Anda di halaman 1dari 301

Merpati Tak Pernah Ingkar Janji

Mira W.

djvu: otoy
http://otoy-ebookgratis.blogspot.com/

Edit & Convert to Txt, Jar, Pdf: inzomnia


http://inzomnia.wapka.mobi

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

BAB I

"Romo boleh mempercayakan Maria pada


kami," kata Suster Cecilia tegas. "Di SMA putri
ini tidak ada anak laki-laki. Tidak ada guru pria.
Dari pegawai tara usaha sampai ke tukang
kebun, semuanya wanita."
"Saya percaya ini sekolah yang baik," sahut Pak
Handoyo puas. "Sepuluh tahun di bawah
pimpinan Suster Cecilia, tidak pernah terdengar
ada skandal atau kericuhan muncul di sini. Tapi
tolong. Suster, jangan panggil saya Romo. Saya
sudah bukan seorang pastor lagi."
"Maaf." Tidak ada nada mengejek dalam
senyum Suster Cecilia. Senyumnya begitu tulus.
Membuat Pak Handoyo merasa lebih tenang.
"Dalam pakaian seperti ini pun Pak Handoyo
tidak berubah. Apalagi jenggot itu masih di
sana, saya seperti melihat kembali Pak Handoyo
mengenakan jubah putih, mengajar kami para
calon biarawati dua puluh tahun yang lalu."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Pak Handoyo menghela napas panjang. Sekilas


Suster Cecilia melihat wajahnya mengerut
sedih.
"Saya tidak ingin sejarah hitam hidup saya
menimpa Maria juga," katanya lebih perlahan.
seakan-akan tidak rela kalau anak
perempuannya yang berjalan seperti dayang di
belakang mereka mendengar kata-katanya.
"Selama ini Maria tidak pernah duduk di bangku
sekolah. Sejak keeil dia saya didik sendiri. Saya
panggil guru ke rumah untuk mengajarnya.
Karena dia cukup cerdas dan rajin, dia dapat
melewati ujian SMP-nya dengan nilai-nilai yang
tidak mengecewakan. Suster lihat sendiri
ijazahnya, bukan?"
"Angka-angkanya memang cukup
mengagumkan untuk seorang murid yang hanya
belajar di rumah. Usaha Pak Handoyo
tampaknya tidak sia-sia."
"Sebenarnya Banvumas lebih cocok untuk
Maria. Tapi saya ingin dia menjadi biarawati
setelah lulus SMA. Saya ingin dia bisa

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

menggantikan ibunya, menyerahkan dirinya


untuk Tuhan di biara ini."
"Keinginan yang luhur sekali." gumam Suster
Cecilia sambil mengerutkan dahi. "Tapi apa
Bapak tidak lupa menanyakan kehendak Maria
sendiri?"
"Begitu dia lahir, saya telah menyerahkannya
kepada Tuhan," sahut Pak Handoyo tegas.
"Barangkali dengan demikian saya dapat mohon
ampun pada Kristus karena telah mencuri
mempelai-Nya."
Suster Cecilia tertegun. Sejenak dia sampai lupa
melangkah. Dan gadis yang berjalan dengan
kepala tertunduk di belakangnya itu hampir saja
menabraknya.
"Maaf." cetus gadis itu antara terkejut dan
gugup. Matanya yang selalu bersorot ketakutan
menggelepar-gelepar gelisah dan panik.
Tangannya menggapai-gapai udara, seolah-olah
mencari pegangan di sana.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Suster Cecilia memandangnya dengan iba. Gadis


ini sama sekali tidak cantik. Semua yang ada di
wajahnya serba tidak enak dilihat.
Hidungnya kepanjangan seperti hidung Pinokio.
Matanya terlalu besar untuk mukanya yang
sekurus itu. Bertambah tidak sedap lagi dilihat
karena matanya selalu berkeliaran dengan
gelisah. Menyorotkan ketakutan yang misterius.
Tulang pipinya menonjol seperti batu karang
yang mencuat tajam di wajahnya yang tirus.
Cuma bibirnya yang tipis yang mengulaskan
segaris keindahan di parasnya. Tapi kalau dia
tersenyum, bibirnya malah menggariskan
seringai kesedihan. Seolah-olah dengan senyum
itu pun dia masih mengajak dunia untuk
menangis bersamanya.
Rambutnya yang panjang sampai ke pinggang
dijalin menjadi dua. Gaun kelabunya yang polos
dan berpotongan teramat sederhana hampir
menyapu lantai karena panjangnya. Dan sepatu
tenisnya yang berwarna putih bersih, modelnya
sudah minta ampun kunonya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Di Banyumas sana barangkali penampilannya


masih bisa dimaafkan, pikir Suster Cecilia sambil
menghela napas panjang. Tapi di Jakarta! Dia
benar-benar seperti makhluk purbakala yang
sudah harus diawetkan di museum!
"Tidak apa-apa," tukas Suster Cecilia lembut.
Diulurkannya tangannya untuk meraih gadis itu.
Tetapi diperlakukan demikian, Maria malah
bertambah salah tingkah. Apalagi ketika
dilihatnya beberapa orang gadis yang sedang
bersenam pagi di halaman sekolah menatapnya
sambil melotot, seperti melihat hantu.
"Ayo, Maria," ajak Suster Cecilia lebih keras.
"Tidak apa-apa. Mereka teman-temanmu.
Gadis-gadis di sini baik-baik semua."
Sejenak Maria tampak ragu. Ditatapnya Suster
Cecilia dengan bingung. Tanpa berkata apa-apa
lagi Suster Cecilia menarik tangan gadis itu. Dan
mereka cepat-cepat menyusul Pak Handoyo
yang sudah agak jauh berjalan di depan. Tetapi
sambil melangkah pun Maria masih mencuricuri menoleh ke belakang.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Gile!" cetus salah seorang di antara gadis-gadis


itu sambil berkacak-pinggang. Matanya tidak
lepas-lepas mengawasi Maria. "Monster dari
planet mana tuh?!"
"Calon Suster!" sambung temannya yang
menatap Maria dengan mata melotot, seakanakan hendak menelannya bulat-bulat.
"Congek kamu!" potong gadis lainnya dengan
suara paling kasar yang pernah didengar Maria.
Hampir pingsan dia mendengar bentakan gadis
itu. "Dengar negak Suster Cecilia bilang apa
tadi?! Dia bakal jadi teman kita kok!"
"Wah, rusak!" sergah gadis yang satunya lagi
dengan seringai mengerikan. "Belum sebulan
pasti sudah habis kita kerjain!"
Maria sering melihat seringai semacam itu pada
gambar-gambar iblis milik ayahnya. Bedanya,
iblis di dalam gambar berbulu hitam dan
bertanduk. Kadang-kadang bersayap pula.
Dan tentu saja Mana tidak tahu apa artinya
'dikerjain'. Tapi melihat seringai gadis itu,

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

maksud-nya pasti tidak kalah mengerikan


dibandingkan
dengan senyumnya. Dan Maria menggeletar
ketakutan. bulu romanya meremang semua.
"Saya tidak mau sekolah, Ayah!" rintih Maria
setelah tidak tahan lagi berdiam diri. "Saya
takut!"
"Takut apa?" Pak Handoyo meletakkan kitab
Injil yang sedang dibacanya. Begitu hati-hati,
seolah-olah buku itu terbuat dari kristal. "Kamu
tidak usah takut selama Kristus ada di
sampingmu! Cuma dosa yang dapat membuat
kita takut! Karena cuma dosalah yang dapat
menjauhkan diri kita dari Tuhan! Selama kamu
tidak berdosa, kamu tidak usah takut!"
"Saya takut pada mereka, Ayah!"
"Mereka siapa?"
"Teman-teman sekolah saya...."
"Ah, apa yang kamu takutkan? Mereka gadis
baik-baik. Dididik di sekolah yang keras
memegang disiplin. Ayah sudah menyelidiki apa

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

yang mereka ajarkan pada murid-murid. Agama


merupakan mata pelajaran utama di sana."
"Tapi saya takut...."
"Ayah tidak akan memasukkan kamu ke sana
kalau tidak yakin sekolah itu baik. Maria."
"Saya tidak takut sekolah. Ayah! Tapi saya takut
pada murid-muridnya! Mereka begitu kasar...
begitu Mengerikan...."
"Itu hanya karena kamu belum biasa berada di
antara mereka. Ini Jakarta, Maria. Kamu harus
Pandai menjaga diri. Ingatlah, hanya tiga tahun
Tuhan mencobamu. Kalau kamu lulus dari
Pencobaan ini, tidak ada lagi pesona dunia yang
dapat menggodamu. Ramu akan masuk biara.
Dan dipersiapkan untuk menjadi mempelai
Tuhan...."
Percuma meminta pengertian Ayah, pikir Maria
gundah. Kalau dia masih berada di sana. Ayah
pasti akan melanjutkan khotbahnya. Lebih baik
dia masuk ke kamar. Dan menemui sendiri
Tuhan-nya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tuhan lebih dapat diajak bicara daripada Ayah.


Tuhan selalu sabar mendengarkan. Dan Dia
tidak pernah membantah. Tidak pernah
menjejalkan khotbah-khotbah yang
membosankan. Tidak pernah mencekokkan
nasihat-nasihat yang selalu membuat Maria
merasa dirinya penuh berlumuran dosa. Tidak
pernah melarang ini, melarang itu, seolah-olah
cuma di dalam rumah mereka saja yang suci.
Di luar. dunia penuh kejahatan. Karena itu mesti
dijauhi. Seperti laki-laki. Itu makhluk yang tidak
boleh ada di dalam kehidupan Maria. Tidak
boleh ada nama seorang laki-laki pun yang
tergores di otaknya. Kecuali, tentu saja, nama
ayahnya. Dan nama Kristus.
Benarkah Tuhan sebengis itu? Pikiran yang
sama selalu singgah di kepala Maria setiap kali
matanya berpapasan dengan mata Kristus di
atas meja sembahyangnya.
Mata yang lembut itu, yang selalu bersorot
tenang dan mengasihi... benarkah Yesus
sedingin ayahnya? Ah, tidak mungkin! Tatapan-

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Nya begitu hangat... begitu sabar... begitu


penuh pengertian....
Dan patung Bunda Maria yang selalu
mengawasinya dari atas meja sembahyangnya...
wajah Perawan Tersuci yang demikian mulia
dan penuh kasih sayang... O, mereka demikian
penuh pengertian! Mengapa Ayah tidak dapat
mewarisi sifat-sifat
Mereka? Jika Ayah benar pengikut Tuhan,
mengapa Ayah tidak dapat bersikap semanis
Tuhan?
Ayah selalu taat pada perintah-perintah Allah.
Rajin berdoa. Patuh mengikuti ajaran-ajaran
Kitab Suci. Tapi Ayah tidak pernah bersikap
ramah.
Ayah penuh dengan larangan dan ancaman.
Tidak ada kedamaian dalam dirinya. Padahal
bukankah Raja Damai yang setiap hari
disembahnya?
"O, Tuhan! Begitu banyak hal yang belum
kumengerti!" bisik Maria sambil berlutut di

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

depan meja sembahyangnya. Ditundukkannya


kepalanya dalam-dalam. Dipejamkannya
matanya dengan khusuk. "Tapi kuserahkan saja
semuanya ke dalam tangan-Mu.... Di sisi-Mu
aku merasa aman. Dalam pelukan kasih sayangMu tak ada yang harus kutakuti...."
Ada perasaan hangat menjalar ke sudut hati
Maria yang paling dingin. Tiba-tiba saja dia
merasa memperoleh kekuatan baru. Tapi
semangat yang baru timbul itu langsung buyar
begitu dia teringat kembali kepada tatapan
teman-temannya.
Mereka begitu kasar. Begitu mengerikan....
Maria masih dapat membayangkan tatapan
mereka. Seringai mereka. Kata-kata mereka....
"Lihat! Orang aneh itu menuju kemari!" teriak
Nurul, yang punya pos paling strategis. Bangku
paling depan, di sudut dekat pintu.
Tina yang duduk di sebelahnya langsung
mengulurkan kepalanya ke arah pintu.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Anak baru!" desisnya sambil menyeringai


lebar. "Dikorbankan buat kelas kita rupanya!"
"Buset, sudah sebesar itu masih diantar
ayahnya!" sambung Rena yang sudah terbang
ke pintu. "Pantas saja seperti perawan lepas
pingitan!"
"Eh. lu tau nggak. Rul?" bisik Tina dengan mata
melotot.
"Apaan sih?"
"Dia nggak pakai BH lho!"
"Aduh. tu mata!" Nurul mengikik geli. "Mata
apa sinar-X sih?"
"Sst! Si Onta datang!" seru Rena sambil terbiritbirit kabur ke bangkunya kembali. Begitu
pantatnya yang berlemak tebal seperti pelana
menyentuh bangku, pintu kelas terbuka.
Suster Cecilia melangkah masuk diiringi Maria
dan ayahnya. Kelas yang hingar-bingar seperti
pasar bubar itu langsung sepi seperti kuburan
pada pukul dua belas malam

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Selamat pagi. Suster!" serentak semua mulut


berbunyi.
"Hm." Suster Cecilia hanya mendengus dingin.
Matanya yang tajam menelusuri setiap sudut
kelas, seakan-akan mencari tempat
persembunyian biang ribut yang
menghingarbingarkan kelas. Dari luar tadi dia
sudah mendengar bagaimana ributnya kelas mi.
Sekarang tiba-tiba saja semuanya menjadi
hening. Setiap siswi duduk di bangkunya
masing-masing dengan tertib. "Tidak ada guru?"
Bu Tari belum datang, Suster."
"Sudah berdoa?"
"Belum, Suster."
"Tunggu apa lagi? Kalian kan sudah besar, tidak
perlu dikomando terus. Sudah berapa kali saya
bilang, sebelum dan sesudah pelajaran, kalian
mesti berdoa!"
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara derit
bangku dan sepatu-sepatu yang bergeseran

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan lantai yang terdengar ketika mereka


serentak berdiri.
"Nurul, pimpin teman-temanmu berdoa."
"Baik, Suster," sahut Nurul sopan dan patuh,
jinak seperti anak burung merpati.
Bukankah dia gadis yang berkacak-pinggang
kemarin itu? Yang menatapnya lekat-lekat
seperti belum pernah melihat orang? Maria
tidak mengerti bagaimana dia bisa begitu sopan
sekarang!
"Atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
Amin...," Nurul mulai memimpin temantemannya berdoa. "Bapa kami yang ada di
surga..."
Dan Endang menginjak kaki Nike.
"Sst! Lihat!" bisiknya sambil mengerling ke arah
Maria. "Khusuk amat sembahyangnya!"
Nike mengangkat mukanya. Dan hampir lupa
menundukkannya kembali. Belum pernah dia
melihat ada seorang pun di antara temantemannya yang berdoa sekhidmat itu.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Kepalanya ditundukkan dalam-dalam. Matanya


terpejam rapat. Tangannya disusun membentuk
sembah...
"Wah, benar-benar orang suci yang dikirim ke
kelas kita nih, Dang!" bisiknya kagum. "Kamu
yakin dia bukan malaikat?"
"Lihat saja nanti, dia bisa terbang nggak kalau
kita jailin!"

***

"Bapak lihat sendiri," kata Suster Cecilia sambil


melangkah ke luar dari dalam kelas, "mereka
gadis-gadis yang baik. Murid-murid yang
bermoral dan berdisiplin tinggi."
"Kelas yang tertib." Pak Handoyo mengangguk,
anggukkan kepalanya. "Pada zaman yang rusak
ini, di tengah-tengah kota maksiat seperti
Jakarta, sungguh sulit menemukan gadis-gadis
yang terdidik baik seperti mereka. Saya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

percayakan Maria kepada Anda. Suster Cecilia.


Didiklah dia sebaik teman-temannya."
Ada bunyi gedebuk yang cukup keras dari arah
kelas. Sekejap Pak Handoyo menoleh. Tapi
ketika dilihatnya Suster Cecilia tidak berhenti
melangkah, disusulnya segera direktris SMA itu.

***

Maria merayap bangun dengan wajah merahpadam. Pantatnya yang menghantam lantai
terasa nyeri. Punggungnya yang membentur
meja pun lumayan sakitnya. Tapi lebih sakit lagi
hatinya.
Teman-temannya mengelilinginya sambil
tertawa geli. Gadis yang menjegal kakinya itu
malah sedang tertawa terbahak-bahak. Begitu
senangnya, seolah-olah dunia ini dia yang
punya.
"Kalau mau jadi warga kelas ini, mesti kenalan
dulu sama lantainya!" ejek Rena sambil

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mencibir. "Kebetulan rokmu memang cocok


buat ngepel!"
"Eh. kamu nggak pakai BH, ya?" tanya Tina
penasaran Ditariknya rambut Maria yang dijalin
dua sampai ke pinggang. "Bapakmu nggak
pernah beliin kamu BH?"
"Heran! Itu melulu yang diurusin dari tadi!"
potong Nurul sambil mengikik geli. "Kamu ACDC kali, ya?"
"Soalnya aku belum pernah lihat anak SMA
nggak pakai BH!"
"Nobra, tau nggak?!" sela Endang. "Mode tuh!"
Dengan susah payah Maria menghindari temantemannya, merayap bangun menuju ke
bangkunya. Digigitnya bibirnya, menahan
tangis.
Ke neraka seperti inikah ayahnya mengirimnya?
Mengapa Ayah sampai hati menjebloskannya ke
sarang kawanan serigala ini?
Selangkah lagi sebelum Maria mencapai
bangkunya, seorang gadis tegak menghadang di

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

depannya. Dan Maria tertegun kaget. Dia masih


mengenali seringai iblis yang terpampang di
hadapan matanya. Iblis tanpa tanduk....
"Halo," sapa Luna tenang. "Siapa namamu?"
"Maria," sahut Maria secepat lidahnya dapat
digerakkan kembali.
Terus terang, Maria terpana juga mendengar
sapaan gadis itu. Tadinya dia sudah bersiap-siap
untuk menerima serangan baru. Berjaga-jaga
kalau gadis ini juga berniat untuk membuatnya
jatuh-bangun. Tapi sapaannya begitu tenang.
Begitu datar. Tanpa emosi.
"Bukan begitu caranya memperkenalkan
dirimu." Ada senyum di bibir Luna. Maria
melihat sudut bibirnya kembali naik,
membentuk seringai yang tidak mudah
dilupakan. "Kelas ini punya aturan sendiri untuk
menerima murid baru. Kamu harus berlutut
sambil menyebut nama lengkapmu di depan
setiap teman-temanmu. Baru kamu dibaptiskan
Untuk menjadi salah seorang dari kami."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak mau!" protes Maria antara marah dan


takut. "Saya hanya mau berlutut di hadapan
Tuhan!"
Meledak tawa teman-temannya. Nurul malah
terkekeh-kekeh sampai keluar air mata.
"Apa kubilang!" seru Nike lantang. "Orang suci
yang dikirim ke kelas kita hari ini!"
"Kelas kita sudah kelewat bejat," sambung
Endang sambil menyeringai. "Nabi ini dikirim
untuk mengutuk kelas kita. menjadi seperti
Sodom dan Gomorah!"
"Sebentar lagi kamu ikut sinting seperti dia,
Dang!"
"Dan minggu depan kamu ikut-ikutan mencopot
BH-mu!"
Sekali lagi teman-temannya tertawa riuh. Cuma
Luna yang tidak ikut tertawa. Dia hanya
tersenyum. Tapi Maria lebih ngeri melihat
senyum itu daripada tawa teman-temannya
yang lain.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Lebih baik kamu lakukan sendiri sebelum kami


yang melakukannya untukmu." katanya tenang
tapi penuh ancaman. "Di mana-mana murid
baru memang harus diplonco! Kecuali mungkin
di sekolahmu!"
"saya tidak pernah sekolah."
"Lalu dari mana kamu dapat STTB-mu? Beli
ijazah aspal, ya?"
"Saya belajar sendiri di rumah. Ayah memanggil
guru untuk saya. Lalu saya ikut ujian negara."
"O..." Membulat bibir teman-temannya. "Pantas
kamu norak! Kuper! Kamu harus diajari
bagaimana caranya bermasyarakat!"
Dan selama sepuluh menit berikutnya, Maria
memperoleh pengalaman yang paling buruk
dalam hidupnya. Rambutnya ditarik-tarik ke
sana kemari. Tubuhnya didorong-dorong seperti
mobil mogok. Dan tasnya dilempar-lemparkan
dari tangan ke tangan.
Isinya bertebaran ke mana-mana. Kotak rotinya
yang berisi nasi goreng buatannya sendiri malah

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

masih tertinggal di atas meja guru ketika Bu Tari


datang.
"Apa ini?" Bu Tari mengerutkan dahinya dengan
heran.
"Nasi goreng bikinan anak baru, Bu!" sahut
Nurul lantang. "Buat Ibu sebagai salam
perkenalan!"
"Hush! Jangan jail kamu!" belalak Bu Tari. "Yang
mana anak baru? Coba berdiri."
Sambil menghapus air matanya, lambat-lambat
Maria berdiri.
"Lho, mengapa kamu menangis?" tanya Bu Tari
heran. "Teman-temanmu nakal?"
"Ini hari pertama Maria masuk sekolah. Bu!"
cetus Rena dengan berani. "Dia sedih karena
harus berpisah dengan ayahnya!"
"Diam kamu, Rcna! Ibu tidak tanya kamu!" Lalu
sambil menoleh kepada Maria, tanya Bu Tari
lembut, "Siapa namamu?"
"Namanya Bunda Maria, Bu!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nike, kalau kamu tidak dapat diam, Ibu suruh


keluar!"
Sambil saling pandang, Nike bertukar senyum
dengan Endang.
Siapa namamu?" ulang Bu Tari lebih lembut.
"Maria, Bu," sahut Maria tanpa berani
mengangkat kepalanya.
"Baiklah, kamu boleh duduk, Maria. Jangan
takut mengadu pada Ibu bila teman-temanmu
nakal. Biar nanti Ibu laporkan pada Suster
Cecilia. Mereka memang gadis-gadis berandal!"
Gadis berandal, pikir Maria resah. Ke tempat
seperti inikah Ayah mengirimnya? Tapi...
bukankah kata Ayah mereka gadis baik-baik
yang berpendidikan, bermoral, dan berdisiplin
tinggi?

BAB II

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Kalau saja teman-temannya tidak nakal,


sebenarnya Maria suka bersekolah di sana.
Guru-gurunya baik, pintar, dan pengetahuannya
luas pula. Dengan cepat pengetahuan umum
Maria bertambah, jauh lebih pesat daripada jika
dia hanya belajar sendiri saja di rumah.
Guru-gurunya lebih banyak, sehingga ilmu
pengetahuan yang mereka ajarkan pun lebih
komplet: Praktikum-praktikum sederhana di
laboratorium sekolah sangat menunjang ilmuilmu yang diajarkan, sehingga teori-teori yang
dipaparkan di kelas menjadi lebih mudah
dipahami.
Belum lagi grup-grup belajar yang diadakan di
antara mereka, membuat begitu banyak hal
yang semula gelap bagi Maria menjadi tidak
membingungkan lagi.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Bukan itu saja. Ada sebuah mata pelajaran lagi


yang mendorong semangat Maria untuk masuk
sekolah. Olahraga. Inilah pelajaran yang tidak
Pernah diperolehnya di rumah. Padahal
pelajaran itu sangat menyenangkan. Bukan saja
tubuhnya yang terasa segar, pikirannya pun
menjadi lebih lapang.
Hari pertama ikut pelajaran olahraga, Maria
memang menjadi bahan tertawaan dan olokolok teman-temannya. Soalnya dia tidak punya
celana olahraga.
Ayahnya tidak pernah mengizinkan Maria
memperlihatkan pahanya. Katanya paha mulus
yang terbuka mengundang dosa. Tapi gadisgadis di sini semuanya mengenakan celana
olahraga. Maria jadi bingung.
"Ala. sudahlah! Jangan pakai apa-apa!" seloroh
Nurul sambil membuka roknya di depan Maria,
seolah-olah Maria cuma sesosok patung batu
yang tidak punya mata. "Nggak boleh pakai
celana, kan? Ya sudah, nggak usah pakai!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Hampir saja Maria memejamkan matanya ketika


paha Nurul yang mulus terpampang berani di
depan matanya. Lebih-lebih ketika tanpa raguragu gadis itu pun membuka bajunya dan
menggantinya dengan kaus olahraga.
Buru-buru Maria memalingkan mukanya.
Rasanya wajahnya panas terbakar. Tetapi ke
mana pun dia memalingkan mukanya, ada saja
teman yang sedang membuka bajunya.
Kamar ganti pakaian mereka memang cuma
satu. Di dekat WC. Sebuah ruangan yang cukup
luas, tanpa jendela. Di dindingnya bergantungan
lemari-lemari pakaian dan sebuah cermin yang
cukup lebar. Siswi-siswi lebih suka menukar
baju mereka di sana daripada di dalam WC,
Lebih cepat. Tidak bau. Dan tidak ada
kemungkinan baju mereka akan jatuh ke tempat
yang basah.
"Idih! Dia malu lihat kita!" teriak Endang sambil
tertawa geli.
Bagi mereka, berganti pakaian di dalam satu
ruangan sudah bukan hal yang perlu

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

memerahkan muka lagi. Toh sama-sama


perempuan. Malu dengan siapa?
Mereka sibuk dengan pakaian masing-masing.
Tidak ada yang memperhatikan orang lain. Lagi
pula siapa yang tertarik? Sama-sama
perempuan kok. Sejenis. Serupa. Walaupun tak
sama.
Tapi hari ini muncul makhluk aneh di tengahtengah mereka. Dia perempuan. Tapi tidak
berani melihat rekan-rekannya berganti baju.
Lucunya, dia yang jadi malu sendiri.
Mukanya merah-padam. Dan tampaknya dia
berusaha keras supaya tidak usah melihat ke
sekelilingnya. Tentu saja semua temannya jadi
tergelitik untuk mengolok-olokkannya.
"Nggak usah malu-malu deh!" Sengaja Tina
membuka bajunya di depan Maria.
Dibusungkannya dadanya ke muka gadis itu.
Begitu dekatnya sampai Maria dapat melihat
betapa bagusnya BH Tina. Dan betapa indahnya
bukit yang terlindung di baliknya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sakit kamu, Tin!" Nike memukul punggung Tina


dari belakang. "Bisa pingsan dia!"
"Makanya mesti dibiasakan!" Tanpa ragu-ragu
Tina meraih tangan Maria dan meletakkannya di
atas pahanya. "Ini pahaku. Rabalah semaumu!
Supaya kamu tidak norak lagi!"
Tetapi Maria malah menarik tangannya dengan
segera. Dan tergopoh-gopoh lari ke pintu
dengan muka merah-padam. Teman-temannya
tertawa geli.
"Wah, benar-benar anak enam tahun dalam
tubuh gadis enam belas tahun!" komentar Elita
sambil Menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kasihan!"
"Ah, dia cuma kuper! Lama-lama juga biasa!
Cuma perlu banyak latihan!"
Dan cuma Maria yang tahu apa yang kemudian
terjadi. Ketika guru Olahraga mereka masuk ke
ruang ganti, ditemukannya Maria sedang
menangis tersedu-sedu di sudut ruangan.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sia-sia Bu Harti berusaha mengorek pengaduan


Maria. Dia begitu shock sampai tidak dapat
mengucapkan sepatah kata pun.
Hari itu pelajaran Olahraga memang dibatalkan.
Teman-teman Maria dihukum jemur di
halaman. Tetapi Maria sudah mendapat
pengalaman baru. Semalam-malaman dia
memikirkan BH milik Tina.
Alangkah indahnya. Tak pantaskah kalau dia
juga memakainya? Buah dadanya memang
belum tumbuh seranum milik teman-temannya.
Tapi juga tidak serata papan. Sudah ada daging
yang membukit di sana. Biarpun belum
menonjol.
Tidak sadar Maria meraba-raba dadanya sendiri.
Dan dia memperoleh sensasi aneh yang belum
pernah dirasakannya selama ini. Mukanya
terasa panas walaupun kamarnya gelap gulita
dan dia berada seorang diri di kamar itu.
Lalu dia teringat paha Tina. Paha yang putih dan
mulus. Yang terpampang menantang di depan
matanya ketika gadis itu mengangkat kakinya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dan menaikkannya ke atas bangku di


sampingnya.
Ada keingintahuan yang mendesak kuat di hati
Maria. Semulus itu jugakah pahanya? Selama ini
paha itu selalu dekat dengan dirinya. Selalu
bersama-sama dalam keadaan apa pun. selalu
digosoknya bersih-bersih kalau mandi dengan
sabun.
Tapi tidak pernah dia punya waktu utuk
menikmatinya benar-benar. Merabanya dengan
penuh perasaan. Baru sekarang dia menyadari
betapa putihnya pahanya! Paha yang tidak
pernah disentuh sinar matahari! Mulusnya pun
tidak kalah dengan milik Tina! Ah.
Tak sadar Maria tersenyum sendiri. Dan suara
nyanyian ayahnya tiba-tiba menyentakkan
keheningan kamar.
Bukan baru sekali ini Maria mendengar ayahnya
menyanyi. Ayah memang selalu
menyenandungkan kidung-kidung rohani setiap

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

malam. Tetapi baru malam ini Maria merasa


takut mendengar nyanyian ayahnya.
Tiba-tiba saja Maria merasa berdosa. Dia telah
meraba-raba dada dan pahanya sendiri. Dengan
tidak sadar dia telah memuja dan menikmati
miliknya sendiri! Bagian tubuh yang harus
dirahasiakan dan ditabukan! Tidak boleh
diperlihatkan kepada orang lain. Itu pesan Ayah!
O, kalau saja Ayah tahu, apa yang telah
dilakukan teman-temannya siang tadi! Di kamar
ganti pakaian yang penuh dengan iblis-iblis
betina yang liar itu! Aduh, mereka memang
keterlaluan!
Maria selalu ingin menangis setiap kali teringat
kejadian itu. Dia malu. Amat malu. Pada dirinya
sendiri. Pada teman-temannya. Dan... pada
Tuhan!
Tak tertahankan lagi Maria melompat dari
tempat tidurnya. Berlutut di depan meja
sembahyangnya. Dan berdoa minta ampun
pada Tuhan.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria masih berlutut dengan khusuknya ketika


lambat-lambat pintu terbuka. Dan ayahnya
melo-ngok ke dalam.
"Saya tetap tidak mengizinkan Maria
mengenakan celana pendek, apa pun nama
celana itu dan apa pun alasannya. Untuk
berolahraga kita tidak perlu memamerkan paha.
Dia bisa memakai rok seperti biasa!"
"Saya tidak ingin berdebat. Pak Handoyo," sahut
Suster Cecilia sabar. "Celana olahraga
dibutuhkan untuk berolahraga. Tujuannya
bukan untuk memamerkan apa-apa. Tapi
sekedar untuk memudahkan gerak."
"Tapi saya tetap keberatan. Suster Cecilia. Saya
minta dispensasi untuk Maria."
"Itu berarti dispensasi untuk tidak mengikuti
pelajaran Olahraga. Saya tidak dapat
membayangkan Maria melakukan senam lantai
dengan mengenakan rok. Bagaimana dia harus
melakukan koprol misalnya?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia bisa mengenakan celana panjang. Saya


tidak ingin seorang pun melihat pahanya. Maria
calon biarawati."
Dan jadilah Maria berolahraga dengan celana
panjang. Bukan cuma panjang, sekaligus
longgar. Tentu saja mula-mula dia jadi bahan
tertawaan teman-temannya.
"Jago silat kesasar!" ejek Rena.
"Bukan!" bantah Nurul lincah. "Tukang sate!
Lihat saja. celananya hitam, dari katun lagi!"
Tapi lama-kelamaan mereka jadi terbiasa jugaOrang aneh itu memang sering menimbulkan
bahan tertawaan. Setiap hari ada-ada saja yang
ditertawakan.
Tapi lambat-laun mereka mulai menyukainya
Dan merasa kehilangan kalau Maria tidak ada.
Apalagi dia mahir sekali main volley. Meskipun
belum pernah main sebelumnya-jangankan
main, melihat saja belum pernah - rupanya
Maria punya bakat alamiah. Pukulan smesnya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

keras. Setiap bola tanggung di depan jaring pasti


disikatnya tanpa ampun.
Kelihatannya Maria keranjingan betul main
volley. Setiap ada pelajaran Olahraga, dia
dengan bersemangat selalu mengikutinya.
Padahal teman-temannya sekali setiap bulan
pasti minta izin untuk tidak ikut. Entah untuk
apa.
"Kalau mainmu tetap bagus begini, barangkali
kamu bisa terpilih menjadi anggota tim bola
volley sekolah kita, Mar," kata Elita waktu
mereka beristirahat.
Maria menghentikan minumnya. Dan menatap
Elita dengan heran. "Tim apa?"
"Regu bola volley sekolah kita akan bertanding
dengan sekolah lain tanggal dua bulan depan.
Kamu mau ikut?"
"Tentu," sahut Maria bersemangat. Sekilas Elita
melihat mata yang selalu gelisah itu bercahaya.
"Tapi... apa saya bisa terpilih?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bu Har pasti sudah melihat bakatmu. Sebagai


penyerang, kamu lebih dapat diandalkan
daripada Luna yang cuma bisa teriak-teriak."
"Ah, Luna kan jauh lebih berpengalaman...."
"Pengalaman mudah dicari. Mar. Bakat sudah
mesti ada!"
Eh, di sini ngumpetnya kunyuk gua!" Dengan
gemas Nurul memukul bahu Elita! "Dicari ke
mana-mana sampai pegal! Gua kira lu udah ikut
hilang bersama Palapa B2!"
"Sialan lu!" Elita terbatuk-batuk ketika sirop
yang sedang diteguknya langsung melompat ke
dalam
tenggorokan karena kagetnya. "Nggak boleh
lihat orang lain senang!"
"Ngapain kalian di sini?!" Tina sudah
menjatuhkan dirinya di bangku tukang es serut
sebelum diundang. "Ada rejeki diam-diam saja!
Sadis kamu, El! Es serutnya satu. Bang! Jangan
pakai susu! Lagi diet!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Eh, siapa yang ngundang kalian kemari?"


protes Elita segera. "Nggak ada jatah, ya! Bayar
sendiri-sendiri!"
"Lho. ini hari pertama kamu bawa Maria ke sini,
kan?"
"Ada urusan apa? Nggak mesti bayar parkir
sama kamu, kan?"
"Nggak sih! Tapi ini aturan sekolah kita, Mar!"
kata Tina sambil tersenyum ke arah Maria.
Membuat dada Maria berdegup takut.
Permainan apa lagi ini? Mereka mau apa lagi?
"Yang pertama kali minum di sini mesti traktir
kita!"
"Aturan apaan tuh!" sembur Elita. "Kamu yang
bikin? Nggak usah, ya! Pokoknya hari ini aku
yang traktir Maria! Tapi cuma dia! Kamu bayar
sendiri!"
"Aku, El?" potong Nurul tak mau kalah. "Aku
kebagian dong, ya? Ingat, nanti siang kita punya
janji!"
"Janji apaan?" "Berenang. Masa lupa?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa kena-mengenanya berenang sama es


serut?" "Lho, kamu yang ngajak aku berenang,
kan?" "Lalu?"
"Ya, minumnya juga dong! Hitung-hitung
persekot buat nanti siang. Aku kawal kamu deh!
Taruhan, si Dedi nggak bakal berani ngikutin
kamu!"
"Sialan. Gua diperas," gerutu Elita jengkel.
"Siropnya jangan terlalu banyak, Bang," kata
Nurul gesit. "Gigi lagi ngadat nih!"
"Aku pergi dengan Maria siang nanti, Rul," kata
Elita tiba-tiba. "Nggak perlu kamu."
Yang terkejut bukan cuma Nurul. Maria Juga.
Tina sampai tidak jadi menyedot es serutnya.
"Maria?" cetusnya kaget. Tawanya meledak
hebat sampai tubuhnya terguncang-guncang
seperti ada gempa. "Berenang? Pakai rok?"
"Aku tidak bisa berenang, El," sahut Maria
antara malu dan menyesal. Dia menyesal karena
tidak dapat menemani Elita. Padahal selama ini,

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dialah yang paling baik di antara temantemannya yang lain.


