Anda di halaman 1dari 23

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TERPADU

1.

Pembelajaran Terpadu Model Connected


a. Pengertian
Fogarty (dalam Prabowo, 2000), mengemukakan model integrasi inter bidang studi. Dengan kata

lain, bahwa pembelajaran terpadu tipe connected adalah pembelajaran yang dilakukan dengan mengaitkan
satu pokok bahasan berikutnya, mengaitkan satu konsep dengan konsep yang lain, mengaitkan satu
keterampilan dengan keterampilan yang lain, dan dapat juga mengaitkan pekerjaan hari itu dengan hari yang
lain atau hari berikutnya dalam satu bidang studi (Hadisubroto: 2000).
Pembelajaran terpadu model connected adalah model pembelajaran yang meng-hubungkan satu
konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas
dilakukan pada satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari
pada satu semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi (Tim
Pengembang PGSD, 1997: 14).
Model Connected (terhubung) menekankan pada perlu adanya integrasi inter bidang studi itu sendiri.
Selain itu, model terhubung juga secara nyata menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu topik
dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan
tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, serta ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan semester
berikutnya. Hal ini terkait dengan upaya menghindari terjadinya penjejalan kurikulum dalam proses
pembelajaran, sebagai akibat dari mengejar target kurikulum.
Dalam model Pembelajaran connected, makna terhubung tidak diartikan menghubungkan beberapa
disiplin ilmu yang memiliki karakteristik yang mirip. Tiap-tiap disiplin ilmu tetap berada pada posisinya
masing-masing. Makna terhubung dimaksudkan untuk menghubungkan materi-materi dalam satu disiplin
ilmu. Dengan menggunakan model connected, dimungkinkan materi-materi yang memiliki keterkaitan dapat
dipadukan menjadi satu aktivitas pembelajaran sehingga materi dapat mudah dikuasai siswa dan tidak
terpecah-pecah. Dengan model connected, dimungkinkan siswa akan mampu menuangkan ide-ide, gagasan,
dan keterampilannya sehingga sangat dimungkinkan antar tema, materi, bab, maupun keterampilan dapat
saling terpadu menjadi satu kesatuan pemahaman yang utuh.
Pembelajaran terpadu dengan menggunakan metode conected menuntut pemahaman dan kreatifitas
guru dan siswa dalam menuangkan ide-ide ke dalam suatu pembelajaran yang efektif. Dalam hal ini, fokus
utama tetap berada pada siswa (student oriented) sebagai pelaku utama pembelajaran. Guru dapat mengajak
siswa bermusyawarah dalam menentukan materi-materi yang sekiranya memiliki keterkaitan untuk
dipadukan dalam suatu aktifitas belajar mengajar. Selanjutnya guru membuat rencana pembelajaran yang
mengakomodir materi-materi secara terintegrasi dengan tetap mengacu pada standar kompetensi dan
kompetensi dasar.

4
B

F
K

Gambar 3.3. Diagram peta connected (diadaptasi dari fogarty (1991:14)


b. Keunggulan dan Kelemahan

Keunggulan pembelajaran terpadu tipe connected (fogarty, 1991: 15) antara lain sebagai berikut:

1) Dengan pengintegrasian ide-ide inter bidang studi,maka siswa mempunyai gambaran yang luas
sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu.
2) Siswa dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus-menerus, sehingga terjadilah proses
internalisasi.
3) Mengintegrasikan

ide-ide

dalam

inter

bidang

studi

memungkinkan

siswa

mengkaji,

mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide dalam memecahkan masalah.

Kelemahan pembelajaran terpadu tipe connected (fogarty, 1991: 15) antara lain sebagai berikut:

1) Masih kelihatan terpisahnya inter bidang studi.


2) Tidak memdorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi pelajaran tetap terfokus tanpa
merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi.
3) Dalam memadukan ide-ide pada satu bidang studi, maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan
antar bidang studi menjadi terabaikan.
c. Implementasi pembelajaran terpadu tipe connected dalam proses belajar mengajar
Model connected pada dasarnya menghubungkan topik-topik dalam satu disiplin ilmu. Konsepkonsep yang saling terhubung tersebut mengarah pada pengulangan (review), rekonseptualisasi, dan
asimilasi gagasan-gagasan dalam suatu disiplin ilmu. Dalam model connected, hubungan antar disiplin ilmu
tidak berkaitan, content tetap focus pada satu disiplin ilmu.
Dalam proses belajar mengajar, model connected digunakan untuk menghubungkan beberapa materi
atau kompetensi tertentu yang memiliki karakteristik yang saling terkait dengan tetap berpedoman pasa
standar kompetensi dan kompetensi dasar. Adapun cara menghubungkan materi-materi yang saling terkait

tersebut ialah dengan membuat jembatan pengetahuan. Jembatan pengetahuan dapat berupa wacana,
berita, diskusi, alat peraga dan lain-lain yang dianggap mampu mengantarkan pemahaman siswa dari materi
satu ke materi brikutnya. Materi-materi yang tidak memiliki keterkaitan tidak bisa dipaksakan untuk
dihubungkan. Jika dipaksakan, dimungkinkan siswa akan semakin bingung dalam merekonstruksi
pengetahuan.

