Anda di halaman 1dari 14

PUTUSAN

No:35/Pdt.G/2011/PN.Sim
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Pengadilan Negeri Simalungun yang memeriksa dan mengadili perkara perkara
perdata dalam peradilan tingkat pertama telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam
perkara antara :
Sondang L.P. br. Nainggolan :

Perempuan, Agama Kristen Protestan, Pekerjaan


Wiraswasta, beralamat di Jl. Bioskop Pratama
Keluruhan Serbelawan Kecamatan Dolok Batu
Nanggar Kabupaten Simalungun, dalam hal ini
memberikan kuasa kepada Ojak Nainggolan, S.H.,
M.H., Hengki Silaen, S.H. dan Sarah Hasibuan
S.H., Advokat-Penasehat Hukum yang berkantor di
Jalan Kejaksaan No. 180/P-I Komplek Kejaksaan
Permai Medan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus
tertanggal 06 September 2011, selanjutnya disebut
sebagaiPENGGUGAT;
M E L A W A N:

Edwarlin Herman Muller Napitupulu : Laki-laki, Agama Kristen Protestan, Pekerjaan


Wirawasta, beralamat di Jl. Sangnawaluh Parluasan
Barat Kelurahan Serbelawan Kecamatan Dolok
Batu Nanggar Kabupaten Simalungun, selanjutnya
disebut sebagai TERGUGAT;
Pengadilan Negeri tersebut;
Telah membaca Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Simalungun Nomor :
35/Pen/Pdt.G/2011/PN.SIM tanggal 26 September 2011 tentang Penghunjukan Majelis
Hakim yang akan memeriksa perkara gugatan perdata Nomor : 35/Pdt.G/2011/PN.SIM
antara pihak-pihak tersebut di atas;

Telah mempelajari berkas perkara dan surat-surat yang berhubungan dengan perkara;
Telah memdengar keterangan para saksi dari kedua belah pihak;
Telah memeriksa surat bukti dari kedua belah pihak;
TENTANG DUDUK PERKARA
Menimbang bahwa, Penggugat dengan surat gugatan tertanggal 23 Sepetember
2011 yang diterima dan telah didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Simalungun
pada tanggal 26 September 2011 dengan nomor Register : 35/Pdt.G/2011/PN.SIM, telah
mengemukakan hal-hal yang pada pokoknya sebagai berikut :
1. Bahwa Penggugat dan Tergugat adalah suami-istri yang sah yang yelah
melangsungkan perkawinan secara Agama Kristen pada tanggal 19 November
1995 dan diberkati di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Serbalwan,
Ressort Dolok Hilir, oleh Pendeta R. Sihombing dan atas pemebrkatan tersebut
telah dibuatkan Surat Keterangan Kawin satu Surat Hatorangan Hot Ripe yang
diterbitkan oleh Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Serbalwan,
Ressort Dolok Hilir, ditanda tangani oleh Pendeta R. Sihombing dan Guru
Huria/Guru Jemaat Gr. S. Manullang, tertanggal 19 November 1995.
2. Bahwa awal perkawinan, Penggugat dan Tergugat hidup serumah dan tinggal
bertjama di Jalan HM. Joni Gang Pendidikan Kecamatan Medan Denai, Kota
Medan. Hidup dalam keadaan harmonis dan rukun serta damai sejahtera.
Dengan kondisi ekonomi, sekitar tahun 2000 Penggugat pindah ke Jalan
Sangnawaluh Parluasan Barat, Kelurahan Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu
Nanggar, Kabupetn Simalungun, sedangkan Tergugat masih tinggal di Medan
dan tidak berapa lama kemudian Tergugat ikut pindah ke Serbelawan dan
selama tinggal di Serbawalan Penggugat dan Tergugat tidak pernah ada terlibat
permasalahan dalam membangun rumah tangga, walaupun hidup dengan
kebutuhan yang pas-pasan;
3. Bahwa perkawinan antara Penggugat dengan Tergugat kurang lebih 15 Tahun
belum dikaruniai si buah hati (anak) yang selama ini diidam-idamkan, meskipun
Penggugan dan Tergugat sudah berusaha termasuk dengan upaya bayi tabung ke
Surabaya;

