Anda di halaman 1dari 14

Kantor Pertanahan Kota Bekasi

Jl.Chairil Anwar No.25


Telepon (021) 88342744/42
Email kot-Bekasi@bpn.go.id

Biaya Pengurusan Sertifikat tanah


Posted on February 13, 2013 by SUKOCO 238 Comments
Sebelum melakukan pengurusan tanah, alangkah baiknya kita mempelajari dulu berapa biaya
yang seharusnya dikeluarkan. Biaya Pengurusan Sertifikat Tanah bisa diklasifikasikan
kedalam beberapa kategori. Agar memudahkan pemahaman, disini akan dikelompokkan
berdasarkan lokasi pengurusan berkas-berkas permohonan.
Tingkat Desa/ Kelurahan
Biaya yang dibayarkan saat pengurusan di tingkat Desa/ Kelurahan adalah:
Proses
Girik/ leter C
Keterangan data sporadik dari
Kelurahan/ Desa setempat

Biaya Tahun 2013 (Rp)


500.000
(Rp 10.000 per meter)

Tingkat Kecamatan
Apabila transaksi penjualan tanah kurang dari Rp
60.000.000, maka tidak dikenakan
pajak, tetapi perlu mendapatkan surat keterangan dari Kecamatan yang di-validasi oleh
Dispenda Kabupaten/ Kotamadya setempat. Biaya administrasi di Kecamatan ini adalah Rp
700.000
Tetapi jika transaksi jual beli tanah lebih dari Rp
60.000.000, maka wajib dikenakan
pajak. Pajak ini dikenakan kepada penjual tanah dan pembeli tanah. Untuk penjual
dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) sedangkan pembeli dikenakan Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan (BPHTB).
Penghitungan pajak untuk penjual, PPh adalah 5% dari harga (rumah dan tanah).
Pajak pembeli (BPHTB) adalah 5% dari harga (rumah dan tanah dikurangi 60 juta).
Sebagai contoh untuk penjualan tanah yang ada bangunan rumah diatasnya seluas 100m.
Harga tanah di NJOP (Nilai Jual Object Pajak) Rp 800.000/m dan harga bangunan di NJOP
adalah Rp 300.000/m.
Maka pajak penjual = 5% x [100 x (800.000 + 300.000)], yaitu Rp 5.500.000.
Pajak pembeli = 5% x [(100 x (800.000 + 300.000))

60.000.000], yaitu Rp 2.500.000

Kantor Pertanahan (BPN)


Biaya Pengurusan Sertifikat Tanah yang dikeluakan di Kantor Pertanahan adalah:
Proses
Biaya Tahun 2013 (Rp)
Formulir Pengajuan Sertifikat Tanah 100.000

Biaya Pembuatan Sertifikat

6.000.000
(di bawah 1000 m)

Biaya Lain-lain
Yang dikategorikan biaya lain-lain disini adalah materei. Diperlukan materei Rp 6.000
sebanyak 7 buah, sehingga total biayanya Rp 42.000.
Simulasi Anggaran
Dari perincian biaya yang sudah dipaparkan dibagian atas, bisa dibuat simulasi agar estimasi
Biaya Pengurusan Sertifikat Tanah bisa diketahui sejak awal. Sebagai contoh untuk
pengurusan sertifikat tanah 100m yang nilai transaksi jual belinya dibawah Rp 60.000
sehingga tidak dikenakan wajib pajak.
Girik/ letter C .Rp 500.000
Sporadik (contoh lahan 100m)..Rp 1.000.000
Keterangan dari Kecamatan ..Rp 700.000
Formulir BPN .Rp 100.000
Biaya Sertifikat di BPN .Rp 6.000.000
Materei 7-buah ..Rp 42.000,
+
Total biaya
Rp. 8.342.000

Sementara Dokumen Beli Tanah Yang Perlu Disiapkan Oleh Calon


Pembeli:
1. Asli Kartu Tanda Penduduk (KTP).
2. Fotokopi Kartu Keluarga (KK).
3. Fotokopi Akta Nikah jika sudah menikah.
4. Fotokopi NPWP.

