Anda di halaman 1dari 10

PENINGKATAN PRODUKSI ASI

Makalah ini di susun untuk salah satu tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan yang di berikan
oleh
Lina Haryani,SST

Oleh :
Erika Irawanie

( D3E613002 )

Risma Pertiwi

( D3E613009 )

Yessi Nur Rosita

( D3E613011 )

Akademi Kebidanan Medika obgin


Jl. Raya Lembang No 110
Bandung Barat
2015

BAB I

LATAR BELAKANG
1.1.

Latar Belakang
Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi karena merupakan makanan
alamiah yang sempurna, mudah dicerna oleh bayi dan mengandung zat gizi yang sesuai
dengan kebutuhan bayi untuk pertumbuhan, kekebalan dan mencegah berbagai penyakit
serta untuk kecerdasan bayi, aman dan terjamin kebersihannya karena langsung
diberikan kepada bayi agar terhindar dari gangguan pencernaan seperti diare, muntah dan
sebagainya (Setiawan A, 2009).
ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi baru lahir.
ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi akan energi dan gizi selama 4-6 bulan pertama
kehidupannya, sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Selain sebagai
sumber energi dan zat gizi, pemberian ASI juga merupakan media untuk menjalin
hubungan psikologis antara ibu dan bayinya. Hubungan ini akan menghantarkan kasih
sayang dan perlindungan ibu kepada bayinya serta memikat kemesraan bayi terhadap
ibunya, sehingga terjalin hubungan yang harmonis dan erat.
Proses keluarnya Air Susu Ibu (ASI) sangat dipengaruhi oleh banyak faktor.
Menurut dokter spesialis anak dan konselor laktasi dr. Jeanne-Roos Tikoalu, Sp.A,
IBCLC, unsur yang sangat berpengaruh dalam produksi ASI adalah hormonal yaitu
prolaktin dan oksitosin.
Hormon prolaktin berperan dalam proses produksi ASI. Hormon ini diproduksi
oleh kelenjar pituitari, berada di dalam otak yang berpengaruh terhadap berbagai fungsi
fisiologis tubuh. Prosesnya, saat bayi menyusu, rangsangan sensorik akan dikirim ke
otak, lalu direspon otak dengan mengeluarkan hormon prolaktin yang akan kembali
menuju payudara melalui aliran darah serta merangsang sel-sel pembuat ASI untuk
memproduksi ASI.
Selain itu, bagi ibu menyusui penting untuk menjaga suasana hati dan jiwa agar
dalam kondisi baik dan bahagia. Bila ibu dalam kondisi lelah atau stres, produksi
hormone oksitosin bisa terhambat.

BAB 11
PEMBAHASAN
2.1. Fisiologi laktasi
Menyusui merupakan proses yang cukup kompleks. Dengan mengetahui bagaimana

