Anda di halaman 1dari 68

I.

PENGENALAN SISTEM HIDROPONIK


A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Tanah merupakan media tanam yang paling umum digunakan
dalam bercocok tanam di bidang pertanian. Seiring dengan perkembangan
jaman dan dipacu oleh keterbatasan lahan yang dimiliki, orang mulai
bercocok tanam dengan menggunakan media tanam bukan tanah.
Hidroponik merupakan salah satu cara bercocok tanam tanpa menggunakan
tanah sebagai media tanamnya. Hidroponik diambil dari bahasa Yunani
yaitu Hydroponous, hydro berarti air dan ponous berarti kerja. Hidroponik
adalah teknologi bercocok tanam yang menggunakan air, nutrisi, dan
oksigen. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat dari bertanam secara
hidroponik dibandingkan bertanam secara konvensional.
Dalam perkembangannya sejak mulai popular 40 tahun lampau,
hidroponik telah banyak mengalami perubahan. Media yang digunakan
lebih banyak yang sengaja dibuat khusus. Demikian juga dengan wadahwadah yang digunakan, seperti pot. Ada yang sengaja dibuat khusus lengkap
dengan alat penunjuk kebutuhan air, ada pula yang khusus seperti kerikil
sintesis. Metode hidroponik merupakan metode menumbuhkan tanaman di
dalam larutan nutrisi tanpa menggunakan media tanah. Ditinjau dari segi
sains, hidroponik telah membuktikan bahwa tanah tidak diperlukan untuk
menumbuhkan tanaman, kecuali unsur-unsur, mineral dan zat-zat makanan
seperti dalam tanah.
Salah satu solusi teknik budidaya yang dapat memenuhi input sesuai
kebutuhan tanaman adalah teknik budidaya tanaman pada media tanam
selain tanah dengan pemberian komposisi dan jumlah unsur hara yang tepat.
Budidaya tanaman menggunakan teknik ini dapat menghasilkan kualitas,
kuantitas, dan kontinuitas hasil yang terjamin yaitu teknologi hidroponik.
Terdapat 6 dasar dari sistem hidroponik, yaitu Floating Hydroponic System
(FHS) atau rakit apung, Nutrient Film Technique (NFT), substrat dalam
kolom bertingkat, Ebb and Flow atau penggenangan dan pengatusan, dan
aeroponik. Adapun tujuan dari praktikum pengenalan sistem hidroponik

bertujuan untuk mengenalkan macam-macam sistem budidaya tanaman


secara hidroponik dan untuk menambah wawasan bagi pembaca, mahasiswa
dan pemula umumnya.
2. Tujuan
Tujuan praktikum acara Pengenalan Sistem Hidroponik ini yaitu:
a. Mendeskripsikan komponen instalasi dan skema cara kerja tiap-tiap jenis
sistem hidropnik,
b. Merinci kelemahan dan kelebihan dari tiap-tiap jenis sistem hidroponik,
c. Menjelaskan contoh teknik aplikasi jenis-jenis sistem hidroponik untuk
budidaya tanaman holtikultura semusim,
d. Memberikan contoh-contoh gambar/foto visualisasi modifikasi aplikasi
jenis-jenis sistem hidroponik untuk budidaya tanaman holtikultura.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Hidroponik acara Pengenalan Sistem Hidroponik ini
dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 21 Oktober 2014 pukul 13.00 14.00
WIB, bertempat di Rumah Kaca B, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas
Maret, Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
1. FHS (hidroponik rakit apung)
Menanam tumbuhan dalam tempat yang diisi air dan larutan zat
makanan, menjadi cara yang paling sederhana dan murah dalam bercocok
tanam hidroponik. Karena itu cara ini menjadi cara terbaik untuk berkenalan

dengan ilmu hidroponik cara bercocok tanam dengan menggunakan air


sebagai media tanam, paling cocok cara ini pada tempat-tempat yang hanya
ditanam satu atau dua tumbuhan walaupun mengurangi peluang untuk
mendapatkan keuntungan tetapi tidak mengurangi daya tarik car hidroponik
kebanyakan tanaman yang ditanam tanaman rumah yang palin rendah dapat
tumbuh baikdalam air dan larutan makanan. Bahkan sejumlah tanaman
kaktus dapat tumbuh subur dalam air dan emperagakan penampilan yang
jauh berbeda (Nicholls 2006).
Floating hidroponik sistem (FHS) atau sering dikenal dengan rakit
apung adalah budidaya tanaman (terutama sayuran) dengan cara menanam
tanaman pada lubang styrofoam yang mengapung di atas permukaan larutan
nutrisi dalam bak penampung atau kolam. Dalam sistem ini akar tanaman
terendam dalam larutan nutrisi. Teknik hidroponik sistem rakit apung adalah
menanam tanaman pada suatu rakit yang dapat mengapung di atas
permukaan air atau nutrisi dengan akar menjuntai kedalam air. Styrofoam
diambangkan pada kolam larutan nutrisi sedalam kurang lebih 30 cm. Pada
styrofoam diberi lubang tanam dan bibit ditancapkan dengan bantuan busa
atau rockwool (Purwati 2006).
Rakit apung adalah salah satu sistem budidaya secara hidroponik
tanaman dengan cara menanam tanaman dalam lubang sterofoam yang
mengapung diatas permukaan larutan nutrisi dalam bak penampung. Pada
system ini larutan tidak disirkulasikan melainkan dibiarkan tergenang dan
ditempatkan dalam suatu wadah tertentu untuk menampung larutan tersebut.
System ini sangat cocok diterapkan pada daerah yang belum dialiri listrik
(Lingga 2006).
2. NFT (Nutrient Film Technique)
Hidroponik NFT adalah pengerjaan atau pengelolaan air yang
digunakan sebagai media tumbuh tanaman dan juga sebagai tempat akar
tanaman menyerap unsur hara yang diperlukan dimana budidaya
tanamannya dilakukan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya.
Hidroponik NFT juga termasuk bercocok tanam dalam air dimana unsur
hara telah dilarutkan didalamnya. Dalam sistem irigasi hidroponik NFT

(Nutrient Film Technique), air dialirkan ke deretan akar tanaman secara


dangkal. Akar tanaman berada di lapisan dangkal yang mengandung nutrisi
sesuai dengan kebutuhan tanaman. Perakaran dapat berkembang di dalam
nutrisi dan sebagian lainnya berkembang di atas permukaan larutan. Aliran
air sangat dangkal, jadi bagian atas perakaran berkembang di atas air yang
meskipun lembab tetap berada di udara. Di sekeliling perakaran itu terdapat
selapis larutan nutrisi (Brawijaya 2003).
Sistem pengaliran air adalah dengan cara mengalirkan air kepada
wadah dengan ukuran aliran yang diatur sehingga zat hara atau pupuk yang
ada di dalam air terserap semua dengan konsentrasi yang hampir merata dan
tidak ada pengendapan pada media. Ada dua jenis pengaliran air yang biasa
dilakukan untuk hidroponik, yaitu Pengaliran Tetes atau Drip irigation dan
NFT atau Nutrien film technical. Pencampuran Nutrien dapat dilakukan
dalam suatu bak atau tabung pencampur atau dengan cara menyuntikan
(injeksi) ke dalam pipa. Pipa-pipa yang telah dipakai pada waktu yang
cukup lama (lebih kurang 3 bulan) sebagai pipa pendistribusian air nutrien,
perlu dibersihkan dari endapan nutrien. Sistim pengaliran secara NFT ini
adalah dengan cara pengaliran air dibawah akan tanaman, kelebihan air di
daur ulang untuk kemudian dialirkan lagi, sehingga larutan tidak ada yang
terbuang (Siti 2008).
Sistem hidroponik NFT jauh berbeda dengan hidroponik substrat.
Pada hidroponik substrat, tanaman ditumbuhkan di media nontanah , seperti
arang sekam, zeolit, batu kerikil, perlit, pasir, rockwool, gambut, atau serbuk
gergaji. Pada media itulah akar berkembang. Sementara pada hidroponik
NFT, akar tanaman terendam dalam air yang mengandung pupuk. Air
bersikulasi selama 24 jam terus-menerus. Sebagian akar terendam dan
sebagian lagi berada di atas permukaan air. Lapisan air sangat tipis, sekitar 3
mm, sehingga mirip film. Oleh karena itu, teknik ini disebut NFT (Morgan
2005).
3. Substrat dalam Kolom Bertingkat

Sistem hidroponik substrat merupakan metode budidaya tanaman


dimana akar tanaman tumbuh pada media porus selain tanah yang dialiri
larutan nutrisi sehingga memungkinkan tanaman memperoleh air, nutrisi,
dan oksigen secara cukup. Kelebihan hidroponik jenis ini adalah dapat
menyerap dan menghantarkan air, tidak mempengaruhi pH air, tidak
berubah warna, dan tidak mudah lapuk. Sistem hidroponik substrat pada
praktikum ini ditempatkan pada kolom-kolom yang terbuat dari bambu.
Kelebihan dari penggunaan hidroponik substrat adalah tanaman dapat
berdiri lebih tegak, kebutuhan nutrisi mudah untuk dipantau dan biaya
operasional tidak terlalu besar. Kekurangannya adalah populasi tanaman
tidak terlalu banyak dan kolom-kolom substrat mudah ditumbuhi lumut
(Ricardo 2009).
Metode substrat yaitu menumbuhkan tanaman dalam media padat
(bukan tanah), umunya digunakan untuk mengusahakan sayuran atau buah
yang bernilai tinggi. Media padat antara lain dapat arang (kayu, sekam
padi), pasir, perlit, zeolit, gambut, kerikil, potongan sabut kelapa, pakis,
pecahan genteng/batu bata, batu apung, dan sebagainya Larutan nutrisi
diberikan dengan cara disiram / dialirkan lewat sistem irigasi. Sistem irigasi
yang biasa dipakai pada Hidroponik Substrat yaitu sistem air mengalir
ataupun irigasi tetes (drip irigation). Karakteristik substrat harus bersifat
inert dimana tidakmengandung unsur hara mineral. Media tanam hidroponik
harus bebas daribakteri, racun, jamur, virus, spora yang dapat menyebabkan
patogen bagi tanaman. Fungsi utama substrat adalah untuk menjaga
kelembaban,dapat menyimpan air dan bersifat kapiler terhadap air. Media
yang baik bersifat ringan dan dapat sebagai penyangga tanaman
(Zulfitri 2005).
4. Substrat (Sekam dan Pasir)
Pada lahan pertanian arang sekam sangat baik untuk membantu
menyuburkan tanah kita. Menurut beberapa informasi arang sekam bisa
berfungsi sebagai penyimpan sementara unsur hara dalam tanah sehingga
tidak mudah tercuci oleh air. Dan akan sangat mudah dilepaskan ketika

dibutuhkan atau diambil oleh akar tanaman. Bisa dikatakan arang sekam
akan berfungsi seperti zeolit (Hidayati 2009).
Arang sekam memiliki peranan penting sebagai media tanam
pengganti tanah. Arang sekam bersifat porous, ringan, tidak kotor dan cukup
dapat menahan air. Penggunaan arang sekam cukup meluas dalam budidaya
tanaman hias maupun sayuran (terutama budidaya secara hidroponik).
Arang sekam dapat dengan mudah diperoleh di toko-toko pertanian
(Mardhiah 2012)
Pasir sering digunakan sebagai media tanam selain tanah karena
sifatnya yang porous dan steril. Campuran media tanam yang menggunakan
pasir, maka pasir harus diayak terlebih dahulu sehingga tidak mengandung
batu kerikil. Kelebihannya murah dan mudah didapat, sedangkan
kekuranganya kemampuan menahan air rendah dan berat (Supriyadi 2009).
5. Ebb and Flow
Sistem pasang surut (ebb and flow) juga dinamai flood and drain
system

adalah

dasar

dari

teknologi

hidroponik

dimana

tanaman

ditumbuhkan di dalam wadah yang diairi secara berkala dan kemudian


dikeringkan. Sistem ini merupakan sistem yang cocok untuk digunakan
pada berbagai jenis media tanam. Prinsip dari teknik ini adalah menaikkan
larutan berisi nutrisi ke media tanam dengan bantuan mesin air dan pada
batas waktu tertentu atau batas ketinggian larutan tertentu di dalam media
tanam, maka larutan tersebut dialirkan kembali ke dalam bak penampungan
larutan. Pada sistem ini dapat terjadi proses resirkulasi karena adanya
perputaran larutan (Kurniawan 2013).
Sistem Pasang Surut (Ebb and Flow / Flood and Drain) adalah sistem
yang cocok untuk digunakan bersama berbagai macam media tanam.
Seluruh wadah pertumbuhan dapat diisi dengan batu-batuan, kerikil, atau
butiran rockwool. Kebanyakan orang menggunakan pot-pot satuan yang
diisi dengan media tanaman. Hal ini memudahkan untuk memindahkan
tanaman dan memasukkan tanaman ke dalam system (Rukmana 2007).
Ebb and flow atau yang biasa dikenal dengan sistem pasang surut ini
merupakan salah satu alat hidroponik yang unik karena prinsip kerjanya

yaitu tanaman mendapatkan air, oksigen dan nutrisi melalui pompaan dari
bak penampung yang dipompa melewati media kemudian membasahi akar
tanaman (pasang), kemudian selang beberapa waktu air bersama nutrisi akan
turun (surut) kembali melewati media menuju bak penampungan.
Waktu pasang dan surut dapat diatur menggunakan timer sesuai dengan
kebutuhan tanaman tersebut, jadi tanaman tidak akan tergenang atau
kekurangan air (Howard 2009).
6. Aeroponik
Prinsip aeroponik cukup sederhana, yaitu menyediakan nutrisi
sekaligus memberikan air yang kaya akan oksigen ke tanaman dengan cara
penyemprotan air yang mengandung nutrisi tersebut. Akar tanaman
dikondisikan tidak terendam air atau bergantung pada media sterofoam yang
sudah disediakan di atas kolam Dalam tubuh tanaman sangat berhubungan
dengan pertumbuhannya pada tanah dengan kadar hara yang dikandungnya.
ini berarti bahwa pertumbuhan tanaman akan berlangsung baik apabila
kadar hara yang terkandung dalam tanah tempat tumbuhnya masih baik
pula, laju pertumbuhan tanaman itu akan menurun dengan menurunnya
kadar hara yang terkandung dalam tanah yang diperlukan tanaman itu.
(Tim Karya Tani Mandiri 2010).
Sistem Aeroponik adalah sistem hidroponik yang menggunakan
teknologi tinggi. Seperti pada sistem NFT diatas, media tanamnya udara.
Akar-akar menggantung di udara dikabutkan oleh larutan nutrisi.
Pengabutan ini biasanya dilakukan setiap beberapa menit sekali. Karena
akar-akar terekpos di udara seperti pada sistem NFT, akar-akar bisa cepat
mengering jika pengaturan pengabutan terganggu. Sebuah timer mengontrol
pompa larutan nutrisi seperti pada tipe-tipe sistem hidroponik lainnya yaitu
sistem aeroponik memerlukan timer dengan perputaran singkat yaitu
beberapa detik dalam dua menit sekali (Eka 2011).
Aeroponik merupakan salah satu cara budidaya tanaman hidroponik.
Cara ini belum sefamiliar cara hidroponik lainnya (seperti cara tetes, NFT
- Nutrient Film Technique). Kalau dilihat dari kata penyusunnya, yaitu

terdiri atas aero-phonic.