Yang dimaksud Pembagian Waris Belum Sertipikat adalah :


Warisan model seperti ini terjadi jika pemiliknya sudah meninggal dunia dan tanah tersebut
belum bersertifikat artinya masih model tanah girik, tanah hak ulayat, tanah hak adat.
gampangnya tanah tersebut masih dalam bentuk Letter C, Model D, Model E (diwilayah
DIY) dan tanah tersebut akan di alih balik nama ke ahli warisnya misalnya anak isteri dan
lain-lain, Bisa jadi untuk di jual secara bersama-sama oleh Ahli warisnya. Nah bagaimana
cara untuk mengurusnya? berikut persayaratan dan langkah untuk mengurusnya
Adapun Syarat-syarat pembagian waris yang tanahnya belum sertipikat adalah :
1. Surat Permohonan bermaterai Rp.6000,2. Bukti Kepemilikan Tanah Misalnya Letter C Model D Model E
3. Rencana Pembagian Waris yang sudah di sepakati bersama
4. Sket gambar pembagian waris Sket kasar saja
5. Foto Copy Surat Kematian Pewaris (orang yang meninggal)
6. Foto Copy KTP semua ahli waris yang masih berlaku

7. Foto Copy KTP 2 orang saksi ( ktp pak dukuh + pak RT ( atau orang lain yang lebih
tua )
8. Foto Copy PBB+STTS) tahun terahir
9. Dan pemberkasan lainya saya yang buatkan
10.

JUAL BELI & BALIK NAMA


SERTIFIKAT

11. Posted by: Irma Devita In: Jual beli, pertanahan | comment : 139
12. PROSEDUR, DATA YANG DIPERLUKAN dan SYARAT-SYARATNYA
13. Dalam melaksanakan pekerjaan saya sehari-hari, beberapa kali saya ditanya oleh
klien-klien yang awam, yang menyatakan bahwa mereka akan melakukan balik nama
sertifikat berdasarkan kwitansi lunas dari Penjual atas pembelian tanah dan/atau
bangunan. Beberapa orang menganggap hanya dengan menggunakan kwitansi lunas
tersebut mereka sudah dapat melakukan balik nama sertifikat tanah yang mereka beli.
Pada kenyataannya tidak semudah itu. Yang menjadi persoalan adalah jika si penjual
sudah tidak bisa ditemui lagi atau sudah meninggal dunia, maka pembeli tersebut
akan mengalami kesulitan dalam melakukan peralihan hak atas tanah dan bangunan
dimaksud.
Pada prakteknya, untuk dapat melakukan balik nama (dalam hal ini peralihan hak)
atas tanah dan/atau bangunan, harus dilakukan dengan cara tertentu, yaitu jual beli,
hibah, tukar menukar, atau inbreng (pemasukan ke dalam suatu perusahaan). Pada
kesempatan ini akan saya bahas mengenai peralihan hak dengan cara jual beli.
14. Jual beli merupakan proses peralihan hak yang sudah ada sejak jaman dahulu, dan
biasanya diatur dalam hukum Adat, dengan prinsip: Terang dan Tunai. Terang artinya
di lakukan di hadapan Pejabat Umum yang berwenang, dan Tunai artinya di bayarkan
secara tunai. Jadi, apabila harga belum lunas, maka belum dapat dilakukan proses jual
beli dimaksud. Dewasa ini, yang diberi wewenang untuk melaksanakan jual beli
adalah Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang terdiri dari:
1.PPAT sementara > adalah Camat yang diangkat sebagai PPAT untuk daerah
daerah terpencil
2.PPAT > Notaris yang diangkat berdasarkan SK Kepala BPN untuk wilayah kerja
tertentu
15. Data-data apa saja yang harus dilengkapi untuk proses Jual Beli & balik nama
tersebut?
Dalam transaksi jual beli tanah dan/atau bangunan tersebut, biasanya PPAT yang
bersangkutan akan meminta data-data standar, yang meliputi:
I. Data tanah, meliputi:
a.asli PBB 5 tahun terakhir berikut Surat Tanda Terima Setoran
(bukti bayarnya)
b.Asli sertifikat tanah (untuk pengecekan dan balik nama)
c.asli IMB (bila ada, dan untuk diserahkan pada Pembeli setelah
selesai proses AJB)
d.bukti pembayaran rekening listrik, telpon, air (bila ada)
e. Jika masih dibebani Hak Tanggungan (Hipotik), harus ada Surat
Roya dari Bank yang bersangkutan
16. Catatan: point a & b mutlak harus ada, tapi yang selanjutnya optional

