Anda di halaman 1dari 25

BIODIVERSITAS

(KEANEKARAGAMAN HAYATI)

Tugas Remidi
Mata Pelajaran Biologi Kelas X Semester 1

Oleh:
Ika Hasna Mira Hastuti
Kelas XII IPA 1

SMA MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO

2015
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................1
DAFTAR ISI........................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................3
A. Latar Belakang.........................................................................................3
B. Tujuan Penelitian.....................................................................................3
C. Metode Penelitian....................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN MATERI....................................................................5
A. Keanekaragaman Hayati di Indonesia..................................................5
B. Keanekaragaman Hayati Dunia.............................................................8
C. Manfaat Keanekaragaman Hayati bagi Kelangsungan Hidup
Manusia....................................................................................................12
D. Konservasi (Perlindungan) Keanekaragaman Hayati.........................14
E. Tingkat Keanekaragaman Hayati..........................................................15
BAB III KESIMPULAN.....................................................................................23
DAFTAR REFERENSI.......................................................................................24

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di lingkungan sekitar kita, kita dapat menemui berbagai jenis
makhluk hidup. Berbagai jenis hewan misalnya ayam, kucing, serangga,
dan sebagainya, dan berbagai jenis tumbuhan misalnya mangga,
rerumputan, jambu, pisang, dan masih banyak lagi jenis tumbuhan di
sekitar kita. Masing-masing makhluk hidup memiliki ciri tersendiri
sehingga terbentuklah keanekaragaman makhluk hidup yang disebut
dengan keanekaragaman hayati atau biodiversitas.
Di berbagai lingkungan, kita dapat menjumpai keanekaragaman
makhluk hidup yang berbeda-beda. Keanekaragaman itu meliputi berbagai
variasi bentuk, warna, dan sifat-sifat lain dari makhluk hidup. Sedangkan
di dalam spesies yang sama terdapat keseragaman. Setiap lingkungan
memiliki keanekaragaman hayati masing-masing.
Indonesia adalah negara yang termasuk memiliki tingkat
keanekaragaman yang tinggi. Taksiran jumlah utama spesies sebagai
berikut. Hewan menyusui sekitar 300 spesies, burung 7.500 spesies, reptil
2.000 spesies, tumbuhan biji 25.000 spesies, tumbuhan paku-pakuan 1.250
spesies, lumut 7.500 spesies, ganggang 7.800, jamur 72.000 spesies, serta
bakteri dan ganggang hijau biru 300 spesies. Dari data yang telah
disebutkan, itu membuktikan bahwa tingkat biodiversitas di Indonesia
sangatlah tinggi.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan kami menyusun makalah ini antara lain:
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran biologi.
2. Menambah wawasan masyarakat akan keanekaragaman hayati dan
manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia.

C. Metode Penelitian
Metode penelitian yang kami gunakan untuk mencari sumbersumber untuk pembuatan makalah ini adalah dengan mengumpulkan data
dari buku-buku.

BAB II
PEMBAHASAN MATERI
A. Keanekaragaman Hayati di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara yang memiliki
keanekaragaman hayati yang tinggi. Dua negara lainnya adalah Brasil dan
Zaire. Tetapi dibandingkan dengan Brazil dan Zaire, Indonesia memiliki
keunikan tersendiri. Keunikannya adalah di samping memiliki tingkat
keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki areal tipe indomalaya yang luas, juga tipe oriental, australia, dan peralihannya. Selain itu,
di Indonesia terdapat banyak hewan dan tumbuhan langka, serta spesies
endemik.
1. Memiliki Keanekaragaman Hayati Tinggi
Indonesia

terletak

di

daerah

tropik

sehingga

memiliki

keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan daerah


subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim kutub). Keanekaragaman
tinggi di Indonesia dapat dijumpai di dalam lingkungan hutan tropik.
Jika di hutan iklim sedang dijumpai satu atau dua jenis pohon, maka
di areal yang sama di dalam hutan hujan tropik memiliki
keanekaragaman hayati sekitar 300 kali lebih besar dibandingkan
dengan hutan iklim sedang. Di dalam hutan hujan tropik terdapat
berbagai jenis tumbuhan (flora) dan fauna yang belum dimanfaatkan,
atau masih liar.
2. Memiliki Tumbuhan Tipe Indo-Malaya yang Arealnya Luas
Tumbuhan di Indonesia merupakan bagian dari daerah geografi
tumbuhan indo-malaya, seperti yang dinyatakan oleh Ronald D. Good
dalam bukunya The Geography of Flowering Plants. Flora indomalaya meliputi tumbuhan yang hidup di India, Vietnam, Thailand,
Malaysia, Indonesia, dan Philipina. Flora yang tumbuh di Malaysia,
Indonesia, dan Philipina sering disebut sebagai kelompok flora