Aero

berarti

udara, dan phonic artinya

cara

budidaya, arti secara harafiah adalah cara bercocok tanam di udara, atau
bercocok tanam dengan sistem pengkabutan, akar tanamannya menggantung
di udara tanpa medium (misalkan tanah), dan kebutuhan nutrisinya dipenuhi
dengan cara penyemprotan ke akarnya (Sutiyoso 2013).
7. DFT (Deep Flow Technique)
Menanam tumbuhan dalam tempat yang diisi air dan larutan zat
makanan, menjadi cara yang paling sederhana dan murah dalam bercocok
tanam hidroponik. Karena itu cara ini menjadi cara terbaik untuk berkenalan
dengan ilmu hidroponik. Cara bercocok tanam dengan menggunakan air
sebagai media tanam, paling cocok cara ini pada tempat-tempat yang hanya
ditanam satu atau dua tumbuhan walaupun mengurangi peluang untuk
mendapatkan keuntungan tetapi tidak mengurangi daya tarik. Cara
hidroponik kebanyakan tanaman yang ditanam tanaman rumah yang paling
rendah dapat tumbuh baik dalam air dan larutan makanan. Bahkan sejumlah
tanaman kaktus dapat tumbuh subur dalam air dan memperagakan
penampilan yang jauh berbeda (Nicholls 2006).
Deep Flow Technique (DFT) merupakan salah satu metode
hidroponik yang menggunakan air sebagai media untuk menyediakan nutrisi
bagi tanaman dengan pemberian nutrisi dalam bentuk genangan. Tanaman
dibudidayakan di atas saluran yang dialiri larutan nutrisi setinggi 4-6 cm
secara kontinyu, dimana akar tanaman selalu terendam di dalam larutan
nutrisi. Larutan nutrisi akan dikumpulkan kembali ke dalam bak nutrisi,
kemudian dipompakan melalui pipa distribusi ke kolam penanaman secara
kontinyu (Chandra 2008).
Tekhnik hidroponik DFT (Deep Flow Technique) merupakan tekhnik
hidroponik dengan menggunakan papan sterofoam yang mengapung diatas
larutan nutrisi dan larutan tersebut disirkulasikan dengan bantuan aerasi di
mana akar tanaman tumbuh pada media porous selain tanah (arang sekam,
pecahan batu bata, pakis, dll). Pada dasarnya hidroponik sistem DFT sama
dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya berbeda. Perbedaannya adalah
pada rakit apung larutan nutrisi tidak tersirkulasi dengan baik. Sedangkan

DFT dapat tersirkulasi dengan baik karena ada aliran atau flow. Hidroponik
menggunakan sistem DFT harus diperhatikan secara benar pertumbuhan
akan batang tanamannya. Karena media yang digunakan berupa cairan maka
batang mempunyai kecenderungan untuk over wet sehingga menimbulkan
kebusukan. Kebusukan yang terjadi akan menghambat pertumbuhan akar
tanaman (Sukanto 2001).
8. Hidroponik Vertikultur
Vertikultur berasal dari bahasa inggris, yaitu vertical dan culture.
Secara lengkap, dibidang budi daya tanaman, arti vertikultur adalah suatu
teknik bercocok tanam diruang sempit dengan memanfaatkan bidang
vertikal sebagai tempat bercocok tanam yang dilakukan secara bertingkat
(Temmy 2003). Marsema Kaka Mone (2006) menjelaskan bahwa vertikultur
merupakan cara bertanam yang dilakukan dengan menempatkan media tanam
dalam wadah-wadah yang disusun secara vertikal, atau dapat dikatakan
bahwa vertikultur merupakan upaya pemanfaatan ruang ke arah vertikal.
Teknik ini berawal dari ide vertical garden yang dilontarkan oleh sebuah
perusahaan benih di Swiss pada tahun 1944. Popularitas bertanam dengan
dimensi vertikal ini selanjutnya berkembang pesat dinegara Eropa yang
beriklim

subtropis.

Awalnya,

sistem

vertikultur

digunakan

untuk

memamerkan tanaman ditanam umum, kebun, atau didalam rumah kaca


(green house) (Kemal 2000).
Vertikultur diartikan sebagai teknik budidaya tanaman secara vertikal
sehigga penanamannya dilakukan dengan menggunakan sistem bertingkat.
Teknik vertikal berawal dari ide vertikal garden yang dilakukan oleh sebuah
perusahaan di Swiss pada tahun 1944. Vertikultur berasal dari bahasa Iggris
yaitu vertical dan culture. Secara lengkap di bidang budidaya tanaman arti
vertikultur adalah salah satu teknik bercocok tanam di ruang sempit dengan
memanfaatkan bidang vertikal sebagai tempat bercocok tanam yang
dilakukan secara bertingkat popularitas bertanam bertingkat berkembang
pesat di Negara Eropa (Noverita Sv, 2005). Setelah ide verticar garden
dilontarkan pemilik rumah kaca komersial di Guensey (the chennel Islands)

10

dan di Inggris mengadaptasi teknik untuk memproduksi strowberi (Liferdi


Lukman 2005).
Model, bahan, ukuran, wadah vertikultur sangat banyak, tinggal
disesuaikan dengan kondisi dan keinginan. Pada umumnya adalah berbentuk
persegi panjang, segi tiga, atau dibentuk mirip anak tangga, dengan
beberapa undak-undakan atau sejumlah rak. Bahan dapat berupa bambu atau
pipa paralon, kaleng bekas, bahkan lembaran karung beras pun bisa, karena
salah satu filosofi dari vertikultur adalah memanfaatkan benda-benda bekas
di sekitar kita. Persyaratan vertikultur adalah kuat dan mudah dipindahpindahkan. Tanaman yang akan ditanam sebaiknya disesuaikan dengan
kebutuhan dan memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur pendek, dan berakar
pendek. Tanaman sayuran yang sering dibudidayakan secara vertikultur
antara lain selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisim, katuk, kemangi,
tomat, pare, kacang panjang, mentimun dan tanaman sayuran daun lainnya
(Lukman 2013).
9. Aquaponik
Budidaya sistem akuaponik amonia, nitrit, nitrat yang merupakan
limbah dari budidaya ikan dapat diserap dan digunakan sebagai pupuk oleh
tanaman hidroponik sehingga menurunkan konsentrasi cemaran limbah
amonia serta meningkatkan kualitas air (Sumoharjo 2010). Untuk kegiatan
budidaya perikanan kualitas air yang tepat dan berada dalam kisaran layak
berkaitan dengan pertumbuhan ikan (Effendi 2002).
Pemilihan komoditas tanaman yang digunakan pada sistem
akuaponik untuk mendukung keberhasilan dalam penyerapan limbah
organik di perairan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemeliharaan tanaman dalam sistem akuaponik di antaranya jenis tanaman
yang digunakan, tipe perakaran serabut, umur panen tanaman sesuai jenis
ikan yang di pelihara. Beberapa sayuran yang bisa ditanam pada sistem
akuaponik yaitu

kangkung, selada, sawi, bayam, seledri, cabai, tomat,

timun (Nugroho dan Sutrisno 2008).


Tiga input utama untuk sistem ini adalah air, pakan yang diberikan
kepada hewan air, dan listrik untuk memompa air antara akuakultur

11

subsistem dan subsistem hidroponik. Bibit atau benih dapat ditambahkan


untuk menggantikan ikan tumbuh yang diambil keluar dari sistem untuk
mempertahankan sistem yang stabil. Dalam hal output, sistem aquaponik
terus dapat menghasilkan tanaman seperti sayuran tumbuh di hidroponik,
dan

spesies

air

dimakan

dibesarkan

dalam

akuakultur.

Ada tiga jenis keuntungan dalam sistem akuaponik yaitu ikan, tanaman, dan
bakteri yang menguntungkan. Ada dua jenis bakteri yang berbeda yaitu
Nitrosomonas dan Nitrobacter. Bakteri Nitrosomonas mengubah amonia
menjadi nitrit dan kemudian oleh bakteri Nitrobacter, nitrit diubah menjadi
nitrat. Saat sampai ke tanaman, nitrat diserap tanaman untuk membantu
pertumbuhannya (Nelson 2008).

C. Metodologi Praktikum
1. Alat
a. Alat tulis
b. Kamera
2. Bahan
a. Floating hydroponic system (FHS) hidroponik rakit apung,
b. Nutrient Film Technique (NFT),
c. Substrat dalam kolom bertingkat (Vertikultur Talang),
d. Substrat (Sekam dan Pasir),
e. Ebb and flow atau penggenangan tiap-tiap jenis sistem dan pengatusan,
f. Aeroponik,
g. Deep Flow Technique (DFT),
h. Hidroponik Vertikultur (Vertikultur Karpet),
i. Aquaponik
3. Cara Kerja
a. Mengamati bagian-bagian dari bentuk-bentuk modifikasi sistem
hidroponik meliputi : Floating Hydroponic System (FHS) atau Rakit
Apung, Nutrient Film Technique (NFT), Substrat dalam Kolom
Bertingkat, Substrat (Sekam dan Pasir), Ebb And Flow atau

12

Penggenangan dan Pengatusan, Aeroponik, Deep Flow Technique (DFT),


Hidroponik Vertikultur, serta Aquaponik.
b. Mengamati cara pengoperasian sistem hidroponik tersebut
c. Mengamati kelemahan dan kelebihan dari tiap-tiap bentuk modifikasi
sistem hidroponik.

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan


1. Hasil Pengamatan
Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Berbagai Sistem Hidroponik
No

Jenis Sistem Hidroponik

FHS (rakit apung)

NFT

Vertikultur Talang/ Bambu

Vertikultur Karpet

Gambar

13

Ebb and Flow

Substrat

Aeroponik

DFT

Aquaponik

Sumber : Laporan Sementara


2. Pembahasan
Hidroponik adalah suatu cara bercocok tanam tanpa menggunakan
tanah sebagai tempat menanam tanaman. Perbedaan bercocok tanam dengan
tanah dan hidroponik yaitu, kalau dengan tanah, zat-zat makanan diperoleh
tanaman dari dalam tanah. Sedangkan hidroponik, makanan diperoleh
tanaman

dari

dalam

(Mikrajuddin 2007).

air

yang

mengandung

zat-zat

anorganik

14

FHS (Floating Hidroponik System) atau rakit apung merupakan


salah satu system budidaya secara hidroponik tanaman (sayuran) dengan
cara menanam tanaman pada lubang sterofoam. Sterofoam tersebut
mengapung diatas permukaan larutan nutrisi dalam bak penampung
sehingga akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi. Larutan nutrisi tidak
tersirkulasikan tetapi dibiarkan menggenang dan larutan tersebut tertampung
pada bak. Kelebihannya yaitu dapat memanfaatkan lahan sempit,
merupakan sistem hidroponik yang paling mudah dan sederhana, tidak
memerlukan keahlian mendalam, dan hemat listrik. Kekurangannya adalah
kemungkinkan tanaman akan kekurangan oksigen, cepat terjadi peningkatan
suhu, memerlukan pemantauan pH dan kepekatan lebih rutin, dan
pertumbuhan akar sering terganggu.
Hidroponik sistem NFT ini dilaksanakan menggunakan peralatan
yang telah disediakan. Air yang digunakan dalam praktikum hidroponik
NFT ini akan tersirkulasi, selain itu air tersebut juga mengandung nutrisi
yang dibutuhkan tanaman. Perakaran dapat berkembang saling kait mengait
sehingga tanaman tersebut bisa berdiri kokoh didalam larutan nutrisi dan
karena nutrisi diberikan secara dangkal maka akan terbentuk lapisan film
tipis larutan mineral hidroponik NFT adalah pengerjaan atau pengelolaan air
yang digunakan sebagai media tumbuh tanaman dan juga sebagai tempat
akar tanaman menyerap unsur hara yang diperlukan dimana budidaya
tanamannya dilakukan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya.
Hidroponik NFT juga termasuk bercocok tanam dalam air dimana unsur
hara telah dilarutkan didalamnya.
Beberapa keuntungan pemakain NFT yaitu dapat memudahkan
pengendalian daerah perakaran tanaman, kebutuhan air dapat terpenuhi
dengan baik dan mudah, keseragaman nutrisi dan tingkat konsentrasi larutan
nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dapat disesuaikan dengan umur dan
jenis tanaman, dan tanaman dapat diusahakan beberapa kali dengan periode
tanam yang pendek. Selain memiliki keuntungan, NFT juga memiliki
kekurangan yaitu investasi dan biaya perawatan yang mahal, NFT sangat
tergantung terhadap energi listrik sehingga apabila listrik mati maka NFT

15

akan terhambat dalam pengaliran larutan. Dan kekurangan yang lain yaitu
penyakit tanaman akan dengan cepat menular ke tanaman lain.
Menurut Purnomo (2006) pada sistem NFT, diperlukan lapisan yang
dangkal berdasar datar bak dan pompa perendaman yang akan menyimpan
air yang mengalir pada akar tanaman. Tanaman harus diletakkan secara
berdekatan dengan media agar memungkinkan nutrisi untuk lebih mudah
menempel pada akar. Pompa perendaman akan terus-menerus mensirkulasi
air untuk kembali ke dalam sistem dan karena air secara terus-menerus
bersirkulasi, maka kita perlu melakukan pengawasan tingkat gizi yang
terkandung di dalam air.
Cara mengeset dan menguji NFT dan Rakit apung yaitu dengan cara
menyiapkan perlengkapan dan pipa yang akan diset, cuci terlebih dahulu
bagian dalamnya sampai bersih menggunakan detergen dan busa,
menyetting hidroponik NFT, kemudian mengukur beda tinggi (H) dan
panjang hidroponik (L), kemudian tentukan kemiringan (S) : S=H/L.
Mengatur agar debit masing-masing pipa antara 0,3-0,75 L/menit dengan
mengatur bukaan laran air (bukaan , , dan penuh). Menampung volume
air (V) pada masing-masing pipa untuk waktu sekitar 1 menit (t). Lalu
menghitung debit air pada masing-masing pipa : Q=V/t (dalam L/menit).
Sistem hidroponik ke tiga yaitu sistem hidroponik substrat yang
merupakan metode budidaya tanaman dimana akar tanaman tumbuh pada
media

porus

selain

tanah

yang

dialiri

larutan

nutrisi

sehingga

memungkinkan tanaman memperoleh air, nutrisi, dan oksigen secara cukup.


Karakteristik dari metode ini adalah dapat menyerap dan menghantarkan air,
tidak mempengaruhi pH air, tidak berubah warna, dan tidak mudah lapuk.
Hal yang perlu dilakukan dalam metode ini adalah memilih substrat yang
sesuai dengan tanaman yang akan dibudidayakan. Misalnya: arang sekam,
pasir, pecahan batu bata. Lalu bila menggunakan lebih dari satu macam
substrat, maka harus dilakukan perbandingan yang sesuai. Misalnya sustrat
pasir dan arang sekam dengan perbandingan 1:1. Kemudian memasukkan
substrat pada pot/polybag. Selanjutnya menanam bibit tanaman yang
disediakan pada pot/polybag. Dan yang terakhir merendam pot/polybag

16

tersebut dalam wadah yang berisi nutrisi sedalam 5 cm. Kelebihan dari
sistem ini yaitu tanaman dapat berdiri lebih tegak, kebutuhan nutrisi mudah
untuk dipantau, dan biaya operasional tidak terlalu besar. Sedangkan
kekurangannya adalah populasi tanaman tidak terlalu banyak, terlalu banyak
menggunakan wadah, dan udah ditumbuhi lumut (Setyaningsih 2009).
Sistem substrat sekam dan pasir adalah metode hidroponik yang tidak
menggunakan air sebagai media, melainkan menggunakan media padat
selain tanah yang dapat menyerap atau menyediakan nutrisi, air, dan
oksigen serta mendukung tanaman sebagaimana fungsi tanah. System
hidroponik substrat merupakan metode budidaya tanaman dimana akar
tanaman tumbuh pada media porous selain tanah yang dialiri larutan
nutrisi sehingga memungkinkan memperoleh air, nutrisi, dan oksigen
dengan cukup.
Sistem DFT menggunkan sterofoam sebagai tempat untuk
meletakkan tanamannya dimana steroformnya diberi lubang-lubang kecil
sebagai tempat untuk memasukkan akar tanaman agar tergenang pada
larutan nutrisi, tanaman yang akan dimasukkan kedalam lubang diberi
kapas

agar

tanaman

tidak

tenggelam.

