Anda di halaman 1dari 35

KLOROFORM

I.

TUJUAN PERCOBAAN

Mahasiswa dapat mengetahui proses pembuatan kloroform dari senyawa golongan keton.

II.

DASAR TEORI

A. Pengertian
Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3). Kloroform dikenal karena
sering digunakan sebagai bahan pembius, meskipun kebanyakan digunakan sebagai pelarut
nonpolar di laboratorium atau industri. Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan, namun
mudah menguap.
Pada suhu normal dan tekanan, kloroform adalah cairan yang sangat mudah menguap, jernih,
tidak berwarna, berat, sangat bias, tidak mudah terbakar. Hal ini ditemukan pada Juli 1831
oleh dokter Amerika Samuel Guthrie (1782-1848), dan independen beberapa bulan kemudian
oleh Prancis Eugne Soubeiran (1797-1859) dan Justus von Liebig (1803-1873) di Jerman.
Kloroform yang bernama dan kimia ditandai pada tahun 1834 oleh Jean-Baptiste Dumas
(1800-1884). sifat anestesi Its dicatat awal tahun 1847 oleh Marie-Jean-Pierre Flourens
(1794-1867).
B. Sifat Kloroform

1.
2.
3.
4.
5.

Molekul berat : 113,4


Titik didih : 61,15 C - 61,70 C.
Melting point : -63,2 sampai -63,5 C pada atm
Flash point : tidak ada.
Kepadatan relatif uap (udara = 1) : 4,1-4,36 kg / m pada 101
kPa, 0 C.
6. Tekanan uap : 21,15 kPa pada 20 C.
7. Kelarutan dalam air
Pada 0 C : 10.62g/kg
Pada 10 C : 95g/kg
Pada 20 C : 8.22g/kg

8. Specific gravity : 1,483 pada 20 C


Tidak seperti eter, kloroform's khas bau harum tidak menjengkelkan, walaupun menghirup
uap kloroform pekat dapat menyebabkan iritasi pada permukaan mukosa terkena. Kloroform
adalah obat bius lebih efektif daripada nitrous oxide. Kloroform metabolisme dalam tubuh
adalah dosis-tergantung, mungkin secara proporsional lebih tinggi pada tingkat yang lebih
rendah dari eksposur. Sebuah persentase yang besar tetapi variabel kloroform dari udara
terinspirasi masih dipertahankan dalam tubuh, "itu adalah secara ekstensif dimetabolisme
oleh hati. Metabolit kloroform termasuk fosgen, karbena dan klorin, yang semuanya dapat
berkontribusi untuk aktivitas sitotoksik nya. administrasi berkepanjangan kloroform sebagai
obat bius dapat menyebabkan toxaemia. Keracunan akut dikaitkan dengan sakit kepala,
kesadaran berubah, kejang, kelumpuhan pernafasan dan gangguan dari sistem saraf otonom:
pusing, mual, dan muntah yang umum. Kloroform juga dapat menyebabkan kerusakan
tertunda-onset ke jantung, hati dan ginjal. Ketika digunakan dalam anestesi, pingsan biasanya
diawali dengan tahap eksitasi. Ini diikuti oleh hilangnya refleks, sensasi berkurang dan
kehilangan kesadaran kesatuan.
Mekanisme tindakan anaesthestics umumnya masih kurang dipahami. Namun pada tahun
2008, ditemukan bahwa kloroform menghambat saluran ion kalsium TRPC5 dominan di
otak. Efek ini memblokir pada saluran ion TRPC5 dibagi oleh kontemporer senyawa anestesi
intravena dan menghirup sama.

C. Pembuatan Kloroform

Kloroform disebut juga haloform disebabkan karena brom dan klor juga bereaksi
dengan metal keton, yang menghasilkan masing-masing bromoform (CHBr3) dan
kloroform (CHCl3). Hal ini disebut CHX3 atau haloform, maka reaksi ini sering
disebut reaksi haloform.
Pembuatan kloroform :
1. Peng foto kloran metana
2. Menurut reaksi haloform :

Zat + halogen + basa (halogen+basa=atau hipoklorit) CHCl3

Syarat untuk zat ini yaitu yang mempunyai atau pada oksidasi menghasilkan gugus
CH3COO (asetil) yang terikat pada atom H atau C. Reaksi haloform ini
berlangsung dalam tiga tingkat :
1. Oksidasi (bila perlu)
2. Substitusi
3. Penguraian oleh basa

Sifat-sifat CHCl3 :
1. Cairan
2. Baunya khas

Penggunaan CHCl3 :
1. Pelarut untuk lemak, dry cleaning dan sebagainya
2. Obat bius:dibubuhi etanol, disimpan dalam botol coklat, diisi sampai penuh (2,103105)

Senyawa halokarbon seperti contohnya kloroform mudah dibuat, metana berklorin


dibuat melalui klorinasi metana. Kloroform (CHCl3), semua tidak larut dalam air,
tetapi merupakan pelarut efektif untuk senyawa organik.
Dalam pembuatan atau pensintesaan kloroform perlu diperhatikan beberapa hal
yaitu dengan adanya oksigen dari udara dan sinar matahari maka kloroform dapat
teroksidasi dengan lambat menjadi fosgen (gas yang sangat beracun), maka untuk
mencegah terjadinya fosgen ini maka kloroform, disimpan dalam botol yang
berwarna coklat yang terisi dan mengandung 0,5 1% etanol (untuk mengikat bila
terjadi fosgen).
Senyawa kloroform adalah senyawa haloalkana yang mengikat tiga atom halogen
klor (Cl) pada rantai C-nya. Senyawa kloroform dapat dibuat dengan bahan dasar
berupa senyawa organik yang memiliki gugus metil (-CH3) yang terikat pada atom
C karbonil atau atom C hidroksi yang direaksikan dengan pereaksi halogen (Cl2).
Beberapa senyawa yang dapat membentuk kloroform dan senyawa haloform

lainnya adalah etanol, 2-propanol, 2-butanol, etanol, propanon, 2-butanon.


Halogenasi sering berjalan secara eksplosif dan hampir tanpa kecuali menghasilkan
campuran produk, karena lasan inilah halogenasi kadang saja digunakan dalam
laboratorium.
Struktur senyawa haloalkana yang terbentuk dari proses halogenasi terdiri dari
ikatan sigma karbon-halogen yang terbentuk oleh saling menindihnya suatu orbital
atom halogen dan suatu orbital hibrida atom karbon. Sebuah halogen membentuk
satu ikatan kovalen dan karena itu tak terdapat sudut ikatan di sekitar atom ini.
Namun, karbon menggunakan orbital hibrida yang sama tipenya untuk mengikat
halogen, hidrogen maupun atom karbon lain.
Kloroform yang dapat dari alkohol dengan kapur klor (bleaching powder) melalui
tiga tingkatan reaksi yaitu :
1. Oksidasi oleh halogen

CH3CH2OH + Cl2 CH3CHO


2. Klorinasi dari hasil oksidasi

CH3CHO + Cl2 CCl3CHO + HCl


3. CCl3CHO + Ca(OH)2 CHCl3 + (HCOO)2Ca

Sedangkan pada reaksi dengan aseton lebih kuat, sehingga dalam proses sintesa
digunakan susunan alat yang agak berbeda. Reaksinya adalah sebagai berikut
1. CH3COCH3 + 3 Cl2 CCl3COCH3 + 3 HCl
2. CCl3COCH3 + Ca(OH)2 CHCl3 + (CH3COO)2Ca

III.

ALAT DAN BAHAN

Alat
Beaker glass

Gelas ukur

Pemanas sportus / heater

Thermometer

Corong pemisah

Mortir dan stemper

Bahan

Kaporit

CaCl2 atau MgSO4

NaOH 2%

Aseton

Larutan KOH dalam alkohol

AgNO3 dalam alkohol aquadest

IV.

PROSEDUR

1. 100 gram kaporit digerus sambil ditambahkan aquadest sedikit demi


sedikit sebanyak 250 ml

2. Larutan yang terjadi disaring, ambil filtratnya


3. Suspensi kaporit dimasukkan ke labu leher tiga
4. Siapkan corong pemisah yang telah dimasukkan 16 ml aseton yang
diencerkan dengan air yang volumenya sama

5. Siapkan peralatan destilasi dan lakukan pemanasan dan proses destilasi


pada suhu 900C

6. Aseton dalam corong pemisah diteteskan sebanyak 25 tetes, maka labu


akan membuih, dijaga agar tidak turut bersama destilat, labu dikocok.
Jika pembuihan terjadi cepat matikan pemanas, dan labu didinginkan

7. Tampung destilat dalam sebuah erlenmeyer yang sebelumnya telah


diisi 5 ml air, destilat akan terlihat keruh.

