Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

INSTRUMENTASI DAN PENGUKURAN


KONVERSI TEMPERATUR KE ARUS DAN TEGANGAN
MENGGUNAKAN PERALATAN TIME MEASUREMENT

DISUSUN OLEH :

Nama

Abellio N. Sitompul

061340411637

Kelas

3 EGB

Dosen Pembimbing

Yuniar, S.T., M.Si.

NIM

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PRODI TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2014-2015

KONVERSI TEMPERATUR KE ARUS DAN TEGANGAN


MENGGUNAKAN PERALATAN TIME MEASUREMENT

I.

II.

TUJUAN PERCOBAAN
Mengetahui dan mempelajari perubahan derajat Celcius ke satuan
tegangan dan ke satuan arus.
ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan :
Satu set Temperature Measurement
Termometer Pt 100, termokopel dan termistor
Termometer air raksa
Tester
Botol aquadest
Stopwatch
Bahan yang digunakan :
Aquadest
Es

III.

DASAR TEORI
Thermocouple adalah perangkat yang terdiri dari dua konduktor
yang berbeda, biasanya paduan-paduan logam (metal-alloys), yang
menghasilkan tegangan yang berbanding lurus dengan perbedaan suhu
antara kedua ujung pasangan konduktor.
Thermocouple adalah jenis sensor suhu yang banyak digunakan
uktuk pengukuran dan control, dan juga dapat digunakan untuk mengubah
gradient panas menjadi listrik. Keterbatasan utama dengan termokopel
adalah akurasi dan kesalahan sistem kurang dari satu derajat Celcius bisa
sulit untuk tercapai.
Pada 1821, fisikawan Jerman-Estonia Thomas Johann Seebeck
menemukan prinsip efek Seebeck bahwa ketika konduktor apapun
dikenakan gradient termal, maka akan menghasilakn tegangan, fenomena
ini sekarang dikenal sebagai efek termoelektrik atau efek Seebeck. Untuk
mengukur tegangan ini selalu melibatkan atau menghubungkan konduktor
lain dengan ujung hot (panas).
Konduktor tambahan ini kemudian akan juga mengalami gradien
suhu, dan menimbulkan tegangan sendiri yang berlawanan dengan

tegangan yang asli. Untungnya, besarnya efek tergantung pada logam yang
digunakan. Dengan menggunakan logam yang berlainan untuk melengkapi
rangkaian membentuk rangkaian dimana kedua ujungnya menghasilakan
tegangan yang berbeda, meninggalkan perbedaan tegangan kecil yang
tersedia untuk pengukuran. Perbedaan tegangan semakin besar mengikuti
kenaikan suhu, dan perbedaan tegangan itu sebesar 1 dan 70 microvolts
per derajat Celcius untuk kombinasi logam standar.
Tegangan itu tidak dihasilkan pada junction dari dua logam dari
termokopel melainkan pada sebagian dari panjang dua logam berlainan
yang dikenakan gradient suhu. Karena kedua panjang logam yang
berlainan itu mengalami gradient suhu yang sama, hasil akhirnya adalah
pengukuran suhu pada junction dari termokopel seperti terlihat pada
gambar di bawah ini :

Metal A

eAB

Metal
Metal B
B

eAB

SEEBECK VOLTAGE

Hubungan antara tegangan dan pengaruhnya terhadap suhu masingmasing titik pertemuan dua buah kawat adalah linear. Walaupun begitu,
untuk perubahan suhu yang sangat kecil, tegangan pun akan terpengaruh
secara linear, atau dirumuskan sebagai berikut :
V =S T
Dengan
dan

adalah perubahan tegangan, S adalah koefisien seebeck,


adalah perubahan suhu. Nilai S akan berubah dengan

perubahan suhu, yang berdampak pada nilai keluaran berupa tegangan


termokopel tersebut, dan nilai S akan bersifat non-linear di atas rentang
tegangan dari termokopel tersebut. Termokopel diberi tanda dengan huruf
besar yang mengindikasikan komposisinya berdasarkan aturan American
Standard Institude (ANSI), seperti di bawah ini :

Tipe

Material
(+ dan -)

Temperature
kerja (C)

Sensitivitas (
V/C)

