Anda di halaman 1dari 12

A.

Laporan Kasus
I. IDENTITAS
Nama

: Ny. S

Nomor Rekam Medis

: 22934

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 32 tahun

Alamat

: Curug

Pekerjaan

: Karyawan toko

Status Pernikahan

: Menikah

II. ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis, pada hari Selasa, 11 November 2014 bertempat di Puskesmas Curug
1. Keluhan Utama

Demam sejak seminggu sebelum datang ke puskesmas


2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan demam sejak seminggu sebelum datang ke puskesmas. Pasien belum
mengukur suhu tubuh, namun ia merasakan demam sangat tinggi. Demam timbul terutama menjelang
maghrib (setelah ia pulang bekerja), sepanjang malam dan keesokan paginya mereda. Pasien mengaku
lemas dan tidak enak badan. Pasien sudah mengkonsumsi obat Pamol, 3 kali satu tablet dalam sehari,
sejak demam timbul, namun hanya menurunkan demam sejenak.
Selain demam, pasien juga mengeluhkan diare, mual dan muntah sejak 2 hari sebelum pasien datang
ke puskesmas dan nafsu makan berkurang. Pasien buang air besar 5-6 kali setiap harinya dengan
konsistensi cair berampas, warna kehijauan, tidak ada darah dan berbau agak tengik. Setiap buang air
besar dapat mencapai 3 aqua gelas. Pasien buang air kecil secara normal. Mual dialami pasien 2 hari
yang lalu. Pasien hanya muntah sekali yaitu satu hari sebelum pergi ke puskesmas, kira-kira sebanyak
setengah gelas aqua berisi makanan dan minuman yang dikonsumsi. Pasien sudah mengkonsumsi
New Diatabs 2 tablet per hari sejak 1 hari setelah diare muncul. Pasien masih makan dengan teratur
dan minum minimal 8 gelas per hari sejak sakit.
Pasien juga mengeluhkan nyeri di perut bagian kanan sejak demam muncul dan tidak menjalar. Pasien
hanya mendeskripsikan karakteristiknya sebagai tidak nyaman dan selalu ada, tidak hilang timbul.
Nyeri tidak menjalar ke tempat lain. Dalam skala, pasien menggambarkan nyerinya 4/10. Pasien
hanya menggunakan minyak kayu putih untuk nyerinya walau tidak ada perubahan. Tidak ada hal
yang memperingan atau memperberat rasa rakitnya.
3. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak pernah mengalami memiliki penyakit serupa dan tidak memiliki riwayat hipertensi,
diabetes, kolestrol serta trauma.
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Keluarga pasien tidak mengalami penyakit serupa dan tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing
manis, dan kolestrol tinggi.
5. Riwayat Sosial dan Lingkungan
:
Pasien menyangkal penggunaan rokok atau obat-obatan atau pun alkohol. Pasien tinggal dengan
suami dan anak-anaknya yang juga tidak merokok Sehari-harinya pasien makan di kantin yang
berada di pinggir jalan. Pasien tidak mengetahui bila ada rekan kerja yang mengalami sakit serupa.
Pasien tidak pergi ke luar kota atau negeri selama 1 minggu terakhir.. Daerah rumah dan tempat kerja
pasien tidak banyak nyamuk. Pasien tidak memiliki hewan peliharaan.

