Anda di halaman 1dari 58

KELENJAR

TIROID

EMBRIOLOGI
Terbentuk pada saat akhir bulan pertama
KELENJAR
kehidupan janin. TIROID
Berasal dari penebalan ektoderm dasar

faring terbentuk divertikulum tiroid.


Tuberculum impar membesar dan tumbuh
kearah bawah desensus melepaskan
diri dari faring.
Terbentuk sebagai duktus tirogosus atropi
pada minggu ke enam kehidupan intra
uterin.

EMBRIOLOGI
KELENJAR TIROID

Pada minggu ke-7 kelenjar tiroid mencapai

posisi terakhirnya di ventral trakea setinggi


C5,C6-Th1.
Perkembangan selanjutnya kelenjar tiroid
akan bergabung dengan ultimobrachial body
yang berasal dari brachial pouch V dan
membentuk C-Cell atau cell parafolikuler dari
kelenjar thyroid.

Kelainan Kongenital
Kelenjar
Tiroid
Sudah terjadi
sejak bayi lahir,
tetapi secara klinis baru tampak
setelah penderita tumbuh lebih
besar.
Kelainan kongenital kelenjar
tiroid yang paling sering dijumpai
adalah kista duktus tiroglosus dan
tiroid ektopik.

Kista Ductus
Adalah suatu kista pada garis tengah yang
Thyroglosus
muncul akibat kegagalan obliterasi dari ductus

thyroglosus.
Timbul pada semua usia tetapi umumnya pada
masa anak-anak pada saat umur 5 tahun.
Biasanya timbul di garis tengah pada daerah os
hyoideum, berbentuk massa kistik yang tidak
nyeri dan bergerak saat menelan atau pada
saat menjulurkan lidah sebagai bukti bahwa
melekat ke foramen cecum.
Terapi bedah melibatkan eksisi kista dan
saluran penyertanya yang dapat meluas melalui
os hyoideum ke basis lingual.

Thyroid Ektopik
Kegagalan turunnya prekursor posisi ektopik.
Yang paling sering adalah tiroid lingual.
Gejala yang umum dikeluhkan adalah

pembengkakan lidah yang menimbulkan kesulitan


menelan, kesulitan dalam bernafas atau perubahan
kwalitas bicara.
Pada pemeriksaan skintigrafi bisa terdeteksi bahwa
kelenjar tiroid terdapat lingual sedangkan di depan
trakea tidak ada.
Lokasi lain yang relatif jarang ditemukan pada tiroid
ektopik adalah tiroid substernal aberrant, tiroid
prelaryngeal dan tiroid intra trakeal.
Eksisi bedah diperlukan untuk obstruksi simtomatik
yang ditimbulkannya.
Autotransplantasi jaringan tiroid yang dieksisi
dilakukan untuk mencegah hipotiroidisme.

ANATOMI DAN
Berbentuk perisai segi empat terletak di leher
TOPOGRAFI

depan setinggi vertebra cervicalis 5 sampai


thoracalis 1.
Merupakan kelenjar endokrin yang paling banyak
vaskularisasinya, dibungkus oleh capsula yang
berasal dari lamina pretracheal fascia profunda
yang melekatkan thyroid ke larynx dan trachea.
Terdiri dari lobus kiri dan kanan yang dihubungkan
oleh isthmus.
Berat kelenjar thyroid bervariasi antara 20-30 gr,
rata-rata 25 gr.(4)
Dengan adanya ligamentum suspensorium Berry
kelenjar thyroidea ditambatkan ke cartilage
cricoidea dari facies posteromedial kelenjar.

