Anda di halaman 1dari 4

PENGARUH MEDIA YANG BERAT SEBELAH TERHADAP SOSIAL

POLITIK MASYARAKAT INDONESIA


Oleh : ILMAN SORMIN
Media berat sebelah atau yang dikenal dengan istilah media bias merupakan suatu
kondisi yang merujuk pada sikap para pelaku media seperti jurnalis dan penerbit yang
berat sebelah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Sikap media yang
berat sebelah tersebut dapat berupa suatu sikap dimana suatu media dalam
menyampaikan informasi memihak pada salah satu pihak dan mengesampingkan pihak
lain. Dapat difahami bahawa media berat sebelah merupakan satu bentuk masalah yang
dihadapi oleh para pelaku media yang sepatutnya bersikap jujur dan tulus dalam
menyampaikan suatu isu-isu atau berita namun mengambil tindakan berat sebelah. Hal
ini berlaku apabila pihak media berada pada sebelah pihak atau melebihkan satu pihak
namun mengesampingkan sebelah pihak yang lain.

Terdapat lima ciri-ciri yang menunjukkan suatu media berat sebelah dalam
menyampaikan isu-isu atau berita kepada masyarakat. Ciri yang pertama ialah
pemilihan isu tertentu untuk dijadikan bahan dalam berita, seperti sikap suatu media
dimana untuk mendukung salah satu pihak maka media memilih-milih berita yang
bersifat positif mengenai pihak tersebut dan menutup-nutupi berita negatif mengenai
pihak tersebut.

Selain itu, dengan menggunakan hanya sumber terpilih merupakan ciri media berat
sebelah yang seterusnya. Sumber terpilih artinya, dimana suatu media dalam
mendapatkan informasi hanya mengacu pada sumber-sumber yang dipilih tanpa
memperhatikan sumber informasi lain demi menghasilkan suatu berita atau informasi
yang mendukung satu pihak dan mengesampingkan pihak lain. Ini merupakan asas bagi
media berat sebelah yang mana media menerima atau menyokong sebelah pihak dan
menolak sebelah pihak yang lainnya.

Disamping itu, pemposisian ataupun Placement merupakan ciri media berat sebelah
yang seterusnya. Ciri ini memberi penekanan kepada peranan editor yang akan

merumus sebuah isu atau berita yang menjurus kepada satu sudut pandang. Hal ini dapat
dilihat pada suatu berita yang semestinya pembaca dapat mengenal pasti pada sudut
manakah viewpoint penulis atau editor tersebut.

Pelabelan ataupun Labelling merupakan ciri media berat sebelah yang seterusnya
terdiri dari dua bentuk yang menjelaskan ciri ini. Bentuk pertama ialah media melabel
satu pihak dengan pandangan yang buruk atau ekstrim dan pihak lain dengan pandangan
baik. Hal ini memaparkan dengan jelas media telah berada pada satu pihak dan
menentang satu pihak yang lainnya. Bentuk yang kedua dari ciri Pelabelan ialah pihak
media yang tidak menyatakan dengan jelas pihak yang disokongnya tapi menggunakan
perkataan positif berupa kalimat pujian yang dapat menyokong salah satu pihak tertentu.

Ciri terakhir yang dapat dikaitkan dengan media berat sebelah ialah, pemutaran atau
Spin. Ciri ini berlaku apabila suatu berita atau isu menmpunyai hanya satu sudut
pandang namun diberi pendapat atau opini oleh pihak media khususnya wartawan
dengan penambahan unsur penambahan fakta demi menunjukkan pihak yang disokong
lebih baik daripada yang lainnya.

Media massa sebagai alat kontrol sosial politik dengan artian media massa sebagai
penyampai (memberitakan) isu-isu atau keadaan yang dibuat oleh pemerintah
bertentangan dengan kehendak rakyat. Melalui berita-berita yang disiarkan, media
secara tidak langsung telah memberikan referensi kepada masyarakat untuk
mempengaruhi keputusan politiknya. Semakin sering berita tersebut diberikan, maka
akan semakin besar pengaruh yang akan didapatkan oleh masyarakat.

Persepsi dan nilai-nilai yang disampaikan oleh media massa sering kali dianggap
sebagai persepsi masyarakat keseluruhan. Dalam masyarakat kontemporer, media massa
seakan-akan merepresentasikan opini dan persepsi masyarakat secara umum . Oleh
karena itu, banyak orang yang menggunakan informasi yang ada di media massa sebagai
referensi karena informasi di media dianggap mewakili persepsi masyarakat.
Karakteristik media massa tersebut menjadi sangat beresiko untuk dijadikan alat

propaganda, karena bisa jadi pesan-pesan yang disampaikan media massa hanyalah hasil
konstruksi dari pemilik kepentingan-kepentingan tertentu dan sama sekali tidak
mewakili persepsi masyarakat secara keseluruhan hal ini disebabkan karena para pelaku
media dalam menyampaikan informasi masih bersifat berat sebelah. Media sangat
berperan penting dalam mendukung perkembangan keadaan pilitik di Indonesia.

