Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (KUP). Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Perpajakan 1.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan
Tuhan Yang Maha Esa dan

tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam

kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, tim penulis telah
berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai
dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka
menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. Dan semoga dengan
selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca dan teman-teman

Bandung, 25 Februari 2014

DAFTAR ISI

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pajak pada mulanya merupakan suatu upeti (pemberian secara cuma-cuma)
namun sifatnya merupakan suatu kewajiban yang dapat dipaksakan

yang harus

dilaksanakan oleh rakyat atau masyarakat kepada seorang raja atau penguasa.
Prinsip dalam system self-assessment adalah bahwa wajib pajak diwajibkan
untuk menghitung, memperhitungkan, membayar sendiri, dan melaporkan pajak
terhutang sesuai ketentuan peraturan perundang-undnagan perpajakan sehingga
penentuan besarnya pajak terutang dipercayakan wajib pajak sendiri melalui surat
pemberitahuan atau SPT yang disampaikannya. Penerbitan sesuatu surat ketetapan
pajak hanya terbatas kepada wajib pajak tertentu yang disebabkan oleh ketidak
benaran dalam pengisian SPT.
Dalam makalah ini kita akan mempelajari sebagian hal yang berkaitan dengan
ketentuan umum dan tata cara perpajakan, mulai dari pengertian, fungsi, dan sebab
dikeluarkannya Surat Ketetapan Pajak (SKP), SKPKB, SKPKBT, SKPLB, SKPN dan
pengertian, fungsi dan dasar penerbitan STP. Semua ini akan kita pelajari dalam mata
kuliah ini, karena materi yang lebih lanjut akan dipelajari dalam bab-bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan masalah
sebagai berikut.
1. Apa pengertian SKP?
2. Apa dasar hukum SKP?
3. Apa fungsi SKP?
4. Apa dasar penerbitan SKP?
5. Dimana tempat penyampaian SKP?
6. Apa jenis-jenis dari SKP?
7. Apa pengertian, fungsi, dan dasar penerbitan STP?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Pengertian dari STP
2. Dasar hukum STP
3. Fungsi SKP
4. Dasar penerbitan SKP
5. Tempat penyampaian SKP
6. Jenis-jenis dari SKP
7. Pengertian, fungsi, dan dasar penerbitan STP
D. Manfaat Penulisan Makalah

Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memperluas wawasan kami dan pembaca
tentang masalah Perpajakan. Selain itu supaya ada kesadaran pada diri kami dan
pembaca untuk tertib membayar pajak.

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian Surat Ketetapan Pajak (SKP)
Pengertian Surat Ketetapan Pajak / SKP ( Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Nomor
28 Tahun 2007 ):
Surat ketetapan yang meliputi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar,
Surat Ketetapan Pajak Nihil.

Berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pajak kewenangan mengeluarkan


surat ketetapan pajak, dilimpahkan kepada KPP (Kantor Pelayanan Pajak).
Surat Ketetapan Pajak timbul berdasarkan hasil pemeriksaan.

B. Dasar Hukum Surat Ketetapan Pajak


Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata
Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2007.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 607/KMK.04/1994 Tentang Tata Cara
Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi dan Pengurangan atau
Pembatalan Ketetapan Pajak, Tanggal 21 Desember 1994.
Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP - 18/PJ.24/1995 Tentang Perubahan atas
Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP - 05/PJ.24/1995 Tanggal 3 Februari 1995
Tentang Bentuk Surat Tagihan Pajak dan Surat Ketetapan Pajak atas Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah Tanggal 5 Mei 1995.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 542/KMK.04/2000 Tentang Tata Cara
Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi dan Pengurangan atau
Pembatalan Ketetapan Pajak Tanggal 22 Desember 2000.

C. Fungsi Surat Ketetapan Pajak


Surat ketetapan pajak berfungsi sebagai :
a. Sarana untuk melakukan koreksi terhadap WP tertentu yang nyata-nyata atau
berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan atau
b.
c.
d.
e.

kewajiban materil dalam memenuhi ketentuan perpajakan.


Sarana untuk mengenakan sanksi administrasi perpajakan.
Sarana administrasi untuk melakukan penagihan pajak.
Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar
Sarana untuk memberitahukan jumlah pajak yang terutang.

D. Dasar Penerbitan Surat Ketetapan Pajak


SKP diterbitkan apabila :
1. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) :
tidak diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta tidak ditandatangani oleh
WP;
tidak disampaikan kembali dalam jangka waktu 30 hari dan setelah ditegur
secara tertulis tidak disampaikan sebagaimana ditentukan dalam Surat
Teguran;
2. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah pajak yang
terutang lebih besar dari jumlah pajak yang dihitung berdasarkan SPOP yang
disampaikan oleh WP.