Ni-Cr dan Cu-Ni

60.9

Fe dan Cu-Ni

-270 1000
-210 1200

Ni-Cr dan Ni-Al

40.6

Cu dan Cu-Ni

-270 1350
-270 400

Pt dan Pt(87%)-Rh(13%)

Pt dan Pt(90%)-Rh(10%)

-50 1750
-50 1750

Pt(70%)-Rh(30%) dan
Pt(94%)-Rh(6%)

-50 1750

51.7
40.6
6

Sensor merupakan piranti yang digunakan untuk mendeteksi dan


mengukur magnitude sesuatu. Sensor merupakan tranduser yang
digunakan untuk mengubah variasi mekanis, magnetis, panas, menjadi
tegangan dan arus listrik. Sensor dikategorikan sebagai pengukur dan
mempunyai peranan penting dalam pengendalian proses pabrikasi
otomatis.
Termokopel merupakan sensor suhu yang terdiri atas sepasang
penghantar yang berbeda disambung las atau dileburkan bersama pada satu
sisi membentuk penghantar hot atau sambungan pengukuran yang ada
ujung ujung bebasnya untuk menghubungkan dengan penghantar cold
atau sambungan referensi. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar dibawah
ini.

Perbedaan suhu antara sambungan pengukuran dan sambungan


referensi alat ini berfungsi sebagai termokopel dan bisa membangkitkan
tegangan dc yang kecil. Tegangan output termokopel hampir berbanding

lurus dengan perbedaan suhu antara sambungan pengukuran (hot) dan


sambungan referensi (cold). Perbandingan yang konstan dinamakan
Koefisien Seeback dan berkisar antara 5 sampai 50 V per derajat celcius.
Tipe-Tipe dan Jenis Termokopel
Ketika memilih termokopel kita harus juga mempertimbangankan
jenis pengisolasian dan konstruksi probenya. Karena semua ini akan
memiliki efek pada suhu kisaran, akurasi suhu terukur, dan keandalan
pembacaannya. Di bawah ini dapat dilihat jenis-jenis termokopel yang
secara umum dipakai dikalangan industri.
Tipe K (Chromel / Alumel)
Tipe K adalah termokopel yang berbiaya murah dan umum
digunakan, karena popularitasnya itu termokopel jenis ini tersedia dalam
berbagai macam probe.termokopel tersedia untuk rentang suhu di -200 C
sampai +1200 C. Sensitivitasnya adalah kira-kira 41 v / C.
Tipe E (Chromel / konstanta)
Tipe E memiliki output yang tinggi (68 v / C) yang membuatnya
cocok untuk digunakan pada suhu rendah (cryogenic). Properti lainnya
dari tipe E ini adalah tipe non magnetik.
Tipe J (Iron / konstanta)
Jangkauan pengukurnnya terbatas, hanya -40 hingga 750 C
membuat termokopel jenis ini kurang populer dibandingkan dengan tipe K.
Termokopel tipe J ini tidak boleh digunakan di atas 760 C.
Tipe N (Nicrosil / Nisil)
Stabilitas tinggi dan ketahanannya terhadap oksidasi suhu tinggi
membuat tipe N cocok untuk pengukuran suhu tinggi tanpa platinum.
Dapat mengukur suhu di atas 1200 C. Sensitifitasnya sekitar 39 V/C
pada 900 C, sedikit di bawah tipe K. Tipe N merupakan perbaikan dari
tipe K

Termokopel tipe B, R dan S adalah termokopel 'logam mulia'.


