Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) merupakan bahan yang karena sifat atau
konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemari
atau merusak lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk
hidup lain. Menurut data dari Caravati tahun 2004, yang menyusun Top-20 B3 antara
lain: Arsenik, Timbal, Mercury, Vinyl chloride, Benzene, Polychlorinated Biphenyls
(PCBs), Kadmium, Benzo(a)pyrene, Benzo(b)fluoranthene, Polycyclic Aromatic
Hydrocarbons, Chloroform, Aroclor 1254, DDT, Aroclor 1260, Trichloroethylene,
Chromium (hexa valent), Dibenz[a,h]anthracene, Dieldrin, Hexachlorobutadiene,
Chlordane. Beberapa diantaranya merupakan logam berat, antara lain Arsenik (As),
Timbal (Pb), Mercury (Hg), Kadmium (Cd) dan Chromium (Cr). Logam-logam berat
tersebut dalam konsentrasi tinggi akan berbahaya bagi kesehatan manusia dan hewan
bila ditemukan di dalam lingkungan, baik di dalam air, tanah maupun udara.
Arsenik (As) merupakan salah satu logam toksik yang sering diklasifikasikan
sebagai logam, Tetapi lebih bersifat nonlogam. Arsenik tidak berbau dan tidak berasa.
Bentuknya seperti bubuk giling dan tidak larut dalam air. Arsenik (As) tidak rusak oleh
lingkungan, hanya berpindah menuju air atau tanah yang dibawa oleh debu, hujan, atau
awan. Beberapa senyawa Arsenik (As) tidak bisa larut di perairan dan akhirnya akan
mengendap di sedimen. Secara garis besar arsenik terdiri dari dua bentuk, yakni
organik dan inorganik. Bentuk inorganik merupakan kombinasi dengan elemen seperti
oksigen, chlorine, dan sulfur. Sedangkan bentuk organik merupakan kombinasi dengan
elemen karbon dan hidrogen. Bentuk inorganik memiliki sifat lebih toksik
dibandingkan bentuk organik. (Caravati, 2004).
Arsenik (As) berasal dari kerak bumi yang bila dilepaskan ke udara sebagai
hasil sampingan dari aktivitas peleburuan bijih baruan, Arsenik (As) dalam tanah
berupa bijih, yaitu arsenikopirit dan orpiment, yang pada akhirnya bisa mencemari air
tanah. Arsenik (As) merupakan unsur kerak bumi yang berjumlah besar, yaitu
menempati

urutan

ke-20

dari

unsur

kerak

bumi,

sehingga

sangat

besar

kemungkinannya mencemari air tanah dan air minum. Jutaan manusia bisa terpapar
Arsenik (As), seperti yang pernah terjadi di Bangladesh, India, Cina. Semua batuan
mengandung Arsenik (As) 1-5 ppm. Kosentrasi yang lebih tinggi ditemukan pada
1