"Nggak apa-apa. Nanti kuajari."
"Tapi..."
"Dia disuruh berenang pakai apa, El?" potong
Nurul geli.
"Diam kamu!" "Aku ikut, ah!" "Ke mana?"
"Ke mana lagi? Tentu saja ke kolam renang!
Ingin lihat orang berenang pakai celana
panjang!"
"Waduh, ngumpul di sini rupanya!" cetus
Endang yang baru datang bersama Luna dan
Nike. "Pantas saja kelas sepi!"
"Sudah dicari tuh!" kata Nike kepada temantemannya. Padahal dia sendiri duduk memesan
bakso. "Nanti Bu Har marah-marah lagi!"
"Minum dulu, ah! Haus!" sahut Nurul sambil
Melahap es serutnya. "Mobil juga perlu minum
kalau habis jalan jauh. Apalagi orang!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Wah, rupanya ada yang traktir nih." Luna


tersenyum memandang Maria yang sedang
menyendok es serutnya dengan hati-hati.
"Aku yang bayar kok!" potong Elita cepat. "Tapi
cuma Maria!"
"Pelit, ah." gerutu Endang yang sudah ikutikutan memesan bakso. "Yang baru saja yang
diservis!"
"Biar aku yang bayar bakso buat Maria." kata
Luna tenang-tenang.
"Oh. jangan!" Maria tersentak kaget. Hampir
saja es tersedak masuk ke dalam jalan
napasnya. "Terima kasih."
"Wah. rejeki jangan ditolak. Mar!" Nurul
menepuk bahunya. Begitu kuat sampai hampir
terlepas mangkuk dari tangannya. "Pemali tuh!"
"Bang. baksonya buat semua teman-teman
saya," kata Luna dengan gagahnya.
Nurul dan Endang sampai bertepuk tangan
karena girangnya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagus. Na! Nggak percuma babemu koruptor!"


"Anak-anak satu tiga yang merasa punya kaki
lekas menggelinding ke kelas! Ditunggu Jendril!"
teriak Rena dari jauh.
"Sini dulu. Ren! Ada rejeki nih!" Nurul balas
berteriak. "Daripada kamu bolak-balik terus di
situ Kayak mesin foto kopi!"
"Kamu ulang tahun. Rul?" Membulat mata
Rena. Mulutnya juga.
"Iya, yang ketiga kali tahun ini!"
"siapa yang kaulan nih? Mimpi kejatuhan
Palapa, ya.
"Ah, nggak usah tanya-tanya deh! Pokoknya
jatahmu bakso lima biji! Lebih bayar sendiri!"
"lumayan! Bonbinku memang sudah pada
nagih!"
"Kebon binatang." bisik Elita pada Maria yang
Sudah Pusing. Kebingungan mendengar celoteh

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

teman-temannya. Istilah mereka memang adaada saja. Tidak pernah ada di kamus Maria.
"Kami menjuluki perut si Rena kebon binatang.
Soalnya cacingnya banyak. Dan selalu minta
makan!"
Pantas saja perutnya gendut, pikir Maria geli,
mulai menyukai kelakar teman-temannya. Kalau
tidak konyol, mereka kadang-kadang memang
lucu. Saling ejek. Saling olok. Saling
menertawakan...
Karena merasa geli, tak sadar Maria tersenyum.
Meskipun senyumnya selalu dibayangi seringai
kesedihan, itulah senyumnya yang pertama bagi
teman-temannya. Tidak heran mereka gembira
bukan main.
"Nah, gitu dong, Mar! Banyak senyum biar awet
muda!"
"Senyumnya boleh juga, Mar! Coba dong sekali
lagi! Lumayan buat ngusir lalat!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ayo, kita makan untuk merayakan senyum


Maria yang pertama!" seru Nurul sambil
mengangkat mangkuk baksonya tinggi-tinggi.
"Yang itu kasih Maria dulu!" Dengan tenang
Luna merebut mangkuk dari tangan Nurul. "Ini
kan pesta untuk dia! Kamu belakangan!" "Wah,
curang! Yang itu baksonya lebih banyak!
Kuahnya penuh lagi!"
Tanpa menghiraukan protes Nurul, dengan
tenang Luna menyodorkan mangkuk bakso itu
ke tangan Maria.
"Terima kasih," sahut Maria, terharu oleh
kebaikan teman-temannya.
"Lho, jangan nangis dong. Mar!" cetus Tina
ketika dilihatnya mata Maria berkaca-kaca. "Di
sini sih traktir-traktiran makanan soal biasa!
Lain kali juga
giliranmu datang! Tunggu saja! Pasti nggak lama
lagi!"
"Semuanya sudah dapat?" tanya Luna tanpa

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mengacuhkan kegaduhan teman-temannya.


"Ayo,
kita mulai makan! Buat teman baru kita...
Maria!"
Diiringi tepuk tangan riuh teman-temannya,
Maria mulai menyendok baksonya yang
pertama. Tapi bakso itu ternyata tidak
sendirian. Ada bakso yang lebih besar lagi di
bawahnya. Terendam kuah.
Ketika Maria menyendok lebih dalam lagi untuk
mengangkat bakso besar itu ke permukaan,
mukanya langsung memucat. Dia memekik
ngeri. Dan terkulai lemas sebelum temantemannya yang lain menyadari apa yang terjadi.
"Mar! Mar! Ada apa?" Buru-buru Elita
merangkul temannya. Tapi gadis itu sudah
keburu pingsan.
Nurul-lah yang mengangkat tikus-tikusan karet
itu dari tanah. Mangkuk dan bakso-baksonya
bergelimpangan di dekatnya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

***

"Keterlaluan kamu, Na!" geram Elita ketika


mereka sedang menjalani hukuman jemur di
halaman sekolah. "Bercandamu kelewat sadis!"
"Sekali lagi aku disuruh menghadap Batara
Surya begini, kulitku bisa hitam seperti kuli
pelabuhan, gerutu Tina jengkel. "Udeh deh
jangan bercanda lagi sama dia!"
Tetapi Luna cuma tersenyum tenang. Dan
senyumnya baru hilang ketika Suster Cecilia
muncul di depan mereka.
"Sekali lagi saya dengar kalian mengganggu
Maria, kalian akan saya skors!" ancamnya
dingin.
"Dia memang tidak sama dengan kalian. Tapi
jangan sampai perbedaan itu justru dipakai
untuk mengasingkannya. Untuk mengolok-olok
dia. Kalian justru harus membantu supaya dia
dapat cepat menyesuaikan diri. Apa kalian tidak
kasihan padanya? Di rumah Maria punya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

seorang ayah yang keras. Dia sudah tidak punya


ibu. Tidak punya saudara. Tidak punya teman.
Di sini kalian masih sampai hati
mengganggunya? Kalian benar-benar gadis yang
tidak punya perasaan!"
Hampir semua kepala tertunduk dalam di
hadapan Suster Cecilia. Tapi hanya Elita yang
maju ke muka dengan wajah penuh penyesalan.
"Kami semua menyesal, Suster," katanya
sungguh-sungguh. "Apakah kami boleh
menemui Maria? Kami ingin minta maaf."
"Maria sudah sadar, tapi belum dapat
mengatasi emosinya. Dia sudah saya suruh
pulang. Karena tidak mungkin lagi hari ini dia
dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Kalian
tahu apa yang menunggunya di rumah?"
"Kamu pasti tidak sekolah!" Dengan berang Pak
Handoyo mondar-mandir di depan putrinya
yang tertunduk ketakutan di hadapannya.
"Tidak mung-kin sepagi ini sudah pulang! Ayah
tahu sekali pukul berapa sekolah usai! Tidak
mungkin sekolah sebaik Itu membubarkan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

murid-muridnya sebelum waktunya! Biar tidak


ada guru, murid tetap tidak diizinkan pulang!
Kamu kira ayahmu mudah dibohongi? Lihat
Maria!"
Dengan ketakutan Maria mengangkat wajahnya.
Dan menatap ayahnya dengan air mata
berlinang. "Kamu bolos, ya?!"
Maria menggeleng ketakutan. Bibirnya
menggeletar menahan tangis.
"Lalu mengapa sudah pulang? Kabur?!"
Sekali lagi Maria menggeleng putus asa.
"Jangan membuat malu ayahmu di depan Suster
Cecilia!" bentak Pak Handoyo geram. "Ayah
sudah mengenal suster itu lama sebelum kamu
lahir! Besok Ayah akan menghadap Suster
Cecilia. Awas, kalau Ayah dapat laporan jelek!
Sekarang pergi ke kamarmu! Mengaku dosa dan
menjalani hukuman. Jangan harap kamu boleh
makan kalau belum menyelesaikan dua ratus
kali Bapa Kami dan dua ratus kali Salam Maria!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

BAB III

Begitu regu bola volley sekolah Maria memasuki


lapangan, penonton yang terdiri dari pelajarpelajar SMA itu langsung bersorak-sorai dengan
riuhnya. Celana olahraga mereka yang hitam
pekat dengan T-shirt kuning menyala memang
amat kontras dengan seragam lawan yang
berwarna hijau putih.
"Penampilan sih keren," ejek seorang siswi dari
sekolah lawan. "Tapi lihat saja nanti di
lapangan! Pasti keok!"
"Belum tentu," sanggah Rena bersemangat. Hari
itu dia hadir di tengah-tengah penonton sebagai
suporter regunya. Jauh-jauh hari dia sudah
menyiapkan terompet-terompet kertas untuk
kawan-kawannya. Soalnya peluit tidak boleh
dibawa masuk ke lapangan. Kuatir para pemain

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

terkecoh. Mengira Yang berbunyi peluit wasit.


"Tahun lalu kami jadi runner-up Tahun ini pasti
juara!"
"Eh, jangan takabur! Di atas langit masih ada
langit!" potong seorang penonton dari sekolah
lain, yang sekolahnya sejak siang-siang sudah
masuk kotak.
"Ah, nggak usah berkotek kamu!" sahut Rena
dengan nada menghina. "Sekolahmu sih nggak
masuk hitungan! Melawan nenek-nenek
barangkali kalian baru bisa menang!"
"Wah. sombongnya!" sambar seorang pemuda,
entah dari sekolah mana. Penonton hari ini
memang berjubel. Siswi-siswi dari kedua
sekolah yang akan bertanding berbaur dengan
murid-murid dari sekolah lain yang datang
hanya sekedar untuk menonton. Pertandingan
tahun ini memang ulangan final tahun lalu. Dan
kalau kedua musuh bebuyutan ini bertemu,
pertandingan biasanya berjalan seru. "Regu
yang sok begini tidak pantas jadi juara!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kenapa tidak?!" sanggah Johan yang sejak tadi


duduk di samping Rena. "Itu namanya semangat
untuk menang. Bertanding kan memang untuk
mengalahkan lawan, bukan cuma untuk
berhura-hura dengan alasan mempererat tali
persahabatan?!"
"Aku sokong pendapatmu, Han!" sorak Dedi,
yang sudah lama naksir Elita.
Tidak heran meskipun putri-putri sekolahnya
sendiri sudah kalah, Dedi tetap memerlukan
datang untuk menonton Elita memimpin temantemannya bertanding. Di lapangan, Dedi tahu
gadis itu memang keras dan dingin. Tapi di luar,
hatinya lembut dan baik. Sayang, kelihatannya
dia tidak membalas perhatian Dedi.
"Eh, ada yang pakai celana panjang!" cetus
seorang pemuda dari sekolah lawan. "Itu
pelatihnya kok ikut main sih?!"
"Itu anggota baru regu kami!" potong Rena
bersemangat. "Namanya Maria! Lihat saja
smesnya nanti! Kalau kena kepala teman-teman
putrimu, pasti gegar otak!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Taruhan, kakinya pasti palsu!" sembur pemuda


yang lain, yang senyumnya selancang
tatapannya.
"Banyak korengnya kali!" sambung seorang
gadis dari sekolah lawan.
Dan mulailah mereka berteriak-teriak menteror
Maria.
"Jangan hiraukan mereka," bisik Elita yang
berjalan di samping Maria. "Acuh aja! Jangan
dengar apa yang mereka teriakkan.
Konsentrasimu bisa buyar!"
Tetapi bagaimanapun Maria berusaha untuk
menerapkan nasihat Elita, dia tidak mungkin
menulikan telinganya terhadap teriakanteriakan mereka. Konsentrasinya langsung
buyar. Dan permainannya jadi kacau.
Berkali-kali Maria gagal. Teman-temannya
sendiri lama-lama ikut menjadi kesal. Dan
mereka tidak dapat menahan mulutnya lagi
untuk mengejek Maria.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Diteror kawan dan lawan, Maria bertambah


grogi. Permainannya ambruk sama sekali.
Celakanya, permainan Maria yang buruk itu ikut
mempengaruhi permainan teman-temannya.
Terpaksa Bu Harti minta time out.
"Yang kayak gitu yang katanya bisa bikin gegar
otak!" sindir Rusman kepada Rena. "Main aja
kagak becus! Nggak salah bawa tuh?!"
Merah-padam wajah Rena. Dia mengepalngepal-kan tangannya dengan gemas.
"Ayo, Maria!" teriaknya setelah kesabarannya
habis. "Kamu mau main apa cuma mau
nampang di situ?"
"Lha kakinya aja kayu disuruh main volley!" ejek
guntur menyakitkan sekali. "Mestinya kan dia
bertanding sama anak-anak YPAC!"
"Maria, ini kesempatanmu satu-satunya untuk
merebut simpati teman-temanmu," kata Bu
Harti setelah dia kewalahan meredakan tangis
Maria "Sekarang jangan menangis. Jangan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dengarkan mereka. Pokoknya kamu main. Minta


pertolongan Tuhan...."
Dan Bu Harti tertegun. Tiba-tiba saja Maria
menghentikan tangisnya. Dan mengangkat
wajahnya. Matanya yang berlinang air mata
menatap Bu Harti sampai yang ditatap jadi
gelagapan.
"Apa Tuhan juga mengurusi hal-hal yang kecil
begini?" desah Maria hampir berbisik.
"Kecil katamu? Sekolahmu sudah di ambang
juara! Kauanggap kecil kegagalan jerih-payah
teman-temanmu cuma karena kepandiranmu?"
Tuhan mau mendengarkan saya?" bisik Maria
tidak percaya. Matanya yang merah berair
berkedip-kedip menatap Bu Harti. "Mereka juga
berdoa minta menang, kan?"
Astaga. Bu Harti menghela napas panjang.
Semua salahku. Lain kali aku harus lebih
memperhatikan pembinaan mentalnya. Jangan
cuma fisiknya saja yang digembleng! Anak ini

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

betul-betul lain daripada yang lain. Benar-benar


pengalaman unik bagiku sebagai guru Olahraga!
"Berdoalah pada Tuhan. Maria," kata Bu Harti
sungguh-sungguh. "Siapa pun yang menang, itu
terserah Tuhan. Tapi kita harus berusaha!
Dengan tuhan di sisimu, lupakanlah siapa yang
menjadi lawanmu! Jangan dengarkan penonton.
Pokoknya serang!"
Dan Maria yang kemudian masuk kembali ke
lapangan bukan Maria yang tadi dicemooh
habishabisan. Dia main begitu bersemangatnya
sampai tak pelak lagi, dialah bintang lapangan
hari itu.
Rena dan teman-temannya yang tadi sudah
ikut-ikutan berteriak-teriak mengejek, kini
berbalik mengelu-elukannya. Mereka bersoraksorak seperti orang kesetanan.
"Wah, dia benar-benar hebat!" cetus Guntur
kagum. "Aku jadi tambah ngebet kepingin lihat
kakinya!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kakinya sama seperti kakiku!" Rena


membelalak judes. "Bukan kaki palsu!"
"Ah, masa." Rusman tersenyum geli. "Kakimu
sih seperti gedebok pisang!"
"Sialan!" geram Rena sengit. "Sekali-sekali mesti
cobain kaki gua mampir di mulut lu!"
Pemuda-pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
"Gadis-gadis dari SMA putri memang rata-rata
lebih galak!" komentar Dedi. "Maklum, nggak
pernah lihat cowok sih!"
"Dan lebih agresif!" sambung Johan sambil
melirik Rena. "Lihat, lenganku habis dicubiti!"
"Sori, kalau lagi geregetan, aku suka lupa!"
Menyeringai Rena, melihat kulit lengan Johan
yang sudah matang biru. "Habis si Maria
menggemaskan betul sih!"
Ketika Maria berhasil menyemes bola yang
membawa regu mereka kepada kemenangan
terakhir, teman-temannya langsung turun ke
lapangan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

menyerbunya.
"Hebat kamu, Mar!" teriak Nurul sambil
merangkulnya erat-erat, tidak peduli badan
Maria masih basah bersimbah peluh.
"Hidup Maria!" pekik Tina separuh histeris,
dikecupnya pipi Maria kanan dan kiri.
"Selamat, Mar!" Endang menjabat tangannya
erat-erat.
"Permainanmu maut, Maria!" Nike menubruk
Maria dari belakang sambil melompat, sampai
Maria terdorong ke depan.
Dan Rena menyambutnya dalam rangkulan
lengan-lengannya yang kokoh. Sekejap Maria
merasa pengap ketika mukanya amblas ke
tengah-tengah gumpalan daging berlemak yang
empuk. Untung Rena segera melepaskannya
lagi.
"Selamat, Mar!" katanya gembira. "Sekolah kita
menang!"
Maria hampir kewalahan melayani spontanitas
teman-temannya. Air matanya berlinang haru,

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

tapi bibirnya merekahkan senyum. Dia sudah


tidak dapat lagi membedakan yang mana
teman-temannya yang mana anak-anak dari
sekolah lain. Soalnya mereka semua berdesakdesakan hendak menyalaminya. Dan seorang
pemuda bertubuh tinggi besar mendesak ke
depan. Tangannya diulurkannya melampaui
bahu teman-temannya.
"Selamat, Maria!" seru Guntur, susah payah
mendekati gadis itu. "Mainmu bagus sekali!
Benar nggak sih kakimu dari kayu?"
Maria tertegun. Tapi tidak lama. Sebelum dia
sempat mundur, tangan pemuda itu, entah
disengaja entah tidak, menyentuh dadanya
tepat di bagian yang terlarang....
Dan Maria tersentak kaget. Mukanya merahpadam. Dia langsung memutar tubuhnya.
Menguakkan kerumunan teman-temannya. Dan
lari ke kamar ganti pakaian.
"Gile!" cetus Guntur keheran-heranan. "Dia
nggak pakai BH!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

***

"Kenapa, Mar?" tanya Elita heran, ketika dia


menemukan Maria sedang menangis di kamar
ganti. "Teman-teman kita sedang dimabuk
kemenangan, kok kamu malah nangis?!"
Bukannya menjawab, Maria malah tambah
tersedu-sedu.
"Lho, kenapa?" desak Elita makin bingung. "Ada
yang jail sama kamu?"
"Guntur mencolek dadanya," potong Rena yang
tahu-tahu sudah ikut masuk ke sana. "Kurang
ajar memang tu anak! Tangannya nggak pernah
disekolahin!"
"Itu sih biasa, Mar," bujuk Nurul yang sedang
mengganti baju. "Cowok memang begitu. Kamu
nggak usah nangis! Dijailin cowok artinya kamu
menarik perhatiannya! Kalau dia nggak tertarik
sama kamu, buat apa ia repot-repot jailin?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah, itu kan pendapatmu!" sela Elita. "Kamu sih


memang perempuan eksperimen! Tapi Maria
bukan cewek seperti kamu!"

***

"Dia cewek pilihan Tuhan!" bentak Rena kepada


Guntur ketika mereka sedang berkumpul
minum limun dingin di pinggir jalan. "Calon
biarawati, tahu nggak?! Kamu jangan kurang
ajar sama dia! Dikutuk Tuhan, nggak sampai ke
rumah kamu nanti!"
"Diseruduk sapi teler kamu baru tahu rasa!"
sambung Tina bersemangat. "Lancang amat sih
tu tangan!"
"Calon biarawati?" Guntur menyeringai geli.
"Pantas aja bajunya kayak orang kedinginan
begitu!
Kenapa dia nggak pakai jubah aja sekalian turun
ke lapangan?!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pantas saja kita kalah!" komentar Rusman.


"Kita melawan malaikat sih!"
"Ah. udah kalah sih ngaku aja!" gerutu Rena
judes. "Siapa tadi yang taruhan sama gue?!"
"Oke. oke. Non!" Rusman menyeringai masam.
"Mau berapa mangkuk baksonya?"
"Bakso kepalamu! Kamu tadi janji traktir sate
ayam!
"Lho. kamu sudah segembrot ini masih belum
kapok juga makan enak? Diet dong! Diet!"
"Pokoknya nggak sekarang! Kamu jangan
mungkir janji! Traktir aku sate ayam!"
"Ajak Maria juga, Ren!" sela Guntur bersemangat. "Biar aku yang traktir dia!"
"Duh. kalau ada barang baru. gesit deh kamu!"
sindir Tina. "Tapi sama Maria sih jangan mimpi!
Dia bukan tipemu!"
"Satemu kutambah dua porsi lagi kalau kamu
berhasil mengajak dia, Ren!" bujuk Guntur tak
mau kalah.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

'Huu. sate sih apaan! Kalau Maria yang kamu


mau. upahnya mesti bistik ayam!"
Bistik gajah pun boleh, Ren! Kamu tinggal pilih
aja di Bonbin Ragunan, mau yang mana! Besok
binatang itu sudah jadi bistik di piringmu!"
Teman-temannya tertawa geli. Tambah banyak
binatang piaraan di perutmu, Ren!" desis
Endang sambil tersenyum. "Kamu mesti punya
RPH sendiri!" "Apaan tuh RPH?"
"Huu, dasar telmi! Rumah jagal, tahu nggak?!"
"Kapan nih, Ren?" desak Guntur pantang
menyerah.
"Apanya kapan?" "Maria."
"Eh, sejak kapan aku jadi germo?" "Serius nih!"
"Nggak bisa kalau dia sih! Calon biarawati kok.
Kamu mau bersaing sama Tuhan?!"
"Siapa bilang aku mau pacaran sama dia?"
"Habis kamu mau ngapain dong?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Cuma mau lihat kakinya!" "Tungguin aja besok


di depan sekolahan!"
"Waduh, si Onta galak!"
"Lho, memangnya kamu disuruh ngapain? Kamu
cuma kepingin lihat kaki Maria, kan? Nah, besok
dia pakai seragam. Roknya nggak terlalu
panjang kok. Pelototin deh kakinya sampai
keluar biji matamu!"

***

Malam itu Maria benar-benar tidak bisa tidur.


Dia sudah hampir dua jam berdoa. Sudah
mengulang-ulang doa Bapa Kami dan Salam
Maria sampai seratus kali. Tapi perasaan
berdosa itu tetap tak mau hilang juga dari sudut
hatinya.
Pemuda itu telah menyentuh bagian yang paling
suci di dadanya.... Aduh. kalau saja ayahnya
tahu... dia pasti sudah dibunuh!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi... Ayah memang tidak tahu. Tuhan-lah yang


tahu. Dan mata Yesus di alas sana seperti
Menatapnya dengan sedih.... Benarkah Yesus
sedih?
Berlinang air mata Maria. Dia tidak ingin
membuat Yesus sedih. Tapi pemuda kurang ajar
itu!
Maria mencoba mengingat-ingat wajahnya
dengan susah payah. Hanya sekilas memang dia
memandang mukanya. Tidak ada waktu lagi.
tapi yang sekilas itu sudah cukup. Dia ingat
matanya yang lancanng. Senyumnya yang
kurang ajar. Dan... wajahnya yang tampan...
tubuhnya yang tinggi tegap...
Ah. panas muka Maria membayangkannya.
Inilah pertama kali dia membayangkan wajah
seorang laki-laki! Dan kata Ayah, itu dosa! Dosa
besar!
"Maria, kamu belum tidur?!"
Itu pasti suara Ayah! Siapa lagi. Mereka cuma
tinggal berdua di rumah ini. Tapi bagi Maria,

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

suara yang sudah sangat dikenalnya itu tiba-tiba


menjadi halilintar yang memekakkan telinga.
"saya baru selesai berdoa...," sahut Maria
ketakutan.
"Tadi Ayah kemari dua kali. Kamu masih
berdoa."
Mana ingin supaya ayahnya lekas-lekas
meninggalkan kamarnya. Tetapi Pak Handoyo
malah melangkah masuk dan duduk di kursi. Dia
menyalakan lampu. Dan sinar lampu yang
terang benderang menyoroti wajah Maria yang
memerah.
"ada apa??" tanya Pak Handoyo curiga. "tidak
ada apa-apa...," sahut Maria gugup. Dicobanya
memalingkan mukanya supaya ayahnya tidak
usah melihat betapa merah wajahnya.
Kamu berdusta." Suara Ayahnya begitu dingin.
"kamu pasti berbuat dosa!" "Saya sudah
mengaku dosa dan minta ampun pada Tuhan,"
sahut Maria ketakutan. "Saya sudah menjalani
hukuman...."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu bikin apa?!" mengguntur suara ayahnya.


Matanya membelalak marah. Penuh tuduhan.
Membuat Maria bertambah panik. "Tadi siang
saya bertanding..." "Ayah tahu," potong Pak
Handoyo tak sabar "Regu saya menang." "Itu
juga Ayah sudah tahu." "Permainan saya bagus
sekali..." "Jangan sombong! Sombong itu dosa!"
"Mula-mula permainan saya jelek... saya berdoa
minta tolong pada Tuhan..."
"Tidak sepatutnya merepotkan Tuhan dengan
hal-hal kecil begitu! Jangan menyebut nama
Allah Tuhan-mu tidak dengan hormat!"
"Tapi Tuhan menolong saya, Ayah!" desis Maria
dengan mata bersinar-sinar. "Kami menang!"
"Hm," Pak Handoyo mendengus dingin. "Lalu?"
"Mereka mengelu-elukan saya...." Senyum
Maria memudar. Perlahan-lahan parasnya
memerah. "Teman-teman bahkan memeluk
saya...." Muka Maria bertambah merah-padam.
Matanya berkeliaran dengan gelisah.
"Perempuan?!" Mendelik mata Pak Handoyo.
Napasnya tertahan sekejap.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria mengangguk dengan ketakutan. "Hm,"


Pak Handoyo menghembuskan napasnya yang
sempat tertahan tadi. "Tidak ada anak laki-laki
di sana?" "Ada...."
"mereka tidak memelukmu juga, kan?"
Maria mengangkat mukanya dengan terkejut.
"tentu saja tidak, Ayah!" cetusnya spontan,
"Jangan berdusta! Itu perintah Allah yang
kesembilan!"
"Tapi saya tidak berdusta, Ayah!"
"Hm." Pak Handoyo mendengus lagi. Kali ini
lebih lunak. "Pergilah tidur."
Tetapi ayahnya tidak langsung keluar. Dia
memeriksa isi tas Maria lebih dulu. Membolakbalik setiap lembar bukunya. Membaca semua
tulisan Maria sampai yang sekecil-kecilnya. Dia
baru keluar setelah puas memeriksa. Dan Maria
menghela napas lega.
"Hai!" sapa Guntur begitu Maria melewati
tempat persembunyiannya. Sudah hampir

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

setengah jam dia menunggu Maria di sini. Sabar


seperti harimau menunggu mangsanya.
Mana tersentak kaget. Mukanya langsung
memucat begitu mengenali pemuda itu.
"Kaget, ya?" Guntur maju mendekati gadis itu
sambil tersenyum.
Tapi Maria sudah lebih cepat lagi membalikkan
tubuhnya. Memeluk bukunya erat-erat ke dada.
Dan lari terbirit-birit masuk ke halaman sekolah.
"Sialan." gerutu Guntur hampir tak terdengar.
"Ditegur kok malah kabur!"
Beberapa anak yang kebetulan melihatnya
tertawa geli. Tetapi Guntur belum putus asa.
Dia memanjat pohon dan melongok dari atas
dinding yang membatasi halaman sekolah.
"Maria!" teriaknya pantang menyerah. "Nanti
siang pulang sekolah saya jemput kamu! Kita
pergi berenang!"
Tergopoh-gopoh Maria berlari-lari masuk ke
dalam kelas. Begitu tergesa-gesanya dia, sampai

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

hampir menabrak Nurul yang sedang parkir di


depan pintu.
"Aduh! Ada apa sih, Maria?" cetusnya heran.
"Ada orang yang mau memperkosamu?"
Tanpa menghiraukan seloroh teman-temannya,
Maria langsung lari ke bangkunya. Dan
menjatuhkan diri di sana. Dia menelungkup ke
atas meja. Menutupi mukanya dengan
ketakutan.
"Waduh, ada apa sih?" gerutu Endang sambil
pura-pura mengurut dada. "Tiap hari melihat
lagak lagumu yang aneh, lama-lama aku ikut
jadi teler juga nih!"
"Ayo, Papa! Papa jangan marah beta!" Nike
bersenandung mengejek. "Dia cuma cuma cuma
colek beta!"
"Oh, dia lagi rupanya!" gerutu Tina yang juga
sedang bengong melihat tingkah laku Maria.
"Dia datang lagi?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nongol di tembok kayak monyet!" komentar


Rena yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Ngajak Maria berenang nanti siang!"
"Wah, itu berita besar!" pekik Nurul gembira,
seolah-olah dia yang diajak berenang. "Tunggu
apa lagi, Mar?"
"Bilang sama si Guntur jangan ganggu Maria
lagi, Ren," pinta Elita kesal, ketika mereka
sedang makan di kantin waktu istirahat.
"Lho, apa salahnya kalau dia naksir Maria? Kok
kamu yang cembokur? Tuh, si Dedi bagianmu!"
Maria bukan seperti kita...." "Ah, siapa bilang?
Dia juga punya hati kok! Dia
juga perempuan! Gadis remaja seperti kita!
Memang cuma kamu doang yang butuh
cowok?" "Ingat pesan Suster Cecilia, Ren!" "Lha.
kita kan nggak ganggu dia lagi! Kita cuma ingin
dia senang. Jadi gadis normal seperti kita!"
"Dan buat Rena, gadis normal itu mesti punya
pacar!" sindir Tina. "Nggak peduli biar dapat
mesin giling kayak si Guntur juga!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia kan disogok," sambung Endang sambil


menyeringai mengejek. "Kalau berhasil
menyodorkan Maria, dia boleh minta apa saja
pada si Guntur!"
"Wah. pengkhianat!" gerutu Nurul kesal.
"Guntur kan dari sekolah lawan kita! Kalau
Maria ambruk dan regu kita kalah, mereka
senang!"
"Ih. ngelantur!" geram Rena gemas. "Ini sih
nggak ada urusan sama pertandingan! Si Guntur
ngebet sama Maria, masak aku larang?" "Kamu
disogok, ya?"
"Disogok apaan?" kilah Rena jengkel. "Persekot
saja belum terima!"
"Kamu yakin Guntur serius?" "Eh. kamu kayak
yang plonco saja dalam urusan beginian. Rul!
Masa ada cowok datang-datang sudah serius
sih? Memangnya ini zaman apa?"
"Tapi cowoknya jangan yang kualitet si Guntur
dong, Ren!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Abis musti yang gimana dong? Yang kayak si


Johan? Idih, itu sih jatahku!"
"Kalau kamu serius mau bikin senang Maria,
korbankan si Johan buat dia!"
"Kalian yakin Johan lebih paten dari si Guntur?"
"Yang terang dia lebih alim!" "Tapi nggak tahan
bantingan!" "Kamu mau pacaran atau yudo?"
"Eh, pacaran sama cewek model Maria mesti
kuat mental! Salah-salah bisa ikut teler kayak
kita!"

***

"Aih! Jangan dicampur ke situ, Mar!" Buru-buru


Elita merebut tabung reaksi dari tangan Maria.
Dan meletakkannya di atas rak. "Bisa meledak!"
Maria tersentak kaget. Mukanya langsung
memucat. Matanya terbelalak panik. Hampir
saja dia membuat kesalahan yang bodoh. Salah
mencampur zat-zat kimia bisa berakibat fatal.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Salah-salah ruang praktikum kimia mereka bisa


terbakar.
"Itu alkohol, Mar!" desis Elita, belum hilang rasa
terkejutnya. "Dan yang di bawahmu itu api!
Kamu melamun, ya?"
Maria masih shock. Belum dapat bicara sepatah
pun. Sekejap tadi dia memang melamun. Dan
inilah akibatnya.
Untung ada Elita! Kalau tidak... Aduh! Buru-buru
dia memejamkan matanya. Dan mengucap
syukur kepada Tuhan. Elita mengawasi
temannya sambil menghela napas.
"Terima kasih, El," kata Maria perlahan-lahan
setelah dia selesai berdoa. "Tuhan telah
memakai tanganmu untuk menghindarkan kita
dari malapetaka...."
"Lain kali lebih hati-hati, Mar," sahut Elita sabar.
"Jangan melamun!"
"Saya nggak bisa konsentrasi, EL.," keluh Maria
Putus asa.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa sih yang kamu pikirkan?" "saya bingung..."


"Cowok itu? Si Guntur?"
"Ah... " Wajah Maria segera berubah kemerahmerahan Matanya menggelepar-gelepar dalam
kepanikan.
"Jangan acuhkan dia! Diamkan saja! Nanti juga
dia bosan. Dan pergi mencari permainan baru!"

Tetapi Guntur tidak bosan-bosannya mengejarngejar Maria. Siang itu juga dia sudah stand by
di depan sekolah Maria.
Begitu melihat pemuda itu tegak di depan
sekolah. Maria langsung kabur. lari masuk ke
dalam sekolah kembali. Dan tidak mau keluar
lagi dari sana.
"Betul-betul perawan tingting!" gerutu Guntur
jengkel. "Masa baru ditegur saja sudah kabur?"
"Bukan," sahut Rena tenang, "perawan pingitan!"
"Ajak dia keluar. Ren!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mendingan kamu lekas-lekas menggelinding


pergi. Tur!"
"Lho. kenapa?"
"Teman-temanku sudah siap mengeroyokmu!"
"Masa ngajak dia pergi aja nggak boleh? Ini
sekolah apa biara?!" "Surat kelakuan baikmu
meragukan!" Kalau begitu kamu yang harus
kasih aku rekomendasi, Ren!"
"Wah. aku sendiri tidak percaya kok sama
kamu!" "Jadi aku mesti berusaha sendiri nih?"
Guntur menyeringai bandel. "Oke, Neng! Lihat
saja nanti! Kalau aku nggak berhasil, jangan
panggil lagi namaku!"
dan Guntur tidak perlu menunggu terlalu lama
untuk memainkan lakonnya. akal kuno
sebenarnya. tapi pasti gadis seperti Maria
belum pernah dengar. Berpikir ke sana saja
belum.
Sudah tiga hari Guntur menguntit Maria, Dia
tahu sekali jalan apa saja yang mesti dilewatinya
kalau pulang. Kebetulan, turun dari bus, Maria

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mesti jalan kaki sedikit. Dan gang itu sepi.


