Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI TRAKTOR

PENGOLAHAN TANAH PERTAMA DAN KEDUA


DENGAN TRAKTOR POROS GANDA

Asisten :
OKKEU ROCHMAYUDI
BAGUS YUKON .B

Oleh

Erfan Gumelar
240110060050

JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2008
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Traktor merupakan mesin yang digunakan untuk menggerakan implement
berupa bajak untuk melakukan kerja baik itu mengolah tanah, ataupun kerja stasioner.
Dengan adanya traktor, traktor dapat meringankan kerja yang tidak manusiawi (Ade
M Kramadibrata dalam kuliah Teknologi Traktor) seperti mencangkul lahan yang
sangat luas dengan tenaga manusia. Dengan adanya traktor maka kerja-kerja yang
seperti itu dapat dilaksanakan dengan cepat dan efisien, juga dapat meringankan
beban petani sehingga petani dapat mengerjakan pekerjaan lain dalam proses
produksi produk pertanian.
Pada proses produksi pertanian, pengolahan tanah merupakan tahapan yang
paling membutuhkan banyak energi. Lebih dari separuh energi yang digunakan untuk
proses produksi adalah pengolahan tanah. Pengolahan tanah yang pertamalah yang
memerlukan energi yang paling banyak karena pada kegiatan ini berlangsung
pemecahan tanah yang keras kedalam bongkahan-bongkahan tanah yang kelak akan
dihancurkan dalam pengolahan tanah kedua. Oleh karena itu walaupun pengolahan
tanah itu memerlukan energi yang besar sekli, kebanyakan petani masih
menganggapnya perlu.

1.2Tujuan

a. Memahami proses pengolahan tanah


b. Menentukan kapasitas lapang teoritis pengolahan traktor.
c. Menentukan kapasitas lapang efektif pengolahan traktor.
d. Menentukan efisiensi lapang
e. Mengetahui besarnya nilai slip yang terjadi pada saat pengolahan tanah
dilahan pertanian .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kapasitas Lapang Pembajakan

Kapasitas lapang pembajakan menunjukan kemampuan traktor dalam mengolah


lahan dalam luasan dan waktu tertentu. Dimana hal ini dapat kita peroleh dengan
membandingkan anatara kapasitas lapang pembajakan secara teoritical dengan
kapasitas lapang pembajakan secara actual dilapangan.
Kapasitas lapang pembajakan menunjukan seberapa besarnya efekifitas
pembajakan yang dapat terjadi dan dilangsungkan, dengan nilai akurasi dalam persen.
a. Kapasitas Lapang Pembajakan Teoritis
KLT = Wt. V
Dimana :
KLT = Kapasitas Lapang Teoritis ( Ha/jam )
Wt = Lebar Kerja Teoritis ; lebar bajak ( m )
V = Kecepatan Kerja Konstan Teoritis ( m / s )
1 ha = 10,000 m/s
b. Kapasitas Lapang Pembajakan Aktual
KLA = Wt. V
Dimana :
KLA = Kapasitas Lapang Aktual ( Ha/jam )
Wt = Lebar Kerja Aktual ( m )
V = Kecepatan Kerja ( m / s )
1 ha = 10,000 m/s
c. Efisiensi Kapasitas Pembajakan
KLA
Ef = x 100 %
KLT
0.197
= x 100 %
0.161
= 122 .36 %

Slip
Slip adalah suatu kondisi dimana traktor mengalami pergerakan perputaran
roda berulang – ulang pada satu titik lokasi dengan tingkat kelicinan tertentu. Slip
akan membuat traktor sukar untuk melaju, kemampuan laju berkurang, jarak tempuh
lebih sedikit, dan waktu pembajakan menjadi lebih lama.
Rumus Slip:
S0 − Sb
Slip =
Sb
Dimana :
S0 = Jarak tempuh teoritis traktor selama X putaran roda belakang ( m ).
Sb = Jarak tempuh aktual traktor selama X putaran roda belakang ( m ).

Skid
Skid adalah kondisi traktor bergerak dalam kondisi bergeser. Perputaran roda
terjadi yang kemudian diiringi dengan pergeseran keadaan traktor, atau kendaraan
lainnya dari kedudukannya semula.Dengan demikian traktor akan mengalami irama
pergerakan yang tidak stabil yang mengelok – elok saat ia berjalan walaupun
perputaran rodanya tinggi pada saat itu.