8. Teteskan aseton sampai senyawa habis kemudian corong diisi 2,5-5 ml


air dan campurkan untuk mencegah sisa aseton dalam corong pemisah

V.

PEMBAHASAN

Sintesis koroform dilakukan tanpa ekstraksi, dengan mereaksikan kaporit dan aseton yang
akan menghasilkan kloroform. Mula mula kaporit dihaluskan menggunakan lumpang
porselen dengan penambahan akuades sedikit demi sedikit. Hal ini bertujuan untuk
memperluas permukaan kaporit sehingga mudah bereaksi. Setelah halus kaporit dituangkan
ke dalam labu destilasi. Kemudian dimasukkan aquades ke dalam penampung destilasi.
Aquades berfungsi untuk mengurangi penguapan destilat. Selanjutnya aseton dituang ke
dalam corong pisah dan diencerkan dengan aquades yang berfungsi sebagai media reaksi.
Selanjutnya aseton diteteskan ke dalam labu destilasi yang berisi kaporit. Dilanjutkan dengan
pemanasan pada suhu 90 C. Campuran yang menguap mengandung kloroform dan air. Uap

ini mengalir melewati tabung kondensor dan mengembun. Embun ini mencair dan mengalir
ke dalam penampung destilat, dalam percobaan ini ditampung dalam erlenmeyer. Klorofom
yang masih mengandung air seharusnya dipisahkan dengan penambahan NaOH dalam corong
pisah sehingga terbentuk lapisan dimana klorofom lapisan bawah karena masa jenisnya lebih
kecil. Kloroform selanjutnya diteteskan kedalam CaCl2 anhidrat untuk mengikat air pada
kloroform dan disaring. Dari hasil praktikum didapat 3,4 ml kloroform.
Kloroform yang dihasilkan sedikit sekali karena beberapa kemungkinan. Pertama, karena
suhu destilasi mencapai 900C, sedangkan titik didih kloroform adalah 60,20C sehingga
kemungkinan kloroform tercampur dengan uap air. Kedua, karena destilasi yang dilakukan
tidak tertutup seluruhnya, masih ada lubang-lubang yang tidak disengaja sehingga
kemungkinan kloroform keluar ke lingkungan (ketidaktelitian). Ketiga, karena proses
destilasi tidak dilakukan sampai selsesai karena waktu praktikum sudah habis (mencapai 3
SKS), sehingga laboratorium harus disiapkan untuk kelas selanjutnya yang akan melakukan
praktikum.
Reaksi pembentukan kloroform:
CaOCl2 + H2O Ca(OH)2 + Cl2

1. Reaksi oksidasi oleh halogen


CH3CH2OH + Cl2 CH3CHO

2. Klorinasi dari hasil oksidasi


CH3CHO + CCl3CHO + HCl

3. CCl3CHO + Ca(OH)2 CHCl3 + (HCOO)2Ca

VI.

KESIMPULAN

a.

Koroform yang terbentuk sedikit karena beberapa kemungkinan:

Karena suhu destilasi mencapai 900C, sedangkan titik didih kloroform adalah 60,20C
sehingga kemungkinan kloroform tercampur dengan uap air.

Karena destilasi yang dilakukan tidak tertutup seluruhnya, masih ada lubang-lubang
yang tidak disengaja sehingga kemungkinan kloroform keluar ke lingkungan
(ketidaktelitian).

Karena proses destilasi tidak dilakukan sampai selsesai karena waktu praktikum
sudah habis (mencapai 3 SKS), sehingga laboratorium harus disiapkan untuk kelas
selanjutnya yang akan melakukan praktikum.

b.

Pembentukan kloroform melibatkan beberapa proses reaksi, diantaranya reaksi


antara kaporit dan air, reaksi oksidasi oleh halogen, reaksi klorinasi dari hasil
oksidasi dan sebagainya.

c.

Reaksi akhir dalam pembentukan kloroform


CCl3CHO + Ca(OH)2 CHCl3 + (HCOO)2Ca

D. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mensistesis kloroform dari kapur klor dengan aseton dan menghitung rendamennya.
2. Mensintesis kloroform dari kapur klor dengan alcohol dan menghitung rendamennya.
E. Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui
cara sintesis kloroform dari kapur klor dengan aseton.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Brom dan klor bereaksi dengan metil keton menghasilkan masing-masing
bromoform (CHBr3) dan kloroform (CHCl3). Istilah umum untuk menyebut CHX3 ialah
haloform, maka reaksi ini sering disebut sebagai reaksi haloform. Karena bromoform
merupakan cairan yang tidak mencolok, maka pembentukannya tak berguna untuk
maksud uji. Namun reaksi antara suatu metil keton dengan setiap halogen tersebut
membentuk suatu metode pengubahan metol keton ini menjadi asam karboksilat
(Fesenden, 1998).

Reaksi alkana dengan halogen dinamakan halogenasi. Reaksi eksotermik


antara gas klor dengan alkena hanya berlangsung pada suhu tinggi dan bantuan sinar.
Sedangkan pada suhu rendah atau tanpa sinar, maka reaksi tidak berlangsung
(Svehla, 1979).
R H + Cl2

R Cl + HCl

Reaksi di atas dinamakan reaksi klorinasi, apabila yang digunakan adalah gas
brom maka reaksinya dinamakan brominasi alkane. Apabila halogen yang
ditambahkan, maka reaksi akan terus berlanjut membentuk spesies-spesies yang
banyak mengandung halogen tersebut. Sebagai contoh dapat diperhatikan proses
reaksi klorinasi metana dengan menggunakan gas klor yang berlebih, dapat dihasilkan
metilen klorida, kloroform atau karbon tetra klorida (Svehla, 1979).
CHCl3

Cl2

CH2Cl2 + HCl

CH2Cl2

Cl2

CHCl3 + HCl

CHCl3

Cl2

CCl4

Kloroform merupakan obat anastetik tertua, berupa cairan dengan bau


spesifik, rasanya kemanis-manisan pedas, tak dapat terbakar atau eksplosif. Khasiat
anastetiknya amat kuat. Tetapi karena terlalu toksik bagi hati dan jantung kini
kloroform hamper tidak digunakan lagi (Keena, 1999).
Selain itu kloroform juga mudah berubah menjadi fosgen yang sangat toksik yang
terjadi di bawah pengaruh cahaya dan oksigen yang terjadi dengan pembentukan
dietil karbonat (Riawan, 1990).
2 CHCl3 + O2

2 COCl2 + HCl

Dalam penyimpanannya dapat diberikan stabilisator alcohol yang akan


bereaksi :
COCl2 + 2 C2H5OH

2(C2H5OH) + 2 HCl

Kloroform dibuat dari alkohol dengan kapur klor (bleaching powder, Ca(OCl)Cl
(Calsium chloro hypochlorite) melalui tiga tingkatan reaksi :
1. Oksidasi oleh halogen
2. Klorinasi dari hasil oksidasi
3. Hidrolisa alkalis dari senyawa yang baru terbentuk

Kloroform merupakan senyawa hepatotoksik. Mekanisme kerjanya adalah


melalui metabolit reaktifnya, radikal triklorometil yang secara kovalen mengikat protein
dan lipid tidak jenuh dan menyebabkan peroksidasi lipid. Membran sub sel sangat
kaya akan lipid seperti itu, akibatnya bersifat sangat rentan. Perubahan kimia dalam
membran dapat menyebabkan pecahnya membran itu (Mycek, 1991).
Namun Recnagel mengemukakan bahwa peroksidasi lipid mikrosom mungkin
menyebabkan penekanan pada pompa Ca2+mikrosom yang mengakibatkan
gangguan awal honeostatis Ca2+ sel hati.Keadaan ini dapat menyebabkan kematian
sel hati (Mycek, 1991).
Yang terutama toksik adalah senyawa yang dapat membentuk radikal bebas
misalnya karbon tetraklorida, tetraklorometana atau dikloroetana. Toksisitas
kemungkinan besar terutama disebabkan oleh reaksi radikal dengan banyak asam
lemak tak jenuh. Di samping terbentuk hidrokarbon terhalogenasi dengan satu atom
halogen yang lebih sedikit (misaknya dari karbon teraklorida terbentuk kloroform)
maka terbentuk pula radikal asam lemak dengan ikatan rangkap terkonjugasi. Dengan
masuknya oksigen akan terbentuk peroksidasi atau hidroperoksida (Tjay, 1995).
Dalam reaksi redoks selalu harus ada oksidator dan reduktor bersam-sama
sebab bila salah satu bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan electron), maka
harus ada yang menangkap elektron itu (turun bilangan oksidasinya). Jadi tidak
mungkin ada oksidator saja ataupun hanya reduktor saja. Dengan kata lain, dalam
reaksi redoks pasti ditemukan unsur yang naik BO dan unsur lain yang turun BO pada
waktu yang bersamaan. Dalam reaksi disproporsionasi kedua unsur tersebut sama,
bahkan mempunyai BO sama pula, akan tetapi disatu pihak mengalami kenaikan BO,
dilain pihak secara bersamaan juga mengalami penurunan BO (Tim Dosen TPB,
2002).
Semua unsur dalam keadaan tidak stabil kecuali gas mulia, karena unsurunsur tersebut berproses untuk mencapai keadaan yang stabil sebagaimana gas
mulia. Kestabilan masing masing unsur dapat dicapai melalui interaksi dan
pembentukan ikatan dengan unsur lain, baik sebagai homo atomik maupun sebagai
hetero atomik bahkan dapat membentuk poliatomik yang stabil seperti pada
makromolekul atau polimer. Melalui ikatan-ikatan kimia unsur-unsur kemudian