Apalagi siang hari begini.
Guntur cuma perlu minta tolong pada kedua
orang temannya. Sengaja dipilihnya yang
tampangnya paling rusak. Dan bereslah
semuanya.
Tepat pada saat Maria berteriak-teriak minta
tolong. Guntur datang menolongnya. Dia
menghajar kedua bajingan itu sampai babakbelur dan lari tunggang-langgang.
"Sialan si Guntur!" geram Gatot sambil
meludah. Dan dia lebih jengkel lagi melihat
ludahnya bercampur darah. "Berlagak jadi
pahlawan, kita dipermaknya benar-benar!"
"Beraninya mengganggu wanita!" geram Guntur
dengan gaya Zorro menang main anggar.
Dihampiri-nya Maria yang sedang meringkuk
ketakutan di dekat selokan. "Kamu tidak apaapa?"
Maria menggeleng ketakutan. Dia tidak berani
membalas tatapan Guntur.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan..." rintihnya ketika Guntur sampai di


dekatnya. Guntur jadi tertegun. "Jangan
apaan?" desisnya heran. "Jangan ganggu
saya...." "Lho! Saya justru mau menolongmu!"
"Saya takut...." Maria gemetar ketakutan.
Dengan panik dia mundur-mundur menjauhi
Guntur.
Mari saya antarkan pulang!" "Jangan!" teriak
Maria histeris. Begitu kerasnya sampai Guntur
tersentak kaget.
"Kenapa? Saya temanmu kok! Saya tidak akan
mengganggu kamu!"
"Jangan!" rintih Maria panik. "Jangan... tolong
saya... jangan...."
Guntur tidak jadi mendesak maju. Diam-diam
dia ngeri melihat mata gadis itu. Mata itu
menggelepar-gelepar ketakutan. Tatapannya
liar seperti binatang jalang masuk perangkap.
Gilakah gadis ini? Guntur sering melihat orang
ketakutan. Tapi tidak ada yang seperti ini!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Saya tidak akan mengganggumu," keluh


Guntur antara iba dan jengkel. "Kalau kamu
tidak mau saya antarkan, ya sudah. Sana
pulanglah!"
Tergopoh-gopoh Maria berlari-lari
meninggalkan pemuda itu. Dia menerjang pintu
halaman begitu saja. Melompat ke depan pintu.
Dan menggedornya seperti ada kebakaran.
Tidak ada dua detik kemudian ayahnya telah
muncul di ambang pintu. Dia terkejut melihat
betapa pucatnya wajah gadis itu.
"Maria!" sergahnya bingung. "Ada apa?"
Direngkuhnya bahu anaknya. Tapi Maria lebih
cepat lagi menerobos ke dalam.
Pak Handoyo menatap lebih dulu ke luar.
Mencari-cari sebab ketakutan anaknya. Tapi
tidak ada apa-apa di sana. Sambil mengangkat
bahu dia menutup pintu. Dan mengikuti
putrinya. "Ada apa?" tanyanya curiga. Tetapi
Maria belum dapat bicara. Dia masih terengahengah mengatur napasnya. Mulutnya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

terbuka tertutup seperti ikan kurang air. Tapi


tidak ada suara yang keluar.
"Lekas bilang, ada apa!" bentak Pak Handoyo
tidak sabar lagi.
"Ada... ada orang jahat!" menggagap Maria.
Matanya berkeliaran dengan paniknya.
"Tukang copet?"
Maria menggeleng ngeri. Matanya menatap
ayahnya dengan ketakutan.
"Kamu ditodong?"
Sekali lagi Maria menggeleng.
"Pemuda-pemuda berandal...," desahnya
terputus-putus.
"Kamu diganggu?" Berdiri kumis Pak Handoyo.
Matanya membelalak marah.
"Untung ada yang menolong ...."
"Kamu diapakan?" desak Pak Handoyo sengit.
Maria menggeleng lagi.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Saya cepat-cepat lari pulang.... Mereka


berkelahi.... Saya takut, Ayah!"
"Kurang ajar!" geram Pak Handoyo marah.
"Pasti anak-anak berandal di ujung gang sana!
Nanti malam Ayah adukan pada Pak RT!"
Ditatapnya anaknya yang masih menggeletar
ketakutan itu tajam-tajam. "
"Mereka memegangmu?" desaknya curiga.
Maria mengangguk kecut.
"Kalau begitu kamu harus menjalani upacara
Pertobatan! Ikut Ayah, Maria!"
dengan patuh tertatih-tatih Maria mengikuti
ayahnya. Bersama-sama mereka berlutut di
depan altar kecil di ruangan yang khusus
diperuntukkan ayahnya untuk berdoa.
Tanpa menghiraukan Maria yang letih dan
lapar, Pak Handoyo memulai upacara
pertobatan itu. Mereka berdoa bersama-sama.
Lalu Maria harus mencabik-cabik pakaiannya
tanda sesal dan tobat. Dia harus menangis dan
berteriak-teriak pada Tuhan, memohon ampun.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Kemudian dia harus mengulang-ulang doa


beberapa puluh kali. Sampai ayahnya puas.

***

Hati-hati Maria mengendap-endap mendekati


pintu gerbang sekolah. Buku-bukunya
dipeluknya erat-erat ke dada. Kakinya telah
bersiap-siap untuk lari.
Tetapi sampai di pintu masuk, tidak ada seorang
pun yang menegurnya. Maria jadi ragu. Dia
berhenti sejenak. Dan menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa. Cuma anak-anak sekolah
yang sedang berbondong-bondong masuk. Satudua orang yang dikenalnya menyapanya sambil
tersenyum. Yang lain lewat dengan acuh tak
acuh. Menoleh pun tidak.
Yang sedang terburu-buru malah tidak melihat
ada Maria di sana. Mereka menyenggol
tubuhnya seenaknya. Seolah-olah dia cuma
benda asing yang menghalangi jalan.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sekali lagi Maria menoleh. Mencari-cari


seseorang di luar sana. Tapi yang dicarinya
tetap tidak kelihatan batang hidungnya. Dan
segurat perasaan kecewa yang aneh menggores
hatinya.
Dia tidak ada di sana. Padahal biasanya dia
selalu menunggu di situ. Setiap pagi.
Maria memang masih selalu lari
meninggalkannya. Dan mereka tidak pernah
sempat berkomunikasi. Tapi kehadiran pemuda
itu sudah merupakan kebiasaan. Sekali dia tidak
hadir, Maria malah merasa kehilangan.
"Tunggu siapa, Mar?" tegur Endang heran. Dia
ikut-ikutan menoleh ke belakang. Tapi tidak
dilihatnya orang yang kira-kira sedang ditunggu
oleh Maria. "Guntur?"
"Ah." Maria tersipu-sipu menyembunyikan
wajahnya yang memerah.
"Lho, kok aneh kamu ini! Dia datang kamu lari,
dia pergi kamu cari!"
"Saya menunggu Elita...."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sesudah bicara Maria baru tertegun. Dia sudah


dapat berdusta! Astaga, begitu mudahnya!
Begitu lancarnya lidahnya mengarang dusta! Ya
Tuhan, ampuni dosanya!
Endang tersenyum bijak.
"Sudah kamu cari di kelas?" sindirnya. "Kamu
kan baru datang. Barangkali Elita sudah ada di
sana. Yuk, aku masuk duluan."
Tanpa menunggu lagi, Maria lekas-lekas menyusul Endang.
"Lho, katanya tunggu Elita?" gurau Endang pula.
"Ah." Maria menunduk tersipu-sipu.
"Bergaul dengan anak laki-laki bukan dosa.
Mar," kata Endang separuh menasihati. Heran,
setiap gadis bisa tiba-tiba jadi nenek-nenek
kalau bicara dengan Plonco ini. "Guntur
memang agak brengsek. barangkali dia tidak
cocok untuk jadi pacarmu yang
Pertama. Kamu bisa kaget-kaget terus. Sakit
Jantung!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Boleh pinjam PR-mu, Dang?" potong Maria


gelagapan.
"Ah, jangan pura-pura! PR-mu pasti sudah
beres. Kenapa mesti malu kalau ngomongin
anak laki-laki? Setiap gadis puma pacar.
Mungkin untukmu pemuda yang seperti Johan
lebih cocok. Dia alim. Serius. Tidak banyak
tingkah. Susahnya, dia kurang agresif.
Sedangkan kamu dingin. Beku. Jadi tidak ada
titik permulaannya!"
"Nah. dikasih tipu apa lagi dia?" songsong Elita
begitu melihat mereka masuk ke dalam kelas.
"Ah. cuma nasihat," sahut Endang tanpa raguragu. "Dia nunggu Guntur. Tapi nggak datang!"
"Ah," desah Maria kemalu-maluan. "Saya tidak
nunggu siapa-siapa kok!"
"Di sekolah kita memang tidak ada anak lakilaki," potong Rena tak sabar. "Tapi itu bukan
berarti kita dilarang bergaul dengan pemuda-

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

pemuda! Memangnya kita mau dijadikan PT


semua!"
"Betul, Mar," sokong Nike bersemangat. "Kalau
nggak percaya, tanya saja Suster Cecilia! Kita
tidak dilarang bergaul dengan cowok! Pacaran
bukan dosa kok!"
"Hm, kalian lupa!" Luna tersenyum. Tenang tapi
sadis. "Teman kita ini calon biarawati!"
"Tapi sekarang kan belum!" potong Endang tak
mau kalah. "Nah, apa salahnya mencicipi masa
pacaran dulu? Masa remaja kan masa yang
paling indah! Dan cinta pertama adalah cinta
yang paling berkesan!"
Tak tahan lagi Maria mendengar ocehan temantemannya. Buru-buru dia keluar lagi dari dalam
kelas. Pura-pura pergi ke WC.
Pacaran. Cinta pertama. Masa remaja. Ah,
semua itu tidak pernah ada baginya!
Kadang-kadang Maria iri pada teman-temannya.
Mengapa mereka boleh begitu bebas? Tidak

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

ada yang mereka takuti. Hidup begitu indah bagi


mereka. Merah muda dan manis. Seperti sirop.
Lain benar dengan dirinya. Apa isi hidupnya
kecuali doa? Sejak lahir Ayah telah
menyerahkannya kepada Tuhan. Sejak lahir
hidupnya telah ditentukan. Jalannya telah
digariskan. Nasibnya telah diatur. Dan semua itu
menuju ke suatu titik. Biara.
Benarkah dia tidak punya hak untuk memilih?
Benarkah tidak ada pintu lain baginya?
Sebelum bertemu dengan teman-temannya,
bergaul dengan mereka, Maria memang tidak
pernah memikirkannya. Terpikir ke sana saja
tidak. Tapi kini, semua itu seperti godaan yang
setiap saat selalu mengganggunya. Meresahkan
pikirannya.
Pengalamannya memang bertambah banyak.
Pikirannya tambah luas. Pelajarannya maju
pesat. Tapi dosanya pun makin bertambah....
Berdusta... Memikirkan seorang laki-laki... Ah,
benarkah semua itu dosa?

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bergaul dengan anak laki-laki bukan dosa,


Mar!" Endang begitu mantap. Begitu yakin
dengan Pendapatnya. Entah siapa yang
mengajari.
"Kalau nggak percaya, tanya saja Suster Cecilia!"
komentar Nike tak mau kalah. "Kita tidak
dilarang bergaul dengan cowok!"
Suster Cecilia. Tiba-tiba saja nama itu
berkelebat di kepala Maria Nike benar. Ke
sanalah dia harus bertanya.
Suster Cecilia bijaksana dan sabar. Dia juga
orang suci. Mengabdikan seluruh, hidupnya
untuk Tuhan. Tapi dia tidak seperti Ayah!
Dia jarang marah. Jarang main hukum saja.
Lembut. Dan penuh pengertian. Seperti Yesus.
Seperti Bunda Maria. Dia pasti tempat yang
tepat untuk bertanya.
"Saya mengerti. Maria." Suster Cecilia menghela
napas panjang setelah terdiam sesaat. "Saya
memang sudah menduga, suatu hari kamu akan
datang dengan pertanyaan ini. Saya hargai

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

kebe-ranianmu untuk menanyakannya langsung


kepada saya." Ditatapnya gadis yang sedang
tertunduk malu di hadapannya itu. "Kamu gadis
yang jujur. Polos. Dan lugu. Tapi kamu pun gadis
yang terlambat bergaul. Kurang pergaulan,
istilah teman-temanmu. Tapi itu semua bukan
salahmu. Kamu hanya menerima apa yang sejak
kecil diberikan kepadamu. Satu hal temantemanmu benar. Kita memang tidak dilarang
bergaul dengan laki-laki. Tuhan mencipta-kan
dua jenis manusia, pria dan wanita. Bukan
untuk saling membenci dan memusuhi. Tapi
untuk saling membantu dan saling mencintai.
Dari merekalah lahir anak-anak manusia yang
akan melanjutkan keturunan, melanjutkan
karya Ilahi mengisi dunia ini. Jadi semua itu
bukan dosa, Maria. Semua itu merupakan
sesuatu yang luhur. Tetapi..." Suster Cecilia
menghentikan kata-katanya sejenak, "...untuk
sebagian kecil wanita, ada tugas lain yang tidak
kalah luhurnya selain menikah dan mempunyai
anak, yaitu tugas mengabdi kepada Tuhan dan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

kepada sesama manusia. Jalan inilah yang


diinginkan ayahmu untuk dirimu, Maria. Dan
oleh karena kamu telah jauh-jauh hari
disediakan untuk Tuhan, kamu harus menjaga
kesucianmu baik-baik. Kamu tidak akan
mempersembahkan barang yang tidak suci
kepada Tuhan Yang Mahasuci, bukan?"
Maria menggeleng patuh. Sekarang dia
mengangkat mukanya. Dan membalas tatapan
Suster Cecilia dengan tatapan yang paling polos
yang pernah dilihat biarawati itu.
"Tapi mengapa di sini tidak ada seorang pria
pun, Suster?"
"Itu cuma tradisi, Maria. Tradisi dari pendahulupendahulu saya yang telah berlangsung lebih
dari dua puluh tahun. Secara pribadi,
sebenarnya saya sendiri tidak setuju. Di zaman
modern ini. wanita tidak boleh dipisahkan dari
pria. Mereka harus dibiarkan maju bersamasama, bersaing bebas dalam menuntut ilmu.
Tentu saja asal tahu batas-batasnya dalam
pergaulan. Jadi saya tidak melarangmu bergaul

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan siapa pun. Tapi kamu harus berjanji


akan menjaga dirimu sebaik-baiknya."
"Terima kasih, Suster." Lambat-lambat Maria
berdiri. "Saya permisi dulu."
Maria baru menginjak ambang pintu kantor
tatkala direktris sekolah itu memanggilnya lagi.
Ketika dia menoleh, dilihatnya Suster Cecilia
sedang menatapnya dengan sungguh-sungguh.
"Saya senang kamu datang pada saya," kata
Suster Cecilia lembut. "Kalau ada persoalan lagi,
maukah kamu berjanji untuk datang pada saya
pula?"

BAB IV

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Begitu Maria masuk ke dalam kelas, serentak


teman-temanm a berdiri dan bersama-sama
me-nyanyikan Panjang Usia sambil bertepuk
tangan. Terkejut dan bingung, Maria mundur
kembali ke pintu. Diawasinya saja temantemannya dengan heran. Apa lagi ini? Sejenis
permainan baru?
Maria sudah bersiap-siap untuk mengambil
langkah seribu ketika lagu itu berakhir. Nurul
menghampirinya dengan membawa sebuah
bungkusan yang dibungkus rapi dengan kertas
berwarna-warni. Maria mundur dengan
ketakutan sambil melirik bungkusan itu.
"Selamat ulang tahun, Maria!" ujar Nurul cepatcepat, takut Maria keburu kabur. Atau lebih
celaka lagi, pingsan di tempat. "Ini hadiah
untukmu. Dari kami."
Sejenak Maria tertegun. Matanya menatap
Nurul antara terkejut dan ragu. Ulang tahun?
Dari mana mereka tahu dia berulang tahun hari
ini? Dan untuk apa semua ini?

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Selama enam belas tahun berulang tahun, baru


Kali ini ada orang yang memberikan hadiah
kepadanya. Mengucapkan selamat. Pakai
nyanyinyanyi segala. Biasanya ulang tahunnya lewat
dengan begitu saja. Tak ada bedanya. Sama
seperti hari-hari lainnya. Tidak ada yang peduli.
Ayah tidak. Dia sendiri juga tidak. Apa
istimewanya hari ulang tahun?
"Lho, kok jadi bengong!" seru Rena tidak sabar.
"Ayo, Mar, terima tuh! Jangan dipelototin aja!"
"Jangan takut, Mar," bujuk Nike. "Nggak ada
tikusnya kok!"
Tetapi Maria masih tertegun bingung menatap
bungkusan di tangan Nurul. Bergerak saja dia
tidak berani. Terpaksa Elita yang maju ke depan.
Diambilnya tangan Maria. Kemudian dengan
lembut dibawanya menyentuh bungkusan yang
dipegang Nurul.
"Ambil, Mar," katanya sabar. "Nggak usah takut.
Ini hadiah ulang tahun dari kami semua.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Untukmu. Tanda kami ikut berbahagia karena


umurmu telah bertambah setahun lagi. Mudahmudahan kamu diberkati umur panjang."
Maria menoleh pada Elita. Matanya menatap
gadis itu dengan bengong. Mula-mula dengan
Pandangan heran. Bingung. Kemudian lambatlambat berubah haru. Air mata mulai
menggenangi matanya. Tapi bibirnya
merekahkan senyum keharuan.
"Wah, mulai lagi acara nangis," gerutu Rena
tidak Sabar. "Heran, apa-apa mesti nangis!"
"Hush! Sabar dong!" Tina menyodok pinggang
Rena dengan sikunya. "Namanya juga orang
udik! Anak kuper!"
"Tapi aku belum pernah ketemu yang ekstrem
begini!" "Justru di situlah seninya!"
"Selamat ulang tahun. Mar." Elita mengecup
pipi gadis itu dengan lembut. tindakannya
segera diikuti oleh semua temannya. Kecuali
Luna. Dia cuma menonton sambil berpangku
tangan.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria menyambuti ucapan selamat mereka


dengan penuh keharuan. Dia menangis.
Sekaligus tersenyum.
"Bahagia?" bisik Elita di tengah-tengah
kegembiraan teman-temannya.
Maria cuma dapat mengangguk. Air matanya
berlinang-linang.
"Itulah seninya berteman. Suka-duka yang
dibagi bersama terasa lebih mengesankan."
Tiba-tiba saja Maria melepaskan diri dari
kerumunan teman-temannya. Sambil membawa
kadonya, dia berlari ke luar.
"Hai. mau ke mana?" teriak Elita dan Nurul
berbareng.
"Ke kapel!" sahut Maria terharu.
"Lho. ngapain ke sana?"
"Berterima kasih kepada Tuhan." Senyum Maria
melebar. Matanya bersinar-sinar sampai Nurul
silau melihatnya. "Tuhan begitu baik telah
memberikan kebahagiaan ini kepada saya!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ampun!" keluh Nurul lemas. "Kita yang beli


kado. terima kasihnya untuk Tuhan!"
"Hush!" Elita menginjak kaki Nurul dengan
gemas. "Kafir kamu! Orang beriman memang
mesti seperti dia! Semua yang baik datang dari
Tuhan! Kita harus selalu ingat dan bersyukur
kepada-Nya!"
"Tapi apa nggak bisa ditunda dulu? Kadonya
saja belum dibuka!"
"Mar! Tunggu, Mar!" teriak Tina penasaran"Buka dulu dong kadonya! Baru kamu boleh
pergi!"
Maria menghentikan langkahnya. Dia menoleh
ke arah teman-temannya sambil tersenyum.
Mukanya memerah antara malu dan bahagia.
"Di mana bukanya?" tanyanya tersipu-sipu.
"Di sini dong!" sahut Nike. "Di mana lagi?"
Terpaksa Maria kembali ke dalam kelas.
Dikerumuni teman-temannya, dibukanya
bungkusan itu dengan hati-hati. Dadanya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

berdebar-debar. Antara harap-harap cemas.


Apa isinya? Sebuah kejutan lagi seperti dulu?
Maria masih ingat tikus karet di dalam
baksonya. Dan dia sudah bersiap-siap untuk
melemparkan bungkusan itu jauh-jauh kalau
terasa ada benda lunak menjijikkan menyentuh
jari-jarinya....
Tapi tidak ada apa-apa. Yang keluar cuma
sebuah kartu ucapan selamat yang sangat
indah. Maria sampai terpesona melihatnya.
Belum pernah dia melihat kartu sebagus itu.
"Bukan itu hadiahnya!" sergah Rena tidak sabar.
"Itu sih cuma kartu ucapan selamat! Ayo, buka
lagi dong!"
"Sabar kenapa sih!" Tina mendorong kepala
Rena dengan tangannya. "Nggak boleh lihat
orang lain senang!"
"Nah, lihat kartu saja seperti baca sun t cinta!
Hati-hati Maria membuka bungkusan yang
terdapat di dalam bungkusan yang pertama.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Dan dia terperangah melihatnya. Hampir


memekik kaget, sebuah... apa ini?
Maria sendiri tidak tahu. Dia hanya tahu
warnanya hijau tua. Indah sekali. Bahannya
sangat empuk.
Bajukah ini? Bagaimana memakainya?
Dibukanya lipatan baju itu... dan dia tertegun
lagi...
Astaga! Sebuah celana dalam dan... BH?!
Teman-temannya bersorak riuh.
'Ttu baju renang untukmu, Maria!" cetus Nurul
tidak sabar. "Namanya bikini!"
Merah-padam muka Maria. Ah, temantemannya pasti mengolok-oloknya lagi. Masa
dia harus memakai... uh, pakaian seperti ini? Ya,
Tuhan! Bisa pingsan ayahnya!
"Saya... tidak berani memakainya...," rintih
Maria jengah.
"Memang juga nggak disuruh pakai di sini!"
jawab Endang geli. "Bisa pingsan Suster Cecilia!
Di kolam renang. Mar!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Satu bungkusan lagi, Mar!" sambar Nurul tak


sabar. "Yang lebih kecil itu!"
Dengan tangan gemetar Maria membuka
bungkusan yang satu lagi. Dan wajahnya
bertambah merah terbakar!
yang ini sudah pernah dilihatnya melingkari
dada Tina.... Warnanya coklat muda. Bahannya
lembut. Tidak terlalu besar. Tapi manis.
"Pakai mulai besok, Mar!" cetus Tina
bersemangat. "Kamu kan wanita! Sudah gadis
remaja! Masa mau jadi anak-anak terus!"
Maria menutup mukanya dengan tersipu-sipuTeman-temannya langsung menertawakannya.

***

Hati-hati Maria mengunci pintu kamarnya..


Ayah sedang berdoa. Pasti lama. Dia punya
banyak kesempatan sebelum Ayah masuk ke

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

sini. Dibalik -kannya patung Bunda Maria yang


selalu mengawasi
nya sambil tersenyum. Sekarang patung itu
menghadap ke dinding.
"Maafkan saya, Bunda yang tersuci," bisik Maria
sambil membuat tanda salib.
Lalu hati-hati Maria menurunkan gambar Tuhan
Yesus yang sedang mengangkat sebelah tanganNya untuk memberkati. Diletakkannya
tertelungkup di atas tempat tidur.
Salib pun diturunkan. Setelah didekapkannya
erat-erat ke dada, disimpannya baik-baik di
dalam laci.
Ragu-ragu Maria tertegun sejenak di tengah
ruangan. Ada kitab Injil di atas meja
sembahyangnya. Disimpannya pula di dalam
laci.
Selama beberapa detik Maria menoleh-noleh ke
seluruh kamarnya. Tidak ada apa-apa lagi. Tidak
ada yang melihat. Tapi dia masih bimbang.
Dihampirinya tempat tidurnya. Dibukanya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

bungkusan yang disembunyikannya di bawah


kasur. Dan dikeluarkan BH itu dengan hati-hati.
Sesaat sebelum dilepaskannya bajunya,
matanya terbentur pada gambar Tuhan Yesus di
atas tempat tidur. Dibalikkannya dengan hatihati. Ditatapnya. mata Tuhan Yesus. Marahkah
Dia?
Tetapi mata itu tetap menatapnya selembut
kemarin. Mata yang penuh pengertian. Penuh
kasih Sayang....
"Oh, Tuhan! Maafkan saya!" bisik Maria sambil
membalikkan kembali gambar itu.
Diletakkannya tertelungkup kembali di atas
tempat tidur. lalu Maria membuka bajunya. Dan
dikenakannya BH itu- Berkali-kali dia berputarputar di depan cermin. Ah, alangkah pasnya.
Enak. Dan nyaman
Sekali lagi Maria berputar. Dan dia tersenyum
sendiri. Dikenakannya bajunya. Ada yang
menonjol di bagian dada. Begitu serasi dengan
lekuk tubuhnya yang lain. Besar di dada,

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mengecil di pinggang... lalu melebar di


pinggul....
Hm, postur tubuh seorang wanita sejati....
Dilepaskannya jalinan rambutnya.
Digeraikannya rambut yang hitam panjang itu
ke punggung. Oi, indahnya!
Maria tidak bosan-bosannya menikmati
bayangan dirinya di dalam cermin.... Ah, mata
yang menatap dengan kemalu-maluan itu...
Wajah yang pucat dan merah berganti-ganti....
Duh. seandainya dia-punya pemerah bibir untuk
memoles bibirnya yang pucat...
Dan tatapannya berhenti pada bikini di atas
tempat tidurnya. Tiba-tiba saja timbul keinginan
yang amat kuat untuk mencobanya. Mengapa
tidak? Di sini tidak ada orang lain....
Bergegas Maria melepaskan pakaiannya. Dan
mengenakan bikini....
Ah, yang hijau-hijau itu amat kontras dengan
kulit tubuhnya yang putih bersih. Walaupun
lekuk tubuhnya tidak terlalu indah, belum

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

tumbuh bukit-bukit yang mempesona untuk


ditonjolkan, di depan maupun di belakang, di
atas maupun di bawah, tak urung Maria
mengagumi dirinya. Rasanya dia tidak ingin
melepaskan bikini itu.
Apa salahnya memakainya semalam-malaman?
Di tempat tidur. Bukan di kolam renang. Dan
nyanyian ayahnya tiba-tiba menerpa telinganya.
Selesai menyanyi, Ayah pasti kemari.
Bergegas Maria menjejalkan BH-nya ke bawah
kasur. Lalu buru-buru dikenakannya kembali
pakaiannya. Ayah tidak pernah menggeledah
tubuh
nya. Bikini itu pasti aman di sini. Tapi yang di
bawah kasur? Ayah tidak segan-segan
memeriksa ke sana.
Terpaksa Maria mengikat BH itu di pinggangnya.
Dan mengenakan daster yang longgar. Yang
tebal bahannya. Yang ramai motifnya. Ah, Ayah
pasti tidak tahu. Lekas-lekas dibereskannya
kembali kamarnya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Patung Bunda Maria sudah menengok kembali


ke tempat yang biasa. Memandang Maria
sambil tersenyum sabar. Gambar Tuhan Yesus
sudah kembali pula ke tempat-Nya yang
semula. Mata-Nya yang penuh kasih sayang
menatap Maria dengan penuh pengertian.
Salib telah tergantung pula di tempat yang
paling tinggi. Itulah Anak Domba Allah yang
menebus dosa manusia. Dosa Maria juga.
Dosakah memakai BH? Memakai bikini?
Dosakah mempertontonkan lekak-lekuk
tubuhnya kepada orang lain? Dosakah
memamerkan keindahan tubuhnya? Dosakah
berusaha untuk terlihat lebih cantik?
Ah, sia-sia Maria memohon jawaban. Dia
berlutut. Berdoa. Memohon ampun. Bertanya.
Tapi yang membingungkan itu masih tetap
rahasia bagi dirinya.

***

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudah nyerah, Tur?" tegur Rena ketika dia


bertemu Guntur pada sebuah pagelaran tari
dan nyanyi untuk kawula muda. "Kapok nyabet
biarawati kita? Kok nggak pernah nongol lagi?"
"Kapok sih belum." Guntur menyeringai masam.
"Cuma break dulu deh. Cakepnya nggak
seberapa, lagunya teler kayak lepasan Grogol!"
"Kan di situ seninya! Yang model begitu nggak
sepuluh tahun sekali keluarnya. Tur!"
"Kalau mau jadi mak comblang, cari aja korban
yang lain deh, Ren! Gua masih pingin waras!"
"Tapi kan nggak ada yang bonafid kayak kamu!"
"Bonafid dengkulmu! Yang begitu sih nggak lihat
mobil, nggak ngerti dandanan! Percuma
nampang juga!"
"Tapi sekarang sih sudah ada kemajuan, Tur.
Tiap hari kan kita indoktrinasi terus!"
"Yah, asal jangan kalian saja yang ketularan dia!
Satu aja udah cukup repot!"
"Ulang tahunku minggu depan. Datang ya, Tur?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ulang tahun lagi? Kan dulu udah!"


"Udah lima belas kali. Tapi yang keenam belas
belum. Minggu depan. Datang, ya?"
"Malam Minggu?"
"Malam Senin juga boleh. Tapi udah nggak ada
siapa-siapa. Nggak ada makanan. Tinggal
makanan buat si Bleki doang."
"Ada acara bebas?"
"Hhh. rusak tu otak!"
"Udah dari sononya, Ren! Kelainan bawaan sih!"
"Pokoknya teman-temanku yang cakep-cakep
komplet deh di sana!" "Biarawatimu juga?"
"Wah. usul yang bagus!"
"Dan ide yang paling gila," sela Johan yang sejak
tadi diam saja. "Pasti bakal ada acara kebaktian
rohani!"
"Pokoknya siip deh! Kalian datang saja. Tinggal
pilih!"
"Kalau aku milih kamu, Ren?" "Bilang saja sama
Johan. Barangkali dia mau tukar tambah!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan dong, Tur! Kamu harus menghormati


kedaulatanku!"

BAB V

Lama Suster Cecilia tertegun bingung. Maria


memang selalu datang mengganggunya dengan
pertanyaan yang aneh-aneh. Tapi dia insaf,
murid yang satu ini memang serba istimewa.
Dia menuntut perhatian yang jauh lebih besar.
Problem Maria memang banyak. Sebaliknya,
pengalamannya amat sedikit. Dia seperti rusa
hutan yang tiba-tiba masuk ke kota
metropolitan. Serba canggung dan serba
bingung. Tapi pertanyaannya hari ini benarbenar membingungkan Suster Cecilia.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Suster, apa saya boleh memakai BH? Rena


mengundang saya pada pesta ulang tahunnya
malam Minggu besok."
"Gadis yang memakai BH tidak berdosa, Maria,"
sahut Suster Cecilia sabar. Dicarinya kata-kata
yang sebijaksana mungkin. "Tapi itu tergantung
apa kamu memerlukannya atau tidak?"
"Saya ingin memakai gaun, Suster. Tanpa BH,
dada saya terlihat rata. Jelek sekali. Apakah
tidak berdosa untuk terlihat cantik, Suster?"
"Tentu saja tidak, Maria." Suster Cecilia
tersenyum sabar. "Setiap wanita diciptakan
dengan kecantikan masing-masing. Tapi
memakai baju yang
mempertontonkan sebagian besar tubuh,
apalagi bagian-bagian yang terlarang, dapat
memancing timbulnya nafsu yang tidak baik
pada sebagian orang yang melihat. Itulah dosa."
"Baju saya cukup sopan, Suster. Tidak ada
bagian yang cukup terbuka."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Saya percaya padamu, Maria. Tapi apa ayahmu


sudah setuju?"
"Besok Ayah berangkat ke Banyumas. Menjual
tanah kami, Suster."
Suster Cecilia mengangkat alisnya. Dahinya
berkerut.
"Tapi harus kamu tanyakan dulu sebelum
ayahmu berangkat, Maria. Kalau diizinkan, baru
kamu boleh pergi."
"Baik, Suster."
"Dan ingat, Maria..." Suster Cecilia
menggenggam tangan Maria erat-erat. "...jaga
dirimu. Sekali kamu ternoda, kamu akan
menyesal seumur hidup. Siapa yang akan pergi
bersamamu?" "ELita akan menjemput saya."
Elita." Suster Cecilia mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Hm, saya bisa mempercayainya."

"Besok Ayah sudah kembali," Pesan Pak


Handoyo

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

sebelum berangkat. "Jangan ke mana-mana.


Kunci
pintu baik-baik." "Ya, Ayah," sahut Maria patuh.
Hatinya berdebar bingung. Bilang? Jangan?
Minta izin? Tidak usah? ayah sudah melangkahi
ambang pintu. Dia tegak
sebentar di sana. Memberkati rumahnya.
Mohon pertolongan Tuhan agar menjagai
rumah itu.
Maria menatap ayahnya yang sedang berdoa
dengan gelisah.
"Jangan ke mana-mana!" kata Ayah tadi. Ah,
Ayah pasti melarang dia pergi ke pesta ulang
tahun Rena. Padahal dia benar-benar ingin
pergi!
Apa salahnya pergi ke pesta? Dia belum pernah
ke tempat semacam itu! Lagi pula Elita yang
akan menjemputnya. Dia baik. Bisa dipercaya.
Suster Cecilia pun mempercayainya....
Suster Cecilia! Apa katanya kemarin? "Kalau
diizinkan, baru kamu boleh pergi!" Izin. Mana

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

pernah Ayah mengizinkannya? Ayah selalu


melarang! Percuma ditanya. Jawabnya pasti
tidak. Ayah selalu menganggap pesta itu buruk.
Perbuatan iblis. Ah. Maria jadi bingung!
sementara itu Ayah sudah turun ke halaman.
Sekejap timbul niat Maria untuk mengejarnya.
Minta izin. Dia akan membujuk. Memohon.
Kalau perlu meratap! Tapi ... ada gunanyakah
semua itu?
Hati ayahnya keras seperti batu granit. Air mata
pun tidak dapat meluluhkannya. Dia kejam.
Emosinya pun sudah mati. Biar Maria
mengancam akan membunuh diri di
hadapannya sekalipun, Ayah pasti menolak! Jadi
buat apa lagi permohonan itu?
Dan Maria tersentak. Tubuh Ayah telah hilang
dari pandangan. Dia berlari ke halaman. Dan
menoleh ke gang.
Ayah sedang melangkah menjauhinya.
Punggungnya yang mulai bungkuk tampak
rapuh disinari matahari sore yang masih tajam
menyengat.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria sudah membuka mulutnya untuk


memanggil, Tapi tidak ada suara yang keluar.
Suaranya tersekat di tenggorokan. Dan Ayah
hilang lagi dari pandangan. Lenyap di kelok
jalan.
Habislah sudah. Tidak ada waktu lagi untuk
minta izin. Maria menangis tersedu-sedu di
pintu pagar.

***

Lama Maria memandangi dirinya di dalam


cermin. Gaun merah mudanya amat menawan.
Elita yang memilihkan untuknya kemarin.
Uang Maria memang tidak cukup. Tapi Elita dan
Nurul rela meminjamkan uang kepadanya.
Entah sampai kapan.
Maria tidak menyangka ada gaun semahal itu!
Seharga sekarung beras! Tabungannya
bertahun-tahun ludes tanpa bekas! Itu pun
masih belum cukup!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Segitu sih belum mahal, Mar." Nurul tertawa


geli. "Ada gaun yang berharga sepuluh kali ini,
tahu nggak?"
"Sepuluh kali lipat?" belalak Maria tidak
percaya. "Lihatlah nanti waktu pesta. Gaunmu
ini tidak berarti apa-apa!"
Tapi ini gaun terbagus yang pernah dimilikinya!
Mimpi pun belum pernah dia akan dapat
memiliki gaun seindah ini! Jadi masa bodoh
dengan pendapat orang lain! Dan sekarang ...
gaun seindah ini tidak akan dipakainya?
Elita sudah meminjamkan sepatu yang sesuai.
sepatu bertumit tinggi yang pada mulanya agak
merepotkan untuk dipakai berjalan. Perlu
sedikit latihan supaya gaya jalannya jangan
seperti pingguin. Dan wajahnya... ah! Elita
sudah meminjamkan lipstick dan maskaranya pula. dengan sedikit kursus kilat siang tadi,
rasanya dia sudah bisa memoles mukanya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Matanya akan terlihat lebih hidup. Begitu kata


Nurul tadi. Bibirnya juga akan tampak lebih
memikat.
Nurul malah sudah ikut-ikutan meminjamkan
bandonya. Katanya akan terlihat lebih cantik
kalau rambutnya dilepas saja. Jangan dijalin.
Digerai bebas ke punggung. Dan dihiasi sebuah
bando yang akan bertengger di atas
kepalanya....
O, entah mengapa si Bawel itu ikut-ikutan jadi
baik! Mungkin terpengaruh Elita. Temannya
yang satu ini memang yang paling baik.
Ah. Maria pasti mengecewakan Elita kalau tidak
datang malam ini. Dia sudah berjanji akan
menjemputnya. Dan mengantarkannya pulang
pula. Nah. mau apa lagi? Apa pula yang
ditakutkan?
Semuanya teman-teman sendiri. Begitu kata
Rena tadi. Dan Maria merasa lega. Temantemannya memang kadang-kadang bandel.
Brengsek, menurut istilah yang sering

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

didengarnya. Tapi sekarang Maria baru tahu,


hati mereka banyak yang baik.
Rasa kesetiakawanan mereka cukup besar.
Keinginan mereka untuk membela nama
sekolah pun tidak memalukan. Dan sikap
persatuan mereka lebih menonjol kalau regu
salah satu cabang olahraga sekolah mereka
bertanding dengan sekolah lain. Karena Maria
merupakan anggota aktif yang berbakat,
dengan sendirinya hubungannya dengan temantemannya menjadi lebih akrab.
Ah. Maria sering tersenyum sendiri kalau
teringat hari-hari pertamanya masuk sekolah
dulu. Dia ingat bagaimana perlakuan temantemannya terhadap dirinya.
Kadang-kadang mereka memang keterlaluan, Ih,
dia jadi malu sendiri kalau ingat. Tapi banyak
Juga
hal-hal manis yang dilaluinya sebagai
pengalaman berteman.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Itulah pergaulan," komentar Elita kalau Maria


memaparkan isi hatinya. "Kamu boleh pintar,
tapi kalau kamu tidak bisa bergaul, kamu pasti
tersisih di masyarakat. Manusia kan makhluk
sosial!"
Dan tekad Maria pun mantaplah sudah. Dia
harus hadir. Dia akan datang ke pesta Rena. Ini
pengalaman yang pasti tak kan terlupakan
seumur hidupnya. Ayah tidak usah tahu. Dan
Ayah pasti tidak tahu!