Overlapping
Overlapping menunjukan adanya ketumpang tindihan pengolahan tanah pada
lahan. Saat pembajakan kedua akan mengambil sedikit bagian alur pembajakan
sebelumnya yang kemudian secara otomatis akan menggerus alur pembajakan
pertama sekaligus menimbun sebagian areal pada alur pembajakan sebelumnya
tersebut.
Overlapping dilakukan untuk mengurangi luas areal lahan yang tidak terolah
pada lahan tersebut, walaupun sebenarnya akan mempengaruhi dan memperlama
waktu pembajakan yang terjadi.

Kondisi Tekanan Dalam Tanah


Yang dimaksud dengan tekanan total pada suatu bidang permukaan tanah adalah
beban persatuan luas.
P
σ=
A
Dalam hal ini:
σ = tekanan total
P = beban total
A = luas penampang permukaan tanah

Tekanan tersebut mungkin karena :


a. Berat sendiri tanah ( berat jenuh, jika tanahnya jenuh ).
b. Berat luar diatas tanah.

Tekanan total terdiri dari dua komponen yang berbeda :


a. Tekanan efektif antar butir – butir tanah.
b. Tekanan netral / pori.

Tekanan Vertikal
a. Beban terpusat / titik berdasarkan persamaan Boussinesq
Boussinesq ( 1885 ) memecahkan masalah distribusi tekanan dalam tanah karena
beban terpusat di atas permukaan tanah, dengan menganggap sebagai fungsi
tekanan yang sesuai. Anggapan – anggapan yang digunakan untuk
memecahkannya berdasarkan teori elastisitas sebagai berikut:
• Tanah merupakan medium elastis yang dalam hal ini modulus elastisitas
tanah tetap.
• Tanah dianggap homogen, yaitu semua bagian unsur atau element sama
dan mempunyai sifat- sifat sama pada setiap titik dalam arah yang sama.
• Massa tanah dianggap isotropis , yaitu memiliki sifat – sifat elastis sama
kesemua arah yang melalui setiap titik.
• Massa tanah dianggap semi – tak terbatas ( semi infinite ), yaitu
memanjang tak terbatas dalam semua arah kebawah atau permukaan
tanah.
3Qcosβ
Persamaannya : σ R =
2ππ 2

b. Diagram distribusi tekanan


Dengan menggunakan teori diagram tekanan Boussinesq, maka diagram –
diagram distribusi tekanan vertikal.

• Tekanan isobar atau diagram isobar


Isobar adalah kurva atau garis yang menghubungkan semua titik di
bawah permukaan tanah yang mempunyai tekanan vertikal sama. Isobar
ini merupakan bentuk bola lampu ( bulb ), karena tekanan vertikal pada
bidang mendatar adalah sama dalam semua arah pada titik – titik yang
mempunyai jarak sama terhadap sumbu beban.
Jika harga isobar; SZ=0,25Q atau 25 %Q tiap satuan luas digambarkan,
berdasarkan persamaan :
σ Z xz 2 0,25Q.z 2
KB = = = 0,25z 2
Q Q

Harga – harga z dipilih sedemikian rupa dan harga KB dihitung dengan


persamaan tersebut.
Dengan mengunakan perhitungan secara tabel, maka diagram isobar
tersebut dapat digambarkan.

• Distribusi tekanan vertikal pada bidang mendatar


Distribusi tekanan vertikal pada suatu bidang mendatar pada kedalaman =
z dibawah permukaan tanah karena beban terpusat dapat ditentukan
dengan persamaan :
Q
σZ = KB
z2
Dalam hal ini :
z = kedalaman yang diketahui
• Distribusi tekanan vertikal pada garis vertikal.
Persamaan yang dipakai sebagai dasar perhitungan :
Q
σZ = KB
z2
Dengan r tetap dan z variable, dapat ditentukan dimana letak sz
maksimum dengan sudut b tertentu pula.
Dengan menggunakan tabel seperti tersebut dibawah ini dapat diketahui
σZ maksimum dengan mengambil harga: r = 1 satuan.