4. Bahwa pada hari Kamis tanggal 10 September 2009 sekitar pukul 12.00 Wib,
Penggugat mengikuti acara adat bersama rombongan dari Serbalawan berangkat
ke daerah Desa Muara, Kabupaten Tapanuli Utara dan kembali ke rumahnya di
Serbalawan pada tanggal 11 September 2009 sekitar pukul 11.00 Wib. Keesokan
harinya pada hari Sabtu tanggal 12 September 2009 sekitar pukul 10.00 Wib,
ketika Penggugat dan Tergugat sedang duduk berduan di ruang makan, tiba-tiba
Tergugat memberitahukan kepada Penggugat bahwa Tergugat telah kawin lagi
dengan seorang perempuan yaitu bermana KATERINA br. TAMPUBOLON
yang perkawinannya dilangsungkan di Desa Parsambilan, Kecamatan Silaen,
Kabupaten Toba Samosir;
5. Bahwa Penggugat sangat terkejut mendengar pengakuan Tergugat, dimana
selama perkawinan Penggugat sangat menyayangi Tergugat penuh rasa cinta dan
kasih saying serta setia menemani Tergugat walaupun belum ada anak dari hasil
perkawinan Penggugat dan Tergugat. Penggugat sangat terpukul, menangis dan
meratapi perjalanan kehidupan berumah yangga yang akhirnya Penggugat telah
dimadu tanpa sepengetahuan dan tanpa seijin Penggugat.
6. Bahwa perkawinan kedua dari Tergugat, mengawali percekcokan/pertengkaran
di antara Penggugat dan Tergugat. Awalnya Penggugat masih ragu atas
perkawinan kedua Tergugat tersebut, akan tetapi Tergugat meyakinkan
Penggugat dengan mengatakan Jika Penggugat tidak percaya? Penggugat dapat
menanyakan langsung kepada kakak ipar Tergugat bernama Mama ROBIN br.
SITORUS dan Tergugat memberikan nomor Handphone milik Mama ROBIN
br. SITORUS. Kemudian Penggugat menanyakan kebenaran Perkawinan kedua
dari Tergugat tersebut.
7. Bahwa rasa penasaran dengan perbuatan Tergugat, Penggungat menanyakan
langsung melalui komunikasi handphone kepada Mama ROBIN br. SITORUS,
waktu itu Mama ROBIN br. SITORUS membenarkan bahwa Tergugat telah
melangsungkan perkawinan dengan KATERINA br. TAMPUBOLON yang
perkawinannya dilangsungkan pada hari Jumat tanggal 11 September 2009
diGereja Pentakosta, Desa Parsambilan, Kecamatan Sialen, Kabupaten Toba
Samosir, selanjutnya acara adatnya di rumah Mama ROBIN br. SITORUS;

8. Bahwa atas perkawinan kedua Tergugat, mengakibatkan kehidupan rumah


tangga Penggugat dan Tergugat terjadi percekcokan/pertengkaran. Dan paling
ironisnya sejaka tanggal 06 Desember 2009, Tergugat membawa Istri kedua
Tergugat dan tinggal bersama satu rumah di Jl. WR. Supratman, Kelurahan
Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun, tepatnya
rumah tempat tinggal tersebut adalah rumah Penggugat dan Tergugat yang dibeli
bersama sejaka perkawinan Penggugat dan Tergugat.
9. Bahwa Penggugat sangat keberatan atas perbuatan Tergugat yang telah memadu
Penggugat, sehingga sejak itu Tergugat tidak pernah hidup serumah lagi atau
tinggal bersama Penggugat;
10. Bahwa Penggugat tidak pernah memberikan ijin ataupun persetujuan kepada
Tergugat

untuk

kawin

lagi

apalagi

kawin

dengan

KATERINA br.

TAMPUBOLON, padahal hubungan antara Penggugat dengan Tergugat masih


sah sebagai suami istri, belum ada cerai diantara Penggugat dengan Tergugat
baik secara agama, adat istiadat, maupun secara hukum.
Berdasarkan uraian-uraian dan fakta hukum yang telah Penggugat uraikan di atas,
maka dengan hormat, mohon kepada Bapak Ketua Pengadilan Negeri Simalungun
berkenan memanggil para pihak untuk duduk bersidang di ruang siding Pengadilan Negeri
Simalungun yang khusus ditentukan untuk itu seraya mengambil putusan hukum yang
amarnya:
1. Menerima dan mengabulkan gugata Penggugat untuk seluruhnya.
2. Menyatakan Perkawinan antara Penggugat dan Tergugat

yang

telah

dilangsungkan secara Agama Kristen yang diberkati oleh pendeta R. Sihombing


dan atas pemebrkatan tersebut telah dibuatkan Surat Keterangan Kawin satu
Surat Hatorangan Hot Ripe yang diterbitkan oleh Gereja Huria Kristen Batak
Protestan (HKBP) Serbalwan, Ressort Dolok Hilir, ditanda tangani oleh Pendeta
R. Sihombing dan Guru Huria/Guru Jemaat Gr. S. Manullang, tertanggal 19
November 1995 adalah sah dan sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.
3. Menyatakan

