Anda di halaman 1dari 3

Nama

:Nurdianti

Nim

: 088 13 2025

Konsentrasi : Bahasa Arab

ARAB BAIDAH DAN BAQIYAH


Secara garis besar bahasa Samiyah terbagi kepada dua
bagian yaitu: Samiyah bagian Utara dan Samiyah bagian Barat.
Bahasa Samiyah bagian Barat adalah bahasa Akkaida dan kedua
cabangnya yaitu Babilonia dan Asyuria. Sedangkan Samiyah
bagian Barat terbagi kepada dua bagian yaitu Barat bagian
Selatan dan Barat bagian Utara. Bahasa yang hidup disebagian
selatan adalah bahasa Kananiyah yang meliputi bahasa Ibrani,
Agoriti, dan Fainiqi. Sedangkan Aromiyah meliputi

bahasa

Suryani dan Nabti.


Samiyah bagian Barat Selatan terbagi dua yaitu bangsa
Habsyah dan bangsa Arab. Bangsa Habsyah meliputi Lahjah
Jajiah, Amhariyah dan Tijriniyah, sedangkan bangsa Arab terbagi
dua bagian. Bagian Selatan yaitu Yaman kuno yang meliputi
Lahjah

Maniyah,

Sabaiyah,

Humairiyah,

Quthbaniyah

dan

Hadramiyah sedangkan bagian Utara adalah bahasa Arab.


Bahasa Arab terbagi menjadi dua yaitu bahasa Arab al-Baidah
yang meliputi Lahjah Lihyaniyah, Tsamudiyah, dan Shafiyah. Dan
bahasa Arab al-Baqiyah, meliputi bahasa Syiir, arab Jahili, Rajaz,
bahasa para Hukama dan Fushsha.
1. ARAB BAIDAH
Arab Baidah disebut juga dengan arab prasasti atau
bahasa Arab yang telah lenyap yang tidak sampai kepada
kita

yaitu

bahasa

suku-suku

yang

telah

lenyap

dan

riwayatnya tidak diketahui sama sekali. Arab prasasti ini tidak

diketahui lagi kecuali tersebut dalam kitab-kitab suci. Bahasa


Arab prasasti yang dialek-dialeknya dipakai oleh kabilahkabilah yang telah musnah sebelum islam. Kabilah-kabilah ini
sangat dekat masanya dengan Sam bin Nuh.

Dialek- dialek Arab Baidah


1. Dialek Tsamud, adalah

dialek yang nisbatkan kepada

kabilah-kabilah Tsamud yang telah disebutkan dalam alQuran. Sejarah sebagian besar prasasti yang ditulis
dengan dialek inikembali pada abad VI SM sampai dengan
IV M. kalkulasi prasasti ini mencapai +2000 buah, yang
paling banyak didapatkan di Hijaz, Nejd, Shafa dan Jazirah
Sinai,yang ditulis dengan Khat Musnad yang bagus dan
elegan yang ditulis dari atas ke bawah, dan tidak
ditetapkan pada satu masa. Jika diperhatikan, dalam
prasasti-prasasti Shafa ditemukan kata-kata tidak populer
dalam bahasa Arab yang diambil dari bahasa Ibrani dan
Suryan.
2. Dialek Shafa, adalah dialek yang dinisbatkan pada daerah
Shafa, prasasti-prasastinya terdapat di daerah-daerah
yang berbeda yaitu pada tanah vulkanik yang terdapat
pada antara bukit Shafa dan gunung Daruz, jumlah
prasasti-prasastinya saat ini mencapai +2000 buah yang
ditulis antara abad III dan VI M.
3. Dialek Lihyan, adalah dialek yang dinisbatkan pada
kabilah-kabilah Lihyan yang tinggal di daerah al-Ula
(sebelah utara Hijaz).
2. ARAB BAQIYAH
Arab Baqiyah adalah bahasa Arab yang sampai kepada
kita melalui tulisan, karangan dan sastra, dan sampai kepada
kita

Al-quran

dan

hadits,

dan

melalui

peninggalan-

peninggalan sastra Jahily oleh para penyair pada masa


Jahiliyah.
Arab Baqiyah dibagi atas dua kelompok besar, yaitu alQathaniyun dan al-Adnaniyun. Adapun al-Qathaniyun disebut
arab Aribah, dan al-Adnaniyun disebut arab al-Mustarabah.
1. Aribah adalah orang-orang Yaman keturunan Qathan dan
merupakan

keturunan

penduduk

asli

kedua

yang

berbahasa Arab al-Baidah yang punah dari muka bumi.


Menurut sejarawan mereka bisa berbahasa Arab dari Arab
Al-Baidah.
2. Mustarabah adalah orang-orang Hijaz, Nejed, Nabasia dan
Palmyra yang merupakan keturunan anak-anak cucu Ismail
dan telah mengalami naturalisasi di tanah Arab. Disebut
dengan Al-Mustaribah karena mereka berafiliasi dengan
Arab

Al-Aribah

dengan

cara

pernikahan.

Pernikahan

pertama kali yang mereka adakan dengan Arab Al-Aribah


adalah antara Ismail as dan Rilah binti Madhadh ibn Amru
Al-Jurhumi yang kemudian melahirkan 12 anak. Dua anak
yang paling populer dan menghasilkan generasi terbanyak
adalah Nabit dan Qidar.
Meskipun Arab al-Mustarabah bukanlah Arab sejati, namun
dari Ismail as inilah bahasa Arab yang fasih bermula. Itu artinya
bahasa Arab dari Arab Qathaniah belum mapan, baru kemudian
disempurnakan oleh bangsa Adnaniah. Mereka (Qathaniah dan
Adnaniah) dua bangsa yang menjadi pelopor kelahiran bangsa
Arab yang saling menyempurnakan. Meski satunya asli dan
satunya campuran, tetapi keduanya adalah induk bangsa Arab
masa kini.