malenesia. Mengapa Malaysia, Indonesia, dan Philipina memiliki


rumpun tumbuhan bunga yang sama? Hal ini dipengaruhi oleh sejarah
pembentukan daratan (geologi), kondisi iklim yang serupa (samasama beriklim tropis), ketinggian topografi yang serupa, dan kondisi
fisika dan kimia tanah yang serupa pula. Hutan di Indonesia dan
hutan-hutan di daerah flora malenesia memiliki kurang lebih 248.000
spesies tumbuhan tinggi. Jumlah ini kira-kira setengah dari seluruh
spesies tumbuhan di bumi. Hutan hujan tropik di malenesia
didominasi oleh pohon dari famili Dipterocarpaceae, yaitu pohonpohon yang menghasilkan biji bersayap. Biasanya Dipterocarceae
merupakan tumbuhan tertinggi. Tumbuhan yang termasuk famili
Dipterocarpaceae misalnya keruing (dipterocarus spp.), meranti
(Shorea spp.), kayu garu (Gonystylus bancanus), dan kayu kapur
(Dyrobalanops aromatica). Hutan di Indonesia merupakan bioma
hutan hujan tropik, dicirikan dengan kanopi yang rapat dan banyak
tumbuhan liana (tumbuhan yang memanjat). Tumbuhan khas seperti
durian (Durio zibethinus), mangga (Mangifera indica), dan sukun
(Artocarpus) di Indonesia tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa,
dan Sulawesi. Tumbuhan-tumbuhan ini juga terdapat di Malaysia dan
Philipina.
3. Memiliki Hewan Tipe Oriental (Asia), Australia, Serta Perlalihannya
Ketika Alfred Russel Wallace mengunjungi Indonesia pada tahun
1856, ia menemukan perbedaan besar fauna di beberapa daerah di
Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). Ketika ia mengunjungi Bali dan
Lombok, ia menemukan perbedaan hewan di kedua daerah tersebut.
Di Bali, terdapat banyak hewan yang mirip dengan hewan-hewan
yang mirip hewan-hewan Asia (Oriental), sedangkan di Lombok
hewan-hewannya mirip dengan Australia. Oleh sebab itu, kemudian ia
membuat garis pemisah yang memanjang mulai dari Selat Lombok ke
Utara melewati Selat Makasar dan Philipina Selatan. Garis ini disebut
Garis Wallace. Indonesia terbagi menjadi dua zoogeografi yang

dibatasi oleh Garis Wallace. Garis Wallace membelah Selat Makasar


menuju ke Selatan hingga ke Selat Lombok. Jadi, Garis Wallace
memisahkan wilayah oriental (termasuk Sumatera, Jawa, Bali, dan
Kalimantan) dengan wilayah Australia (Sulawesi, Irian, Maluku, Nusa
Tenggara Barat dan Timur). Setelah Wallace, Weber seorang ahli
zoologi Jerman juga mengadakan penelitian tentang penyebaran
hewan-hewan di Indonesia. Weber melihat bahwa hewan-hewan di
Sulawesi tidak dapat sepenuhnya dikelompokkan sebagai hewanhewan kelompok Australia. Hewan-hewan tersebut ada yang memiliki
sifat-sifat seperti halnya hewan-hewan di daerah Oriental. Oleh sebab
itu, Weber mengatakan bahwa fauna di Sulawesi merupakan fauna
peralihan. Weber kemudian membuat garis pembatas yang berada di
sebelah timur Sulawesi memanjang ke Utara ke Kepulauan Aru. Pulau
Sulawesi merupakan pulau pembatas antara wilayah Oriental dan
Australia atau merupakan wilayah peralihan yang paling mencolok.
Sulawesi dihuni oleh sebagian hewan Oriental dan sebagian hewan
Australia. Contohnya di Sulawesi terdapat oposum dari Australia
namun juga terdapat kera macaca dari Oriental.
4. Memiliki Banyak Hewan dan Tumbuhan Langka
Di Indonesia banyak terdapat hewan dan tumbuhan yang telah langka.
Hewan langka misalnya Babirusa (Babyrousa babyrussa), Harimau
Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Harimau jawa (Panthera tigris
sondanicus), Macan kumbang (Panthera pardus), Orangutan (Pongo
pygmaeus abelii), Badak sumatera (Decerorhinus sumatrensis), Tapir
(Tapirus indicus), dan lain-lain. Tumbuh-tumbuhan langka misalnya
Bedali (Radermachera gigantea), Putat (Planhonia valida), Kepuh
(Stereula foetida), Bungur (Lagerstromia speciosa), Nangka celeng
(Artocarpus heterophyllus), Kluwak (Pangium edule), Bendo
(Artocarpus elasticus), Mundu (Garcinia dulcis), dan lain-lain.
5. Memiliki Banyak Hewan dan Tumbuhan Endemik