Kita tahu bahwa media selalu menampilkan berita terupdate dan tidak jarang media
seperti koran dan liputan berita dijadikan sumber terpercaya oleh masyarakat.
Sebelumnya masih ingatkah kita tentang orde baru, dijaman itu kebebasan pers menjadi
salah satu yang terikat. Hanya yang memihak pemerintah yang masih bisa bertahan. Di
era ini, kita juga bisa liat, contohnya pada pilpres 2014. Sangat terlihat adanya kubukubu dari media, terlebih pada siaran televisi. Berita menjadi ajang untuk saling
menjatuhkan. Mereka membangun opini publik yang menguntungkan salah satu pihak.
Contoh-contoh tersebut merupakan bentuk dari media yang berat sebelah. Mendukung
seseorang atau oknum tertentu untuk menjatuhkan pihak lainnya. Seharusnya media
tidak boleh seperti itu. Mengapa? Karena dengan media, suatu negara bisa berperang
dan karena media juga suatu negara bisa menjadi kuat. Tidak semua dari masyarakat
menganalisa setiap berita yang diperolehnya dari media, baik cetak ataupun elektronik.
Dengan keberpihakan media pada oknum tertentu, itu membuat masyarakat yang hanya
menelan bulat-bulat yang dikatakan media tanpa mengeahui apa yang sebenarnya.

Apabila kecenderungan yang memihak ini terus menerus terjadi maka kehidupan politik
di Indonesia akan semakin tidak sehat. Padahal pada saat pemilu 2014 masyarakat
Indonesia seharusnya membutuhkan media massa yang baik dan berimbang. Menurut
Presiden SBY, pers berperan penting menyebarkan informasi yang akurat agar
masyarakat memiliki gambaran soal kandidat Pemilu 2014 (Koran Tempo, 12 Februari
2013).

Dengan media massa yang tidak berimbang ini, maka banyak masyarakat Indonesia
yang akan bingung dengan calon pemimpin yang akan dipilihnya, hal ini akan
memberikan dampak yang buruk. Masyarakat hanya akan disuguhi mengenai salah satu

partai politik saja dan pemberitaannya pun hanya sekedar yang baik-baik saja (menutupnutupi kejelekan).

Sangat jelas, jika partai politik mendominasi salah satu media massa maka hal ini tak
ubahnya disebut sebagai pembajakan. Maka mau jadi apakah Indonesia jika pemberitaan
(media massanya) telah dibajak. Dalam hal ini sangat diharapkan peran serta para insan
pers untuk memberitakan berita yang positif dan negatif secara obyektif bukan
subyektif.

Fungsi memengaruhi media massa secara implisit terdapat pada tajuk/editorial, features,
iklan, artikel dan sebagainya. Khalayak dapat terpengaruh oleh iklan-iklan yang
ditayangkan televisi ataupun surat kabar. Saat ini fungsi memengaruhi ini sangat besar
dampaknya kepada khalayak karena khususnya pada saat dalam rangka merayakan
Pilpres 2014 kemarin, semua calon sangat kuat iklan atau pemberitaanya yang tayang di
media. Tujuannya apa, ya jelas tujuannya untuk mempengaruhi masyarakat indonesia
agar mau memilihnya pada tanggal 9 juli kemarin. Media sepertinya dapat melakukan
apa saja agar dapat meyakinkan masyarakat kepada calonnya, walaupun dengan
melakukan tayangan yang jelas-jelas menjatuhkan salah satu lawan. Nah hal inilah yang
menjadi akar perbincangan kita, dimana sebagaimana besar pengaruh media dalam
fungsi memengaruhinya kepada khalayak kita.
Sudah seharusnya kita sadar bahwa tidak semua informasi, berita, pengetahuan yang
diberitakan oleh media sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Banyak informasi
bertebaran namun sejatinya bukan yang diinginkan atau yang dibutuhkan masyarakat,
melainkan informasi yang sudah ditunggangi kepentingan penguasa media untuk
melakukan propaganda terhadap masyarakat, oleh karena itu masyarakat harus lebih jeli
dalam menilai dan mempercayai informasi ataupun berita yang di beritakan pada media.