Perkawinan

antara

Penguggat

dan

Tergugat

yang

telah

dilangsungkan secara Agama Kristen yang diberkati oleh Pendeta R. Sihombing


dan atas pemebrkatan tersebut telah dibuatkan Surat Keterangan Kawin satu

Surat Hatorangan Hot Ripe yang diterbitkan oleh Gereja Huria Kristen Batak
Protestan (HKBP) Serbalwan, Ressort Dolok Hilir, ditanda tangani oleh Pendeta
R. Sihombing dan Guru Huria/Guru Jemaat Gr. S. Manullang, tertanggal 19
November 1995, adalah Putus Karena Perceraian;
4. Menghukum Tergugat untuk membayar semua biaya yang timbul dalam perkara
ini;
5. Menyatakan putusan dalam Perkara ini dapat dijalankan dengan serta merta
meskipun ada Perlawanan, Banding dan Kasasi (Unit voerbaar bij Voorad).
Apabila Pengadilan Negeri Simalungun berpendapat lain, mohon Putusan yang
seadil-adilnya (ex aequo et bono);
Menimbang bahwa, pada hari sidang pertama yang telah ditetapkan, Penggugat
prinsipal tidak hadir akan tetapi diwakili oleh Kuasanya tersebut diatas dipersidangan
sedangkan Tergugat prinsipal hadir;
Menimbang bahwa, Majelis Hakim telah berusaha mendamaikan kedua belah pihak,
melalui mediasi dengan mediator Gabe Dorris Saragih, SH., sesuai dengan Pertama
Nomor : 2 Tahun 2003 sebagaimana telah diubah dengan Permata Nomor : 01 Tahun 2008
namun usaha perdamaian yang telah dilaksanakan tersebut tidak berhasil sesuai Laporan
Mediator tertanggal 15 Nopember 2011, maka oleh karena itu acara persidangan
dilanjutkan dengan membacakan surat gugatan Penggugat tertanggal 23 September 2001,
dan atas Pertanyaan Majelis Hakim, Penggugat menyatakan tetap pada isi gugatannya serta
tidak ada mengajukan perubahan;
Menimbang, bahwa atas gugatan tersebut, Tergugat mengajukan jawabannya secara
tertulis tertanggal 06 Desember 2011, sebagai berikut:

DALAM EKSEPSI
I.

TENTANG GUGATAN PENGGUGAT PREMATUR


1. Bahwa Gugatan Penggugat setelah dibaca dan diteliti secara cermat oleh Tergugat,
maka ditemukan suatu fakta bahwa dasar Gugatan Penggugat Prematur.
Bahwa Penggugat pada halama 1 gugatannya yang mendalilkan. Penggugat dengan
Tergugat adalah suami istri sah yang telah melangsungkan perkawinan secara agama

Kristen pada tanggal 19 November 1995 dan diberkati di gereja Huria Kristen Batak
Protestan (HKBP) Serbelawan oleh Pendeta R. Sihombing sesuai dengan Surat
Hatorangon Hot Ripe tertanggal 19 November 1995.
Bahwa Tergugat menolak dengan tegas dalil tersebut diatas, karena sampai sekarang
perkawinan antara Penggugat dengan Tergugat baru dilaksanakan menurut Hukum
agamanya, dan tidak dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil yang berwenang untuk itu,
sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.
Bahwa dalil penolakan Tergugat terhadap dalil Penggugat diatas didasarkan kepada
ketentuan Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang mengatur
bahwa suatu perkawinan itu sah menurut hukum positif di Indonesia adalah apabila
dilakukan apabila dilaksanakan sesuai dengan Pasal 2 UU No. 1 Tahun 1974 yang
mengatur sebagai berikut :
1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya itu.
2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Bahwa berdasarkan ketentuan pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang
Perkawinan No. 1 Tahun 1974, diatur tentang syarat untuk sahnya suatu perkawinan
menurut Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, maka ketentuan pasal 2 ayat
(1) dan ayat (2) dalam pelaksanaan suatu Perkawinan tidak dapat dipisahkan satu
sama lain, karena aturan tersebut berlaku secara imperative atau hukum yang
memaksa dan bukan sebagai hukum yang bersifat fakultatif;