Sintaks (pola urutan) dari model pembelajaran terpadu tipe connected (terhubung) menurut Prabowo
(2000:11 14) sebagai berikut :

1) Tahap Perencanaan :
a) menentukan tujuan pembelajaran umum
b) menentukan tujuan pembelajaran khusus
2) Langkah-langkah yang ditempuh oleh guru :
a) menyampaikan konsep pendukung yang harus dikuasai siswa (materi prasyarat)
b) menyampaikan konsep-konsep yang hendak dikuasai oleh siswa
c) menyampaikan keterampilan proses yang dapat dikembangkan
d) menyampaikan alat dan bahan yang akan digunakan / dibutuhkan
e) menyampaikan pertanyaan kunci
3) Tahap Pelaksanaan, meliputi :
a) pengelolaan kelas; dengan membagi kelas kedalam beberapa kelompok
b) kegiatan proses
c) kegiatan pencatatan data
d) diskusi secara klasikal
4) Evaluasi, meliputi :
a) evaluasi proses , berupa :
ketepatan hasil pengamatan
ketepatan dalam penyusunan alat dan bahan
ketepatan siswa saat menganalisis data
b) evaluasi produk :
Penguasaan siswa terhadap konsep-konsep / materi sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus yang
telah ditetapkan.
c) evaluasi psikomotor :
Kemampuan penguasaan siswa terhadap penggunaan alat ukur.

2.

Pembelajaran Terpadu Model Webbed


a. Pengertian
Pembelajaran terpadu model webbed adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan

tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu. Tema bisa ditetapkan
dengan negosiasi antara guru dan siswa, tetapi dapat pula dengan cara diskusi sesame guru. Setelah tema
tersebut disepakati, dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitannya dengan bidangbidang studi. Dari sub-sub tema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa.

Change as it
relates to
algebraic
equations:
Rations
Graphs
statistics

Change in
USA
industrial
revolution
literature:
Novels
Short stories
poetry

Change in
value through
the age:
Moral
Family
School
business

Fine arts

Mathemati
cs

Language
arts

CHANGE

Health

Gambar 3.4. Diagram peta Webbed

Social
studies

Change as it
relates fine art
arcas:
Art forms
Music
Dance
technology

Change as it
relates to the
industrial
industrial
revolution
Inventions
Working
Condition
populations

science
Change as it
relates to
animals
adapting to
their
anviroment
over a
periode of
time:
Habitats
Eating pattern

Model webbed merupakan model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai dasar
pembelajaran. Model pembelajaran ini memadukan multi disiplin ilmu atau berbagai mata pelajaran yang
diikat oleh satu tema (Robin F.1991). Pada dasarnya menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini
pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu. Tema yang ditetapkan dapat dipilih antara
guru dengan siswa atau sesama guru atau siswa sendiri. Setelah tema telah disepakati maka dilanjutkan
dengan pemilihan sub-sub tema dengan memperhatikan kaitannya dengan matapelajaran yang lain.
Dari sub-sub tema ini direncanakan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa. keuntungan dari
model pembelajaran terpadu ini bagi siswa adalah diperolehnya pandangan hubungan yang utuh tentang
kegiatan dari ilmu-ilmu yang berbeda. Contoh: Siswa dan guru memnentukan tema misalnya air, maka guru-

guru matapelajaran dapat mengajarkan tema air itu ke dalam sub-sub tema misalnya siklus air, kincir angin,
air waduk, air sungai, bisnis air dari PDAM yang tergabung dalam matapelajaran matematika, IPS, IPA.
Kurikulum Webbed yang mewakili pendekatan tematik adalah pendekatan subjek. Secara khusus
pendekatan tematik ini untuk pengembangan kurikulum dimulai dengan satu tema seperti transportasi atau
penemuan-penemuan. Satu team department yang berseberangan telah membuat keputusan ini,
menggunakan tema tersebut sebagai satu lapisan untuk subjek yang berbeda; penemuan memimpin satu
studi mesin yang simple dalam bidang ilmu pengetahuan, bacaan dan penulisan tentang para penemu dalam
seni bahasa, rancangan dan model bangunan dalam industri seni, lukisan dan pembelajaran Rube Goldberg
kontrapsi dalam Matematika, pembuatan kartu flow dalam kelas teknologi computer. Dalam jaringan yang
lebih rumit, unit pembelajaran yang berbelit-belit dapat dikembangkan dalam integrasi yang terjadi dalam
semua daerah yang sesuai.
Di situasi yang berhubungan dengan departmen, pendekatan kurikulum webbed untuk
pengintegrasian sering menerima melalui penggunaan satu generic yang adil tapi tema yang subur seperti
pola atau lingkaran. Konsep tema ini menyediakan kemungkinan yang kaya untuk dapat melekat dalam
penyebaran berbagai disiplin. Konsep tema yang sama seperti pola atau konflik menyediakan kesuburan
tanah bagi penyeberangan-berbagai disiplin ilmu, model dasar dapat juga menggunakan satu buku atau satu
jenis buku sebagai topik, untuk secara tematik menggorganisasikan kurikulum mereka. Sebagai contoh,
cerita rakyat atau dog stories (cerita anjing) dapat menjadi katalisis untuk kurikulum webbed.
Ketika mencari sebuah tema, team guru biasanya memulai dengan perolehan ide yang seperti
interaksi yang sungguh-sungguh, percakapan, dan dialog dengan seluruh rekan: Bagaimana dengan yang
ini? Bagaimana menurut kamu tentang ini? Mari kita membuat brainstorm (kerangka) satu daftar
panjang. Saya tidak ingin menggunakan yang pertama kali kita pikirkan harus dilakukan. Mungkin kita
harus bertanya pada anak-anak untuk ide mereka. Saya mempunyai beberapa daftar dari tema ide-ide dari
satu workshop. Yeah, tapi kita harus melihat daftar tersebut dengan seksama dan membandingkannya
dengan beberapa criteria. Saya mempunyai kriteria disini. Dan juga berjalan karena mereka menggali
kemungkinan dan merancang arahan untuk pencapaian satu keputusan.
Pembelajaran ini akan terjadi antara lain jika kejadian yang wajar/eksplorasi suatu topik
merupakan inti dalam pengembangan kurikulum. Dengan berperan aktif dalam eksplorasi
tersebut siswa akan mempelajari materi ajar dan proses melalui bidang studi dalam waktu
bersamaan. Dalam model pembelajaran ini guru memilih tema yang sama atau hampir sama
dari beberapa standar kompetensi dengan lintas mata pelajaran atau pada bidang studi yang
berbeda. Misal PKN dengan IPS, IPA, Matematika, Seni dan Bahasa Indonesia. Lebih jelasnya
silakan memperhatikan contoh Webbed di bawah ini.

