Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dan dalam membicarakan sejarah Ilmu, dewasa ini umat islam berhadapan
dengan satu tantangan, yaitu ilmu yang ada pada abad sekarang ini berpangkal
dari yunani. Didalam perkembangan selanjutnya, mereka menganggap bahwa
ilmu berasal dari yunani hingga mencapai abad modern, mereka mengakui juga
merupakan pengaruh dari hasil perjuangan Nabi Muhammad S.A.W, tetapi
kalimat yang mereka pakai adalah "jasa orang arab". Yaitu kalimat "Ilmu berasal
dari

"yunani",

diambil

alih

dan

dipraktekkan

oleh

Romawi

yang

perkembangannya mencapai Zaman modern,Yaitu setelah sepeninggalan Nabi


Muhammad S.A.W melalui dua jalan: Melalui Cordova, Melalui Baghdad.
Cordova dan Bagdad University didirikan dalam abad ke 8 M. Kemudian
dalam kaitannya dengan runtuhnya Bani umayyah dibarat, maka Cordova sebagai
lembaga ilmu turut musnah. Begitu juga dengan perkembangan Ilmu melalui
Baghdad University, dengan hancurnya Bani Abbasiyyah.
Yang perlu ditekankan disini adalah bahwa mereka mengakui bahwa Ilmu
yang sekarang ini yang berkembang di eropa, asalnya mengakui bahwa Ilmu
merupakan Jasa Orang Arab. Yaitu Orang arablah yang mula mula menguasai
alam fikiran Yunani. Kemudian melalui mulut orang Arab inilah baru bisa
ditanggapi di Eropa.


: ).

(210
Artinya:
Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat
(pada Hari Kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan
hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan." (Al-Baqarah: 210).

1.2 Topik Bahasan


Sains yang dahulu dipakai untuk segala obyek pengetahuan, baik itu fisik,
metafisik, maupun matematik, kini hanya ditujukan untuk kajian fisik empirik
saja, tanpa menghiraukan adanya entitas-entitas metafisika yang merupakan
bagian dari epistemologi. Dari pembatasan ini, akan muncul anggapan bahwa
sains adalah kajian yang langsung bisa dibuktikan dengan kongkrit dan jelas, dan
itu hanya bisa diberlakukan pada obyek fisik empirik saja. Di sinilah letak
kesalahan fatal yang jika ditelusuri bersumber dari tradisi keilmuan Barat.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dan manfaat dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Seminar agama Islam
2. Mengetahui sejarah perkembangan ilmu
3. Memahami integrasi ilmu dalam islam

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Awal Ilmu
Secara etimologi, ilmu berasal dari akar kata ain-lam-mim yang diambil
dari perkataan alamah, yaitu tanda, petunjuk, atau indikasi yang dengan sesuatu
atau seseorang dikenal. Selain kata ilmu, ada kata lain yang sering disamaartikan
dengan ilmu, yaitu sains. Pada kenyataannya, keduanya seringkali dibedakan
karena sejatinya keduanya memang berbeda. Dalam menjelaskan definisi sains,
dalam Kamus Websters New World Dictionary, sebagai pengetahuan yang
sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan yang dilakukan
untuk menentukan sifat dasar atau dari sesuatu yang dikaji. Definisi ini dari hari
ke hari semakin mengalami pembatasan yang semakin sempit.
Konsep ilmu menurut para ilmuwan Islam. Di antaranya adalah Ibnu
Khaldun. Beliau memilah ilmu atas dua macam, yaitu ilmu:
1. Naqliyah (ilmu yang berdasarkan pada otoritas atau ada yang menyebutnya
ilmu-ilmu tradisional) seperti ilmu-ilmu al-Quran, hadis, tafsir, ilmu kalam,
tawsawuf, dantabir al-ru`yah.
2. Aqliyah (ilmu yang berdasarkan akal atau dalil rasional). Seperti filsafat
(metafisika), matematika, dan fisika, dengan macam-macam pembagiannya.
Selain Ibnu Khaldun, sebelumnya al-Ghazali juga membagi ilmu pada dua
jebis, ilm syariyyahdan ilm ghair syariyyah. Yang pertama digolongkan
sebagai ilmu fardhu ai untuk menuntutnya, sedangkan yang kedua sebagai
ilmu fardhu kifayah. Sekalipun al-Ghazali membedakan antara keduanya dalam
hal penuntutannya, beliau menggunakan konsep integral dalam memandang ilmu
secara keseluruhan. Setidaknya ini bisa dilihat dari penggolongan kedua ilmu
tersebut dengan fardhu untuk menuntutnya.
Dalam Risalah-nya, al-Attas mengklasifikasikan ilmu berdasarkan hakikat
yang inheren dalam keragaman ilmu manusia dan cara-cara yang mereka tempuh
untuk memperoleh dan menganggap kategorisasi ini sebagai bentuk keadilan
dalam menempatkan ilmu pengetahuan sebagai obyek dan manusia sebagai
subyek. Dalam klasifikasinya tersebut, al-Attas membagi ilmu dalam dua bagian,
yaitu ilmu iluminasi (marifah) dan ilmu sains, dalam bahasa Melayu yang
3