Semuanya (tipe B,R,S) adalah yang paling stabil dari semua termokopel
yang ada, namun karena sensitivitasnya yang rendah (kira-kira 10 v / C),
mereka biasanya hanya digunakan untuk pengukuran suhu tinggi (> 300
C).
Tipe B (Platinum / Rhodium)
Cocok untuk pengukuran suhu tinggi hingga 1800 C. Disebut
termokopel "B" karena bentuk suhu / tegangan kurva mereka yang
menyerupai huruf "B", dan memberikan output yang sama pada 0 C dan
42 C. Hal ini membuat mereka tidak bisa ddigunakan pada suhu di
bawah 50 C.
Type R (Platinum / Rhodium)
Cocok untuk pengukuran suhu tinggi hingga 1600 C.
Sensitivitasnya yang rendah (10 v / C) dan biayanya yang tinggi,
membuat termokopel ini tidak cocok untuk digunakan pada pengukuran
umum.
Type S (Platinum / Rhodium)
Cocok untuk pengukuran suhu tinggi hingga 1600 C.
Sensitivitasnya yang rendah (10 v / C) dan biayanya yang tinggi
membuat mereka tidak cocok untuk digunakan pada pengukuran umum.
Karena tipe S sangat tinggi stabilitasnya, maka sering digunakan sebagai
standar kalibrasi untuk titik leleh emas (1064.43 C).
Type T (Copper / Constantan)
Cocok untuk pengukuran antara 200 to 350 C. Konduktor positif
terbuat dari tembaga, dan yang negatif terbuat dari constantan. Sering
dipakai sebagai alat pengukur alternatif sejak penelitian kawat tembaga.
Type T memiliki sensitifitas ~43 V/C
Ketika memilih jenis termokopel, anda harus memastikan bahwa
peralatan ukur anda tidak membatasi rentang suhu yang dapat diukur.
Kisaran suhu yang dapat diukur adalah 8 channel Pico TC-08. Perhatikan

juga bahwa termokopel dengan sensitivitas rendah (B, R dan S), memiliki
resolusi yang lebih rendah.

Hubungan Tegangan dan Suhu


Hubungan antara perbedaan suhu dengan tegangan yang dihasilkan
termokopel bukan merupakan fungsi linier melainkan fungsi interpolasi
polynomial.
Penggunaan Termokopel
Termokopel paling cocok digunakan untuk mengukur rentangan
suhu yang luas, hingga 2300C. Sebaliknya, kurang cocok untuk
pengukuran dimana perbedaan suhu yang kecil harus diukur dengan
akurasi tingkat tinggi, contohnya rentang suhu 0--100 C dengan
keakuratan 0.1 C. Untuk aplikasi ini, Termistor dan RTD lebih cocok.
Contoh Penggunaan Termokopel yang umum antara lain :

Industri besi dan baja


Pengaman pada alat-alat pemanas
Untuk termopile sensor radiasi
Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop, salah satu aplikasi
termopile.

IV.

PROSEDUR PERCOBAAN
a. Pemanasan air
1. Mengisi air pada water bath (aquadest).
2. Meletakkan thermometer air raksa, platinum,
bimetal,termokopel dan thermometer transmitor pada tutup
water bath.
3. Menghubungkan kabel pada Temperature Measurement ke stop
kontak.
4. Memutar Main Suplay pada posisi on, lampu indicator main
on akan menyala.
5. Memutar tombol merah pada Water bath pada skala 100C.
6. Menekan tombol hijau pada Water bath bersamaan dengan
menghidupkan Stop watch.
7. Memasukkan kabel tester tombol hitam ke hitam dan tombol
merah ke merah secara bergantian pada termokopel, platinum
dan termistor.
8. Mencatat kenaikan volt dan arus.
9. Bila thermometer air raksa telah menunjukkan 100C,
menekan tombol hijau pada water bath.
10. Mematikan alat dengan cara memutar Main suplay pada posisi
off.
11. Mencabut kabel dari stop kontak.
b. Isotherm
1. Mengisi termos isotherm dengan air es.
2. Meletakkan thermometer air raksa, platinum, bimetal,
termokopel dan thermometer transmitor pada tutup termos es.
3. Menghubungkan kabel pada Temperature Measurement ke stop
kontak.
4. Memutar Main Suplay pada posisi on, lampu indicator main
on akan menyala.
5. Pada saat memutar Main Supplay pada posisi on,
menghidupkan stopwatch.
6. Memasukkan kabel tester tombol hitam ke hitam dan tombol
merah ke merah secara bergantian pada termokopel, platinum
dan termistor.
7. Mencatat kenaikan volt dan arus setiap satu menit sampai
waktu 15 menit.
8. Mematikan alat dengan cara memutar Main Suply pada posisi
off.
9. Mencabut kabel dari stop kontak.