Matematik
Garis biliangan
BI
Menceritakan pengalaman yg menyenangkan
PKN

Mengenal makna satu nusa satu bangsa dan bahasa


IPS
kerja sama di lingkungan rumah rumah
IPA
Ciri mahluk hidup dan tak hidup
Tema Pengalaman
Bagan model pembelajaran terpadu webbed
b. Langkah-langkah dalam model pembelajaran jaring laba-laba sebagai berikut :
Pada model ini guru menyajikan pembelajaran dengan tema dan sub tema yang disepakati dan
dihubungkan dengan antar pelajaran. Sehingga siswa memperoleh pandangan hubungan yang utuh tentang
kegiatan dari mata pelajaran yang berbeda-beda. Menurut Tisno (1998) dalam pembelajaran terpadu model
webbed, pelajaran dimulai dari suatu tema. Tema diramu dari pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok
bahasan dari beberapa mata pelajaran yang dijabarkan dalam konsep, ketrampilan atau kemampuan yang
dikembangkan dan didasarkan atas situasi dan kondisi kelas/sekolah/guru dan lingkungan.

1)

Langkah-langkah yang ditempuh dalam model pembelajaran jaring laba-laba sebagai berikut :
Guru menyiapkan tema utama dan tema lain yang telah dipilih dari beberapa standar kompetensi
lintas mata pelajaran/bidang Studi.

2)

Guru menyiapkan tema-tema yang telah terpilih, misalnya tema matematika, kesenian, bahasa dan
IPS yang sesuai dengan tema utama yang telah ditetapkan.

3)

Guru menjelaskan tema-tema yang terkait sehingga materinya lebih luas.

4)

Guru memilih konsep atau informasi yang bisa mendorong belajar siswa dengan pertimbangan lain
yang memang sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran terpadu.

Pada dasarnya pembelajaran terpadu model Webbed mengikuti tahap-tahap yang dilakukan dalam setiap
pembelajaran terpadu yang meliputi 3 tahap yang dapat dilihat dalam tabel berikut:

Perencanaan
1. Penjajagan

Pelaksanaan
tema

Kulmulasi

(curah

pendapat)
2. Penetapan

tema

(analisis+sintesis)
3. Pengembangan

sub-tema

(analisis+sintesis,
pembagian tugas)
4. Penetapan kegiatan/kontrak
belajar
a. Pengumpulan informasi
(kelompok,

individual;

membaca

sumber,

wawancara dengan nara


sumber,

pengamatan

lapangan,
eksperimentasi)
b. Pengolahan

informasi

(analisis,

komparasi,

sintesis)
c. Penyusunan

laporan

(verbal, grafis, model)


d. Penyajian
(tertulis,

laporan
lisan,

unjuk

kerja;

individual,

kelompok,

presentasi,

dll)
e. Penilaian

(proses,

produk)
c. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan dari model jaring laba-laba (webbed), meliputi:

1) Penyeleksian tema sesuai dengan minat akan memotivasi anak untuk belajar.
2) Lebih mudah dilakukan oleh guru yang belum berpengalaman.
3) Memudahkan dalam perencanaan.
4) Pendekatan tematik dapat memotivasi siswa.

5) Memberikan kemudahan bagi anak didik dalam melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang
terkait.

Kekurangan dari model jarring laba-laba (webbed), meliputi:

1) Sulit dalam menyeleksi tema.


2) Cenderung untuk merumuskan tema yang dangkal.
3) Dalam pembelajaran, guru lebih memusatkan perhatian pada kegiatan dari pada pengembangan konsep.
d. Kapan model webbed ini bermanfaat?
Model webbed untuk penyatuan kurikulum adalah satu pendekatan team yang memerlukan waktu
untuk berkembang. Waktu penulisan kurikulum adalah satu kesempatan untuk meniru model ini sehingga
para guru dapat sepenuhnya mengeksplor tema-tema pilihan dan merancang kriteria sebagai kualitas. Model
ini memerlukan perencanaan yang ekstensif (terus menerus) dan koordinasi dari seluruh berbagai sekolah.
model ini yang sangat bagus untuk digunakan ketika percobaan dua hingga empat minggu unit percobaan
antar cabang ilmu pengetahuan. Dikarenakan kehebatan perencanaan memerlukan untuk melakukan model
ini dengan baik, disarankan untuk memulai dengan satu kurikulum yang dapat diatur.
e. Implementasi model pembelajaran terpadu model webbed pada mata pelajaran IPS, PKN,
Bahasa Indonesia dan Matematika di kelas I Sekolah Dasar dengan tema Diri Sendiri
Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu tergantung pada rencana yang dibuat dengan
memperhatikan kondisi potensi yang dimiliki siswa. Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam
mengimplementasikan pembelajaran terpadu model webbed adalah sebagai berikut:

Tahap Perencanaan Pembelajaran

Beberapa langkah perencanaan pembelajaran terpadu model webbed yang perlu diperhatikan adalah: (1)
Pemetaan Kompetensi Dasar, (2) Penetuan tema, (3) Penjabaran kompetensi dasar ke dalam indikator sesuai
dengan tema, (4) Pengembangan Silabus, (5) Penyusunan Rencana Pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan
langkah-langkah tersebut diatas, maka implementasi terhadap perencanaan pembelajaran terpadu model
webbed pada mata pelajaran IPS, PKn, Bahasa Indonesia dan Matematika kelas I SD sebagai berikut:
(1) Pemetaan Kompetensi Dasar
Pada langkah pertama ini, kegiatan yang perlu dilakukan antara lain:
a)

Mengidentifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS, PKN, Bahasa
Indonesia dan Matematika yang dapat dipadukan pada tingkat kelas yang sama. Kegiatan ini dilakukan
untukmemperoleh ganbaran yang utuh dan menyeluruh dari mata pelajaran yang akan dipadukan

b)

Menentukan tema pengikat antara Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Tabel 1 : Penjabaran Standar kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas I semester 1 Sekolah Dasar
Mata

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Pelajaran
1. Bilangan

1.1 Membilang banyak benda

Melakukan Penjumlahan dan pengurangan

Matematika

bilangan sampai 20
1. Geometri dan pengukuran

2.1 Menentukan waktu (pagi, siang, malam),

Menggunakan pengukuran waktu dan panjang (hari, jam)


2.2 Mengelompokkan berbagai bangun ruang
sederhana (balok, prisma, tabung, bola dan
kerucut)
1. Memahami identitas diri dan keluarga, 1.1 Mengidentifikasi identitas diri, keluarga

IPS

serta sikap saling menghormati dalamdan kerabat


kemajemukan keluarga
1. Mengenal diri sendiri, agama dan suku 1.1 Menjelaskan perbedaan jenis kelamin,

PKn

bangsa
1. Mendengarkan

agama dan suku bangsa


1.1 Membedakan bunyi bahasa

Memahami bunyi bahasa, perintah dogeng


yang dilisankan
1. Berbicara
Mengungkapkan

2.1
pikiran,

perasaan

Memperkenalkan diri sendiri dengan

dankalimat sederhana dan berbahasa yang santun.

informasi secara lisan dengan perkenalan dan


Bahasa
Indonesia

tegur sapa, pengenalan benda dan fungsi


anggota tubuh
1. Membaca

3.1 Membaca nyaring suku kata dan kata

Memahami teks pendek dengan membacadengan lafal yang tepat


nyaring
1. Menulis
Menulis

4.1 Menjiplak berbagai bentuk gambar,

permulaan

dengan

menjiplak,lingkaran dan bentuk huruf

menebalkan, mencontoh, melengkapi, dan


menyalin
Berdasarkan pemetaan kompetensi mata pelajaran diatas, maka kompetensi dasar yang akan
dipadukan pada mata pelajaran PKn, IPS, Matematika dan Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
Tabel 2 : Pemetaan Kompetensi Dasar yang dipadukan pada mata pelajaran PKn, IPS, Matematika dan
Bahasa Indonesia
Matematika
IPS
1.1
Membilang 1.1
banyak benda

PKn
Mengidentifikasi 1.1

Bahasa Indonesia
Menjelaskan2.1
Memperkenalkan

identitas diri, keluarga danperbedaan jenis kelamin,sendiri


kerabat

dengan

diri

kalimat

agama dan suku bangsa sederhana dan bahasa yang

santun.
(2) Penentuan Tema
Setelah pemetaan Kompetensi Dasar, langkag berikutnya adalah pemetaan tema. Dalam menentukan
tema harus relevan dengan kompetensi dasar yang telah dipetakan. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam menentukan tema:
a)

Tema merupakan perekat antar Kompetensi Dasar.

b)

Tema selain relevan dengan Kompetensi Dasar, sebaiknya juga relevan dengan pengalaman pribadi
siswa dalam arti sesuai dengan keadaan lingkungan setempat.

c)

Dalam menentukan tema isu sentral yang sedang berkembang saat ini dapat menjadi prioritas yang
dipilih dengan tidak menngabaikan keterkaitan antar Kompetensi Dasar yang dipetakan.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas dan memperhatikan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS,

PKn, Matematika dan Bahasa Indonesia maka tema yang akan digunakan dalam pembelajaran bertemakan
Diri Sendiri dengan sub tema Identitas Diri karena menjadi perekat antar Kompetensi Dasar.
(3) Penjabaran Kompetensi Dasar dalam Indikator
Mata Pelajaran
Matematika

Standar Kompetensi
1. Bilangan

Kompetensi Dasar
Indikator
1.1 Membilang banyak 1.1.1 Membilang

Melakukan Penjumlahan danbenda

atau

menghitung secara urut

pengurangan bilangan sampai 20


1.1.2 Menyebutkan banyak
benda
1.1.3 Membandingkan dua
kumpulan benda melalui
istilah lebih banyak, lebih
IPS

1. Memahami identitas diri1.1Mengidentifikasi

sedikit atau sama banyak


1.1.1 Menyebutkan nama

dan keluarga, serta sikapidentitas diri, keluarga danlengkap


saling menghormati dalamkerabat

panggilan
1.1.2

kemajemukan keluarga

dan

nama

Menyebutkan

alamat tempat tinggal


1.1.3 Menyebutkan nama
ayah, ibu dan saudara dan
Bahasa Indonesia

wali
2.1 Memperkenalkan diri2.1.1

1. Berbicara

Mengungkapkan pikiran, perasaansendiri

dengan

Menyebutkan

data

kalimatdiri (nama, kelas, sekolah,

dan informasi secara lisan dengansederhana dan bahasa yangdan tempat tinggal) dengan
perkenalan

dan

tegur

sapa,santun.