membentuk molekul ataupun benda-benda yang selanjutnya menyusun dan menjadi


bagian dari alam semesta. Ikatan kimia dapat terjadi akibat adanya interaksi
elektronik, dalam berbagai wujud dan mekanisme. Sehubungan dengan itu maka
dikenal beberapa jenis ikatan antara lain ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan koordinasi,
ikatan hydrogen dan ikatan van der walls (Tim Dosen IPB, 2002).
Interaksi antara ion-ion Na+ dan ion Cl- kemudian menghasilkan pasangan ion
NA+Cl- yang mempunyai energy potensial yang lebih rendah bila dibandingkan
dengan unsur-unsur tersebut secara terpisah :
Na+ + Cl-

NaCl

Contoh di atas menggambarkan pembentukan pasangan ion dalam keadaan gas dari
atom-atom dalam keadaan bebas. Pada proses ini perbubahan energy menyangkut
energy potensial ionisasi (pada pembentukan kation), energy afinintas (pada
pembentukan anion) dan energy interaksi coloumb antara kedua jenis ion tersebut.
Natrium klorida biasanya ditemukan sebagai Kristal zat padat, dimana dalam kisi
Kristal tiap-tiap ion Na+ dikelilingi oleh enam ion Cl- dan tiap-tiap ion Cl- dikelilingi oleh
enam ion Na+ yang lain. Kekuatan ikatan ini dapat ditunjukkan dengan energi kisi (U)
yang didefenisikan sebagai jumlah energy yang dilepaskan bila satu senyawa
terbentuk dari ion-ionnya dalam keadaan gas berarti pembentukan NaCl (padat) dari
unsur-unsurnya menyangkut beberapa faktor tahapan (Tim Dosen IPB, 2002).
Reaksi antara metana dengan klor cukup menarik dikaji lebih lanjut, karena
reaksi tersebut merupakan metode kimiawi yang cukup akurat. Campuran hasil reaksi
yang diperoleh dari reaksi yang diperoleh dari klorinasi metana dapat dipisahkan
antara satu dengan yang lainnya yang dapat diidentifikasi, karena kesemuanya
mempunyai titik didih yang berbeda. Sebagaimana yang terlihat pada metana yang
mengalami kloronisasi, menunjukkan nbahwa 1,2,3 dan 4 atom hydrogen dari metana
diganti oleh atom-atom klor secara beruntun dan menghasilkan senyawa klorometana
(metilklorida), diklorometana (metilenklorida), triklorometana (tetraklorida). Masingmasing senyawa dapat dibuat dari berbagai cara dengan menggunakan beberapa
reaksi yang lain (Keena, 1999).
Semua reaksi yang disebut dalam seksi-seksi di depan adalah reaksi
penggabungan ion, dimana bila bilangan oksidasi (valensi) spesi-spesi yang bereaksi

tidaklah berubah. Namun terdapat sejumlah dalam dimana keadaan oksidasi berubah,
yang disertai dengan pertukaran electron antara pereaksi. Ini disebut reaksi oksidasireduksi atau dengan pendek reaksi redoks (Svehla, 1979).
Dalam sejarahnya istilah oksidasi diterapkan untuk proses-proses dimana
oksigen diambil oleh suatu zat. Maka reduksi dianggap sebagai proses dimana
oksigen diambil dari dalam suatu zat (Svehla, 1979).
Kloroform merupakan senyawa hepatotoksik. Mekanisme kerjanya adalah
melalui metabolit reaktifnya, radikal triklorometil yang secara kovalen mengikat protein
dan lipid tidak jenuh dan menyebabkan peroksidasi lipid. Membran subsel sangat kaya
akan lipid sperti itu, akibatnya bersifat sangat rentan. Perubahan kimia dalam
membrane (Mycek, 1991).
Namun Recnagel mengemukakan bahwa peroksidasi lipid mikrosom mungkin
menyebabkan penekanan pada pompa Ca2+ mikrosom yang mengakibatkan
gangguan awal homeostatis Ca2+ sel hati. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian
sel hati (Mycek, 1991).
Sifatnya adalah (Soemantri, 1991) :
1. Mempunyai titik didih yang lebih tinggi daripada alkane asalnya. Suhu rendah berwujud
gas, suku tengah berwujud cair dan padat untuk suhu yang lebih tinggi.
2. Sukar larut dalam air dan mudah larut dalam pelarut organic.
3. Atom halogen yang terikat, Judah disubtitusikan oleh atom/gugus lain.
B. Uraian Bahan
1. Air Suling (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi

: AQUA DESTILLATA

Nama lain

: Air Suling

RM / BM

: H2O / 18,02

Rumus struktur

: HOH

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.


Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: Sebagai pensuspensi dan pembilas.

2. Alkohol (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi

: AETHANOLUM

an

an

Nama lain

: Etanol, alkohol

RM / BM

: C2H5OH / 47,07

Rumus struktur

: CH3 CH2 OH

: Cairan tidak berwarna, jernih mudah menguap, mudah bergerak, bau khas, rasa
panas, mudah terbakar, memberikan nyala biru yang tak berasap.
: Bercampur dengan air dan praktis bercampur dengan semua pelarut organik.
: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala
api.
: Sebagai bahan dasar pembuatan kloroform dan sebagai titran.
3. Aseton (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi

: DIMETIL KETON

Nama lain

: Aseton

RM / BM

: (CH3)2CO / 69,0801

Rumus struktur

: CH3 CO CH3

: Cairan jernih tidak berwarna, mudah menguap, bau khas, mudah terbakar.
: Dapat bercampur dengan air, dengan etanol 95% P, dengan eter P dan dengan
kloroform P, membentuk larutan jernih
: Dalam wadah tertutup baik
: Sebagai bahan dasar pembuatan kloroform
4. Kloroform (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi

: CHLOROFORM

Nama lain

: Kloroform

RM / BM

: CHCl3 / 119,38

: Cairan tidak berwarna, mudah menguap, bau khas, rasa manis dan membakar
: Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut dalam etanol mutlak P, dalam
eter P, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak
lemak.
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

5. Vaselin Kuning (Dirjen POM, 1995)


Nama resmi

: VASELINUM FLAVUM

Nama lain

: Vaselin kuning

: Massa seperti lemak, kekuningan hingga hampir lemah, berflurosensi sangat lemah
walaupun setelah melebur. Dalam lapisan tipis transparan. Tidak atau hamper tidak
berbau dan berasa.
: Tidak larut dalam air, mudah larut dalam benzene, dalam karbon disulfide, dalam
kloroform dan dalam minyak lemak dan dalam minyak terpentin, larut dalam eter,
dalam heksana, dan umumnya dalam minyak lemak dan minyak atsiri, praktis tidak
larut dalam etanol dingin dan etanol panas dan dalam etanol mutlak dingin.

an

: Dalam wadah tertutup baik


C. Uraian Sampel
1. Kapur klor (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi

: CALSIUM CHLORO HYPOCLORIL

Nama lain

: Kaporit

RM / BM

: Ca(OCI)Cl / 126,98

Pemerian

: Serbuk putih, kotor, bau khas.

: Larut sebagian dalam air dan dalam etanol 95% P


Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: Sebagai bahan dasar sintesis


D. Prosedur Kerja (Anonim, 2012)

1. Penggerusan dalam mortar jangan terlalu lama, sebab nanti klornya banyak yang
2.

3.
4.
5.

