Anda di halaman 1dari 8

KUALITAS HIDUP PASIEN ULKUS DIABETIK

DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SERANG TAHUN 2012


Aji Firman1, Indah Wulandari2, Dadang Rochman3

ABSTRAK
Ulkus Diabetik merupakan penyakit komplikasi dari diabetes melitus. Ulkus Diabetik yang biasanya terjadi
lama sembuh dan terjadi berulang sehingga mempengaruhi kualitas hidup penderita. Kualitas hidup
didefinisikan sebagai persepsi individu sebagai laki-laki atau perempuan dalam hidup, ditinjau dari konteks
budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal, dan hubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan,
dan perhatian mereka.Penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan kualitas hidup penderita Ulkus Diabetik
di RSUD Serang. Kualitas hidup dalam penelitian ini meliputi empat dimensi yaitu kesehatan fisik,
psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif
dengan sampel 60 orang. Yang didapat secara accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah WHO
Qol Bref dengan 26 item pertanyaan digunakan untuk mengukur kualitas hidup penderita. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa dari dimensi kesehatan fisik sebagian besar responden merasa terganggu dari segi
terapi medis yang dilakukan, rasa sakit yang dirasakan bahkan pola istirahat. Dari dimensi kesehatan
psikologis, responden sering muncul perasaan negatif, penurunan harga diri dan perubahan citra tubuh yang
negatif. Dari dimensi hubungan sosial responden lebih puas terhadap dukungan sosial. Dari dimensi
lingkungan responden lebih puas terhadap mendapatkan informasi yang baru. Kesimpulan dari penelitian ini
adalah gambaran kualitas hidup pasien Ulkus Diabetik di RSUD Serang Tahun 2012 adalah tinggi. Dengan
mengetahui gambaran kualitas hidup penderita Ulkus Diabetik diharapkan dapat Smenjadi masukan bagi
perawat dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan kepada klien dengan Ulkus Diabetik.
Kata Kunci :
Kualitas Hidup, Ulkus Diabetik
Daftar Referensi : 25 (1994 2012)
1

Mahasiswa Tingkat IV Program S1 Keperawatan PSIK


Dosen Departemen Keperawatan Medikal Bedah PSIK-STIKes Faletehan
3
Dosen Departemen Keperawatan Medikal Bedah PSIL-STIKes Faletehan
2

QUALITY OF LIFE DIABETIC ULCER PATIENT AT SERANG GENERAL HOSPITAL 2012


Aji Firman1, Indah Wulandari2, Dadang Rochman3

ABSTRACT
Diabetic ulcer is a complication of diabetes mellitus. Diabetic ulcers are sores that are wounds are
deep, wide, tissue death, even the long healing process that will that influence patient`s quality of
life. The purpose of this study is to identify quality of life patient with diabetic ulcer in our patients
in Serang Hospital. Quality of life in this research include four dimensions such as physical,
psychological, social and environment. A descriptive quantitative method was conducted with
sample of 60 patient diabetic ulcer, that obtained by accidental technique. The quality of life was
measured using the WHO QOL Brief which consist of 26 questions. The results of this study
indicate that the physical health dimension of the majority of respondents felt distrubed in terms of
medical treatment carried out, the pain, and sleep pattern. Dimensions of psychological health,
respondents frequently negative feelings, decreased self-esteem and negative body image.
Dimensions of social relationships were more satisfied respondents on social support. Of the
environmental dimension of the respondents are more satisfied to get new information.. The
quality of life of diabetic ulcer patients at our patient Serang Hospital is high. With this study
result nurse can design interventions to increase patient`s quality of life.
Key word :
Quality of life, diabetic ulcer
Reference : 25 (1994 2012)
1

Bachelor Strudent in Nursing Graduate Programe at STIKes Faletehan Serang


Lecturere at Medical Surgical Nursing Departement at STIKes Faletehan Serang
3
Lecturere at Medical Surgical Nursing Departement at STIKes Faletehan Serang
2