17. II. Data Penjual & Pembeli (masing-masing) dengan kriteria


sebagai berikut:
a.Perorangan:
a.1. Copy KTP suami isteri
a.2. Copy Kartu keluarga dan Akta Nikah
a.3. Copy Keterangan WNI atau ganti nama (bila ada, untuk
WNI keturunan)
b.Perusahaan:
b.1. Copy KTP Direksi & komisaris yang mewakili
b.2. Copy Anggaran dasar lengkap berikut pengesahannya dari
Menteri kehakiman dan HAM RI
b.3. Rapat Umum Pemegang Saham PT untuk menjual atau Surat
Pernyataan Sebagian kecil asset
18. c.Dalam hal Suami/isteri atau kedua-duanya yang namanya
tercantum dalam sertifikat sudah meninggal dunia, maka yang
melakukan jual beli tersebut adalah Ahli Warisnya. Jadi, datadata yang diperlukan adalah:
19. c.1. Surat Keterangan Waris
-Untuk pribumi: Surat Keterangan waris yang disaksikan dan
dibenarkan oleh Lurah yang dikuatkan oleh Camat
-Untuk WNI keturunan: Surat keterangan Waris dari Notaris
c.2. Copy KTP seluruh ahli waris
c.3. Copy Kartu keluarga dan Akta Nikah
c.4. Seluruh ahli waris harus hadir untuk tanda-tangan AJB, atau
Surat Persetujuan dan kuasa dari seluruh ahli waris kepada
salah seorang di antara mereka yang dilegalisir oleh Notaris
(dalam hal tidak bisa hadir)
c.5. bukti pembayaran BPHTB Waris (Pajak Ahli Waris), dimana
besarnya adalah 50% dari BPHTB jual beli setelah dikurangi
dengan Nilai tidak kena pajaknya.
20. Nilai tidak kena pajaknya tergantung dari lokasi tanah yang
bersangkutan.
Contoh Perhitungannya:
-NJOP Tanah sebesar Rp. 300juta, berlokasi di wilayah bekasi:
Nilai tidak kena pajaknya wilayah bekasi adalah sebesar Rp. 250jt. Jadi pajak yang
harus di bayar =
{(Rp. 300jt Rp. 250jt) X 5%} X 50%.
Jadi, apabila NJOP tanah tersebut di bawah Rp. 250jt, maka penerima waris tidak
dikenakan BPHTB Waris (Pajak Waris)
21. Sebelum dilaksanakan jual beli, harus dilakukan:
1. Pengecekan keaslian dan keabsahan sertifikat tanah pada kantor
pertanahan yang berwenang
2. Para pihak harus melunasi pajak jual beli atas tanah dan
bangunan tersebut.
Dimana penghitungan pajaknya adalah sebagai berikut:
-Pajak Penjual (Pph) = NJOP/harga jual X 5 %
-Pajak Pembeli (BPHTB) =
{NJOP/harga jual nilai tidak kena pajak} X 5%

Proses Balik Nama Sertifikat Tanah di Kantor Pertanahan


Proses Balik Nama di Kantor Pertanahan
1)Menggunakan Jasa PPAT
Setelah membuat akta jual beli, PPAT kemudian menyerahkan berkas akta jualbeli ke Kantor Pertanahan, untuk keperluan balik nama sertifikat, selambatlambatnya dalam tujuh hari kerja sejak ditandatanganinya akta tersebut.
Berkas yang diserahkan meliputi :
a.Surat permohonan balik nama yang ditandatangani oleh pembeli
b.Akta jual beli PPAT
c.Sertifikat hak atas tanah
d.KTP pembeli dan penjual
e.Bukti pelunasan pembayaran PPh
f.Bukti pelunasan pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
2)Pembeli Mengajukan Sendiri
Dalam hal pembeli mengajukan sendiri proses balik nama maka berkas jual-beli
yang ada di PPAT diminta, untuk selanjutnya pembeli mengajukan permohonan
balik nama ke Kantor Pertanahan, dengan melampirkan :
a.Surat Pengantar dari PPAT
b.Sertifikat Asli
c.Akta jual-beli dari PPAT
d.Identitas diri penjual, pembeli dan/atau kuasanya (melampirkan fotocopy KTP)
e.Surat kuasa, jika permohonannya dikuasakan kepada pihak lain
f.Bukti pelunasan SSBBPHTB (Surat Setoran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan
Bangunan)
g.Bukti pelunasan SSP PPh (Surat Setor Pajak Pajak Penghasilan)
h.SPPT PBB (Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan)
tahun berjalan atau tahun terakhir. Bila belum memiliki SPPT, maka perlu
keterangan dari lurah/kepala desa terkait.
i.Izin Peralihan Hak, jika :