***

Sudah dua belas kali Maria melihat kejam kecil


di atas meja. Hampir setengah delapan. Padahal
Elita berjanji menjemputnya pukul tujuh. Ada
apa? Lupakah dia?
Ada segurat kekecewaan menoreh hati Maria.
Kalau Elita saja sudah tidak dapat dipercaya...
siapa lagi yang dapat diandalkannya? Lebih baik
dia tidak usah pergi saja!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi gaun ini... Maria menoleh kembali ke


dalam cermin. Rasanya Maria tidak ingin
melepaskannya lagi. Dia terlihat begitu berbeda
dengan gaun ini.
Lebih-lebih wajahnya... uh, dia sendiri hampir
tidak mengenali dirinya sendiri.... Matanya
benar-benar terlihat lebih hidup. Lebih
menyilaukan dengan olesan mascara dan
eyeshadow yang cukup
Dan bibirnya... hm. Merah menantang. Amat
manis kelihatannya bila dibawa tersenyum....
Rambutnya... Oh, indahnya tergerai bebas begitu... hitam, lebat, panjang.... Kalau saja sejak
dulu
dia menyadari, betapa indah sebenarnya
rambutnya...
Tapi... ah, wajahnya tidak cantik. Hidungnya
terlalu panjang. Matanya terlalu besar. Tulang
pipinya menonjol. Cuma bibirnya yang agak
lumayan.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu cantik kalau mau dandan, Mar!" kata


Nurul siang tadi. 'Tidak ada wanita yang jelek.
Yang ada cuma wanita yang tidak tahu
bagaimana caranya supaya terlihat cantik!"
"Cobalah, Mar," pinta Elita ketika Maria masih
tetap menolak untuk didandani. "Kalau kamu
nggak puas, nggak usah pakai!"
"Tapi ayah saya..."
"Make-up ini bisa dihapus kok, Mar," potong
Nurul tak sabar. "Kita coba dulu. Lalu kita hapus
lagi. Oke?"
"Nanti kamu boleh pinjam alat make-up-ku,
Mar," sambung Elita. "Boleh kamu bawa pulang.
Aku masih ada yang lain."
Dan sapuan jari-jemari Elita memang tidak
mengecewakan. Maria sendiri hampir tidak
percaya melihat hasilnya. Kalau tidak malu pada
teman-temannya, rasanya dia segan menoleh
ke tempat lain. Tak bosan-bosannya dia
memandangi wajahnya dalam cermin kecil yang
disodorkan Elita.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Lihat?" Elita tersenyum puas. "Kamu cantik,


kan?"
Lama Maria menatap cermin itu sebelum
menoleh ke arah Elita dengan kemalu-maluan.
"Benarkah... benarkah... saya cantik?" desahnya
tak percaya.
"Betul, Mar! Apalagi kalau rambutmu dilepas!
Jangan dijalin dua begini! Kuno!"
Dan sekarang Maria tegak di sini. Menatap ragu
ke dalam cermin. Sebentar-sebentar menoleh
dengan cemas ke jam kecil di atas meja.
Setengah delapan lewat lima menit... Mengapa
Elita belum datang juga? Ah, Maria melepas
sepatunya dengan kesal. Dia pasti dipermainkan
lagi! Tapi... Elita! Benarkah dia seiseng itu?
Dan klakson mobil terdengar tepat di depan
pintu pagar rumahnya. Di gang yang lumayan
sempitnya, Elita pasti tidak bisa parkir lamalama.
Bergegas Maria menyambar sepatunya. Dan
berlari-lari ke luar sambil menjinjing sepatu itu.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Diterjangnya saja pintu depan. Dan dia


menahan napas.
Mobil! Tepat di muka rumahnya. Pasti Elita!
Tanpa berpikir dua kali cepat-cepat Maria
mengunci pintu. Dan berlari-lari ke luar.
Pintu depan mobil sebelah kiri langsung terbuka
begitu Maria tiba di samping mobil itu. Dia
Melongok ke dalam dan mulutnya yang sudah
siap menegur langsung mengejang....
"Masuklah," kata pemuda di belakang kemudi
itu.
Cuaca cukup gelap. Tapi Maria sudah dapat
mengenalinya dengan sekali pandang saja. Dan
dia mundur dengan ketakutan.
"nggak usah takut! Aku yang akan
mengantarmu Ke rumah Rena!"
Buru-buru Maria menutup kembali pintu mobil
dan Sudah bergerak untuk masuk kembali ke
halaman rumahnya ketika klakson bajaj
menyentak-kan telinganya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ayo, Neng! Lekas naik!" seru sopir bajaj itu


ditengah-tengah deru mesin yang
membisingkan telinga. "Jangan bertingkah, ah!"
"Elita nggak bisa menjemputmu," teriak Guntur
dari dalam mobil tanpa menghiraukan
kemarahan bajaj yang tidak bisa lewat itu.
Gang di depan rumah Maria memang sempit.
Dan mobil Guntur berhenti terlalu ke tengah.
Akibatnya bajaj di belakangnya tidak dapat
lewat.
Terpaksa Maria naik ke dalam mobil. Tidak
tahan mendengar bisingnya deru mesin bajaj
yang berbaur dengan teriakan-teriakan
kemarahan pengemudinya. Alangkah kotornya
makian orang itu. Alangkah kasarnya Jakarta!
"Kenapa sih nggak mau ikut?" gerutu Guntur
jengkel. "Takut, ya?"
"saya janji pergi dengan Elita...," sahut Maria
gugup. Mukanya pucat. Matanya gelisah. Peluh
membasahi sekujur tubuhnya. Walaupun mobil
itu dingin seperti di dalam gua es.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka hanya berdua saja di dalam mobil ini....


O, Tuhan! Dia benar-benar takut! Dia belum
pernah berada berdua saja dengan seorang lakilaki selain ayahnya.... Dan Ayah bilang laki-laki
itu... Ah, meremang bulu tengkuk Maria!
"Elita nggak bisa datang!"
"Ke mana dia?"
"Pergi dengan pacarnya."
"Dedi?"
"Huu, Dedi sih nggak masuk hitungan! Rusman,
tahu nggak?! Itu yang dia naksir dari dulu! Dedi
sih apaan! Nggak bonafid!"
Rusman. pikir Maria bingung. Dia sudah Pernah
melihat pemuda itu. Tidak jauh bedanya dengan
pemuda ini. Tampangnya tidak sejujur Dedi. Ah,
Elita pasti salah pilih!
Maria memang sering mendengar temantemannya membicarakan Elita. Sudah lama dia
menaruh hati pada Rusman. Tapi pemuda itu
tidak pernah membalas perhatiannya. Yang
mengejar-ngejar Elita justru Dedi.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Terus terang Maria lebih senang kalau Elita


memilih pemuda itu saja. Dedi lebih bisa
dipercaya. Rusman sebaliknya. Teman-teman
mereka sering membicarakan pemuda itu.
Katanya dia sering berganti-ganti pacar!
Diam-diam Maria mendengarkan gosip-gosip
semacam itu. Hal yang baru di dalam hidupnya.
Pacaran. Cemburu. Saling rebut kekasih orang
lain. Kejar-mengejar pacar. Dan aneh. Lamalama Maria ikut gemar mendengarkannya.
Meskipun cuma terbatas pada mendengarkan
saja.
"Kok diam aja?" tegur Guntur ketika diliriknya
gadis itu bengong saja melihat ke depan.
"Bagaimana kalau Elita menjemput saya ke
rumah?"
Buset, nggak ngerti juga, gerutu Guntur dalam
hati. Dasar bego! Elita-mu tidak akan datang!
Tidak Percuma kukirim Rusman ke rumahnya!
"Elita pergi dengan Rusman." sahut Guntur
tegas. "Mungkin mereka menjemput saya?"
"Mereka menyuruhku menjemput kamu!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria menghela napas. Begitu kerasnya sampai


menoleh. Kenapa? Keberatan?" tidak ada
jawaban. Guntur jadi gemas. "Apa bedanya sih
kalau aku yang jemput? Kan sampai juga! Takut
dibawa kabur, ya? Atau mesti pastor yang
jemput kamu?"
"Kata Suster Cecilia," sahut Maria polos, "saya
hanya boleh pergi dengan Elita." "Lho, kenapa
begitu?" "Dia bisa dipercaya."
Meledak tawa Guntur. "Malam ini kamu tahu,
nggak ada yang bisa dipercaya!"
"Tapi saya percaya pada Tuhan!"
"Nah, minta tolonglah pada Tuhan-mu! Buat
apa kamu takut kalau begitu?"
"Elita ada di pesta itu?" tanya Maria ragu-ragu.
"Tergantung ke mana Rusman membawanya."
"Lalu... siapa yang mengantarkan saya pulang?"
desah Maria ngeri "Saya... saya tidak berani
pulang sendiri...."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Guntur menyeringai lebar. "Mintalah padaku."


"Kamu mau mengantarkan saya pulang?" "Kalau
kamu jadi patnerku, itu memang tugasku!"
"Kamu tidak malu...?" Maria menggigit bibirnya
dengan tiba-tiba. Parasnya langsung memerah.
"Malu?" Guntur menoleh sekilas. Lalu dia
tersenyum. "Aku malah bangga!"
"Saya tidak cantik...."
"Dan kamu kuper! Norak! Udik!"
Maria menunduk sedih. Air matanya berlinang.
"Jadi kenapa kamu mau membawa saya? Nanti
kamu ditertawakan teman-temanmu!"
"Sebab aku ingin membawamu! Dan aku bangga
karena sebelum ini tidak ada seorang pun yang
bisa membawa kamu ke pesta!"
Maria menggigit bibirnya menahan tangis.
"Saya ingin seperti teman-teman yang lain..."
katanya terbata-bata. "Tapi saya berbeda..."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu sendirilah yang membuat perbedaan itu!


Kalau kamu normal seperti teman-temanmu,
kamu tidak bakal dijadikan bulan-bulanan
begini!"
"Kamu pikir saya tidak mau seperti mereka?
Saya cuma tidak bisa!"
"Karena kamu ingin jadi biarawati?"
"Ayahlah yang telah mempersembahkan saya
kepada Tuhan. Sejak saya lahir."
Ada pukulan yang tidak kelihatan meninju dada
Guntur. Tiba-tiba saja dia merasa bersimpati
pada gadis ini.
"Seluruh hidup saya telah didikte oleh Ayah.
Nasib saya telah ditentukan sejak saya lahir...."
"Kamu bisa berontak kalau tidak mau!"
"Kamu belum kenal ayah saya. Lagi pula saya
memang mencintai Tuhan. Saya rela
menyerahkan seluruh hidup saya untuk-Nya."
"Wah, kepalaku jadi pusing," keluh Guntur.
"Kamu nggak punya saudara?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Saya anak tunggal. Ibu meninggal ketika


melahirkan saya.
Setitik perasaan yang dia sendiri tidak tahu apa
namanya merayap di sudut hati Guntur yang
paling dalam. Selama ini belum pernah
perasaan semacam itu menyelinap ke hatinya.
Dia sendiri merasa aneh. Kamu mau turun di
depan pintu? Saya parkir mobil dulu."
"Saya ikut kamu," sahut maria gugup. "Lho, di
depan pintu ada teman-temanmu kok! Kamu
nggak usah takut!"
"Saya malu..."
"Kamu benar-benar belum pernah pergi ke
pesta? Pesta nenek-nenek dan kakek-kakek juga
belum?"
Maria menggeleng. Dalam gelap matanya
menatap Guntur dengan jujur.
"Pesta anak-anak juga belum?" Maria
menggeleng lagi.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Astaga, Guntur menghela napas. Benar-benar


ajaib!
"Berapa umurmu?" "Enam belas "
Spontan. Jujur. Tanpa ditutup-tutupi. Tanpa
dikorting. Padahal gadis-gadis biasanya pantang
menyebutkan umur mereka. Ah, dia benarbenar gadis yang paling jujur yang pernah
dijumpainya!
"Di kotamu dulu. kamu belum pernah pergi ke
pesta ulang tahun temanmu?" "saya tidak
punya teman." "Teman sekolah?" "Saya tidak
sekolah."
Guntur tertegun bingung. Sampai tidak dapat
mengajukan pertanyaan lagi.
"Saya belajar sendiri di rumah. Ayah memanggil
guru."
"Ayahmu benar-benar sadis!" "Ayah melarang
saya bergaul dengan pria. Ayah takut sekolah
akan merusak jiwa saya."
"Ibumu pasti laki-laki!" geram Guntur gemas.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ibu?" ulang Maria bingung.


"Ayahmu pasti kawin dengan laki-laki jugaBukankah dia melarang putrinya bergaul
dengan laki-laki? Nah, dia juga pasti tidak suka
bergaul dengan wanita!"
"Ayah ingin saya tetap utuh dan suci seperti
waktu saya dilahirkan."
"Jadi tidak boleh kena polusi sama sekali?"
"Saya harus mempersembahkan diri saya
kepada Tuhan dalam keadaan suci murni "
"Waktu kamu dilantik jadi biarawati? Nah,
kenapa kamu disekolahkan sekarang?"
"Ayah ingin saya mengabdikan diri di biara itu.
Dan Ayah ingin saya pandai seperti Ibu. Kata
Ayah, Ibu lulusan SMA."
"Hhh, aneh!" Guntur memarkir mobilnya sambil
menggerutu. "Orang tua seperti ayahmu itu
sudah nggak model lagi sekarang! Sudah mesti
dimuseumkan!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ayah cuma ingin saya pintar dan baik seperti


Ibu. Salahkah itu?"
"Tapi kejam menjadikan seorang anak sebagai
duplikat ibunya!"
Sambil masih menggerutu Guntur turun dari
mobilnya. Mengunci pintu. Dan membukakan
pintu buat Maria.
"Kita masuk?" tanya Maria bimbang.
"Kamu mau di mobil terus?"
"Tapi saya malu...."
"Acuh saja."
"Kamu nggak malu jalan sama saya?" "Coba
kulihat dulu. Kamu pincang nggak?" Buru-buru
Maria berdiri.
"Hm." Guntur menahan senyumnya. "Kamu
Pakai kaki palsu?"
Maria menggeleng dengan segera. "Nah, aku
mesti lihat dulu kakimu."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

kaki... saya...?" Gemetar bibir Maria. "Duduklah


dulu. Angkat longdress-mu sedikit. Aku harus
melihat dulu kakimu."
"itu syaratmu?" keluh Maria bingung.
"Terang dong! Gadis pincang nggak pantas jadi
partnerku!"
"saya tidak pincang!" protes Maria tersinggung.
Diangkatnya gaun panjangnya dengan kesal.
Dan sepasang betis putih dan mulus
terpampang menantang di depan mata Guntur.
"Hm, indah!" komentar Guntur menahan senyum. "Nah, ayo masuk! Kamu tidak
memalukan kok!"
Guntur mengulurkan lengannya. Tapi Maria
pura-pura tidak melihat.

***

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Begitu Maria masuk, semua temannya langsung


lupa yang pesta Rena. Bukan Maria. Serentak
mereka semua lari mengerubungi Maria.
"Amboi, cakepnya!" Luna mencibirkan bibirnya.
"Lihat tu muka, kayak kanvas belepotan cat!"
"Dan dadanya!" Rena mengikik geli. "Bukitnya
tumbuh dalam sehari!"
"Wah. kece juga nih suster!" komentar Ronald
sambil memukul bahu Guntur yang berjalan di
sisi Maria. "Kapan lu nyusul jadi pastor, Tur?"
"Pokoknya gua pasti undang lu!" sahut Guntur
sambil menarik Maria ke lantai dansa. "Disko
yuk?"
"Disko?" Maria menoleh heran. Seperti bebek
mendengar petasan.
"Dansa."
"Di sini?" Memucat wajah Maria. "Di mana
lagi?" gurau Guntur. "Di tempat tidur?" "Saya
tidak bisa dansa!" "Ah, gampang! Goyanggoyang aja. Salah juga nggak ada yang tahu!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Minum dulu, Mar!" Nurul datang


membawakan segelas minuman dingin.
"Mukamu pucat sekali. Ntar keburu semaput!"
"Di mana Elita, Rul?"
"Belum kelihatan dari tadi."
"Ah," Maria mengeluh bingung, "ke mana dia?"
"Sudah kubilang, dia pergi sama Rusman!"
gerutu Guntur kesal. "Jangan pikirkan dia lagi
deh! Yuk kita dansa!"
Tanpa menghiraukan protes-protes Maria,
Guntur membawanya ke lantai dansa.
"Hai!" sapa teman-teman mereka yang sedang
asyik berdisko.
Maria hanya tersenyum kemalu-maluan. Dia
berjalan separuh ditarik oleh Guntur di sela-sela
pasangan-pasangan yang sedang berdansa.
"Awas pecah, Tur!" goda Endang. "Barang antik
tuh! Hati-hati pakainya!"
"Beres." Tersenyum Guntur. "Pokoknya barang
kembali dengan utuh!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Eh, barang yang sudah dibeli tidak boleh


dikembalikan lho!" sambung Nike lincah.
Silau mata Maria melihat dandanan temantemannya malam ini. Nurul benar. Di pesta
semacam ini, gaunnya yang seharga sekarung
beras itu tidak berarti apa-apa. Tenggelam
dalam semaraknya gaun teman-temannya.
Dan yang gemerlapan itu masih diramaikan lagi
oleh kilauan perhiasan di lengan, leher, dan
telinga
mereka. Karena di sekolah dilarang memakai
perhiasan, di Pesta semacam inilah mereka baru
dapat memamerkan miliknya. Meskipun
kadangkadang hanya berupa barang imitasi - itu pun
tidak jarang merupakan barang pinjaman mereka tidak
segan-segan memindahkan toko perhiasan ke
tubuh mereka.
"Ayo, jangan malu-malu, goyang saja," kata
Guntur sambil mulai berdisko. "Dengarkan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

irama musik itu, ikuti alunannya, lupakan


teman-temanmu. Anggap saja di sini cuma ada
kamu dan aku. Jangan minder! Kamu nggak
kalah kok sama mereka!"
"Benar?" Maria menatap Guntur dengan
tatapan tidak percaya. Matanya yang jujur
berkedip-kedip penuh harap. "Saya juga cantik
seperti mereka?"
"Kamu cantik," sahut Guntur tegas.
Ada sinar berpendar-pendar di mata yang selalu
murung itu. Kamu cantik! Dan itu diucapkan
oleh seorang pemuda yang setampan Guntur!
Ya, Tuhan! Benarkah dia cantik?
Oh, ada perasaan yang sulit dilukiskan di hati
Maria. Perasaan bangga bercampur haru.
Perasaan yang sama seperti perasaan yang
mengaduk-aduk hatinya kalau Guntur berjalan
di sisinya. Memegang tangannya.
Menggandengnya melewati Luna yang menatap
mereka dengan tatapan yang belum pernah
dilihatnya bersorot di mata itu. Mengajaknya
berdansa. Atau cuma sekedar minum dan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

ngobrol. Ah. Guntur begitu tampan! Mungkin


yang paling tampan di pesta ini! Dan dengan
dialah Maria berjalan!
"Kamu senang?" tanya Guntur setelah hampir
setengah jam mereka berdansa.
Maria mengangguk sambil tersenyum. Matanya
menatap Guntur dengan penuh terima kasih.
Sedikit pun dia tidak berusaha untuk
menyembunyikan kebahagiaannya. Dia begitu
polos seperti sebuah
buku yang terbuka. Setiap orang dapat
membaca isi hatinya.
"Lihat, kamu sudah bisa dansa!"
"Ah." Maria menunduk kemalu-maluan.
Konsentrasinya langsung buyar. Dansanya jadi
kacau. Beberapa kali dia menginjak kaki Guntur.
"Capek? Mau istirahat dulu?"
"Kita boleh duduk?"
"Tentu saja! Sudah lapar?"
"Boleh ditunda sebentar lagi?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nggak ada yang larang. Di pesta ini kita boleh


berbuat apa saja. Sesuka hati."
Guntur membawa Maria ke bangku di sudut
ruangan. Dan mengambilkan minuman dingin
untuk gadis itu.
"Bagaimana?" ejek Luna ketika Guntur melewati
tempatnya. "Sudah selesai kursus kilatnya?"
"Wah, dia lebih asyik daripada kamu!" Guntur
balas mengejek. "Semuanya masih asli!"
Tentu saja Maria tidak dapat mendengar
Pembicaraan mereka. Guntur menyodorkan
minumannya tanpa berkata apa-apa.
"Terima kasih," sahut Maria terharu. "Kamu
baik sekali."
Guntur tertawa lunak. "Apanya yang baik?"
Mengambilkan minuman untuk saya."
"Itu sih sudah seharusnya!" "Kamu mau
menjemput saya, mengajar saya berdansa..."
"Aku malah ingin mengajari kamu berenang!"
"Berenang?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku ingin mengajari kamu apa saja supaya


kamu tidak norak dan kuper!"
"Ah, ayah saya pasti marah!"
"Boleh datang ke rumahmu?" "Kamu?" belalak
Maria kaget. "Siapa lagi?"
"Mau apa kamu ke sana?" "Bicara dengan
ayahmu." "Aduh. jangan!"
"Harus ada orang yang berani membukakan
matanya! Anaknya normal! Dia yang punya
kelainan!"
"Jangan! Ayah pasti marah! Dan saya dilarang
sekolah lagi!"
"Senin siang kujemput kamu pulang sekolah.
Oke? Kita pergi berenang!"
"Jangan!"
"Kamu tidak ingin ketemu lagi?" "Tentu!
Tapi...""
"Jangan takut. Aku akan menjagamu." "Ayah
melarang saya bergaul dengan laki-laki!" "Kuno!
Ayahmu sendiri laki-laki!" "Kata Ayah. laki-laki

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

itu perusak...." "Aku tidak akan mengganggumu.


Aku cuma ingin melihat kamu jadi gadis
normal!"
Hampir pukul sebelas malam ketika Guntur
menurunkan Maria di muka rumahnya. Gang di
depan rumah Maria sudah sepi. tidak ada
seorang pun yang lewat.
"Terima kasih mau mengantarkan saya pulang,"
kata Maria sambil bergerak untuk membuka
pintu mobil. tapi Guntur memanggilnya. ketika
ia menoleh, tiba-tiba saja pemuda itu mencium
bibirnya.

Maria tersentak kaget. Hampir pingsan dia.


Matanya terbelalak lebar. Mukanya pucat dan
merah berganti-ganti. Jantungnya berdebar
keras. Hampir rontok rasanya.
Dia sering mendengar teman-temannya
bercerita tentang ciuman pertama. Dia memang
sering membayangkannya. Tapi tak pernah
mimpi akan ikut merasakannya pula! Apalagi

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dari seorang pemuda yang setampan Guntur!


Oh.
Bergegas Maria melompat turun. Tanpa
menoleh lagi, dengan tersipu-sipu, dia berlari
masuk ke halaman. Cepat-cepat Guntur
menerjang ke pintu sebelah kiri dan melongok
dari jendela. "Maria!" panggilnya sekali lagi. Di
depan pintu, Maria menoleh. Mukanya merahpadam. Tetapi matanya bersinar-sinar dalam
kemilau kebahagiaan. Dan bibirnya tersenyum
manis.
"Lusa kujemput kamu! Oke?"
Tanpa menjawab, Maria membalik untuk masuk
ke dalam. Tapi Guntur memanggilnya sekali lagi.
Dan sama seperti tadi, Maria menoleh pula.
Senin siang kita berenang, ya?"
Karena Maria belum menjawab juga, sekali lagi
Guntur berseru.
"Aku belum mau pergi kalau kamu belum bilang
ya!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Jendela sebelah rumahnya terbuka. Sebuah


kepala beruban melongok ke luar. Maria
menjadi gugup. tetapi Guntur tidak peduli
seandainya semua orang di gang ini terjaga dari
tidurnya sekalipun. "Aku boleh menjemputmu?"
"Sst!" Maria menaruh jarinya di bibir Sambil
melirik ketakutan ke arah tetangganya.
Tetapi Guntur malah berteriak lebih keras lagi
"Senin siang, oke?" Buru-buru Maria
mengangguk. Dia menyelinap ke dalam rumah.
Dan menutup pintu. Dadanya masih naik-turun
dengan cepatnya. Napasnya pun ter-engahengah. Tapi Maria bersandar ke pintu itu sambil
tersenyum malu.
Bibirnya masih dapat merasakan hangatnya
kecupan Guntur. Matanya masih dapat
membayangkan lembutnya tatapan pemuda itu.
Belum pernah Maria menerima tatapan yang
demikian lembut. Ah, bukan hanya lembut...
tapi sekaligus hangat... mesra.... Mesrakah
namanya tatapan semacam itu? Tatapan yang

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mampu menggetarkan jantungnya... mengajak


hatinya menari-nari dalam alunan kebahagiaan?
Tak tahan lagi Maria menyimpan semua
kebahagiaan itu untuk dirinya sendiri. Dia
berlari-lari ke kamarnya. Menjatuhkan dirinya di
depan meja sembahyangnya. Dan mengatupkan
tangannya membentuk sembah.
"Terima kasih. Tuhan!" bisiknya dengan pipi
kemerah-merahan. "Terima kasih karena
Engkau telah memberikan seorang laki-laki yang
sebaik dia!
Lalu matanya yang terpejam dalam kebahagiaan
tiba-tiba terbelalak. Sebuah pertanyaan
menyentakkan kesadarannya. Tidak marahkah
Tuhan? Tidak cemburukah Yesus?
Tetapi mata Yesus masih tetap selembut
kemarin. Tatapan-Nya tak pernah berubah.
Penuh Pengertian dan kasih sayang. Bunda
Maria pun masih tetap tersenyum. Sabar dan
agung.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

BAB VI

"Maafkan saya, Mar," kata Elita begitu dia


bertemu dengan Maria hari Senin pagi. "Saya
tidak bisa menjemputmu malam Minggu
kemarin."
"Oh, tidak apa-apa," sahut Maria dengan
senyum yang setulus suaranya. Tidak ada nada
kesal sama sekali.
Elita jadi merasa lebih terpukul lagi. Mendustai
orang seperti Maria memang lebih terasa
dosanya. Tapi malam itu dia memang
dihadapkan pada pilihan yang sulit.
Rusman tiba-tiba saja datang ke rumahnya. Dan
Elita tidak dapat meninggalkan pemuda yang

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

sudah sekian lama diharapkan kedatangannya.


Apa pun alasannya.
"Dia malah senang kamu nggak jemput, El!"
Sambar Nurul sambil tersenyum-senvum.
"Kamu tahu siapa yang jemput dia?"
"siapa?" Elita menoleh dengan waspada. Matanya Menatap Nurul dengan tegang. Ketika
dilihatnya Nurul cuma tersenyum-senyum, dia
langsung berpaling pada Maria.
"Siapa, Mar?" desaknya serius.
"Tebak dong!" ejek Nurul. "Siapa pikirmu yang
mau menjemput Maria?"
"Kamu, Rul?" Elita menoleh lagi pada Nurul Tapi
Nurul cuma mencibir. "Siapa sih?" geram Elita
gemas. Dia berpaling lagi pada Maria. "Ayo
dong. Mar, bilang! Siapa?" "Guntur," sahut
Maria polos. Melebar mata Elita. Tapi mulutnya
yang telah separuh terbuka dikatupkannya
kembali. Sebuah pikiran ganjil melintas di
otaknya. Tapi lekas-lekas ditindasnya kembali.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria sedang begitu gembira. Kelihatan dari


sikapnya. Wajahnya. Tatapannya. Senyumnya.
Elita tidak sampai hati mengecewakannya. Dia
sudah mengecewakan Maria malam Minggu
kemarin. Masa sekarang dia harus
mengecewakannya lagi?
Tapi sepanjang hari itu Elita gelisah terus. Lebihlebih ketika Maria menceritakan dia akan pergi
dengan Guntur. Pulang sekolah.
"Dia akan mengajari saya berenang. Cuma... ah,
sejak kemarin saya agak pilek. Barangkali karena
tidak pernah keluar malam...."
"Dan ayahmu?" cetus Elita antara kaget dan
heran.
"Mulai hari ini Ayah pergi dari pagi sampai sore
Ayah sudah berhasil menjual rumah kami. Uang
itu akan dipakai Ayah sebagai modal berdagang.
Jadi perawan pingitan ini sudah mulai lepas dari
kontrol! Elita mengerutkan dahinya dengan
bingung. Tentu saja Elita gembira kalau Maria
dapat mengecap kebebasan seperti gadis-gadis

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

lain. tapi dia takut kebebasan itu malah akan


menjerumuskan nya! Dan kalau itu sampai
terjadi... dia punya andil yang tidak kecil!
Elita-lah yang mengajak Maria ke pesta. Dia pula
yang tidak datang menjemput gadis itu sehingga
Guntur punya kesempatan untuk
menggantikannya! Dan pemuda seperti Guntur
benar-benar tidak dapat dipercaya!
"Aku ikut, Mar," kata Elita tiba-tiba. "Aku juga
kepingin berenang. Kamu keberatan?"
"Saya?" Mata Maria melebar dengan gembira.
"Saya senang kamu ikut, El!"
Diam-diam Elita menghela napas. Anak ini
benar-benar masih polos. Dia malah lebih
senang pergi beramai-ramai. Padahal Guntur
tentu mengharapkan yang sebaliknya!
"Kamu mau ikut berenang, Rul?" tanya Elita
kepada teman-temannya.
"Kapan?"
"Nanti siang. Pulang sekolah." "Boleh. Sama
siapa?" "Guntur akan menjemput Maria."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Betul?" belalak Nurul heran. "Yuhui! Aku pasti


ikut!"'
"Boleh ikut, Mar?" sambar Endang yang juga
sudah mendengar kabar yang menjalar cepat
seperti wabah itu.
"Tentu," sahut Maria dengan wajah berseri-seri.
"Lebih banyak kan lebih ramai!"
"Ayo, Nik!" Endang mendesak Nike yang masih
ragu-ragu. Soalnya nanti sore dia les piano.
"Kapan lagi kita diajak? Lain kali Maria pasti
lebih suka pergi berdua!"
"Iya deh, aku ikut!" kata Nike akhirnya. "Tapi
mobil si Guntur muat nggak, ya?"
"Kalau nggak muat, naik mobilku!" sambar Tina
bersemangat. "Sekelas juga cukup!"
"Mobilmu yang merek Volvo itu ya, Tin?" ejek
Nike geli. "Yang bertingkat?"
Teman-temannya tertawa riuh. Tapi mereka
sudah sepakat mau ikut semua. Diam-diam Elita
menghela napas lega.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Rasain kamu. Tur, katanya sambil tertawa


dalam hati. Malam Minggu kemarin kamu yang
ngerjain saya. Sekarang saya balas! Kamu pikir
kamu yang paling pintar? Tak akan saya biarkan
kamu mengganggu biarawati kami!

***

Guntur terbelalak bingung melihat gadis


sebanyak itu berderet-deret di depan sekolah.
Sampai silau matanya.
"Astaga!" cetusnya sambil melongokkan
kepalanya dari jendela mobilnya. "Mau
demonstrasi ke mana kalian?"
"Kami mau ikut berenang, Tur!" sahut Nurul
yang paling lincah. "Kamu mau pergi berenang,
kan?"
"Buset!" Guntur menggaruk-garuk kepalanya.
"Kolamnya juga nggak muat!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Gantian juga boleh, Tur." Elita tersenyum sinis.


"Pokoknya kami ikut!" "Tapi aku cuma ngajak
Maria!" "Kalau Maria pergi, kami semua juga
pergi!" "Wah, gawat nih!"
"Ayo, Teman-teman! Naik!" Elita mengomando
teman-temannya. "Tunggu apa lagi.?"
"Waduh! Tunggu dulu! Mobilku nggak muat!"
"Sebagian naik mobilku," potong Rena
bersemangat. "Sisanya naik busnya si Tina!"
"Hush! Itu bukan busku tahu!" belalak Tina.
"Tapi yang ikut aku boleh pakai karcis
pelajarku!"
Dan sebelum Guntur dapat mencegah, anakanak perempuan itu telah berdesak-desakan
naik ke mobilnya. Justru Maria masih tertinggal
di luar!
"Ayo, Mar! Naik!" seru Elita. "Nanti
ketinggalan!"
"Biar saya ikut Tina saja," sahut Maria sabar.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bego!" Guntur menggaruk-garuk kepalanya


yang tidak gatal. "Mobil ini spesial buat jemput
kamu! Masa kamu malah mau naik bus?!"
"Waduh! Tuan Besar Guntur murka!" Elita
tertawa mengejek. "Lebih baik kamu cepatcepat naik, Mar! Sini, masih ada tempat! Desakdesakan malah hangat!"
"Jangan, biar saya naik bus saja!"
Dan tanpa bisa dicegah lagi, Maria sudah berlari
menyusul teman-temannya yang sedang
mengejar bus!
"Mampus gua!" geram Guntur gemas.
"Sebentar lagi gua pasti ikut gila!"
"Nguber cewek kayak dia aja otakmu sudah
mesti diperiksa, Tur!" kata Luna yang duduk
tepat di samping Guntur. "Memangnya
persediaanmu sudah habis? Si Rusman sudah
nggak ada stock cewek lagi untukmu?"
"Yang seperti itu langka, tahu nggak? Masih
orisinal! Ban serepnya saja belum turun!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Huu, gawat!" Luna mencibir kesal. "Yang


tukang tukar-pinjam pacar seperti kamu saja
masih
cari yang tangan pertama! Dasar cowok! Mau
enaknya sendiri saja!"

***

Sudah hampir setengah jam Maria mengurung


diri di dalam kamar ganti. Dia sudah
mengenakan bikininya. Tapi tidak berani keluar.
Sampai Elita menggedor-gedor pintunya.
"Mar? Sudah belum? Kok lama betul?"
"Mar! Kamu masih hidup?" teriak Nurul tak
sabar.
"Tunggu sebentar," sahut Maria gugup. Lemas.
"Kenapa? Celanamu hilang?"
"Saya..." Menggagap Maria. Sekujur mukanya
terasa panas. "Saya..."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ajak aku masuk, Mar!" Nurul mendorong pintu


dengan gemas. Tapi pintu itu terkunci.
"Tunggu sebentar, Rul...."
"Ngapain lagi? Berdoa dulu?"
"Saya malu...."
"Astaga!" Nurul melorot lemas. "Kalau malumu
sampai besok, kita semua bisa nginap di sini!"
"Ada apa?" tanya Rena yang baru datang. "Dia
semaput di dalam? Perlu bantuanku? Aku masih
sanggup mendobrak pintu!"
"Huu, dasar buldozer!"
Dan pintu terbuka sebelum mereka sempat
mengetuk lagi. Semua mata yang sedang tegang
menatap ke pintu menjadi kecewa.
Maria memang sudah keluar. Tapi tanpa bikini.
Dia sudah mengenakan roknya kembali. Dan
bersandar lemas ke pintu. Matanya menatap
teman-temannya dengan penuh penyesalan.
"Lho!" cetus Nurul antara bingung dan kesal.
"Kok nggak jadi?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ke mana bikinimu, Mar?" sambung Nike heran.