6.

hilang dan banyak yang tidak jadi.


Sebaiknya pipa bengkok yang menurun (12 cm) ditaruhpotongan selang karet (5 cm)
yang di dalamnya telah dilapisi vaselin tipis. Pipa yang menurun tersisa 4 cm.
Pemakaian pipa karet ialah agar kita bisa menggoyang goyangkan labu.
Perubahan susunan alat diperbolehkan asal dapat memberitahukan apa yang
dikerjakan dan memberikan alasan penggunaan alat-alat yang dipakai.
Penggukuran suhu tidak usah dilakukan karena tidak dikehendaki yang tepat, cukup
dapat diperkira-kirakan.
Selama pembuatan tidak boleh lengah. Pengocokan labu ini bermaksud agar suspensi
kapur klor yang mengendap ini tetap terbagi rata dalam seluruh labu selama
pemanasan.
Sebelum labu menjadi dingin, hendaknya lekas-lekas pipa alonga yang tercelup dalam
air penampung dipisahkan, kalau tidak akan ada kemungkinan bila labu mendingin

penampung tersedot masuk kedalam lalu melalui pendingin dan ini menyebabkan
pecahnya labu yang belum begitu dingin.
7. Hilangnya asam dapat diketahui dengan menguji air pencucian dengan kertas lakmus,
hilangnya alkohol dapat diketahui dengan menguji air pencuci dengan iodoform
reaksi.
8. Jangan misalnya mengeringkan hanya 10 ml kloroform dengan 10 gr CaCl2 anhidrat,
nanti semua kloroform akan habis.
9. Pemilihan labu destilasi yang kecil disini artinya yang sesuai yakni hendaklah isi labu
tersebut (untuk destilasi biasa) tidak lebih dari 2/3 dan tidak kurang dari 1/3.
10. Dengan adanya cahaya dari udara, kloroform mengalami oksidasi menjadi phosgeen
yang toksis. Pada penyimpanan biasanya diberi 1-2 % alkohol untuk mengubahnya
menjadi dietil karbonat yang tidak berbahaya.
BAB III
KAJIAN PRAKTIKUM
A. Alat yang Dipakai
Adapun alat yang dipakai yaitu botol semprot, batang pengaduk, batu didih,
corong pisah, erlenmeyer 50 ml, gelas ukur 25 ml, gelas ukur 10 ml, kondensor lurus,
lampu spirtus, labu alas bulat, pipa bengkok, pipet skala, sendok tanduk, statif dan
klem, timbangan ohaus.

B. Bahan yang Digunakan


Adapun bahan yang digunakan adalah alkohol, alumunium foil, air suling,
aseton, kapur klor/kaporit, kapas, kertas timbang, tissue, dan vaselin.
C. Cara Kerja
a. Untuk Alkohol
Disiapkan alat dan bahan yang digunakan. Ditimbang 24 gram kaporit dengan
menggunakan timbangan analitik. Dimasukkan kedalam labu alas bulat dan
disuspensikan dengan air 30 ml sedikit demi sedikit hingga homogen. Ditambahkan
50 ml etanol dan dihomogenkan kembali, dan ditambahkan dengan batu didih, setelah
itu mulut dari labu alas bulat ditutup dengan menggunakan alumunium foil. Dipasang
atau dihubungkan labu alas bulat tadi dengan kondensor. Dihubungkan dengan
kondensor dimana ujung kondensor diletakkan dalam erlenmeyer yang berisi
air. Dipanaskan labu alas bulat dengan menggunakan lampu spritus proses destilasi
dihentikan apabila tidak ada lagi kloroform yang keluar/dan apabila pada
saat pemanasan terjadi gelembung yang terdapat erlenmeyer yang berisi air maka

jauhkan lampu spritus dari labu alas bulat.Diamati hasil sintesis kloroform pada
Erlenmeyer penampung.Kloroform dan air dipisahkan dengan corong pisah sehingga
diperoleh kloroform yang murni, dimasukkan kedalam gelas ukur dan diukur volume
yang diperoleh. Dihitung persen rendamennya.
b. Untuk Aseton
Pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang digunakan. Ditimbang 20
gram kaporit kemudian dimasukkan kedalam labu alas bulat dan ditambahkan air
sedikit demi sedikit. Ditambahkan 40 ml aseton, dan dihomogenkan kembali.
Dipasang atau dihubungkan labu alas bulat tadi dengan kondensor. Dipasang
Erlenmeyer yang berisi air pada ujung alat destilasi. Dipanaskan labu alas bulat
dengan menggunakan lampu spritus. Diamati hasil sintesis kloroform pada
Erlenmeyer penampung. Kloroform dan air dipisahkan sehingga diperoleh kloroform
yang murni melalui corong pisah dan langsung dimasukkan kedalam gelas ukur dan
diukur volume yang diperoleh. Dihitung persen rendamennya.

BAB IV
KAJIAN HASIL PRAKTIKUM

A. Hasil Praktikum
1. Tabel Pengamatan
No

pereaksi

Volume pereaksi

Berat

Volume kloroform

Aseton

25 ml

20 gr

4,5 ml

Alkohol

25 ml

20 gr

1 ml

B. Pembahasan
Sintesa kloroform merupakan suatu proses pembuatan senyawa organik
melalui bahan dasar kapur klor yang melalui penyarian atau destilasi. Kloroform
merupakan obat anastesi yang sudah sejak lama digunakan, akan tetapi saat ini
pemakaiannnya telah berkurang karena sifatnya yang hepatotoksik dan dapat dengan
mudah teroksidasi di bawah cahaya dan udara menjadi phosgene yang sangat toksik.
Pada praktikum sintesa kloroform terjadi tiga reaksi, yaitu reaksi oksidasi oleh
halogen, kloronisasi dari hasil oksidasi dan hidrolisa alkali dari senyawa yang baru
terbentuk. Sintesa kloroform dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pertama
mereaksikan suspense kapur klor / kaporit dengan alcohol, kedua mereaksikan
suspense kapur klor / kaporit dengan aseton.
Pada percobaan ini dilakukan cara pembuatan kloroform dengan mereaksikan
kapur klor (kaporit) dengan aseton, cara kerja pembuatan kloroform dengan
menggunakan aseton yaitu pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang digunakan.
Ditimbang 20 gram kaporit kemudian dimasukkan kedalam labu alas bulat dan
ditambahkan air sedikit demi sedikit. Ditambahkan 40 ml aseton, dan dihomogenkan
kembali. Dipasang atau dihubungkan labu alas bulat tadi dengan kondensor.
Dipasang Erlenmeyer yang berisi air pada ujung alat destilasi. Dipanaskan labu alas
bulat dengan menggunakan lampu spritus. Diamati hasil sintesis kloroform pada
Erlenmeyer penampung. Kloroform dan air dipisahkan sehingga diperoleh kloroform

yang murni melalui corong pisah dan langsung dimasukkan kedalam gelas ukur dan
diukur volume yang diperoleh. Dihitung persen rendamennya.
Pada proses suspensi kapur klor, diusahakan agar jangan terlalu lama untuk
mencegah terlepasnya gas klor, dan perlu diingat dalam mensuspensi dengan air
diusahakan agar kapur klor jangan sampai tergerus kerana akan mempermudah
terlepasnya kapur klor, sehingga jumlah kloroform yang akan didapatkan hanya
sedikit.
Pada percobaan ini digunakan kondensor lurus yang disesuaikan dengan
metode yang digunakan yaitu metode destilasi agar uap kloroform dapat lebih mudah
melewati kondensor. Apabila digunakan kondensor bulat, maka ada kemungkinan uap
atau gas dari kloroform akan tertinggal pada bulatan/lekukan kondensor. Pada
kondensor, air mengalir dari atas kebawah agar pendinginan dapat dilakukan secara
maksimal dari ujung atas sampai ujung bawah kondensor.
Penggunaan labu alas bulat tujuannya adalah agar pemanasan yang kita
lakukan hasilnya dapat merata, karena jika kita menggunakan labu yang lain selain
labu alas bulat akan dikhawatirkan pemanasan yang dilakukan hasilnya akan tidak
merata karena labu

yang lain mempunyai suatu sudut yang mana akan

memungkinkan larutan yang berada di dalam labu tersebut akan mengendap dan
proses pemanasannya tidak merata karena api dari bawah hanya menyebar ke sudut
sudut dari labu, sedangkan jika kita menggunakan labu alas bulat maka
pemanasannya akan lebih merata dan apinya akan menyebar ke seluruh bagian dari
labu alas bulat tersebut.
Dilakukan pemanasan api bebas agar dapat menghindari terjadinya frothing
atau letupan dari larutan bila sewaktu-waktu terjadi letupan dapat segera
menghentikan pemanasan dan frothing tidak terjadi. Fungsi yang sama juga diberikan
oleh batu didih, penambahan batu didih dimaksudkan untuk menghindari frothing,
disebabkan karena batu didih memiliki pori-pori yang dapat menyerap panas dan
mengeluarkan panas tersebut ke segala arah sehingga pemanasan merata ke segala
arah.
Proses terjadi dalam sintesis kloroform ini adalah dengan adanya pemanasan
maka uap klor akan naik atau menguap karena telah mencapai titik didih. Uap klor

yang terbentuk akan dialirkan ke kondensor untuk di kondensasi membentuk tetesan


cairan kloroform sehingga mengalir melewati pipa bengkok/alonga ke wadah.
Adapun alasan penambahan dari masing-masing bahan yang digunakan
adalah :

Aseton, karena aseton larut dalam berbagai perbandingan dengan air, etanol ,
dietileter

Kaporit, bila pada penambahan ini akan terjadi reaksi haloform bila direaksikan
dengan alkohol atau aseton.