LATAR BELAKANG

Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensi semakin meningkat dari tahun
ke tahun. Penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan dan
dapat mengganggu pola hidup atau kualitas hidup seseorang (WHO, 1994). Komplikasi dari Diabetes Melitus
biasanya berjalan lambat dengan gejala-gejala yang ringan sampai berat, bahkan dapat menyebabkan
kematian akibat dari komplikasi akut maupun kronis. Penyakit ini merupakan penyakit degeneratif yang
memerlukan upaya penanganan yang tepat dan serius.
Menurut International Diabetes Federation (2006) Diabetes Melitus adalah penyakit kronis yang
digambarkan sebagai keadaan kadar glukosa darah yang meningkat (hiperglikemia) yang berhubungan
dengan kematian. Penyakit ini muncul ketika sel-sel beta di pankreas gagal menghasilkan hormon insulin
yang cukup atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkan secara efektif.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa pada tahun 2004 terdapat 1,1 juta penduduk
mengalami kematian akibat diabetes dengan prevalensi sekitar 1,9 % dan pada tahun 2007 dilaporkan bahwa
terdapat 246 juta penderita diabetes, 6 juta kasus baru Diabetes Melitus dan 3,5 juta penduduk mengalami
kematian akibat diabetes. Dari seluruh kematian akibat Diabetes Melitus di dunia, 70 % kematian terjadi di
negara - negara berkembang. Pada tahun 2003, International Disease Foundation (IDF) menyatakan
penderita Diabetes Melitus diperkirakan akan meningkat mencapai 333 juta pada tahun 2025. International
Diabetes Federation (IDF) yang disponsori oleh World Diabetes Foundation, dalam buku ATLAS
DIABETES, Executive Summary, second edition, diterbitkan tahun 2005, Indonesia dinyatakan menduduki
ranking ke tiga terbesar di dunia.
Komplikasi kronis dari Diabetes Melitus antara lain penyakit kardiovaskuler, stroke, ulkus diabetik,
retinopati, serta nefropati diabetik. Dengan demikian, kematian Diabetes Melitus terjadi tidak secara langsung
akibat hiperglikemianya, tetapi berhubungan dengan komplikasi yang terjadi. Apabila dibandingkan dengan
orang normal, maka penderita Diabetes Melitus lima kali lebih besar untuk timbul gangren, tujuh belas kali
lebih besar untuk menderita kelainan ginjal, dan dua puluh lima kali lebih besar untuk terjadinya kebutaan
(James, 2010). Diantara komplikasi kronik Diabetes Melitus kelainan makrovaskuler memberikan gambaran
kelainan pada tungkai bawah berupa ulkus maupun gangren selanjutnya disebut ullkus diabetik. Ulkus
Diabetik merupakan komplikasi menahun yang paling ditakuti dan mengesalkan bagi penderita Diabetes
Melitus, baik ditinjau dari lamanya perawatan, biaya tinggi yang diperlukan untuk pengobatan.
Ulkus Diabetik merupakan luka terbuka pada permukaan kulit karena adanya komplikasi makroangiopati
yang terdapat luka pada penderita yang sering tidak dirasakan, dan dapat berkembang menjadi infeksi
disebabkan oleh bakteri aerob maupun anaerob. Gejala yang sering dikeluhkan yaitu sering kesemutan, nyeri
pada kaki seperti rasa terbakar, tidak berasa, kerusakan jaringan (nekrosis), penurunan denyut nadi, kaki
menjadi atrofi, dingin, dan menebal, serta kulit menjadi kering ( Price & Wilson, 2002).
Health care system as Diabetik foot ulcer (DFUs) menghitung 20% pengunjung rumah sakit didiagnosa
Diabetes Melitus. Hal lainya yaitu 8 - 10 % amputasi yang bukan disebakan dari kecelakaan berasal dari
penderita Diabetes Melitus, dan 85% diantaranya merupakan amputasi yang disebabkan oleh Ulkus Diabetik.
Peneliti bernama Douglas (2004) yang bergabung dalam DFUs juga menemukan efek dari Health-related
quality of life (HRQoL) atau hubungan kesehatan dari kualitas kehidupan pasien dengan penderita Diabetes
Melitus terutama yang memiliki Ulkus Diabetik. DFUs mengasumsikan bahwa Ulkus Diabetik dapat
memberikan efek negatif kepada emosional, fisik, dan ekonomi. Selain itu Vileikyte (2003) menambahkan
bahwa pasien Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetik dapat mempengaruhi keadaan psikologis, gangguan
dalam proses berfikir dan konsentrasi serta gangguan dalam hubungan sosial. Semua kondisi tersebut akan
menyebabkan menurunnya kualitas hidup pasien dengan Ulkus Diabetik.
Kualitas hidup bisa dipandang dari segi subjektif dan objektif. Segi subjektif merupakan perasaan enak dan
puas atas segala sesuatu secara umum, sedangkan secara objektif adalah pemenuhan tuntutan kesejahteraan
materi, status sosial dan kesempurnaan fisik secara sosial budaya (Wahyu 2011). Kualitas hidup penderita
Diabetes Melitus merupakan perasaan puas dan bahagia akan hidup secara umum (WHO, 1994). Kualitas
hidup telah digambarkan oleh WHO (1994) sebagai sebuah persepsi individu terhadap posisi mereka dalam
kehidupan pada konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal hidup, harapan, standar dan fokus
hidup mereka. Konsep ini meliputi beberapa dimensi yang luas yaitu : kesehatan fisik, kesehatan psikologis,
hubungan sosial dan lingkungan.