Larutan

nutrisi

tersebut

disirkulasikan dengan bantuan aerator dan pompa. Pada dasarnya


hidroponik system DFT sama dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya
berbeda. Perbedaannya adalah pada rakit apung larutan nutrisi tidak
tersirkulasi dengan baik.Sedangkan DFT tersirkulasi dengan baik karena
ada aliran atau flow. Teknik hidroponik sistem DFT ini cocok untuk
membudidayakan tanaman yang berbuah, misalnya tomat.
Tahapan dalam budidaya hidroponik yaitu seperti pemilihan benih
tanaman yang akan ditanam, penyemaian benih tanaman, penyiapan
tempat tanam (rumah plastik, nutrisi, dll), transplantasi ke sistem
hidroponik, perawatan sampai dengan panen. Jadi yang berbeda adalah
larutan nutrisi dan sistem hidroponik yang digunakan. DFT memerlukan
pasokan listrik untuk mensirkulasikan air ke dalam talan-talang tersebut
dengan menggunakan pompa dan untuk menghemat penggunaan listrik,
kita dapat menggunkan timer (untuk mengatur waktu hidup dan mati

17

pompa). Sebagai contoh pada pagi hari pompa hidup dan sore hari pompa
mati, begitu seterusnya.
Kelebihan dari teknik hidroponik sistem DFT ini adalah pada saat
aliran arus listrik padam maka larutan nutrisi tetap tersedia untuk tanaman,
karena pada sistem ini kedalam larutan nutrisinya mencapai kedalaman 6
cm. Jadi pada saat tidak ada aliran nutrisi maka masih ada larutan nutrisi
yang tersedia. Sedangkan untuk kekurangannya adalah pada sistem DFT
ini memerlukan larutan nutrisi yang lebih banyak dibandikan dengan
sistem NFT (nutrient Film Technique). Perkembangan tanaman yang
dibudidayakan menggunakan sistem DFT dapat tumbuh dengan baik dan
memiliki kualitas buah/sayuran yang lebih baik dibandingkan dengan
metode konvensional (Rizal 2013).
Hidroponik vertikultur merupakan penanaman dilahan yang
bentuknya vertikal atau bertingkat sehingga cocok untuk diaplikasikan
pada lahan sempit, baik indoor maupun outdoor tanpa tanah atau media
yang digunakan yaitu air. Model dan jenis wadah hidroponik dibentuk
mirip anak tangga dengan beberapa undakan. Bahan yang digunakan berpa
bambu atau pipa paralon bahkan kaleng bekas. Media tanam berupa sabut
kelapa, ijuk, kerikil, arang, zeolit dan air.
Sistem bertanam secara vertikultur memiliki beberapa kelebihan
baik dari segi teknik maupun ekonomis kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan sistem vertikultur jika ditinjau dari segi teknik yaitu populasi
tanaman persatuan luasan jauh lebih besar, dengan melakukan sterilisasi
media tanam dapat dihindari pemakaian pestisida yang dapat mencemari
tanaman dan menggangu kesehatan, kehilangan pupuk yang terbawa aliran
air hujan dapat dikurangi karena jumlah media tanam yang digunakan
sudah diperhitungkan cukup di sekitar perakaran tanaman saja dan dalam
struktur wadah terbatas. Vertikultur mudah dibuat dengan menggunakan
bahan dasar yang disesuaikan dengan bahan yang tersedia. Bahan dasar
yang dipakai dapat menggunakan barang bekas atau sudah tidak dipakai,
sepert pipa paralon, talang air, bambu, kayu, pot plastik atau botol bekas
kemasan air mineral. Dapat menambah nilai estetika lahan pekarangan.

18

Dapat dipindah-pindah sesuai dengan keinginan dengan syarat kebutuhan


cahaya matahari, kelembapan udara dan temperatur yang sesuai dpat
terpenuhi (Batharai et al. 2011).
Adapun kekurangan dengan menggunakan teknik budidaya sistem
vertikultur sebagai berikut memerlukan investasi awal cukup tinggi jika
sistem vertikultur menggunakan struktur bangunan utama berupa rumah
plastik, waktu yang dibutuhkan untuk persiapan lebih lama, karena
membutuhkan konsep terlebih dahulu. Tanaman rentan terhadap serangan
jamur. Diakibatkan tingkat kerapatan tanaman lebih tinggi, sehingga
menciptakan kondisi kelembapan udara yang tinggi. Akan tetapi serangan
jamur yang tinggi dapat dikendalikan dengan menerapkan beberapa
tindakan yang mrupakan konsep pengendalian hama terpadu. Contohnya
dengan menggunakan pestisida alami, melakukan pergiliran tanaman atau
menerapkan pengelolaan air yang tepat (Sutarminingsing et al, 2003 ).
Ebb and flow atau sistem hidroponik pasang surut merupakan salah
satu sistem budidaya tanaman secara hidroponik yang dalam pemberian
nutrisinya secara pasang surut. Dalam rangkaian sistem ini dilengkapi
denga timer (penghitung waktu) pemberian nutrisi. Sehingga adakalanya
tanaman terendam nutrisi dan adakalanya nutrisi tersebut surut kembali.
Kelebihan sistem ebb and flow adalah tanaman mendapat suplai
air, oksigen, dan nutrisi secara terus-menerus, pertukaran oksigen lebih
baik karena terbawa air pasang dan surut dan mempermudah perawatan
karena kita tidak perlu melakukan penyiraman. Untuk kekurangan dari ebb
and flow adalah biaya alat yang agak mahal dikarenakan peralatan yang
digunakan cukup banyak. Tergantung kepada aliran listrik karena
menggunakan pompa. Dan kekurangan yang terakhir yaitu kualitas nutrisi
yang sudah dipompakan berkali-kali tidak akan sebagus awalnya.
Teknik hidroponik system aeroponik merupakan bercocok tanam
dengan sisem pengkabutan dimana akar tanamannya menggantung di
udara tanpa media dan kebutuhan nutrisinya dipenuhi dengan cara
spraying ke akarnya. System hidroponik ini memberikan nutrisi

19

menggunakan sprayer nozzle ke bagian akar. Hal ini bertujuan agar nutrisi
terserap oleh akar dalam bentuk partikel-partikel mikro.
Hidroponik terutama dengan sistem aeroponik mempunyai prospek
yang sangat baik karena dapat mempersingkat umur panen dan
produktivitas tanaman cukup tinggi. Selain itu hemat dalam pemakaian air
jika dikelola secara baik dan benar. Selain memiliki keunggulan, sistem
hidroponik terutama sistem aeroponik memiliki kerugian. Membutuhkan
biaya tambahan untuk pengendali waktu, sistem irigasi, pompa, serta
jadwal perawatan, yang jumlahnya cukup besar yakni mencapai jutaan
bagi petani (growers) pada umumnya. Pada sistem aeroponik konvensional
yang menggunakan pompa dan nozzle untuk mendapatkan efek
penyemprotan spray, tekanan pompa yang tinggi dapat menyebabkan
penumpukan mineral pada nozzle dan penyumbatan, sedangkan bila
tekanan pompa rendah akan menyebabkan penurunan kecepatan
penyerapan nutrisi. Pada saat nozzle tersumbat atau terjadi kerusakan
sistem

aeroponik,

maka

tanaman

mengalami

kerusakan

dalam

pertumbuhannya.
Sistem aquaponik adalah budidaya tanaman secara hidroponik yang
mengkombinasikan ikan dan tanaman di sistem sirkulasi. Nutrisi yang
dikeluarkan dari ikan atau yang dihasilkan oleh pemecahan mikroba
limbah organik diserap oleh tanaman. Makanan ikan menyediakan
sebagian besar nutrisi yang diperlukan oleh tanaman.
Inti dasar dari sistem teknologi ini adalah penyediaan air yang
optimum untuk masing-masing komoditas dengan memanfaatkan sistem
resirkulasi (Akbar 2003). Sistem teknologi akuaponik ini muncul sebagai
jawaban atas adanya permasalahan semakin sulitnya mendapatkan sumber
air yang sesuai untuk budidaya ikan, khususnya di lahan yang sempit,
akuaponik yang merupakan salah satu teknologi hemat lahan dan air yang
dapat dikombinasikan dengan berbagai tanaman sayuran (Syafaat 2010).
Untuk instalasi aquaponik dengan cara air yang berasal dari wadah
pemeliharaan ikan dialirkan dengan menggunakan pompa air ke tempat
menanam tanaman, kemudian air yang sudah difilter oleh tanaman tersebut

20

dialirkan kembali kedalam kolam ikan dialirkan secara terus menerus,


sehingga amoniak yang berada di kolam akan tersaring sampai 80 % oleh
tanaman tersebut. Jenis tanaman yang sudah dicoba dan berhasil cukup
baik adalah kangkung, tomat dan sawi (Ratna Ika 2012).

21

E. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Pengenalan Sistem Hidroponik yang
dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
a. Hidroponik adalah suatu sistem cara tanam tanaman tanpa menggunakan
tanah
b. Terdapat banyak metode yang digunakan yaitu Floating Hydroponic
System (FHS) atau rakit apung, Nutrient Film Technique (NFT), substrat
dalam kolom bertingkat, substrat sekam dan pasir, Ebb and Flow atau
penggenangan dan pengatusan, aquaponik, aeroponik, vertikultur
hidroponik, dan DFT (Deep Flow Technique).
c. Kelebihan sistem rakit apung yaitu dapat memanfaatkan lahan sempit,
sistem hidroponik yang paling mudah dan sederhana, tidak memerlukan
keahlian

mendalam,

dan

hemat

listrik.

Kekurangannya

adalah

kemungkinkan tanaman akan kekurangan oksigen, cepat terjadi


peningkatan suhu, memerlukan pemantauan pH dan kepekatan lebih
rutin, dan pertumbuhan akar sering terganggu.
d. Kelebihan NFT yaitu dapat memudahkan pengendalian daerah perakaran
tanaman, kebutuhan air dapat terpenuhi dengan baik dan mudah,
keseragaman nutrisi dan tingkat konsentrasi larutan nutrisi yang
dibutuhkan oleh tanaman dapat disesuaikan dengan umur dan jenis
tanaman, dan tanaman dapat diusahakan beberapa kali dengan periode
tanam yang pendek. Untuk

kekurangan yaitu investasi dan biaya

perawatan yang mahal, NFT sangat tergantung terhadap energi listrik,


dan penyakit tanaman akan dengan cepat menular ke tanaman lain.
e. Kelebihan dari sistem substrat yaitu tanaman dapat berdiri lebih tegak,
kebutuhan nutrisi mudah untuk dipantau, dan biaya operasional tidak
terlalu besar. Sedangkan kekurangannya adalah populasi tanaman tidak
terlalu banyak, terlalu banyak menggunakan wadah, dan udah ditumbuhi
f.

lumut.
Kelebihan sistem vertikultur yaitu tanaman persatuan luasan jauh lebih
besar, dengan melakukan sterilisasi media tanam dapat dihindari
pemakaian pestisida, kehilangan pupuk yang terbawa aliran air hujan
dapat dikurangi karena jumlah media tanam yang digunakan sudah
diperhitungkan cukup di sekitar

perakaran tanaman saja dan dalam

struktur wadah terbatas. Kekurangan menggunakan sistem vertikultur

22

memerlukan investasi awal cukup tinggi, waktu yang dibutuhkan untuk


persiapan lebih lama, karena membutuhkan konsep terlebih dahulu dan
tanaman rentan terhadap serangan jamur.
g.

Kelebihan sistem ebb and flow adalah tanaman mendapat suplai air,
oksigen, dan nutrisi secara terus-menerus, pertukaran oksigen lebih baik
karena terbawa air pasang dan surut dan mempermudah perawatan
karena kita tidak perlu melakukan penyiraman. Untuk kekurangan dari
ebb and flow adalah biaya alat yang agak mahal dikarenakan peralatan
yang digunakan cukup banyak. Tergantung kepada aliran listrik karena
menggunakan pompa. Dan kekurangan yang terakhir yaitu kualitas
nutrisi yang sudah dipompakan berkali-kali tidak akan sebagus awalnya.

2. Saran
Saran yang dapat diberikan untuk praktikum adalah semua alat dan
bahan yang diperlukan sudah memenuhi tetapi sebaiknya pada rumah kaca
yang berlubang segera dilakukan perbaikan agar OPT dari luar tidak dapat
masuk dan menyerang tanaman yang ada di rumah kaca dan sarana
prasarana yang di gunakan praktikum di perbanyak lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar R A 2003. Submerged, Trickling Filter dan Fluidized Bed. Skripsi sarjana
Biologi, Institut Teknologi Bandung.
Brawijaya W 2003. Metode Penanganan Buah-Buahan dan Sayuran dalam Skala
Industri. Info Hortikultura 1(1): 27-37.
Chadirin Y 2006. Teknologi Greenhouse dan Hidroponik. Diktat Kuliah. IPB.
Bogor.
Effendi H 2000. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelola Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. Kanisius. Jakarta
Eka S 2011. Pengaruh Media Tanam Hidroponik Dan Bibit Irigasi Tetes Terhadap
Mutu Bunga Krisan Di Desa Serang Kecamatan Karangrejo Kabupaten
Purbolingga. Fakultas pertanian UNSOED. Purwokerto.

23

Falah 2005. Budidaya Tanaman Sawi dengan Hidroponik Sistem DfT.


Http://aderarizal.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 23 November 2014.
Hidayati 2009. Sistem hidroponik dengan nutrisi dan media tanam berbeda
terhadap pertumbuhan dan hasil selada. Media Litbang Sulteng. Palu. Hal
131-132.
Howard M Resh 2009. Hydroponic Home Food Gardens. Routledge. England
Kemal P 2005. Tentang Budidaya Pertanian Krisan. Kantor Deputi Menegristek
Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi. Jakarta
Kurniawan A 2013. Akuaponik Sederhana Berhiasi Ganda. Pangkalpinang:
Penerbit UBB Press.
Lukman L 2013. Teknologi Budidaya Tanaman Sayuran secara Vertikultur.
Lembang, Bandung. Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
Mardhiah Hayati 2012. Sekam padi sebagai media alternatif dan pemberian pupuk
daun pada tomat hidroponik. Jurnal ilmu pertanian Vol 2. Jakarta. Hal 1-2.
Mikrajuddin 2007. IPA terpadu SMP dan Mts 3A. Jakarta:Esis
Nelson R L 2008. Aquaponic Equipment The Biofilter. Aquaponic Journal Issue.
Vol 48.
Nugroho E dan Sutrisno 2008. Budidaya ikan dan Sayuran dengan Sistem
Akuaponik. Penebar Swadaya. Jakarta
Purnomo
Agung
2006.
Nutrient
Film
Technique
(NFT).
http://belajarhidroponik.blogspot.com. Diakses pada tanggal 23 November
2014.
Purwati E dan Ali A 2000. Seleksi Varietas Tomat untuk Perbaikan Kualitas.
Buletin Penelitian Hortikultura 8(1).
Randi 2012. Membuat Arang Sekam Sederhana untuk Media Hidroponik..
Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Ratna Ika M Rifai 2012. Pemanfaatan Photovoltaik pada Sistem Otomasi
Akuaponik berbasis Mikrokontroler Atmega. Jurnal Eltek. Vol 10 No 02.
Ricardo 2009. Hydroponics Substrat. http://bscstlouis1.blogspot.com. Diakses
pada tanggal 23 November 2014.
Rukmana dan H Rahmat 2007. Krisan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Setyaningsih NN 2009. Hidroponik. Http://nafinur2.blogspot.com/. Diakses pada
tanggal 23 November 2014.
Siti Istiqomah 2008. Menanam Hidroponik. Yogyakarat: Aska Press
Sumiati E 2005. Konsentrasi dan Jumlah Aplikasi Mepiquat Klorida untuk
Meningkatkan Produksi Kentang di Dataran Tinggi dengan Sistem DFT.
J. Hort. 9(4):293.
Sumiati 2005. Simple hydroponics for Australian Home gardeners. Melbourne.
Supriyadi 2009. Sistem Kontrol Nutrisi Hidroponik Dengan Menggunakan Logika
Fuzzy. J.Oto.Ktrl.Inst. Vol 1(1):31-35.

24

Sutiyoso Y 2008. Hidroponik Rakit Apung. Penebar Swadaya. Jakarta.

ACARA II. PENANAMAN SECARA HIDROPONIK


A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Teknik budidaya tanaman non tanah yang mulai terkenal adalah
teknik hidropnik. Teknik hidroponik ini banyak yang menggunakannya
sebagai pengisi waktu luang maupun dijadikan bisnis. Teknik ini
mempunyai beberapa manfaat dan keunggulan untuk menyelesaikan
masalah-masalah yang telah muncul di bidang pertanian. Teknik hidroponik
banyak yang berusaha mengembangkannya disebabkan oleh sifatnya yang
menghemat lahan, bersih, sulit diserang oleh hama dan gulma dan tidak
rumit. Teknik hidroponik juga mudah pengaplikasiannya dibandingkan
dengan teknik konvensional.
Dalam pengembangan teknik hidroponik, ada dua teknik utama yang
harus diketahui, yaitu teknik yang dikenal dengan hidroponik substrat dan
non substrat. Untuk hidroponik substrat, teknik ini menggunakan media
buatan berdasarkan pasir dan arang sekam. Cara menggunakan hidroponik

25

substrat ini hampir sama dengan bertanam biasa, yaitu menggunakan tanah
dalam

pot.