Aplikasi dalam bidang farmasi yaitu untuk mensintesis senyawa atau bahanbahan obat sehingga dapat dipergunakan serta mensintesis senyawa lain untuk
memperoleh senyawa baru yang berkhasiat bagi makhluk hidup. Dan pada
penggunaan obat anastesi dalam melakukan suatu eksperimen atau uji farmakologi
dan toksisitas suatu obat.
Adapun efek yang ditimbulkan jika terlalu banyak menghirup gas kloroform,
yaitu :
a. Terjadinya aritmia, yaitu adanya perbedaan denyut atau irama jantung dari kondisi
normal.
b. Menghambat kerja jantung dengan menurunkan curah jantung.
c. Hidrasi, yaitu kelebihan cairan tubuh.
d. Kerusakan pada hati dan ginjal.
Hasil yang didapatkan dari praktikum dapat dipengaruhi oleh beberapa factor
kesalahan diantaranya adalah :
a. Adanya ketidak telitian dalam melakukan penimbangan dan penambahan bahan.
b. Banyaknya klor yang menguap pada saat melakukan suspense dengan air dan pada
pengisian labu alas bulat.
c. Adanya ketidak hati-hatian dalam memasukkan bahan kapur klor.
Dari

hasil

praktikum

diperoleh

hasil

sintesis

kloroform

(dengan

aseton) sebanyak 4,5 ml, dengan berat teoritis 6,243 gram sedangkan berat
praktek 6,636 gram, sehingga diperoleh rendemennya sebesar106,3 %. Dan hasil
sintesis kloroform (dengan alkohol) sebanyak 1 ml, dengan berat teoritis 4,690 gram

sedangkan

berat

praktek

1,4747gram,

sehingga

diperoleh

rendemennya

sebesar 31,44 %.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. kloroform yang diperoleh dengan alkohol adalah 1 ml dengan % rendamen 31,44 %.
2. kloroform yang diperoleh dengan alkohol adalah 4,5 ml dengan % rendamen 106,3 %.
B. Saran
Sebaknya pada praktikum ini di gunakan pengukur suhu di sekitar pijaran nyala
bunsen untuk menghindari suhu yang tinggi, agar tidak terjadi letupan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012. Penuntun Praktikum Kimia Organik Sintesis. Universitas Muslim Indonesia
: Makassar
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI : Jakarta
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI : Jakarta
Riawan, S. 1990. Kimia Organik Edisi 1. Binarupa : Jakarta
Ernest. 1991. Dinamika Obat. Institut Tehnologi Bandung : Bandung
Fessenden. 1995. Kimia Organik Edisi Ketiga. Penerbit Erlangga : Jakarta
G, Katzung. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika : Jakarta
Ganiswara, Sulistia. 1995. Farmakologi dan Terapi. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia : Jakarta
Siegfried, Elel. 1992. Obat Sintesis. Universitas Gajah Mada Press : Yogyakarta
Soemantri, dkk. 1991. Prinsip Belajar Kimia. Erlangga : Jakarta
Tjay, Tan Hoan. 2002. Obat-obat Penting. PT. Elex Media Komputindo : Jakarta
Tim Dosen TPB. 2002. Kimia Dasar II. TPB Universitas Hasanuddin. Makassar

Pembuatan Kloroform
I.

Tujuan Praktikum
Membuat kloroform dari reaksi redoks dan hidrolisa.
Landasan Teori
Dalam Kamus Kimia (Balai Pustaka, 2002) kloroform diartikan sebagai zat cair tanpa
warna, dengan bau manis, menyenangkan dan anestetik. Kloroform disebut juga haloform. Hal
ini disebabkan karena brom dan klor juga bereaksi dengan metal keton; yang menghasilkan
masing-masing bromoform dan kloroform. Hal ini disebut CHX3 atau haloform, maka reaksi
ini sering disebut reaksi haloform.
Kloroform juga dikenal sebagai trichloromethane, triklorid metana, trichloroform,
triklorid metil, dan triklorid formyl. Rumus molekul kloroform : CHCl3 . Sedangkan struktur
kimia kloroform dapat dilihat di bawah :

II.

o
o
o
o
o
o

Sebagaimana senyawa lain, kloroform memiliki ciri atau sifat tersendiri. Diantara sifatsifatnya tersebut adalah :
Berbentuk cairan
Baunya khas (menyengat)
Mudah menguap
Tidak larut dalam air
Titik didih 61,2 0 C
Indeks bias 1,487

Dalam kehidupan sehari-hari kloroform berfungsi sebagai pembius dan


pelarut senyawa organik . Penggunaan kloroform tersebut dapat dirinci sebagai
berikut :
1.
Pelarut untuk lemak, dry cleaning dan sebagainya
2. Obat bius ; untuk penggunaan ini : dibubuhi etanol, disimpan dalam botol coklat, diisi sampai
penuh
Senyawa halokarbon seperti kloroform dapat dibuat dengan beberapa cara, diantaranya
:

klorinasi metana

1.
2.
3.

o
o
o
o
o

1.
2.
3.

III.

reaksi substitusi elektrofilik


menurut reaksi haloform
Syarat pembuatan menurut reaksi haloform ini adalah menggunakan dari bahan alkohol
yang bila dioksidasi menghasilkan gugus asetil (CH3COO) yang terikat pada atom H atau C.
Reaksi haloform ini berlangsung dalam tiga tingkat :
Oksidasi (bila perlu)
Substitusi
Penguraian oleh basa
Dalam pembuatan atau pensintesaan kloroform perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu
dengan adanya oksigen dari udara dan sinar matahari, kloroform dapat teroksidasi dengan
lambat menjadi fosgen (gas yang sangat beracun). Maka untuk mencegah terbentuknya fosgen
ini , kloroform disimpan dalam botol yang berwarna coklat yang terisi dan mengandung 0,5
1% etanol. Fungsi etanol tersebut sebagai pengikat apabila terbentuk fosgen.
2 C2H5OH + COCl2 (C2H5O)2CO + 2 HCl
Senyawa kloroform adalah senyawa haloalkana yang mengikat tiga atom halogen klor
(Cl) pada rantai C-nya. Senyawa kloroform dapat dibuat dengan bahan dasar berupa senyawa
organik yang memiliki gugus metil (-CH3) yang terikat pada atom C karbonil atau atom C
hidroksi yang direaksikan dengan pereaksi halogen (Cl2). Beberapa senyawa yang dapat
membentuk kloroform dan senyawa haloform lainnya adalah:
etanol
2-propanol
2-butanol
propanon
2-butanon, dll
Halogenasi sering berjalan secara eksplosif dan hampir tanpa kecuali menghasilkan
campuran produk, karena alasan inilah halogenasi kadang saja digunakan dalam laboratorium.
Struktur senyawa haloalkana yang terbentuk dari proses halogenasi terdiri dari ikatan
sigma karbon-halogen yang terbentuk oleh saling menindihnya suatu orbital atom halogen dan
suatu orbital hibrida atom karbon. Sebuah halogen membentuk satu ikatan kovalen dan karena
itu tak terdapat sudut ikatan di sekitar atom ini. Namun, karbon menggunakan orbital hibrida
yang sama tipenya untuk mengikat halogen, hidrogen maupun atom karbon lain.
Kloroform yang dapat dari alkohol dengan kapur klor (bleaching powder) melalui tiga
tingkatan reaksi yaitu :
Oksidasi oleh halogen
CH3CH2OH + Cl2 CH3CHO + 2HCl
Klorinasi dari hasil oksidasi
CH3CHO + Cl2 CCl3CHO + HCl
CCl3CHO + Ca(OH)2 CHCl3 + (HCOO)2Ca
Sedangkan pada reaksi dengan aseton lebih kuat, sehingga dalam proses sintesa
digunakan susunan alat yang agak berbeda. Reaksinya dapat dilihat sebagai berikut :
1. CH3COCH3 + 3 Cl2 CCl3COCH3 + 3 HCl
2. CCl3COCH3 + Ca(OH)2 CHCl3 + (CH3COO)2Ca
Alat dan Bahan
Alat
:
Labu Pemanas
Alat destilasi lengkap
Corong pisah
Bahan :
Kaporit

Alkohol
Aquades
CaCl2 anhidrat

IV.