Di Indonesia terdapat hewan dan tumbuhan endemik. Hewan dan


tumbuhan endemik Indonesia artinya hewan dan tumbuhan itu haya
ada di Indonesia, tidak terdapat di negara lain. Hewan endemik
misalnya harimau jawa, harimau bali (sudah punah), jalak bali putih di
Bali, badak bercula satu di Ujung Kulon, biturong, monyet Presbytis
thomasi, tarsius, kukang, maleo hanya di Sulawesi, komodo di Pulau
Komodo dan sekitarnya. Tumbuhan yang endemik terutama dari
genus Rafflesia arnoldii (endemik di Sumatera Barat, Bengkulu, dan
Aceh), R. borneensis (Kalimantan), R. ciliata (Kalimantan Timur), R.
horsfilldii (Jawa), R. patma (Nusa Kambangan dan Pangandaran), R.
rochussenii (Jawa Barat), dan R. contleyi (Sumatera bagian timur).
B. Keanekaragaman Hayati Dunia
Kehadiran makhluk hidup ditentukan oleh faktor lingkungan.
Faktor lingkungan dapat dibedakan sebagai kondisi dan sumber daya.
Kondisi adalah suatu faktor yang besarannya dapat diukur dan tidak habis
jika digunakan oleh organisme. Contoh kondisi adalah suhu, intensitas
cahaya, curah hujan, dan radiasi matahari. Sedangkan sumber daya adalah
faktor lingkungan yang habis ketersediaanya bila sudah digunakan,
misalnya makanan dan ruang (tempat tinggal).
Matahari adalah sumber energi utama untuk kehidupan di bumi.
Jumlah sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi menentukan
penyebaran makhluk hidup. Karena permukaan bumi bulat maka setiap
tempat di permukaan bumi mendapatkan sinar matahari dengan jumlah
yang berbeda-beda. Akibatnya suhu di berbagai tempat di permukaan bumi
berbeda-beda. Berdasarkan letak terhadap garis lintang, maka bumi dibagi
dalam beberapa daerah iklim sebagai berikut.
1. Daerah tropik berada di antara 23,50 LU dan 23,50 LS. Daerah ini
hanya memiliki dua musim.
2. Daerah iklim sedang (subtropik) berada di antara 23,50 dan 660.
Daerah ini memiliki empat musim, yaitu panas, gugur, seni, dan
dingin (salju).

3. Daerah kutub (artik) berada pada garis lintang lebih dari 660.
4. Daerah peralihan antara subtropik dan kutub (subartik).
Faktor lingkungan penting yang mempengaruhi kehadiran dan
penyebaran oraganisme adalah suhu. Variasi suhu lingkungan menentuakn
proses kehidupan, penyebaran dan kelimpahan organisme. Variasi suhu
lingkungan alami dapat bersifat siklik (misalnya musiman, harian). Hal ini
berkaitan dengan letak tempat di garis lintang (latitudinal), atau
ketinggian di permukaan laut (altitudinal). Variasi suhu berdasarkan garis
lintang berkaitan dengan variasi musim yang disebabkan oleh posisi poros
bumi terhadap matahari.
Interaksi antara suhu, kelembapan, angin, altitudinal, latitudinal,
dan topografi menghasilkan daerah iklim yang luas yang dinamakan
bioma. Setiap bioma memiliki hewan dan tumbuhan tertentu yang khas.
Beberapa bioma di bumi antara lain tundra, taiga, hutan gugur, hutan hujan
tropik, padang rumput, dan gurun.
1. Tundra
Tundra terdapat di lingkungan kutub utara dan kutub selatan, Green
Land, Siberia utara. Daerah ini beriklim kutub, sehingga selalu
tertutup salju. Tumbuhan yang ada terutama adalah lumut
Sphagnum dan lumut kerak. Tumbuhan tahunan hampir tidak ada.
Tumbuhan semusim berumur pendek dan berbunga serempak pada
musim panas, serta memiliki biji-biji yang dorman selama musim
dingin. Hewan-hewan yang ada adalah beruang kutub, serigala
kutub, reinder, dan caribou bull (sebangsa rusa). Di bioma tundra
juga terdapat burung yang umumnya membuat sarang pada musim
panas. Burung ini adalah burung migran (berasal dari daerah lain).
2. Taiga
Taiga terdapat di antara daerah subtropik dan kutub, misalnya di
Rusia dan Eropa Utara, Kanada, dan Alaska. Jadi, taiga terletak di
sebelah selatan tundra. Tumbuhan khas yang ada di taiga adalah
konifer atau tumbuhan berdaun jarum (pohon spruce, alder, dan