Sistem
Arteri

A. Thyroidea superior, adalah cabang A.


Carotis externa yang masuk ke jaringan
superficial kelenjar, mendarahi jaringan
connective dan capsule.
A. Thyroidea inferior adalah cabang trunchus
thyreocervicalis dan masuk ke lapisan dalam
kelenjar, mendarahi jaringan parenkim dan propia
kelenjar.
A. Thyroidea ima, Arteri ini kadang-kadang
dijumpai merupakan cabang arcus aorta atau A.
Brachiocephalica dan mendarahi istmus.
A. Thyroidea acessorius, adalah cabangcabang A. Oesophageal dan Tracheal yang masuk
ke facies posteromedial.

Sistem Vena
V. Thyroidea superior; muncul dari polus

superior dan berakhir pada vena jugularis


interna (kadang-kadang V. Facialis)
V. Thyroidea inf.; muncul dari margo bawah
istmus dan berakhir pada V. Brachiocephalica
sinistra.
V. Thyroidea media; muncul dari
pertengahan lobus lateralis dan berakhir di V.
Jugularis interna.

Aliran Lymphatic
Ascending Lymphatic

Bagian media, mengalir ke prelaryngeal lymph


node yang terletak pada membrane
cricothyroidea
Bagian lateral, mengalir ke Jugulo-digastric
grup dari deep cervical lymph node.
Descending Lymphatic
Medial, mengalir ke pretracheal grup di
trachea
Lateral, mengalir ke Gl. Recurrent chain pada
N. Laryngeus recurrent.

Penerapan Anatomi
Selama operasi pengangkatan kelenjar thyroid :
Klinis
1.
A. thyroidea superior diligasi dekat dengan

kelenjar untuk mencegah cedera N. Laryngeus


externa yang berjalan bersama-sama dengan
arteri tersebut.
2.
A. thyroidea inferior diligasi jauh dari kelenjar
untuk menghindari cedera N. Laryngeus recurrent
yang berdekatan letaknya dengan kelenjar. Syaraf
ini berjalan di depan/ belakang atau di antara
cabang-cabang arteri tersebut.
3.
Ligasi juga dilakukan pada pembuluh darah
yang terletak di antara kedua lapisan capsul untuk
mencegah perdarahan massif.
4.
Saat pengangkatan kelenjar ligamentum
Suspensorium Berry harus dipotong agar kelenjar
dapat dimobilisasi dengan mudah.

FISIOLOGI KELENJAR
Kelenjar tiroid menghasilkan tiroksin (T4) dan (T3).
TIROID
Bentuk aktif hormon ini adalah triyodotironin (T3),

sebagian besar berasal dari konversi hormon T4 di


perifer,dan sebagian kecil langsung di bentuk oleh
kelenjar tiroid.
Yodida anorganik mengalami oksidasi menjadi
bentuk organik dan selanjutnya menjadi bagian dari
tirosin yang terdapat dalam tiroglobulin sebagai
monoyodotirosin (MIT) atau diyodotirosin (DIT)
Senyawa atau konjungasi DIT dengan MIT atau
dengan DIT yang lain akan menghasilkan T3 dan T4,
yang disimpan di dalam koloid kelenjar tiroid.
Sebagian besar T4 dilepaskan ke sirkulasi,
sedangkan sisanya tetap di dalam kelenjar yang
kemudian mengalami deyodinasi untuk selanjutnya
menjalani daur ulang

Setelah itu pembentukan hormon


tiroksin melalui beberapa langkah :
1. Trapping : mengambil yodium dari sirkulasi ke
2.
3.

4.

5.
6.
7.

dalam kelenjar tiroid


Oksidasi : yodium menjadi yodida
Pengikatan yodium oleh asam amino precursor
menjadi 3-monoiodotirosin (MIT) dan 3-5diiodotirosin (DIT).
Coupling,Penggabungan kedua bentuk iodotirosine
yang masih inaktif menjadi bentuk aktif iodotironin
yaitu triiodotironin (T3) dan tiroksin (T4).
Penimbunan, pembentukan koloid
Deyodinasi
Proteolisis dan sekresi hormon.