batuan beku dan sedimen. Tanah hasil pelapukan batuan biasanya mengandung Arsenik
(As) sebesar 0,140 ppm dengan rata-rata 5-6 ppm (Caravati, 2004).
Arsenik telah banyak digunakan untuk berbagai kepentingan diantaranya
untuk bahan pestisida, herbisida, insektisida, bahan cat, keramik, bahan untuk
preservasi kayu, penjernih kaca pada industri elektronik. Dalam masyarakat, arsenik
masih digunakan sebagai anti hama, terutama tikus. Dalam bentuk bubuk putih, yang
dikenal sebagai warangan (As2O3), arsenik merupakan obat pembasmi tikus yang
ampuh. Racun ini tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna dan sangat beracun
sehingga dapat mengecoh tikus sehingga mau memakan umpan yang telah diberi racun
tersebut. Tikus yang memakan arsenik akan mengalami gejala muntaber, kekurangan
cairan (dehidrasi) dan mati dalam keadaan kering. Sampai saat ini arsenik masih
banyak digunakan sebagai bahan preservasi kayu dan komponen dalam industri
elektronika, karena belum ada penggantinya (DiMaio, 2001).
Arsenik inorganik telah digunakan untuk pengobatan lebih dari 2500 tahun
lalu. Bentuk yang paling sering digunakan adalah Fowler solution yang mengandung
1% potasium arsenikit, digunakan untuk terapi psoriasis. Selain itu Arsphenamine
selama beberapa tahun merupakan terapi standar untuk penyakit sifilis. Namun
penelitian retrospektif menyatakan adanya peningkatan insiden angiosarkoma hepatik
pada orang yang sering diterapi dengan Fowler solution. Arsenik juga pernah
digunakan sebagai obat untuk berbagai infeksi parasit, seperti protozoa, cacing,
amoeba, spirocheta dan tripanosoma, tetapi kemudian tidak lagi digunakan karena
ditemukannya obat lain yang lebih aman. Hingga saat ini arsenik juga banyak terdapat
pada obat-obat tradisional dari India dan Cina (DiMaio, 2001).
Arsenik terdapat di dalam tanah yang normal mempunyai kandungan
arsenik tidak lebih dari 20 ppm (part per million). Arsenik dalam tanah akan diserap
oleh akar tumbuhan dan masuk ke dalam bagian-bagian tumbuhan sehingga tumbuhan
mengandung arsenik. Adanya arsenik dalam tanah akan menyebabkan sebagian arsenik
larut di dalam air. Arsenik ini kemudian akan menjadi makanan plankton yang
kemudian akan dimakan ikan. Jadi secara tidak langsung manusia yang mengkonsumsi
ikan akan mengkonsumsi arsenik. Senyawa arsenik yang paling sering dijumpai pada
makanan adalah arsenikobetaine dan arsenikocholine, yang merupakan varian arsenik
organik yang relatif non toksik. Senyawa arsenik juga banyak dijumpai pada daerah
pertambangan, senyawa arsenik tersebut merupakan kontaminan pada air sumur
keadaan normal, setiap hari tidak kurang dari 0,5-1 mg arsenik akan masuk ke dalam
2

tubuh kita melalui makanan dan minuman yang kita konsumsi. Dengan demikian, di
dalam darah orang normal pun, kita dapat menjumpai adanya arsenik (DiMaio, 2001).
1.2 TUJUAN
Mengetahui sumber dan rute paparan arsenik.
Mengetahui toksisitas dan indikator biomarker terhadap paparan arsenik.
Mengetahui pengaruh oksidatif, stress nitrosative, dan genotoxicity arsenik.
Mengetahui penyakit pada hewan (gangguan neurologis) akibat arsenik.
Mengetahui antioksidan terhadap mutagenisitas arsenik.
1.3 MANFAAT
Makalah ini dapat menjadi sumber pengetahuan tentang toksisitas arsenik
terhadap manusia, hewan dan lingkungan serta cara penanganan dan penanggulangan
terhadap paparan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SUMBER DAN RUTE PAPARAN ARSENIK


2.1.1 Sumber Arsenik
Sumber arsenik terdapat pada penggunaan pestisida oleh petani sebagai
bahan penyemprot tanamannya yang mengandung insektisida maupun fungisida.
Golongan fungisida inilah yang merupakan suatu indikator adanya kandungan
Arsenik, sehingga berpotensi adanya paparan yang dialami oleh petani tersebut.
Salah satu parameter terjadinya paparan pestisida adalah kadar logam berat yaitu
Arsenik (As) dalam urin.
Selanjutnya, studi kasus yang dilakukan EPA (Environmental Protection
Agency) menerangkan bahwa Arsenik (As) bentuk organik (mengandung karbon),
misalnya monosodium methanearsenikate dan dinatrium methanearsenikate
digunakan dalam pestisida untuk aplikasi pertanian.
Adapun faktor-faktor yang berperan dalam paparan pestisida, seperti : dosis
pestisida, jumlah kombinasi pestisida yang digunakan, pemakaian Alat Pelindung
Diri (APD), lama kerja per hari, masa kerja, intensitas penyemprotan dan
tindakan penyemprotan melawan arah angin. Paparan arsenik dapat diamati
dengan menggunakan indikator biologis antara lain dalam urin, darah, kulit,
rambut dan kuku.
2.1.2 Rute Paparan Arsenik
Konsentrasi arsenik dalam urin telah digunakan secara konvensional
sebagai paparan arsenik dari pekerjaan. Konsentrasi total arsenik dalam urin
sering digunakan sebagai indikator dari paparan arsenik, karena urin adalah rute
utama dari eksresi jenis arsenik. Waktu paruh arsenik anorganik dalam tubuh
manusia adalah sekitar 4 hari atau 65% - 95 % arsenik dieksresi melalui urin
dalam 5 hari.
Paparan arsenik yang singkat atau lebih bersifat akut pada manusia bisa diketahui
dengan pemeriksaan dalam urin. Konsentrasi arsenik dalam urin merupakan
indikator arsenik pada jangka pendek (short term exposure), sedangkan untuk
paparan jangka panjang (long term exposure) dengan menggunakan rambut
sebagai indikatornya. Namun demikian, pengujian arsenik di rambut tidak dapat
membedakan arsenik yang terakumulasi dari tubuh dengan arsenik yang
menempel ke rambut dari luar tubuh.