"Hilang?"
"Maaf..." desah Maria perlahan, "saya tidak
bisa...."
Satu per satu teman-temannya mengangkat
bahu dan berjalan ke luar dengan lemas. Guntur
yang sudah mengenakan celana renang dan
sedang menunggu di tepi kolam melongo
keheranan melihat mereka.
"Nggak jadi berenang?" tanyanya bingung.
Matanya melebar melihat Maria yang keluar
paling akhir, masih mengenakan rok biasa.
"Dia malu!" keluh Nurul separuh menggerutu.
"Malu?" Guntur terbelalak menatap Maria.
"Kamu malu pakai baju renang?"
"Kata Suster Cecilia, memakai baju yang
mempertontonkan sebagian besar tubuh,
apalagi bagian-bagian yang terlarang, dapat
memancing nafsu. Dan itu dosa."
"Astaga." Guntur merosot lemas. "Jadi kamu
mau berenang pakai longdress?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Lebih baik kita ceburin saja dia ke kolam!"


gerutu Luna pada Rena. "Bertingkah amat sih!"
"Sudahlah," Elita mencoba menengahi. "Lebih
baik kita makan bakso tenis saja yuk!"
"Kamu juga nggak jadi berenang?" "Berenang
pakai apa? Nggak bawa baju renang kok!"
"Jadi buat apa kalian kemari?" gerutu Guntur
kesal.
"Ngawal Maria!" "Brengsek! Nyempit-nyempitin
mobil aja!"

Maria meletakkan bukunya dengan sedih. PR


masih banyak. Hapalan pun masih bertumpuk.
tapi pikirannya tidak dapat diajak konsentrasi.
Sejak tadi cuma Guntur yang diingatnya.
Marahkah dia? Dia sama sekali tidak menegur
Maria lagi. Apalagi mengantarkannya pulang.
Ketika Elita menyindirnya, Guntur malah
membentak jengkel, "Buat apa diantar pulang?
Kan ada kalian? Pengawalnya, kan?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Ah, suaranya begitu sinis. Begitu menyakitkan.


Dia pasti kesal. Marah Tapi Maria tidak dapat
mengubah keputusannya Dia tidak dapat
memakai baju yang demikian terbuka, baju apa
pun namanya!
Dia memang sudah mengecewakan Guntur.
Mengecewakan teman-temannya. Tapi paling
tidak, dia tidak mengecewakan Tuhan! Tidak
mengecewa-kan Suster Cecilia! Tidak
mengecewakan ayahnya!
Duh, susahnya berusaha untuk tidak
mengecewakan semua orang! Dan ayahnya
masuk seperti hantu. Begitu tiba-tiba dan diamdiam.
Maria tidak tahu kapan ayahnya masuk. Tahutahu Ayah sudah tegak di sisinya. Dan
merampas bukunya. Membalik-balik
halamannya.
Barangkali mencari surat? Atau sajak-sajak
cinta? Atau... apa saja yang dikirim salah
seorang teman prianya? Ah, Ayah memang
selalu curiga!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Belajar atau melamun?" gerutu Ayah jengkel.


Dia membaca semua tulisan Maria. Dan baru
puas
setelah tidak menemukan sesuatu yang
mencuriga-kan. "Di mana tasmu?"
Tanpa berpikir dua kali Maria mengambil tasnya
dan menyerahkannya kepada ayahnya. Ayah
mengaduk-aduk isinya dan menggeledah setiap
sudut dan lekukan.
"Hm," Ayah mendengus puas sambil
meletakkan tas itu kembali. "Sudah berdoa?"
Maria mengangguk lesu.
"Belajar! jangan pikir apa-apa lagi. Tahun depan
Ayah akan minta pada Suster Cecilia agar kamu
diizinkan ikut ujian SMA. Biar lulus lebih cepat."
Dan lebih cepat masuk biara, pikir Maria sedih.
Dia mencintai Tuhan. Mengasihi Yesus
Menyayangi Bunda Maria. Dia mau
mengabdikan seluruh hidupnya untuk Tuhan.
Tapi haruskah dengan cara begini.'

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Ayah bersikap seolah-olah Ayah sendirilah yang


hendak masuk biara. Bukan putrinya! Padahal
setiap manusia diberi kehendak bebas oleh
Tuhan. Begitu kata Suster Cecilia dalam
pelajaran agama.
Tidak ada paksaan untuk masuk biara. Banyak
jalan lain untuk mengabdi kepada Tuhan. Tapi
mengapa Ayah begitu menginginkan dia
menjadi biarawati? Tidak sayangkah dia pada
Maria? Masuk biara berarti harus berpisah
dengan Ayah, bukan?

Di ambang pintu sekali lagi Pak Handoyo


menoleh. Maria masih melamun seperti tadi.
Menatap buku. tapi dengan tatapan hampa!
Pak Handoyo menjadi curiga Ditatapnya seluruh
isi kamar itu sekali lagi Dan tatapannya berhenti
di tempat tidur.
Sudah lama dia tidak pernah menggeledah
kasur lagi. Sejak beberapa kali tidak
menemukan apa-apa di sana.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Terus terang Pak Handoyo agak malas


membongkar kasur. Dia alergi terhadap kapuk.
Mengendus bau kapuk saja dia sudah sepuluh
kali bersin. Tapi malam ini sikap Maria amat
mencurigakan.
Anak itu memang pendiam. Pemurung. Sering
melamun. Tapi naluri Pak Handoyo sebagai
seorang ayah membisikkan sesuatu yang lain.
Ada rahasia di mata gadis itu. Maria pasti
menyembunyikan sesuatu!
Tanpa disangka-sangka, Pak Handoyo berbalik.
Dan melangkah kembali ke dalam kamar. Dia
langsung menuju ke tempat tidur.
Lalu sebelum Maria sempat mencegah, ayahnya
telah mengangkat kasur itu.... Dan bikini yang
belum sempat disembunyikannya teronggok di
sana!
Terbelalak mata Pak Handoyo. Dia sampai tidak
jadi bersin walaupun hidungnya sudah gatal.
Direnggutnya benda berwarna hijau itu dengan
ganas. Lalu dengan kemarahan berkobar, dia
berpaling pada Maria.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Gadis itu menatapnya dengan mata terbeliak


ketakutan. Tangannya menutupi mulutnya,
seakan-akan mencegah keluarnya jeritan yang
sudah berulang-ulang bergema di dadanya.
"Apa ini?!!" geram Pak Handoyo sengit.
Dilemparkannya bikini itu ke muka Maria.
"Kurang ajar! Baru setengah tahun sekolah,
sudah berani membuat malu Ayah!"
Seperti alap-alap terluka, Pak Handoyo
menyambar bikini itu. Mengoyak-ngoyaknya
dengan geram. Dan belum puas melampiaskan
amarahnya,
diseretnya Maria ke tempat tidur. Ditamparnya
pipinya berulang-ulang.
Seakan-akan belum puas juga, Pak Handoyo
menyulut bikini itu dengan korek apinya.
Mengambil sebatang sapu. Dan memukuli
pantat Maria. Gadis itu cuma dapat merintih
sambil menangis di tempat tidur.
"Tidak usah sekolah lagi!" bentak Pak Handoyo
gusar. "Buat apa sekolah kalau dirimu jadi rusak

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

begini?!" Ditendangnya meja tulis Maria sampai


terbalik. Dibantingnya tasnya. Dihancurkannya
semua isinya. Dan dirobek-robeknya bukubukunya.
Belum puas juga, ditendangnya kursi yang
menghalangi jalannya. Dan dia keluar sambil
membanting pintu.
Lama Maria masih terisak-isak seorang diri di
tempat tidur. Seluruh tubuhnya terasa sakit.
Mukanya. Badannya. Kakinya...
Dilayangkannya tatapannya ke seluruh kamar
yang berantakan. Kursi dan meja terbalik.
Potongan kertas-kertas bertebaran di lantai.
Cabikan-cabikan kain yang sebagian besar sudah
menjadi abu berserakan di sana-sini. Tetapi
Maria paling terpukul melihat buku-buku
pelajarannya yang terkoyak-koyak menjadi
serpihan-serpihan kecil yang tidak berguna....
Maria menjatuhkan dirinya ke lantai.
Memunguti serpihan-serpihan buku itu. Lalu
menangis tersedu-sedu.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika Maria menengadah, Tuhan Yesus masih


memandangnya dengan lembut. Dengan penuh
Pengertian. Penuh kasih sayang...
Tak tahan lagi Maria membuang dirinya ke
depan meja sembahyangnya. Satu-satunya
benda di kamar
itu yang tidak disentuh Ayah. Tidak diobrakabrik dan diporak-porandakan.
"O. Yesus!" pekik Maria sambil menangis
tersedu-sedu. "Saya tidak tahan lagi! Ambillah
saya! SaYa ingin berada bersama-Mu, di tempat
yang tiada lagi penderitaan, kekerasan,
kerusakan!"
Tapi malam itu Tuhan tidak datang mengambil
Maria. Tuhan hanYa datang menghibur dalam
mimpi gadis Maria yang tertidur di depan meja
sembahyangnya karena keletihan dan
kesedihan.

***

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Itu hadiah ulang tahun dari kami, Suster!"


protes Nurul dan teman-temannya marah.
Sekarang mereka tahu mengapa hari ini Maria
tidak masuk sekolah. Mula-mula mereka kira
karena kejadian di kolam renang itu. Karena
Guntur marah. Atau karena Maria sedih Guntur
tidak mengantarkannya pulang.
Tapi pagi ini Pak Handoyo datang ke kantor
Kepala Sekolah. Dan Suster Cecilia cukup
bijaksana dengan menanyakan terlebih dahulu
asal mula bikini itu kepada teman-teman Maria.
"Maria tidak pernah memintanya!" desis Tina
sengit. "Dia malah tidak tahu namanya! Kami
yang memberikannya!"
"Dan Maria tidak pernah memakainya, Suster!"
sambung Elita panas. "Dia bilang Suster
melarang gadis-gadis memakai baju yang terlalu
terbuka. Dosa, katanya!"
Ada keharuan menyelinap kE hati Suster Cecilia.
Matanya langsung berkaca-kaca. Dia dapat
mem-

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

bayangkan apa yang telah dialami gadis itu


semalam. Padahal dia tidak bersalah!
Melihat sikap Suster Cecilia, kegaduhan di kelas
Maria mereda dengan sendirinya. Mereka
terdiam. Terhenyak mengamati Suster Cecilia
yang tegak mematung dengan wajah muram.
"Mengapa ayah Maria seperti itu, Suster?"
tanya Elita dengan suara basah. "Maria gadis
yang baik. Mengapa dia tidak boleh menjadi
gadis yang normal? Mengapa dia tidak boleh
mengecap kebebasan dan kegembiraan masa
remaja seperti kami?"
"Tidak semua yang menggembirakan itu dosa
kan, Suster?" desak Nurul penasaran. "Mengapa
Maria mesti selalu dikungkung dan dikekang?"
"Dia berbeda dengan kalian," sahut Suster
Cecilia lambat-lambat.
"Tapi dia sama seperti kami, Suster!" bantah
Tina bersemangat. "Suster yang bilang, dia juga
punya hati, punya perasaan seperti kami!
Karena itu kami tidak boleh mengganggunya!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau begitu, mengapa kalian masih


mengganggunya dengan bikini itu?"
"Kami tidak punya niat mengganggu, Suster!"
serempak seluruh kelas menyahut. "Kami hanya
ingin membuatnya gembira! Kami ingin
mengajarinya berenang! Dan kami ingin
melihatnya cantik dengan bikini itu! Salahkah
kami, Suster?"
"Kami hanya ingin supaya Maria tidak merasa
minder lagi, Suster! Kami mengajaknya ikut
dalam semua kegiatan kami!"
"Dan mengenakan baju yang sama seperti kami!
Supaya dia tidak tampak seperti orang aneh!"
"Saya mengerti maksud kalian," sahut Suster
Cecilia sabar. "Maksud kalian mungkin baik. Tapi
caranya keliru. Sejak kecil Maria telah dididik
dan ditempa untuk menjadi seorang biarawati.
Cara kalian memperlakukan dia justru
menjerumuskannya ke dalam konflik-konflik.
Konflik dengan jiwanya sendiri. Maupun dengan
ayahnya."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami hanya ingin menolongnya, Suster," sahut


Elita sedih. "Kata Suster dulu, tidak ada wanita
yang dilahirkan untuk menjadi biarawati,
bukan? Kita semua diberi kehendak bebas oleh
Tuhan. Kitalah yang harus menentukan jalan
hidup kita sendiri. Kita pula yang harus memilih
dengan cara apa kita akan mengabdi kepada
Tuhan!"
"Kamu benar, Elita," sahut Suster Cecilia lunak.
"Tapi apakah kamu sudah pernah menanyakan
kehendak Maria sendiri?"
Elita menggelengkan kepalanya. Temantemannya juga.
"Saya sudah," sambung Suster Cecilia tenang.
"Maria sendiri menginginkan jadi biarawati."
Sengaja Suster Cecilia berhenti sebentar.
Memberi kesempatan pada gadis-gadis itu
untuk saling pandang.
"Tapi dia juga masih kepingin sekolah, Suster!"
cetus Nike tiba-tiba. "Maria gadis yang cerdas.
Sayang kalau tidak sekolah!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dan yolleynya jago, Suster!" sambung Tina.


"Maria gemar sekali main volley!"
"Dia boleh sekolah lagi kan, Suster?" tanya
Endang harap-harap cemas.
"Saya akan berusaha melunakkan hati
ayahnya," sahut Suster Cecilia mantap. "Tapi
kalau Maria sekolah lagi, maukah kalian berjanji
akan mem bantunya untuk mencapai citacitanya?"
Gadis-gadis itu saling pandang sebelum
perlahan-lahan menganggukkan kepala mereka.

***

"Bikini itu hadiah ulang tahun dari temantemannya." Sepanjang perjalanan pulang hanya
kata-kata Suster Cecilia yang tegas itu yang
berdengung di kepala Pak Handoyo. "Maria
tidak pernah memintanya. Dan dia tidak pernah
memakainya!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Ada segurat penyesalan menggores hati Pak


Handoyo. Dia telah terburu nafsu menghukum
Maria. Padahal dia tidak bersalah. Kasihan.
Bergegas Pak Handoyo melangkah pulang. Dia
harus menemui Maria. Tentu saja dia tidak akan
meminta maaf. Tidak pernah dilakukannya
selama ini. Tapi dari sikapnya saja, pasti Maria
tahu ayahnya telah memaafkannya.
Pak Handoyo tidak pernah bersikap manis.
Memanjakan anak hanya akan membuat gadis
itu menjadi liar. Jadi Pak Handoyo cuma akan
menegur Maria. Dengan suara yang biasa-biasa
saja. Tidak marah. Tapi juga tidak lembut.
Dia akan memberi Maria uang. Dan
menyuruhnya mencari buku-buku pelajaran
untuk sekolah esok pagi.
Tetapi sesampainya di rumah, Pak Handoyo
tercengang. Maria tidak ada di sana. Padahal
biasanya anak itu tidak pernah ke mana-mana!
Amarahnya timbul kembali. Ke mana Maria? Ke
rumah salah seorang temannya?

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Dengan jengkel Pak Handoyo kembali ke


sekolah. Dan Suster Cecilia terpaksa minta pada
muridmuridnya untuk melaporkan padanya kalau
sepulangnya dari sekolah nanti, mereka
menemui Maria di rumah.
"Kalau Maria ke rumahku, aku nggak mau
lapor," gerutu Tina kesal. "Biar saja bokap yang
sinting itu kelabakan!"
"Kalau Maria minta suaka ke rumahku, tidak
akan kuizinkan dia pulang!" sambung Elita
mantap. "Ibuku sudah tahu kok. Aku sering
cerita tentang Maria."
"Tapi abangmu banyak!" goda Nurul. "Bisa gagal
dia jadi biarawati!"
"Masa bodoh! Aku juga terus terang lebih
senang kalau dia nggak usah jadi biarawati!"
Tetapi sampai jauh malam Maria tidak dapat
ditemukan. Dia tidak ada di rumah temantemannya. Esok paginya, teman-temannya
menjadi gempar.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan-jangan diculik si Guntur!" cetus Nurul


cemas.
"Ah, masa dia begitu berani!" bantah Rena.
"Nanti aku cari di rumahnya!"
Tapi di rumah Guntur pun Maria tidak ada.
"Dia nggak tahu rumahku!" sahut Guntur
mantap. "Sudah dicari di rumah sakit?"
Sepanjang sore itu teman-teman Maria
beramai-ramai mencarinya. Mereka pergi ke
tempat-tempat yang mungkin didatangi Maria.
Tetapi gadis itu tetap tidak ditemukan. Padahal
sepanjang hari hujan turun cukup lebat. Dan
bertambah deras dengan bertambah larutnya
malam.
Pak Handoyo sedang berdoa di depan altar
kecilnya ketika pintu rumahnya diketuk orang.
Bergegas dia membuka pintu. Dan melihat Bu
Harti
basah kuyup meskipun ada payung terkembang
di tangannya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Maria sudah ditemukan, Pak," kata Bu Harti


sebelum Pak Handoyo sempat membuka mulut.
"Sekarang dia ada di rumah sakit. Radang paruparu, kata dokter."

***

"Maria ditemukan terkapar di belakang biara di


samping sekolah," kata Bu Harti yang menemani
Pak Handoyo ke rumah sakit. "Mungkin sudah
dua hari dia di sana. Kelaparan, kedinginan, dan
kehujanan menambah parah batuknya. Kata
teman-temannya dia memang pilek sejak hari
Senin."
Aku malah tidak tahu, keluh Pak Handoyo dalam
hati. Anak itu tidak pernah menceritakan
penyakitnya. Tapi mau apa dia bersembunyi di
belakang biara?
"Saya dan teman-temannya membawa Maria
pulang. Dan memanggil dokter. Maaf, kami

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mendahului Bapak. Tapi dokter menyuruh kami


langsung membawanya ke rumah sakit."
"Dia tidak apa-apa?" tanya Pak Handoyo kaku.
"Batuk-batuk hebat. Dan sesak napas. Badannya
panas tinggi, sampai menggigil."
Tetapi ketika ayahnya datang, Maria sudah
dapat menyapa meskipun hidungnya masih
dihubungkan dengan pipa oksigen. Kepalanya
pun masih dikompres es.
Teman-teman Maria sebagian besar sudah
pulang. Tinggal Guntur dan Elita yang masih
berjaga. Tetapi begitu Pak Handoyo datang,
Elita menyuruh Guntur lekas-lekas keluar. Dia
sendiri langsung
menyelinap pergi begitu ayah Maria duduk di
dekat pembaringan anaknya.
"Antar aku pulang, Tur," kata Elita sesampainya
mereka di luar. "Sudah malam nih."
"Lho, kok kamu keluar juga?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah, sebel! Tampangnya sepet banget! Alergi


gua dekat-dekat orang kayak gitu."
"Gurumu gimana dong? Masa kita tinggal aja?
Ntar digarap orang!"
"Katanya Bu Harti bisa pulang sendiri."
"Kalau begitu cabut aja yuk!"
"Kamu nggak marah sama Maria, Tur?"
"Ah, sama anak kayak begitu gimana bisa marah
sih?"
"Kamu betul-betul naksir dia, Tur?" "Kepingin
juga sih cobain. Tapi window shopping dulu,
ah!"
"Jangan begitu, Tur! Dia kan lain! Hatinya belum
ada solderannya!"
"Justru karena dia masih inrijden aku jadi
penasaran kepingin ngetes. Kalau cakepnya sih
nggak seberapa! Sudah kuper, bokapnya maut
lagi!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau kamu nggak serius, mendingan jangan


deh, Tur! Kasihan dia. Masa sih kamu tega
mempermainkan gadis seperti Maria?"
"Lho, belum tentu mau dijadikan mainan kok!"
"Cari cewek lain aja deh, Tur. Yang tahan
bantingan!"
"Nggak deh, nggak dibanting-banting!" gurau
Guntur. "Cuma dibalik-balik. Pelan-pelan aja."
"Serius nih, Tur. Dia kan orang. Bukan
martabak!"
"Eh, siapa bilang sih aku main-main? Apa
tampangku kayak badut?"
"Bukan badut! Bajul! Makanya aku jadi curiga!"
Guntur tertawa lebar. "Heran, kamu sekarang
jadi budiman sosiawan dermawan! Ketitisan
dewa apa sih?" Disulutnya sebatang rokok.
Dihembuskannya asapnya dengan nikmat. Tidak
peduli Elita ikut menghisap karbon
monoksidanya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Masih juga ngisap rokok!" gerutu Elita sambil


mengibaskan asap yang menyerbu hidungnya.
"Nggak tahu ya, perokok punya kemungkinan
untuk menderita kanker paru 23,7 kali lebih
besar daripada orang yang tidak merokok!"
"Ah, tetanggaku tidak merokok, tapi dia mati
juga ketabrak mobil," kilah Guntur tenangtenang.
"Tapi aku nggak mau ikut-ikutan mengisap asap
rokokmu! Itu namanya kamu membagi
penyakitmu kepadaku!"
"Tiap hari kamu nyedot asap bus! Apa bukan
racun tuh? Pakai masker deh mulai besok! Biar
kamu dikira makhluk dari bulan!"
"Kalian belum pulang?" tegur Bu Harti yang
tahu-tahu sudah berada di belakang mereka.
"Belum, Bu," sahut Elita cepat. "Biar Guntur
yang antar Ibu pulang, ya? Sudah malam."
Celaka, gerutu Guntur dalam hati. Cari penyakit
ni anak!
"Kamu sendiri?" Bu Harti balik bertanya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya pulang juga dong, Bu! Masa nginap di sini?"


"Kalau begitu antar kamu dulu, ya? Nanti ibumu
menunggu-nunggu di rumah. Sudah malam,
kan? Biar Ibu belakangan."
"Kita lihat saja yang mana yang lebih dekat deh,
Bu," sela Guntur tidak sabar. Dibuangnya
puntung rokoknya begitu saja ke lantai.
Diinjaknya dengan Sepatunya.
"Dasar nggak berbudaya!" gerutu Elita "Ada
tempat sampah juga percuma!"
"Ah, cerewet! Rumah sakit ini bukan punya
kamu kok!"
"Elita benar," menimpali Bu Harti. "Sebagai
pelajar yang baik, seharusnya kamu memberi
contoh yang baik pula. Memang kelihatannya
sepele, tapi merupakan kebiasaan yang baik
kalau kamu membiasakan diri menjaga
kebersihan lingkungan."
Hhh, bawel, gerutu Guntur dalam hati. Mau
nebeng aja udah banyak tingkah, apalagi kalau
aku yang numpang!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Maria bagaimana. Bu?" tanya Elita di dalam


mobil.
"Keadaannya sudah lebih baik. Tapi dia masih
harus dirawat."

***

Selama Maria dirawat, teman-temannya


bergantian menjenguk. Cuma Guntur yang tidak
dapat bebas berkunjung. Soalnya ayah Maria
selalu mengawasi semua teman anaknya.
"Pakai rok saja deh, Tur," gurau Nurul geli. "Biar
boleh masuk!"
"Atau pakai baju putih, Tur!" sambung Endang
tak mau kalah. "Biar dikira perawat!"
"Sialan," gerutu Guntur yang masih menunggu
di depan deretan kamar-kamar pasien lain. Dia
sudah datang sejak tadi. Tapi tidak bisa masuk.
Ayah Maria masih berada di dalam terus.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sementara teman-teman putrinya seenaknya


saja melenggang masuk.
"Lekas sembuh ya, Mar," bisik Elita di sisi
tempat tidur Maria. "Biar bisa cepat sekolah
lagi."
"Kami sudah bergantian menyalinkan catatan
untukmu, Mar," sambung Tina. "Juga catatanmu
yang dulu dirobek ayahmu."
Maria menatap teman-temannya dengan
terharu.
"Suster Cecilia dan guru-guru kita juga akan
kemari, Mar," kata Nike tak mau kalah.
"Sebentar lagi juga mereka datang."
"Terima kasih," sahut Maria lemah.
"Guntur juga ada di depan, Mar," bisik Nurul
sambil melirik Pak Handoyo. "Dia nggak bisa
masuk! Habis ayahmu di situ terus!"
Ada senyum membayang di bibir Maria yang
pucat. Teman-temannya jadi tambah
bersemangat. Peduli apa pemuda itu brengsek

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

kalau kehadirannya justru dapat membuat


Maria bahagia?!
"Nanti habis jam berkunjung dia pasti kemari,"
bisik Tina bersemangat.
Nike menoleh dengan heran. Tapi baru saja
mulutnya terbuka untuk membantah, Tina telah
menginjak kakinya. Dan Nike tidak jadi menjerit
ketika masuk seorang dokter muda bersama
perawatnya.
"Bagaimana, Maria?" sapa dokter itu ramah. Dia
memegang nadi Maria. Meletakkan tangannya
di dahi gadis itu. Dan menempelkan
stetoskopnya di dada pasiennya. "Merasa lebih
enak?"
Maria cuma mengangguk.
"Bagus. Keadaanmu sudah jauh lebih baik. Nanti
makannya agak banyak, ya. Biar tidak usah
diinfus lagi."
"Terima kasih, Dokter," bisik Maria lemah.
Dokter muda itu tersenyum ke arah Maria. Lalu

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Mengangguk kepada teman-temannya dan


berjalan
ke luar diiringi perawatnya. Begitu tubuhnya
hilang dari pandangan, teman-teman Maria
langsung ribut.
"Buset! Dokternya cakep banget! Betah deh
Maria di sini!"
"Masih preman nggak, ya?"
"Biar sudah pesanan orang, aku masih mau
kasih persekot!"
"Huu, kalau aku sih lebih baik dapat yang
mukanya tambal sulam, tapi masih tangan
pertama!"
"Ala, apa susahnya sih bayar BBN biar dia sudah
jadi milik orang lain juga?" "Apa sih BBN?" "Bea
Balik Nama!" "Ih! Memangnya mobil!"
Mereka tertawa geli. Membuat Maria ikut
merasakan kehangatan dan keriangan temantemannya kembali.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Alangkah bahagianya dapat berada di tengahtengah mereka lagi. Belajar bersama. Berdoa
bersama. Bertanding bersama. Bergurau
sepanjang hari.
Tetapi begitu tatapannya terbentur pada
ayahnya yang sedang termenung di depan
pintu, kegembiraan Maria langsung surut
kembali.
Ayah tidak suka tingkah bebas temantemannya. Tidak suka mendengar tawa mereka.
Gurau mereka. Padahal bukankah dunia remaja
itu dunia yang penuh canda? Tidak pernah
mudakah Ayah? Mengapa dia selalu murung?
"Apa yang kamu cari di belakang biara?" geram
Ayah sengit ketika mereka pertama kali
bertemu malam itu.
"Anak liar! Meninggalkan rumah untuk
berkeliaran di luar! Seperti gelandangan saja!"
Itulah kata-kata ayahnya yang pertama. Bukan
kata-kata yang bernada kuatir. Bukan
menanyakan penyakitnya lebih dulu. Kalau saja

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dia tidak sedang sakit separah ini, Maria yakin,


Ayah pasti sudah memukulnya lagi.
Tidak tahukah Ayah apa yang dicarinya di
belakang biara itu? Dia mencari Tuhan! Mencari
kedamaian. Ketenangan...
Bukankah Ayah selalu mengatakan di sanalah
tempat yang paling damai? Tapi biarawati itu
malah menyuruhnya pulang. Padahal Maria
sudah bertekad untuk tinggal di sana saja.
"Kamu masih terlalu muda," kata biarawati yang
menemuinya siang itu. "Datanglah lagi jika
pilihanmu telah mantap. Kami pasti
menerimamu di sini. Tapi pikirkanlah dulu
sebaik-baiknya. Biara bukan tempat pelarian."
Maria memang pergi dari sana. Tapi dia tidak
pulang. Dia menyelinap ke belakang. Dan tinggal
di sana.
Tidak makan. Tidak minum. Tidur beratapkan
langit. Hanya mendengarkan dentang lonceng
gereja. Dan kidung-kidung rohani yang
mengalun syahdu.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Lalu ketika Maria sudah berada antara sadar


dan tidak, ketika pintu surga terasa sudah
begitu dekat, ada orang yang menemukannya.
Dia dibawa kembali ke dalam biara. Kali ini
Suster Cecilia ada di sana.
Baru saja kentongan berbunyi, teman-teman
Maria langsung beranjak ke luar. Waktu
berkunjung telah habis.
"Biar si Tua lekas pergi," bisik Nurul. "Dan
Guntur masih sempat masuk."
"Pulang, Oom!" cetus Endang ketika dilihatnya
Pak Handoyo masih termenung di pintu. "Waktu
sudah habis!"
Tanpa menoleh kepada Endang, Pak Handoyo
menghampiri ranjang anaknya.
"Cepat sembuh," katanya dengan suara datar.
"Biar bisa cepat sekolah lagi."
Maria cuma mengangguk. Ya, mau bicara apa
lagi? Ayahnya masih tetap mengatur. Entah
sampai kapan. Dan... masih tetap tanpa emosi.
Atau... dia cuma tidak ingin menunjukkannya...?

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah menengok-nengok sekali lagi,


barangkali ingin melihat kalau-kalau dokter
yang tampan itu datang lagi, baru Pak Handoyo
mengikuti arus para pengunjung yang sedang
berbondong-bondong keluar. Tepat saat itu,
Guntur cepat-cepat menyelinap ke dalam
kamar.
Maria yang sudah memejamkan matanya
membelalak kaget ketika Guntur menegurnya.
Lebih-lebih ketika melihat pemuda itu sudah
berada di sisi tempat tidurnya.
Kebetulan teman-teman sekamar Maria tidak
mempedulikan kehadirannya. Yang seorang
sedang tidur. Karena tidak ada seorang pun
yang mengunjunginya waktu jam berkunjung
tadi.
Yang seorang lagi sedang asyik membaca
majalah. Dia memang tidak henti-hentinya
membaca majalah, sampai ditegur perawat.
Dan yang ketiga memang sedang menganggur.
Dia melirik Guntur ketika pemuda itu masuk.
Tapi pura-pura membalikkan badannya ke

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dinding waktu Guntur menghampiri ranjang


Maria.
Memang repot sekamar dengan remaja. Waktu
jam berkunjung, ributnya bukan main, seolaholah sekolah mereka pindah ke sini.
Gadis-gadis itu berceloteh begitu bebasnya
seakan-akan mereka berada di halaman
sekolah, bukan di rumah sakit. Selesai jam
berkunjung masih ada pula seorang pemuda
yang menyelinap masuk! Hhh.
"Mar," kata Guntur cepat-cepat, "lekas sembuh,
ya. Ini kubawakan buku-buku novel untukmu.
Ceritanya bagus-bagus. Baca deh kalau lagi
nganggur! Asal jangan ketagihan saja, ya!"
"Terima kasih," bisik Maria terharu. Ada senyum
membayang di bibirnya. "Kamu tidak marah lagi
pada saya?"
"Marah? Ah, siapa bilang aku marah?" "Kamu
kesal karena saya tidak jadi berenang, kan?"
"Cuma kecewa." "Saya tidak bisa..."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku mengerti," potong Guntur. "Sudahlah,


jangan pikirkan apa-apa lagi. Kalau kamu
sembuh nanti, kita jalan-jalan saja. Kamu boleh
pakai jubah, dari leher sampai ke kaki pun aku
tidak peduli. Pokoknya kita pergi berdua!"
Seorang perawat masuk ke kamar sebelah.
Menengok kalau-kalau masih ada pengunjung
yang belum pulang dan perlu sedikit diusir.
Lekas-lekas Guntur menyelinap ke bawah
ranjang. Teman sekamar Maria yang sedang
membaca
majalah itu meliriknya dengan curiga. Tapi dia
tidak berkata apa-apa. Cuma mengangkat bahu.
Sedetik kemudian seorang perawat melongok di
ambang pintu. Ketika dilihatnya kamar itu
kosong, dia pergi lagi. Dan Guntur merayap
keluar dari bawah tempat tidur.
Tidak sengaja kaki Guntur menyenggol pispot.
Dan benda itu terpelanting dengan menerbitkan
suara berisik. Untung tidak ada isinya. Soalnya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

tutupnya sudah terpental ke bawah ranjang


yang lain.
Pasien yang sedang tidur itu tersentak bangun.
Tapi yang sedang membaca majalah cuma
mendengus kesal. Yang tertawa geli justru
perempuan yang sedang pura-pura membalik
ke dinding itu.
"Lebih baik kamu cepat keluar," katanya sambil
tersenyum-senyum. "Sebentar lagi suster
cerewet itu pasti kembali ke sini!"
"Ah, biar saja," sahut Guntur santai. "Palingpaling dimarahi!"
Tapi ketika perawat itu benar-benar kembali,
Maria-lah yang menyuruh Guntur pergi.
"Kalau tidak ketahuan, besok kamu masih bisa
kemari lagi," katanya cemas.
"Aku pasti kemari lagi," sahut Guntur tegas.
"Sampai besok!" Dia mengedipkan sebelah
matanya sambil tersenyum sebelum melompat
ke kebun melalui jendela.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Perawat yang masuk sedetik kemudian hanya


sempat menangkap bayangan orang di kebun.
Tapi tidak menduga dari sinilah orang itu
berasal. Sambil menggerutu dia memungut
pispot itu, mencari tutupnya, dan membawanya
ke kamar mandi.
Maria menghela napas lega. Dan memejamkan
matanya untuk berdoa. Ya, Tuhan! Mudahmudahan Guntur dapat lolos dengan selamat!
Supaya dia bisa datang kemari lagi esok... dan
Maria tertegun. Mukanya terasa panas.
Bolehkah mengharapkan pemuda itu datang
kembali? Untuk apa? Dia sendiri juga tidak tahu.
Dia menyenangi pemuda itu. Barangkali karena
Guntur adalah lambang kebebasan bagi hidup
Maria yang penuh larangan dan kungkungan.
Dinamika dan romantika kehidupan remaja
Guntur yang bebas dan ceria merupakan
dongeng muluk yang hampir tidak mungkin
diraih oleh Maria. Tetapi yang sekaligus selalu
menggoda rasa ingin tahunya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

***

"Besok Maria pulang," kata Guntur sambil


berjalan cepat-cepat memasuki gerbang rumah
sakit. "Itu berarti mulai besok dia masuk penjara
lagi."
"Habis mau apa?" tanya Elita. "Mau kamu
culik?"
"Dia sudah cukup kuat. Aku ingin mengajaknya
jalan-jalan."
Nurul dan Tina bersorak serempak.
"Bagaimana caranya, Tur? Mau kamu bius
semua orang di rumah sakit ini?"
"Kalian mau membantu, kan?" desak Guntur
serius. Begitu seriusnya dia sampai Elita dan
teman-temannya saling pandang dengan
tegang.
"Mau kamu bawa ke mana dia?" tanya Elita
curiga.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pokoknya dia pasti senang."