birch), yang hijau sepanjang tahun. Taiga juga sering disebut sebagai
hutan boreal. Seperti pada bioma tundra, di taiga juga sangat dingin
pada musim salju, tetapi musim panasnya lebih lama. Hewan yang
ada adalah beruang hitam dan serigala.
3. Hutan Gugur
Hutan gugur terdapat di daerah subtropik di Eropa Barat, Korea,
Jepang utara, dan Amerika Timur. Bioma ini memiliki curah hujan
75 100 cm per tahun, memiliki empat musim. Tumbuhan yang ada
terutama mapel, oak, beech, yang selalu menggugurkan daunnya
pada musim gugur. Hewan-hewan yang umum adalah rusa, beruang,
dan rubah.
4. Hutan Hujan Tropik
Bioma ini berada di daerah tropik, yaitu di Indonesia, India,
Thailand, Brazil, Kenya, Costa Rica, dan Malaysia. Curah hujan
tinggi yaitu 200 255 cm per tahun, matahari bersinar sepanjang
tahun. Jenis tumbuhan sangat banyak dan komunitasnya sangat
kompleks. Tumbuhan tumbuh dengan subur, tinggi, serta banyak
cabang dengan daun yang lebat sehingga membentuk tudung atau
kanopi. Tumbuhan khas adalah kelompok liana, yaitu tumbuhan
yang merambat, misalnya rotan, dan tumbuhan epifit yaitu tumbuhan
yang menempel pada tumbuhan lain, misalnya anggrek. Binatang
yang menghuni hutan hujan tropik adalah berbagai macam burung,
kera, babi hutan, tupai, macan, gajah, dan rusa.
5. Padang Rumput
Padang rumput banyak terdapat di Nusa tenggara, Amerika Serikat
bagian Tengah, Afrika Tengah dan Selatan, serta Eropa Timur.
Bioma ini curah hujannya rendah yaitu 25 -30 cm per tahun.
Tumbuhan utama adalah rumput-rumputan. Hewannya meliputi
bison, zebra, kanguru, jerapah, kijang, singa, serigala, jaguar,
binatang pengerat, reptilia, dan beberapa burung. Padang rumput di
daerah tropik disebut sebagai savana.

10

6. Gurun
Bioma gurun terdapat di Asia Kecil, Afrika utara, Chima, Mongolia,
dan Amerika Barat. Curah hujan sangat rendah kurang lebih 25 cm
per tahun, suhu sangat tinggi di siang hari dan sangat rendah di
malam

hari,

kelembapan

udara

rendah,

tanahnya

tandus.

Tumbuhannya terutama kaktus, dan tumbuhan efemera (tumbuhan


yang pada waktu hujan cepat tumbuh, cepat berbunga dan memiliki
biji yang dorman). Hewan yang ada adalah unta, tikus, ular, kadal,
dan semut.
7. Bioma Berdasarkan Altitudinal
Telah diuraikan bahwa permukaan bumi berdasarkan latitudinal
dapat dibedakan menjadi daerah tropik, subtropik, dan kutub.
Masing-masing daerah tersebut memiliki jenis organisme dan
keanekaragaman yang berbeda. Di daerah peralihan antara subtropik
dan kutub terdapat hutan taiga yang terdiri dari tumbuhan berdaun
jarum dan di daerah kutub terdapat tundra.
8. Bioma Air Tawar
Ekosistem air tawar memiliki kadar garam rendah. Air tawar
memiliki kemampuan menyerap panas dari cahaya matahari
sehingga perubahan suhu tidak terlalu besar. Berdasarkan ada
tidaknya arus, ekosistem air tawar dibedakan menjadi ekosistem
lentik (air tidak mengalir) misalnya danau, kolam, rawa, serta
ekosistem lotik (air mengalir) misalnya sungai. Tumbuhan yang
menghuni lingkungan perairan tawar meliputi tumbuhan yang
berukuran besar (makrohidrofita) serta tumbuhan yang berukuran
kecil, yaitu ganggang. Tumbuhan biji di ekosistem air tawar
misalnya teratai dan eceng gondok. Sedangkan tumbuhan yang
berukuran mikroskopik misalnya ganggang biru, ganggang hijau,

11

dan diatomae. Hewan yang menghuni air tawar adalah udangudangan, ikan, dan serangga.

9. Bioma Air Laut


Bioma air laut luasnya lebih dari dua pertiga permukaan bumi.
Bioma air laut kurang terpengaruh oleh perubahan iklim dan cuaca.
Ciri khas air laut adalah mempunyai kadar garam yang tinggi. Kadar
garam rata-rata air laut adalah 35 ppm (part per million). Di daerah
khatulistiwa kadar garamnya lebih tinggi daripada di daerah yang
jauh dari khatulistiwa.
C. Manfaat

Keanekaragaman

Hayati

Bagi

Kelangsungan

Hidup

Manusia
Pemanfaatan keanekaragaman hayati bagimasyarakat harus secara
berkelanjutan. Yang dimaksud dengan manfaat yang berkelajutan adalah
manfaat yang tidak hanya untuk generasi sekarang tetapi juga untuk
generasi yang akan datang.
1. Sebagai Sumber Pangan, Perumahan, dan Kesehatan
Kehidupan manusia yang bergantung pada keanekaragaman hayati.
Hewan dan tumbuhan yang kita manfaatkan saat ini (misalnya ayam,
kambing, padi, jagung) pada zaman dahulu juga merupakan hewan
dan tumbuhan liar, yang kemudian dibudidayakan. Hewan dan
tumbuhan liar itu dibudidayakan karena memiliki sifat-sifat unggul
yang diharapkan manusia. Sebagai contoh, ayam dibudidayakan
karena menghasilkan telur dan daging. Padi dibudidayakan karena
menghasilkan beras. Beberapa contoh tumbuhan dan hewan yang
memiliki peranan penting untuk memenuhi kebutuhan pangan,
perumahan, dan kesehatan, misalnya:
a). Pangan: berbagai biji-bijian (padi, jagung, kedelai, kacang),
berbagai umbi-umbian (ketela, singkong, suwek, garut, kentang),