6. Riwayat Alergi

Pasien tidak memiliki riwayat alergi apapun. Pasien tidak memiliki alergi obat.
7. Reaksi Pasien
:
Pasien berharap segera sembuh karena demam dan badannya yang lemas ini sangat mengganggu
aktivitasnya, terutama di sore menjelang malam. Pasien berpikir mungkin sakitnya disebabkan karena
seminggu sebelumnya ia sempat mencoba menu baru yang sepertinya kurang bersih penyajiannya.
8. Summary
Ny S, perempuan 32 tahun, datang dengan keluhan utama demam tinggi sejak seminggu sebelum
datang ke puskesmas. Demam timbul sore dan malam hari, mereda keesokan paginya. Pasien juga
diare berampas kehijauan 5-6 kali sehari sejak 2 hari yang lalu. Pasien mual dan muntah satu hari
sebelum ke puskesmas. Pasien juga mengeluhkan nyeri perut bagian kanan, dengan skala 4/10, yang
terus menerus ada sejak demam muncul. Pasien sudah mengkonsumsi Pamol dan New Diatabs untuk
meredakan gejala sejenak. Sehari-harinya pasien makan di kantin pinggir jalan secara teratur.
Sebelum demam timbul, pasien sempat memakan menu baru yang sepertinya kurang bersih, Pasien
dan keluarga pasien tidak pernah mengalami penyakit serupa dan tidak memiliki riwayat darah tinggi,
kencing manis, dan kolestrol tinggi. Pasien tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak merokok.
Disease Review
Demam typhoid adalah penyakit multisistemik yang disebabkan terutama oleh Salmonella enterica,
serovar typhii atau paratyphii. Mode transmisinya adalah melalui oral (makanan dan minuman) atau
tangan ke mulut (setelah menggunakan toilet yang terkontaminasi). S. typhii mampu bertahan hidup di
dalam asam lambung, Ketika berada di usus halus, akan diinvasi oleh sel M. Organisme ini kemudian
ditelan sel mononuklear di jaringan limfoid bersangkutan dan dapat menyebar via limfatik dan pembuluh
darah serta menyebabkan hiperplasia reaktif dari fagosit dan jaringan limfoid seluruh tubuh
Gejala umumnya adalah demam, lemas, nyeri abdomen, diare, mual, muntah dan konstipasi. Apabila
tidak diobati, dapat berlanjut menjadi perforasi saluran cerna, perdarahan di usus, bahkan kematian dalam
1 bulan sejak awal muncul.
Pada minggu pertama, temperatur meningkat secara perlahan dan fluktuasi demam terlihat dengan
bradikardia (tanda Faget). sakit kepala dan batuk. Epistaxis terlihat pada seperempat kasus. Nyeri perut
juga mungkin terjadi. Ada penurunan jumlah WBCdan eosinophil dan relatif limfositosis. Kultur darah
positif Salmonella typhi atau paratyphi. Uji Widal negatif di minggu pertama.
Pada minggu kedua infeksi, pasien demam tinggi pada plateau sekitar 40 C dan bradikardia, serta
detak jantung yang dikrotik . Delirium sering terjadi dan bintik kemerahan dapat timbul di kuadran kanan
bawah. Diare dapat terjadi pada tahap ini: buang air besar 6-8 kali dalam sehari, berwarna kehijauan
seperti sup kacang dengan ciri khas berbau. Namun konstipasi juga mungkin terjadi. Limpa dan hati
membesar dan ada peningkatan transaminase. Uji Widal positif dengan Ab antiO dan antiH. Kultur darah
terkadang positif pada tahap ini.
Minggu ketiga, muncul berbagai komplikasi seperti perdarahan intenstine, perforasi intertine, gejala
neuropsikiatrik, abses, demam tinggi, dehidrasi, risiko predarahan yang tinggi. Di akhir minggu ketiga,
demam menurun.
Diagnosis dibuat dengan uji Widal, positif AntiO dan antiH. Penanganan dilakukan dengan terapi
rehidrasi oral, antibiotik dengan DOC fluroquinolone (misal ciprofloxacin), ceftriaxone, atau cefixime.
Penanganan dengan antibiotik menurunkan mortalitas secara signifikan. Pembedahan dilakukan apabila
telah terjadi perforasi intestine, dengan menutup perforasi dengan saluran peritoneum.
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/231135

A. Laporan Kasus

I. IDENTITAS
Nama

: Ny. S

Nomor Rekam Medis

: 35510

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 26 tahun

Alamat

: Curug

Pekerjaan

: Karyawan

Status Pernikahan

: Belum menikah

II. ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis, pada hari Selasa, 11 November 2014 bertempat di Puskesmas Curug
1. Keluhan Utama