Arsenik yang masuk ke dalam peredaran darah dapat ditimbun dalam organ
seperti hati, ginjal, otot, tulang, kulit dan rambut. Arsenik trioksid yang dapat
disimpan di kuku dan rambut dapat mempengaruhi enzim yang berperan dalam
rantai respirasi, metabolisme glutation ataupun enzim yang berperan dalam
proses perbaikan DNA yang rusak. Di dalam tubuh, arsenik bervalensi lima dapat
berubah menjadi arsenik bervalensi tiga. Hasil metabolisme dari arsenik
bervalensi 3 adalah asam dimetil arsenik (DMA) dan asam mono metil arsenik
(MMA) yang keduanya dapat diekskresi melalui urin.
Peneliti berpendapat bahwa rendahnya kadar arsenik dalam urin mungkin
disebabkan tubuh manusia mempunyai mekanisme untuk mengatasi paparan
arsenik dalam jumlah kecil. Hati akan mengubahnya menjadi bentuk yang tidak
merusak dan dibuang lewat urin dalam waktu 4-5 hari dengan persentase 62,7%
(dari total arsenik pada tubuh).(13) Waktu paruh biologis pada manusia ini pula
menyebabkan arsenik (As) kurang terdeteksi dalam urin. Namun demikian,
apabila logam arsenik (As) ini berada dalam jangka waktu yang cukup lama
dalam tubuh (long term exposure) maka akan terakumulasi dalam target organ
tubuh. Sehingga akan menimbulkan efek gangguan kesehatan manusia yang
bersifat karsinogenik, mutagenik dan teratogenik dan toksisitasnya dapat bersifat
akut dan kronik.
Paparan kronik pada arsenik meningkatkan risiko penyakit seperti lesi pada
kulit, bronchitis, hepatomegali, neuropathi, peripheral vascular diseases (seperti :
gangrene), penyakit cardiovascular, kanker kulit, kanker paru, dan kanker
empedu. Terdeteksinya arsenik (As) dalam urin ini juga bukan hanya disebabkan
oleh paparan pestisida saja, tetapi bisa dari air minum, air tanah dan air sungai
yang mengandung arsenik (As), tetapi juga disebabkan oleh bahan makanan dan
bahan lain yang mungkin mengandung arsenik (As) melebihi baku mutu yang
telah ditetapkan.
2.2 TOKSISITAS DAN INDIKATOR BIOMARKER TERHADAP PAPARAN
ARSENIK
2.2.1 Toksisitas Arsenik
Arsenik anorganik meliputi arsenikit [As (III)] dan arsenikat [As (V)],
dapat berupa termetilasi untuk membentuk asam monomethylarsonic [MMA (V)]
atau dimethylated seperti pada asam dimethylarsinic [DMA (V)]. Metabolisme
5

arsenik anorganik melibatkan dua elektron pengurangan pentavalent arsenik


untuk trivalen arsenik, dimediasi oleh glutathione, diikuti oleh metilasi oksidatif
untuk membentuk pentavalent arsenik organik (K Jomova, 2011).

Gambar 1. Metabolisme Inorganik Arsenik


Arsenik anorganik cenderung jauh lebih beracun dari arsenik organik.
Arsenik merupakan racun bagi sistem organ. Organ target yang paling sensitif
menjadi ginjal. Tingkat keracunan arsenik tergantung pada berbagai faktor seperti
dosis, kerentanan individu arsenik dan umur individu yang terpapar. Sementara
kronis keterpaparan arsenik mempengaruhi sistem pembuluh darah dan
menyebabkan hipertensi dan penyakit kardiovaskular, toksisitas arsenik akut
dapat menyebabkan kardiomiopati dan hipotensi. Yang paling umum efek
neurologis toksisitas arsenik jangka panjang neuropati perifer dan efek
gastrointestinal oleh manifestasi racun hepatitis disertai dengan peningkatan
kadar enzim hati (K Jomova, 2011).
Trivalen arsenik anorganik menghambat piruvat dehidrogenase dengan
mengikat kelompok sulfydryl dari dihidrolipoamide, menghasilkan mengurangi
konversi piruvat menjadi asetil koenzim A (CoA), sedangkan kedua sitrat
aktivitas siklus asam dan produksi ATP seluler yang menurun. Hal ini juga
menghambat penyerapan glukosa ke dalam sel, glukoneogenesis, asam lemak
oksidasi dan produksi lebih lanjut dari asetil KoA. Trivalen arsenik menghambat
6