12

berbagai buah-buahan (pisang, nangka, mangga, jeruk, rambutan),


berbagai hewan ternak (ayam, kambing, sapi).
b). Perumahan: kayu jati, sonokeling, meranti, kamfer.
c). Kesehatan: kunyit, kencur, temulawak, jahe, lengkuas.
2. Sebagai Sumber Pendapatan
Keanekaragaman hayati dapat dijadikan sumber pendapatan.
Misalnya

untuk

bahan

baku

industri,

rempah-rempah,

dan

perkebunan. Bahan baku industri misalnya kayu gaharu dan cendana


untuk industri kosmetik, teh dan kopi untuk industri minuman,
gandum dan kedelai untuk industri makanan, dan ubi kayu untuk
menghasilkan alkohol. Rempah-rempah misalnya lada, vanili, cabai,
bumbu dapur. Perkebunan misalnya kelapa sawit dan karet.
3. Sebagai Sumber Plasma Nutfah
Hewan, tumbuhan, dan mikroba yang saat ini belum diketahui tidak
perlu dimusnahkan, karena mungkin saja di masa yang akan datang
akan memiliki peranan yang sangat penting. Sebgai contoh, tanaman
mimba (Azadirachta indica),. Dahulu tanaman ini hanya merupakan
tanaman

pagar, tetapi

saat ini diketahui

mengandung

zat

azadiktrakhtin yang memiliki peranan sebagai anti hama dan anti


bakteri. Adapula jenis ganggang yang memiliki kendungan protein
tinggi, yang dapat digunakan sebagai sumber makanan masa depan,
misalnya Chlorella. Buah pace (mengkudu) yagn semula tidak
dimanfaatkan,

sekarang

diketahui

memiliki

khasiat

untuk

meningkatkan kebugaran tubuh, mencegah dan mengobati penyakit


tekanan darah.
4. Manfaat Ekologi
Selain

berfungsi

untuk

menunjuang

kehidupan

manusia,

keanekaragaman hayati memiliki peranan dalam mempertahankan


keberlanjutan ekosistem. Masing-masing jenis organisme memiliki
peranan dalam ekosistemnya. Peranan ini tidak dapat digantikan oleh

13

jenis yang lain. Sebagai contoh, burung hantu dan ular di ekosistem
sawah merupakan pemakan tikus. Jika kedua pemangsa ini
dilenyapkan oleh manusia, maka tidak ada yang mengontrol populasi
tikus. Akibatnya perkembangbiakan tikus meningkat cepat dan di
mana-mana terjadi hama tikus. Tumbuhan merupakan penghasil zat
organik dan oksigen, yang dibutuhkan oleh organisme lain. Selain
itu, tumbuh-tumbuhan dapat membentuk humus, menyimpan air
tanah,

dan

mencegah

erosi.

Keanekaragaman

yang

tinggi

memperkokoh ekosistem. Ekosistem dengan keanekaragaman yang


rendah merupakan ekosistem yang tidak stabil. Bagi manusia,
keanekaragaman yang tinggi merupakan gudang sifat-sifat unggul
(plasma nutfah) untuk dimanfaatkan di kemudian hari.
5. Manfaat Keilmuan
Keanekaragaman

hayati

merupakan

lahan

penelitian

dan

pengembangan ilmu yang sangat berguna untuk kehidupan manusia.


6. Manfaat Keindahan
Keindahan alam tidak terletak pada keseragaman tetapi pada
keanekaragaman. Bayangkan bila halaman rumah kita hanya
ditanami satu jenis tanaman saja, apakah indah? Tentu saja akan
lebih indah apabila ditanami berbagai tanaman seperti mawar,
melati, anggrek, rumput, palem.
Kini kita sadari bahwa begitu banyak manfaat keanekaragaman
hayati dalam hidup kita. Pemanfaatannya yang begitu banyak dan beragam
tentu saja dapat mengancam kelestariannya. Untuk itu kita harus bijaksana
dalam memanfaatkan keanekaragaman hayati, dengan mempertimbangkan
aspek manfaat dan aspek kelestariannya.
D. Konservasi (Perlindungan) Keanekaragaman Hayati
Konservasi keanekaragaman hayati atau biodiversitas sudah
menjadi kesepakatan internasional. Objek keanekaragaman hayati yang
dilindungi terutama kekayaan jenis tumbuhan (flora) dan kekayaan jenis
hewan (fauna) serta mikroorganisme misalnya bakteri dan jamur. Perlu

