Anda di halaman 1dari 90

KARAKTERISTIK HABITAT BANTENG

(Bos javanicus dAlton 1832) DI TAMAN NASIONAL


MERU BETIRI, JAWA TIMUR

FIONA HANBERIA INNAYAH

DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

KARAKTERISTIK HABITAT BANTENG


(Bos javanicus dAlton 1832) DI TAMAN NASIONAL
MERU BETIRI, JAWA TIMUR

FIONA HANBERIA INNAYAH

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

RINGKASAN
FIONA HANBERIA INNAYAH. E34062067. Karakteristik Habitat Banteng
(Bos javanicus dAlton 1832) di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur.
Dibimbing oleh ABDUL HARIS MUSTARI dan LIN NURIAH GINOGA
Banteng (Bos javanicus dAlton 1832) merupakan salah satu mamalia
besar di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Data IUCN 2008 Red List of
Threatened Animals menyatakan bahwa banteng termasuk dalam kategori
Endangered species (terancam punah). Banteng juga termasuk dalam satwa
dilindungi menurut PP RI No. 7 Tahun 1999. Permasalahan banteng di TNMB
yaitu masuknya banteng ke dalam areal perkebunan milik swasta yaitu PT.
Perkebunan Bandealit dan PT. Perkebunan Sukamade Baru. Oleh karena itu,
diperlukan kajian mengenai karakteristik habitat banteng untuk mengetahui
ketersediaan pakan, air, dan cover sebagai dasar upaya pelestarian banteng.
Penelitian ini dilakukan di tiga Seksi Wilayah Pengelolaan TNMB yaitu
SPTN W I Sarongan, SPTN W II Ambulu, dan SPTN W III Kalibaru. Penelitian
dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2010. Pengukuran struktur dan komposisi
vegetasi dilakukan dengan analisis vegetasi metode garis berpetak. Pengamatan
terhadap jenis-jenis pakan banteng dilakukan melalui pengamatan bekas
renggutan, studi literatur, dan wawancara. Pengukuran produktivitas, palatabilitas,
dan daya dukung dilakukan dengan membuat plot sampel 1x1 m. Pengamatan
karakteristik cover dilakukan dengan cara mengidentifikasi jenis-jenis cover yang
digunakan banteng. Data karakteristik sumber air diperoleh dengan cara
inventarisasi sumber air yang terdapat di tiap lokasi pengamatan.
Banteng bersifat intermediet yaitu antara grazer dan browser. Jenis-jenis
tumbuhan pakan banteng yang ditemukan di lokasi penelitian sebanyak 25 jenis
yang sebagian besar diperoleh dari perkebunan. Produktivitas pakan banteng
untuk Blok Banyuputih yaitu 463,92 kg/ha/hari dapat menampung 16 ekor
banteng. Pakan yang memiliki palatabilitas tertinggi pada Blok Banyuputih dan
Blok Sikapal yaitu jenis paitan (Paspalum conjugatum). Sebagian besar cover
yang digunakan banteng berupa tajuk pohon dan rumpun bambu yang berfungsi
sebagai pelindung dari sinar matahari. Sumber air minum sebagian besar berupa
aliran sungai menuju muara. Sumber air yang ditemukan di lokasi penelitian yaitu
Sungai Sumbersari, Sungai Cawang, Sungai Kali Sanen dan Sungai Banyuputih.
Habitat yang paling diminati banteng di TNMB yaitu Blok Banyuputih dengan
terdapatnya areal perkebunan dan hutan hujan tropis dataran rendah yang
menyediakan pakan, air dan cover. Kurang optimalnya fungsi habitat banteng di
TNMB mengakibatkan perpindahan banteng ke areal perkebunan dan memicu
terjadinya perburuan liar oleh masyarakat. Untuk menanggulangi hal tersebut
diperlukan pengelolaan habitat banteng secara intensif agar banteng tidak
memasuki areal perkebunan.
Kata kunci : karakteristik habitat, banteng, pakan, cover

SUMMARY
FIONA HANBERIA INNAYAH. E34062067. Habitat Characteristics of
Banteng (Bos javanicus d'Alton 1832) in Meru Betiri National Park, East
Java. Under supervision of ABDUL HARIS MUSTARI and LIN NURIAH
GINOGA
Banteng (Bos javanicus d'Alton 1832) is one of the large mammals in
Meru Betiri National Park (MBNP). IUCN 2008 Data Red List of Threatened
Animals listed banteng as endangered species. Banteng is a protected species
according to The Government Regulation of Republic of Indonesia No. 7 / 1999.
The main problem of banteng in Meru Betiri National Park was invasion banteng
to the private plantation area of PT. Perkebunan Bandealit and PT. Perkebunan
Sukamade Baru. Therefore, study of banteng habitat characteristics was needed to
determine food, water, and cover availability as basis for banteng conservation
effort.
This research was held in three National Park Management Sections
(SPTN), including SPTN W I Sarongan, SPTN W II Ambulu, and SPTN W III
Kalibaru. This research was held in July-August 2010. Structure and composition
of vegetation studied using line transect method of vegetation analysis. The
observation of bantengs food plants was done through by observation of
browsing signs. Measuring of productivity, palatability, and carrying capacity was
done by making of plot sampling 1x1 m. Cover characteristics observation was
done by identifying of cover types which used by banteng. The data of water
sources characteristic was obtained by water resources inventory in each location.
Banteng included to the intermediate group between grazer and browser
ungulata. The types of bantengs feed in study sites contained of 25 species,
mostly obtained from the plantation area. Productivity of bantengs feed in
Banyuputih Block is 463,92 kg/ha/day for 16 banteng. The highest palatability of
bantengs feed at Banyuputih Block and Sikapal Block is paitan (Paspalum
conjugatum). Most of cover used by banteng was tree canopy and bamboo which
has the function as a protection from the sun. Most of water sources for drink are
the river flow to the estuary. The water sources in location are Sumbersari River,
Cawang River, Sanen Kali River and Banyuputih River. The preferable habitat of
banteng was Banyuputih Block which contains plantation area and low land rain
forest that provide feed, water and cover. Habitat function in TNMB is less than
optimal caused by banteng moved to the plantation areal and it rendered wild
hunting by local people. To overcome the problem, it is required intensive habitat
management for banteng in order to prevent banteng enter the plantation area.

Key words: habitat characteristic, banteng, feed, cover

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Karakteristik Habitat
Banteng (Bos javanicus dAlton 1832) di Taman Nasional Meru Betiri adalah
benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan
belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tunggi atau
lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2011

Fiona Hanberia Innayah


NRP E34062067

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi

: Karakteristik Habitat Banteng (Bos Javanicus dAlton


1832) di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur

Nama

: Fiona Hanberia Innayah

NRP

: E34062067

Departemen

: Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Fakultas

: Kehutanan

Menyetujui,

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si.

Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc .F


NIP 196510151991031003

NIP: 196511161992032001

Mengetahui,
Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS


NIP 195809151984031003

Tanggal Pengesahan :

KATA PENGANTAR

Penulis memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala
curahan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Judul yang
dipilih pada skripsi ini yaitu Karakteristik Habitat Banteng (Bos Javanicus
dAlton 1832) di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Abdul Haris
Mustari, M.Sc.F dan Ibu Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si. selaku pembimbing
pertama dan kedua dalam skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyususnan skripsi ini.
Dengan segala kekurangan, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan
manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Penulis mencoba untuk
menyususn skripsi ini dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan saran dan kritik demi penyempurnaan dan pengembangan
penelitian selanjutnya.

Bogor, Maret 2011

Penulis

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Fiona Hanberia Innayah


dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 8 Januari
1989. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara
pasangan Bernadi Susanto dan Hanum Rakhmi. Mempunyai
seorang adik bernama Dzikrina Qori. Pendidikan formal yang
ditempuh yaitu Taman Kanak-kanak Tunas Harapan Bangsa
Jatinegara, Jakarta Timur dilanjutkan dengan Sekolah Dasar
Negeri Perwira I Bekasi Utara pada tahun 1993-2000. Kemudian penulis
melanjutkan Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Bekasi pada Tahun 2000-2003
dan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bekasi pada tahun 2003-2006. Pada tahun
2006 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi
Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Pada tahun 2007 program mayor minor
penulis mendapatkan mayor Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata,
Fakultas Kehutanan,IPB.
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa
IPB Tahun 2006-2007, Bela diri pencak silat Merpati Putih tahun 2006-2010,
Anggota Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
(HIMAKOVA). Pada tahun 2007 penulis menjabat sebagai anggota Kelompok
Pemerhati Ekowisata (KPE) dan Fotografi Konservasi (FOKA).
Kegiatan lapang yang pernah diikuti penulis adalah RAFFLESIA di Cagar
Alam Gunung Simpang, SURILI (Studi Konservasi Lingkungan) di Taman
Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kalimantan Barat. Praktek Pengenalan
Ekosisitem Hutan (PPEH) di Cilacap-Baturaden, Praktek Pengelolaan Hutan
(PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi. Pada tahun 2010 penulis
melakukan Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Baluran.
Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan penulis melakukan penelitian
di Taman Nasional Meru Betiri dengan judul Karakteristik Habitat Banteng (Bos
Javanicus dAlton 1832) di Taman Nasional Meru Betiri selama kurang lebih dua
bulan dan dibimbing oleh Bapak Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc.F dan Ibu Ir.
Lin Nuriah Ginoga, M.Si.

UCAPAN TERIMA KASIH


Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya serta
shalawat serta salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah
memberikan kekuatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Penulis
menyadari bahwa terlaksananya penelitian hingga penyusunan skripsi ini tidak
terlepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung
maupun tidak langsung dalam bentuk moril maupun materil, oleh karena itu pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Orang tua tercinta Bapak Bernadi Susanto (papa), Hanum Rakhmi (mama),
Dzikrina Qori (adik) serta anggota keluarga lainnya atas doa, kasih sayang dan
dukungannya

2. Dosen pembimbing Bapak Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc.F dan Ibu Ir. Lin
Nuriah Ginoga, M.Si. yang telah memberikan arahan, bimbingan serta saran
selama penelitian hingga penulisan skripsi ini.
3. Dosen penguji Bapak Prof. Dr. Ir. Surdiding Ruhendi, M.Sc., Bapak Prof. Dr.
Ir. Hardjianto, MS. Dan Ir. Iwan Hilwan, MS
4. Dosen beserta staf KPAP atas bimbingan serta pelayanan selama penulis
mendapat ilmu di Departemen Konservasi Sumbersaya Hutan dan Ekowisata,
Fakultas Kehutanan, IPB
5. Dosen, seluruh staf, dan teman-teman Fakultas Kehutanan dari MNH, THH,
dan SVK,
6. Taman Nasional Meru Betiri yang telah memberikan izin melakukan
penelitian di kawasan Taman Nasional
7. Seluruh staf Taman Nasional Meru Betiri baik yang di kantor maupun di
lapangan yang memberi bantuan demi kelancaran penelitian ini. Bapak
Wiwied Widodo, Bapak Seno, Ibu Nisa, Ibu Sulis, Mas Nugroho, Bapak
Djoel.
8. Seluruh keluarga besarku KSHE 43 Cendrawasih terima kasih atas segala
dukungan dan kasih sayang serta bantuan yang tak terhingga sampai akhir
penulisan skripsi ini

9. Teman seperjuangan penelitian Kemas Robby Wirawan serta keluarga baruku


dari TNMB Arief, Ryan, Syarifah, Sasmanu, Febri, Dimas. Agri, Faisal,
Sandy, Rahmi, Nanda, Wafi, Adi, Yudi atas bantuannya dan dukungannya
selama di lapang.
10. Kakak-kakak kelas dan adik-adik kelas di DKSHE
11. Keluarga besar HIMAKOVA
12. Semua pihak yang telah membantu di lapangan mas Fendi, mas Ketut, mas
Andri, mas Eko, mas Parno, mas Jumadi, Bapak Slamet, Bapak Warno, Bapak
Budi, Bapak Hasyim, Bapak Dedi, Bapak Luki, Bapak Sam dll.
13. Pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu

Bogor, Maret 2011

Fiona Hanberia Innayah

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... vi
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Tujuan Penelitian ........................................................................ 2
1.3 Manfaat Penelitian ...................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Taksonomi ................................................................................... 3
2.2 Morfologi dan Fisiologi .............................................................. 3
2.3 Perilaku ....................................................................................... 5
2.4 Populasi dan Penyebaran ............................................................ 5
2.5 Reproduksi .................................................................................. 6
2.6 Habitat ......................................................................................... 7
2.7 Pakan ........................................................................................... 8
2.8 Status Konservasi ........................................................................ 10
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................... 12
3.2 Alat dan Bahan ............................................................................ 13
3.3 Jenis Data ................................................................................... 13
3.4 Metode Pengumpulan Data ......................................................... 14
3.5 Analisis Data ............................................................................... 17
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Potensi Fisik Kawasan ................................................................ 20
4.2 Potensi Biotik Kawasan .............................................................. 23
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Komposisi dan Struktur Vegetasi ............................................... 26
5.2 Karakteristik Habitat ................................................................... 38

5.3 Ancaman dan Implikasi Pengelolaan Habitat Banteng ............... 53


BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 57
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 58
LAMPIRAN ..................................................................................................... 61

DAFTAR TABEL

No.

Halaman

1. Ciri fisik berdasarkan kelas umur banteng jantan ...................................... 4


2. Ciri fisik berdasarkan kelas umur banteng betina ...................................... 4
3. Lokasi penelitian ........................................................................................ 12
4. Alat yang digunakan dalam penelitian ....................................................... 13
5. Data primer penelitian ................................................................................ 14
6. Hasil analisis vegetasi hutan hujan tropis dataran rendah.......................... 26
7. Jenis-jenis vegetasi yang berfungsi cover dan pakan di hutan hujan
tropis dataran rendah .................................................................................. 28
8. Hasil analisis vegetais kebun ..................................................................... 30
9. Jenis-jenis vegetasi yang berfungsi sebagai cover dan pakan di habitat
perkebunan ................................................................................................. 31
10. Hasil analisis vegetasi tumbuhan bawah di Savana Sumbersari ................ 33
11. Hasil analisis vegetasi tumbuhan bawah di Savana Pringtali .................... 34
12. Indeks keanekaragaman jenis tiap tingkat pertumbuhan ........................... 37
13. Jenis-jenis pakan yang dijumpai di TNMB................................................ 38
14. Hasil produksi hijauan di Blok Banyuputih ............................................... 41
15. Hasil produksi hijauan di Blok Sikapal...................................................... 42
16. Hasil pengamatan palatabilitas pakan banteng Blok Banyuputih .............. 45
17. Hasil pengamatan palatabilitas pakan banteng Blok Sikapal ..................... 45
18. Hasil pengamatan bentuk dan fungsi cover ............................................... 46
19. Hasil pengamatan parameter fisik sumber air yang digunakan banteng .... 50

DAFTAR GAMBAR

No.

Halaman

1. Kondisi fisik (a) Banteng jantan, (b) Banteng betina dan anak ................ 4
2. Peta penyebaran banteng di Jawa dan Kalimantan .................................... 6
3. Peta lokasi penelitian ................................................................................. 12
4. Metode analisisi vegetasi garis berpetak .................................................... 15
5. Habitat hutan hujan tropis dataran rendah ................................................. 29
6. Habitat perkebunan .................................................................................... 31
7. Habitat Savana Sumbersari ........................................................................ 34
8. Habitat Savana Pringtali............................................................................. 35
9. Hasil renggutan banteng............................................................................. 39
10. Persentase keberadaan potensi pakan banteng ........................................... 40
11. Plot pengamatan produktivitas Blok Banyuputih ...................................... 42
12. Plot pengamatan produktivitas Blok Sikapal ............................................. 43
13. Bentuk-bentuk cover banteng di TNMB, (a) Blok Sikapal; (b) Blok
Banyuputih; (c) Blok Balsa dan Kedungwatu; (d) Savana Pringtali; (e)
Savana Sumbersari; (f) Blok 90an Coklat dan Karet (f) ........................... 49
14. Sumber-sumber air sungai di TNMB, (a) Sungai Sikapal; (b) Sungai
Sumbersari; (c) Sungai Banyuputih; (d) Sungai Cawang; (e) Parit
kebun; (f) Muara Sukamade ..................................................................... 52

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Halaman

1. Hasil perhitungan analisis vegetasi savana ................................................. 62


2. Hasil perhitungan analisis vegetasi perkebunan ......................................... 63
3. Hasil perhitungan analisis vegetasi hutan hujan tropis datarn rendah ........ 67
4. Profil pohon hutan Blok Banyuputih .......................................................... 71
5. Profil pohon hutan Blok Sikapal ................................................................. 72
6. Denah lokasi habitat banteng, Resort Sukamade ........................................ 73
7. Denah lokasi habitat banteng, Resort Bandealit ......................................... 74
8. Denah lokasi habitat banteng Blok Sikapal, Resort Malangsari ................. 75

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Banteng merupakan salah satu mamalia besar yang penyebarannya

terdapat di Burma, Thailand, Indo China, dan Indonesia. Banteng dapat dijumpai
di beberapa daerah di Indonesia, antara lain: Pulau Jawa, Kalimantan, dan Bali
(Lekagul dan McNeely 1977). Di Pulau Jawa, banteng (Bos javanicus) tersebar
di Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional
Alas Purwo, dan Taman Nasional Baluran yang menjadi pertahanan terakhir
hewan asli Asia Tenggara ini. Berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species
(2008), banteng termasuk dalam kategori endangered (terancam punah) namun
tidak termasuk dalam daftar CITES. Sedangkan di Indonesia, pemerintah
memasukan banteng dalam Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999 tentang
pengawetan tumbuhan dan satwa sebagai salah satu satwa yang dilindungi
keberadaannya.
Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) merupakan kawasan pelestarian
alam yang memiliki potensi satwa mamalia besar yang dilindungi yaitu banteng.
Lokasi habitat banteng di TNMB tersebar pada tiga lokasi, yaitu SPTN W I
Sarongan, SPTN W II Ambulu, dan SPTN W III Kalibaru. Berdasarkan
pengamatan Tim Taman Nasional Meru Betiri di SPTN II Ambulu populasi
banteng di Taman Nasional Meru Betiri mengalami peningkatan yakni pada tahun
2002 sebanyak 93 ekor/100 ha dan tahun 2009 menjadi sekitar 102 ekor/100 ha.
Keberadaan suatu populasi sangat dipengaruhi oleh kondisi habitatnya.
Habitat adalah suatu ekosistem sehingga untuk menjamin kelestarian habitat,
kelangsungan hubungan di dalam sistem tersebut harus dipertahankan. Interaksi
antara satwa dengan habitatnya (pakan, air, dan cover) merupakan salah satu
bentuk interaksi yang berperan dalam keseimbangan ekosistem. Pakan, air, dan
cover merupakan faktor pembatas dalam kehidupan satwa. Oleh karena itu ketiga
komponen tersebut harus tersedia dalam jumlah yang cukup bagi kebutuhan
satwa. Pakan harus selalu ada bagi satwa jika tidak tersedia dalam jumlah cukup,
akan terjadi perpindahan untuk mencari daerah baru yang mencukupi kebutuhan

pakannya. Hal ini diduga terjadi pada populasi banteng di TNMB yang merambah
areal perkebunan masyarakat di dalam kawasan taman nasional (PKLP TNMB
2010). Masuknya banteng ke perkebunan milik warga dapat mengancam
kehidupan banteng dengan adanya perburuan liar, karena dianggap sebagai
perusak perkebunan. Oleh karena itu diperlukan kajian mengenai karakteristik
habitat banteng yang meliputi pakan, air, dan cover sebagai salah satu upaya
untuk mengatasi permasalahan yang terdapat dalam habitat banteng.
1.2

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat banteng di

Taman Nasional Meru Betiri yang meliputi:


1. Ketersediaan pakan (potensi pakan, keanekaragaman jenis, produktivitas,
palatabilitas, dan daya dukung).
2. Karakteristik lindungan/cover.
3. Ketersediaan air.
1.3

Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terbaru

mengenai keadaan habitat banteng di Taman Nasional Meru Betiri sehingga dapat
dijadikan masukan dalam pengambilan kebijakan sebagai usaha pelestarian
banteng, selain itu juga dapat memberikan rekomendasi dalam usaha manajemen
habitat banteng di TNMB.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Taksonomi
Banteng (Bos javanicus) memiliki nama lain sapi alas (Jawa), klebo dan

temadu (Kalimantan). Menurut Lekagul dan McNeely (1977) serta Alikodra


(1983), secara taksonomi banteng dapat diklasifikasikan dalam kelas Mamalia dan
masuk dalam famili Bovidae dan sub famili Bovinae, memiliki genus Bos dan
spesies Bos javanicus dAlton 1832. Subspecies di Jawa dan Bali yaitu B.
javanicus javanicus, di Kalimantan B. javanicus lowi, dan di Asian mainland B.
javanicus birmanicus. Hooijer (1956), menyatakan beberapa nama lain dari Bos
javanicus dAlton yaitu Bos leucoprymnus Quoi and Gairmand 1830, Bos
sondaicus Muller 1940, Bos banteng Temminck 1836, dan Bos bantinger Schlegel
and Muller 1845 (Alikodra 1983).
2.2

Morfologi dan Fisiologi


Banteng memiliki bentuk tubuh yang tegap, besar, dan kuat dengan bagian

bahu depan yang lebih tinggi dibandingkan bagian belakang tubuhnya. Ciri khas
yang dimiliki banteng adalah pada bagian pantat terdapat belanga putih, bagian
kaki dari lutut ke bawah seolah-olah memakai kaos kaki berwarna putih, serta
pada bagian atas dan bawah bibir berwarna putih. Banteng jantan memiliki warna
tubuh yang hitam, semakin tua umurnya semakin hitam warnanya serta memiliki
sepasang tanduk berwarna hitam, mengkilap, runcing dan melengkung simetris ke
dalam (Gambar 1). Pada bagian dada banteng jantan terdapat gelambir yang
dimulai dari pangkal depan sampai bagian leher, tetapi tidak mencapai daerah
kerongkongan. Sedangkan banteng betina memiliki warna tubuh cokelat kemerahmerahan, semakin tua umurnya semakin cokelat tua dan gelap warnanya serta
memiliki tanduk yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan banteng jantan
(Gambar 1a). Warna kulit anak banteng (Gambar 1b), baik yang jantan maupun
betina lebih terang dari pada warna kulit banteng betina dewasa, tetapi pada
banteng jantan muda (anak) warna kulitnya lebih gelap sejak berumur antara 12
18 bulan (Alikodra 1983).

