Anda di halaman 1dari 25

TUBERKULOSIS

DIPRESENTASIKAN
OLEH:
DR. MARLIZA,SPP

TUBERKULOSIS

Definisi
Tuberkulosis merupakan infeksi yang disebabkan
oleh bakterium tuburculosis (kadang-kadang oleh
M.bovis dan africanum)
Penularan :
Melalui udara (Airbone Speading) dari droplet
infeksi
Pada ventilasi yang buruk

Sumber infeksi:
Penderita TB paru yang membatukkan
dahaknya
Pada hapusan dahak ditemukan BTA positif

PATOGENESIS

Infeksi primer terjadi setelah seorang menginhalasi


mikrobakterium tuberkulosis.
Setelah melalui barier mukosilier saluran nafas, basil TB, akan
mencapai alveoli.
Kuman akan mengalami multiplikasi di paru, disebut focus Ghon.
Melalui aliran limfe, basil mencapai kelenjar limfe hilus.
Fokus ghon dan limfedenopati hilus membentuk kompleks
primer.
Melalui komplek primer basil dapat menyebar melalui pembuluh
darah keseluruh tubuh.
Respon imun seluler/hipersensitiviti tipe lambat terjadi 4-6
minggu setelah infeksi primer.
Banyaknya basil TB serta kemampuan daya tahan tubuh host
akan menentukan perjalanan penyakit selanjutnya. Pada
kebanyakan kasus, respon imun tubuh dapat menghentikan
multiplikasi kuman, sebagian kecil menjadio kuman doman.
Pada penderita dangan daya tahan tubuh yang buruk, respon
imun tidak dapat menghrntikan multiplikasi kuman sehingga
akan menjadi sakit pada beberapa bulan kemudian.

Sehingga komplek primer akan megalami salah


satu hal sebagai berikut :
Penderita akan sembuh dengan tidak
meninggalkan cacat (restirution ad integrium
Sembuh dengan meninggalkan bekas (seperti
sarang ghon, fibrotik, perkapuran
Menyebar dengan cara :
Perkontinuitatum ke jaringan sekitarnya :
Sebagai contoh adalah pembesaran kelenjar limfe di
hilus, sehingga menyebabkan penekanan bronkus
lobus medius, berakibat atelektasis.
Kuman akan `menjalar sepanjang bronkus yang
tersumbat menuju lobus yang altelektasis,
menimbulkan peradanga pada lobus yang atelektasis
yang disebut dengan epituberkulosis.
Pembesaran kelenjar limfe di leher, dapat menjadi
abses (scrouloderma).
Penyebaran ke plera menyebabkan efusi plera.

Penyebaran
bronkogen
ke
paru
bersangkutan atau paru sebelahnya. Atau
tertelan bersama dahak sehingga terjadi
penyebaran di usus.
Penyebaran secara hematogen dan limfogen
ke organ lain seperti tuberkulosis milier,
maningitis, ke tulang, ginjal, genetalia.

Tuberkulosis past primer:


Terjadi setelah periode laten (beberapa bulan/tahun)
setelah infeksi primer.
Dapat terjadi karena reaktifasi atau reinfeksi.
Reaktivasi terjadi akibat kuman dorman yang berada
pada jaringan selama beberapa bulan/tahun setelah
infeksi primer, mengalami multiplikasi.
Hal ini terjadi akibat daya tahan tubuh yang lemah.
Reinfeksi diartikan adanya infeksi ulang pada seseorang
yang sebelumnya pernah mengalami infeksi primer.
TB post primer umunya menyerang paru, tetapi dapat
pula di tempat lain di seluruh tubuh umumnya pada usia
dewasa.
Karakteristik TB post primer adalah adanya kerusakan
paru yang luas dengan kavitas, hapusan dahak BTA
positif, pada lobus atas, umumnya tidak terdapat
limfadenopati intratoraks.