pengenalan benda dan fungsi

kalimat sederhana

anggota tubuh
PKn

1. Mengenal diri sendiri, agama


dan suku bangsa

1.1

Menjelaskan

1.1.1

Menyebutkan

perbedaan jenis kelamin,berdasarkan jenis kelamin


agama dan suku bangsa

anggota keluarga

G. GAMBAR MODEL PEMBELAJARAN TERPADU MODEL WEBBED UNTUK KELAS I SD


TEMA DIRI SENDIRI Dengan diagram sebagai berikut:
Matematika
- Membilang atau Menghitung secara urut.
- Menyebutkan banyak benda.
PKN
- Menyebutkan jenis kelamin anggota keluarga
- Menyebutkan jenis kelamin teman sebangku
Bahasa Indonesia
- Berbicara:
- Menyebutkan identitas diri dengan kalimat sederhana dengan bahasa yang santun.
- Menanyakan data diri, orang tua,saudara dan teman sekelas.
IPS
- Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan.
- Menyebutkan alamat tempat tinggal.
- Menyebutkan nama ibu, ayah dan saudara
Tema: Diri sendiri
Keterangan
Diagram yang menggambarkan pembelajaran terpadu model webbed dijelaskan antar bidang studi
matematika, IPS, PKN dan Bahasa Indonesia dengan tema Diri Sendiri sub tema Identitas Diri

3.

Pembelajaran Terpadu Tipe Integreted


a. Pengertian
Model ini merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi.

Pembelajaran terpadu tipe integrated (keterpaduan) adalah tipe pembelajaran terpadu yang menggunakan
pendekatan antar bidang studi, menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikulum
dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih dalam beberapa bidang studi
(fogarty, 1991: 76).
Matematika

Sains

Perusahaan
Penemuan-penemuan:
Keuntungan/kerugian
Bols lsmpu, tetepon
Surat isian pajak Permintaan & phonogrsph, morse
Pengupahan
penawaran
listrik, pengungkit
Pasar modal
katrol, Derek,
menciptakan hal
baru / asli, kerja
menabung rencana
Kreativitas: keahlian
menemukan
sesuatu
yang baru
Analisis
Penemua
(masyarakat
&
Riset:
nPencatatan hasil-hasil) melalui
penemua
penelitian dan data
Penemu:
Koreksi
Bell
Hasul percobaan
Edison
Analisis:
Pengaruh
Tema, cirri-ciri
kuatTelepon
khusus, pengaturanriset
Perusahaan
rencana,
bebas
perselisihan
perampokan
baron
Bahasa san
Seni

Ilmu Sosial

Perencanaan pebelajaran pada hakikatnya adalah rangkaian isi dan kebutuhan pembelajaran yang
bersipat menyeluruh dan sistematis yang digunakan sebagai pedoman dari guru dalam mengelola proses
pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran terpadu sangat ditentukan oleh seberapa jauh pembelajaran
terpadu itu direncanakan dan dikemas sesuai dengan kondisi peserta didik seperti minat, bakat, kebutuhan
dan kemampuan peserta didik.
Model ini merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi,
Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler
dan menemukan keterampilan, konsep, dan sikap yang saling tumpang tindih di dalam beberapa bidang
studi. Pada model ini tema yang berkaitan dan tumpang tindih merupakan hal terakhir yang ingin dicari dan

dipilih oleh guru dalam tahap perencanaan program. Pertama kali guru menyeleksi konsep-konsep,
keterampilan dan sikap yang diajarkan dalam satu semester dari beberapa bidang studi, selanjutnya dipilih
beberapa konsep, keterampilan, dan sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di
antara berbagai bidang studi.
Pembelajaran terpadu tipe integrated (keterpaduan) adalah tipe pembelajaran terpadu yang
menggunakan pendekatan antarbidang studi, menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas
kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih dalam beberapa
bidang studi (Fogarty, 1991: 76), Pada tipe ini tema yang berkaitan dan saling tumpang tindih merupakan hal
terakhir yang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam tahap perencanaan program.
Pada tahap awal guru hendaknya membentuk tim antar bidang studi untuk menyeleksi konsep-konsep,
keterampiian-keterarnpilan, dan sikap-sikap yang akan dibelajarkan dalam satu semester tertentu untuk
beberapa bidang studi, Langkah berikutnya dipilih beberapa konsep, keterampilan, dan sikap yang
mernpunyai keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di antara beberapa bidang studi. Bidang studi yang
diintegrasikan misal matematika, sains (fisika), seni dan bahasa, dan pelajaran sosial.
Fokus pengintegrasian pada sejumlah keterampilan belajar yang ingin dilatihkan oleh seorang guru
kepada siswanya dalam suatu unit pembelajaran untuk ketercapaian materi pelajaran (content).
Keterampilan-keterampilan belajar itu menurut Fogarty (1991: 77), meliputi keterampilan berpikir (thinking
skill), keterampilan sosial (social skill), dan keterampilan mengorganisir (organizing skill).

b. Langkah-langkah pembelajaran terpadu


-

Memberi
Menentukan

tanda

PB/SPB

jenis

mata

yang

dipadukan

pelajaran

dan
yang

menghubungkannya
akan

dipadukan

Menyusun daftar PB/SPB mata pelajaran yang dipaduklan


-

Membaca dan mengkaji uraian PB/SPB

Menentukan tema pemersatu

Penguraian lanjut PB/SPB yang dipadukan

Membuat satuan pembelajaran/rencana masing-masing mata pelajaran


c. Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Model Integreted

Untuk model keterpaduan maka proses pembelajaran terpadunya dapat dikemukakan dalam tabel berikut:

