Anda di halaman 1dari 80

Buku Pegangan untuk PBL

Penyakit Akibat Kerja

Fak. Kedokteran dan Kesehatan Univ. Muhammadyah, Jakarta 2010

KATA SAMBUTAN DEKAN

_________________________________________________________________
1
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

KATA PENGANTAR
Penyakit akibat kerja adalah risiko yang dihadapi oleh pekerja dalam melaksanakan tugas
pekerjaannya sehari-hari. Berbagai risiko yang dihadapi, mengancam timbulnya penyakit akibat
kerja dikalangan para pekerja. Karena itu sesuai peraturan perundangan, pengusaha wajib
melindungi pekerjanya dari berbagai risiko tersebut, sehingga pekerjanya tidak menderita
penyakit akibat kerja. Dan tetap sehat dalam melaksanakan tigasnya, dengan tingkat
produktifitas yang tinggi.
Upaya mendeteksi adanya penyakit akibat kerja di kalangan pekerja, merupakan tugas dari
dokter perusahaan. Tugas ini dilakukan secara menyeluruh, dimulai dari identifikasi faktor risiko
yang mungkin ada dan mengancam kesehatan dan keselamatan pekerja, sampai mendeteksi
secara dini kemungkinan adanya penyakit akibat kerja, serta penegakan diagnosa dan
penanganan kasusnya, agar terhindar dari keparahan dan kecacatan, serta mengembangkan
upaya pencegahan serta melakukan penghitungan kecacatan dalam upaya memberikan
kompensasi kepada pekerja yang terlanjur menderita cacat.
Untuk itu perlu diberikan bekal pengetahuan bagi para calon dokter lulusan Fak. Kedokteran dan
Kesehatan Universitas Muhammadyah agar mampu nantinya setelah lulus, berperan sebagai
dokter perusahaan, dalam upaya melindungi kepentingan kedua belah pihak, baik kepentingan
pekerja maupun kepentingan pengusaha. Dan para calon dokter diharapkan dapat memanfaat
kan waktu yang singkat ini untuk dapat memahami sedalm-dalamnya tentang perannya sebagai
dokter kesehatan kerja. Selain itu, sesuai peraturan perundangan, calon dokter perusahaan
harus melengkapi dirinya dengan sertifikat dokter hiperkes dan sertifikat dokter pemeriksa
kesehatan tenaga kerja.

Penulis.

_________________________________________________________________
2
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

DAFTAR ISI
A.

Low Back Pain (Nyeri punggung bawah) ..

B.

Carpal Tunnel Syndrome (Sindroma Terowongan Karpal)

C.

Dermatitis Kontak Iritan (DKI)

..

22

..

30

D. Demam Uap Logam (Metal Fume Fever) ..

36

E.

Perundangan terkait

..

43

F.

International Statistical Classification Of Diseases and Related Health Problems


(ICD-10) in Occupational Health ..

44

_________________________________________________________________
3
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

LOW BACK PAIN


(NYERI PUNGGUNG BAWAH)

I.

PENDAHULUAN.
Dipastikan setiap orang pasti pernah mengalami nyeri punggung bawah (NPB) sepanjang
hidupnya. Dan diperkirakan lebih dari 80% dari orang dewasa yang mengalami nyeri
punggung bawah akan membutuhkan bantuan medis. Di Amerika Serikat, NPB berada pada
peringkat ke 5 dalam daftar penyebab kunjungan ke dokter yakni sekitar 12 juta kunjungan
per tahun. Prevalensi NPB pada pekerja di negara industri mencapai 70%, demikian pula
halnya dengan prevalensi pada usia sekolah. Angka pasti kejadian NPB di Indonesia tidak
diketahui, namun diperkirakan, angka prevalensi NPB bervariasi antara 7,6% sampai 37%.
Dari data yang dikumpulkan di poliklinik saraf RSUP Dr. Sardjito tahun 2000, pasien yang
datang tiap bulannya adalah berkisar 1500 pasien sampai dengan 2000 pasien, yang
terbanyak adalah pasien nyeri pinggang (Lamsudin, 2001).
Masalah NPB pada pekerja pada umumnya dimulai pada usia dewasa muda dengan puncak
prevalensi pada kelompok usia 45-60 tahun dengan sedikit perbedaan berdasarkan jenis
kelamin. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, NPB terbagi menjadi NPB akut, sub-akut, dan
kronis. NPB akut merupakan bentuk yang paling sering ditemui. Kemper (1997), mengatakan
bahwa 9 dari 10 penderita NPB akut akan sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 812 minggu. Namun, tidak sedikit yang kemudian akan menjadi kronis dan menimbulkan
disabilitas.
Disabilitas terkait dengan NPB merupakan masalah utama di negara Barat. Sekitar 45-55%
populasi pekerja diperkirakan mengalami NPB dalam periode 12 bulan. Lebih lanjut, dalam 6
bulan setelah episode akut, sedikitnya 60% pasien akan mengalami relaps dan 16%
diantaranya akan menjadi penyebab hilangnya jam kerja. (Petersen, 2003). Di Inggris
didapatkan data bahwa sekitar 6% pegawai akan kehilangan paling sedikit 1 hari kerja akibat
NPB dalam 4 minggu.
Data epidemiologi di atas, membuktikan bahwa NPB bukan saja milik pekerja, namun dapat
terjadi pada semua usia dan menimbulkan berbagai kerugian dalam hal pembiayaan maupun
waktu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa prevalensi NPB cukup tinggi pada berbagai
populasi. Populasi pekerja merupakan salah satu populasi yang memiliki prevalensi tinggi
kejadian NPB, dan disertai dengan penurunan produktivitas dan hilangnya jam kerja. Dengan
demikian, faktor pekerjaan merupakan faktor risiko untuk terjadinya NPB. Maka, pencegahan,
diagnosis, dan penanganan NPB pada pekerja arus dilakukan secara holistik dan
komprehensif.

_________________________________________________________________
4
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

II.

LOW BACK PAIN (NYERI PUNGGUNG BAWAH)


A. DEFINISI.
Nyeri punggung bawah atau Low Back Pain didefinisikan sebagai nyeri dan
ketidaknyamanan, yang terlokalisasi di bawah sudut iga terakhir (costal margin) dan di
atas lipat bokong bawah (gluteal inferior fold), dengan atau tanpa nyeri pada tungkai.
Berdasarkan lama perjalanan penyakitnya, nyeri punggung bawah diklasifikasikan
menjadi 3 yaitu, akut, sub akut, dan kronis. Nyeri punggung bawah akut didefinisikan
sebagai timbulnya episode nyeri punggung bawah yang menetap dengan durasi kurang
dari 6 minggu. Untuk durasi antara 6-12 minggu didefinisikan sebagai nyeri punggung
bawah sub akut, sedangkan untuk durasi lebih panjang dari 12 minggu adalah nyeri
punggung bawah kronis.

B. ANATOMI & FISIOLOGI TULANG BELAKANG


Sendi torakolumbal adalah sendi yang dibentuk oleh vertebra Th 12 dan L1. Secara
umum keduanya berfungsi statis, kinetis, keseimbangan dan perlindungan. Pada fungsi
statis tulang belakang mempertahankan posisi tegak melawan gravitasi dengan energi
sekecil mungkin sehingga membentuk sikap tubuh tertentu. Fungsi kinetis merupakan
rangkaian alat gerak yang memungkinkan terjadinya gerakan. Fungsi keseimbangan
turut aktif mempertahankan titik berat tubuh pada posisi tetap pada tulang Sacrum 2
saat berdiri. Fungsi proteksi ialah melindungi organ dan jaringan penting seperti
sumsum tulang belakang, akar saraf, pembuluh darah.
Pada tulang belakang terdapat segmen gerak yang terdiri dari diskus intervertebralis,
korpora, sendi faset, ligamenta, foramen intervertebralis beserta isinya, kanalis
vertebralis dan otot paravertebralis. Di antara kedua korpus tulang belakang terdapat
jaringan fibrocartilago yang merupakan bantalan sendi, berfungsi sebagai peredam kejut.
Penambahan beban akan menyebabkan kompresi terhadap nukleus pulposus; gerakan
fleksi, ekstensi dan rotasi secara berlebihan juga dapat mengganggu nukleus. Selain
bantalan sendi juga terdapat ligamen sebagai stabilisator pasif yaitu ligamen longitudinal
posterior, ligamen longitudinal anterior, ligamen flavum, ligamen transversalis dan
ligamen interspinalis. Gerakan tulang belakang persegmen tidak pernah terjadi secara
aktif; gerak pasif dalam posisi tertentu, fiksasi tertentu dan komponen gerak tertentu
dapat diperoleh dengan dominasi segmen tertentu. Teknik ini yang digunakan untuk
mobilisasi hipomobilitas segmental dan joint block. Stabilisator aktif tulang belakang
terdiri dari beberapa otot, yaitu otot trunkus posterior, lateral, anterior.
Tulang belakang adalah penumpu berat tubuh dan terdiri dari 33 ruas rulang. Letak
tumpuan terutama berada pada tulang vertebra lumbalis. Tiap ruas tulang belakang
berikut diskus intervertebralis sepanjang kolumna vertebralis merupakan satuan
_________________________________________________________________
5
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

anatomik dan fisiologik. Bagian depan berupa korpus vertebralis dan diskus
intervertebralis yang berfungsi sebagai penumpu yang kuat dan tahan terhadap tekanantekanan menurut porosnya. Berfungsi sebagai penahan tekanan adalah nukleus
pulposus.
Dalam keseluruhan tulang belakang terdapat kanalis vertebralis yang didalamnya
terdapat medula spinalis yang membujur ke bawah sampai L 2. Melalui foramen
intervertebralis setiap segmen medula spinalis menjulurkan radiks dorsalis dan
ventralisnya ke periferi. Di tingkat servikal dan torakal, berkas serabut tepi itu menuju ke
foramen tersebut secara horizontal. Namun di daerah lumbal dan sakrum berjalan secara
curam ke bawah dahulu sebelum tiba di tingkat foramen intervertebralis yang
bersangkutan. Hal tersebut dikarenakan medula spinalis membujur hanya sampai L 2
saja.
Otot-otot yang terdapat di sekeliling tulang belakang mempunyai origo dan insersio pada
prosesus transversus atau prosesus spinosus. Stabilitas kolumna vertebrale dijamin oleh
ligamenta secara pasif dan secara aktif oleh otot-otot tersebut. Ujung-ujung serabut
penghantar impuls nyeri terdapat di ligamenta, otot-otot, periostium, lapisan luar anulus
fibrosus dan sinovia artikulus posterior.
Gambar 1. Tulang belakang

Figure1:TulangBelakang

_________________________________________________________________
6
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

C. PATOFISIOLOGI
Penyebab NPB secara umum seringkali terkait dengan trauma mekanik akut, namun
dapat juga sebagai akumulasi dari beberapa trauma dalam kurun waktu tertentu.
Akumulasi trauma dalam jangka panjang seringkali ditemukan pada tempat kerja.
Kebanyakan kasus NPB terjadi dengan adanya pemicu seperti kerja berlebihan,
penggunaan kekuatan otot berlebihan, ketegangan otot, cedera otot, ligamen, maupun
diskus yang menyokong tulang belakang. Namun, keadaan ini dapat juga disebabkan
oleh keadaan non-mekanik seperti peradangan pada ankilosing spondilitis dan infeksi,
neoplasma, dan osteoporosis.
Patofisiologi dari NPB sangatlah kompleks. Beragam struktur anatomi dan elemen dari
tulang lumbal (tulang, ligamen, tendon, otot, dan diskus) diyakini sangat berperan dalam
timbulnya gangguan. Sebagian besar dari elemen lumbal memiliki inervasi sensorik
sehingga dapat memicu sinyal nosiseptif yang timbul sebagai respons terhadap stimulus
kerusakan jaringan. Sebab lainnya adalah gangguan pada saraf, contohnya adalah
skiatika. Pada kasus NPB kronis, seringkali dijumpai penyebabnya adalah campuran
antara nosiseptif dan neurologis.
Secara biomekanik, pergerakan lumbal terdiri dari gerakan kumulatif tulang-tulang
belakang, dengan 80-90% dari ekstensi / fleksi lumbal terjadi di diskus intervertebralis
pada L4-L5 dan L5-S1. Di daerah punggung bawah, daerah yang peka nyeri adalah
periosteum, 1/3 bangunan luar annulus fibrosus, ligamentum, kapsula artikularis, fasia
dan otot, yang semuanya mengandung nosiseptor yang peka terhadap berbagai stimulus
(mekanikal, termal, kimiawi). Reseptor ini berfungsi sebagai proteksi. Bila reseptor
diberi stimulasi lokal, akan mengeluarkan mediator inflamasi dan substansia lain,
sehingga menimbulkan persepsi nyeri, hiperalgesia maupun alodinia, yang bertujuan
untuk proteksi pergerakan sehingga memungkinkan berlangsungnya proses
penyembuhan. Selain itu spasme otot juga merupakan mekanisme proteksi kerusakan
lebih lanjut dengan membatasi pergerakan. Pada spasme otot terjadi iskemia sehingga
menyebabkan timbulnya titik picu (trigger point) yang akan menyebabkan kondisi nyeri.
Pembungkus saraf juga mengandung nosiseptor yang dapat menyebabkan nyeri
nosiseptif inflamasi yang dalam dan sulit dilokalisir. Berbagai stimuli mekanikal, termal
dan kimiawi akan mengaktivasi nosiseptor dan menyebabkan hiperalgesia.
Terdapat 3 jenis nyeri yang terkait dengan NPB yaitu nyeri fisiologis dan inflamasi yang
disebut juga sebagai nyeri nosiseptif, serta nyeri neuropatik yang disebabkan oleh
stimulus yang langsung mengenai saraf.

_________________________________________________________________
7
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

D. FAKTOR RISIKO
1. Usia.
Nyeri pinggang merupakan keluhan yang berkaitan erat dengan umur. Secara teori,
nyeri pinggang atau nyeri punggung bawah dapat dialami oleh siapa saja, pada
umur berapa saja. Namun demikian keluhan ini jarang dijumpai pada kelompok
umur 0-10 tahun, hal ini mungkin berhubungan dengan beberapa faktor etiologik
tertentu yag lebih sering dijumpai pada umur yang lebih tua. Biasanya nyeri ini mulai
dirasakan pada mereka yang berumur dekade kedua dan insiden tertinggi dijumpai
pada dekade kelima.1 Bahkan keluhan nyeri pinggang ini semakin lama semakin
meningkat hingga umur sekitar 55 tahun.

2. Jenis Kelamin
Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap keluhan nyeri
pinggang sampai umur 60 tahun, namun pada kenyataannya jenis kelamin
seseorang dapat mempengaruhi timbulnya keluhan nyeri pinggang, karena pada
wanita keluhan ini lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami siklus
menstruasi, selain itu proses menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang
berkurang akibat penurunan hormon estrogen sehingga memungkinkan terjadinya
nyeri pinggang

3. Antropometri
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko timbulnya nyeri
pinggang lebih besar, karena beban pada sendi penumpu berat badan akan
meningkat, sehingga dapat memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
Tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh sebagai lengan beban
anterior maupun lengan posterior untuk mengangkat beban tubuh.

4. Pekerjaan
Faktor risiko di tempat kerja yang banyak menyebabkan gangguan otot rangka
terutama adalah kerja fisik berat, penanganan dan cara pengangkatan barang,
gerakan berulang, posisi atau sikap tubuh selama bekerja, getaran, dan kerja statis,
sehingga riwayat pekerjaan sangat diperlukan dalam penelusuran penyebab serta
penanggulangan keluhan ini.

_________________________________________________________________
8
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

5. Aktivitas / olahraga
Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab nyeri pinggang yang sering tidak
disadari oleh penderitanya. Terutama sikap tubuh yang menjadi kebiasaan.
Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat beban pada posisi
yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang, misalnya, pada pekerja kantoran
yang terbiasa duduk dengan posisi punggung yang tidak tertopang pada kursi, atau
seorang mahasiswa yang seringkali membungkukkan punggungnya pada waktu
menulis. Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri dengan membungkuk atau menekuk
ke muka. Posisi tidur yang salah seperti tidur pada kasur yang tidak menopang
tulang belakang. Kasur yang diletakkan di atas lantai lebih baik daripada tempat
tidur yang bagian tengahnya lentur. Posisi mengangkat beban dari posisi berdiri
langsung membungkuk mengambil beban merupakan posisi yang salah, seharusnya
beban tersebut diangkat setelah jongkok terlebih dahulu.
Selain sikap tubuh yang salah yang seringkali menjadi kebiasaan, beberapa aktivitas
berat seperti melakukan aktivitas dengan posisi berdiri lebih dari 1 jam dalam sehari,
melakukan aktivitas dengan posisi duduk yang monoton lebih dari 2 jam dalam
sehari, naik turun anak tangga lebih dari 10 anak tangga dalam sehari, berjalan
lebih dari 3,2 km dalam sehari dapat pula meningkatkan resiko timbulnya nyeri
pinggang.

6. Kebiasaan merokok.
Kebiasaan merokok diketahui menimbulkan berbagai dampak pada kesehatan.
Hubungannya dengan kejadian NPB, diduga karena perokok memiliki kecenderungan
untuk mengalami gangguan pada peredaran darahnya, termasuk ke tulang
belakang.