(a)

(b)

Gambar 1 Kondisi fisik (a) banteng jantan; (b) banteng betina dan anak.
Menurut Hoorgerwerf (1970) serta Lekagul & McNeely (1977) umur
maksimum banteng berkisar diantara 1025 tahun. Banteng jantan yang berumur
810 tahun mempunyai tinggi bahu 170 cm, sedangkan banteng betina
mempunyai tinggi bahu 150 cm dan berat banteng dapat mencapai 900 kg
(Hoorgerwerf 1970). Secara umum terdapat perbedaan ciri fisik dari masingmasing kelas umur banteng (Tabel 1 dan 2). Hal ini terlihat dari panjang tanduk,
warna tubuh, dan alat kelamin.
Tabel 1 Ciri fisik berdasarkan kelas umur banteng jantan
Kelas umur
Bayi

Umur
(bulan)
0-6

Panjang
tanduk (cm)
1-6

Keterangan lain

Muda

7-14

7-15

Mulai diketahui jenis kelamin dari perubahan


warna

Dewasa

15-30

16-24

Tanduk mulai memutar ke depan, warna tubuh


hitam dan adanya tonjolan penis pada tubuh

Warna tubuh coklat terang sampai cokat


kecerahan

Sumber: Santosa (1985) dan Alikodra (1983)

Tabel 2 Ciri fisik berdasarkan kelas umur banteng betina


Kelas umur
Bayi

Umur
(bulan)
0-6

Panjang
tanduk (cm)
1-4

Muda

7-14

5-10

Mulai diketahui
perubahan warna

Dewasa

15-30

10-16

Warna tubuh coklat tua dan adanya putting susu


serta vagina pada tubuh

Sumber: Santosa (1985) dan Alikodra (1983)

Keterangan lain
Komposisi umur anak banteng tidak dibedakan
jenis kelaminnya
jenis

kelaminnya

dari

Slijper (1984) dalam Alikodra (1983) menyatakan bahwa kerabat dekat


banteng yaitu gaur (Bos gaurus) dan kerbau air (Bubalus bubalis) yang sudah
dikenal sejak zaman Alluvium. Banteng merupakan spesies ketiga yang termasuk
dalam genus Bos di Asia Tenggara, dua spesies lainnya yaitu gaur atau seladang
(Bos gaurus) dan kouprey (Bos sauveli) (Lekagul & McNeely 1977; Medway
1977). Selain itu, terdapat spesies banteng yang telah mengalami domestikasi
yaitu sapi bali (Bos sondaicus) (Anonim 1979 dalam Alikodra 1983).
2.3

Perilaku
Banteng termasuk jenis satwaliar yang hidup berkelompok, sehingga

bergerak dalam kelompok yang terdiri dari individu jantan, betina, dan anakanaknya yang dipimpin oleh banteng betina dewasa yang lebih tua.
Pengelompokkan

yang

dilakukan

merupakan

strategi

dasar

untuk

mempertahankan kelestarian hidupnya dan pemanfaatan pakan yang optimal,


perkawinan, mengasuh dan membesarkan anaknya, serta mempertahankan diri
dari pemangsa (Alikodra 1983). Banteng yang sudah tua dan mendekati waktu
kematian akan memisahkan diri dan menjadi banteng soliter sehingga rawan
untuk menjadi mangsa satwa predator (Hoorgerwerf 1970).
2.4

Populasi dan Penyebaran


Penyebaran banteng meliputi Burma, Thailand, Indo China, dan

Indonesia (Lekagul & McNeely 1977). Banteng juga pernah ditemukan di


Semenanjung Malaysia (Medway 1977). Alikodra (1979) menemukan juga jejakjejak banteng di Suaka Margasatwa Bali Barat. Banteng merupakan satwaliar
yang menyukai daerah hutan yang terbuka dan bervegetasi rumput, oleh karena itu
diduga bahwa pola penyebaran banteng di pulau Jawa dan Kalimantan mengikuti
pola penyebaran hutan yang terbuka. Penyebaran banteng meliputi wilayah yang
cukup luas yaitu dari daerah pantai pada ketinggian 0 meter dari permukaan laut
sampai dengan daerah pegunungan dengan ketinggian 2.132 m dpl (Hoogerwerf
1970). Sebelum tahun 1940, banteng dapat ditemukan pada semua dataran rendah
di Pulau Jawa, tetapi sejak tahun 1983 banteng hanya dapat diketemukan dalam
suaka margasatwa dan cagar alam yang ada di Pulau Jawa. Menurut Alikodra
(1983), di Pulau Jawa banteng hanya dapat ditemukan di kawasan pelestarian

alam seperti Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Baluran, Taman
Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Meru Betiri. Di Kalimantan banteng
hidup di sepanjang Sungai Mahakam dan di Kalimantan Barat bagian tengah
(Lekagul & McNeely 1977), sedangkan di Bali banteng berada di Taman Nasional
Bali Barat (Gambar 2).

Gambar 2 Peta penyebaran banteng di Jawa dan Kalimantan.


Hoorgerwerf (1970), menduga bahwa sekitar tahun 1940 populasi banteng
di Jawa tidak lebih dari 2.000 ekor, sebagian besar terdapat dalam kawasan
perlindungan dan di dataran rendah sebelah selatan Jawa. Populasi tersebut
menurun terus menerus dari tahun ke tahun, hingga tahun 1978 populasi banteng
yang ada di Pulau Jawa diperkirakan tidak lebih dari 1.500 ekor. Berdasarkan
pengamatan Tim Taman Nasional Meru Betiri (2002 dan 2009) di SPTN II
Ambulu populasi banteng di Taman Nasional Meru Betiri mengalami peningkatan
yakni pada tahun 2002 sebanyak 93 ekor/100 ha dan tahun 2009 menjadi sekitar
102 ekor/100 ha.
2.5

Reproduksi
Banteng melakukan perkawinan dalam suatu periode waktu tertentu

tergantung dari lokasinya. Menurut Lekagul & Mcneely (1977), musim kawin

banteng di Thailand adalah dalam bulan Mei dan Juni. Sedangkan Hoogerwerf
(1970) menyatakan bahwa musim kawin banteng di Taman Nasional Ujung Kulon
adalah bulan Juli, September dan Oktober, kadang-kadang juga dalam bulan
November dan Desember. Musim kawin di TNMB diduga antara bulan Juli
sampai Oktober. Perkawinan biasanya dilakukan pada malam hari. Lamanya
kebuntingan adalah 9,510 bulan. Jumlah anak setiap induk 1-2 ekor tetapi
umumnya satu ekor. Anakan

dilahirkan dalam waktu satu menit, 40 menit

kemudian anakan sudah bisa berdiri, 60 menit kemudian menyusu pada induknya.
Selanjutnya anakan akan disapih dalam umur 10 bulan. Banteng termasuk
monoestroes atau mempunyai satu musim kawin dalam satu tahun. Umur termuda
banteng betina untuk mulai berkembang biak adalah 3 tahun, sedangkan banteng
jantan lebih dari 3 tahun. Banteng dapat mencapai umur 21-25 tahun, sehingga
seekor banteng betina sepanjang hidupnya dapat menghasilkan anak sebanyak 21
kali (Hoogerwerf 1970).
2.6

Habitat
Menurut Alikodra (1990) habitat merupakan suatu tempat yang dapat

memenuhi kebutuhan satwa yang digunakan untuk tempat mencari makan,


minum, berlindung, bermain, dan berkembang biak. Alikodra (1983) menyatakan
bahwa lingkungan hidup banteng yang paling ideal, terdiri atas komposisi hutan
alam yang berfungsi sebagai tempat berlindung dan bersembunyi dari segala
macam

gangguan,

baik

cuaca,

manusia

maupun

pemangsa.

Padang

penggembalaan digunakan sebagai tempat mencari makan, istirahat, mengasuh,


dan membesarkan anaknya, serta melakukan hubungan sosial lainnya. Banteng
membutuhkan sumber air tawar sebagai tempat minum, sedangkan hutan pantai
atau payau digunakan sebagai daerah penyangga yang melindungi banteng dari
pemburu. Daerah pantai digunakan sebagai tempat mencari garam yang
dibutuhkan banteng untuk membantu pencernaan. Secara garis besar habitat
memiliki tiga komponen utama, tempat yang menyediakan pakan, sumber air, dan
cover atau ruang untuk tempat berlindung, mengasuh anak, dan berkembang biak.
Lekagul & McNeely (1977) menyatakan bahwa banteng menyukai habitat
yang lebih terbuka dan lebih bersifat pemakan rumput (grazer) dari pada pemakan

semak dan daun (browser). Menurut Alikodra dan Palete (1980), banteng sangat
menyukai fungsi dan komponen lingkungan hidup yang meliputi:
1. Hutan alam primer dipergunakan banteng sebagai tempat berlindung dari
serangan musuh/predator, tempat istirahat, tempat tidur dan tempat
berkembang biak.
2. Padang rumput/savana, sebaiknya terletak pada daerah yang berbukit sampai
datar serta dibatasi oleh hutan alam primer ke arah darat dan hutan
pantai/payau ke arah laut.
3. Sumber air, yang berdekatan dengan padang rumput.
4. Hutan pantai atau hutan payau sebagai buffer zone, yaitu sebagai
pencegahan intrusi garam ke arah darat dan tempat berlindung atau
beristirahat.
5. Air laut, sangat penting untuk keperluan hidup guna mencukupi kebutuhan
mineral bagi satwa banteng, sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa
herbivora besar.
2.7

Pakan
Banteng memiliki perilaku yang dominan berupa kegiatan merumput.

Alikodra (1983) menyatakan bahwa pada waktu siang hari banteng lebih memilih
padang terbuka dan biasanya mereka terdiri dari beberapa kawanan banteng yang
berkisar antara 10-12 ekor terdiri dari banteng jantan dewasa, induk dan anakanaknya. Banteng merumput sambil berjalan berlawanan dengan arah mata angin
dan selalu bersikap waspada serta selalu memperhatikan keadaan sekitarnya.
Hoogerwerf (1970) menyatakan banteng akan mulai merumput jika cuaca cukup
cerah, kelompok banteng tersebut akan memilih hari yang agak berawan
dibandingkan hari yang amat terik. Alikodra (1983), menyatakan bahwa jenis
rerumputan yang dimakan oleh banteng diantaranya: jampang piit (Cytococum
patens), rumput geganjuran (Paspalum commersonii), rumput bambu (Panicum
montanum), rumput memerakan (Themeda arquens), ki pait (Axonopus
compresus) dan alang-alang (Imperata cylindrical).
Banteng biasanya beristirahat setelah mencari makan pada pagi hari
menjelang siang hari. Pada saat matahari bersinar terik, biasanya banteng akan
beristirahat di bawah tegakan hutan. Jika cuaca cerah atau agak berawan banteng

lebih sering berada di padang penggembalaan dan kadang pula banteng terlihat
beristirahat di tepi pantai (Lekagul & McNeely 1977).
2.7.1

Produktivitas padang rumput


Padang rumput adalah salah satu komponen habitat yang berfungsi sebagai

tempat makan, istirahat, bermain, dan berkembang biak banteng. Luas padang
rumput, produktivitas, kualitas, dan palatabilitas pakan yang tinggi akan
mempengaruhi jumlah banteng yang menempatinya. Produktivitas merupakan
hasil yang dipungut atau dipanen per satuan bobot, luas, dan waktu. Sedangkan
biomas merupakan hasil yang dipungut atau dipanen per satuan luas dan bobot.
McIlory (1977) menyatakan bahwa produktivitas padang rumput tergantung dari
beberapa faktor yaitu:
1. Persistensi (daya tahan) kemampuan untuk bertahan hidup dan berkembang
secara vegetatif
2. Agresivitas (daya saing) kemampuan untuk memenangkan persaingan dengan
spesies-spesies lain yang hidup bersama.
3. Kemampuan untuk tumbuh kembali setelah mengalami kerusakan
4. Sifat tanah kering dan tahan kering
5. Penyebaran produksi musiman
6. Kemampuan menghasilkan cukup banyak biji yang dapat tumbuh baik atau
dapat berkembang biak secara vegetatif
7. Kesuburan tanah
8. Iklim terutama besarnya curah hujan dan distribusi hujan
Tidak semua bagian rumput dimakan oleh satwa, tetapi ada sebagian yang
ditinggalkannya untuk menjamin pertumbuhan selanjutnya. Bagian rumput yang
dimakan oleh satwa disebut proper use (Susetyo 1980).

2.7.2

Palatabilitas pakan
Ivins (1952) dalam Mcllroy (1977) mendefinisikann palatabilitas sebagai

hasil keseluruhan dari faktor-faktor yang menentukan apakah dan sampai di mana
sesuatu makanan menarik bagi satwa. Menurut Mcllroy (1977), faktor-faktor yang
mempengaruhi palatabilitas adalah fase pertumbuhan dan kondisi hijauan,

10

kesempatan memilih hijauan lain, tata laksana terhadap hijauan, pemupukan, dan
sifat-sifat satwa.
Palatabilitas dapat diuji dengan sistem prasmanan, yaitu dengan cara
menyediakan petak-petak tanah yang ditanami dengan sejumlah hijauan yang
berbeda. Satwa diberi kebebasan merumput menurut seleranya di petak-petak
tersebut, dan waktu yang dihabiskan di tiap-tiap petak atau jumlah hijauan yang
direnggut memberikan indeks palatabilitas relatif dari tiap jenis hijauan yang
bersangkutan (Mcllroy 1977).

2.7.3

Daya dukung
Daya dukung adalah kemampuan suatu areal atau kawasan untuk

mendukung satwa pada suatu periode tertentu dalam hubungannya dengan


kebutuhan hidup satwa seperti reproduksi, pertumbuhan, pemeliharaan, dan
pergerakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya dukung adalah iklim, tanah,
topografi dan tingkat pengelolaan (Ontario 1980 dalam Siswanto 1982). Besarnya
daya dukung suatu areal dapat dicari melalui pengukuran salah satu faktor habitat,
diantaranya melalui pendekatan terhadap pakan (Syarief 1974). Alikodra (1979)
menyatakan faktor yang perlu diketahui dari daya dukung areal adalah kebutuhan
makan bagi satwa dan produksi rumput makanan satwa.
2.8

Status Konservasi
Sebagai satwa langka dan terancam kelestariannya, maka perlindungan

akan banteng sangat diperlukan, terutama dari perburuan yang dilakukan oleh
pemburu liar serta terdesaknya habitat banteng oleh pemukiman manusia.
Kegiatan pelestarian dilakukan dengan penetapan peraturan dalam berdasarkan
IUCN Red List of Threatened Species (2008) masuk dalam kategori endangered
yang merupakan status konservasi yang diberikan kepada spesies yang sedang
menghadapi resiko kepunahan di alam liar yang tinggi pada waktu yang akan
datang. Status endangered ini diberikan pada banteng karena penurunan
populasinya mencapai 80% terutama di Indochina. Berdasarkan adanya
pengamatan langsung telah terjadi penurunan banteng sebesar 50%, hal ini
diakibatkan oleh tingginya perdagangan illegal terhadap tanduk banteng. Hal
serupa diproyeksikan sebagian besar karena perdagangan hewan-hewan tak

11

terkendali di Asia Tenggara dan perburuan untuk perdagangan tanduk, serta


hilangnya habitat dan degradasi di Jawa. Pemerintah Indonesia memasukan
banteng dalam Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999 sebagai salah satu
satwa yang dilindungi keberadaannya.

12

BAB III
METODOLOGI
3.1

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) di

Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi tepatnya di enam lokasi


keberadaan Banteng (Tabel 3). Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 3.
Waktu penelitian dilaksanakan selama lima minggu yaitu bulan Juli-Agustus
2010.

Gambar 3 Peta lokasi penelitian.


Tabel 3 Lokasi penelitian
Lokasi
SPTN W I Sarongan
(Resort Sukamade)

Nama tempat
Blok 90-an
Savana Sumbersari

Tipe habitat
Perkebunan coklat dan karet
Padang rumput buatan

SPTN W II Ambulu
(Resort Bandealit)

Blok Balsa
Blok Kedungwatu
Blok Banyuputih

Perkebunan
Perkebunan
Perkebunan
Hutan hujan tropis dataran rendah
Padang rumput buatan

Savana Pringtali
SPTN W III Kalibaru
(Resort Malangsari)

Blok Sikapal

Hutan hujan tropis dataran rendah


Padang rumput alami

13

3.2

Alat dan Bahan


Objek pengamatan adalah satwa banteng dan habitatnya. Bahan yang

digunakan adalah vegetasi tumbuhan bawah. Peralatan yang digunakan dalam


penelitian ini antara lain: GPS, kalkulator, kamera, kompas, meteran, pita ukur,
tali rafia, tali tambang, golok, sabit, dan beberapa peralatan lainnya (Tabel 4).
Tabel 4 Alat yang digunakan dalam penelitian
No
1

Nama Alat
Global Positioning System (GPS)

Kegunaan
Menentukan titik awal jalur pengamatan dan
Mengetahui posisi keberadaan cover dan air
ditemukan

Kalkulator

Menghitung dalam analisis data

Kamera

Mengambil gambar kondisi habitat dan satwa

Kompas

Mengetahui arah tajuk

Meteran

Mengukur panjang jalur dalam analisis vegetasi

Pita ukur

Mengukur keliling pohon

Tali raffia

Membuat batas-batas plot

Tali Tambang

Membuat jalur analisis vegetasi

Golok/sabit

Memotong rumput

10

Patok/pagar

Memagari plot produktivitas

11

Thermometer

Mengukur suhu

12

Bola pingpong

Untuk mengukur debit air

13

Pengukur waktu

Mengetahui

waktu

dimulai

dan

diakhiri

pengamatan dan mengetahui lamanya waktu


pengukuran suhu dan debit air
14

Field guide tumbuhan

Mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan

15

Tally sheet

Membantu dalam pengambilan data di lapangan

16

Alat tulis

Membantu dalam pencatatan data di lapangan

17

Timbangan rumput

Menimbang

berat

rumput

dari

padang

penggembalaan

3.3

Jenis Data

3.3.1 Data primer


Data primer yang dikumpulkan berupa struktur dan analisis vegetasi dan
karakteristik habitat banteng yang diperoleh dengan pengukuran dan pengamatan
langsung di lapangan (Tabel 5)

14

Tabel 5 Data primer penelitian


Jenis Data
A. Struktur dan Komposisi
Vegetasi
B. Karakteristik Habitat
1. Ketersediaan pakan
a. Jenis Pakan

Metode Pengumpulan Data


Pengamatan Pengukuran Wawancara

Semua
lokasi

b. Produktivitas

c. Daya dukung

d. Palatabilitas

Karakteristik Cover
a. Tipe cover
b. Fungsi cover
c. Tipe habitat
d. Ketinggian (mdpl)
e. Substrat dominan
3. Ketersediaan Air
a. Sumber air
b. Lebar (m)
c. Kedalaman (m)
d. Ketersediaan
e. Intensitas
Penggunaan oleh
satwa
f. Tipe Habitat
g. Debit air

Lokasi

Semua
lokasi
Blok
Banyuputih
dan Blok
Sikapal
Blok
Banyuputih
dan Blok
Sikapal
Blok
Banyuputih
dan Blok
Sikapal

2.