"Kamu janji akan mengembalikan dia dengan
utuh?"
"Siip! Keringatnya yang menetes pun akan
kutampung dan kukembalikan pada kalian!"
"Serius nih. Tur! Kami tidak mau kamu merusak
dia!"
"Eh, apa aku ada tampang kapal perusak?"
"Ah, sudah dah!" potong Nurul tak sabar.
"Rusak nggak rusak, pokoknya dia senang!
Batinnya tertekan tuh! Bokapnya sih sadis!"
"Aku juga mau bikin dia senang," sanggah Elita
tegas. "Sekali-sekali dia rileks di luar, lepas dari
pingitan bokapnya. Tapi aku mau dia tetap
Maria kita yang bersih!"
"Kamu mesti janji nggak akan merusaknya, Tur,"
sambung Tina bersemangat. "Baru kami mau
membantumu!"
"Oke, oke! Apa aku mesti teken kontrak? Atau
mesti bersumpah?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau kamu berani mengganggu dia, kami akan


mengganyangmu beramai-ramai!"
"Buset!" Guntur pura-pura mengurut dada.
"Nggak ada bapaknya, malaikat pelindungnya
sekompi!"
"Tapi bagaimana caranya kita meloloskan
Maria?"
"Gampang. Teman sekamarnya kan sekarang
tinggal satu?!"
"Satu juga orang, Tur! Punya mulut komplit satu
set!"
"Kamu ajak dia ngobrol, Rul."
"Uaaah... bisa karatan mulutku, Tur! Dia
cerewetnya seperti petasan injak! Lagi pula
sampai kapan aku mesti ngomong sama dia?"
"Cukup sampai Maria sempat bertukar pakaian
dengan Tina!"
"Hah?!" belalak Tina kaget. "Tukar pakaian
dengan aku?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu mesti pura-pura jadi pasien sampai


Maria pulang!"
"Walah! Aku paling takut disuntik, Tur!"
"Suster-suster sudah tahu kisahnya Maria!
Mereka pasti simpati pada kita! Dan kamu
dibebaskan dari hukuman suntik, Tin!"
"Waduh, aku takut, Tur! Cari sukarelawan lain
saja deh!"
"Ala, takut apa sih? Dokternya cakep, susternya
manis-manis. Kamu cuma perlu tidur terus
sampai Maria pulang!"
"Tapi..."
"Soalnya badanmu yang paling cocok dengan
badan Maria! Rambutmu pun lumayan
panjangnya. Kalau kamu berkerubung selimut
dari leher sampai ke kaki, nggak ada yang tahu
deh! Taruhan!"
"Mau kamu bawa ke mana Maria?" desak Elita
curiga.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pokoknya akan kujadikan hari ini hari yang


tidak terlupakan untuk Maria!"
"Untukku juga!" keluh Tina mengkal. "Aku
belum pernah masuk rumah sakit!"
"Bagaimana kalau bokapnya tahu?" cetus Elita
ragu.
"Ah, dia nggak bakal tahu! Kami sudah kembali
sebelum waktu berkunjung nanti malam! Kalau
si Tua keburu datang, kamu sembunyi saja di
WC, Tin!"
"Ampun! Aku mimpi apa sih tadi malam?"

***

Mula-mula tentu saja Maria terkejut. Dan


spontan menolak usul teman-temannya.
Kabur dari rumah sakit? Ya, Tuhan! Tak pernah
terpikirkan olehnya! Tapi... berjalan-jalan
dengan Guntur... barangkali bisa menyingkirkan
beban berat yang menindih dadanya....

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jiwamu tertekan," kata Nurul dengan gaya


seorang psikolog. "Kamu perlu pelepasan."
"Kalau tidak, kamu bisa sakit!" sambung Elita
pula. "Bukan sakit badan, tapi sakit jiwa!"
Cuma Tina yang diam saja. Dalam hati dia sudah
seratus kali berdoa mudah-mudahan Maria
tetap tidak mau!
Berbaring seperti pasien di ranjang itu... Brrr!
Jangan-jangan ada bekas darah di kasurnya....
Lebih celaka lagi... kalau ranjang ini bekas orang
mati! Aduh, dia paling takut setan! Paling ngeri
melihat darah!
"Guntur sedang menunggumu di luar," bujuk
Nurul separuh mengancam. "Kalau kamu tidak
mau keluar juga, dia yang akan menerobos
masuk!"
"Oh, jangan!" pekik Maria tertahan. Matanya
berkeliaran dengan paniknya. Mencuri-curi lihat
ke arah ayahnya yang masih duduk di dekat
pintu seperti seorang sipir penjara. Wajahnya
angker. Tatapannya bengis.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia tidak takut lagi pada ayahmu. Katanya hari


ini toh sudah hari terakhir kamu di sini."
"Jangan... ayah akan marah sekali...."
"Kamu mau keluar?"
"Saya takut...."
"Tidak ada yang perlu ditakuti. Tina akan
menggantikanmu di sini sampai nanti sore.
Sebelum ayahmu datang, kalian sudah pulang."
"Dan perawat-perawat di sini?"
"Oh, itu urusan Tina!"
Sialan, maki Tina dalam hati. Bagaimana kalau
ada seorang di antara mereka yang tidak mau
bekerja sama? Memangnya aku punya apa?
"Mulai besok, kamu pasti dipingit lagi, Mar,"
bujuk Nurul bersemangat. "Ayahmu pasti
meningkatkan pengawasannya dua kali lebih
keras! Jangan-jangan sekolahmu pun diantarjemput!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Guntur mau mengajakmu nonton, Mar,"


sambung Elita. "Kamu belum pernah nonton
bioskop, kan?"
Maria menggeleng bingung.
"Kalian bisa menonton pertunjukan yang siang.
Sore sebelum ayahmu datang, kamu sudah
kembali ke sini."
"Barangkali ini kesempatanmu yang terakhir
untuk pergi dengan Guntur, Mar," bujuk Nurul
lagi.
"Tapi ingat, Mar, lelaki tetap lelaki," potong Elita
tegas. "Mereka selalu mencari kesempatan.
Ingat, kamu cuma mau diajak ke tempat-tempat
yang ramai. Yang banyak orang. Rumah makan.
Bioskop. Toko. Kalau dibawa ke tempat sepi,
kamu mesti menolak. Kalau dia memaksa, kamu
harus teriak-teriak."
Nurul menginjak kaki Elita dengan gemas.
"Lho, kok malah nakut-nakutin gitu sih?!"
"Aku belum percaya seratus persen pada si
Guntur! Tangannya saja seperti Octopussy!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kenapa kamu dorong-dorong Maria dong kalau


begitu?"
"Supaya dia senang! Siapa tahu dia nggak punya
kesempatan seperti ini lagi? Sia-sia dong masa
remajanya! Masa nonton saja nggak pernah?!"
Dan bunyi kentongan menyentakkan mereka
semua. Waktu telah habis. Ayah Maria bangkit
dan masuk ke dalam kamar, menghampiri
ranjang putrinya.
"Ayah pulang dulu," katanya dengan suara
datar. Tanpa menoleh kepada teman-teman
putrinya dia langsung keluar.
Nurul harus menahan diri agar tidak
menjulurkan lidahnya di belakang punggung
laki-laki itu. Semata-mata untuk menghormati
Maria.
"Ayo, Mar! Cepat!" Tanpa menunggu sampai
ayah Maria cukup jauh dari tempat itu, Elita
menarik tangan Maria. "Kamu sudah cukup
kuat, kan? Ayo, lekas ganti bajumu!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"El, aku WO saja deh," bisik Tina yang sedang


didorong-dorong teman-temannya ke kamar
mandi. "Aku takut nih!"
"Ala, cepat ganti bajumu!"
Tanpa menghiraukan protes-protes Maria
maupun Tina, Elita mendorong mereka ke
kamar mandi. Dan menutup pintunya. Di sudut
ruangan, Nurul sedang asyik mengobrol dengan
teman sekamar Maria.
"Sudah punya anak, Tante?"
"Sudah punya cucu," sahut perempuan itu
sambil mengerutkan dahi. Heran. Biasanya
anak-anak ini tidak pernah memandang sebelah
mata pun kepadanya. Kok hari ini tanya-tanya
anak segala.
"Aduh!" cetus Nurul kaget. Tentu saja dia hanya
berpura-pura. Tapi si Tante betul-betul terkejut.
"Ada apa?"
"Nggak sangka deh! Tante belum ada tampang
nenek!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Ada senyum melintasi bibir yang kering itu.


Padahal sejak jatuh sakit sebulan yang lalu, dia
tidak pernah lagi tersenyum.
"Bukan cuma kamu yang bilang begitu," katanya
bangga.
"Cucunya berapa sih, Tante?" tanya Nurul lagi
tanpa ingat dia sudah mengajukan pertanyaan
itu atau belum tadi.
Sialan, kenapa jadi seperti petugas sensus
begini? Ke mana sih anak-anak itu? Mengapa
mereka lama sekali? Tukar pakaian saja seperti
merias pengantin!
"Kalian tidak mau pulang?" Si Tante
mengangkat sebelah alisnya dengan heran.
"Sebentar lagi pasti diusir. Di sini streng lho!"
"Teman-teman sedang menemani Maria ke
kamar mandi. Katanya tidak mau buang air kecil
di pispot."
"Oh, Maria sudah sembuh kok! Kemarin sudah
bisa jalan-jalan sama Tante ke luar."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nah, itu dia!" cetus Nurul lega, ketika melihat


teman-temannya keluar dari dalam kamar
mandi. Tapi begitu dia ingat tugasnya, cepatcepat dia mengalihkan lagi perhatian si Tante.
"Pulang ya, Mar," kata Elita sambil mencium
pipi Tina yang sudah berbaring di ranjang.
Berkerudung selimut seperti penderita malaria.
Sengaja dia mengucapkan kata-katanya dengan
suara keras. Supaya didengar si tante.
Tina mengangguk tanpa menjawab. Tetapi
dalam hati, dia sudah seribu kali memaki. Sialan.
Dia belum pernah dicium teman gadisnya.
Kecuali kalau sedang berulang tahun. Dan
panasnya berselubung selimut begini! Hhh!
Sudah panas, pengap lagi! "Pulang dulu ya,
Tante," potong Nurul begitu
Melihat Elita sudah menggandeng Maria ke luar.
Padahal si tante sedang seru-serunya
menceritakan cucunya. Tanpa menunggu
sampai si tante selesai, Nurul langsung
mengejar Elita.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

***

"El, saya takut..." bisik Maria gemetar. Dia


mogok melangkah begitu melihat seorang
perawat mendatangi mereka dari arah depan.
"Ah, acuh aja! Masa sih dia kenali kamu dalam
arus manusia sebanyak ini?"
"Tapi saya takut, El. Tidak jadi saja ya?"
"Aduh, sudah kepalang basah, Mar! Tanggung!"
"Hai!" sapa Guntur begitu melihat Maria.
Wajahnya demikian berseri-seri sampai Elita
jadi curiga dan berbalik kuatir.
"Buset! Sampai nggak kenalin, Mar!" cetus
Guntur kagum. Ditatapnya Maria sampai yang
ditatap menjadi salah tingkah. "Soalnya belum
pernah lihat kamu pakai jeans dan T-shirt
begini!"
"Ah..." desah Maria tersipu-sipu. Wajahnya
merah sampai ke telinga. Debar yang aneh

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mengusik jantungnya. Mengusir ketakutan yang


menggerogoti jantung itu sejak tadi. Sekarang
Elita-lah yang ragu.
"Aku ikut, Tur!" cetusnya tiba-tiba. Dia merasa
bertanggung jawab atas keselamatan Maria.
"Kita naik taksi saja, yuk!"
"Wah, bertiga terlalu banyak, El!" Guntur
menyeringai lebar sambil mengedipkan sebelah
matanya. "Tapi jangan kuatir! Aku bawa oleholeh untukmu!"
Guntur melirik ke tempat parkir motor. Dan
sekarang baru Elita melihat Rusman. Pemuda
itu sedang duduk dengan gagahnya di atas
motornya.
"Kita pergi berempat?" Elita mengangkat
sebelah alisnya. Begitu gayanya kalau dia
sedang curiga.
"Kamu punya ide lain?"
"Jangan coba-coba mengakali aku, Tur!"
"Tentu saja tidak, Godmother! Nah, kita pergi
sekarang atau besok pagi?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tanpa menunggu jawaban Elita, Guntur menarik


tangan Maria. Dan mempersilahkannya naik ke
atas motornya.
Sejenak Maria tampak ragu. Dia mengawasi
motor itu dengan bingung.
"Saya harus duduk di mana?"
"Terserah," sahut Guntur separuh bergurau. "Di
depan boleh, di belakang pun boleh. Tapi kalau
kamu duduk di depan, kita bakaljadi tontonan di
sepanjang jalan!"
"Maksud saya..." desah Maria kemalu-maluan,
"bagaimana saya harus duduk...."
"Biasa. Dengan pantatmu."
"Menyamping begini atau..."
"Lebih baik begitu. Lingkarkan lenganmu di
pinggangku. Peluk erat-erat supaya kamu tidak
jatuh."
"Ah, saya belum pernah naik motor...."
"Sekarang kamu sudah pernah. Dan sebelum
malam tiba, kamu sudah pernah mencicipi

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

semua yang selama ini belum pernah kamu


bayangkan!"
Hati-hati Maria duduk di boncengan motor
Guntur. Begitu hati-hatinya dia seolah-olah
motor itu bisa menggigit.
Sabar, kata Guntur kepada dirinya sendiri.
Salahmu sendiri. Mau pacaran dengan orang
udik. Kuper. Norak. Nah, rasain deh lu! Naik
motor saja repotnya kayak naik onta!
"Sudah siap?" tanya Guntur setelah dia duduk di
atas motornya. Dan setelah empat belas kali
menghela napas panjang.
"Saya harus berpegangan ke mana?" tanya
Maria bingung dan gugup. Keringat dingin
membasahi sekujur tubuh dan wajahnya.
"Tadi kan sudah kubilang, peluk pinggangku."
"Tapi... saya malu...."
"Kalau kamu jatuh terjungkal di jalanan, lebih
malu lagi!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nggak apa-apa, Mar!" seru Elita yang sudah


duduk di boncengan motor Rusman. "Pegang
saja pinggangnya erat-erat! Aku akan
menjagaimu!"
Hm, Guntur tersenyum dalam hati. Lihat saja
nanti, siapa yang perlu dijagai! Dan dia
menggeliat geli ketika jari-jari Maria meraba
pinggangnya.
"Aduh! Jangan gelitiki pinggangku dong!"
Yang terkejut bukan cuma Guntur. Maria sendiri
juga. Dia terlonjak mundur. Hampir jatuh ke
belakang. Lupa sedang duduk di atas motor
yang sempit.
Lekas-lekas Guntur meraihnya. Diambilnya
tangan gadis itu. Diletakkannya di pinggangnya.
Refleks Maria menariknya kembali. Tapi motor
telah melonjak maju. Dan tubuhnya tersentak.
Hampir terhempas ke belakang.
Tidak ada pilihan lain. Terpaksa Maria buruburu merangkul pinggang Guntur. Bukan cuma
lengannya yang mencapit erat seperti kepiting.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tubuhnya pun melekat rapat di punggung


Guntur. Dan dia menggigil ketakutan sambil
memejamkan matanya.
"Lagi ngapain?" tanya Guntur di sela-sela deru
motornya. Dia tahu bukan cuma getaran
motornya
yang membuat tubuh gadis itu berguncangguncang. "Berdoa?"
Tidak ada jawaban. Sekejap Guntur menoleh ke
belakang. Ditatapnya gadis yang sedang
melekat seperti lintah di punggungnya itu
sambil tersenyum geli.
"Buka dong matamu! Kamu kan lagi naik motor,
bukan jetcoaster!"
"Jangan cepat-cepat...," rintih gadis itu. "Saya
takut...."
"Oke, kita merayap seperti siput!"
Sambil mengurangi kecepatan motornya,
Guntur membelai tangan halus yang melekat di
pinggangnya. Dan yang terkejut bukan cuma

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria. Guntur juga. Tangan itu... astaga


dinginnya!
"Waduh!" cetus Guntur kaget. "Tanganmu
dingin seperti es!"
"Ke mana nih, Tur?" teriak Rusman ketika
motornya berhasil merendengi motor Guntur.
"Terserah situ," sahut Guntur seenaknya. "Kita
kan masing-masing punya otonomi sendiri!
Kapan dapat SIM kalau bawa instruktur terus!"
"Ikuti saja terus, Man!" potong Elita. "Aku
belum yakin kok, dia jujur!"
Tetapi tidak mudah mengikuti motor Guntur.
Apalagi di tengah-tengah arus lalu lintas
semacam ini. Dan tampaknya Rusman juga tidak
ingin membuntuti mereka.
Sengaja Rusman melarikan motornya
sedemikian rupa sehingga terhadang lampu
merah sementara motor Guntur berhasil lolos.
Dan dalam beberapa menit saja, mereka sudah
kehilangan jejak.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pulang, Tur." rintih Maria ketakutan. "Sudah


malam."
"Ah, buat apa sih pulang cepat-cepat." Dengan
santai Guntur menggandeng Maria keluar dari
dalam gedung bioskop. "Filmnya bagus, ya?"
Maria cuma mengangguk. Kesenangan yang
diperolehnya sepanjang siang ini langsung buyar
ketika diketahuinya sudah pukul berapa
sekarang. Dia memang tidak punya jam tangan.
Tapi jam dinding di kafetaria sudah
menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat!
Itu berarti waktu berkunjung di rumah sakit
telah berlangsung tiga perempat jam. Dan
mereka belum pulang juga! Oh, Maria tidak
dapat membayangkan bagaimana kemarahan
ayahnya!
Tetapi Guntur seperti tidak ikut merasakan
kecemasan Maria. Tenang-tenang saja dia
mengambil motornya. Dan melarikan motor itu
ke rumahnya. Bukan ke rumah sakit!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ke mana, Tur?" desah Maria gemetar, ketika


dilihatnya motor mereka membelok dan
memasuki halaman sebuah gedung bertingkat.
"Ke rumahku," sahut Guntur tenang-tenang.
"Ke rumahmu?" belalak Maria kaget. "Kita
sudah terlambat, Tur!"
"Ah, santai saja. Baru jam tujuh. Masih sore."
"Tapi jam berkunjung di rumah sakit sudah
berakhir, Tur!"
"Ya, nggak apa-apa," sahut Guntur seenaknya.
"Tapi ayahku, Tur!" rintihnya separuh menangis.
Sekarang Maria yakin. Pemuda ini memang
ingin menipunya. Dia sengaja memancingnya
keluar dari rumah sakit. Sengaja mengajaknya
berjalan-jalan. Nonton bioskop. Sekarang ke
rumahnya pula.
Apa pula yang ingin diperlihatkannya di rumah
ini? Seharusnya mereka lekas-lekas pulang.
Kembali ke rumah sakit sebelum Ayah datang.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Bukankah begitu janji Guntur kepada temantemannya tadi? Dan Elita... benarkah dia juga
ikut mempermainkannya? Ah, rasanya tidak
mungkin! Dia begitu baik... Titik air mata Maria
mengingat semuanya itu.
Ketika Guntur menghentikan motornya di
depan rumah dan mengajak Maria turun, dia
melihat kilatan air mata di pipi gadis itu. Dan
tiba-tiba saja dia merasa trenyuh.
Gadis ini sungguh amat berbeda dengan gadisgadis lain yang pernah dipermainkannya.
Sepanjang siang Guntur telah membawanya ke
mana-mana. Diperlihatkannya toko-toko
dengan gaun yang indah-indah. Perempuan
mana yang tidak tertarik kepada baju yang
bagus-bagus?
Maria memang tertarik. Tapi tidak berniat untuk
memilikinya. Ketika Guntur hendak
membelikannya, Maria menolak dengan halus.
Dan dia tetap menolak apa pun alasan Guntur.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Penolakannya sungguh-sungguh. Bukan cuma


pura-pura, sekedar tahan harga atau malu-malu
kucing. Di mulut tidak di hati mau.
Guntur sudah mengajaknya menikmati
pemandangan kota Jakarta dari yang paling
mewah sampai ke tempat yang paling aduhai.
Maria memang terkesan. Tapi tidak
terpengaruh.
Debu-debu kota Metropolitan seakan-akan tak
pernah mampu mengotori kesucian pikiran
gadis itu. Gemerlapnya emas Monas pun tak
dapat menyilaukan matanya.. Tak mampu
melawan kilauan sinar Ilahi yang memancar dari
kemurnian hatinya.
Makanan-makanan yang lezat boleh memporakporandakan lidah dan perutnya. Tapi tidak
jiwanya. Dan keteguhan imannya membuat
Guntur-lah yang justru jadi terpengaruh.
Di sini. di rumahnya, dia dapat melakukan apa
saja. Membujuk. Merayu. Menipu. Bahkan
mengasari gadis itu untuk memenangkan
taruhannya dengan teman-temannya. Kalau

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria sudah tidak suci lagi, biara mana yang


masih mau menerimanya?
Tetapi Guntur tidak sampai hati. Ada sesuatu di
dalam mata gadis itu yang tidak dapat
dilawannya. Tuhankah yang datang berperang
melawannya melalui mata gadis itu?
Guntur tak pernah mengenal makhluk yang
bernama Tuhan itu. Orang tuanya pun tak
pernah memperkenalkannya. Tetapi melalui
gadis ini, gadis yang polos, lugu, dan kurang
pergaulan, Guntur dipaksa untuk mengenal
suatu kekuatan lain yang tidak kelihatan.
Kekuatan yang mampu mengalahkan
kesombongannya. Yang mampu membuatnya
bergerak untuk naik kembali ke motornya.
Dia tidak peduli teman-temannya akan
menertawakannya. Mengejeknya. Menagih
sesumbarnya. Dia akan membawa Maria
pulang. Sekarang juga.
Tetapi sebelum Guntur sempat naik ke
motornya, pintu depan terhempas terbuka. Dan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

empat orang pemuda langsung menghambur ke


luar.
"Benar, mereka yang datang!" seru pemuda
yang paling depan. "Kok nggak masuk, Tur? Mau
pesta sendiri di luar, ya?"
Tanpa menghiraukan teman-temannya lagi,
Guntur naik ke motornya. Tetapi pemuda yang
paling
dekat langsung menghadang sambil memegangi
kemudi motor Guntur.
"Mau ke mana, Tur?" tanyanya heran.
"Minggir deh!" Dengan kasar Guntur
mendorong temannya. Dan menghidupkan
mesin motornya. Tetapi pemuda yang paling
dekat dengan Maria sudah menariknya turun.
"Silakan masuk, Mer!" katanya sambil tertawa
lebar. "Di dalam sudah disiapkan acara
untukmu!"
"Jangan ganggu dia, Tot!" geram Guntur marah.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tetapi Gatot telah menyeret Maria masuk ke


dalam. Dan Maria terhenyak kaget ketika
mengenali pemuda itu. Dialah bajingan yang
pernah mengganggunya dulu!
"Masih kenali saya?" Gatot tersenyum
mengejek.
Dan rasa terkejut Maria belum hilang ketika
muncul kejutan baru... Elita muncul dari dalam
bersama Rusman!
"Maria!" jerit Elita sebelum Maria sempat
membuka mulut. "Astaga! Kamu masih di sini?!"
"El!" rintih Maria separuh menangis. "Bawalah
saya pulang!"
"Kurang ajar!" geram Elita kepada Rusman.
"Mau apa kalian bawa Maria kemari?!"
"Kita ada acara khusus buat dia!" Rusman
menyeringai sinis. "Mana Guntur?"
"Jadi kalian bersekongkol!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nggak apa-apa, kan? Supaya dia cepat dewasa!


Mana si Guntur? Waduh, jadi juga dia
memenangkan taruhan!"
"Taruhan?!" Naik alis Elita.
"Kalau dia berhasil membawa Maria kemari, dia
menang!"
"Kurang ajar!" geram Elita sengit. Ditamparnya
pipi Rusman dengan marah. Tapi Rusman
menangkap tangannya dengan gesit.
"Eh, jangan munafik! Apa kamu juga kepingin
lihat blue filter?"
"Kamu juga mau nonton kan. Mer?" Gatot
menyeringai ke arah Maria. "Yuk, kita ke
dalam!"
"Saya mau pulang!" desah Maria ketakutan.
"Lepaskan dia. Tot!" bentak Guntur yang sudah
menerobos masuk diikuti ketiga orang
temannya.
"Lho. kenapa? Filmnya belum mulai kok! Sabar
dong!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tanpa banyak bicara lagi Guntur mendorong


Gatot dan menghela Maria lepas dari
cengkeraman pemuda itu.
"Eh, mau kamu bawa ke mana, Tur? Jangan
serakah dong!"
"Ajak Elita pulang, Man!" kata Guntur kepada
Rusman tanpa menghiraukan teman-temannya.
Dia sendiri membawa Maria ke pintu keluar.
Tetapi sebelum dia berhasil membuka pintu,
salah seorang temannya telah datang
menghadang.
"Acara belum selesai, Tur! Kamu nggak boleh
meninggalkan ruangan!"
Dengan kasar Guntur mendorongnya agar tidak
menghalangi jalan. Ketika temannya maju
hendak menghadang pula, Guntur langsung
meninjunya. Suasana jadi, gaduh.
"Apa-apaan nih, Tur?" gerutu Gatot jengkel.
"Kamu kemasukan malaikat apa sih?!"
Tetapi perkelahian sudah terjadi. Terpaksa
teman-temannya turun tangan melerai.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan ganggu dia!" Terengah-engah Guntur


berusaha melepaskan diri dari cengkeraman
teman-temannya. "Dia bukan gadis untuk kita!"
"Tapi kita sudah punya acara untuk dia, Tur!"
bantah Rusman. "Supaya dia nggak norak lagi!"
"Mari, Mer! Kami sudah punya acara untukmu!"
Dengan gaya memuakkan, Gatot membawa
Maria ke ruang dalam. Ada beberapa pasangan
yang sedang berdansa di dalam ruangan yang
hingar-bingar oleh suara musik dan pengap
karena asap rokok itu.
Gatot mengajak Maria melewati mereka untuk
masuk ke sebuah ruangan lain yang lebih gelap.
Ada beberapa remaja yang sedang duduk
menonton video. Dan melihat adegan yang
terpampang di layar TV, Maria langsung
memejamkan matanya.
Entah bagaimana cara Guntur melepaskan diri
dari teman-temannya. Tahu-tahu dia sudah
muncul di belakang mereka. Tanpa berkata
sepatah pun, dia merenggut T-shirt Gatot dan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

memukulnya. Kemudian dia membawa Maria ke


luar. "Bawa Maria pulang, El," katanya kepada
Elita. Ketika Rusman memperlihatkan tandatanda akan menghalangi, dia pun mendapat
sebuah jotosan yang membuatnya jatuh
tunggang-langgang.
"Pakai saja motorku," sambung Guntur kepada
Elita. "Aku akan menahan mereka di sini."
Guntur sudah menoleh kepada Maria, tetapi
belum sempat mengucapkan sepatah kata pun,
Gatot sudah bangkit menghampiri sambil
melemparkan segenggam uang ke mukanya.
"Ini uang taruhanmu, Tur! Kamu mau apa lagi?"
"Biarkan mereka pergi," sahut Guntur dingin.
"Mana acara lucu yang kamu janjikan?" protes
teman-temannya yang sudah datang
mengerubunginya. "Katanya ada calon
biarawati nonton film biru!"
"Jangan ganggu mereka lagi!" Guntur sengaja
tegak menghalangi teman-temannya yang
masih penasaran hendak mengejar Maria. "Aku

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

tuan rumah di sini! Kalau kalian masih banyak


tingkah, kuusir semua!"

***

Rumah sakit sudah gempar ketika Elita datang


bersama Maria. Tina sudah dibawa ke kantor
direktur rumah sakit untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pak
Handoyo pun sudah hadir di sana, lengkap
dengan para perawat yang bertanggung jawab.
Seandainya saja di sana tidak ada orang lain,
pastilah Maria sudah dihajar habis-habisan oleh
ayahnya. Untung pula malam itu Maria belum
diperbolehkan pulang. Dia sudah ngeri
membayangkan hukuman ayahnya seandainya
pulang ke rumah.
Di sini Ayah hanya dapat memarahinya. Dan
melihat cara Pak Handoyo memarahi anaknya,
mau tak mau timbul rasa kasihan di antara para
perawat dan dokter-dokter yang hadir.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka sudah mendengar dari Tina bagaimana


cara Pak Handoyo memperlakukan anaknya.
Mereka juga sudah dapat menerima alasan yang
dikemuka-kan Elita untuk melarikan Maria.
Tentu saja Elita tidak menyebut-nyebut nama
Guntur. Dia mengakui semua itu sebagai
perbuatannya sendiri. Dengan dialah Maria
pergi. Dia pula
yang membujuk Maria. Tapi mereka cuma
berjalan-jalan dan menonton bioskop.
Tentu saja Elita pun mendapat peringatan keras
seperti Tina. Setelah dimarahi, mereka berdua
diperbolehkan pulang.
"Saya akan melaporkan perbuatan kalian
berdua kepada Suster Cecilia!" ancam Pak
Handoyo, menambahi hukuman mereka.
Dan Elita tidak perlu menunggu terlalu lama.
Esok pagi juga, dia dan Tina sudah langsung
dipanggil ke kantor Kepala Sekolah.
Dengan sabar Suster Cecilia mendengarkan
cerita mereka.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Maksud kalian memang baik," katanya sambil


menghela napas. "Tapi caranya keliru. Cara
seperti itu sama sekali tidak terpuji. Menculik
Maria dari rumah sakit, apa pun alasannya,
bukan perbuatan yang terpuji. Kalian telah
memberi malu nama sekolah kita. Apakah kalian
menyesal dan berjanji tidak akan melakukan
tindakan seperti ini lagi?"
Berbareng Elita dan Tina mengangguk.
"Baiklah. Kali ini saya maafkan. Tapi sebagai
hukuman, selama seminggu ini kalian setiap hari
harus membersihkan halaman. Datanglah sejam
lebih pagi dari biasa. Akan saya tunggu kalian di
sini. Terlambat datang berarti tambahan
hukuman sehari lagi."

BAB VII

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Hari pertama masuk sekolah setelah dua


minggu terkapar sakit merupakan hari istimewa
bagi Maria. Dia merasa seperti anak baru lagi.
Cuma bedanya kali ini teman-temannya
menyambut kehadirannya dengan manis. Bukan
dengan ejekan-ejekan dan cemoohancemoohan seperti waktu pertama kali dia
masuk ke kelas ini.
Nurul sengaja membawa kue-kue buatan
tangannya sendiri dan mengajak temantemannya makan bersama. Sementara Elita
membawa coklat untuk dibagi-bagikan, seakanakan hari itu Maria berulang tahun lagi.
Maria amat terharu menerima sambutan
teman-temannya. Mereka seolah-olah
berlomba-lomba ingin menghiburnya.
Semua catatan pelajaran selama dia tidak
masuk sekolah, bahkan termasuk juga catatan
yangdirobek-robek ayahnya dulu, sudah lengkap

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

disalin oleh mereka. Yang malas menyalin,


menitipkan tugasnya pada mesin foto kopi.
Pokoknya semua kebagian tugas.
Guru-gurunya juga bersedia memberi pelajaran
tambahan kepada Maria untuk mengejar
ketinggalan
pelajarannya selama dia tidak masuk sekolah.
Dan bukan itu saja. Rena yang biasanya agak
judes, kini malah menghadiahkan sebuah album
yang berisi foto-foto pesta ulang tahunnya.
Entah siapa yang iseng menjepret adegan dansa
Maria dengan Guntur. Tapi foto-foto itu lengkap
menghiasi album yang dihadiahkan Rena untuk
Maria. Tersipu-sipu Maria memandangi foto itu.
"Kamu masih marah sama Guntur, Mar?" tanya
Elita sambil mengamati-amati wajah temannya.
"Ah, tidak," sahut Maria polos. "Saya sudah
lama memaafkannya."
"Aku ikut bersalah, Mar. Aku juga ikut
membujukmu." "Lupakan saja, El."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Guntur memang brengsek. Dia terkenal gemar


mempermainkan gadis-gadis. Pacarnya seperti
mobilnya. Ganti setiap tahun. Tapi setelah
mengenalmu, kukira dia sudah berubah. Siapa
sangka dia malah mempermainkan kita semua."
"Kalau ketemu dia lagi akan kulempari mukanya
dengan telur busuk!" geram Tina sengit.
"Jangan," cegah Nurul segera. "Kita harus cari
akal untuk membalas perbuatan mereka! Kali ini
kita kalah. Tapi lain kali kita harus berhasil
mempermainkan cowok-cowok edan itu!"
"Sudahlah, Rul," cegah Maria sabar. "Mereka
hanya ingin mempermainkan saya."
"Kamu betul-betul nggak marah, Mar?" desak
Nurul penasaran. "Nggak kesal?"
Maria cuma menggeleng sambil tersenyum.
"Yang sudah lewat sudahlah," katanya tenang.
"Pelajaran juga buat saya."
"Astaga. Mar!" Nurul menggeleng-gelengkan
kepalanya dengan tidak percaya. "Kamu betulbetul malaikat!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

***

"Saya tidak bisa menyimpan album itu di rumah,


EL" kata Maria kepada Elita pada waktu jam
istirahat. "Titip sama kamu, ya?"
"Pulang sekolah nanti berikan saja kepadaku,"
sahut Elita mantap.
"Terima kasih, El. Sekarang saya mau ke WC
dulu ya. Perut saya sakit."
"Kenapa, Mar?" bisik Elita agak kuatir.
"Mukamu pucat lho!"
"Ah, memang masih agak pucat." Maria
memaksakan sepotong senyum di bibirnya.
"Tapi saya sudah sembuh. Sudah tidak batuk.
Tidak pernah panas lagi."
"Kuantar yuk."
"Nggak usah, El. Baunya tidak enak di sana."
"Nggak apa-apa. Namanya juga WC!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu tunggu di luar saja."