7. Abnormalitas struktur.
Ketidaknormalan struktur tulang belakang seperti pada skoliosis, lorodosis, maupun
kifosis, merupakan faktor risiko untuk terjadinya NPB. Kondisi menjadikan beban
yang ditumpu oleh tulang belakang jatuh tidak pada tempatnya, sehingga
memudahkan timbulnya berbagai gangguan pada struktur tulang belakang.

8. Riwayat episode NPB sebelumnya.


Individu dengan riwayat episode NPB sebelumnya, memiliki kecenderungan dan
risiko untuk berulangnya kembali gangguan tersebut.
_________________________________________________________________
9
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

E.

DIAGNOSIS
1. Anamnesis.
Anamnesis yang cermat dan terperinci tentang saat timbulnya nyeri, sifat nyeri,
lokalisasi serta penjalarannya sangat diperlukan dalam menetapkan diagnosis. Perlu
ditanyakan juga tentang peristiwa sebelumnya yang mungkin menjadi pencetus
keluhan, seperti adanya trauma, sikap tubuh yang salah, misalnya waktu
mengangkat beban, kegiatan fisik atau olahraga yang tidak biasa, dan penyakit yang
dapat berhubungan dengan keluhan nyeri pinggang tersebut, maupun peristiwa atau
hal-hal yang meringankan rasa nyeri.
Sifat nyeri yang tajam, menusuk dan berdenyut, seringkali bersumber dari sendi,
tulang dan ligamen. Sedangkan rasa pegal, biasanya berasal dari otot.
Nyeri yang disertai dengan penjalaran ke arah tungkai menunjukkan adanya
keterlibatan radiks saraf. Sedangkan nyeri yang berpindah-pindah dan tidak wajar,
sangat mungkin merupakan nyeri psikogenik. Harus pula diperhatikan adanya
gangguan miksi dan defekasi untuk mengetahui gangguan pada radiks saraf. Hal
lain yang perlu diketahui adalah adanya demam selama beberapa waktu terakhir
untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi, misalnya spondilitis.
Riwayat
penyakit terdahulu dan riwayat pekerjaan harus diketahui untuk
mempertajam penegakan diagnosis.

2. Pemeriksaan Fisik Umum.


Pemeriksaan fisik dimulai dengan inspeksi dan bila pasien tetap berdiri dan menolak
untuk duduk, maka sudah harus dicurigai adanya suatu herniasi diskus.
Gerakan aktif pasien harus dinilai, diperhatikan gerakan mana yang membuat nyeri
dan juga bentuk kolumna vertebralis, berkurangnya lordosis serta adanya skoliosis.
Berkurang sampai hilangnya lordosis lumbal dapat disebabkan oleh spasme otot
paravertebral.
Gerakan-gerakan yang perlu diperhatikan pada
keterbatasan gerak pada salah satu sisi atau arah.

penderita

adalah

adanya

Posisi berdiri.
Perhatikan cara penderita berjalan, berdiri dan sikap berdirinya. Perhatikan
bagian belakang tubuh, apakah ada deformitas, kelainan anatomik tulang
belakang, pelvis yang miring / tulang panggul yang tidak simetris, dan
adanya atrofi otot. Derajat gerakan (Range of Motion ROM) harus

_________________________________________________________________
10
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

diperhatikan dan diperiksa. Palpasi dilakukan untuk mencari trigger zone,


lokasi nyeri, dan lainnya.

Posisi duduk.
Harus diperhatikan cara penderita duduk dan sikap duduknya, serta harus
diamati bagian belakang tubuhnya.

Posisi berbaring.
Perhatikan cara penderita berbaring dan sikap berbaringnya. Dilakukan
pengukuran panjang ekstremitas inferior. Pemeriksaan abdomen, rektal, dan
urogenital dilakukan untuk mencari kemungkinan penyebab lain dari nyeri.

Ekstensi ke belakang (back extension) seringkali menyebabkan nyeri pada


tungkai bila ada stenosis foramen intervertebralis di lumbal dan artritis
lumbal, karena gerakan ini akan menyebabkan penyempitan foramen
sehingga menyebabkan suatu kompresi pada saraf spinal.

Fleksi ke depan (forward flexion) secara khas akan menyebabkan nyeri


tungkai bila ada HNP, karena adanya ketegangan pada saraf
terinflamasi diatas suatu diskus protusio sehingga meninggikan tekanan
saraf spinal tersebut dengan jalan meningkatkan tekanan pada fragmen
tertekan di sebelahnya (jackhammer effect).

Lokasi dari HNP biasanya dapat ditentukan bila pasien disuruh membungkuk
ke depan ke lateral kanan dan kiri. Fleksi ke depan, ke suatu sisi atau ke
lateral yang meyebabkan nyeri pada tungkai yang ipsilateral menandakan
adanya HNP pada sisi yang sama.

Nyeri LBP pada ekstensi ke belakang pada seorang dewasa muda


menunjukkan kemungkinan adanya suatu spondilolisis atau spondilolistesis,
namun ini tidak patognomonik.

Pemeriksaan tonus dan kekuatan otot

pada
yang
pada
yang

3. Pemeriksaan Fisik Khusus / Neurologis.


Pemeriksaan neurologis ini dilakukan untuk mengetahui adakah kelainan neurologis
yang berperan dalam kejadian NPB ini.

Tanda rangsangan saraf Tes Laseque (Straight Leg Raise) Walking on the toes - Walking on the heals Squatting.

Tanda Laseque atau modifikasinya yang positif menunjukkan adanya


ketegangan pada saraf spinal khususnya L5 atau S1.
_________________________________________________________________
11
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Secara klinis tanda Laseque dilakukan dengan fleksi pada lutut terlebih
dahulu, lalu di panggul sampai 900 lalu dengan perlahan-lahan dan graduil
dilakukan ekstensi lutut dan gerakan ini akan menghasilkan nyeri pada
tungkai pasien terutama di betis (tes yang positif) dan nyeri akan berkurang
bila lutut dalam keadaan fleksi. Terdapat modifikasi tes ini dengan
mengangkat tungkai dengan lutut dalam keadaan ekstensi (stright leg
rising). Modifikasi-modifikasi tanda laseque yang lain semua dianggap positif
bila menyebabkan suatu nyeri radikuler. Cara laseque yang menimbulkan
nyeri pada tungkai kontra lateral merupakan tanda kemungkinan herniasi
diskus.

Figure2 :LasequeTest(StraightLegtest)

Tanda laseque, makin kecil sudut yang dibuat untuk menimbulkan nyeri
makin besar kemungkinan kompresi radiks sebagai penyebabnya. Demikian
juga dengan tanda laseque kontralateral.
_________________________________________________________________
12
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Tanda Laseque adalah tanda pre-operatif yang terbaik untuk suatu HNP,
yang terlihat pada lebih dari 80% dari 2157 pasien yang secara operatif
terbukti menderita HNP dan pada hernia yang besar dan lengkap tanda ini
malahan positif pada 96,8% pasien.
Adanya tanda Laseque lebih menandakan adanya lesi pada L4-5 atau L5-S1
daripada herniasi lain yang lebih tinggi (L1-4), dimana tes ini hanya positif
pada 73,3% penderita.
Harus diketahui bahwa tanda Laseque berhubungan dengan usia dan tidak
begitu sering dijumpai pada penderita yang tua dibandingkan dengan yang
muda (<30 tahun).
Tanda Laseque kontralateral (contralateral Laseque sign) dilakukan dengan
cara yang sama, namun bila tungkai yang tidak nyeri diangkat akan
menimbulkan suatu respons yang positif pada tungkai kontralateral yang
sakit dan menunjukkan adanya suatu HNP.
Tanda Laseque terbalik (femoral nerve stretch test / reverse Laseque sign)
dapat menimbukan nyeri akibat ketegangan saraf yang mengalami iritasi
ataupun kompresi, terutama pada lumbal bagian tengah dan atas. Bila tes ini
positif, maka dicurigai adanya ketegangan pada radiks L2, L3 atau L4 dan tes
ini dilakukan pada pasien yang terlungkup dengan jalan meng-ekstensikan
paha dimana lutut dalam keadaan fleksi dan bisa juga dilakukan dengan
pasien tidur pada sisi yang sehat dan meluruskan paha yang terkena dengan
lutut dalam keadaan fleksi dan suatu tes yang positif akan menghasilkan
nyeri pada paha medial atau anterior.
Karena tanda Laseque tidak patognomonis untuk suatu HNP, maka bila tidak
dijumpai pada seseorang yang umurnya kurang dari 30 tahun dengan sangat
mungkin akan menyingkirkan diagnosis HNP.

Pemeriksaan motorik & sensorik.


Pemeriksaan motorik harus dilakukan dengan seksama dan harus
dibandingkan kedua sisi untuk menemukan abnormalitas motoris yang
seringan mungkin dengan memperhatikan miotom yang mempersarafinya.
Pemeriksaan sensorik akan sangat subjektif karena membutuhkan perhatian
dari penderita dan tak jarang keliru, tapi tetap penting arti diagnostiknya
dalam membantu menentukan lokalisasi lesi HNP sesuai dermatom yang
terkena. Gangguan sensorik lebih bermakna dalam menunjukkan informasi
lokalisasi dibanding motoris.

_________________________________________________________________
13
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Pemeriksaan refleks.
Refleks yang menurun atau menghilang secara simetris tidak begitu berguna
pada diagnosis LBP dan juga tidak dapat dipakai untuk melokalisasi level
kelainan, kecuali pada sindroma kauda ekuina atau adanya neuropati yang
bersamaan.
Refleks patella terutama menunjukkan adanya gangguan dari radiks L4 dan
kurang dari L2 dan L3. Refleks tumit predominan dari S1.
Harus dicari pula refleks patologis seperti babinski, terutama bila ada
hiperefleksia yang menunjukkan adanya suatu gangguan upper motor
neuron (UMN).
Dari pemeriksaan refleks ini dapat membedakan akan kelainan yang berupa
UMN atau LMN.

4. Intepretasi hasil pemeriksaan.


Secara umum, berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik serta neurologis
awal, dapat kita tegakkan diagnosis NPB yang terbagi menjadi 3 tipe, yaitu :

Simple Back Pain (NPB sederhana) dengan karakteristik :


o

Adanya nyeri pada daerah lumbal atau lumbosakral tanpa penjalaran


atau keterlibatan neurologis:

Nyeri mekanik, derajat nyeri bervariasi setiap waktu, dan tergantung


dari aktivitas fisik.

Kondisi kesehatan pasien secara umum adalah baik

NPB dengan keterlibatan neurologis, dibuktikan dengan adanya 1 atau lebih


tanda atau gejala yang mengindikasikan adanya keterlibatan neurologis.
o

Gejala : nyeri yang menjalar ke lutut, tungkai, kaki, ataupun adanya


rasa baal di daerah nyeri.

Tanda : adanya tanda iritasi radikular, gangguan motorik maupun


sensorik atau refleks

NPB dengan kecurigaan mengenai adanya cedera atau kondisi patologis yang
berat pada spinal (Red flag). Karakteristik umum :
o

Trauma fisik berat seperti jatuh dari ketinggian ataupun kecelakaan


kendaraan bermotor.

_________________________________________________________________
14
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Nyeri non-mekanik yang konstan dan progresif.

Ditemukan nyeri abdominal dan atau torakal.

Nyeri hebat pada malam hari yang tidak membaik dengan posisi
telentang.

Riwayat atau ada kecurigaan kanker, HIV, atau keadaan patologis


lainnya yang dapat menyebabkan kanker.

Penggunaan kortikosteroid jangka panjang.

Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya, menggigil,


dan atau demam.

Fleksi lumbal sangat terbatas dan persisten.

Saddle anesthesia, dan atau adanya inkotinensia urin.

Risiko untuk terjadinya kondisi yang lebih berat adalah awitan NPB
pada usia kurangdari 20 tahun atau lebih dari 55 tahun.

Adanya karakteristik red flag tersebut, merupakan suatu tanda bahwa harus
dilakukan investigasi segera dan lebih dalam, terhadap kemungkinan kelainan
patologis yang muncul. Hal ini juga berarti kita dapat melakukan rujukan ke pihak
yang lebih ahli dan kompeten.

5. Pemeriksaan Penunjang.
Pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis kasus NPB biasanya tidak
spesifik. Pemeriksaan sinar X, MRI atau CT-Scan dapat dilakukan sesuai dengan
indikasi. Namun, seperti telah dikatakan terdahulu, pemeriksaan ini tidak
menunjukkan adanya korelasi dengan gejala LBP pada pasien, kecuali pada kondisi
tertentu seperti gangguan pada diskus, kelainan pada tulang belakang, maupun
adanya keganasan.

F.

TINDAK LANJUT DAN PERAWATAN MEDIS.


Tujuan utama dari penatalaksanaan kasus NPB adalah untuk menghilangkan nyeri,
mempertahankan dan meningkatkan mobilitas, menghambat progresifitas penyakit, dan
mengurangi kecacatan. Penatalaksanaan untuk NPB dapat merupakan terapi
medikamentosa, dan juga dapat berupa terapi non medikamentosa.
Berbagai jenis penatalaksanaan untuk NPB telah ditelaah dalam berbagai penelitian.
Rangkuman dari hasil telaah tersebut menurut New Zealand Guidelines Group, terbagi
menjadi 4 yaitu:

Penatalaksanaan yang terbukti benar - memberikan perbaikan klinis.

_________________________________________________________________
15
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

o Nasihat untuk tetap aktif dalam bekerja dan beraktivitas, kecuali dalam hal
aktivitas fisik berat seperti mengangkat benda berat dan lainnya.
o Pemberian analgetik seperti Paracetamol dan NSAID.
o Dilakukan manipulasi hanya dalam episode 4-6 minggu pertama.
o Diperlukan multidisiplin ilmu untuk penatalaksanaan NPB.

Penatalaksanaan yang terbukti benar - tidak memberikan perbaikan klinis


o TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation)
o Traksi
o Specific Back exercise
o Akupuntur
o Pembedahan (kecuali bila ada indikasi dekompresi discus, atau gangguan
lainnya pada struktur tulang belakang)
o Massage (pemijatan)

Penatalaksanaan yang terbukti benar - menimbulkan perburukan (harmful) terutama


karena efek samping yang ditimbulkan.
o Penggunaan obat golongan narkotik atau diazepam
o Tirah baring lebih dari 2 hari, dengan atau tanpa traksi
o Manipulasi tulang belakang dengan anestesi umum
o Plaster Jacket

Penatalaksanaan yang belum benar terbukti memberikan hasil karena kurangnya


evidence.
o

Exercise untuk otot punggung

Aerobic conditioning

Injeksi steroid secara epidural

Korset

Agen fisik dan modalitas lainnya seperti es, panas, diatermi gelombang
pendek, dan ultrasound

Pendapat yang sedikit berbeda diungkapkan oleh Chou et al.(2007), yang menjelaskan
melalui sistematic review adanya evidence yang baik dalam pemberian NSAID maupun
_________________________________________________________________
16
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

muscle relaxant pada kasus NPB akut. Demikian juga halnya dengan Ehrlich (2003)
dalam Bulletin of WHO, dikatakan bahwa pemberian NSAID merupakan penatalaksanaan
awal, dan dapat diteruskan dengan golongan opioid lemah bila nyeri tidak membaik, dan
tahap selanjutnya adalah dapat diberikan opioid yang lebih kuat bila dibutuhkan, sebagai
terapi tambahan.

G. PENCEGAHAN
Telah dibahas sebelumnya bahwa kejadian NPB pada pekerja sangat terkait dengan
pekerjaan yang dilakukannya. Risiko di tempat kerja meliputi kerja fisik berat,
penanganan dan cara pengangkatan barang, gerakan berulang, posisi atau sikap tubuh
selama bekerja, getaran, dan kerja statis. Maka, tindakan pencegahan yang dilakukan
juga harus berdasarkan pada faktor-faktor tersebut, yakni :

Pencegahan primer yang dilakukan adalah untuk mencegah timbulnya kejadian


LBP di tempat kerja.

Pencegahan sekunder untuk mengurangi tingkat keparahan NPB dengan deteksi


dini.

Pencegahan tersier dilakukan untuk meminimalisir konsekuensi atau disabilitas


yang mungkin timbul dalam perjalanan penyakitnya.

Tindakan pencegahan tersebut dilakukan dengan strategi pencegahan sebagai berikut :


o

Edukasi dan pelatihan.


Pekerja perlu mendapatkan edukasi tentang cara bekerja yang baik, dalam hal ini
yang terkait dengan gangguan NPB. Edukasi dapat meliputi teknik mengangkat
beban, posisi tubuh saat bekerja, peregangan, dan sebagainya. Lebih lanjut juga
diberikan exercise untuk meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, dan ketahanan dari
punggung bawah.

Ergonomi dan modifikasi faktor risiko.


Bila memang ada faktor risiko pekerjaan terhadap timbulnya NPB di tempat kerja,
maka perlu dilakukan upaya kontrol. Upaya ini dapat meliputi pengadaan mesin
pengangkat, ban berjalan, dan sebagainya. Adanya regulasi khusus dari perusahaan
mengenai pembatasan jumlah beban yang dapat diangkat oleh pekerja adalah
langkah yang baik. Demikian juga halnya dengan pembatasan waktu bekerja. Faktor
risiko individu, bila ada, juga harus dikendalikan. Misalkan kebiasan merokok.
Walaupun belum didapatkan bukti yang kuat bahwa modifikasi faktor risiko dapat

_________________________________________________________________
17
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

mencegah kejadian NPB, namun setidaknya dapat meningkatkan kesehatan pekerja


secara umum.