Dalam sirkulasi, hormon tiroid terikat pada protein,

yaitu globulin pengikat tiroid (thyroid-binding


globulin, TBG) atau prealbumin pengikat tiroksin
(thyraxine-binding prealbumin, TBPA).
Hormon tiroksin yang aktif adalah yang bebas
sehingga mampu menembus dinding sel untuk
menginduksi konsumsi oksigen dan meningkatkan
metabolisme terutama karbohidrat.
Sekresi hormon tiroid dikendalikan oleh suatu
hormon stimulator tiroid (thyroid stimulating
hormone, TSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior
kelenjar hipofisis.
Kelenjar yang hipofisis secara langsung dipengaruhi
dan diaktivitas olah kadar hormon tiroid dalam
sirkulasi yang bertindak sebagai negative feedback
terhadap lobus anterior hipofisis, dan terhadap
sekresi thyrotropine releasing hormone (TRH) dari
hipotalamus.

PEMBESARAN KELENJAR TIROID


Kelenjar tiroid dianggap membesar jika

ukurannya lebih dari 2 kali ukuran normal.


Struma diffusa: pada seluruh kelenjar,
dengan konsistensi lunak.
Struma nodusa : berupa nodul, apabila
hanya satu nodul disebut uninodusa dan
bila lebih dari satu nodul baik dalam satu
lobus maupun pada kedua lobus maka
disebut sebagai multinodusa.

Etiologi :
Hiperplasi dan hipertropi kelenjar; terjadi

apabila ada pacuan terhadap kelenjar tiroid


untuk memproduksi hormon tiroid.
Inflamasi kelenjar tiroid ; tiroiditis akut,
tiroiditis subakut (de Quervain) dan tiroiditis
kronis ( Hashimoto disease dan Riedels
struma)
Neoplasma, ada 2 macam:
Neoplasma jinak ( adenoma);
Neoplasma ganas ( adenocarsinoma)

Pemeriksaan Klinis
Pasien dengan pembesaran tiroid lebih

banyak asimptomatis,
Saat pertama kali ditemukan maka yang
pertama kali ditentukan oleh seorang klinisi
adalah faktor penyebab dari pembesaran
tersebut, apakah dari lokoregional atau dari
sistemik, multilokuler atau uninoduler. Dalam
menegakkan diagnosis nodul tiroid diperlukan
pemeriksaan yang teliti meliputi :

Anamnesis
Umur < 20 th atau > 50 th
Riwayat terpapar radiasi leher pada waktu kanak

kanak
Pembesaran kelenjar tiroid yang cepat
Penderita struma dengan suara parau
Disertai disfagia
Disertai rasa nyeri
Ada riwayat pada keluarga yang menderita kanker.
Penderita struma yang diduga hyperplasia dan
diterapi dengan hormon thyroksin tetap membesar
Struma dengan sesak nafas.
Selain itu perlu juga ditanyakan apakah ada tanda
tanda hypertiroidea

Pemeriksaan fisik:
Lokasi : lobus kanan, kiri, istmus.
Ukuran.
Jumlah nodul : uninodusa, multinodusa.
Konsistensinya : kistik, lunak, kenyal, keras.
Nyeri/tidak.
Mobilitas : ada tidak perlengketan dengan

musculus sternocleidomastoideus ataupun


trachea.
Pembesaran kelenjar getah bening sekitar
tiroid.

Curiga Ganas
Tumor yang cepat membesar tanpa diikuti rasa nyeri.
Pengerasan pada beberapa bagian atau menyeluruh dari

suatu struma.
Struma yang sudah lama tiba tiba membesar secara
progresif.
Hilangnya mobilitas dari struma, yang terjadi karena
proses infiltrasi tumor ke jaringan sekitarnya.
Pulsasi arteri karotis teraba dari arah tepi belakang
musculus sternocleidomastoideus karena terdesak oleh
tumor ( tanda dari BERRY ).
Adanya obstruksi trachea.
Struma dengan horner sindrom (ptosis, miosis,,
enophtalmus dengan suara parau).
Struma dengan pembesaran kelenjar limfe leher.
Struma dengan metastase jauh.