Bahwa dengan demikian dihubungkan dengan ketentuan Pasal 2 UU tentang


Perkawinan dapat diambil kesimpulan, bahwa perkawinan antara Penggugat dengan
Tergugat hanya memunuhi ketentuan Pasal 2 ayat (1), karena perkawinan tersebut
belum dicatatkan kepada Kantor Catatan Sipil, oleh karenanya perkawinan antara
Pengugat dengan Tergugat tersebut, ditinjaui berdasarkan ketentuan dalam UndangUndang Perkawinan belum memenuhi isi dan ketentuan dari pasal 2 ayat (2) UU
Perkawinan No. 1 Tahun 1974, yang telah dilaksanakan menurut hukum agamanya

untuk dicatatkan menurut Undang-undangan perkawinan yang berlaku di Indonesia


(Hukum Positif).
Bahwa memperhatikan fakta-fakta tersebut diatas nyata dan jelaslah, bahwa gugata
Penggugat dalam perkara aquo adalah premature, karena perkawinan Penggugat
dengan Tergugat baru dilaksanakan menurut hukum agamanya saja, sehingga dapat
ditarik kesimpulan belum ada perkawinan yang sah menurut hukum Perkawinan yang
berlaku di Indonesia atau hukum positif, oleh karenanya beralasan hukum hakim
yang memeriksa dan mengadili perkara aquo untuk menolak gugatan penggugat atau
setidak-tidaknya menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima.
2. Bahwa Gugatan Penggugat setelah dibaca dan diteliti secara cermat oleh Tergugat,
nyata dan jelas gugatan Penggugat alah Prematur, karena Penggugat Perceraiannya
kepada Putusan Pengadilan yang belum berkekuatan hukum yang tetap, sebagaimana
akan diuraikan oleh Tergugat dibawah ini sebagai berikut :
- Bahwa dalil Penggugat pada halaman 4 angaka 13 dengan mendasarkan kepada
Putusan Pengadilan Negeri Simalungun No. 165/Pid.B/2011/PN.SIM tanggal 30
-

Juni 2011 atas nama Tergugat.


Bahwa dalil Pengugat tersebut adalah Prematur karena perkara atas Putusan
tersebut sekarang masih dalam Proses Pemeriksaan pada Pengadilan Tinggi
Sumatera Utara, karena Tergugat telah mengajukan Permohonan Banding
terhadap Putusan Pengadilan Negeri Simalungun No. 165/Pid.B/2011/PN.SIM
tanggal 30 Juni 2011, sesuai dengan Akte Banding No. No. 165/ Akta
Pid.B/2011/PN.Sim tanggal 07 Juli 2011, dengan demikian sampai jawaban ini
dibuat oleh Tergugat, Putusan tersebut belum berketentuan hukum yang tetap,
dengan demikian gugatan Penggugat layak dinyatakan adalah merupakan

gugatan yang premature.


Bahwa dalil Penggugat pada halaman 6 angka 19 mendalilkan Putusan
Pengadilan

Negeri

Simalungun

sesuai

dengan

Putusan

Nomor

220/Pid.B/2010/PN-Sim tanggal 28 Juni 2010.


Bahwa Putusan Pengadilan Negeri Simalungun Nomor 220/Pid.B/2010/PN-Sim
tanggal 28 Juni 2010 belum berkekuatan hukum yang tetap, karena Putusan
Pengadilan Tinggi Medan No. 664/Pid.B/2010/PT Mdn tertanggal 2 Desember
2010 yang amarnya menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Simalungun

tersebut, sekarang masih dalam proses pemeriksaan di Tingkat Kasasi sesuai


dengan

Permohonan

Kasasi

pada

tanggal

24

Maret

2011

No.