Pemilihan pekerja.
Pemilihan pekerja dilakukan dengan skrining pra-kerja. Riwayat kesehatan dan hasil
pemeriksaan fisik harus diperhatikan dengan seksama. Adanya riwayat episode NPB
sebelumnya merupakan salah satu indikator adanya kemungkinan akan berulangnya
kembali gangguan tersebut bila calon pekerja itu berhadapan dengan faktor risiko
yang ada di tempat kerja.Penggunaan rontgen dan tes kekuatan sebagai salah satu
alat skrining tidak dianjurkan karena ketidakefektifannya dalam mendeteksi adanya
NPB.

Tujuan akhir dari program pencegahan ini meliputi :

III.

Penurunan insiden dan prevalensi NPB

Penurunan angka disabilitas dan perbaikan fungsi.

Menjaga pekerja tetap dapat bekerja

Meningkatkan produktivitas.

Mengurangi dampak sosioe-konomi dan pekerjaan dari NPB

EXERCISE
Seperti telah diungkapkan terdahulu, bahwa salah satu pilar penanganan NPB adalah
dengan exercise atau latihan untuk otot perut dan punggung. Bila otot abdomen dan otot
punggung kita kuat, itu akan membantu kita untuk menjaga postur tubuh yang baik dan
menjaga agar tulang belakang senantiasa berada pada lokasi yang tepat.
Langkah pertama sebelum melakukan latihan adalah pemanasan dengan aktivitas aerobik
ringan seperti berjalan santai. Beberapa latihan yang akan diuraikan berikutnya, hanyalah
suatu saran atau arahan, dan harus disesuaikan dengan berbagai kondisi individual.
(Sumber : University of Michigan Health System, 2007)

Peregangan otot paha


Berbaring telentang dengan handuk yang digulung sebagai pengganjal pada
pinggang. Tungkai kiri terbujur dengan lutut yang lurus, tidak terangkat. Tekuk
panggul kanan, sehingga lutut mengarah ke atas. Tahan paha kanan dengan tautan
kedua tangan. Siku kedua tangan dijaga agar tetap lurus saat menahan lutut kanan.

Goal : Ada rasa tertarik pada bagian belakang paha. Tahan selama 30 detik dan
diulang 2 kali untuk masing-masing sisi.
_________________________________________________________________
18
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Figure3 :Pereganganototpaha

Cat Stretch & Camel Stretch.


Cat Stretch : berada dalam posisi awal seperti gambar atas. Biarkan kepala seakan
terjatuh dan di saat yang sama tekan panggul ke bawah dan naikkan bagian tengah
punggung setinggi mungkin (seperti arah panah pada gambar atas). Tahan posisi
tersebut untuk 5 detik dan ulangi hingga 10 kali.

Figure4 :CatStretch&CamelStretch

Camel Stretch : berada dalam posisi seperti gambar bawah. Naikkan kepala dan di
saat yang sama naikkan panggul dan jatuhkan perut atau bagian tengah punggung
(seperti arah panah pada gambar bawah). Tahan posisi tersebut untuk 5 detik dan
ulangi hingga 10 kali.

Pelvic Tilt.
Baringkan punggung dengan kedua lutut tertekuk seperti pada gambar dan kedua
telapak kaki rata menyentuh lantai. Kencangkan otot perut dan dorong punggung
bawah ke lantai seperti tanda panah pada gambar kanan. Tahan posisi ini selama 5
detik, dan kemudian istirahat. Lakukan 10 kali, sebanyak 2 set.

_________________________________________________________________
19
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010
Figure5 :PelvicTilt

Partial Curl.
Baringkan punggung dengan kedua lutut tertekuk seperti pada gambar dan kedua
telapak kaki rata menyentuh lantai. Kencangkan otot perut dan ratakan punggung
anda menjejak lantai. Gerakkan dagu mendekati dan menempel pada dada. Dengan
kedua lengan teregang di hadapan anda, bungkukkan punggung atas hingga bahu
berada di atas lantai. Tahan posisi ini selama 3 detik. Relaks. Ulangi 10 kali dan
lakukan sebanyak 3 set.

Figure6 :PartialCurl

Ekstensi panggul.
Berbaring seperti pada gambar. Kencangkan otot bokong dan kemudian angkat satu
tungkai setinggi 4-8 inchi dari lantai (lihat panah pada gambar). Jaga posisi lutut
tetap lurus. Tahan selama 5 detik, kemudian turunkan perlahan-lahan dan relaks.
Ulangi dengan tungkai yang lain. Lakukan masing-masing 10 kali sebanyak 3 set.

Figure7 :Ekstensipanggul

IV.

KESIMPULAN

Penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis, pengamatan di tempat kerja,


pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis, BRIEF Survey, dan Body Discomfort Map.

Melalui 7 langkah diagnosis okupasi, pada pasien ini dapat ditegakkan diagnosis nyeri
pinggang bawah sederhana karena posisi kerja janggal

Pencegahan terjadinya NPB merupakan langkah terbaik yang harus ditempuh,


mengingat dampak kesehatan, sosioekonomi dan waktu kerja yang dapat
ditimbulkannya

Edukasi diperlukan untuk memperbaiki cara dan sikap kerja dari pekerja dalam upaya
mengurangi risiko penyakit.
_________________________________________________________________
20
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

V.

KEPUSTAKAAN
1.

Burton AK, Eriksen HR, Leclerc A, Balaque F, Henrotin Y, Muller G, et al. European
Guidelines For Prevention In Low Back Pain. 2004.

2.

Rossignol M, Arsenault B, Dionne C, Poitras S, Tousignant M, Truchon M, et al. CLIP


Practice Guideline : Clinic on Low-Back Pain in Interdisciplinary Practice guidelines.
Montreal Public Health Department. 2007.

3.

New Zealand Guidelines Group. New Zealand Acute Low Back Pain Guide. 2004.

4.

Buckup K. Clinical Tests for the Musculoskeletal System. Thieme, 2004.

5.

Erlich GE. Low Back Pain. Bulletin of the World Health Organization 2003; 81: 671-6.

6.

Chou R, Huffman LH. Medication for acute and chronic low back pain : A review of the
evidence for American Pain Society / American College of Physicians Clinical Practice
Guideline. Ann Intern Med 2007; 147: 505-14.

7.

Petersen T. Non-spesific Low Back Pain Classification and treatment. Lund University
2003.

8.

Laerum E, Dullerud R, Kirkesola G, Mengshoel AM, Nygaard OP, Skouen JS, et al.
Acute low back pain interdisciplinary clinical guidelines. The Norwegian Back Pain
Network 2002.

9.

Nuartha AABN. Beberapa segi klinik dan penatalaksanaan nyeri pinggang bawah.
Cermin Dunia Kedokteran 1989; 54: 29-34.

10. Sadeli HA, Tjahjono B. Nyeri punggung bawah. In: Nyeri Neuropatik, patofisiologi dan
penatalaksanaan. Editor: Meliala L, Suryamiharja A, Purba JS, Sadeli HA. Perdossi,
2001:145-167.

_________________________________________________________________
21
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

CARPAL TUNNEL SYNDROM


(SINDROMA TEROWONGAN KARPAL)

I.

GAMBARAN UMUM
Carpal Tunnel Syndrom (CTS) merupakan salah satu kelainan muskuloskeletal yang
berhubungan
dengan
pekerjaan,
sering dijumpai pada pelayanan
kesehatan tingkat primer. Sindrom ini
terjadi
akibat
adanya
tekanan
terhadap nervus medianus pada saat
melalui
terowongan
karpal
di
pergelangan
tangan.
Beberapa
penyebabnya telah diketahui seperti
trauma, infeksi, gangguan endokrin,
dan lain-lain, namun sebagian tetap
tidak
diketahui
penyebabnya.
Penggunaan tangan atau pergelangan
CARP AL
tangan yang berlebihan dan repetitif
LIGAMENT
diduga
berhubungan
dengan
terjadinya sindrom ini. Biasanya lebih
MEDIAN
BONES TENDONS
berat pada tangan yang dominan,
NER VE
tangan kanan sebagai tangan yang
Figure8:Posisinmedianusdidalamterowongankarpal
dominan lebih sering terkena namun
dapat juga terjadi bilateral pada 8- 50% kasus. Kejadian CTS banyak diderita pada usia
40-60 tahun, jarang di bawah 20 tahun atau di atas 80 tahun. wanita 2-5 kali lebih
sering daripada pria.

II.

ETIOLOGI
Pekerjaan atau aktivitas yang menggunakan tangan secara berulang merupakan faktor
predisposisi dan dapat meningkatkan resiko terjadinya CTS. Namun setiap keadaan yang
menyebabkan tekanan/kompresi saraf medianus dalam terowongan karpal dapat
merupakan etiologi CTS.
Trauma langsung ke terowongan karpal yang menyebabkan penekanan, misalnya colles
fracture, dan udema akibat trauma tersebut, CTS akut biasanya disebabkan oleh trauma
(fraktur/dislokasi) pergelangan tangan. Dapat juga karena infeksi pergelangan
tangan/lengan bawah. Perdarahan spontan, trombosis, dan lain-lain, yang kesemuanya
dapat menyebabkan peninggian tekanan dalam terowongan karpal dan menekan saraf
medianus.

_________________________________________________________________
22
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

1. Trauma akibat gerakan fleksi-ekstensi berulang pergelangan tangan dengan


kekuatan yang cukup pada pekerjaan tertentu yang banyak memerlukan gerakan
pergelangan tangan seperti penjahit/pekerja garmen, pengepakan barang, juru ketik,
penyortir surat, operator komputer.
2. Semua keadaan yang mengurangi luas/ukuran terowongan karpal, misalnya kelainan
anatomis anatomis bawaan, patah tulang atau kalus setelah patah tulang, akromegali
osteofit, eksostosis tulang, perkapuran, dan lain-lain, yang dapat mempengaruhi
struktur pergelangan tangan. Dapat pula terjadi penebalan fleksor retinakulum (ini
yang tersering) misalnya karena proses radang seperti pada artritis rheumatoid.
3. Keadaan yang menyebabkan isi terowongan berlebihan, misalnya terdapat otot
aberrant dalam terowongan, atau terjadi trombosis pada arteri. Yang paling sering
menyebabkan isi terowongan berlebihan adalah proses radang seperti tenosinovitis
non spesifik yang dapat menyebabkan penebalan dan fibrosis sinovium, radang
tuberkulosis, histoplasmosis. Tofi gout, neoplasma/neurinoma atau ganglion juga
pernah dilaporkan.
4. Penyakit sistemik yang berhubungan dengan neuropati seperti obesitas, diabetes
mellitus, uremi, disfungsi tiroid, amiloidisis, kehamilan, menopause, miksedema,
gagal jantung, ataupun gangguan keseimbangan hormon yang mengakibatkan
penimbunan lemak atau cairan yang juga menimbulkan edema dalam terowongan.
5. Defisiensi vitamin B6 (piridoksin) memegang peranan sebagai penyebab CTS. Tetapi
beberapa penulis tidak setuju dengan pendapat ini.
6. Selain dari semuanya ini terdapat faktor yang belum terungkap yang menjadi etiologi
CTS, sehingga sering disebut CTS idiopatik.

III.

GAMBARAN KLINIS
Efek penekanan saraf perifer termasuk pada CTS, tergantung lama (akut, intermediate,
kronik) dan besarnya tekanan (ringan, besar, sangat besar) pada rata-rata orang normal
tekanan intra terowongan karpal 2,5 mmHg pada posisi netral, 31 mmHg pada fleksi
pergelangan tangan dan 30 mmHg pada dorsofleksi/ekstensi pergelangan tangan. Pada
penderita CTS, rata-rata tekanan intra terowongan karpal 32 mmHg pada posisi netral,
99 mmHg pada fleksi 900 dan 110 mmHg pada ekstensi 900 pergelangan tangan.

Umumnya keluhan berangsur-angsur dan yang spesifik, yaitu :


1. Rasa nyeri di tangan yang biasanya timbul malam atau pagi hari. Penderita sering
terbangun karena nyeri dan berusaha mengatasi keluhannya dengan menggerakgerakkan tangan dan mengurutnya, ternyata rasa nyeri ini dapat hilang atau
dikurangi. Keluhan juga berkurang bila tangan/pergelangan tangan diistirahatkan dan
sebaliknya keluhan bertambah pada pergerakan pergelangan tangan yang
menyebabkan tekanan dalam terowongan bertambah. Lama-kelamaan keluhan ini
_________________________________________________________________
23
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

2.

3.
4.
5.

6.

IV.

makin sering dan makin berat bahkan dapat menetap pada siang maupun malam
hari.
Rasa baal, kesemutan, atau rasa seperti kesetrum pada jari-jari. Biasanya jari ke-1,
2, 3, dan 4 (sisi radial). Kadang-kadang tidak dapat dibedakan jari mana terkena
atau dirasakan gangguan pada semua jari. Dapat pula terasa gangguan pada
beberapa jari saja misalnya jari ke-3 dan ke-4, tapi tidak pernah ada keluhan hanya
pada jari ke-5 (kelingking) saja.
Kadang-kadang rasa nyeri dapat terasa sampai ke lengan atas dan leher, tapi rasa
baal, kesemutan hanya terbatas pada distal pergelangan tangan saja.
Jari-jari, tangan dan pergelangan tangan mengalami edem dan kaku terutama pagi
hari dan menghilang setelah mengerjakan sesuatu.
Gerakan jari-jari kurang terampil misalnya sewaktu menyulam atau memungut benda
kecil. Bila terjadi pada anak-anak, sering ibunya melaporkan bahwa anaknya bermain
hanya dengan jari ke-4 dan ke-5 saja.
Otot telapak tangan mengecil dan makin lama makin kecil.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan selain berdasarkan anamnesis mengenai keluhan-keluhan yang
dirasakan oleh penderita, juga dilakukan dengan pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan
fisik yang dilakukan adalah pemeriksaan fungsi tangan yaitu fungsi motorik, sensorik,
dan otonom. Juga perlu dilakukan tes provokasi untuk mempertajam diagnosis.
1. Pemeriksaan motorik
Otot yang menerima inervasi saraf medianus sisi distal dari terowongan karpal
adalah abduktor pollicis brevis, fleksor pollicis brevis, lumbrikal ke-1 dan ke-2,
oponen pollicis.
a) Kelemahan abduktor pollicis brevis merupakan tanda motorik yang paling
sensitif untuk CTS.
b) Tanda dari Luthy (Luthys sign), tanda botol (bottles sign).
c) Sebelum melakukan pemeriksaan di atas dilihat terlebih dahulu adakah atrofi
otot tenar (thenar wasting)

2. Pemeriksaan sensorik
Pada CTS hampir selalu ada keluhan paresthesia. Meskipun mengeluh mengenai
sensorik, tetapi pada pemeriksaan sensorik mungkin normal. Penderita CTS yang
menunjukkan hipestesia kira-kira 70% dan sejumlah kecil penderita menunjukkan
hiperestesia.
a) Pemeriksaan hipestesia:
Menggunakan sentuhan halus (misalnya kapas), benang nylon atau
monofilamen dari Semmes-Weinstein. Benang yang besar memberi tekanan
_________________________________________________________________
24
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

yang keras lalu diganti berturut-turut dengan benang yang makin kecil
dengan tekanan yang kecil pula. Kemudian dibandingkan dengan daerah di
luar distribusi saraf medianus.
Pemeriksaan membedakan 2 titik:
Dengan menggunakan jarum nomor 25 atau klip kertas, penderita diperiksa
kemampuannya untuk membedakan tekanan satu atau dua titik. Penderita
tidak dapat merasakan tekanan pada dua titik dengan jarak lebih dari 6 mm
di daerah distribusi saraf medianus.
b) Pemeriksaan hiperestesi:
Cara pemeriksaan sama denga pemeriksaan hipestesi, yang dapat juga
digunakan dengan sentuhan halus ataupun jarum.
c) Pemeriksaan persepsi vibrasi:
Menggunakan garputala 256 atau 128 Hz, garputala setelah digetarkan
disentuhkan pada ujung jari dan penderita diminta untuk membandingkan
adanya getaran dengan daerah di luar distribusi saraf medianus.
d) Pemeriksaan fungsi otonom.
Diperhatikan apakah terdapat perbedaan keringat, kulit kering dan licin yang
berbatas tegas pada distribusi saraf medianus.

3. Tes provokasi
a)

Tinels sign

b) Tourniquet test
c)

Pressure test

d) Phalens test
e)

Flicks sign

f)

Reverse Phalen Manuver/Prayers test/Wrist extension test

4. Pemeriksaan penunjang
a)

Elektromiografi (EMG)

b) Pemeriksaan radiologi
c)

Pemeriksaan laboratorium

_________________________________________________________________
25
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

V.

KRITERIA DIAGNOSIS
Menurut kriteria National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH), CTS
akibat kerja dikatakan positif bila kriteria berikut dipenuhi :

VI.