E. Jumlah Pajak Terutang dalam Surat Ketetapan Pajak

1.

Jumlah pajak yang terutang dalam SKP yang disebabkan SPOP tidak diisi
dengan jelas, benar, dan lengkap serta tidak ditandatangani oleh WP atau
pengembalian SPOP lewat 30 hari setelah diterima WP, adalah sebesar pokok
pajak ditambah dengan denda administrasi sebesar 25% dihitung dari pokok

2.

pajak.
Jumlah pajak yang terutang dalam SKP yang didasarkan atas hasil
pemeriksaan atau keterangan lain adalah selisih pajak yang terutang
berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain dengan pajak terutang
yang dihitung berdasarkan SPOP ditambah denda administrasi sebesar 25 %
dari selisih pajak yang terutang.

F. Tempat Penyampaian Surat Ketetapan Pajak


SKP disampaikan kepada WP melalui :
a. Kantor Pelayanan Pajak Pratama atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan
Konsultasi Perpajakan.
b. Kantor Pos.
c. Pemerintah Daerah (dalam hal ini Aparat Desa atau Kelurahan).

G. Jenis-jenis Surat Ketetapan Pajak (SKP)


Terdapat empat jenis Surat Ketetapan Pajak (SKP) yaitu :
1. SURAT KETETAPAN PAJAK KURANG BAYAR (SKPKB)
a. Pengertian SKPKB
Menurut UU No.28 Tahun 2007 Pasal 1(16), Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok
pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak,
besarnya sanksi administrasi dan jumlah pajak yang masih harus dibayar.
b. Penerbitan SKPKB
Menurut No.28 Tahun 2007 Pasal 13(1), SKPKB diterbitkan apabila :
i. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang
ii.

terutang tidak atau kurang dibayar


Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah
ditentukan dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada

iii.

waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran


Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah ternyata
tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak

iv.

seharusnya dikenai tarif 0% (nol persen)


Kewajiban menyelenggarakan pembukuan atau pencatatn tidak

v.

dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang


Kepada Wajib Pajak diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan.

c. Sanksi Administrasi
i. Apabila SKPKB dikeluarkan karena alasan pada poin 2a dan 2e, maka
jumlah kekurangan pajak

terutang ditambah dengan sanksi

administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan paling lama 24 bulan,


dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak,
bagian tahun pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Ketetapan
ii.

Pajak Kurang Bayar


Apabila SKPKB dikeluarkan karena alas an pada poin 2b, 2c, dan 2d,
maka dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar :
50% dari PPh yang tidak atau kurang dibayar dalam satu Tahun
Pajak
100% dari PPh yang tidak atau kurang dipotong, tidak atau
kurang dipungut, tidak atau kurang disetor dan dipotong atau

dipungut tetapi tidak atau kurang disetorkan.


100% dari PPN dan PPn BM yang tidak atau kurang bayar.
d. Fungsi SKPKB
Koreksi atas jumlah yang terutang menurut SPT-nya.
Sarana untuk mengenakan sanksi.
Alat untuk menagih.
e. Jangka Waktu Penerbitan SKPKB
Berkaitan dengan penerbitan surat ketetapan pajak, ditentukan bahwa
besarnya pajak terutang yang diberitahukan oleh Wajib Pajak dalam SPT
menjadi pasti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan apabila dalam jangka waktu 5 tahun setelah saat terutangnya pajak
atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak tidak
diterbitkan surat ketetapan pajak.
Meskipun demikian, apabila jangka waktu 5 tahun tersebut telah lewat,
SKPKB tetap dapat diterbitkan, apabila Wajib Pajak setelah jangka waktu
tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau
tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan
negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap. Jumlah yang terutang dalam SKPKB ditambah dengan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 48% dari jumlah pajak yang tidak atau
kurang dibayar.
f. Dasar atau Sebab-sebab Diterbitkannya SKPKB
i. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak
yang terutang tidak atau kurang dibayar.

ii.

Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka


waktunya dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada
waktunya sebagaimana ditentukan didalam surat teguran. (SKPKB
diterbitkan secara jabatan)
Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan mengenai Pajak Pertambahan

iii.

Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah ternyata tidak


seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya
iv.

dikenakan tarif 0%
Apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 (tentang
kewajiban pembukuan) dan Pasal 29 (tentang kewajiban dalam
pemeriksaan) tidak dipenuhi, sehingga tidak dapat diketahui besarnya

pajak yang terutang. (SKPKB diterbitkan secara jabatan)


2. SURAT KETETAPAN PAJAK KURANG BAYAR TAMBAHAN (SKPKBT)
a. Pengertian
Surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan (SKPKBT) adalah surat
ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah
ditetapkan .
b. Penerbitan SKPKBT
i. Apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum
terungkap yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang
ii.

terutang.
Masih ditemukan lagi data yang semula belum terungkap pada saat
diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan

atau data baru yang diketahui kemudian oleh Direktur Jenderal Pajak
Data baru adalah data atau keterangan mengenai segala sesuatu yang
diperlukan untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang terutang yang oleh
Wajib Pajak belum diberitahukan pada waktu penetapan semula, baik dalam
Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya maupun dalam pembukuan
perusahaan yang diserahkan pada waktu pemeriksaan.
Data yang semula belum terungkap adalah data atau keterangan lain
mengenai segala sesuatu yang diperlukan untuk menghitung besarnya jumlah
pajak yang terutang yang:
Tidak diungkapkan oleh Wajib Pajak dalam Surat Pemberitahuan

beserta lampirannya (termasuk laporan keuangan) dan atau


Pada waktu pemeriksaan untuk penetapan semula Wajib Pajak tidak
mengungkapkan data dan atau memberikan keterangan lain secara
benar, lengkap,danterinci sehingga tidak memungkinkan fiskus dapat

menerapkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan


dengan benar dalam menghitung jumlah pajak yang terutang.
c. Fungsi SKPKBT
Sebagai alat untuk mengoreksi ketetapan pajak sebelumnya.
Sebagai alat atau sarana untuk menagih pajak.
Sebagai alat atau sarana untuk mengenakan sanksi.
d. Sanksi SKPKBT
Pasal 15 (2): sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus
persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut dalam SKPKBT
Pasal 15 (4): sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% (empat puluh
delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, dalam hal
Wajib Pajak setelah jangka waktu 5 (lima) tahun dipidana karena melakukan
tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
e. Jangka Waktu Penerbitan SKPKBT
Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan SKPKBT dalam jangka
waktu 5 tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak,
bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak.
SKPKBT tetap dapat diterbitkan meskipun jangka waktu 5 tahun
telah dilampaui, jika Wajib Pajak dipidana karena melakukan tindak pidana
yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berupa pajak
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Jumlah kekurangan pembayaran pajak yang termuat dalam SKPKBT ditambah
dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% dari jumlah pajak yang
tidak atau kurang dibayar.
3. SURAT KETETAPAN PAJAK LEBIH BAYAR (SKPLB)
a. Pengertian
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat ketetapan pajak yang
menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak lebih besar daripada pajak
yang terutang atau seharusnya tidak terutang.
b. Fungsi SKPLB
Sebagai sarana atau alat untuk mengembalikan kelebihan pembayaran pajak
yang telah dilakukan oleh Wajib Pajak.
c. Dasar atau Sebab-sebab Diterbitkannya SKPLB

i.

Untuk Pajak Penghasilan, jumlah kredit pajak lebih besar dari jumlah
pajak yang terutang, atau telah dilakukan pembayaran pajak yang

ii.

seharusnya tidak terutang.


Untuk Pajak Pertambahan Nilai, jumlah kredit pajak lebih besar dari
jumlah pajak

atau telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak

seharusnya terutang. Apabila terdapat pajak terutang yang dipungut


oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai, maka yang dimaksud dengan
jumlah Pajak Yang terutang adalah jumlah Pajak Keluaran setelah
dikurangi pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan
iii.

Nilai tersebut.
Untuk Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, jumlah pajak yang
dibayar lebih besar dari jumlah pajak yang terutang atau telah

dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang.


4. SURAT KETETAPAN PAJAK NIHIL (SKPN)
a. Pengertian
Menurut UU No.28 Tahun 2007 Pasal 1(18), Surat Ketetapan Pajak
Nihil adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama
besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada
kredit pajak.
Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan, menerbitkan
SKPN apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar sama
dengan jumlah pajak yang terutang, atau pajak tidak terutang dan tidak ada
kredit pajak atau tidak ada pembayaran pajak.
b. Penerbitan SKPN
i. Untuk Pajak penghasilan, jumlah kredit pajak sama dengan jumlah
pajak yang terutang atau tidak ada pajak terutang dan tidak ada kredit
ii.

pajak.
Untuk Pajak Pertambahan Nilai, jumlah kredit pajak sama dengan
jumlah pajak yang terutang, atau pajak tidak terutang dan tidak ada
kredit pajak.
Apabila terdapat pajak terutang yang dipungut oleh Pemungut Pajak
Pertambahan Nilai, maka yang dimaksud dengan jumlah pajak yang
terutang adalah jumlah Pajak Keluaran setelah dikurangi dengan pajak

iii.

yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai tersebut.