Pemeriksaan
Pemeriksaan ini terbagi menjadi dua:
Pemeriksaan untuk mengukur fungsi tiroid.
Laboratorium
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan T3, T4, TSH, FT4
Pemeriksaan untuk menunjukkan penyebab gangguan

fungsi tiroid
Pemeriksaan anti body tiroid dimana antibody ini terdiri
atas :
Antibody thyroglobulin.
Antibody mikrosomal.
Antibody CA2
Cell Surface antibody
Tiroid stimulating antibody (TSA)

Selain itu untuk mengetahui keganasan tiroid perlu


diperiksa :

Human thyroglobulin, suatu hormon marker untuk ca tiroid


jenis yang berdifferensiasi baik, terutama untuk follow up.
Kadar calsitonin, untuk pasien yang dicurigai ca meduller (2)

Pemeriksaan Radiologis
Foto polos leher (soft tissue tehnik) anteroposterior

dan lateral, untuk melihat kalsifikasi dan untuk melihat


ada tidaknya deviasi trachea.
Rontgen thorak, untuk mengetahui adanya metastase
ke thorax,
Oesophagogram, dilakukan apabila secara klinis
terdapat tanda tanda adanya infiltrasi ke
eosophagus.
CT-Scan, dapat digunakan untuk mengetahui
penyebaran lokal di coli ataupun untuk mengetahui
adanya penyebaran jauh di mediatinum, liver, paru,
tulang, ataupun otak.
MRI, memiliki fungsi yang hampir sama dengan CTSCAN tetapi lebih sensitif
Bone Scaning, untuk mengetahui bone metastasis.

Pemeriksaan
Dapat menentukan jumlah nodul.
Ultrasonograf

Dapat membedakan lesi tiroid tersebut padat atau


kistik.
Dapat mengukur volume dari kelenjar tiroid
Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid
residif yang tidak menangkap yodium yang tidak
terlihat dengan sidik tiroid.
Pada kehamilan dimana pemeriksaan sidik tiroid
adalah kontraindikasi, hal ini sangat membantu
untukmengetahui adanya pembesaran tiroid.
Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid
yang akan dilakukan biopsi
Dapat dipakai untuk pengamatan lebih lanjut hasil
pengobatan.

Pemeriksaan Sidik Tiroid.


Bila nodul menangkap yodium lebih sedikit

dari jaringan tiroid normal disebut cold nodule.


Bila afinitasnya sama disebut warm nodule,
dan bila afinitasnya lebih disebut hot nodule.
Suatu karsinoma tiroid kebanyakan adalah
cold nodule, sekitar 10 17 % struma dengan
nodul dingin adalah suatu keganasan.
Apabila akan dilakukan pemeriksaan ini maka
obat obatan yang dapat mengganggu
penangkapan yodium oleh tiroid harus
dihentikan selama 2 4 minggu sebelumnya.

Pemeriksaan Sitologi
(BAJAH)
Pemeriksaan ini tergantung dari : kemampuan
seorang sitolog dalam pengambilan sampel
Ketepatan pemeriksaan sitologi untuk kanker
anaplastik, medulare dan papilare mendekati
100 %, tetapi untuk jenis folicular hampir
tidak dapat dipakai karena gambaran sitologi
untuk adenomatous goiter, adenoma folicular
dan adenokarsinoma folicular adalah sama.

Pemeriksaan
Histopatology.
Pemeriksaan ini adalah gold standar dalam
menegakkan diagnosis tumor tiroid dan
pemeriksaan ini dapat berupa : Potong beku
(Frozen section), Pemeriksaan Paraffin block.

Tiroiditis Akut
Sering disebut sebagai akut diffus tiroiditis; akut non

supuratif tiroiditis atau pseudotuberkuler tiroiditis.