Pada anamnesis didapatkan salah satu keluhan seperti : rasa nyeri, rasa baal
atau kesemutan sesuai perjalanan saraf medianus

Riwayat adanya pajanan di tempat kerja

Pemeriksaan fisik didapat hasil positif,

Test provokasi positif (Tinels sign; Phalens test) atau

Pemeriksaan penunjang elektroneuromiografi positif

DIAGNOSIS BANDING
Beberapa keadaan yang menyebabkan nyeri pada tangan atau lengan, kesemutan,
kekakuan, kelemahan, ataupun atrofi otot:
Neuropati ulnar, Neuropati radial, Radikulopati servikal, Hipoplasi tenar, Tenosinovitis,
Fenomena Raynaud.

VII.

PENATALAKSANAAN
Karena CTS sering didasarkan oleh penyakit atau keadaan lain (10-50%) maka terapi
ditujukan pada:
a. Terapi langsung terhadap CTS.
1. Konservatif:
Istirahatkan pergelangan tangan.
Pemasangan bidai pada posisi netral pergelangan tangan. Bidai
dapat dipasang terus menerus atau hanya malam hari selama 2-3
minggu.
Injeksi steroid ke dalam terowongan karpal.
Pengontrolan cairan.
Estrogen, karena penderita CTS terutama wanita di atas usia 40
tahun.
Piridoksin (vitamin B6).

_________________________________________________________________
26
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Fisioterapi ditujukan untuk perbaikan vaskularisasi pergelangan


tangan.
2. Operatif: Operasi terbuka
b. Terapi terhadap keadaan penyakit yang mendasarinya.

VII.

PROGNOSIS
Pada kasus CTS ringan, dengan terapi konservatif pada umumnya baik. Secara umum
prognosis operasi juga baik, tetapi karena operasi hanya dilakukan pada penderita yang
sudah lama menderita CTS, penyembuhan pos operatifnya bertahap.

VIII.

TEST PROVOKATIF.
Beberapa teknik test provokatif dalam CTS, sebagai berikut:
1. Phalen's maneuver (Phalens test)
Phalen's Maneuver adalah tes diagnostik untuk CTS ditemukan oleh seorang
ortopedist dari American bernama George S. Phalen.
Technique
Pasien melakukan gerakan fleksi palmar secara maksimal pada kedua telapak
tangan dan ditekan pada kedua permukaan dorsal. Posisi ini akan meningkatkan
tekanan pada terowongan karpal dan akan menjepit n. medianus. Bila dalam 30 60 detik timbul rasa kebas, semutan atau menggelenyar pada daerah distribusi n.
Medianus, tes dinyatakan positif.

Figure9 :Phalen'sTest

_________________________________________________________________
27
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Accuracy
Sensitivitas tes ini berkisar antara 51 - 91% dan spesifisitasnya berkisar antara 33 88%.

2. Reverse Phalens Test.


Dilaksanakan dengan melakukan full extensi pada pergelangan tangan dan jari-jari
untuk selama 2 menit. Tes ini secara signifikan meningkatkan tekakan di
terowongan karpal.

Figure10 :ReversePhalen'sTest

3. Tinels sign :
Dengan mengetok n. Medianus melalui fleksor retinakulum dilipat pergelagan
tangan, tepat lateral tendopalmaris longus, dalam posisi dorsofleksi, timbul rasa
menggeleyar seperti kena strom (tingling) atau nyeri pada daerah distribusi n.
Medianus, distal pergelangan, tes dinyatakan positif.

Figure11:Tinel'sSign

_________________________________________________________________
28
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

KEPUSTAKAAN
1. Tanaka S, Deanna KW, Seligman PJ. Prevalence and work relatedness of Self Reported
Carpal Tunnel Syndrome among US workers : Analysis oh The Occupational Health
Suplement Data of 1988 National Health Interview Study. Am J Ind Med,1995;27:451-70.
2. Barbiari PG. Epidemic of Musculotenderness Pathologies oh the upper libs (cumulative
trauma disorders) in group of assembly workers.1993 ; Mid-live, Nov-Dec,1993;487-500.
3. Mahoney J. Cummulative Trauma Disorders and Carpal Tunnel Syndrome Sorting out te
confusion. Can J Plast Surgery.1995;3(4) :185-89.
4. Yanri Z. Evaluasi Pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja di Indonesia.
Seminar sehari Nasional Surveilans Kesehatan Pekerja.Jakarta;2001.p9.
5. Harsono WR. Carpal Tunnel Syndrome at workers who were exposd by repeated
biochemical pressures at hand and wrist in the industry.RSIN.Company .1995.
6. Chiang HO.Prevalence of shoulder and upper limbs disorders among workers in the fish
processing industry . Scand J Work Enviroment-Health,1993, April;19(2):126-31.
7. Young VL, Scaton MK. Detecting Cumulative trauma disorders in workers performing
repetition tasks. Am J Ind Med.1995;27;419-31.
8. Silverstein BA, Fins LJ. Occupational factors and CTS . Am J Ind Med.1987;11: 343-58.

_________________________________________________________________
29
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

DERMATITIS KONTAK IRITAN (DKI)


I.

DEFINISI
DKI merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologik, dimana kerusakan kulit terjadi
langsung tanpa didahului proses sensitisasi. Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan
inflamasi pada kulit yang bermanifestasi sebagai eritema, edema ringan dan pecahpecah. DKI merupakan respon non spesifik kulit terhadap kerusakan kimia langsung
yang melepaskan mediator-mediator inflamasi yang sebagian besar berasal dari sel
epidermis.

II.

EPIDEMIOLOGI
DKI dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras dan jenis
kelamin. Jumlah penderita DKI diperkirakan cukup banyak terutama yang berhubungan
dengan pekerjaan (DKI akibat kerja), namun dikatakan angkanya secara tepat sulit
diketahui. Hal ini disebabkan antara lain oleh banyaknya penderita dengan kelainan
ringan tidak datang berobat, atau bahkan tidak mengeluh.
Di Amerika, DKI sering terjadi di pekerjaan yang melibatkan kegiatan mencuci tangan
atau paparan berulang kulit terhadap air, bahan makanan atau iritan lainnya. Pekerjaan
yang berisiko tinggi meliputi bersih-bersih, pelayanan rumah sakit, tukang masak, dan
penata rambut. 80% Dermatitis tangan okupasional karena iritan, lebih sering mengenai
tukang bersih-bersih, penata rambut dan tukang masak. Prevalensi dermatitis tangan
karena pekerjaan ditemukan sebesar 55,6% di ICU dan 69,7% pada pekerja yang sering
terpapar (dilaporkan dengan frekuensi mencuci tangan >35 kali setiap pergantian).
Penelitian menyebutkan frekuensi mencuci tangan >35x tiap pergantian memiliki
hubungan kuat dengan dermatitis tangan karena pekerjaan (OR=4,13). Di Jerman,
angka insiden DKI adalah 4,5 setiap 10.000 pekerja, dimana insiden tertinggi ditemukan
pada penata rambut (46,9 kasus per 10.000 pekerja setiap tahunnya), tukang roti dan
tukang masak.
Berdasarkan jenis kelamin, DKI secara signifikan lebih banyak pada perempuan
dibanding laki-laki. Tingginya frekuensi ekzem tangan pada wanita dibanding pria karena
faktor lingkungan, bukan genetik. Berdasarkan usia, DKI bisa muncul pada berbagai
usia. Banyak kasus karena dermatitis diaper (popok) terjadi karena iritan kulit langsung
pada urine dan feses. Seorang yang lebih tua memiliki kulit lebih kering dan tipis yang
tidak toleran terhadap sabun dan pelarut. DKI bisa mengenai siapa saja, yang terpapar
iritan dengan jumlah yang sufisien, tetapi individu dengan dengan riwayat dermatitis
atopi lebih mudah terserang.

_________________________________________________________________
30
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

III.

ETIOLOGI
Penyebab munculnya DKI adalah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut,
deterjen, minyak pelumas, asam alkali, serbuk kayu, bahan abrasif, enzim, minyak,
larutan garam konsentrat, plastik berat molekul rendah atau bahan kimia higroskopik.
Kelainan kulit yang muncul bergantung pada beberapa faktor, meliputi faktor dari iritan
itu sendiri, faktor lingkungan dan faktor individu penderita. Dapat dilihat pada tabel
berikut.

Iritan adalah substansi yang akan menginduksi dermatitis pada setiap orang jika
terpapar pada kulit: dalam konsentrasi yang cukup, pada waktu yang sufisien dengan
frekuensi yang sufisien. Masing-masing individu memiliki predisposisi yang berbeda
terhadap berbagai iritan, tetapi jumlah yang rendah dari iritan menurunkan dan secara
bertahap mencegah kecenderungan untuk meninduksi dermatitis. Fungsi pertahanan dari
kulit akan rusak baik dengan peningkatan hidrasi dari stratum korneum (oklusi, suhu dan
kelembaban tinggi, bilasan air yang sering dan lama) dan penurunan hidrasi (suhu dan
kelembaban rendah). Tidak semua pekerja di area yang sama akan terkena. Siapa yang
terkena tergantung pada predisposisi individu (rowayat atopi misalnya), personal
hygiene dan luas dari paparan. Iritan biasanya mengenai tangan atau lengan. Efek dari
iritan merupakan concentration-dependent, sehingga hanya mengenai tempat primer
kontak.

IV.

PATOGENESIS.
Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui
kerja kimiawi atau fisis. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin,
menyingkirkan lemak lapisan tanduk dan mengubah daya ikat air kulit.
Kebanyak bahan iritan (toksin) merusak membran lemak keratinosit tetapi sebagian
dapat menembus membran sel dan merusak lisosom, mitokondria atau komplemen inti.
Kerusakan membran mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan asam arakidonat (AA),
diasilgliserida (DAG), platelet actifating factor (PAF) dan inositida (IP3). AA dirubah
menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrin (LT). PG dan LT menginduksi vasodilatasi, dan
meningkatkan permeabilitas vaskuler sehingga mempermudah transudasi komplemen
dan kinin. PG dan LT juga bertindak sebagai kemoatraktan kuat untuk limfosit dan
neutrofil, serta mengaktifasi sel mas melepaskan histamin, LT dan PG lain, dan PAF,
sehingga memperkuat perubahan vaskuler.
DAG dan second messenger lain mengstimulasi ekspresi gen dan sintesis protein,
misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyt-macrophage colony stimulating factor

_________________________________________________________________
31
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

(GMCSF). IL-1 mengaktifkan sel T-penolong mengeluarkan IL-2 an mengekspresi


reseptor IL-2 yang menimbulkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel tersebut.
Keratinosit juga membuat molekul permukaan HLA-DR dan adesi intrasel- (ICAM-1).
Pada kontak dengan iritan, keratinosit juga melepaskan TNF, suatu sitokin proinflamasi
yang dapat mengaktifasi sel T, makrofag dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul
adesi sel dan pelepasan sitokin.
Urutan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik di tempat terjadinya
kontak di kulit berupa eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat. Bahan iritan lemah
akan menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak, dimulai dengan kerusakan
stratum korneum oleh karena delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan
fungsi sawarnya, sehingga mempermudah kerusakan sel dibawahnya oleh iritan.

V.

KLINIS.
a. Riwayat Penyakit
Riwayat yang terperinci sangat dibutuhkan karena diagnosis dari DKI tergantung
pada adanya riwayat paparan iritan kutaneus yang mengenai tempat-tempat pada
tubuh. Tes tempel juga digunakan pada kasus yang berat atau persisten untuk
menyingkirkan DKA. Gejala subjektif primer biasanya meliputi hal-hal sebagai
berikut:

Riwayat paparan yang cukup terhadap iritan kulit.

Onset gejala muncul dalam beberapa menit hingga beberapa jam pada DKI
akut. Pada DKI subakut merupakan ciri iritan tertentu seperti benzalkonium
klorida (ada pada disinfektan) yang mendatangkan reaksi radang 8-24 jam
setelah paparan. Onset dan gejala bisa tertunda beberapa minggu pada DKI
kumulatif.

Nyeri, rasa terbakar, rasa tersengat atau tidak nyaman pada fase awal.

Gejala subjektif lainnya meliputi: onset dalam 2 minggu paparan dan


adalanya keluhan yang sama pada rekan kerja atau anggota keluarga lainnya.
DKI okupasional biasanya terjadi pada karyawan baru atau mereka yang
belum belajar untuk melindungi kulitnya dari iritan. Individu dengan
dermatitis atopik (khususnya pada tangan) rentan terhadap DKI tangan.

b. Pemeriksaan Fisik
Kriteria diagnostik primer DKI menurut Rietschel meliputi :

Makula eritema, hiperkeratosis atau fisura yang menonjol.

Kulit epidermis seperti terbakar

_________________________________________________________________
32
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Proses penyembuhan dimulai segera setelah menghindari paparan bahan


iritan

Tes tempel negatif dan meliputi semua alergen yang mungkin.

Kriteria objektif minor meliputi:

Batas tegas pada dermatitis

Bukti pengaruh gravitasi seperti efek menetes

Kecenderungan untuk menyebar lebih rendah dibanding DKA

Untuk kepentingan pengobatan, berdasarkan perjalanan penyakit dan gejala klinis


DKI dikelompokkan menjadi DKI akut, lambat akut dan kumulatif. Ada pula bentuk
DKI lainnya yaitu: reaksi iritan, DKI traumatik, DKI noneritematosa dan DKI
subyektif.

Perbedaan DKI Akut, Lambat Akut dan Kumulatif


Parameter

DKI Akut

Penyebab

Iritan kuat (mis :


HCl, Kalium
Hidroksida)

Onset

Segera timbul (menit


s/d jam)
Subjektif : pedih,
panas, rasa terbakar.
Objektif : eritema,
edema, bulla, pinggir
nekrosis, berbatas
tegas dan asimetris

Gejala

Intensitas reaksi
sebanding dengan
konsentrasi dan lama
kontak biasanya
karena kecelakaan.

DKI Lambat
Akut
Podofilin, antralin,
etilen oksida,
benzolkonium
klorida
8 24 jam
Sama dengan DKI
akut

DKI Kumulatif/
Kronik
Iritan lemah

Bermingguminggu/bulan/tahun
Kronis : gatal, kulit
kering, eritema,
skuama,
hiperkeratosis dan
likenifikasi, difus
Terus menerus :
retak dan fisura
Kontak berulang
dan kerjasama
berbagai faktor,
sering berhubungan
dengan pekerjaan

_________________________________________________________________
33
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

IX.

HISTOPATOLOGIK
Gambaran histopatologik DKI tidak karakteristik. Pada DKI akut (oleh iritan primer),
dalam dermis terjadi vasodilatasi dan sebukan sel mononuklear di sekitar pembuluh
darah dermis bagian atas. Eksositosis di epidermis diikuti spongiosis dan edema intrasel
dan akhirnya menjadi nekrosis epidermal. Pada keadaan berat, kerusakan epidermis
dapat menimbulkan vesikel atau bila. Di dalam vesikel atau bula ditemukan limfosit atau
neutrofil. Pada DKI kronis adalah hiperkeratosis dengan area parakeratosis, akantosis
dan perpanjangan rete ridges.

X.

DIAGNOSIS
Diagnosis DKI didasarkan anamnesis yang cermat dan pengamatan gambaran klinis. DKI
akut lebih mudah diketahui karena munculnya lebih cepat sehingga penderita pada
umumnya masih ingat apa yang menjadi penyebabnya. Sebaliknya DKI kronis timbul
lambat serta mempunyai variasi gambaran klinis yang luas, sehingga kadang sulit
dibedakan dengan DKA. Untuk ini diperlukan uji tempel dengan bahan yang dicurigai.

XI.

XII.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan kultur bakteri bisa dilakukan apabila ada komplikasi infeksi sekunder
bakteri.

Pemeriksaan KOH bisa dilakukan dan sampel mikologi bisa diambil untuk
menyingkirkan infeksi tinea superficial atau kandida, bergantung pada tempat dan
bentuk lesi.

Uji tempel dilakukan untuk mendiagnosis DKA, tetapi bukan untuk membuktikan
adanya iritan penyebab munculnya DKI. Diagnosis adalah berdasarkan eksklusi DKA
dan riwayat paparan iritan yang cukup.

Biopsi kulit bisa membantu menyingkirkan kelainan lain seperti tinea, psoriasis atau
limfoma sel T.

PENATALAKSANAAN.
Upaya pengobatan DKI yang terpenting adalah menghindari pajanan bahan iritan, baik
yang bersifat mekanik, fisis atau kimiawi serta menyingkirkan faktor yang memperberat.
Bila dapat dilakukan dengan sempurna dan tanpa komplikasi, maka tidak perlu
pengobatan topikal dan cukup dengan pelembab untuk memperbaiki kulit yang kering.
Apabila diperlukan untuk mengatasi peradangan dapat diberikan kortikosteroid topikal.
Pemakaian alat perlindungan yang adekuat diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan
bahan iritan sebagai upaya pencegahan.

_________________________________________________________________
34
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

a. Dermatitis akut
Untuk dermatitis akut, secara lokal diberikan kompres larutan garam fisiologis atau
larutan kalium permanganas 1/10.000 selama 2-3 hari dan setelah mengering diberi
krim yang mengandung hidrokortison 1-2,5%.
Secara sistemik diberikan antihistamin (CTM 3x1 tablet.hari) untuk menghilangkan
rasa gatal. Bila berat/luas dapat diberikan prednison 30 mg/hari dan bila sudah ada
perbaikan dilakukan tapering. Bila terdapat infeksi sekunder diberikan antibiotik
dengan dosis 3x500 mg selama 5-7 hari.

b. Dermatitis kronik
Topikal diberikan salep mengandung steroid yang lebih poten seperti hidrokortison
yang mengalami fluorinasi seperti desoksimetason, diflokortolon. Sistemik diberikan
antihistamin (CTM 3x1 tablet.hari) untuk menghilangkan rasa gatal.