i.Pemindahan hak atas tanah atau Hak Milik atas rumah susun yang didalam
sertifikatnya dicantumkan tanda yang menyatakan bahwa, hak tersebut hanya
boleh dipindahtangankan apabila telah diperoleh izin dari instansi berwenang;
ii.Pemindahan Hak Pakai atas tanah Negara.
j.Surat Pernyataan calon penerima hak (pembeli), yang menyatakan :
i.Bahwa pembeli dengan peralihan hak tersebut, tidak menjadi penerima hak
atas tanah yang melebihi ketentuan maksimum penguasaan tanah, menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan.
ii.Bahwa pembeli dengan peralihan hak tersebut, tidak menjadi penerima hak
atas tanah absentee (guntai).
iii.Bahwa yang bersangkutan (pembeli) menyadari, apabila pernyataan
sebagaimana dimaksud di atas tidak benar (poin i dan ii), maka tanah berlebih
atau tanah absentee tersebut menjadi objek landreform. Dengan kata lain, yang
bersangkutan (pembeli) bersedia menanggung semua akibat hukumnya, apabila
pernyataan tersebut tidak benar.
Setelah permohonan dan kelengkapan berkas disampaikan ke Kantor
Pertanahan, baik oleh pembeli sendiri atau PPAT atas kuasa dari pembeli, maka
Kantor Pertanahan akan memberikan tanda bukti penerimaan permohonan balik
nama kepada pemohon. Selanjutnya, oleh Kantor Pertahanan akan dilakukan
pencoretan atas nama pemegang hak lama, untuk kemudian diubah dengan
nama pemegang hak baru.
Nama pemegang hak lama (penjual) didalam buku tanah dan sertifikat dicoret
dengan tinta hitam, serta diparaf oleh Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat
yang ditunjuk. Nama pemegang hak yang baru (pembeli) ditulis pada halaman
dan kolom yang tersedia pada buku tanah dan sertifikat, dengan dibubuhi
tanggal pencatatan serta ditandatangani oleh Kepala Kantor Pertanahan atau
pejabat yang ditunjuk. Dalam waktu 14 (empat belas hari) pembeli dapat
mengambil sertifikat yang sudah atas nama pembeli, di Kantor Pertahanan
Terkait.
Sumber: Tata Cara Mengurus Surat Surat Rumah dan Tanah, hal 73-75
Penulis: Eko Yulian Isnur, S.H.
Penerbit: Pustaka Yustisia, 2008

1)Menggunakan Jasa PPAT


Setelah membuat akta jual-beli, PPAT kemudian menyerahkan berkas akta jual-beli ke Kantor
Pertanahan, untuk keperluan balik nama sertifikat, selambat-lambatnya dalam tujuh hari kerja
sejak ditandatanganinya akta tersebut.
Berkas yang diserahkan meliputi :

a.Surat permohonan balik nama yang ditandatangani oleh pembeli


b.Akta jual-beli PPAT
c.Sertifikat hak atas tanah
d.KTP pembeli dan penjual
e.Bukti pelunasan pembayaran PPh
f.Bukti pelunasan pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
2)Pembeli Mengajukan Sendiri
Dalam hal pembeli mengajukan sendiri proses balik nama maka berkas jual-beli yang ada di
PPAT diminta, untuk selanjutnya pembeli mengajukan permohonan balik nama ke Kantor
Pertanahan, dengan melampirkan :
a.Surat Pengantar dari PPAT
b.Sertifikat Asli
c.Akta jual-beli dari PPAT
d.Identitas diri penjual, pembeli dan/atau kuasanya (melampirkan fotocopy KTP)
e.Surat kuasa, jika permohonannya dikuasakan kepada pihak lain
f.Bukti pelunasan SSBBPHTB (Surat Setoran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan)
g.Bukti pelunasan SSP PPh (Surat Setor Pajak Pajak Penghasilan)
h.SPPT PBB (Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan) tahun berjalan
atau tahun terakhir. Bila belum memiliki SPPT, maka perlu keterangan dari lurah/kepala desa
terkait.
i.Izin Peralihan Hak, jika :
i.Pemindahan hak atas tanah atau Hak Milik atas rumah susun yang didalam sertifikatnya
dicantumkan tanda yang menyatakan bahwa, hak tersebut hanya boleh dipindahtangankan
apabila telah diperoleh izin dari instansi berwenang;
ii.Pemindahan Hak Pakai atas tanah Negara.
j.Surat Pernyataan calon penerima hak (pembeli), yang menyatakan :
i.Bahwa pembeli dengan peralihan hak tersebut, tidak menjadi penerima hak atas tanah yang
melebihi ketentuan maksimum penguasaan tanah, menurut ketentuan peraturan perundangundangan.