Nyeri kepala sebelah kanan sejak seminggu sebelum pasien datang ke puskesmas
2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke puskesmas dengan keluhan rasa nyeri kepala hanya sebelah kanan seperti berdenyut
sejak seminggu sebelum datang ke puskesmas. Rasa nyeri timbul saat pagi hari, semakin terasa ketika
beraktivitas fisik misalnya saat bekerja dan dapat mereda tanpa diobati setelah 3-4 jam setelah
berbaring. Pasien merasa rasa nyeri ini semakin bertambah parah hingga ia tidak bekerja selama 2 hari
ini. Pasien menyangkal adanya gangguan penglihatan, pendengaran atau rasa berputar-putar sebelum
nyeri kepala muncul. Pasien mengaku apabila digambarkan dalam skala nyeri, skala nyeri berubah
dari 4/10 menjadi 8/10 dalam seminggu selama serangan berlangsung. Pasien mengkonsumsi Panadol
sebanyak 3 kali satu tablet sejak keluhan muncul dan rasa nyeri membaik sementara.
Selain itu, pasien mengaku mengalami mual dan muntah. Mual telah dialami sejak 3 hari yang lalu.
Rasa mual terasa membaik bila pasien duduk di tempat yang tenang dan gelap. Pasien mengaku
muntah sekali 8 jam sebelum datang ke puskesmas, tidak menyemprot, kira-kira sebanyak setengah
cangkir. Pasien menyangkal adanya diare namun mengaku lebih sering buang air kecil. Dalam sehari
pasien dapat buang air kecil sampai 10 kali, pasien tidak dapat menggambarkan jumlahnya dalam
ukuran gelas aqua. Pasien juga mengaku adanya penurunan nafsu makan sejak seminggu yang lalu.
Pasien hanya makan sehari sekali di siang hari setiap harinya. Pasien menyangkal adanya keluhan lain
seperti demam, batuk dan pilek.
3. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien sudah pernah menderita sakit kepala seperti ini sejak masih SMA. Pasien mengaku nyeri
kepala itu timbul terutama saat stress namun mereda hanya dengan beristirahat dan tidur sehingga
pasien tidak pernah memeriksakan ke dokter. Semenjak itu, pasien pun pernah beberapa kali
mengalami sakit kepala yang sama namun sakit kepala kali ini adalah yang paling parah yang pernah
dirasakan. Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit. Pasien tidak memiliki riwayat darah tinggi,
kencing manis, kolestrol tinggi serta trauma.
4. Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga pasien tidak mengalami penyakit serupa dan tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing
manis, dan kolestrol tinggi.
5. Riwayat Sosial, Lingkungan dan Gaya Hidup :
Pasien tinggal dengan kedua orangtuanya. Pasien mengaku tidur cukup. Ia menyangkal penggunaan
rokok atau obat-obatan atau pun alkohol. Namun pasien gemar mengkonsumsi kopi, sekitar 2-3
cangkir per hari. Pasien mengaku kehilangan nafsu makan sehingga ia hanya makan sekali dalam
sehari, yaitu di siang hari. Pasien mengaku sedang mengalami stress karena banyak pekerjaan di
kantor serta sedang memiliki banyak masalah di rumah.

6. Riwayat Alergi

Pasien tidak memiliki riwayat alergi apapun. Pasien tidak memiliki alergi obat.
7. Reaksi Pasien (FIFE)

Pasien berharap segera sembuh karena nyeri kepala ini sangat mengganggunya dalam beraktivitas dan
bekerja, terutama saat pagi hari. Pekerjaan pasien pun banyak yang terabaikan. Pasien menganggap
sakit kepala ini sakit kepala biasa dan yakin akan segera sembuh setelah meminum obat.
8. Review
Ny. S, wanita 26 tahun, datang dengan keluhan utama nyeri kepala sebelah kanan, berdenyut, sejak
seminggu sebelum datan ke puskesmas. Nyeri timbul di pagi hari, memberat ketika beraktivitas fisik,
mereda setelah berbaring 3-4 jam dan semakin progresif dalam seminggu ini (dari skala 4/10 menjadi
8/10). Pasien mual dan muntah 8 jam sebelum datang ke puskesmas. Pasien menjadi lebih sering
buang air kecil. Nafsu makan pasien menjadi menurun dalam seminggu setelah nyeri kepala muncul.
Pasien memiliki riwayat nyeri kepala semenjak SMA yang timbul akibat stress dan mereda dengan
tidur. Pasien mengakui dirinya sedang stress saat ini. Keluarga pasien tidak mengalami penyakit
serupa.
Disease Review
Migraine merupakan suatu reaksi neurovaskuler terhadap perubahan mendadak di dalam lingkungan
eksternal atau internal, ditandai dengan gejala nyeri kepala berulang, episodik, dan berlangsung selama 4-72
jam. Migrain didiagnosa ketika 2 dari fitur-fitur ini terjadi:
-

Nyeri kepala sebelah


Diperburuk dengan photophonia dan phonophobia
Nyeri seperti berdenyut
Mual sedang sampai berat
Muntah