pertama disebut dengan ilmu pengenalan dan yang kedua disebut dengan ilmu
pengetahuan. Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan jenis pertama dikategorikan
sebagai ilmu fardhu ain yang bisa dan harus dipelajari oleh setiap umat Islam.
Sedangkan ilmu pengetahuan dalam kategori kedua berkaitan dengan fisik dan
obyek-obyek yang berhubungan dengannya, yang bisa dicapai melalui
penggunaan daya intelektual dan jasmaniah. Ia bersifat fardhu kifayah dalam
perolehannya. Hubungan antara kedua kategori ilmu pengetahuan ini sangat jelas.
Yang pertama menyingkap rahasia Being dan eksistensi, menerangkan dengan
sebenar-benarnya hubungan antara diri manusia dan Tuhan, serta menjelaskan
maksud dari mengetahui sesuatu dan tujuan kehidupan yang sebenarnya.
Konsekuensinya, kategori ilmu pengetahuan yang pertama harus menjadi
pembimbing kategori ilmu yang kedua.
Dari pembagian ini, bisa kita simpulkan bahwa ilmu dalam Islam tidak
hanya meliputi ilmu-ilmuaqidah dan syariah saja. Selain kedua ilmu tersebut,
kita masih berkewajiban untuk menuntut ilmu lainnya. Bisa dikatakan bahwa
dengan

ilmu syariyyah kita

akan

mempelajari

tanda

Allah

dariayat

qauliyyah, yang bisa disebut dengan dzikir, sedangkan dengan ilmu ghair
syraiyyah, kita akan mempelajari ayat kauniyyah Allah yang terbentang pada
jagat raya ini, yang disebut dengantafakkur. Dalam hal ini, kita bisa telaah bahwa
dua aktifitas ini merupakan implementasi dari ayat al-Quran surat Ali Imran ayat
190-191, dengan natijah (buah) penerimaan amal oleh Allah bagi para pelakunya.
Muhammad Iqbal pernah menyatakan bahwa alam tak lain adalah medan
kreativitas Allah. Karena bagi siapapun yang teliti mengadakan kajian terhadap
alam, sebenarnya mereka telah melakukan penelitian terhadap cara Allah bekerja.
Dengan demikian sebuah penelitian ilmiah, sangat mungkin untuk menambah
iman para pelakunya, bukan malah sebaliknya seperti sering terjadi di Baratyang malah menyingkirkan Tuhan dari arena penelitian mereka. Maka di sinilah
letak integralisasi ilmu antara ilmu fisik empiric dengan metafiska- ilmu dalam
Islam.