produksi glutathione, yang melindungi sel-sel terhadap kerusakan oksidatif (K


Jomova, 2011).
Pada tingkat yang lebih signifikan dan spesifik, arsenik pentavalent
mengemulasi fosfat anorganik dan menggantikan fosfat dalam jalur respirasi
glikolitik dan seluler. Uncoupling fosforilasi oksidatif terjadi karena ikatan fosfat
berenergi tinggi normal tidak terbentuk, misalnya dengan adanya arsenik
pentavalent, adenosin difosfat (ADP) membentuk ADP-arsenikat bukan ATP
dengan tidak adanya obligasi ATP fosfat berenergi tinggi. Metilasi arsenik
anorganik telah dianggap menjadi mekanisme detoksifikasi. Namun, hasil
eksperimen terbaru telah mendokumentasikan kehadiran intermediet trivalen,
asam monomethylarsonous [MMA (III)] dan asam dimethylarsinous [DMA (III)]
dalam urin manusia terkena air minum yang mengandung kadar tinggi anorganik
arsenik. Intermediet trivalen ini struktural berbeda dari senyawa pentavalent dan
lebih reaktif dan lebih karsinogenik (K Jomova, 2011).
2.2.2 Biomarker Arsenik
Kuantifikasi Paparan Arsenik
Pengukuran tingkat arsenik dalam darah, urin, rambut dan kuku
semuanya telah digunakan sebagai indikator biologis paparan arsenik. Karena
arsenik dimetabolisme dari darah dalam jangka waktu beberapa jam, pengukuran
kadar arsenik darah bukan merupakan indikator yang baik eksposur jangka
panjang individu untuk arsenik. Mayoritas arsenik yang diserap dari paru-paru
atau saluran pencernaan dan diekskresikan dalam urin. Biasanya dalam 1-2 hari,
pengukuran kadar arsenik urin umumnya dianggap sebagai penanda yang paling
dapat diandalkan arsenik akut eksposur (K Jomova, 2011).
Biomarker Efek Disebabkan oleh Arsenik
Arsenik diketahui mempengaruhi aktivitas sejumlah enzim, khususnya
kelompok enzim yang bertanggung jawab untuk sintesis heme, degradasi dan
aktivasi heme oxygenase. Menzel dan rekan kerja juga meneliti in vitro induksi
limfosit manusia heme oxygenase 1 (Ho1) sebagai biomarker paparan arsenit.
Arsenik yang diamati menginduksi de novo sintesis Ho1 dalam sel
lymphoblastoid manusia, tetapi belum ditentukan apakah respon sama diinduksi
secara in vivo. Tes hewan telah menunjukkan bahwa keracunan arsenik terjadi
7

peningkatan urin tingkat uroporphyrin, coproporphyrin dan bilirubin. Tes-tes ini


juga telah terbukti dapat diterapkan pada manusia. Oleh karena itu, tingkat
perubahan senyawa-heme pada urin bisa berfungsi sebagai biomarker sensitif
efek arsenik (K Jomova, 2011).
2.3 PENGARUH OKSIDATIF, STRESS NITROSATIVE, DAN GENOTOXICITY
ARSENIK
2.3.1 Arsenik dan Stres Oksidatif dan Nitrosaf
Banyak penelitian mekanistik toksisitas arsenik telah menyarankan bahwa
oksigen reaktif spesies dan nitrogen reaktif spesies yang dihasilkan selama
metabolisme arsenik anorganik dalam sel hidup (Shi et al., 2004).
Arsenik menginduksi perubahan morfologi integritas mitokondria dan
penurunan yang cepat dari potensi membran mitokondria. Perubahan
mitokondria dianggap situs utama di mana formasi acak yang tidak terkendali
dari anion superoksida radikal terjadi. Mekanisme riam pembentukan radikal
bebas yang berasal dari radikal superoksida dikombinasikan dengan penurunan
pertahanan oksidan seluler oleh pengobatan dengan glutathione-depleting agen
hasil dari peningkatan sensitivitas sel terhadap toksisitas arsenik (Cohen et al.,
2006;. Valko et al., 2005). Hasil eksperimen baik secara in vivo dan in vitro dari
manusia dan hewan yang terekspose arsenik menunjukkan kemungkinan
dikarenakan keterlibatan peningkatan pembentukan radikal peroksil (ROO),
radikal anion superoksida (O2