Sedikitnya 12% dari populasi umum mengalami kurang lebih 18 serangan per tahun, dua pertiganya
adalah wanita. Migraine sering terjadi pada usia 25-55 tahun, dan dapat terjadi di anak-anak. Prevalensi pada
wanita paling tinggi pada usia 20-40 tahun. Riwayat keluarga adalah faktor penting yang menjadi predisposisi
genetik. Migraine adalah kelainan multifaktorial antara genetik dan lingkungan. Penderita mengalami
peningkatan risiko terhadap epilepsy, depresi, ansieti, dan stroke. Pencetus dari serangan misalnya pola tidur
yang terganggu, terlalu lelah, melewatkan makan, aktivitas berat, perubahan cuaca, stress, perubahan hormon,
stimulasi aferen (cahay terang, bau-bauan) dan zat kimia (alkohol atau nitrat).
Migraine dibagi menjadi migraine dengan aura dan tanpa aura. Pada migraine dengan aura, serangan
diawali dengan tanda dari disfungsi focal brain (kilatan cahaya atau hilangnya pendengaran). Dua per tiga
pasien adalah migraine tanpa aura.
Patofisiologi migraine meliputi komponen neurologis, vaskuler, hormonal dan neurotransmitter. Titik
akhirnya adalah gangguan pada system modulasi sensoris subkorteks. Fase klinis serangan migraine berupa:
1. Fase premonitor: sekitar sepertiga memiliki gejala beberapa jam sebelum munculnya sakit kepala.
Patogenesis tidak jelas, tapi mungkin ada keterlibatan dopaminergik/hipotalamik.
2. Migraine aura: sepertiga memiliki gejala aura seperti deficit visual, sensoris atau motor. Patofisiologi
tampaknya berkaitan dengan penurunan penyebaran kortikal, penurunan aktivitas elektrik dan
penurunan aliran darah ke korteks region oksipital.
3. Fase sakit kepala: Gejala berlangsung 4-72 jam
Migraine tanpa aura sering terbatas pada satu sisi saja. Karakteristiknya seperti berdenyut, intensitas
sedang sampai berat, dan diperburuk dengan aktivitas fisik. Pada migraine dengan aura, gejala awal biasanya
visual. Penurunan sensoris dan afasia juga mungkin terjadi. Aura terjadi dalam 5-20 menit dan hilang dalam
60 menit, diikuti oleh sakit kepala dan gejala lainnya termasuk mual, muntah, fotopobia, dan diare.

Diagnosis migraine dibuat berdasarkan riwayat medis dan pemeriksaan fisik untuk menentukan jenis sakit
kepala, faktor risiko, riwayat keluarga dan gejala klinis. Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan CT, MRI,
EEG.
Manajemen migraine dilakukan dengan edukasi bahwa migraine adalah kelainan fisiologis kronis, bukan
psikosomatis. Pencegahan dari pencetus, tidur yang cukup, makan teratur dan relaksasi setiap hari serta
meditasi dapat menurunkan risiko terjadinya serangan. Manajemen farmakologis meliputi antimuntah,
NSAID, ergotamine, dan agonis reseptor serotonin.
Sumber: Pathophysiology: The Biologic Basis for Disease in Adults and Children, McCance

A. Laporan Kasus
I. IDENTITAS
Nama

: Ny. K

Nomor Rekam Medis

: 22922

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 28 tahun

Alamat

: Curug

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Status Pernikahan

: Sudah menikah

II. ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis, pada hari Selasa, 2 September 2014 bertempat di Puskesmas Curug
1. Keluhan Utama

Nyeri perut sejak seminggu sebelum pasien datang ke pusksmas


2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri perut sejak seminggu sebelum pasien datang ke
pusksmas. Rasanya seperti terbakar pada bagian kiri atas sekitar ulu hati, tidak menjalar. Pasien
mengaku skala nyeri 6/10. Pasien mengaku merasakan nyeri apabila terlambat makan, namun setelah
makan nyeri mereda.
Sejak 2 hari sebelumnya pasien juga merasakan mual dan mencret. Pasien tidak mengalami muntahmuntah. Mual pasien bukan karena makan, muncul mendadak. Pasien buang air besar sebanyak 3-4
kali setiap harinya dengan konsistensi encer sedikit berampas, tidak berdarah, tinja berwarna kuning
dan berbau seperti biasa. Setiap buang air besar sekitar 2-3 gelas aqua. Pasien buang air kecil secara
normal. Pasien mengaku kehilangan nafsu makan, pola makan tidak teratur dan sering terlambat
makan. Pasien tetap minum seperti biasanya, sekitar 8 gelas per hari. Pasien belum meminum obat
apapun semenjak seminggu yang lalu.
3. Riwayat Penyakit Dahulu

3 bulan sebelumnya pasien mengalami gejala yang sama dan mendapatkan obat promaag dan terasa
lebih baik. Pasien tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, dan kolestrol tinggi.
4. Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga pasien tidak mengalami penyakit serupa dan tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing
manis, dan kolestrol tinggi.
5. Riwayat Sosial, Lingkungan, dan Gaya Hidup

Pasien mengaku tinggal dalam lingkungan yang bersih. Minuman yang dikonsumsi berasal dari air
galon isi ulang. Pasien sering terlambat makan dan hanya makan 1-2 kali sehari dan cenderung makan
makanan pedas. Pasien tidak mengkonsumsi rokok atau alkohol.
6. Riwayat Alergi

Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan atau obat apapun.
7. Reaksi Pasien