Prosedur kerja

V.

Hasil Pengamatan dan Pembahasan

Pada praktikum kali ini, kami melakukan percobaan pembuatan kloroform. Yang perlu
diketahui dalam reaksi pembuatan kloroform ini adalah reaksi substitusi. Reaksi substitusi
adalah suatu reaksi dimana suatu atom, ion atau gugus disubstitusikan untuk (menggantikan)
atom, ion atau gugus lain. Dalam reaksi substitusi alkil halida, alkil halida disebut gugus pergi
(leaving group) suatu istilah yang berarti gugus apa saja yang dapat digeser dari ikatannya
dengan suatu atom karbon. Dari segi praktis hanya Cl, Br, I merupakan gugus pergi yang cukup
baik, sehingga bermanfaat dalam reaksi-reaksi substitusi. Proses substitusi pada umumnya
terjadi pada spesi nukleofil (pencinta nukleus/pencinta inti positif) dan spesi elektofil (pencinta
elektron/pencinta inti negatif). Suatu nukleofil adalah spesi apa saja yang tertarik kesatu pusat
positif. Jadi sebuah nukleofil adalah suatu basa Lewis. Sedangkan suatu elektrofil adalah
adalah spesi apa saja yang tertarik kesuatu pusat negatif. Jadi suatu elektrofil adalah suatu asam
Lewis. Suatu reaksi substitusi elektrofilik terjadi karena adanya spesi yang bersifat
elektronegatif dan tertarik kearah atom yang kaya elektron.
Kloroform dapat dibuat melalui reaksi substitusi elektrofilik atom-atom H semua
senyawa karbonil yang bergugus asetil (CH3CO-) dalam suasana basa. Juga dapat digunakan
bahan alkohol yang bila dioksidasi menghasilkan gugus asetil
Pada percobaan ini dilakukan proses senyawa kloroform (CHCl3) dari kaporit dan
aseton melalui reaksi substitusi elektrofilik. Langkah awal yang dilakukan yaitu mereaksikan
kaporit (CaOCl2) yang merupakan serbuk putih (padat) sebanyak 30 gram dengan air 250 mL
kedalam labu dasar bulat sambil digoyang-goyang sehingga terbentuk suspensi yang sempurna.
Proses pencampuran ini menghasilkan kalsium hidroksida, Ca(OH)2 yang bersifat basa dan
Cl2.
Reaksi : CaOCl2 + H2O Ca(OH)2 + Cl2
Langkah selanjutnya adalah menuangkan 25 mL alkohol sedikit demi sedikit sambil
dikocok agar reaksinya berlangsung sempurna dengan Cl2 yang berasal dari pencampuran
kaporit dan air yang akan membentuk asetil klorida(CCl3COCH3)
O
O
||
||
(CCl3C CH3) + 3 Cl2 CCl3 CCH3 + 3 HCl
Proses selanjutnya yaitu melakukan destilasi labu yang berisi kloroform murni.
Prosesnya dilakukan dengan memasang labu dasar bulat dalam set alat destilasi lalu dipanaskan
dengan api kecil agar proses penguapan berlangsung sempurna. Uap yang dihasilkan akan
masuk melalui kondensor sehingga mengalami pendinginan dan akan keluar sebagai destilat.
Destilat yang keluar pada suhu 650C (menunjukkan bahwa titik didih dari senyawa yang
diperoleh berkisar pada 60-650C) akan ditampung dalam labu yang tertutup tidak terjadi
kontaminasi dengan lingkungan. Kemudian destilat kloroform tadi dipindahkan kedalam
corong pisah dan dilakukan pengeringan dengan menambahkan CaCl2 anhidrous selama 10
menit agar air yang ada dalam larutan kloroform terikat. Menurut teori, seharusnya sebelum
penambahan CaCl2anhidrous tidak terjadi perubahan (tidak terbentuk 2 lapisan) dan setelah
ditambahkan CaCl2anhidrous terbentuk 2 lapisan karena air telah diikat oleh CaCl2. Kemudian
filtratnya dipisahkan dengan cara dekantasi dan hasil kloroform ini ditimbang. Namun saat

praktikum, ternyata kami gagal memperoleh kloroformnya (tidak terbentuk 2 lapisan). Banyak
faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan dalam pembuatan kloroform, yakni banyak
perlakuan penting yang tidak kami lakukan. Disini akan kami paparkan satu persatu kesalahan
dan perlakuan yang tidak kami lakukan.
Pertama, seharusnya saat pembentukan asetil klorida (pencampuran kaporit + air
dengan alcohol) labu didinginkan dalam air karena menimbulkan panas. Selanjutnya labu
dipanaskan pada suhu 40-50 0 C selama 10 menit agar asetil klorida yang terbentuk dapat
bereaksi kembali dengan Ca(OH)2 menghasilkan kloroform dan endapan putih (CH3COO)2Ca
menurut reaksi :
O
||
2 CCl3CCH3 + Ca (OH)2 2 CHCl3 + (CH3COO)2Ca
Waktu pemanasan tidak dapat diperpanjang karena nantinya akan mempengaruhi reaksi
yang terjadi, dan endapan (CH3COO)2Ca akan bereaksi kembali. Selanjutnya labu yang berisi
kloroform didinginkan dengan tujuan agar kloroform dan endapannya terpisah membentuk 2
lapisan yaitu lapisan atas kloroform yang berwujud cair dan endapan (CH3COO)2Ca. Diduga
hal ini yang memungkinkan terjadinya ledakan saat praktikum. Kami tidak melakukan hal
pertama ini.
Kedua, alasan mengapa kloroform kami tidak terbentuk diduga karena dua hal.
Pertama, seharusnya saat destilat yang keluar ditampung dalam labu yang tertutup, labu
tersebut dicelupkan ke dalam gelas kimia yang berisi es agar reaksinya berlangsung secara
endoterm. Lalu kedua, saat diperoleh destilat dari labu yang sudah didinginkan, destilat
kloroform tadi dipindahkan kedalam corong pisah untuk dilakukan proses ekstraksi dengan
menambahkan larutan NaOH 10 % terlebih dahulu kedalam destilat kloroform sampai
larutannya bersifat netral. Penambahan NaOH ini bertujuan untuk menetralisir kloroform yang
diperoleh. Pengujian sifat larutan ini dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus kemudian
dikocok kuat-kuat dan menambahkan larutan yang terdapat dalam corong pisah sampai
terbentuk 2 lapisan yaitu atas kloroform dan bagian bawah NaOH. Selanjutnya larutan
kloroform diambil dan dicuci kembali dengan air dengan perbandingan 1 : 1. Proses ini
dilakukan agar larutan kloroform bebas NaOH. Setelah proses ini, barulah lapisan kloroform
yang diperoleh digabungkan dan dilakukan kembali pengeringan dengan menambahkan
CaCl2 anhidrous selama 10 menit agar air yang ada dalam larutan kloroform terikat.
Sebagai tambahan, untuk memperoleh kloroform yang murni, perlu dilakukan proses
destilasi kembali larutan yang diperoleh, dengan memanaskan labu destilasi yang berisi larutan
tersebut pada penangas air. Selama destilasi berlangsung, destilat yang keluar pada suhu 60650C ditampung. Ini menunjukkan bahwa titik didih dari senyawa yang diperoleh berkisar pada
60-650C. Setelah proses destilasi selesai, dilanjutkan dengan memeriksa indeks bias destilat
yang diperoleh dengan menggunakan alat refraktor untuk memastikan nilai kemurnian
kloroform yang dihasilkan tersebut. Untuk indeks bias kloroform murni berdasarkan literatur
yaitu 1,487. Jika diperoleh kloroform yang tidak murni, maka perlu dilakukan proses
pemurnian dengan cara mendestilasi kembali sampai diperoleh kloroform (CHCl3) yang murni.
VI.
1.
2.
3.
4.