220Akta.Pid.B/2010/PN-Sim., dan sampai dengan jawaban ini dibuat oleh


Tergugat,Putusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap,
dengan demikian gugatan penggugat layak dinyatakan adalah merupakan
gugatan yang premature.
Bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut diata nyata dan jelaslah, bahwa gugatan
Penggugat dalam perkara aquo adalah premature, oleh karenanya beralasan
hukum Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara aquo untuk
menolak gugatan Penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan
Penggugat tidak dapat diterima.
II. DALAM POKOK PERKARA
1. Bahwa Tergugat menolak dengan tegas seluruh dalil-dalil gugatan Penggugat
dalam Gugatannya, kecuali ada yang diakui secara tegas oleh Tergugat dalam
Jawaban ini.
2. Bahwa segala sesuatu yang telah diuraikan dalam Eksepsi secara mutatis mutandis
sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Jawaban ini.
3. Bahwa Tergugat menolak seluruh dalil-dalil gugatan Penggugat pada angka 4 s/d
16 yang pada intinya mendalilkan Tergugat telah kawin lagi dengan seorang
perempuan yang bernama Katerina br. Tampubolon di Desa Parsambilan. Kec.
Silaen, Kab. Toba Samosir, dengan alasan-alasan sebagai berikut:
- Bahwa sesuai dengan Laporan Penggugat kepihak kepolisian di Polres Simalungun
yaitu Laporan Polisi No. : LP/254/xii/2009/Reksrim tanggal 23 Desember 2009,
Tergugat telah dilaporkan oleh Penggugat dengan Gugatan melanggar Pasal 279
ayat (1) KUHP, dengan dugaan telah kawin dengan perempuan lain.
- Bahwa laporan Penggugat kepada pihak kepolisian tentang adanya perkawinan
antara Tergugat dengan perempuan lain haruslah dikaitkan dengan defenisi
perkawinan sesuai dengan ketentuan Undang-undang Perkawinan yang berlaku di
Indonesia, yaitu Undang-undang No. 1 Tahun 1974, dimana suatu perkawinan yang
sah haruslah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam pasal 2 ayat (1) dan (2)
yang mengatur sebagai berikut.
1. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya itu.

2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang


-

berlaku.
Bahwa ternyata dalam proses pemeriksaan atas laporan Penggugat tersebut di
Kepolisian, berdasarkan keterangan-keterangan dari para saksi yang telah
diperiksa pihak kepolisian, Pihak Penyidik tidak dapat membuktikan bahwa
Tergugat telah melakukan perkawinan yang sah menurut hukum Perkawinan
yang berlaku di Indonesia dengan seorang perempuan yang bernama Katerina br.

Tampubolon di Desa Parsambilan, Kec. Silaen, Kab. Toba Samosir.


Bahwa selanjutnya perkara yang diduga dilakukan oleh Tergugat tersebuttelah
disidangkan dan telah diputus oleh Pengadilan Negeri Simalungun sesuai dengan
Putusan No. 165/Pid.B/2011/PN.SIM tanggal 30 Juni 2011, dan terhadap Putusan
Pengadilan tersebut Tergugat selaku terdakwa sangat keberatan dengan putusan

Pengadilan Negeri Simalungun tersebut.


Bahwa terhadap Putusan tersebut Tergugat selaku terdakwa telah mengajukan
Upaya hukum Banding ke Pengadilan Tinggi Sumatera Utara sesuai dengan Akte
Banding 165/Akta Pid.B/2011/PN.Sim., tertanggal 07 Juli 2011, dan terhadap
Permohonan Banding tersebut sampai dengan sekarang masih dalam
pemeriksaan pada Pengadilan Tinggi Sumatera Utara, atau dengan perkataan lain

sampai dengan sekarang belum mempunyai kekuatan hukum tetap.


Bahwa dengan demikian berdasakan dalil-dalil penolakan Tergugat diatas, maka
secara hukum Penggugat belum dapat menjadikan Putusan Pengadilan Negeri
Simalungun No. 165/Pid.B/2011/PN.Sim tertanggal 30 Juni 2011 tersebut sebagai
dasar untuk mendalilkan adanya perkawinan tergugat dengan perempuan lain yang
mengakibatkan timbulnya perselisihan dalam rumah tangga antara Penggugat dengan
Tergugat, sehingga oleh karenanya dimohonkan kepada Majelis Hakim yang
memeriksa dan mengadili perkara ini untuk menolak seluruh dalil-dalil Penggugat
sebagai telah diuraikan pada angaka 4 s/d 16.
TUNTUTAN ;
-

Menolak Gugatan Penggugat untuk seluruhnya.