"Tapi kamu teriak-teriak kalau pingsan, ya?"
Tentu saja Elita cuma bergurau. Maria pun
menyambutnya dengan senyum-simpul. Tapi
ketika Maria benar-benar berteriak dari dalam
WC, Elita sampai terlompat kaget.
"Mar!" serunya sambil menggedor-gedor pintu.
"Kamu kenapa?"
Beberapa orang teman mereka yang kebetulan
sedang berada di sana ikut mengerubungi Elita
di depan pintu.
"Mar!" teriak Elita sekali lagi ketika tidak
didengarnya jawaban Maria. "Kenapa, Mar?"
"El..." rintih Maria lemah. Nadanya gugup dan
sangat ketakutan. "Tolong saya...."
"Kamu kenapa?" teriak Elita cemas.
"Cepat panggil Suster Cecilia atau Bu Har,"
perintah Elita kepada anak-anak yang
mengerubunginya. "Bilang, Maria sakit lagi!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Cepat-cepat mereka keluar. Yang sebagian lari


ke kantor Kepala Sekolah. Yang lain kabur ke
ruang guru.
"Buka pintunya, Mar!" seru Elita panik. "Biar
aku masuk!"
Begitu pintu perlahan-lahan terbuka, cepatcepat Elita menyelinap masuk. Dan
menguncinya lagi.
Maria sedang bersandar lemah ke dinding.
Mukanya pucat-pasi. Matanya terbelalak
ketakutan.
"Kenapa, Mar?" Dengan gugup Elita
menggenggam lengannya. "Apamu yang sakit?"
Ketakutan Maria menunjuk ke bawah. Dan mata
Elita terbelalak melihat carian merah yang
mengalir di sela-sela paha Maria... terus ke
kakinya....
"Ya Allah, Mar!" pekik Elita terkejut. "Kamu...?"
Maria menggeleng sama gugupnya. Matanya
menggelepar-gelepar dengan panik. Bibirnya
mendesah resah.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Pintu WC diketuk dari luar. Lalu terdengar suara


Suster Cecilia. Tenang dan berwibawa.
Meskipun masih menyembunyikan nada kuatir.
Cepat-cepat Elita membuka pintu. Begitu Suster
Cecilia masuk, Maria mengerut ketakutan. Tapi
Suster Cecilia hanya memandangnya sekejap.
Lalu dia sudah tahu apa yang terjadi.
Segera diusirnya siswi-siswi yang masih
berkerumun di depan pintu. Dimintanya Maria
membersihkan darah yang meleleh di kakinya. Lalu
dibimbingnya gadis itu ke luar.
Tapi di luar teman-temannya masih
berkerumun menonton. Saling berbisik-bisik
sambil tersenyum mencemooh. Dengan susah
payah Bu Harti dan Bu Mien berusaha
membubarkan kerumunan mereka.
Maria dibaringkan di ruang P3K. Dan Suster
Cecilia memberi instruksi singkat kepada Bu
Endang yang menjaga ruangan itu. Lalu dia
memanggil Elita.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu sudah dapat menstruasi, Elita?"


tanyanya dengan suara datar, seolah-olah tidak
ada kejadian apa-apa.
Elita mengangguk gugup. "Tapi saya tidak
menyangka..."
"Jadi ini kejadian biasa," potong Suster Cecilia
tegas. Dia memandang langsung ke mata Elita.
Dan matanya yang tajam berwibawa itu seakanakan ingin menghujamkan keyakinan di hati
Elita. "Seorang gadis yang menginjak masa
remaja mendapat haid. Itu soal biasa, bukan?"
"Ya, Suster...," sahut Elita gelagapan. "Tapi saya
tidak menyangka Maria tidak tahu.... Saya tidak
berpikir sampai ke sana...."
Suster Cecilia mengangguk sebelum Elita
sempat mengakhiri kata-katanya. "Jadi katakan
kepada teman-temanmu, ini kejadian biasa.
Tidak ada apa-apa. Maria hanya mendapat
haidnya yang pertama."
"Ya, Suster...," sahut Elita gugup.
"Sekarang kamu boleh kembali ke kelas."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

***

"Kamu sudah mendapat pelajaran biologi,


Maria?" tanya Suster Cecilia dengan tenang. Dia
duduk dengan sabar di tepi pembaringan Maria.
Gadis itu mengangguk dengan gugup. Matanya
menatap Suster Cecilia dengan ketakutan.
"Kamu pasti tahu, jika seorang wanita
menginjak masa remaja, dia akan mendapat
haid atau menstruasi sekali setiap bulan,
bukan?"
Ragu-ragu Maria mengangguk.
"Nah, inilah haidmu yang pertama."
Mata Maria membelalak ketakutan. Mulutnya
ternganga bingung.
"Tidak ada yang perlu dikuatirkan. Itu hanya
suatu tanda bahwa kamu sudah menjadi wanita
dewasa sekarang. Selama lima sampai tujuh
hari, kamu akan mengalami perdarahan seperti

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

ini. Lebih baik kamu memakai pembalut wanita


seperti yang diberikan oleh Bu Endang tadi.
Pembalut-pembalut seperti itu dapat dibeli di
toko dalam bungkusan plastik atau dus. Kamu
mungkin akan merasa perutmu sakit sedikit.
Tapi keluhan seperti itu biasanya hanya datang
pada hari pertama atau kedua. Sesudahnya
kamu tidak akan merasakan apa-apa lagi.
Menstruasimu akan berhenti dengan
sendirinya. Dan akan datang kembali bulan
depan kira-kira pada tanggal yang sama.
Mungkin pada hari-hari sebelumnya kamu juga
akan merasakan ketegangan atau malah sedikit
sakit pada buah dada atau pinggangmu. Tapi
kamu tidak usah kuatir. Gejala semacam itu
biasa dialami wanita sebelum haidnya datang.
Ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Maria?"
"Apa... apa yang harus saya katakan pada
Ayah?" rintih Maria bingung.
Ayah! Cuma itu yang dipikirkannya!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Biar saya yang bicara dengan ayahmu," sahut


Suster Cecilia tegas. "Sekarang kamu pulang
saja.
Saya sudah minta Bu Endang mengambilkan
buku-bukumu di kelas. Besok pagi datanglah
bersama ayahmu kemari. Tidak usah takut.
Tidak ada yang perlu dikuatirkan."
Tetapi yang paling dikuatirkan Maria justru baru
ditemukannya di rumah. Album itu masih
terbawa di dalam tasnya! Dalam kebingungan
dia telah melupakan kehadiran album itu! Elita
belum sempat mengambilnya!

***

"Eh, masih berani nongol di sini?!" geram Elita


begitu dia melihat Guntur menunggu di depan
sekolah. "Mau ngapain lagi?"
"Minta dikeroyok cewek, ya!" Tina mendesis
sengit. "Sayang aku belum punya telur busuk!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Benar-benar muka badak tuh!" sembur Nurul


tidak kalah judesnya. "Nggak tahu malu!"
"Aku datang mau minta maaf," sahut Guntur
tanpa menghiraukan kemarahan teman-teman
putrinya. "Mana Maria?"
"Sudah pulang!"
"Pulang?" Menyipit mata Guntur. "Dia sakit
lagi?"
"Gara-gara kamu!" "Dia masih marah?"
"Maria nggak pernah marah!" potong Tina
sengit. Diangkatnya tasnya tinggi-tinggi.
Diayunkannya ke punggung Guntur. "Kami yang
marah!"
"Dia nggak marah?" desak Guntur tanpa
menghiraukan perbuatan Tina. "Betul Maria
nggak marah?"
"Minggir deh kamu, Nyong!" Tanpa
menghiraukan Guntur lagi Elita
meninggalkannya pergi. "Pokoknya mulai
sekarang kami tidak mau lagi mengenal kalian!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sana, cari gadis dari sekolah lain yang bisa kalian


permainkan seenaknya saja!"
"Tapi aku benar-benar menyesal, Rul," kata
Guntur kepada Nurul, satu-satunya gadis yang
masih mau mendengarkan penyesalannya.
"Kalau aku tidak bisa bertemu dengan Maria
lagi, tolong berikan surat ini kepadanya, ya?
Tolong deh, Rul!"
"Ah, kok pakai perantara segala sih! Berikan saja
sendiri! Takut, ya?"
"Aku justru kuatir Maria yang nggak mau
ketemu aku lagi, Rul!"
"Apa upahnya?"
"Bilang saja kamu mau apa?"
"Boleh baca surat ini?"
"Kenapa tidak?"
"Di depan kelas?"
"Silakan. Asal Maria tidak marah."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Nurul tersenyum-simpul. Ditimang-timangnya


surat bersampul merah muda itu. "Romantis
juga kamu, ya. Pakai surat-suratan segala.
Memangnya kamu serius?"
"Aku sudah janji nggak main-main lagi, Rul!"
"Maksudku dengan Maria?"
"Kukatakan juga percuma. Kamu pasti tidak
percaya!"
"Kamu betul-betul naksir Maria?" "Mula-mula
sih cuma main-main. "Sekarang aku serius, Rul."
"Wah, saingan sama Tuhan dong kamu! Dia kan
calon biarawati!"
"Saingan sama siapa pun aku nggak peduli!"

***

Ketika Maria sampai di rumah, ayahnya


memang belum pulang. Tetapi ketika dia

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

bergegas hendak membawa album itu kembali


ke sekolah, Ayah muncul di pintu pagar.
Buru-buru Maria berlari kembali ke kamarnya.
Diselipkannya begitu saja album itu di bawah
tempat tidurnya. Memang bukan tempat yang
aman. Ayah sering menggeledahnya juga. Tetapi
kalau Maria berpura-pura sakit dan tidur, Ayah
pasti tidak akan menyuruhnya turun dari
ranjang.
"Pagi-pagi sudah pulang," gerutu Pak Handoyo
begitu dia melihat Maria berbaring di tempat
tidur. "Sakit lagi?"
Dengan jengkel Pak Handoyo menghampiri
tempat tidur. Dipegangnya dahi Maria. Dan
Maria menunggu dengan hati berdebar-debar.
"Tidak panas. Apamu yang sakit? Malas
sekolah? Sudah terlalu lama tiduran terus?!"
"Perut," sahut Maria ketakutan. "Kata Suster
Cecilia disuruh istirahat...."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Hm," gerutu Pak Handoyo sambil


meninggalkan kamar. "Besok harus sekolah!
Tidak ada alasan sakit!"
"Suster Cecilia minta Ayah datang
menghadap...."
"Ada apa lagi?"
Wajah ayahnya langsung berubah bengis.
Suaranya tajam menyengat. Penuh kecurigaan.
Ditatapnya
Maria dengan tatapan yang membuat Maria
tiba-tiba merasa dirinya seperti pencuri yang
tertangkap basah.
"Awas kalau ada laporan jelek lagi tentang
dirimu!" ancam ayahnya geram. "Kesabaran
Ayah sudah habis!"

***

"Tapi dia masih anak-anak!" geram Pak


Handoyo sengit. Dia duduk di depan meja tulis

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Suster Cecilia. Mendengarkan laporan Suster


Cecilia dengan wajah merah-padam.
"Ini hanya fenomena biologis biasa, Pak
Handoyo," sanggah Suster Cecilia tegas. "Setiap
gadis remaja pasti akan mengalaminya suatu
saat dalam hidupnya!"
"Tapi tidak sekarang! Maria masih kecil!"
"Umurnya sudah enam belas tahun lebih empat
bulan, Pak Handoyo. Dia sudah bukan anakanak lagi!"
"Saya menghendaki dia memperolehnya
sesudah berada di dalam biara nanti!"
"Tapi ini bukan kesalahan Maria, Pak Handoyo!
Dia tidak dapat mengaturnya. Semua teman
sekelasnya sudah mendapat haid. Ada beberapa
malah sudah memperolehnya ketika mereka
masih duduk di bangku SMP, bahkan di SD!"
"Saya sungguh kecewa!"
"Jangan membebani Maria dengan perasaan
bersalah karena mendapat haid, Pak Handoyo.
Itu

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

tidak baik untuk perkembangan jiwanya. Dia


masih sangat muda. Masih hijau. Kurang
pengalaman. Kurang pergaulan pula. Haid tidak
identik dengan dosa!"
"Sesuatu yang kotor!" geram Pak Handoyo
dengan wajah merah terbakar. "Setelah
memperolehnya, seorang anak kecil yang suci
bersih, teman-teman Yesus yang terkasih,
berubah menjadi seorang wanita! Makhluk
penggoda yang membuat manusia menyandang
dosa asal! Dan terusir dari Taman Firdaus!"
"Yesus Kristus, Anak Domba Allah yang hidup,
telah menebus dosa itu, Pak Handoyo!"
"Tapi manusia masih terus membuat dosa!"
kilah Pak Handoyo sengit. "Sekarang Maria
sudah di ambang pintu dosa. Setiap saat dia bisa
berbuat dosa. Dia harus secepatnya masuk
biara, Suster. Tidak usah sekolah lagi. Aturlah
agar Maria segera dapat masuk biara di sini."
"Jangan terburu nafsu, Pak Handoyo." Suster
Cecilia menghela napas menahan kesal. "Maria
masih terlalu muda. Berilah dia kesempatan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

untuk tumbuh menjadi dewasa. Pada saat itu,


dia baru dapat menentukan pilihan hidupnya!"
"Mungkin pada waktu itu sudah terlambat! Saya
ingin Maria masuk biara sekarang juga, Suster!"
"Tapi kita tidak boleh memaksanya! Kita harus
menanyakan kehendaknya dulu. Semua
manusia punya kehendak bebas, Pak Handoyo.
Kita harus menghargai hak Maria!"
"Dia juga menginginkannya!" sahut Pak
Handoyo
mantap. "Sejak dia lahir, saya telah
menghembuskan keinginan itu dalam setiap
helaan napasnya!"
"Saya mau masuk biara, Suster," sahut Maria
dengan air mata berlinang. "Tapi tidak sekarang.
Saya masih ingin sekolah. Masih ingin bergaul
dengan teman-teman."
"Kamu harus masuk sekarang," geram pak
Handoyo tegas. "Kalau mereka menolakmu,
Ayah akan mengurungmu di rumah! Sampai
mereka mau menerimamu! Mulai detik ini,

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

kesucianmu sudah di tepi jurang. Setiap saat


bisa jatuh terjerumus ke dalam jurang dosa!"
"Pak Handoyo, berilah Maria kesempatan untuk
menenangkan diri!" pinta Suster Cecilia iba.
Tetapi Pak Handoyo memang keras kepala.
"Sejak lahir dia telah kupersembahkan kepada
Tuhan!" katanya kepada Pastor Matias yang
hadir pula di sana. Suster Cecilia yang
memintanya untuk turut melunakkan hati ayah
Maria.
"Bukan demikian caranya mempersembahkan
seorang anak untuk melayani Tuhan, Pak
Handoyo. Ini cara yang keliru. Tuhan tidak
merestui pemaksaan. Seperti apa pun
bentuknya. Apa pun tujuannya."
"Tidak ada pemaksaan, Romo Matias. Ini bentuk
persembahanku yang terbesar untuk Tuhan.
Aku mempersembahkan anakku sendiri. Anakku
satu-satunya. Untuk Tuhan."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi yang Bapak persembahkan itu anak


Bapak. Manusia yang punya kehendak bebas.
Bukan diri Bapak sendiri."
"Romo lupa. Tuhan minta Abraham
mengorbankan Iskak anaknya sebagai korban
persembahan, bukan dirinya sendiri!"
"Tapi apakah Bapak yakin, Tuhan meminta
Maria?"
"Aku telah mengambil milik Tuhan, Romo.
Biarlah Tuhan mengambil milikku juga."

BAB VIII

"Dua puluh tahun yang lalu ayahmu seorang


pastor yang berwibawa, Maria," tutur Suster

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Cecilia di depan Maria yang sedang menangis.


"Dia terkenal keras, ortodoks, tak kenal
kompromi. Karena sifat-sifatnya itu, ayahmu
sering berselisih pendapat dengan rekanrekannya sendiri. Seminggu sekali, kami para
calon biarawati di biara ini diberi kesempatan
menerima pelajaran bahasa Latin dari ayahmu.
Entah bagaimana permulaannya, tiba-tiba saja
salah seorang di antara kami mengundurkan
diri. Calon biarawati itu akhirnya menikah
dengan ayahmu. Dan dia adalah ibumu."
Suster Cecilia menghela napas panjang sebelum
melanjutkan ceritanya.
"Sebagaimana kamu ketahui, seorang pastor
seperti juga seorang biarawati, terikat janji
untuk hidup selibat, tidak menikah. Keputusan
ayahmu membuat dia mengundurkan diri
sebagai pastor, karena permohonan
dispensasinya ditolak. Mereka menikah dan
pindah ke Banyumas. Ketika melahirkan, ibumu
meninggal. Ayahmu merasa sangat berdosa.
Dan dia telah bersumpah untuk menyilih

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dosanya dengan mempersembahkan bayinya


kepada
Tuhan. Kamulah bayi itu, Maria. Sekarang kamu
mengerti mengapa ayahmu berkeras
memaksamu masuk biara? Karena dia telah
mempersembahkan dirimu kepada Tuhan sejak
kamu lahir. Ayahmu takut kamu tidak tahan
godaan. Karena itu dia memaksamu masuk
sekarang juga. Karena dia menganggap biaralah
tempat yang paling aman untuk menjaga
kesucianmu dan memelihara sumpahnya. Dulu
saya tidak ingin menceritakan kisah ini
kepadamu. Tapi sekarang saya merasa tidak adil
kalau kamu tidak mengetahuinya."
Sepanjang perjalanan pulang Maria mengkaji
cerita Suster Cecilia. Tidak adil memang,
mempersembahkan dirinya sebagai pembayar
hutang ayahnya pada Tuhan.
Tapi Maria mencintai ayahnya. Dan mengasihi
Tuhan. Dia rela mempersembahkan dirinya.
Sekarang juga. Dia akan menemui ayahnya di

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

rumah. Dan minta agar ayahnya


menyerahkannya ke biara hari ini juga.
Tapi sesampainya di ambang pintu rumahnya,
Maria tidak jadi masuk. Matanya terbelalak
ketakutan. Bibirnya gemetar. Dan seluruh
tubuhnya langsung mengejang seperti terkena
sengatan listrik.
Bergegas seperti dikejar hantu, Maria kabur dari
rumahnya. Dan tidak berani lagi kembali ke
sana.
Ayahnya sedang merobek-robek foto albumnya.
Serpihan-serpihan foto itu bertebaran di lantai.
Maria tidak dapat membayangkan apa yang
akan dilakukan ayahnya terhadap dirinya kalau
sampai Ayah menemukannya!

***

"Saya tidak berani pulang, El!" tangis Maria di


depan teman-temannya. "Saya takut! Ayah
pasti

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

memukul saya... mengurung saya... selamalamanya... sampai mereka mau menerima saya
di biara...."
"Keterlaluan!" geram Elita sengit. "Kita adukan
pada polisi yuk!"
"Ah, polisi bisa apa!" bantah Nurul. "Ini kan
bukan perbuatan kriminal!"
"Lebih baik kita ngadu ke Suster Cecilia!" usul
Tina gemas.
"Ah, percuma! Ayah Maria nggak takut kok
sama Suster Cecilia!"
"Habis bagaimana dong?"
"Malam ini kamu tinggal saja di rumahku dulu,
Mar," usul Elita.
"Ih, abangmu banyak!" bantah Nurul. "Nanti
ada yang duel!"
"Pokoknya Maria aman bersamaku. Asal kalian
bisa jaga rahasia!"
"Tapi Ayah pasti mencari saya, El!" rintih Maria
cemas.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Biar saja. Besok kita cari jalan lain."


"Jalan apa?" potong Tina, masih ingat kejadian
di rumah sakit. "Aku sudah kapok lho, El!"
"Pokoknya kita harus melindungi Maria!" sahut
Elita tegas. "Dengan jalan apa pun!"
"Tapi kasihan kalau Ayah mencari saya ke manamana, El," desah Maria bingung.
"Gampang. Tulis saja surat."
"Surat?"
"Tanpa alamat."
"Tapi saya belum pernah menulis surat...." "Ah,
itu soal kecil! Aku yang tulis!" Tetapi kata-kata
Elita di dalam surat yang dibuatnya untuk ayah
Maria terlalu keras. Terlampau kasar di telinga Maria. Dia tidak sampai
hati.
Ayah pasti marah. Sedih. Kesal. Kecewa... Maria
tidak ingin lagi menambah penderitaannya. Jadi
akhirnya dia cuma menulis sembilan belas patah
kata.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ayah. saya belum berani pulang. Tapi suatu


hari kelak, saya pasti akan kembali untuk
menepati janji Ayah pada Tuhan."

Mengantarkan surat itu ke rumah Maria


merupakan tugas pertama untuk Nurul. Dia
tahu sekali bagaimana caranya supaya surat itu
dapat sampai ke sana. Tanpa sepengetahuan
ayah Maria.
Sementara itu Elita sibuk membujuk ayahnya
agar Maria diperbolehkan tinggal bersama
mereka malam itu.
"Boleh saja." sahut ayah Elita sabar. "Tapi
bagaimana dengan ayahnya? Jangan sampai kita
dituduh menculik anak gadis orang."
"Beres deh, Pa! Itu sih urusan Elita!"

***

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Pak Handoyo menghempaskan dua helai


potongan foto di atas meja Suster Cecilia.
"Suster kenal anak laki-laki ini?!" geramnya
sengit.
Dalam sehari saja Pak Handoyo sudah
bertambah tua sepuluh tahun. Rambutnya tidak
tersisir rapi. Kumisnya tumbuh liar. Dan
wajahnya kumal.
Hanya matanya yang tidak berubah. Mata yang
tak pernah tersenyum itu tetap bersorot dingin
dan keras. Tak kenal kompromi.
Dia telah mencari Maria ke mana-mana. Tapi
yang ditemukannya malah surat. Sepotong
kertas
tanpa alamat. Dan surat itu malah menambah
kemarahannya.
Anak gadisnya pasti kabur! Melarikan diri
dengan pemuda ini! Pemuda yang berani
mengajaknya berdansa!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Dengan sabar Suster Cecilia merapatkan


kembali potongan-potongan foto itu. Dan
dahinya langsung berkerut.
Dia tidak kenal siapa pemuda yang sedang
berdansa dengan Maria ini. Tetapi dia dapat
mengenali gadis-gadis lain yang juga sedang
asyik berdansa. Endang dan Nike.
"Pesta dansa semacam ini diadakan di sekolah?"
desak Pak Handoyo kesal. "Atau di rumah salah
seorang temannya?"
"Maria pernah menanyakan pendapat saya
tentang undangan yang diterimanya dari salah
seorang temannya. Rena ulang tahun. Saya rasa
pesta ini diadakan di rumahnya."
"Dan Suster mengizinkan Maria pergi?"
"Dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu,
ya," sahut Suster Cecilia tegas. "Tapi saya tetap
menyuruh Maria untuk minta izin pada Bapak."
"Pertimbangan-pertimbangan tertentu!" geram
Pak Handoyo sambil mengatupkan rahangnya,
menahan marah. "Ternyata Suster Cecilia

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

sendiri juga ikut menyebabkan kaburnya


Maria!"
"Bukan saya," bantah Suster Cecilia tegas.
"Bukan pula orang lain. Tapi Bapak sendiri yang
telah salah mendidiknya!"
"Saya?" belalak Pak Handoyo sengit. "Suster
sendiri yang telah mengizinkan Maria pergi ke
pesta gila-gilaan ini! Dan bertemu dengan anakanak muda rongsokan yang tidak bermoral!"
"Saya percaya pada anak-anak didik saya,"
sahut Suster Cecilia mantap. "Mereka mungkin
nakal. Tapi tidak sejahat yang Bapak kira."
"Dan pesta gila ini?!"
"Itu cuma pesta ulang tahun, Pak Handoyo.
Setiap gadis boleh menyelenggarakannya.
Dansa cuma bumbu dalam pesta muda-mudi.
Dan pesta hanya salah satu romantika
kehidupan remaja. Jika para pelakunya gadisgadis yang terdidik dan bermoral baik seperti
murid-murid saya, saya yakin pesta mereka
bukan pesta gila-gilaan."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Suster terlalu lemah! Terlampau memberi


kebebasan pada mereka! Ini akibatnya! Anak
saya yang jadi korban! Saya menyesal
menyekolahkan Maria di sini!"
"Pak Handoyo-lah yang harus belajar dari
pengalaman. Maria lari karena terlalu dikekang!
Kita sebagai orang tua memang tidak boleh
memberi kebebasan yang berlebihan kepada
anak-anak kita. Tapi kalau kita memberi mereka
tanggung jawab dan kepercayaan, mereka tidak
akan mengecewakan kita."
"Untuk Maria semuanya berbeda! Sejak lahir dia
sudah milik Tuhan! Dia tidak boleh bergaul
dengan segala macam penyakit begini! Hhh,
saya yakin, Suster, dia pasti kabur bersama
pemuda ini! Saya harus mencarinya! Suster tahu
di mana alamatnya?"
"Teman-teman Maria pasti tahu. Tapi Pak
Handoyo, jangan sembarangan menuduh
sebelum ada buktinya!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

***

Begitu Suster Cecilia masuk ke dalam kelas, Elita


langsung mengirim tatapan kilat pada temantemannya. Dan Nurul membaca nada penuh
ancaman di mata itu.
"Awas, kalau ada yang tahu Maria ada di
rumahku," ancam Elita tadi. "Pokoknya yang
tahu cuma kita berlima. Nurul, Nike, Endang,
Tina, dan aku. Rena sengaja tidak kuberi tahu
dulu. Dia dekat sama Luna. Dan anak itu masih
kuragukan itikad baiknya terhadap Maria!"
"Maria tidak pulang ke rumah sejak kemarin
siang," kata Suster Cecilia setelah dia tegak di
muka kelas. Wajahnya sangat muram. "Ada
yang tahu di mana dia berada?"
Sepi. Seluruh kelas sunyi seperti kuburan.
Teman-teman sekelas Maria saling pandang
dengan bingung.
Suster Cecilia melayangkan tatapannya ke
seluruh kelas. Dan tatapannya berhenti di wajah

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Elita. Gadis itu membalas tatapannya dengan


berani.
Tetapi Suster Cecilia yang berpengalaman telah
membaca sesuatu di dalam mata itu. Nalurinya
mengatakan, Elita pasti merahasiakan sesuatu.
"Kamu juga tidak tahu, Elita?" desak Suster
Cecilia tajam.
"Tidak, Suster," sahut Elita tegas.
"Baiklah," gumam Suster Cecilia sabar. "Kalau
ada yang tahu di mana Maria berada, jangan
ragu-ragu menghubungi saya. Mungkin kalian
ingin
berbuat baik pada Maria. Tapi percayalah, saya
tahu yang terbaik untuknya."
Apa yang terbaik untuk Maria, Suster? pekik
Elita dalam hati. Pulang ke rumah untuk
dimarahi ayahnya? Dipukuli dan dikurung di
dalam kamar?
Dapatkah Suster merasakan ketakutannya?
Kesedihannya? Mengapa orang tua selalu
menindas anak-anaknya seperti seorang

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

penguasa? Siapa yang mengatakan orang tua


berhak melakukan apa saja terhadap anaknya?
"Rena," cetus Suster Cecilia tiba-tiba.
"Ya, Suster?" Rena membalas tatapan Kepala
Sekolah dengan dada berdebar-debar. Dia
benar-benar tidak tahu di mana Maria berada.
Apa Suster Cecilia tidak percaya?
"Kamu juga tidak tahu di mana Maria
sekarang?" Rena menggeleng dengan sungguhsungguh. "Tapi kamu pasti tahu di mana alamat
pemuda ini."
Suster Cecilia mengeluarkan cabikan foto yang
membuat paras Rena langsung memucat. Nurul
melirik kilat ke arah Elita. Tetapi Elita cuma
menyeringai puas.
Silakan cari di rumah Guntur! Mudah-mudahan
ayah Maria sempat merepotkan pemuda itu.
Biar rasa dia!
"Kamu mengundangnya waktu pesta ulang
tahunmu. Mustahil kamu tidak tahu
alamatnya."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Rena mengerling teman-temannya dengan


bingung. Seakan-akan mencari dukungan. Tapi
dia tidak menemukan jawaban apa-apa di mata
mereka. Tina malah sudah membuang muka ke
tempat lain. Endang pura-pura tidak melihat.
"Di mana rumahnya, Rena?" desak Suster
Cecilia tegas. "Kamu tahu, bukan?"
"Tahu, Suster," sahut Rena ragu-ragu. "Tapi saya
lupa...."
Elita bertukar pandang dengan Nurul sambil
mengulum senyum.
"Bagus sekali," kata Suster Cecilia sabar. "Nah,
bagaimana caramu mengundang dia ke
pestamu?"
"Kami bertemu di Balai Sidang, Suster," sahut
Rena spontan.
Teman-temannya tersenyum geli.
"Dan kamu tidak punya buku catatan
alamatnya?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Suster Cecilia tersenyum dingin. "Baiklah.


Sekarang kamu boleh pulang. Jangan kembali ke
sekolah sebelum kamu menemukan
alamatnya."
"Saya punya, Suster!" sela Luna tiba-tiba.
Suster Cecilia langsung menoleh ke arah suara
itu.
"Punya apa, Luna?"
"Buku catatan alamat teman-teman."
"Bagus sekali. Kamu tahu siapa pemuda ini?"
"Namanya Guntur, Suster," sahut Luna lantang.
Rena membelalak kesal ke arah Luna. Temantemannya pun mulai ikut menggerutu. Cuma
Elita, Nurul, Nike, Tina, dan Endang yang tetap
tenang.
"Alamatnya?"
"Ada di sini, Suster." Luna menyodorkan sebuah
buku kecil.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Terima kasih, Luna. Kerja samamu hari ini akan


selalu saya ingat."
"Huu!" Rista mencibir sinis setelah Suster Cecilia
keluar dari dalam kelas. "Mau dialem kamu,
Na!"
"Cari muka, ya?!" gerutu Firda gemas.
"Lho, kalian tidak menyesal kalau biarawati kita
diculik si Guntur?" belalak Luna, pura-pura
marah.
"Diculik atau tidak, pokoknya Guntur sudah
game sama kamu, Na!" menyeringai Nurul.
"Mendingan cari obyek baru deh!"
Seperti teman-temannya, Nurul pun tahu, Luna
adalah gadis Guntur tahun yang lalu. Meskipun
sekarang mereka sudah tak pernah berjalan
bersama-sama lagi, Nurul tahu dalam hatinya
Luna masih mengharapkan Guntur.
Luna begitu kecewa ketika mengetahui Guntur
menaruh perhatian pada Maria, gadis yang
tidak pernah dianggap saingannya. Gadis yang

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

kecantikannya di bawah nilai rata-rata itu yang


kini mengalahkannya!

BAB IX

Mendengar suaranya saja Guntur sudah tahu


siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan
teman-temannya. Naik motor dengan knalpot
terbuka. Bisingnya bukan main. Seolah-olah
orang lain tidak punya telinga. Atau tidak
berhak menikmati ketenangan. Padahal baru
pukul lima sore.
Mungkin tetangga sebelah masih enak-enak
tidur. Atau sedang santai menikmati secangkir
teh sambil membaca majalah. Atau cuma

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mendengarkan alunan lagu-lagu yang tenang


dari radio.
Tapi mereka memang tidak peduli. Siapa yang
dapat melarang mereka, warga negara kelas
satu, remaja penuh harapan yang akan menjadi
ahli-ahli waris republik ini?
Lihat saja bagaimana cara mereka mengendarai
motornya. Atau menyeberang jalan kalau
pulang sekolah. Semua pemakai jalan yang lain
harus mengalah, seolah-olah cuma mereka yang
bayar pajak.
Malas-malasan Guntur melemparkan bukunya.
Dan melangkah ke luar.
"Halo, Boss!" sapa Gatot begitu melihat Guntur.
"Sudah siap?"
"Ayo, Tur! Cabut!" seru Rusman dari atas
motornya. Mesin motornya menderu-deru
menyakitkan telinga.
"Nggak jadi pergi," sahut Guntur sambil duduk
di teras depan rumahnya. "Besok ada EHB. Ujian
kan tinggal dua bulan lagi."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Eh, kamu sakit. Tur?!" Hariman langsung


mematikan mesin motornya dengan heran.
"Tumben betah di rumah."
"Biarawatimu ada di dalam, ya?" goda Rusman
sinis.
"Sejak malam itu nggak pernah ketemu dia
lagi."
"Jadi kamu sakit apa, Tur? Ngapain tunggu
rumah? Wah. punya acara sendiri nih!"
"Huu, dasar congek! Sudah dibilang mau
belajar!"
"Kayak bukan kamu yang ngomong, Tur!" cetus
Hariman keheran-heranan. "Sejak kapan soresore begini kamu belajar?"
"Udeh deh jangan berisik!" potong Guntur tidak
sabar. "Pokoknya hari ini aku nggak mau pergi!
Habis perkara!"
"Tapi malam ini ada acara syuur di rumah Hans
Item! Dia punya cewek-cewek baru buat kita!
Yang satu Indo, Tur! Katanya bintang film!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah, nanti aku nonton filmnya saja di video."


"Kamu sakit apa sih, Tur?"
"Apa lagi kalau bukan malaria tropikangcn!"
ejek Gatot sinis. "Doinya sudah masuk biara
kali!"
"Wah, dibandingkan cewek-eewek koleksinya si
Hans Item, biarawatimu nggak ada apa-apanya,
Tur!"
"Pergi deh! Aku sudah bosan lihat tampang
kalian!
"Kau serius tidak mau pergi, Tur?" desak Tiar
penasaran.
"Eh, mesti diusir ya?!"
"Nanti kamu menyesal, Tur!"
"Pokoknya aku nggak minta ganti rugi sama
kalian! Sana deh pergi!"
"Eh, Tur! Ada yang cari kamu nih! Kamu ngutang
belum bayar, ya?" teriak Hariman mengatasi
kebisingan deru mesin motor teman-temannya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Siapa lagi sih?!" Guntur mengangkat kepalanya


dan menoleh ke pintu halaman dengan malas.
Tetapi matanya langsung menyipit begitu dia
mengenali laki-laki itu.
Sudah kuduga, pikir Pak Handoyo geram.
Pemuda-pemuda berandal seperti inilah yang
membawa kabur Maria!
Tanpa memberi kesempatan pada Guntur untuk
menyapa, Pak Handoyo sudah langsung
membentak dengan kasar,
"Di mana Maria?!"
"Buset!" Gatot pura-pura mengurut dada.
"Galak amat! Kamu ngutang berapa duit sih,
Tur?"
"Jangan main-main!" geram Pak Handoyo
bengis. "Di mana anak saya?"
"Astaga!" Rusman menyeringai masam. "Kamu
melarikan anak gadis orang, Tur?"
"Wah, pantas saja dia tidak mau pergi!" Tiar
tertawa dengan kurang ajar sekali. "Bah, punya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

simpanan dia rupanya! Ada yang perlu dijaga di


dalam, Tur?"
"Maria... pergi lagi?" desah Guntur tanpa
menghiraukan seloroh teman-temannya.
"Jangan pura-pura!" Pak Handoyo menghampiri
Guntur dengan marah. "Lekas katakan, di mana
kamu sembunyikan anak saya?!"
"Saya tidak tahu di mana Maria, Pak," sahut
Guntur bingung. "Saya malah tidak tahu dia
pergi lagi...."
"Bohong! Kamu berandal yang merusak anak
saya!"
"Ciii! Anak siapa yang kaurusak, Tur?" ejek Tiar
sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Jangan main-main!" bentak Pak Handoyo
sengit ke arah Tiar. "Kalian tahu apa hukuman
pemuda-pemuda berandal yang melarikan anak
gadis orang?!"
"Tidak, Pak," sahut Tiar dengan gaya yang
menyebalkan. "Tapi saya juga tidak tahu siapa
anak Bapak!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami tidak tahu ke mana Maria pergi, Pak,"


sambung Guntur sabar. "Tapi kami akan ikut
mencarinya. Kapan Maria pergi?"
"Dia menghilang sejak kemarin," geram Pak
Handoyo berang. "Dan saya menemukan ini di
kamarnya!"
Dengan kasar Pak Handoyo melemparkan cabikan-cabikan foto ke muka Guntur. Potonganpotongan itu jatuh ke lantai. Dan Guntur
langsung memungutnya. Mukanya segera
berubah begitu mengenali foto itu.
"Kamu yang merusak anakku! Sekarang pasti
kamu pula yang mengajaknya kabur!"
"Buset! Siapa sih ni orang, Tur?" geram Rusman
yang mulai naik darah. "Galak amat!" "Calon
mertuaku," sahut Guntur asal saja.
Meledak kemarahan Pak Handoyo. Sebelum
teman-teman Guntur sempat tertawa, dia telah
mengepal tinjunya. Dan menjotos Guntur
dengan berang.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Melihat Guntur terhuyung-huyung mundur,


Gatot tak dapat menahan dirinya lagi. Dia
langsung mencabut pistol ayahnya yang sering
dibawanya ke mana-mana. Dikokangnya
pelatuknya. Dibidikkan-nya ke arah Pak
Handoyo. Tentu saja maksudnya cuma untuk
menggertak. Kalau sedang bergaya begini, dia
sering merasa dirinya tiba-tiba menjadi Clint
Eastwood.
Tetapi Pak Handoyo tidak dapat ditakut-takuti.
Apalagi oleh seorang bocah. Bukannya mundur,
dia malah maju menghampiri laras pistol Gatot.
"Tembaklah kalau berani," tantangnya sengit.
"Biar aku punya alasan untuk menjebloskan
kalian ke dalam penjara!"
Sekejap teman-temannya melihat pancaran
berbahaya keluar dari mata Gatot. Dan Rusman
yang berdiri paling dekat terlambat untuk
mencegah. Jari Gatot yang memeluk pelatuk
telah bergerak.
Pada saat yang kritis itu, Guntur melompat dan
menerjang Pak Handoyo dengan nekat. Hanya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

terdengar sekali letusan. Sesudah itu semuanya


menjadi hening. Guntur jatuh tersungkur
bersama Pak Handoyo.