ii.Bahwa pembeli dengan peralihan hak tersebut, tidak menjadi penerima hak atas tanah
absentee (guntai).
iii.Bahwa yang bersangkutan (pembeli) menyadari, apabila pernyataan sebagaimana
dimaksud di atas tidak benar (poin i dan ii), maka tanah berlebih atau tanah absentee tersebut
menjadi objek landreform. Dengan kata lain, yang bersangkutan (pembeli) bersedia
menanggung semua akibat hukumnya, apabila pernyataan tersebut tidak benar.
Setelah permohonan dan kelengkapan berkas disampaikan ke Kantor Pertanahan, baik oleh
pembeli sendiri atau PPAT atas kuasa dari pembeli, maka Kantor Pertanahan akan
memberikan tanda bukti penerimaan permohonan balik nama kepada pemohon. Selanjutnya,
oleh Kantor Pertahanan akan dilakukan pencoretan atas nama pemegang hak lama, untuk
kemudian diubah dengan nama pemegang hak baru.
Nama pemegang hak lama (penjual) didalam buku tanah dan sertifikat dicoret dengan tinta
hitam, serta diparaf oleh Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk. Nama
pemegang hak yang baru (pembeli) ditulis pada halaman dan kolom yang tersedia pada buku
tanah dan sertifikat, dengan dibubuhi tanggal pencatatan serta ditandatangani oleh Kepala
Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk. Dalam waktu 14 (empat belas hari) pembeli
dapat mengambil sertifikat yang sudah atas nama pembeli, di Kantor Pertahanan Terkait.
Sumber: Tata Cara Mengurus Surat-Surat Rumah dan Tanah, hal 73-75
Penulis: Eko Yulian Isnur, S.H.
Penerbit: Pustaka Yustisia, 2008
Related Law Posts

Daily tips: Prosedur dan Mekanisme Pembuatan Akta

Tanah

Ajudikasi Pendaftaran Tanah

Pembuktian Hak Lama pada Pendaftaran Tanah

Peran Camat dan Lurah Dalam Rangka Proses


Sertifikat Tanah di DKI Jakarta

Share this:
Print
More

Like this:

Akta tanah, Balik Nama, BPN, Pertanahan, PPAT, Sertifikat Tanah


This entry was posted on January 4, 2010, 8:25 pm and is filed under Tulisan Pakar. You can follow any
responses to this entry through RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Free Consultation Services is Closed

Pemberitahuan:
"Kami sampaikan bahwa terhitung sejak tanggal 30 November 2014, kami
menutup layanan free consultation (Probono). Hal ini karena begitu banyaknya
pertanyaan probono yang telah masuk melalui website/blog kami dan belum
sempat terjawab secara menyeluruh. Bagi mereka yang sudah menyampaikan
pertanyaan kepada kami, mohon bersabar menunggu jawaban dari tim Probono
kami karena jawaban tersebut sedang disiapkan. Kami mohon maklum atas
keadaan ini dan kami mohon maaf kepada semua pihak yang masih menunggu
jawaban dari pertanyaan kami. Terima kasih."

Managed By

About Us
Leks&Co adalah firma hukum yang menyediakan berbagai jenis jasa hukum, yang terdiri dari
orang muda, enerjik, kreatif, yang menyediakan pelayanan hukum premium. Silakan
kunjungi website kami di sini untuk informasi lebih lanjut.

Leks&Cos Recommendation

International Link

Categories
Archives
Get Free Download

The Real Estate Law Review 2013- Indonesia Chapter


The Real Estate Law Review 2014- Indonesia Chapter
-------------------------------------

Getting the Deal Through - Real Estate 2014 - Indonesia

Our Presentations

Syarat dan ketentuan pembangunan & pengembangan


Mixed use - Common Problems Under Condominium Law

Contoh Kasus Pertanahan By Ivor Pasaribu

Perjanjian Pengikatan Jual Beli Tanah

Hukum Rumah Susun

Lembaga Bantuan Hukum

Pemutusan Hubungan Kerja Sepihak


Upah Tidak Sesuai Yang Tertulis di Perjanjian Kontrak Kerja

Apakah Boleh Dilakukan PPJB Secara Bertingkat?

Penyelesaian Pembagian Harta Pailit Kreditor dalam Kepailitan

Permasalahan Tanah Warisan

Expert Blog at KONTAN

Permasalahan Hukum pada Pengembangan Properti Campuran (Bagian


Terakhir)

Leks Newsletter Sign Up!