Gejala yang karakteristik adalah demam, kelemahan
pada ekstremitas atau malaise, nyeri pada tiroid dan
pembesaran kelenjar tiroid yang biasanya tidak
simetris.
Penyebab pasti tiroiditis akut adalah infeksi virus
pada beberapa kasus disebabkan oleh infeksi bakteri
yang berlanjut menjadi infeksi yang supuratif.
Bakteri patogen biasanya adalah staphylococcus
dan pneumococcus dan jarang salmonella atau
bacterioides.

Kelanjutan dari suatu proses primer di tiroid

menyebabkan terlepasnya tiroglobulin proses


sensitisasi imunologis yang meproduksi autoimmune antibodies reaksi alergi
Histopatologi: inflammatory reaction yang
karakteristik dengan adanya gambaran infiltrasi
pada stroma tiroid oleh sel mononuklear,
proliferasi jaringan ikat dan giant cell fermation.
Pada pemeriksaan yodium radioaktif : penurunan
aptake-nya akibat blokade olek proses inflamasi.
Pada pemeriksaan Protein Bound Iodine :
peningkatan akibat terlepasnya tiroglobulin
dalan sirkulasi.
Pengobatannya : antibiotik yang sesuai
kumannya

Tiroiditis Sub-akut (de Quervains)


Sering timbul sebagai self limited disease, dan sembuh dengan

pengobatan simtomatik.
Gejala klinis biasanya nyeri pada daerah tiroid, dan kadang
menjalar pada persendian rahang bawah serta telinga, nyeri
menelan dan pembesaran kelenjar tiroid
Perubahan laboratorium menunjukkan peningkatan laju enap
darah,peningkatan immunoglobulin, lekositosis neutrofil atau
limfosit.
Graves disease dan tiroiditis subakut dapat dibedakan dengan
pemeriksaan sidik tiroid; pada graves disease terjadi peningkatan
uptake yang diffus pada kelenjar tiroid sedangkan pada tiroiditis
sub akut justru terjadi penurunan yang diffus dari uptake I 131.
Perubahan yang terjadi biasanya pembesaran kelenjar tiroid
akibat peradangan, bisa asimetris dan bisa terjadi perlekatan
apada kapsul dan jaringan sekitar.
Pada pemeriksaan mikroskopis tampak sebukan sel
polimorfonuklear, limfosit dan giant cell yang dikelilingi fokusfokus degeneratif dari folikel tiroid.

Tiroiditis Kronis
Dibedakan menjadi 2 yaitu
1.
2.

Hashimotos disease
Riedels Struma

Hashimotos disease
Penyebabkan hipotiroidisme pada anak dan dewasa.
Laki-laki : Wanita = 1: 15
Terjadi pada usia 30-50 tahun
Antitiroid antibodi pada pasien dapat mendeteksi

adanya kelainan tersebut dan berlangsung selama


sakit serta berhubungan erat dengan peran T-Cell
mediated factor.
Klinis didapati struma multinodusa dengan batas nodul
tidak jelas, bejolan benjolan yang terjadi biasanya
pada pole bawah, tidak nyeri, tidak febris dan terdapat
penurunan berat badan. Pad struma yang besar sering
terjadi penekanan pada vena kava superior.
Tidak ada pengobatan spesifik : simtomatik dan
pemberian hormon tiroksin sebagai replecement.
Biopsi atau FNAB diperlukan untuk membedakan
dengan proses keganasan.

Riedels Struma
Sangat jarang ditemukan, biasanya menyerang

usia 30-60 tahun, wanita lebih sering daripada pria.


