Anda di halaman 1dari 5

KERATITIS

6:01 PM kedokteran, mata, pengindraan No comments


KERATITIS

Oleh Rizka Hanifah, Sked


PENDAHULUAN
Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrate sel radang pada kornea yang akan
mengakibatkan kornea menjadi keruh, biasanya diklasifikasikan dalam lapisan yang terkena
seperti keratitis superficial, intertitisial dan profunda.1,2 Keratitis dapat disebabkan karena
sindrom dry eye, blefaritis, konjungtivitis kronis, keracunan obat, sinar ultraviolet, atau dapat
juga karena infeksi sekunder. Gejala klinisnya dapat berupa, mata merah, rasa silau, dan
merasa kelilipan. Gejala lainnnya yang mungkin ditemukan adalah mata terasa perih, gatal
dan mengeluarkan kotoran.1

PATOFISIOLOGI 3
Karena kornea avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tak dapat segera datang.
Maka badan kornea, sel-sel yang terdapt di dalam stroma segera bekerja sebagai makrofag
baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat di limbus dan tampak sebagi
injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrat, yang tampak sebagi bercak bewarna
kelabu, keruh, dan permukaan yang licin. Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbul
ulkus kornea yang dapat menyebar ke permukaan dalam stroma. Pada perdangan yang hebat,
toksin dari kornea dapat menyebar ke iris dan badan siliar dengan melalui membran
descement dan endotel kornea. Dengan demikian iris dan badan siliar meradang dan timbulah
kekeruhan di cairan COA, disusul dnegan terbentuknya hipopion. Bila peradangan tersu
mendalam, tetapi tidak mengenai membran descement dapat timbul tonjolan membran
descement yang disebut mata lalat atau descementocele. Pada peradangan yg dipermukaan
penyembuhan dapat berlangsung tanpa pembentukan jaringan parut. Pada peradangan yang
dlaam penyembuhan berakhir dengan terbentuknya jaringan parut yang dpaat berupa nebula,
makula, atau leukoma. Bila ulkusnya lebih mendalam lagi dapat timbul perforasi yang dapat
mengakibatkan endophtalmitis, panophtalmitis, dan berakhir dengan ptisis bulbi.
KLASIFIKASI 3
Keratitis dapat dibagi berdasarkan etiologi dan lokasi.
Berdasarkan Lokasi:

Keratitis Superficial :
1. Keratitis epitelial (tes fluoresin +)
a. Keratitis pungtata superficial
b. Keratitis Herpes simpleks
c. Keratitis Herpes zooster
2. Keratitis subepitelial (tes fuoresin -)
a. Keratitis numularis dari Dimmer
b. Keratitis disiform dari Westhoff
3. Keratitis stromal (tes fluoresin -)
a. Keratitis neuroparalitik
b. Keratitis et lagoftalmus
Keratitis Profunda :
1. Keratitis Interstitial
2. Keratitis Sklerotikans
3. Keratitis Disiformis
Keratitis Superfisial Nonulseratif :
1. Keratitis pungtata superfisial dari Fuchs
2. Keratitis numularis dari Dimmer
3. Keratitis disiformis dari Westhoff
4. Keratokonjungtivis epidemika
Keratitis Superfisial Ulseratif :
1. Keratitis pungtata ulseratifa
2. Keratitis flikten
3. Keratitis herpetika
4. Keratitis sika
5. Rosasea keratitis
Keratitis Profunda Nonulseratif :
1. Keratitis interstitial
2. Keratitis pustuliformis profunda
3. Keratitis disiformis
4. Keratitis sklerotikans
Keratitis Profunda Ulseratif :
1. Keratitis et lagoftalmus
2. Keratitis neuroparalitik
3. Dll.
Menurut Etiologi :
1. Bakteri : Diplococcus pneumonia, Streptococcus hemolyticus, Pseudomonas aeroginosa,
dll
2. Virus : Herpes simpleks, Herpes zooster, dll
3. Jamur : Candida, Aspergillus sp.
4. Alergi

5. Avitaminosis A
6. Kerusakan N.V
Keratitis Pungtata Superfisial
Keratitis Pungtata Superfisialis adalah suatu keadaan dimana sel-sel pada permukaan kornea
mati. Mata biasanya terasa nyeri, berair, merah, peka terhadap cahaya (fotofobia) dan
penglihatan menjadi sedikit kabur. Keratitis ini dapat bersifat ulseratif atau non ulseratif.
Keratitis Numularis
Keratitis ini didiuga oleh virus. Klinis tanda-tanda radang tidak jelas, di kornea terdapt
infiltrat bulat-bulat subepitelial, dimana ditengahnya lebih jernih, disebut halo. Keratitis ini
bila sembuh akan meninggalkan sikatrik yang ringan.
Keratitis Disiformis
Keratitis ini awalnya banyak ditemukan pada petani di pulau jawa. Penyebabnya adalah virus
yang berasal dari sayuran dan binatang. Di kornea tampak infiltrat bulat-bulat, yang
ditengahnya lebih padat dari pada dipinggir. Umumnya menyarang usia 15-30 tahun.
Keratokonjungtivis Flikten
Terutama didapatkan pada anak-anak dengan kebersihan yang buruk. Biasanya didaptkan
pembesaran kelenjar leher dan tonsil. Dikornea flikten merupakan benjolan dengan diameter
1-3 mm berwarna abu-abu dan menonjol di atas permukaan kornea.
Keratokonjungtivis Sika
Terjadi akibat kekeringan pada bagian permukaan kornea an konjungtiva. Kekeringan ini
dapat disebabkan kurnagnya komponen lemak, kurangnya air mata, kurangnya komponen
musin, penguapan berlebihan dll. Penderita akan mengeluh mata gatal, fotofobia, berpasir,
dll.
Keratitis Rosasea
Keratitis yang didapat pada orang yang menderita acne rosasea, yaitu penyakit dengan
kemerahan dikulit, disertai akne di atasnya.
Keratitis lagoftalmos
Terjadi akibat mata tidak menutup sempurna yang dapat terjadi pada ektropion palpebra,
protrusio bola mata atau pada penderita koma dimana mata tidak terdapat reflek mengedip.
Umumnya bagian yang terkena adalah kornea bagian bawah
FAKTOR-FAKTOR RESIKO 4
Faktor-faktor resiko yang memicu terjadinya keratitis termasuk segala lesi yang mengenai
permukaan epitel dari kornea. Penggunaan dari kontak lensa meningkatkan resiko terjadinya
keratitis, terutama jika cara penggunaannya tidak baik. Selain itu, penurunan kualitas dan
atau kuantitas dari air mata juga dapat memicu timbulnya keratitis. Gangguan fungsi imun
seperti pada penyakit AIDS atau penggunaan kortikosteroid dan kemoterapi juga dapat
meningkatkan perkembangan munculnya keratitis.
MANIFESTASI KLINIS 4
Gejala dari keratitis biasanya mencakup nyeri, perih, dan penglihatan buram. Nyeri yang
dirasakan dapat sedang hingga berat tergantung pada sebab dan luasnya inflamasi. Fotofobia