3.3.2

Semua
Lokasi

Semua
Lokasi

Data sekunder
Data sekunder yang diambil yaitu informasi mengenai banteng berupa

lokasi keberadaan banteng, data populasi, dan perilaku yang diperoleh dari
wawancara dan studi pustaka.
3.4

Metode Pengumpulan Data

3.4.1

Komposisi dan Struktur Vegetasi


Untuk mengetahui komposisi dan struktur vegetasi dari suatu habitat

dilakukan dengan cara analisis vegetasi. Analisis vegetasi dilakukan dengan


membuat petak contoh secara purposive sampling, yaitu terkonsentrasi pada
lokasi yang merupakan bagian wilayah jelajah banteng. Metode analisis vegetasi

15

yang digunakan adalah metode garis berpetak yaitu dengan membuat petak-petak
contoh di sepanjang jalur pengamatan. Tahapan kegiatan analisisi vegetasi
meliputi:
1. Pembuatan titik-titik sampling sepanjang 100 m memotong kontur dengan
menggunakan metode garis berpetak (Gambar 4).
2. Pembagian vegetasi hutan ke dalam tipe semai, pancang, tiang, dan pohon.
a. Semai

: Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan dengan tinggi


kurang dari 1,5 m diamati pada petak berukuran 2x2 meter

b. Pancang

: Permudaan dengan tinggi 1,5 m sampai anakan berdiameter


kurang dari 10 cm, diamati pada petak berukuran 5x5 meter

c. Tiang

: Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.


diamati pada petak berukuran 10 x 10 meter

d. Pohon

: Pohon dewasa berdiameter 20 cm atau lebih, diamati pada


petak berukuran 20 x 20 meter

Data yang dikumpulkan untuk tingkat pertumbuhan pohon dan tiang adalah
jenis pohon, diameter setinggi dada, tinggi bebas cabang, dan tinggi total.
Sedangkan data yang diambil pada tingkat pertumbuhan pancang dan semai
meliputi jenis tumbuhan dan jumlah individu setiap jenis. (Soerianegara dan
Indrawan 2002).

Keterangan : (a) = 20 m x 20 m
(b) = 10 m x 10 m

(c) = 5 m x 5 m
(d) = 2 m x 2 m

Gambar 4 Metode analisis vegetasi garis berpetak.


Pengamatan/pengukuran pada padang penggembalaan dilakukan dengan
menganalisis vegetasi tumbuhan bawah, dengan metode petak sampling. Petak
contoh diletakan tersebar dengan ukuran setiap petak contoh adalah 1x1 m.

16

3.4.2

Karakteristik Habitat

a. Ketersediaan Pakan
1. Jenis pakan
Identifikasi jenis-jenis pakan dilakukan dengan pengamatan langsung
terhadap bekas renggutan pada tumbuhan yang dimakan dan dilakukan di plot
analisis vegetasi. Selain itu dilakukan pengumpulan informasi jenis pakan
dari pemandu dan masyarakat yang pernah melakukan perjumpaan langsung.
Selanjutnya dilakukan cek silang dari berbagai buku/literatur dari taman
nasional.
2. Produktivitas dan daya dukung
Analisis potensi pada habitat padang penggembalaan meliputi
biomasa, produktivitas, dan daya dukung. Petak 1m x1m dibuat secara acak
dengan menentukan petak awal pada bagian yang paling sering dijadikan
tempat makan banteng. Data yang diperoleh dari setiap petak contoh adalah:
(1) nama dan jumlah serta (2) biomasa dan produktivitas jenis pakan banteng.
Biomasa diukur dengan cara memotong tumbuhan pakan pada setiap petak
contoh setinggi 3-4 cm di atas permukaan tanah lalu ditimbang beratnya.
Sedangkan produktivitas diukur setelah bekas potongan tersebut berumur 30
hari lalu dipotong dan ditimbang beratnya. Petak contoh tersebut dipagari
agar tidak dimakan oleh satwa, sehingga dapat mengurangi bias dalam
perolehan data produktivitas. Daya dukung lingkungan diperoleh dari
perhitungan besarnya produktivitas dan proper use terhadap konsumsi pakan
banteng per hari.
3. Palatabilitas
Pengamatan palatabilitas dilakukan pada petak-petak contoh yang
tidak dipagari, yang telah dibuat pada saat pengamatan produktivitas. Seluruh
jenis tumbuhan yang ada di dalam petak contoh dicatat nama dan jumlah plot
ditemukan. Kemudian setelah 30 hari dilakukan pengamatan hasil renggutan
terhadap jenis-jenis yang dimakan oleh banteng. Selanjutnya dilakukan cek
silang dari berbagai literatur tentang jenis-jenis rumput yang disukai dan
dimakan oleh banteng di padang penggembalaan.

17

b.

Karakteristik Cover
Data karakteristik cover diperoleh melalui pengamatan langsung pada plot

analisis vegetasi yang diperkuat dengan adanya jejak kaki dan feses dari banteng.
Selain itu dilakukan wawancara dengan masyarakat sekitar hutan dan petugas
sebagai informasi tambahan. Selanjutnya dilakukan cek silang dari data sekunder
berupa dokumen taman nasional. Cover dibedakan menurut fungsi dan bentuknya
yaitu berupa tipe cover, fungsi cover, tipe habitat keberadaan cover, ketinggian,
dan substrat dominan.
c.

Ketersediaan Air
Data ketersediaan air yang diambil berupa parameter fisik yaitu lebar dan

kedalaman sungai, lokasi sumber air, ketersediaan sumber air, intensitas


penggunaannya oleh banteng, dan habitat keberadaan sumber air. Pada air sungai
yang mengalir dilakukan penghitungan debit air. Debit air dihitung dengan
menggunakan bola pingpong yang dialirkan mengikuti arus air sepanjang 2 meter
kemudian dihitung waktunya. Pengulangan perhitungan dilakukan sebanyak tiga
kali yaitu di tepi kiri, di tengah, dan di tepi kanan.

3.5

Analisis Data

3.5.1

Komposisi dan Struktur Vegetasi


Data vegetasi hutan yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan dihitung

nilai-nilai: indeks nilai penting dan indeks keanekaragaman spesies. Untuk


mengetahui struktur dan komposisi vegetasi, maka pada masing-masing petak
ukur dilakukan analisis kerapatan, frekuensi dan dominansi untuk setiap jenis
tumbuhan (Soerianegara dan Indrawan 2002). Perhitungan dilakukan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Kerapatan suatu spesies (K)

Kerapatan relatif suatu spesies (KR) =


Frekuensi suatu spesies (F)

Jumlah individu suatu spesies


Luas petak contoh (ha)

Kerapatan suatu spesies


100%
Kerapatan seluruh spesies
Jumlah petak ditemukan suatu spesies
Jumlah seluruh petak

18

Frekuensi relatif suatu spesies (FR)

Dominasi suatu spesies (D)

Dominasi relatif suatu spesies (DR) =

Frekuensi suatu spesies


Frekuensi seluruh spesies

100%

Luas bidang dasar suatu spesies


Luas petak contoh (Ha)

Dominansi suatu spesies


Dominansi seluruh spesies

100%

Indeks Nilai Penting (INP)


Tingkat semai dan pancang

: INP = KR + FR

Tingkat pohon/ tiang

: INP = KR + FR + DR

Total Indeks Nilai Penting (INP) untuk setiap tingkat pohon, tiang, pancang,
semai, dan tumbuhan bawah, dihitung untuk setiap tipe ekosistem. Nilai INP
setiap tipe ekosistem menggambarkan kondisi vegetasi. Untuk menghitung
keanekaragaman spesies digunakan Indeks Keanekaragaman Shannon (H)
dengan persamaan sebagai berikut :
H = - [ Pi. ln. Pi]

Pi =

ni
N

Keterangan :
H

: Indeks Keanekaragaman Shannon

Pi

: Proporsi Nilai Penting

Ln

: Logaritma Natural

ni

: Jumlah INP suatu spesies

: Jumlah INP seluruh spesies

3.5.2

Produktivitas dan Daya Dukung


Untuk mengetahui produksi hijauan seluruh areal dipergunakan rumus

Susetyo (1980).

Produktivi tas =

P p
=
L l

Keterangan :
P = Produksi Hijauan seluruh areal (Kg)
L = Luas seluruh areal (ha)
p = Produksi hijauan pada areal contoh (kg)

19

l = luas areal contoh (ha)


Untuk mengetahui daya dukung padang penggembalaan digunakan rumus
Susetyo (1980) sebagai berikut:

Daya dukung =

P x p.u x A
C

Keterangan :
P

= Produktivitas hijauan (Kg /m/hari)

p.u

= Guna nyata (0.65) untuk daerah yang datar sampai bergelombang


(kemiringan 0-5)

= Luas seluruh areal

= Kebutuhan Makan Banteng (Kg/ekor/hari)

3.5.4 Palatabilitas
Palatabilitas dihitung menggunakan rumus Alikodra (2000) sebagai
berikut:

P=

x
y

Keterangan :
P = palatabilitas, nilainya berkisar 0-1
x = jumlah petak contoh dimana sesuatu jenis dimakan banteng
y = jumlah seluruh petak contoh dimana jenis tersebut ditemui
3.5.5 Debit Air
Debit air dihitung menggunakan rumus Dharmakalih (1997) sebagai
berikut:
Q

=AxV

=pxl

= Debit air (m/dtk)

= Luas Penampang (m)

= Kecepatan Arus (m/dtk)

= panjang (m)

= lebar (m)

Keterangan :

20

BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1

Potensi Fisik Kawasan

4.1.1

Letak dan Luas


Berdasarkan letak administrasi pemerintahan, kawasan TNMB terletak di

dua wilayah Kabupaten Provinsi Jawa Timur. Bagian barat termasuk Kabupaten
Jember dengan luas 37.626 ha dan bagian timur termasuk Kabupaten Banyuwangi
dengan luas 20.374 ha. Kawasan TNMB secara geografis terletak antara
11358'48 - 11358'30 BT dan 820'48 - 833'48 LS.. Batas-batas wilayah
kawasan Taman Nasional Meru Betiri berdasarkan TNMB (2009) meliputi:
a. Sebelah utara, berbatasan dengan kawasan PT. Perkebunan Treblasala dan
Perum Perhutani RPH Curahtakir.
b. Sebelah timur, berbatasan dengan Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran
Kabupaten Banyuwangi dan kawasan PTPN XII Sumberjambe.
c. Sebelah selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia
d. Sebelah barat, berbatasan dengan Desa Curahnongko, Desa Andongrejo, Desa
Sanenrejo Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember, kawasan PTPN XII
Kalisanen PTPN XII Kota Blater dan Perum Perhutani RPH Sabrang.
4.1.2 Topografi
Secara umum kawasan Taman Nasional Meru Betiri berupa perbukitan
yang berbatasan dengan kawasan pantai (bagian selatan). Kawasan ini berada
pada ketinggian antara 900-1.223 m dpl. Kondisi kelerangan tanah sangat
beragam, mulai dari keadan datar, landai hingga memiliki kelerangan dengan
tingkat yang curam. Kawasan Meru Betiri didominasi dengan bukit-bukit yang
relatif tersebar secara merata.
Gunung yang terdapat di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II
di Ambulu antara lain: G. Rika (535 m dpl), G. Guci (329 m dpl), G. Alit (534 m
dpl), G. Gamping (538 m dpl), G. Sanen ( 437 m dpl), G. Butak (609 m dpl), G.
Mandilis (844 m dpl), dan G. Meru (344 m dpl). Sedangkan gunung yang terdapat
di seksi pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Sarongan adalah G. Betiri (1.223

21

m dpl) yang merupakan gunung tertinggi, G. Gendong (840 m dpl), G. Sukamade


(806 m dpl), G. Sumberpacet (706 m dpl), G. Permisan (568 m dpl), G.
Sumberdadung (520 m dpl), dan G. Rajegwesi (160 m dpl). SPTN W III masih
menjadi bagian wilayah SPTN W I dan SPTN W II, baru pada tahun 2008
dipisahkan menjadi wilayah tersendiri.
Pada umumnya keadaan topografi di sepanjang pantai berbukit-bukit
sampai bergunung-gunung dengan tebing yang curam. Sedangkan pantai datar
yang berpasir hanya sebagian kecil, dari timur ke barat adalah Pantai Rajegwesi,
Pantai Sukamade, Pantai Permisan, Pantai Meru dan Pantai Bandealit. Sungaisungai yang berada di kawasan TNMB antara lain Sungai Sukamade, Sungai
Permisan, Sungai Meru dan Sungai Sekar Pisang yang mengalir dan bermuara di
Pantai Selatan Jawa (TNMB 2009).
4.1.3 Geologi dan Tanah
Secara umum jenis tanah di kawasan TNMB merupakan asosiasi dari jenis
aluvial, regosol dan latosol. Tanah alluvial umumnya terdapat di daerah lembah
dan tempat rendah sampai pantai, sedangkan regosol dan latosol umumnya
terdapat di lereng dan punggung gunung. Menurut Suganda et al. (1992) dalam
Tim PKLP TNMB (2010) geologi kawasan TNMB terdiri atas:
a.

Aluvium meliputi kerakal, kerikil, pasir dan lumpur.

b.

Formasi Sukamade meliputi batu gunung terumbu bersisipan batu lanau dan
batu berpasir.

c.

Formasi Puger meliputi batu gunung terumbu bersisipan breksi batu gunung
dan batu gamping hutan.

d.

Formasi batu ampar

meliputi perselingan batu pasir dan batu lempung

bersisipan tuf, breksi, dan konglomerat.


e.

Anggota batu gamping formasi Meru Betiri meliputi batu gamping, batu
gamping tufan, dan napal.

f.

Formasi Meru Betiri meliputi perselingan breksi gunung api, lava dan tuf,
terpropilitan

g.

Formasi Mandiku meliputi breksi gunung api dan tuf, breksi berkomponen
andesit dan basal bersisipan tuf.

h.

Batuan terobosan meliputi granodiorit, diorit, dan dasit.

22

Aluvium, Formasi Sukamade, Formasi Puger, Formasi Batu Ampar, dan


anggota batu gamping Formasi Meru Betiri berasal dari batuan endapan
permukaan, dan batuan sedimen. Formasi Meru Betiri dan Formasi Mandiku
berasal dari batuan gunung api. Sedangkan batuan terobosan berasal dari batuan
terobosan. Aluvium terbentuk pada zaman Holosen Kuartier, Formasi Batu Ampar
terbentuk pada Zaman Oligosen, Formasi Mandiku, dan Formasi Puger terbentuk
pada Zaman Akhir Miosen Tersier, Batuan terobosan terbentuk pada Zaman
Tengah Miosen Tersier sedangkan Formasi Meru Betiri, Formasi Sukamade,
anggota batu gamping Formasi Meru Betiri terbentuk pada Zaman Awal Miosen
Tersier.
4.1.4

Iklim
Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, tipe iklim kawasan

taman nasional bagian utara dan tengah termasuk iklim B dan C, dengan curah
hujan rata-rata berkisar antara 2.544 3.478 mm per tahun dengan rata-rata bulan
kering selama empat sampai lima bulan dan bulan basah selama tujuh sampai
sampai delapan bulan. Sedangkan kawasan TNMB bagian barat mempunyai tipe
iklim C dengan curah hujan rata-rata 2.300 mm per tahun, dan kawasan sebelah
timur mempunyai curah hujan rata-rata 1.300 mm per tahun sehingga kondisinya
lebih kering.
Kawasan TNMB merupakan wilayah yang dipenuhi oleh angin musim.
Bertiupnya angin barat laut pada bulan November sampai dengan Maret
menyebabkan hujan, sedangkan pada akhir bulan April sampai dengan Oktober
terjadi musim kemarau. Pada bulan Juni hingga Agustus curah hujan cukup besar
sehingga menyebabkan banjir di beberapa daerah. Curah hujan di kawasan ini
bervariasi antara 1.252 2.818 mm per tahun dengan bulan basah antara bulan
NovemberMaret, dan kering antara AprilOktober. Di daerah bekas Perkebunan
Bandealit (sebelah barat) rata-rata curah hujan antara 1.4382.818 mm dengan
curah hujan tertinggi pada bulan DesemberMaret. Sebaliknya di daerah bekas
perkebunan Sukamade (sebelah tengah) rata-rata curah hujan tahunan antara
1.3071.856 mm dengan curah hujan tertinggi pada bulan JanuariMaret (TNMB
2009).

23

4.2

Potensi Biotik

4.2.1 Flora dan tipe habitat


Kawasan Taman Nasional Meru Betiri mempunyai flora sebanyak 518
jenis, terdiri atas 15 jenis yang dilindungi dan 503 jenis yang tidak dilindungi.
Taman Nasional Meru Betiri memiliki formasi vegetasi yang lengkap dan juga
beberapa jenis flora langka antara lain bunga rafflesia (Rafflesia zollingeriana),
juga terdapat Balanophora fungosa yaitu tumbuhan parasit yang hidup pada jenis
pohon Ficus spp. Selain itu, terdapat pula jenis flora yang digunakan sebagai
bahan baku obat/jamu tradisional sebanyak 239 jenis. Berikut ini merupakan jenis
flora yang diprioritaskan untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat adalah
cabe Jawa (Piper retrofractum), kemukus (Piper cubeba), kedawung (Parkia
roxburghii), kluwek/pakem (Pangium edule), kemiri (Aleurites moluccana), pule
pandak (Rauwolfia serpentina), kemaitan (Lunasia amara), anyang-anyang
(Elaeocarpus grandiflora), sintok (Cinnamomum sintok), dan kemuning (Murray
paniculata).
Kawasan Taman Nasional Meru Betiri merupakan hutan hujan tropis yang
mempunyai 5 tipe vegetasi yaitu vegetasi hutan pantai, vegetasi hutan mangrove,
vegetasi hutan rawa, vegetasi hutan rheophyte dan vegetasi hutan hujan dataran
rendah. Kondisi setiap tipe vegetasi di kawasan Taman Nasional Meru Betiri
berdasarkan TNMB (2009) dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Tipe Vegetasi Hutan Pantai
Formasi vegetasi hutan pantai terdiri dari dua tipe utama yaitu formasi ubi
pantai (Ipomoea pescaprae) dan formasi Barringtonia (25-50 m).