Etiologi terjadinya fibrosis tidak jelas, sering
dihubungkan dengan kelanjutan tiroiditis sub-akut.
Penderita sering mengeluh adanya pembesaran
yang cepat dari kelenjar tiroid disertai gangguan
pada trakea atau esofagus. Konsistensi keras,
bentuk irreguler, tidak terasa nyeri sehingga sering
rancu dengan karsinoma tiroid.
Diagnosa pasti adalah dengan biopsi. Pada
pemeriksaan patologi didapati adanya fibrosis yang
menyeluruh pada kelenjar tiroid, padat dan
melibatkan jaringan sekitar sehingga kapsul tiroid
sering tidak tampak.

Karsinoma Tiroid
Karsinoma tiroid merupakan keganasan yang

terjadi pada kelenjar tiroid.


Dikelompokkan menjadi:
1.
Karsinoma tiroid berdiferensiasi baik yaitu
bentuk papiler, folikuler atau campuran
keduanya yaitu meduler yang berasal dari sel
parafolikuler yang mengeluarkan kalsitonin,
dan
2.
Karsinoma yang berdiferensiasi buruk atau
anaplastik.

Etiologi
Radiasi .
Iodine excess
Aktivasi dari reseptor tyrosine kinase (TRK),

apakah karena rearrangement atau gen


amplifikasi menghasilkan transformasi yang
spesifik dimana sel sel folikular tiroid karsinoma
menjadi sel sel papillar karsinoma.

Klasifikasi Karsinoma Tiroid


menurut
Tumor epitelWHO
maligna:
Karsinoma Folikulare
Karsinoma Papilare
Campuran Karsinomafolikulare-papilare
Karsinoma Anaplastik ( Undifferentiated )
Karsinoma Sel Squamosa
Karsinoma Tiroid Medulare

Tumor non epitel maligna

Fibrosarcoma
Lain - lain
Tumor maligna lainnya
Sarcoma
Limfoma maligna
Teratoma maligna
Tumor sekunder dan unclassifed tumors

Klasifikasi Stadium klinik :


T
: Tumor primer
Tx
: Tumor primer tidak dapat dinilai
T0
: tidak didapat tumor primer
T1
: Tumor dengan ukuran terbesar 2 cm atau kurang dan masih terbatas pada
tiroid.
T2
: Tumor dengan ukuran 2 4 cm dan masih terbatas pada tiroid
T3
: Tumor dengan ukuran terbesar lebih dari 4 cm dan masih terbatas pada tiroid
atau tumor ukuran berapa saja dengan ekstensi ekstra tiroid yang minimal ( misalnya
ke otot sternotiroid atau jaringan lunak paratiroid)
T4a
: Tumor telah berekstensi keluar kapsul tiroid dan menginvasi ke Jaringan

lunak subcutan, laryng, trachea, oesophagus, Nervus laringeus recurent.


T4b
: Tumor menginvasi fascia prevertebra, pembuluh mediastinal atau arteri karotis
T4a* : (karsinoma Anaplastik) Tumor (ukuran berapa saja) masih terbatas pada
tiroid*
T4b* : (karsinoma Anaplastik) Tumor (ukuran berapa saja) berekstensi keluar kapsul
tiroid*

N
: Kelenjar getah bening regional
Nx
: Kelenjar getah bening tidak dapat dinilai
N0
:Tidak didapatkan metastase ke kelenjar getah bening
N1
: Terdapat metastase ke kelenjar getah bening
N1a
: Metastase pada kelenjar getah bening cervical level VI (pretrachea dan
paratrachea, termasuk prelaryngeal dan delphian)
N1b
: Metastase pada kelenjar getah bening cervical unilateral, bilateral atau
kontralateral atau ke kelenjar getah bening mediastinal atas/superior.
M
Mx
M0
M1

:
:
:
:

Metastasis
Metastasis jauh tidak dapat dinilai
Tidak terdapat metastasis jauh
terdapat metastasis jauh

Stadium klinis :
Karsinoma Tiroid Papilare atau Folikulare umur < 45 tahun
Stadium I Tiap T Tiap N M0
Stadium II Tiap T Tiap N M1