Kesimpulan
Reaksi pada pembuatan kloroform adalah reaksi substitusi. Reaksi substitusi adalah suatu
reaksi dimana suatu atom, ion atau gugus disubstitusikan untuk (menggantikan) atom, ion atau
gugus lain.
Pada praktikum ini kloroforom tidak terbentuk/ pembuatan kloroform gagal.
Pembuatan kloroform meliputi langkah-langkah: Reaksi,Destilasi,Pencucian,Pemisahan, dan
Penimbangan.
Bahan-bahan yang digunakan pada pembuatan kloroform adalah kaporit,alkohol,dan air suling.

VII.

Daftar Pustaka
Baysinger,Grace.Et all.2004.CRC Handbook of Chemistry and Physics.85th ed
Carey, Francis A. 2006. Organic Chemistry Sixth Edition. New York: Mcgraw-hill.
Fessenden, Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Riawan, S. 2009. Kimia Organik. Tangerang : Bina Rupa Aksara.

SINTESIS KLOROFORM
I. TUJUAN
1. Membuat kloroform dari bahan dasar aseton dan bubuk kaporit.
II. TEORI

Kloroform merupakan turunan asam formiat dan termasuk senyawa polihalogen yaitu
senyawa turunan karboksilat yang mengikat lebih dari satu atom halogen. Kata kloroform
berasal dari kata halogen dan formiat yang artinya struktur senyawa dapat diturunkan dari
asam formiat dengan menggantinya dengan atom halogen.

Sifat-sifat kloroform (triklorometan), yaitu sebagai berikut:

1. titik didihnya 61oC


2. titik beku -6,4oC

3. titik lelehnya -62oC


4. density 1,45

5. indeks bias 1,4476


6. cairannya tidak mudah terbakar
7. tidak berwarna

8. cairannya berbau khas


9. sangat mudah menguap
10.merupakan asam lemah
11.tidak larut dalam air

12.larut dalam pelarut organik


13.

kloroform murni peka terhadap cahaya

14.

karsinogenik toksik dan berbahaya bagi kesehatan.


Kegunaan kloroform:

1. Pelarut yang baik untuk banyak senyawa organic seperti garam ammonium, sulfanium, dan
phosfanium.

2. Pelarut untuk minyak asetat, lemak, alkaloid, lilin, dammar, dll.

3. Pelarut dalam spektroskopi inframerah


4. Menurunkan suhu beku karbontetraklorida dalam industri karet anastetik.
Bahaya kloroform:

1. Kontak langsung dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata.


2. Bisa menyebabkan pusing, kelelahan, dan kemandulan.
3. Bisa menyebabkan kerusakan hati dan ginjal.
4. Ketidak teraturan kerja hati.

5. Ketika terkena cahaya dan udara, kloroform dapat teroksidaasi dengan lambat membentuk
fosgen yang sangat beracun.

1.

Reaksi-Reaksi Kloroform

Jika terkena udara dan cahay, kloroform mengalami oksidasi secara lambat membentuk
fosgen dengan toksisitas yang tinggi.

2. Kloroform dipanaskan dengan alkali akan terturai menjadi alkali formiat.


3.

Reaksi natrium etilat dengan kloroform membentuuk trioksimetana atau metal ester asam

formiat.
4.

Kloroform dipanaskan dengan amoniak, dihidrolisis dan kalium hidroksida terjadi

siankalium.

Kloroform bersifat karsinogenik, jadi jangan menggunakan kloroform sebagai


pelarut dengan rutin di laboratorium. Tapi karena kloroform penting sebagai pelarut untuk
sample tertentu, sering diganti dengan zat yang lebih aman seperti metilen
klorida.

Peuterokloroformadalah

pelarut

umum

pada

spektroskopi

resonansi

magnet. Kontak kloroform dengan reagen dasar dari larutan harus dihindari karena bias
terurai menjadi diklorokarben (sangat berbahaya karena mengandung gaas klor). Jangan
menggunakan kloroform sebagi pelarut untuk amina. Lindungi dari cahaya dan simpan
ditempat yang sejuk.

Karbondioksida adalah sebuah racun nafas yang keras untuk pemakain dalam
kelebihan, pada kloroform dicampurkan satu persen etanol sehingga penguraian tersebut

diperlambat. Untuk pembuatan iodoform CHI3secara teknik, sebuah larutan soda dan kalium
iodida dielektrolisa dalam etanol atau aseton yang diencerkan. Dalam hal ini pada anoda
terjadi iodium yang dalam larutan basa bereaksi dengan alkohol atau aseton dan kalium
hidroksida dengan membentuk iodoform.

Iodoform dipakai sebagai antiseptikum pada pengobatan luka. Iodoform itu sendiri

tidak atau sedikit sekali mempunyai daya bakterisida, tetapi oleh nanah luka dengan
perlahan-lahan iodoform dikeluarkan yodium yang mempunyai daya antiseptik.
Berat molekul dari kloroform: 119,35 gram/mol
Dimana C = 10,06%
H = 0,84%

Cl = 59,09%
1.

Beberapa cara pembuatan kloroform:

Reaksi kloroform dengan larutan Natrium hipoklorit pada tahap awal 1 gugus metal

distribusi oleh klor dan trikloro aseton yang dihasilkan akan membentuk natrium asetat dan
2.
3.

kloroform.

Dengan bahan dasar etil alcohol dengan natrium hipoklorit atau kapur klor atau kaporit

yang mengakibatkan oksidasi dan korosi pada alcohol.

Reduksi karbon tetraklorida dengan besi dan air biasa dibuat pada industri dalam suasana

asam.
Mekanisme yang digunkan dalam percobaan ini adalah:

III. PROSEDUR PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan
Alat:

abu distilasi : Wadah yang digunakan untuk mendistilasi senyawa

reaksi.

orong pisah

: Untuk memisahkan zat yang terdiri dari 2 lapisan atau lebih.

emanas

: Untuk memanaskan labu distilasi untuk proses distilasi.

Termometer

: Untuk mengukur suhu suatu larutan.

elas piala

: Wadah yang digunakan untuk memasukkan cairan yang memiliki skala lebih besar dari
gelas ukur.

Erlenmayer

: Wadah untuk menampung hasil dari distilat murni.


Bahan:

Etanol

: Bahan yang akan di campur dengan bahan dasar.

Kaporit

: Bahan dasar yang akan digunakan untu membuat kloroform.

NaOH 2%

: Bahan yang digunakan untuk memisahkan air dengan distilat murni.

Aquadest

: Untuk memisahkan air dengan distilat.

3.2. Skema kerja

Buat bubur kaporit. Masukkan kedalam labu didih.

Pasang alat.

Masukkan aseton kedalam corong pisah dan ujung-ujung corong pisah masukkan
kedalam bubuk kaporit.

Lakukan pemanasan. (saat pemanasan akan timbul busa).

Buka keran corong pisah sehingga etanol mengalir.

Corong pisah dibilas dengan air, jika busa yang terbentuk menguap, kompres kepala
dengan kain basah.

Pemanasan dilanjutkan, distilat yang turun berwarna jernih.

Hasil berupa larutan yang agak berat, sehingga aka membentuk 2 lapisan dengan air,
pisahkan dengan corong pisah.

Cuci dengan NaOH 2% dan air. Tambahkan zat penari air, saring.
Hitung Rendemen.