), Singlet oksigen (1O2), radikal hidroksil

(OH), hidrogen peroksida (H2O2), radikal dimetilarsenik [(CH3)2As] (Flora et


al., 2007).
Sebuah rute yang menarik untuk produksi H2O2 diusulkan untuk melibatkan
oksidasi As (III) menjadi As (V) yang dalam kondisi fisiologis, hasil dari
pembentukan H2O2 (Valko et al., 2005).

Reaksi di atas adalah spontan dan eksergonik dengan perkiraan reaksi bebas
perubahan energi standar untuk pembentukan H2O2 dari -40,82 kkal mol-1 (170,87 KJ mol-1 ). Hidrogen peroksida bukanlah radikal bebas, namun ketika
organisme overload dengan besi (seperti dalam kondisi hemokromatosis,
8

anemia hemolitik dan hemodialisis), dimana konsentrasi seluler tinggi dari 'besi
yang tersedia bebas' mungkin memiliki efek merusak, seperti yang ditunjukkan
oleh partisipasi Fe (II) dalam dekomposisi hidrogen peroksida (reaksi Fenton),
menghasilkan radikal hidroksil yang sangat reaktif:

Radikal hidroksil adalah ROS yang sangat reaktif dengan waktu paruh lebih
pendek dari 1 ns dalam lingkungan berair (Valko et al., 2007). Pembentukan

OH di sekitar DNA mungkin menyebabkan radikal ini bereaksi dengan basa

DNA atau dengan rantai deoksiribosa DNA untuk menghasilkan modifikasi


basa (rusak) atau untaian yang putus. Sebagian besar radikal hidroksil yang
dihasilkan in vivo timbul dari dekomposisi logam katalis hidrogen peroksida,
sesuai dengan reaksi Fenton (Naughton et al., 1993).
Selain spesies oksigen reaktif, paparan arsenik dapat menginisiasi generasi dari
reactive

nitrogen

species

(RNS).

Beberapa

hasil

yang

bertentangan

menggambarkan arsenik diinduksi produksi dari NO telah dilaporkan, salah


satunya menyimpulkan bahwa tidak ada peningkatan induksi arsenik dari NO
di hepatosit dan sel hati manusia, yang menghambat induksi NO sintesis
ekspresi gen pada stimulasi sitokin sel-sel hati dan hepatosit manusia. Namun,
dalam penelitian lain, arsenikit dikatakan menghambat induksi ekspresi gen NO
synthase pada arteri pulmonalis sel-sel otot polos tikus (Kodavanti et al., 1998).
2.3.2 Genotoksisitas Arsenik
Ada sejumlah penelitian in vitro dan in vivo yang telah dilakukan, yang
ditujukan untuk menentukan genotoxicity dari anorganik arsenik (Yamanaka et
al., 2004; Cohen et al., 2006). Penelitian in vitro pada sel fibroblast, leukosit,
limfosit manusia dan sel embrio hamster telah menunjukkan bahwa arsenik
menginduksi penyimpangan kromosomal dan perubahan kromatid (Helleday et
al., 2000). Penelitian serupa dengan menggunakan sel-sel manusia, tikus dan
hamster yang dieksplorasi perangkat tambahan berpotensi meningkatakan
kerusakan DNA, peningkatan perbaikan DNA atau penghambatan sintesis
DNA.
Penelitian pada manusia telah mendeteksi lebih tinggi daripada rata-rata
kejadian penyimpangan kromosom pada limfosit perifer, setelah kedua paparan
9