Formasi

pescaprae terdiri dari tumbuhan yang tumbuh rendah dan kebanyakan terdiri dari
jenis herba, sebagian tumbuh menjalar. Jenis yang paling banyak adalah ubi pantai
(Ipomoea pescaprae) dan rumput lari (Spinifex squarosus). Formasi baringtonia
terdiri dari keben (Barringtonia asiatica), nyamplung (Calophyllum inophyllum),
waru (Hibiscus tiliaceus), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus
tectorius) dan lain-lain. Tipe vegetasi ini tersebar di sepanjang garis pantai selatan
dalam kelompok hutan yang sempit, umumnya menempati daerah sekitar teluk

24

yang bertopografi datar, misalnya di Teluk Permisan, Teluk Meru, Teluk


Bandealit, dan Teluk Rajegwesi.
b. Tipe Vegetasi Hutan Mangrove
Vegetasi ini dapat dijumpai di bagian timur Teluk Rajegwesi yang
merupakan muara Sungai Lembu dan Karang Tambak, Teluk Meru dan Sukamade
merupakan vegetasi hutan yang tumbuh di garis pasang surut. Jenis-jenis yang
mendominasi adalah bakau-bakauan (Rhizophora sp), api-api (Avicennia sp), dan
tancang (Bruguiera sp). Di muara Sungai Sukamade terdapat nipah (Nypa
fruticans) yang baik formasinya.
c. Tipe Vegetasi Hutan Rawa
Jenis vegetasi yang banyak dijumpai diantaranya mangga hutan
(Mangifera sp), sawo kecik (Manilkara kauki), ingas/rengas (Gluta renghas),
pulai (Alstonia scholaris), kepuh (Sterculia foetida), dan Barringtonia spicata.
Vegetasi ini dapat dijumpai di belakang hutan payau Sukamade.
d. Tipe Vegetasi Hutan Rheophyt
Tipe vegetasi ini terdapat pada daerah-daerah yang dibanjiri oleh aliran
sungai dan jenis vegetasi yang tumbuh diduga dipengaruhi oleh derasnya arus
sungai, seperti lembah Sungai Sukamade, Sungai Sanen, dan Sungai Bandealit.
Jenis yang tumbuh antara lain glagah (Saccharum spontaneum), rumput gajah
(Penisetum curcurium), dan beberapa jenis herba berumur pendek serta rumputrumputan.
e. Tipe Vegetasi Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah
Tipe vegetasi ini merupakan hutan campuran antara hutan hujan dataran
rendah dengan hutan hujan tropis pegunungan. Sebagian besar kawasan hutan
Taman Nasional Meru Betiri merupakan tipe vegetasi hutan hujan tropika dataran
rendah. Pada tipe vegetasi ini juga tumbuh banyak jenis epifit, seperti anggrek dan
paku-pakuan serta liana. Jenis tumbuhan yang banyak dijumpai diantaranya jenis
walangan (Pterospermum diversifolium), winong (Tetrameles nudiflora), gondang
(Ficus variegata), budengan (Diospyros cauliflora), pancal kidang (Aglaia
variegata), rau (Dracontomelon mangiferum), glintungan (Bischofia javanica),
ledoyo (Dysoxylum amoroides), randu agung (Gossampinus heptaphylla),
nyampuh (Litsea sp), bayur (Pterospermum javanicum), bungur (Lagerstroemia

25

speciosa), segawe (Adenanthera microsperma), aren (Arenga pinnata), langsat


(Lansium domesticum), bendo (Artocarpus elasticus), suren (Toona sureni), dan
durian (Durio zibethinus). Terdapat pula vegetasi bambu seperti: bambu bubat
(Bambusa sp), bambu wuluh (Schizastychyum blumei), dan bambu lamper
(Schizastychyum branchyladium). Di dalam kawasan juga terdapat beberapa jenis
rotan, diantaranya: rotan manis (Daemonorops melanocaetes), rotan slatung (P.
longistigma) dan rotan warak (P. elongata).
4.2.2 Fauna
Fauna yang telah teridentifikasi di kawasan Taman Nasional Meru Betiri
hingga saat ini sebanyak 217 jenis, terdiri dari 92 jenis yang dilindungi dan 115
jenis yang tidak dilindungi, meliputi 25 jenis mamalia (18 diantaranya dilindungi),
8 reptilia (6 jenis diantaranya dilindungi), dan 184 jenis burung (68 jenis
diantaranya dilindungi). Keragaman jenis fauna tersebut dapat dibagi menjadi
beberapa kelas antara lain aves, mamalia, herpetofauna (amphibi dan reptilia), dan
fauna perairan. Kelompok besar yang berada dalam kawasan taman nasional
adalah jenis aves, mamalia (herbivora, primata dan karnivora besar) serta reptilia
besar (penyu laut, biawak dan ular phyton). Fauna yang terdapat di kawasan
TNMB diantaranya adalah banteng (Bos javanicus), monyet ekor panjang
(Macaca fascicularis), macan tutul (Panthera pardus melas), ajag (Cuon alpinus
javanicus), kucing hutan (Prionailurus bengalensis javanensis), rusa (Cervus
timorensis), bajing terbang ekor merah (Iomys horsfieldii), merak (Pavo muticus),
penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata),
penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu ridel/lekang (Lepidochelys olivacea)
(TNMB 2009).

26

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1

Komposisi dan Struktur Vegetasi

5.1.1 Hutan hujan tropis dataran rendah


Hutan hujan tropis dataran rendah merupakan salah satu habitat yang
penting bagi banteng di kawasan TNMB. Tipe vegetasi ini mendominasi sebagian
besar kawasan TNMB. Pada lokasi ini dilakukan analisis vegetasi untuk berbagai
tingkat pertumbuhan. Lokasi yang menjadi pengukuran vegetasi merupakan hutan
hujan tropis primer dan sekunder. Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh 38
jenis tumbuhan dengan 24 famili (Tabel 6).
Tabel 6 Hasil analisis vegetasi hutan hujan tropis dataran rendah
Area
Blok
Banyuputih

Nama
lokal
Babadotan
Kariya
Lagetan

Ageratum conyzoides
Mikania micrantha
Spilanthes acmelia

KR
(%)
77,98
13,76
8,25

FR
(%)
50
30
20

DR
(%)
-

INP
(%)
127,98
43,76
28,25

Semai

Bambu
Jenti
Jerukan

Schizoschyum blumea
Sesbania sesban
Polyalthia rumphii

94,11
2,35
3,52

57,14
28,57
14,28

151,25
30,92
17,80

Pancang

Bambu
Jerukan
Kopi

Schizoschyum blumea
Polyalthia rumphii
Coffea robusta

90,90
4,95
2,06

40
20
20

130,90
24,95
22,06

Tiang

Kopi
Jerukan
Jenti

Coffea robusta
Polyalthia rumphii
Sesbania sesban

33,33
26,66
20

25
25
25

26,71
28,89
20,47

85,04
80,56
65,47

Pohon

Walangan

Pterospermum
diversifolium
Cocos nucifera
Kleinhovia hospital

28,57

13,33

18,50

60,41

14,28
14,28

20
13,33

20,79
14,80

55,08
42,42

Paspalum
conjugatum
Mikania micrantha
Chromolaena
odorata

75,65

38,46

114,11

18,26
3,47

23,07
15,38

41,33
18,86

Leea aequata
Ficus hispida
Ficus variegate

26,92
26,92
23,07

22,22
22,22
11,11

49,14
49,14
34,18

25
25
15

25
12,5
12,5

50
37,5
27,5

Tingkat
Tumb.
Bawah

Kelapa
Timo
Blok
Sikapal

Tumb.
Bawah

Paitan
Kariya
Kirinyuh

Semai

Pancang

Lengkian
Luwingan
Gondang
legi
Luwingan
Mat-mat
Kemunduh

Nama ilmiah

Ficus hispida
Dinochloa scandes
Baccauera recemosa

27

Tabel 6 lanjutan.
Area

Tingkat

Nama lokal

Tiang

Luwingan
Kemunduh
Gondang
legi
Apak
Pakem
Bendo

Pohon

Ficus hispida
Baccauera recemosa
Ficus variegata

KR
(%)
26,66
26,66
20

FR
(%)
28,57
14,28
14,28

DR
(%)
11,01
22,85
28,40

INP
(%)
66,25
63,80
62,69

Ficus benjamina
Pangium edule
Artocarpus elasticus

12
20
16

15,78
10,52
10,52

55,73
6,72
6,72

83,52
37,25
33,25

Nama ilmiah

Pada hutan hujan tropis dataran rendah Blok Banyuputih diperoleh 14


jenis tumbuhan dengan 12 famili. Blok Banyuputih memiliki tanah kering dengan
topografi yang relatif datar sampai dengan bergelombang. Suhu rata-rata pada
blok ini yaitu 29C dengan kelembaban 65% dan berada pada ketinggian 20 m
dpl. Jenis tanaman kopi (Coffea robusta) dan jenti (Sesbania sesban) merupakan
tanaman perkebunan, karena letak hutan hujan tropis dataran rendah di pinggir
perkebunan maka plot diambil dari areal perkebunan untuk mengambil data
daerah cover banteng. Rumpun bambu mendominasi di perbatasan antara hutan
dan perkebunan sehingga digunakan banteng untuk berlindung. Lebatnya rumpun
bambu membuat banteng sulit ditemukan ketika masuk ke dalam hutan.
Sumber air diperoleh dari Sungai Banyuputih dan untuk kebutuhan
mengasin banteng dapat mengunakan Pantai Bandealit karena lokasi perkebunan
hanya berjarak 1 km dari pantai. Pada hutan hujan tropis dataran rendah Blok
Sikapal diperoleh 25 jenis tumbuhan dengan 20 famili (Lampiran 5). Pada blok ini
terdapat ruang-ruang terbuka yang kecil dan ditumbuhi dengan tumbuhan bawah
pakan banteng. Kondisi tanah sebagian besar basah dan memiliki topografi
bergelombang.
Suhu rata-rata pada blok ini yaitu 26C berada pada ketinggian 600 m dpl
dengan kelembaban 69%. Pada jalur menuju plot analisis vegetasi dan plot
produktivitas Blok Sikapal ditemukan rumpun bambu yang letaknya dekat dengan
sungai dan berada di tepi hutan hujan tropis dataran rendah, serta berbatasan
dengan areal perkebunan. Rumpun bambu tersebut dijadikan koridor lintasan bagi
banteng, hal ini dibuktikan dengan adanya jejak-jejak baru dan jejak-jejak lama.
Hutan hujan tropis dataran rendah Blok Sikapal masih alami dilihat dari
vegetasinya yang rapat, lokasinya yang sulit dijangkau, tidak adanya aktivitas

28

manusia, dan masuknya kawasan Blok Sikapal dalam zona inti TNMB. Pada
Tabel 7 disajikan vegetasi yang berfungsi cover dan pakan bagi banteng di hutan
hujan tropis dataran rendah.
Tabel 7 Jenis-jenis vegetasi yang berfungsi cover dan pakan di hutan hujan tropis
dataran rendah.
Areal
Blok
Banyuputih

Blok
Sikapal

Jenis vegetasi
Fungsi Pakan
Fungsi Cover
Nama lokal
Nama ilmiah
Nama lokal Nama ilmiah
Babadotan
Ageratum conyzoides Walangan
Pterospermum
diversifolium
Kariya
Mikania micrantha
Bambu
Schizoschyum
wuluh
blumea
Lagetan
Spilanthes acmelia
Jenti
Sesbania sesban
Bambu wuluh
Schizoschyum blumea
Kopi
Coffea robusta
Jenti
Sesbania sesban

Paitan
Kariya
Kirinyuh
Luwingan
Gondang legi

Paspalum
conjugatum
Mikania micrantha

Luwingan

Ficus hispida

Kemunduh

Chromolaena
odorata
Ficus hispida
Ficus variegata

Apak

Baccauera
recemosa
Ficus benjamina

Kondisi tumbuhan hutan hujan tropis dataran rendah di TNMB masih baik,
hal ini dapat dilihat dari penutupan vegetasi yang rapat dan diameter pohon yang
besar serta topografi yang relatif datar sampai dengan bergelombang dan tidak
terganggu aktivitas manusia. Medway (1977) menyatakan bahwa banteng sangat
menyukai habitat yang berhutan sekunder dan banyak tempat terbuka tetapi tidak
terganggu oleh manusia. Kawasan TNMB sebagian besar merupakan hutan hujan
tropis dataran rendah, hampir 70% luasan TNMB merupakan hutan hujan tropis
dataran rendah baik primer maupun sekunder. Hasil pengamatan jenis vegetasi di
habitat banteng diperoleh 38 jenis vegetasi dengan 24 famili. Pada kawasan
Taman Nasional Alas Purwo diperoleh 40 jenis (Delfiandi 2006) dan pada Taman
Nasional Ujung Kulon diperoleh 27 jenis (Destriana 2006) pada lokasi habitat
banteng hutan hujan tropis dataran rendah.
Berdasarkan hasil analisis vegetasi, banteng banyak mendapat pakan dari
tumbuhan bawah yang terdapat di sela-sela tegakan dan merupakan tempat
lintasan banteng. Banteng memanfaatkan vegetasi yang rapat dan tutupan tajuk

29

yang lebat di dalam hutan untuk berlindung dari berbagai macam gangguan dan
juga sebagai tempat istirahat (Gambar 5). Banteng memilih rumpun bambu
sebagai tempat berteduh selain tajuk pohon dan terdapat hamparan pakan yang
dijadikan sebagai bahan makanan tambahan, karena banteng ketika beristirahat
juga sambil memamah biak (Alikodra 1983). Jika banteng bertemu dengan
manusia maka akan berlari masuk hutan dengan tegakan bambu yang rapat
sehingga sangat sulit untuk menemukannya. Banteng memilih hutan hujan tropis
dataran rendah sebagai lokasi berlindung karena jarang terdapat aktivitas manusia.
Alikodra (1983) mengemukakan hutan hujan tropis dataran rendah dijadikan
sebagai tempat bersembunyi dari berbagai macam gangguan dan dijadikan sebagai
tempat berlindung dari kondisi cuaca yang tidak menentu. Pada kawasan Taman
Nasional Alas Purwo bambu mendominasi 40% dari luasan hutan hujan tropis
dataran rendah (Delfiandi 2006). Pada kawasan TNMB bambu mendominasi di
daerah tepi antara areal perkebunan dan hutan hujan tropis dataran rendah.

Gambar 5 Habitat hutan hujan tropis dataran rendah.


5.1.2

Perkebunan
Di kawasan TNMB terdapat areal perkebunan milik swasta yang menjadi

habitat banteng. Perkebunan tersebut masih berproduksi secara rutin meskipun


sudah banyak yang rusak. Terdapat empat blok perkebunan yang diamati, yaitu:
Blok 90-an Coklat, Blok 90-an Karet, Blok Balsa, dan Blok Kedungwatu. Pada
habitat perkebunan ditemukan sebanyak 16 jenis tumbuhan dari 12 famili (Tabel
8)

30

Tabel 8 Hasil analisis vegetasi di areal perkebunan untuk jenis dominan


Areal

Blok 90-an
Coklat

Tingkat
Tumb.
Bawah
Semai
Pancang
Tiang
Pohon

Blok 90-an
Karet

Tumb.
Bawah
Semai
Pancang
Tiang
Pohon

Blok Balsa

Tumb.
Bawah
Semai
Pancang
Tiang
Pohon

Blok
Kedungwatu

Tumb.
Bawah
Semai
Pancang
Tiang
Pohon

Nama
lokal

Nama ilmiah

Lagetan

Spilanthes acmelia

Coklat
Coklat
Coklat

Theobrroma cacao
Theobrroma cacao
Theobrroma cacao

Kelapa

Cocos nucifera

Lagetan

Spilanthes acmelia,

Karet
Karet

Hevea brasiliensis
Hevea brasiliensis

Babadotan

Ageratum conyzoides

Mindi
-

Garcinia dulcis
-

Balsa

Ochroma lagopus

Babadotan

Ageratum conyzoides

Waru
-

Hibiscus tiliaceus
-

Waru

Hibiscus tiliaceus

KR
(%)
82,75

FR
(%)
50

DR
(%)
-

INP
(%)
132,75

100
100
89,47
50

100
100
60
50

100
97,23
57,89

200
300
246,70
157,89

61,11

25

86,11

100
100
-

100
100
-

100
-

200
300
-

47,19

25

72,19

100
100

100
100

100

200
300

40,88

30

70,88

78,57
50

75
50

50,44

153,57
150,44

Pada Blok 90-an Coklat dan Karet, tumbuhan bawah tumbuh di lantailantai hutan karet sehingga banteng mudah mendapat pakan. Topografinya relatif
datar dengan kondisi tanah basah sampai kering (Gambar 6). Terdapat parit-parit
air di dalam areal perkebunan sebagai tempat minum banteng serta muara
Sukamade sebagai lokasi untuk mengasin. Blok ini memiliki suhu 28C dan
kelembaban

yaitu 85% serta berada pada ketinggian 10 m dpl. Lokasi

perkebunan Blok Balsa dan Kedungwatu dekat dengan sumber air yaitu Sungai
Cawang sehingga banteng menggunakan areal perkebunan sebagai lintasan,
tempat mencari makan, dan berteduh. Kondisi tanah yang kering, dengan
topografi yang bergelombang dan memiliki suhu 27% dan kelembaban 70%, serta
berada pada ketinggian 20 m dpl. Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan,
terdapat empat jenis tumbuhan yang berfungsi sebagai cover dan delapan jenis
yang berfungsi sebagai tumbuhan pakan (Tabel 9).

31

Tabel 9 Jenis-jenis vegetasi yang berfungsi sebagai cover dan pakan di habitat
perkebunan
Areal
Blok 90an
Coklat

Jenis vegetasi
Fungsi Pakan
Fungsi Cover
Nama lokal
Nama ilmiah
Nama lokal
Nama ilmiah
Lagetan
Spilanthes acmelia
Coklat
Theobroma cacao
Coklat
Theobrroma cacao
Sintru
Clitoria ternatea

Blok 90an
Karet

Lagetan
Kirinyuh
Sintru
Babadotan

Spilanthes acmelia
Chromolaena odorata
Clitoria ternatea
Ageratum conyzoides

Karet

Hevea brasiliensis

Blok Balsa

Rambusa
Babadotan
Sintru
Kirinyuh

Passiflora foetida
Ageratum conyzoides
Clitoria ternatea
Chromolaena odorata

Balsa

Ochroma lagopus

Blok
Kedungwatu

Babadotan
Sintru
Krayutan
Kirinyuh
Waru
Gondang legi

Ageratum conyzoides
Clitoria ternatea
Mikania micrantha
Chromolaena odorata
Hibiscus tiliaceus L.
Ficus variegata Bl.

Waru

Hibiscus tiliaceus

Areal perkebunan merupakan habitat yang disukai oleh banteng di


kawasan TNMB, karena selain tersedianya pakan banteng yang berlimpah juga
tersedia air dan tempat istirahat di sekitarnya. Menurut Alikodra (2002) satwaliar
juga banyak yang menggunakan tanaman perkebunan sebagai habitatnya,
sehingga untuk beberapa hal sering menjadi hama tanaman. Beberapa satwa yang
sering menggunakan habitat perkebunan antara lain, gajah, rusa, babi hutan,
banteng dan kera ekor panjang. Aktivitas banteng di TNMB lebih banyak ditemui
di areal perkebunan (Wirawan 2011). Pada perkebunan sangat banyak dijumpai
banteng baik secara langsung maupun tidak langsung.

Gambar 6 Habitat perkebunan.