c. Pemanasan udara
1. Meletakkan thermometer air raksa, platinum,
bimetal,termokopel dan thermometer transmitor pada alat di
atas blower.
2. Memutar tombol pada electronic pada 30C.
3. Menghubungkan kabel pada Temperatur measurement ke stop
kontak.
4. Memutar Main Suply pada posisi on, lampu indicator main
on akan menyala.
5. Menekan tombol Stand by dan tombol warna hijau pada
blower bersamaan dengan menghidupkan stop watch.
6. Memasukkan kabel tester tombol hitam ke hitam dan tombol
merah ke merah secara bergantian pada termokopel, platinum
dan termistor.
7. Mencatat kenaikan volt dan arus setiap 1 menit.
8. Mematikan stop watch bila thermometer air raksa
menunjukkan temperature 30C.
9. Menekan tombol warna hijau dan tombol Stand by.
10. Mematikan alat dengan cara memutar Main Suply pada posisi
off.
11. Mencabut kabel dari stop kontak.

V.

DATA PENGAMATAN

Pengukuran tegangan
a. Pemanasan Air
Waktu
(menit

Pt 100

Voltmeter (mV)
Termokopel Termistor

)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

-0,009
-0,009
-0,012
-0,013
-0,015
-0,017
-0,018
-0,018
-0,018
-0,015
-0,014
-0,011

0,115
0,229
0,473
0,770
0,983
1,272
1,532
1,788
2,254
2,429
2,579
2,806

-0,007
-0,005
-0,008
-0,006
-0,006
-0,007
-0,006
-0,007
-0,008
-0,008
-0,008
-0,007

b. Pendinginan air
Waktu
(menit
)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Pt 100
-0,005
-0,005
-0,001
-0,001
-0,003
-0,004
-0,005
-0,005
-0,005
-0,005
-0,004
-0,005
-0,005
-0,005
-0,005
-0,005

Voltmeter (mV)
Termokopel Termistor
-0,760
-0,831
-0,864
-0,874
-0,888
-0,899
-0,905
-0,914
-0,920
-0,928
-0,934
-0,939
-0,941
-0,942
-0,943
-0,944

-0,006
-0,007
-0,005
-0,007
-0,007
-0,006
-0,007
-0,007
-0,007
-0,006
-0,007
-0,006
-0,005
-0,005
-0,006
-0,007

c. Pemanasan udara
Waktu
(menit
)

Pt 100

Voltmeter (mV)
Termokopel Termistor

1
2

-0,004
-0,001

-0,198
1,156

-0,007
-0,007

Pt 100

Arus (mA)
Termokopel

Termistor

0,001
0,001
0,001
0,001
0,000
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001

0,025
0,047
0,077
0,109
0,134
0,167
0,196
0,220
0,253
0,279
0,316

0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,000
0,001
0,001
0,001
0,001

Pt 100

Arus (mA)
Termokopel

Termistor

0,000
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
0,000

-0,015
-0,055
-0,066
-0,072
-0,077
-0,078
-0,081
-0,083
-0,084
-0,084
-0,085
-0,086
-0,084
-0,086
-0,086

0,000
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001
-0,001

Pengukuran arus
a. Pemanasan Air
Waktu
(menit
)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

b. Pendinginan air
Waktu
(menit
)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

15

0,001

-0,086

-0,001

Pt 100

Arus (mA)
Termokopel

Termistor

0,001
0,001

-0,008
0,308

0,000
0,000

c. Pemanasan udara
Waktu
(menit
)
1
2

VI.