Tuberkulosis post primer dimulai dari sarang dini


yang umumnya pada segmen apical lobus
superior atau lobus inferior.
Awalnya terbentuk sarang pneumonik kecil.
Sarang ini dapat mengalami salah satu keadaan
tersebut :
Diresorbsi dan sembuh denga tidak meninggalkan cacat.
Sarang meluas, tetap segera mengalami penyembuhan
berupa jaringan fibrosis dan perkapuran. Sarang aktif
kembali membentuk jaringan keju dan bila dibatukkan
menimbulkan kaviti.
Saang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju,
yang bila dibatukkan akan menimbulkan kaviti. Kaviti
awalnya berdinding tipis kemudian menjadi tebal (kaviti
sklerotik). Kaviti akan mengalami :

Meluas dan menimbulkan sarang pneumonik yang


baru.
Memadat dan membungkus diri (tuberkuloma).
Tuberkuloma dapat mengapur dan sembuh, tapi
dapat akti kembali dan mencair menimbulkan
kaviti kembali.
Menyembuh disebut open healed cavity, atau
menyembuh dengan membungkus diri, akhirnya
mengecil. Kaviti dapat menciut dan tampak
sebagai bintang (stellate shape)

Bentuk

tuberkulosis post primer


dapat sebagai tuberkulosis paru dan
ekstra paru :
Pulmonari TB :
Cavitas
Upperlobe infiltrate
Fibrosis
Progressive pneumonia
Endobronchial

DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PARU

Diagnosis
tuberkulosis
itegakkan
berdasarkan gejala klini, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium, radiologis dan
penunjang yang lain.
Gejala :
Respiratorik: batuk>3 minggu, berdahak, baruk
berdarah, nyeri dada, sesak nafas
Sistemik ; demam, keringa malam, malaise,
nasu makan menurun, berat badan turun.

Penderita dengan gejala tersebut dianggap


sebagai suspek TB dan harus diperiksa
dahaknya.
Pemeriksaan dahak dilakukan 3 kali (pagisewaktu-pagi/SPS) denga caa pengecatan.

PEMERIKSAAN FISIK

Tanda fisik penderita TB tidak khas, tidak dapat


membantu untuk membedakan TB dengan
penyakit paru lain.
Tanda fisik tergantung pada lokasi kelainan serta
luasnya kelainan struktur paru.
Ditemukan tanda-tanda antara lain penarikan
struktur sekitar, suara nafas bronkial, amfarok,
rankhi basah.
Pada eusi plera didapatkan gerak nafas
tertinggal, keredupan dan suara naas menuru n
sampai tidak terdengar.
Bila terdapat limfedenitis tuberkulosa didapatkan
oembesaran kelenjar limfe, sering di daerah
leher, kadang disertai adanya scrofulderma.

Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan darah rutin kurang spesifik. LED
penting sebagai indikator kestabilan penyakit
sehingga
dapat
digunakan
untuk
evaluasi
penyembuhan.
Pemeriksaan serologi dilakukan dengan metoda
ELIZA,
mycodot,
PAP
(Peroksidase
Anti
Peroksidase).
Teknik lain untuk mengindentifikasi M.tb dengan
PCR (Polymerase Chain Reaction), RALF (Restrictive
Fragment
Length
Polymorphims),
LPM(Light
Producing Maycobacterophage)
Pemeriksaan histopatologi jaringan, diperoleh
melalui transbronchial lung biopsy, transthoracal
biopsy, biopsy paru terbuka, biopsy plera, biopsy
kelenjar dan organ lain di luar paru.
Diagnosis TB ditegakkan bila jaringan menunjukkan
adanya granuloma dengan perkejuan.

DEFINISI KASUS

Saat menegakkan diagnosis TB, dan sebelum


menentukan pengobatan yang diberikan,
harus ditentukan pula definisi kasus TB.
Definisi kasus ditentukan oleh 4 determinan
yaitu :

Lokasi penyakit
Hasil hapusan dahak
Riwayat pengobatan sebelumnya
Beratnya penyakit

Definisi kasus berdasarkan lokasi penyakit :


TB paru yaitu bila penyakit melibatkan parenkim
paru
TB ekstra paru yaitu pada organ selain paru

Definisi kasus berdasarkan hasil hapusan dahak :


TB paru BTA(+), bila 2 lebih dari pemeriksaan dahak
didapatkan BTA(+) atau satu BTA(+) plus abnormalitas
radiologis yang menunjukkan TB paru, atau satu hapusan
BTA(+) plus kultur M.tb positif.
TB paru BTA(-), yaitu diluar definisi pada BTA(+) tersebut.