2.2 Objek Ilmu

Dalam menjelaskan obyek ilmu pengetahuan ini, para filosof Muslim


memberikan penjelasan mengenai obyek-obyek ilmu pengatahuan sesuai dengan
status ontologisnya. Selama ini para filosof Barat hanya mengakui keberadaan
obyek yang memiliki status ontologis yang jelas dan materil, yakni obyek-obyek
fisik. Berbeda dengan para filosof Muslim yang mempunyai pandangan bahwa
entitas yang ada tidak hanya terbatas pada dunia fisik saja, tetapi juga pada entitas
non-fisik, seperti konsep-konsep mental dan metafisika.
Darinya tersusun hirarki wujud yang dimulai entitas metafisik, matematik,
dan entitas fisik. Dalam hal ini, al-farabi mengemukakan hirarki wujud menurut
persepsinya:
1. Tuhan yang merupakan sebab utama keberadaan wujud lainnya. Tuhan
yang berada pada puncak hirarki wujud lainnya di alam semesta ini.
2. Malaikat yang merupakan wujud imateril. Malaikat sering disebut
sebagai akal aktif (al-aql al-fal) sebagaimana yang sering dikatakan
oleh Ibn Sina. Namun bagi Suhrawardi, ia disebut sebagai cahaya (nur
al-aqrab).
3. Benda-benda angkasa. Benda-benda ini diyakini memiliki akal dan
jiwanya masing-masing. Menurut Ibn Sina, benda-benda angkasa ini
memberi pengaruh terhadap benda-benda fisik.
4. Benda-benda bumi. Lebih jelas lagi al-farabi mengemukakan lima
macam benda bumi dari tingaktan yang paling rendah; unsure-unsur,
mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan irrasional, hewan rasional (manusia).
Di tempat lain, al-Attas menyusun tingaktan-tingkatan eksistensi sesuai
dengan keragaman tingkat operasional indera-indera eksternal dan internal,
sebagaimana berikut:
1. Eksistensi nyata (haqiqi) yang ada pada tataran obyektif, seperti dunia
inderawi dan eksternal.
2. Eksistensi inderawi (hissi) yang mencakup mimpi, visi, ilusi, dan lainlain.
3. Eksistensi imajinasi (khayali), yaitu objek dari fenomena alam yang hadir
dalam imajinasi ketika obyek tersebut tidak terlihat.
4. Eksistensi intelektual (aql) yang terdiri dari konsep-konsep abstrak
dalam pikiran manusia.
5. Eksistensi analogi (syibhi), yaitu eksistensi yang tidak termasuk di antara
kategori eksistensi yang disebutkan di atas, tetapi menyerupai sesautu
5

dalam aspek-aspek tertentu. Eksistensi ini berhubungan dengan daya


kognitif jiwa.
6. Eksistensi suprarasional atau transenden, yang di dalamnya segala
sesuatu bisa dilihat sebagaimana adanya, dialami oleh para nabi, wali,
dan mereka yang tercerahkan dan betul-betul mendalam ilmunya. Pada
level ini, kebersatuan antara mengetahui dan cara mengetahui berarti
bersatunya pemikiran dan being atau eksistensi.
Dengan hirarki tersebut, epistemologi Islam tidak hanya mengakui
keberadaan dunia di luar dunia yang dapat diindera saja. Dunia inderawi hanya
merupakan satu bagian kecil dan bukan segala-galanya sebagai obyek
pengakajian.
2.3 Sumber Ilmu dan Cara Memperolehnya
Obyek ilmu dalam Islam tidak hanya terbatas pada kajian fisik empirik saja,
yang hal ini tentunya berbeda dengan epistemologi Barat Modern. Hal ini
berimplikasi pada sumber atau saluran dari ilmu dalam Islam yang mempunyai
perbedaan signifikan dengan epistemologi Barat, kalau Barat hanya mengakui
indera dan rasio, spekulasi filosofis dalam epistemologinya, maka dalam
pandangan filosof Muslim, ilmu yang datang dari Tuhan dapat diperoleh melalui:
Indera sehat(hawass salimah), di sini terdiri dari dua bagian, yaitu panca indera
eksternal

dan

internal.

