Anda di halaman 1dari 1

Untuk dia yang nama nya tak pernah henti kuselipkan dalam doa.

Doa, sebait kata-kata memumpun jiwa menggariskan tinta batin dalam sujud.
Tuhan, sutradara dari semua skenario yang telah terjadi.
Alam semesta sebagai saksi atas terwujudnya bahtera lintas ikatan antara jiwajiwa yang geram
Ku tunduk malam ini di antara ribuan bintang yang hendak berpencar bagai putri
kahyangan yang senantiasa memberi warna seantero jagad raya
Untuk S yang selalu mengawali hari-hari ku,
Kau tau bagaimana rasanya cinta diam-diam? Lelah? Geram? Benci menerka
nerka? Bagai bak kata kata retoris yang kau sembunyikan di dasar hatimu. Kau
tau rasanya cinta tanpa harapan? Bagai laut menghempas terumbu karang
begitu mengikis hati dan jiwa yang tak pernah goyah melawan terpaan. Tuhan,
sutradara atas semua yang terjadi di alam semesta ini, seperti rasa yang hadir
setiap waktu saat bersamamu. Tanpa rekayasa ataupun mengada-ada.
Semuanya jelas mengalir bagaikan anomali air yang menghujam menderu deras
melalui aliran darahku. Ketika jiwamu merasuk ke dalam aliran darahku kan
meracuniku.
Untuk aku yang diam-diam mengagumi karya cipta Tuhan bagai laut dengan
ombaknya, bersatu padan membentuk alunan suara air, gemercik bentakan air
yang mendamaikan hati, suara selir angin yang ntah di saat kamu menutup
mata dan nafasmu menderu, semuanya begitu tampak nyata.
Aku tidak mengagumi, tapi hatiku yang mengagumimu. Bahkan ikatan antar
atom tak sekuat ikatan hatiku pada mu. Hatiku yang mengikatmu. Hatiku yang
memilihmu.