Kekuatan Geser / Gesek Tanah


Jika tanah dibebani, maka akan mengakibatkan tegangan geser / gesek.
Apabila tegangan geser akan mencapai harga batas, maka massa tanah akan
mengalami deformasi dan cenderung akan runtuh. Keruntuhan tersebut mungkin akan
mengakibatkan fondasi mengambang atau pergerakan / pergeseran dinding penahan
tanah atau longsoran timbunan tanah. Keruntuhan geser dalam tanah adalah akibat
gerak relatif antara butir –butir massa tanah. Jadi kekuatan geser tanah ditentukan
untuk mengukur kemampuan tanah menahan tekanan tanpa terjadi keruntuhan.
Kekuatan geser tanah dapat dianggap terdiri dari tiga komponen sebagai
berikut :
a. Geseran struktur karena perubahan jalinan antara butir – butir massa tanah.
b. Geseran dalam ke arah perubahan letak antara butir – butir tanah sendiri dan
titik – titik kontak yang sebanding dengan tegangan efektif yang pada bidang
geser.
c. Kohesi atau adhesi antara permukaan butir – butir tanah yang tergantung pada
jenis tanah dan kepadatan butirnya.

Parameter Kekuatan Geser / Gesek : c dan Ø


Hipotesis pertama mengenai kekuatan geser tanah dikemukakan oleh Coulomb
( sekitar tahun 1773 ) sebagai berikut :
s = C + fσ
atau
s = C + σ tan Ø
Dalam hal ini :
s = kekuatan / tegangan geser.
C = kohesi
F = tan Ø = faktor geser di antara butir – butir yang bersentuhan.
Ø = sudut geser dalam tanah
σ = tegangan/tekanan normal
Persamaan ini sebenarnya tidak dapat tepat sama sekali serta nilai C dan Ø yang
diperoleh dari percobaan dilaboratorium tergantung pada cara pengukurannya.
Kemudian persamaan coulomb tersebut diubah oleh Terzaghi ( tahun 1925 ) dengan
memasukan unsur tekanan air pori dan dibuktikan pula oleh Hvorslev ( 1937 ). Oleh
karena itu, persamaan berikut ini dikenal dengan persamaan Coulomb-Hvorslev.
s = C’ + σ’ tan Ø’
Dalam hal ini :
C’ = kohesi tanah dalam kondisi tekanan efektif
Ø’ = sudut geser dalam tanah kondisi efektif
σ’ = tegangan/tekanan efektif
=σ–u
u = tekanan pori
Hubungan antara kekuatan geser (s), kohesi (C) dan tekanan efektif (σ’) tampak
seperti gambar berikut :

Draft Tanah dan Unit Draft Tanah

Draft tanah adalah besarnya gaya yang dibutuhkan oleh objek olah dalam
mengolah tanah pada arah dan kedalaman tertentu akibat adanya reaksi dari tahanan
geser dan penetrasi dari tanah tersebut
Unit draft adalah besarnya gaya yang dibutuhkan dalam pengolahan tanah per
luasan bidang olah tertentu pada lebar dan kedalaman olah tertentu . Dimana unit
draft tanah ini bisa disebut sebagai draft tanah per satuan penampang pengolahan
kerja tanah.
Adanya draft dan unit draft tanah ini diakibatkan oleh adanya aksi dan reaksi
dari tanah tersebut terhadap beban dan gaya yang diberikan oleh objek kerja pada
bidang tanah tersebut.
Bajak Soil Resistance

Aksi Berat

Reaksi

Draft tanah

Berdasarkan diatas , maka draft tanah adalah suatu komponen horizontal yang segaris
dengan arah pergerakan mesin terhadap tahanan tanah yang berlaku.
Kegunaan mengetahui draft dan unit draft tanah :
1. Dapat digunakan sebagai parameter penting dalam menentukan daya olah piranti
kerja ( bajak dan traktor ) pada lahan.
2. Dapat menentukan karakteristik tanah pada lahan olah.
3. Dapat digunakan dalam penentuan perancangan alat mesin pertanian terutama
yang berhubungan dengan pengolahan tanah.
4. Dapat digunakan untuk menentukan luasan bidang penampang pengolahan pada
bajak, dsb yang sesuai dengan kondisi lahan.
5. Mengetahui tingkat aerasi tanah.
6. Mengetahui daya gembur tanah.