Wahyu (2011) menyatakan kualitas hidup merupakan integrasi dari publikasi keterbatasan, keluhan dan ciri ciri psikologis yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk melakukan bermacam -macam peran dan
merasakan kepuasan dalam melakukan sesuatu. Badan WHO telah merumuskan empat dimensi kualitas hidup
yaitu dimensi fisik, dimensi psikologis, dimensi sosial dan dimensi lingkungan. Keempat dimensi tersebut
sudah dapat menggambarkan kualitas kehidupan pasien Ulkus Diabetik yang mempunyai agama, etnis dan
budaya yang berbeda (WHO, 1994).
Menurut Profil RSUD Serang tahun 2011 menyimpulkan bahwa penyakit Diabetes Melitus tidak spesifik dan
termasuk kepada Diabetes Melitus dengan komplikasi kaki Diabetik memasuki urutan ke tujuh dari sepuluh
besar penyakit rawat inap tahun 2010 berjumlah 424 pasien (5.98 %). Hasil studi pendahuluan menunjukkan
dari lima responden yang diwawancarai semua menjawab merasa kurang puas terhadap rasa sakit yang
dirasakan. Selain itu terapi medis yang dijalani membuat pasien merasa kesakitan. Pasien juga
mengungkapkan rasa malu dalam berinteraksi sosial dikarenakan memiliki luka berbau. Pasien juga
mengungkapkan istirahat atau tidur sangat terganggu karena nyeri yang dirasakan.
Hasil studi pendahuluan juga menunjukkan tiga dari lima responden mempunyai perasaan negatif dan kurang
puas terhadap harga diri dan semua responden mengatakan bahwa mereka mengalami kecemasan terhadap
kondisi yang responden derita. Pada penderita Diabetes Melitus dengan adanya penurunan fungsi fisik secara
tidak langsung akan berpengaruh pada keadaan psikologisnya seperti timbulnya perasaan cemas, depresi dan
frustasi pada klien (Sonia Watson, 2005).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup pasien penderita Ulkus Diabetik di Rumah Sakit
Umum Daerah Serang tahun 2012. Kualitas hidup yang diteliti meliputi empat dimensi kualitas hidup.
Dimensi tersebut adalah dimensikesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial, dan hubungan
lingkungan.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini yaitu deskriptif eksploratif yang bersifat eksploratif dimana suatu metode penelitian
yang dilakukan dengan tujuan utama dengan membuat gambaran tentang suatu keadaan atau status fenomena,
dalam hal ini peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu (Nursalam,
2008). Pengambilan data dilakukan di Rumah Sakit Umum daerah Serang dilakukan mulai tanggal 15 Mei
sampai dengan 20 Juli 2012. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 60 orang dengan tehnik sampling
non-probabilitas aksidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrument baku dari
WHO (Qol-Bref) (2004).
Tehnik analisa data yang digunakan oleh peneliti adalah analisa univariat, yaitu analisa yang dilakukan
terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi
dan persentase dari tiap variabel (Lelatul, 2009). Variabel dalam penelitian ini meliputi kualitas hidup yang
memiliki 4 domain yaitu domain fisik, domain psikologi, hubungan sosial dan lingkungan. Pada analisis
univariat hasil penelitian tersaji dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi kualitas hidup pada empat dimensi yang ada. Hasil
penelitian kualitas hidup dari dimensi kesehatan fisik menunjukkan bahwa responden yang memiliki kualitas
hidup yang rendah dan tinggi mempunyai proporsi yang sama yaitu 50%. Sedangkan kualitas hidup
responden tinggi pada dimensi hubungan sosial (75%) dan pada dimensi hubungan lingkungan (76%). Hanya
pada dimensi kesehatan psikologis sebagian besar responden mempunyai kualitas hidup rendah (65%).