* required
First Name: *

Last Name: *

Email Address: *

Akta PPAT dan Bukti Kepemilikan Tanah


1) Apakah surat tanah non sertifikat yang kepemilikannya terdaftar & diakui Camat memiliki
kekuatan hukum dan dapat diajukan ke Hukum jika ada pihak lain yang menggarap /
menguasai / mengakui lahan secara fisiknya? 2) Mengenai hal ini berada di UU nomor
berapa? Terima kasih.
Anggi_shs
Tweet

Jawaban:
Ilman Hadi, S.H.

1. Kami kurang memahami apa maksud dari Surat tanah non sertifikat yang kepemilikannya terdaftar &
diakui Camat, karena bukti kepemilikan hak atas suatu bidang tanah dibuktikan dengan adanya sertipikat
tanah (lihat Pasal 19 ayat [2] huruf c UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria (UUPA) jo. Pasal 1 angka 20 PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (PP
24/1997).

Kami asumsikan bahwa surat yang Saudara maksud adalah akta yang dikeluarkan oleh Camat sebagai
PPAT Sementara. Sesuai dengan ketentuan Pasal 2 PP No. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan
Pejabat Pembuat Akta Tanah (PP 37/1998):

(1). PPAT bertugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat akta
sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak
Milik Atas Satuan Rumah Susun, yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data
pendaftaran tanah yang diakibatkan oleh perbuatan hukum itu.

(2). Perbuatan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut:
a) Jual beli;
b) Tukar menukar;
c) Hibah;
d) Pemasukan ke dalam perusahaan (inbreng);
e) Pembagian hak bersama;
f) Pemberian Hak Guna Bangunan/Hak Pakai atas tanah Hak Milik;
g) Pemberian Hak Tanggungan;
h) Pemberian kuasa membebankan Hak Tanggungan.

Akta tersebut kemudian dapat menjadi dasar pensertipikatan tanah yang selanjutnya bisa Saudara baca di
artikel Bagan/Proses/Prosedur Pembuatan Sertipikat Tanah.

Mengenai apakah akta tersebut memiliki kekuatan hukum, jika akta tersebut adalah akta jual beli tanah,
memang dapat membuktikan telah terjadi transaksi jual beli tanah. Akan tetapi, untuk pembuktian yang
kuat mengenai kepemilikan atas tanah hanya dapat dibuktikan oleh adanya sertipikat tanah sebagai surat
tanda bukti hak atas tanah.

Hal ini ditegaskan dalam Pasal 32 PP 24/1997 yang berbunyi:


(1). Sertipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat
mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di dalamnya, sepanjang data fisik dan data
yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yang
bersangkutan.
(2). Dalam hal atas suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertipikat secara sah atas nama orang atau
badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan secara nyata
menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi
menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkannya
sertipikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertipikat dan Kepala
Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke Pengadilan
mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertipikat tersebut.
Untuk itu, sebaiknya dilakukan pengurusan sertipikat tanah agar jika terjadi sengketa (misal: tanah
dikuasai secara fisik oleh orang lain), pemilik tanah mempunyai dasar kepemilikan yang kuat.

Jika kepemilikan atas tanah tersebut tidak dapat didukung dengan bukti-bukti yang kuat, tanah tersebut
mungkin saja didaftarkan oleh orang lain yang menguasai secara fisik tanah selama 20 tahun atau lebih
secara berturut-turut dan memenuhi syarat dalam Pasal 24 ayat (2) PP 24/1997:
a) penguasaan tersebut dilakukan dengan itikad baik dan secara terbuka oleh yang bersangkutan
sebagai yang berhak atas tanah, serta diperkuat oleh kesaksian orang yang dapat dipercaya.
b) penguasaan tersebut baik sebelum maupun selama pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal
26 tidak dipermasalahkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan
ataupun pihak lainnya.

Jadi, surat/akta yang dikeluarkan oleh Camat seperti yang Saudara sebutkan belum dapat menjadi
pembuktian yang kuat untuk membuktikan hak kepemilikan atas tanah.

2. Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, peraturan-peraturan yang mengenai bukti kepemilikan tanah diatur
dalam UUPA dan PP 24/1997. Kami menyarankan agar tanah tersebut segera didaftarkan agar memiliki
Sertipikat Tanah sebagai pembuktian kepemilikan tanah yang kuat.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar hukum:

1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria;


2. PP No. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.