Daya pembajakan = unit draft x luas penampang olah x kecepatan maju ( olah )
Atau
P = Ds x A x V
Dimana :
P = Daya ( Watt )
A = Luas Penampang Olah/ bajak ( m2 )
V = Kecepatan olah ( m/s )

Pengukuran Draft
a. Menggunakan Load cell sebagai transducer untuk mengukur gaya ( draft ) yang
terjadi.
b. Melakukan pembajakan langsung dilapangan.
c. Melakukan penelitian dilaboratorium dengan kondisi terkendali.
• Dengan menggunakan cone penetrometer ( untuk Ci )
• Cassagrande ( untuk mencari IP tanah ).
• Shears Strenght ( Untuk mencari Ss ; F’ ).

Pendugaan Draft
Draft penting untuk diketahui dalam hubungannya :
a. Pemilihan traktor untuk bajak tertentu.
b. Pemilihan bajak / implement untuk traktor tertentu.
Oleh karena itu, draft sebaiknya diketahui sebelum operasi mesin lapangan
dilaksanakan.
Tahanan Spesifik
80 F '
F=
75 .5 − IP

Ci 2 1
F '= +
600 Ci

Dimana :

F = tahanan Spesifik ( N/ cm2 )


Ci = nilai cone indeks

Unit Draft = Tahanan spesifik x Percepatan gravitasi


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut:
Waktu : Kamis, 20 November 2008
Jam : 10.00-selesai
Tempat : Kebun Percobaan

3.2. Alat dan Bahan


Adapun alat (mesin) yang digunakan pada praktikum ini adalah:
1. Mesin traktor, sebagai penggerak utama implement.
2. Meteran gulung
3. Patok, sebagai tanda pada lahan.
4. Alat tulis
5. Stopwach
6. Kalkulator

3.3. Prosedur Praktikum


1. Pola pengolahan tanah
a. Menyiapkan Perlengkapan Pengukuran Kapasitas Lapang.
b. Mengukur lahan seluas 10 m x 40 m, kemudian memberi tanda dengan
patok/tali pada bagian ujung/sudutnya.
c. Menyiapkan traktor sedemikian rupa sehingga implement traktor tepat pada
garis awal area pembajakan.
d. Menghitung lamanya waktu gerak / pembajakan traktor dari awal penurunan
bajak ke lahan, membajak, hingga operator mengangkat kembali implement
dari traktor ketika traktor telah sampai diujung tepi area pembajakan yang
lainnnya.
e. Menggerakan traktor mengelilingi lahan yang belum diolah dalam arah
berlawanan dengan arah putaran jarum jam.
f. Pada sisi lahan yang panjang, bajak diturunkan (melakukan pengolahan tanah)
dimulai dari sisi terluar lahan.
g. Setelah traktor sampai pada headland, mengangkat bajak dan traktor melintasi
headland menjuju sisi panjang lahan yang lain (bersebrangan) untuk
pengolahan tanah yang berikutnya.
h. Mencatat data pengukuran diatas.

2. Pengukuran
a. Mengukur lebar kerja implement diukur dari sisi ke sisi, dimulai dari sisi
terluar. Pada setiap kali putran traktor, memberi patok disetiap sisi olahan
tanah sebagai tanda, pengukuran slip dilakukan mengacu pada patok terluar.
b. Mengukur kecepatan maju dengan cara menghitung waktu yang dibutuhakan
untuk membajak sepanjang sisi panjang lahan. Dengan kecepatan maju rata-
rata adalah hasil bagi jarak dengan waktu tempuh.
c. Mengukur waktu untuk pemasangan implement, istirahat operator dan waktu
berbelok sebagai waktu hilang
d. Mengukur slip dengan melakukan pengukuran 5 kali putaran roda.
Memberikan patok sebagai tanda dimulainya dan berakhirnya putaran roda.
Penghitungan Waktu dan Lebar Areal Pembajakan Traktor
Pada Lahan
Akhir Pembajakan Traktor Dengan
Diawali Pengangkatan Bajak dari
lahan oleh kemudi Taktor Secara
Stop Stopwact Pada Hidrolik
Saat Bajak Dinaikan
dan traktor telah pada 0 :59 :1
ujung areal pembajakan

Hasil Pembajakan ke 1

Penghitungan Lebar
areal Pembajakan
aktual ke-1

LAHAN

0 :00 :1

Start Stopwact Pada


Awal Pembajakan Traktor Dengan Saat Bajak Diturunkan
Diawali Penurunan Bajak dari Taktor dan pertama kali
Ke lahan Secara Hidrolik membajak lahan
Penghitungan Waktu dan Lebar Areal Pembajakan Traktor
Pada Lahan
Akhir Pembajakan Traktor Dengan
Diawali Pengangkatan Bajak dari
lahan oleh kemudi Taktor Secara
Stop Stopwact Pada
Hidrolik
Saat Bajak Dinaikan
dan traktor telah pada 1 :31 :1
ujung areal pembajakan