Sedangkan,

untuk

hidroponik

non

substrat

langsung

menggunakan media air. Pengaplikasian hidroponik non substrat melalui


jalur air dari susunan pipa dengan menguras nutrisi untuk tanaman. Dengan
teknologi tersebut, hidroponik semakin efisien dan mudah diterapkan dalam
teknik budidaya tanaman, terutama tanaman buah-buahan dan sayursayuran.
Di antaranya, modal yang cukup besar dibutuhkan untuk mengubah
budidaya tanaman dari teknik konvensional menjadi budidaya tanaman
dengan teknik hidroponik. Oleh sebab itu, harus benar-benar focus dan
dipersiapkan

untuk

mengusaha

budidaya

tanaman

dengan

teknik

hidroponik, jika usahanya ditujukan untuk bisnis dan hobi, bisa


dilaksanakan dengan penggunaan metode yang cukup sederhana dengan
menggunakan alat-alat dan bahan seadanya, asalkan nutrisi tanamannya
cukup. Karena budidaya tanaman hidroponik perlu menggunakan teknik
yang khusus maka teknisinya membutuhkan
suatu keterampilan lebih untuk
27
mengusahakannya secara hidroponik, supaya produk hasil hidroponik baik
dan sesuai dengan yang diharapkan. Keterampilan tersebut dibutuhkan juga
untuk dapat memberi estetika pada tanaman yang diusahakan. Dengan
adanya estetika pada tanaman, masyarakat pun jadi tertarik melihatnya.
Dengan demikian, dalam pengaplikasian budidaya tanaman secara
hidroponik, pengetahuan mengenai tekniknya dan langkah-langkah yang
harus dilewati sangat diperlukan untuk dapat menghasilkan produk
hidroponik yang menyenangkan. Diketahui bahwa usaha hidroponik
memerlukan modal yang cukup besar, maka dari itu agar modal tersebut
tidak terbuang sia-sia dan beberapa keuntungan mengusahakan teknik ini
benar-benar dapat dirasakan, sehingga orang-orang yang mengetahuinya
akan mulai mengembangkan teknik ini, dan masalah-masalah pertanian,
terutama dalam persoalan sempitnya lahan serta kualitas produk pertanian.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum acara Penanaman secara Hidroponik adalah :
a. Memberi pengalaman kepada mahasiswa untuk membudidayakan
sayuran daun dengan berbagai sistem hidroponik.

26

b. Menghasilkan produk sayura pakcoy, selada hijau, selada merah, bayam


dan kailan yang berkualitas.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Acara Penanaman secara Hidroponik ini dilaksanakan
pada hari Selasa tanggal 11 November 2014 pukul 13.00 WIB sampai
selesai. Bertempat di Rumah Kaca B, Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
Menanam tumbuhan dalam tempat yang diisi air dan larutan zat
makanan, menjadi cara yang paling sederhana dan murah dalam bercocok
tanam hidroponik. Karena itu cara ini menjadi cara terbaik untuk
berkenalan dengan ilmu hidroponik cara bercocok tanam dengan
menggunakan air sebagai media tanam, paling cocok cara ini pada tempattempat yang hanya ditanam satu atau dua tumbuhan walaupun mengurangi
peluang untuk mendapatkan keuntungan tetapi tidak mengurangi daya
tarik car hidroponik kebanyakan tanaman yang ditanam tanaman rumah
yang palin rendah dapat tumbuh baikdalam air dan larutan makanan.
Bahkan sejumlah tanaman kaktus dapat tumbuh subur dalam air dan
emperagakan penampilan yang jauh berbeda (Nicholls 2006).
Floating hidroponik sistem (FHS) atau sering dikenal dengan rakit
apung adalah budidaya tanaman (terutama sayuran) dengan cara menanam
tanaman pada lubang styrofoam yang mengapung di atas permukaan
larutan nutrisi dalam bak penampung atau kolam. Dalam sistem ini akar
tanaman terendam dalam larutan nutrisi. Teknik hidroponik sistem rakit
apung adalah menanam tanaman pada suatu rakit yang dapat mengapung
di atas permukaan air atau nutrisi dengan akar menjuntai kedalam air.
Styrofoam diambangkan pada kolam larutan nutrisi sedalam kurang lebih
30 cm. Pada styrofoam diberi lubang tanam dan bibit ditancapkan dengan
bantuan busa atau rockwool (Purwati 2006).

27

Rakit apung adalah salah satu sistem budidaya secara hidroponik


tanaman dengan cara menanam tanaman dalam lubang sterofoam yang
mengapung diatas permukaan larutan nutrisi dalam bak penampung. Pada
system ini larutan tidak disirkulasikan melainkan dibiarkan tergenang dan
ditempatkan dalam suatu wadah tertentu untuk menampung larutan
tersebut. System ini sangat cocok diterapkan pada daerah yang belum
dialiri listrik (Lingga 2006).
Vertikultur merupakan cara bertanam yang dilakukan dengan
menempatkan media tanam dalam wadah-wadah yang disusun secara
vertikal, atau dapat dikatakan bahwa vertikultur merupakan upaya
pemanfaatan ruang ke arah vertikal. Teknik ini berawal dari ide vertical
garden yang dilontarkan oleh sebuah perusahaan benih di Swiss pada
tahun 1944. Popularitas bertanam dengan dimensi vertikal ini selanjutnya
berkembang pesat dinegara Eropa yang beriklim subtropis. Awalnya,
sistem vertikultur digunakan untuk memamerkan tanaman ditanam umum,
kebun, atau didalam rumah kaca (green house) (Kemal 2000).
Vertikultur diartikan sebagai teknik budidaya tanaman secara
vertikal sehigga penanamannya dilakukan dengan menggunakan sistem
bertingkat. Teknik vertikal berawal dari ide vertikal garden yang dilakukan
oleh sebuah perusahaan di Swiss pada tahun 1944. Vertikultur berasal dari
bahasa Iggris yaitu vertical dan culture. Secara lengkap di bidang budidaya
tanaman arti vertikultur adalah salah satu teknik bercocok tanam di ruang
sempit dengan memanfaatkan bidang vertikal sebagai tempat bercocok
tanam yang dilakukan secara bertingkat popularitas bertanam bertingkat
berkembang pesat di Negara Eropa (Noverita Sv 2005). Setelah ide
verticar garden dilontarkan pemilik rumah kaca komersial di Guensey (the
chennel Islands) dan di Inggris mengadaptasi teknik untuk memproduksi
strowberi (Liferdi Lukman 2005).
Model, bahan, ukuran, wadah vertikultur sangat banyak, tinggal
disesuaikan dengan kondisi dan keinginan. Pada umumnya adalah
berbentuk persegi panjang, segi tiga, atau dibentuk mirip anak tangga,
dengan beberapa undak-undakan atau sejumlah rak. Bahan dapat berupa
bambu atau pipa paralon, kaleng bekas, bahkan lembaran karung beras pun
bisa, karena salah satu filosofi dari vertikultur adalah memanfaatkan

28

benda-benda bekas di sekitar kita. Persyaratan vertikultur adalah kuat dan


mudah dipindah-pindahkan. Tanaman yang akan ditanam sebaiknya
disesuaikan dengan kebutuhan dan memiliki nilai ekonomis tinggi,
berumur pendek, dan berakar pendek (Lukman 2013).
C. Metodologi Praktikum
1. Alat
a. Rakit Apung
1) Bak penampung
2) Sterofoam
3) Spons
4) Pot penyangga sterofoam
5) EC Meter
b. Vertikultur karpet
1) Ember
2) Karpet
3) Selang
4) Pipa paralon
5) Sterofoam
6) Solder
7) Pompa air
2. Bahan
a. Benih dan bibit Pakcoy (Brassica rapa)
b. Nutrisi (AB mix)
3. Cara Kerja
a. Membuat larutan nutrisi (Komposisi Garam Terlampir)
1) Menambahkan garam teknis: Kalsium nitrat, kalium nitrat, dan FeEDTA kedalam 30 L air untuk membuat pekatan A.
2) Menambahkan garam teknis: Kalium dihidrofosfat, ammonium
sulfat, Magnesium sulfat, Cupri sulfat, Zinc sulfat, Asam borat,
Mangan sulfat, Amonium moblidat kedalam 30 L air untuk membuat
pekatan B.
3) Larutan nutrisi dibuat dengan perbandingan banyaknya pekatan :
larutan = 1 : 10.
b. Persiapan instalasi Rakit Apung
1) Mencuci bak rakit apung hingga bersih.
2) Mencuci bersih sterofoam dan pot penyangga sterofoam. Sterofoam
telah dilubangi dengan jarak tanam 15 x 15 cm.
3) Mengisi larutan nutrisi ke dalam bak rakit apung.
c. Penanaman pada sistem Rakit Apung
1) Mengisi bak rakit apung dengan air 90 L.

29

2) Mengurangi air tersebut sebanyak 9 L. menambahkan pekatan A


sebanyak 4,5 L kemudian diaduk hingga merata. Menambahkan
pekatan B sebanyak 4,5 L kemudian diaduk kembali.
3) Mengecek EC larutan dengan EC meter.
4) Meletakkan penyangga sterofoam dalam bak tanaman.
5) Meletakkan sterofoam tanam di permukaan bak tanaman.
6) Mencuci bibit untuk menghilangkan media pembibitan yang
menempel pada akar.
7) Menaruh dalam penjepit, kemudian memasukkan dalam lubang
tanam yang telah di buat pada sterofoam.
8) Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan mengontrol kemungkinan
serangan OPT dan menambahkan larutan nutrisi jika diperlukan.
d. Pengamatan
Mengamati pertumbuhan tanaman seminggu sekali, sesuai dengan
peubah yang telah ditetapkan.
e. Panen
Panen dilakukan pada umur 5 MST kemudian mengamati sesuai dengan
peubah yang ditetapkan.
f. Pemasaran produk
1) Sebelum dilakukan pemanenan, melakukan survey harga dan calon
konsumen.
2) Menyortir sayuran dengan cara membuang bagian daun yang rusak
(terutama daun kuning atau kering), kemudian mengikatnya dan
menimbangnya.
3) Memberi label dan menaruh dalam ember yang sudah diisi air bersih
dengan cara ditegakkan (untuk menjaga agar produk tetap segar).
D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
Tabel 2.1 Pertumbuhan Tinggi dan Jumlah Daun Tanaman Pakcoy (Brassica

Sampel

rapa) Sistem FHS (Rakit Apung)

1
2
3
4
5
6
7
8
9

1
TT
17
16
11
11
11
12
11
7
14

2
JD
6
6
5
7
6
6
6
5
7

TT
24
22
18
18
18
19
21
12
22

JD
9
10
7
8
9
9
9
7
10

TT
21
18
15
20
18
23
18
17
20

Minggu ke3
4
TT TT
10 26
8
24
10 19
10 19
11 31
10 23
11 25
10 18
12 24

5
JD
12
10
8
13
12
7
10
7
11

TT
14
10,5
20
24
20,5
23,5
29
29,5
22,5

6
JD
9
14
14
9
11
6
12
13
14

TT
30
23
26
23
23
32
22
26
23

JD
10
16
10
18
18
7
10
13
7

Berat
sampel
(gram)
51
50
24
48
48
32
55
32
46

30

10 12
7
18
11 13
2
13
12 12
5
18
13 8,5 5
16
14 12
6
16
15 10
5
19
16 12
6
19
17 11
6
18
18 10
4
17
19
8
6
15
20 9,5 5
18
Sumber : Logbook

9
5
8
7
10
7
9
8
7
8
5

20
24
21
16
25
17
17
18
21
27
24

12
10
7
7
12
8
8
9
7
9
12

25
11
19
25
22
24
16
29
23
30
20

11
7
12
9
13
13
13
12
12
12
5

35
0
28
29
30
29
28
24
17
27
28

14
0
12
9
13
15
11
8
8
5
9

30
0
28
24
25
25
32
37
27
16
26

13
0
11
9
15
16
6
11
18
14
16

28
0
43
41
43
93
38
73
55
53
31

Tabel 2.2 Pertumbuhan Tinggi dan Jumlah Daun Tanaman Pakcoy (Brassica

Sampel

rapa) Sistem Vertikultur Karpet


1

TT JD TT
1
10
6
13
2
9
5
11
3
9
5
13
4
11
6
16
5
12
5
17
6
11
6
16
7
13
5
19
8
12
5
20
9
14
7
16
10 15
8
17
11 11
5
22
12 13
5
23
13 13
6
20
14 15
6
28
15 14
5
24
16 12
5
11
17
9
4
16
18 12 6
13
19 14
6
23
20 14
5
19
Sumber : Logbook

2
JD
6
9
9
7
9
9
8
9
8
9
5
8
9
6
10
4
6
5
6
7

TT
1
10
12
15
15
15
18
16
17
19
19
22
14
20
20
20
12
13
22
18

Minggu ke3
4
TT TT
9
15
8
15
7
17
8
24
7
21
8
24
6
27
8
28
10 24
9
24
7
6
7
30
7
26
8
30
8
30
7
28
6
21
8
16
7
25
6
25

5
JD
8
12
13
8
13
7
11
13
11
12
2
11
10
12
13
9
9
8
6
5

TT
28
30
17
23
28
26
25
16
34
32
16
27
25
23
27
30
35
30
30
32

6
JD
10
10
16
16
18
8
12
11
12
13
8
12
12
14
14
7
9
14
10
8

TT
18
18
20
26
21
30
32
30
29
30
0
30
30
30
25
33
26
20
0
30

JD
13
14
13
9
13
5
14
13
10
15
0
10
7
9
13
12
12
10
0
14

Berat
sampel
(gram)
26
34
23
18
21
24
47
35
30
58
35
32
27
29
47
24
12
14
29
28

31

Gambar 2.1 Pengumpulan Pakcoy

Gambar 2.2 Pengguntingan akar Pakcoy

Gambar 2.3 Pembersihan Pakcoy

Gambar 2.4 Penimbangan dan Pengemasan

2. Pembahasan
Budidaya hidroponik dapat dilakukan dengan menggunakan media
substrat maupun non substrat. hidroponik dikatakan menggunakan media
substrat, jika menggunakan media tanam untuk budidaya tanaman, media
tersebut tidak termasuk tanah, misalnya pasir, arang sekam, bokhasi, serbuk
gergaji, batu-batuan dan lain sebagainya. Pada praktikum yang telah
dilaksanakan ini sistem yang digunakan kelompok 3 adalah sistem rakit apung
(FHS) dan Vertikultur karpet.
Bibit yang baik yang siap ditanam untuk budidaya hidroponik merupakan
bibit yang tumbuh sehat, kokoh dan daunnya segar. Bibit yang digunakan
dalam budidaya hidroponik disemaikan dahulu selama dua minggu dan setelah
berumur dua minggu siap ditransplanting. Dalam memindah tanamkan
usahakan hati-hati supaya akar tidak rusak sehingga mengganggu pertumbuhan
tanaman.

32

Syarat pindah tanam adalah tanaman dapat dipindahtanamkan setelah biji


3 4 minggu masa persemaian dan sudah memiliki daun sebanyak 3 5 helai.
Kemudian memilih bibit yag baik untuk ditransplanting yaitu bibit yang
mempunyai batang tegak, daun hijau segar, daun yang sehat yang tidak
terserang penyakit. Pada saat pemindahan bibit ke media tanam usahakan
dengan hati-hati, serta setelah ditransplanting disemprot dengan larutan nutrisi
(Anonim 2014).
Cara pindah tanam yang dilakukan pada praktikum yaitu pertama
menyiapkan bibit yang akan ditransplanting dan sistem hidroponik yang akan
digunakan untuk penanaman. Kemudian mengambil bibit dari bak persemaian
dengan hati-hati dan mencelupkannya di air agar steril dan bersih dari media
tanam. Kemudian memasukkan bibit dan menanam bibit pada lubang tanam
yang telah dibuat terlebih dahulu dan menutupnya dengan media yang
digunakan sampai benar-benar menyatu dengan media. Setelah tanaman
ditanam pada media, siram dengan larutan nutrisi dan sebaiknya tidak terkena
sinar matahari secara penuh agar tanaman dapat beradaptasi terlebih dahulu.
Pada saat menanam usahakan tanaman berdiri tegak agar pertumbuhannya
baik. Media dalam hidroponik berfungsi sebagai penopang tanaman dan
memiliki syarat seperti struktur yang stabil selama pertumbuhan tanaman,
bebas dari zat berbahaya bagi tanaman, bersifat inert, memiliki daya pegang air
yang baik, drainase dan aerase yang baik (Rahmawaty 2009).
Media yang digunakan dalam budidaya hidroponik sistem rakit apung
adalah media agregat yang dialiri dengan larutan nutrisi. Tanaman tidak
memerlukan tanah untuk tumbuh asalkan unsur hara esensial, cahaya, air dan
oksigen terpenuhi. Hal ini dapat dibuktikan bahwa, budidaya secara hidroponik
dapat berhasil apabila kebutuhan air, sirkulasi udara dan hara tanaman
tercukupi (Susanto 2010). Apabila kekurangan unsur tersebut maka akan ada
kemungkinan tanaman tersebut akan mati ataupun layu .Perlu adanya
perawatan yang intensif agar tidak terjadi hal-hal tersebut. Untuk vertikultur
karpet menggunakan media tanam pakis cacah berwarna hitam.
Proses budidaya yang dilakukan adalah melakukan penanaman pada
kedua sistem hidroponik. Kelompok 3 mendapatkan 2 sistem dan anggota
kelompok dibagi untuk melakukan penanaman pada kedua sistem tersebut.