14

diingat bahwa yang termasuk flora tidak hanya tumbuhan yang berbunga
yang sehari-hari kita lihat tetapi juga lumut dan paku-pakuan. Demikian
pula dengan fauna, tidak saja mencakup binatang mamalia tetapi juga ikan,
burung, dan serangga.
Tempat perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia telah
diresmikan oleh pemerintah. Lokasi perlindungan tersebut misalnya
berupa Taman Nasional, Cagar Alam, Hutan Wisata, Taman Hutan Raya,
Taman Laut, Wana Wisata, Hutan Lindung, dan Kebun Raya. Tempattempat tersebut memiliki makna yang berbeda-beda meskipun fungsinya
sama yaitu untuk tujuan konservasi.
E. Tingkat Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor
keturunan atau genetik dan faktor lingkungan. Faktor keturunan
disebabkan oleh adanya gen yang akan membawa sifat dasar atau sifat
bawaan. Sifat bawaan ini diwariskan turun temurun dari induk kepada
keturunannya. Namun, sifat bawaan terkadang tidak muncul (tidak
tampak) karena faktor lingkungan. Jika faltor bawaan sama tetapi
lingkungannya berbeda, mengakibatkan sifat yang tampak menjadi
berbeda. Jadi, terdapat interaksi antara faktor genetik dengan faktor
lingkungan. Karena adanya dua faktor tersebut, maka muncullah
keanekaragaman hayati.
Sebagai contoh, kita tanam tanaman Hortensia secara stek ke
dalam dua pot yang diberi media tanam berbeda. Karena dari tanaman
stek, maka secara genetik tanaman itu sama. Gen yang terkandung di
dalamnya sama. Tanaman yang ditanam pot yang diberi media tanam
bersifat asam (misal diberi humus) akan menghasilkan bunga berwarna
merah sedangkan yang ditanam di pot yang diberi media tanam bersifat
basa (misal diberi bubuk kapur) akan menghasilkan bunga berwarna biru.
Jadi perbedaan keasaman tanah dapat mengakibatkan keanekaragaman
bunga Hortensia.

15

Keanekaragaman hayati itu sendiri dapat dibedakan menjadi tiga


tingkat,

yaitu

keanekaragaman

gen,

keanekaragaman

jenis,

dan

keanekaragaman ekosistem.

1. Keanekaragaman Gen
Bahan baku keanekaragaman sebenarnya terletak pada gen. Gen
adalah faktor pembawa sifat yang menentukan sifat makhluk hidup.
Gen terletak di dalam benang kromosom, yakni benang-benang
pembawa sifat yang terdapat di dalam inti sel makhluk hidup. Pada
manusia, sifat rambut lurus, hidung mancung, mata lebar, warna kulit,
dtentukan oleh gen. Gen adalah materi yang mengendalikan sifat atau
karakter. Jika gen berubah, maka sifat-sifat pun akan berubah. Sifatsifat yang ditentukan oleh gen disebut genotipe. Ini dikenal sebagai
pembawaan. Meskipun termasuk spesies yang sama, tidak ada satu
individu yang persis sama dengan yang lain, karena adanya
keanekaragaman gen. sekilas, memang ada kemiripan bentuk luar.
Namun jika diamati, akan terdapat variasi sifat sehingga tampaklah
adanya keanekaragaman. Perbedaan gen tidak hanya terjadi antar
jenis. Di dalam satu jenis (spesies) pun terjadi keanekaragaman gen.
dengan adanya keanekaragaman gen, maka sifat-sifat di dalam satu
bervariasi.
2. Keanekaragaman Jenis
Di dalam satu jenis dijumpai keseragaman individu, namun antarjenis
dijumpai keanekaragaman individu. Di lingkungan sekitar kita dapat
dijumpai berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Di dalam satu famili
rumput (Gramineae) dapat dijumpai rumput grinting, padi, jagung,
rumput gajah. Di dalam golongan burung dapat dijumpai itik, ayam,
bebek, angsa, merpati, dan burung parkit. Sangat mudah menentukan
keanekaragaman jenis karena dapat kita amati perbedaan sifat dengan

16

jelas. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 500 juta spesies makhluk


hidup.
3. Keanekaragaman Ekosistem
Antara makhluk hidup yang satu dengan yang lain (baik di dalam jenis
maupun antarjenis) terjadi interaksi. Ini dikenal sebagai interaksi
biotik, yang membentuk suatu komunitas. Antara makhluk hidup
dengan lingkungan fisik yaitu suhu, cahaya, dan lingkungan kimiawi
yaitu air, mineral, keasaman, juga terjadi interksi. Ini terkenalsebagai
interaksi biotik-abiotik yang membentuk sistem lingkungan atau
ekosistem. Kondisi lingkungan beraneka ragam. Ada lingkungan yang
banyak air, ada yang tidak. Ada lingkungan yang banyak emndapatkan
cahaya matahari, ada yang sedikit. Demikian pula halnya dengan
suhu, kelembapan, mineral, pH, kadar garam, ketinggian. Di dalam
lingkungan yang berbeda dapat dijumpai keanekaragaman hayati yang
berbeda. Sebagai contoh, di lingkungan pantai dapat ditemukan pohon
kelapadan hutan bakau, sedangkan di lingkungan pegunungan
dijumpai pohon pinus, apel, dan sayuran. Dengan beranekaragamnya
kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati, maka terbentuklah
keanekaragaman ekosistem. Di Indonesia, mulai dari daerah pantai
hingga puncak Jayawijaya yaitu Puncak Sukarno yang tertutup es di
Irian Jaya, diperkirakan terdapat 47 macam ekosistem. Beberapa
ekosistem itu misalnya ekosistem hutan bakau, ekosistem hutan hujan
tropik, ekosistem padang rumput (savana), ekosistem sawah,
ekosistem kota, dll.