Pasien berharap nyeri perutnya segera sembuh karena sangat mengganggu aktivitasnya sehari-hari.
Pasien berpikir bahwa ini sakit perut ini disebabkan karena maag seperti yang terjadi 3 bulan
sebelumnya sehingga ia datang untuk meminta obat dan yakin akan segera sembuh.
Summary
Ny. K, wanita 28 tahun, datang dengan keluhan utama nyeri perut seperti terbakar bahian kiri atas
sekitar ulu hati seminggu sebelum datang ke puskesmas. Nyeri timbul bila terlambat makan dan

mereda setelah makan. Tingkat keparahannya 6/10. Pasien juga mual dan mencret 3-4 kali dalam
sehari dengan konsistensi encer sedikit berampas. Pasien sering terlambat makan dan gemar makan
makanan pedas. 3 bulan sebelumnya pasien mengalami gejala serupa yang mereda dengan konsumsi
Promaag. Pasien tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, dan kolestrol tinggi. Pasien tidak
mengkonsumsi rokok atau alkohol.
Disease Review:
Gastrititis adalah penyakit inflamasi dari mukosa gaster. Gastritis bisa akut maupun kronis dan bisa
menyerang fundus atau antrum atau keduanya. Gastritis akut mengerosi permukaan epithel secara local
maupun menyebar. Erosi ini biasanya superfisial.
Gastritis akut biasanya disebabkan karena luka dari dinding mukosa yang disebabkan obat, zat kimia,
infeksi H. pylori. NSAID seperti aspirin, ibuprofen, pun dapat mengerosi dinding lambung karena
penghambatan sintesis prostaglandin yang berperan dalam stimulasi sekresi mukus. Faktor lainnya adalah
alkohol, histamine, digitalis dan kelainan metabolis seperti uremia. Infeksi H. pylori menyebabkan inflamais,
nyeri, mual dan muntah. Manifestasi klinis gastritis akut berupa ketidaknyamanan pada daerah perut, nyeri
epigastrik, dan pendarahan. Biasanya sembuh secara spontan dalam beberapa hari. Menghentikan penggunaan
obat yang melukai seperti antacid atau menurunkan sekresi asam dengan antagoni histamine H2 dan inhibitor
pompa proton juga dapat meningkatkan penyembuhan.
Gastritis kronis cenderung terjadi di orang dewasa dan menyebabkan inflamasi kronos, atropi mukosa
dan metaplasia epitel. Gastritis kronis diklasifikasikan menjadi tipe A (immune/fundal), dan B
(nonimmune/antral) berdasarkan patogenesi dan lokasi lesi.
Tipe A sangat jarang terjadi dan sangat berat apabila terjadi. Mukosa gaster terdegenerasi secara
ekstensif sehingga terjadi atropi gaster. Kehilangan chief cells dan parietal cells menurunkan kemampuan
untuk sekresi pepsinogen, HCl dan faktor intrinsik lain. Karena sekresi asam menjadi tidak memadai,
mekanisme umpan balik yang menghambat sekresi gastrin terganggu sehingga level gastrin meningkat.
Anemia pernisiosa dapat berkembang karenan faktor intrinsik menjadi tidak tersedia untuk memfasilitasi
absorbs vitamin B12. Mekanisme ini terjadi oleh karena kelainan autoimun. Tipe A adalah faktor risiko bagi
karsinoma gaster, khususnya pada individu yang memiliki anemia pernisiosa.
Tipe B biasanya melibatkan antrum saja dan empat kali lebih sering dari tipe A. Tipe ini tidak
berhubungan dengan penurunan sekresi HCl, anemia pernisiosa atau adanya antibodi sel parietal. Beberapa
faktor yang terkait adalah alkohol, rokok, NSAID. Infeksi H. pylori adalah faktor utama yang menyebabkan
aktivasi limfosit T dan B serta pelepasan sitokin inflamasi yang merusakan epitel gaster. Gen H. pylori juga
menghasilkan toksin VacA yang menyebabkan injuri dan meningkatkan inflamasi. Reflux empedu kronis juga
dapat menyebabkan gastritis karena mengganggu barir mukosa.
Gejala dari gastritis kronis sering kali tidak menggambarkan keparahan dari penyakitnya.
Pemeriksaan gastroskopi dan biopsi dapat menggambarkan proses inflamasi jangka panjang dan atropi gaster
pada individu tanpa riwayat stress abdomen. Adanya antibody antiparietal spesifik menandakan gastritis tipe
A. Pasien juga dapat mengeluhkan beberapa gejala seperti anorexia, rasa kenyang, mual, muntah dan nyeri
epigastrik. Perdarahan gastritis mungkin satu0satunya manifestasi klinis gastritis. Gejala dapat ditangani
dengan kontrol makan, menghindari alkohol dan NSAID. Kombinasi antibiotik digunakan untuk menangani
H. pylori. Vitamin B ditambahkan bila pasien mengalami anemia pernisiosa.
Sumber: Pathophysiology: The Biologic Basis for Disease in Adults and Children, McCance