33

Kemudiaan setelah melakukan penanaman dilakukan pemeliharaan setiap hari


sampai

panen

antara

lain

mengecek

ketersediaan

larutan

nutrisi,

menyemprotkan nutrisi ke tanaman, memberikan larutan nutrisi apabila sudah


habis, melakukan pengendalian hama maupun penyakit yang menyerang, dan
melakukan pengecekan EC. Setelah enam minggu tanaman dapat dipanen dan
dipasarkan kepada konsumen.
Pada kedua sistem masing-masing diberikan 20 sampel secara acak yang
diamati setiap minggu. Hasil yang telah didapatkan pada sistem rakit apung
menunjukan pertumbuhan yang baik setiap minggunya. Tinggi tanaman
tertinggi pada minggu pertama pada sampel 1 yaitu 17 cm dengan jumlah daun
6, kemudian pada minggu kedua tertinggi yaitu sampel 1 dengan tinggi 24 cm
dengan jumlah daun 9. Untuk minggu ketiga sampel tanaman yang tertinggi
yaitu sampel 19 sebesar 27 cm dan jumlah daun 9, minggu keempat sampel
yang tertinggi yaitu sampel 5 dengan tinggi 31 cm dan jumlah daun 12 helai.
Pada minggu kelima didapatkan hasil yang paling tinggi yaitu sampel 10
dengan tinggi 35 cm dengan jumlah daun 14 helai. Pada saat pemanenan
dilakukan pengamatan terakhir didapatkan hasil yang tertinggi yaitu sebesar 32
cm dengan jumlah daun 6 daun pada sampel 16. Pertumbuhan yang berubahubah disebabkan tanaman ada yang terserang penggerek daun maupun ulat
sehingga memerlukan penanganan manual dengan cara dibersihkan. Apabila
daun yang terserang terlalu parah maka daun tersebut dihilangkan ataupun
tanaman disulam atau diganti sampelnya agar tidak menular ke tanaman lain.
Hasil yang telah didapatkan pada sistem vertikultur karpet menunjukan
pertumbuhan yang berubah-ubah setiap minggunya. Tinggi tanaman tertinggi
pada minggu pertama pada sampel 10 yaitu 15 cm dengan jumlah daun 8,
kemudian pada minggu kedua tertinggi yaitu sampel 14 dengan tinggi 28 cm
dengan jumlah daun 6. Untuk minggu ketiga sampel tanaman yang tertinggi
yaitu sampel 12 sebesar 22 cm dan jumlah daun 7, minggu keempat sampel
yang tertinggi yaitu sampel 12 dengan tinggi 30 cm dan jumlah daun 11 helai.
Pada minggu kelima didapatkan hasil yang paling tinggi yaitu sampel 17
dengan tinggi 35 cm dengan jumlah daun 9 helai. Pada saat pemanenan
dilakukan pengamatan terakhir didapatkan hasil yang tertinggi yaitu sebesar 33
cm dengan jumlah daun 12 daun pada sampel 16. Pada sistem vertikultur

34

karpet banyak sekali tanaman yang terserang hama dikarenakan tertular hama
dari kelompok lain.
Hasil panen budidaya hidroponik dapat diketahui setelah tanaman
berumur 6 minggu. Pemanenan pakcoy dilakukan pada siang hari dan
kemudian langsung dipasarkan. Pakcoy dengan sistem vertikultur karpet yang
paling baik pada sampel 10 dengan berat 58 gram. Untuk sistem rakit apung
yang paling baik pada sampel 15 dengan berat sampel sebesar 93 gram. Hal ini
menunjukan bahwa sistem rakit apung lebih menunjukan hasil yang baik
dibandingkan pada vertikultur karpet disebabkan larutan nutrisi dibiarkan
menggenang dan dapat digunakan sewaktu-waktu oleh tanaman berbeda pada
sistem vertikultur karpet yang dialirkan oleh pompa pada periode waktu
tertentu.
Sebelum memasarkan produk, kelompok 3 (Tani Bejo) melakukan survey
ke Lotte Mart The Park Mall. Lotte mart tidak menjual sayuran hidroponik
melainkan sayuran organik dan non organik. Harga sayuran pakcoy organik
sekitar Rp 7000/250gram, sedangkan pakcoy non organik sekitar Rp
2000/150gram. Kelompok 3 memasarkan hasil pemanenan pakcoy ke warga
sekitar yang membutuhkan sayur untuk dikonsumsi sendiri dan yang sortiran di
konsumsi anggota kelompok. Sayuran hidroponik lebih tahan lama bila
dibandingkan dengan sayuran non organik yang ada di pasaran serta rasanya
lebih segar karena kadar airrnya tinggi.

35

E. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum yang telah
dilaksanakan adalah :
a. Bibit yang baik yang siap ditanam untuk budidaya hidroponik merupakan
bibit yang tumbuh sehat, kokoh dan daunnya segar.
b. Media yang digunakan dalam sistem rakit apung adalah media agregat
berupa larutan nutrisi dan pada sistem vertikultur karpet adalah pakis
cacah.
c. Cara pindah tanam yang dilakukan yaitu menyiapkan bibit yang akan
ditransplanting dan sistem hidroponik yang akan digunakan untuk
penanaman. Kemudian mengambil bibit dari bak persemaian dengan
hati-hati dan mencelupkannya di air agar steril dan bersih dari media
tanam. Kemudian memasukkan bibit dan menanam bibit pada lubang
tanam. Setelah tanaman ditanam pada media, siram dengan larutan nutrisi
d.

dan sebaiknya tidak terkena sinar matahari secara penuh.


Proses budidaya yang dilakukan adalah melakukan penanaman pada
kedua sistem hidroponik. Kemudiaan melakukan pemeliharaan setiap
hari sampai panen antara lain mengecek ketersediaan larutan nutrisi,
menyemprotkan nutrisi ke tanaman, memberikan larutan nutrisi apabila
sudah habis, melakukan pengendalian hama maupun penyakit yang
menyerang, dan melakukan pengecekan EC. Setelah enam minggu
tanaman dapat dipanen dan dipasarkan kepada konsumen.

36

e. Pada kedua sistem masing-masing diberikan 20 sampel secara acak yang


diamati setiap minggu. Hasil yang telah didapatkan pada sistem rakit
f.

apung menunjukan pertumbuhan yang baik setiap minggunya.


Tinggi tanaman tertinggi pada sistem rakit apung minggu pertama pada
sampel 1 yaitu 17 cm dengan jumlah daun 6, kemudian pada minggu
kedua tertinggi yaitu sampel 1 dengan tinggi 24 cm dengan jumlah daun
9. Untuk minggu ketiga sampel tanaman yang tertinggi yaitu sampel 19
sebesar 27 cm dan jumlah daun 9, minggu keempat sampel yang tertinggi
yaitu sampel 5 dengan tinggi 31 cm dan jumlah daun 12 helai. Pada
minggu kelima didapatkan hasil yang paling tinggi yaitu sampel 10

dengan tinggi 35 cm dengan jumlah daun 14 helai.


g. Tinggi tanaman tertinggi pada sistem vertikultur karpet pada minggu
pertama pada sampel 10 yaitu 15 cm dengan jumlah daun 8, kemudian
pada minggu kedua tertinggi yaitu sampel 14 dengan tinggi 28 cm
dengan jumlah daun 6. Untuk minggu ketiga sampel tanaman yang
tertinggi yaitu sampel 12 sebesar 22 cm dan jumlah daun 7, minggu
keempat sampel yang tertinggi yaitu sampel 12 dengan tinggi 30 cm dan
jumlah daun 11 helai. Pada minggu kelima didapatkan hasil yang paling
tinggi yaitu sampel 17 dengan tinggi 35 cm dengan jumlah daun 9 helai.
h. Pakcoy dengan sistem vertikultur karpet yang paling baik pada sampel 10
dengan berat 58 gram. Untuk sistem rakit apung yang paling baik pada
sampel 15 dengan berat sampel sebesar 93 gram.
2. Saran
Saran yang dapat diberikan untuk praktikum yang telah dilaksanakan
adalah sebaiknya praktikan lebih serius memperhatikan tanamannya agar
tanaman lebih intensif dalam menerima larutan nutrisi agar hasil panen dapat di
andalkan.

37

DAFTAR PUSTAKA
Kemal P 2005. Tentang Budidaya Pertanian Krisan. Kantor Deputi Menegristek
Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi. Jakarta
Lukman L 2013. Teknologi Budidaya Tanaman Sayuran secara Vertikultur.
Lembang, Bandung. Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
Nelson R L 2008. Aquaponic Equipment The Biofilter. Aquaponic Journal Issue.
Vol 48.
Purwati E dan Ali A 2000. Seleksi Varietas Tomat untuk Perbaikan Kualitas.
Buletin Penelitian Hortikultura 8(1).
Rahmawaty Novi 2009. Pengaruh Varietas dan Konsistensi Ethepan pada
Pertumbuhan dan Hasil Panen Tanaman Mentimun Dalam Budidaya
Hidroponik. IPB. Bogor.
Susanto 2010. Produksi dan Kualitas Buah Stroberi pada Beberapa Sistem
Irigasi. Jurnal Holtikultura Indonesia. Vol 1(1):1-9.
Verma S K 2002. Plant Physiology. S. Chand & Company LTD. USA.

38

III. NUTRISI HIDROPONIK


A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Konsumen modern dalam memilih hasil produksi tanaman di kotakota besar adalah mencari produk tidak hanya berkualitas melainkan
mempunyai nilai tambah terhadap manfaat kesehatan, berpenampilan
menarik dengan harga yang rasional. Produk-produk tersebut sebagian besar
terpenuhi oleh produk hidroponik. Hidroponik merupakan suatu pengerjaan
atau pengelolaan air sebagai media tumbuh tanaman tanpa menggunakan
media tanah sebagai media tanam dan mengambil unsur hara mineral yang
dibutuhkan dari larutan nutrisi yang dilarutkan dalam air. Sehingga sangat
perlu diketahui kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan jenis tanaman yang
dibudidayakan.
Unsur hara sangat dibutuhkan oleh tanaman karena merupakan bagian
dari sel-sel dalam tubuh tanaman ataupun berfungsi melancarkan
berlangsungnya proses metabolisme, sel-sel baru selalu dibentuk selama
tanaman itu hidup baik untuk perkembangan organ maupun sel. Unsur hara
disebut juga nutrisi tanaman. Nutrisi tanaman didefinisikan sebagai mineral
atau elemen organik maupun anorganik yang dibutuhkan tanaman dalam
jumlah besar, yang berpengaruh dalam metabolisme tanaman dan
fisiologinya.
Pada sistem kultur hidroponik pemberian nutrisi merupakan hal yang
utama karena media yang digunakan tidak menyediakan unsur hara. Media
hanya berfungsi sebagai sebagai penegak tanaman atau tempat akar
mengikat dan mengalirkan larutan nutrisi. Pupuk merupakan sumber nutrisi
yang dibutuhkan tanaman. Nutrisi didefinisikan sebagai bahan yang
mensuplai tanaman dalam bentuk energi atau mineral elemen penting.
Pada hidroponik, keseluruhan keperluan nutrisi tanaman diberikan
pada akar tanaman dalam bentuk larutan. Sebenarnya tanaman boleh hidup
tanpa tanah. Akar tanamanan mengambil zat makanan atau nutrient yang
42

39

tersembunyi di dalam tanah. Tanaman bisa hidup tanpa tanah asalkan


kebutuhan nutrient yang diperlukan terpenuhi.
2. Tujuan
Tujuan praktikum hidroponik acara Nutrisi Hidroponik ini yaitu:
a. Mengenal jenis garam teknis yang biasa digunakan dalam pembuatan
nutrisi untuk hidroponik.
b. Membuat kompisisi larutan nutrisi mix AB untuk budidaya tanaman
sayuran (kompenen hasil berupa bagian batang dan daun).
c. Mengukur tingkat kepekatan larutan nutrisi berdasarkan indikator nilai
konduktivitas listrik (EC).
d. Menganalisis hubungan antara kepekatan larutan nutrisi (berdasarkan
volume larutan pekat A dan B yang digunakan tiap 1000 ml larutan
nutrisi) dengan nilai EC.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara Nutrisi Hidroponik dilakukan pada hari Kamis,
tanggal 6 November 2014 pukul 13.00 WIB, bertempat di Laboratorium
Rumah Kaca B, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi
merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman
hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah komposisi ion nutrisi dan

40

suhu. Larutan nutrisi ini dibagi dua, yaitu unsur makro (C, H, O, N, S, P, K, Ca,
dan Mg) dan unsur mikro (B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo dan Zn). Pada umumnya
kualitas larutan nutrisi ini diketahui dengan mengukur electrical conductivity
larutan tersebut (Tim Karya Tani Mandiri 2010).
Unsur hara makro dibutuhkan dalam jumlah besar dan konsentrasinya
dalam larutan relatif tinggi. Termasuk unsur hara makro adalah N, P, K, Ca,
Mg, dan S. Unsur hara mikro hanya diperlukan dalam konsentrasi yang rendah,
yang meliputi unsur Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan kebutuhan tanaman akan
unsur hara berbeda-beda menurut tingkat pertumbuhannya dan jenis tanaman.
Larutan hara dibuat dengan cara melarutkan garam-garam pupuk dalam air.
Berbagai garam jenis pupuk dapat digunakan untuk larutan hara, pemilihannya
biasanya atas harga dan kelarutan garam pupuk tersebut (Karsono 2005).
Larutan nutrisi juga dapat dipertahankan dan dikontrol sesuai dengan
kebutuhan tanaman dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Hal ini mendasari adanya sistem kontrol secara sederhana maupun otomatis
pada larutan nutrisi. Selain EC dan konsentrasi larutan nutrisi, suhu dan pH
merupakan komponen yang sering dikontrol untuk dipertahankan pada tingkat
tertentu untuk optimalisasi tanaman. Suhu dan pH larutan nutrisi dikontrol
dengan tujuan agar perubahan yang terjadi oleh penyerapan air dan ion nutrisi
tanaman (terutama dalam hidroponik dengan sistem yang tertutup) dapat
dipertahankan. Suhu yang terlalu rendah dan terlalu tinggi pada larutan nutrisi
dapat menyebabkan berkurangnya penyerapan air dan ion nutrisi, untuk
tanaman sayuran suhu optimal antara 5-150 C dan tanaman buah antara 15-250
C. Beberapa tanaman sayuran dan buah dipertahankan mempunyai tingkat pH
dan EC tertentu yang optimal (Savvas and Manos 2005).
Dalam pembuatan pupuk hidroponik, baik untuk sayuran daun, batang
dan daun, bunga serta buah, dibuat dua macam pekatan A dan B. Kedua
pekatan tersebut baru dicampur saat akan digunakan. Pekatan A dan B tidak
dapat dicampur karena bila kation Ca dalam pekatan A bertemu dengan anion
sulfat dalam pekatan B akan terjadi endapan kalsium sulfat sehingga unsure Ca
dan S tidak dapat diserap oleh akar. Tanaman pun menunjukkan gajala
defisiensi Ca dan S. Begitu pula bila kation Ca dalam pekatan A bertemu

41

dengan anion fosfat dalam pekatan B akan terjadi endapan ferri fosfat sehingga
unsur Ca dan Fe tidak dapat diserap oleh akar (Sutiyoso 2009).
Pada sayuran daun digunakan EC 1,5-2,5. Pada EC yang terlampau
tinggi, tanaman sudah tidak sanggup menyerap hara lagi karena telah jenuh.
Aliran larutan hara hanya lewat tanpa diserap akar. Batasan jenuh untuk
sayuran daun adalah EC 4,2. Di atas angka tersebut, pertumbuhan tanaman
akan stagnan. Bila EC jauh lebih tinggi maka akan terjadi toksisitas atau
keracunan dan sel-sel akan mengalami plasmolisis (Lingga 2007).
Pupuk daun dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sumber larutan
nutrisi. Selain praktis, pupuk daun juga mudah diperoleh di pasaran.
Penggunaan pupuk daun ini dapat dimodifikasi dengan pupuk majemuk yang
telah tersedia di pasaran. Pengembangan jenis substrat terutama untuk
mengantisipasi kemungkinan penggunaan limbah yang tersedia di daerah,
misal sekam padi, jerami padi, serbuk gergaji atau sabut kelapa
(Harjoko dan Samanhudi 2010).