Panca

indera

eksternal

terdiri

dari

peraba (touch), perasa (taste), pencium (smell), pendengaran(hearing), dan


penglihatan (sight). Sedangkan panca indera internal adalah akal sehat (common
sense/al-hiss

al-musytarak), indera

representative (al-khayaliyyah), indera

estimatif (al-wahmiyyah), indera retentif rekolektif (al-hafizhah al-shadiq), dan


indera

imajinatif (al-mutakhayyilah). Laporan

yang

benar (khabr

shadiq) berdasarkan otoritas yang terbagi menjadi dua, yaitu otoritas mutlak, yaitu
otoritas ketuhanan, yaitu al-Quran, dan otoritas kenabian. Dan otoritas nisbi, yaitu
kesepakatan alim ulama dan kabar dari orang-orang yang terpercaya secara
umum. Intelek, yang terdiri dari dua bagian, yaitu akal sehat (sound
reason/ratio), dan ilham (intuition). Sebagai penjelasan bahwa Islam tidak pernah
mengecilkan peranan indera, yang dasarnya merupakan saluran yang sangat
penting dalam pencapaian ilmu pengetahuan mengenai realitas empiris. Dalam hal
6

metode yang berasangkutan dengan indera disebut dengan tajribi(eksperimen atau


observasi) bagi obyek-obyek fisik (mahsusat). Metofr observasi ini biasanya
menggunakan sumber pengetahuan panca indera. Namun terkadang ia
membutuhkan pada alat-alat Bantu bagi indera yang tanpanya pengamatan indera
tidak akurat dalam memperoleh pengetahuan.
Demikian pula pikiran, sebagai aspek intelek manusia, ia merupakan saluran
penting yang dengannya diperoleh ilmu pengetahuan mengenai sesuatu yang jeals,
yaitu perkara-perkara yang bisa dipahami dan dikuasai oleh akal, dan mengenai
sesuatu yang bisa dicerap dengan indera. Akal bukan hanya rasio, ia adalah
fakultas mental logika. Dalam kaitannya dengan metode, ia berkaitan dengan
metode burhani, (logis/demonstrasi).
Sedangkan

metode

ketiga

adalah

intuisi

atau

yang

disebut

dengan irfani atau dzauqi. Ciri khas dari metode ini adalah sifatnya yang
langsung

tidak

melalui

perantara

sehingga

sering

disebut

dengan mukasyafah (penyingkapan) langsung oleh Tuhan ke dalam hati manusia


tentang rahasaia-rahasia dari realitas yang ada. Metode ini bukan melalui
pencerapan indera ataupun penalaran akal, akan tetapi melalui iluminasi yang
diarahkan Tuhan pada hati manusia. Caranya bukan dengan mempertajam
pengamatan indera, bukan pula dengan alat canggih, akan tetapi dengan cara
membersihkannya dari segala debu egoisme dan kotoran dosa-dosa. Dalam hal
ini, para filosof dan sufi menyebut modus dari pengetahuan ini dengan
ilmu hudhuri. Di sini obyek yang diteliti dikatakan hadir dalam diri atau jiwa
seseorang sehingga telah terjadi kesatuan antara subyek dan obyek.
Metode ini

dipengaruhi oleh

pemikiran cendekiawan sufi. Iqbal

menganggap bahwa intuisi sebagai pengalaman yang unik, lebih tinggi daripada
persepsi dan pikiran, yang menghasilkan ilmu pengetahuan tertinggi. Menurut alAttas, meskipun pengalaman intuitif ini tidak bisa dikomunikasikan, tetapi
pemahaman mengenai kendungannya atau ilmu pengetahuan yang dihasilkannya
bisa ditransformasikan. Intuisi ini terdiri dari berbagai tingkat, yang terendah
adalah yang dialami oleh para ilmuwan dan sarjana dalam penemuan-penemuan
mereka dan yang tertinggi dialami oleh para nabi. Menurut Iabal, dari intuisi
mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya, akhrinya bisa mengalami intuisi