A. Laporan Kasus
I. IDENTITAS
Nama

: Ny. E

Nomor Rekam Medis

: 19555

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 24 tahun

Alamat

: Curug

Pekerjaan

: Karyawan

Status Pernikahan

: Belum menikah

II. ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis, pada hari Selasa, 2 September 2014 bertempat di Puskesmas Curug
1. Keluhan Utama

Nyeri tenggorokan seminggu sebelum datang ke puskesmas.


2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke puskesmas dengan keluhan rasa nyeri, kering dan gatal di tenggorokan yang terus
menerus ada sejak seminggu sebelum datang ke puskesmas. Pasien mengatakan bahwa tidak ada hal
yang meringankan nyeri tenggorokannya namun apabila menelan semakin terasa sakit. Pasien tidak
dapat menggambarkan skala rasa nyeri. Pasien mengaku suaranya tidak menjadi serak.
Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak terus menerus, dengan dahak berwarna kuning kental, tidak
berdarah sejak seminggu yang lalu. Tidak ada yang meperingan batuknya. Pasien juga mengaku
merasa pusing dan lemas yang terjadi sejak nyeri tenggorokan muncul. Pasien tidak dapat
mendeskripsikan karakteristik pusingnya, pasien mengatakan pusing terjadi di seluruh kepala dan
tidak menjalar ke tempat lain. Rasa pusing muncul ketika pasien beraktivitas, misalnya saat
mengerjakan tugas di komputer terlalu lama, dan mereda apabila pasien tidur sejenak. Pasien
mengaku badannya menjadi lemas sehingga tidak mampu mengerjakan aktivitas dengan optimal.
Pasien juga mengeluhkan nafsu makan yang menurun karena rasa sakit ketika menelan serta badan
yang lemas. Pasien tidak mengetahui apabila ada penurunan berat badan.
Pasien juga mengeluhkan sedikit panas yang menyertai sejak tiga hari sebelumnya, tidak naik atau
turun, namun terus menerus sepanjang hari, tidak ada periode bebas demam. Pasien belum mengukur
suhu badannya.
Pasien tidak mengeluhkan gangguan dalam buang air besar dan kecil, sesak, dada berdebar-debar.
Pasien mengaku sudah mengkonsumsi antibiotik dan vitamin C sejak lima hari yang lalu namun
belum membaik.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
:
Pasien tidak pernah mengalami penyakit serupa dan tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing
manis, dan kolestrol tinggi.
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Keluarga pasien tidak mengalami penyakit serupa dan tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing
manis, dan kolestrol tinggi.
5. Riwayat Sosial dan Lingkungan

Pasien tinggal di lingkungan yang kotor. Pasien mengaku rekan kerjanya banyak yang merokok di
dalam ruangan. Sehari-hari pasien ke tempat kerja dengan menggunakan sepeda motor tanpa
menggunakan masker. Pasien tidak memiliki hewan peliharaan. Makanan dan minuman yang
dikonsumsi sehari-hari dibeli dari warteg dekat tempat kerja.
6. Riwayat Alergi

Pasien tidak memiliki riwayat alergi apapun. Pasien tidak memiliki alergi obat.
7. Reaksi Pasien

Pasien berharap segera sembuh karena sangat mengganggu aktivitasnya sehari-hari, terutama
mengganggu pekerjaannya sebagai karyawan. Pasien menganggap ia hanya radang tenggorokan dan
kelelahan saja sehingga ia akan segera sembuh setelah ke dokter.
8. Summary
Ny. E, wanita 24 tahun, datang dengan keluhan utama nyeri tenggorokan seminggu sebelum datang ke
puskesmas. Nyeri ini disertasi rasa kering dan gatal yang terus menerus ada, semakin parah ketika
menelan. Pasien batuk berdahak terus menerus dengan dahak berwarna kuning kental sejak seminggu
yang lalu. Pasien juga merasa pusing ketika beraktivitas dan merasa lemas, disertai dengan penurunan
nafsu makan. Pasien tidak mengkonsumsi alkohol atau merokok, namun pasien terpapar asap rokok
dan polusi dalam lingkungannya. Pasien dan keluarganya tidak pernah mengalami penyakit serupa
dan tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, dan kolestrol tinggi.
Disease Review:
Faringitis adalah infeksi dari faring atau tonsil. Etiologi penyakit ini biasanya adalah infeksi, baik oleh
virus (Rhinovirus, Adenovirus, EBV, Influenza, Parainfluenza, Coronavirus) atau bakteri (paling sering
Streptococcus grup A). Selain itu dapat pula disebabkan alergi, trauma, toxin atau neoplasia.
Sulit untuk membedakan etiologi faringitis. Namun apabila adanya kriteria berikut:
-

Sakit kepala
Tidak ada batuk

Muntah
Usia 4-7 tahun

Muncul mendadak

maka kemungkinan etiologinya adalah faringitis streptokokal.