C. Metodologi Praktikum
1. Alat
a. Timbangan
b. Ember
c. Gelas takar
d. EC-meter
e. Alat tulis
2. Bahan
a. Kemikalia
1) Kalsium nitrat
2) Kalium nitrat

42

3) Fe-EDTA
4) Kalium dihidro fosfat
5) Amonium sulfat
6) Megnesium sulfat
7) Cupri sulfat
8) Zink sulfat
9) Asam borat
10) Mangan sulfat
11) Amonium molibdat
b. Air
3. Cara Kerja
a. Menimbang kemikalia dengan jumlah sesuai komposisi (untuk
menghasilkan larutan nutrisi sebanyak 300 L)
b. Komposisi A terdiri atas kalsium nitrat, kalium nitrat, Fe-EDTA
c. Komposisi B terdiri dari : Kalium dihidro fosfat, Amonium sulfat,
Magnesium sulfat, Cupri sulfat, Zinc sulfat, Asam borat, Mangan sulfat,
dan Amonium molibdat.
d. Untuk membuat pekatan A dan B masing-masing sebanyak 30 L
diperlukan garam teknis sebagai berikut:
Kebutuhan (g)
Pekatan A
Pekatan B
Kalium nitrat
330
Kalsium nitrat
528
Fe-EDTA
11,4
Kalium fosfat
84
Magnesium sulfat
426
Mangan sulfat
8
Cupri sulfat
0,4
Zinc sulfat
1,5
Asam/Natrium borat
4,0
Amonium molibdat
0,1
e. Mengukur nilai EC dari air yang akan digunakan sebagai pelarut (dicatat
Jenis Garam Teknis

sebagai EC air).
f. Melarutkan tiap-tiap komposisi garam A dan B masing-masing kedalam
30 L air, sehingga tersedia larutan pekat A dan larutan pekat B.
g. Membuat simulasi pengukuran nilai EC pada berbagai perimbangan
penggunaan larutan pekat A dan pekat B dalam 1 liter larutan siap pakai,
dengan melengkapi tabel berikut:
Volume lar. Pekat A
(ml)

Volume lar. Pekat B


(ml)

Volume air
(ml)

50
75

50
75

900
850

Nilai EC
larutan
nutrisi

43

100
100
125
125
150
150
800
800
h. Membuat grafik hubungan antara volume larutan

800
750
700
9000
1,8
pekat A dan B yang

digunakan tiap 1000 ml larutan nutrisi (X) dengan niali EC (Y).

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan


1. Hasil Pengamatan
Tabel 3.1 Larutan Nutrisi yang digunakan dalam Hidroponik
Volume Larutan
Pekatan A (ml)
1
10
2
20
3
30
4
40
5
50
Sumber : Data Rekapan

Volume Larutan
Pekatan B (ml)
10
20
30
40
50

Volume air
(ml)
980
960
940
920
900

NILAI EC

Kel

VOLUME LAR. PEKAT A DAN B


(ml)
Gambar 3.1 Grafik Nilai EC Nutrisi

Nilai EC
Nutrisi
1,35
2,28
3,29
2,43
3,86

44

2. Pembahasan
Nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk
fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan.
Pemberian nutrisi pada tanaman dapat diberikan melalui akar dan daun
tanaman. Aplikasi melalui akar dapat dilakukan dengan merendam atau
mengalirkan larutan pada akar tanaman. Larutan nutrisi dibuat dengan cara
melarutkan garam-mineral ke dalam air. Ketika dilarutkan dalam air, garammineral ini akan memisahkan diri menjadi ion. Penyerapan ion-ion oleh
tanaman berlangsung secara kontinue dikarenakan akar-akar tanaman selalu
bersentuhan dengan larutan (Suwandi 2006).
Budidaya tanaman secara hidroponik dalam pemberian nutrisi sangat
penting dilakukan karena dalam media pertumbuhannya tidak mengandung
zat hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Berbeda pada penanaman di lahan
yang tanahnya telah mengandung zat hara sehingga pemupukan hanya
bersifat tambahan. Pemberian nutrisi untuk tanaman hidroponik harus sesuai
jumlah dan macamnya serta diberikan secara kontinu. Untuk bahan baku
pupuk yang digunakan harus mempunyai daya larut yang baik agar tidak
ada endapan apabila bahan dilarutkan dalam air.
Larutan nutrisi yang digunakan dalam hidroponik merupakan larutan
berair yang mengandung ion anorganik dari garam terlarut yang merupakan
elemen penting untuk pertumbuhan tanaman. Larutan nutrisi ini sudah
mengandung semua unsur yang dibutuhkan oleh tanaman secara lengkap.
Unsur-unsur tersebut terdiri dari unsur hara makro (N, P, K) dan unsur hara
mikro (Ca, S, Fe, Mg, B, Mn, Zn, Mo, Cu, Co), unsur hara lain berupa C, H,
O didapat secara bebas dari udara. Larutan nutrisi ini biasanya dikemas
menjadi dua bagian (yaitu bagian A dan bagian B). Kebutuhan unsur hara
tiap tanaman berbeda-beda.
Solusi dalam pemberian nutrisi yang menjadi dasar pertimbangan
adalah nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium dan sulfur, dan
dilengkapi dengan mikronutrien. Komposisi gizi menentukan konduktivitas

45

listrik dan potensi osmotic dalam larutan. Jumlah total ion garam terlarut
dalam larutan nutrisi memberikan gaya disebut tekanan osmotik (OP), yang
merupakan properti koligatif dari larutan nutrisi dan itu jelas tergantung dari
jumlah zat terlarut terlarut (Landowne 2006).
Formulasi dalam larutan nutrisi diperlukan untuk budidaya
hidroponik yaitu untuk menghindari terjadinya defisiensi atapun kelebihan
suatu unsur hara tertentu yang dapat bersifat toksik bagi tanaman,
menghindari interaksi antara ion satu dengan lainnya apabila interaksi
tersebut dapat bersifat toksik ataupun tidak dapat diserap tanaman, serta
menyediakan komposisi yang tepat sesuai kebutuhan tanaman terhadap
unsur hara. Larutan nutrisi yang digunakan terdiri dari pekatan A dan
pekatan B. Komposisi A terdiri atas kalsium nitrat, kalium nitrat, Fe-EDTA.
Komposisi B terdiri dari : Kalium dihidro fosfat, Amonium sulfat,
Magnesium sulfat, Cupri sulfat, Zinc sulfat, Asam borat, Mangan sulfat, dan
Amonium molibdat.
Beberapa bahan kimia sebagai sumber unsur hara mikro terdapat
dalam bentuk mineral, beranion sulfat, disertai air kristal. Berbeda dengan
unsure Fe yang diselimuti dengan kelat EDTA menjadi Fe-EDTA. Tujuan
penyelimutan dengan kelat ini untuk mengurangi antagonis atau
pertentangan dengan unsure-unsur mikro lainnya. Unsure Mn, Cu, dan Zn
pun dapat diperoleh dalam bentuk kelat. Namun, mengingat harga kelat
mahal maka hanya Fe saja yang digunakan dalam bentuk kelat. Walaupun
tidak dalam bentuk kelat, unsure mikro lainya tidak akan menimbulkan
masalah dalam kerja sehari-hari. Harganya cukup murah dan penggunaanya
hanya sedikit.
Untuk mengukur kepekatan pupuk dalam hidroponik digunakan
istilah EC (Electro Conductivity) dengan satuan mmhos/cm atau mS/cm.
Selain EC, kadang-kadang juga digunakan istilah cF (conductivity factor)
(Karsono 2005). Angka EC sangat penting di dalam hidroponik semua
sistem karena berdasarkan angka inilah produktivitas tanaman bisa dipacu.
Untuk tanaman kecil/belum dewasa, angka EC berkisar antara 1-1,5. Setelah
dewasa atau menjelang berbunga/berbuah, EC bisa ditingkatkan sampai 2,54, kecuali untuk tomat yang EC nya bisa sampai 7. Pada umumnya, angka
EC lebih dari 4 akan menimbulkan toksisitas pada tanaman (Untung 2000).

46

Hasil pengukuran EC yang dilakukan kelompok 3 yaitu dengan


menggunakan pekatan A sebanyak 30 ml, pekatan B 30 ml dan volume air
yang digunakan sebanyak 940 ml didapatkan hasil sebesar 3,29. Berbeda
untuk hasil yang didapatkan kelompok 5 yaitu menggunakan pekatan A
sebanyak 50 ml, pekatan B 50 ml dan volume air yang digunakan sebanyak
900 ml didapatkan hasil sebesar 3,86. Untuk kelompok 1 menggunakan
pekatan A sebanyak 10 ml, pekatan B sebanyak 10 ml, dan volume air yang
digunakan sebanyak 980 ml didapatkan hasil kepekatan sebesar 1,35 dan
untuk kelompok 2 menggunakan pekatan A sebanyak 20 ml, pekatan B
sebanyak 20 ml dan volume air yang digunakan sebanyak 960 ml
didapatkan hasil kepekatan sebesar 2,28. Maka dapat disimpulkan bahwa
semakin tinggi jumlah pekatan yang digunakan dan semakin sedikit air yang
digunakan maka semakin besar nilai ECnya. Efisiensi penggunaan larutan
nutrisi berhubungan dengan kelarutan hara dan kebutuhan hara oleh
tanaman. Bila EC tinggi maka larutan nutrisi semakin pekat, sehingga
ketersediaan unsur hara semakin bertambah. Begitu juga sebaliknya, jika EC
rendah maka konsentrasi larutan nutrisi rendah sehingga ketersediaan unsur
hara lebih sedikit (Sufardi 2001).

E. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Nutrisi Hidroponik yang dilakukan dapat
ditarik kesimpulan beberapa hal sebagai berikut:
a. Pemberian nutrisi sangat penting dilakukan pada hidroponik karena
dalam media pertumbuhannya tidak mengandung zat hara yang
dibutuhkan oleh tanaman. Berbeda pada penanaman di lahan yang
tanahnya telah mengandung zat hara sehingga pemupukan hanya bersifat
tambahan.

47

b. Larutan nutrisi yang digunakan dalam hidroponik merupakan larutan


berair yang mengandung ion anorganik dari garam terlarut yang
merupakan elemen penting untuk pertumbuhan tanaman. Larutan nutrisi
yang digunakan terdiri dari pekatan A dan pekatan B. Komposisi A terdiri
atas kalsium nitrat, kalium nitrat, Fe-EDTA. Komposisi B terdiri dari :
Kalium dihidro fosfat, Amonium sulfat, Magnesium sulfat, Cupri sulfat,
Zinc sulfat, Asam borat, Mangan sulfat, dan Amonium molibdat.
c. Formulasi dalam larutan nutrisi diperlukan untuk budidaya hidroponik
yaitu untuk menghindari terjadinya defisiensi atapun kelebihan suatu
unsur hara tertentu yang dapat bersifat toksik bagi tanaman, menghindari
interaksi antara ion satu dengan lainnya apabila interaksi tersebut dapat
bersifat toksik ataupun tidak dapat diserap tanaman, serta menyediakan
komposisi yang tepat sesuai kebutuhan tanaman terhadap unsur hara.
d. Untuk mengukur kepekatan pupuk dalam hidroponik digunakan istilah
EC (Electro Conductivity) dengan satuan mmhos/cm atau mS/cm. Angka
EC sangat penting di dalam hidroponik semua sistem karena berdasarkan
angka inilah produktivitas tanaman bisa dipacu.
e. Hasil pengukuran EC kelompok 3 yaitu dengan menggunakan pekatan A
sebanyak 30 ml, pekatan B 30 ml dan volume air yang digunakan
f.

sebanyak 940 ml didapatkan hasil sebesar 3,29.


Untuk kelompok 5 hasil pengukuran EC sebesar 3,86. Untuk kelompok
1 didapatkan hasil kepekatan sebesar 1,35 dan untuk kelompok 2

didapatkan hasil kepekatan sebesar 2,28.


2. Saran
Sebaiknya praktikan selalu memperhatikan dalam pemberian nutrisi
pada tanaman hidroponik karena apabila dalam pemberiannya terlambat
atau terhambat maka tanaman yang dibudidayakan dapat kekurangan nutrisi
sehingga layu dan kemudian mati.

48

DAFTAR PUSTAKA

Harjoko D dan Samanhudi 2010. Pengaturan Komposisi Nutrisi dan Media dalam
Budidaya Tanaman Tomat dengan Sistem Hidroponik. Biofarm 13(9): 6569.
Karsono 2005. Hidroponik Skala Rumah Tangga. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Landowne D 2006. Cell Physiology. Miami, FL, U.S.A: McGraw-Hill Medical
Publishing Division, ISBN 0071464743.
Lingga P 2007. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Savvas D dan Manos G 2005. Automated composition control of nutrient solution
in closed soilless culture systems. J Agric Eng Res. 73 : 29-33.
Sufardi 2001. Meningkatkan Hasil Jagung pada Utisol Muatan Berubah dengan
Aplikasi Beberapa Amandemen Tanah, Hasil dan Efisiensi Pupuk Fosfat. J
Agrista 5 (1): 12-22.
Susila
A
D
2006.
Panduan
Budidaya
Departemen Agronomi dan Holtikultura. IPB.

Tanaman

Sayuran.

Sutiyoso Y 2009. Hidroponik Ala Yos. Penebar Swadaya. Jakarta.


Tim Karya Tani Mandiri 2010. Pedoman Budidaya Secara Hidroponik. Nuansa
Aulia. Bandung.
Untung O 2000. Hidroponok Sayuran Sistem NFT. PT.Penebar Swadaya. Jakarta.