payudara menghasilkan ASI akan sangat membantu para ibu mengerti proses kerja
menyusui sehingga dapat menyusui secara eklusif (Roesli, 2007)
ASI diproduksi atas hasil kerja gabungan antara hormon dan refleks. Ketika bayi
mulai mengisap ASI, akan terjadi dua refleks yang akan menyebabkan ASI keluar. Hal
ini disebut dengan refleks pembentukan atau refleks prolaktin yang dirangsang oleh
hormon prolaktin dan refleks pengeluaran ASI atau disebut juga let down reflexs
(Roesli, 2000).
Produksi ASI merupakan hasil perangsangan payudara oleh hormon prolaktin.
Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofise anterior yang ada yang berada di dasar otak.
Bila bayi mengisap ASI maka ASI akan dikeluarkan dari gudang ASI yang disebut sinus
laktiferus. Proses pengisapan akan merangsang ujung saraf disekitar payudara untuk
membawa pesan ke kelenjar hifofise anterior untuk memproduksi hormone prolaktin.
Prolaktin kemudian akan dialirkan ke kelenjar payudara untuk merangsang pembuatan
ASI. Hal ini disebut dengan refleks pembentukan ASI atau refleks prolaktin (Novak &
Broom, 1999).
Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian belakang kelenjar hipofisis. Hormon
tersebut dihasilkan bila ujung saraf di sekitar payudara dirangsang oleh isapan. Oksitosin
akan dialirkan melalui darah menuju ke payudara yang akan merangsang kontraksi otot
di sekeliling alveoli (pabrik ASI) dan memeras ASI keluar dari pabrik ke gudang ASI.
Hanya ASI di dalam gudang ASI yang dapat dikeluarkan oleh bayi atau ibunya.
Oksitosin dibentuk lebih cepat dibandingkan prolaktin. Keadaan ini menyebabkan ASI di
payudara akan mengalir untuk diisap. Oksitosin sudah mulai bekerja saat ibu
berkeinginan menyusui (sebelum bayi mengisap). Jika refleks oksitosin tidak bekerja
dengan baik, maka bayi mengalami kesulitan untuk mendapatkan ASI. Payudara seolaholah telah berhenti memproduksi ASI, padahal payudara tetap menghasilkan ASI namun
tidak mengalir keluar. Efek oksitosin lainnya adalah menyebabkan uterus berkontraksi
setelah melahirkan. Sehingga dapat membantu mengurangi perdarahan walaupun kadang
mengakibatkan nyeri (Badriul, 2008).
2.2. Produksi ASI

Berdasarkan waktu diproduksi ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:


a. ASI stadium I (kolostrum)
Kolostrum merupakan ciran yang pertama disekresi oleh kelenjar payudara dari hari
pertama sampai hari ke empat yang berbeda karakteristik fisik dan komposisinya
dengan ASI matang dengan volume 150 300 ml/hari. Kolostrum berwarna kuning
keemasan disebabkan oleh tingginya komposisi lemak dan sel- sel hidup. Kolostrum
merupakan pencahar (pembersih usus bayi) yang membersihkan mekonium sehingga
mukosa usus bayi yang baru lahir segera bersih dan siap menerima ASI. Hal ini
menyebabkan bayi yang mendapat ASI pada minggu pertama sering defekasi dan
feses berwarna hitam (Hubertin, 2003).
b. ASI stadium II (ASI peralihan)
ASI ini diproduksi pada hari ke empat sampai hari ke sepuluh. Komposisi protein
semakin rendah, sedangkan lemak dan hidrat arang semakin tinggi dan jumlah
volume ASI semakin meningkat. Hal in I merupakan pemenuhan terhadap aktifitas
bayi yang semakin aktif karena bayi sudah beradaptasi terhadap lingkungan
(Hubertin, 2003)
c. ASI stadium III (ASI matur)
ASI yang disekresi pada hari ke sepuluh sampai seterusnya. ASI matur merupakan
nutrisi bayi yang terus berubah disesuaikan dengan perkembangan bayi sampai
berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan, bayi mulai dikenalkan dengan makanan lain selain
ASI. Dimulai dengan makanan yang lunak, kemudian padat, dan makanan biasa
sesuai makanan biasa (Hubertin, 2003)
2.3. Volume ASI
Pada minggu bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai
menghasilkan ASI. Apabila tidak ada kelainan, pada hari pertama sejak bayi lahir akan
dapat menghasilkan 50-100 ml sehari dan jumlah akan terus bertambah sehingga
mencapai 400-450 ml pada waktu mencapai usia minggu kedua. Dalam keadaan
produksi ASI telah normal volume susu terbanyak yang dapat diperoleh adalah 5 menit
pertama pengisapan oleh bayi biasanya berlangsung selama 15-25 menit (Hubertin,