Hasil Pembajakan ke 2 Hasil Pembajakan ke 1

Penghitungan Lebar
areal total Pembajakan
aktual

LAHAN

0 :00 :1
Awal Pembajakan Traktor Dengan
Diawali Penurunan Bajak dari Taktor
Ke lahan Secara Hidrolik
Start Stopwact Pada
Saat Bajak Diturunkan
dan pertama kali
membajak lahan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Hasil
 Te1 = 2 menit 26 detik
 Te2 = 4 menit 5 detik
 Te3 = 2 menit 3 detik
 Te total = 8 menit 34 detik
 Waktu total = 15 menit = 0,25 jam
 Waktu hilang (Tn) = 0,1023 jam

Te
ET = x 100 %
(Te +Tn )
0,14277
= x 100 % = 57,108 %
(0,14277 + 0,1023 )
A
KLE =
(Te +Tn )

(12 x 20)m : 10000


= = 0,096 ha jam
0,25
20 20 m
V1 = = = 0,13
t1 146 s
20 20 m
V2 = = = 0,08
t2 245 s
20 20 m
V3 = = = 0,16
t3 123 s

Vrata-rata = 0,1233 m
s
W x Vratio
KLT =
(Te + Tn )
0,8 x 10000 x 0,1233
= = 98,4 ha jam
10
 Slip1 = 59 cm
 Slip2 = 108 cm
 Slip3 = 80 cm
 Slip rata-rata = 82,32 cm = 0,823 m
 Sb = 0,823 m
So = π x D x n
So = π x 1,2 m x 5 = 18,849 m
So − Sb
SLIP = x 100 %
So
18 ,849 −0,823
= 18 ,849
x 100 %

= 95,63 %
Overlap
Lebar teoritis = 0,8 m
Lebar efektif :
X1 = 70 cm Y1 = 53 cm Z1 = 61 cm
X2 = 75 cm Y2 = 85 cm Z2 = 70 cm
X rata Y rata Z rata
= 72,5 cm = 69 cm = 65,5 cm
2 2 2

53,75 + 69 + 65,5
Lebar efektif = = 0,6275 m
3
lebar teoritis − lebar efektif
Overlap = x 1000 %
lebar teoritis
0,8 − 0,6275
= 0,8
x 100 %

= 21,5625 %

IV.2. Pembahasan
Pada umumnya kapasitas lapang teoritis dan aktual memiliki perbedaan nilai
yang cukup signifikan. Dalam prakteknya kapasitas lapang secara aktual akan lebih
rendah dari kapasitas lapang teoritis ini disebabakan oleh beberapa faktor meliputi
1. Kondisi lahan
2. Kondisi dari traktor itu sendiri, apakah masih layak digunakan atau tidak.
Dari data yang kami dapat pada saat praktikum adalah kapitas lapang efektif
sebesar 0,096 ha/jam dan kapasitas lapang teoritis adalah sebesar 98,4 ha/jam.
Kapasitas lapang menunjukan seberapa besar luasan tanah yang dapat diolah oleh
traktor persatuan waktu tertentu. Ini berkaitan dengan lebarnya daerah pembajakan
oleh traktor, dan kecepatan traktor tersebut pada saat melakukan pengolahan tanah
Kapasitas lapang secara teoritis hanya membahas dan memperhitungkan
luasan areal perlamanya waktu pembajakan tanpa memperhitungkan gangguan-
gangguan yang ada dilapangan. Kapasitas lahan teoritis merupakan suatu kapasitas
lahan ideal traktor dalam melakukan pembajakan pada suatu areal tertentu, dengan
asumsi bahwa traktor dianggap berjalan dengan mulus tanpa hambatan dengan
kecepatan konstan dan jarak yang ditempuh berdasarkan keliling roda traksi ban
belakang traktor. Kapasitas ini memberikan gambaran seberapa besar kemampuan
optimum traktor dalam mengolah tanah yang sebenarnya dilapangan.
Pada saat praktikum kondisi lapangan tidak bersahabat. Kondisi tanahnya
memiliki kelembaban yang tinggi sehingga ban traktor tertutupi tanah sehingga alur
ban traktor tidak bisa menggigit tanah akibatnya traktor banyak sekali slip nya.
Praktikum kali ini mengalami hambatan dan hambatan itu dapat disebabkan oleh
beberapa faktor meliputi
1. Faktor Kelembaban Tanah Yang Tinggi
Kelembaban tanah yang tinggi membuat gerak traktor menjadi sulit, dan
traktor sangat sulit berjalan lurus selalu berkelok – kelok, juga menimbulkan slip
pada traktor serta ketidak seimbangan lainnya yang membuat arah pembajakan
menjadi lebih luas dan lebih pendek dari semestinya.