Perencanaan

Pelaksanaan

Kulminasi

Peta konsep berbagai bidang studi

Konsep-konsep berhubungan

Rancangan aktivitas belajar

Pelaksanaan tugas

Analisis hasil

Penyusunan laporan

Penyajian laporan

Evaluasi
Adapun langkah dan tahapan dalam pembelajaran terpadu model integreted yaitu:

a) Langkah guru merancang program rencana pembelajaran dengan mengadakan penjajakan tema dengan
cara curah pendapat (brain stroming).
b) Tahap pelaksanaan melakukan kegiatan:
(1) Proses prengumpulan informasi.
(2) Pengelolaan informasi dengan cara analisis komparasi dan sintesis.
(3) Penyusunan laporan, dapat dilakukan dengan cara verbal, gravisi, victorial, audio, gerak dan
model.
c) Tahap kulmunasi dilakukan dengan:
(1) Penyajian laporan (tertulius, oral, unjuk kerja, produk).
(2) Penilaian meliputi proses dan produk dengan menggunakan prosedur formal dan informal dengan
tekanan pada penilaian produk.
Model ini merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi, yaitu
dengan cara menggabungakan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan
keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih didalam beberapa bidang studi.
d. Kelebihan dan Kelemahan
Tipe integrated (keterpaduan) memiiiki kelebihan, yaitu (1) adanya kemungkinan pemahaman antar bidang
studi, karena dengan memfokuskan pada isi pelajaran, strategi berpikir, keterampilan sosial dan ide-ide
penemuan lain, satu pelajaran dapat mencakup banyak dimensi, sehingga siswa, pembelajaran menjadi
semakin diperkaya dan berkembang, (2) memotivasi siswa dalam belajar;
(3) tipe terintegrasi juga memberikan perhatian pada berbagai bidang yang penting dalarn satu saat, tipe ini
tidak memerlukan penambahan waktu untuk bekerja dengan guru lain. Dalam tipe ini, guru tidak perlu
megulang kembali materi yang turnpang tindih, sehingga tercapailah efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
Kekurangan tipe integrated antara lain; (1) terletak pada guru, yaitu guru harus menguasai konsep, sikap,
dan keterampilan yang diperioritaskan, (2) penerapannya, yaitu sulitnya menerapkan tipe ini secara penuh,

(3) tipe ini memeriukan tim antar bidang studi, baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya, (4)
pengintegrasian kurikulurn dengan konsep-konsep dari masing-masing bidang studi menuntut adanya
sumber belajar yang beraneka ragam

Skenario Pembelajaran Terpadu Model Integrated


Materi : Kenampakan Alam
Mata pelajaran : IPA, IPS, Bahasa Indonesia, SBK
Kelas : IV
Semester :
Waktu :
Kegiatan pembelajaran
1. Persiapan
a. Pada awal pembelajaran diawali dengan kegiatan curah pendapat (brain storming) antara
siswa dengan guru mengenai topik/tema yang akan dibahas, misalnya tentang kenampakan
alam.
b. Mengadakan kesepakatan dengan siswa untuk membahas topik/tema
c. Mendorong siswa/murid untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran melalui hal-hal yang
berhubungan dengan kenampakan alam
2. Pelaksanaan
a. Curah pendapat mengenai kenampakan alam yang ada di lingkungan siswa.
b. Siswa menyebutkan contoh-contoh kenampakan alam yang ada disekitar siswa/lingkungan
siswa.
c. Siswa mengamati dilingkungan sekitar, kemudian siswa mencatat/membuat laporan kecil
mengenai kenampakan alam yang ada di lingkungan sekitar yang dijumpai siswa.
d. Siswa membuat laporan/tulisan mengenai kenampakan alam yang diamatinya.
e. Siswa menggambarkan berbagai kenampakan alam yang mereka amati.
3. Tahap kulmunasi /penilaian
a. Penyajian laporan secara tertulius, oral, unjuk kerja maupun produk.
b. Penilaian meliputi proses dan produk dengan menggunakan prosedur formal
d. Kelebihan dan Kekurangan

Tipe integrated (keterpaduan) memiliki kelebihan yaitu:


1) Adanya kemungkinan pemahaman anatar bidang studi, karena dengan memfokuskan pada sisi
pelajaran, strategi berpikir, keterampilan social dan ide-ide penemuan lain, satu pelajaran dapat
mencakup banyak dimensi, sehingga siswa dalam pembelajaran menjadi semakin diperkaya dan
berkembang.
2) Memotivasi siswa dalam belajar.
3) Tipe terintegrasi juga memberikan perhatian pada berbagai bidang yang penting dalam satu saat,
tipe ini tidak memerlukan penambahan waktu untuk bekerja dengan guru lain. Dalam tipe ini,
guru tidak perlu mengulang kembali materi yang tumpang tindih, sehingga tercapailah efisiensi
dan efektifitas pembelajaran.

Tipe integrated (keterpaduan) memiliki kekurangan yaitu:


1) Terletak pada guru, yaitu guru harus menguasai konsep, sikap, dan keterampilan yang
diperioritaskan.
2) Penerapannya, yaitu sulitnya menerapkan tipe ini secara penuh.
3) Tipe ini memerlukan tim antar bidang studi, baik dalam perencanaannya maupun
pelaksanaannya.
4) Pengintegrasian kurikulum dengan konsep-konsep dari asing-masing bidang studi menuntut
adanya sumber belajar yang beraneka ragam.

4.

Pembelajaran Terpadu Model Nested


a. Pengertian
Pembelajaran terpadu tipe nested (tersarang) merupakan pengitegrasian kurikulum di dalam satu