17

Babirusa (Babyrousa babyrussa)

Babirusa adalah marga hewan dari beberapa jenis babi liar yang hanya
terdapat di sekitar Sulawesi, Pulau Togian, Malenge, Sula, Buru dan pulau-pulau
Maluku lainnya. Habitat babirusa banyak ditemukan di hutan hujan tropis. Hewan ini
gemar melahap buah-buahan dan tumbuhan, seperti mangga, jamur dandedaunan.
Mereka hanya berburu makanan pada malam hari untuk menghindari beberapa
binatang buas yang sering menyerang.
Panjang tubuh babirusa sekitar 87 sampai 106 sentimeter. Tinggi babirusa
berkisar pada 65-80 sentimeter dan berat tubuhnya bisa mencapai 90kilogram.
Meskipun bersifat penyendiri, pada umumnya mereka hidup berkelompok dengan
seekor pejantan yang paling kuat sebagai pemimpinnya. Binatang yang pemalu ini
bisa menjadi buas jika diganggu. Taringnya panjang mencuat ke atas, berguna
melindungi matanya dari duri rotan. Babirusa betina melahirkan satu sampai dua
ekor satu kali melahirkan. Masa kehamilannya berkisar antara 125 hingga 150 hari.
Bayi babirusa itu akan disusui selama satu bulan, setelah itu akan mencari makanan
sendiri di hutan bebas. Selama setahun babirusa betina hanya melahirkan satu kali.
Usia dewasa seekor babirusa lima hingga 10 bulan, dan dapat bertahan hingga usia
24 tahun.

18

Macan kumbang (Panthera pardus)

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) atau macan kumbang adalah
salah satu subspesies dari macan tutul yang hanya ditemukan di hutan tropis,
pegunungan dan kawasan konservasi Pulau Jawa, Indonesia. Macan tutul ini
memiliki dua variasi warna kulit yaitu berwarna terang (oranye) dan hitam (macan
kumbang). Macan tutul jawa adalah satwa indentitas Provinsi Jawa Barat.
Dibandingkan dengan macan tutul lainnya, macan tutul jawa berukuran paling kecil,
dan mempunyai indra penglihatan dan penciuman yang tajam. Subspesies ini pada
umumnya memiliki bulu seperti warna sayap kumbang yang hitam mengilap, dengan
bintik-bintik gelap berbentuk kembangan yang hanya terlihat di bawah cahaya
terang. Bulu hitam Macan Kumbang sangat membantu dalam beradaptasi dengan
habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan Kumbang betina serupa, dan berukuran
lebih kecil dari jantan.
Hewan ini soliter, kecuali pada musim berbiak. Macan tutul ini lebih aktif
berburu mangsa di malam hari. Mangsanya yang terdiri dari aneka hewan lebih kecil
biasanya diletakkan di atas pohon. Macan tutul merupakan satu-satunya kucing
besar yang masih tersisa di Pulau Jawa. Frekuensi tipe hitam (kumbang) relatif
tinggi. Warna hitam ini terjadi akibat satu alel resesif yang dimiliki hewan ini.

19

Sebagian besar populasi macan tutul dapat ditemukan di Taman Nasional


Gunung Gede Pangrango, meskipun di semua taman nasional di Jawa dilaporkan
pernah ditemukan hewan ini, mulai dari Ujung Kulon hingga Baluran. Berdasarkan
dari hilangnya habitat hutan, penangkapan liar, serta daerah dan populasi dimana
hewan ini ditemukan sangat terbatas, macan tutul jawa dievaluasikan sebagai Kritis
sejak 2007 di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I. Satwa
ini dilindungi di Indonesia, yang tercantum di dalam UU No.5 tahun 1990 dan PP
No.7 tahun 1999.

Orangutan (Pongo pygmaeus abelii)

Orangutan Sumatra (Pongo abelii) adalah spesies orangutan terlangka.


Orangutan Sumatra hidup dan endemik terhadap Sumatra, sebuah pulau yang
terletak

diIndonesia.

Mereka

lebih

kecil

daripada orangutan

Kalimantan.

Orangutan Sumatra memiliki tinggi sekitar 4.6 kaki dan berat 200 pon. Betina lebih
kecil, dengan tinggi 3 kaki dan berat 100 pon.

Nangka (Artocarpus heterophyllus)

20

Pohon nangka umumnya berukuran sedang, sampai sekitar 20 m tingginya,


walaupun ada yang mencapai 30 meter. Batang bulat silindris, sampai berdiameter
sekitar 1 meter. Tajuknya padat dan lebat, melebar dan membulat apabila di tempat
terbuka. Seluruh bagian tumbuhan mengeluarkan getah putih pekat apabila dilukai.
Daun tunggal, tersebar, bertangkai 14 cm, helai daun agak tebal seperti kulit, kaku,
bertepi rata, bulat telur terbalik sampai jorong (memanjang), 3,5-12 525 cm,
dengan pangkal menyempit sedikit demi sedikit, dan ujung pendek runcing atau agak
runcing. Daun penumpu bulat telur lancip, panjang sampai 8 cm, mudah rontok dan
meninggalkan bekas serupa cincin.
Tumbuhan nangka berumah satu (monoecious), perbungaan muncul pada
ketiak daun pada pucuk yang pendek dan khusus, yang tumbuh pada sisi batang
atau cabang tua. Bunga jantan dalam bongkol berbentuk gada atau gelendong, 1-3
38 cm, dengan cincin berdaging yang jelas di pangkal bongkol, hijau tua, dengan
serbuk sari kekuningan dan berbau harum samar apabila masak. Bunga nangka
disebut babal.