Definisi kasus berdasarkan beratnya penyakit :


Lokasi penyakit, luasnya kelainan, bacillary load menentukan
beratnya penyakit.
Yang diklasifikasi berat bila penyakit dapat mengancam jiwa
atau menimbulkan caca (TB milier, efusi perikardial, afusi plera
masif atau bilateral maningitis TB, Tb spinal, intestinal,
genitourinaria
Definisi kasus berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya :
Kasus baru
Penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari 11 bulan.

Kambuh
Penderita
TB
yang
sebelumnya
pernah
mendapat pengibatan TB dan telah dinyatakan
sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan
dahak BTA positif (hapusan atau kultur).

Gagal pengobatan
Penderita yang memulai pengobatan kategori 2
setelah gagal dengan pengobatan sebelumnya.
Yaitu penderita BTA yang positif yang masih
tetap positif atau kembali menjadi positif pada
akhir bulan ke-5 atau lebih.
Penderita dengan BTA negatif menjadi positif
pada akhir bulan ke-2

Treatment after default(pengobatan


setelah drop out)
Penderita yang kembali berobat, dengan hasil
bakteriologi positif, setelah berhenti minum
obat 2 bulan atau lebih

Transfer in (pindahan):
Penderita yang sedang mendapat pengobatan
di suatu kabupaten kemudian pindah ke
kabupaten lainnya.
Penderita ini harus membawa surat rujukan
/pindah (form TB 09)

Kasus kronik:
Penderita dengan hasil BTA tetap positif setelah
selesai pengobatan ulang dengan kategori 2

TB DI LUAR PARU

Limfadenitis tuberkulosis
Gambaran klinis : benjolan (umumnya di leher),
demam , keringat malam
Diagnosis banding : persisten generalised
lymphadebopathy(PGL), limfoma, sarkoma kaposi,
metastasis karsinoma, sarkoid, reaksi obat.
Tanda-tanda PGL :
Diameter kelenjar getah bening (KGB)> 1 cm
2 KGB ekstra inguinal dalam waktu 3 bulan atau lebih

Jika pembesaran KGB dipastikan bukan PGL maka


ilakukan biopsi jarum halus
Jika hasil biopsi jarum halus positif TB maka
diobati OAT dan jika hasil tidak ditemukan
kelainan maka dilakukan biopsi kelenjar

TB MILIER

Anamnesis : batuk, nafsu makan berkurang,


sesak nafas, demam, gejala lain yang
berhubungan dengan organ yang terkena.
Pemeriksaan fisik:

Keadaan umum buruk, suhu meningkat, takipnu


Gejala lain yang berhubungan dengan organ yang
terkena, yaitu pembesaran hati, limpa, kaku
kuduk, koroid tuberkel.
Pada pemeriksaan funduskopi jika ditemukan
koroid tuberkel merupakan patogomonik untuk TB
milier (banyak ditemukan pada anak-anak).

Pemeriksaan penunjang :
Radiologi : bercak-bercak milier(bercak kecil
dengan ukuran sama, +diameter 2 mm)
tersebar pada kedua lapangan paru.
BTA pada cairan tubuh (sputum, cairan
serebrospinal) atau pada biopsi ditemukan
perkejuan

Efusi pluera TB
Anamnesis : sesak nafas, nyeri dada, demam
tinggi
Pemeriksaan fisik :
Infeksi : paru pada sisi yang sakit tampak lebih
membesar dan pergerakan berkurang
Perkusi : didapatkan suara pekak
Auskultasi : suara nafas melemah, menghilang

Gambaran radiologi :

Bayangan homogen pada sisi sakit, dengan batas


cairan yang jelas.
Bila cairan sedikit akan tampak sebagai penumpukan
sudut kostofrenik.
Cairan dalam jumlah banyak akan memberikan
gambaran pendorongan meiastinum.