mengenai Allah, sebuah pandangan yang disepakati oleh al-Attas karena


kesesuaiannya dengan hadis Nabi SAW, Siapa yang mengenal dirinya, maka ia
mengetahui Tuhannya. Metode yang terakhir disebut dengan metode irfani.
2.4 Hubungan Sains, Filsafat dan Agama
Pada awalnya antara ketiga hal tersebut di atas bersatu dalam suatu
kesatuan, yaitu ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, Ibnu Khaldun mengemukakan
bahwa ilmu yang tersdiri dari dua bagian (aqliyah dan naqliyah) merupakan
kesatuan

yang

bersumber

pada

yang

satu.

Keduanya

menyingkap

berbagai ayat atau tanda keberadaan-Nya. Para ilmuwan Muslim terdahulu,


seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al-Ghazali, Fakhruddin al-Razi, Nashiruddin alThusi, dan lainnya juga tidak pernah mempersalahkan ketiganya pada level
pertentangan. Bahkan tidak jarang ketiga hal tersebut bersatu pada satu sosok
ilmuwan Muslim.
Pertentangan antar ketiganya mulai muncul berawal pada abad pertengahan,
yaitu seiring dengan munculnya gerakan modernisasi yang terjadi di dunia Barat
pada abad 16. Era modern ini ditandai dengan pandangan hidup yang saintifik
dengan warna sekularisme, rasionalisme, empirisme, cara berfikir dikotomis,
desakralisasi, pragmatisme, dan penafian kebenaran metafisis (agama). Selain itu
modernisme yang terkadang disebut juga dengan westernisme membawa serta
paham nasionalisme, kapitalisme, humanisme, liberalisme, sekularisme dan
sejenisnya.
Pada masa ini, paradigma ini mulai dihancurkan oleh posmodernisme yang
mengaku mengevaluasi paradigma modernisme. Posmodernisme menggariskan
gerakan kepada paham-paham baru seperti nihilisme, relativisme, pluralisme, dan
persamaan gender dan umumnya antiworldview. Namun, pada kenyataannya,
postmodernisme hanya merupakan kelanjutan dari paradigma modernisme itu
sendiri, karena masih mempertahankan paham liberalisme, rasionalisme, dan
pluralisme.
Dampak dari paham, aliran, dan pemikiran yang dibawa modernisme dan
postmodenisme terhadap paham ilmu pengetahuan sangatlah besar. Nilai-nilai
yang berhubungan dengan metafisika dilepaskan dan hanya mengakui realitas