Karsinoma tiroid papilare atau folikulare umur 45 tahun dan


medulare
Stadium 1 T1
N0
M0
Stadium II T2
N0
M0
Stadium III T3
N0
M0

T1,T2,T3
N1a
M0
Stadium IVa T1,T2,T3
N1b
M0

T4a
N0,N1 M0
Stadium IVb
T4b
Tiap N M1
Anaplastik/Undifferentiated (semua kasus stadium IV)
Stadium IVa T4a
Tiap N M0
Stadium Ivb T4b
Tiap N M0
Stadium Ivc Tiap T Tiap N M1

Penatalaksanaan

PEMBEDAHAN KELENJAR
TIROID
Indikasi :
1. Pembesaran kelenjar thyroid dengan
gejala penekanan berupa : gangguan
menelan, gangguan pernafasan , suara
parau
2. Keganasan kelenjar thyroid
3. Struma nodus dan diffusa toxica tidak
respon dengan terapi medicamentosa
4. Kosmetik

Macam Teknik Operasi :


Isthmulobectomy , mengangkat isthmus dan satu

lobus kelenjar tiroid.


Lobectomy, mengangkat satu lobus.
Tiroidectomi Total; semua kelenjar tiroid diangkat
Tiroidectomy subtotal ; mengangkat sebagian
besar tiroid lobus kanan dan sebagian kiri, sisa
jaringan 2-4 gram dibagian posterior untuk
mencegah kerusakan parathyroid atau syaraf
reccurent laryngeus.
Near Total tiroidectomi : isthmulobectomy dextra
dan lobectomy subtotal sinistra dan sebaliknya,
sisa jaringan tiroid 1-2 gram dengan mengangkat
semua nodi yang terlibat.

Diseksi Leher
Pada karsinoma papiller dianjurkan berupa diseksi sentral pada saat

total tiroidektomi.
Pada karsinoma folikuler tidak dianjurkan diseksi profilaksis karena
insidensi metastaseke kelenjar getah bening rendah.
Bila secara klinis teraba kelenjar getah bening di leher pada
karsinoma papilare atau folikuler, dilakukan RND modifikasi
ipsilateral.
RND (Diseksi Neck Radikal) : mengangkat seluruh jaringan limfoid
pada leher sisi yang bersangkutan dengan menyertakan n.
assesorius, v. jugularis eksterna dan interna, m.
sternocleid0mastoideus dan m. omohyoideus dan kelenjar ludah
submandibularis dan tail parotis.
Ada 3 modifikasi :
Modifikasi 1 : mempertahankan n. ascessorius
Modifikasi 2 : mempertahankan n. acessorius dan v. jugularis
interna
Fungsional : mempertahankan n. acessorius, vena jugularis interna,
m.sterrnocleidomastoideus

Komplikasi Operasi :
Perdarahan

Insidensinya sekitar 0,3-1% dan dapat terjadi segera


(immidiete) maupun belakangan (delayed).
Obstruksi Jalan nafas
Obstruksi jalan nafas terjadi karena perdarahan,
edema larynx dan paralisis vokal cords.
Cedera nervus laringeus
Cedera nervus laringeus superior mempengaruhi
ketegangan vocal cord yang mengakibatkan
fatigue voice, perubahan timbre sehingga
penderita kesulitan bernyanyi atau bicara lama.
Hipoparatiroid
Hipoparatiroid terjadi karena terangkatnya atau
devaskularisasi kelenjar paratiroid.

Krisis tiroid; terjadi 8 24 jam pasca operasi.

Tanda-tandakrisis tiroid adalah : gelisah,


gangguan saluran gastrointestinal, kulit hangat
& basah, suhu > 38 C, nadi > 160 x/menit,
atau tekanan darah yang meningkat.
Mortalitas pasca operasi
Kematian pasca operasi amat jarang terjadi
setelah tiroidektomi. Insidennya di bawah 1
persen.