inhalasi dan oral (Nordenson et al., 1979). Penelitian-penelitian ini harus


diinterpretasikan dengan hati-hati, karena dalam banyak kasus, hanya ada
sejumlah kecil subjek dan pengaruh-pengaruh dari paparan bahan kimia lain
juga bisa mempengaruhi hasil. Investigasi efek genotoksik tertelan arsenik pada
penduduk Taiwan telah menghasilkan hasil yang beragam, mungkin karena
berbagai jenis sel yang diperiksa dan tingkat paparan yang berbeda yang
dialami oleh populasi yang diteliti. Kanker kulit terkait arsenik telah
menunjukkan tingkat yang lebih tinggi yang menyertai mutasi p53
dibandingkan dengan yang ditemukan di kanker kulit akibat sinar UV (Hsu et
al., 1999).
Sebuah kejadian peningkatan kelainan kromosom terdeteksi pada tikus yang
diberikan dosis oral natrium arsenikat (4 mg As kg-1 per hari) selama 2-3
minggu (Datta et al., 1986). Namun, tidak ada peningkatan penyimpangan
kromosom terdeteksi dalam sel-sel sumsum tulang atau spermatogonium dari
tikus yang diberi natrium arsenikit untuk jangka waktu 2 bulan (Poma et al.,
1987). Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa tertelan arsenik dapat
menyebabkan efek kromosomal. Sebuah penelitian dari mutasi p53 pada kanker
kulit yang terkait arsenik dari pasien di Taiwan yang terkekspose arsenik dari
air minum menemukan tingkat mutasi p53 yang tinggi dan berbagai jenis
mutasi p53 dibandingkan dengan yang terlihat pada kanker kulit akibat sinar
UV; hasil serupa ditemukan pada tikus (Salim et al., 2003).
Sementara beberapa penelitian pada hewan telah menunjukkan peningkatan
insiden kelainan kromosom pada tikus yang diberikan dosis oral natrium
arsenikat selama beberapa minggu (Datta et al., 1986), penelitian lain tidak
terkonfirmasi setiap peningkatan konsisten dalam penyimpangan kromosom
yang terdeteksi pada sel-sel sumsum tulang atau spermatogonium pada tikus
yang diberikan natrium arsenikit (Poma et al., 1987). Dengan demikian data
yang tersedia terlalu terbatas untuk menarik kesimpulan.
Lesi DNA yang paling ekstensif dipelajari adalah pembentukan 8-OHG, salah satu produk utama dari oksidasi DNA, yang berasal dari reaksi radikal
hidroksil dengan guanin (Gambar 2; Valko et al, 2006). 8-OH-G merupakan
penanda genotoksik sensitif DNA yang rusak secara oksidatif. Asosiasi dengan
peningkatan konsentrasi urin 8-OH-G telah dilihat juga untuk paparan arsenik.

10

Seperti yang dijelaskan di atas, arsenik dimetabolisme melalui


metilasi. Konsentrasi tinggi dalam urin, dari metabolit monomethylated As,
asam methylarsonic (MMA), yang merupakan faktor kepekaan induksi
toksisitas As, termasuk karsinogenisitas, telah berkorelasi dengan konsentrasi
sama tinggi urin 8-OH-G (Hu et al., 2006). Menariknya, berdasarkan uji klinis,
untuk berbagai paparan As dengan konsentrasi urin-As hingga 1200 g l-1 , efek
pro-oksidatif dari As, yang berasosiasi dengan 8-OH-G dengan urin-As terbukti
lebih lemah daripada paparan moderat oleh kadmium. Dengan demikian, 8-OHG mungkin tidak sensitif sebagai biomarker stres oksidatif induksi As yang
ditimbulkan karena Cd dan stres oksidatif yang disebabkan oleh logam lain
(Engstrm et al., 2010).
2.4 PENYAKIT PADA HEWAN (GANGGUAN NEUROLOGIS) AKIBAT
ARSENIK
2.4.1 Arsenik An Animal Disease
Gangguan Neurologis
a. Arsenikals Anorganik
Arsenik anorganik dapat menyebabkan efek neurologis yang serius, baik
inhalasi (Calderon et al, 2001;. Lagerkvist dan Zetterlund,

1994) maupun

paparan secara oral (Uede dan Furukawa, 2003). Hal ini didasarkan terutama
pada pengamatan klinis dan pemeriksaan neurologis individu yang terpapar.
Penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa efek neurologis pada
tikus yang terpapar arsenik dalam bentuk natrium arsenikit melibatkan
perubahan kadar neurotransmiter seperti dopamin, norepinefrin dan 5hydroxytryptamine (Kannan et al., 2001). Hewan dewasa tampaknya jauh lebih
rentan terhadap efek neurologis arsenik anorganik daripada manusia, studi di