juga dapat timbul. Pada temuan klinis dapat didapatkan mata merah, berair, dan terdapat
kekeruhan pada kornea.
DIAGNOSIS 4
Diagnosis dari keratitis dapat didirikan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan menggunakan slit lamp untuk melihat dengan baik
seluruh permukaan okular khususnya kornea secara detail. Pada kasus dimana diduga terjadi
infeksi, kultur dapat diambil dari permukaan mata untuk menentukan spesifikasi patogen.
Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan adalah :1
Pemeriksaan tajam penglihatan
Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan untuk mengetahui fungsi penglihatan setiap mata
secara terpisah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan kartu snellen maupun
secara manual yaitu menggunakan jari tangan.
Uji dry eye
Pemeriksaan mata kering atau dry eye termasuk penilaian terhadap lapis film air mata ( tear
film ), danau air mata ( teak lake ), dilakukan uji break up time tujuannya yaitu untuk melihat
fungsi fisiologik film air mata yang melindungi kornea. Penilaiannya dalam keadaan normal
film air mata mempunyai waktu pembasahan kornea lebih dari 25 detik. Pembasahan kornea
kurang dari 15 detik menunjukkan film air mata tidak stabil.
Ofthalmoskop
Tujuan pemeriksaan untuk melihat kelainan serabut retina, serat yang pacat atropi, tanda lain
juga dapat dilihat seperti perdarahan peripapilar.
Keratometri ( pegukuran kornea )
Keratometri tujuannya untuk mengetahui kelengkungan kornea, tear lake juga dapat dilihat
dengan cara focus kita alihkan kearah lateral bawah, secara subjektif dapat dilihat tear lake
yang kering atau yang terisi air mata.
Tonometri digital palpasi
Cara ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau sulit dinilai
seperti pada sikatrik kornea, kornea ireguler dan infeksi kornea. Pada cara ini diperlukan
pengalaman pemeriksa karena terdapat factor subjektif, tekanan dapat dibandingkan dengan
tahahan lentur telapak tangan dengan tahanan bola mata bagian superior.1
PENGOBATAN
Penatalaksanaan keratitis bergantung pada etiologi yang mendasarinya. Bentuk sediaan yang
diberikan dapat berupa tetes mata, pil, atau intravena. Semua benda asing yang ada pada
kornea dan konjungtiva harus dihilangkan. Keratitits pungtata superficial penyembuhannya
dapat berakhir dengan sempurna. Infeksi keratitis biasanya membutuhkan antibakteri,
antifungal, atau terapi antiviral, apabila virus yang menjadi penyebabnya, keratitis tidak perlu
mendapatkan pengobatan yang khusus karena biasanya dapat sembuh lebih kurang dalam 3
minggu. Pemberian cendo citrol tetes mata (6 x 1 tetes) yang diindikasikan kortikosteroid
dapat menekan infeksi sekunder.5 Tetes mata steroid sering diberikan untuk mengurangi
inflamasi dan scar yang mungkin timbul. Tindakan ini harus dilakukan dengan hati-hati
karena beberapa infeksi dapat lebih buruk setelah penggunaan. Jika penyebab keratitis adalah
mata kering, dapat diberikan salep dan air mata buatan. Jika penyebabnya adalah sinar
ultraviolet atau lensa kontak, diberikan salep antibiotik dan obat untuk melebarkan pupil. Jika
penyebabnya adalah reaksi terhadap obat-obatan, maka sebaiknya pemakaian obat
dihentikan. Pada umumnya, pengguna kontak lensa akan diberi nasihat untuk tidak
meneruskan kembali, walaupun tidak berakaitan dengan sebab timbulnya keratitis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit Buku Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. 147-6.
2. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes : Opthalmologi. Edisi 9. Jakarta Penerbit
Erlangga Medikal Series; 2006. 66-0.
3. Wijana N. Ilmu Penyakit Mata. Edis 5. Jakarta. 1990
4. Keratitis. Diunduh dari : http://www.medicinenet.com/keratitis/page3.htm Pada tanggal 28
Februari 2011
5. BPP ISFI. ISO Indonesia vulome 41. Jakarta : BPP ISFI; 2006. 450-2.