Pengobatan yang diberikan meliputi analgesic (misal NSAID dan asetaminofen) untuk
meredakan nyeri tenggorokan. Steroid juga dapat digunakan pada penderita faringitis berat. Lidokain juga
dapat meredakan rasa sakit dengan cara membaalkan membran mukosa. Pada infeksi bakteri, antibiotik
digunakan untuk menghentikan replikasi bakteri. Pasien juga disarankan untuk minum banyak air dan
sebaiknya mengkonsumsi makanan lunak untuk kenyamanan pasien. Tidak diperlukan pembatasan aktivitas
fisik.
-

Sumber: emedicine.medscape.com/article/764304-overview

A. Laporan Kasus

I. IDENTITAS

Nama

: Ny. M

Nomor Rekam Medis

: 22925

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 38 tahun

Alamat

: Curug

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Status Pernikahan

: Sudah menikah

II. ANAMNESIS

Dilakukan autoanamnesis, pada hari Selasa, 11 November 2014 bertempat di Puskesmas Curug

1. Keluhan Utama
-

Sesak nafas sejak 2 hari sebelum pasien datang ke puskesmas

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke puskesmas dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari sebelum pasien datang
ke puskesmas. Keluhan sesak nafas muncul sejak sebulan sebelumnya. Awalnya jarang timbul namun
lama-lama frekuensi sesak nafas menjadi sering dalam bulan ini. Sesak semakin memberat bila
suasana dingin atau pasien merasa kelelahan. Saat ia tidur malam hari, pasien sering merasa sesak
sehingga nafasnya terengah-engah. Pasien mengkonsumsi obat Napacin saat sesak muncul yang
meredakan gejalanya.
Pasien juga mengeluhkan batuk berulang berdahak putih tidak berdarah bersamaan dengan
sesaknya. Batuk semakin parah pada di malam hari hingga membangunkan pasien saat tidur. Selain
itu, pasien batuk apabila menghirup asap rokok, debu dan berada di ruangan dingin. Pasien telah
mengkonsumsi obat OBH tiga kali sehari yang dapat meredakan gejalanya. Tenggorokan pasien terasa
kering dan gatal tapi pasien mengaku tidak mengalami gangguan ketika menelan.
-

Pasien menyangkal adanyanya gejala lain seperti demam, mual dan muntah.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien pernah mengalami hal serupa bulan lalu namun frekuensinya hanya 1-2 kali dalam
sebulan. Pasien hanya mengoleskan minyak kayu putih di dada untuk melegakannya. Pasien pernah
berobat karena keluhan gatal-gatal berwarna merah di lipatan siku karena eksim saat masih 10 tahun.
Rasa gatal muncul apabila pasien sedang banyak pikirian. Semenjak itu pasien hanya menggunakan
salep Hydrocortisone yang dibeli di toko obat apabila gatal muncul. Pasien tidak memiliki riwayat
darah tinggi, kencing manis, kolestrol tinggi serta trauma. Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit.
4. Riwayat Penyakit Keluarga

Kakek mengalami penyakit asma. Keluarga lain tidak mengalami penyakit serupa dan tidak
memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, dan kolestrol tinggi.
5. Riwayat Sosial dan Lingkungan

Pasien tinggal dengan suami dan anak-anaknya. Di rumahnya tidak ada yang merokok namun
di sekitar lingkungan rumahnya banyak yang merokok. Rumah selalu dibersihkan secara berkala.
Pasien tidak memiliki hewan peliharaan. Ia menyangkal penggunaan rokok atau obat-obatan atau pun
alkohol.
6. Riwayat Alergi
-

Pasien tidak memiliki alergi obat dan alergi makanan.