32

Pengelolaan areal perkebunan di TNMB masih cukup baik, sehingga


tumbuhan bawah dapat tumbuh dengan subur karena adanya perawatan, seperti
pemupukan. Meskipun banyak lokasi perkebunan yang telah rusak, lokasi yang
masih produktif tetap dirawat. Menurut Setiawati (1986) kondisi rumput yang
tumbuh di bawah tegakan kelapa milik perkebunan jauh lebih baik dibanding
rumput yang tumbuh di padang penggembalaan. Keadaan ini menguntungkan bagi
banteng sehingga selalu tersedia pakan yang segar meskipun tiap blok perkebunan
dijaga oleh manusia. Banteng dapat mencari kesempatan untuk mendapatkan
makanan di areal perkebunan. Ketika melihat manusia banteng akan pergi ke
hutan di sekitarnya dan kembali ketika keadaan telah aman (Alikodra 1983).
Habitat perkebunan disukai banteng karena topografinya yang sebagian besar
datar sehingga memudahkan banteng untuk mengetahui kemungkinan adanya
gangguan (Alikodra 2010).
Pemanfaatan areal perkebunan sebagai salah satu habitat sering
menimbulkan permasalahan bagi pihak perkebunan. Masuknya banteng ke dalam
areal perkebunan yang baru ditanami mengakibatkan tanaman perkebunan milik
warga menjadi rusak. Oleh karena itu, pihak perkebunan melakukan pengamanan
terhadap banteng melalui patroli yang dilakukan oleh pekerja perkebunan untuk
menghalau banteng agar tidak masuk ke areal perkebunan. Penghalauan hanya
dilakukan pada lokasi perkebunan yang sedang ditanami tanaman pertanian
karena rentan akan injakan dan potensi dimakan oleh banteng. Tingkat kerawanan
populasi banteng pada perkebunan dipengaruhi oleh kegiatan manusia saat
mengambil hasil perkebunan dan mencari kayu atau bambu. Tingkat perburuan
terhadap banteng juga sudah sangat jarang (Tim TNMB 2009). Keberadaan satwa
pemangsa (predator) tidak ditemukan di habitat tersebut karena keberadaannnya
yang telah punah yaitu harimau jawa (Panthera tigris sondaica).
5.1.3

Padang Rumput
TNMB memiliki savana-savana buatan sebagai habitat banteng. Savana

tersebut antara lain Savana Sumbersari dan Savana Pringtali yang merupakan
padang penggembalaan (feeding ground) buatan bagi banteng. Kondisi kedua
savana sudah tidak terawat dan tidak nyaman bagi banteng untuk hidup di
dalamnya, disebakan kedua savana tersebut terancam oleh adanya invasi telean

33

(Lantana camara) dan bambu jajang (Giganthochloa apus). Feeding ground


buatan tersebut sudah sangat jarang digunakan oleh banteng. Hal ini dibuktikan
dengan sulitnya ditemukan jejak keberadaan bateng tersebut. Berdasarkan analisis
vegetasi yang dilakukan di Savana Sumbersari, ditemukan 12 jenis tumbuhan
yang didominasi oleh famili Verbenaceae dan Poaceae (Tabel 10).
Tabel 10 Hasil analisis vegetasi tumbuhan bawah di Savana Sumbersari
No

Nama lokal

Nama Ilmiah

Famili

KR
(%)
30,48
28,22
10,84
8,83
6,82

FR
(%)
15,15
15,15
15,15
12,12
9,09

INP
(%)
45,64
43,37
25,99
20,95
15,91

1
2
3
4
5

Telekan
Plumpung
Sintru
Kerayutan
Paitan

Verbenaceae
Poaceae
Leguminosae
Asteraceae
Poaceae

6
7
8
9

Rumput gambir
Lagetan
Rumput kawat
Kacang2an

10
11
12

Rumput teki
Kemukus
Putri malu

Lantana camara
Panicum respens
Clitoria ternatea
Mikania micrantha
Paspalum
conjugatum
Spilanthes acmelia
Cynodon dactylon
Desmodium
puchellum
Cyperus rotundus
Piper cubeba
Mimosa pudica

Asteraceae
Poaceae
Fabaceae

5,62
3,21
2,00
1,20

9,09
6,06
6,06
3,03

14,71
9,27
8,06
4,23

Cyperaceae
Piperaceae
Fabaceae

1,20
0,80
0,80

3,03
3,03
3,03

4,23
3,83
3,83

Hasil pengukuran vegetasi ditemukan 12 jenis tumbuhan pada Savana


Sumbersari. Jenis tumbuhan yang mendominasi dilihat dari INP terbesar yaitu
telean (Lantana camara) dan plumpung (Panicum respens) yang merupakan jenis
yang tidak disukai banteng. Jenis-jenis tumbuhan seperti sintru (Clitoria ternatea),
krayutan (Mikania micrantha), dan paitan (Paspalum conjugatum) yang
merupakan pakan banteng juga terdapat pada savana dengan jumlah banyak
terlihat dari INP tumbuhan tersebut. Walaupun jenis tersebut terdapat pada
savana, namun keberadaan telean (Lantana camara) dan plumpung (Panicum
respens) lebih dominan sehingga menutupi keberadaan jenis pakan lain.
Savana Sumbersari memiliki luas 10 ha sebagian besar tertutup dengan
bambu jajang yaitu jenis vegetasi awal yang terdapat di Savana Sumbersari,
karena perawatan yang kurang sehingga savana yang tadinya terbuka, kembali ke
kondisi awalnya yang dipenuhi oleh rumpun bambu. Savana Sumbersari berada
jauh dari lokasi aktivitas manusia dan dekat dengan aliran sungai yang mengalir
sepanjang tahun yaitu Sungai Sumbersari serta untuk mengasin banteng harus
berjalan menuju Teluk Meru. Pada Savana Sumbersari tahun 2010 dilakukan

34

pengelolaan habitat dengan mengetahui luasan efektif dari savana tersebut


kemudian dilakukan pembersihan dan pembuatan bak untuk mengasin bagi
banteng. Savana ini memiliki suhu 33C dengan kelembaban 61% dan berada
pada ketinggian 20 m dpl. Kondisi Savana Sumbersari dapat dilihat pada
Gambar 7.

Gambar 7 Habitat Savana Sumbersari.


Pada pengukuran vegetasi ditemukan 9 jenis tumbuhan di Savana
Pringtali. Pada INP terbesar diperoleh telean (Lantana camara) yang
mendominasi dan merupakan jenis yang tidak disukai banteng. Jenis lain yang
merupakan pakan banteng dan memiliki INP yang besar yaitu paitan (Paspalum
conjugatum), sintru (Mikania micrantha), kirinyuh (Chromolaena odorata), dan
kawatan (Cynodon dactylon). Jenis-jenis pakan banteng tersebut terinvasi oleh
telean sehingga banteng sulit menemukan makanannya. Hasil analisis vegetasi
dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Hasil analisis vegetasi tumbuhan bawah di Savana Pringtali
No

Nama lokal

Nama Ilmiah

Famili

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Telean
Paitan
Sintru
Kerinyu
Kawatan
Krayutan/kariya
Sidagori
Babadotan
Pulutan

Lantana camara
Paspalum conjugatum
Clitoria ternatea
Chromolaena odorata
Cynodon dactylon
Mikania micrantha
Sida glabra
Ageratum conyzoides
Urena lobata

Verbenaceae
Poaceae
Leguminoceae
Asteraceae
Poaceae
Asteraceae
Malvaceae
Compositae
Malvaceae

KR
(%)
32,40
25,75
15,91
6,48
8,44
2,55
1,96
2,16
0,78

FR
(%)
14,89
14,89
14,89
14,89
12,76
10,63
8,51
4,25
4,25

INP
(%)
47,29
40,64
30,80
21,37
21,21
13,19
10,47
6,41
5,04

Savana Pringtali merupakan salah satu habitat banteng buatan, namun


karena kurangnya perawatan savana ini tertutup dengan semak telean (Lantana

35

camara) sehingga jenis-jenis pakan yang disukai oleh banteng tertutup oleh
adanya telean. Savana ini memiliki bak untuk mengasin bagi banteng, namun
untuk kebutuhan mengasin, banteng biasanya mengunjungi pantai karena jarak
antara savana dengan pantai 1 km. Terdapat sungai yang hanya mengalir pada
musim hujan. Lokasi savana ini kurang strategis yaitu berada diantara areal
perkebunan yang menjadi lintasan banteng ketika turun dari hutan hujan tropis
dataran rendah sehingga banteng lebih memilih berada di areal perkebunan
sekitarnya. Jenis pohon yang terdapat pada savana yaitu timo (Kleinhovia
hospita), apak (Ficus benjamina), gintongan (Bischofia javanica), bungur
(Lagerstroemia speciosa), dan gondang (Ficus variegata).

Pada tahun 2010

dilakukan pembinaan habitat Savana Pringtali dengan membersihkan tanaman


pengganggu yaitu Lantana camara sampai ke akarnya sehingga jenis-jenis pakan
banteng dapat tumbuh. Dari hasil pengamatan tumbuhan yang tumbuh selama 30
hari di Savana Pringtali diperoleh jenis-jenis pakan yang disukai banteng. Suhu di
Savana Pringtali sebesar 30C dengan kelembaban 72% dan berada pada
ketinggian 15 m dpl. Kondisi habitat Savana Printali dapat dilihat pada Gambar
8.

Gambar 8 Habitat Savana Pringtali.


Padang rumput seharusnya menjadi habitat yang ideal bagi banteng,
namun dengan kondisi yang terinvasi telean (Lantana camara) dan tertutup
rumpun bambu tidak memungkinkan untuk banteng tinggal di padang rumput
tersebut. Menurut Alikodra (1990) habitat merupakan tempat yang dapat
memenuhi kebutuhan satwaliar baik untuk mencari makan, minum, berlindung,
bermain, berkembangbiak, shelter dan cover. Namun, pada keanyataannya dua

36

padang rumput ini kurang memenuhi kriteria tersebut. Pada habitat Savana
Sumbersari tidak terdapat ruang yang luas untuk banteng leluasa dalam mencari
makan karena invasi dari telean (Lantana camara) dan plumpung (Panicum
respens). Lokasi yang jauh dari tempat mengasin dan kembalinya savana menjadi
rumpun bambu mengakibatkan tak ada tempat bermain bagi banteng, sedangkan
pada Savana Pringtali tidak terdapat sumber air sepanjang tahun terdekat dan
invasi telean (Lantana camara) yang mulai menutupi pakan banteng.
Padang rumput di TNMB tidak lagi diminati karena banteng lebih memilih
areal perkebunan sebagai habitatnya. Hal ini dikarenakan selain menyediakan
pakan, perkebunan memiliki sumber air yang merupakan faktor penting bagi
kelangsungan hidup banteng. Selain itu, lokasinya yang dekat dengan hutan hujan
tropis dataran rendah sehingga memudahkan untuk bersembunyi atau beristirahat.
Perbaikan padang rumput diperlukan untuk mengembalikan banteng ke savana
agar mengurangi intensitas aktifitasnya di dalam areal perkebunan. Upaya
pembinaan habitat perlu dilakukan diantaranya, pembuatan sumber air seperti
springkel yang di butuhkan untuk savana yang tidak memiliki sumber air
sepanjang tahun, pemberantasan tanaman pengganggu, pemulihan spesies pakan
banteng, pembuatan bak mengasin, pemantauan secara rutin dan evaluasi. Pada
dasarnya padang rumput di TNMB cukup berpotensi karena letaknya yang berada
dekat dengan hutan hujan tropis dataran rendah, sehingga memberikan rasa aman
bagi banteng. Selain itu terdapat shelter yang berfungsi sebagai peneduh yaitu
pohon walangan (Pterospermum diversifolium), bungur (Lagerstroemia speciosa)
dan bambu, serta memiliki lokasi untuk mengasin. Padang rumput yang ideal
yaitu yang memiliki luasan 10-20 ha, tersebar pada beberapa lokasi, komposisinya
terdiri dari hutan alam, padang rumput, sumber air, hutan pantai/mangrove, dan
air laut (Alikodra 2010). Permasalahannya yaitu perawatan terhadap savana yang
kurang efektif sehingga savana tidak terawat dan penyediaan air lokasi yang sulit
air.
5.1.4

Keanekaragaman jenis tumbuhan


Berdasarkan perhitungan Indeks Shannon-Wiener pada berbagai tipe

habitat yang dikaji dapat diketahui keanekaragaman jenis pada berbagai tingkat

37

pertumbuhan. Jumlah lokasi yang digunakan untuk analisis Indeks ShanonWiener adalah sebanyak delapan lokasi (Tabel 12).
Tabel 12 Indeks keanekaragaman jenis tiap tingkat pertumbuhan
Indeks Keanekaragaman Jenis
Lokasi
Blok Banyuputih
Blok Sikapal
Blok 90-an Coklat
Blok 90-an Karet
Blok Balsa
Blok Kedungwatu
Savana Sumbersari
Savana Pringtali

Tumb,
Bawah
0,89
1,21
0,63
1,51
1,45
1,26
2,15
1,98

Semai

Pancang

Tiang

Pohon

0,71
1,82
0
-

1,09
1,88
0
0
0
0,54
-

1,52
1,74
0,47
0
-

2,09
2,24
0,33
0
0,69
-

Berdasarkan Tabel 12 dapat dilihat bahwa untuk tingkat pohon


keanekaragaman tertinggi terdapat pada tipe habitat hutan hujan tropis dataran
rendah yaitu Blok Sikapal. Keanekaragaman pada hutan hujan tropis dataran
rendah terlihat dari tersedianya tiap tingkat pertumbuhan antara lain pohon, tiang
dan pancang yang mendominasi dari habitat lainnya. Vegetasi hutan hujan tropis
primer dan sekunder dengan berbagai tingkat pertumbuhan ini menunjukan
tingkat regenerasi tumbuhan yang lebih baik dibanding tipe habitat lainnya.
Menurut Endarwin (2006) dalam Destriana (2008) hutan hujan tropis dataran
rendah memiliki komposisi dan keanekaragaman baik tumbuhan maupun
satwaliar yang cukup tinggi dibandingkan formasi hutan lainnya.
Areal perkebunan memiliki jenis-jenis tanaman yang homogen yang
ditunjukan dengan nilai 0, sehingga hanya terdapat jenis-jenis tingkat
pertumbuhan tertentu. Pada Blok 90-an Coklat dan Karet didominasi oleh
tumbuhan bawah, pada Blok Balsa dan Kedungwatu juga didominasi oleh
tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah mendominasi tipe vegetasi perkebunan,
sehingga perkebunan menyediakan jenis-jenis tumbuhan pakan bagi banteng.
Pada savana yang sebagian besar adalah tumbuhan bawah memiliki indeks
keanekaragaman yang tinggi untuk tingkat tumbuhan bawah, namun jenis-jenis
yang disukai banteng telah terinvasi sehingga banteng kesulitan memilih
makanannya. Banteng makan pada tingkat tumbuhan bawah, semai dan beberapa
pancang. Karena banteng tidak hanya grazer (pemakan rumput) tapi juga browser
yang memakan pucuk-pucuk daun muda. Keanekaragaman vegetasi yang

38

menyusun kawasan konservasi merupakan salah satu potensi yang mendukung


keberadaan banteng dalam kelangsungan hidupnya.
Keanekaragaman jenis berdasarkan Indeks Shannon-Wienner di TNMB
termasuk dalam kategori sedang (2-3) yaitu untuk hutan hujan tropis dataran
rendah Blok Banyuputih dan Sikapal serta Savana Sumbersari, sedangkan
keanekaragaman jenis pada areal perkebunan termasuk jenis rendah (<2). Hutan
hujan tropis memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi karena keadaannya
yang masih alami dan merupakan penutupan lahan terbesar di kawasan TNMB.
5.2

Karakteristik Habitat

5.2.1

Ketersediaan Pakan

5.2.1.1 Jenis pakan


Banteng merupakan jenis satwaliar yang bersifat grazer namun pada
kawasan TNMB banteng lebih bersifat browser (pemakan semak dan tunas-tunas
muda). Berdasarkan hasil pengamatan adanya renggutan di tiap tipe vegetasi,
studi literatur, dan keterangan petugas, ditemukan 25 jenis pakan banteng yang
berasal dari 3 tipe habitat yaitu savana, perkebunan, dan hutan. Jenis-jenis pakan
banteng yang ditemukan disajikan dalam Tabel 13.
Tabel 13 Jenis-jenis pakan yang dijumpai di TNMB
No
1
2
3
4

Nama local
Kerayutan
Bambu jajang
Kacang-kacangan
Lagetan

Famili
Asteraceae
Poaceae
Fabaceae
Asteraceae

Nama ilmiah
Mikania micrantha
Panicum respens
Desmodium puchellum
Spilanthes acmelia

5
6
7
8

Paitan
Rumput kawat
Coklat
Kirinyuh

Poaceae
Poaceae
Sterculiaceae
Asteraceae

Paspalum conjugatum
Cynodon dactylon
Theobrroma cacao
Chromolaena odorata

9
10

Babadotan
Bambu wuluh

Compositae
Poaceae

Ageratum conyzoides
Schizoschyum blumea

11
12

Mat-mat
Ketangi/bungur

Annonaceae
Lythraceae

13
14
15
16
17

Apak
Jenti
Rambusa
Waru
Kinura/sembung
sukmo
Rampelasan

Moraceae
Fabaceae
Passifloraceae
Malvaceae
Compositae

Polyalthia rumphii
Lagerstroemia
speciosa
Ficus benjamina
Sesbania sesban
Passiflora foetida
Hibiscus tiliaceus
Gynura procumbent

Lauraceae

Litsea amara

18

Tempat tumbuh
Perkebunan, savana
Savana
Savana
Perkebunan, savana,
hutan
Perkebunan, hutan
Perkebunan, savana
Perkebunan
Perkebunan, hutan,
savana
Perkebunan, hutan
Hutan, savana,
perkebunan
Hutan
Hutan, savana
Hutan, savana
Perkebunan
Perkebunan
Perkebunan
Perkebunan, hutan
Hutan

39

Tabel 13 lanjutan.
No
19
20
21
22
23
24
25

Nama local
Puka/takokak
Lameta
Rumput teki
Sintru
Kopi
Luwingan
Gondang

Famili
Solanaceae
Poaceae
Cyperaceae
Fabaceae
Rubiaceae
Moraceae
Moraceae

Nama ilmiah
Solanum torfum
Leersia hexandra
Cyperus rotundus
Clitoria ternatea
Coffea robusta
Ficus hispida
Ficus variegata

Tempat tumbuh
Hutan
Hutan
Perkebunan
Perkebunan
Perkebunan
Hutan
Hutan, savana

Hasil perolehan pakan banteng menunjukan ketersediaan pakan banteng


sebagian besar berasal dari areal perkebunan, hal ini dapat dilihat dari
keanekaragaman jenis pakan yang lebih beragam di areal perkebunan dari adanya
analisisi vegetasi. Jenis-jenis pakan tersebut sebagian besar berasal dari tingkat
tumbuhan

bawah,

semai,

dan

pancang

karena

banteng

lebih

mudah

mendapatkannya. Setiawati (1986) menyatakan bahwa banteng bergerak ke


tempat yang kondisi rumputnya masih baik. Areal perkebunan memiliki kondisi
tumbuhan bawah yang subur dan beragam, karena adanya perawatan yang
dilakukan perkebunan pada tanaman-tanaman perkebunan sehingga jenis-jenis
tumbuhan lain juga dapat tumbuh subur dan selalu segar karena adanya perawatan
tersebut. Paitan merupakan salah satu jenis pakan banteng yang disukai. Hal ini
dapat diketahui dari adanya bekas renggutan pada tumbuhan tersebut (Gambar 9).

Gambar 9 Hasil renggutan banteng.


Sebagian besar pakan banteng diperoleh dari areal perkebunan yaitu 28%,
kemudian dari hutan 20% dan dari savana 8%. Beberapa jenis pakan banteng
ditemukan dari hutan dan perkebunan, perkebunan dan savana, serta ketiganya.
Persentase terbesar merupakan gabungan dari ketiga lokasi perolehan pakan
banteng yang masih didominasi oleh areal perkebunan yaitu dengan angka 12%.
Persentase perolehan pakan banteng disajikan pada Gambar 10.

40

Menurut Muntasib et al. (2000) jenis pakan banteng di Taman Nasional


Ujung Kulon ada 87 jenis sedangkan menurut Delfiandi (2006) jenis pakan
banteng yang ditemukan selama penelitian di Taman Nasional Alas Purwo ada 15
jenis. Dari perbandingan jenis pakan tersebut TNMB memiliki jenis-jenis pakan
banteng tergolong menengah yaitu 25 jenis. Meskipun demikian banteng tetap
dapat bertahan hidup di TNMB dengan jenis-jenis pakan yang tersedia

12 %

8%
12 %
12 %

Gambar 10 Persentase keberadaan potensi pakan banteng.


5.2.1.2 Produktivitas pakan
Pengamatan produktivitas di TNMB dilakukan di dua blok yaitu Blok
Banyuputih dan Blok Sikapal. Produktivitas digunakan untuk mengetahui jumlah
produksi pakan banteng di lokasi pengamatan. Produktivitas di TNMB tidak
dilakukan di padang penggembalaan karena statusnya saat ini sudah jarang
digunakan banteng. Oleh karena itu, produktivitas dilakukan di lokasi yang
dijadikan aktivitas makan banteng secara rutin. Lokasi-lokasi tersebut berada pada
areal perkebunan yang terdapat ruang terbuka dan di hutan hujan tropis dataran
rendah yang juga memiliki ruang terbuka sebagai lokasi makan banteng.
Blok Banyuputih merupakan lokasi perkebunan kopi (Coffea robusta) dan
juga kelapa (Cocos nucifera), memiliki ruang-ruang yang luas untuk tumbuhnya
rumput dan tumbuhan bawah karena tanaman kopi yang masih muda setelah
regenerasi perkebunan. Terdapat areal-areal yang terbuka sebagai tempat makan
banteng, selain itu tanaman kopi juga menjadi salah satu pakan kesukaan banteng.
Pada Blok Banyuputih yang memiliki luas 14,65 ha dibuat 5 plot produktivitas

41

dan 5 plot palatabilitas sebesar 1x1 m. Biomasa rumput dan tumbuhan bawah
dari sampel plot produktivitas pada pemotongan tahap awal di Blok Banyuputih
yaitu 705 gram/m, setelah itu dilakukan pemotongan setelah 30 hari diperoleh
1.145 gram/m lebih tinggi dari biomasa awal. Hasil tersebut dihitung dalam berat
basah hijaun pakan banteng (Tabel 14).
Tabel 14 Hasil produksi hijauan di Blok Banyuputih
Jenis Tumbuhan
Cyperus rotundus
Paspalum conjugatum
Cynodon dactylon
Ageratum conyzoides
Jumlah

Berat Awal (gr)


440
65
115
85
705

Berat 30 hari (gr)


670
55
260
160
1.145

Produktvitas hijauan pakan banteng


Produktivitas = 14,65 ha/0,0005 ha x 0,475 kg
= 13.917,5 kg/ha

Produktivitas =

13.917,5 kg/ha
30 hari

= 463,92 kg/ha/hari
Hasil perhitungan produktivitas hijauan pakan banteng di Blok Banyuputih
sebesar 463,92 kg/ha/hari. Hasil tersebut diperoleh dari berat basah setelah 30 hari
jenis-jenis pakan yang dimakan banteng yaitu paitan (Paspalum conjugatum),
kawatan (Cynodon dactylon), dan babadotan (Ageratum conyzoides). Jenis-jenis
pakan tersebut hanya terdapat pada areal yang terbuka. Sebagian besar Blok
Banyuputih tertutup oleh tanaman kopi dan kelapa namun di sela-sela tegakan
banyak tumbuh jenis-jenis pakan tersebut. Rumput teki (Cyperus rotundus) yang
juga merupakan salah satu pakan banteng tidak masuk dalam perhitungan karena
meskipun jumlahnya melimpah, namun banteng tidak memakan jenis ini. Hal ini
disebabkan banteng lebih memilih jenis pakan yang lain meskipun banteng tidak
selektif memilih makanannya tapi ada kecenderungan untuk memilih jenis pakan
yang lebih disukai. Plot pengamatan produktivitas Blok Banyuputih disajikan
pada Gambar 11.