disiplin ilmu secara khusus meletakkan fokus pengintegrasian pada sejumlah keterampilan belajar yang
ingin dilatihkan oleh seorang guru kepada siswanya dalam suatu unit pembelajaran untuk ketercapaian
materi pelajaran (content). Keterampilan-keterampilan belajar itu meliputi keterampilan berpikir (thinking
skill), keterampilan sosial (social skill), dan keterampilan mengorganisir (organizing skill) (fogarty 1991:
23).
Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran terpadu tipe nested (tersarang) mengikuti tahap-tahap
yang dilalui dalam setiap pembelajaran terpadu yang meliputi tiga tahap yaitu tahap perencanaan, tahap
pelaksanaan, dan tahap evaluasi.
Karakteristik mata pelajaran menjadi pijakan untuk kegiatan awal ini.seperti contoh diberikan oleh
fogarty (1991: 28) untuk jenis mata pelajaran social dan bahasa dapat dipadukan keterampilan berpikir
(thinking skill) dengan keterampilan social (social skill). Sedangkan untuk mata pelajaran sains dan
matematika dapat dipadukan keterampilan berpikir (thinking skill) dan keterampilan mengorganisir
(organizing skill).
Pembelajaran terpadu menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran baik secara fisik, mental,
intelektual, maupun emosianal guna tercapainya hasil belajar yang optimal dengan mempertimbangkan
hasrat, minat, dan kemampuan siswa sehingga mereka termotivasi untuk terus menerus belajar. Dengan
pembelajaran ini siswa dapat berfikir lebih kreatif, karena guru hanya sebagai fasilitator maka murid dituntut
untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajarannya.
b. Karakteristik Pembelajaran Terpadu Tipe Nested (Tersarang)
Menurut Depdikbud (1996:3) pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa
karakteristik atau cirri-ciri, yaitu:
(1) Holistic
Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi. Pada
gilirannya nanti, hal ini akan membuat siswa menjadi lebih arif dan bijaksana di dalam menyikapi atau
menghadapi kejadian yang ada di depan mereka.
(2) Bermakna
Pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek seperti yang dijelaskan di atas,
memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar konsep-konsep yang berhubungan yang disebut
skemata. Hal ini akan berdampak kepada kebermaknaan dari materi yang dipelajari. Siswa mampu
menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul di dalam
kehidupannya.

(3) Otentik
Pembelajaran terpadu juga memungkinkan siswa memahami secara langsung prinsip dan konsep
yang ingin dipelajarinya melalui kegiatan belajar secara langsung. Mereka memahami dari hasil belajarnya
sendiri, bukan sekedar pemberitahuan guru. Informasi dan pengetauhuan yang diperoleh sifatnya menjadi
lebih otentik. Misalnya, hokum pemantulan cahaya diperoleh siswa melalui kegiatan eksperimen. Guru lebih
banyak bersifat sebagai fasilitator dan katalisator, sedang siswa bertindak sebagai actor pencari informasi
dan pengetahuan. Guru memberikan bimbingan kearah mana yang dilalui dan memberikan fasilitas
seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut.
(4) Aktif
Pembelajaran terpadu menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran baik secara fisik, mental,
intelektual, maupun emosianal guna tercapainya hasil belajar yang optimal dengan mempertimbangkan
hasrat, minat, dan kemampuan siswa sehingga mereka termotivasi untuk terus menerus belajar.
Disamping itu pembelajaran terpadu menyajikan beberapa keterampilan dalam suatu proses pembelajaran.
Selain mempunyai sifat luwes, pembelajaran terpadu memberikan hasil yang dapat berkembang sesuai
dengan minat dan kebutuhan anak.
c. Landasan Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Tipe Nested (Tersarang)
Pembelajaran terpadu tipe nested (tersarang) dikembangkan dengan landasan sebagai berikut
(Depdikbud, 1996: 5):
(1) Progresivisme
Aliran progresivisme menyatakan bahwa pembelajaran seharusnya berlangsung secara alami, tidak
artificial.pembelajaran di sekolah tidak seperti dalam keadaan dunia nyata sehingga tidak memberikan
makna kepada kebanyakan siswa.
(2) Konstruktivisme
Pada dasarnya aliran konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan dibentuk sendiri oleh individu
dan pengalaman merupakan kunci utama dari belajar bermakna. Belajar bermakna tidak akan terwujud
hanya dengan mendengarkan ceramah atau membaca buku tentang pengalaman orang lain. Belajar menurut
pandangan konstruktivisme merupakan hasil konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang. Pandangan ini
member penekanan bahwa pengetahuan kita adalah bentukan kita sendiri (Suparno, 1997:18)
(3) Developmentally Appropriate Practice
Prinsip dalam developmentally appropriate practice ini menyatakan bahwa pembelajaran harus
disesuaikan dengan perkembangan usia, dan individu yang meliputi perkembangan kognisi, emosi, minat
dan bakat siswa. Misalnya untuk siswa SLTP yang berusia rata-rata 11 sampai 15 tahun (tahap operasi
formal) sesuai perkembangan kognitif Piaget, telah memiliki kemampuan pemikiran abstrak sehingga dapat
dirancang pembelajaran yang memberikan siswa dapa memecahkan masalah melalui kegiatan eksperimen.
Teori Piaget merupakan teori perkembangan kognitif yang sangat terkenal. Piaget membagi perkembangan
kognitif anak dan remaja ke dalam empat tahap: sensorimotor, pra operasional, operasi kongkrit, dan operasi

formal. Kecepatan perkembangan tiap individu melalui urutan tiap tahap ini berbeda dan tidak ada individu
yang melompati salah satu dari tahap tersebut.
TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET
Tahap

Perkiraan Usia

Kemampuan-kemampuan Utama
Terbentuknya konsep kepermanenan obyek dan

Sensorimotor

Lahir sampai 2 tahun

kemajuan gradual dari prilaku refleksif ke perilaku yang


mengarah kepada tujuan.
Perkembangan kemampuan

Pra Operasional

2 sampai 7 tahun

simbol

untuk

menyatakan

menggunakan

symbol-

obyek-obyek

dunia.

Pemikiran masih egosentris dan sentrasi


Perbaikan di dalam kemampuan untuk berpikir secara
logis.
Operasi Kongkrit

7 sampai 11 tahun

Kemampuan-kemampuan

baru

termasuk

penggunaan operasi-operasi yang dapat balik. Pemikiran


tidak lagi sentrasi tetapi desentrasi, dan pemecahan
masalah tidakbegitu dibatasi oleh keegosentrisan.
Pemikiran abstrrak dan murni simbolis mungkin

Operasi Formal

11 tahun sampai dewasa dilakukan. Masalah-masalah dapat dipecahkan melalui

penggunaan eksperimentasi sistematis.