Setelah

melewati

umur

masaknya,

babal

akan

membusuk

(ditumbuhikapang) dan menghitam semasa masih di pohon, sebelum akhirnya


terjatuh. Bunga betina dalam bongkol tunggal atau berpasangan, silindris atau
lonjong, hijau tua.

Kluwak (Pangium edule)

21

Kepayang, kluwek, atau kluak (Pangium edule Reinw, ex. Blum, suku
Achariaceae, dulu dimasukkan dalam Flacourtiaceae) adalah tumbuhan berbentuk
pohon yang tumbuh liar atau setengah liar. Orang Sunda menyebutnya Picung atau
Pucung (begitu pula sebagian orang Jawa Tengah) dan di Toraja disebut
Pamarrasan.
Biji keluwek dipakai sebagai bumbu dapur masakan Indonesia yang memberi
warna hitam pada rawon, daging bumbu kluwek, brongkos, serta sup konro. Bijinya,
yang memiliki salut biji yang bisa dimakan, bila mentah sangat beracun karena
mengandung asam sianida dalam konsentrasi tinggi. Bila dimakan dalam jumlah
tertentu menyebabkan pusing (mabuk). Racun pada biji ini dapat dipakai sebagai
racun untuk mata panah. Biji ini aman diolah untuk makanan bila telah direbus dan
direndam terlebih dahulu. Kayu tanaman ini juga bernilai ekonomi, dengan berat
jenis 450-1000kg m-3. Ungkapan "mabuk kepayang" dalam bahasa Melayu maupun
bahasa Indonesia digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang
sedang jatuh cintasehingga tidak mampu berpikir secara logis.

Mundu (Garcinia dulcis)

22

Mundu atau rata (Garcinia dulcis) adalah sejenis pohon buah-buahan yang
asli Indonesia. Buah ini juga biasa disebut apel jawa. Buahnya dapat dimakan segar
atau diolah menjadi selai. Mundu merupakan sejenis pohon buah-buahan yang
semakin

langka

anggota

genus

Garcinia

yang

berkerabat

dekat

dengan manggis (Garcinia mangostana) dan asam kandis (Garcinia parvifolia).


Mundu dipercaya sebagai tanaman buah asli Indonesia yang hanya tumbuh di Jawa
dan sebagian Kalimantan, meskipun tumbuhan ini juga tumbuh di Filipina dan
Thailand, dan karena mutu buah ini kurang baik, maka buah ini kurang diremajakan.
Mundu

adalah

abadi. Batangnya

tumbuhan pohon yang

tegak,

berwarna

coklat

ukurannya
dan

sedang,

tingginya

dan

mencapai

hijau
20 m.

Adapun pepagannya bergetah putih. Daunnya berbentuk bulat memanjang dan


mengkilat. Bunganya tersusun dalam untaian berwarna putih atau hijau kekuningkuningan. Buahnya bulat seperti bola pingpong, bila sudah masak berwarna kuning,
halus, dan tipis kulitnya. Daging buahnya berwarna kuning, berair dan rasanya
manis-manis asam, dan jumlah bijinya 1-4 butir. Tumbuhan ini berbunga pada bulanbulan April-September. Sedangkan, buahnya masak pada Juli-November.

BAB III
KESIMPULAN
Makhluk hidup di dunia ini sangat beragam. Keanekaragaman makhluk
hidup tersebut disebut dengan sebutan keanekaragaman hayati atau biodiversitas.
Setiap sistem lingkungan memiliki keanekaragaman hayati yang berbeda.

23

Keanekaragaman hayati ditunjukkan oleh adanya berbagai variasi bentuk, ukuran,


warna, dan sifat-sifat dari makhluk hidup lainnya.
Indonesia terletak di daerah tropik yang memiliki keanekaragaman hayati
yang tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik dan kutub. Keanekaragaman
hayati disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan.
Terdapat interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan dalam
mempengaruhi sifat makhluk hidup.
Kegiatan manusia dapat menurunkan keanekaragaman hayati, baik
keanekaragaman gen, jenis maupun keanekaragaman lingkungan. Namun di
samping itu, kegiatan manusia juga dapat meningkatkan keanekaragaman hayati
misalnya penghijauan, pembuatan taman kota, dan pemuliaan.

DAFTAR REFERENSI

http://www.malangkab.go.id/
http://www.ipb.ac.id/
http://www.crayonpedia.org/

24

http://www.e-dukasi.net/
http://www.wikipedia.co.id/
Kimball, J.W. 1987. Biologi. Jakarta : Erlangga
Tjirosoepomo, Gembong. 2007. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

25