Hambali, E., A. Suryani, Dadang, Hariyadi, H. Hanafie, I.K. Reksowardojo. M. Rivai, M. Ihsanur, P.
Suryadarma, S. Tjitrosemitro, T.H. Soerawidjaja, T. Prawitasari, T. Prakoso, dan W. Purnama.
2007. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodiesel. Cetakan IV. Jakarta: Penebar Swadaya.
Hammond, C.R. 2006. Properties of the Element and Inorganic Compounds. Di dalam D.R. Lide (Ed.).
CRC Handbook of Chemistry and Physics. Edisi 87. Boca Raton: CRC Press