11

hewan dewasa mungkin tidak akan membantu untuk memperkirakan batas


aman paparan manusia.
Temuan terbaru menunjukkan hubungan antara arsenik dalam air minum
dan neurobehavioral perubahan pada anak-anak (Tsai et al., 2003). Remaja dari
berbagai daerah Taiwan dan China terpapar rendah (0,0017-0,0018 mg As kg-1
per hari) tingkat arsenik anorganik dalam air minum mereka menunjukkan
penurunan kinerja dalam kesiapan beralih kerja sementara
kelompok paparan yang tinggi (0,0034-0,0042 mg As kg-1

anak dalam
per hari)

menunjukkan kinerja menurun dan dalam tes memori relatif kontrol tidak
terbuka.
Menelan arsenik anorganik dapat menyebabkan injury pada

sistem

syaraf. Paparan pada 2 mg As kg-1 per hari bisa menyebabkan ensefalopati,


dengan gejala sakit kepala, mental kebingungan, kejang dan koma (Bartolome
et al., 1999). Eksposur berkepanjangan ke tingkat yang lebih rendah arsenik
(0,03-0,1 mg As kg-1 per hari) biasanya ditandai dengan neuropati perifer
simetris (Chakraborti et al, 2003;.. Foy et al, 1992), dalam tahap awal ditandai
dengan mati rasa di tangan dan kaki. Kedua

saraf sensorik dan motorik

terpengaruh dan kelemahan otot sering berkembang (Goebel et al., 1990).


Fitur neurologis yang paling khas neurotoksisitas arsenik adalah
neuropati perifer yang dapat berlangsung selama beberapa tahun (Mathew et
al., 2010). Studi pada pasien dengan neuropati menunjukkan kecepatan
konduksi saraf berkurang pada perangkat saraf, dan ini telah menjadi ciri khas
induksi

neurotoksisitas, sebagaimana adanya merupakan ciri khas dari

degenerasi aksonal.

Sebagian besar efek yang kurang baik dari Arsenik

disebabkan oleh inaktivasi enzim yang penting untuk metabolisme energi, yang
bereaksi dengan kelompok thiol dari

protein dan enzim dan menghambat

aktivitas katalitik. Penyakit neurodegenerative, arsenikinduced neurotoksisitas


menyebabkan

perubahan

protein

cytoskeletal

hyperphosphorylation. Perubahan ini mungkin

komposisi

dan

menyebabkan disorganisasi

struktur sitoskeletal, yang merupakan penyebab potensial yang ditimbulkan


neurotoksisitas.
b. Arsenikals Organik

12

Tidak ada gejala neurologis atau lesi otak yang diamati pada paparan
kronis dari tikus ke MMA (72,4 mg kg-1 per hari) atau tikus untuk MMA kg-1
per hari (67.1 mg; Arnold et al, 2003). Dua studi lebih lanjut pada babi
menunjukkan bahwa dosis oral roxarsone dapat menyebabkan neurotoksisitas
yang signifikan di mana fitur adalah degenerasi tergantung waktu mielin dan
akson (Kennedy et al., 1986).
2.5 ANTIOKSIDAN TERHADAP MUTAGENISITAS ARSENIK
Stres oksidatif pada DNA diakui sebagai komponen yang mendukung
mekanisme karsinogenesis arsenik (Valko et al, 2005). Enzim antioksidan ini dianggap
menjadi garis pertahanan pertama seluler terhadap kerusakan oksidatif. Superoksida
dismutase (SOD) dan katalase (CAT) yaitu bagian terpenting, karena CAT dan SOD
yang menahan sel saat terpapar oleh oksigen. SOD mengkatalisis dismutase
superoksida menjadi oksigen dan hidrogen peroksida, saat itulah CAT mengkatalisis
dekomposisi hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen. Arsenik-intoxicated rats
dapat menurunkan aktivitas SOD yang disebabkan oleh peningkatan produksi anion
superoksida radikal.
Sistem pertahanan sekunder untuk melawan radikal bebas yang menyebabkan
kerusakan yang dilakukan oleh sistem thiol (Manna et al,2008). Penurunan GSH dan
menaikkan level dari lipid peroksida untuk racun arsenik yang ditemukan untuk
menjadi panduan untuk mengurangi aktivitas dari GST dan GPx seiring dengan
menurunnya aktivitas dari regenerasi GSH enzim GR.
Sebuah uji lapangan di Bengal Barat (Wilayah yang terkenal sebagai wilayah
yang terdapat arsenik tertinggi pada air minumnya), untuk mengevaluasi pergerakan
dari phytochemical, curcumin, dari kunyit untuk antioksidan dan aktivitas
antimutagenik (Biswas, et al. 2010). Sampel darah diambil darah dari sukarelawan di
wilayah tersebut menunjukkan adanya kerusakan DNA dan berkurangnya antioksidan
hingga habis. Namun, dosis yang diberikan dengan menggunakan kapsul curcumin
selama 3 bulan, akan membuat kerusakan DNA berkurang. Pembentukan ROS dan
peroksidasi lipid dapat ditekan, dan aktivitas antioksidan dalam plasma darah dapat
ditingkatkan sehingga dapat memberikan harapan terhadap peran curcumin terhadap
kerusakan DNA yang disebabkan oleh arsenik.
Pengobatan yang paling dikenal efektif terhadap racun arsenik adalah terapi
terapi kelasi, namun ada beberapa agen seperti british anti lewisite, sodium 2,313