49

ACARA IV. MEDIA HIDROPONIK


A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Perkembangan teknologi bidang pertanian sangat pesat, sehingga
mereka yang tertinggal dalam memanfaatkan kemajuan teknologi tidak
akan memperoleh keuntungan yang maksimal dari kegiatan usaha yang
dilakukannya. Salah satu perkembangan teknologi budidaya pertanian
yang layak disebarluaskan adalah teknologi hidroponik. Hal ini disebabkan
oleh semakin langkanya sumberdaya lahan, terutama akibat perkembangan
sektor industri dan jasa, sehingga kegiatan usaha pertanian konvensional
semakin tidak kompetitif karena tingginya harga lahan. Teknologi
budidaya pertanian sistem hidroponik memberikan alternatif bagi para
petani yang memiliki lahan sempit atau yang hanya memiliki pekarangan
rumah untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dapat dijadikan
sebagai sumber penghasilan yang memadai.
Hidroponik secara umum berarti sistem budidaya pertanian tanpa
menggunakan tanah tetapi menggunakan air yang berisi larutan nutrisi.
Budidaya hidroponik biasanya dilaksanakan di dalam rumah kaca
(greenhouse) untuk menjaga supaya pertumbuhan tanaman secara optimal
dan benar-benar terlindung dari pengaruh unsur luar seperti hujan, hama

50

penyakit, iklim dll. Beberapa keunggulan budidaya sistem hidroponik


antara lain adalah kepadatan tanaman per satuan luas dapat dilipat
gandakan sehingga menghemat penggunaan lahan mutu produk (bentuk,
ukuran, rasa, warna, kebersihan (hygiene), dapat dijamin karena kebutuhan
nutrient tanaman dipasok secara terkendali di dalam rumah kaca, dan tidak
tergantung musim/waktu tanam dan panen dapat diatur sesuai dengan
kebutuhan pasar.
Jenis hidroponik dapat dibedakan dari media yang digunakan untuk
tempat berdiri tegaknya tanaman. Media tersebut biasanya bebas dari
unsur hara (steril), sementara itu pasokan unsur hara yang dibutuhkan
tanaman dialirkan ke dalam media tersebut melalui pipa atau disiramkan
secara manual. Media tanam tersebut
dapat berupa kerikil, pasir, gabus,
55
arang, zeolit, atau tanpa media agregat (hanya air). Yang terpenting adalah
bahwa media tanam tersebut suci hama sehingga tidak menumbuhkan
jamur atau penyakit lainya. Media yang berkualitas untuk sistem
hidroponik dibagi menjadi dua jenis yaitu media organik dan media
anorganik, media anorganik berasal dari bahan alam yang tidak dapat
terdekomposisi sehingga relatif lebih tahan lama, misalnya batu apung,
pasir malang, pasir gunung.
Penggunaan media tanam yang tepat akan memberikan pertumbuhan
optimal bagi tanaman. Apabila media yang digunakan tidak baik dan tidak
cocok maka tanaman tidak dapat tumbuh optimal, yang dapat mengganggu
pertumbuhan dan hasil tanaman. Dengan demikian diperlukan adanya
pengkajian mengenai media tanam yang paling baik untuk budidaya
tanaman hidroponik.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum acara Media Hidroponik adalah :
a. Mengenal jenis dan karateristik dari tiap-tiap jenis bahan subtrat yang
biasa digunakan dalam sistem hidroponik.
b. Menyiapkan bahan dasar subtrat untuk membuat subtrat hidroponik.
c. Mengukur kapasitas menahan air dari tiap-tiap jenis bahan dasar
subtrat hidroponik.
d. Membuat komposisi subtrat hidroponik yang dapat diaplikasiakan
untuk budidaya menggunakan system hidroponik subtrat.
3. Waktu dan Tempat Praktikum

51

Praktikum Acara Media Hidroponik ini dilaksanakan pada hari


Selasa tanggal 11 November 2014 pukul 13.00 WIB sampai selesai.
Bertempat di Rumah Kaca B, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas
Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
Hidroponik atau hydroponics, berasal dari bahasa latin yang terdiri
atas kata hydro yang berarti air dan kata ponos yang berarti kerja, sehingga
hidroponik dapat diartikan sebagai suatu pengerjaan atau pengelolaan air
sebagai media tumbuh tanaman tanpa menggunakan media tanah sebagai
media tanam dan mengambil unsur hara mineral yang dibutuhkan dari
larutan nutrisi yang dilarutkan dalam air. Hidroponik merupakan metode
bercocok tanam tanpa tanah. Bukan hanya dengan air sebagai media
pertumbuhannya, seperti makna leksikal dari kata hidro yang berarti air,
tapi juga dapat menggunakan media-media tanam selain tanah seperti
kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang atau batu bata,
potongan kayu, dan busa (Fazari 2004).
Media tanam hidroponik harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut, yaitu dapat menyerap dari penghantar air, tidak mempengaruhi pH
air, tidak mengubah warna, tidak mudah lapuk dan membusuk. Media
tanam kultur hidroponik dapat dibagi menjadi dua, yaitu media tanam
anorganik, contohnya batu apung yang berasal dari bebatuan larva gunung
berapi. Sifatnya ringan, sukar lapuk, tidak mempengaruhi pH, porous
mudah menyerap dan menyimpan air, serta mengalirkan air dalam jumlah
yang banyak. Batu apung terbaik untuk media tanam hidroponik perlu
direkayasa menjadi sebesar kerikil (Falah 2005).
Menggunakan metoda kultur porous atau agregat biasanya harus
disterilkan terlebih dahulu kerikil-kerikilnya. Mensterilkannya adalah
dengan cara jalan pemanasan atau bisa pula dengan menyikatnya sampai
bersih dengan menggunakan air sabun yang hangat. Menggunakan media
kultur porous ini tergolong mudah. Hanya saja bila menggunakan media
ini tanaman akan mudah kering, berarti kita harus rajin-rajin menyiramnya
(Karsono 2009).

52

Wood residu berasal dari hasil samping tanaman yang telah dipanen,
seperti serpihan kulit kayu dan serbuk gergaji. Sisa-sisa panen tanaman,
bermacam-macam sisa tanaman seperti jerami, klobot jagung, ampas tebu,
sekam. Rabuk organik, baik yang berasal dari hewan maupun tumbuhan.
Penggunaan media ini banyak diformulasikan dengan komposisi tertentu,
Sebelum media digunakan harus disterilkan terlebih dahulu dengan jalan
dipanaskan dengan suhu 71C selama 3 menit atau disterilkan dengan
bahan kimia kloropikrin atau kloropikrin di campur dengan metibromida
(Ashari 2005).
Salah satu media yang dapat digunakan untuk sistem hidroponik
adalah gel. Pengaturan ukuran gel dalam media tanam sangat diperlukan,
karena dapat mempercepat proses penyerapan air dan penyimpanan air
oleh media. Selain itu ukuran gel juga mempengaruhi penyediaan ruang
untuk pengakaran tanaman. Keuntungan lain penggunaan gel dapat
menghindarkan adanya hewan tanah, dapat diberi pewarna sehingga dapat
mempercantik untuk tanaman hias. Selain gel masih ada media tanam lain
yang dapat dimanfaatkan untuk hidroponik (Hakim 2006)
Arang sekam merupakan hasil dari pembakaran kulit gabah. Arang
sekam memiliki sifat kasar sehingga sirkulasi udara tinggi, ringan dengan
berat jenis sekitar 0,2 gr/cm3, kapasitas menahan air tinggi dan dapat
menghilangkan pengaruh penyakit. Arang sekam telah melalui tahap
sterilisasi, sehingga relatif bersih dari hama, bakteri dan gulma
(Sari 2009).

C. Metodologi Praktikum
1. Alat

53

a. Tungku pembakar sekam


b. Pisau
c. Gunting
d. Saringan
e. Timbangan
f. Ember
g. Polibag
h. Gelas takar
i. Alat tulis
2. Bahan
a. Sekam padi
b. Batang pakis
c. Pasir malang
d. Pasir merapi
e. Air
3. Cara Kerja
a. Menyiapkan media yang akan digunakan dalam hidroponik.
b. Membuat komposisi subtrat, dengan perbandingan volume sebagai
berikut :
1) Komposisi A = arang sekam
2) Komposisi B= pasir malang
3) Komposisi C= pakis cacah
4) Komposisi D= arang sekam : pasir malang (1:1)
5) Komposisi E= arang sekam : pakis cacah (1:1).
c. Mengukur kapasitas menahan air pada tiap-tiap jenis bahan subtrat
dan pada beberapa komposisi subtrat hidroponik, dengan cara sebagai
berikut:
1) Mengisi polibag dengan substrat sebanyak 1 L, kemudian
menimbang B1.
2) Menuangkan air sebanyak 1 L (V1) ke dalam polibag yang telah
berisi substrat, menunggu selama 30 menit agar air membasahi
seluruh bagian substrat.
3) Membuat lubang pada bagian bawah polibag (bisa menggunakan
paku atau lidi) sehingga air dapat menetes namun substrat tidak
ikut keluar.
4) Menampung air tetesan tersebut, menunggu beberapa saat sampai
air tidak menetes lagi.
5) Menimbang kembali air polibag berisi substrat setelah dibasahi
(B2).

54

D. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Kapasitas Menahan Air pada tiap-tiap Jenis Substrat dan pada
Beberapa Komposisi Substrat Hidroponik
Kel

Jenis substrat

1
Komposisi A
2
Komposisi B
3
Komposisi C
4
Komposisi D
5
Komposisi E
Sumber : Data Rekapan

Volume air
menetes (ml)
580
800
770
700
700

Berat substrat
basah (gr)
605
256
394
370
500

V1-V2
(ml)
420
200
230
300
300

B2-B1
(gr)
405
46
194
170
300

2. Pembahasan
Media hidroponik dibagi menjadi dua macam jenis yakni media organik
dan media anorganik. Media organik adalah media tanam yang berasal dari
komponen organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman seperti daun,
batang, bunga, buah atau kulit kayu. Penggunaan bahan organik sebagai media
tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan media tanam anorganik
dikarenakan bahan organik mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi

55

tanaman. Media anorganik adalah media tanam yang bahannya mengandung


unsure mineral tinggi yang berasal dari pelapukan batuan induk didalam bumi.
Proses pelapukan tersebut diakibatkan oleh berbagai hal yaitu pelapukan secara
fisik, biologi-mekanik dan kimiawi.
Media organik dan anorganik memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing, adapun kelebihan dari media organik adalah mampu menahan
air dan menyimpan nutrisi yang cukup tinggi, baik bagi perkembangan
mikroorganisme bermanfaat, media lebih ringan, aerasi optimal (porous),
kemampuan menyangga pH tinggi, dan baik untuk perkembangan perakaran.
Sedangkan kekurangan dari media organik adalah media ini tidak permanen,
sterilisasi media sulit dijamin, kelembapan media cukup tinggi sehingga rentan
terhadap serangan virus dan bakteri. Kelebihan dari media anorganik yakni
media lebih permanen, porous dan aerasi optimal, cepat mengatuskan air
sehingga media tidak terlalu lembab, kebersihannya terjamin. Untuk
kekurangan dari media anorganik adalah terlalu cepat mengatuskan air
sehingga nutrisi cepat hilang, media lebih berat karena berupa batuan, dan
bukan media yang baik untuk perkembangan mikroorganisme bermanfaat.
Contoh media organik yaitu arang sekam, pakis cacah, kompos, pupuk
kandang, moss, serbuk gergaji, sabut kelapa. Arang sekam memiliki tingkat
porositas yang baik, dapat berperan sebagai perbaikan struktur tanah sehingga
aerase dan draenase di media tanam lebih baik. Penggunaan sekam bakar untuk
media tanam tidak perlu disterilkan karena mikroba pathogen telah mati selama
proses pembakaran. Sekam bakar memiliki kandungan karbon yang tinggi
sehingga media tanam lebih gembur. Kekurangan sekam bakar yaitu media
cenderung mudah lapuk. Sekam mentah dapat mengikat air sehingga tidak
mudah lapuk, sumber kalium, tidak mudah menggumpal sehingga akar
tanaman tumbuh sempurna. Namun sekam padi mentah cenderung kekurangan
unsur hara.
Batang pakis dibedakan menjadi 2, yaitu batang pakis hitam dan batang
pakis coklat. Dari kedua jenis tersebut, batang pakis hitam lebih umum
digunakan sebagai media tanam. Batang pakis hitam berasal dari tanaman
pakis yang sudah tua sehingga lebih kering. Selain itu, batang pakis ini pun
mudah dibentuk menjadi potongan kecil dan dikenal sebagai cacahan pakis.
Cacahan pakis yang digunakan adalah cacahan pakis matang yang telah

56

melewati proses fermentasi. Cacahan pakis memiliki sifat porous, aerasi baik
tetapi tetap mampu menyimpan air dan dapat memegang tanaman dengan baik
tanpa menimbulkan sifat padat yang berlebihan, bertekstur lunak sehingga
mudah ditembus sistem perakaran.
Media anorganik dapat berupa gel, pasir, kerikil, pecahan batu bata,
spons, tanah liat, vermikulit, gabus, batu karang, batu apung. Untuk pasir
malang merupakan jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam
karena memiliki pori-pori berukuran besar maka pasir menjadi mudah basah
dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi pasir sangat
kecil sehingga mudah terkikis oleh air. Media pasir lebih membutuhkan
pengairan dan pemupukan yang lebih ekstra sehingga pasir jarang digunakan
sebagai media tanam tunggal. Penggunaan pasir sebagai media tanam sering
dikombinasikan dengan campuran bahan anorganik.
Media dalam hidroponik berfungsi sebagai penopang tanaman dan
memiliki syarat seperti struktur yang stabil selama pertumbuhan tanaman,
bebas dari zat berbahaya bagi tanaman, bersifat inert, memiliki daya pegang air
yang baik, drainase dan aerase yang baik (Rahmawaty 2009). Media
hidroponik biasanya bebas dari unsur hara (steril), sementara itu pasokan unsur
hara yang dibutuhkan tanaman dialirkan ke dalam media tersebut melalui pipa
atau disiramkan secara manual. Media tanam tersebut dapat berupa kerikil,
pasir, gabus, arang, zeolit, atau tanpa media agregat.
Media tanam hidroponik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut
yaitu dapat menyerap air, tidak mengubah warna, tidak mudah tidak
mempengaruhi Ph air, tidak mudah lapuk dan membusuk. Media tanam kultur
hidroponik dapat dibagi menjadi dua, yaitu media tanam anorganik dan
organik. Media tanam anorganik contohnya batu apung yang berasal dari larva
gunung berapi sifatnya ringan, sukar lapuk dan tidak mempengaruhi Ph.
(Verma, 2002).
Media yang digunakan kelompok 3 adalah pakis cacah. Hasil dari data
kelompok kami, dengan menggunakan media pakis cacah didapatkan hasil
berat subtrat kering 1052 gram, volume air yang menetes sebesar 770 ml, berat
substrat basah 394 gr, volume media yang dituang air 1 liter (V1 )- volume air
dari media yang menetes (V2) dihasilkan 300 ml, berat media setelah dibasahi
air (B2)- berat media sebelum dibasahi (B1) sebesar 194 gram.

57

Data rekapan kapasitas beberapa jenis media menahan air dari kelompok
1 dengan media arang sekam didapatkan (V1-V2) 420 ml , (B2-B1) 405 gram,
kelompok 2 media pasir malang didapatkan (V1-V2) 200 ml, (B2-B1) 46 gram,
kelompok 4 dengan campuran media arang sekam dan pasir malang dengan
perbandingan 1:1 dihasilkan (V1-V2) 300 ml, (B2-B1) 170 gram. Untuk
kelompok 5 dengan campuran arang sekam dan pakis cacah dengan
perbandingan 1:1 didapatkan hasil (B2-B1) 300 gram, (V1-V2) 300 ml.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan diatas adalah :
a. Media dalam hidroponik berfungsi sebagai penopang tanaman dan
memiliki syarat seperti struktur yang stabil selama pertumbuhan
tanaman, bebas dari zat berbahaya bagi tanaman, bersifat inert,
memiliki daya pegang air yang baik, drainase dan aerase yang baik.
b. Kelebihan dari media organik adalah mampu menahan air dan
menyimpan nutrisi yang cukup tinggi, baik bagi perkembangan
mikroorganisme bermanfaat, media lebih ringan, aerasi optimal
(porous), kemampuan menyangga pH tinggi, dan baik untuk
perkembangan perakaran. Sedangkan kekurangan dari media
organik adalah media ini tidak permanen, sterilisasi media sulit
dijamin, kelembapan media cukup tinggi sehingga rentan terhadap
serangan virus dan bakteri.
c. Kelebihan dari media anorganik yakni media lebih permanen,
porous dan aerasi optimal, cepat mengatuskan air sehingga media
tidak terlalu lembab, kebersihannya terjamin. Untuk kekurangan
dari media anorganik adalah terlalu cepat mengatuskan air sehingga
nutrisi cepat hilang, media lebih berat karena berupa batuan, dan
bukan media yang baik untuk perkembangan mikroorganisme
bermanfaat.
d. Hasil dari kelompok 3 yaitu dengan media pakis cacah hasil berat
subtrat kering 1052 gram, volume air yang menetes sebesar 770 ml,
berat substrat basah 394 gr, V1- V2 dihasilkan 300 ml, B2- B1
sebesar 194 gram.

58

e. Percampuran media arang sekam dan pasir malang yang


ditambahkan 1 L air lebih cepat mengetaskan air dibandingkan
dengan perbandingan arang sekam dan pakis cacah dengan air 1 L.
f. Cacahan pakis memiliki sifat porous, aerasi baik tetapi tetap
mampu menyimpan air dan dapat memegang tanaman dengan baik
tanpa menimbulkan sifat padat yang berlebihan, bertekstur lunak
sehingga mudah ditembus sistem perakaran.
g. Berdasarkan data rekapan kapasitas beberapa jenis media menahan
air dari kelompok 1 dengan media arang sekam didapatkan (V1V2) 420 ml , (B2-B1) 405 gram, kelompok 2 media pasir malang
didapatkan (V1-V2) 200 ml, (B2-B1) 46 gram, kelompok 4 dengan
campuran media arang sekam dan pasir malang dengan
perbandingan 1:1 dihasilkan (V1-V2) 300 ml, (B2-B1) 170 gram.
Untuk kelompok 5 dengan campuran arang sekam dan pakis cacah
dengan perbandingan 1:1 didapatkan hasil (B2-B1) 300 gram, (V1V2) 300 ml.
2. Saran
Saran yang dapat diberikan untuk praktikum hidroponik vertikultur
adalah tim Co-ass harus lebih membaur dengan praktikan agar saat
praktikan kesulitan dapat langsung bertanya kepada co-ass.