100
80
60
40
20
0
Rendah
Tinggi

Gambar 1. Gambaran kualitas hidup dilihat dari dimensi kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan
sosial, dan hubungan lingkungan
Kualitas hidup dilihat dari dimensi kesehatan fisik terdiri dari rasa sakit fisik, terapi medis, energi yang
cukup, bergaul, istirahat, aktifitas, dan kemampuan bekerja (WHO, 1994). Berdasarkan hasil analisis dapat
terlihat bahwa hampir sebagian besar responden memiliki tingkat kualitas hidup yang rendah. Menurut
WHO (1994) sehat adalah keadaan keseimbangan fisik yang sempurna baik fisik, mental dan sosial, tidak
hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Sedangkan sakit adalah suatu kondisi cacat atau kelainan yang
disebabkan oleh gangguan penyakit, emosional, intelektual, dan sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang merasa terganggu kualitas hidup secara fisik umumnya
pada segi aktifitas, terapi medis, istirahat, serta rasa sakit fisik. Responden umumnya mengalami
ketidakberdayaan dalam aktivitas fisik. Responden yang melakukan rawat jalan mengeluh bahwa merasa
kesal dan frustasi harus melakukan rawat jalan minimal sebulan sekali, sehingga hal ini menyebabkan
responden merasa jenuh harus melakukan terapi medis yang berulang ulang tetapi tidak mengalami
perubahan kesehatan yang lebih baik pada Ulkus Diabetiknya. Untuk melakukan terapi medis responden tidak
hanya mengeluarkan biaya tetapi juga harus meluangkan waktu dan harus merepotkan kerabat untuk
membantu melakukan terapi medis ini. Hal tersebut jelas membuat kualitas hidup responden terganggu atau
mengalami penurunan dari segi aktifitas dan tindakan terapi medis.
Terapi penyembuhan Ulkus Diabetik seperti debridement yang di jalani responden membuat responden
merasakan rasa sakit fisik yang amat sangat. Rasa sakit fisik ini juga harus dirasakan responden selama masa
perawatan di rumah sakit bahkan ketika melakukan rawat jalan kondisi tersebut membuat responden Ulkus
Diabetik mengalami gangguan fisik dari kualitas hidupnya dilihat dari rasa sakit fisik yang diterima
responden saat melakukan terapi medis atau perawatan luka yang harus dilakukan untuk mendapatkan
kesembuhan.
Responden juga menunjukkan pola istirahat mengalami perubahan akibat adanya luka Ulkus Diabetik. Ulkus
Diabetik tidak hanya membawa rasa sakit fisik tetapi juga membawa dampak psikologis yang cukup dalam.
Responden Ulkus Diabetik mengaku bahwa mengalami pola istirahat yang kurang diakibatkan seringnya
merasa sakit di daerah luka, bermimpi tentang penyakit yang diderita dan juga sulit tidur akibat cemas dan
perasaan negatif yang dialami responden. Ketakutan yang dirasakan seperti ketakutan kaki yang harus
diamputasi hingga ketakutan penyakit yang tidak kunjung sembuh. Hal ini jelas menunjukkan bahwa kualitas
hidup responden Ulkus Diabetik terganggu dalam hal kesulitan memulai tidur, bangun tidur pada malam hari,
serta jangka waktu tidur yang relatif lebih pendek.
Kualitas hidup responden dilihat dari dimensi hubungan sosial terdiri dari hubungan pribadi, seksual, dan
dukungan sosial (WHO, 1994). Bedasarkan hasil analisis data penelitian pada bab sebelumnya dapat terlihat
bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat kualitas hidup yang tinggi. Dukungan sosial yang diberikan
kepada rensponden sebagian besar baik. Dukungan yang hangat dari sosial dapat dikaitkan dengan
keberhasilan perilaku kesehatan serta semangat yang didapat penderita sangat berpengaruh terhadap proses
pengobatan maupun penyembuhan penderita. Seberapa besar dukungan sosial bagi penderita Ulkus Diabetik
dapat terlihat dari dukungan sosial keluarga atau dukungan dari kolega. Dalam hal ini keluarga menjadi
sumber dukungan sosial yang paling penting dalam merubah persepsi penderita tentang sakitnya.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat kepuasan dari kualitas
hidup yang tinggi pada dimensi hubungan sosial. Responden Ulkus Diabetik merasa puas terhadap dukungan
sosial yang didapat dari keluarga maupun koleganya. Hal tersebut terjadi dikarenakan karakteristik budaya