dimercaptopropane-1- sulfonate, meso2,3- dimercaptosuccinic acid dan lain-lain yang


mampu menghasilkan efek samping yang tidak diinginkan (Flora et al, 2007). Itu telah
terbukti bahwa suplementasi zat peng-kelat dengan antioksidan mungkin dapat
bermanfaat untuk mencapai efek yang paling optimal.
Studi lain melaporkan bahwa efek genotoksik dari natrium arsenik (dikenal
sebagai efek genotoksik melalui pembentukan ROS) saat membentuk mikronuklei di
eritrosit polikromatik disumsum tulang dari tikus Wistar (Balakumar et al, 2010).
Suplementasi secara oral dengan dosisi alfa tocopherol (400mg per kg berat badan)
dan asam askorbat (200mg per kg berat badan) untuk tikus diberikan 100 ppm dari
natrium arsenikate pada air minum mereka dalam 30 hari disarankan adanya efek
perlindungan pada system seluler antioksidan dan modulasi dari arsenik yang diinduksi
oleh formasi mikronuklei.

BAB III
PENUTUP
14

3.1 KESIMPULAN
Arsenik merupakan racun bagi sistem organ, organ target yang paling sensitif
menjadi ginjal Golongan fungisida

merupakan suatu indikator adanya kandungan

Arsenik, sehingga berpotensi adanya paparan yang dialami oleh petani. Salah satu
parameter terjadinya paparan pestisida adalah kadar logam berat yaitu Arsenik (As)
dalam urin. Konsentrasi total arsenik dalam urin sering digunakan sebagai indikator
dari paparan arsenik, karena urin adalah rute utama dari eksresi jenis arsenik. Paparan
kronik pada arsenik meningkatkan risiko penyakit seperti lesi pada kulit, bronchitis,
hepatomegali, neuropathi, peripheral vascular diseases (seperti : gangrene), penyakit
cardiovascular, kanker kulit, kanker paru, dan kanker empedu. Ada sejumlah penelitian
in vitro dan in vivo yang telah dilakukan, yang ditujukan untuk menentukan
genotoxicity dari anorganik arsenik. Penelitian in vitro pada sel fibroblast, leukosit,
limfosit manusia dan sel embrio hamster telah menunjukkan bahwa arsenik
menginduksi penyimpangan kromosomal dan perubahan kromatid. Arsenik anorganik
dapat menyebabkan efek neurologis yang serius, baik inhalasi maupun paparan secara
oral. Hal ini didasarkan terutama pada pengamatan klinis dan pemeriksaan neurologis
individu yang terpapar. Pengobatan yang paling dikenal efektif terhadap racun arsenik
adalah terapi terapi kelasi, namun ada beberapa agen seperti british anti lewisite,
sodium 2,3- dimercaptopropane-1- sulfonate, meso 2,3- dimercaptosuccinic acid dan
lain-lain yang mampu menghasilkan efek samping yang tidak diinginkan. Itu telah
terbukti bahwa suplementasi zat peng-kelat dengan antioksidan mungkin dapat
bermanfaat untuk mencapai efek yang paling optimal.
3.2 SARAN
Kami meyakini masih banyak kekurangan dalam makalah ini baik dalam
penyusunan maupun konten makalah. Oleh karena itu kami memohon masukan, saran
serta tambahan ilmu yang berkaitan dengan makalah ini.

15