Fungsi aspirasi

Cairan yang dikeluarkan dilihat secara makroskopik


kemudian dilakukan tes Rivalta, analisa cairan pluera
(jumlah sel, monosit, limfosit, glukosa, protein),
pemeriksaan BTA sediaan langsung/kultur resistensi.
Jika ditemukan adanya nanah maka disebut empiema.
Nanah tersebut diperiksa sediaan langsung BTA/kultur
resistansi, pewarnaan gram, pemeriksaan
mikroorganisme/kultur resistansi.
Pengeluaran cairan disarankan tidak lebih dari 1500
cc setiap kali tindakan, karena pengeluaran cairan
yang tiba-tiba dapat menyebabkan sembab paru.
Jika hendak mengeluarkan > 1500 cc ddapat
dilakukan bertahap.
Jika ada fasilitas dapat dilakukan biopsi pluera

Maningitis TB
Anamnesis : merupakan gejala meningitis kronik, gejala
terjadi perlahan-lahan, sakit kepala, dan penurunan
kesadaran terjadi secara cepat.

Pemeriksaan fisik :
Tanda perangsangan selaput otak : kaku kuduk (+),
tanda kernig(-)
Jika terdapat obstruksi pada sisterna basalis akan terjadi
hidrosefalus dan kelainan saraf otak

Fungsi lumbal :
Tekanan dan jumlah sel lekosit meninggi 5000/mm,
terutama limfosit, protein meningkat, glukosa menurun,
sediaan langsung BTA positif jarang ditemukan.
Fungsi lumbal berbahaya jika penderita gangguanfokus
neurologik atau pada pemeriksaan funduskopi terlihat
edema papil.
Pada keadaan ini jika memungkinkan maka CT scan otak
sangat membantu.
Lebih aman jika dimulai pemberian OAT dari pada fungsi
lumbal.

Perikardial efusi TB
Anamnesis : lemah, pusing, nyeri dada, nafas
pendek, batuk, nyeri hipokondrial kanan, kaki
bengkak.

Pemeriksaan fisik :
Takikardi,Tekanan darah rendah, pulsus
paradoks, JVP meningkat, irama apeks tak
teraba, suara jantung tak terdengar, tanda-tanda
gagal ajntung kanan.

Gambaran radiologis :
Adanya pembesaran jantung sementara
lapangan jantung jernih, terdapat caoiran pluera.

EKG : takikardi, perubahan gelombang ST


dan T, QRS kompleks voltase rendah

Ekokardiografi:
Cairan perikardial, gambaran perlengketan
diantara perikardial viseraldan perietal.

Perikardiosintesis
Sangat diperlukan bila adanya temponade jantung

Operator yang berpengalaman :


Pada penderita HIV positif efusi perikard banyak
disebabkan oleh TB maka lebih aman mengunakan
pengobatan anti TB daripada melakukan
perikardiosintesis.

Diagnosis banding :
Transudat : ureum, gagal jantung, gagal hati
Eksudat ; keganasan , penyakit infeksi, hipotiroidis.

Diagnosis TB diluar paru


lokasi

gejala klinis

diagnosis

spinal

nyeri punggung, gibbus, nyeri radikuler, abes


psoas,

X-ray(foto polos)

kompresi medula spinalis

biopsi jaringan

tulang

osteomilitis kronik

biopsi jaringan

sendi perifer

monoartritis

X-ray(foto polos)
biopsi jaringan

usus

diarrhoea, massa di perut

barium X-ray

hati

nyeri kwadran atas kanan,

USG

massa

biopsi

sering BAK, disuria, hematuri

steril pyuria

ginjal &
saluran kemih

urine kultur
pyelogram intra vena

kelenjar adrenal

hipotensi Na rendah, K meningkat/

X-ray(foto polos)

normal, urea tinggi, glukosa rendah

USG

infeksi saluran

suara sesak, nyeri telinga,

biasanya komplikasi

nafas atas

bangkak dan sakit

penyakit paru

saluran genital wanita

infertilasi, infeksi panggul,kehamilan ektopik

pemeriksaan panggul
X-ray saluran genital
biopsi jaringan

saluran genital laki-laki

epididymidis

sering terjadi akibat

Selesai
&
Good luck