XIII.

KOMPLIKASI
Adapun komplikasi DKI adalah sebagai berikut:
DKI meningkatkan risiko sensitisasi pengobatan topikal.
Lesi kulit bisa mengalami infeksi sekunder, khususnya oleh Stafilokokus aureus
Neurodermatitis sekunder (liken simpleks kronis) bisa terjadi terutapa pada
pekerja
yang terpapar iritan di tempat kerjanya atau dengan stres psikologik
Hiperpigmentasi atau hipopignemtasi post inflamasi pada area terkena DKI
Jaringan parut muncul pada paparan bahan korosif, ekskoriasi atau artifak.

XIV.

PROGNOSIS
Prognosis baik pada individu non atopi dimana DKI didiagnosis dan diobati dengan baik.
Individu dengan dermatitis atopi rentan terhadap DKI. Bila bahan iritan tidak dapat
disingkirkan sempurna, prognosisnya kurang baik, dimana kondisi ini sering terjadi DKI
kronis yang penyebabnya multifaktor.

_________________________________________________________________
35
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

METAL FUME FEVER (DEMAM UAP LOGAM)


I.

INTRODUCTION
Demam merupakan salah satu pertanda adanya gangguan didalam tubuh. Demam
berfungsi sebagai alarm untuk memberitahukan bahwa sesuatu tengah terjadi di dalam
tubuh kita. Penyebab demam bisa bermacam-macam, mulai dari infeksi (bakteri, virus,
parasit), alergi,keganasan, trauma,penyakit autoimun. Pada anak-anak dan masyarakat
pada umumnya penyebab demam yang tersering adalah infeksi.
Di dalam ilmu Kedokteran Kerja dikenal istilah Demam Uap Logam yaitu suatu kondisi
dimana seorang pekerja mengalami demam yang disebabkan oleh uap logam tertentu.
Keluhan umumnya menyerupai gejala flu, yaitu : demam, menggigil, mual,muntah,
haus,sakit kepala, lemas, nyeri sendi dan otot. Merupakan kondisi alergi akut yang
dialami oleh kebanyakan tukang las sepanjang masa kerjanya.
Uap atau gas yang dihasilkan oleh pengelasan bersifat racun, berupa uap logam. Terdiri
dari komposisi yang berbeda tergantung dari jenis logam yang digunakan untuk proses
pengelasan tersebut, sehingga menghasilkan kontaminan yang berbeda. Proses
pengelasan merupakan upaya menggabungkan beberapa jenis logam dengan melakukan
pemanasan pada ujungnya sampai mencapai titik leleh. Karena itulah proses pengelasan
menimbulkan uap logam yang terdiri dari partikel halus maupun yang sangat halus.
Demam uap logam (Metal Fume Fever) adalah nama yang diberikan terhadap gejala
sakit yang disebabkan oleh uap logam tersebut, yang utamanya disebabkan oleh
paparan terhadap zinc oxide fume (ZnO) yang dihaslkan oleh pengelasan tadi di tempat
kerja. Penyebab paparan ini ialah akibat terhirupnya gas atau uap dari proses
pengelasan, pemotongan maupaun penoderan. Demem ini memberikan gejala seperti
flu-like illness yang merupakan gejala dari reaksi allergi akut yang diderita oleh tukang
las selama bekerja. Dan dari penelitian penyebab utamanya adalah pajanan yang
berlebihan dari uap zinc oxide akibat dari pengelasan, pembakaran logam atau
penyoderan maupun pelapisan logam. Sejak proses pelapisan logam semakin
berkembang di industri, maka potensi pekerja menderita demam ini semakin meningkat
frekuensinya. Elemen lain seperti tembaga, magnesium dapat memberikan gejala yang
sama.

II.

WELDING (PENGELASAN) dan METAL FUME FEVER


A. Jenis pengelasan.
Berbagai jenis pengelasan adalah gas welding, arc (electrode) welding, atau oxygen
dan arc cutting

_________________________________________________________________
36
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

1. Gas Welding Dalam gas welding, 2 metal digabungkan dengan melelehkan


kedua ujungnya. Dilakukan dengan mengarahkan api gas pada kedua ujung
yang didekatkan Sumber panas didapatkan dari pembakaran bahan bakar
dengan oksigen atau udara. Bahan bakar yang sering dipakai adalah
acetylene. Karena gas welding lebih lambat dan mudah di kontrol, maka ia
sering digunakan dalam pekerjaan perawatan
2. Arc Welding -- Arc welding menggunakan electrode yang dialiri listrik dan
menghasilkan panas. Panas tersebut melelehkan logam yang kemudian akan
melekatkannya. Proses ini melibatkan beberapa peralatan, seperti power
supply, pemegang electrode, ground clamp, alat pelindung diri dan pakaian
pelindung.
3. Oxygen and Arc Cutting (memotong dengan oksigen atau elektrode)
Memotong dan memisahkan logam dengan api atau elektrode :

Oxygen Cutting: Logam dipanasi dengan semburan api kemudian


dipotong oleh semburan (jet) oksigen.

Arc Cutting: Panas yang intens dari elektrode yang dialiri listrik akan
memotong logam tersebut.

B. Efek terhadap kesehatan.


Studi epidemiologis menunjukan bahwa pajanan terhadap uap pengelasan
menimbulkan apa yang disebut sebagai demam uap logam dan meningkatnya
gangguan pernafasan. Dan meningkatkan gejala penyakit inflamasi paru seperti
asma maupun bronchitis kronis. Pajanan yang kronis juga menurunkan secara
signifikan fungsi paru, terutama pada tukang las yang merokok.
MFF didefinisikan sebagai flu-like illness yang terjadi setelah menghirup uap
logam. Gejala awal timbul setelah 3 10 jam pajanan. Gejala awal berupa terasa
seperti rasa logam yang manis dimulut (a sweet metallic taste) kemudian diikuti
dengan batuk kering yang makin lamam makin memburuk serta kesulitan dalam
bernafas. Bagi yang memang menderita asma akan meningkatkan kemungkinan
serangannya. Uap logam dihasilkan dari berbagai proses pengelasan. Komponen
utamanya adalah oksida dari logam yang terlibat, seperti zinc, iron, chromium,
aluminum, atau nickel.
Uap Zinc oxide menyebabkan flulike illness yang disebut sebagai metal fume
fever. Gejalanya antara lain adalah sakit kepala, demam, menggigil, sakit otot,
mual, muntah, nafas pendek, nyeri dada, lelah, nyeri gastrointestinal, lesu, serta
lelah. Gejala awal mulai muncul beberapa jam setelah pajanan. Serangan dapat
terjadi kurang dari 6 24 jam. Tanpa intervensi perbaikan menyeluruh akan
terjadi 24 48 jam kemudian. MMF dapat timbul beberapa lama setelah
meninggalkan tempat kerja (bisa pada saay weekend atau liburan). Terjadi
_________________________________________________________________
37
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

demam ringan (jarang sampai melebihi 39OC). Diikuti gejala berkeringat dan
demam sebelum suhu badan kembali normal (antara 1 4 jam kemudian).
International Agency for Research on Cancer (IARC) menyimpulkan terdapat
bukti secara terbatas dampak karsinogen terhadap manusia akibat uap logam ini.
Karena itu IARC's menyimpulkan bahwa uap logam dari pengelasan adalah
possibly carcinogenic to humans [IARC 1990].

C. Gejala klinis.
Acute exposure:
Pajanan akut mengakibatkan iritasi terhadap tenggorokan, mata dan hidung,
dengan gejala klinisnya adalah demam, menggigil, sakit kepala, mual, nafas
pendek, nyeri otot, serta rasa logam pada mulut.
Beberapa short-term health effects adalah :
irritation of the eyes, nose, and chest
coughing
shortness of breath
bronchitis
fluid in the lungs (edema)
inflammation of the lungs (pneumonitis)
loss of appetite
cramps
nausea / vomiting

Chronic exposure:
Pajanan kronik, berdampak terhadap efek pernafasan, seperti batuk, wheezing,
dan menurunnya fungsi paru.
Beberapa long-term health effects adalah :
chronic lung problems (bronchitis, pneumonia, asthma, emphysema,
silicosis, siderosis)
lung cancer
cancer of the larynx
cancer of the urinary tract

_________________________________________________________________
38
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Beberapa permasalahan kesehatan lainnya yang berkaitan dengan uap logam


hasil pengelasan, adalah :
skin diseases
hearing loss
gastritis, ulcers of the stomach
kidney damage
heart disease

Merokok membuat pekerja menjadi berisiko lebih besar. Beberapa bahan


penghasil toxic fumes, dapat menimbulkan permasalahan kesehatan, seperti:
chromium : dapat menyebabkan kesulitan dalam bernafas, problem sinus,
lubang (holes) diantara sekati hidung (nostrils), dan kanker;
manganese : dapat menyebabkan gejala Parkinsons disease, yang
menyerang persyarafan dan otot;
cadmium : dapat menimbulkan masalah ginjal dan kanker.

D. Perlindungan pekerja.
Pengusaha harus melindungi karyawannya yang bekerja sebagai tukang las,
melalui beberapa program berikut :
1. Hazard Control:

Kontrol Teknik (Engineering controls) :


o

Ventilasi ventilasi yang sesuai yang dilengkapi baik intake


dan exhaust fans, dalam upaya mengeluarkan gas/uap toksik
langsung dari sumbernya.

Elektrode dan sarung tangan dari bahan yang kurang


berbahaya, bila memungkinkan, mis : asbestos-free gloves dan
electrodes).

Air monitoring.

Kontrol Administratif (Administrative control) :


o

Praktek kerja yang aman.

Hindarkan kepala dari uap logam.

Jangan menghirup udara yang mengandung uap logam

_________________________________________________________________
39
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Gunakan ventilasi yang cukup, exhaust atau keduanya,


untuk membersihkan udara di area pernapasan dan
sekitarnya.

Jangan ambil risiko dengan uap hasil pengelasan. Jika


ventilasi atau exhaust tidak adekuat pakailah respirator
(masker)
yang
memenuhi
persyaratan
untuk
membersihkan udara pernapasan.

Program Training bagi semua tukang las berkenaan


penggunaan peralatan yang aman, cara kerja yang aman serta
penanganan kedaruratan dan bekerja diruang terbatas
(confined space).

Pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja las,


setahun sekali.

Pelayanan kesehatan bagi mereka yang menderita MFF.

2. Hazard Communication.

Label peringatan di kontainer yang berisi cancer-causing agents

Tanda peringatan bagi pekerja yang terpapar bahan berbahaya.

3. Personal Protective Equipment.

Rekomendasi utama untuk ruang kerja pengelasan adalah kontrol


teknis dengan penerapan lokal exhaust atau general ventilasi, untuk
mengurangi tingkat pajanan uap Zinc Oxide. Tetapi kadangkala hal
tersebut sulit dilakukan sehingga diperlukan pemakaian respirator
(masker). Respitaror biasanya digunakan untuk pekerjaan di ruang
tertutup (confined spaces), seperti tanki atau ruang sempit tertutup
dan dalam kondisi darurat. Selalu gunakan respirator yang di
rekomendasikan oleh Mine safety and Health Administration (MSHA)
atau oleh National Institute for Occupational safety and Health
(NIOSH) atau Depnaker.

Standar yang umum digunakan untuk respirator adalah Respirators


yang spesifik untuk bahan berbahaya. Sesuai dengan standar OSHAs
Respiratory Protection.

Pekerja harus mendapatkan training dalam menggunakannya


(respirator) dan harus lulus uji medis untuk memastikan bahwa
mereka secara fisik mampu menggunakan respirator.

_________________________________________________________________
40
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

III.

PERMISSIBLE EXPOSURE LIMIT


Standar OSHA untuk uap Zinc Oxide adalah 5 miligram uap Zinc Oxide per meter kubik
udara (mg/m3) untuk 8 jam kerja per hari.
Menurut NIOSH 5mg/m3 dengan lama kerja 10 jam perhari, 40 jam per minggu, dengan
Short Term Exposure Limit (STEL) 10 mg/m3 untuk 15 menit.

IV.

PROSEDUR MONITOR DAN PEMERIKSAAN LINGKUNGAN KERJA

Evaluasi Pajanan 8 Jam


Pengambilan sampel paling baik dilakukan selama 8 jam atau dalam 2 kali per 4
jam. Pengambilan sampel per 30 menit tidak disarankan untuk dilakukan.
Pengambilan sampel harus dilakukan oleh orang yang terlatih dengan
menggunakan peralatan dan metode yang sesuai. Pengambilan sampel dilakukan
di zona pernapasan pekerja ( paling menggambarkan udara yang dihirup oleh
pekerja)

Evaluasi Short-Therm Exposure Limit


Pemeriksaan dilakukan pada saat konsentrasi puncak uap Zinc Oxide di duga
terjadi. Lakukan selama 15 menit atau serial dengan total waktu 15 menit.
Pengumpulan dilakukan pada zone pernapasan pekerja. Lakukan minimal 3
pemeriksaan dalam 1 shift kerja, hasil tertinggi yang bisa disimpulkan sebagai
pajanan tertinggi pada pekerja.

V.

KESIMPULAN
Demam uap logam merupakan akibat dari pajanan berlebihan uap Zinc Oxide yang
dihasilkan dari pengelasan, pemotongan, gurinda logam yang di galvanize.
Demam uap logam merupakan kumpulan gejala menyerupai flu yang timbul sesaat
setelah terpajan uap logam.
Untuk menghindari keluhan tersebut, jauhkan kepala dan hindari menghirup uap logam.
Gunakan ventilasi yang baik dan atau exhaust. Jika ventilasi yang baik sulit dilaksanakan
gunakan masker yang sesuai.
Belum diketahui dampak jangka panjang penyakit ini.

_________________________________________________________________
41
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Kepustakaan :
1. Kim J.Y,Chen J-C, Boyce PD, Christiani DC. Exposure to welding fumes is
associated with acute systemic inflamatory responses. Occup.Environ.Med
2005;62;157-163.
2. Safety and Health Fact Sheet no.25. Metal Fume Fever. American Welding Society
2002.
3. OSHA. Occupational Safety and Health Guidelines for welding fumes.
4. El-Zein M, C Infante-Rivard, J-L Malo and Gautrin D. Is metal fume fever a
determinant of welding related respiratory symptoms and/or increased bronchial
responsiveness? A longitudinal study. Occup.Environ.Med 2005;62;688-694.
5. Meldrum M, Rawbone R, Curan AD, Fishwick D. The role of occupation in the
development of chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Occup.
Environ.Med 2005;62;212-214.
6. Rosemarie MB et all. Dose-effect relationships between manganese exposure and
neurological, neuropsychological and pulmonary function in confined space bridge
welders.
7. Occup.Environ.Med 2007;64;167-177.
8. Sjorgen B, Hansen KS, Kjuus H, Persson PG. Exposure to stainless steel welding
fumes and lung cancer: a meta-analysis. Occup.Environ.Med 1994; 51; 335-336.
9. Christensen SW, Bonde JP, Omland O. A prospective study of decline in lung
function in relation to welding emissions. Journal of Occupational Medicine and
Toxicology 26 February 2008.
10. Nakadate T, Aizawa Y, Yagami T, Zheg YQ, Kotani M, Ishiwata K. Change in
obstructive pulmonary function as a result of cumulative exposure to welding
fumes as determined by magnetopneumography in Japanese arc welders.
Occup.Environ.Med 1998;55;673-677.
11. Hananto W,Dr,MD, SpA. Kajian kritis makalah ilmiah Kedokteran Klinik menurut
Kedokteran Berbasis bukti. Sagung Seto;2002.
12. WHO. International Statistical Classification of Diseases and Related Health
Problems (ICD-10) in Occupational Health. Geneva,1999.

_________________________________________________________________
42
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

PERUNDANGAN YANG MENDUKUNG TERLAKSANANYA TUGAS SEBAGAI


DOKTER KESEHATAN KERJA.
Beberapa perundangan yang terkait langsung dengan Kesehatan Kerja, antara lain :

UU no 1 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Permenakertranskop no.1 thn 1976 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes bagi


dokter perusahaan.

Kepmenaker 02/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan tenaga kerja; serta


Lamp.1 tentang Formulir Permohonan Dokter menjadi Dokter Pemeriksa
Kesehatan Tenaga Kerja.

Kepmenaker 03/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja;

SE 01/Men/1997 tentang Nilai ambang batas bahan Kimia;

Kepmenaker 051/1999 tentang Nilai ambang batas faktor Fisik;

Keppres no 22, 1993 tentang Penyakit Akibat Kerja;

Permenakertrans 04/1987 tentang tentang P2K3;

UU no 36/2009 tentang tentang Kesehatan (Bab XII, psl. 164 tentang Kesehatan
Kerja);

UU no 3/92 tentang Asuransi Kesehatan (Jamsostek)

UU no 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

P.P. no 23/2000 Radiasi mengion;

Kepmenkes no 492/2010 tentang Persyaratan Kualitas air minum.