42

Gambar 11 Plot pengamatan produktivitas Blok Banyuputih.


Pada Blok Sikapal dengan luas 1 ha dibuat plot sebesar 1x1 m sebanyak
10 plot yang dipagari. Pada blok ini tidak dibuat plot yang tidak di pagari karena
luasannya yang kecil. Biomasa pada lokasi ini sebesar 7.198 gram/m dan setelah
pemotongan setelah 30 hari sebesar 8.202 gram/m. Hasil tersebut dihitung
berdasarkan berat basah hijauan pakan banteng. Produksi hijauan pakan banteng
Blok Sikapal disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15 Hasil produksi hijauan di Blok Sikapal
Jenis Tumbuhan
Mikania micrantha
Paspalum conjugatum
Solanum torfum
Chromolaena odorata
Gynura procumbens
Leersia hexandra
Jumlah

Berat Awal (gr)


3639
3270
80
20
149
40
7198

Berat 30 hari (gr)


2836
5283
0
0
76
7
8202

Produktivitas = I ha/0,001 ha x 8,119 kg


= 8.119 kg/ha

Produktivitas =

8.119 kg/ha
30 hari

= 270,63 kg/ha/hari
Dari hasil perhitungan diperoleh produktivitas hijaun pakan banteng di
Blok Sikapal sebesar 270,63 kg/ha/hari. Hasil tersebut diperoleh dari jenis pakan
yang dimakan oleh banteng yaitu paitan (Paspalum conjugatum) dan krayutan
(Mikania micrantha). Terdapat jenis-jenis baru yang tumbuh setelah 30 hari yaitu
kinura (Gynura procumbens) dan lameta (Leersia hexandra), namun terdapat pula
jenis-jenis yang tidak ditemui lagi setelah 30 hari yaitu puka (Solanum torfum)
dan kirinyuh (Chromolaena odorata). Jenis-jenis yang tumbuh dan tidak tumbuh

43

kembali tersebut juga merupakan pakan bagi banteng. Blok Sikapal ini merupakan
areal hutan hujan tropis dataran rendah yang memiliki ruang-ruang terbuka
sebagai lokasi makan bagi banteng. Jenis-jenis pakan tersebut selain tumbuh pada
areal terbuka juga tumbuh di sela-sela tegakan hutan hujan tropis dataran rendah.
Plot pengamatan produktivitas Blok Sikapal dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12 Plot pengamatan produktivitas Blok Sikapal.


Alikodra dan Palete (1980) menyatakan bahwa ada tiga segi yang
berpengaruh terhadap produktivitas padang rumput yaitu penggundulan rumput,
efek dari urin, dan kotoran serta efek dari injakan. Dari hasil pengamatan lokasi
ini merupakan lokasi yang selalu dijadikan tempat makan bagi banteng terlihat
dari adanya jejak kaki, kotoran baru, dan perjumpaan langsung. Banyaknya
injakan di rumput dan banyaknya renggutan juga menjadi tanda banteng mencari
makan di lokasi tersebut. Selain itu, lokasi tersebut berada di pinggir hutan hujan
tropis dataran rendah dan menjadi jalur masuk banteng ke dalam hutan. Menurut
Satmoko (1955) dalam Sectionov (1999) banteng mempunyai sifat mengadakan
perjalanan sambil makan.
5.2.1.3 Daya Dukung

Daya dukung kawasan diperoleh dari hasil perhitungan produktivitas


hijauan pakan banteng. Dari dua lokasi pengamatan produktivitas, dilakukan juga
perhitungan terhadap daya dukung kawasan. Berdasarkan kebutuhan pakan
banteng yaitu 18,65 kg/ha/hari (Alikodra 1983) diperoleh hasil perhitungan
sebagai berikut :

44

1. Daya dukung Blok Banyuputih


DayaDukung =

463,92 kg/ha/hari x 0,65


18,65 kg/ekor/hari

= 16,18 ekor = 16 ekor


2. Daya dukung Blok Sikapal
270,63 kg/ha/hari x 0,45
18,65 kg/ekor/hari
= 6,5 ekor = 6 ekor

DayaDukung =

Daya dukung Blok Banyuputih yaitu untuk 16 ekor banteng, sedangkan


populasi Blok Banyuputih 12 ekor/ha (Wirawan 2011), hal ini dikarenakan areal
perkebunan menyediakan keanekaragaman pakan banteng yang tinggi yang
menyebabkan areal perkebunan lebih diminati oleh banteng. Data ini berbeda
dengan pernyataan Alikodra (1983) yang menyatakan bahwa padang rumput
merupakan habitat yang paling baik bagi banteng. Hal ini dikarenakan
terinvasinya padang rumput oleh telean, plumpung, dan bambu, sehingga banteng
mencari lokasi lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dibutuhkan
pengelolaan habitat di TNMB untuk membuat banteng menyukai feeding ground.
Ruang terbuka di Blok Sikapal memiliki luas 1 ha dapat menampung 6
ekor banteng berdasarkan perhitungan produksi hijauan pakan banteng. Lokasi ini
belum diketahui data populasi pasti sehingga tidak bisa diketahui apakah lokasi
tersebut mencukupi bagi banteng. Pada lokasi ini banteng sulit ditemui meskipun
jejak dan kotorannya selalu ada, selain itu terdapat pula bekas renggutan banteng.
Blok Banyuputih yang di dominasi hutan hujan tropis dataran tidak hanya
menyediakan pakan pada ruang terbuka namun juga di sela-sela tegakan hutan.
Makanan merupakan faktor pembatas bagi kehidupan banteng, maka penilaian
daya dukung suatu kawasan dapat ditinjau dari segi potensi kawasan dalam
menyediakan makanan (Alikodra 1983). Banteng makan secara bergiliran
(rolling) tiap harinya ke hutan dan juga ke areal perkebunan. Hal ini merupakan
strategi banteng agar pertumbuhan rumput dapat merata sebagai salah satu cara
menemukan pakan yang disukai maupun mengeksplorasi daerah lingkungannya
(Nugraha 2007). Gerakan pindah ini juga dilakukan untuk menghindari dari
aktivitas manusia di areal perkebunan.

45

5.2.1.4 Palatabilitas

Palatabilitas pakan banteng diukur berdasarkan hijaun pakan banteng yang


paling sering dimakan oleh banteng di lokasi pengamatan produktivitas.
Palatabilitas dilihat dari adanya renggutan pada jenis-jenis pakan di sekitar plot
produktivitas yang merupakan lokasi makan banteng. Perhitungan palatabilitas
dilakukan pada empat jenis pakan banteng (Tabel 16).
Tabel 16 Hasil pengamatan palatabilitas pakan banteng di Blok Banyuputih
No
1
2
3
4

Jenis tumbuhan
Paspalum conjugatum
Cynodon dactylon
Ageratum conyzoides
Cyperus rotundus

x
4
3
2
0

y
5
4
5
5

P
0,80
0,75
0,40
0,00

Dari hasil pengamatan tersebut diperoleh jenis paitan (Paspalum


conjugatum) merupakan jenis yang paling disukai dengan nilai palatabilitas

mendekati 1 yaitu 0,80. Jenis lain yang juga disukai yaitu kawatan (Cynodon
dactylon) dengan palatabilitas 0,75 tidak berbeda jauh dari jenis paitan. Untuk

perhitungan palatabilitas di Blok Sikapal, terdapat enam jenis tumbuhan yang


merupakan pakan banteng (Tabel 17).
Tabel 17 Hasil pengamatan palatabilitas pakan banteng di Blok Sikapal
No
1
2
3
4
5
6

Jenis tumbuhan
Paspalum conjugatum
Mikania micrantha
Solanum torfum
Chromolaena odorata
Gynura procumbens
Leersia hexandra

x
10
9
0
0
0
0

y
10
10
1
1
1
1

P
1,0
0,9
0,0
0,0
0,0
0,0`

Dari hasil perhitungan palatabiltas Blok Sikapal diperoleh paitan dengan


tingkat palatabilitas tertinggi yaitu 1 (paling disukai banteng). Jenis berikutnya
yang disukai yaitiu krayutan (Mikania micrantha) dengan besar palatabilitas 0,9
yang mendekati 1. Jenis lain yang mempunyai nilai 0 yang merupakan jenis-jenis
pakan banteng, namun tumbuh dalam jumlah sedikit dan keberadaannya yang
tidak tetap.
Beberapa faktor yang mempengaruhi palatabilitas diantaranya adalah
ketersediaan hijauan dan jenis hijauan. Jenis rumput paitan di kedua blok sangat
tinggi sehingga sangat disukai banteng, hal ini menyebabkan rumput lain tidak
dimakan oleh banteng seperti rumput teki yang juga tersedia dalam jumlah tinggi,

46

kemudian puka, kirinyuh, kinura dan lameta yang ketersediaannya tidak tetap.
Alikodra (1978) menyatakan banteng sebagai satwa herbivora seperti juga hewanhewan lainnya mempunyai suatu cara adaptasi yang khusus untuk memilih jenisjenis makanannya. Pemilihan jenis makanan ini tergantung dari nilai gizi, daya
cerna, ukuran, jumlah dan kemampuan makanan tersebut untuk memberikan
kekuatan dan daya tahan tubuh dari serangan penyakit.
Mcllroy (1977) menyatakan bahwa palatabilitas dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu hewan itu sendiri, fase pertumbuhan, kondisi hijauan, kesempatan
memilih makanan yang lain, dan tata laksana cara pemupukan hijauan. Pada
kedua blok kondisi hijauan yang ada membuat banteng mendapat kesempatan
untuk memilih makanannya yaitu paitan meskipun ada rumput teki pada Blok
Banyuputih, sedangkan pada Blok Sikapal dengan kondisi hijauan yang ada
membuat banteng memilih paitan dan krinyuh menjadi pakan yang disukai.
Menurut Loepold (1933); Klein (1969); Siswanto (1982) dalam Gunawan
(1987), pengelompokan makanan berdasarkan palatabilitas, ketersediaan makanan
dan kadar gizi dapat digolongkan sebagai berikut : (a) disukai; (b) bahan makanan
pokok; (c) makanan dalam keadaan darurat; (d) makanan pengisi/tambahan dan
(e) tidak dimakan karena adanya rintangan. Oleh karena itu banteng memilih
makanan yang disukai untuk dimakan.
5.2.2 Karakteristik Cover (lindungan)
Cover (lindungan) banteng di TNMB tersebar di lokasi-lokasi habitat

banteng. Beberapa tipe cover yang digunakan oleh banteng seperti tajuk pohon
dan rumpun bambu. Pendugaan ini berdasarkan adanya bekas-bekas jejak dan
kotoran banteng di lokasi cover, serta berdasarkan literatur aktivitas istirahat
banteng dan hasil wawancara dengan petugas. Data hasil pengamatan bentuk dan
fungsi cover disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18 Hasil pengamatan bentuk dan fungsi cover
Lokasi
Blok 90-an
Coklat dan
Karet
Blok Balsa dan
Kedungwatu

Tipe
Cover
Tajuk
pohon

Fungsi
Cover
Makan,
berlindung,
Lintasan

Tipe
Habitat
Perkebunan

Tinggi
(mdpl)
0-10

Substrat
Dominan
Coklat

Tajuk
pohon

Makan, berteduh,
lintasan

Perkebunan

0-20

Balsa

47

Tabel 18 lanjutan.
Lokasi

Tipe
Cover
Tajuk
pohon dan
Rumpun
Bambu

Fungsi
Cover
Berlindung,
istirahat, makan

Tipe
Habitat
Hutan hujan
tropis datarn
rendah dan
Perkebunan

Tinggi
(mdpl)
0-20

Substrat
Dominan
Bambu
wuluh,
Walangan

Blok Sikapal

Tajuk
pohon dan
Rumpun
bambu

Berlindung,
istirahat, makan

Hutan hujan
tropis dataran
rendah

600

Apak,
bambu

Savana
Sumbersari

Rumpun
bambu

Istirahat, makan

Savana

0-20

Bambu
jajang

Savana
Pringtali

Rumpun
bambu dan
Tajuk
pohon

Istirahat, makan

Savana

0-15

Bambu
wuluh,
gintongan,
bungur,
timo

Blok
Banyuputih

Pada Blok 90an Coklat dan Karet, tajuk pohon digunakan untuk
melindungi diri dari panas saat mencari makan di lokasi tersebut. Bentuk tajuk
tanaman coklat sangat rapat, tajuk yang lebar dengan kondisi pohon coklat yang
rendah sehingga menjadi rapat. Pada pohon karet tajuk cenderung terbuka karena
pohon karet yang tinggi dan daun yang lebat hanya di bagian atas pohon. Di
lantai hutan pohon karet terdapat lebih banyak tumbuhan bawah dibanding di
bawah pohon coklat. Cover pohon coklat biasanya digunakan banteng untuk
menghindari musuh ketika berkelahi karena dari hasil wawancara banteng yang
berkelahi salah satu lari masuk ke dalam areal perkebunan coklat.
Pada Blok Balsa dan Kedungwatu, tajuk pohon digunakan untuk
melindungi diri dari terik sinar matahari saat menuju ke sumber air. Tajuk pohon
yang digunakan yaitu balsa (Ochroma lagopus) dan waru (Hibiscus tiliaceus).
Kondisi perkebunan yang terbuka, membuat di lantai hutan tersedia jenis-jenis
pakan banteng. Ketika melintasi blok tersebut banteng juga makan di lantai hutan
untuk kemudian melanjutkan berjalan menuju ke sumber air.
Pada Blok Banyuputih dan Blok Sikapal yang merupakan hutan hujan
tropis dataran rendah memiliki tajuk pohon yang lebar dan rapat sehingga
menaungi lantai hutan dari panas matahari. Terdapat ruang-ruang terbuka yang
digunakan banteng untuk mencari makan dan juga istirahat. Kondisi tanah yang
datar dan kering digunakan banteng untuk istirahat, hal ini dibuktikan dengan

48

adanya jejak dan kotoran serta terdapatnya tumbuhan pakan tambahan bagi
banteng. Pohon yang mendominasi yaitu walangan (Pterospermum diforsifolium)
dan apak (Ficus benjamina) yang memiliki tajuk yang lebar dan rapat. Rumpun
bambu juga terdapat pada hutan hujan tropis dataran rendah yang merupakan
vegetasi awal ketika memasuki hutan hujan tropis dataran rendah yang
digunakan banteng untuk berlindung ketika mendapat gangguan dan juga untuk
makan. Banteng biasanya beristirahat dibawah naungan bambu, karena kondisi
tanah yang kering dan topografi yang datar.
Pada Savana Sumbersari lindungan yang digunakan yaitu rumpun bambu
dengan lantai hutan yang kering dan topografi yang datar serta terdapatnya pakan
banteng. Keadaan savana yang sebagian besar tertutup bambu membuat banteng
sangat jarang menggunakan savana sebagai habitatnya karena geraknya yang
terbatas. Rumpun bambu yang lebat mengakibatkan banteng sulit untuk megawasi
sekitar untuk menghindari gangguan. Pada Savana Pringtali terdapat beberapa
jenis pohon yang dijadikan lindungan dari terik sinar matahari yaitu timo
(Kleinhovia hospita), gintongan (Bischofia javanica), apak (Ficus benjamina), dan

gondang (Ficus variegata). Selain itu, terdapat bambu di sekitar savana yang
dapat dijadikan tempat berteduh dan juga sebagai tempat bersembunyi ketika
mendapat gangguan. Bambu tersebut merupakan tumbuhan yang terdapat di
perbatasan antara savana dan hutan hujan tropis dataran rendah. Cover bagi
banteng dapat dilihat pada Gambar 13.
Dilihat dari segi lokasinya, tiap cover dimiliki oleh tipe habitat yang sama
yaitu tajuk pohon dan rumpun bambu untuk hutan hujan tropis dataran rendah dan
tajuk pohon untuk areal perkebunan. Tajuk pohon merupakan tipe cover yang
digunakan oleh banteng untuk berteduh dari teriknya sinar matahari. Hutan hujan
tropis dataran rendah dijadikan sebagai tempat bersembunyi dari berbagai macam
gangguan dan dijadikan sebagai tempat berlindung dari kondisi cuaca yang tidak
menentu (Alikodra 1983).
Tajuk pohon yang sering digunakan yaitu karet (Hevea brasiliensis),
coklat (Theobrroma cacao), balsa (Ochroma lagopus), waru (Hibiscus tiliaceus),
walangan (Pterospermum diversifolium), dan apak (Ficus benjamina). Rumpun
bambu biasanya memiliki lantai hutan yang bersih karena bambu bersifat

49

alelopati, biasanya rumpun bambu ini digunakan sebagai tempat beristirahat dan

sebagai tempat bersembunyi dari gangguan manusia dan musuh. Rumpun bambu
merupakan salah satu cover yang paling diminati oleh banteng karena bambu
juga merupakan salah satu pakan banteng. Banteng memanfaatkan hutan hujan
tropis sebagai tempat istirahat di bawah tegakan bambu yang datar dan tersedia
makanan tambahan (Delfiandi 2006).

(b)

(a)

(c )

(d)

(e)

(f)

Gambar 13 Bentuk-bentuk cover banteng di TNMB, (a) Blok Sikapal; (b) Blok
Banyuputih; (c) Blok Balsa dan Kedungwatu; (d) Savana Pringtali;
(e) Savana Sumbersari; (f) Blok 90an Karet dan Coklat.