ANALISA DATA

Pada percobaan ini, dilakukan pengkonversian dari satuan


suhu menjadi satuan arus listrik (ampere) dan beda potensial
listrik (volt). Alat yang digunakan untuk percobaan ini adalah
temperature measurement dengan berbagai jenis alat ukur suhu
yang ada, seperti termokopel, termistor, dan pt-100 (RTD).
Termometer tersebut mengukur perubahan suhu dengan
perubahan efek listrik. Efek listrik yang disebutkan dapat
berdasarkan perubahan resistansi dan timbulnya electro motive
force yang disebabkan oleh gradien suhu.
Pada pengkonversian temperatur terhadap perubahan efek
listrik, dilakukan pengukuran beda potensial dan arus listrik pada
setiap socket-socket yang terhubung dengan termometer yang
ada. Hasilnya sangat beragam dan terlihat sangat jauh berbeda
pada hasil pengukuran temperatur pada praktikum sebelumnya.
Pada pengukuran sebelumnya, pt-100 merupakan termometer
yang sangat akurat dan sangat cepat merespon perubahan
suhu. Namun dalam pengkonversian suhu ke beda potensial dan
arus listrik, termometer pt-100 tidak merespon sangat baik
bahkan pada hasil pembacaan pada multimeter terlihat tidak
bergerak. Pada alat temperatur measurement, terdapat 1 socket
hitam dan 2 socket merah yang merupakan jalan masuk
informasi perubahan suhu yang berupa voltase dan akan
disalurkan ketransduser dan mengubah nilai tersebut menjadi
nilai yang dapat dibaca. Pada pengukuran beda potensial dan
arus listrik, socket yang digunakan hanya 2 yaitu socket hitam
dan socket merah. Inilah yang menyebabkan nilai pengukuran
arus dan beda potensial tidak sebagus pengukuran suhu pada
minggu lalu. Prinsip kerja pt-100 adalah membandingkan arus
yang diketahui dengan arus yang sudah melalui hambatan yang
berubah akibat perubahan suhu, mungkin socket merah yang
digunakan merupakan socket arus yang diketahui atau arus
yang telah melewati hambatan dan tidak menggambarkan
perubahan suhu yang terjadi.
Pada pengukuran termometer termistor, hasil yang
didapatkan juga terlihat tidak bergerak. Prinsip kerja termistor
yaitu dengan terjadinya kenaikan suhu maka hambatan pada
termistor akan naik atau turun tergantung jenis termistornya.
Pengaruh nilai hambatan terhadap arus dapat dihubungkan
namun pada hasil praktikum tidak. Pada pengukuran termistor
sendiri, nilai hambatan langsung dikonversi menjadi nilai yang

dapat dibaca. Itulah sebabnya arus dan beda potensial tidak


menunjukkan adanya perubahan suhu yang besar.
Termokopel memiliki hasil paling baik diantara termometer
lain. Termokopel terdiri dari 2 logam yang disatukan. Apabila
ujung logam tersebut dipanaskan maka terjadi gradien suhu dan
menghasilkan electro motive force (emf) sesuai dengan efek
Seeback dan efek Peltier. Seiring bertambahnya suhu maka nilai
electro motive force semakin tinggi dan begitu pula saat
terjadinya pendinginan. Dengan prinsip yang sederhana,
termokopel sangat mudah di konversikan. Elektro motive force
akan diteruskan dan menghasilkan tegangan dan arus. Itulah
alasan mengapa hasil pengukuran arus dan tegangan
berbanding lurus dengan perubahan suhu.

VII.

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa :
Konversi temperature ke arus dan tegangan diukur menggunakan
suatu sensor dan transduser yang dapat mengubah suatu besaran
fisik atau kimia ke besaran listrik yaitu temperature measurement
dan tester.
Sensor dan transduser yang digunakan bekerja berdasarkan prinsip
Termoelektris (efek Seeback, efek Thomson atau efek Peltier).
Tegangan dan arus yang ditimbulkan berbanding lurus dengan
suhu.

DAFTAR PUSTAKA

Lestari, Sutini Pujiastuti, 2014.Penuntun Praktikum Instrumentasi dan


Pengukuran TI 131308.Palembang:POLSRI.
Kartika, Dorie, 2014.Laporan Tetap Praktikum Instrumentasi dan
Pengukuran Pengukuran Temperatur Efeek Seebeck (2), (online).
(https://id.scribd.com/doc/239587958/TM2, diakses pada 10
November 2014).
Wardhi, azharul, 2014. Pengukuran Temperatur Efeek Seebeck (2),
(online).
(https://id.scribd.com/doc/216585813/Laporan-tetapTM2, diakses tanggal 10 November 2014).
Bocah,2009. Laporan Akhir Lab Konversi Tegangan dan Temperatur
Kerja Kalor. (online). (http :// nulisnulisnulis. wordpress.com /
2009/07/01/ laporan-akhir-lab-konversi-tegangan-dan-temperaturkerja-kalor, diakses tanggal 10 November 2014).
Nika,2012. elektronika dasar. (online). (http://elektronika - dasar.
web.id/teori- elektronika/teori-sensor- dan-transduser-elektronika/,
diakses tanggal 10 November 2014)

Anda mungkin juga menyukai