Kepmenkes no. 715 tahun 2003 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga

Kepmenkes 1405 / 2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja


Perkantoran dan Industri.

oooooOOOooooo

_________________________________________________________________
43
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

INTERNATIONAL STATISTICAL CLASSIFICATION OF DISEASES (ICD. 10)


KODE

JENIS PENYAKIT

ICD.10
I

PENYAKIT INFEKSI DAN PARASIT TERTENTU

A00

Kolera

A01

Demam tifoid dan paratifoid

A02

Infeksi salmonela lainnya

A04

Infeksi usus karena bakteri lainnya

A05

Keracunan makanan karena bakteri lain

A06

Amubiasis

A08

Infeksi virus dan infeksi usus tertentu lainya

A09.1

Diare&Gastroentritis

A09.2

Diare disentri basiler

A15

Tubercolosis paru BTA+

A16

Tubercolosis paru klinis (suspek )

A17

TB.meningitis & SSP

A18

Tuberkulosisorganlainya

A18.2

Lymphadenopati Colli TB

A20

Pes / sampar

A30.0

Kusta I/T ( MB )

A30.5

Kusta B/L ( PB )

A33

Tetanus neonetorum

A35

Tetanus lainnya

A36

Difteri

A37

Batuk rejan

A39

Infeksi meningokok

A41.9

Syok Sepsis

A51

Sifilis Dini

_________________________________________________________________
44
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

A54

Infeksi gonokok

A66

Frambusio

A80

Poliomielitis Akut

A82

Rabies

A91

Demam Berdarah Dangue

II

INFEKSI VIRUS YANG MENGENAI KULIT DAN MUKOSA LESI MEMBRAN

B00

Herpes Simpleks

B01

Varicella

B02

Herpes Zoster

B03

Cacar air

B05

Campak

B07

Verruca

B15

Hepatitis A Akut

B16

Hepatitis B Akut

B19

Hepatitis virus

B24

HIV

B26

Mumps (parotitis)

B34

Viral Infection of Unspecified site

B35.0

Tinea Barbae & tinea Capitis

B35.1

Tinea Unguium

B35.3

Tinea Pedis

B35.4

Tinea Corporis

B35.6

Tinea Cruris

B36.0

Pityriasis Versicolor

B37.0

Candidal Stomatitis

B50

Malaria P Falsiferum (tropika )

B51

Malaria P Vivak (tertiana)

B53

Secara parasitologik dianggap malaria

B54

Malaria yang tak diketahui ( malaria klinis)

B74

Filariasis

_________________________________________________________________
45
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

B76

Penyakit Cacing Tambang

B77

Askariasis

B79

Penyakit Cacing Cambuk

B86

Scabies

B90.9

Sindrom Obstruksi pasca TB

III

NEOPLASMA

C00-C14 Neoplasma Bibir, Mulut & Tenggorokan


C15-C26 Neoplasma Organ Pencernaan
C30-C39 Neoplasma Organ Pernafasan & Intratorakal
C40-C41 Neoplasma Tulang & Kartilago Artikular
C43-C44 Neoplasma Kulit
C45-C49 Neoplasma Mesotelial & Jaringan Lunak
C50

Neoplasma Mamae (Payudara)

C51-C58 Neoplasma Organ Reproduksi Wanita


C60-C63 Neoplasma Organ Reproduksi Pria
C64-C68 Neoplasma Saluran Kemih
C69-C72 Neoplasma Mata, Otak & CNS Sistem
C73-C75 Neoplasma Thyroid & Kelenjar Endokrin
D17.9

Lipoma

D37-D48 Neoplasma yg tak terklasifikasi


D05

Karsinoma In situ payudara

D14.1

Neoplasma Jinak Sistem Nafas lainnya

IV

PENYAKIT DARAH & ORGAN PEMBUAT DARAH & BEBERAPA KELAINAN YG


BERHUBUNGAN DGN MEKANISME IMMUN

D50

Anemia defisiensi besi

D53

Anemia gizi lainnya

D59

Anemia Hemolitikis

D61

Anemia Aplastik lainnya

D64

Anemia lainnya

_________________________________________________________________
46
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

PENYAKIT ENDOKRIN GIZI & METABOLIK

E00

Gangguan Tiroid

E03

Hipotiroidisme lain

E04.9

Struma

E05

Tirotoksikosis ( Hipertiroidisme )

E06

Tiroiditis

E14

Diabetes melitus

E16.2

Hypoglycemia

E40

Kwasiokor

E41

Marasmus nutrisi

E42

Kwasiokor marasmus

E44

Hipotensi

E46

Malnutrisi protein-kalori

E50

Defisiensi vitamin A

E56.9

Avitaminosis

E64

Gejala sisa malnutrisi/defisiensi gizi lainnya

E66

Obesitas

E78.0

Hypercholesterolemia

E78.1

Hypertriglyceridemia

E79.0

Hyper Uricemia

E86

Deplesi Volume (Dehidrasi)

VI

GANNGUAN JIWA DAN PRILAKU

F05

Gangguan hiperkinetik & kebiasaan

F19

Gangguan mental&perilaku akibat zat multipel & psiko aktif lain

F20

Skizofrenia

F25

Gangguan Skizoafektif

F26

Gangguan Psikotik non Organik lainnya

F30

Gangguan Afektif Bipolar

F43

Gangguan Stress pasca trauma

_________________________________________________________________
47
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

F44.9

Hysteria,Hystenical

F45.9

Psychosomatic

F48

Gangguan neurotik lain

F60

Gangguan kepribadian/kebiasaan dan inpuls

F79

Retardasi mental yg tdk ditentukan

F80

Gangguan perkembangan psikologis

VII

PENYAKIT SUSUNAN SYARAF

G00

Meningitis bakterialis

G40

Epilepsi

G45.9

TIA (Transient Ischemic Attack)

G43.9

Migrain

G44.2

Tension Headache

G47.0

Insomnia

G51.0

Bell's Palsy

G56.0

Sindroma Carpal Tunnel

G98

Kelainan susunan syarap

VIII

PENYAKIT MATA DAN ADNEKSA

H00.0

Hordeolum

H00.1

Chalazion

H01.0

Blefaritis

H02

Gangguan lain kelopak mata

H10

Konjungtivitis

H11.0

Pterigium

H16

Keratitis

H25

Katarak sinilis

H26

Katarak lainnya

H40

Glaukoma

H49

Strabismus

H52

Gangguan refraksi dan akomodasi

_________________________________________________________________
48
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

H53.1

Asthenopia

H54

Buta dan Rabun

H59

Penyakit mata lainnya

IX

PENYAKIT TELINGA DAN PROSESUS MASTOID

H60.9

Otitis Externa

H61.2

Serumen

H61.8

Pistula/kista Preaurikel

H65

Otitis Media Nonsupuratif

H66

Otitis Media Supuratif

H70

Mastoiditis

H72

Perforasi membran timpani

H83.0

Otitis Interna

H90

Gangguan Daya Dengar

H93

Gangguan lain telinga ytk

H93.1

Tinitus

PENYAKIT SISTEM PEREDARAN DARAH

I00

Demam Reumatik Akut

I05

Penyakit Jantung Reumatik Kronik

I10

Hipertensi Essensial ( primer )

I11

Penyakit Hipertensi lainnya

I21

Infark Miokard Akut

I24

Penyakit jantung iskemik akut lainnya

I26

Emboli Paru

I42

Kardiomiopati

I50

Gagal Jantung

I51.7

Cardiomegali

I60

Pendarahan Intra Kranial

I63

Infark Serebral

I64

Stroke

_________________________________________________________________
49
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

I67

Penyakitserebrovaskuler lain

I51.9

Decomp Cardic

I73.9

Penyakit pembuluh darah perifer lainnya

I74

Emboli dan Trombosis arteri

I80

Flebitis,Tromboflebitis&Trombosis Vena

I83.9

Varices

I84.2

Internal Haemorrhoids tanpa komplikasi

I84.9

Hemorroids

I88.9

Lymphadenitis

I99

Gangguan sistem peredaran darah lainnya

XI

PENYAKIT SISTEM PERNAFASAN

J00

Nasofaringitis akut

J01

Sinusitis Akut

J02

Faringitis akut

J03

Tonsilitis Akut

J04

Laringitis dan trakeitis akut

J06

Infeksi saluran nafas atas akut

J06.8

Tonsilopharingitis Akut

J11

Influensa karena virus

J13

Pneumonia karena streptococcus pneumoniae

J18

Pneumonia

J20

Bronkitis akut & Bronkiolitis akut

J22

Infeksi saluran nafas bawah akut

J30

Rhinitis Alergika

J30.0

Penyakit Hidung & Situs Hidung lainnya

J32

Sinusitis Kronik

J35

Penyakit tonsil & adenoid kronik

J39

Penyakit saluaran nafas atas lainnya

J40

Bronchitis

J45

Asma

_________________________________________________________________
50
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

J46

Status Asmatikus

J47

Bronchiectasis

J60

Pneumokoniasis

J84.9

Penyakit jaringan paru lainnya

J85.1

Abses Paru

J86

Piotoraks (Empiema)

J90

Efusi Pleura

J93

Pneumotoraks

XII

PENYAKIT SISTEM PENCERNAAN

K00

Gangguan perkembangan & Erupsi Gigi

K02

Caries Dentis

K03

Penyakit jaringan keras gigi lainnya

K04

Pulpitis

K05.1

Gingivitis

K08

Gangguan gigi & jaringan penunjang lainnya

K09

Kista rongga mulut&penyakit pada radang

K11

Penyakit kelenjar liur

K12.0

Stomatitis Aphtosa

K13

Penyakit bibir,mukosa mulut lainnya&lidah

K25

Tukak lambung

K29

Gastritis dan duodenis

K29.2

Alchoholic Gastritis

K29.5

Gastritis kronis yg tak ditentukan

K30

Dyspepsia

K35

Appendicitis acut

K40

Hernia Inguinal

K41

Hernia lainnya

K52.0

Gastroenteritis Akut

K59.0

Konstipasi

K63

Penyakit usus lainnya

_________________________________________________________________
51
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

K70

Penyakit hati Alkohol

K72

Koma hepatikum&hepatitis pulminan

K73

Hepatitis Kronik

K74.6

Sirosis Hati

K76

Penyakit hati lainnya

K80

Cholelithiasis

K81

Cholecystitis

K85

Pankreatitis akut&penyakit pankreas lainya

K92

Penyakit sistem cerna lainnya

K92.0

Hematemesis

XIII

PENYAKIT KULIT & JARINGAN SUBCUTAN

L01

Impetigo

L02

Abses furunker & karbunkel kutan

L03

Celulitis

L03.0

Paronychia

L08.0

Pustular Rash

L10

Penyakit kulit & subkutan lainnya

L20

Atopic Dermatitis

L21

Seborrhoeic Dermatitis

L23

Allergic Contact Dermatitis

L24

Irritant Contact Dermatitis

L28.0

Neurodermatitis

L28.2

Prurigo

L29

Pruritus

L30

Dermatitis lainnya

L30.9

Eozema

L40

Psoriasis

L50

Urticaria

L55

Sunburn

L70.0

Acne Vulgaris

_________________________________________________________________
52
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

L74.0

Miliaria Rubra

L91.0

Keloid

L92.9

Granuloma

L93

Lupus Erythematosus

L98

Gangguan lain kulit & Jaringan subkutan ytt

L98.4

Ulcer

XIV

PENYAKIT SISTEM MUSKULOSKELETAL & JARINGAN IKAT

M06.9

Rheumatoid Arthritis

M07

Psoriasis & Antropati Enteropati

M10

Gout

M12

Artropati & Artritis

M13

Arhtitis lainnya

M20

Deformitas tungkai didapat

M23.4

Wirst Joint

M54.3

Ischialgia

M25.5

Arthralgia

M54.5

Low Back Pain

M60

Miopati & Reumatisme

M67.4

Ganglion

M71.9

Bursitis

M76.8

Ankle joint

M79.0

Reumatik

M79.1

Myalgia

M79.2

Neuralgia dan neuritis

M81.9

Osteoporosis

M86

Osteomielitis

XV

PENYAKIT SISTEM KEMIH DAN KELAMIN

N00

Sindrom Nefrotik progresif cepat & akut

N02.0

Penyakit Glomerulus lainnya

_________________________________________________________________
53
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

N04

Sindrom Nefrotik

N05

Nephritis

N10

Penyakit Tubulo Interstisial Ginjal lainnya

N12

Nefritis Tubulo/Intersititial,tdk ditentukan

N17.0

Gagal Ginjal lainnya

N04

Syndroma Nefrosis+Kronik Liver Disease

N20

Nephrolithiasis

N20.9

Urolithiasis

N21.1

Urethrolithiasis

N23

Colic Renal

N25

Penyakit sistem kemih lainnya

N28.8

Uretritis

N30

Sistitis

N36.8

Colic urethral

N40

Hiperplasia Prostat

N43

Hidrokel & Spermatokel

N44

Penyakit alat kelamin laki lainnya

N47

Prepusium berlebih,pimosis&parapimosis

N60

Gangguan pada payudara

N61

Mastitis

N70

Salpingitis & Ooforotis

N70.9

Adnexitis (suppurative)

N72

Radang Serviks

N73

Radang panggul perempuan lainnya (PID)

N75.0

Kista & Asbes kelenjar Bartolini

N76.0

Vulvovaginitis Akut

N80

Endometriosis

N81

Prolaps alat kelamin perempuan

N82

Gangguan sistem kemih kelamin lainnya

N83

Gangguan bkn radang pada indung telur

N89.8

Fluor Albus (vaginalis)

_________________________________________________________________
54
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

N91.2

Amenorrhea

N91.3

Gangguan Haid lainnya

N92.0

Hyper Menorrhagia

N92.1

Spotting,Intermenstrual NEC (Irregular)

N92.3

Spotting,Intermenstrual NEC (Regular)

N94.6

Dysmenorrhea

N97

Infertilitas Perempuan

XVI

KEHAMILAN,PERSALINAN & NIFAS

O00

Kehamilan Ektopik

O01

Mola Hidatidosa

O02.0

Blighted Ovum

O03

Abortus spontan

O04

Abortus akibat terminasi kehamilan

O05

Abortus lainnya

O10

Hipertensi yg ada sebelumnya yg menyulitkan kehamilan persalinan nifas

O14

Pre eklamsia

O15

Ekslamsia

O16

Hipertensi maternal ytt

O21

Muntah yg berlebihan dlm kehamilan

O21.0

Hyperemesis Gravidarium

O22

Emesis Gravidaum

O24

Diabetes melitus dalam kehamilan

O25

Malnutrisi dalam kehamilan

O30

Kehamilan Multipel

O31

Perawatan ibu yg berkaitan dgn janin & ketuban

O36.9

Hamil Gemelli

O40

Hidramnion

O42

Ketuban Pecah Dini

O44

Plasenta Previa

O45

Solusio Plasenta

_________________________________________________________________
55
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

O46

Perdarahan antepartum

O48

Kehamilan lewat waktu

O60

Persalinan Prematur

O63

Partus lama

O64

Persalinan Macet

O65

CPD (Kesulitan persalinan)

O68

Persalinan dgn penyulit gawat janin

O72

Perdarahan pasca persalinan

O80

Persalinan tunggal spontan

O84

Persalinan Multipel

O85

Penyulit yg lebih banyak berhubungan dgn masa nifas & kondisi obstetrik lainnya

XVII

KONDISI TERTENTU YG BERMULA PADA MASA PERINATAL

P00

Janin & bayi baru lahir yg dipengaruhi oleh faktor & penyulit kehamilan

P05

Pertumbuhan janin lambat dan malnutrisi janin

P10

Cidera Lahir

P20

Asfiksia waktu lahir

P29

Kelainan kardiovaskuler yg berhubungan dengan masa perinatal

P95

Lahir Mati

Q03

Hidrosepalus Kongenital

Q05

Spinabifida

Q35-Q37 Bibir celah dan langit-langit celah


Q53

Testis tidak turun

XVIII

GEJALA DAN TANDA YG DIKLASIFIKASIKAN DITEMPAT LAIN

R04.0

Epistaksis

R.04.2

Hemaptoe

R05

Cough

R07

Chest Pain

R09.2

Gagal Napas

R10

Nyeri perut dan panggul

_________________________________________________________________
56
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

R10.4

Colic Abdomen

R11

Vomitus

R33

Retensio Urine

R43.0

Anosmia

R50

Demam yg sebabnya tak diketahui

R51

Cephalgia

R52

Vertigo

R53

Malaise and fatigue

R54

Senility

R55

Syncope and collapse

R56

Kejang ditempat lain

R58

Heamorrhage ditempat lain

R59.1

Lymphadenopathy

R60

Oedema, ditempat lain

R63.0

Anorexia

R68

Gejala dan tanda umum lainnya

X1X

CIDERA

S02

Fraktur tengkorak dan tulang muka

S03

Dislokasi,terkilir,teregang ydt dan daerah badan multipel

S05

Cidera Mata dan Orbita

S06

Cidera Intrakranial

S12

Fraktur leher, thorak atau panggul

S26

Cidera alat dalam lainnya

S72

Fraktur Paha

S92

Fraktur tulang anggota gerak lainnya

T01

Kecelakaan Kerja

T02

Kecelakaan Di Luar kerja

T03

Vulnus

T14.0

Hematoma

T14.2

Fracture

_________________________________________________________________
57
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

T16

Benda Asing pada telinga

T19

Akibat kemasukan benda asing melalui lubang tubuh

T20

Luka Bakar dan Korosi

T30.0

Combustio

T52

Keracunan pelarut organik

T56

Keracunan Logam

T59

Keracunan gas, asap dan uap lain

T60

Keracunan Pestisida

T90

Gejala sisa cedera,keracunan & akibat lanjut sebab luar

Y00

Hamil

Y01

KB Suntik

Y02

KB Pil

Y03

KB IUD

Z00

Lain-Lain

Z34

Hamil Aterm

oooooOOOooooo

_________________________________________________________________
58
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

ICD.10 - RELATED PROBLEM IN OCCUPATIONAL HEALTH


Intestinal and bacterial infections (A00-A69)
CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

Tuberculosis
A15-16 Respiratory
A17 Nervous
A18 Other organs
A19 Miliary
tuberculosis

Mycobacterium
tuberculosis from
Infected humans

Health care work, medical


laboratory work

Mycobacterium bovis from


Infected animals

Abattoir work, veterinary work

A21.-

Tularaemia

Francisella tularensis from


a variety of animals,
particularly hares, rabbits,
quirrels, rats, mice and
other rodents

Farming and animal husbandry


work, forestry, hunting, veterinary
work, laboratory work and other
work with small furry animals

A22.-

Anthrax

Bacillus anthracis from


animal products

Farming and animal husbandry


work, abattoir work, veterinary
work, laboratory work, work with
wool, hair and hides

A23.-

Brucellosis

Brucella species from


livestock

Farming and animal husbandry


work, veterinary work, abattoir
work, laboratory work

A26.-

Erysipeloid
A26.0 Cutaneous
erysipeloid

Erysipelothrix
rhusiopathiae
from infected animals

Farming and animal husbandry


work, veterinary work, abattoir
work, meat processing work and
other work involving contact with
pig, cattle, poultry or fish

A27.-

Leptospirosis

Leptospira interrogans
from animals (especially
rats), animal urine or
contaminated soil

Farming and animal husbandry


work, veterinary work, abattoir
work, dairy work, meat processing
work, work with contact with
contaminated soil (e.g. sugar cane
and field workers), freshwater
fishermen and fish handlers,
sewage work, garbage collectors

A35

Tetanus

Clostridium tetani from


soil, sewage or animals
through an uncleaned
deep wound

Farming and military work,


construction work, sewage work,
work with contact with
contaminated soil

A69.2

Lyme disease

Borrelia burgdorferi from


bite of an infected tick

Outdoor work, e.g. farming and


forestry

A15.-to
A19.-

_________________________________________________________________
59
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Chlamydial and rickettsial infections (A70-A79)


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

A70

Chlamydia psittaci
Infection (ornithosis)

Chlamydia psittaci from


birds

Work involving contact with


birds, poultry or their excreta

J16.0

Chlamydial pneumonia
(Note also other
pneumonias in J10J18)

Chlamydia pneumoniae
from humans

Health care work

A77.-

Spotted fever (tickborne rickettsioses)

Rickettsia rickettsii and


other Rickettsia species

Laboratory work, outdoor work

A78

Q fever

Coxiella burnetii from


domestic animals (cattle,
sheep, goats) or more
rarely through tick bites

Sheep and cattle farming,


laboratory work, textile work,
abattoir work, veterinary work

Viral infections (A80-B34)


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

A82.-

Rabies

Virus usually from bites


of infected wild or
domestic animal

Farming and animal husbandry


work, veterinary work, animal
laboratory work, animal control
personnel, wildlife workers

A84.-

Tick-borne viral
encephalitis

Viruses from ticks

Outdoor work, e.g. hunters,


farmers, gardeners, geologists

A98.-

Other viral
haemorrhagic
fevers, not elsewhere
classified

Viruses from rodents

Agricultural workers, herders,


rodent control workers

A98.5 Haemorrhagic
fever with renal
syndrome
- Haemorrhagic fever
- Hanta virus disease
- Nephropathia
Epidemica
B01.-

Varicella

Varicella zoster virus


from humans

Health care and laboratory work

B05.-

Measles

Virus from humans

Health care and laboratory work

_________________________________________________________________
60
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

B16.-

Acute hepatitis B

B17.-

Other acute viral


hepatitis
B17.0 Acute hepatitis C
B17.1 Acute hepatitis E

B20.to
B24.-

Human immunodeficiency virus (HIV)


diseases

Hepatitis B virus from


infected blood

Health care and laboratory work,


prison staff, police and ambulance
personnel

Hepatitis C virus from


infected blood

Health care and laboratory work,


prison staff, police and ambulance
personnel

Hepatitis E virus from


infected blood
HI virus from infected
blood

Health care and laboratory work

B24.- Unspecified HIV


disease

Mycoses (B35-B49)
CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

B38.-

Coccidioidomycosis

Coccidioides immitis from


soil (endemic to western
North America)

Agricultural work, laboratory work,


military work

B39.-

Histoplasmosis

Histoplasma capsulatum
from soil; bird or bat
excrement (endemic to
eastern North America)

Agricultural work, work with


poultry, laboratory work

B42.-

Sporotrichosis

Sporothrix schenkii from


plant debris, tree and
garden plant bark

Agricultural work, gardeners,


florists

Protozoal and parasitic diseases (B50-B89)


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

B58.-

Toxoplasmosis

Toxoplasma gondii from


cat (or birds, sheep,
goats, swine, cattle etc.)

Agricultural work, veterinary work,


abattoir work, pet shop work

B65.-

Schistosomiasis

Schistosoma species from


contact with
contaminated water

Agricultural work, any waterworks


(e.g. construction of dams, work
with irrigation ponds and canals)

_________________________________________________________________
61
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

B67.-

Ecchinococcosis

B76.-

Hookworm diseases
B76.0 Ancylostomiasis

Ecchinococcus species
from dogs and domestic
livestock

Shepherds

Ancylostoma species

Miners and tunnel workers,


agricultural work

Malignant neoplasms (C00-C97)


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

C22.-

Malignant neoplasm of
liver and intrahepatic
bile ducts

Vinyl chloride
monomer

Manufacturing of vinyl chloride, vinyl


chloride polymerisation industry

Hardwood dust

Woodwork, cabinet and furniture makers

Chromium(VI)
compounds

Chromium producers, metal plating,


dye/pigment manufacturing

Nickel
compounds

Nickel smelting and refining, stainless steel


production, manufacture of batteri

C22.3 Angiosarcoma
of liver
C30.-

Malignant neoplasm of
nasal cavity and
middle ear
C30.0 Nasal cavity

C32.-

Malignant neoplasm of
larynx

Asbestos

Asbestos industries and utilizers (see C45)

C34.-

Malignant neoplasm of
bronchus and lung

Asbestos

Asbestos industries and utilizers (see C45

Arsenic and its


compounds

Arsenic mining, copper smelting, production


and use of arsenic pesticides, herbicides
and insecticides, tanning, glassmaking

Chromium VI
compounds

Chromium producers, metal plating,


dye/pigment manufacturing

Nickel
compounds

Nickel smelting and refining, stainless steel


production, manufacture of batteries

Radon progeny

Radon progeny Underground mining,


processing of ores and radioactive products

Silica

Mining, quarrying, foundries, sand-blasting,


construction work, work involving grinding,
drilling or breaking of silica-containing
rocks, ceramics and glass manufacture

_________________________________________________________________
62
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Soots

Pigment manufacture, chimney sweeping,


road paving, insulation

Bis-(chloromethyl)
ether

Chemical industry

Beryllium

Beryllium extraction and metallurgy,


aerospace industry, nuclear industry

Cadmium

Dye and pigment manufacture,


manufacture of nickel-cadmium batteries

Malignant neoplasms (C00-C97)


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

C40.to
C41.-

Malignant neoplasm of
bone and articular
cartilage
C40 = ...of limbs
C41 = ... of other sites

Ionizing
radiation

Occupations with exposure to ionizing


radiation from x-ray machines, nuclear
reactors etc., work involving isotopes

C44

Other malignant
neoplasms of skin
-squamous cell
carcinoma

Arsenic

Arsenic mining, copper smelting, production


and use of arsenic pesticides, herbicides
and insecticides, tanning, glassmaking

By-products of
distillation of
coal: soot, tar,
pitch, mineral
oils

Pigment manufacture, chimney sweeping,


road paving, insulation

Ionizing
radiation

Occupations with exposure to ionizing


radiation from x-ray machines, nuclear
reactors etc., work involving isotopes

Note: Other refers to


nonmelanoma

C45.-

Mesothelioma
C45.0 Mesothelioma of
pleura
C45.1 Mesothelioma of
peritoneum
C45.7 Mesothelioma of
other sites
C45.9 Mesothelioma,
unspecified

Asbestos

Asbestos industries and utilizers (e.g.


asbestos mines and quarries, asbestos
products industry, insulation work,
construction work, shipyard work, garage
work, work involving removal of asbestos
containing materials)

C67.-

Malignant neoplasm of
bladder

Aromatic amines

Rubber and dye workers

_________________________________________________________________
63
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

C91.to
C95.-

Leukaemias
C91 Lymphoid
leukaemia
C92 Myeloid leukaemia
C94 Other leukaemias
of specified cell type

Ionizing
radiation

Occupations with exposure to ionizing


radiation from x-ray machines, nuclear
reactors etc., work involving isotopes

Benzene

Occupations with exposure to benzene, e.g.


coke ovens, use of benzene containing
solvents

Non-malignant diseases of the blood (D50-D89


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

D59.-

Acquired haemolytic
anemias

Arsenic hydride
(arsine)

Electrolytic processes, arsenic


minerals processing

D59.4 Other nonautoimmune haemolytic


anemias

Naphthalene

Chemical industry

Tributyl tin

Manufacture and use of biocides

Trinitrotoluene

Explosives industries

Benzene

Occupations with exposure to benzene e.g.


use of benzene containing solvents,
petroleum industry, coke ovens

Ionizing
radiation

Occupations with exposure to ionizing


radiation from x-ray machines, nuclear
reactors etc., work involving isotopes

Lead

Lead and zinc mining and metallurgy,


construction industry, plumbing,
accumulator plants, ammunition
manufacture, manufacture of ceramics or
crystal, manufacture of lead storage
batteries, welding and cutting

Benzene

Occupations with exposure to benzene e.g.


use of benzene containing solvents,
petroleum industry, coke ovens

Ionizing
radiation

Occupations with exposure to ionizing


radiation from x-ray machines, nuclear
reactors etc., work involving isotopes

Aromatic amino
and Nitrocompounds

Explosives and dye industries

D61.-

Other aplastic anemias


D61.2 Aplastic anaemia
due to other external
agents

D64.-

Other anemias
D64.2 Secondary
sideroplastic anaemia
due to drugs and toxins

D70

D74.-

Agranulocytosis

Methaemoglobinaemias
D74.8 Other methaemoglobinaemias

_________________________________________________________________
64
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Mental and behavioural disorders (F00-F99)


CODE

DISEASES

EXPOSURE

F06.-

Other mental disorders due to brain damage


and dysfunction and to physical disease

See section 2.2.2 for coding principles of


the toxic central nervous disorders.
Lead

F06.7 Mild cognitive disorder

Organic solvents

F07.-

Personality and behavioural disorders due to


brain disease, damage and dysfunction
F07.2 Postconcussional syndrome

Head trauma

F43.-

Reaction to severe stress, and adjustment


Disorders
F43.0 Acute stress reaction
F43.1 Post-traumatic stress disorder

Exceptional physical and mental stress


Stressful event or situation

Diseases of the nervous system (G00-G99)


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

G21.-

Secondary parkinsonism
G21.2 Secondary
parkinsonism due to other
external causes

Manganese

Manganese mining and processing,


metallurgy, manufacture of
batteries, welding

G25.-

Other extrapyramidal and


movement disorders

Mercury and its


compounds

Electrolytic chlorine production,


battery production, fungicide
manufacture, mercury
metallurgy, manufacture of mercury
containing equipment (e.g.
thermometers)

G56.-

Mononeuropathies of the upper


limb
G56.0 Carpal tunnel syndrome
G56.2 Lesion of the ulnar nerve
G56.3 Lesion of the radial nerve
G56.8 Other mononeuro-pathies
of the upper limb

For G56.0: Forceful


repetitive work,
vibration
and extreme
postures of the wrist.
Especially a
combination of these
risk factors

For G56.0: Work involving forceful


repetitive movements, work with
vibrating tools, work involving
extreme postures of
the wrist. E.g. meat, poultry and fish
processors, sawmill and creamery
workers, construction workers

G62.-

Polyneuropathy due to other


toxic agents

Arsenic and its


compounds

G62.2 Polyneuropathy due to


other toxic agents
Lead see G92 next page

Arsenic mining, copper smelting,


production and use of arsenic
pesticides, herbicides and
insecticides, tanning, glassmaking

Acrylamide

Plastics industry

_________________________________________________________________
65
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

G62.8 Other specified


polyneuropathies

G92

Toxic encephalopathy

Carbon disulphide

Rayon manufacturing, rubber


and laboratory work

Ethylene oxide

Ethylene oxide sterilizer


operators

N-Hexane and Methyl


nbutyl ketone

Use of n-hexane or methyl nbutyl


ketone solvents

Lead

see G92 next page

Mercury

see G25 above

Organophosphorous
compounds

Pesticide industry and use

Radiation

Radiation

Vibration (e.g. hand)

Use of vibrating tools

Lead

Lead and zinc mining and


metallurgy, construction industry,
plumbing, accumulator plants,
ammunition manufacture,
manufacture of ceramics or crystal,
manufacture of lead storage
batteries, welding and cutting

Mercury

Electrolytic chlorine production,


battery production, fungicide
manufacture, mercury metallurgical
industry

Solvents e.g.:
- toluene
- xylene
- styrene
- pentane
- white spirit
1,1,2,trichlorethane

Occupations with exposure to


solvents

_________________________________________________________________
66
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Diseases of the eye and adnexa (H00-H59)


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

H10.-

Conjunctivitis
H10.8 Other
conjunctivitis

Many of the allergens


mentioned in occupational
asthma (J45) and occupational
rhinitis (J30.3) can also cause
occupational conjunctivitis (see
section A.9.2)

See J45

H16.-

Keratitis
H16.1 Other
superficial keratitis
without Conjunctivitis
(photokeratitis)

UV radiation

Occupations with exposure to UV


radiation, e.g. welding, outdoor
work.

H26.-

Other cataract

Microwaves
Ionizing radiation

Microwave and radar technicians


Occupations with exposure to
ionizing radiation from x-ray
machines, nuclear reactors etc.,
work involving isotopes

Infrared radiation
Trinitrotoluene
Naphthalene
Dinitrophenol, dinitro-cresol
Ethylene oxide

Blacksmiths, glass blowers,


exposure to industrial lasers
Explosives industries
Chemical industry
Explosives, dye, herbicide and
pesticide industries
Ethylene oxide sterilizer
Operators

Poor lightning

Miners

H26.8 Other
specified cataract

H55

Nystagmus and other


irregular eye
movements

Diseases of the ear and mastoid process (H60-H95)


Noise Induced-Hearing Loss.
CODE
DISEASES
AGENT
H83.3

Noise effects on
inner ear

Excessive noise

OCCUPATION/INDUSTRY
A variety of industries and
occupations

Diseases of the circulatory system (I00-I99)


CODE
DISEASES
AGENT
OCCUPATION/INDUSTRY
I73.0

Raynauds syndrome

Vibration

Lumberjacks, chain sawyers, grinders,


chippers, rock drillers,
stone cutters, jackhammer operators, riveters

_________________________________________________________________
67
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Pneumoconioses and pulmonary or pleural fibrosis caused by inorganic dusts


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

J60

Coalworkers
pneumoconiosis

Coal dust

Coal miners

J61

Pneumoconiosis due to
asbestos and other
mineral fibres
(Asbestosis)

Asbestos

Asbestos industries and utilizers


(e.g. asbestos mines and quarries,
asbestos products industry,
insulation work, construction work,
shipyard work, garage work, work
involving removal of asbestos
containing materials)

Talc

Talc processors, soapstone


miningmilling, polishing, cosmetics
industry

Silica

Mining, quarrying, foundries,


sandblasting, construction work,
work involving grinding, drilling or
breaking of silica-containing rocks,
ceramics and glass manufacture

Aluminium

Manufacture and utilisation of


aluminium
Bauxite extraction and processing

See also J90, J92.0,


J94.8
J62.-

J63.-

J65

Pneumoconiosis due to
dust containing silica
(Silicosis)
J62.0 Pneumoconiosis
due to talc dust
J62.8 Pneumoconiosis
due to other dust
containing silica
Pneumoconiosis due to
other inorganic dust
J63.0 Aluminosis (of
lung)
J63.1 Bauxite fibrosis
(of lung)
J63.2 Berylliosis

Bauxite
Beryllium

Beryllium extraction and


metallurgy, aerospace industry,
nuclear industry
Production of graphite articles,
production of artificial graphite
from coal or mineral oil
Iron mining and metallurgy
Tin dust and fumes Tin mining and
metallurgy

J63.3 Graphite fibrosis


(of lung)

Graphite dust

J63.4 Siderosis
J63.5 Stannosis

Iron dust
Tin dust and fumes

J63.8 Pneumoconiosis
due to other
specified inorganic
dust

E.g. mixed dust


pneumoconiosis

Foundries

Pneumoconiosis
associated with
tuberculosis

Any of the condition in


J60-J64 when complicated
with tuberculosis should be
coded as J65 according
to ICD-10.