DAFTAR PUSTAKA
Ashari Sumeru 2005. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia (UIPress) 485 hal.

59

Verma S K 2002. Plant Physiology. S. Chand & Company LTD. USA.


Fazari

Sri
Nurilla
2004.
Hidoponik
Tanaman
Tanpa
Tanah.
http://anekaplanta.wordpress.com/2007/12/21/hidroponik/. Di akses pada
tanggal 5 Desember 2014 pada pukul 19.00 WIB..

Falah A 2005 . Pertanian Hidroponik Dengan Deep-sea Water. Artikel Iptekbidang Biologi, Pangan, dan Kesehatan 9 Juni 2005.
Hakim 2006. Kapasitas Penyerapan dan Penyimpanan Air pada Berbagai Gel
dari Tepung Karaginan untuk Pembuatan Media Tanam Jeloponik.
Universitas Diponegoro. Semarang.
Karsono Sudibyo Sudarmojo Yos Sutiyoso 2009. Hidroponik Skala Rumah
Tangga. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Rahmawaty Novi 2009. Pengaruh Varietas dan Konsistensi Ethepan pada
Pertumbuhan dan Hasil Panen Tanaman Mentimun Dalam Budidaya
Hidroponik. IPB. Bogor.
Sari Anna Yuda Norma 2009. Pengaruh Jumlah Buah dan Pangkas Pucuk
Terhadap Kualitas Buah pada Budidaya Melon dengan Sistem
Hidroponik. IPB. Bogor.

V. PERSEMAIAN
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Indonesia memungkinkan untuk mengembangkan tanaman sayursayuran bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Ditinjau dari
aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk mengembangkan bisnis

60

sayuran. Sayur-sayuran termasuk unsur yang sangat penting dalam bahan


makanan manusia. Salah satu cara perbanyakan atau perkembangbiakan
tanaman sayuran adalah secara generatif. Cara perbanyakan ini biasanya
dilakukan pada tanaman yang menghasilkan biji karena seringkali yang
digunakan adalah bijinya. Melalui biji ini dapat menanamnya secara
langsung maupun dengan persemaian. Secara langsung maksudnya yaitu
biji yang siap ditanam, atau sebagai benih, langsung disebar pada lahan
atau areal pertanaman. Sedangkan secara persemaian atau pembibitan
yaitu menanam benih pada tempat khusus terlebih dahulu sampai pada
umur tertentu tergantung dari jenis tanamannya. Biasanya benih untuk
persemaian ini berasal dari sayuran yang berbiji halus.
Secara umum tujuan dari persemaian ini adalah untuk memperoleh
bibit yang baik dan seragam. Namun tidak begitu saja usaha persemaian
ini selalu berhasil baik, disini sangat diperlukan perawatan dan
pengawasan sampai pada tahap pemindahan bibit. Biasanya kekurangan
dari pembibitan terjadi karena rusaknya akar pada saat pemindahan
tanaman sehingga penting untuk mengetahui cara persemaian yang baik
dan tepat dalam rangka meningkatkan mutu hasil. Praktikum ini dapat
diperbandingkan hasil persemaian antara berbagai jenis sayuran, dimana
dasar perbandingannya melalui kecepatan kecambah dan daya kecambah
dari masing-masing sayuran tersebut. Mengingat pentingnya manfaat
persemaian bagi sebagian besar produk sayuran.
Pemindahan bibit harus benar-benar dilakukan secara hati-hati agar
ketika mencabut bibit tidak merusak struktur perakaran. Dalam
menyelenggarakan persemaian perlu diperhatikan cara-cara yang benar
dan tepat serta diperhitungkan untung dan ruginya. Praktikum ini nanti
67
akan dapat diperbandingkan hasil persemaian antara berbagai jenis
sayuran, dimana dasar perbandingannya adalah melalui kecepatan
kecambah dan daya kecambah dari masing-masing sayuran tersebut.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum acara Persemaian adalah :
a. Memberi pengalaman kepada mahasiswa untuk membuat bibit sayuran
daun yang siap untuk dipindah tanam ke dalam system hidroponik.
b. Menghasilkan bibit selada hijau, bayam, pakcoy, dan kailan yang
berkualitas.
3. Waktu dan Tempat

61

Praktikum Acara Persemaian ini dilaksanakan pada hari Selasa


tanggal 28 Oktober 2014 pukul 13.00 WIB sampai selesai. Bertempat di
Rumah Kaca B, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
Media untuk persemaian harus dicampur dengan pupuk kandang
agar bibit cepat tumbuh besar dan sehat. Selanjutnya

apabila

memungkinkan dilakukan pembubungan dengan daun pisang untuk


meningkatkan daya tumbuh pada saat pemindahan ke lapangan. Sekitar 5
hari sebelum ditanam, atap persemaian harus dibuka supaya bibit menjadi
terbiasa terkena sinar matahari (Simatupang 2005).
Benih dapat langsung disebar ditempat tanam permanen (direct
seeding) atau mula-mula dalam tempat dimana tanaman muda dapat
dipindahkan (transplanting) sekali atau dua kali sebelum pananaman
permanen. Penyemaian atau pembibitan ditujukan untuk menanam bibit
atau semai untuk memberikan pengaturan lingkungan yang lebih tepat
selama tahap perkecambahan yang gawat dan awal pertumbuahan bibit.
Proses pembibitan merupakan bagian khusus dari pembiakan tanaman
dengan biji (Oschse 2003).
Persemaian dapat dilakukan diatas bedegan atau didalam kotak
persemaian. Sebaiknya persemaian dilakukan pada tempat yang dekat
dengan sumber air. Bagian dasar kotak dibuat lubang lubang tempat
keluarnya air siraman. Kemudian kedalam kotak dimasukkan tanah, pasir
dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Sehari sebelum benih

62

ditabur, persemaian dibasahi kemudian dibuat alur alur kecil. Benih yang
ditabur harus bebas hama dan penyakit sehingga perlu adanya perlakuan
khusus. Tujuannya adalah untuk menghancurkan jasad yang menimbulkan
penyakit pada benih, mencegah infeksi pada kecambah dan menyelimuti
benih

dengan

suatu

fungisida

untuk

mencegah

kebusukan

(Tim Penulis PS 2006).


Kegiatan usaha tani biji bijian di Indonesia masih dilaksanakan
secara tradisional khususnya penanaman kedelai masih dilakukan dengan
tugal. Penanaman dengan menggunakan tugal tidak efisien karena
membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang banyak. Salah satu cara
meningkatkan efisiensi penanaman kedelai dengan menggunakan alat
penanaman. Penanaman yang menggunkan alat sistem pembagi silinder
alur vertikal lebih baik dibandingkan dengan alat yang lain. Keragaman
distribusi benih dan alat penanam menyulitkan pendugaan kebutuhan
benih dilapang (Surtaya 2005).
Sebelum benih disemaikan, sebaiknya dilakukan treatment guna
membangun perkecambahan benih tersebut yaitu benih direndam dalam
air panas mendidih (80C) selama 15-30 menit. Setelah itu benih direndam
kembali dalam air dingin sekitar 24 jam lalu ditiriskan untuk selanjutnya
benih siap untuk disemaikan. Lokasi persemaian dipilih tempat yang datar
atau dengan derajad kemiringan maksimal 5%, kondisi tanahnya gembur
dan subur, tidak berbatu/kerikil, tidak mengandung tanah liat. Penyiraman
sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari. Penyiraman yang optimal
akan memberikan pada semai/bibit (Janick 2003).

63

C. Metodologi Praktikum
1. Alat
a. Bak/tray pembibitan
b. Ember
c. Cethok kecil
d. Bilah bambu
e. Daun penutup tray
f. Spray tangan
2. Bahan
a. Benih Kailan
b. Benih bayam (Amaranthus sp)
c. Benih selada (Lactuva sativa)
d. Benih pakcoy (Brassica rapa)
e. Kompos
f. Arang sekam
g. Larutan nutrisi mix A B
h. Air
3. Cara Kerja
1) Menyiapkan media dengan cara diaduk agar komposisi merata,
kemudian dilembabkan.
2) Menyiapkan tray/bak pembibitan dengan memberikan ruang
drainase secukupnya.
3) Menaruh media kedalam tray/bak pembibitan dengan ketebalan 5
cm.
4) Membuat alur tanam sedalam 1 cm, dengan jarak antar alur 3 cm
dengan menggunakan potongan bambu.
5) Menaburkan benih kecil (sawi, pakcoy, kailan) di sepanjang alur
dengan perlahan-lahan, masing-masing 3 4 butir tiap selang 2
cm.
6) Menutup alur perlahan-lahan dengan media, dan pastikan benih
tertutup media.
7) Meletakkan tray di tempat yang teduh selama 2 hari (atau dapat
juga ditutup dengan seresah daun pisang/jati).
8) Menyingkirkan penutup tray dan pindahkan tray pembibitan pada
tempat yang memperoleh paparan matahari pagi pada hari ke tiga.
9) Melakukan pemeliharaan rutin dengan menyiramnya setiap hari
menggunakan larutan nutrisi dengan kepekatan rendah.

64

D. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil Pengamatan

Gambar 5.1 Benih Pak Coy

Gambar 5.2 Bak Persemaian

65

Gambar 5.3 Bak yang telah diisi media Gambar 5.4 Pak Coy Siap Tanam
2. Pembahasan
Penyemaian adalah cara untuk menanam suatu jenis tanaman melalui
semai atau dapat juga disebut dengan cara menanam tidak langsung. Arti
penting persemaian yaitu memudahkan pengendalian hama dan penyakit,
dapat menyeleksi bibit tanaman yang seragam, mempermudah pemeliharaan
karena dilakukan pada lahan yang sempit. Persemaian juga dapat
memperpendek waktu tumbuh dilahan sehingga mempercepat pemeliharaan
dilahan yang akan mengurangi biaya pemeliharaan.
Media tanam hidroponik merupakan bagian yang penting untuk
menunjang keberhasilan dan perkembangan tanaman. Maka syarat media
persemaian yang digunakan adalah porous, dapat menjaga kelembaban,
bersih dan bebas hama maupun penyakit, berpH netral antara 5,5 6,5.
Untuk persemaian dapat digunakan media berupa pasir halus, arang sekam
atau rockwool. Pasir halus sering digunakan karena harganya murah, mudah
di peroleh, namun kurang dapat menahan air dan tidak terdapat nutrisi
didalamnya. Media yang biasa digunakan adalah campuran arang sekam,
serbuk gergaji, dan sabut kelapa.
Syarat benih yang digunakan untuk persemaian adalah benih yang
baik secara fisik dan fisiologis. Benih yang baik secara fisiologis adalah
benih yang memiliki daya dan kecepatan berkecambah yang tinggi,
memiliki viabilitas dan vigor benih. Benih yang baik secara fisik yaitu benih
harus bersih, memiliki warna yang baik, bernas, dan bebas dari kotoran.
Bahan tanam yang akan ditanam harus bermutu dan memiliki kualitas yang
unggul.
Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain
adalah tingkat kemasakan benih, benih yang dipanen sebelum mencapai
tingkat kemasakan fisiologis tidak mempunyai viabilitas tinggi. Ukuran

66

benih, Bahan-bahan tersebut diperlukan sebagai bahan baku dan energi bagi
embrio saat perkecambahan. Dormansi, benih dorman adalah benih yang
sebenarnya hidup tetapi tidak mau berkecambah meskipun diletakkan pada
lingkungan yang memenuhi syarat untuk berkecambah. Penghambat
perkecambahan, Banyak zat-zat yang diketahui dapat menghambat
perkecambahan benih. Sedangkan Faktor luar yaitu Air, Suhu, Oksigen,
Cahaya, dan Medium yang di gunakan (Sutopo 2003).
Faktor yang berpengaruh dalam persemaian adalah faktor lingkungan
utama yang dapat mempengaruhi keadaan pertanaman dan produksi benih
adalah iklim (cahaya, suhu, curah hujan, dan angin), tanah (kesuburan dan
kelembaban),

faktor

biologis(hama,

penyakit,

gulma,

dan

hewan

penyerbuk). Selain itu yang berpengaruh terhadap penyemaian benih ini


adalah faktor kerapatan jarak pada media tanam saat penyemaian. Karena
kerapatan mempengaruhi terjadinya kompetisi, semakin rapat jarak tanam
maka kompetisi antara tanaman satu dengan yang lainnya semakin besar
pula. Sehingga mempengaruhi laju pertumbuhan benih, perkecambahan
benih, dan pertumbuhan tanaman.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, kelompok kami
menyemaikan benih pakcoy sebelum di tanam pada sistem hidroponik.
Pakcoy merupakan salah satu tanaman jangka pendek sehingga dapat di
panen 21 HST. Media persemaian yang digunakan adalah arang sekam.
Arang sekam di tempatkan pada bak persemaian yang telah di lapisi plastik.
Jarak tanam antara satu tanaman dengan tanaman yang lainnya dalah 3 x 4
cm dan di buat lubang tanam. Kemudian menyiram media hingga cukup
basah dan menanam benih pakcoy pada setiap lubang tanam.
Persemaian dilakukan dalam bak dengan ketebalan media arang
sekam sekitar 5 8 cm. media dibasahi dengan air hingga kapasitas lapang
maksimal namun jangan terlalu becek atau banyak air karena dapat
menyebabkan benih membusuk. Setelah itu membuat alur tanam dengan
kedalaman 1 cm dan jarak antar alur sekitar 5 cm. menaburkan benih
tanaman pada alur tanaman tersebut. Menutup dengan media dan disemprot
kembali dengan sprayer.
Pemeliharaan pada saat persemaian yaitu dilakukan pada benih sampai
berumur sekitar dua minggu dengan menempatkan benih pada screening.

67

Menyiram benih secara rutin agar perkecambahannya tumbuh dengan baik.


Pemindahan bibit dilakukan pada saat benih berumur 2 minggu dan
dipindah pada sistem hidroponik yang telah disiapkan. Kondisi bibit pakcoy
sebelum ditransplanting yaitu bibit tumbuh dengan baik, kokoh dan siap
untuk ditransplanting.

E. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan diatas adalah :
a. Arti penting persemaian yaitu memudahkan pengendalian hama dan
penyakit, dapat menyeleksi bibit tanaman yang seragam, mempermudah
pemeliharaan karena dilakukan pada lahan yang sempit. Persemaian juga
dapat memperpendek waktu tumbuh dilahan sehingga mempercepat
pemeliharaan dilahan yang akan mengurangi biaya pemeliharaan.
b. Syarat media persemaian yang digunakan adalah porous, dapat menjaga
kelembaban, bersih dan bebas hama maupun penyakit, berpH netral
antara 5,5 6,5.
c. Faktor lingkungan utama yang dapat mempengaruhi keadaan pertanaman
dan produksi benih adalah iklim (cahaya, suhu, curah hujan, dan angin),
tanah (kesuburan dan kelembaban), faktor biologis (hama, penyakit,
gulma, dan hewan penyerbuk).
d. Syarat benih yang digunakan untuk persemaian adalah benih yang baik
secara fisik dan fisiologis.
e. Pemeliharaan pada saat persemaian yaitu dilakukan pada benih sampai
berumur sekitar dua minggu dengan menempatkan benih pada screening.
Menyiram benih secara rutin agar perkecambahannya tumbuh dengan
f.

baik.
Hasil persemaian kelompok 3 yaitu bibit pakcoy tumbuh dengan baik,

kokoh dan siap untuk ditransplanting pada umur 2 minggu.


2. Saran
Saran yang dapat diberikan untuk praktikum adalah sebaiknya saat
mencabut tanaman untuk dipindah tanamkan dilakukan dengan hati-hati
agar tidak merusak akar yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

68

DAFTAR PUSTAKA
Oschse J J 2003. Vegetables The Duth East Indies. Macmillan Co. Ltd. New York.
Simatupang J 2002. Pengaruh Pemberian Posfat dan Naungan Terhadap Produksi
Sutarya 2005. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. Universitas Gajah
Mada Press. Yogyakarta
Sutopo 2003. Bertanam Terung. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Tim Penulis PS 2006. Budidaya Tomat Secara Komersial. Penebar Swadaya.
Bogor.
Warsito 2000. Produksi Tanaman Sayuran. Soeroengan. Jakarta.