masyarakat sekitar yang bersosialisasi, kekeluargaan, saling menghormati, dan menghargai antar sesama.
Penderita Ulkus Diabetik selalu menerima dukungan yang membuat tingkat kualitas hidupnya tinggi dilihat
dari hubungan sosial dan dukungan sosial yang diterima dari keluarga dan koleganya.
Sedangkan kualitas hidup dilihat dari dimensi kesehatan lingkungan terdiri dari keamanan fisik, lingkungan
fisik, penghasilan, informasi baru, rekreasi, lingkungan rumah, akses pelayanan kesehatan dan sarana
transportasi (WHO, 1994). Bedasarkan hasil analisis data penelitian pada bab sebelumnya dapat dilihat bahwa
sebagian besar responden memiliki tingkat kualitas hidup yang tinggi.
Latar belakang kepribadian seseorang, situasi sosial, budaya setempat, dan lingkungan mempengaruhi
persepsi kognitif seseorang dalam memaknai kualitas hidupnya (WHO, 1994). Konsep sehat - sakit adalah
konsep yang kompleks dan multi interpretasi, banyak faktor yang mempengaruhi kondisi sehat maupun sakit.
Setiap individu, keluarga, masyarakat maupun profesi kesehatan mengartikan sehat atau sakit secara berbeda
tergantung paradigmanya. Kemampuan kognitif akan membentuk cara berpikir seseorang untuk memahami
faktor - faktor yang berkaitan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan dan penyakit yang
dimilikinya untuk menjaga kesehatan sendiri.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa kurang puas terhadap waktu untuk
berekreasi. Hal ini disebabkan oleh karena kesempatan dan kesibukan, serta kondisi Ulkus Diabetik yang
mengganggu tingkat kenyamanan aktifitas pasien sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan rekreasi.
Selain itu juga budaya Indonesia yang belum membiasakan diri untuk merencanakan pola rekreasi.
Hasil wanwancara dengan responden Ulkus Diabetik, tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah
Serang selalu memberikan pendidikan kesehatan pada setiap kesempatan yang ada baik secara langsung
maupun tidak langsung seperti protap edukasi yang ditempel di lingkungan sekitar rumah sakit, serta lembar
balik yang diberikan kepada pasien. Hal ini berdampak positif pada kepuasaan responden Ulkus Diabetik
dalam penerimaan informasi baru, pelayanan kesehatan, dan keamanan fisik. Pasien Ulkus Diabetik selalu
menerima edukasi setiap melakukan rawat jalan di Poli dan juga mendapatkan edukasi setiap minggu di ruang
perawatan.
Lokasi Rumah Sakit Umum Daerah Serang juga berada di tempat yang strategis yaitu di pusat kota Serang,
sehingga memudahkan dalam akses pelayanan kesehatan dan mudahnya sarana transportasi yang didapat
sehingga sebagian besar responden merasa puas terhadap akses pelayanan kesehatan dan sarana transportasi.
Hal tersebut jelas memperlihatkan bahwa kualitas hidup pasien Ulkus Diabetik tinggi dilihat dari informasi
baru yang diterima, pelayanan kesehatan yang memuaskan serta akses dan kemudahan dalam mencapai
rumah sakit.
Namun berbeda dengan dimensi kesehatan psikologis pada penilaian kualitas hidup dalam penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien mempunyai kualitas hidup yang rendah. Dimensi
kesehatan psikologis terdiri dari perasaan positif, spiritualitas, berpikir, gambaran diri, harga diri, dan perasan
negatif (WHO, 1994).
Responden dengan Ulkus Diabetik mengalami penurunan fungsi fisik yang secara tidak langsung akan
berpengaruh pada keadaan psikologisnya. Responden umumnya merasakan timbulnya perasaan cemas,
depresi dan frustasi (International Wound Journal, 2010). Ulkus Diabetik menimbulkan nyeri, sensasi rasa
yang berkurang, kulit kering, luka yang dalam dan besar. Proses penyembuhan Ulkus Diabetik cukup lama
hingga sangat berdampak terhadap psikologis dari penderita. Dampak psikologis tersebut seperti adanya
perubahan gambaran diri karena ada perubahan fisik, harga diri ikut mengalami perubahan sesuai dengan
gambaran diri yang berubah. Dampak jangka panjang penderita akan mengalami perasaan negatif terhadap
dirinya akibat luka Ulkus Diabetik yang berkepanjangan dan proses penyembuhan yang cukup lama.
Hasil penelitian ini memperlihatkan umumnya penderita Ulkus Diabetik melakukan pengobatan secara rutin
minimal sekali dalam sebulan, hal ini akan sangat berpengaruh pada keadaan mood penderita, baik itu jangka
pendek maupun jangka panjang. Komplikasi Diabetes mellitus seperti Ulkus Diabetik dapat menyebabkan
kehidupan penderita lebih sulit dalam aktifitas sehari - hari sehingga akan menimbulkan kesedihan yang
berkepanjangan. Tidak hanya itu proses penyembuhan dan pengobatan yang cukup lama membuat timbulnya
perasaan negatif pada penderita Ulkus Diabetik seperti perasaan pasrah dan putus asa. Hal tersebut jelas
menggangu kualitas hidup penderita Ulkus Diabetik dari perasaan negatif yang timbul akibat proses
penyembuhan yang cukup lama
Hasil penelitian ini juga dapat digambarkan bahwa Ulkus Diabetik yang terkadang bersifat terbuka, dalam
dan lebar dapat membuat perubahan dalam gambaran diri penderita. Responden memandang negatif tentang
keadaan luka yang ada di tubuhnya. Apalagi jika disertai dengan tindakan amputasi sehingga ada sebagian