Untuk Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, jumlah pajak yang
dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang atau pajak tidak

terutang dan tidak ada pembayaran pajak.


c. Fungsi SKPN

Sebagai alat pemberitahuan kepada wajib pajak bahwa jumlah yang


dibayarkan sama besarnya dengan jumlah pajak terutang.

H. SURAT TAGIHAN PAJAK (STP)


1. Pengertian
Surat Tagihan Pajak (STP) adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau
sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.
2. Fungsi STP
a. Sebagai koreksi atas jumlah pajak yang terutang SPT Wajib pajak.
b. Sarana mengenakan sanksi administrasi berupa bunga atau denda.
c. Alat untuk menagih pajak.
3. Penertbitan STP
Berdasarkan pengertian STP sebagaiman diatur pada Pasal 14, Dirjen pajak dapat
menerbitkan STP dalam hal-hal sebagai berikut :
a. Pajak penghasilan dalam satu tahun berjalan tidak/kurang bayar, dikenakan
denda bunga 2% sebulan maksimal 24 bulan
b. Dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan

terdapat

kekurangan

pembayaran pajak sebagaimana salah tulis dan atau salah hitung,


dikenakan sanksi bunga 2% sebulan maksimal 24 bulan.
c. Denda administrasi berupa denda atau bunga
d. Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang Pajak
Pertambahan Nilai tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), 2% x Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
e. Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai PKP, tetapi membuat faktur
pajak, denda 2% x DPP
f. Pengusaha yang dikukuhkan sebagai PKP tidak membuat atau membuat
faktur pajak tetapi tepat waktu atau tidak mengisi lengkap faktru pajak,
denda 2% x DPP
4. Sanksi Administrasi STP
a. Sanksi administrasi berupa denda Rp 50.000 ,- jika Wajib Pajak tidak atau
terlambat penyampaian SPT Masa dan Rp 100.000,- jika tidak atau
terlambat menyampaikan SPT Tahunan.
b. Sanksi administrasi berupa denda 2% dari Dasar Pengenaan Pajak dalam
hal Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang PPN
tetapi tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP
atau Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai PKP tetapi membuat faktur
pajak atau pengusaha te1ah dikukuhkan sebagai PKP tetapi tidak membuat
Faktur Pajak atau membuat faktur pajak tetapi tidak tepat waktu atau tidak
mengisi selengkapnya faktur pajak.

c. Sanksi administrasi berupa bunga dalam hal Wajib Pajak membetulkan


sendiri SPTnya, dimana hasil pembetulan tersebut menyatakan kurang
bayar.
d. Sanksi administrasi berupa bunga apabila Wajib Pajak terlambat/ tidak
membayar pajak yang sudah jatuh tempo pembayarannya.
5. Kekuatan Hukum STP
STP mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan SKP. Oleh karena itu dapat
ditagih dengan paksa, sesuai dengan ketentuan UU No.19 tahun 2001 tentang
Panagihan Pajak Dengan Paksa.

BAB 3
PENUTUP
A. Simpulan
SKP adalah surat yang wajib dipatuhi oleh wajib pajak dan apabila dilanggar akan
ada sanksi yang tegas daripihak yang berwajib. SKP merupakan produk hukum
yang dihasilkan oleh pemeriksaan yang dilakukan oleh FISKUS. Contoh beberapa
SKP sebagai berikut, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ( SKPKB ), Surat
Ketetapan Pajak Lebih Bayar ( SKPLB ), Surat Ketetapan Pajak Nihil ( SKPN ),
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT).
B. Saran
Setelah mempelajari materi ini hendaklah kita sadar akan kewajiban kita untuk
membayar pajak, agar pembangunan dapat terus berjalan.

DAFTAR ISI
Mardiasmo. 2011. Perpajakan Edisi Revisi 2011. Yogyakarta: Andi.
Direktoral Jendral Pajak. (2012, 2, Juni). Seri PBB - Surat Ketetapan Pajak Bumi
dan Bangunan (SKPBB). [Online]. Tersedia; http://www.pajak.go.id/. [25Februari
2014].
Batubara, Abdullah Badawi.(2012, 19, April). Surat Ketetapan Pajak. [Online].
Tersedia;http://mineritysriwijaya.blogspot.com/2012/04/surat-ketetapanpajak.html. [25 Februari 2014].
Putera, Firlana. (2011, 13, Maret). Macam-macam Surat Ketetapan Pajak.
[Online]. Tersedia; http://firland0602.blogspot.com/. [25 Februari 2013].
Pajak
Online.
Surat
Tagihan
Pajak.
[Online].
Tersedia;
http://www.pajakonline.com/. [25 Februari 2014].