2004).
Untuk mengetahui banyaknya produksi ASI beberapa kriteria sebagai patokan untuk
mengetahui jumlah ASI cukup atau tidak yaitu:
1. ASI yang banyak dapat merembes keluar melalui puting
2. Sebelum disusukan payudara terasa tegang
3. Jika ASI cukup, setelah bayi menyusu bayi akan tertidur\tenang selama 3- 4 jam
4. Bayi BAK 6-8 kali dalam satu hari
5. Bayi BAB 3-4 kali sehari
6. Bayi paling sedikit menyusu 8-10 kali dalam 24 jam
7. Ibu dapat mendengar suara menelan yang pelan ketika bayi menelan ASI
8. Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran ASI setiap kali bayi mulai menyusu
9. Urin bayi biasanya kuning pucat (Soetjiningsih, 1997)
2.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi ASI
Produksi ASI dapat meningkat atau menurun tergantung dari stimulasi pada kelenjar
payudara. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan produksi ASI antara lain:
1. Faktor makanan ibu
Dalam penelitian Arifin (2006) mengatakan ibu yang kekurangan gizi akan
mengakibatkan menurunnya jumlah ASI dan akhirnya berhenti. Hal ini menyebabkan
pada masa kehamilan jumlah pangan yang dikonsumsi ibu tidak memungkinkan
untuk menyimpan cadangan lemak dalam tubuhnya, yang kelak akan digunakan
sebagai salah satu komponen ASI dan sebagai sumber energi selama menyusui.
2. Faktor isapan bayi
Isapan mulut bayi akan menstimulus hipotalamus pada bagian hipofisis anterior dan
posterior. Hipofisis anterior menghasilkan rangsangan (rangsangan prolaktin) untuk
meningkatkan sekresi prolaktin. Prolaktin bekerja pada kelenjar susu (alveoli) untuk
memproduksi ASI. Isapan bayi tidak sempurna atau puting susu ibu yang sangat kecil
akan membuat produksi hormon oksitosin dan hormon prolaktin akan terus menurun
dan ASI akan terhenti (Hubertin, 2003)

3. Frekuensi penyusuan
Pada studi 32 ibu dengan bayi premature disimpulkan bahwa produksi ASI akan
optimal dengan pemompaan 5 kali per hari selama bulan pertama setelah melahirkan.

Studi lain yang dilakukan pada ibu dengan bayi cukup bulan menunjukan bhwa
frekuensi penyusuan 10 lebih kurang 3 kali per hari selama 2 minggu pertama setelah
melahirkan

berhubungan

dengan

produksi

ASI.

Berdasarkan

hal

ini

direkomendasikan penyusuan paling sedikit 8 kali perhari pada periode awal setelah
melahirkan. Penyusuan ini berkaitan dengan kemampuan stimulasi hormon dalam
kelenjar payudara (Arifin, 2004).
4. Riwayat penyakit
Penyakit infeksi baik yang kronik maupun akut yang mengganggu proses laktasi
dapat mempengaruhi produksi ASI (Elly, 2007).
5. Faktor psikologis
Gangguan psikologi pada ibu menyebabkan berkurangnya produksi dan
pengeluaran ASI. Laktasi memerlukan ketenangan, ketentraman, perasaan aman dari
ibu, kecemasan, kesedihan, dapat menyebabkan ketegangan yang mempengaruhi
saraf , pembuluh darah dansebagainya (Arifin, 2004)
Dukungan suami maupun keluarga lain dalam rumah akan sangat membantu
berhasilnya seorang ibu untuk menyusui. Perasaan ibu yang bahagia, senang,
perasaan menyayangi bayi, memeluk, mencium dan mendengar bayinya menangis
akan meningkatkan pengeluaran ASI (Hubertin, 2003).
6. Berat badan lahir
Prentice (1984) mengamati hubungan berat lahir bayi dengan volume ASI. Hal
ini berkaitan dengan kekuatan untuk mengisap, frekuensi, dan lama penyusuan
dibanding bayi yang lebih besar. Berat bayi pada hari ke-2 dan usia 1 bulan sangat
erat berhubungan dengan kekuatan mengisap yang mengakibatkan perbedaan inti
yang besar dibanding bayi yang mendapat formula. De Carvalho (1982) menemukan
hubungan positif berat lahir bayi dengan frekuensi dan lama menyusui selama 14 hari
pertama setelah lahir. Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan
mengisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr).
Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama

penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan
mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI
(Elly, 2007).
7. Perawatan payudara
Perawatan payudara yang dimulai dari kehamilan bulan ke 7-8 memegang
peranan penting dalam menyusui bayi. Payudara yang terawat akan memproduksi
ASI yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi dan dengan perawatan payudara
yang baik, maka putting tidak akan lecet sewaktu diisap bayi (Soetjiningsih, 1999)
Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu
dengan mengurut selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut
diharapkan apabila terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan
sehingga pada waktunya ASI akan keluar dengan lancar (Arifin, 2004).
8. Jenis persalinan
Pada persalinan normal proses menyusui dapat segera dilakukan setelah bayi lahir.
Biasanya ASI sudah keluar pada hari pertama persalinan (saifudin, 2001). Sedangkan
pada persalinan tindakan sectio ceasar seringkali sulit menyusui bayinya segera
setelah lahir, terutama jika ibu diberikan anestesi umum. Ibu relatif tidak dapat
bayinya di jam pertama setelah bayi lahir. Kondisi luka operasi di bagian perut
membuat proses menyusui sedikit terhambat (Sinsin, 2004).
9. Umur kehamilan saat melahirkan
Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi produksi ASI. Hal ini disebabkan
bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan
tidak mampu mengisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah dari pada
bayi yang lahir tidak prematur. Lemahnya kemampuan mengisap pada bayi prematur
dapat disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya fungsi organ
(Arifin, 2004).
10. Konsumsi rokok
Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormone prolaktin

dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan adrenalin
dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin (Arifin, 2004).

11. Konsumsi Alkohol

Menurut Matheson (1989), meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu sisi dapat
membuat ibu merasa lebih rileks sehingga membantu proses pengeluaran ASI namun
disisi lain etanol dapat menghambat produksi oksitosin. Kontraksi rahim saat
penyusuan merupakan indikator produksi oksitosin. Pada dosis etanol0,5-0,8 gr/kg
berat badan ibu mengakibatkan kontraksi rahim hanya 62% dari normal, dan
dosis 0,9-1,1 gr/kg mengakibatkan kontraksi rahim 32% dari normal (Elly, 2007).
12. Cara menyusui yang tidak tepat
Teknik menyusui yang kurang tepat, tidak dapat mengosongkan payudara dengan
benar yang akhirnya akan menurunkan produksi ASI (Hubertin, 2003).
13. Rawat gabung
Bila ibu dekat dengan bayinya, maka bayi akan segera disusui dan frekuensinya lebih
sering. Proses ini merupakan proses fisiologis yang alami, dimana bayi mendapatkan
nutrisi alami yang paling sesuai dan baik. Untuk ibu, dengan menyusui, maka akan
timbul refleks oksitosin yang akan membantu proses fisiologis involusi rahim. Di
samping itu akan timbul refleks prolaktin yang akan memacu proses produksi ASI
(Soeningsih, 2006).
14. Pil Kontrasepsi
Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin berkaitan dengan
penurunan volume dan durasi ASI (Koetsawang, 1987 dan Lonerdal, 1986 dalam
ACC/SCN, 1991), sebaliknya bila pil hanya mengandung progestin maka tidak ada
dampak terhadap volume ASI (WHO Task Force on Oral Contraceptives, 1988 dalam
ACC/SCN, 1991). Berdasarkan hal ini WHO merekomendasikan pil progestin untuk
ibu menyusui yang menggunakan pil kontrasepsi (Elly, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati dan wulandari 2010.Asuhan kebidanan (Nifas).Yogyakarta :Mitra Cendekia

Saifudin, A.B dkk (2002) Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal,
YBPSP, Jakarta .
Saleha, 2009. AsuhanKebidananPada MasaNifas .Jakarta: Salemba Medika
Soetjiningsih. 1997. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Suherni, 2007.Perawatan MasaNifas.Yogyakarta: Fitramaya.
Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Andi : Yogyakarta.