anggota tubuh yang akan hilang dan membuat perubahan besar dalam hidupnya yang menyebabkan
pandangan hidupnya juga akan berubah.
Tidak hanya itu tingkat kemandirian penderita Ulkus Diabetik juga mengalami perubahan sehingga penderita
harus menerima bantuan dari orang lain dan melakukan aktifitas mandiri yang terkadang harus dibantu oleh
orang lain. Hal ini menyebabkan harga diri dari penderita juga berkurang. Hal tersebut jelas bahwa kualitas
hidup penderita terganggu akibat dari citra tubuh negtif dari kondisi penyakit dan harga diri yang berkurang
akibat tingkat kemandirian yang berkurang.
Hasil wawancara dengan penderita Ulkus Diabetik bahwa tidak hanya kualitas hidup yang menurun akibat
efek psikologis yang diterima oleh penderita tetapi juga penderita merasa ada peningkatan spiritual dalam
hidupnya diakaibatkan karena kepasrahan dan harapan sembuh yang berbentuk doa sehingga membuat
kualitas hidup penderita meningkat dalam segi spiritualitas.
KESIMPULAN
Kualitas hidup seseorang dapat tergambar pada penampilan fisik, psikologis, serta hubungannya dengan
sosial dan lingkungan. Kualitas hidup akan baik jika keempat komponen kualitas hidup tersebut terpenuhi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas hidup yang cukup baik pada
dimensi kesehatan fisik, hubungan sosial, dan hubungan lingkungan. Namun pada dimensi kesehatan
psikologi terdapat hasil yang tidak memuaskan. Responden merasa kualitas hidupnya rendah secara psikis.
Hal ini perlu diperhatikan karena dampak psikologis tentunya berperan serta pula dalam kualitas hidup
responden terutama pada pasien dengan ulkus diabetik. Rumah sakit dapat meningkatkan pelayanan dengan
mendeteksi dan mengantisipasi gangguan psikologis dengan cara membuat unit konseling untuk pasien
Diabetes Mellitus dengan Ulkus Diabetik. Kualitas hidup yang baik tentunya meningkatkan kualitas sumber
daya manusia yang ada dan mewujudkan kesehatan individu atau masyarakat secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Andriani, L. (2010). Karakteristik Penderita Diabetes Mellitus dengan Komplikasi yang di Rawat Inap di
RSUP Herna Medan Tahun 2010. Skripsi Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Sumatera Utara.
Ariawan, I. (1998). Besar dan Metode Sampel Pada Penelitian Kesehatan. Jakarta : Universitas Indonesia.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi. Jakarta : Rineka Cipta.
Boulton, A.J. (2002). The Diabetic Foot. Blackweel Publising, JNC. Ebsco host.
Day, J. (2002). Living With Diabetes. England: British Diabetic Association. Ebscho host.
Djoko, W. (1999). Diabetes Melitus dan Infeksi. Dalam : Noer, dkk, editors, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I,
Edisi ketiga. Penerbit FK UI. Jakarta.
Hastuti, T. (2008). Faktor-faktor risiko ulkus diabetic pada penderta diabetes mellitus di RSUD Dr. Moewardi
Surakarta tahun 2008. Tesis Magister Epidemologi Universita Diponogoro Semarang.
International
Diabetes
Federation.
http://www.idf.org/webdata/docs.pdf

(2001).