50

5.2.3

Ketersediaan Air

Salah satu komponen penting habitat yaitu ketersediaan air bagi banteng.
Di lokasi penelitian terdapat 4 sungai besar yang mengalir menuju muara sebagai
sumber air bagi banteng. Sungai-sungai tersebut ada yang mengalir sepanjang
tahun dan ada yang musiman. Saat musim hujan air banyak tersedia di parit
sehingga banteng cukup memenuhi kebutuhan airnya di dalam hutan ataupun dari
saluran air yang terdapat di areal perkebunan, sedangkan saat musim kemarau
banteng dapat memenuhi kebutuhan airnya dari sungai yang mengalir sepanjang
tahun menuju muara (Tabel 19).
Tabel 19 Hasil pengamatan parameter fisik sumber air yang digunakan banteng
Lokasi

Sumber
Air

Lebar
(m)

Kedalaman
(cm)

Ketersediaan

Intensitas
penggunaan

Tipe
habitat

Blok 90-an
Coklat dan
Karet

Kubangan,
parit dan
Muara
Sukamade

30

150

Musiman dan
sepanjang
tahun

Jarang

Perkebunan

Debit
air
(m/s)
10,56

Blok Balsa
dan
Kedung
Watu

Sungai
Cawang
(tumpak
dawung)

21

5,33

Sepanjang
tahun

Sering

Perkebunan

7,91

Blok
Banyuputih

Sungai
Banyuputih
(tumpak
dawung),
parit

10,33

Musiman

Sering

Perkebunan
dan hutan
hujan tropis
dataran
rendah

8,86

Blok
Sikapal

Sungai
Kali Sanen
(betiri)

12

19,33

Sepanjang
tahun

Jarang

Hutan hujan
tropis
dataran
rendah

40,35

Savana
Sumbersari

Sungai
Sumbersari
(betiri)

20

23

Sepanjang
tahun

Jarang

Savana

123,5
8

Savana
Pringtali

Sungai
Pringtali,
bak air

10

Musiman

Jarang

Savana

Pada lokasi Savana Sumbersari ditemukan sungai yang mengalir


sepanjang tahun, namun jarang digunakan banteng. Lokasi Sungai Sumbersari
bersebelahan dengan Savana Sumbersari yang sudah jarang digunakan oleh
banteng sehingga banteng jarang minum dilokasi tersebut berdasarkan wawancara
masyarakat dan petugas. Pengelolaan habitat oleh pihak taman nasional yaitu
dengan pengadaan bak untuk mengasin bagi banteng. Pada Savana Pringtali tidak

51

ditemukan sumber air terdekat terdapat bak air buatan namun tidak terisi air,
hanya bila musim hujan bak terisi oleh air. Sungai Sumbersari memiliki debit air
sebesar 123,58 m/s.
Pada Blok 90an Coklat dan Karet sumber air bagi banteng yaitu pada air
yang menggenang di kubangan dan parit-parit areal perkebunan. Terdapat sungai
yang mengalir menuju muara yang berjarak 700 m dari areal perkebunan dan
dapat digunakan banteng untuk minum dengan mengasin serta memiliki debit air
sebesar 10,56 m/s. Pada Blok Balsa dan Kedungwatu yang merupakan areal
perkebunan ditemukan Sungai Cawang yang mengalir sepanjang tahun dan sering
digunakan sebagai tempat minum bagi banteng, hal ini dibuktikan setiap harinya
selalu ada jejak dan kotoran baru. Blok Balsa dan Kedungwatu merupakan lokasi
yang digunakan banteng untuk makan sehingga sambil berjalan menuju sungai
banteng makan jenis-jenis tumbuhan bawah yang terdapat pada lokasi tersebut.
Sungai Cawang yang digunakan banteng mengalir menuju muara laut Teluk
Bandealit dan memiliki debit air sebesar 7,91 m/s
Pada Blok Banyuputih ditemukan Sungai Banyuputih yang mengalir bila
musim hujan saja, namun sering didatangi banteng untuk minum. Blok
Banyuputih merupakan areal perkebunan kelapa dan kopi dan merupakan blok
yang memiliki intensitas perjumpaan yang besar. Selain Sungai Banyuputih
terdapat parit-parit air di dalam hutan yang menampung air saat musim hujan.
Sungai Banyuputih memiliki debit air sebesar 8,86 m/s. Pada Blok Sikapal
ditemukan Sungai Kali Sanen yang mengalir sepanjang tahun dengan debit air
sebesar 40,35 m/s, namun jarang digunakan oleh banteng. Faktor penyebabnya
yaitu dekatnya sungai dengan aktivitas manusia yang berbatasan dengan areal
perkebunan dan arusnya yang cukup deras dengan topografi yang curam. Kondisi
sumber-sumber air bagi banteng dapat dilihat pada Gambar 14.
Sumber-sumber air selain dari mata air pegunungan juga berasal dari air
hujan yang tertampung dalam parit-parit di dalam areal perkebunan dan hutan.
Sungai-sungai dan sumber air tersebut tersebar dalam tipe habitat yaitu hutan
hujan tropis dataran rendah, perkebunan dan savana. Sungai-sungai tersebut
memiliki air yang jernih karena banteng membutuhkan air yang bersih. Alikodra
(1983) menyatakan ketersediaan air pada suatu habitat secara langsung

52

dipengaruhi oleh iklim lokal dan air memegang peranan penting bagi kehidupan
banteng sebagai sumber air minum, sehingga air harus tersedia di dalam wilayah
jelajah (home range) banteng dalam keadaan bersih. Sumber-sumber air di Taman
Nasional Alas Purwo yaitu dari gua yang mengalir sepanjang tahun, aliran sungai
dan kubangan air hujan. (Delfiandi 2006).

(a)

(b)

(c )

(d)

(e)

(f)

Gambar 14 Sumber-sumber air sungai di TNMB, (a) Sungai Sikapal; (b) Sungai
Sumbersari; (c) Sungai Banyuputih; (d) Sungai Cawang; (e) Parit
perkebunan; (f) Muara Sukamade.
Debit air tidak berpengaruh nyata terhadap banteng dari hasil pengamatan
di sumber-sumber air di TNMB sungai yang memiliki debit air yang lebih tinggi
banteng jarang minum, sedangkan pada sungai yang debit airnya lebih rendah
banteng lebih sering minum. Pemilihan lokasi minum lebih didasarkan pada lokasi

53

yang memiliki air tawar yang relatif jernih dan biasanya lokasi minum dekat
dengan tempat mencari makan (Nugroho 2001).
Kedalaman tempat minum, topografi dan tipe vegetasi diduga tidak
berpengaruh bagi banteng, begitu pula dengan lokasi minum yang tersembunyi.
Banteng cenderung mencari tempat-tempat yang agak terbuka dan ternaungi. Hal
tersebut dimungkinkan agar banteng dapat mengawasi keadaan sekitar. Sumber
air yang digunakan untuk mengasin banteng berasal dari air payau. Jarak sungai
yang digunakan banteng 1 km dari pantai, untuk sungai pada ketinggian 600 m
dpl banteng mendapat mineral dari batu-batu.
Pada savana yang seharusnya menjadi habitat banteng ketersediaan akan
air justru kurang tersedia. Oleh karena itu, dibutuhkan pengadaan air agar
kebutuhan akan air tercukupi. Meskipun dibuat bak air dan tempat mengasin,
namun apabila bak tidak terisi air maka banteng tidak dapat memenuhi kebutuhan
akan airnya. Air merupakan salah satu komponen habitat dan kebutuhan satwa
yang paling utama. Air dibutuhkan banteng untuk minum setiap harinya. Hal ini
dikarenakan banteng memerlukan air untuk memperlancar proses pencernaannya.
Air yang digunakan banteng adalah air tawar. Tempat-tempat minum banteng
biasanya dekat dengan tempat mencari makan (Nugroho 2001).
5.3

Ancaman dan implikasi pengelolaan habitat banteng

Ancaman banteng di TNMB yaitu adanya aktivitas manusia yang memicu


perburuan liar. Ancaman perburuan terjadi karena sebagian besar aktivitas
banteng di habiskan di areal perkebunan yang terdapat banyak aktivitas manusia.
Menurut Wirawan (2011) banteng menghabiskan sebagian besar aktivitasnya
untuk makan di areal perkebunan. Tingkat perburuan terhadap banteng dapat
dikatakan sangat jarang, namun dengan aktivitas banteng yang selalu terlihat di
areal perkebunan dan mengganggu tanaman perkebunan dapat memicu terjadinya
perburuan liar oleh masyarakat dan pekerja perkebunan. Aktivitas pekerja
perkebunan juga dapat mengancam banteng yaitu melalui segala bentuk penjagaan
areal perkebunan dari aktivitas banteng. Penjagaan perkebunan dilakukan dengan
cara menghalau banteng yang akan masuk ke dalam areal perkebunan melalui
pengusiran secara langsung yang menyebabkan banteng menjadi terkejut,
pemagaran areal perkebunan dengan pagar duri namun saat ini telah diganti

54

dengan kayu, pemasangan lampu-lampu sorot di areal perkebunan dan penjagaan


rutin oleh pihak perkebunan. Aktivitas perburuan terhadap satwa banteng dapat
dikatakan sangat jarang terjadi meskipun kondisinya rawan karena dekat dengan
pemukiman masyarakat dan pekerja perkebunan. Banteng di TNMB biasanya
mati dikarenakkan kalah dalam berkelahi ataupun karena faktor usia yang sudah
tua.
Habitat banteng di TNMB didominasi oleh areal perkebunan, hal ini dapat
dilihat dari aktivitasnya yang sebagian besar dihabiskan di dalam areal
perkebunan untuk makan (Wirawan 2011). Perkebunan di dalam kawasan TNMB
menyediakan pakan yang melimpah dilihat dari ketersediaan pakan yang sebagian
besar berasal dari areal perkebunan. Areal perkebunan menyediakan pakan segar
dan subur, hal ini dikarenakan di areal perkebunan tersebut dilakukan
pemeliharaan secara rutin. Di sekitar areal perkebunan tersedia lokasi-lokasi untuk
bersembunyi dan berlindung dari gangguan. Jarak perkebunan yang hanya 1 km
dari pantai juga membuat banteng mendapat akses yang mudah untuk mengasin
selain dari air sungai menuju ke muara. Keberadaan perkebunan yang dekat
dengan muara sungai dan terdapatnya parit-parit penampung air hujan di dalam
areal perkebunan membuat banteng mudah mendapatkan air. Penjagaan areal
perkebunan dilakukan dengan penghalauan terhadap banteng apabila areal
perkebunan tersebut sedang ditanami tanaman ladang milik penjaga perkebunan
seperti jagung, kacang, dan tembakau. Taman nasional sebaiknya dapat
melakukan kerjasama dengan pihak perkebunan dalam menjaga kelestarian
banteng. Koordinasi merupakan langkah alternatif agar banteng tidak merusak
areal perkebunan tapi tetap mendapat pasokan makan seperti di areal perkebunan.
Pihak taman nasional juga dapat memberikan pengetahuan bagi penjaga-penjaga
perkebunan untuk tetap ikut serta menjaga keberadaan banteng.
Padang rumput (feeding ground) di TNMB sedang dalam proses
pembinaan habitat dengan luasan optimal, hal ini disebabkan sudah tidak
berfungsinya lagi feeding ground bagi banteng. Tidak berfungsinya feeding
ground menjadi salah satu penyebab banteng mencari makan di areal perkebunan.

Perbaikan habitat feeding ground seharusnya dilakukan secara lebih intensif.


Pengelolaan padang rumput meliputi semua kegiatan mulai dari penentuan lokasi,

55

luas, jenis rumput, organisasi pengelola, pemeliharaan dan pembuatan laporan


serta evaluasi. Termasuk pula kegiatan mengatur pertumbuhan rumput,
mempertahankan kesuburan tanah, mencegah kerusakan tanah dan mencegah
terjadinya penggembalaan yang berlebihan. Pengelolaan padang rumput di TNMB
pada tahun 2010 yaitu melalui pembinaan habitat yang tidak secara rutin,
pemberantasan invasi secara bertahap, belum adanya pemantaun dan evaluasi
serta penyediaan sumber air dan tempat mengasin yang belum teratur. Oleh
karena itu dibutuhkan pengelolaan intensif terhadap padang rumput yaitu
pengelolaan

terhadap

vegetasi,

penggunaan

api,

penggunaan

pupuk,

penggemburan tanah pada lapisan olah (top soil) (Alikodra 2010).


Pihak taman nasional dapat bekerja sama dengan perkebunan dalam
menciptakan area feeding ground yang memiliki jenis-jenis pakan seperti yang
ada di areal perkebunan melalui pemeliharaan dan upaya-upaya yang dilakukan
perkebunan. Pembinaan habitat banteng yang hanya dilakukan selama satu tahun
sekali dapat ditingkatkan menjadi dua sampai tiga kali dalam setahun yaitu
dengan adanya kegiatan pengelolaan (pembersihan, penanaman, pemupukan, dan
pemeliharaan), pemantauan hasil pengelolaan kemudian adanya evaluasi dari hasil
yang diperoleh. Upaya pembersihan feeding ground yang tidak secara menyeluruh
dan berkelanjutan menyebabkan kembali tumbuhnya jenis-jenis dominan sehingga
feeding ground tidak dapat intensif. Apabila terkendala biaya dalam pengelolaan
feeding ground, pembinaan habitat dapat dilakukan dengan pembakaran terkendali

sehingga tanaman yang menginvasi dapat mati dan merangsang tumbuhnya


kembali tanaman-tanaman pionir.
Habitat lain yang digunakan oleh banteng di kawasan TNMB yaitu adanya
hutan hujan tropis yang masih alami dan dalam kondisi baik. Hutan hujan tropis
yang tersebar di seluruh lokasi keberadaan banteng digunakan untuk berlindung,
berteduh, memamah biak, bersembunyi, lintasan, dan beristirahat. Kondisi tajuk
yang rapat dan rumpun bambu digunakan oleh banteng untuk berlindung. Selain
itu bambu juga merupakan pakan bagi banteng. Keberadaan hutan hujan tropis
yang masih sangat alami dan aktivitas manusia yang jarang, membuat lokasi ini
aman bagi banteng. Kecukupan air di sekitar hutan hujan tropis yang mengalir
sepanjang tahun memudahkan banteng mendapatkan pasokan air. Ketinggian

56

hutan hujan tropis yang mencapai 1.222 m dpl tidak menjadi halangan bagi
banteng untuk dapat hidup. Pakan dari tingkat tumbuhan bawah juga terdapat di
dalam hutan hujan tropis. Sumber untuk mengasin bagi banteng di dalam hutan
hujan tropis diduga diperoleh dari batu-batu yang terdapat di lantai hutan. Hutan
hujan tropis kawasan TNMB sudah cukup bagi banteng untuk hidup, sehingga
direkomendasikan tetap dijaga keberadaannya dari adanya pengambilan bambubambu secara liar dan perambahan hutan di dalam hutan hujan tropis.
Berdasarkan pengamatan terhadap ketersediaan pakan, karakteristik cover,
dan ketersediaan air, lokasi yang paling diminati oleh banteng di TNMB yaitu
Blok Banyuputih. Lokasi ini memiliki tipe vegtasi perkebunan dan hutan hujan
tropis dataran rendah. Ketersediaan pakan dapat terpenuhi dari adanya perkebunan
dan hutan hutan tropis dataran rendah, sehingga pakannya lebih beragam. Adanya
sungai dan parit yang menyediakan air secara musiman tak menjadi kendala
karena banteng dapat menuju muara sungai yang lokasinya 1 km dari areal
perkebunan. Karakteristik cover yang lengkap yaitu berupa rumpun bambu yang
berada di perbatasan perkebunan dan hutan serta tajuk pohon yang berada di
dalam hutan, dengan topograi datar sampai bergelombang. Hutan hujan tropis
dataran rendah yang mengelilingi areal perkebunan membuat banteng mudah
untuk berlindung dari gangguan.

57

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
1. Pakan yang ditemukan sebanyak 25 jenis sebagian besar didapatkan dari
areal perkebunan (28%) berupa tumbuhan bawah. Produktivitas dan daya
dukung kawasan pada lokasi pusat keberadan banteng yaitu 463,92
kg/ha/hari yang dapat menampung 16 ekor banteng. Pakan banteng yang
memiliki palatabilitas tertinggi adalah paitan (Paspalum conjugatum).
2. Ditemukan 60 jenis dari 31 famili vegetasi di lokasi habitat banteng.
Habitat banteng di TNMB yaitu hutan hujan tropis dataran rendah, padang
rumput dan areal perkebunan. Sebagian besar cover yang digunakan
berupa tajuk pohon dan rumpun bambu yang berfungsi pelindung dari
sinar matahari.
3. Sumber air minum yang digunakan yaitu air sungai dan genangan air di
parit. Terdapat empat sungai yaitu Sungai Sumbersari, Sungai Banyuputih,
Sungai Cawang dan Sungai Kali Sanen.

6.2 Saran
1.

Diperlukan perbaikan habitat banteng di TNMB agar banteng dapat


kembali ke habitatnya.

2.

Diperlukan upaya pembinaan habitat banteng secara rutin dan intensif.

3.

Pengelolaan habitat dapat dilakukan dengan teknik pengelolaan vegetasi,


pemupukan, pembakaran dan penggemburan tanah, yang dikerjakan
bersama dengan pihak perkebunan untuk mencipatakan feeding ground
yang disukai banteng.

4.

Diperlukan penelitian lanjutan pada habitat banteng lainnya di TNMB dan


juga mengenai aspek gizi pakan banteng.

5.

Inventarisasi banteng dan habitatnya di TNMB diperlukan secara rutin


sebagai data pemantauan dan evaluasi.

58

DAFTAR PUSTAKA
Alikodra HS, 1979. Dasar-Dasar Pembinanaan Margasatwa. Bogor: Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Alikodra HS, Palete R. 1980. Laporan Potensi Makanan Banteng (Bos
Javanicus) di Cagar Alam Ujung Kulon. Bogor: Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor.
Alikodra HS. 1983. Ekologi banteng (Bos javanicus dAlton) di Taman Nasional
Ujung Kulon [tesis]. Bogor: Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian
Bogor.
__________. 1990. Pengelolaan Satwa Liar . Bogor : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar
Universitas Ilmu Hayati. Institut Pertanian Bogor.
__________. 2002. Pengelolaan Satwaliar Jilid I. Bogor: Yayasan penerbit
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
__________. 2010. Teknik Pengelolaan Satwaliar Dalam Rangka
Mempertahankan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Bogor: IPB Press
Delfiandi. 2006. Analisis pola pengguanaan ruang dan wilayah jelajah banteng
(Bos javanicus dAlton 1832) di Taman Nasional Alas Purwo [skripsi].
Bogor : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor
Destriana AH. 2008. Aplikasi system informasi geografis untuk pemetaan
kesesuaian habitat banteng (Bos javanicus dAlton 1832) di Taman
Nasional Ujung Kulon. (Studi kasus padang penggembalaan Cidaon)
[skripsi]. Bogor : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor
Dharmakalih G. 1997. Analisis habitat banteng di Resort Pulau Peucang, Taman
Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. [skripsi]. Bogor: Fakultas
Kehutanan. Institut Pertanian Bogor
Gunawan A. 1987. Potensi Hijauan Makanan banteng (Bos javanicus dAlton) di
Padang Penggembalaan Cikamal Penanjung Pangandaran [skripsi].
Bogor : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor
Hedges S. 2000. Bos Javanicus. di dalam IUCN 2008. IUCN Red List of
Threatened
Species.
http://www.iucnredlist.org/search/details.php/2888/summ [10 Mei 2010]
Heyne K. 1989. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid I-IV. (Terjemahan : de
Nuttige planten van Indonesie). Jakarta: Badan Litbang Kebutanan.
Hoogerwerf A. 1970. Ujungkulon The Land of The Javan Rhinocheros. E. J.
Brilol Leiden
Lekagul B dan McNeely JA. 1977. Mammals of Thailand. Shakaranbhat Co.
Bangkok

59

Medway L. 1977. Mammals of Borneo. Monograph of The Malaysian Branch of


The Royal Asiatic Society: 7. Percetakam Mas Sdn. Bhd. Kuala Lumpur
:150-151
Mcllroy RJ. 1977. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. (Terjemahan :
an Introduction to Tropical Grassland Husbandry) Jakarta: Pradya
Paramita.
Muntasib EKSH, Haryanto, Masyud B, Rinaldi D, Arief H. 2000. Laporan studi
persaingan antara banteng (Bos javanicus) dengan badak jawa
(Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon. Bogor:
Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor
Nugraha H. 2007. Analisis pola penggunaan ruang banteng ((Bos javanicus
dAlton 1832) di Cagar alam dan Taman Wisata alam Pangandaran,
Jawa Barat. [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor
Nugroho BDS. 2001. Karakteristik Penggunaan sumberdaya air oleh badak jawa
(Rhinoceros sondaicus Desmarest ) dan Banteng (Bos javanicus dAlton)
di daerah Cikeusik dan Cibandawoh, Taman Nasional Ujung Kulon
[skripsi]. Bogor : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor
Santoso N. 1985. Studi populasi banteng (Bos javanicus dAlton) dan kerbau air
(Bubalus bubalis Linn) di Taman Nasional Baluran Jawa Timur
[skripsi]. Bogor : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor
Sectionov, 1999. Palatabilitas dan produktivitas pakan banteng (Bos javanicus
dAlton) akibat pemotongan serta daya dukung padang penggembalaan
Tegal Sabuk. Suaka Margasatwa Cikepuh. Sukabumi. [skripsi]. Bogor:
Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor
Setiawati T. 1986. Studi Perilaku Banteng (Bos javanicus dAlton) di Cagar alam
Leuweung Sancang-Garut Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas
Kehutanan. Institut Pertanian Bogor
Siswanto W. 1982. Potensi beberapa jenis hijauan makanan rusa (Rusa
timorensis) pada beberapa kelas umur tegakan Pinus sp.di Hutan
Tridharma Gunung Walat. [skripsi]. Fakultas Kehutanan. IPB.
Soerianegara I dan Indrawan A. 2002. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor:
Laboratorium Ekologi Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB.
Susetyo S. 1970. Padang penggembalaan, suatu pengantar pada kuliah
pengelolaan pastura dan padang rumput. Bogor : Departemen Ilmu
Makanan Ternak. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Syarief A. 1974. Kemungkinan Pembinaan Pembiakan Rusa dan Perbaikan
Habitatnya. Direktorat PPA. Bogor.
Trippense ER. 1948. Wildlife Management. Up Land and General Principal.
MacGraw Hill-Book Company. New York