Piaget yakin bahwa pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya
perubahan perkembangan. Selain itu, ia juga berkeyakinan bahwa interaksi social dengan teman sebaya,
khususnya berargumentasi, berdiskusi, membantu memperjelas pemikiran, yang pada akhirnya, membuat
pemikiran itu menjadi lebih logis (Nur, 1998:9)
Dari implikasi teori Piaget di atas, jelaslah guru harus mampu menciptakan keadaan pembelajaran yang
mampu untuk belajar sendiri. Artinya guru tidak sepenuhnya mengajarkan suatu bahan ajar kepada siswa,
tetapi guru dapat membangun siswa atau pelajar yang mampu belajar dan terlibat aktif dalam belajar
d. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN TERPADU TIPE NESTED (TERSARANG)

Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran terpadu tipe nested (tersarang) mengikuti tahap-tahap
yang dilalui dalam setiap pembelajaran terpadu yang meliputi tiga tahap yaitu tahap perencanaan, tahap
pelaksanaan, dan tahap evaluasi.
(1) Tahap perencanaan

Menentukan jenis mata pelajaran dan jenis keterampilan yang dipadukan. Karakteristik mata
pelajaran menjadi pijaklan untuk kegiatan awal. Seperti ycontoh yang diberikan Fogary (1991:28)
untuk jenis mata pelajaran social dan bahasa dapt dipadukan keterampilan berpikir (thingking skill)
dengan keterampilan social (social skill). Sedangkan untuk matapelajaran sains dan matematika
dapat dipadukan keterampilan berpikir (thingking skill) dan keterampilan mengorganisir (organizing
skill).

Memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indicator. Langkah ini akan
mengarahkan guru untuk menentukan sub keterampilan dari masing-masing keterampilan yang dapat
diintegrasikan dalam suatu unit pembelajaran.

Menentukan sub keterampilan yang dipadukan. Sub keterampilan-sub keterampilan yang dapat
dipadukan diperlihatkan pada tabel 2.2 di bawah ini:

TABEL 2.2
UNSURE-UNSUR KETERAMPILAN BERPIKIR, KETERAMPILAN SOCIAL, DAN KETERAMPILAN
MENGORGANISIR
Thingking skill
PredictionInference

Social skill
Attentive listeningClarifying

Organizers
WebVenn diagram

Hypothesize

Paraphrasing

Flow chart

Compare/contrast

Encouraging

Cause- effect circle

Classify

Accepting ideas

Agree/disagree chart

Generalize

Disagreeting

Grid/matrix

Prioritize

Consensus seeking

Concept map

evaluate
Summarizing
(sumber; Fogarty, 1991, hal. 25)

fishbone

Merumuskan tujuan pembelajaran khusus (indikator). Berdasarkan kompetensi dasar dan sub
kterampilan yang telah dipilih dirumuskan tujuan pembelajaran khusus (indikator). Setiap indikator
dirumuskan berdasarkan kaidah penulisan tujuan pembelajaran khusus (indicator) yang meliputi;
audience, baehaviour, condition dan degree.

Menentukan langkah-langkah pembelajaran. Langkah ini diperlukan sebagai strategi guru untuk
mengintegrasikan setiap sub keterampilan yang telah dipilih pada setiap langkah pembelajaran.

(2) Tahap Pelaksanaan


Dalam Depdiknas (1996:6), prinsip-prinsip pelaksanaan pembelajaran terpadu, meliputi:
1. Guru hendaknya tidak menjadi sigle actor yang mendominasi dalam kegiatan pembelajaran. Peran
guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran memungkinkan siswa menjadi pelajar mandiri
2. Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut
adanya kerja sama kelompok
3. Guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam proses
perencanaan.
Tahap pelaksanaan pembelajaran mengikuti skenario langkah-langkah pembelajaran, menurut Muchlas
(2002:7), tidak ada model pembelajaran tunggal yang cocok untuk suatu topic dalam pembelajaran terpadu.
Artinya dalam satu tatap muka dipadukan beberapa model pembelajaran.
(3) Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi dapat berupa evaluasi proses pembelajaran dan evaaluasi hasil pembelajaran. Tahap
evaluasi menurut Depdiknas (1996:6) hendaknya memperhatikan prinsip evaluasi pembelajaran terpadu.

1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping bentuk evaluasi
lainnya
2. Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai
berdasarkan criteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan dicapai.
e. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan tipe nested (tersarang) adalah guru dapat memadukan beberapa keterampilan sekaligus
dalam suatu pembelajaran di dalam satu mata pelajaran. Dengan memfokuskan pada isi pelajaran,
strategi berpikir, keterampilan social dan ide-ide penemuan lain, satu pelajaran dapat mencakup
banyak dimensi. Dalam tipe ini, satu guru dapat memadukan kurikulum secra meluas.

Kekurangan tipe nested terletak pada guru ketika tanpa perencanaan yang matang memadukan
beberapa keterampilan yang menjadi target dalam suatu pembelajaran.
Peta Konsep (Organizing
skill)
Prediksi (thinking
skill)
Perambatan
cahaya (content)

Gambar 3.6 Contoh model nested (tersarang) mata pelajaran Sains Fisika

Charts (organizing
skill)
Analisis (thingking
DNA
(content)

Gambar 3.7 Contoh model nested (tersarang) mata pelajaran Sains-Biologi

Grafik (organizing
skill
Logical
deductive
thinking(thinking skill)

Statistics
(content)

Gambar 3.8 contoh model nested (tersarang) mata pelajaran matematika