Menimbang, bahwa atas Jawaban Tergugat tersebut, Penggugat telah mengajukan


replik secara tertulis tertanggal 20 Desember 2011, yang pada pokoknya sama dengan dalildalil gugatan;
Menimbang, bahwa atas Replik Penggugat maka Tergugat mengajukan duplik
secara tertulis tertanggal 10 Januari 2012 yang pada pokoknya sama dengan dalil-dalil
jawaban;
Menimbang, bahwa untuk membuktikan dalil-dalil gugatannya, Penggugat telah
mengajukan bukti-bukti tertulis, yaitu :
1. Fotocopy Surat Keterangan No.: 38/D.V/R.4/Serb/XII-09 tertanggal 24 Desember 2011,
fotocopy tersebut telah dilegalisir sesuai dengan aslinya, selanjutnya diberi
tanda .................................... P-I;
2. Fotocopy Surat Hatorangan Hot Ripe/Surat Keterangan Kawin antara Ir. Edwarlin H.M
Napitupulu dengan Sondang L.P. Nainggolan, SE. tertanggal 19 Nopember 1995,
fotocopy tersebut telah dilegalisir sesuai dengan aslinya, selanjutnya diberi tanda ....P-II
3. Fotocopy Putusan No: 165/Pid.B/2011/PN.Sim, atas nama terdakwa Edwarlin Herman
Muller Napitupulu, fotocopy tersebut telah dilegalisir sesuai dengan aslinya,
selanjutnya diberi tanda .................. P-III;
4. Fotocopy Putusan No: 166/Pid.B/2011/PN.Sim, atas nama terdakwa Chaterine
Friskawati Br. Tampubolon, fotocopy tersebut telah dilegalisir sesuai dengan aslinya,
selanjutnya diberi tanda .................. P-IV;
5. Fotocopy Putusan No: 480/Pid.B/2010/PN.Sim, atas nama terdakwaEdwarlin Herman
Muller Napitupulu, fotocopy tersebut telah dilegalisir sesuai dengan aslinya,
selanjutnya diberi tanda .................. P-V;
6. Fotocopy Putusan No: 220/Pid.B/2010/PN.Sim, atas nama terdakwaEdwarlin Herman
Muller Napitupulu, fotocopy tersebut telah dilegalisir sesuai dengan aslinya,
selanjutnya diberi tanda .................. P-VI;
7. Fotocopy Kartu Pasien atas nama Sondang Nainggolang dan Hasil Laboratorium dari
dr. Zaman Kaban Sp. OG, Spesialis Kebinanan & Penyakit Kandungan atas nama
Edwarlin Herman Muller Napitupulu, fotocopy tersebut telah dilegalisir sesuai dengan
aslinya, selanjutnya diberi tanda .................. P-VII;
8. Fotocopy Kartu Pasien atas nama Sondang Nainggolang dan Hasil Laboratorium dari
dr. Zaman Kaban Sp. OG, Spesialis Kebinanan & Penyakit Kandungan, fotocopy
tersebut telah dilegalisir sesuai dengan aslinya, selanjutnya diberi tanda ............ P-VIII;

9. Fotocopy Photo/Gambar Pemberkatan Pernikahan antara Edwarlin H.M Napitupulu


dengan Sondang Nainggolan di Gereja Huria Kristen Batak Protestan Serbelawan
Ressort Dolok Ilir, fotocopy tersebut telah dilegalisir sesuai dengan aslinya, selanjutnya
diberi tanda ...................... P-IX;
10. Fotocopy Photo/Gambar Pemberkatan Secara Adat atas perkawinan antara Edwarlin
H.M Napitupulu dengan Sondang Nainggolan, fotocopy tersebut telah dilegalisir sesuai
dengan aslinya, selanjutnya diberi tanda ...................... P-X;
11. Fotocopy Photo/Gambar Pemberkatan Secara Adat atas perkawinan antara Edwarlin
H.M Napitupulu dengan Sondang Nainggolan, fotocopy tersebut telah dilegalisir sesuai
dengan aslinya, selanjutnya diberi tanda ...................... P-XI;