***

"Malam ini kamu mesti tidur di kamarku, Mar,"


kata Elita setelah mereka selesai makan malam.
"Kamar tamu mau dipakai oleh teman abangku.
Malam ini mereka pulang dari Bandung. Si
Gareng kuliah di ITB."
"Gareng?" Maria mengangkat alisnya dengan
heran. "Kok namanya begitu?"
"Nama panggilan."
"Kenapa dipanggil Gareng?"
"Habis mukanya jelek kayak Gareng."
"Ah. masa."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia anak laki-laki yang bungsu. Ibuku paling


sayang padanya. Itu nama kesayangan dari Ibu
kok!"
Maria tersenyum geli. Dan senyumnya langsung
hilang begitu melihat kamar Elita.
Dia belum pernah melihat ruangan yang lebih
berantakan daripada kamar itu. Dan bukan itu
saja. Dindingnya penuh dengan gambar laki-laki.
Bermacam-macam posenya. Beraneka ragam
model rambutnya.
Lebih tidak keruan lagi pakaiannya. Dari yang
tidak pakai baju sampai yang tubuhnya penuh
dengan bulu-bulu ayam. Dari yang rambutnya
botak sampai yang berjambul di tengah seperti
jengger ayam jantan. Dari yang cuma memeluk
gitar sampai yang merangkul seorang gadis
yang... yang... membuat pipi Maria memerah
dengan sendirinya....
"Nah, gimana?" tantang Elita sambil tersenyum
bangga.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Gambar-gambar siapa ini, El?" cetus Maria


bingung.
"Itu namanya poster," sahut Elita sambil
mencabut poster yang paling dekat dengan
ranjang Maria. "Dinding ini sengaja
kukosongkan. Untukmu. Kamu boleh
mengisinya dengan gambar siapa
saja. Gambar Bunda Mana kek. Gambar Guntur
kek."
"Ah, saya nggak punya gambar apa-apa."
"Ini radio. Ada kasetnya juga. Kamu boleh setel
jika ingin mendengarkan lagu."
"Buku-buku itu boleh saya bereskan, El?" Maria
menunjuk buku-buku dan majalah-majalah yang
berserakan di lantai.
"Boleh saja." Elita tertawa bebas. "Tapi jangan
keki kalau besok sudah berantakan lagi!"
"Saya boleh membersihkan kamar ini?"
"Tentu saja. Si Inem memang kularang masuk
kemari. Lancang dia. Aku yakin dia sering

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

meminjam kaset-kaset ini. Mendengarkannya di


kamarnya sendiri. Tentu saja kalau aku nggak
ada di rumah. Minyak wangiku juga cepat habis
kalau dia bersih-bersih di sini!"
"Poster-poster ini juga boleh saya turunkan?"
"Lho, jangan dong! Itu kan poster-poster
penyanyi-penyanyi kesayanganku! Aku nggak
bisa tidur sebelum melihat mereka!"
"Tapi saya malah tidak bisa tidur kalau melihat
gambar-gambar seperti ini!"
"Makanya mesti dibiasakan! Kamu kan gadis
Metropolitan sekarang! Jangan norak dong!"
"Saya juga senang melihat gambar orang-orang
yang cakep, El. Tapi cakep bukan hanya berarti
bagus luarnya saja, kan? Biar bagus kalau tidak
sopan penampilannya, kan cuma memalukan
saja?"
"Soalnya batasan antara sopan dan tidak itu
yang berbeda, Mar! yang sopan untukku
mungkin tidak sopan untuk ukuranmu!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria tidak menjawab. Dibereskannya saja


buku-buku dan majalah-majalah yang berset
akan di
lantai. Dikumpulkannya kaset-kaset yang
bertebaran sampai ke bawah ranjang. Dan
dibersihkannya tempat-tempat yang debunya
sudah sekilo kalau dikumpulkan dan ditimbang.
Tidak enak melihat temannya bekerja sendiri,
terpaksa Elita ikut turun tangan membantu. Dan
tiba-tiba saja seekor 'kerbau' menyeruduk
masuk tanpa pemberitahuan lagi.
"Di mana jeans-ku, El?" Dengan gemas
dipukulnya pantat gadis yang sedang
membungkuk di bawah tempat tidur itu.
"Pulangin dong kalau pinjam!"
Yang terbelalak kaget bukan cuma gadis yang
sedang menjerit tertahan itu. Pemuda yang
memukulnya juga.
"Astaga!" Dia mundur selangkah dengan
terkejut. "Ada babu baru rupanya!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Hush!" bentak Elita yang muncul di


belakangnya. Begitu muncul dia langsung
memukul bahu pemuda itu. "Dia teman
sekolahku, tahu nggak!"
"Ngapain lembur di sini?"
"Dia tinggal di sini. Menemaniku."
"Lho, kamu masih perlu baby-sitter?"
"Jangan pedulikan dia, Mar," kata Elita pada
Maria yang masih tertegun di dekat tempat
tidur sambil memegang sapu. "Si Gareng
memang usil. Dia abangku. Tapi kalau dia jail,
kamu boleh mencubitnya."
"Aku juga boleh mencubitnya kalau dia nakal,
El?"
"Sudah, pergi kamu! Awas ya, kalau berani
ganggu Maria, kuadukan pada Papa!"
"Bonekamu masih kurang ya, El?" ejek Gareng
sambil menyeringai mengejek. "Masih perlu
tambah satu boneka hidup?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudah kubilang pergi!" Dengan gemas Elita


mengejar Gareng untuk mencubitnya. Tapi
dengan gesit pemuda itu lari menghindar.
Di tangga, mereka hampir bertabrakan dengan
ibu Elita yang sedang bergegas naik.
"Astaga!" desis Ibu kesal. Cepat-cepat dia
berpegangan pada tangga. Takut terguling ke
bawah diterjang anak-anaknya. "Apa-apaan
sih?"
"Gareng nakal, Ma!" geram Elita gemas. "Masa
dia berani memukul pantat Maria!"
"Ada telepon untukmu, El!" kata ibunya tanpa
menghiraukan pengaduan Elita. "Katanya
penting. Dari rumah sakit!"
"Rumah sakit?" belalak Elita terkejut.
Dan yang tersentak bukan cuma Elita. Maria
juga.
"Jangan-jangan Ayah saya, El!" desahnya
dengan wajah pucat-pasi. "Firasat saya sudah
tidak enak sejak tadi!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah, jangan kuatir dulu. Paling-paling si Nurul


jatuh dari motor. Nggak bisa bayar uang muka
jadi dia telepon kemari."
Tetapi begitu menerima telepon, wajah Elita
langsung berubah. Ketenangannya pun
langsung buyar. Jelas sekali terlihat dia
berusaha mengatasi emosinya.
"Kami akan segera ke sana."
Cuma itu yang dapat diucapkan oleh Elita.
Sesudah itu dia tidak bisa menguasai dirinya
lagi. Dilepaskannya teleponnya begitu saja. Lalu
dia terkulai lemas. Buru-buru Gareng
menopangnya.
"Ada apa, El?" tanyanya bingung. "Siapa yang
kecelakaan?"
"Ayah, El?" desak Maria separuh menangis.
Tetapi Elita sudah tidak dapat ditanya lagi. Dia
sudah menangis.

***

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Peluru itu terbenam di hatinya," kata Dedi


murung. "Dokter-dokter sedang berusaha
mengeluarkannya melalui pembedahan."
"Dan... ayah Maria?" tanya Elita, menahan
tangis.
Maria sendiri sudah tidak dapat berkata apaapa lagi. Berdiri tegak pun dia sudah hampir
tidak mampu. Mesti ditopang oleh Elita dan
Gareng.
"Di kantor polisi bersama Gatot dan temantemannya."
"Ayah..." ratap Maria pilu. Selain kata itu dia
tidak mampu lagi mengucapkan sepatah kata
pun. Dia malah hampir-hampir tak kuasa lagi
membendung tangisnya.
Satu per satu teman-temannya berdatangan
setelah Tina ditelepon oleh Gareng. Ketika
Nurul muncul, dokter baru saja selesai
mengoperasi Guntur.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Peluru sudah berhasil dikeluarkan," kata


Dokter Suryadi dengan wajah murung. Melihat
wajah dokter itu saja, Elita dan teman-temanya
sudah putus asa. "Tapi keadaannya sangat kritis.
Peluru menembus usus sebelum
menghancurkan hatinya. Dan kalian harus tahu,
hati tidak dapat diangkat. Perdarahan pun
cukup banyak. Sekarang dia masih belum sadar.
Kalau dia tidak berhasil melampaui masa
kritisnya dalam beberapa menit ini, tidak ada
harapan lagi."
Bukan hanya Maria yang memekik histeris.
Teman-temannya juga. Hampir tidak dapat
dipercaya! Pemuda ganteng itu! Pemuda yang
lincah. Periang. Enerjik. Sekarang dia terkapar
dalam keadaan coma. Setiap saat nyawa dapat
berlalu dari tubuhnya! Dan tubuh itu akan
terdiam untuk selama-lamanya. Terbujur kaku
dalam pelukan kematian.... O, maut! Mengapa
kaucengkeramkan kukumu justru pada saat
keinsafan sudah datang menyapa? Guntur
memang pemuda berandal. Tapi dia sudah
sadar. Dan berusaha memperbaiki dirinya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Mengapa dia masih harus dihukum? Mengapa


dia tidak diberi kesempatan untuk
membuktikan kein-safannya?
"Selamat, Maria!" terngiang kembali di telinga
Maria ucapan Guntur yang pertama dulu.
"Mainmu bagus sekali. Benar nggak sih kakimu
dari kayu?"
"Kamu cantik!" katanya di pesta ulang tahun
Rena.
"Jangan ganggu dia!" bentaknya tegas kepada
teman-temannya. "Dia bukan gadis untuk kita!"
Dan sekarang pemuda yang nakal tapi baik hati
itu terkapar antara hidup dan mati... karena
perbuatan ayahnya!
O, Ayah! Ayah! Belum puaskah Ayah
memporak-porandakan hidupku? Mengapa
harus kauhancurkan pula hidup orang lain?
Temanku yang terbaik! Teman priaku satusatunya!

***

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Ruang ICU yang hening itu hanya diisi oleh


desah napas Guntur yang tersendat-sendat.
Dalam dan
berat. Sebuah pipa oksigen yang dimasukkan ke
hidungnya membantu pernapasannya.
Lengannya pun masih diinfus. Sementara di
lengan yang lain, menghunjam jarum transfusi
darah.
Maria menunggu agak jauh dari tempat tidur
Guntur. Tidak mungkin terlalu dekat dengan
tempat tidurnya. Terlalu banyak alat-alat
pembantu di sana.
Lagi pula Maria tidak boleh mengganggu
kesibukan para perawat yang sedang
memonitor keadaan Guntur. Dan di sana ada
orang tuanya pula.
Teman-teman Maria yang lain menunggu di
luar. Mereka sengaja memberi kesempatan
terakhir kepada Maria untuk berada di dekat
Guntur. Karena walaupun tidak diucapkan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mereka semua sependapat, tidak ada harapan


lagi untuk Guntur. Setiap saat dia bisa pergi.
Dokter memang masih berusaha menolong
seda-pat-dapatnya. Mereka tidak boleh tinggal
diam selama jantung pasien masih tetap
berdenyut.
Sesudah denyutnya hilang pun mereka masih
belum menyerah. Beberapa kali pijatan jantung
luar masih dilakukan untuk mencoba
mempertahankan hidup pasiennya.
Tetapi keputusan terakhir di tangan Tuhan.
Dengan Penciptanyalah manusia telah berjanji
kapan dia harus kembali.
Nurul telah menyerahkan surat Guntur kepada
Maria. Dia beranggapan tidak ada lagi waktu
yang lebih tepat selain saat ini.
"Kalau aku tidak bisa bertemu lagi dengan
Maria, tolong berikan surat ini kepadanya, ya?"
Menitik air mata Nurul kalau teringat kata-kata
Guntur yang terakhir kepadanya itu.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sudah punya firasatkah dia? Pemuda yang tidak


pernah serius itu menulis surat! Sudah tahukah
dia tidak mungkin bertemu lagi dengan Maria?

"Kalau kamu buka surat ini, Mar, artinya kita


tidak sempat bertemu lagi," Guntur mengawali
suratnya dengan kata-kata yang memedihkan
hati Maria. "Karena aku yakin sesudah kejadian
malam itu, kamu pasti tidak mau lagi bertemu
denganku. Iya kan, Mar? Aku bisa mengerti
alasanmu. Semua memang salahku. Aku telah
mempermainkan kamu. Menjadikan kamu
obyek taruhan dengan teman-temanku. Terus
terang mula-mula aku memang tidak serius
dengan kamu. Aku tidak pernah serius dengan
gadis mana pun kok, Mar! Tanya temantemanmu deh kalau nggak percaya! Tapi entah
mengapa setelah kita berada bersama-sama
seharian itu, aku mulai tertarik kepadamu.
Serius nih, Mar! Jadi kalau biara penuh atau
kalau kamu ditolak karena tidak memenuhi

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

syarat jadi biarawati atau ayahmu sakit-sakitan


terus sehingga dia berubah pikiran, lebih baik
menjadikan kamu dokter daripada pertapa,
tolong ingat aku, Mar! Aku masih selalu
menunggumu! Aku akan belajar baik-baik,
merapikan rambutku, menukar T-shirt dan jeans
kumalku dengan kemeja putih dan dasi supaya
ayahmu tidak malu punya menantu seperti aku.
Benar nih, Mar! Aku janji! Kapan kita bisa
bertemu lagi, Maria?"

Sekarang kita bertemu lagi, Tur! pekik Maria


dalam hati. Sekarang aku berada di dekatmu.
Dapat kupandangi sepuas-puasnya wajahmu
yang pucat-pasi. Sayang matamu terpejam
rapat.... Bisa kudengarkan desah napasmu....
Kurasakan kesakit-anmu.... Masih merasa
sakitkah engkau di sana? Atau semuanya sudah
terlupa dalam tidurmu yang lelap? Aku akan
tetap menunggu di sini, Tur. Aku akan tetap

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

menunggu sampai kamu membuka matamu dan


melihat aku di sini!
"Tensinya makin menurun. Dok," lapor perawat
pada dokter yang baru datang mengontrol.
Dokter itu melakukan pemeriksaan singkat
sebelum menggeleng-gelengkan kepalanya
dengan muram.
"Mungkin ada perdarahan baru," desahnya
perlahan. "Kita harus mengadakan laparotomi
kembali. Tapi pasien sudah masuk dalam
keadaan shock berat. Saya tidak yakin dia
berhasil mengatasi shock-nya. dan kita masih
keburu membuka perutnya kembali...."
"Jangan, Tuhan! pekik Maria dalam hati. Jangan
biarkan dia pergi! Akan kupersembahkan
seluruh hidupku sebagai ganti hidupnya!
Dan Ibu Guntur memekik tertahan melihat
cairan kehitam-hitaman yang disedot ke dalam
botol melalui pipa yang dihubungkan dengan
mesin yang bertugas membersihkan jalan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

pernapasan Guntur. Sejak tadi cairan di dalam


botol itu berwarna putih walaupun tidak jernih.
Sejenak Guntur seperti bergerak-gerak. Lalu
jarum yang memonitor denyut jantung Guntur
bergerak tak teratur. Melukiskan garis naikturun yang kacau.
Ibu Guntur menutup mukanya. Dan menangis
perlahan di bahu suaminya.
Maria tidak tahan lagi. Dia menghambur ke luar.
Berlari dan berlari terus. Tanpa menghiraukan
panggilan teman-temannya.
Begitu saja Maria melompat ke dalam taksi yang
kebetulan berhenti di depan rumah sakit. Dia
baru turun setelah si sopir taksi tidak tahu lagi
ke mana hendak membawanya.
Gadis ini pasti sakit ingatan, pikir pengemudi
taksi itu dengan perasaan iba. Atau jiwanya
terganggu karena pacarnya meninggal. Kasihan.
Malam-malam begini masih berkeliaran di jalan.
Sudah hampir pukul dua belas!

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tanpa berkata apa-apa lagi Maria mengeluarkan


semua uang yang ada di dompetnya.
Diberikannya semuanya kepada si pengemudi
taksi yang sedang kebingungan itu.
Lalu tanpa menghiraukan apa-apa lagi Maria
berlari di sepanjang kaki lima. Menembus
keheningan malam. Sampai kakinya tidak bisa
diangkat lagi. Dan dia jatuh tersungkur ke tanah.
Tak tahu Maria sudah berapa lama dia
menangis sambil berdoa di sana. Dia baru
mengangkat wajahnya ketika telinganya lapatlapat mendengar suara alunan organ dan
dentang lonceng gereja.
Lalu dia melihat patung itu. Patung yang
menjulang tinggi di hadapannya. Patung yang
mirip dengan gambar Yesus di kamarnya. Di
kaki-Nya-lah dia tersungkur. Dan tiba-tiba saja
ada secercah kedamaian menjalari hati Maria.
"Kupersembahkan seluruh hidupku sebagai
ganti hidupnya, Tuhan!" bisik Maria, terharu.
"Kuserahkan diriku seutuhnya ke dalam tanganMu!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

BAB X

Selesai berdoa Suster Maria keluar dari kapel


kecil di samping biara. Dia melangkah anggun
menelusuri jalan setapak yang menerobos ke
koridor rumah sakit. Kerudung putihnya sekalisekali melambai-lambai diterbangkan angin
malam yang nakal.
Suasana di sana memang agak gelap. Hanya ada
sebuah lampu TL sepuluh Watt sebagai
penerangan. Tetapi Suster Maria tidak takut.
Dia sudah biasa berjalan di sini.
Setiap malam sebelum tidur Suster Maria akan
mengontrol sekali lagi keadaan rumah sakit
yang dikelolanya. Rumah sakit kecil di lereng

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

pegunungan, milik sebuah yayasan Katolik yang


dipercayakan kepadanya.
Hanya ada seorang dokter dan tiga orang
perawat di sana. Dua orang di antaranya calon
biarawati pula.
Memang bukan sebuah rumah sakit yang
komplet. Kapasitasnya pun hanya tiga puluh
tempat tidur. Tetapi rumah sakit itu tidak
pernah kosong.
Malah jika sedang penuh, misalnya waktu ada
wabah kolera dulu, lorong-lorongnya pun
digunakan sebagai bangsal untuk orang sakit.
Kasur-kasur
tambahan diangkut dari dalam biara. Sehingga
pernah beberapa kali terjadi, Suster Maria dan
rekan-rekannya terpaksa tidur tanpa alas.
Rumah sakit itu memang bukan sebuah rumah
sakit yang hebat. Tidak pernah masuk koran.
Tidak pernah mendapat kunjungan pejabat dari
pusat. Apalagi sumbangan para dermawan.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Kasus-kasus penyakit yang seharusnya masih


bisa tertolong bila pasien itu dirawat di rumah
sakit pusat yang lengkap, kadang-kadang
terpaksa direlakan pergi karena tidak ada
fasilitas. Tetapi bagaimanapun untuk penduduk
di sekitarnya, rumah sakit itu telah menjadi
berkat tersendiri. Sesuai dengan doa Suster
Maria setiap malam.
"Jadikanlah aku alat damai sejahtera-Mu,
Tuhan. Agar di tempat keputusasaan aku
membawa harapan, di tempat kesakitan aku
membawa kesembuhan, dan di tempat duka
cita aku membawa suka cita."
Selama tujuh belas tahun makna doa itu telah
menyatu dengan perilaku Suster Maria seharihari. Bukan hanya pada saat dia mengabdi
Tuhan di dalam biaranya yang sepi, tapi juga
pada saat merawat dan mendampingi pasien di
dalam rumah sakitnya yang hiruk-pikuk.
"Selamat malam, Suster Maria!" sapa Pak
Kunto, yang punya pos tetap di ranjang yang
paling ujung dekat pintu bangsal.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sudah bertahun-tahun Pak Kunto dirawat di


rumah sakit ini. Sejak keluarganya tidak mampu
lagi membiayai pengobatan penyakit tbc-nya
yang sudah parah. Paru-parunya telah
bernanah. Tubuhnya pun tinggal tulang berbalut
kulit.
Pasien langganan yang sudah termasuk
inventaris rumah sakit ini ditempatkan di dalam
bangsal isolasi bersama sembilan orang pasien
tbc lainnya. Suara batuk mereka sudah ramai
terdengar sejak Suster Maria masih berada di
ujung koridor.
Setiap kali Suster Maria lewat di sana, pasti Pak
Kunto yang pertama kali melihatnya. Dan
pertama kali pula menyapanya.
Suster Maria akan meluangkan waktu untuk
berhenti sebentar di sana. Mengobrol dan
menghibur pasien sebatang kara yang semangat
hidupnya sudah tidak sepadan lagi dengan
keadaan fisiknya itu.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Anginnya kencang sekali ya, Suster," kata Pak


Kunto sambil menatap ke luar. "Nanti malam
pasti hujan lebat."
"Pak Kunto kedinginan?"
Suster Maria menatap dada tipis yang hanya
berbalut selembar sarung itu dengan iba. Ya,
seandainya saja dia punya cukup banyak uang
untuk membelikan sehelai baju hangat untuk
orang tua ini! Ah, jangankan pakaian, untuk
membeli obat-obatannya pun rumah sakit
sudah hampir kewalahan!
Penderita tbc harus diobati secara terusmenerus setiap hari. Dan penderita yang
penyakitnya sudah separah Pak Kunto,
memerlukan pengobatan yang teratur
berbulan-bulan.
Kadang-kadang kalau obat suntiknya kebetulan
sedang habis, Suster Maria terpaksa hanya
menyuntikkan vitamin ke dalam tubuh Pak
Kunto. Meskipun hatinya sedang menangis,
Suster Maria harus tetap mengulum senyum di
bibirnya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Yah, di negeri ini berapa banyak orang kaya


yang mampu membeli perhiasan seharga
puluhan juta
rupiah, sementara di bangsal yang pengap ini,
pasien tidak mampu membeli obat suntik yang
hanya berharga beberapa puluh rupiah saja
untuk mempertahankan hidupnya! Sungguh
suatu ironi yang menyayat hati!
"Nggak apa-apa, Suster," sahut Pak Kunto
dengan ketabahan yang kadang-kadang
membuat Suster Maria terharu. "Bapak sudah
biasa kok. Suster sendiri nggak kedinginan?"
"Ah, saya kan pakai baju panjang, Pak Kunto.
Tebal lagi. Pakai kerudung pula."
"Dulu Suster punya mantel. Sudah lama Bapak
tidak pernah lihat lagi."
Suster Maria cuma tersenyum. Pak Kunto tidak
perlu tahu kepada siapa mantel itu telah
diberikannya.
"Suster Maria!" seru Suster Ranti dari pintu
bangsal nomor tiga. "Pak Sardi, Suster!"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Cepat-cepat Suster Maria melangkah ke bangsal


nomor tiga. Dia sudah tahu arti panggilan
semacam itu. Seorang pasien telah bersiap-siap
untuk mengucapkan selamat tinggal kepada
dunia. Kepada penyakitnya juga.
Dan Suster Maria harus berada di sisi pasien itu.
Harus menemaninya sampai suatu saat dia tidak
mungkin ditemani lagi. Si pasien harus berjalan
seorang diri ke suatu tempat yang tidak
dikenalnya. Hanya doa Suster Maria yang dapat
menyertainya.

***

Malam itu benar-benar malam yang sibuk.


Hujan turun dengan lebatnya seperti yang telah
diramalkan oleh Pak Kunto. Begitu derasnya
arus air sampai
berhasil membobolkan tanggul. Dan banjir yang
mengganas itu merobohkan sebuah jembatan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

yang baru selesai diperbaiki tepat pada waktu


tengah malam.
Sebuah bis yang kebetulan lewat terjerumus ke
dalam sungai. Lima belas orang penumpang
yang luka-luka diangkut ke rumah sakit yang
terdekat untuk mendapatkan pertolongan
pertama.
Beberapa orang di antaranya sudah tidak dapat
ditolong lagi. Mereka dikumpulkan di sudut
dekat ruang darurat. Sementara ruang darurat
itu sendiri, penuh sesak dengan pasien-pasien
yang masih membutuhkan pertolongan.
Kalau di dalam ruang darurat kesibukan dan
rintihan mewarnai suasana, maka di sudut sana,
cuma kesepian yang mencekam. Hanya Suster
Maria yang berada di situ, mempersiapkan
mereka yang
akan memulai perjalanan panjangnya malam ini
juga. Perjalanan menemui Sang Pencipta.
Dokter

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Lusi dengan ketiga orang perawatnya masih


sibuk
menolong mereka yang luka-luka.
Pasien yang pertama telah berlalu sebelum
Suster
Maria sempat membekalinya dengan kata-kata
hiburan dan doa. Sejenak dia menundukkan
kepala.
Berdoa untuk arwah laki-laki itu.
Korban yang kedua masih merintih kesakitan
sekali-sekali, meskipun dengan suara yang
sudah hampir tidak terdengar lagi karena
lemahnya. Suster Maria masih sempat
menyuntikkan obat penghilang rasa sakit sesuai
dengan instruksi Dokter Lusi. Dia juga masih
sempat membisikkan kata-kata hiburan di
telinga pasien itu. Masih sempat berdoa
sebelum matanya terpejam untuk selamalamanya.
Pasien ketiga juga masih hidup meskipun
napasnya tinggal satu-satu. Mukanya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

berlumuran darah. Suster Maria harus


membersihkannya dulu sebelum dapat
mengenali wajahnya. Dan dia hampir tidak
mempercayai matanya sendiri!
Laki-laki tinggi kurus dengan kumis dan jenggot
yang tumbuh liar tak terurus itu... Ya, Tuhan!
Benarkah dia... ayahnya?

***

Suster Maria duduk terpekur di lantai. Di


samping sehelai tikar tua yang mengalasi tubuh
ayahnya. Hati-hati diletakkannya kepala yang
berlumuran darah itu di atas pangkuannya.
Darah yang menetes merah meronai jubah
putihnya. Hanya dua sosok mayat yang
menemani suasana pertemuannya dengan
ayahnya.
Pak Handoyo sendiri sudah berada dalam
keadaan coma. Matanya terpejam rapat.
Napasnya tinggal satu-satu. Tetapi Maria

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

percaya, Ayah masih dapat mendengar


suaranya. Merasakan belaian tangannya.
Menikmati kasih sayang anaknya.
"Bukalah matamu, Ayah," bisik Maria, lebih
menyerupai sebuah doa. "Tataplah anakmu
sekejap saja, supaya Ayah dapat melihat janjimu
telah menjelma menjadi kenyataan...."
Dan sesaat sebelum tarikan napasnya yang
terakhir, pelupuk mata Pak Handoyo terbuka.
Tidak ada lagi sinar kehidupan di mata itu.
Tetapi bola matanya yang telah memutih
seakan-akan menatap anaknya. Tanpa sorot
kemarahan.
Dengan lembut Suster Maria mengatupkan
kembali pelupuk mata ayahnya.
"Selamat jalan. Ayah," bisiknya menahan tangis.
"Pergilah dengan tenang menghadap Tuhan.
Hutang Ayah telah saya lunasi. Semoga jiwamu
beristirahat dalam damai...."
Diambilnya kedua belah tangan ayahnya.
Dilipatnya baik-baik di atas perutnya. Saat itu,

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

barulah Suster Maria melihat benda yang masih


berada dalam genggaman Pak Handoyo.
Hati-hati Suster Maria membuka genggaman
tangan ayahnya. Dan sebuah leontin jatuh ke
bawah. Suster Maria memungutnya. Dan
melihat gambar dirinya di balik selapis kaca
yang telah pecah.
Itu adalah fotonya tujuh belas tahun yang lalu.
Ketika dia berdansa dengan Guntur di pesta
ulang tahun Rena. Ayah telah menggunting foto
yang telah dirobeknya itu. Melekatkannya di
sini. Dan membawanya ke mana-mana sampai
saat yang terakhir.
Tidak terasa air mata Suster Maria menitik.
Mengalir di kedua belah pipinya. Seumur
hidupnya Ayah tidak pernah mengungkapkan
kasih sayang kepadanya. Tetapi pada saat
kematian datang menjemputnya, cuma foto
anaknya yang berada dalam genggamannya....
Lama Suster Maria masih terpekur merenungi
jenazah ayahnya. Sampai sebuah sentuhan
lembut di bahunya menyadarkannya kembali.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Suster Maria, insinyur yang membangun


jembatan yang roboh itu ingin bertemu. Dia
berjanji akan menyelidiki sampai tuntas
sabotase yang membawa musibah ini. Tapi
sebelumnya, dia dan stafnya ingin membantu
korban-korban yang luka. Mereka menanyakan
kepada kita, apa yang dapat mereka bantu."
Perlahan-lahan Suster Maria mengangkat
mukanya. Dan melihat wajah Suster Fransiska
yang bersimbah peluh meskipun udara dingin
menusuk tulang, Suster Maria sadar, dia tidak
boleh terus-menerus tenggelam dalam
kesedihan. Masih banyak tugas yang sedang
menantinya.
"Tolong rawat jenazah-jenazah ini, Suster,"
katanya sambil meletakkan kepala ayahnya
dengan hati-hati. "Biar saya yang bicara dengan
mereka."
Lambat-lambat Suster Maria berdiri. Dan
mengikuti Suster Fransiska ke luar.
"Ini Suster Maria, Pak," kata Suster Fransiska
kepada seorang laki-laki gagah yang tegak di

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

pintu kantor rumah sakit. "Beliau pimpinan


kami di sini."
"Selamat malam, Suster," sapa pemuda yang
mengenakan jaket kulit berwarna gelap, yang
penuh dengan titik-titik air hujan itu. Rambut
dan wajahnya basah meskipun di tangannya dia
masih memegang sebuah topi.
Penerangan di sana tidak terlalu terang. Hanya
lampu TL empat puluh Watt yang menyorot dari
dalam kantor. Pemuda itu tegak membelakangi
cahaya. Tetapi bagaimanapun gelapnya
mukanya, Suster Maria masih dapat
mengenalinya.
Sejenak mereka sama-sama terhenyak diam.
Jarak tiga langkah di antara mereka seakan-akan
menjadi jembatan ke masa silam. Tujuh belas
tahun telah lewat. Tetapi Guntur masih dapat
mengenali gadis polos dan lugu yang kini
terbungkus dalam jubah biarawati yang penuh
berlumuran darah itu.
Sebaliknya Suster Maria pun langsung teringat
kepada seorang pemuda berandal yang di

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dalam suratnya telah berjanji untuk mengganti


T-shirt dan jeans kumalnya dengan kemeja
putih dan dasi.
Malam ini dia memang hanya mengenakan
sehelai jaket kulit. Tapi dia telah menepati
janjinya. Mengubah dirinya dari seorang
berandal yang sia-sia menjadi seorang insinyur
yang berguna.
Sedetik suasana hening mencekam mereka.
Suster Fransiska telah bergegas kembali ke
ruang darurat. Tidak ada orang lain di sana.
Sementara di luar, hujan pun tinggal rintikrintik.
Tak ada lagi gelegar halilintar yang memekakkan
telinga. Tak ada lagi desau angin yang
mendirikan bulu roma. Tak ada lagi hujan lebat
yang mengundang petaka. Semua telah sunyi
kembali. Alam seakan-akan telah kembali ke
peraduannya yang tenang tenteram.
"Tuhan menyertaimu, Guntur," sapa Suster
Maria lembut, setelah ketenangan berhasil
menyelimuti dirinya lagi.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Maria!" desis Guntur tidak percaya. "Berbulanbulan aku membangun jembatan di sini. Tidak
pernah kusangka jarak yang memisahkan kita
hanya tinggal belasan langkah!"
"Ada jarak yang tidak mungkin terseberangi lagi
di antara kita sekarang, Guntur. Aku telah
menemukan hidupku di sini."
"Dan meninggalkan aku bertahun-tahun hidup
dalam kekosongan dan kesepian di luar sana?"
"Kamu telah menemukan dirimu sendiri,
Guntur. Aku bangga padamu."
"Kamu merawat orang sakit di sini, tapi
membiarkan aku seorang diri ketika hidupku
tinggal dalam hitungan detik?"
"Ketika aku jatuh tersungkur di depan kaki
Tuhan...." Mata Suster Maria bersinar-sinar
ketika membayangkan malam tujuh belas tahun
yang lalu
itu. "...aku percaya, Tuhan telah mendengar
doaku Dan mengembalikan nyawamu."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dan kamu menukar hidupku dengan hidupmu


sendiri?"
"Hidup untuk Tuhan dan sesama manusia bukan
pengorbanan, Guntur. Itu adalah hidup yang
sangat indah."
"Dan kapan keindahan itu mewarnai hidupku
juga?"
"Jika kaubagi hidupmu untuk orang lain," sahut
Suster Maria tenang.
Tak ada lagi gambaran gadis salah tingkah yang
selalu ketakutan itu. Sebagai gantinya, berdiri
kini di hadapannya seorang wanita yang agung
dan mandiri. Seluruh pribadinya hangat
bermandikan sinar Ilahi. Sorot matanya lembut
tapi penuh kepercayaan diri dan kasih sayang.
Ketika Guntur diantarkan meninjau keadaan
rumah sakit itu. dan melihat apa artinya
seorang Maria bagi pasien-pasien di sini, tibatiba saja dia sadar, Maria terlalu mahal jika
diciptakan hanya untuk melayaninya seorang
diri.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Bukan cuma Guntur seorang yang


membutuhkan Maria. Ada banyak orang yang
ingin membagi penderitaannya dengan dia.
"Tadi kamu datang menanyakan apa yang dapat
kamu bantu, bukan?" tanya Suster Maria,
selesai mereka melihat-lihat keadaan rumah
sakit itu. "Nah, kamu telah melihat semuanya.
Begitu banyak yang dapat kamu lakukan untuk
mereka. Bagaimana kalau kita mulai sekarang
saja?"
"Apa yang mesti kulakukan?" tanya Guntur
sambil menghela napas. "Aku cuma bisa
membangun jembatan."
"Kalian pinna mobil, kan? Tolong bawa pasienpasien gawat ini ke rumah sakit yang lebih
besar. Mereka membutuhkan pertolongan
segera. Sesudah itu kembalilah kemari. Ada
banyak pekerjaan yang dapat dilakukan oleh
seorang insinyur di tempat yang terpencil
seperti ini."
"Suster Maria." sela Suster Ranti tiba-tiba,
"persediaan darah golongan A kita habis."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Dengan tenang Suster Maria berpaling ke arah


Guntur.
"Dengarlah, Tuhan telah mengetuk pintu
hatimu. Ada di antara kalian yang ingin
menyumbang darah?"
***
Sambil menunggu pasien-pasien yang sedang
diangkut ke dalam mobilnya. Guntur mengawasi
Maria dari kejauhan. Kesibukannya tidak pernah
berkurang. Seakan-akan dua puluh empat jam
sehari tidak pernah cukup untuknya.
Diam-diam Guntur teringat kepada Pak
Handoyo. Tahu jugakah dia di mana anaknya
sekarang?
Guntur tidak pernah melihatnya lagi sejak sore
yang naas itu. Dia menghilang setelah
perkaranya selesai. Belakangan dari Elita,
Guntur mendengar kabar lain.
Kata Suster Cecilia, Pak Handoyo telah menjadi
seorang pengabar Injil di pedalaman Irian Jaya.
Dan dia tidak pernah lagi kembali ke Pulau Jawa.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Seakan-akan dia ingin melupakan kesedihan


demi kesedihan yang menimpanya di sini.
Anaknya hilang. Seorang pemuda yang tidak
berdosa menjadi korban akibat perbuatannya.
Dia sendiri ditahan selama beberapa bulan
sebelum akhirnya dibebaskan dari segala
tuduhan. Gatot-lah
yang harus mempertanggung jawabkan
perbuatannya.
Barangkali karena trauma psikis yang bertubitubi itulah akhirnya Pak Handoyo memutuskan
untuk bekerja kembali di jalan Tuhan. Allah
Maha Pengampun. Hanya sesudah berdamai
kembali dengan Tuhan-nyalah Pak Handoyo
menemukan ketenangan. Tetapi kalau saja dia
sempat melihat anaknya sekarang, barangkali
kebahagiaannya akan bertambah sempurna.
Merpatinya yang terbang lepas itu kini telah
kembali ke sarang. Merpati memang tak pernah
ingkar janji. Menjelang petang, dia pulang
memenuhi janjinya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudah selesai, Pak," kata sopirnya. "Kita


berangkat sekarang?"
Tanpa menjawab Guntur naik ke mobilnya.
Ketika perlahan-lahan mobil itu bergerak
meninggalkan halaman rumah sakit, dia
menoleh ke belakang sekali lagi.
Bayangan putih itu masih di sana. Kerudung
putihnya melambai-lambai, seakan-akan
mengajaknya kembali. Dan Guntur telah
bertekad untuk kembali kemari.
Dia akan mendampingi Maria seumur hidupnya
dalam menunaikan tugasnya. Ada banyak
pekerjaan yang dapat dilakukan oleh seorang
insinyur di tempat yang terpencil ini, kata Maria
tadi".
Dan Guntur percaya pada kata-katanya. Dia juga
percaya, tidak semua cinta harus diakhiri oleh
sebuah perkawinan. Kadang-kadang ada tujuan
yang lebih luhur lagi.

-Tamat-

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi