Anda di halaman 1dari 3

SIKLUS HIDUP

E. histolytica memiliki dua stadium (bentuk):


a) Trofozoit patogenik (bentuk histolitika) ukuran rata-rata 15-30 mm; amoeba bergerak
cepat dengan pseudopodium, ektoplasma jernih, endoplasma sedikit granular, mengandung
eritrosit, berinti satu: bulat, butir-butir kromatin tersusun teratur di tepi dalam membran
inti, karyosoma sentris (Sugeng Juwono Mardihusodo,2014).
b) Sista (kista) terbentuk dari dari
1. stadium presista berinti 1-2 buah yang kemudian
2. sista masak (infektif) berinti 4; menjadi bulat, lebih kecil daripada trofozoit, ukuran
rata rata 12-15 mm; Dalam sitoplasma presista ada benda kromatoid bentuk batang cerutu
yang menghilang pada sista masak; ada vakuola glikogen kecil (Sugeng Juwono
Mardihusodo,2014).

Kista infektif dari lingkungan masuk ke dalam tuan rumah baru dalam usus besar
mengadakan pembelahan kista di keluarkan dari dinding kista kista mulai pecah

menjadi tropozoit tropozoit-tropozoit ini menginvasi usus besar tropozoit-tropozoit


berkembang biak dengan membelah diri dalam usus besar mengadakan pematangan
sebagian masuk dalam usus besar sebagian tetap di dalam usus besar tropozoit yang
masuk dinding usus besar tersebut akan terbawa aliran darah menuju hati, paru, otak dan
organ lain tropozoit dan prakista keluar bersama feses cair, sedangkan kista keluar
bersama feses agak padat
CARA PENULARAN
Sumber infeksi terutama "carrier" yakni penderita amoebiasis tanpa gejala klinis yang dapat
bertahan lama megeluarkan kista yang jumlahnya ratusan ribu perhari. Bentuk kista tersebut
dapat bertahan diluar tubuh dalam waktu yang lama. Kista dapat menginfeksi melalui
makanan atau sayuran dan air yang terkontaminasi dengan feses yang mengandung kista.
Infeksi dapat juga terjadi dengan atau melalui vektor serangga seperti lalat dan kecoak (lipas)
atau tangan orang yang menyajikan makanan (food handler) yang menderita sebagai
"carrier", sayur-sayuran yang dipupuk dengan feses dan selada buah yang ditata atau disusun
dengan tangan manusia. Bukti-bukti tidak langsung tetapi jelas menunjukkan bahwa air
merupakan perantara penularan. Sumber air minum yang terkontaminasi pada feses yang
berisi kista atau secara tidak sengaja terjadi kebocoran pipa air minum yang berhubungan
dengan tangki kotoran atau parit (Rasmaliah,2003).
PATOGENESIS
Kista matang yang tertelan mencapai lambung masih dalam keadaan utuh karena kista tahan
terhadap asam lambung. Di rongga usus halus terjadi ekskistasi dan keluarlah bentuk-bentuk
minuta yang masuk ke dalam rongga usus besar. Bentuk minuta ini berubah menjadi bentuk
histolitika yang patogen dan hidup di mukosa usus besar serta menimbulkan gejala. Bentuk
histolitika memasuki mukosa usus besar yang utuh dan mengeluarkan enzim sisstein
proteinase yang dapat menghancurkan jaringan yang disebut histolisin. Kemudian bentuk
histolitika memasuki submukosa dengan menembus lapisan muskularis mukosa, bersarang di
submukosa dan membuat kerusakan yang lebih luas daripada di mukosa usus sehingga terjadi
luka yang disebut ulkus amuba. Lesi ini biasanya merupakan ulkus-ulkus kecil yang letaknya
tersebar di mukosa usus, bentuk rongga ulkus seperti botol dengan lubang sempit dan dasar
yang lebar, dengan tepi yang tidak teratur agak meninggi dan menggaung. Proses yang terjadi

terutama nekrosis dengan lisis sel jaringan. Bila terdapat infeksi sekunder, terjadilah proses
peradangan yang dapat meluas di submukosa dan melebar ke lateral sepanjang sumbu usus.
Kerusakan dapat menjadi luas sekali sehingga ulkus-ulkus saling berhubungan dan terbentuk
sinussinus dibawah mukosa. Dengan peristalsis usus, bentuk histolitika dikeluarkan bersama
isi ulkus ke rongga usus kemudian menyerang lagi mukosa usus yang sehat atau dikeluarkan
bersama tinja (Herbowo,2003).
GEJALA KLINIS
Manifestasi klinis amebiasis dapat tanpa gejala sampai tampak sakit berat. Pasien amebiasis
sering mengalami nyeri abdomen, diare, anoreksia dan malaise. Pada infeksi kronik, diare
dapat diselingi oleh fase konstipasi. Diare biasanya mengandung darah dan mukus disertai
tenesmus. Amebiasis intestinal dibagi menjadi 2 yaitu amebiasis kolon akut bila gejala
berlangsung kurang dari 1 bulan dan amebiasis kolon menahun bila gejalanya berlangsung
lebih dari 1 bulan atau bila terjadi gejala yang ringan, diikuti oleh reaktivasi gejala akut
secara periodik (Herbowo,2003).
Herbowo, dan Agus Firmansyah.2003.Diare Akibat Infeksi Parasit. Sari Pediatri, Vol. 4, No.
4, Maret 2003:198-203.
Mardihusodo,Sugeng Juwono.2014. Parasitologi Kesehatan Masyarakat.Fakultas Kesehatan
Masyarakat Udayana:Bali.
Rasmaliah.2003. Epidominologi Amoebiasis dan Upaya Pencegahannya. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara:Medan.