60

Wirawan. 2011. Studi perilaku banteng (Bos javanicus dAlton 1832) di Taman
Nasional Meru Betiri [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor. IPB press

61

LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil perhitungan analisis vegetasi savana


1. Savana Sumbersari Resort Sukamade SPTN W I Sarongan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nama Jenis
Kerayutan
Telean
Plumpung
Sintru
Kacang-kacangan
Lagetan
Kemukus
Paitan
Rumput gambir
Rumput teki
Rumput kawat
Putri malu
Jumlah

Nama Ilmiah
Mikania micrantha
Lantana camara
Panicum respens
Clitoria ternatea
Desmodium puchellum
Spilanthes acmelia
Piper cubeba
Paspalum conjugatum
Cyperus rotundus
Cynodon dactylon
Mimosa pudica

Famili
Asteraceae
Verbenaceae
Poaceae
Leguminosae
Fabaceae
Asteraceae
Piperaceae
Poaceae
Cyperaceae
Poaceae
Fabaceae

2. Savana Pringtali Resort Bandealit SPTN W II Ambulu


No Nama Jenis
Nama Ilmiah
Famili
1
Krayutan/kariya
Mikania micrantha
Asteracea
2
Sintru
Clitoria ternatea
Leguminosae
3
Kerinyu
Chromolaena odorata
Asteraceae
4
Telean
Lantana camara
Verbenaceae
5
Babadotan
Ageratum conyzoides
Compositae
6
Rumput kawat
Cynodon dactylon
Poaceae
7
Paitan
Paspalum conjugatum
Poaceae
8
Sidagori
Sida glabra
Malvaceae
9
Pulutan
Urena lobata
Asteraceae
Jumlah

K
44.000
150.000
136.000
54.000
6.000
16.000
4.000
34.000
28.000
6.000
10.000
4.000
498.000

K
18.571,43
11.5714,3
47.142,86
21.5714,3
15.714,29
61.428,57
17.1428,6
14.285,71
57.14,286
72.7142,9

KR (%)
8,835
30,487
28,215
10,843
1,204
3,212
0,803
6,827
5,622
1,204
2,008
0,803

KR (%)
2,554
15,913
6,483
32,403
2,161
8,447
25,751
1,964
0,785

F
0,8
1,0
1,0
1,0
0,2
0,4
0,2
0,6
0,6
0,2
0,4
0,2
6,6

FR (%)
12,121
15,151
15,151
15,151
3,030
6,060
3,030
9,090
9,090
3,030
6,060
3,030

F
0,714
1,000
1,000
1,000
0,285
0,857
1,000
0,571
0,285
6,714

FR (%)
10,638
14,893
14,893
14,893
4,255
12,765
14,893
8,510
4,255

INP
20,956
45,639
43,367
25,994
4,235
9,273
3,833
15,918
14,713
4,235
8,068
3,833
200

INP
13,192
30,807
21,376
47,297
6,416
21,213
40,644
10,475
5,041
200

H
2,15

H
1,97

62

Lampiran 2 Hasil perhitungan analisisi vegetasi untuk perkebunan


1. Blok 90an Coklat (Resort Sukamade) SPTN W I Sarongan
A. Tumbuhan Bawah
No
1
2

Nama Jenis
Sintru
Lagetan
Jumlah

Nama ilmiah
Clitoria ternatea
Spilanthes acmelia

Famili
Leguminosae
Asteraceae

K
4.166,667
20.000
24166,67

KR (%)
17,241
82,758

Nama Jenis
Coklat
Jumlah

Nama ilmiah
Theobroma cacao L.

Famili
Sterculiaceae

K
1.666,667
1.666,667

KR (%)
100

F
0,333
0,333

Nama Ilmiah
Theobroma cacao L.

Famili
Sterculiaceae

K
120
120

KR (%)
100

F
1
1

0,333
0,333
0,666

FR (%)
50
50

INP
67,241
132,758
200

H
0,63

B. Semai
No
1

FR (%)
100

INP
200
200

H
0

C. Pancang
No
1

Nama Jenis
Coklat
Jumlah

FR (%)
100

INP
200
200

DR
(%)
97,230
2,769

INP

H
0

D. Tiang
No

Nama Jenis

Nama Ilmiah

Famili

1
2

Coklat
Kleresidi
Jumlah

Theobroma cacao L.
Klereside sp.

Sterculiaceae
Fabaceae

566,666
66,666
633,333

KR
(%)
89,473
10,526

F
1
0,666
1,666

FR
(%)
60
40

D
15,968
0,454
16,423

246,704
53,295
300

H
0,47

E. Pohon
No

Nama Jenis

Nama ilmiah

Famili

1
2

Kleresidi
Kelapa
Jumlah

Klereside sp.
Cocos nucifera L.

Fabaceae
Palmae

K
8,333
8,333
16,666

KR
(%)
50
50

F
0,333
0,333
0,666

FR
(%)
50
50

D
0,802
1,104
1,906

DR
(%)
42,100
57,899

INP

142,100
157,899
300

0,33

63

2. Blok 90an Karet (Resort Sukamade) SPTN W I Sarongan


A. Tumbuhan bawah
No
1
2
3
4
5
6

Nama Jenis
Lagetan
Kirinyuh
Sintru
Babadotan
Pare hutan
Tempuyung
Jumlah

Nama Ilmiah
Spilanthes acmelia
Chromolaena odorata
Clitoria ternatea
Ageratum conyzoides
Momordica charantia l.
Emilia sonchifolia

Famili
Asteraceae
Asteraceae
Legumninosae
Compositae
Cucurbitaceae
Asteraceae

K
68.750
3.750
27.500
2.500
6.250
3.750
112.500

KR (%)
61,111
3,333
24,444
2,222
5,555
3,333

F
1
0,5
1
0,5
0,5
0,5
4

FR (%)
25
12,5
25
12,5
12,5
12,5

INP
86,111
15,833
49,444
14,722
18,055
15,833
200

H
1,51

B. Pancang
No
1

Nama Jenis
Karet
Jumlah

Nama Ilmiah
Hevea brasiliensisa

Famili
Moraceae

K
1250

KR (%)
100
100

F
0,5
0,5

FR (%)
100

INP
200
200

DR(%)
100

INP
300
300

H
0

C. Tiang
No
1

Nama Jenis
Karet
Jumlah

Nama Ilmiah
Hevea brasiliensisa

Famili
Moraceae

K
550
550

KR (%)
100

F
1
1

FR (%) D
100
9,910
9,910

H
0

64

Blok Balsa (Resort Bandealit) SPTN W II Ambulu


A. Tumbuhan bawah
No
1
2
3
4
5

Nama Jenis
Rambusa
Babadotan
Sintru
Kara benguk
Kirinyuh
Jumlah

Nama Ilmiah
Passiflora foetida
Ageratum conyzoides
Clitoria ternatea
Mucuna pruriens
Chromolaena odorata

Famili
Passifloraceae
Compositae
Leguminosae
Fabaceae
Asteraceae

K
2.500
35.000
2.4166,67
5.000
7.500
74.166,67

KR (%)
3,370
47,191
32,584
6,741
10,112

F
0,333
1
1
1
0,666
4

FR (%)
8,333
25
25
25
16,666

INP
11,704
72,191
57,584
31,741
26,779
200

H
1,45

B. Pancang
No
1

Nama Jenis
Mindi
Jumlah

Nama Ilmiah
Garcinia dulcis

Famili
Guttiferae

K
106,666
106,666

KR (%)
100

F
1

FR (%)
100

INP
200
200

H
0

C. Pohon
No
1

Nama Jenis
Balsa
Jumlah

Nama Ilmiah
Ochroma lagopus

Famili
Bombacaceae

K
33,333
33,333

KR (%) F
100
0,666
0,666

FR (%)
100

D
DR(%)
1,967 100
1,967

INP
300
300

H
0

65

3. Blok Kedungwatu (Resort Bandealit) SPTN W II Ambulu


A. Tumbuhan bawah
No
1
2
3
4

Nama Jenis
Babadotan
Sintru
Krayutan
Kirinyuh
Jumlah

Nama Ilmiah
Ageratum conyzoides
Clitoria ternatea
Mikania micrantha
Chromolaena odorata

Famili
Compositae
Leguminosae
Asteraceae
Asteraceae

K
54.166,67
39.166,67
41.66,667
35.000
132.500

KR (%)
40,880
29,559
3,144
26,415

F
1
1
0,333
1
3,333

FR (%)
30
30
10
30

INP
70,880
59,559
13,144
56,415
200

H
1,26

B. Pancang
No
1
2

Nama Jenis
Waru
Gondang
Jumlah

Nama Ilmiah
Hibiscus tiliaceus L.
Ficus variegata Bl.

Famili
Malvaceae
Moraceae

K
146,666
40
186,666

KR (%)
78,571
21,428

F
1
0,333
1,333

FR (%)
75,000
25,000

INP
153,571
46,428
200

H
0,54

DR(%)
49,552
50,447

INP
99,552
100,447
200

H
0,69

C. Pohon
No
1
2

Nama Jenis
Mindi
Waru
Jumlah

Nama Ilmiah
Garcinia dulcis
Hibiscus tiliaceus L.

Famili
Guttiferae
Malvaceae

K
33,333
33,333
66,666

KR (%) F
50
0,333
50
0,333
0,666

FR (%) D
50
1,311
50
1,335
2,646

66

Lampiran 3 Hasil perhitungan analisisi vegetasi hutan hujan tropis dataran rendah
1. Blok Banyuputih (Resort Bandealit) SPTN W II Ambulu
A. Tumbuhan bawah
No
1
2
3

Nama Jenis
Babadotan
Kariya
Lagetan
Jumlah

Nama Ilmiah
Ageratum conyzoides
Mikania micrantha
Spilanthes acmelia

Famili
Compositae
Asteraceae
Asteraceae

K
42.500
7.500
4.500
54.500

KR (%)
77,981
13,761
8,256

F
1
0,6
0,4
2

FR (%)
50
30
20

INP
127,981
43,761
28,256
200

H
0,89

B. Semai
No

Nama Jenis

Nama Ilmiah

Famili

1
2
3

Jenti
Jerukan
Bambu wuluh
Jumlah

Sesbania sesban
Polyalthia ruphii
Schizoschyum blumea

Fabaceae
Annonaceae
Poaceae

1.666,667
2.500
6.6666,67
70833,33

Nama Ilmiah
Schizoschyum blumea
Polyalthia ruphii
Kleinhovia hospita L.
Coffea robusta
Sesbania sesban

Famili
Poaceae
Annonaceae
Sterculiaceae
Rubiaceae
Fabaceae

KR
(%)
2,352
3,529
94,117

KR (%)
90,909
4,958
1,239
2,066
0,826

0,4
0,2
0,8
1,4

FR
(%)
28,571
14,285
57,142

INP

30,924
17,815
151,260
200

0,71

INP
130,909
24,958
11,239
22,066
10,826
200

H
1,09

C. Pancang
No
1
2
3
4
5

Nama Jenis
Bambu
Jerukan
Timo
Kopi
Jenti
Jumlah

K
17.600
960
240
400
160
19.360

0,8
0,4
0,2
0,4
0,2
2

FR (%)
40
20
10
20
10

67

D. Tiang
No

Nama Jenis

Nama Ilmiah

Famili

1
2
3
4
5

Walangan
Jerukan
Timo
Kopi
Jenti
Jumlah

Pterospermum diversifolium
Polyalthia ruphii
Kleinhovia hospita L.
Coffea robusta
Sesbania sesban

Sterculiaceae
Annonaceae
Sterculiaceae
Rubiaceae
Fabaceae

20
80
40
100
60
300

KR
(%)
6,666
26,666
13,333
33,333
20

F
0,2
0,4
0,2
0,4
0,4
1,6

FR
(%)
12,5
25
12,5
25
25

DR(%)

0,124 3,070
1,174 28,899
0,847 20,842
1,086 26,713
0,832 20,474
4,06532

INP

22,237 1,52
80,565
46,675
85,047
65,474
300

E. Pohon
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Nama Jenis
Bindung
Ketangi/
Bungur
Timo
Walangan
Jerukan
Apak
Kelapa
Jenti
Lamtoro
Jumlah

Nama Ilmiah
Tetrameles mudiflora
Lagerstroemia speciosa
(L.) Pers,
Kleinhovia hospita L
Pterospermum
diversifolium
Polyalthia ruphii
Ficus benjamina
Cocos nucifera L.
Sesbania sesban
Leucaena leucocephala

Famili
Datiscaceae
Lythraceae

K
5
10

KR (%)
3,571
7,142

F
0,2
0,2

FR (%)
6,666
6,666

D
0,895
0,516

DR(%)
11,717
6,749

INP
21,955
20,559

Sterculiaceae
Sterculiaceae

20
40

14,285
28,571

0,4
0,4

13,333
13,333

1,131
1,414

14,805
18,505

42,424
60,410

Annonaceae
Moraceae
Palmae
Fabaceae
Leguminisae

15
15
20
10
5
140

10,714
10,714
14,285
7,142
3,571

0,4
0,2
0,6
0,4
0,2
3

13,333
6,666
20
13,333
6,666

0,479
1,285
1,589
0,173
0,158
7,644

6,266
16,821
20,798
2,268
2,066

30,314
34,202
55,084
22,744
12,304
300

H'
2,09

68

2. Blok Sikapal (Resort Malamgsari) SPTN W III Kalibaru


A. Tumbuhan bawah
No
1
2
3
4
5

Nama Jenis
Kari1ya
Paitan
Puka
Kirinyuh
Kinura
Jumlah

Nama Ilmiah
Mikania micrantha
Paspalum conjugatum Berg
Solanum torfum
Chromolaena odorata
Gynura procumbens Back

Famili
Asteraceae
Poaceae
Solanaceae
Asterceae
Compositae

K
10.500
43.500
1.000
2.000
500
57.500

KR (%)
18,260
75,652
1,739
3,478
0,869

F
0,6
1
0,4
0,4
0,2
2,6

FR (%)
23,076
38,461
15,384
15,384
7,692

INP
41,337
114,113
17,123
18,862
8,561
200

H
1,22

B. Semai
No

Nama Jenis

Nama Ilmiah

Famili

1
2
3
4
5
6
7

Lengkian
Luwingan
Pakem
Gondang legi
Lengkran
Pacar gunung
Anggrung
Jumlah

Leea aequata Linn


Ficus hispida L.
Pangium edule
Ficus variegata Bl.
Sapindus rarak
Cassine glauca
Trema orientalis (L.) Bl.

Leeaceae
Moraceae
Flacourtiaceae
Moraceae
Sapindaceae
Celastraceae
Ulmaceae

3.500
3.500
500
3.000
1.000
500
1.000
13.000

KR
(%)
26,923
26,923
3,846
23,076
7,692
3,846
7,692

FR (%)

0,4
0,4
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
1,8

22,222
22,222
11,111
11,111
11,111
11,111
11,111

INP
49,145
49,145
14,957
34,188
18,803
14,957
18,803
200

H
1,82

C. Pancang
No
1
2
3
4
5
6
7

Nama Jenis
Ndog-ndogan
Pakem
Tutup
Luwingan
Mat-mat
Tutup putih
Kemunduh
Jumlah

Nama Ilmiah
Xanthophyllum vitellinum (Bl.) Dietr.
Pangium edule
Acalypha caturus
Ficus hispida L.
Dinochloa scandes
Mallotus moluccanus Muell. Arg.
Baccauera racemosa

Famili
Polygalaceae
Flacourtiaceae
Euphorbiaceae
Flacourtiaceae
Poaceae
Euphorbiaceae
Euphorbiaceae

K
160
160
80
400
400
160
240
1.600

KR (%)
10
10
5
25
25
10
15

F
0,2
0,2
0,2
0,4
0,2
0,2
0,2
1,6

FR (%)
12,5
12,5
12,5
25
12,5
12,5
12,5

INP
22,5
22,5
17,5
50
37,5
22,5
27,5
200

H
1,88

69

D. Tiang
No
1
2

Nama Jenis
Luwingan
Ndog-ndogan

3
4
5
6

Gondang legi
Tutup
Kemunduh
Tutup putih

Nama Ilmiah
Ficus hispida L.
Xanthophyllum
vitellinum (Bl.) Dietr,
Ficus variegata Bl.
Acalypha caturus
Baccauera racemosa
Mallotus moluccanus
Muell. Arg.

Famili
Moraceae
Polygalaceae

K
80
40

KR (%)
26,666
13,333

F
0,4
0,2

FR (%)
28,571
14,285

60
20
80
20

20
6,666
26,666
6,666

0,2
0,2
0,2
0,2

14,285
14,285
14,285
14,285

Moraceae
Euphorbiaceae
Euphorbiaceae
Euphorbiaceae

Jumlah

300

1,4

0,357
0,542

DR(%)
11,016
16,708

INP
66,254
44,327

0,921
0,267
0,741
0,414

28,406
8,248
22,856
12,763

62,692
29,201
63,809
33,715

3,24508

H
1,74

300

E. Pohon
No

Nama Jenis

Nama Ilmiah

Famili

1
2
3

Apak
Winong
Besule

Moraceae
Sterculiaceae
Lesythidaceae

4
5
6
7
8
9

Kemundu
Rampelasan
Gondang legi
Pakem
Lutung
Suren

10
11

Budengan
Bendo

Ficus benjamina L.
Erythropsis colorata
Chydenanthus
excelsus
Baccauera racemosa
Litsea amara
Ficus variegata Bl.
Pangium edule
Diospyros aurea
Toona sureni (Bl.)
Merrill
Diospyros hasseltii

12

Luwingan
Jumlah

Artocarpus elasticus
Reinw. ex Bl.
Ficus hispida L.

Euphorbiaceae
Lauraceae
Moraceae
Flacourtiaceae
Ebenaceae
Meliaceae
Ebenaceae
Moraceae
Moraceae

K
1.500
1.000

KR
(%)
12
8

F
0,6
0,2

FR
(%)
15,789
5,263

500
1.000
1.000
1.000
2.500
500

4
8
8
8
20
4

0,2
0,4
0,4
0,4
0,4
0,2

500
500

4
4

2.000
500
12.500

16
4

DR(%)

INP

H
2,24

10,780
1,294

55,736
6,691

83,525
19,955

5,263
10,526
10,526
10,526
10,526
5,263

0,301
1,528
0,722
0,755
1,300
0,672

1,557
7,904
3,735
3,908
6,725
3,478

10,821
26,430
22,261
22,434
37,252
12,741

0,2
0,2

5,263
5,263

0,223
0,223

1,157
1,157

10,420
10,420

0,4
0,2
3,8

10,526
5,263

1,300
0,236
19,34161

6,726
1,220

33,252
10,483
300

70

71

Lampiran 4 Profil pohon hutan Blok Banyuputih

Jarak

Tinggi

Jarak

Jenis-jenis pohon cover Blok Banyuputih


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama Lokal
Bindung
Ketangi/bungur
Timo
Walangan
Walangan
Walangan
Walangan
Ketangi
Jerukan
Jerukan
Walangan
Walangan
Jerukan

Nama Ilmiah
Tetrameles mudiflora
Lagerstroemia speciosa (L.) Pers,
Kleinhovia hospita L
Pterospermum diversifolium
Pterospermum diversifolium
Pterospermum diversifolium
Pterospermum diversifolium
Lagerstroemia speciosa (L.) Pers,
Polyalthia ruphii
Polyalthia ruphii
Pterospermum diversifolium
Pterospermum diversifolium
Polyalthia ruphii

72

Lampiran 5 Profil pohon hutan Blok Sikapal

Jarak

Tinggi

Jarak

Jenis-jenis pohon cover Blok Sikapal


No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nama Lokal
Apak
Pakem
Rempelasan
Lutung
Suren
Luwingan
Luwingan
Luwingan

Nama Ilmiah
Ficus benjamina L
Pangium edule
Litsea amara
Diospyros aurea
Toona sureni (Bl.) Merrill
Ficus hispida L.
Ficus hispida L.
Ficus hispida L.

Lampiran 6 Denah lokasi habitat banteng Resort Sukamade

73

Lampiran 7 Denah lokasi habitat banteng Resort Bandealit

74

Lampiran 8 Denah lokasi habitat banteng blok Sikapal Resort Malangsari

75