Diabetes

and

Cardiovaskuler

Disease

Irmatullah. (2008). Gambaran pengetahuan dan sikap keluarga penderita kusta dan keluarga non penderita
kusta tentang pengenalan dini penyakit kusta di wilayah kerja puskesmas pulomerak kota cilegon tahun
2008. Skripsi Mahasiswa PSIK STIKes Faletehan.
Jaksa, P.J. & Mahoney, J.L. (2010). Quality of Life in patients with diabetic foot ulcer. International Wound
Jurnal. Volume 7, no 6. Blackwell Publishing Ltd. Di aksess maret 20, 2012. Ebsco database.
http://web.ebscohost.com/ehost/pdfviewer/pdfviewer?sid=a636da9a-57a3-4
Laelatul, B. (2009). Metodologi Penelitian Ilmu-Ilmu Kesehatan. Bandung: multazam.
Misnadiarly. (2006). Diabetes Mellitus : Ulcer, Infeksi, Ganggren. Jakarta: Penerbit Populer Obor.

Notoatmodjo, S. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.


Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2010). Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta.
Nursalam. (2001). Pendekatan Praktik Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : CV. Agung Seto.
Notoatmodjo, S. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi
Tesis Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Prince, S. & Wilson, L. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit . Edisi 6. Jakarta:
EGC.
Sapico, F.L. (2006). Food Ulcer in Patients with Diabetes Mellitus, Journal of American Podiatric Medical
Association, Vol 79, Issue 482-485, diakses tanggal 3 April 2012. http://www.bmj.com/cgi/feedback
Scheffler, N.M. (2004 Nov-Dec). Innovative treatment of a diabetic ulcer: a case study. 111-2 journal article case. http://www.Jurnal -medica.com/images/publication_.pdf
Silbernagl, S. (2003). Teks & atlas bewarna patofisiologi, EGC, Jakarta.
Sonia, Watson. (2005). Living with a diabetic foot ulcer: a phenomenological study. Former Registered
Nurse, King Edward VII Memorial Hospital, Hamilton HM DX, Bermuda, West Indies. RESEARCH IN
BRIEF doi: 10.1111/j.1365-2702.2006.01521.x
Stolle, L.B,at all. (2004 Feb). The metabolism of the diabetic foot. journal article, ISSN: 0001-6470 PMID:
15022818 CINAHL AN: 2009394327
Tjokroprawiro, A. (1999). Angiopati Diabetik : Makroangiopati-Mikroangipati. Dalam : Noer, dkk, editors,
Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi ketiga. Penerbit FK UI. Jakarta.
Vileikyte. (2003). Quality of life in patients with diabetic foot ulcers: validation of the Cardiff Wound Impact
Schedule in a Canadian population. Jornal aeticle. Int Wound J 2010; 7:502507.
Wahyu, N.L. (2011). Analisa Faktor -faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup
Pasien Gagal Ginjal
Kronik yang Menjalani Hemodialisa di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Skripsi
Sarjana Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.
Waspadji, S. (2006). Komplikasi kronik Diabetes : Mekanisme Terjadinya, Diagnosis dan Strategi
pengelolaan. Dalam : Aru W, dkk, editors, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III, Edisi keempat, Penerbit FK UI,
Jakarta.
Waspadji, S. (2006). Kaki Diabetes . Dalam : Aru W, dkk, editors, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III, Edisi
keempat, Penerbit FK UI, Jakarta 2006.
WHO. (1994). WHO QOL-BREF Introduction, Administration, Scoring And Generic Version of the
Assesment rev.1. December 1994. World Health Organization Geneva, Programme on Mental Health.
http://www.who.int/entity/mental_health/media/en/76.pdf
_____. (1996). Instrument WHO QOL-BREF. July 1996. World Health Organization Geneva, Programme on
Mental Health. http://www.who.int/entity/Instrument/media/en/27.pdf