7. Reaksi Pasien

Pasien berharap segera sembuh karena rasa sesak ini mengganggunya dalam bekerja. Pasien
berpikir mungkin sesak napas ini disebabkan oleh asma karena kakeknya memiliki riwayat asma.
8. Summary
- Ny. M, wanita 38 tahun, datang dengan keluhan utama sesak nafas sejak 2 hari sebelum datang ke
puskesmas. Sesak nafas muncul terutama di malam hari dan dan memberat dalam suasana dingin atau
dalam kondisi kelelahan. Pasien juga batuk berdahak putih bersamaan dengan sesaknya yang semakin
parah di malam hari. Batuk juga muncul ketika menghirup asap rokok, debu dan di ruangan dingin.
Pasien juga mengeluhkan tenggorokan yang kering dan gatal. Pasien pernah memiliki riwayat sesak
bulan lalu dan eksim saat masih 10 tahun. Kakek pasien menderita asma.
-

Disease Review:

Asma adalah kelainan jalur napas kronis yang melibatkan interaksi kompleks antara obstruksi
jalur nafas, hiperesponsivitas bronkial dan inflamasi. Banyak unsur sel dan elemen yang berperan dalam
respon inflamasi, termasuk sel mast, eosinofil, neutrofil, limfosit T, makrofag dan epitel yang rusak
(khususnya pada onset mendadak, exaserbasi fatal, asma pekerjaan dan individu yang merokok). Di orang
yang rentan, inflamasi ini menyebabkan batuk yang rekuren khususnya pada malam hari dan subuh, mengi,
sesak napas. Gejala ini reversibel melalui pengobatan.
Asma terjadi pada segala usia, dengan sekitar setengah dari total terjadi selama masa kanakkanak dan sepertiganya pada usia 40. Asma bersifat menurun dan lebih dari 100 gen teridentifikasi berperan
dalam patogenesis asma. Faktor risiko lainnya misalnya paparan alergen, polusi, asap rokok, infeksi sistem
respirasi oleh virus, dan obesitas.
Inflamasi yang menyebabkan hiperresponsivitas jalur nafas merupakan fitur patologis utama
pada asma. Iritasi epitel di jalur nafas dan paparan antigen menginiasi respon imun innate dan adaptif. Pada
orang yang terlah tersensitisasi, paparan ini mengaktifkan sel T helper yang akan melepaskan IL 4 yang
menstimulasi aktivasi, proliferasi sel B untuk menghasilkan IgE. IgE menyebabkan degranulasi sel mast
sehingga terjadi pelepasan mediator sepert histamin, PG, dan leukotriene. Selain itu IL 5 juga disekresikan
untuk stimulasi aktivasi, migrasi dan proliferasi eosinofil yang menebabkan injuri jaringan dan pelepasan
neuropeptida toksik yang berperan dalam hiperresponsivitas bronkial, proliferasi fibroblas dan parut epitel. IL
8 mengaktivasi PMN yang menybabkan reaksi inflamasi yang lebih besar. IL 13 menghambar pembersihan
mukosilia, meningkatkan sekresi fibroblas dan menyebabkan bronkokonstriksi. Proses-proses ini
menyebabkan spasme otot polos bronkial, kongesti vaskuler, produksi mukus yang pekat, gangguan fungsi
mukosilia. Sitokin lainnya seperti TNF dan IL 1 juga mengganggu fungsi reseptor muskarinik sehingga
menyebabkan peningkatan asetilkolin dan sekresi mukus. Perubahan ini ditambah dengan kerusakan epitel
yang disebabkan infiltrasi epitel menyebabkan hiperesponsivitas dan obstruksi.
Obstruksi ini menyebabkan peningkatan resistensi jalur nafas dan penurunan aliran udara,
khususnya saat ekspirasi sehingga menimbulkan air trapping, hiperinflasi distal dari obstruksi, perubahan
mekanika pulmoner dan peningkatan usaha pernapasan.Semakin lama, hal ini menyebabkan penurunan
ventilasi dan perfusi sehingga terjadi hipoxemia.
Manifestasi klinisnya, individu dapat tanpa gejala selama durasi antar serangan. Apabila
parah, retraksi mungkin terlihat, dan mengi terdengar saat inspirasi dan ekspirasi. Pulsus paradoksus mungkin
dapat diidentifikasi. Respon lambat asma pun dapat terjadi 4-12 jam setelah serangan asma.
Evaluasi asma akut dilakukan dengan ABG, VEP dengan peak flow meter dan spirometer.
Manajemen asma akut membutuhkan penambahan oksigen dan pelega berupa SABA (misal Salbutamol).
Kortikosteroid oral perlu dipertimbangkan. Untuk kontrol digunakan kombinasi pengontrol misalnya LABA
(Formoterol), kortikosteroid inhalasi, anti IgE, antagonis Leukotriene, atau kombinasi obat lainnya.
-

Sumber: Pathophysiology: The Biologic Basis for Disease in Adults and Children, McCance
-