empiris. Lebih jauh lagi pandangan postmodernisme yang menganggap


metrafisika secara peyoratif sebagai ilmu yang membahas tentang kesalahan
manusia yang fundamental. Ini adalah preposisi logis dari paham nihilisme.
Serangan doktrinnihilisme terhadap metafisika ini menunjukkan dengan jelas
serangan terhadap agama sebagai asas bagi moralitas.
Namun yang perlu digarisbawahi adalah, semua pandangan ini merupakan
hasil dari sebuah pandangan hidup (worldview) sains. Sederhanya ini adalah
sebuah tafsiran atas sains atau sering disebut saintisme. Dalam mengahdapi
tantangan ini beberapa ilmuwan Muslim mencoba merumuskan teori-teori sebagai
solusi dari permasalahan ini. Dari padanya terciptalah sebuah konsep tentang
Islamisasi Sains Modern yang digalakkan oleh para ilmuwan Muslim, seperti
Syed Mohammad Naquib al-Attas, Sayyed Hossein Nasr, Ismail Raji al-Faruqi,
Osman Bakar, dan Ziauddin Sardar. Islamisasi sains modern merupakan proses
integrasi antara sains dan agama, dalam hal ini adalah Islam.
Dalam definisinya, Syed Mohd. Naquib al-Attas menjelaskan bahwa
Islamisasi adalah pembebasan manusia dari tradisi magis muitologis, animistis,
kultur nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu paham
sekularisme terhadap pemikiran dan bahasa. Ia juga merupakan pembebasan dari
control dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakikat
diri atau jiwanya, sebab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap
hakika dirinya yang sebenarnya, menjadi bodoh akan tujuan yang sebenarnya dan
berbuat tidak adil terhadapnya.
Proses ini kemudian berjalan dalam dua proses, yaitu pembebasan sains dari
makna, tafsiran, ideologi, dan prinsip-prinsip materialisme sekuler (ateis), yang
dibarengi dengan penanaman nilai-nilai dan prinsip ketuhanan yang sesuai dengan
ajaran Islam.
Pada definisi yang lain, Ssayyed Hossein Nasr dan Osman Bakar memahami
islamisasi sains sebagai upaya menterjemahkan pengetahuan modern ke dalam
bahasa yang bisa dipahami masyarakat Muslim di pelbagai tempat tinggal mereka.
Bagi mereka berdua, Islamisasi lebih merupakan upaya untuk mempertemukan
cara berfikir dan bertindak (epistemologi dan aksiologi) masyarakat Barat dengan
Muslim.

Kendati berbeda-beda dalam pendefinisiannya, kesemua ilmuwan tersebut


mencoba untuk menghadirkan solusi yang tepat terhadap permasalahan yang
terjadi dalam dunia sains, filsafat yang telah mengalami perubahan akibat
persentuhannya dengan nilai-nilai yang dianggap bertentangan dengan nilai Islam.

10

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada dasarnyaa antara ketiga hal; sains, filsafat dan agama dalam suatu
kesatuan, yaitu ilmu pengetahuan. Pertentangan antar ketiganya mulai muncul
berawal pada abad pertengahan, yaitu seiring dengan munculnya gerakan
modernisasi yang terjadi di dunia Barat pada abad 16. Namun yang perlu
digarisbawahi adalah, semua pandangan ini merupakan hasil dari sebuah
pandangan hidup (worldview) sains. Dari sinilah Islamisasi Sains Modern yang
digalakkan oleh para ilmuwan Muslim. Proses ini kemudian berjalan dalam dua
proses, yaitu pembebasan sains dari makna, tafsiran, ideologi, dan prinsip-prinsip
materialisme sekuler (ateis), yang dibarengi dengan penanaman nilai-nilai dan
prinsip ketuhanan yang sesuai dengan ajaran Islam.
3.2 Saran
Berkenaan dengan memahami kesatuan ilmu dalam islam. Khususnya
pendidik harus mampu :
a.
b.

Menjelaskan integrasi ilmu dalam islam.


Menerapkan Suri Tauladan yang dicantumkan Dalam Hadits.

11

DAFTAR PUSTAKA
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/sejarah-ilmu-sains-menurutalquran-t41424/
http://msubhanzamzami.wordpress.com/2010/11/11/sejarah-perkembanganilmu-pengetahuan/
http://imtaq.com/definisi-pendidikan-islam/
Hafi Anshari, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional,
1983)
Op.Cit, Mahmud Yunus, At-Tarbiyyah wa Talim
Yusuf Al-Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, terj.
Prof. H. Bustami A. Gani dan Drs.Zainal Abidin Ahmad (Jakarta: Bulan Bintang,
1980) h.157
Hasan

Langgulung, Beberapa

pemikiran

tentang

pendidikan

Islam (Bandung: Al-Maarif, 1980) h.94


Drs. H. Hamdani Ihsan dan Drs. H. A. Fuad Hasan, Filsafat Pendidikan
Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1998) h.16
Op.Cit, M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, h.10

12