See risk occupations/industries of


J60-J63 above

_________________________________________________________________
68
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

J90

Pleural effusion, not


elsewhere classified
(pleurisy with effusion)

Asbestos

Asbestos industries and utilizers


(see J61, previous page)

J92.-

Pleural plaque
J92.0 Pleural plaque
with presence of
asbestos

Asbestos

Asbestos industries and utilizers


(see J61, previous page)

J84.-

Other interstitial
pulmonary disease

Hard metal (cobalt)

Sintering, workers exposed to


dust from sintered metals (e.g.
grinding of hard metal tools)

J84.1 Other interstitial


pulmonary diseases
with fibrosis
J94.-

Other pleural
conditions
J94.8 Other specified
pleural
conditions

Note: In addition to
pneumoconiosis, hardmetal
disease may have other
clinical manifestations:
asthma (J45), rhinitis (J30.3)
Asbestos-related diffuse
pleural thickening

Asbestos industries and utilizers


(see J61, previous page)

Occupational asthma and allergic respiratory diseases


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

J30.3

Other allergic rhinitis

Many of the agents causing


occupational asthma, can
also induce allergic rhinitis of
occupational origin (see J45)

See J45

J45.-

Asthma
J45.0 Predominantly
allergic
asthma
J45.1 Non-allergic
asthma
J45.8 Mixed asthma
J45.9 Asthma,
unspecified

A huge variety of chemical


and biological substances.
Examples:
Isocyanates

Chemical work, spray painting,


polyurethane foam manufacture,
use polyurethanebased adhesives

Flour and grain dusts

Baking, farming

Animal epithelia and


excretions

Laboratory work, farming

Wood dusts

Wood work, carpenters

Plant dusts

Occupations with exposure to


dusts from plants

_________________________________________________________________
69
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

J66.-

J67.-

Airway disease due to


specific
organic dust
J66.0 Byssinosis

Reactive dyes

Textile dyers

Persulfates

Hairdressers

Latex (natural rubber)

Health care work

Cotton, flax, hemp, and


cotton synthetic dusts

Cotton industry workers

J66.1 Flax-dressers

Flax dust

J66.8 Airway disease


due to other specific
organic dust

Organic dusts, like grain


dust, animal derived dusts,
fungi or other microbial dusts

Work with exposure to organic


dusts (e.g. agricultural work)

Hypersensitivity
pneumonitis due to
organic dust

Hypersensitivity pneumonitis
can be due to fungi from
different sources or to other
organic dust.

Work involving exposure to fungi


or fungal spores (see subdivision of
J67 for some of the risk
occupations).

J67.0 Farmers lung


J67.1 Bagassosis
J67.2 Bird fanciers
lung
J67.3 Suberosis
J67.4 Maltworkers
lung
J67.5 Mushroomworkers lung
J67.6 Maple-barkstrippers lung
J67.7 Air-conditioner
and humidifier lung
J67.8 Hypersensitivity
pneumonitis due to
other organic dust

_________________________________________________________________
70
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Toxic and irritative respiratory diseases


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

J68.-

Respiratory conditions due to


inhalation of chemicals,
gases, fumes and vapours

Typical examples:
Chlorine, Ammonia,
Formaldehyde, Cadmium,
Cobalt, Mercury, Ozone,
Sulphur dioxide (sulphuric
acid), Nitrogen oxide,
Phosgene, Acetaldehyde,
Nickel carbonyl, Paraquat

Various occupations for


example in the chemical
industry

J68.0 Bronchitis and


pneumonitis due to
chemicals, gases, fumes and
vapours

J68.1 Acute pulmonary oedema due to chemicals, gases, fumes and vapours
J68.2 Upper respiratory inflammation due to chemicals, gases, fumes and vapours
J68.3 Other acute or subacute respiratory conditions due to chemicals, gases, fumes and
vapours (RADS)
J68.4 Chronic respiratory conditions due to chemicals, gases, fumes and vapours
emphysema, bronchiolitis, fibrosis)
J68.8 Other respiratory conditions due to chemicals, gases, fumes and vapours
J34.-

Other disorders of nose and


nasal sinuses:
J34.8 Other specified
disorders of nose and nasal
sinuses
- nasal ulcer and perforation
of the nasal septum

J04.-

Acute laryngitis and tracheitis

Chromium

Chromium producers, metal


plating, dye/pigment
manufacturing

Arsenic and its compounds

Arsenic mining, copper


smelting,
production and use of arsenic
pesticides, herbicides and
insecticides tanning,
glassmaking

See J68 above

See J68

Diseases of liver (K00-K93)


CODE
DISEASES
AGENT
K71.-

Toxic liver disease

Various chemicals may cause


toxic liver damages.
Examples:
Carbon tetra chloride

OCCUPATION/INDUSTRY

Dry cleaning, occupations with


exposure to carbon tetrachloride
based solvents

Chloroform
Yellow (white) phosphorus

Manufacture of explosives,
rodenticides and fertilizers

_________________________________________________________________
71
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Diseases of the skin and subcutaneous tissue (L00-L99)


CODE

DISEASES

L23.-

Allergic contact dermatitis

L23.0
L23.1
L23.2
L23.3
L23.4
L23.5
L23.6
L23.7
L23.8
L23.9
L24.-

AGENT

Main causative agent


groups:
Antibiotics, Preservatives,
Plants and trees,
... due to metals
Antiseptics, Rubber
... due to adhesives products, Dyes, Glues and
... due to cosmetics bonding agents, Metals
... due to drugs in contact with skin
... due to dyes
... due to other chemical products
... due to food in contact with skin
... due to plants, except food
... due to other agents
Allergic contact dermatitis, unspecified

Irritant contact dermatitis

Main causative agent


groups: Soaps/Detergents,
Solvents, Oils and
lubricants, Petroleum
products, Acids, Alkalies,
Cement, Metal salts,
Slag and glass wool

L24.0 ... due to


detergents
L24.1 ... due to oils and
greases
L24.2 ... due to solvents
L24.3 ... due to cosmetics
L24.4 ... due to drugs in contact with skin
L24.5 ... due to other chemical products
L24.6 ... due to food in contact with skin
L24.7 ... due to plants, except food
L24.8 ... due to other agents
L24.9 Irritant contact dermatitis, unspecified
L25.-

Unspecified contact dermatitis


L25.0
L25.1
L25.2
L25.3
L25.4
L25.5
L25.8
L25.9

L50.-

OCCUPATION/INDUSTRY
Various occupations in the
manufacture and use of each of
the causative agents

Various occupations in the


manufacture and use of each of
the causative agents

As in L23 and L24

... due to cosmetics


... due to drugs in contact with skin
... due to dyes
... due to other chemical products
... due to food in contact with skin
... due to plants except food
... due to other agents
Unspecified contact dermatitis, unspecified cause

Urticaria
L50.6 Contact urticaria

Latex (natural rubber)

Health care work

Food products (flours,


fruits, vegetables, etc.)

Food and food product


manufacture, Agriculture

Animal epithelia etc.

Agriculture
Animal laboratory work

_________________________________________________________________
72
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

L58.-

Radiodermatitis
L58.0 Acute
radiodermatitis
L58.1 Chronic
radiodermatitis

Ionizing radiation

Occupations with exposure to


ionizing radiation from x-ray
machines, nuclear reactors etc.,
work involving isotopes

L70.-

Acne
L70.8 Other acne

Chloracne: Halogenated
aromatic hydrocarbons
(e.g. Polychlorinated
biphenyls, PCBs)

Pesticide and herbicide industries,


work with condensers and
transformers

Other chemical-induced
acne: Asphalt, Creosote,
Oils, Greases, Pitch, Tar

Oil refining, asphalt work

Diseases of the musculoskeletal system and connective tissue (M00-M99)


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

M65.-

Synovitis and
tenosynovitis

Repetitive movements, forceful


exertions and extreme postures
of the wrist. Especially a
combination of these risk factors.

Work involving repetitive


movements, forceful exertions
and extreme postures of the
wrist. E.g. meat, fish and
poultry processing, construction
and carpentry, electronics
assembly, textile work

M70.0 Chronic crepitant


tenosynovitis of hand
and wrist

Repetitive movements, forceful


exertions and extreme postures
of the wrist.Especially a
combination of these risk factors.

Same as above

M70.2 Olecranon
bursitis

Prolonged pressure of the elbow


region

M65.4 Radial styloid


tenosynovitis (de
Quervain)
M70.-

Soft tissue disorders


related to use, overuse
and pressure

M70.4 Prepatellar
bursitis
M77.-

Other enthesopathies
M77.0 Medial
epicondylitis
M77.1 Lateral
epicondylitis

Prolonged stay in kneeling


position

Carpet and floor layers

Repetitive forceful work

Construction workers, such as


wallboard installators, roofers
and masons, meat cutters,
packers, other work involving
repetitive and forceful
movements

_________________________________________________________________
73
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Diseases of the genitourinary system (N00-N99)


CODE

DISEASES

AGENT

OCCUPATION/INDUSTRY

N14.-

Drug and heavy-metalinduced tubulointerstitial


and tubular conditions
N14.3 Nephropathy
induced by heavy Metals

Heavy metals: e.g. cadmium

Dye and pigment manufacture,


manufacture of nickel-cadmium
batteries, electro plating,
plastic industry

N14.4 Toxic
Nephropathy, not
elsewhere classified

Halogenated hydrocarbons: e.g.


carbon tetrachloride,
trichloroethylene

Occupations with exposure


to solvents containing
halogenated hydrocarbons

Symptoms, signs and abnormal clinical and laboratory findings, not elsewhere
classified (R00-R99)
CODE

SYMPTOM OR SIGN

R04.-

Haemorrhage from respiratory passages


R04.0 Epistaxis
R04.2 Heamoptysis

R05

Cough

R06.-

Abnormalities of breathing
R06.0 Dyspnoea
R06.2 Wheezing

R09.-

Other symptoms and signs involving the circulatory and respiratory system
R09.0 Asphyxia
R09.1 Pleurisy

R10.-

Abdominal and pelvic pain


R10.4 Other and unspecified abdominal pain

R11

Nausea and vomiting

R17

Unspecified jaundice

R20.-

Disturbances of skin sensation

_________________________________________________________________
74
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

R20.2 Pareasthesia of skin


R21

Rash or other nonspecific skin eruption

R23.-

Other skin changes


R23.0 Cyanosis
R23.3 Spontaneous ecchymosis
R23.4 Changes in skin texture

R25.

Abnormal involuntary movements


R25.1 Tremor, unspecified
R25.3 Fasciculation
Other lack of coordination
R27.0 Ataxia, unspecified

R27.-

R31

Unspecified haematuria

R34

Anuria and oliguria

R35

Polyuria

R40

Somnolence, stupor and coma

R42

Dizziness and giddiness

R43.-

Disturbances of smell and taste


R43.0 Anosmia
R43.1 Parosmia

R44.-

Other symptoms and signs involving general sensations and perceptions


R44.3 Hallucinations, unspecified

R50.-

Fever of unknown origin


R50.9 Fever, unspecified

R51

Headache

R53

Malaise and fatigue

R55

Syncope and collapse

R68.-

Other general symptoms and signs


R68.8 Other specified general symptoms and signs

R70-R79

Abnormal findings of blood, without diagnosis


See ICD-10 for details

_________________________________________________________________
75
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Injury, poisoning and certain other consequences of external causes


(S00-T98)
CODE
EFFECT
T51.-

Toxic effect of alcohol


T51.0 Ethanol
T51.1 Methanol
T51.2 2-Propanol
T51.3 Fusel oil (amyl-, butyl- and propyl-alcohol)
T51.8 Other alcohols

T52.-

Toxic effect of organic solvents


T52.0 Petroleum products
T52.1 Benzene
T52.2 Homologues of benzene
T52.3 Glycols
T52.4 Ketones
T52.5 Other organic solvents

T53.-

Toxic effect of halogen derivatives of aliphatic and aromatic hydrocarbons


T53.0 Carbon tetrachloride
T53.1 Chloroform
T53.2 Trichloroethylene
T53.3 Tetrachloroethylene
T53.4 Dichloromethane
T53.5 Chlorofluorocarbons
T53.6 Other halogen derivatives of aliphatic hydrocarbons
T53.7 Other halogen derivatives of aromatic hydrocarbons

T54.-

Toxic effect of corrosive substances


T54.0 Phenol and phenol homologues
T54.1 Other corrosive organic compounds
T54.2 Corrosive acids and acid-like substances
T54.3 Corrosive alkalis and alkali-like substances

T55

Toxic effect of soaps and detergents

T56.-

Toxic effect of metals


T56.0 Lead and its compounds
T56.1 Mercury and its compounds
T56.2 Chromium and its compounds
T56.3 Cadmium and its compounds
T56.4 Copper and its compounds
T56.5 Zinc and its compounds
T56.6 Tin and its compounds
T56.7 Beryllium and its compounds
T56.8 Other metals

T57.-

Toxic effect of other inorganic substances


T57.0 Arsenic and its compounds

_________________________________________________________________
76
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

T57.1
T57.2
T57.3
T57.8

Phosphorus and its compounds


Manganese and its compounds
Hydrogen cyanide
Other specified inorganic substances

T58

Toxic effect of carbon monoxide

T59.-

Toxic effect of other gases, fumes and vapours


T59.0 Nitrogen oxides
T59.1 Sulfur dioxide
T59.2 Formaldehyde
T59.3 Lacrimogenic gas
T59.4 Chlorine gas
T59.5 Fluorine gas and hydrogen fluoride
T59.6 Hydrogen sulphide
T59.7 Carbon dioxide
T59.8 Other specified gases, fumes and vapours

T60.-

Toxic effect of pesticides


T60.0 Organophosphate and carbamate insecticides
T60.1 Halogenated insecticides
T60.2 Other insecticides
T60.3 Herbicides and fungicides
T60.4 Rodenticides
T60.8 Other pesticides

T65.-

Toxic effect of other and unspecified substances


T65.0 Cyanides
T65.1 Strychnine and its salts
T65.2 Tobacco and nicotine
T65.3 Nitroderivatives and aminoderivatives of benzene and its homologues
T65.4 Carbon disulphide
T65.5 Nitroglycerin and other nitric acids and esters
T65.6 Paints and dyes, not elsewhere classified
T65.7 Toxic effect of other specific substances

T66

Unspecified effects of radiation

T67.-

Effects of heat and light

T68

Hypothermia

T69

Other effects of reduced temperature

T70

Effects of air pressure and water pressure

T71

Asphyxiation

_________________________________________________________________
77
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

T73.-

Effects of other deprivation


T73.2 Exhaustion due to exposure
T73.3 Exhaustion due to excessive exertion

T75.-

Effects of other external causes


T75.2 Effects of vibration
T75.4 Effects of electric current

T78.-

Adverse effects, not elsewhere classified


T78.2 Anaphylactic shock, unspecified
T78.4 Allergy, unspecified

External causes of morbidity and mortality (V01-Y9)


CODE

EXTERNAL CAUSE

W42

Exposure to noise

W43

Exposure to vibration

W88

Exposure to ionizing radiation

W89

Exposure to man-made visible and ultraviolet light

W90

Exposure to other nonionizing radiation

W91

Exposure to unspecified type of radiation

X45

Accidental poisoning by and exposure to alcohol

X46

Accidental poisoning by and exposure to organic solvents and halogenated hydrocarbons and
their vapours

X47

Accidental poisoning by and exposure to other gases and vapour

X48

Accidental poisoning by and exposure to pesticides

X49

Accidental poisoning by and exposure to other and unspecified chemicals and noxious
substances

X50

Overexertion and strenuous or repetitive movements

Y96

Work-related condition

_________________________________________________________________
78
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010

Factors influencing health status and contact with health services (Z00-Z99)
CODE

FACTOR

NOTES

Z02.-

Examination and encounter for administrative purposes


Z02.1 pre-employment examination

Note: excludes Z10.0

Z03.-

Medical observation and evaluation for suspected diseases and


conditions. See ICD-10 for subcategories

Z04.-

Examination and observation for other reasons


Z04.2 Examination and observation following work accident
Z04.8 Examination and observation for other specified purposes

Z10.-

Routine general health check-up of defined sub-population


Z10.0 Occupational health examination

Note: excludes Z02.1

Z57.-

Occupational exposure to risk factors


Z57.0 Occupational exposure to noise
Z57.1 Occupational exposure to radiation
Z57.2 Occupational exposure to dust
Z57.3 Occupational exposure to other air contaminants
Z57.4 Occupational exposure to toxic agents in agriculture
Z57.5 Occupational exposure to toxic agents in industry
Z57.6 Occupational exposure to extreme temperature
Z57.7 Occupational exposure to vibration
Z57.8 Occupational exposure to other risk-factors
Z57.9 Occupational exposure to unspecified risk-factor

These codes should be


used when the reason to
contact health personnel
was an occupational
exposure, but no disease
or adverse health effects
could be verified after the
examinations

Z71.-

Persons encountering health services for other counselling and


medical advice, not elsewhere classified
Z71.8 Other specified counselling

Counselling for
occupational health
purposes

oooooOOOooooo

Kepustakaan :
WHO - International Statistical Classification Of Diseases and Related Health
Problems (ICD-10) In Occupational Health.

_________________________________________________________________
79
BukupeganganuntukPBLPenyakitAkibatKerjaFKKUMJ2010