Membuat kloroform dari reaksi redoks dan hidrolisa


1. III.
LANDASAN TEORI
Kloroform adalah kimia relatif non-reaktif yang digunakan
dalam berbagai laboratorium untuk pekerjaan
penelitian,industri seperti pewarna dan pestisida serta
obat-obatan. Kloroform disebut juga haloform disebabkan
karena brom dan klor juga bereaksi dengan metal keton,
yang menghasilkan masing-masing bromoform (CHBr3) dan
kloroform (CHCl3). Hal ini disebut CHX3 atau haloform,
maka reaksi ini sering disebut reaksi haloform.
Kloroform mudah dibuat, metana berklorin dibuat melalui
klorinasi metana. Kloroform (CHCl3), semua tidak larut
dalam air, tetapi merupakan pelarut efektif untuk senyawa
organik.
Dalam pembuatan atau pensintesaan kloroform perlu
diperhatikan beberapa hal yaitu dengan adanya oksigen
dari udara dan sinar matahari maka kloroform dapat
teroksidasi dengan lambat menjadi fosgen (gas yang
sangat beracun), maka untuk mencegah terjadinya fosgen
ini maka kloroform, disimpan dalam botol yang berwarna

coklat yang terisi dan mengandung 0,5 1% etanol (untuk


mengikat bila terjadi fosgen).
Senyawa kloroform adalah senyawa haloalkana yang
mengikat tiga atom halogen klor (Cl) pada rantai C-nya.
Senyawa kloroform dapat dibuat dengan bahan dasar
berupa senyawa organik yang memiliki gugus metil (-CH3)
yang terikat pada atom C karbonil atau atom C hidroksi
yang direaksikan dengan pereaksi halogen (Cl2). Beberapa
senyawa yang dapat membentuk kloroform dan senyawa
haloform lainnya adalah etanol, 2-propanol, 2-butanol,
etanol, propanon, 2-butanon. Halogenasi sering berjalan
secara eksplosif dan hampir tanpa kecuali menghasilkan
campuran produk, karena lasan inilah halogenasi kadang
saja digunakan dalam laboratorium.
Struktur senyawa haloalkana yang terbentuk dari proses
halogenasi terdiri dari ikatan sigma karbon-halogen yang
terbentuk oleh saling menindihnya suatu orbital atom
halogen dan suatu orbital hibrida atom karbon. Sebuah
halogen membentuk satu ikatan kovalen dan karena itu tak
terdapat sudut ikatan di sekitar atom ini. Namun, karbon
menggunakan orbital hibrida yang sama tipenya untuk
mengikat halogen, hidrogen maupun atom karbon lain.
Pembuatan kloroform :
1. Pengfotokloran metana
2. Menurut reaksi haloform :
Zat + halogen + basa (halogen+basa=atau hipoklorit) CHCl3
Syarat untuk zat ini yaitu yang mempunyai atau pada
oksidasi menghasilkan gugus CH3COO (asetil) yang terikat

pada atom H atau C. Reaksi haloform ini berlangsung dalam


tiga tingkat :
1. Oksidasi (bila perlu)
2. Substitusi
3. Penguraian oleh basa
Sifat-sifat CHCl3 :
1. Cairan
2. Baunya khas
Penggunaan CHCl3 :
1. Pelarut untuk lemak, dry cleaning dan sebagainya
2. Obat bius untuk tujuan ini : dibubuhi etanol, disimpan
dalam botol coklat, diisi sampai penuh (2,103-105)
Kloroform yang dapat dari alkohol dengan kapur klor
(bleaching powder) melalui tiga tingkatan reaksi yaitu :

1. Oksidasi oleh halogen


CH3CH2OH + Cl2 CH3CHO
2. Klorinasi dari hasil oksidasi
CH3CHO + Cl2 CCl3CHO + HCl
3. CCl3CHO + Ca(OH)2 CHCl3 + (HCOO)2Ca
Sedangkan pada reaksi dengan aseton lebih kuat, sehingga
dalam proses sintesa digunakan susunan alat yang agak
berbeda. Reaksinya adalah sebagai berikut
1. CH3COCH3 + 3 Cl2 CCl3COCH3 + 3 HCl
2. CCl3COCH3 + Ca(OH)2 CHCl3 + (CH3COO)2Ca
Sintesis kimia kloroform dilakukan oleh eksploitasi dari
proses klorinasi dimana campuran klorin dan metana

dipanaskan bersama-sama. Namun, bahan kimia lain seperti


klorometana dan diklorometana bisa membentuk yang
dapat kemudian dipisahkan dengan distilasi.
1. IV.
Alat :

ALAT DAN BAHAN

1. Alat destilasi lengkap


2. Corong pisah
Bahan :
1. Kaporit
2. Alkohol
3. CaCl2 anhidrat
1. I.
HASIL PRAKTIKUM
Kloroform tidak terbentuk.
1. II.
PEMBAHASAN
Kloroform merupakan senyawa organik berwujud cair
dengan titik didih 61,2 0 C, indeks bias 1,487 dan berbau
menyengat, serta mudah menguap. Dalam Kamus Kimia
(2002: Balai Pustaka) kloroform adalah zat cair tanpa
warna dengan bau manis, menyenangkan dan anestetik.
Dalam kehidupan sehari-hari kloroform berfungsi sebagai
pembius, dan pelarut senyawa organik. Kloroform adalah
nama umum untuk senyawa triklorometana (CHCl3).
Kloroform dikenal karena sering digunakan sebagai bahan
pembius, meskipun kebanyakan digunakan sebagai pelarut
nonpolar di laboratorium atau industri. Wujudnya pada
suhu ruang berupa cairan, namun mudah menguap.

sSintesis koroform dilakukan tanpa ekstraksi, dengan


mereaksikan kaporit dan aseton yang akan menghasilkan
kloroform. Mula mula kaporit dihaluskan menggunakan
lumpang porselen dengan penambahan akuades sedikit demi
sedikit. Hal ini bertujuan untuk memperluas permukaan
kaporit sehingga mudah bereaksi. Setelah halus kaporit
dituangkan ke dalam labu destilasi. Kemudian dimasukkan
aquades ke dalam penampung destilasi. Aquades berfungsi
untuk mengurangi penguapan destilat. Selanjutnya aseton
dituang ke dalam corong pisah dan diencerkan dengan
aquades yang berfungsi sebagai media reaksi. Selanjutnya
aseton diteteskan ke dalam labu destilasi yang berisi
kaporit. Dilanjutkan dengan pemanasan pada suhu 60 C.
Campuran yang menguap mengandung kloroform dan air.
Uap ini mengalir melewati tabung kondensor dan
mengembun. Embun ini mencair dan mengalir ke dalam
penampung destilat. Klorofom yang masih mengandung air
seharusnya dipisahkan dengan penambahan NaOH dalam
corong pisah sehingga terbentuk lapisan dimana klorofom
lapisan bawah karena masa jenisnya lebih kecil. Kloroform
selanjutnya diteteskan kedalam CaCl2 anhidrat untuk
mengikat air pada kloroform dan disaring. Dari hasil
praktikum didapat bahwa tidak terbentuknya kloroform
dalam percobaan ini, atau bisa dikatakan tidak berhasil.
Alasan pertama, pada dasarnya koloroform merupakan
senyawa yang volatile dengan titik didih yang rendah yaitu
60 C oleh karenanya pemanasan harus konstan dan dijaga.
Bila melewati titik didihnya maka klorofom akan habis
menguap dan terlarut ke dalam larutannya. Suhu

pemanasan saat destilasi mencapai lebih dari 900 C. Hal ini


lah yang menyebabkan kloroform tidak terbentuk,
melainkan menguap hingga baunya memenuhi ruangan.
Tetesan-tetesan cairan yang tertampung pada labu
penampung sangatlah sedikit kemudian cairan tersebut di
masukkan dalam corong pisah. Setelah dimasukkan dalam
corong pisah cairan tersebut di tambahkan air untuk
mempermudah pengocokan, pengocokan bertujuan untuk
memisahkan air dengan kloroform yang terbentuk. Akan
tetapi ternyata tidak ditemukannya lapisan terpisah pada
cairan dalam corong pisah, yang berarti kloroform tidaklah
terbentuk melainkan hanyalah ada air dalam corong pisah
tersebut. Sehingga penambahan CaCl2 anhidrat tidak
dilakukan. CaCl2ditambahkan bertujuan untuk mengikat air
yang tersisa dalam kloroform.
Reaksi pembentukan kloroform:
CaOCl2 + H2O Ca(OH)2 + Cl2
1. Reaksi oksidasi oleh halogen
CH3CH2OH + Cl2 CH3CHO
1. Klorinasi dari hasil oksidasi
CH3CHO + CCl3CHO + HCl
1. CCl3CHO + Ca(OH)2 CHCl3 + (HCOO)2Ca

1. III.
KESIMPULAN
1. Koroform tidak terbentuk, sebab suhu pemanasan
saat destilasi melewati suhu titik didih kloroform

sehingga kloroform menguap dan terlarut dalam


pelarut.
2. Pembentukan kloroform melibatkan beberapa proses
reaksi, diantaranya reaksi antara kaporit dan air,
reaksi oksidasi oleh halogen, reaksi klorinasi dari
hasil oksidasi dan sebagainya.
3. Reaksi akhir dalam pembentukan kloroform
CCl3CHO + Ca(OH)2 CHCl3 + (HCOO)2Ca
1. IV.
DAFTAR PUSTAKA
1. Fessenden & Fessenden. 1986. Kimia Organik Edisi
ketiga Jilid 2. Erlangga : Jakarta
2. tipdeck.com/id/how-to-make-chloroform