2. Faktor Liat Pada Lahan Yang Tinggi


Kadar liat tinggi ditambah kondisi lahan setelah hujan, membuat lahan
menjadi licin, tanah semakin liat. Distribusi tekanan traktor menjadi tidak merata
pada setiap titiknya sehingga dengan demikian pergerakan traktor tidak stabil.
3. Faktor Konfigurasi Lahan Yang Tidak Beraturan
Pada kondisi lahan yang tidak beraturan dapat membuat nilai besaran
pembajakan untuk setiap lokasi menjadi berbeda, kondisi pada saat kami
praktikum memiliki kelembaban yang sangat tinggi sehingga traktor mengalami
ketidakseimbangan sehingga pembajakan menjadi melebar atau menyempit.
Belum lagi ada slip pada roda traktor yang sangat besar mengakibatkan laju gerak
traktor tidak lurus menjadi berkelok-kelok sehingga mempengaruhi lebar lahan
yang dibajak.
4. Kesalahan Operator Pada Saat Pengukuran Data
Faktor ini akan selalu menyertai dalam setiap pengukuran dilapangan. Factor
ini kemungkinan besar terjadi pada saat pengukuran pada praktikum kali ini.
Kesalahan pengukuran tersebut bisa pada saat mengukur mengukur lebar
pembajakan. Kemudian kesalahan pembacaan ukuran pun dapat mempengaruhi
hasil pengukuran yang ada.
Overlapping pada saat pelaksanaan pembajakan dilapangan dapat kita amati
Overlapping terjadi atau tidak bisa dilihat dari adanya gerusan dan gundukan yang
menumpuk pada areal aluran pembajakan yang dilakukan sebelumnya.

BAB V
KESIMPULAN

1) Kapasitas teoritis pembajakan menunjukan seberapa besar kemampuan


optimum traktor dalam membajak lahan pertanian dalam ha /jam.
2) Efisiensi pembajakan diperoleh dari seberapa besar kapasitas actual dan
teoritis yang diperoleh pada traktor saat pengolahan lahan.
3) Slip dan Skid mempengaruhi kinerja pembajakan traktor secara umum
dilapangan.
4) Umumnya pada lahan pertanian yang basah, kadar liat tinggi, dan konfigurasi
lahan yang fluktuatif / tidak seragam, menimbulkan slip yang besar pada laju
traktor.
5) Besarnya overlapping akan mempengaruhi lamanya waktu pembajakan
keseluruhan areal pembajakan yang akan dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Ali Hanafiah, Kemas.2005.Dasar –Dasar Ilmu Tanah.Jakarta:PT Raja Grafindo
Persada.
Bowles, J.E.,1984.Sifat - sifat Fisis dan Geoteknis Tanah.Alih bahasa Ir.Johan
Kelanaputra Hainim.Jakarta : Erlangga.
Braja M.Das.,1993.Mekanika Tanah Jilid 1 ( Prinsip – Prinsip Rekayasa Geo
Tehnis ).Jakarta : Erlangga.
Christiady Hardiyatmo, Hary.1992.Mekanika Tanah I.Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama.
Djatmiko Soedarmo, G., 1985. Petunjuk Praktikum Mekanika Tanah., Universitas
Merdeka Malang.
Djatmiko Soedarmo, G dan S.J.Edi Purnomo.,1997.Mekanika Tanah 1., Yogyakarta :
Kanisius.
Hunt, Donnell.1983.Farm Power and Machinerry Management, eighht edition.Lowa
State University Press : Ames.
Sunggono. 1984. Mekanika Tanah. Bandung : Nova.