TENTANG HUKUMNYA:
DALAM EKSEPSI:
Menimbang, bahwa maksud dan tujuan eksepsi Tergugat adalah sebagaimana
tersebut diatas;
Menimbang bahwa, Tergugat dalam jawabannya tertanggal 06 Desember 2011 telah
mengajukan eksepsi yang pada pokoknya menyatakan bahwa gugatan Penggugat adalah
premature karena perkawinan antara penggugat dengan tergugat tersebut tidak pernah
didaftarkan/dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil sehingga tidak sesuai dengan UndangUndang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 jo. PP No. 9 Tahun 1975, selain itu Penggugat
mendasarkan gugatan, sehingga Tergugat mohon agar Majelis Hakim yang memeriksa
perkara ini menolak gugatan Penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan tidak
dapat diterima;
Menimbang, bahwa memperhatikan alasan yang dikemukakan Tergugat dalam
Eksepsinya tersebut, Majelis Hakim berpendapat bahwa eksepsi Tergugat telah memasuki
materi pokok perkara dan baru dapat diputus setelah selesai pemeriksaan pokok perkara dan
bukan mengenai kewenangan mengadili, sehingga berdasarkan pasal 162 RBG harus
diperiksa dan diputus bersama dengan pokok perkara, sehingga eksepsi tersebut harus
ditolak;

DALAM POKOK PERKARA:


Menimbang, bahwa maksud dan tujuan gugatan Penggugat adalah seperti yang
termaksud dalam uraian diatas;
Menimbang, bahwa pada inti gugatan Penggugat adalah mengenai perkawinan
Penggugat dan Tergugat yang telah dilangsungkan pada tanggal 19 November 1995 dan
diberkati di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Seberlawan Ressort Dolok Hilir,
yang dicatat dalam Surat Keterangan Kawin atau Surat Hatorangan Hot Ripe yang
diterbitkan oleh Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Seberlawan Ressort Dolok
Hilir tertanggal 19 November 1995, supaya dinyatakan putus karena perceraian karena
tidak dapat hidup rukun lagi sebagai suami istri dengan alasan bahwa sejak Tergugat
menikah lagi dengan Chaterine Br. Tampubolon pada tahun 2009 tanpa seijin Penggugat,
antara

Penggugat

dan

Tergugat

sering

terjadi

percekcokan/pertengkaran

yang

mengakibatkan Penggugat sering mengalami penyiksaan batin dan kekerasan bahkan


penyekapan sehingga akhirnya Penggugat sudah tidak tahan lagi dan mengadukan hal
tersebut ke Kantor Polisi untuk diproses secara hukum dan terhadap pengaduan-pengaduan
tersebut Tergugat sudah disidangkan dan divonis bersalah oleh Pengadilan. Bahwa sekarang
Penggugat dan Tergugat sudah tidak tinggal serumah lagi.Bahwa seluruh keluarga bahkan
pihak gereja sudah berusaha mendamaikan Penggugat dengan Tergugat, namun tidak
berhasil.
Menimbang, bahwa atas dalil-dalil Penggugat tersebut, sebaliknya Tergugat telah
menyangkal/membantahnya dengan mengatakan bahwa pertengkaran adalah hal biasa
dalam rumah tangga tanpa mempersoalkan dari pihak mana pertengkaran itu dimulai.
Bahwa tidak benar gugatan Penggugat yang mendalikan adanya perkawinan tergugat
dengan perempuan lain yang mengakibatkan timbulnya perselisihan dalam rumah tangga
antara Penggugat dengan Tergugat sehingga mengakibatkan Penggugat mengalami
kekerasan, penyiksaan batin bahkan penyekapan oleh Tergugat sehingga atas pengaduan
Penggugat ke Polisi, Tergugat telah disidangkan dan diputus bersalah oleh Pengadilan.
Bahwa Putusan Pengadilan tersebut belumlah mempunyai kekuatan hokum tetap sehingga

Penggugat tidak dapat mendasarkan dalilnya kepada putusan pidana Pengadilan


Simalungun No. 480/Pid.B/2010/PN.Sim tersebut. Bahwa tidak benar keluarga Penggugat
berupaya mendamaikan dan menyelesaikan persoalan antara Penggugat dengan Tergugat,
pihak kelurga Penggugat justru memaksa Tergugat untuk menceraikan PENGGUGAT, dan
hal ini ditolak oleh Tergugat karena sejak semuala Tergugat tidak pernah ingin menceraikan
Penggugat, oleh karena itu Tergugat memohon kepada Majelis Hakim untuk menolak
gugatan Penggugat untuk seluruhnya;